KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/
Memagut aku memagut
Racutan gelanggang mengurai pulut
Mematut aku mematut
Bunga pengimbang lamun bertaut.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Suryanto Sastroatmodjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suryanto Sastroatmodjo. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Juli 2012
Rabu, 04 April 2012
MELAGA EMPU, MENDENYUTKAN ILMU
Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/
1.
Seorang sahabat, baru-baru ini mengenalkan suatu istilah baru :Workaholisme. Apa pulakah itu? Teman kita menjelaskan yang dimaksudkan adalah “keranjingan kerja”, atau tegasnya kita dikendalikan oleh dorongan nafsu kerja, di mana keseimbangan sikap-kerja itu membuat orang jadi tanpa-daya. Dikatakan, kerja adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia.
http://sastra-indonesia.com/
1.
Seorang sahabat, baru-baru ini mengenalkan suatu istilah baru :Workaholisme. Apa pulakah itu? Teman kita menjelaskan yang dimaksudkan adalah “keranjingan kerja”, atau tegasnya kita dikendalikan oleh dorongan nafsu kerja, di mana keseimbangan sikap-kerja itu membuat orang jadi tanpa-daya. Dikatakan, kerja adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia.
Jumat, 20 Januari 2012
CAHAYA DI UFUK KEJUANGAN
Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/
1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci.
http://sastra-indonesia.com/
1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci.
Selasa, 08 Maret 2011
PERANG-PERANG BERKENDALA
Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/
1.
Pada galibnya, lewat ujung senjata, mestinya Prabu Duryudana dan Bima Sena dapat memperlihatkan pertarungan dahsyat yang mengecutkan hati. Bharatayudha memperlihatkan, awal dan ujung pergulatan ini sebenarnya amat seimbang, karena sama-sama memiliki semangat kerbau jantan, dan sama-sama pula memendam dendam. Walau, di babak yang menentukan, Duryudana remuk kepalanya oleh gada rujakpala, sebagaimana saudaranya, Dursasana, yang lebih dahulu maju ke medan laga. Peristiwanya kiranya semirip Resi Bisma, yang oleh Pandawa dan Kurawa dihormati sebagai seorang pinisepuh yang berasal dari Poyang terdahulu, namun pada perang besar ini, dia justru memihak kerabat Kurawa. Adalah tragedi yang melecut sanubari, bahwa tokoh mahasakti ini harus menghadapi prajurit wanita Srikandi, yang sepenuhnya masih muda, lagipula tergolong alergis untuk menghadapi senapati-senapati tua, seperti Bisma. Toh, Bisma terguling oleh anakpanah-anakpanah merajam tubuh, dilepaskan oleh gendewa Srikandi. Anda, mungkin teringat kematian Prabu Salyapati oleh tangan Prabu Puntadewa(walau tak secara langsung), lantaran sukma Resi Bagaspati yang menagih janji kepada Salya (yang masa mudanya bernama Raden Narasoma) ini. Perang tanding dan perang memang berkelibatan, namun bukan saringgit dua kupang. Perang tanding, anya mempertemukan dua batin yang saling bertarung dan adu nalar, setelah zaman-zaman silam meracut kepahitan. Sementara itu, perang mempergelarkan rona-rona adu senjata dan adu-wawasan yang ingin saling meruntuhkan potensi masing-masing, setelah perundingan tak berhasil membikin titik temu yang dikehendaki. Tapi siapa harus dikasihani..?
2.
Berbicara tentangperang-perang Jawa yang berlangsung di abad ke-18, 19, hingga abad ke-20, senantiasa memperlihatkan garis yang kurang lebih sejajar. Kalau bukan karena semboyan “Ratu Adil” yang membawa konsekuensi pertahanan diri untuk melembagakan aksi-aksi kerakyatan yang radikal-keras semacam ini, maka acapkali juga bahwa kaum jelata menggunakan pula semboyan-semboyan yang berasal dari masa yang jauh silam, seperti bangkitnya kembali “Pajajaran Larang”,”Sigaluh Mimpang Jaya”, “Majapahit Rumuhan”, “Mataram Adiluwih”, yang dapat kita simak, pada pemberontakan Haji Kosim di Sindanglaya pada tahun 1886, Gerakan Nyai Dewi Rasminah di bekas tanah perdikan Ciasem (1890), Pemberonntakan yang dicetuskan Bagus Juntuk di Lowanu, Purworejo(1901), dan aksi bawah tanah yang diletupkan bekas dukun Jalampuan di Selang, Kebumen, penghujung 1903—di mana kesemuanya menyebarkan isim-isim, jimat-jimat, rajah-rajah, berikut ramalan yang membawa keesatan orang-orang kecil. Kesesatan di sini, misalnya dengan menunjukkan bahwa perang besar bakal tiba di akhir tahun, yang ditandai dengan kemarau panjang dan gerhana rembulan. Tindakan orang-orang rindu masa lampau, dan terdorong oleh gerakan berbau utopis ini, bukan lain adalah kepingin membangun Peradaban Lebih Jernih, seraya mengenyahkan pengaruh kebudayaan Eropa di satu pihak, dan membangun kembali kerajaan nenek moyang di pihak lain. Sebagai variant dari aksi-aksi sporadif begini, adalah warna keagamaan (biasanya Islam) yang disertakan sebagai bandingan, untuk menunjujjan, betapa unsur religious ikut dikumandangkan di langit kemelut jamannya. Dan bahwasanya, gerakan ini hanya bersifat lokal.
3.
Manakala gerakan Saminisme juga dipandang relevan untuk dibicarakan sebagai gerakan yang berlatar kerinduan akan zaan kemasan yang telah lampau, maka sementara itu kita saksikan, bahaimana dengan aksi diam, satyagraha, ahimsa, dan “senantiasa takkan melawan penindasan”, namun “dengan cita-cita dan sikap bertapa yang membisu”, mereka menggerakkan perlawanan yang meluas, kiranya nampak gambling telaahnya. Sedari 1880, lewat Samin Sepuh Suryowijoyo, hingga Samin Anom Suryosentiko, yang tertangkap di pertengahan tahun 1904—prinsip-prinsip juangnya meluas, hingga tertangkap ke berbagai distrik di Jatim dan Jateng. Aksi serupa pernah dilakukan oleh Mbah Suradal alias Kyai Jangkung, yang kala itu melebar ke wilayah kabupaten Pasuruan dan Probolinggo, hingga meresahkan penduduk, dan merepotkan penguasa Belanda. Bupati kedua wilayah tersebut, bahkan melakukan beberapa penghampiran, untuk melunakkan hati Kyai Jangkung, tapi sia-sia. Hingga dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1880, diadakan suatu persetujuan yang ditandatangani di lereng GunungBromo, bahkan Dukun tertua di kwasana Siluwih, diangkat sebagai sesepuh adat Tengger. Ia diperkenankan melakukan upacara-upacara suci, tanpa diganggu oleh keributan dan kekisruhan wisata yang dikelola orang-orang kulit putih. Toh, pada tahun 1893, terjadi ontran-ontran Siwalan dan Trenggalung, karena tampilnya Mbah Jowaru alias Raden Adiratu, yang berhasil menghimpun anakcucunya yang tersebar di dukuh-dukuh tersebut. Dikisahkan, Dalem Kabupaten Malang sempat diserbu barisan berandalan desa dan selama hampir dua jam, Adipati beserta keluarganya di sandera. Baru huru-hara dapat ditanggulangi setelah pasukan Belanda dari garnisun kotamelakukan penyerbuan, membebaskan kabupaten, dan menewaskan Adiratu! Tapi tuntutan mereka, supaya kawasan Tengger dijadikan bumi perdikan, tak ditanggapi.
4.
Dalam pembentukan sikap yang lebih bersahabat serta lebih intim, maka dalam kehidupan pasca kemerdekaan, kita harus lebih meningkatkan lagi kerjasama yang berlangsung antara kelompok-kelompok sosial yang ada pada masa silamnya pernah terkotak-kotak dalam beberapa kasta yang setiapnya terasa mengembun amanat budaya yang cukup tinggi. Sebagai contoh, antara kaum ksatria yang tergolong ningrat di Jawa, dengan kelompok-kelompok waisya (usahawan) dan sudra (kelompok tanpa kerja, tanpa profesi) dan hingga paria (mereka tak terjamah, karena merupakan orang-orang urakan. Fungsionalitas yang menghubungkan antara kelas yang satu dengan yang lain, pada zaman Hindhu adalah fungsionalitas yang formal dan struktural, dan membawa serta kebutuhan massa yang jadi penyangga komunalnya, bahkan juga peneguh dinasti yang bertahta. Demikian pula, pertautan antara ksatruan dengnan kasta yang paling tinggi, yakni Brahmana—senantiasa terlihat akrab, lantaran yang disebut tertinggi itu berpengaruh dalam agama, tradisi, restu kehidupan, maupun tatanilai senibudaya yang mendukung legalnya pemerintahan. Memang sedari zaman pengaruh Islam di Jawa (akhir abad ke-15), saat matahari kerajaan Islam Demak naik, mengikis sisa-sisa kerajaan Majapahit, maka kasta ksatria “memenangi, bahkan Berjaya” di atas kasta tertinggi, sebagai pengganti brahmana-brahmana asli, pengaruhnya dikebiri, hingga menjadi kelas penaseat, tetapi secara pelan-pelan tak diberi peranan besar dalam politik maupun ekonomi. Hanya saja, mereka lebih banyak dilibatkan dalam persoalan-persoalan agama, adat istiadat dan kultur. Pada zaman Pajang dan Matarm (abad 16 hingga akhir 17), maka kelompok Wali lebih tersudut lagi, lantaran raja yang berkasta ksatria enggunakan gelar “Ratu, sekaligus Wali” (Khalifatullah Sayidin Panatagama), yang memotong jalur pengaruh Wali khususnya, dan ulama umumnya, lebih-lebih yang bersifat tradisional-agraris, sehingga wibawa mereka makin menipis di kalangan rakyat.
5.
Ujung ke ujung penguasaan terhadap kawula alit, niscaya mengandung seni yang lebih mudah ditelusuri, lantaran tatanilai yang diendapkannya, lewat pelbagai zaman. Kriteria apa yang kita pakai untuk mereka, sebagai dimensi-dimensi pembangunan manusia yang kompleks, ternyata membawa serta pemikiran pokok tentang esensi “ pengkastaan baru”. Artinya, bahwa seiring dnegan tumbuhnya patron-patron sosial yang meliputi kedaerahan yang luas ini, kita melihat, sejauh ini terdapat nilai tambah yang lebih akumulatif lagi, teruhlah, bahwa kelas yang tergolong priyayi, yakni kaum bangsawan, pada masa lampau memegang tongkat-tongkat kepemimpinan, dan pada masa kini, memiliki pula sarana-sarana pelestari kelasnya itu, dengan semakin banyak mencampuri bisini terselubung, yang sudah barang tentu di luar kesibukan yang “diizinkan oleh instansinya”. Penyalahgunaan wewenang juga terjadi pada lingkungan ini. Sedangkan kaum saudagar atau usahawan pada umumnya, banyak yang menggunakan lisensi berdasarkan koneksi yang diberkahi oleh”perkenalan dekat dengan pihak yang di atas”, yang tiada lain adalah alat-alat administrasi resmi pemerintah. Sudah jelas, dua kelas bersaing untuk memperebutkan lahan-lahan rezeki, bahkan terjadi pula sudra dan paria, yang menjadi kelompok yenga terseret kesana-kemari, mengikuti arus limbahnya pihak yang berwenang, masih terus menjadi Si Lebai Malang, dewasa ini.
6.
Buana berkembang, karena peperangan jua. Kisah pewayangan di dalam perbendaharaan susastra Nusantara acapkali menyuguhkan untar-gemuntang peperangan, yang bukan hanya diselimuti oleh kemelut tak berkesudahan, melainkan juga lebih banyak disulut oleh saling tuding, salah-menyalahkan, serta keserba-ingintahu-an dari pihak-pihak yangtak mempunyai tenggangrasa yang baik. Kemungkinan yang dapat ditarik dari pecahnya pemberontakan kawula cilik dalam percaturan babad-babad setempat, memperlihatkan bagaimana mereka saling “tidak diacuhkan” sebagai warga besar komunitas terhormat, yang diterjang-diganyang, dalam artian prinsip bertetangga baik. Atau, dengan meminjam falsafah perang Dunia Timur (Hindhu-Tiongkok), sifatnya mementingkan keluhuran motif, tak jarang untuk menegakkan sesuatu missi yang dianggap luhur. Namun demikian, jika sifatnya berandalan, ontran-ontran, jelas tiada motif luhur, selain kepentingan sektoral, kepentingan segelintir orang yang tanpa pikir panjang, tanpa rencana terperinci. Maka menjadi kewajiban kita semua, untuk mencegah konflik berkepanjangan jika soalnya hanya berkisar pada ukuran moral yang belum punya standard tertentu, yang masih kudu dimusyawarahkan. Dan itulah yang patut diingat, keutuhan bangsa jadi dasar-pijak tindakan!
* Penanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]
http://sastra-indonesia.com/
1.
Pada galibnya, lewat ujung senjata, mestinya Prabu Duryudana dan Bima Sena dapat memperlihatkan pertarungan dahsyat yang mengecutkan hati. Bharatayudha memperlihatkan, awal dan ujung pergulatan ini sebenarnya amat seimbang, karena sama-sama memiliki semangat kerbau jantan, dan sama-sama pula memendam dendam. Walau, di babak yang menentukan, Duryudana remuk kepalanya oleh gada rujakpala, sebagaimana saudaranya, Dursasana, yang lebih dahulu maju ke medan laga. Peristiwanya kiranya semirip Resi Bisma, yang oleh Pandawa dan Kurawa dihormati sebagai seorang pinisepuh yang berasal dari Poyang terdahulu, namun pada perang besar ini, dia justru memihak kerabat Kurawa. Adalah tragedi yang melecut sanubari, bahwa tokoh mahasakti ini harus menghadapi prajurit wanita Srikandi, yang sepenuhnya masih muda, lagipula tergolong alergis untuk menghadapi senapati-senapati tua, seperti Bisma. Toh, Bisma terguling oleh anakpanah-anakpanah merajam tubuh, dilepaskan oleh gendewa Srikandi. Anda, mungkin teringat kematian Prabu Salyapati oleh tangan Prabu Puntadewa(walau tak secara langsung), lantaran sukma Resi Bagaspati yang menagih janji kepada Salya (yang masa mudanya bernama Raden Narasoma) ini. Perang tanding dan perang memang berkelibatan, namun bukan saringgit dua kupang. Perang tanding, anya mempertemukan dua batin yang saling bertarung dan adu nalar, setelah zaman-zaman silam meracut kepahitan. Sementara itu, perang mempergelarkan rona-rona adu senjata dan adu-wawasan yang ingin saling meruntuhkan potensi masing-masing, setelah perundingan tak berhasil membikin titik temu yang dikehendaki. Tapi siapa harus dikasihani..?
2.
Berbicara tentangperang-perang Jawa yang berlangsung di abad ke-18, 19, hingga abad ke-20, senantiasa memperlihatkan garis yang kurang lebih sejajar. Kalau bukan karena semboyan “Ratu Adil” yang membawa konsekuensi pertahanan diri untuk melembagakan aksi-aksi kerakyatan yang radikal-keras semacam ini, maka acapkali juga bahwa kaum jelata menggunakan pula semboyan-semboyan yang berasal dari masa yang jauh silam, seperti bangkitnya kembali “Pajajaran Larang”,”Sigaluh Mimpang Jaya”, “Majapahit Rumuhan”, “Mataram Adiluwih”, yang dapat kita simak, pada pemberontakan Haji Kosim di Sindanglaya pada tahun 1886, Gerakan Nyai Dewi Rasminah di bekas tanah perdikan Ciasem (1890), Pemberonntakan yang dicetuskan Bagus Juntuk di Lowanu, Purworejo(1901), dan aksi bawah tanah yang diletupkan bekas dukun Jalampuan di Selang, Kebumen, penghujung 1903—di mana kesemuanya menyebarkan isim-isim, jimat-jimat, rajah-rajah, berikut ramalan yang membawa keesatan orang-orang kecil. Kesesatan di sini, misalnya dengan menunjukkan bahwa perang besar bakal tiba di akhir tahun, yang ditandai dengan kemarau panjang dan gerhana rembulan. Tindakan orang-orang rindu masa lampau, dan terdorong oleh gerakan berbau utopis ini, bukan lain adalah kepingin membangun Peradaban Lebih Jernih, seraya mengenyahkan pengaruh kebudayaan Eropa di satu pihak, dan membangun kembali kerajaan nenek moyang di pihak lain. Sebagai variant dari aksi-aksi sporadif begini, adalah warna keagamaan (biasanya Islam) yang disertakan sebagai bandingan, untuk menunjujjan, betapa unsur religious ikut dikumandangkan di langit kemelut jamannya. Dan bahwasanya, gerakan ini hanya bersifat lokal.
3.
Manakala gerakan Saminisme juga dipandang relevan untuk dibicarakan sebagai gerakan yang berlatar kerinduan akan zaan kemasan yang telah lampau, maka sementara itu kita saksikan, bahaimana dengan aksi diam, satyagraha, ahimsa, dan “senantiasa takkan melawan penindasan”, namun “dengan cita-cita dan sikap bertapa yang membisu”, mereka menggerakkan perlawanan yang meluas, kiranya nampak gambling telaahnya. Sedari 1880, lewat Samin Sepuh Suryowijoyo, hingga Samin Anom Suryosentiko, yang tertangkap di pertengahan tahun 1904—prinsip-prinsip juangnya meluas, hingga tertangkap ke berbagai distrik di Jatim dan Jateng. Aksi serupa pernah dilakukan oleh Mbah Suradal alias Kyai Jangkung, yang kala itu melebar ke wilayah kabupaten Pasuruan dan Probolinggo, hingga meresahkan penduduk, dan merepotkan penguasa Belanda. Bupati kedua wilayah tersebut, bahkan melakukan beberapa penghampiran, untuk melunakkan hati Kyai Jangkung, tapi sia-sia. Hingga dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1880, diadakan suatu persetujuan yang ditandatangani di lereng GunungBromo, bahkan Dukun tertua di kwasana Siluwih, diangkat sebagai sesepuh adat Tengger. Ia diperkenankan melakukan upacara-upacara suci, tanpa diganggu oleh keributan dan kekisruhan wisata yang dikelola orang-orang kulit putih. Toh, pada tahun 1893, terjadi ontran-ontran Siwalan dan Trenggalung, karena tampilnya Mbah Jowaru alias Raden Adiratu, yang berhasil menghimpun anakcucunya yang tersebar di dukuh-dukuh tersebut. Dikisahkan, Dalem Kabupaten Malang sempat diserbu barisan berandalan desa dan selama hampir dua jam, Adipati beserta keluarganya di sandera. Baru huru-hara dapat ditanggulangi setelah pasukan Belanda dari garnisun kotamelakukan penyerbuan, membebaskan kabupaten, dan menewaskan Adiratu! Tapi tuntutan mereka, supaya kawasan Tengger dijadikan bumi perdikan, tak ditanggapi.
4.
Dalam pembentukan sikap yang lebih bersahabat serta lebih intim, maka dalam kehidupan pasca kemerdekaan, kita harus lebih meningkatkan lagi kerjasama yang berlangsung antara kelompok-kelompok sosial yang ada pada masa silamnya pernah terkotak-kotak dalam beberapa kasta yang setiapnya terasa mengembun amanat budaya yang cukup tinggi. Sebagai contoh, antara kaum ksatria yang tergolong ningrat di Jawa, dengan kelompok-kelompok waisya (usahawan) dan sudra (kelompok tanpa kerja, tanpa profesi) dan hingga paria (mereka tak terjamah, karena merupakan orang-orang urakan. Fungsionalitas yang menghubungkan antara kelas yang satu dengan yang lain, pada zaman Hindhu adalah fungsionalitas yang formal dan struktural, dan membawa serta kebutuhan massa yang jadi penyangga komunalnya, bahkan juga peneguh dinasti yang bertahta. Demikian pula, pertautan antara ksatruan dengnan kasta yang paling tinggi, yakni Brahmana—senantiasa terlihat akrab, lantaran yang disebut tertinggi itu berpengaruh dalam agama, tradisi, restu kehidupan, maupun tatanilai senibudaya yang mendukung legalnya pemerintahan. Memang sedari zaman pengaruh Islam di Jawa (akhir abad ke-15), saat matahari kerajaan Islam Demak naik, mengikis sisa-sisa kerajaan Majapahit, maka kasta ksatria “memenangi, bahkan Berjaya” di atas kasta tertinggi, sebagai pengganti brahmana-brahmana asli, pengaruhnya dikebiri, hingga menjadi kelas penaseat, tetapi secara pelan-pelan tak diberi peranan besar dalam politik maupun ekonomi. Hanya saja, mereka lebih banyak dilibatkan dalam persoalan-persoalan agama, adat istiadat dan kultur. Pada zaman Pajang dan Matarm (abad 16 hingga akhir 17), maka kelompok Wali lebih tersudut lagi, lantaran raja yang berkasta ksatria enggunakan gelar “Ratu, sekaligus Wali” (Khalifatullah Sayidin Panatagama), yang memotong jalur pengaruh Wali khususnya, dan ulama umumnya, lebih-lebih yang bersifat tradisional-agraris, sehingga wibawa mereka makin menipis di kalangan rakyat.
5.
Ujung ke ujung penguasaan terhadap kawula alit, niscaya mengandung seni yang lebih mudah ditelusuri, lantaran tatanilai yang diendapkannya, lewat pelbagai zaman. Kriteria apa yang kita pakai untuk mereka, sebagai dimensi-dimensi pembangunan manusia yang kompleks, ternyata membawa serta pemikiran pokok tentang esensi “ pengkastaan baru”. Artinya, bahwa seiring dnegan tumbuhnya patron-patron sosial yang meliputi kedaerahan yang luas ini, kita melihat, sejauh ini terdapat nilai tambah yang lebih akumulatif lagi, teruhlah, bahwa kelas yang tergolong priyayi, yakni kaum bangsawan, pada masa lampau memegang tongkat-tongkat kepemimpinan, dan pada masa kini, memiliki pula sarana-sarana pelestari kelasnya itu, dengan semakin banyak mencampuri bisini terselubung, yang sudah barang tentu di luar kesibukan yang “diizinkan oleh instansinya”. Penyalahgunaan wewenang juga terjadi pada lingkungan ini. Sedangkan kaum saudagar atau usahawan pada umumnya, banyak yang menggunakan lisensi berdasarkan koneksi yang diberkahi oleh”perkenalan dekat dengan pihak yang di atas”, yang tiada lain adalah alat-alat administrasi resmi pemerintah. Sudah jelas, dua kelas bersaing untuk memperebutkan lahan-lahan rezeki, bahkan terjadi pula sudra dan paria, yang menjadi kelompok yenga terseret kesana-kemari, mengikuti arus limbahnya pihak yang berwenang, masih terus menjadi Si Lebai Malang, dewasa ini.
6.
Buana berkembang, karena peperangan jua. Kisah pewayangan di dalam perbendaharaan susastra Nusantara acapkali menyuguhkan untar-gemuntang peperangan, yang bukan hanya diselimuti oleh kemelut tak berkesudahan, melainkan juga lebih banyak disulut oleh saling tuding, salah-menyalahkan, serta keserba-ingintahu-an dari pihak-pihak yangtak mempunyai tenggangrasa yang baik. Kemungkinan yang dapat ditarik dari pecahnya pemberontakan kawula cilik dalam percaturan babad-babad setempat, memperlihatkan bagaimana mereka saling “tidak diacuhkan” sebagai warga besar komunitas terhormat, yang diterjang-diganyang, dalam artian prinsip bertetangga baik. Atau, dengan meminjam falsafah perang Dunia Timur (Hindhu-Tiongkok), sifatnya mementingkan keluhuran motif, tak jarang untuk menegakkan sesuatu missi yang dianggap luhur. Namun demikian, jika sifatnya berandalan, ontran-ontran, jelas tiada motif luhur, selain kepentingan sektoral, kepentingan segelintir orang yang tanpa pikir panjang, tanpa rencana terperinci. Maka menjadi kewajiban kita semua, untuk mencegah konflik berkepanjangan jika soalnya hanya berkisar pada ukuran moral yang belum punya standard tertentu, yang masih kudu dimusyawarahkan. Dan itulah yang patut diingat, keutuhan bangsa jadi dasar-pijak tindakan!
* Penanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]
Jumat, 25 Februari 2011
PUISI DI RAGANGAN BUIH
Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/
1.
Tahun ini, seorang anak keponakan saya, Vivi Sudayeni memenangkan lomba Cipta Puisi di Sragen, dalam perayaan Memperingati 10 Nopember, di mana sebuah sanjak bernapaskan kepahlawanan berhasil diciptakannya dengan bagus sekali. Tahun sebelumnya, diamenjuarai lomba baca puisi. Sebenarnya, kalau hanya lomba baca puisi, saya tidak begitu puas. Kepuasan itu justru lahir karena melihatnya, bahwa diapun mampu menciptakan puisi-puisi yang merekam aneka pengalaman masa remajanya yang intens. Lebih daripada itu, di kabupaten yang kecil itu, belum banyak saingan yang memadai, diantara generasi muda. Maka, sungguh suatu kelebihan jikalau dirinya mencoba menggubah untaian sajak, dan ternyata dapat pula membawakannya di depan umum. Dalam soal lain semacam ini, barangkali bukan soal daya minat yang berkembang, bagi gadis-gadis di bawah usia 17 tahun, melainkan juga bagaimana dengan tendensi untuk menyaring dan mendulang butiran intan kata per-kata, hingga sanpai kepada saripati yang mentes. Kemenakan saya yang lain, seperti Dian Ramadianti mahir sekali menciptakan lagu-lagu untuk sejumlah puisi yang ada, kemudian menyanyikannya, dengan gubahan yang memikat. Tapi di SMP itu, dia belum timbul “greget”nya untuk menciptakan puisi.
2.
Selama beberapa tahun terakhir, kota-kota kebupaten di Jawa seakan berlomba memperingatai Hari Chairil Anwar, yang konon adalah hari wafatnya, bukan hari kelahirannya. Pada peringatan-peringatan semacam itu, banyak puisi tercipta dandipergelarkan, baik dideklamasikan, dilagukan, didramatisasikan, maupun dibawakan dengan cara-cara khas remaja bersangkutan. Ada gejala yang umum, bahwa kaum muda berkecendrungan romantik, bahkan sentimental—hingga puisi-puisi mereka berkesan mendayu-dayu,membinarkan rasa cinta yang lembut, namun agak cengeng. Kalau kita, para angkatan tua ini meluangkan waktu untuk menyimak trend dari persajakan masa kini, kita niscaya menemukan kenyataan-kenyataan berikut : pertama, ada terasa himbauan patriotik, yang bukan muncul dari dasar jiwa, melainkan karena pengaruh pelajaran-pelajaran di sekolah. Jadi belum mendarah daging. Kedua, terdapat keinginan untuk menunjukkan harga diri, dalam rangka pengungkapan eksistensial. Ketiga, terdapat ambisi keremajaan, agar secepatnya dikenal di kalangan mitra sepergaulan, agar terangkat namanya (walau seketika, dan secepat itu padam nyalanya), dan dianggap menokohi kawan-kawan sebaya. Tapi hal itu masih ditambah oleh kenyataan, bahwa penulisan puisi memerlukan tanggungjawab moral yang besar. Remajawan yang kepingin bersyair, umumnya belum menyadari, sejauh mana gema karyanya. Maka seringkali terasa, dia belum tahu, mana kikis, mana tembok pembatas, mana batas kerawanan—mereka menulis dan menulis, dan menyita seluruh waktu. Jika umurnya dewasa sedikit, ada upaya untuk menggapai tataran lebih arif. Dalam banyak hal, bukankah komunikasi kewilayahan kecil lebih memberi bukti betapa kompetisi di jalur senior-yunior meminta kejujuran?
3.
Selama tahun 1988 dan 1989 lalu, saya menyaksikan dua sahabat penyair masing-masing Kuswahyo SS Raharjo dan Muhammad Nurgani Asyik tampil di Auditorium “Karta Pustaka”–gedung persahabatan Indonesia-Belanda yang terkenal di Yogyakarta—yang mendapat sambutan gemuruh yang mengesankan. Penyair yang disebut terdahulu menyanyikan tentang suasana pedesaan yang menentramkan, yang segar dan masih menyimpan rindu. Namun diapun mempertanyakan, kenapa dalam damai semacam itu, tiba-tiba kita merasa mendapat tantangan yang mengejutkan. Sedangkan Nurgani menyampaikan amanatnya tentang kehidupan teduh di tengah suasana teknologi yang berlangsung di bumi “yang dilanda risau”. Paling tidak puisi-puisi yang disampaikan kedua penyair kuat Yogyakarta tersebut, yang masing-masing menyanyikan puisinya, dengan segala kemungkinan yang dapat disentuh, yang lekat dengan pesta sukmawi, yang sudah barang tentu pantas disimak. Suatu kelebihan, bahwa arena di “Karta Pustaka” sudah dapat memberikan suatu lantunan yang baik bagi puisi-puisi Indonesia, karena bila Kuswahyo yang berdarah Jawa ini aktif dan menekuni musik dan gamelan, maka Nurgani yang berdarah Aceh sangat mendalami musik modern disamping musik klasik. Tentu saja, konsert kecil yang dipersiapkam untuk mendukung pentas-gelaran kedua penyair tersebut mengundang perhatian yang semarak, karena menggugah bangkitnya warna-warna baru jagad perpuisian nasional masa kini, yang di daerah lain belum pernah disentuh.
4.
Kebanggaan dapat juga kita rasakan, kalau kita lihat di Surabaya, di mana gedung Lembaga Persahabatan Indonesia_Amerika di Jl. Dr Sutomo(kini pindah di Damarhusada Indah), secara aktif memberikan kesempatan kepada artis daerah untuk mengunjukkan kebolehannya. Dalam hal begini, puisi tradisional dan puisi nasional memperoleh porsi seimbang; karena geguritan Jawa yang disampaiakan oleh Mitra Susatra Surabaya, berikut pembacaan Macapatan oleh kaum sepuh dalam Wusana Citra, paling tidak dua bulan sekali dapat tampil, bahkan dengan instrument ala kadarnya, yang disediakanoleh tuan rumah. Sedangkan bagi para penyair muda yang bersanjak dalam kelompok Penyair Surabaya Post, bahkan dapat secara bebas triwulan sekali mengajak penyair-penyair kota-kota lain, untuk bersama-sama menggunakan arena ini. Disamping itu, maka Dewan Kesenian Surabaya yang memiliki pentas-pentas yang pantas, secara khusus juga sering mengundang sejumlah penyair, baik dari kabupaten-kabupaten sekitar, dari propinsilain, maupun dari Luar Jawa(yang sudah barang tentu memerlukan akomodasi yang cukup mahal, honorarium lumayan, yang hanya lembaga milik pemerintah yang mampu memenuhinya!), dan selama dua puluh tahun terakhir sudah memperlihatkan kesanggupannya. Saya dengar, Mitra Sastra di Universitas Diponegoro Semarang juga memiliki sanggar terpadu di sebelah utara kota, untuk pembacaan puisi yang kini mewabah. Tidak ketinggalan Kelompok Kopisisa di Purworejo, yang bekerjasama dengan Radio Khusus Pemerinntah Daerah, tahun silam menampilkan acara pembacaan puisi beberapa kota, disusul oleh Arena Budaya dari IKIP Muhammadiyah Purworejo, yang tidak ketinggalan tahun ini membuka forum Pengadilan Puisi Penyair Lima sekawan dari tiga kota. Prospek-prospek yang terllihat menunjukkan gabungan niat serius, antara gairah berkarya cipta sastra, apresiasi kepada kaum awam dan pemasyarakatan puisi. Suatu kenyataan, yang sudah barang tentu menggembirakan karena segi ini ternyata juga memperolah perhatian Pemda yang dengan sejumlah anggaran bisa memacu aktivitas kesenian di kota-kota kabupaten, hingga berkesinambungan.
5.
“Berjagalah di batas harapan dan impian,” kata Chairil Anwar. Saya pikir, ucapan ini adalah simbolik. Harapan seorang pejuang, jikalau dilukiskan oleh sastrawan, maka ia langsung memperlihatkan momentum pengabdian terus menerus, kepada dunia yang diyakini bakal jadi miliknya. Tentunya, saya mengumpamakan sebagai kemilikan positif-altruistis, bukan sesuatu yang egoistis. Secara demikian, akan terasa, bahwa dalam membela Tanah Air, maka penyerahan total hidup kita menjadi tanggungjawabpaling utuh pula. Kita bukan mendewakan patriotisme sebagai idaman yang susah dijangkau. Yang dipentingkan dalam andaran ini, sebagai orang muda, pengisian waktu-waktu yang dimiliki, dan bagaimana sang waktu diperas untuk mewakili kadar-karya yang dirajut. Kalau berbicara tentang impian, maka dimaksudkan di sini, sesuatu yang memberikan penorama terindah bagi”suatu corak budaya yang lebih esensial”—ketimbang hal-hal yang cuma berkembang wantah di kaki langit. Jadinya, kalau menyebut apa yang diharapkan dan apa yang diimpikan—danmenuangkan ide-ide orang muda, sasarannya pun harus memberikan penonjolan buat dipikirkan pada garap-lanjut. Harus dijumlahkan pula inventarisasi masalah yang masuk hitungan, karena saatnya tiba untuk dibawa gagat-lahir karya sastra hendaknya lalu menyumbangkan arus yang kuat, sebelum si empunya mahir berbicara dengan matabajak dan cangkulnya. Sejauh inipun, kalam yang berujung runcing senantiasa siap jemput!
6.
Alhasil, apakah begitu berjubel penyair muda dewasa ini harus dinantikan kiprahnya, pada hari-hari perayaan nasional, ataukah hanya hari-hari biasa, yang dialami sebagai insan biasa, di tengah riuh rendahnya pasar sepanjang hayat ini? Manusia memerlukan tebing pengganti, di kala tebing-tebing kalinya yang rengkah menunggu perbaikan, agar air takkan melimpah dan menjadi air bah yang menenggelamkan diri sang penyeberang. Catatan terhadap karya-karya yang rumpil, serta bagaimana mengawetkan sejumlah petikan buahkalam yang membanjir, mengundang media massa-cetak dan media elektonik untuk mengangkatnya sebagai jemputan seadanya. Para penyimak gubahan nan menyemak, nakal melihat jadwal-jadwal persoalan di dalam kehidupan penyair, jikalau hendak memberikan penilaian lebih adil. Di kabupaten, kotamadya, kota administratif dan distrik-distrik kecil, darimana tampil pengarang-pengarang puisi yang subur, semerbak, dan merimbun seperti dewasa ini, bukan kritikus handal yang dibutuhkan, melainkan pembaca sabar-setia, yang dalam kesehariannya adalah pemegang rubrik puisi di radio, atau bisa juga redaktur sastra yang tahan berjam-jam membacai ragam karya belang-bonteng, centang perenang. Kalau ini tidak terdapat, kita bakal kehilangan tugas seleksi, sortiran, bahkan penentuan peringkat, ditinjau segi praktisnya karena, pergelaran puisi pada dasarnya, mengundang orang-orang yang kepingin mencicipi saja, “kayak apa” bakat alam yang terpendam. Masih langka penyelaman puisi serius, oleh publik selektif, pada kurun-kurun gelisah begini.
* Tanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]
http://sastra-indonesia.com/
1.
Tahun ini, seorang anak keponakan saya, Vivi Sudayeni memenangkan lomba Cipta Puisi di Sragen, dalam perayaan Memperingati 10 Nopember, di mana sebuah sanjak bernapaskan kepahlawanan berhasil diciptakannya dengan bagus sekali. Tahun sebelumnya, diamenjuarai lomba baca puisi. Sebenarnya, kalau hanya lomba baca puisi, saya tidak begitu puas. Kepuasan itu justru lahir karena melihatnya, bahwa diapun mampu menciptakan puisi-puisi yang merekam aneka pengalaman masa remajanya yang intens. Lebih daripada itu, di kabupaten yang kecil itu, belum banyak saingan yang memadai, diantara generasi muda. Maka, sungguh suatu kelebihan jikalau dirinya mencoba menggubah untaian sajak, dan ternyata dapat pula membawakannya di depan umum. Dalam soal lain semacam ini, barangkali bukan soal daya minat yang berkembang, bagi gadis-gadis di bawah usia 17 tahun, melainkan juga bagaimana dengan tendensi untuk menyaring dan mendulang butiran intan kata per-kata, hingga sanpai kepada saripati yang mentes. Kemenakan saya yang lain, seperti Dian Ramadianti mahir sekali menciptakan lagu-lagu untuk sejumlah puisi yang ada, kemudian menyanyikannya, dengan gubahan yang memikat. Tapi di SMP itu, dia belum timbul “greget”nya untuk menciptakan puisi.
2.
Selama beberapa tahun terakhir, kota-kota kebupaten di Jawa seakan berlomba memperingatai Hari Chairil Anwar, yang konon adalah hari wafatnya, bukan hari kelahirannya. Pada peringatan-peringatan semacam itu, banyak puisi tercipta dandipergelarkan, baik dideklamasikan, dilagukan, didramatisasikan, maupun dibawakan dengan cara-cara khas remaja bersangkutan. Ada gejala yang umum, bahwa kaum muda berkecendrungan romantik, bahkan sentimental—hingga puisi-puisi mereka berkesan mendayu-dayu,membinarkan rasa cinta yang lembut, namun agak cengeng. Kalau kita, para angkatan tua ini meluangkan waktu untuk menyimak trend dari persajakan masa kini, kita niscaya menemukan kenyataan-kenyataan berikut : pertama, ada terasa himbauan patriotik, yang bukan muncul dari dasar jiwa, melainkan karena pengaruh pelajaran-pelajaran di sekolah. Jadi belum mendarah daging. Kedua, terdapat keinginan untuk menunjukkan harga diri, dalam rangka pengungkapan eksistensial. Ketiga, terdapat ambisi keremajaan, agar secepatnya dikenal di kalangan mitra sepergaulan, agar terangkat namanya (walau seketika, dan secepat itu padam nyalanya), dan dianggap menokohi kawan-kawan sebaya. Tapi hal itu masih ditambah oleh kenyataan, bahwa penulisan puisi memerlukan tanggungjawab moral yang besar. Remajawan yang kepingin bersyair, umumnya belum menyadari, sejauh mana gema karyanya. Maka seringkali terasa, dia belum tahu, mana kikis, mana tembok pembatas, mana batas kerawanan—mereka menulis dan menulis, dan menyita seluruh waktu. Jika umurnya dewasa sedikit, ada upaya untuk menggapai tataran lebih arif. Dalam banyak hal, bukankah komunikasi kewilayahan kecil lebih memberi bukti betapa kompetisi di jalur senior-yunior meminta kejujuran?
3.
Selama tahun 1988 dan 1989 lalu, saya menyaksikan dua sahabat penyair masing-masing Kuswahyo SS Raharjo dan Muhammad Nurgani Asyik tampil di Auditorium “Karta Pustaka”–gedung persahabatan Indonesia-Belanda yang terkenal di Yogyakarta—yang mendapat sambutan gemuruh yang mengesankan. Penyair yang disebut terdahulu menyanyikan tentang suasana pedesaan yang menentramkan, yang segar dan masih menyimpan rindu. Namun diapun mempertanyakan, kenapa dalam damai semacam itu, tiba-tiba kita merasa mendapat tantangan yang mengejutkan. Sedangkan Nurgani menyampaikan amanatnya tentang kehidupan teduh di tengah suasana teknologi yang berlangsung di bumi “yang dilanda risau”. Paling tidak puisi-puisi yang disampaikan kedua penyair kuat Yogyakarta tersebut, yang masing-masing menyanyikan puisinya, dengan segala kemungkinan yang dapat disentuh, yang lekat dengan pesta sukmawi, yang sudah barang tentu pantas disimak. Suatu kelebihan, bahwa arena di “Karta Pustaka” sudah dapat memberikan suatu lantunan yang baik bagi puisi-puisi Indonesia, karena bila Kuswahyo yang berdarah Jawa ini aktif dan menekuni musik dan gamelan, maka Nurgani yang berdarah Aceh sangat mendalami musik modern disamping musik klasik. Tentu saja, konsert kecil yang dipersiapkam untuk mendukung pentas-gelaran kedua penyair tersebut mengundang perhatian yang semarak, karena menggugah bangkitnya warna-warna baru jagad perpuisian nasional masa kini, yang di daerah lain belum pernah disentuh.
4.
Kebanggaan dapat juga kita rasakan, kalau kita lihat di Surabaya, di mana gedung Lembaga Persahabatan Indonesia_Amerika di Jl. Dr Sutomo(kini pindah di Damarhusada Indah), secara aktif memberikan kesempatan kepada artis daerah untuk mengunjukkan kebolehannya. Dalam hal begini, puisi tradisional dan puisi nasional memperoleh porsi seimbang; karena geguritan Jawa yang disampaiakan oleh Mitra Susatra Surabaya, berikut pembacaan Macapatan oleh kaum sepuh dalam Wusana Citra, paling tidak dua bulan sekali dapat tampil, bahkan dengan instrument ala kadarnya, yang disediakanoleh tuan rumah. Sedangkan bagi para penyair muda yang bersanjak dalam kelompok Penyair Surabaya Post, bahkan dapat secara bebas triwulan sekali mengajak penyair-penyair kota-kota lain, untuk bersama-sama menggunakan arena ini. Disamping itu, maka Dewan Kesenian Surabaya yang memiliki pentas-pentas yang pantas, secara khusus juga sering mengundang sejumlah penyair, baik dari kabupaten-kabupaten sekitar, dari propinsilain, maupun dari Luar Jawa(yang sudah barang tentu memerlukan akomodasi yang cukup mahal, honorarium lumayan, yang hanya lembaga milik pemerintah yang mampu memenuhinya!), dan selama dua puluh tahun terakhir sudah memperlihatkan kesanggupannya. Saya dengar, Mitra Sastra di Universitas Diponegoro Semarang juga memiliki sanggar terpadu di sebelah utara kota, untuk pembacaan puisi yang kini mewabah. Tidak ketinggalan Kelompok Kopisisa di Purworejo, yang bekerjasama dengan Radio Khusus Pemerinntah Daerah, tahun silam menampilkan acara pembacaan puisi beberapa kota, disusul oleh Arena Budaya dari IKIP Muhammadiyah Purworejo, yang tidak ketinggalan tahun ini membuka forum Pengadilan Puisi Penyair Lima sekawan dari tiga kota. Prospek-prospek yang terllihat menunjukkan gabungan niat serius, antara gairah berkarya cipta sastra, apresiasi kepada kaum awam dan pemasyarakatan puisi. Suatu kenyataan, yang sudah barang tentu menggembirakan karena segi ini ternyata juga memperolah perhatian Pemda yang dengan sejumlah anggaran bisa memacu aktivitas kesenian di kota-kota kabupaten, hingga berkesinambungan.
5.
“Berjagalah di batas harapan dan impian,” kata Chairil Anwar. Saya pikir, ucapan ini adalah simbolik. Harapan seorang pejuang, jikalau dilukiskan oleh sastrawan, maka ia langsung memperlihatkan momentum pengabdian terus menerus, kepada dunia yang diyakini bakal jadi miliknya. Tentunya, saya mengumpamakan sebagai kemilikan positif-altruistis, bukan sesuatu yang egoistis. Secara demikian, akan terasa, bahwa dalam membela Tanah Air, maka penyerahan total hidup kita menjadi tanggungjawabpaling utuh pula. Kita bukan mendewakan patriotisme sebagai idaman yang susah dijangkau. Yang dipentingkan dalam andaran ini, sebagai orang muda, pengisian waktu-waktu yang dimiliki, dan bagaimana sang waktu diperas untuk mewakili kadar-karya yang dirajut. Kalau berbicara tentang impian, maka dimaksudkan di sini, sesuatu yang memberikan penorama terindah bagi”suatu corak budaya yang lebih esensial”—ketimbang hal-hal yang cuma berkembang wantah di kaki langit. Jadinya, kalau menyebut apa yang diharapkan dan apa yang diimpikan—danmenuangkan ide-ide orang muda, sasarannya pun harus memberikan penonjolan buat dipikirkan pada garap-lanjut. Harus dijumlahkan pula inventarisasi masalah yang masuk hitungan, karena saatnya tiba untuk dibawa gagat-lahir karya sastra hendaknya lalu menyumbangkan arus yang kuat, sebelum si empunya mahir berbicara dengan matabajak dan cangkulnya. Sejauh inipun, kalam yang berujung runcing senantiasa siap jemput!
6.
Alhasil, apakah begitu berjubel penyair muda dewasa ini harus dinantikan kiprahnya, pada hari-hari perayaan nasional, ataukah hanya hari-hari biasa, yang dialami sebagai insan biasa, di tengah riuh rendahnya pasar sepanjang hayat ini? Manusia memerlukan tebing pengganti, di kala tebing-tebing kalinya yang rengkah menunggu perbaikan, agar air takkan melimpah dan menjadi air bah yang menenggelamkan diri sang penyeberang. Catatan terhadap karya-karya yang rumpil, serta bagaimana mengawetkan sejumlah petikan buahkalam yang membanjir, mengundang media massa-cetak dan media elektonik untuk mengangkatnya sebagai jemputan seadanya. Para penyimak gubahan nan menyemak, nakal melihat jadwal-jadwal persoalan di dalam kehidupan penyair, jikalau hendak memberikan penilaian lebih adil. Di kabupaten, kotamadya, kota administratif dan distrik-distrik kecil, darimana tampil pengarang-pengarang puisi yang subur, semerbak, dan merimbun seperti dewasa ini, bukan kritikus handal yang dibutuhkan, melainkan pembaca sabar-setia, yang dalam kesehariannya adalah pemegang rubrik puisi di radio, atau bisa juga redaktur sastra yang tahan berjam-jam membacai ragam karya belang-bonteng, centang perenang. Kalau ini tidak terdapat, kita bakal kehilangan tugas seleksi, sortiran, bahkan penentuan peringkat, ditinjau segi praktisnya karena, pergelaran puisi pada dasarnya, mengundang orang-orang yang kepingin mencicipi saja, “kayak apa” bakat alam yang terpendam. Masih langka penyelaman puisi serius, oleh publik selektif, pada kurun-kurun gelisah begini.
* Tanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]
Selasa, 28 Oktober 2008
Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo
BALADA MARMER TEMBUS
1
Gumpalang bukit Watumalang
terhengger sang penjarah melahap suasana
Dan kelengkapan yang ditunda lama
mendengking laut pasang. Sampai tiada pelita
2
Ambang Batuluhur, seruling kekasih
kujumput legut serengut. Aku tabah juang
Makin panjang seberang-menyeberang
bagai sergapan pancalang
3
Dan tambah miskin menungan dinda
tatkala hutan cemarah jadi kancah
Tolehan tadah hayatmu
toreh-toreh di pohon perca
dalam pahat senggama langgeng
4
Mulailah membilang dari angka terkecil
sementara lamunan mengusir rasa getir
Demikian senjata bakal masuk badong
dan keris taklagi mempunyai hawa panas
Karena wayang-wayang menjarah tlatah
meski dilekati birahi berpijar
5
Adalah semangat perintis tanah
pulang dengan berkat alam raya. Usai cedera
di antara pinus-pinus nan gatal
Sanjakmu bilatung balang
membilang pedusunan paling lanang
6
Inilah kisah marmer tembus, wahai sedulur
perkenalan pada belantara, nyaris tanpa permisi
Begitusaja terpampang meja sakti menggerutu:
kita butuh getah-getah para yang berpeluh
Ah, seakan rajuk pembohong jitu
7
Dan alangkah jauh jelajah arusmu, sedulur
seperti tembusnya marmer yang telentang mengkilap
Dia banyak berbuah, sementara kakinya lumpuh merapat!
BALADA PULAU DRINI
I
Wajah muda Diyan Pari
menggantung ragu di awang-awang
Silap segelebyar belum lajar
panggil dukamu selatar
Maka malam ‘kan menelan gelisah ‘
kala ziarah sekadar lambang
hadirnya dinasti dan rezim
paling angkara dari yang angkara
II
Terkadang lolos juga sanjungan Prabu Lana
mengulang irama yang terhempas
Dalam pelupuk renguh yang gemetar
ada lakoncinta minta dijelentrehkan
Maka bukitgundul dirangkul laut
memaparkan bercak-bercak tualang
Juga brutalnya anak manusia, tak henti
saling menggelut antar pribadi urakan
III
Jaman adalah nalar. Jaman adalah serandal
lantaran sawatan argumen yang telah sedekap
Dibalangkan ujung padi, medanya tertutup
bicaralah atasnama tegal pimpimg musim labuh
Waktu bekalmu habis di pelayaran sebatangkara
Diyan Peri mematuk tangan Prabu Lan
dan sahibulhikayat mengungkai fatwah
tentang rambu-rambu jejantung
Kini tentang mubazir, esok oleh kenikir
IV
Sungkup, sungkupi bumi kecamuk
Dengan langkah nan kaprah, hayat bagai sangkrah
perhitungan seremba pulau dan ombak laknat
gugur bukit,langsor bumi, runtuh si tua serapah
Kalau Diyan Peri menghimbau wangi
serta lamunan diungkai Prabu Lana
Hadapanku segala selonjor bambu
kudaki menuju kepasrahan lagu.
BALADA NUR RASA
1
Sepongah biji kecambah, daku tercenung
o, meregam peran si Pungguk dalam sukma terluka
hampirlah diri ke senyap hampa, tanpa ampun secelah
2
Nyerinya duka syair laguan untung
menggalang pondasi seri diraja
kemudian cengkelak kembali membumi rasa
3
Onggok derung dukacita, berlalu kelu
pada liwatan rel-rel kaki tua
sempana jeruji pujiku bakti, kutumpas lawan-angkara
4
Mesra pada libatan lilitan-lilitan sutera cinta
daku cenderung menggamit lila berjelujur lembayung
basalah tempias diri, basuh kumuhku seligi
5
Pinta surya rembang senja, lelatu pada bunda
tinggal sejajar permainan api dan kembangapi
di tanah lapang bocah-bocah bergumul, tanpa muasal nyata
6
Galau kerinduan ada pada sujud leluhur
kini pun dengan sepicing mata, kupanah purnana
hingga jengkal nan uwal, uwal pula dari rayukan!
7
Begini lompatan makin mendesak gerasak
di kala pendaratan sukma-jati
pada akhirnya tinggal terpuruk kesan dewa bathara
8
Pinang sebatang di perempatan jalan mulia
hampir pada tikungan ke istanah Nur Rasa
sejulung sekarangan, sereguk secawan nyaman
9
Akan halnya biduk alit di telaga warna
aku gelincirkan aduh dan keluh kocar-kacir
campuraduk derapkangen belum terhimpun.
BALADA JUNTRUNG
I
Laik kenang, laik pula dampratan sayang
waktu rumuhun sang bapak menyeret nasib
lampau pengudarasa nan terkikis memori keluntaan
II
Berisik buat tanggung jawab nan pepak
demikian gunjingan hidup yang gelisah
kendati pernah dilekatkan pada sentuh grahita
III
Walaupun tanya adalah sumber kemilikan cerah
dan orang-aring di kebun siap diolah jadi minyak
sementra kami, anak-anak bangsa yang tergereng-hereng
IV
Lagipula, mana lagikah proklamasi itu, buyung?
sewaktu hati makin lugas mengidung salawat
untar-gemuntang diserukan angin malam gemetar
V
Hidup terungkai pada puspa-puspa pesta
dirimu mengatag kawula untuk menggugat
satu kegenggaman yang terus diolak-alik
VI
Lakukan tugas bagai tukang kebun
dengan batinnya nan harum, tapi lugas
dikala pesona jagat coba untuk diampelas
VII
Lalu, biar terlantar pelukcium belum menyenggol
juntrungan pepat direngkuh bagai kelahiran
lamun tiada mengikat batinmu yang benar.
1
Gumpalang bukit Watumalang
terhengger sang penjarah melahap suasana
Dan kelengkapan yang ditunda lama
mendengking laut pasang. Sampai tiada pelita
2
Ambang Batuluhur, seruling kekasih
kujumput legut serengut. Aku tabah juang
Makin panjang seberang-menyeberang
bagai sergapan pancalang
3
Dan tambah miskin menungan dinda
tatkala hutan cemarah jadi kancah
Tolehan tadah hayatmu
toreh-toreh di pohon perca
dalam pahat senggama langgeng
4
Mulailah membilang dari angka terkecil
sementara lamunan mengusir rasa getir
Demikian senjata bakal masuk badong
dan keris taklagi mempunyai hawa panas
Karena wayang-wayang menjarah tlatah
meski dilekati birahi berpijar
5
Adalah semangat perintis tanah
pulang dengan berkat alam raya. Usai cedera
di antara pinus-pinus nan gatal
Sanjakmu bilatung balang
membilang pedusunan paling lanang
6
Inilah kisah marmer tembus, wahai sedulur
perkenalan pada belantara, nyaris tanpa permisi
Begitusaja terpampang meja sakti menggerutu:
kita butuh getah-getah para yang berpeluh
Ah, seakan rajuk pembohong jitu
7
Dan alangkah jauh jelajah arusmu, sedulur
seperti tembusnya marmer yang telentang mengkilap
Dia banyak berbuah, sementara kakinya lumpuh merapat!
BALADA PULAU DRINI
I
Wajah muda Diyan Pari
menggantung ragu di awang-awang
Silap segelebyar belum lajar
panggil dukamu selatar
Maka malam ‘kan menelan gelisah ‘
kala ziarah sekadar lambang
hadirnya dinasti dan rezim
paling angkara dari yang angkara
II
Terkadang lolos juga sanjungan Prabu Lana
mengulang irama yang terhempas
Dalam pelupuk renguh yang gemetar
ada lakoncinta minta dijelentrehkan
Maka bukitgundul dirangkul laut
memaparkan bercak-bercak tualang
Juga brutalnya anak manusia, tak henti
saling menggelut antar pribadi urakan
III
Jaman adalah nalar. Jaman adalah serandal
lantaran sawatan argumen yang telah sedekap
Dibalangkan ujung padi, medanya tertutup
bicaralah atasnama tegal pimpimg musim labuh
Waktu bekalmu habis di pelayaran sebatangkara
Diyan Peri mematuk tangan Prabu Lan
dan sahibulhikayat mengungkai fatwah
tentang rambu-rambu jejantung
Kini tentang mubazir, esok oleh kenikir
IV
Sungkup, sungkupi bumi kecamuk
Dengan langkah nan kaprah, hayat bagai sangkrah
perhitungan seremba pulau dan ombak laknat
gugur bukit,langsor bumi, runtuh si tua serapah
Kalau Diyan Peri menghimbau wangi
serta lamunan diungkai Prabu Lana
Hadapanku segala selonjor bambu
kudaki menuju kepasrahan lagu.
BALADA NUR RASA
1
Sepongah biji kecambah, daku tercenung
o, meregam peran si Pungguk dalam sukma terluka
hampirlah diri ke senyap hampa, tanpa ampun secelah
2
Nyerinya duka syair laguan untung
menggalang pondasi seri diraja
kemudian cengkelak kembali membumi rasa
3
Onggok derung dukacita, berlalu kelu
pada liwatan rel-rel kaki tua
sempana jeruji pujiku bakti, kutumpas lawan-angkara
4
Mesra pada libatan lilitan-lilitan sutera cinta
daku cenderung menggamit lila berjelujur lembayung
basalah tempias diri, basuh kumuhku seligi
5
Pinta surya rembang senja, lelatu pada bunda
tinggal sejajar permainan api dan kembangapi
di tanah lapang bocah-bocah bergumul, tanpa muasal nyata
6
Galau kerinduan ada pada sujud leluhur
kini pun dengan sepicing mata, kupanah purnana
hingga jengkal nan uwal, uwal pula dari rayukan!
7
Begini lompatan makin mendesak gerasak
di kala pendaratan sukma-jati
pada akhirnya tinggal terpuruk kesan dewa bathara
8
Pinang sebatang di perempatan jalan mulia
hampir pada tikungan ke istanah Nur Rasa
sejulung sekarangan, sereguk secawan nyaman
9
Akan halnya biduk alit di telaga warna
aku gelincirkan aduh dan keluh kocar-kacir
campuraduk derapkangen belum terhimpun.
BALADA JUNTRUNG
I
Laik kenang, laik pula dampratan sayang
waktu rumuhun sang bapak menyeret nasib
lampau pengudarasa nan terkikis memori keluntaan
II
Berisik buat tanggung jawab nan pepak
demikian gunjingan hidup yang gelisah
kendati pernah dilekatkan pada sentuh grahita
III
Walaupun tanya adalah sumber kemilikan cerah
dan orang-aring di kebun siap diolah jadi minyak
sementra kami, anak-anak bangsa yang tergereng-hereng
IV
Lagipula, mana lagikah proklamasi itu, buyung?
sewaktu hati makin lugas mengidung salawat
untar-gemuntang diserukan angin malam gemetar
V
Hidup terungkai pada puspa-puspa pesta
dirimu mengatag kawula untuk menggugat
satu kegenggaman yang terus diolak-alik
VI
Lakukan tugas bagai tukang kebun
dengan batinnya nan harum, tapi lugas
dikala pesona jagat coba untuk diampelas
VII
Lalu, biar terlantar pelukcium belum menyenggol
juntrungan pepat direngkuh bagai kelahiran
lamun tiada mengikat batinmu yang benar.
Sabtu, 27 September 2008
BAYANG DAN BOYONG
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini.
“Tiada yang lebih membesarkan hati daripada keluwesan yang berbicara, lantaran dorongan jiwa yang sepatutnya. Tiada yang lebih mewakili kelugasan sejati katimbang pertimbangan yang diambil pada awal kelahiran sebuah hari – lantaran itulah titiwanci utama untuk menunjukkan harga kewibawaan,” demikian rantunan kalimat anda, pada kesempatan untuk membeberkan, seberapa jauhnya Anak Manusia berperang dengan Ayahbundanya dari seberang, buat menemukan wujud gairah yang tak – tertebak. Maka, aku mungkin harus menerimanya untuk sementara, sebagai satu bagian dari tiarapku sendiri, sebelum pada saatnya mengepalkan tinju ke hadapan.
Jangan hendaknya kita berpikir, bahwa jikalau salah seorang keluarga dekat kita takut pulang ke rumah, dengan sendirinya dia berusaha untuk menjauhkan diri dari salam-selawat dan rangkul-rungkus. Dan jika ada orang lain yang kepingin menelusurinya, dia siap mengelak. Akan lengkap kiranya kedirian kita yang laif-dhaif seperti ini, seandainya tiada perewang lain yang menganggap ketelodoran adalah warna lain. Dan pada hakikatnya, orang belum pernah menemukan ‘wangkot-celupan’-nya.
“Salawat-salawat kesentausaan,” desismu kala itu. “Karena kehidupan menagih kesan dengan begitu kuat dan kerasnya, sehingga apa yang berlangsung terkemudian adalah suatu gaya-ucap yang kurang lebih sebagai tudingan, sesalan, susulan dan bahkan juga umpatan. Kita belum juga tumbuh sebagai pribadi yang memiliki corak nan gumathok.”
“Walaupun, yang kaumaksudkan itu masih dalam batas gambaran suatu kurun waktu tertentu, dan belum berarti sepanjang masa?” demikian desakanku lebih jauh. Maka dikau mengernyitkan kening, kemudian balik berdetus: “Sahabat, mustahil kita tak menganggapnya sebagai Peristiwa yang selamanya. Bukankah kita sepaham untuk mengatakan, bahwa kebebasan wujud sama harganya dengan kebebasan isi? Dan bahwa tatanan yang digariskan oleh pakem-pakem keluruhan itu diantebi oleh suatu sosok berpengaruh yang diterima secara bulat oleh kelompok besar orang seikhwan? Aku yakin, faham-faham yang kita buat serta kemudian dibingkiskan kepada dunia, adalah juga berasal dari pandangan yang telah purba, bukan sesuatu yang masih dalam babak penyesuaian-diri yang nyamut-nyamut. Dan aku percaya, masyarakat kita masih dapat diajak bertoleransi sebatas meng-ugemi ihwal-ihwal maujudnya Rasa dan Nalarwening – sebelum dua hal yang kita ucapkan tadi mengabur di halimun dingin…”
Sahabatku Dina!
Berpikir adalah suatu arah-tanggon pada poros kreatif yang jelas. Karenanya, dengan berpikir itu, kita menuju kepada pewedaran gagasan yang hendak ditekankan, dan bukan sebagai ancangan semata. Dalam hal-hal yang besar resikonya untuk mewujudkan pikiran yang terpendam, maka seorang filosof mesti bersikap yang lebih demokratik, dalam arti bisa meng-emong situasi, meng-emong lingkungan yang majemuk.
Dina yang setiawan dan senantiasa tanggap.
Hari ini adalah hari kesebelas dari perjalananku ke daerah Orang Badui di Banten Kidul. Suatu upaya untuk meneliti, sejauh mana manusia yakin akan makna kemerdekaan batin, dan bagaimana hal itu bisa dirungkebi sebagai hak milik langgeng. Warga Badui Dalam di Cibeo misalnya punya anggapan, bahwasanya Jagat Ageng (dunia besar, makrokosmos) ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tanpa pasak-pasak yang melekatkannya dengan anasir-anansir semesta lainnya. Perekat-utamanya adalah jagat alit, yang terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang kesemuanya berhubungan secara kekeluargaan, dan punya peranan berbeda-beda, namun diemban bersama dalam satu ritme-kerja yang berirama, saling-dorong serta saling-resapkan. Jagat alit bisa terkoyak, bisa retak, manakala salah satu anasirnya meninggalkan kedisiplinan nan luhur, dan memperturutkan “karsane dhewe” (kehendak sendiri), membelot dari irama-hayati yang telah tersusun jelas, selaras dengan firman Pemangku Jagat Akbar ini.
Maka keseimbangan alam tak bisa lain diartikan sebagai keseimbangan agama, yang menggugah setiap jasad dan roh untuk melaksanakan tugas-tugas kebaikan. Bila satu sama lain tidak menempati tugas nan rapi, cermat, berdisiplin tinggi, maka pasak-pasak bakal retak, dan bumi pun terbengkalai. Perekat paling utama adalah wasiat leluhur (karuhun, poyang), yang tertulis dalam lontar-lontar tua yang diguratkan sedari mulakala. Tiap warga setia Badui pada dasarnya adalah pekerja, yang takkan istirah, bila bukan pada saatnya yang telah ditentukan menurut pathokan yang keramat. Pekerja adalah pusat greget-grengseng-nya tindak positif, yang mendorong tubuh, tangan-tangan dan urat-urat ini menggeliat dan berkeringat, lantaran melakukan karya kemanusiaan nan tangguh. Adalah tolol untuk melakukan hambatan, pengangguran ataupun juga kemalasan, bila dalam nuraninya sudah tumbuh kepercayaan: tanpa karya, seseorang adalah si mati, si mayat, yang tanpa faedah apapun. Pekerjaan yang berdayaguna bagi sesama hidup, merupakan sumbangsih nyata dari warga di sana, yang diamanatkan oleh nenek-moyang, dan dipegang teguh.
Sahabatku Dina!
Aku memang bersemangat untuk menekankan hal-hal yang begini berderap. Di kala orang di mana-mana sibuk berseminar tentang tenaga kerja dan peranan angkatan muda, aku menahan nafas. Terasa, teramat banyak orang menghamburkan potensinya untuk berbincang serta berdebat tentang kiblat ketenagakerjaan pada zaman gemuruh dan penuh keluh ini. Siratan gagasan yang berasal dari suasana masa lampau sering luput dari sentuhan. Kita lantas sibuk bikin dalih-dalih dan rumusan selangit tanpa teringat, bahwa rumusan purbawi telah pernah digenggam orang, seraya masa pun pernah menggodok dalih yang bagaimana pun rumitnya, melalui gaung sejarah. Kalau teringat akan hal ini, maka saya berpesan, sebaiknya kita terus menggali karyasastra lokal, yang tertulis dalam pelbagai bahasa daerah di pedalaman Nusantara, untuk mencari rujukan nan tepat. Hanya dengan cara begini, teruji kemampuan kesarjaan menurut kadar semestinya – bukan hanya berdasar fakta kelulusan di atas kertas!
Sahabatku Dina!
Ucapanmu setahun lewat masih kuingat: “Pur, hendaknya gaya hidup dewasa kini bisa lebih kita benahi, agar kita bukan cuma berlenggak-lenggok sebagai boneka berbusana apik. Tapi yang penting, bagaimana orang pun tahu, busana apik itu dipintal dari benang, dan benang dicari bahannya dari tanaman kapas. Dan upaya menanam mengingatkan orang kepada kerja berluluk lumpur, mandi keringat, melambuk tanah. Sama sibuk dan gemuruhnya dengan karya gemilang para pekerja pabrik tekstil yang tak kenal siang dan malam buat memenuhi kecenderungan masyarakat untuk berbusana rapi dan apik. Bila kita hanya terpancang pada boneka berjalan yang memperagakan gaun-gaun mahal semata, niscaya pikiran akan terhenti pada lipatan ketiak. Angan-angan pun terwatasi dambaan cethek, Pur.”
“Lumrah, masyarakat yang tengah berkembang tak menyiasati lingkungan, sebagaimana yang dikehendaki oleh bangsa yang telah mapan. Gelaran yang hadir mungkin hanya terbit karena desakan situasi, Dien.
“Itu bukan penilaian sehat, Pur. Hanya sinyalemen kurang sehat dari dirimu. Karena aku tahu, setiap kita bicara tentang pakem-pakem kebijakan yang diunggulkan oleh sukubangsa di Nusantara, kau selalu terhenti pada sebut-sebutan semata, nama-nama ajektif dan penjudulan karya sastra yang ditinggalkan oleh suku tersebut pada hari lampaunya. Kau tak mengejar tentang betapa gerangan pokal-pokal yang ditampilkan Guru Besar, sosok andalan. Cara begini akan mengatasi pikiran tentang gambaran superlatif mahakarya satu zaman, yang keberadaannya bisa mungkin hanya pajangan. Ia diboyong oleh tahap nan ada, namun tak berperekat maknawi.”
“Dan sastra yang diboyong oleh warganya, diberi tandatangan oleh keturunannya, tapi tanpa bayang ‘tantangan terpendam’ serta ‘tuntutan-tuntutan nan semakin meningkat’, rasanya sulit dilestarikan.”
“Tadi, itulah yang hendak kukatakan, Pur. Seandainya perlawatanmu ke daerah Badui itu membawa juga hasil ekskavasi budaya yang lebih komplit, misalnya buah pikiran Manusia Utamanya, telaah-telaah di berbagai situasi, dan upaya penyelamatan diri suku tersebut dalam melawan campur-tangan pihak luar, … nah, niscaya kau bakal lebih menggenggam makna kerja berjaya yang pada orang-orang modern pun masih diributkan.”
Aku unjal-nafas. Pagi telah merambat kepada siang lembut. Kubuka jendela kecil di ruang tenaga pengajar di Universitas Kotapraja yang telah empat dasawarsa membekaskan jejak-juang tergamblang di negeriku. Angin semilir mengantar kembang melati sedhompol yang tumbuh liar berbanjar di bawah cepuri putih, agak ke dalam. Sebelahnya, rumpun alamanda kemalas-malasan bergoyang, dalam hijau-pupusnya nan nyaris pucat. Seekor burung pipit, yang nampaknya terbang kesasar dari pesawahan di arah seberang-sana, hinggap di ranting kecil kembang srengenge yang agak layu, lantaran jarang disirami oleh tukang kebun. Burung itu menelengkan kepalanya, seperti menatapku, yang iseng melepas kesumukan ini.
Sahabatku Dina!
Pabilakah lagi kita bisa beromong-omong bebas seperti di saat usai mengajar, atau mengambil sela-sela yang makin langka ini? Para mahasiswa sekarang seperti kurang bergairah dalam menempa dan menampi bulir-bulir ilmu yang dilisankan; terlebih-lebih bila bibir kita yang serasa pecah-pecah untuk melisankan kerisauan hari esok nan penuh deru!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini.
“Tiada yang lebih membesarkan hati daripada keluwesan yang berbicara, lantaran dorongan jiwa yang sepatutnya. Tiada yang lebih mewakili kelugasan sejati katimbang pertimbangan yang diambil pada awal kelahiran sebuah hari – lantaran itulah titiwanci utama untuk menunjukkan harga kewibawaan,” demikian rantunan kalimat anda, pada kesempatan untuk membeberkan, seberapa jauhnya Anak Manusia berperang dengan Ayahbundanya dari seberang, buat menemukan wujud gairah yang tak – tertebak. Maka, aku mungkin harus menerimanya untuk sementara, sebagai satu bagian dari tiarapku sendiri, sebelum pada saatnya mengepalkan tinju ke hadapan.
Jangan hendaknya kita berpikir, bahwa jikalau salah seorang keluarga dekat kita takut pulang ke rumah, dengan sendirinya dia berusaha untuk menjauhkan diri dari salam-selawat dan rangkul-rungkus. Dan jika ada orang lain yang kepingin menelusurinya, dia siap mengelak. Akan lengkap kiranya kedirian kita yang laif-dhaif seperti ini, seandainya tiada perewang lain yang menganggap ketelodoran adalah warna lain. Dan pada hakikatnya, orang belum pernah menemukan ‘wangkot-celupan’-nya.
“Salawat-salawat kesentausaan,” desismu kala itu. “Karena kehidupan menagih kesan dengan begitu kuat dan kerasnya, sehingga apa yang berlangsung terkemudian adalah suatu gaya-ucap yang kurang lebih sebagai tudingan, sesalan, susulan dan bahkan juga umpatan. Kita belum juga tumbuh sebagai pribadi yang memiliki corak nan gumathok.”
“Walaupun, yang kaumaksudkan itu masih dalam batas gambaran suatu kurun waktu tertentu, dan belum berarti sepanjang masa?” demikian desakanku lebih jauh. Maka dikau mengernyitkan kening, kemudian balik berdetus: “Sahabat, mustahil kita tak menganggapnya sebagai Peristiwa yang selamanya. Bukankah kita sepaham untuk mengatakan, bahwa kebebasan wujud sama harganya dengan kebebasan isi? Dan bahwa tatanan yang digariskan oleh pakem-pakem keluruhan itu diantebi oleh suatu sosok berpengaruh yang diterima secara bulat oleh kelompok besar orang seikhwan? Aku yakin, faham-faham yang kita buat serta kemudian dibingkiskan kepada dunia, adalah juga berasal dari pandangan yang telah purba, bukan sesuatu yang masih dalam babak penyesuaian-diri yang nyamut-nyamut. Dan aku percaya, masyarakat kita masih dapat diajak bertoleransi sebatas meng-ugemi ihwal-ihwal maujudnya Rasa dan Nalarwening – sebelum dua hal yang kita ucapkan tadi mengabur di halimun dingin…”
Sahabatku Dina!
Berpikir adalah suatu arah-tanggon pada poros kreatif yang jelas. Karenanya, dengan berpikir itu, kita menuju kepada pewedaran gagasan yang hendak ditekankan, dan bukan sebagai ancangan semata. Dalam hal-hal yang besar resikonya untuk mewujudkan pikiran yang terpendam, maka seorang filosof mesti bersikap yang lebih demokratik, dalam arti bisa meng-emong situasi, meng-emong lingkungan yang majemuk.
Dina yang setiawan dan senantiasa tanggap.
Hari ini adalah hari kesebelas dari perjalananku ke daerah Orang Badui di Banten Kidul. Suatu upaya untuk meneliti, sejauh mana manusia yakin akan makna kemerdekaan batin, dan bagaimana hal itu bisa dirungkebi sebagai hak milik langgeng. Warga Badui Dalam di Cibeo misalnya punya anggapan, bahwasanya Jagat Ageng (dunia besar, makrokosmos) ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tanpa pasak-pasak yang melekatkannya dengan anasir-anansir semesta lainnya. Perekat-utamanya adalah jagat alit, yang terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang kesemuanya berhubungan secara kekeluargaan, dan punya peranan berbeda-beda, namun diemban bersama dalam satu ritme-kerja yang berirama, saling-dorong serta saling-resapkan. Jagat alit bisa terkoyak, bisa retak, manakala salah satu anasirnya meninggalkan kedisiplinan nan luhur, dan memperturutkan “karsane dhewe” (kehendak sendiri), membelot dari irama-hayati yang telah tersusun jelas, selaras dengan firman Pemangku Jagat Akbar ini.
Maka keseimbangan alam tak bisa lain diartikan sebagai keseimbangan agama, yang menggugah setiap jasad dan roh untuk melaksanakan tugas-tugas kebaikan. Bila satu sama lain tidak menempati tugas nan rapi, cermat, berdisiplin tinggi, maka pasak-pasak bakal retak, dan bumi pun terbengkalai. Perekat paling utama adalah wasiat leluhur (karuhun, poyang), yang tertulis dalam lontar-lontar tua yang diguratkan sedari mulakala. Tiap warga setia Badui pada dasarnya adalah pekerja, yang takkan istirah, bila bukan pada saatnya yang telah ditentukan menurut pathokan yang keramat. Pekerja adalah pusat greget-grengseng-nya tindak positif, yang mendorong tubuh, tangan-tangan dan urat-urat ini menggeliat dan berkeringat, lantaran melakukan karya kemanusiaan nan tangguh. Adalah tolol untuk melakukan hambatan, pengangguran ataupun juga kemalasan, bila dalam nuraninya sudah tumbuh kepercayaan: tanpa karya, seseorang adalah si mati, si mayat, yang tanpa faedah apapun. Pekerjaan yang berdayaguna bagi sesama hidup, merupakan sumbangsih nyata dari warga di sana, yang diamanatkan oleh nenek-moyang, dan dipegang teguh.
Sahabatku Dina!
Aku memang bersemangat untuk menekankan hal-hal yang begini berderap. Di kala orang di mana-mana sibuk berseminar tentang tenaga kerja dan peranan angkatan muda, aku menahan nafas. Terasa, teramat banyak orang menghamburkan potensinya untuk berbincang serta berdebat tentang kiblat ketenagakerjaan pada zaman gemuruh dan penuh keluh ini. Siratan gagasan yang berasal dari suasana masa lampau sering luput dari sentuhan. Kita lantas sibuk bikin dalih-dalih dan rumusan selangit tanpa teringat, bahwa rumusan purbawi telah pernah digenggam orang, seraya masa pun pernah menggodok dalih yang bagaimana pun rumitnya, melalui gaung sejarah. Kalau teringat akan hal ini, maka saya berpesan, sebaiknya kita terus menggali karyasastra lokal, yang tertulis dalam pelbagai bahasa daerah di pedalaman Nusantara, untuk mencari rujukan nan tepat. Hanya dengan cara begini, teruji kemampuan kesarjaan menurut kadar semestinya – bukan hanya berdasar fakta kelulusan di atas kertas!
Sahabatku Dina!
Ucapanmu setahun lewat masih kuingat: “Pur, hendaknya gaya hidup dewasa kini bisa lebih kita benahi, agar kita bukan cuma berlenggak-lenggok sebagai boneka berbusana apik. Tapi yang penting, bagaimana orang pun tahu, busana apik itu dipintal dari benang, dan benang dicari bahannya dari tanaman kapas. Dan upaya menanam mengingatkan orang kepada kerja berluluk lumpur, mandi keringat, melambuk tanah. Sama sibuk dan gemuruhnya dengan karya gemilang para pekerja pabrik tekstil yang tak kenal siang dan malam buat memenuhi kecenderungan masyarakat untuk berbusana rapi dan apik. Bila kita hanya terpancang pada boneka berjalan yang memperagakan gaun-gaun mahal semata, niscaya pikiran akan terhenti pada lipatan ketiak. Angan-angan pun terwatasi dambaan cethek, Pur.”
“Lumrah, masyarakat yang tengah berkembang tak menyiasati lingkungan, sebagaimana yang dikehendaki oleh bangsa yang telah mapan. Gelaran yang hadir mungkin hanya terbit karena desakan situasi, Dien.
“Itu bukan penilaian sehat, Pur. Hanya sinyalemen kurang sehat dari dirimu. Karena aku tahu, setiap kita bicara tentang pakem-pakem kebijakan yang diunggulkan oleh sukubangsa di Nusantara, kau selalu terhenti pada sebut-sebutan semata, nama-nama ajektif dan penjudulan karya sastra yang ditinggalkan oleh suku tersebut pada hari lampaunya. Kau tak mengejar tentang betapa gerangan pokal-pokal yang ditampilkan Guru Besar, sosok andalan. Cara begini akan mengatasi pikiran tentang gambaran superlatif mahakarya satu zaman, yang keberadaannya bisa mungkin hanya pajangan. Ia diboyong oleh tahap nan ada, namun tak berperekat maknawi.”
“Dan sastra yang diboyong oleh warganya, diberi tandatangan oleh keturunannya, tapi tanpa bayang ‘tantangan terpendam’ serta ‘tuntutan-tuntutan nan semakin meningkat’, rasanya sulit dilestarikan.”
“Tadi, itulah yang hendak kukatakan, Pur. Seandainya perlawatanmu ke daerah Badui itu membawa juga hasil ekskavasi budaya yang lebih komplit, misalnya buah pikiran Manusia Utamanya, telaah-telaah di berbagai situasi, dan upaya penyelamatan diri suku tersebut dalam melawan campur-tangan pihak luar, … nah, niscaya kau bakal lebih menggenggam makna kerja berjaya yang pada orang-orang modern pun masih diributkan.”
Aku unjal-nafas. Pagi telah merambat kepada siang lembut. Kubuka jendela kecil di ruang tenaga pengajar di Universitas Kotapraja yang telah empat dasawarsa membekaskan jejak-juang tergamblang di negeriku. Angin semilir mengantar kembang melati sedhompol yang tumbuh liar berbanjar di bawah cepuri putih, agak ke dalam. Sebelahnya, rumpun alamanda kemalas-malasan bergoyang, dalam hijau-pupusnya nan nyaris pucat. Seekor burung pipit, yang nampaknya terbang kesasar dari pesawahan di arah seberang-sana, hinggap di ranting kecil kembang srengenge yang agak layu, lantaran jarang disirami oleh tukang kebun. Burung itu menelengkan kepalanya, seperti menatapku, yang iseng melepas kesumukan ini.
Sahabatku Dina!
Pabilakah lagi kita bisa beromong-omong bebas seperti di saat usai mengajar, atau mengambil sela-sela yang makin langka ini? Para mahasiswa sekarang seperti kurang bergairah dalam menempa dan menampi bulir-bulir ilmu yang dilisankan; terlebih-lebih bila bibir kita yang serasa pecah-pecah untuk melisankan kerisauan hari esok nan penuh deru!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Minggu, 21 September 2008
Balada Bronjong
RPA. Suryanto Sastroatmodjo
(1)
Seakan peta tua lepas dari pigura
begitu para anakmuda singgah dalam ziarah
Adakah sebuah balairung pengadilan
yang memulung ragu jiwa dan menghentaknya?
Asalkan diri bukan tersisih
asalkan bukan sebagai si Pahit Lidah
hanya meludahi pawang seribu
bakal mengantar sesosok pawang berderu
(2)
Bronjong seperti pajangan hayat
dan dari bianglala sana, Gusti
tertangkap oleh lipatan setangan
aduhai, pantai keramakhmanan, paduka
Lalu kabut menghalang lesu
pada kabar kawalan umur
pertanda justa pula yang dilembur!
(3)
Namun sebilik gubuk-gubuk duka
kau menggembalakan dukacita
Terkadang harus ada yang ditembangkan
pabila malam gading hadir sejangkah
Irama apa yang dideru gelisah, buyung
bronjong-bronjong bendungan lantung
niscaya kasih kesaksian satu
pada senda hari nan memuput
(4)
Mari, hidupkan pelitamu lagi
jikalau perjalanan menigas musibah, konon
tertukik dari laras senapang, tinggal sebendul lakon
Bagai kurungan dengan penghuni: serangkum
melagukan ketuk-ketuk duniawi
Barangkali ada yang diacungkan tibatiba
kalau si pungguk merobek bendungan
lantas masuk ke bronjong nan tersamar!
(1)
Seakan peta tua lepas dari pigura
begitu para anakmuda singgah dalam ziarah
Adakah sebuah balairung pengadilan
yang memulung ragu jiwa dan menghentaknya?
Asalkan diri bukan tersisih
asalkan bukan sebagai si Pahit Lidah
hanya meludahi pawang seribu
bakal mengantar sesosok pawang berderu
(2)
Bronjong seperti pajangan hayat
dan dari bianglala sana, Gusti
tertangkap oleh lipatan setangan
aduhai, pantai keramakhmanan, paduka
Lalu kabut menghalang lesu
pada kabar kawalan umur
pertanda justa pula yang dilembur!
(3)
Namun sebilik gubuk-gubuk duka
kau menggembalakan dukacita
Terkadang harus ada yang ditembangkan
pabila malam gading hadir sejangkah
Irama apa yang dideru gelisah, buyung
bronjong-bronjong bendungan lantung
niscaya kasih kesaksian satu
pada senda hari nan memuput
(4)
Mari, hidupkan pelitamu lagi
jikalau perjalanan menigas musibah, konon
tertukik dari laras senapang, tinggal sebendul lakon
Bagai kurungan dengan penghuni: serangkum
melagukan ketuk-ketuk duniawi
Barangkali ada yang diacungkan tibatiba
kalau si pungguk merobek bendungan
lantas masuk ke bronjong nan tersamar!
Rabu, 10 September 2008
BILA SEKAR MEMBELUKAR
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon kehidupannya sehari-hari senantiasa dirundung gersang, bagaikan di lautan pasir, yang tiada nampak sepotong pun selain pokok-pokok zaitun yang kerontang, dan sesekali genangan air yang keruh, tak memuaskan tegukan harap. Berbagai cercaan hawa nafsu dari indera yang bergerak-serta.
Ayunda Florentina Betty Suharti yang sabar.
Tiga hari lewat, kita merencanakan ziarah ke Gua Jatijajar, karena di kawasan itu, hendak kuperlihatkan kepada bibi kita yang malang itu bekas-bekas pertapaan para priyagung negeri Kebumen yang resik ini, seperti restan-restan jelajah keperkasaan Jaka Sangkrip Surawijaya – si anak rakyat yang tersisih, tanpa asal-usul jelas, terkapar – namun berkat suatu tarakbrata dan lelanabrata yang menguras tenaga masamuda, ia peroleh anugerah Hyang Maha Pengasih Penyayang. Sampai kemudian di peroleh bahagia nan memutik di Arga Bulupitu, berkat pertolongan pejuang-pejuang supernatural, Dewi Nawangsari dan Kyai Kumbang Ali-Ali, yang mengantarkannya ke dhampar kencana Kabupaten.
Dia, Adipati pertama di Kebumen, yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Mas Ario Adipati Arungbinang I. Tentu bukan kisah jantan dan penakluk itu yang perlu dileluri, melainkan bagaimana dia berhasil mengatasi derita hidup lahir batin. Karena, sesungguhnya, selama hayat menggelimantang di mayapada, tantangan dan kendala senantiasa susul-menyusul, menghantam tengkuk, menendang pinggang. Kalau anak manusia alpa, tanpa usaha menangkis dan hanya bersenjatakan tangis memuput-menggerimis, alamat pintu keberuntungan tertutup rapat.
Bila tubuh cukat-trengginas menyambut seberkas sinarputih dari horison tak bertepi, dan nalar jernih mulai dikibarkan, maka pori-pori merekah, cucur peluh membanjiri bumi, dan sebaran benih pun mekar bertunas. Hiduplah para Penabur! Dengan sejumput kekaguman ini aku sampaikan penghargaan kepada Surawijaya alias Sang Arungbinang I, jejaka dusun yang mampu merubah nasib. Justru lantaran ia sadar – duaratus lima puluh tahun silam, di kala mengawali rintisan daerah tercinta ini, dengan membabat belukar. Kuthawinangun sebagai kiat pertama – dan pengharapan pun menyala. Kebangsawanan hanya sebuah gurit perada nan disematkan lintang panjer rahina. Rerumput hijau, di mana pun elok dibiak!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Sembari duduk di kursi yang telah mengelupas cat-cat pinggirnya, kuperhatikan mata Tante Yottiek yang basah. Ia selalu mengeluh dan merintih. Dari semasa kecil dulu, kalau kebetulan aku singgah ke Surabaya, kudengar kalimat senada. Bibi yang sering bermimpi di tengah gurun berhalimun. Adakalanya terasa, perkawinannya seperti di luar rencana dan gambaran cermatnya. Tapi, jika kuperhatikan putra-putrinya yang mungil dan sikap gemati dan mengemong dari pihak suaminya, Oom Syuaib, aku terharu. Belum pernah kutemukan seorang suami yang begitu mengalah dan penyabar. Manusia eloklah berhandai-handai dengan deru-dorong deras.
Memang, di kota dagang Surabaya yang serba berselimut cahaya dan warna, manusia acapkali tertipu dengan khayalannya sendiri, yang kadang, tanpa disadarinya, telah melangkahi ambang kewantahan. Yunda pernah bilang, bukan, bahwa: “Bahagia dan beruntung adalah perasaan sesaat, nan gumantung orang yang mengalaminya sendiri. Di tengah hidup melarat dan tindasan angkara yang tanpa wataspun, orang bisa mengucapkan sekalimat syukur. Saat orang teringat Tuhan, hidup mekar bagai mawar-hutan yang indah tengah rimbun belukar. Saat itu, puncak keindahan nampak dari jauh, yang tak terlukiskan para pendatang. Di kala orang tengah mabuk kenikmatan duniawi, dan alpa dari renungan kudus, alpa dari sebut-puja Sang Maha Pencipta, maka tanpa diduga kerapkali bencana menyerbu dan merobohkan tiang-tiang penopang yang dibanggakan. Mengapa kita tidak mulai dari yang serba kecil…?” Benar, benar sekali, Yunda. Kukira, kita bisa mengucapkannya sebagai semacam penghibur kepada bibi kita dari Surabaya ini, yang sesudah rambut penuh uban, masih juga diamuk oleh sumuknya dukanestapa yang begitu melemaskan.
“Setiap aku berkunjung ke berbagai kota, mengunjungi para keponakan, terasa ada yang bisa memberikan sepercik sinar pepadhang. Aku berterimakasih. Tapi Betty, aku hanya bisa mengucapkan, dengan hati semplah. Karena, setelah aku kembali ke Surabaya, aku sesali peruntunganku sendiri.”
“Karena Tante Yottiek merasa malang dan tertikam, itulah soalnya. Tante jarang menyebut Tuhan, dan jarang mengunjungi tempat ibadat.”
“Ah, betty, kau tahu saja! Aku dikenal alim sejak remaja. Malahan rajin mengaji dan juga rajin belajar tentang agama apa saja kepada guru-guru privat, kapan pun aku mau. Orangtuaku mendidik, supaya aku menghormati semua agama dan rajin menyeru namaNya. Tapi di haritua ini…”
“Ya, aneh. Di hari tua, Tante Yottiek seperti jauh sekali dari doa dan puja-sesanti. Jauh berjalan di tengah padang ilalang, tanpa melihat telempap yang terang, untuk penggembalaan anak-anak domba. Begitukah?” Kisah legendaris masa lampau, menumbuhkan inspirasi.
“Betty, Betty, kemenakanku,” ia tertawa renyah seraya merangkul bahumu, bila andika berdua sudah berbicara tentang penyembahan terhadap Yang Maha Pengampun. Aku sendiri kemudian mencoba mengonceki peristiwa ini. Ataukah tante sekeluarga memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang-orang zuhud, yang harus pasrah terhadap kemelaratan? Ataukah dia yang kurang mampu hidup secara hemat lagi cermat? Ataukah dia terlampau berdiri di atas angan-angan, yang begitu melampaui batas kenyataan sehari-hari? Jikalau hati-nurani memaksakan ditempuhnya ujian keberanian!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Katakanlah, bahwa ngrasani atau membicarakan perihal orang lain, adalah sesuatu yang mengasyikkan. Tapi dalam hal itu, kita bukannya demikian. Keprihatinan mewarnai bincang-bincang bebas di beranda rumah Kangmas Dokter Haji Suharto di Kebumen – tepat diiring kulon Rumah Sakit Umum yang sarat oleh pengunjung setiap jam! – dan sambil memperhatikan lalu-lalangnya anggota keluarga mem-bezuk pasien, dan bising oleh deru sepeda motor, dengan bau bensinnya yang menyesakkan hawa panas kemarau ini, kita pun sempat tercenung. Sebagai tamu kita, Tante Yottiek tergolong mahir berkisah, dan ilir-gumilirnya dongeng-dongeng masa lalu seperti suguhan perjamuan akrab. Pada suasana demikian, tanpa terasa hari berangkat sore dengan suntingan cerah;
Ayunda Betty Suharti.
Kamis lalu, aku bilang kepada Kangmas Dokter, agar kita bisa bertamasya ke Jatijajar, kemudian diteruskan ke Waduk Wadaslintang, dan tentunya (kalau sopir Suhud yang ramah itu tak lelah), ke Arga Bulupitu, berziarah ke petilasan yang mengungkapkan derita insani, geliat-juang insani dan rintisan kebahagiaan insan. Tante Yottiek tentunya akan gembira sekali, kalau bisa mendengar secara jlentreh semua kisah perjalanan nasib semacam ini. Masih ingatkah Yunda, sewaktu tengah hari dulu, kita bertiga menyusuri perkampungan sepanjang lembah Kali Lukula yang lebar dan kecoklatan, dengan kemampuannya untuk menggogos tebing-tebing-tepiannya, hingga tiap tahun, selalu terjadi erosi yang mengecutkan wargakota kita. Kita singgah di Kuthasari, Pasar Temenggungan, dan membeli rengginang, alen-alen dan roti bongko yang lezat, dengan sajian minuman es kolak nan menyegarkan? Di sepanjang jalanan kampung yang belum diaspal itu, nampak kanak-kanak sehat, berpipi gembil, bermata bulat suminar. Semoga Kebumen senantiasa mencerminkan suatu keberuntungan.
Kujawil tangan Tante Yottiek ketika itu: “Tengok, tengoklah Tanteku! Parit-parit di sini santer airnya. Tidak seperti di Yogyakarta sana, air parit yang kecil-kecil di perkampungan selalu macet. Orang membuang sampah seenaknya. Bahkan bak-bak sampah menggunung, berbau busuk, penuh lalat! Dalam soal kebersihan kota, Yogya harus banyak belajar dari Kebumen.” Tante tersenyum. “Kau melihatnya hanya satu segi saja, Ndut. Bagaimana kalau kau juga membandingkan bidang hidup yang lain. Misalnya, kegairahan seninya!” Tante dapat saja menyangkal ucapanku. Tapi pesiar sore-sore dengan jalan-jalan kaku begini, selain menyehatkan tubuh, juga memberikan kesempatan bagi kita untuk bertatap muka dengan banyak kalangan, yang selama ini kita abaikan.
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Kangmas Dokter mengatakan, kalau Yu Betty sudah sehat betul, barulah boleh pulang kembali ke Surabaya, kembali ke medan-tugas, mengajar dan mengelola Taman Kanak-kanak “Kesuma Putra” (yang kangen dan teramat lama ditinggalkan Ibu Guru yang paling sabar ini!) – dan karena itu, kuharap patuhilah nasihat ini. Karena, setelah Yunda beristirahat di rumah sakit selama dua bulan, dan kemudian bisa menenangkan hati di Kebumen (justru dalam rumah yang masih termasuk kompleks rumah sakit itu!), pelan-pelan akan redalah kesibukan dalam memberikan les-les privat di Surabaya yang tanpa-kenal waktu, menyebabkan kau jatuh sakit, dan pingsan. Lever-mu kambuh waktu itu, dan Yunda harus mematangkan beberapa jenis makanan yang bergetah. Ah, Yunda sayang. Bersykurlah, bahwa Tante Yottiek menyempatkan diri menjengukmu di Kebumen. Hatimu tentu terhibur oleh kehadirannya dan beliau pun memperoleh kesenangan secumplik, bila sesekali lepas dari kesibukan rutin rumahtangga, atau pekerjaan-pekerjaan kasar di rumah kerabatnya sendiri (yang kurang menghargainya secara layak itu). Moga-moga saja, kelak hidupnya berubah gemilang – karena ketekunan telah berbuah.
Nah, sekali lagi istirahatlah sementara waktu, Yunda. Bulan depan, mungkin Andika sudah diperkenankan kembali ke tengah murid-muridmu yang mungil-lucu, yang dengan ceria menyanyikan “Lagu Bagi Ibu Guru” yang syairnya lembut, dan teramat mengena. Bila mungkin dalam kesempatan yang lain, kita bisa kembali menyusuri kampung-kampung di Kebumen yang tanahnya beraroma khas (bila hujan pertama menyiramnya) dan senyum ikhlas penduduknya. Dan, bukankah sebulan lagi, musim-penghujan akan mulai berdenting, bukan?
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon kehidupannya sehari-hari senantiasa dirundung gersang, bagaikan di lautan pasir, yang tiada nampak sepotong pun selain pokok-pokok zaitun yang kerontang, dan sesekali genangan air yang keruh, tak memuaskan tegukan harap. Berbagai cercaan hawa nafsu dari indera yang bergerak-serta.
Ayunda Florentina Betty Suharti yang sabar.
Tiga hari lewat, kita merencanakan ziarah ke Gua Jatijajar, karena di kawasan itu, hendak kuperlihatkan kepada bibi kita yang malang itu bekas-bekas pertapaan para priyagung negeri Kebumen yang resik ini, seperti restan-restan jelajah keperkasaan Jaka Sangkrip Surawijaya – si anak rakyat yang tersisih, tanpa asal-usul jelas, terkapar – namun berkat suatu tarakbrata dan lelanabrata yang menguras tenaga masamuda, ia peroleh anugerah Hyang Maha Pengasih Penyayang. Sampai kemudian di peroleh bahagia nan memutik di Arga Bulupitu, berkat pertolongan pejuang-pejuang supernatural, Dewi Nawangsari dan Kyai Kumbang Ali-Ali, yang mengantarkannya ke dhampar kencana Kabupaten.
Dia, Adipati pertama di Kebumen, yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Mas Ario Adipati Arungbinang I. Tentu bukan kisah jantan dan penakluk itu yang perlu dileluri, melainkan bagaimana dia berhasil mengatasi derita hidup lahir batin. Karena, sesungguhnya, selama hayat menggelimantang di mayapada, tantangan dan kendala senantiasa susul-menyusul, menghantam tengkuk, menendang pinggang. Kalau anak manusia alpa, tanpa usaha menangkis dan hanya bersenjatakan tangis memuput-menggerimis, alamat pintu keberuntungan tertutup rapat.
Bila tubuh cukat-trengginas menyambut seberkas sinarputih dari horison tak bertepi, dan nalar jernih mulai dikibarkan, maka pori-pori merekah, cucur peluh membanjiri bumi, dan sebaran benih pun mekar bertunas. Hiduplah para Penabur! Dengan sejumput kekaguman ini aku sampaikan penghargaan kepada Surawijaya alias Sang Arungbinang I, jejaka dusun yang mampu merubah nasib. Justru lantaran ia sadar – duaratus lima puluh tahun silam, di kala mengawali rintisan daerah tercinta ini, dengan membabat belukar. Kuthawinangun sebagai kiat pertama – dan pengharapan pun menyala. Kebangsawanan hanya sebuah gurit perada nan disematkan lintang panjer rahina. Rerumput hijau, di mana pun elok dibiak!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Sembari duduk di kursi yang telah mengelupas cat-cat pinggirnya, kuperhatikan mata Tante Yottiek yang basah. Ia selalu mengeluh dan merintih. Dari semasa kecil dulu, kalau kebetulan aku singgah ke Surabaya, kudengar kalimat senada. Bibi yang sering bermimpi di tengah gurun berhalimun. Adakalanya terasa, perkawinannya seperti di luar rencana dan gambaran cermatnya. Tapi, jika kuperhatikan putra-putrinya yang mungil dan sikap gemati dan mengemong dari pihak suaminya, Oom Syuaib, aku terharu. Belum pernah kutemukan seorang suami yang begitu mengalah dan penyabar. Manusia eloklah berhandai-handai dengan deru-dorong deras.
Memang, di kota dagang Surabaya yang serba berselimut cahaya dan warna, manusia acapkali tertipu dengan khayalannya sendiri, yang kadang, tanpa disadarinya, telah melangkahi ambang kewantahan. Yunda pernah bilang, bukan, bahwa: “Bahagia dan beruntung adalah perasaan sesaat, nan gumantung orang yang mengalaminya sendiri. Di tengah hidup melarat dan tindasan angkara yang tanpa wataspun, orang bisa mengucapkan sekalimat syukur. Saat orang teringat Tuhan, hidup mekar bagai mawar-hutan yang indah tengah rimbun belukar. Saat itu, puncak keindahan nampak dari jauh, yang tak terlukiskan para pendatang. Di kala orang tengah mabuk kenikmatan duniawi, dan alpa dari renungan kudus, alpa dari sebut-puja Sang Maha Pencipta, maka tanpa diduga kerapkali bencana menyerbu dan merobohkan tiang-tiang penopang yang dibanggakan. Mengapa kita tidak mulai dari yang serba kecil…?” Benar, benar sekali, Yunda. Kukira, kita bisa mengucapkannya sebagai semacam penghibur kepada bibi kita dari Surabaya ini, yang sesudah rambut penuh uban, masih juga diamuk oleh sumuknya dukanestapa yang begitu melemaskan.
“Setiap aku berkunjung ke berbagai kota, mengunjungi para keponakan, terasa ada yang bisa memberikan sepercik sinar pepadhang. Aku berterimakasih. Tapi Betty, aku hanya bisa mengucapkan, dengan hati semplah. Karena, setelah aku kembali ke Surabaya, aku sesali peruntunganku sendiri.”
“Karena Tante Yottiek merasa malang dan tertikam, itulah soalnya. Tante jarang menyebut Tuhan, dan jarang mengunjungi tempat ibadat.”
“Ah, betty, kau tahu saja! Aku dikenal alim sejak remaja. Malahan rajin mengaji dan juga rajin belajar tentang agama apa saja kepada guru-guru privat, kapan pun aku mau. Orangtuaku mendidik, supaya aku menghormati semua agama dan rajin menyeru namaNya. Tapi di haritua ini…”
“Ya, aneh. Di hari tua, Tante Yottiek seperti jauh sekali dari doa dan puja-sesanti. Jauh berjalan di tengah padang ilalang, tanpa melihat telempap yang terang, untuk penggembalaan anak-anak domba. Begitukah?” Kisah legendaris masa lampau, menumbuhkan inspirasi.
“Betty, Betty, kemenakanku,” ia tertawa renyah seraya merangkul bahumu, bila andika berdua sudah berbicara tentang penyembahan terhadap Yang Maha Pengampun. Aku sendiri kemudian mencoba mengonceki peristiwa ini. Ataukah tante sekeluarga memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang-orang zuhud, yang harus pasrah terhadap kemelaratan? Ataukah dia yang kurang mampu hidup secara hemat lagi cermat? Ataukah dia terlampau berdiri di atas angan-angan, yang begitu melampaui batas kenyataan sehari-hari? Jikalau hati-nurani memaksakan ditempuhnya ujian keberanian!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Katakanlah, bahwa ngrasani atau membicarakan perihal orang lain, adalah sesuatu yang mengasyikkan. Tapi dalam hal itu, kita bukannya demikian. Keprihatinan mewarnai bincang-bincang bebas di beranda rumah Kangmas Dokter Haji Suharto di Kebumen – tepat diiring kulon Rumah Sakit Umum yang sarat oleh pengunjung setiap jam! – dan sambil memperhatikan lalu-lalangnya anggota keluarga mem-bezuk pasien, dan bising oleh deru sepeda motor, dengan bau bensinnya yang menyesakkan hawa panas kemarau ini, kita pun sempat tercenung. Sebagai tamu kita, Tante Yottiek tergolong mahir berkisah, dan ilir-gumilirnya dongeng-dongeng masa lalu seperti suguhan perjamuan akrab. Pada suasana demikian, tanpa terasa hari berangkat sore dengan suntingan cerah;
Ayunda Betty Suharti.
Kamis lalu, aku bilang kepada Kangmas Dokter, agar kita bisa bertamasya ke Jatijajar, kemudian diteruskan ke Waduk Wadaslintang, dan tentunya (kalau sopir Suhud yang ramah itu tak lelah), ke Arga Bulupitu, berziarah ke petilasan yang mengungkapkan derita insani, geliat-juang insani dan rintisan kebahagiaan insan. Tante Yottiek tentunya akan gembira sekali, kalau bisa mendengar secara jlentreh semua kisah perjalanan nasib semacam ini. Masih ingatkah Yunda, sewaktu tengah hari dulu, kita bertiga menyusuri perkampungan sepanjang lembah Kali Lukula yang lebar dan kecoklatan, dengan kemampuannya untuk menggogos tebing-tebing-tepiannya, hingga tiap tahun, selalu terjadi erosi yang mengecutkan wargakota kita. Kita singgah di Kuthasari, Pasar Temenggungan, dan membeli rengginang, alen-alen dan roti bongko yang lezat, dengan sajian minuman es kolak nan menyegarkan? Di sepanjang jalanan kampung yang belum diaspal itu, nampak kanak-kanak sehat, berpipi gembil, bermata bulat suminar. Semoga Kebumen senantiasa mencerminkan suatu keberuntungan.
Kujawil tangan Tante Yottiek ketika itu: “Tengok, tengoklah Tanteku! Parit-parit di sini santer airnya. Tidak seperti di Yogyakarta sana, air parit yang kecil-kecil di perkampungan selalu macet. Orang membuang sampah seenaknya. Bahkan bak-bak sampah menggunung, berbau busuk, penuh lalat! Dalam soal kebersihan kota, Yogya harus banyak belajar dari Kebumen.” Tante tersenyum. “Kau melihatnya hanya satu segi saja, Ndut. Bagaimana kalau kau juga membandingkan bidang hidup yang lain. Misalnya, kegairahan seninya!” Tante dapat saja menyangkal ucapanku. Tapi pesiar sore-sore dengan jalan-jalan kaku begini, selain menyehatkan tubuh, juga memberikan kesempatan bagi kita untuk bertatap muka dengan banyak kalangan, yang selama ini kita abaikan.
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Kangmas Dokter mengatakan, kalau Yu Betty sudah sehat betul, barulah boleh pulang kembali ke Surabaya, kembali ke medan-tugas, mengajar dan mengelola Taman Kanak-kanak “Kesuma Putra” (yang kangen dan teramat lama ditinggalkan Ibu Guru yang paling sabar ini!) – dan karena itu, kuharap patuhilah nasihat ini. Karena, setelah Yunda beristirahat di rumah sakit selama dua bulan, dan kemudian bisa menenangkan hati di Kebumen (justru dalam rumah yang masih termasuk kompleks rumah sakit itu!), pelan-pelan akan redalah kesibukan dalam memberikan les-les privat di Surabaya yang tanpa-kenal waktu, menyebabkan kau jatuh sakit, dan pingsan. Lever-mu kambuh waktu itu, dan Yunda harus mematangkan beberapa jenis makanan yang bergetah. Ah, Yunda sayang. Bersykurlah, bahwa Tante Yottiek menyempatkan diri menjengukmu di Kebumen. Hatimu tentu terhibur oleh kehadirannya dan beliau pun memperoleh kesenangan secumplik, bila sesekali lepas dari kesibukan rutin rumahtangga, atau pekerjaan-pekerjaan kasar di rumah kerabatnya sendiri (yang kurang menghargainya secara layak itu). Moga-moga saja, kelak hidupnya berubah gemilang – karena ketekunan telah berbuah.
Nah, sekali lagi istirahatlah sementara waktu, Yunda. Bulan depan, mungkin Andika sudah diperkenankan kembali ke tengah murid-muridmu yang mungil-lucu, yang dengan ceria menyanyikan “Lagu Bagi Ibu Guru” yang syairnya lembut, dan teramat mengena. Bila mungkin dalam kesempatan yang lain, kita bisa kembali menyusuri kampung-kampung di Kebumen yang tanahnya beraroma khas (bila hujan pertama menyiramnya) dan senyum ikhlas penduduknya. Dan, bukankah sebulan lagi, musim-penghujan akan mulai berdenting, bukan?
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Jumat, 05 September 2008
ANTARA SOSOK-SOSOK
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Beberapa pemisalan dapat diambil oleh mereka yang mengumpil kesunyataan ini. Beberapa pemunggahan bisa digoprak oleh mereka yang menginginkan kesentausaan, sedangkan alam mustahil menyampaikan secara utuh. Barangkali, orang kemudian memilih suatu letupan pernyataan yang benar-benar berdentum, katimbang dia mesti menunggu seabad untuk penungguan nan sia-sia.
Siti Roslina yang bertahan di tapalbatas.
Bagaimanapun, kepergian menuntut penyelesaian. Artinya hanyalah kecil, bahwasanya setiap manusia kudu berbuat menurut kadar-kemampuan, bilamana dia telah pernah mengucapkan suatu curahan sanubari. Dan dengan demikian, tiada yang kelak disesali – oleh siapapun tentunya – bahwa kita telah berbuat bijak. Dan bahwasanya tiada lain yang ditentukan oleh pernyataan tinarbuka ini selain bahwa dirinya sanggup mengentas orang-orang tercinta dari marabahaya itu. Kalau sudah sampai kepada sikap tegas begini, takkan mungkin bisa dicegahnya, hubaya-hubaya Tuhan pun tidak mencobanya. Karena dia telah menentukan kata-pasti dalam hidupnya. Gulang-gulingan pemikiran manusia berkesan kalut.
Siti Roslina!
Di Pondok Marabunta, di pinggir Situ Lengkong, kau sengaja mengasingkan diri, setelah badai itu menggelegar. Daerah di lembah hijau, di mana kau hanya akan mendengarkan dengkur tekukur menjelang senjahari, dan suara alu menumbuk lesung di paruhsiang nan lengang. Tapi, langit dusun sudah sanggup memupus deru-debur dada, bilamana yang akan diresapkan memang menjawil ke-satu-pastian. Daerah, yang memasukkan bungkah-bungkah musim kemarau ke dalam kanal yang lembab berlumut dan berwarna kusam sepanjang lingkar selatan perkampungan sana. Tapi bila terdengar suara angin bersungut dan mendesau lewat derai-derai cemara wayang, maka akan nampak, bahwa bungkah-bungkah itupun meleleh, seperti kristalan es yang lumer pada ujung-ujungnya, lantas air-lelehan itu mengalir ke bawah, bercampur dengan air sungai yang hitam anyir itu. Apakah dirimu sempat memperhatikan pemandangan rutin tiap pagi seperti itu di persemayaman nan meresahkan kini, Roslina? Atau, ada gumpalan pikiran lain yang susul-menyerbu benak, kemudian menugaskan dirimu untuk tercenung beberapa saat sesudah bangkit dari pembaringan nan mengesalkan? Boleh jadi, kau malah tak perlu mengacuhkan reroncen alam yang bagai mengejek dan mencibir ini.
“Andaikata segalanya tak menabrak ketenangan itu, Wan, sulit ditebak, apakah juga orangtuaku tega memperlakukan aku seperti itu.” Demikian ujarmu malam itu, ketika untuk yang terakhir aku boleh menatapmu sebebas itu – tapi buat yang pertama kali aku menyalami tanganmu setelah ‘kebebasan’ secara resmi kauperoleh dari orang yang pernah menyengsarakan di kota Bandung. “Bicara tentang pengandaian adalah mirip mimpi siangbolong,” aku memotong agak santak. “Yang kita temui adalah keruntuhan, Ros…” Tiada yang bertanda benalu, selebihnya adalah kemasan.
“Kau rupanya ikut-ikutan mengutuk diriku, Wan.”
“Percuma, kalau aku berbuat begitu, Ros. Aku sangat sadar dengan kehadiran diriku, baik dahulu maupun sekarang ini. Karena, dengan kutukan itu, sama artinya aku merontokkan harapan ini.”
Kau menatap sesuatu di kejauhan. Dari jendela itu, nampak jalan berbatu yang mulai sepi dan pekat, karena tiada lentera penerangnya. Kalau satu-dua orang lewat, dalam kerudung sarung, atau memikul buah-buahan dari pasar Cilamaya arah barat, maka suara telapakan kakinya berat menderap di jalanan yang sempit itu. Kadang-kadang terasa bagai mengeruhkan ketenangan batin. Beberapa puluh kunang beterbangan di sekitar bukit seberang, seolah mereka sadar, lebih baik memberikan secuplik-cuplik sinar damar, daripada malam dibiarkan suram dan hitamtua. Kemudian, kilatan sinar cumlorot, dari sebuah sentolop, diikuti langkah-langkah serandal di bebatuan, dan clorot-clorot pun berpindah-pindah, menerangi belukar, dan sebentar lagi pada padi yang membunting di sawah timurlaut. Dia adalah si penangkap katak, yang berikatkan kepis di pinggang, dan hanya berpakaian sederhana. Pada malam desa yang sesunyi itu, senter dan kehadirannya bagaikan kembang api yang menentramkan. Kerincing berdenting, dan dia ambyur di bencah-sawah, untuk menangkap buruannya. Setelah itu, sepi. Sepi. Dengan nafas landung, aku menyiramkan air ke api.
“Orang seperti aku ini, pantasnya jadi buangan,” desismu waktu itu. Aku tiba-tiba meremas jemarimu yang halus, tetapi terasa runcing karena tubuhmu kian kurus. “Tanpa berkata seperti itupun sebenarnya dikau sudah merasakan jadi buangan dan terlunta. Maaf, aku bicara sepahit ini. Aku tak bisa mendiamkan samasekali.” Mendatang jelang serakit tualang.
“Dasar jiwamu suka berlagak penyelamat? Bukan persoalanmu, tapi kau ambil alih sebagai sandungan yang membebalkan, Wan.”
“Jangan salah tampa. Siapa yang berlagak penyelamat? Siapa memilih sesuatu sebagai sandung-sandungan di jalanan berdebu?”
“Kau sendiri, Wan. Mentang-mentang anak ulama terkenal. Padahal, aku ini apa? Perempuan tanpa kelas, tanpa derajat, tanpa perhatian orang lain. Pikirkanlah, Wan. Sebelum dirimu tersesat.”
“Sekiranya beranggapan tentang kesesatan, Ros. Kinipun aku akui, telah berkecimpung di tengah tebat yang keruh. Namun apa artinya, bagi perjalananku sendiri buat menjumput kesunyataan ini?”
Roslina terpekur, menatap renda-renda di sarung bantal itu. Aku belai rambutnya, dan dalam haru, kucium pipinya yang cekung. Wanita yang dulu begitu jelita dan membuat abang kandungku tertua mabuk kepayang, hingga lupa anak-isteri, lupa tanggung-jawab, lupa akan martabat. Keluarga kami geger. Tapi bukan kesalahanmu, Roslina. Niatmu adalah lebih manis daripada kemanisan manapun yang pernah diancangkan orang. Kau seorang sekretaris yang terdidik dan meniti keberhasilan dari likunya kegersangan. Sekuntum mawar juita, yang mencoba menatap cerlang dunia, dengan melamar di kantor perusahaan Bang Sulaiman, abangku. Karir pun menghilir bersama kesempatan nan berbinar. Orang-orang menyayangimu, mengasihimu, memanjakanmu. Dahulu! Tatkala hayat menderai ke hulu.
Siti Roslina! Malam yang meredamkan seluruh jiwamu, niscaya juga kurasakan karena aku sudah terlanjur mengatakan kepada abang, bahwa andaikata semua itu terajdi, aku akan menjadi tameng terakhir dari keluargaku, dan juga benteng penghabisan bagimu (karena aku teramat mencintaimu). Pada papasan yang tergulir, melalui siratan dan kepuasan.
“Wan, Wan. Aku marah padamu dulu, karena kau bilang terusterang pada ibuku yang telah menjanda itu, bahwa kedatanganmu adalah untuk menjemputku, dan mengajakku ke pembuangan di bukit nan sulit didaki itu. Mengapa tak kaukatakan bahwa kau mengantarkan seorang kekasih abangmu kembali ke kandang?” Dan senjakala meneteskan likur-lingir.
“Ros, ingatlah. Wawan tak pernah menyepelekan seseorang, walaupun dia seorang wanita dan telah dikutuk oleh seluruh penjuru kota sebagai pengrusak pager ayu, perusak rumahtangga orang lain.” Aku mengatakan dengan seluruh getaran perasaanku nan terdalam, dan bukan bersandiwara. Aku memetik daun rumput kulanjana yang pahit, dan mengulumnya, lalu meludahkan kepahitannya yang berbusa. Aku boncengkan dirimu dengan sepeda, menuju ke sini, sementara perang dingin antara Bang Leman dengan isterinya belum kunjung reda. “Ini bukan pengorbanan seorang adik terhadap kakaknya, Bang,” kataku terbata-bata, pada abangku yang rupanya telah dua tahun menjadikanmu bukan saja sekretaris pribadi, tetapi juga kekasih nan tersembunyi. “Harap Abang catat di hati. Tatkala peristiwanya meluntur dan rahasia ini terbuka, Abang hendak cuci tangan. Itu hak Abang. Namun Roslina, semoga jangan dikait-kait. Aku hendak melindunginya.” Waktu itu tengah malam, aku datang kepada abang untuk menerima perintahnya yang aneh. Sedari sore aku menunggu di belakang kantornya, dan kemudian menumpang mobil Corolla yang menuju dekat dermaga.
Kudengar debur laut pasang, dengan ombak yang bagai bersungut. Sesekali terdengar anak-kapal layar yang memaki kasar karena benturan pada lunas atau timbaruang. Lantas guyuran air penyiram tubuh, tanda beberapa awak mandi di luar, memanfaatkan air bersih dari kota, yang diberi berember-ember dekat gudang. Aku mencium bau anyir ikan yang keburu mati dalam tangkapan. “Dengarlah, Adikku. Jangan sampai luput. Tugasmu melenyapkannya.” Aku tumungkul sewaktu mendengar perintah abangku yang groyak dan parau, seperti dipaksa-paksakan keluarnya itu. Terasa pada telapak tanganku benda dingin sebesar mangkuk alit melonjong. Baru aku sadar, kala aku menatap picunya. Ya, sebuah pistol! Kiranya tugasku jelas: melenyapkan benalu rumahtangganya. Sebulan sebelumnya, hari-harinya diwarnai perang-mulut dan pertengkaran tiada henti-hentinya. Apalagi setelah mbakyu menemukan suratmu, Ros, dalam tas kerja abang, yang berisi pernyataan bahwa kau hamil tiga bulan dan minta ketegasan sikap abangku. Tapi sebelum abang bersikap jantan, alih-alih untuk melindungi, malah dia berniat melenyapkan jejak hitam. “Sungguh, sungguh, lakukan secepatnya. Pakailah mobil ini. Bujuk Si Ros, supaya mau pergi ke luar.” Aku seperti mendengar rentetan peluru menyalak, demi kalimat itu terluncur. Aku harus jadi seorang pembunuh? Dan yang kubunuh adalah wanita yang pernah kukenal baik, bahkan telah kuanggap adik, ketika sama-sama mengikuti kursus manajemen di kota S?
Aku mesti memungkasi hidup seseorang yang notabene belum pernah sekalipun menyakiti hatiku? Aku kudu mengakhirinya, sementara kandungannya telah berumur tiga bulan? Di manakah hai Wawan, rasa kemanusianmu? Bibirku terkatup. Kudengar kembali suara guyuran air di tubuh, dekat-dekat bangunan itu. Malam berkabut di luar kota. Pistol yang kugenggam tadi, kembali kuletakkan segera.
Kupandang manik-mata abang. Matanya merah menyala; campuran antara rasa sebal, rendah-diri, bingung, resah, tapi juga culas. Di antaranya ada kebimbangan yang menyusul. Dia, dia pengecut, makiku dalam hati. Di tangan abang tergenggam amplop yang entah berisi berapa ratus ribu, untuk upah melenyapkan sebuah sosok, yang jadi sumber pertentangan keluarga kami. Aku tahu itu, secara pasti. Kalau aku tak membantunya, sama artinya dengan tega membiarkan mbakyuku menderita batin yang berkepanjangan. Atau tega menyaksikan kemenakan-kemenakanku terseret dalam derita yang diakibatkan keculasan bapaknya. Akankah mereka tersungkur hancur tanpa dewa-penolong? Kutatap mata abang, yang bagaikan saga berdarah. Aku berpaling. Membalikkan badan. “Abang, Abang,” tangisku meledak dalam isak memuput. Tuhanku, aku masih berpegang pada Kasih-Mu. “Abang, biarkan dia hidup. Biarkan, Bang. Tak tega…”
“Wawan! Kausepelekan kata-kata Abangmu ini? Kau wangkot!”
“Tidak, tapi aku enggan berlumuran darah. Jangan, Bang.” Lantas aku berlari kencang, meninggalkan dermaga itu, entah ke mana. Aku tak ingat lagi. Yang kuketahui, aku pingsan, dan dirawat hingga sehari di rumah seorang polisi yang berkawal di ujung-timur dermaga senyap itu. Setelah kekuatanku pulih, aku minta diri. Kujujug tempat pondokanmu dan kuceritakan rencana ini. Kuajak dikau minggat dari kota S. Aku jelek-jelek begini masih punya hargadiri yang layak. Dari uang tabunganku yang tak seberapa, kusewa bangunan bekas rumah penjaga-hutan di kawasan bekas daerah wisata nan ditinggalkan. Dan, aku cancut segera, untuk membebaskanmu dari kemelut di kota. Aku bertekad untuk mengawinimu, Siti Roslina. Walau, kekeluargaan antara diriku dan abang retak sudah. Aku melecehkannya sebagai srigala bernyali ciut.
Siti Roslina, seorang yang telah mengisi hatiku!
Malam begini, di Pondok Marabunta, pinggir Situ Lengkong, hanya aku dan dikau yang hidup dalam beningnya suasana. Gerimis turun, makin lama makin lembut, bersama angin bersiul merifuh-rifuh sepanjang lembah. Derai-derai cemara wayang memperdengarkan kidung kegelisahan tanpa wasana, seperti yang kita rasakan hari-hari belakangan ini. Karena pintu kamar ini masih terbuka, angin-derai terasa di kulit-kulitku yang telanjang. Sekali lagi dalam keremangan luar, nampak sosok-sosok warga desa dalam kelamun sarung, menuruni bukit, lalu menuju ke jalan setapak yang menghereng liku lainnya. Menyaksikan kunang-kunang beterbangan melayang, menukik, berpencaran. Kalau kebetulan beberapa mengumpul pada satu gumpalan, byar-byar-pet sinarnya terang berkilatan. Sebentar kemudian, senter pencari katak memotongnya.
“Tidurlah, dan semoga mimpi malam ini menentramkanmu, Ros,” bisikku menenangkanmu. “Aku ada di sini, entah sampai kapan, Ros. Kuyakin badai belum berlalu. Bahkan gempanya masih terasa, bahkan akan menjomplangkan.” Masih gemulung rahmat terakhir, asapnya melingkar.
“Lalu, kaukorbankan haridepanmu untuk seorang wanita hina, yang dipurukkan ke bawah sebagai perusak bahagia kaumnya, Wan?” tangismu kembali menyentakkan diriku. Aku elus rambutmu yang hitam-halus. Kau cantik, Ros. Kau tak berhak menderita seperti ini. Tuhan mengasihimu dan mengutusku menyelamatkanmu dari sergapan maut yang sia-sia. “Ini bukan sebuah pengorbanan yang tanpa arti, Ros. Sungguh. Ini sekedar suatu langkah-pastiku sebagai lelaki. Itu saja, tak lebih. Kuambil tindak terbaik, sebelum kehancuran terjadi.”
Gerimis mengeruntun dalam hujan lebat. Kututup jendela dan pintu kamar. Kuseka airmatamu nan deras. Kuseka linangan bahagiaku sendiri.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Beberapa pemisalan dapat diambil oleh mereka yang mengumpil kesunyataan ini. Beberapa pemunggahan bisa digoprak oleh mereka yang menginginkan kesentausaan, sedangkan alam mustahil menyampaikan secara utuh. Barangkali, orang kemudian memilih suatu letupan pernyataan yang benar-benar berdentum, katimbang dia mesti menunggu seabad untuk penungguan nan sia-sia.
Siti Roslina yang bertahan di tapalbatas.
Bagaimanapun, kepergian menuntut penyelesaian. Artinya hanyalah kecil, bahwasanya setiap manusia kudu berbuat menurut kadar-kemampuan, bilamana dia telah pernah mengucapkan suatu curahan sanubari. Dan dengan demikian, tiada yang kelak disesali – oleh siapapun tentunya – bahwa kita telah berbuat bijak. Dan bahwasanya tiada lain yang ditentukan oleh pernyataan tinarbuka ini selain bahwa dirinya sanggup mengentas orang-orang tercinta dari marabahaya itu. Kalau sudah sampai kepada sikap tegas begini, takkan mungkin bisa dicegahnya, hubaya-hubaya Tuhan pun tidak mencobanya. Karena dia telah menentukan kata-pasti dalam hidupnya. Gulang-gulingan pemikiran manusia berkesan kalut.
Siti Roslina!
Di Pondok Marabunta, di pinggir Situ Lengkong, kau sengaja mengasingkan diri, setelah badai itu menggelegar. Daerah di lembah hijau, di mana kau hanya akan mendengarkan dengkur tekukur menjelang senjahari, dan suara alu menumbuk lesung di paruhsiang nan lengang. Tapi, langit dusun sudah sanggup memupus deru-debur dada, bilamana yang akan diresapkan memang menjawil ke-satu-pastian. Daerah, yang memasukkan bungkah-bungkah musim kemarau ke dalam kanal yang lembab berlumut dan berwarna kusam sepanjang lingkar selatan perkampungan sana. Tapi bila terdengar suara angin bersungut dan mendesau lewat derai-derai cemara wayang, maka akan nampak, bahwa bungkah-bungkah itupun meleleh, seperti kristalan es yang lumer pada ujung-ujungnya, lantas air-lelehan itu mengalir ke bawah, bercampur dengan air sungai yang hitam anyir itu. Apakah dirimu sempat memperhatikan pemandangan rutin tiap pagi seperti itu di persemayaman nan meresahkan kini, Roslina? Atau, ada gumpalan pikiran lain yang susul-menyerbu benak, kemudian menugaskan dirimu untuk tercenung beberapa saat sesudah bangkit dari pembaringan nan mengesalkan? Boleh jadi, kau malah tak perlu mengacuhkan reroncen alam yang bagai mengejek dan mencibir ini.
“Andaikata segalanya tak menabrak ketenangan itu, Wan, sulit ditebak, apakah juga orangtuaku tega memperlakukan aku seperti itu.” Demikian ujarmu malam itu, ketika untuk yang terakhir aku boleh menatapmu sebebas itu – tapi buat yang pertama kali aku menyalami tanganmu setelah ‘kebebasan’ secara resmi kauperoleh dari orang yang pernah menyengsarakan di kota Bandung. “Bicara tentang pengandaian adalah mirip mimpi siangbolong,” aku memotong agak santak. “Yang kita temui adalah keruntuhan, Ros…” Tiada yang bertanda benalu, selebihnya adalah kemasan.
“Kau rupanya ikut-ikutan mengutuk diriku, Wan.”
“Percuma, kalau aku berbuat begitu, Ros. Aku sangat sadar dengan kehadiran diriku, baik dahulu maupun sekarang ini. Karena, dengan kutukan itu, sama artinya aku merontokkan harapan ini.”
Kau menatap sesuatu di kejauhan. Dari jendela itu, nampak jalan berbatu yang mulai sepi dan pekat, karena tiada lentera penerangnya. Kalau satu-dua orang lewat, dalam kerudung sarung, atau memikul buah-buahan dari pasar Cilamaya arah barat, maka suara telapakan kakinya berat menderap di jalanan yang sempit itu. Kadang-kadang terasa bagai mengeruhkan ketenangan batin. Beberapa puluh kunang beterbangan di sekitar bukit seberang, seolah mereka sadar, lebih baik memberikan secuplik-cuplik sinar damar, daripada malam dibiarkan suram dan hitamtua. Kemudian, kilatan sinar cumlorot, dari sebuah sentolop, diikuti langkah-langkah serandal di bebatuan, dan clorot-clorot pun berpindah-pindah, menerangi belukar, dan sebentar lagi pada padi yang membunting di sawah timurlaut. Dia adalah si penangkap katak, yang berikatkan kepis di pinggang, dan hanya berpakaian sederhana. Pada malam desa yang sesunyi itu, senter dan kehadirannya bagaikan kembang api yang menentramkan. Kerincing berdenting, dan dia ambyur di bencah-sawah, untuk menangkap buruannya. Setelah itu, sepi. Sepi. Dengan nafas landung, aku menyiramkan air ke api.
“Orang seperti aku ini, pantasnya jadi buangan,” desismu waktu itu. Aku tiba-tiba meremas jemarimu yang halus, tetapi terasa runcing karena tubuhmu kian kurus. “Tanpa berkata seperti itupun sebenarnya dikau sudah merasakan jadi buangan dan terlunta. Maaf, aku bicara sepahit ini. Aku tak bisa mendiamkan samasekali.” Mendatang jelang serakit tualang.
“Dasar jiwamu suka berlagak penyelamat? Bukan persoalanmu, tapi kau ambil alih sebagai sandungan yang membebalkan, Wan.”
“Jangan salah tampa. Siapa yang berlagak penyelamat? Siapa memilih sesuatu sebagai sandung-sandungan di jalanan berdebu?”
“Kau sendiri, Wan. Mentang-mentang anak ulama terkenal. Padahal, aku ini apa? Perempuan tanpa kelas, tanpa derajat, tanpa perhatian orang lain. Pikirkanlah, Wan. Sebelum dirimu tersesat.”
“Sekiranya beranggapan tentang kesesatan, Ros. Kinipun aku akui, telah berkecimpung di tengah tebat yang keruh. Namun apa artinya, bagi perjalananku sendiri buat menjumput kesunyataan ini?”
Roslina terpekur, menatap renda-renda di sarung bantal itu. Aku belai rambutnya, dan dalam haru, kucium pipinya yang cekung. Wanita yang dulu begitu jelita dan membuat abang kandungku tertua mabuk kepayang, hingga lupa anak-isteri, lupa tanggung-jawab, lupa akan martabat. Keluarga kami geger. Tapi bukan kesalahanmu, Roslina. Niatmu adalah lebih manis daripada kemanisan manapun yang pernah diancangkan orang. Kau seorang sekretaris yang terdidik dan meniti keberhasilan dari likunya kegersangan. Sekuntum mawar juita, yang mencoba menatap cerlang dunia, dengan melamar di kantor perusahaan Bang Sulaiman, abangku. Karir pun menghilir bersama kesempatan nan berbinar. Orang-orang menyayangimu, mengasihimu, memanjakanmu. Dahulu! Tatkala hayat menderai ke hulu.
Siti Roslina! Malam yang meredamkan seluruh jiwamu, niscaya juga kurasakan karena aku sudah terlanjur mengatakan kepada abang, bahwa andaikata semua itu terajdi, aku akan menjadi tameng terakhir dari keluargaku, dan juga benteng penghabisan bagimu (karena aku teramat mencintaimu). Pada papasan yang tergulir, melalui siratan dan kepuasan.
“Wan, Wan. Aku marah padamu dulu, karena kau bilang terusterang pada ibuku yang telah menjanda itu, bahwa kedatanganmu adalah untuk menjemputku, dan mengajakku ke pembuangan di bukit nan sulit didaki itu. Mengapa tak kaukatakan bahwa kau mengantarkan seorang kekasih abangmu kembali ke kandang?” Dan senjakala meneteskan likur-lingir.
“Ros, ingatlah. Wawan tak pernah menyepelekan seseorang, walaupun dia seorang wanita dan telah dikutuk oleh seluruh penjuru kota sebagai pengrusak pager ayu, perusak rumahtangga orang lain.” Aku mengatakan dengan seluruh getaran perasaanku nan terdalam, dan bukan bersandiwara. Aku memetik daun rumput kulanjana yang pahit, dan mengulumnya, lalu meludahkan kepahitannya yang berbusa. Aku boncengkan dirimu dengan sepeda, menuju ke sini, sementara perang dingin antara Bang Leman dengan isterinya belum kunjung reda. “Ini bukan pengorbanan seorang adik terhadap kakaknya, Bang,” kataku terbata-bata, pada abangku yang rupanya telah dua tahun menjadikanmu bukan saja sekretaris pribadi, tetapi juga kekasih nan tersembunyi. “Harap Abang catat di hati. Tatkala peristiwanya meluntur dan rahasia ini terbuka, Abang hendak cuci tangan. Itu hak Abang. Namun Roslina, semoga jangan dikait-kait. Aku hendak melindunginya.” Waktu itu tengah malam, aku datang kepada abang untuk menerima perintahnya yang aneh. Sedari sore aku menunggu di belakang kantornya, dan kemudian menumpang mobil Corolla yang menuju dekat dermaga.
Kudengar debur laut pasang, dengan ombak yang bagai bersungut. Sesekali terdengar anak-kapal layar yang memaki kasar karena benturan pada lunas atau timbaruang. Lantas guyuran air penyiram tubuh, tanda beberapa awak mandi di luar, memanfaatkan air bersih dari kota, yang diberi berember-ember dekat gudang. Aku mencium bau anyir ikan yang keburu mati dalam tangkapan. “Dengarlah, Adikku. Jangan sampai luput. Tugasmu melenyapkannya.” Aku tumungkul sewaktu mendengar perintah abangku yang groyak dan parau, seperti dipaksa-paksakan keluarnya itu. Terasa pada telapak tanganku benda dingin sebesar mangkuk alit melonjong. Baru aku sadar, kala aku menatap picunya. Ya, sebuah pistol! Kiranya tugasku jelas: melenyapkan benalu rumahtangganya. Sebulan sebelumnya, hari-harinya diwarnai perang-mulut dan pertengkaran tiada henti-hentinya. Apalagi setelah mbakyu menemukan suratmu, Ros, dalam tas kerja abang, yang berisi pernyataan bahwa kau hamil tiga bulan dan minta ketegasan sikap abangku. Tapi sebelum abang bersikap jantan, alih-alih untuk melindungi, malah dia berniat melenyapkan jejak hitam. “Sungguh, sungguh, lakukan secepatnya. Pakailah mobil ini. Bujuk Si Ros, supaya mau pergi ke luar.” Aku seperti mendengar rentetan peluru menyalak, demi kalimat itu terluncur. Aku harus jadi seorang pembunuh? Dan yang kubunuh adalah wanita yang pernah kukenal baik, bahkan telah kuanggap adik, ketika sama-sama mengikuti kursus manajemen di kota S?
Aku mesti memungkasi hidup seseorang yang notabene belum pernah sekalipun menyakiti hatiku? Aku kudu mengakhirinya, sementara kandungannya telah berumur tiga bulan? Di manakah hai Wawan, rasa kemanusianmu? Bibirku terkatup. Kudengar kembali suara guyuran air di tubuh, dekat-dekat bangunan itu. Malam berkabut di luar kota. Pistol yang kugenggam tadi, kembali kuletakkan segera.
Kupandang manik-mata abang. Matanya merah menyala; campuran antara rasa sebal, rendah-diri, bingung, resah, tapi juga culas. Di antaranya ada kebimbangan yang menyusul. Dia, dia pengecut, makiku dalam hati. Di tangan abang tergenggam amplop yang entah berisi berapa ratus ribu, untuk upah melenyapkan sebuah sosok, yang jadi sumber pertentangan keluarga kami. Aku tahu itu, secara pasti. Kalau aku tak membantunya, sama artinya dengan tega membiarkan mbakyuku menderita batin yang berkepanjangan. Atau tega menyaksikan kemenakan-kemenakanku terseret dalam derita yang diakibatkan keculasan bapaknya. Akankah mereka tersungkur hancur tanpa dewa-penolong? Kutatap mata abang, yang bagaikan saga berdarah. Aku berpaling. Membalikkan badan. “Abang, Abang,” tangisku meledak dalam isak memuput. Tuhanku, aku masih berpegang pada Kasih-Mu. “Abang, biarkan dia hidup. Biarkan, Bang. Tak tega…”
“Wawan! Kausepelekan kata-kata Abangmu ini? Kau wangkot!”
“Tidak, tapi aku enggan berlumuran darah. Jangan, Bang.” Lantas aku berlari kencang, meninggalkan dermaga itu, entah ke mana. Aku tak ingat lagi. Yang kuketahui, aku pingsan, dan dirawat hingga sehari di rumah seorang polisi yang berkawal di ujung-timur dermaga senyap itu. Setelah kekuatanku pulih, aku minta diri. Kujujug tempat pondokanmu dan kuceritakan rencana ini. Kuajak dikau minggat dari kota S. Aku jelek-jelek begini masih punya hargadiri yang layak. Dari uang tabunganku yang tak seberapa, kusewa bangunan bekas rumah penjaga-hutan di kawasan bekas daerah wisata nan ditinggalkan. Dan, aku cancut segera, untuk membebaskanmu dari kemelut di kota. Aku bertekad untuk mengawinimu, Siti Roslina. Walau, kekeluargaan antara diriku dan abang retak sudah. Aku melecehkannya sebagai srigala bernyali ciut.
Siti Roslina, seorang yang telah mengisi hatiku!
Malam begini, di Pondok Marabunta, pinggir Situ Lengkong, hanya aku dan dikau yang hidup dalam beningnya suasana. Gerimis turun, makin lama makin lembut, bersama angin bersiul merifuh-rifuh sepanjang lembah. Derai-derai cemara wayang memperdengarkan kidung kegelisahan tanpa wasana, seperti yang kita rasakan hari-hari belakangan ini. Karena pintu kamar ini masih terbuka, angin-derai terasa di kulit-kulitku yang telanjang. Sekali lagi dalam keremangan luar, nampak sosok-sosok warga desa dalam kelamun sarung, menuruni bukit, lalu menuju ke jalan setapak yang menghereng liku lainnya. Menyaksikan kunang-kunang beterbangan melayang, menukik, berpencaran. Kalau kebetulan beberapa mengumpul pada satu gumpalan, byar-byar-pet sinarnya terang berkilatan. Sebentar kemudian, senter pencari katak memotongnya.
“Tidurlah, dan semoga mimpi malam ini menentramkanmu, Ros,” bisikku menenangkanmu. “Aku ada di sini, entah sampai kapan, Ros. Kuyakin badai belum berlalu. Bahkan gempanya masih terasa, bahkan akan menjomplangkan.” Masih gemulung rahmat terakhir, asapnya melingkar.
“Lalu, kaukorbankan haridepanmu untuk seorang wanita hina, yang dipurukkan ke bawah sebagai perusak bahagia kaumnya, Wan?” tangismu kembali menyentakkan diriku. Aku elus rambutmu yang hitam-halus. Kau cantik, Ros. Kau tak berhak menderita seperti ini. Tuhan mengasihimu dan mengutusku menyelamatkanmu dari sergapan maut yang sia-sia. “Ini bukan sebuah pengorbanan yang tanpa arti, Ros. Sungguh. Ini sekedar suatu langkah-pastiku sebagai lelaki. Itu saja, tak lebih. Kuambil tindak terbaik, sebelum kehancuran terjadi.”
Gerimis mengeruntun dalam hujan lebat. Kututup jendela dan pintu kamar. Kuseka airmatamu nan deras. Kuseka linangan bahagiaku sendiri.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Kamis, 04 September 2008
BENING, SI BINTIK BENING
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Ah, ya, hampir saja aku menuju ke persimpangan jalan nan menyesatkan. Pada waktu itu, telah aku bentangkan layar-layar untuk mengkait tempatmu berlindung. Pada waktu itu, sebenarnya aku tegangkan sebuah penutup, sehingga sigatanmu mampu menghalangi sinar yang panas, sebelum empedu memahit, dan sebelum tempurung kepalamu berdenyut lunak kena jarum-jarum langit rasa sauna. Begitu kuatkah dirimu mencoba berlindung?
Bobby yang penyantun! Kiranya dinding ini terlampau tebal menyungkup, sehingga tubuhmu kegerahan, bukan? Rumah yang berdiri dan menaungi bukan sesuatu yang didambakan dalam rentang penantian. Akan tetapi, kala aku hendak menunjukkan musykilnya pengharapan yang berselang-seling, kurasakan betapa tambah rengkahnya dirimu dari persada-asal. Aku dan ibumu tengah berupaya, agar sel-sel darah yang berada dalam badan sehat bukan mempertentangkan alur dan lajurnya, melainkan justru mengalir bersama zat-zat lainnya yang secara kodrati memperteguh kelugasan antara rengkah dan rangkah di haluan.
Tiada yang mempertajam sengketa pada kehidupan di mayapada ini selain daripada mereka yang alpa, Nak. Ini sungguh pasti. Siapa memberangkatkan sampan-sampan, tanpa bisa memacakkan dayungnya, ibaratnya meramalkan cuaca tanpa mengetahui peta gunjingan angin. Pada saat manusia mengecimpungi sendang demi sendang yang pernah membincangkan air hijaunya di pagi resik – dan dengan demikian, kebugaran pun teruji kembali. Cobalah renungi kalbumu sendiri. Cobalah dekap lembah dan tebing di sekeliling sendang itu, niscaya masih lekat parakanmu.
Minggu pertama di bulan Maret, laras dengan peringatan hari jadimu yang sedikit pun tak pernah kami lupakan. Kau mungkin khilaf, bahwa papa senantiasa menyempatkan diri untuk menyimak Mazmur atau Khotbah di Bukit, sebagai pantulan rasa larutnya pada Injil nan melekat pada pori-pori kulit ini. Apakah Tuhan mendengar nyanyian kami? Mustikah kuucapkan litany cilik pada persembahyangan di kamar terasing sudut kidul rumah kita, yang kau selalu mengatakan, bahwa bau mawar oranye yang kutanam di sepetak tanah kering itu tak terlupakan, dan bahwasanya terus terasa bahwa Sang Timur sandar di situ?
“Papa bersikeras untuk bikin perjamuan, padahal masih terlalu siang untuk merayakan “Bojana Penghabisan” yang dilindungi merpati roh kudus sepanjang upacara bergema,” kata ibumu mengingatkan. Aku menjawab: “Tidak begitu, Mam. Aku merasa anak kita selalu tiba, sebelum bubur sumsum yang tersedia di panci itu habis untuk para tamu. Aku rasa, darah daging kita sendiri terus menunggu, kapan santapan utama siap…”
Ananda yang lurus hati.
Suatu pagi, saat dikau telah duduk di akhir Sekolah Dasar dan mengadakan darmawisata bersama teman-teman sekolah, ibumu kelihatan murung sekali. Kulihat, di luar, hari pun diliputi oleh gemawan tebal, sehingga keredupan udara terasa begitu menyekat tenggorokan. “Sayangnya si Bobby bersikeras berangkat hari ini,” ibumu menyampirkan handuk yang masih tertinggal di kamar mandi sehabis kaugunakan pagi buta. “Memangnya kenapa? Adakah sesuatu yang tertinggal?” tanyaku seraya memperbaiki radio transistor yang rusak di ruang tengah. “Papa lihat, celana renang dan alat pelampungnya masih tertinggal, padahal hari ini ia tentunya mandi-mandi di laut.” Aku menghela nafas. Semoga tiada marabahaya, desisku. Tapi aku rasakan, dadaku sesak. “Kau sering lupa menyiapkan apa yang perlu, jika anakmu lanang bepergian jauh,” kataku menyiasat. “Dia sih masih kebocahan sekali.”
Lantas terjadilah malam itu, lepas suara “Love Ambon” dari radio, pertanda siaran rampung di jam duapuluhempat tepat – seorang tetangga menyampaikan kabar. Dan aku beserta ibumu seperti tak bisa bernafas, karena peristiwa yang menyakitkan itu. “Putra Bapak, kini dibawa dengan ambulans. Luka-luka pada pelipis dan punggungnya.” Aku segera bergumam: “Oh, apakah Bobby mengalami kecelakaan di laut, Pak? Ia belum begitu mahir berenang.” Tapi polisi dan petugas rumah sakit cuma menggeleng lemah. Menjelang pukul tiga pagi, tahulah aku, bahwa luka-luka yang kauderita bukan karena musibah di alam yang ganas, melainkan ulah teman-temanmu sendiri jua. “Putra Bapak sering berkelahi?” tanya seorang guru yang menungguinya di zal. Aku berdesis, “Sepengetahuanku tidak.” Tapi ibumu langsung menukas: “Tuan belum tahu agaknya. Bobby bisa juga berang dan melabrak jika harga dirinya terinjak. Apalagi teman-temannya suka melecehkan, mengoloknya.” Dokter yang mendengar itu mengerling dan ikut numbrung: “Ibu, apakah dia terkucil di sekolah? Problem apa yang merisaukannya?” Maka setengah menangis, ibumu bilang begini: “Dengarlah, Tuan. Ibu mana tak tersentuh perasaannya bila anak lanang satu-satunya diperhinakan. Soal apa lagi kalau bukan rasial, soal warna kulit, soal kebangsaan. Sedih, Tuan. Teman-teman si buyung, yang tanpa sadar dicekoki prinsip nasionalisme dan patriotisme yang kelewat batas, menuding si Bobby sebagai “sisa begundal kolonial”, anak Blandis, dan cercaan yang pedas-pedas, gara-gara kulit anakku putih-bule, bukan seperti anak pribumi.”
Dokter tertawa, mengisap cerutunya, mengepulkan asap keruhnya ke langit-langit kamar. “Lebih baik tak usah kita perhatikan gurauan-senda bocah-bocah cilik yang lagi mabuk pada suasana dewasa ini. Suasana, tatkala demam nasionalisasi perusahaan asing tengah berkecamuk, karena meningkatnya perjuangan merebut Irian Barat dari rangkulan Belanda.” Aku berkata: “Kami sadar, bukan lagi menganggap semua itu sebagai omongan bocah melainkan sudah punya wur-wuran serbuk politik ekstrim, tak sehat!”
Maka, aku melangkah untuk melihat bagian-bagian dari badanmu yang dijahit, dan memerlukan penyembuhan yang cukup lama. Sejenak lampu neon di ruangan itu mengerdip dalam siratan luruh. Kupandang wajah ibumu yang suram dan temungkul. Ah, nak – kala itu alangkah pucat mukamu, bagai kapas. Seorang murid, yang melaporkan padaku tak lupa membeberkan, bagaimana Topo melakukan serangan dengan belati berkali-kali, melukaimu. Soalnya hanya karena kau mau pinjam piring dan gelas, dan dia melarang seraya mengatakan, bahwa “anak Belanda kuning seperti kamu sudah tak layak lagi tinggal di negeri republik kami yang merdeka ini.” Kau tersinggung, dan meninju lengannya. Lalu perkelahian tak terhindarkan dan kau dikeroyok lima teman-temannya yang solider. Aku mengeluh seraya melemparkan mata ke halaman rumahsakit yang luas itu. Aku raba keningmu yang panas. Balut-balut lukamu masih berdarah!
Dan itulah yang menjadi sebagian ganjalanku. Sampai di SMTP, ketika beberapa kali aku menyarankan, supaya kau lebih banyak berolahraga di alam luas, mulai dari sepakbola, basket, volley, renang, dan senam sehat. Kau begitu wangkot, Nak. Maksud bapak, olahraga akan menambah indah bentuk-jasadmu, dan lebih banyak potensi alam yang kausedot ke dalam ragamu, memperkuat sel-sel darahmu. Rupanya elektronika lebih menarik dirimu untuk berkurung dalam kamar sempit. Kau sendiri agak rendah diri jika harus bergaul dengan sahabat-sahabat di kampung. Nak, papa tak salah jika menyarankan supaya bergiat di udara terbuka. Karena jika kau banyak berjemur di bawah terik-surya, niscaya kulitmu takkan terlalu putih. Citramu sebagai ‘Sinyo’ yang agak mencurigakan, pada saat warga kampung sekitar kita tenggelam dalam antipati terhadap orang Belanda, yang mereka anggap sebagai ‘musuh republik’.
Hanya saja, aku berbesar hati, bahwa dirimu telah menuruti nasehat ayah, tiap minggu berkebun bunga di kebun belakang. Sehabis mencangkul bersamaku dan ibumu, wajahmu berkeringat, kemerahan, juga kulit leher, bahu dan dadamu. Apa boleh buat, kesunyataanlah yang bicara. Serasa, paras bulat Kapten Van Hasselman – suami ibumu, yang pergi tanpa pesan, setelah menebar benih di rahimnya. Ya, bahkan hingga dikau menatap dunia, dan berumur setahun. Kalau aku kemudian datang sebagai pelindung, dan mengangkatmu sebagai putraku terkasih, bukanlah lantaran aku berlagak pahlawan. Tidak, Nak, kinilah tiba waktunya aku untuk bicara sejujurnya. Neng Euis Tikah, ibumu itu – kembang desa Cilambuan; puluhan pria merindukannya, berhasrat mempersunting sekar mekar ini, sebelum akhirnya agresi militer kolonial datang menikam Tanah Pasundan. Dan itu kukatakan, karena aku juga termasuk salah satu di antara jejaka kolot yang mendambakan cintanya. Lantas kami bertemu, di daerah perbatasan tatkala Euis Tikah lari dari kota, ke tempat bibinya di Karilo. Kami dipertemukan Tuhan kembali. Dia menggendong anaknya yang sehat jenaka, yakni dikau sendiri, Nak. Dia tetap ayu-suci di mataku!
Bobby yang kini sudah dewasa.
Bapakmu ini jurutulis Pegadaian Negeri kala itu dan lamaran kepada Euis Tikah mendapat perhatian selayaknya. Kami menikah, dan kemudian hijrah di kota, tempat kami membesarkan dirimu hingga sekarang. Aku keluar dari pekerjaan yang lama, dan beralih jabatan sebagai pengelola hotel yang cukup terkenal itu – suatu bidang yang membuat secara materi, berkecukupan, bahkan bisa dikatakan berkelimpahan. Kami rasa, sebagai seorang ayah, aku bisa memberikan hal-hal yang bermanfaat tanpa prasangka buruk sedikitpun. Bahkan hingga SLTA, dan dirimu kepingin memasuki Akademi Militer Nasional – aku dan ibumu menyatakan keberatan yang besar.
“Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kemiliteran, pangkat-pangkat dan tanda lencana berkilauan senantiasa mengingatkan kami kepada perang nan memusnahkan segalanya,” itu alasan dariku. Lalu kuperlihatkan potret dari harian “Dwiwarna” yang terbit pada tahun 1948, yang mengisahkan, bagaimana dua orang pamanku terbantai di Bandung Selatan, bersama dengan ratusan warga kampung di daerah kumuh itu. Pelakunya adalah Westerling, algojo Belanda yang haus darah itu. Seorang kerabatku yang lain, ikut menjadi korban ketika pulang dari pasar. Ia seorang ibu yang tengah mengandung-tua, dan ditembak di tengkuknya, sewaktu bersepeda melintas halaman sebuah kantor. Seorang sahabat mengabarkan, salah satu penembak yang ikut merobek-robek perut rakyat tak berdosa itu adalah Van Hasselman, bapak kandungmu, yang waktu itu melampiaskan kemarahannya kepada warga kampung yang konon kabarnya pernah menyinggung harga dirinya sebagai perwira kolonel.
“Papa merasa getir dan mendendam, bukan?” tanyamu menyelidik, ketika halaman pertama suratkabar itu kubuka di atas meja untuk menerangkan hal ini kepadamu. Ibumu menjeling dari kacamata minusnya dan meletakkan jemari pada lenganku. “Tidak, tidak, Nak. Tidak sama sekali,” ujarku spontan. “Mengapa aku harus terus-menerus menciptakan dendam kesumat yang serba naif itu, Nak? Seorang manusia ditakdirkan untuk tumbuh serta bangkit sebagai orang yang jantan, betapapun kecil kedudukannya. Dendam hanyalah letupan emosional yang melorotkan martabat hingga diri kita tak lebih daripada nyamuk yang selalu mendengung untuk menghisap darah, tanpa kepedulian yang pasti. Tuhan memberi kita nalar wening dan rasa yang bermahkota, yang membuat kita harus sadar akan satu pembatas yang mengatur sikap bijak kita. Melupakan sesuatu nan teramat menggetir hati, kiranya jauh lebih mulia, katimbang kita terus tergoncang dalam deru ke-dendam-an itu.” Lalu kau tercenung beberapa menit. Ibumu menimpali: “Dengarlah, Bobby. Papa mengatakan apa yang paling mendesir di dasar nurani. Ia telah menerima ibu tanpa prasyarat apapun. Ia telah mengangkatmu sebagai satu-satunya putra terhormat, bahkan dirimu juga berhak menggunakan nama keluarganya. Keluarga bangsawan yang membuat orang membanggakannya!”
Aku tak perlu menggarami dan mengasami perkataan ibumu ini. Satu senggolan kecil di kalbu, melihatmu menitikkan airmata. Nak, kau sungguh seperti papa, yang takkan membasahkan tirta kepiluan jika bukan ada sesuatu yang membikin batin terkoyak. Tapi anakku toh tak bisa berbohong dengan dirinya sendiri, bukan? “Sekiranya papa menghadapi pembunuhan brutal tersebut dengan batin koyak-moyak, sanggupkah papa menerimanya dengan tawakal?” demikian kaucoba mengusik hatiku. “Buyung sayang, bahkan sebaliknyalah. Papa semula belum bertawakal ketika menerima kabar, kedua pamanku dijagal di pinggir jalan. Aku sendiri anggota laskar pelajar, berdarah panas, mudah mengosongkan pistol untuk kemarahan nan muspra. Di sini, peristiwa itu cukup merantaskan saraf-sarafku yang muda. Aku memerlukan waktu sepuluh hari buat mendinginkan darah nan mendidih. Aku banyak berpuasa dan sembahyang tahajud, Nak.”
“Mengapa papa tak mendendam pada orang Belanda?”
“Sekali lagi, ketololan semata yang membikin orang melampiaskan sakit hati pada sesamanya, Nak. Kalau kau jadi dewasa, lalu jadi arif di kala berangkat tua, maka salah satu faktor penyebabnya adalah iman di dada. Keinsyafan, bahwa tiada yang kekal di bumi ini. Apa jadinya jika bangsa-bangsa meletupkan keberangannya?”
“Aku kini menyesal, Papa. Waktu kecil dulu, aku mudah naik darah, bila diolok-olok ‘seperti sinyo Kemayoran’, karena kulitku bule, berbeda dengan kawan-kawan yang merasa memiliki Tanah air ini, dan putra Republik yang murni. Papa menyadarkan berulangkali, perkelahian tiada arti sama sekali jika soalnya menyangkut hakiki kesucian darah pribumi atau bukan. Sementara di luar sana, masyarakat luas telah saling bahu-membahu dalam mewujudkan kerjasama kebudayaan. Aku sekarang tahu, kalaulah orang menumpahkan kesalahan pada penjajahan imperialistik ratusan tahun, maka sebenarnya sama artinya dengan mengutik-utik keringkihan-kelemahan nenekmoyangnya sendiri yang gemar bertengkar, hingga saling-cakar buat mempertahankan sejengkal bumi. Di tengah perselisihan, datang pihak ketiga: kaum penjajah Barat yang haus wilayah, yang memainkan peranannya sebagai duta-keberanian dan atasnama Sejarah, menjadi sang pemenang.”
“Andaranmu tepat, Buyung,” kataku penuh haru. “Apakah guru-guru Sejarahmu di SMA mengajarkan tentang kawicaksanaan ini?” Malam ini, kita ingin mengucapkan rasa akrab akan cita-mulia.
“Pada garis besarnya juga, Papa,” tegasmu bersemangat. “Menyesali masalampau adalah kesia-siaan. Menangisi kejatuhan bangsa, juga suatu kenaifan yang pepat. Dewasa ini kita bukan bicara lagi tentang kesucian ras, warna kulit, ataupun prabeda ideologi nan saling adu-bokong. Kelahiran tiap individu tak usah disesali sebagai beban politis yang berkepanjangan, sementara dunia yang akbar masakini telah semakin asyik-masyuk menjalin ikatan kebudayaan, Pa.” Kau sungguh memiliki derajat pengemban TulusNya.
Aku bangga dengan beberan-beberan pikiranmu, Bobby. Malam, di mana kita berbincang tentang dimensi Sejarah itu bagiku merupakan peristiwa bersejarah. “Hidup, mati, jaya, dan uzur adalah istilah-istilah histories yang mengantar insan untuk lebih menggalang keberadaan fitrahnya. Kasih yang menguntum di tengah rabuk-rabuk nan menyuburkan persada pengabdian, akan menyandang bahagia nan wangi.”
Hari-hari di SMA telah kaulalui dengan memuaskan, dan tiga tahun yang memberiku arti adalah bahwa Bobby memiliki nilai rapor yang bagus, terutama untuk ilmu pasti. Pada akhirnya aku ‘maturnuwun’ pada Gusti, saran kami kau jadikan pertimbangan dalam menentukan sekolahmu di perguruan tinggi. Kau tak jadi memasuki Akademi Militer, melainkan menjatuhkan pilihan pada Akademi Teknik yang mengkhususkan studi pada pembangunan jembatan dan bendungan. Kudoakan, jika lulus nanti, mohonlah beasiswa untuk meneruskan studimu di Delf, Negeri Belanda, yang lebih memberikan bintik-bintik bening pada bola mata pembangunan di kemudian hari, Nak.
Bobby yang lembut hati! Liburan semesteran pada tahun pertama di akademi itu, kusambut dengan pembacaan ‘Khotbah di Bukit’, dan kau kelihatan sedikit kurus dan parasmu lebih lonjong sekarang. Kalau tak salah lihat, kulitmu tak lagi seputih dulu, melainkan sudah menglasat, dan gerak tubuhmu tambah tangkas-trengginas. Horas! Laporan pertama yang kauucapkan dalam nada agak parau, tapi mata berbinar adalah: “Pa, aku ikut lomba mendaki gunung. Kami banyak berlatih menaklukkan bukit-bukit di Pasundan. Bulan depan, kelompok kami siap mendaki Galunggung. Senang, Pa! Aku banyak teman.” Ah, buyung sayang. Tubuhmu gagah-tinggi, dan wajahmu tampan. Mengapa tidak bercerita tentang gadis-gadis ranum yang kesengsem padamu? Pipimu memerah ketika papa bertanya potret setengah badan perawan jelita berlesung pipit, yang kulihat menempel di sampul buku diktatmu. “Aku giat berolahraga, Pa. Belum tertarik kaum hawa…” Bahwasanya, sebagai lelaki muda, kau memiliki dasar yang tegar.
Aku suka mesem-mesem sendiri lamun terkenang kejenakaanmu kini, dan kenakalanmu semasa bocah. Sore kemarin aku sedang mendangir kembang gladiola di pot-pot kecil merah di beranda belakang. Sedikit kusiram dengan gayung dari ember, sementara rabuk kotoran kelelawar kuaduk dengan tanah gembur. Sorot mentari petang membelah ruangan ini dengan bayang menyiku di antara kuning keunguan. Ibumu datang dalam daster birumaya dan menyampaikan jeruk yang sudah dikupas. “Pa, aku ingin menunjukkan sesuatu yang indah,” ujarnya menyentuh bahu. “Tentang apa dan siapa? Di mana, Ma?” – demikian aku tanggapi sambil mengunyah jeruk. Ia menggandengku sambil lirih menyanyikan tembang-tembang Sunda, lagu kegemaran ibumu. Tapi bukan itu yang membuat kami ketawa dan terpesona, Nak. Kau begitu bugar, muda dan perkasa dalam keadaan telanjang bulat, seperti menikmati liburan hangat di kampung. Air segar nan jernih mengguyur tubuh, dan aku seakan menangkap masa mudaku sendiri; seolah masa itu belum jauh berlalu. Bukankah buat pertama kali dulu aku ketemu ibumu semasih gadis, dekat sumur tua di sudut ladang? Aku tengah mandi telanjang bulat ketika itu, dan lupa, ada gadis lewat.
“Mama, Mama. Mama dulu juga tertarik waktu aku…”
“Bukan begitu, Pa. Tengoklah. Semakin dewasa, Bobby makin menyerupai dirimu. Wataknya, kebiasaannya. Juga kulitnya, Pa.” Aku mengerti maksud ibumu. Kulit badanmu sekarang langsat, Nak, seperti kulitku dan mamamu. Tidak terlalu putih lagi. Langsat indah. O, terimakasih. Terimakasih matahari khatulistiwa, yang membentuk tubuh kekar putraku, memberikan kulit langsat pada si buyung sayang!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Ah, ya, hampir saja aku menuju ke persimpangan jalan nan menyesatkan. Pada waktu itu, telah aku bentangkan layar-layar untuk mengkait tempatmu berlindung. Pada waktu itu, sebenarnya aku tegangkan sebuah penutup, sehingga sigatanmu mampu menghalangi sinar yang panas, sebelum empedu memahit, dan sebelum tempurung kepalamu berdenyut lunak kena jarum-jarum langit rasa sauna. Begitu kuatkah dirimu mencoba berlindung?
Bobby yang penyantun! Kiranya dinding ini terlampau tebal menyungkup, sehingga tubuhmu kegerahan, bukan? Rumah yang berdiri dan menaungi bukan sesuatu yang didambakan dalam rentang penantian. Akan tetapi, kala aku hendak menunjukkan musykilnya pengharapan yang berselang-seling, kurasakan betapa tambah rengkahnya dirimu dari persada-asal. Aku dan ibumu tengah berupaya, agar sel-sel darah yang berada dalam badan sehat bukan mempertentangkan alur dan lajurnya, melainkan justru mengalir bersama zat-zat lainnya yang secara kodrati memperteguh kelugasan antara rengkah dan rangkah di haluan.
Tiada yang mempertajam sengketa pada kehidupan di mayapada ini selain daripada mereka yang alpa, Nak. Ini sungguh pasti. Siapa memberangkatkan sampan-sampan, tanpa bisa memacakkan dayungnya, ibaratnya meramalkan cuaca tanpa mengetahui peta gunjingan angin. Pada saat manusia mengecimpungi sendang demi sendang yang pernah membincangkan air hijaunya di pagi resik – dan dengan demikian, kebugaran pun teruji kembali. Cobalah renungi kalbumu sendiri. Cobalah dekap lembah dan tebing di sekeliling sendang itu, niscaya masih lekat parakanmu.
Minggu pertama di bulan Maret, laras dengan peringatan hari jadimu yang sedikit pun tak pernah kami lupakan. Kau mungkin khilaf, bahwa papa senantiasa menyempatkan diri untuk menyimak Mazmur atau Khotbah di Bukit, sebagai pantulan rasa larutnya pada Injil nan melekat pada pori-pori kulit ini. Apakah Tuhan mendengar nyanyian kami? Mustikah kuucapkan litany cilik pada persembahyangan di kamar terasing sudut kidul rumah kita, yang kau selalu mengatakan, bahwa bau mawar oranye yang kutanam di sepetak tanah kering itu tak terlupakan, dan bahwasanya terus terasa bahwa Sang Timur sandar di situ?
“Papa bersikeras untuk bikin perjamuan, padahal masih terlalu siang untuk merayakan “Bojana Penghabisan” yang dilindungi merpati roh kudus sepanjang upacara bergema,” kata ibumu mengingatkan. Aku menjawab: “Tidak begitu, Mam. Aku merasa anak kita selalu tiba, sebelum bubur sumsum yang tersedia di panci itu habis untuk para tamu. Aku rasa, darah daging kita sendiri terus menunggu, kapan santapan utama siap…”
Ananda yang lurus hati.
Suatu pagi, saat dikau telah duduk di akhir Sekolah Dasar dan mengadakan darmawisata bersama teman-teman sekolah, ibumu kelihatan murung sekali. Kulihat, di luar, hari pun diliputi oleh gemawan tebal, sehingga keredupan udara terasa begitu menyekat tenggorokan. “Sayangnya si Bobby bersikeras berangkat hari ini,” ibumu menyampirkan handuk yang masih tertinggal di kamar mandi sehabis kaugunakan pagi buta. “Memangnya kenapa? Adakah sesuatu yang tertinggal?” tanyaku seraya memperbaiki radio transistor yang rusak di ruang tengah. “Papa lihat, celana renang dan alat pelampungnya masih tertinggal, padahal hari ini ia tentunya mandi-mandi di laut.” Aku menghela nafas. Semoga tiada marabahaya, desisku. Tapi aku rasakan, dadaku sesak. “Kau sering lupa menyiapkan apa yang perlu, jika anakmu lanang bepergian jauh,” kataku menyiasat. “Dia sih masih kebocahan sekali.”
Lantas terjadilah malam itu, lepas suara “Love Ambon” dari radio, pertanda siaran rampung di jam duapuluhempat tepat – seorang tetangga menyampaikan kabar. Dan aku beserta ibumu seperti tak bisa bernafas, karena peristiwa yang menyakitkan itu. “Putra Bapak, kini dibawa dengan ambulans. Luka-luka pada pelipis dan punggungnya.” Aku segera bergumam: “Oh, apakah Bobby mengalami kecelakaan di laut, Pak? Ia belum begitu mahir berenang.” Tapi polisi dan petugas rumah sakit cuma menggeleng lemah. Menjelang pukul tiga pagi, tahulah aku, bahwa luka-luka yang kauderita bukan karena musibah di alam yang ganas, melainkan ulah teman-temanmu sendiri jua. “Putra Bapak sering berkelahi?” tanya seorang guru yang menungguinya di zal. Aku berdesis, “Sepengetahuanku tidak.” Tapi ibumu langsung menukas: “Tuan belum tahu agaknya. Bobby bisa juga berang dan melabrak jika harga dirinya terinjak. Apalagi teman-temannya suka melecehkan, mengoloknya.” Dokter yang mendengar itu mengerling dan ikut numbrung: “Ibu, apakah dia terkucil di sekolah? Problem apa yang merisaukannya?” Maka setengah menangis, ibumu bilang begini: “Dengarlah, Tuan. Ibu mana tak tersentuh perasaannya bila anak lanang satu-satunya diperhinakan. Soal apa lagi kalau bukan rasial, soal warna kulit, soal kebangsaan. Sedih, Tuan. Teman-teman si buyung, yang tanpa sadar dicekoki prinsip nasionalisme dan patriotisme yang kelewat batas, menuding si Bobby sebagai “sisa begundal kolonial”, anak Blandis, dan cercaan yang pedas-pedas, gara-gara kulit anakku putih-bule, bukan seperti anak pribumi.”
Dokter tertawa, mengisap cerutunya, mengepulkan asap keruhnya ke langit-langit kamar. “Lebih baik tak usah kita perhatikan gurauan-senda bocah-bocah cilik yang lagi mabuk pada suasana dewasa ini. Suasana, tatkala demam nasionalisasi perusahaan asing tengah berkecamuk, karena meningkatnya perjuangan merebut Irian Barat dari rangkulan Belanda.” Aku berkata: “Kami sadar, bukan lagi menganggap semua itu sebagai omongan bocah melainkan sudah punya wur-wuran serbuk politik ekstrim, tak sehat!”
Maka, aku melangkah untuk melihat bagian-bagian dari badanmu yang dijahit, dan memerlukan penyembuhan yang cukup lama. Sejenak lampu neon di ruangan itu mengerdip dalam siratan luruh. Kupandang wajah ibumu yang suram dan temungkul. Ah, nak – kala itu alangkah pucat mukamu, bagai kapas. Seorang murid, yang melaporkan padaku tak lupa membeberkan, bagaimana Topo melakukan serangan dengan belati berkali-kali, melukaimu. Soalnya hanya karena kau mau pinjam piring dan gelas, dan dia melarang seraya mengatakan, bahwa “anak Belanda kuning seperti kamu sudah tak layak lagi tinggal di negeri republik kami yang merdeka ini.” Kau tersinggung, dan meninju lengannya. Lalu perkelahian tak terhindarkan dan kau dikeroyok lima teman-temannya yang solider. Aku mengeluh seraya melemparkan mata ke halaman rumahsakit yang luas itu. Aku raba keningmu yang panas. Balut-balut lukamu masih berdarah!
Dan itulah yang menjadi sebagian ganjalanku. Sampai di SMTP, ketika beberapa kali aku menyarankan, supaya kau lebih banyak berolahraga di alam luas, mulai dari sepakbola, basket, volley, renang, dan senam sehat. Kau begitu wangkot, Nak. Maksud bapak, olahraga akan menambah indah bentuk-jasadmu, dan lebih banyak potensi alam yang kausedot ke dalam ragamu, memperkuat sel-sel darahmu. Rupanya elektronika lebih menarik dirimu untuk berkurung dalam kamar sempit. Kau sendiri agak rendah diri jika harus bergaul dengan sahabat-sahabat di kampung. Nak, papa tak salah jika menyarankan supaya bergiat di udara terbuka. Karena jika kau banyak berjemur di bawah terik-surya, niscaya kulitmu takkan terlalu putih. Citramu sebagai ‘Sinyo’ yang agak mencurigakan, pada saat warga kampung sekitar kita tenggelam dalam antipati terhadap orang Belanda, yang mereka anggap sebagai ‘musuh republik’.
Hanya saja, aku berbesar hati, bahwa dirimu telah menuruti nasehat ayah, tiap minggu berkebun bunga di kebun belakang. Sehabis mencangkul bersamaku dan ibumu, wajahmu berkeringat, kemerahan, juga kulit leher, bahu dan dadamu. Apa boleh buat, kesunyataanlah yang bicara. Serasa, paras bulat Kapten Van Hasselman – suami ibumu, yang pergi tanpa pesan, setelah menebar benih di rahimnya. Ya, bahkan hingga dikau menatap dunia, dan berumur setahun. Kalau aku kemudian datang sebagai pelindung, dan mengangkatmu sebagai putraku terkasih, bukanlah lantaran aku berlagak pahlawan. Tidak, Nak, kinilah tiba waktunya aku untuk bicara sejujurnya. Neng Euis Tikah, ibumu itu – kembang desa Cilambuan; puluhan pria merindukannya, berhasrat mempersunting sekar mekar ini, sebelum akhirnya agresi militer kolonial datang menikam Tanah Pasundan. Dan itu kukatakan, karena aku juga termasuk salah satu di antara jejaka kolot yang mendambakan cintanya. Lantas kami bertemu, di daerah perbatasan tatkala Euis Tikah lari dari kota, ke tempat bibinya di Karilo. Kami dipertemukan Tuhan kembali. Dia menggendong anaknya yang sehat jenaka, yakni dikau sendiri, Nak. Dia tetap ayu-suci di mataku!
Bobby yang kini sudah dewasa.
Bapakmu ini jurutulis Pegadaian Negeri kala itu dan lamaran kepada Euis Tikah mendapat perhatian selayaknya. Kami menikah, dan kemudian hijrah di kota, tempat kami membesarkan dirimu hingga sekarang. Aku keluar dari pekerjaan yang lama, dan beralih jabatan sebagai pengelola hotel yang cukup terkenal itu – suatu bidang yang membuat secara materi, berkecukupan, bahkan bisa dikatakan berkelimpahan. Kami rasa, sebagai seorang ayah, aku bisa memberikan hal-hal yang bermanfaat tanpa prasangka buruk sedikitpun. Bahkan hingga SLTA, dan dirimu kepingin memasuki Akademi Militer Nasional – aku dan ibumu menyatakan keberatan yang besar.
“Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kemiliteran, pangkat-pangkat dan tanda lencana berkilauan senantiasa mengingatkan kami kepada perang nan memusnahkan segalanya,” itu alasan dariku. Lalu kuperlihatkan potret dari harian “Dwiwarna” yang terbit pada tahun 1948, yang mengisahkan, bagaimana dua orang pamanku terbantai di Bandung Selatan, bersama dengan ratusan warga kampung di daerah kumuh itu. Pelakunya adalah Westerling, algojo Belanda yang haus darah itu. Seorang kerabatku yang lain, ikut menjadi korban ketika pulang dari pasar. Ia seorang ibu yang tengah mengandung-tua, dan ditembak di tengkuknya, sewaktu bersepeda melintas halaman sebuah kantor. Seorang sahabat mengabarkan, salah satu penembak yang ikut merobek-robek perut rakyat tak berdosa itu adalah Van Hasselman, bapak kandungmu, yang waktu itu melampiaskan kemarahannya kepada warga kampung yang konon kabarnya pernah menyinggung harga dirinya sebagai perwira kolonel.
“Papa merasa getir dan mendendam, bukan?” tanyamu menyelidik, ketika halaman pertama suratkabar itu kubuka di atas meja untuk menerangkan hal ini kepadamu. Ibumu menjeling dari kacamata minusnya dan meletakkan jemari pada lenganku. “Tidak, tidak, Nak. Tidak sama sekali,” ujarku spontan. “Mengapa aku harus terus-menerus menciptakan dendam kesumat yang serba naif itu, Nak? Seorang manusia ditakdirkan untuk tumbuh serta bangkit sebagai orang yang jantan, betapapun kecil kedudukannya. Dendam hanyalah letupan emosional yang melorotkan martabat hingga diri kita tak lebih daripada nyamuk yang selalu mendengung untuk menghisap darah, tanpa kepedulian yang pasti. Tuhan memberi kita nalar wening dan rasa yang bermahkota, yang membuat kita harus sadar akan satu pembatas yang mengatur sikap bijak kita. Melupakan sesuatu nan teramat menggetir hati, kiranya jauh lebih mulia, katimbang kita terus tergoncang dalam deru ke-dendam-an itu.” Lalu kau tercenung beberapa menit. Ibumu menimpali: “Dengarlah, Bobby. Papa mengatakan apa yang paling mendesir di dasar nurani. Ia telah menerima ibu tanpa prasyarat apapun. Ia telah mengangkatmu sebagai satu-satunya putra terhormat, bahkan dirimu juga berhak menggunakan nama keluarganya. Keluarga bangsawan yang membuat orang membanggakannya!”
Aku tak perlu menggarami dan mengasami perkataan ibumu ini. Satu senggolan kecil di kalbu, melihatmu menitikkan airmata. Nak, kau sungguh seperti papa, yang takkan membasahkan tirta kepiluan jika bukan ada sesuatu yang membikin batin terkoyak. Tapi anakku toh tak bisa berbohong dengan dirinya sendiri, bukan? “Sekiranya papa menghadapi pembunuhan brutal tersebut dengan batin koyak-moyak, sanggupkah papa menerimanya dengan tawakal?” demikian kaucoba mengusik hatiku. “Buyung sayang, bahkan sebaliknyalah. Papa semula belum bertawakal ketika menerima kabar, kedua pamanku dijagal di pinggir jalan. Aku sendiri anggota laskar pelajar, berdarah panas, mudah mengosongkan pistol untuk kemarahan nan muspra. Di sini, peristiwa itu cukup merantaskan saraf-sarafku yang muda. Aku memerlukan waktu sepuluh hari buat mendinginkan darah nan mendidih. Aku banyak berpuasa dan sembahyang tahajud, Nak.”
“Mengapa papa tak mendendam pada orang Belanda?”
“Sekali lagi, ketololan semata yang membikin orang melampiaskan sakit hati pada sesamanya, Nak. Kalau kau jadi dewasa, lalu jadi arif di kala berangkat tua, maka salah satu faktor penyebabnya adalah iman di dada. Keinsyafan, bahwa tiada yang kekal di bumi ini. Apa jadinya jika bangsa-bangsa meletupkan keberangannya?”
“Aku kini menyesal, Papa. Waktu kecil dulu, aku mudah naik darah, bila diolok-olok ‘seperti sinyo Kemayoran’, karena kulitku bule, berbeda dengan kawan-kawan yang merasa memiliki Tanah air ini, dan putra Republik yang murni. Papa menyadarkan berulangkali, perkelahian tiada arti sama sekali jika soalnya menyangkut hakiki kesucian darah pribumi atau bukan. Sementara di luar sana, masyarakat luas telah saling bahu-membahu dalam mewujudkan kerjasama kebudayaan. Aku sekarang tahu, kalaulah orang menumpahkan kesalahan pada penjajahan imperialistik ratusan tahun, maka sebenarnya sama artinya dengan mengutik-utik keringkihan-kelemahan nenekmoyangnya sendiri yang gemar bertengkar, hingga saling-cakar buat mempertahankan sejengkal bumi. Di tengah perselisihan, datang pihak ketiga: kaum penjajah Barat yang haus wilayah, yang memainkan peranannya sebagai duta-keberanian dan atasnama Sejarah, menjadi sang pemenang.”
“Andaranmu tepat, Buyung,” kataku penuh haru. “Apakah guru-guru Sejarahmu di SMA mengajarkan tentang kawicaksanaan ini?” Malam ini, kita ingin mengucapkan rasa akrab akan cita-mulia.
“Pada garis besarnya juga, Papa,” tegasmu bersemangat. “Menyesali masalampau adalah kesia-siaan. Menangisi kejatuhan bangsa, juga suatu kenaifan yang pepat. Dewasa ini kita bukan bicara lagi tentang kesucian ras, warna kulit, ataupun prabeda ideologi nan saling adu-bokong. Kelahiran tiap individu tak usah disesali sebagai beban politis yang berkepanjangan, sementara dunia yang akbar masakini telah semakin asyik-masyuk menjalin ikatan kebudayaan, Pa.” Kau sungguh memiliki derajat pengemban TulusNya.
Aku bangga dengan beberan-beberan pikiranmu, Bobby. Malam, di mana kita berbincang tentang dimensi Sejarah itu bagiku merupakan peristiwa bersejarah. “Hidup, mati, jaya, dan uzur adalah istilah-istilah histories yang mengantar insan untuk lebih menggalang keberadaan fitrahnya. Kasih yang menguntum di tengah rabuk-rabuk nan menyuburkan persada pengabdian, akan menyandang bahagia nan wangi.”
Hari-hari di SMA telah kaulalui dengan memuaskan, dan tiga tahun yang memberiku arti adalah bahwa Bobby memiliki nilai rapor yang bagus, terutama untuk ilmu pasti. Pada akhirnya aku ‘maturnuwun’ pada Gusti, saran kami kau jadikan pertimbangan dalam menentukan sekolahmu di perguruan tinggi. Kau tak jadi memasuki Akademi Militer, melainkan menjatuhkan pilihan pada Akademi Teknik yang mengkhususkan studi pada pembangunan jembatan dan bendungan. Kudoakan, jika lulus nanti, mohonlah beasiswa untuk meneruskan studimu di Delf, Negeri Belanda, yang lebih memberikan bintik-bintik bening pada bola mata pembangunan di kemudian hari, Nak.
Bobby yang lembut hati! Liburan semesteran pada tahun pertama di akademi itu, kusambut dengan pembacaan ‘Khotbah di Bukit’, dan kau kelihatan sedikit kurus dan parasmu lebih lonjong sekarang. Kalau tak salah lihat, kulitmu tak lagi seputih dulu, melainkan sudah menglasat, dan gerak tubuhmu tambah tangkas-trengginas. Horas! Laporan pertama yang kauucapkan dalam nada agak parau, tapi mata berbinar adalah: “Pa, aku ikut lomba mendaki gunung. Kami banyak berlatih menaklukkan bukit-bukit di Pasundan. Bulan depan, kelompok kami siap mendaki Galunggung. Senang, Pa! Aku banyak teman.” Ah, buyung sayang. Tubuhmu gagah-tinggi, dan wajahmu tampan. Mengapa tidak bercerita tentang gadis-gadis ranum yang kesengsem padamu? Pipimu memerah ketika papa bertanya potret setengah badan perawan jelita berlesung pipit, yang kulihat menempel di sampul buku diktatmu. “Aku giat berolahraga, Pa. Belum tertarik kaum hawa…” Bahwasanya, sebagai lelaki muda, kau memiliki dasar yang tegar.
Aku suka mesem-mesem sendiri lamun terkenang kejenakaanmu kini, dan kenakalanmu semasa bocah. Sore kemarin aku sedang mendangir kembang gladiola di pot-pot kecil merah di beranda belakang. Sedikit kusiram dengan gayung dari ember, sementara rabuk kotoran kelelawar kuaduk dengan tanah gembur. Sorot mentari petang membelah ruangan ini dengan bayang menyiku di antara kuning keunguan. Ibumu datang dalam daster birumaya dan menyampaikan jeruk yang sudah dikupas. “Pa, aku ingin menunjukkan sesuatu yang indah,” ujarnya menyentuh bahu. “Tentang apa dan siapa? Di mana, Ma?” – demikian aku tanggapi sambil mengunyah jeruk. Ia menggandengku sambil lirih menyanyikan tembang-tembang Sunda, lagu kegemaran ibumu. Tapi bukan itu yang membuat kami ketawa dan terpesona, Nak. Kau begitu bugar, muda dan perkasa dalam keadaan telanjang bulat, seperti menikmati liburan hangat di kampung. Air segar nan jernih mengguyur tubuh, dan aku seakan menangkap masa mudaku sendiri; seolah masa itu belum jauh berlalu. Bukankah buat pertama kali dulu aku ketemu ibumu semasih gadis, dekat sumur tua di sudut ladang? Aku tengah mandi telanjang bulat ketika itu, dan lupa, ada gadis lewat.
“Mama, Mama. Mama dulu juga tertarik waktu aku…”
“Bukan begitu, Pa. Tengoklah. Semakin dewasa, Bobby makin menyerupai dirimu. Wataknya, kebiasaannya. Juga kulitnya, Pa.” Aku mengerti maksud ibumu. Kulit badanmu sekarang langsat, Nak, seperti kulitku dan mamamu. Tidak terlalu putih lagi. Langsat indah. O, terimakasih. Terimakasih matahari khatulistiwa, yang membentuk tubuh kekar putraku, memberikan kulit langsat pada si buyung sayang!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Rabu, 03 September 2008
SUARA-SUARA SAKTI
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Bukankah setiap suara mempunyai gemanya sendiri? Bukankah tiap bunyi yang menderas dan menjuntak niscaya akan segera menemukan ‘tatapan ke bidang datar’ yang membuatnya segera hincit dan menjerit? Di kala diriku akan menghitung pilahan bunyi yang muncul dari permukaan bumi ini, terasalah bahwa aku menemukan suara-suara sakti. Suara, yang bukan lagi dipersoalkan sebagai ‘sawur sekar’ yang tersebar dan terserak – melainkan suatu tetawur yang memiliki sempyur-sempyur yang mengucapkan penggenahannya.
Rekanita Wijayanti.
Tiapkali mengedarkan buku puisi-album pada akhir tahun pelajaran di sekolah, kupikir teman-teman akan mempunyai banyak kesempatan untuk menjalin dan memilih rancangan yang dirasakannya paling menawan. Waktu itu, aku agak heran, bahwa diriku masih gamang untuk menyampaikan serbuk-sawuran sanjak. Alangkah aneh. Padahal dikau merupakan kuntum idaman, kembang mewangi yang acap dipercakapkan oleh kaum muda yang sebaya, atau kakak-kakak kelas. Kukira lumrah saja, bahwa anda memiliki keistimewaan yang membuat berpasang mata mengarahkan hamur tajamnya, entah itu menancap di relung-jantung ataukah hanya ujungnya saja yang penyerempet, tanpa meninggalkan luka sedikitpun.
Rekanita Wijayanti.
“Mestikahku mengisinya?” tanyamu kala itu, dengan sorot mata yang menyiratkan keheranan, karena buku berhalaman kosong itu kusodorkan padamu waktu usai pelajaran terakhir. “Warnanya segar, merahjambu. Aku kepingin juga menumbangkan coretan ringan barang segaris. Tapi… mohon jangan hari ini, kak. Soalnya, belum muncul suatu gagasan yang patut digoreskan segera.”
“Kalau saja adik dapat menuliskan sesuatu yang paling berkesan hari ini,” kataku tak mau kalah. Lalu kuletakkan buku bersampul kemerahan tadi di meja sebelah, yang berpolitur halus serta bertaplak batik bergambar sayap-sayap mekar. “Aku tak mendesaknya sekarang. Beberapa garis dapat saja ditorehkan, seikhlas hatimu.” Ah, aku baru takut-takut berani menghadapi gadis remaja. Tak kuduga sesulit ini benar. Tapi Wijayanti telah memiliki nama kondang sebagai pemilik paras ayu dan beberapa kali memenangkan lomba karya ilmiah, yang diperdebatkan para sidang pakar tahun ini. Bahkan tentang kemungkinan mengatasi limbah empang dan sawah yang berdekatan dengan sungai yang telah dicemari pabrik gelas di dekatnya. Hei, hei, hei, aku menyanjung…!
“Sekiranya diperbolehkan aku membawa pulang buku kakak,” ujarnya sekilas. “Dan akan kubawa kira-kira sepekan, sampai kukembalikan dengan karya puisi ala kadarnya yang dapat kutulis sebagai rangkuman, kak…” Aku tergagap mendengar ucapanmu. Bibirmu mungil kemerahan, dan gigi yang membiji mentimun gemerlap mempesona di depanku. Aku menahan nafas. Pikiran tak keruan. Agak alot aku berkata: “Cobalah, adik. Tapi silakan, itu lebih baik.” Sungguh, aku begitu tolol. Kau tentunya punya warna-warni dalam cita rasa.
Waktu dirimu berlalu bersama teman-teman yang ketawa cekikikan, aku serasa beruntung sekali. Alangkah pemurahnya sinar surya siang ini menebarkan corak kuning-cerah pada dinding dan bangku-bangku dekat Perpustakaan Sekolah. Pot-pot kecil dari keramik yang berwarna coklat muda dan oranye, hanya ditumbuhi krokot dan cactus alit-alit bercumplikan, dengan bunga sebesar matacincin, agak kemerahan. Nampaknya seperti penghias teras yang agak terlupakan. Angin temarang berkesiur lembut, dan aku memberanikan diri untuk merokok dekat kursi di pintu keluar. Sebatang rokok putih Escort yang enteng, dengan kepulan tipis sekali. Suara para remaja yang bergunjing tentang gurunya, tentang sesama teman, kedengaran sayup dan keras dari situ.
Teringatlah aku akan jabattanganmu pada beberapa bulan berselang, pada pesta ulangtahun sahabat kita, Rika. Musik seronok tak kuasa merenggutkan penampilanmu yang anggun, di antara gurau, derai-tawa, ragam bunga.
Rekanita Wijayanti.
Pergulingan hayat memerlukan tiarap dan tungging merayap atau menyelempang. Pergulingan untuk membina pahatantalam harap, niscaya juga mendorong lahirnya kasih nan tulus. Dalam hentakan yang betapapun kerasnya, manusia bertarung melawan keringkihannya sendiri – dan dia tak bisa hanya menganggap pihak lain sebagai seteru, tanpa membahas-mengupasnya lebih arif. Aku ingat, rekanita, bahwa salah satu goresan sanjakmu di buku merahjambu itu berbunyi sebagai berikut:
“Tilingan nalar – pada ‘nusia yang terkapar
Laguan kawi, rawikan suci – gemintang terkawal
Dewan yang merembug musyawarah damai dunia
Serahkan tajuk mahkota bertiara kebangkitan
Berpaling dari lampah-lampah dan gulat penuh luka
Menghampiri laku-batin resik gumrining – Viva!”
Maka kertas itu kubuka, dan pagina-pagina lembut mengembangkan bayangan liris. Seraya menatapi kalimat yang terhidang, kumerasakan hadirmu, anggunmu, kemanisanmu. Memang, sepuluh hari telah kaukembalikan kitab yang kaupinjam itu, dan kau mengisinya dengan tulisan yang rampak, teratur, lancip-lancip serta menyampaikan bisikan sukmamu yang sempurna. Di situ dada merasakan gemontang lonceng fatwa, yang kumandangnya memenuhi dada. Benar kata seorang sahabatku, dirimu mampu membangunkan cerlang kawicaksanan. Melalui puisi ginelar, seucap nirmala mengandung keterbukaan roh nan lapang!
Rekanita Wijayanti!
Walaupun sang waktu lebih punya hak-bicara, kita toh tak hanya pasrah kepada debu sejarah. Dalam perbandingan antara kenikmatan merengkuh keindahan, dengan emosi yang menyatu, sedangkan di pihak lain terdapat sembahan lugas – maka kita menjelmakan lintangjiwa. Dalam harungan pangestu yang tergamblang, anak manusia menjadi intaiannya. Maka serasa melayap-layap di tengah impian yang berkabut, manakala kita bergerak sebagai pemandu suasana. Ibaratnya tambah dewasanya satu-dayungan, maka tambah dewasalah dayungan lain yang menunggu. Kita merasa ada beban yang tanggal dari tubuh ini.
Harungan yang mengebat kehidupan telah menukas, hingga ke satu titik terkecil. Dengan sikap tinarbuka, sebenarnya manusia merupakan suatu sasaran, sedangkan peri-hayat-insani sebagai permasalahan, tetaplah merupakan rincian. Tiada yang dapat diperkirakan dari penghayatan yang sifatnya pendahuluan – sedangkan pada titik akhir kelak, kearifan mencuat tinggi. Kita, saudaraku yang teguh-hati, marilah kita menunggu babak-babak yang diarah-hadapkan. Siapa tahu, ada yang mekar-mengembang di baliknya!
Rekanita Wijayanti!
Sembari berpegang pada titiwanci yang mengupas belah-belahan hasrat terpendam, marilah kita menjenguk ke dalam sanubari yang masih putih. Adakah yang terlintas pada lazuardi menggelanggang semesta – di mana mungkin terdapat bisikan firdausi, untukku, untukmu, untuk kita? Suara-suara sakti yang melanggengkan ke-wigati-an seorang penabur, sebenarnya bakal dihadapkan pada kidung-kandung, sementara bidang kita berdiri bertambah gagah. Suara sakti terngiang dari kepompong-kepompong yang melingkari bukit hati.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Bukankah setiap suara mempunyai gemanya sendiri? Bukankah tiap bunyi yang menderas dan menjuntak niscaya akan segera menemukan ‘tatapan ke bidang datar’ yang membuatnya segera hincit dan menjerit? Di kala diriku akan menghitung pilahan bunyi yang muncul dari permukaan bumi ini, terasalah bahwa aku menemukan suara-suara sakti. Suara, yang bukan lagi dipersoalkan sebagai ‘sawur sekar’ yang tersebar dan terserak – melainkan suatu tetawur yang memiliki sempyur-sempyur yang mengucapkan penggenahannya.
Rekanita Wijayanti.
Tiapkali mengedarkan buku puisi-album pada akhir tahun pelajaran di sekolah, kupikir teman-teman akan mempunyai banyak kesempatan untuk menjalin dan memilih rancangan yang dirasakannya paling menawan. Waktu itu, aku agak heran, bahwa diriku masih gamang untuk menyampaikan serbuk-sawuran sanjak. Alangkah aneh. Padahal dikau merupakan kuntum idaman, kembang mewangi yang acap dipercakapkan oleh kaum muda yang sebaya, atau kakak-kakak kelas. Kukira lumrah saja, bahwa anda memiliki keistimewaan yang membuat berpasang mata mengarahkan hamur tajamnya, entah itu menancap di relung-jantung ataukah hanya ujungnya saja yang penyerempet, tanpa meninggalkan luka sedikitpun.
Rekanita Wijayanti.
“Mestikahku mengisinya?” tanyamu kala itu, dengan sorot mata yang menyiratkan keheranan, karena buku berhalaman kosong itu kusodorkan padamu waktu usai pelajaran terakhir. “Warnanya segar, merahjambu. Aku kepingin juga menumbangkan coretan ringan barang segaris. Tapi… mohon jangan hari ini, kak. Soalnya, belum muncul suatu gagasan yang patut digoreskan segera.”
“Kalau saja adik dapat menuliskan sesuatu yang paling berkesan hari ini,” kataku tak mau kalah. Lalu kuletakkan buku bersampul kemerahan tadi di meja sebelah, yang berpolitur halus serta bertaplak batik bergambar sayap-sayap mekar. “Aku tak mendesaknya sekarang. Beberapa garis dapat saja ditorehkan, seikhlas hatimu.” Ah, aku baru takut-takut berani menghadapi gadis remaja. Tak kuduga sesulit ini benar. Tapi Wijayanti telah memiliki nama kondang sebagai pemilik paras ayu dan beberapa kali memenangkan lomba karya ilmiah, yang diperdebatkan para sidang pakar tahun ini. Bahkan tentang kemungkinan mengatasi limbah empang dan sawah yang berdekatan dengan sungai yang telah dicemari pabrik gelas di dekatnya. Hei, hei, hei, aku menyanjung…!
“Sekiranya diperbolehkan aku membawa pulang buku kakak,” ujarnya sekilas. “Dan akan kubawa kira-kira sepekan, sampai kukembalikan dengan karya puisi ala kadarnya yang dapat kutulis sebagai rangkuman, kak…” Aku tergagap mendengar ucapanmu. Bibirmu mungil kemerahan, dan gigi yang membiji mentimun gemerlap mempesona di depanku. Aku menahan nafas. Pikiran tak keruan. Agak alot aku berkata: “Cobalah, adik. Tapi silakan, itu lebih baik.” Sungguh, aku begitu tolol. Kau tentunya punya warna-warni dalam cita rasa.
Waktu dirimu berlalu bersama teman-teman yang ketawa cekikikan, aku serasa beruntung sekali. Alangkah pemurahnya sinar surya siang ini menebarkan corak kuning-cerah pada dinding dan bangku-bangku dekat Perpustakaan Sekolah. Pot-pot kecil dari keramik yang berwarna coklat muda dan oranye, hanya ditumbuhi krokot dan cactus alit-alit bercumplikan, dengan bunga sebesar matacincin, agak kemerahan. Nampaknya seperti penghias teras yang agak terlupakan. Angin temarang berkesiur lembut, dan aku memberanikan diri untuk merokok dekat kursi di pintu keluar. Sebatang rokok putih Escort yang enteng, dengan kepulan tipis sekali. Suara para remaja yang bergunjing tentang gurunya, tentang sesama teman, kedengaran sayup dan keras dari situ.
Teringatlah aku akan jabattanganmu pada beberapa bulan berselang, pada pesta ulangtahun sahabat kita, Rika. Musik seronok tak kuasa merenggutkan penampilanmu yang anggun, di antara gurau, derai-tawa, ragam bunga.
Rekanita Wijayanti.
Pergulingan hayat memerlukan tiarap dan tungging merayap atau menyelempang. Pergulingan untuk membina pahatantalam harap, niscaya juga mendorong lahirnya kasih nan tulus. Dalam hentakan yang betapapun kerasnya, manusia bertarung melawan keringkihannya sendiri – dan dia tak bisa hanya menganggap pihak lain sebagai seteru, tanpa membahas-mengupasnya lebih arif. Aku ingat, rekanita, bahwa salah satu goresan sanjakmu di buku merahjambu itu berbunyi sebagai berikut:
“Tilingan nalar – pada ‘nusia yang terkapar
Laguan kawi, rawikan suci – gemintang terkawal
Dewan yang merembug musyawarah damai dunia
Serahkan tajuk mahkota bertiara kebangkitan
Berpaling dari lampah-lampah dan gulat penuh luka
Menghampiri laku-batin resik gumrining – Viva!”
Maka kertas itu kubuka, dan pagina-pagina lembut mengembangkan bayangan liris. Seraya menatapi kalimat yang terhidang, kumerasakan hadirmu, anggunmu, kemanisanmu. Memang, sepuluh hari telah kaukembalikan kitab yang kaupinjam itu, dan kau mengisinya dengan tulisan yang rampak, teratur, lancip-lancip serta menyampaikan bisikan sukmamu yang sempurna. Di situ dada merasakan gemontang lonceng fatwa, yang kumandangnya memenuhi dada. Benar kata seorang sahabatku, dirimu mampu membangunkan cerlang kawicaksanan. Melalui puisi ginelar, seucap nirmala mengandung keterbukaan roh nan lapang!
Rekanita Wijayanti!
Walaupun sang waktu lebih punya hak-bicara, kita toh tak hanya pasrah kepada debu sejarah. Dalam perbandingan antara kenikmatan merengkuh keindahan, dengan emosi yang menyatu, sedangkan di pihak lain terdapat sembahan lugas – maka kita menjelmakan lintangjiwa. Dalam harungan pangestu yang tergamblang, anak manusia menjadi intaiannya. Maka serasa melayap-layap di tengah impian yang berkabut, manakala kita bergerak sebagai pemandu suasana. Ibaratnya tambah dewasanya satu-dayungan, maka tambah dewasalah dayungan lain yang menunggu. Kita merasa ada beban yang tanggal dari tubuh ini.
Harungan yang mengebat kehidupan telah menukas, hingga ke satu titik terkecil. Dengan sikap tinarbuka, sebenarnya manusia merupakan suatu sasaran, sedangkan peri-hayat-insani sebagai permasalahan, tetaplah merupakan rincian. Tiada yang dapat diperkirakan dari penghayatan yang sifatnya pendahuluan – sedangkan pada titik akhir kelak, kearifan mencuat tinggi. Kita, saudaraku yang teguh-hati, marilah kita menunggu babak-babak yang diarah-hadapkan. Siapa tahu, ada yang mekar-mengembang di baliknya!
Rekanita Wijayanti!
Sembari berpegang pada titiwanci yang mengupas belah-belahan hasrat terpendam, marilah kita menjenguk ke dalam sanubari yang masih putih. Adakah yang terlintas pada lazuardi menggelanggang semesta – di mana mungkin terdapat bisikan firdausi, untukku, untukmu, untuk kita? Suara-suara sakti yang melanggengkan ke-wigati-an seorang penabur, sebenarnya bakal dihadapkan pada kidung-kandung, sementara bidang kita berdiri bertambah gagah. Suara sakti terngiang dari kepompong-kepompong yang melingkari bukit hati.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
PIKIRAN DI ATAS TAKARAN
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Jacinta yang baik.
Memang sudah selayaknya apabila dalam suasana perayaan Natal yang sepi seperti ini, kau lebih menjemput diri sendiri atau lebih akrab dengan sesuatu yang bernama kejujuran. Apabila saya mengatakan hal semacam ini, tiada lain karena didorong rasa tulus dalam pergaulan yang cukup lama, dan karena itulah wajar, jika saya berterus-terang. Sedangkan jika saya banyak menyembunyikan sesuatu, maka kurang baik bagi kita semua. Seraya melonggarkan segenap kesumukan dan kegetiran yang menyesakkan, kukira lebih baiklah apabila kita sanggupkan diri untuk mengonceki buntalan-buntalan dalam jiwa. Kuharap kau menjadi lebih dewasa sedikit. Melalui penjabaran pada setiap sudut-sudut pencerah batin.
Jacinta yang budiman.
Manakala kita bicarakan tentang pendaki pongah di persimpangan, tiada lain kinilah saatnya untuk mengungkapkan hal itu. Jangan cemas, bahwa ada yang terhindarkan dari rasa nan berkecamuk ini. Jangan cemas, bahwa dirimu akan menjadi seorang lain di tengah persoalan gemuruh yang meributi dunia selingkungan. Jangan cemas, bahwa ada yang ditempiaskan dari rengkuhan yang manis – jauh sebelum orang sampai kepada kebulatan pikiran. Karena kitapun yakin, segala kumandang tiada jauh meninggalkan pokok suara. Dan jika saya mengajak dirimu bangkit, itu adalah syah adanya. Tuntutan-tuntutan itu harus dirumuskan secara langsung.
Jacinta yang setiawan.
Kulihat sekuntum mawar nan diberkaskan kemarin oleh pemilik sanggar yang terkenal itu kepada seorang pengagum karya lukisnya? Aku sengaja memperhatikannya. Ikatan yang nampaknya bersahaja, dan hanya dihias dengan lipatan-lipatan perca kain merahjambu, membuhulkan karangan itu lebih kokoh dan padu. Aku lihat bahwa sang pengagum menikmati lukisan seraya bibirnya mengulumkan senyum pengakuan, atas kehadiran mahakarya itu. Bukan pujian muluk, bukan sanjungan yang menjamah langit nilakandi. Pada rasa tertarik, pada rasa berperhatian, dan pada rasa gemati yang benar-benar mengelopak dalam jiwa. Pada rengkuhan demikian semuanya terucapkan.
Elok pula kita ungkapkan bahwa yang selama ini disebut kesetiaan bertumpu pada tiga masalah saling berkait. Yang pertama, terhubungnya silaturahmi yang tiada kentara, antara si empunya karya dengan pihak pemerhati, dalam suasana saling terpengaruh. Yang kedua, terhubungnya buah pikiran yang maju, lebih maju katimbang manusia sekeliling, lebih mendahului zamannya, dengan ruanglingkup yang masih mempertanyakan ragam hias tertentu, atau kecenderungan aliran seni. Ketiga, lantaran terdapat beberapa kelompok yang kepingin memiliki martabat budaya yang kokoh dan benar, karena itu maka berusaha untuk menciptakan ‘selera pasar’ yang barangkali bisa langsung menyusun percik Pidato Pengukuhan lagu musim, dan meraihnya lebih dekat. Makin merumuskan waktu dan tempat.
Jacinta yang baik.
Agaknya lebih menonjol juga kebahagiaan kita, jikalau bagian dari kepepalan hidup ini ikut menjadi selubung bumi ini. Dengan kata lain, ada niatan dari diri sendiri agar hidup makin bernas, makin rampak semakin semarak. Karena tanpa menginginkan suatu rangkuman yang lengkap, maka orang masih juga terombang-ambing, bertanya-tanya dalam liputan yang ragam-bagai. Akan tetapi, jika diupayakan menjadi pemilik dari satu bahan kesenian, atau menjadi pilar ketegarannya, mungkin tiada nan senyap.
Bagaimana menggembalakan pikiran, sehingga ia menjadi perkakas kejuangan yang lestari? Bagaimana menjuruskan gagasan (yang semula berupa lintasan-lintasan lepas) hingga menjadi bunderan yang mewadahi ragam-ragam lainnya? Kadangkala diperlukan keceriwisan berlebihan, jika masyarakat ingin benar-benar menggapai berkas-berkas sinar matahari. Karena kalau tanpa melihat kemungkinan untuk menaklukkan hati orang, sedangkan pada kurun ini kita sudah melihat banyaknya jelaga yang mencorengi tembok kota ini – ah, ah, niscaya bakal lahir juga seorang pecinta kemurnian. Demikianlah bergema nyanyian Kesiapan yang digarap.
Jacinta nan setiawan.
Baiklah, kita patoki kehidupan sebagaimana lazimnya kita gunakan untuk menggarisi untai-peristiwa yang memikat. Dengan segala daya, masyarakat bisa digandeng untuk ikut menyemarakkannya. Sementara itu, dikau dapat pula meletakkan diri sebagai orang yang mengakui dayapikatnya sendiri, serta mampu mengembangkan hakcipta menjadi ukuran wigati. Apalagi kalau hal ini dimaksudkan agar dunia mencatat sebuah gerak paling berarti. Apalagi, kalau tak jauh dari kemauan untuk ‘membuka selubung hati’. Maka di balik keyakinan untuk menang, kita sanggup mengabsyahkan cinta ini.
Jacinta nan baik.
Sebuah pelabuhan adalah rentang-jala yang melambangkan batin majemuk. Ia mengkait-langsung pola-pikir yang bertolak dari ruang dan waktu, karena itu secara tulus pula memberangkatkan kemungkinan awal dari sebuah Nasib. “Ah, komentarmu waktu itu.” Kita justru sekarang bukan membicarakan pelabuhan dari nasib-nasib umat manusia. Kita malahan amat banyak berkata tentang titik tolak kebendaan yang meronta-ronta di langit hampa sebelum pada akhirnya terbanting di bumi nyata.
Keberangkatan paling pagi berlangsung sedari dimulainya keculasan pertama, sedangkan yang terakhir di kala kulit-kulit iblis mengelupas tanpa kendali. “Ah, ah. Kuanggap pandanganmu kelewat picik. Atau kelewat terpancang pada ukuran agamawi tertentu, yang belum disentuh oleh rembangnya matahari petang. Akan tetapi, Jacinta, kalaulah kau pernah bilang seperti itu, aku segera percaya betapa aku yang dulu nyinyir itu tergolong orang yang menyepelekan jalan nasib sendiri.
Menganggap sepi pergulatan kemanusiaan yang ada dalam sumber kefitrianku sendiri. Lantas aku ngomong dan ngomong, sampai ujung bibir berbusa dan orang-orang mendengarkan dengan separuh hati”. “Bukan, bukan begitu, sayangku.” Sangkalmu, bukan? “Dikau belum faham akan kidung zaman, atau kurang maklum terhadap arus hidup yang bergemuruh sepanjang liku dan hilirnya. Kau hanya mendewakan katahati, yang seringkali lewat di sela-sela angkaramurka dan tak mampu meredakan olak-alik pergulatan pikir yang tumbuh suatu kurun waktu. Lemah dan nyaris renta.” Kala mengucapkan wawasan ini, pipimu memerah, mata bulatmu bersinar-sinar. Kukira dikau telah menyatakan sesuatu yang berasal dari dasar pribadi kuatmu…
Jacinta yang baik.
Sepanjang pewartaan ilmu pengetahuan (yang kita tangkap sesaat atau yang kita serbu secara menggebu) bisanya tidak pula menjadi satu kesunyataan dumadi. Sepanjang pewartaan cerah yang hadir di belantara masa, maka diperlukan kesaksian insani, sekelompok maupun sendiri. Bahkan, berpamrih atau hanya setangkup perhatian yang terperi. Dalam kesatuan nilai yang menggemulung hati gunung dan lembahnya, memperhatikan kajian demi kajian yang sempat dihayati, para pemikir berjuang keras. Antaranya, mengkristalkan apa yang bernama penemuan masasilam, setelah itu bisa menggolongkan cara-beda suatu persoalan keseharian. Kalau hal ini dapat berlangsung baik, kitapun sanggup menguak kerahasiaan dari pintu-pintu mulia (yang selama ini diyakini terletak di jantung kebudayaan) itu. Setrum hayati dari mata air tempat kecimpung.
Jacinta yang penyabar.
Masih ingatkah Adik pada telaga kecil yang terletak di desa Suryajati itu? Telaga itupun bernama Surya-Jati, alias kesejatian sinar yang menjiwai kehidupan. Ketika masa-masa indah sekolah dulu, kita seringkali mengayuh sepeda dari sekolah ke telaga kecil itu, bolak-balik lebih dari dua jam, karena pelajaran Ilmu Pasti dari guru yang kurang kita sukai hendak dihindari. Kalau sudah lewat satu pal dari pelataran sekolah, tiba di perempatan jalan, kita sampai pada sebuah pos alit, dengan bangunannya bergaya Jawa, sedangkan kotakpos di depannya bercat oranye, bagaikan tugu kukuh menjulang – kemudian kita berbelok ke kiri, sepanjang jalan ditumbuhi kenari.
Perjalanan jauh terus ke selatan kota. “Aku heran, Syam,” katamu waktu itu. “Apakah sebenarnya yang kita cari di telaga sana? Rasanya kita hanya duduk-duduk seraya membasuh airnya nan jernih.” Maka akupun segera memotong: “Bukan itu, kawan. Siapapun tentu kepingin mandi berkecimpung di telaga jernih, dan bukan yang lain.” Kemudian pelan-pelan mulut mungilmu mengoceh: “Siapa dan apa katanya. Di Surya Jati kita justru kepingin mandi cahaya suci!” Ah, ah, ah. Tak salah, ungkapmu berhasil menyadarkan bahwa hal itulah yang harus kita hayati di telaga yang punya nama ‘kesejatian sinar’ tadi.
Namun, tatkala pada hari-hari lanjut kita bersiram di mata air sejuk itu, kukira bukan lantaran menghindari pelajaran Ilmu Pasti nan menyebalkan, melainkan ada dorongan lain. Kini aku tahu, apa namanya. Percikan dan getaran air-gemair yang sampai ke badan kita, memberikan suasana baru. Paling tidak, rasa kangen yang tiap kali bangkit (antara kita, tentu!) dapat terobati. Telaga alit itu barangkali hanya ujud dari pendekatan ulang!
Jacinta yang baik.
Sesudah deretan angka melunturkan sejuta kesan, lalu pulalah perhitungan saat-saat yang berdekap, maka hidup menjadi gaya ulang sejati. Bukankah aku masih muda, teramat remaja masa itu? Sedangkan buah pikir yang berloncatan masih jauh dari sekrup pemanteknya. Dirimu pun masih lebih teragak-agak untuk mengenal tolok-ukur dari pemahaman ilmu. Karena apa yang tengah kita hadapi (dan sergap) senantiasa berlangsung antara reranting aking dan guguran daun berlumut. Kalau terjadi perenungan serta permenungan, maka yang lahir adalah golak-galik pandangan kanak-kanak, bukan yang lain. Hanya saja itu sudah cukup buat zamannya. Karena pada deretan kini, ada tantangan lain yang memaksa diri untuk mengamati ‘hilang’nya suatu pamrih (yang waktu itu tercuri oleh sifat naif), dan kalau akan benar-benar jujur, rasanya datang pamrih lanjut yang lebih mengental bukan? Caranya ialah dengan menggelimangi sejarah umat.
Jacinta tersayang.
Memberikan hari-hari cerah, kiranya lebih menggairahkan katimbang menyudutkan hari-hari yang tak pula ditafsirkan ke balik segala rengkuhan. Mengembalikan hari-hari yang ceria, niscaya lebih utama lagi. Tuhan melimpahkan anugerah Kasih di hati kaum muda, kaum remaja, karena Dia ingin agar serbuk-serbuk darah dalam jasad mereka hangat, bahkan panas. Secara kodrati semuanya dikembalikan kepada nilai paling luhur. Di balik pertemuan-pertemuan yang tanpa bayang-rancang masa depan, aku dan dirimu telah melaksanakan sabda Tuhan sebaik-baiknya. Mengunjungi dusun-dusun ranum seputar telaga di pedalaman, untuk menggali renungan maha dalam. Menggauli panorama terpencil, lantaran tekad dijelmakan suatu pandang dan tilik, kendati usia muda belum mengokohkannya. Kebersamaan yang tampil, mendaki tebing-tebing.
Jacinta, Jacinta.
Kutatap kembali aksara-aksara buku harianku semasa sekolah. Aku menghela nafas. Aku bahagia bersama sejarah nan memupus kudus.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Jacinta yang baik.
Memang sudah selayaknya apabila dalam suasana perayaan Natal yang sepi seperti ini, kau lebih menjemput diri sendiri atau lebih akrab dengan sesuatu yang bernama kejujuran. Apabila saya mengatakan hal semacam ini, tiada lain karena didorong rasa tulus dalam pergaulan yang cukup lama, dan karena itulah wajar, jika saya berterus-terang. Sedangkan jika saya banyak menyembunyikan sesuatu, maka kurang baik bagi kita semua. Seraya melonggarkan segenap kesumukan dan kegetiran yang menyesakkan, kukira lebih baiklah apabila kita sanggupkan diri untuk mengonceki buntalan-buntalan dalam jiwa. Kuharap kau menjadi lebih dewasa sedikit. Melalui penjabaran pada setiap sudut-sudut pencerah batin.
Jacinta yang budiman.
Manakala kita bicarakan tentang pendaki pongah di persimpangan, tiada lain kinilah saatnya untuk mengungkapkan hal itu. Jangan cemas, bahwa ada yang terhindarkan dari rasa nan berkecamuk ini. Jangan cemas, bahwa dirimu akan menjadi seorang lain di tengah persoalan gemuruh yang meributi dunia selingkungan. Jangan cemas, bahwa ada yang ditempiaskan dari rengkuhan yang manis – jauh sebelum orang sampai kepada kebulatan pikiran. Karena kitapun yakin, segala kumandang tiada jauh meninggalkan pokok suara. Dan jika saya mengajak dirimu bangkit, itu adalah syah adanya. Tuntutan-tuntutan itu harus dirumuskan secara langsung.
Jacinta yang setiawan.
Kulihat sekuntum mawar nan diberkaskan kemarin oleh pemilik sanggar yang terkenal itu kepada seorang pengagum karya lukisnya? Aku sengaja memperhatikannya. Ikatan yang nampaknya bersahaja, dan hanya dihias dengan lipatan-lipatan perca kain merahjambu, membuhulkan karangan itu lebih kokoh dan padu. Aku lihat bahwa sang pengagum menikmati lukisan seraya bibirnya mengulumkan senyum pengakuan, atas kehadiran mahakarya itu. Bukan pujian muluk, bukan sanjungan yang menjamah langit nilakandi. Pada rasa tertarik, pada rasa berperhatian, dan pada rasa gemati yang benar-benar mengelopak dalam jiwa. Pada rengkuhan demikian semuanya terucapkan.
Elok pula kita ungkapkan bahwa yang selama ini disebut kesetiaan bertumpu pada tiga masalah saling berkait. Yang pertama, terhubungnya silaturahmi yang tiada kentara, antara si empunya karya dengan pihak pemerhati, dalam suasana saling terpengaruh. Yang kedua, terhubungnya buah pikiran yang maju, lebih maju katimbang manusia sekeliling, lebih mendahului zamannya, dengan ruanglingkup yang masih mempertanyakan ragam hias tertentu, atau kecenderungan aliran seni. Ketiga, lantaran terdapat beberapa kelompok yang kepingin memiliki martabat budaya yang kokoh dan benar, karena itu maka berusaha untuk menciptakan ‘selera pasar’ yang barangkali bisa langsung menyusun percik Pidato Pengukuhan lagu musim, dan meraihnya lebih dekat. Makin merumuskan waktu dan tempat.
Jacinta yang baik.
Agaknya lebih menonjol juga kebahagiaan kita, jikalau bagian dari kepepalan hidup ini ikut menjadi selubung bumi ini. Dengan kata lain, ada niatan dari diri sendiri agar hidup makin bernas, makin rampak semakin semarak. Karena tanpa menginginkan suatu rangkuman yang lengkap, maka orang masih juga terombang-ambing, bertanya-tanya dalam liputan yang ragam-bagai. Akan tetapi, jika diupayakan menjadi pemilik dari satu bahan kesenian, atau menjadi pilar ketegarannya, mungkin tiada nan senyap.
Bagaimana menggembalakan pikiran, sehingga ia menjadi perkakas kejuangan yang lestari? Bagaimana menjuruskan gagasan (yang semula berupa lintasan-lintasan lepas) hingga menjadi bunderan yang mewadahi ragam-ragam lainnya? Kadangkala diperlukan keceriwisan berlebihan, jika masyarakat ingin benar-benar menggapai berkas-berkas sinar matahari. Karena kalau tanpa melihat kemungkinan untuk menaklukkan hati orang, sedangkan pada kurun ini kita sudah melihat banyaknya jelaga yang mencorengi tembok kota ini – ah, ah, niscaya bakal lahir juga seorang pecinta kemurnian. Demikianlah bergema nyanyian Kesiapan yang digarap.
Jacinta nan setiawan.
Baiklah, kita patoki kehidupan sebagaimana lazimnya kita gunakan untuk menggarisi untai-peristiwa yang memikat. Dengan segala daya, masyarakat bisa digandeng untuk ikut menyemarakkannya. Sementara itu, dikau dapat pula meletakkan diri sebagai orang yang mengakui dayapikatnya sendiri, serta mampu mengembangkan hakcipta menjadi ukuran wigati. Apalagi kalau hal ini dimaksudkan agar dunia mencatat sebuah gerak paling berarti. Apalagi, kalau tak jauh dari kemauan untuk ‘membuka selubung hati’. Maka di balik keyakinan untuk menang, kita sanggup mengabsyahkan cinta ini.
Jacinta nan baik.
Sebuah pelabuhan adalah rentang-jala yang melambangkan batin majemuk. Ia mengkait-langsung pola-pikir yang bertolak dari ruang dan waktu, karena itu secara tulus pula memberangkatkan kemungkinan awal dari sebuah Nasib. “Ah, komentarmu waktu itu.” Kita justru sekarang bukan membicarakan pelabuhan dari nasib-nasib umat manusia. Kita malahan amat banyak berkata tentang titik tolak kebendaan yang meronta-ronta di langit hampa sebelum pada akhirnya terbanting di bumi nyata.
Keberangkatan paling pagi berlangsung sedari dimulainya keculasan pertama, sedangkan yang terakhir di kala kulit-kulit iblis mengelupas tanpa kendali. “Ah, ah. Kuanggap pandanganmu kelewat picik. Atau kelewat terpancang pada ukuran agamawi tertentu, yang belum disentuh oleh rembangnya matahari petang. Akan tetapi, Jacinta, kalaulah kau pernah bilang seperti itu, aku segera percaya betapa aku yang dulu nyinyir itu tergolong orang yang menyepelekan jalan nasib sendiri.
Menganggap sepi pergulatan kemanusiaan yang ada dalam sumber kefitrianku sendiri. Lantas aku ngomong dan ngomong, sampai ujung bibir berbusa dan orang-orang mendengarkan dengan separuh hati”. “Bukan, bukan begitu, sayangku.” Sangkalmu, bukan? “Dikau belum faham akan kidung zaman, atau kurang maklum terhadap arus hidup yang bergemuruh sepanjang liku dan hilirnya. Kau hanya mendewakan katahati, yang seringkali lewat di sela-sela angkaramurka dan tak mampu meredakan olak-alik pergulatan pikir yang tumbuh suatu kurun waktu. Lemah dan nyaris renta.” Kala mengucapkan wawasan ini, pipimu memerah, mata bulatmu bersinar-sinar. Kukira dikau telah menyatakan sesuatu yang berasal dari dasar pribadi kuatmu…
Jacinta yang baik.
Sepanjang pewartaan ilmu pengetahuan (yang kita tangkap sesaat atau yang kita serbu secara menggebu) bisanya tidak pula menjadi satu kesunyataan dumadi. Sepanjang pewartaan cerah yang hadir di belantara masa, maka diperlukan kesaksian insani, sekelompok maupun sendiri. Bahkan, berpamrih atau hanya setangkup perhatian yang terperi. Dalam kesatuan nilai yang menggemulung hati gunung dan lembahnya, memperhatikan kajian demi kajian yang sempat dihayati, para pemikir berjuang keras. Antaranya, mengkristalkan apa yang bernama penemuan masasilam, setelah itu bisa menggolongkan cara-beda suatu persoalan keseharian. Kalau hal ini dapat berlangsung baik, kitapun sanggup menguak kerahasiaan dari pintu-pintu mulia (yang selama ini diyakini terletak di jantung kebudayaan) itu. Setrum hayati dari mata air tempat kecimpung.
Jacinta yang penyabar.
Masih ingatkah Adik pada telaga kecil yang terletak di desa Suryajati itu? Telaga itupun bernama Surya-Jati, alias kesejatian sinar yang menjiwai kehidupan. Ketika masa-masa indah sekolah dulu, kita seringkali mengayuh sepeda dari sekolah ke telaga kecil itu, bolak-balik lebih dari dua jam, karena pelajaran Ilmu Pasti dari guru yang kurang kita sukai hendak dihindari. Kalau sudah lewat satu pal dari pelataran sekolah, tiba di perempatan jalan, kita sampai pada sebuah pos alit, dengan bangunannya bergaya Jawa, sedangkan kotakpos di depannya bercat oranye, bagaikan tugu kukuh menjulang – kemudian kita berbelok ke kiri, sepanjang jalan ditumbuhi kenari.
Perjalanan jauh terus ke selatan kota. “Aku heran, Syam,” katamu waktu itu. “Apakah sebenarnya yang kita cari di telaga sana? Rasanya kita hanya duduk-duduk seraya membasuh airnya nan jernih.” Maka akupun segera memotong: “Bukan itu, kawan. Siapapun tentu kepingin mandi berkecimpung di telaga jernih, dan bukan yang lain.” Kemudian pelan-pelan mulut mungilmu mengoceh: “Siapa dan apa katanya. Di Surya Jati kita justru kepingin mandi cahaya suci!” Ah, ah, ah. Tak salah, ungkapmu berhasil menyadarkan bahwa hal itulah yang harus kita hayati di telaga yang punya nama ‘kesejatian sinar’ tadi.
Namun, tatkala pada hari-hari lanjut kita bersiram di mata air sejuk itu, kukira bukan lantaran menghindari pelajaran Ilmu Pasti nan menyebalkan, melainkan ada dorongan lain. Kini aku tahu, apa namanya. Percikan dan getaran air-gemair yang sampai ke badan kita, memberikan suasana baru. Paling tidak, rasa kangen yang tiap kali bangkit (antara kita, tentu!) dapat terobati. Telaga alit itu barangkali hanya ujud dari pendekatan ulang!
Jacinta yang baik.
Sesudah deretan angka melunturkan sejuta kesan, lalu pulalah perhitungan saat-saat yang berdekap, maka hidup menjadi gaya ulang sejati. Bukankah aku masih muda, teramat remaja masa itu? Sedangkan buah pikir yang berloncatan masih jauh dari sekrup pemanteknya. Dirimu pun masih lebih teragak-agak untuk mengenal tolok-ukur dari pemahaman ilmu. Karena apa yang tengah kita hadapi (dan sergap) senantiasa berlangsung antara reranting aking dan guguran daun berlumut. Kalau terjadi perenungan serta permenungan, maka yang lahir adalah golak-galik pandangan kanak-kanak, bukan yang lain. Hanya saja itu sudah cukup buat zamannya. Karena pada deretan kini, ada tantangan lain yang memaksa diri untuk mengamati ‘hilang’nya suatu pamrih (yang waktu itu tercuri oleh sifat naif), dan kalau akan benar-benar jujur, rasanya datang pamrih lanjut yang lebih mengental bukan? Caranya ialah dengan menggelimangi sejarah umat.
Jacinta tersayang.
Memberikan hari-hari cerah, kiranya lebih menggairahkan katimbang menyudutkan hari-hari yang tak pula ditafsirkan ke balik segala rengkuhan. Mengembalikan hari-hari yang ceria, niscaya lebih utama lagi. Tuhan melimpahkan anugerah Kasih di hati kaum muda, kaum remaja, karena Dia ingin agar serbuk-serbuk darah dalam jasad mereka hangat, bahkan panas. Secara kodrati semuanya dikembalikan kepada nilai paling luhur. Di balik pertemuan-pertemuan yang tanpa bayang-rancang masa depan, aku dan dirimu telah melaksanakan sabda Tuhan sebaik-baiknya. Mengunjungi dusun-dusun ranum seputar telaga di pedalaman, untuk menggali renungan maha dalam. Menggauli panorama terpencil, lantaran tekad dijelmakan suatu pandang dan tilik, kendati usia muda belum mengokohkannya. Kebersamaan yang tampil, mendaki tebing-tebing.
Jacinta, Jacinta.
Kutatap kembali aksara-aksara buku harianku semasa sekolah. Aku menghela nafas. Aku bahagia bersama sejarah nan memupus kudus.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Selasa, 02 September 2008
LENGKUNG YANG RANGKUNG
KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Cecilia yang manis.
Mengapa menelungkupi kehidupan – di kala manusia hendak mencenungi peruntungan sendiri? Mengapa menelungkupi gairah dalam kedalaman sunyi, padahal apa yang terngiang dan terbilang sebenar-benarnya merupakan gumpalan yang menebal? Mengapa sibuk memilah-milah kepergian satu misal, sedangkan perumpamaan yang derai-derai tiba menjadi intinya? Mengapa menyesali terpugarnya bangunan tua, padahal kala dirimu menelusuri bangsal-bangsalnya yang putih dan bening, ada yang terasa terkecoh?
Persinggahan yang paling kuat dalam lagu dan harapan adalah sungguh mengingatkan kita kepada surat, bagaimanapun tipisnya surat itu, bagaimanapun koyak-moyaknya surat yang datang ke tangan ini. Maka sebenarnya semacam ucapan yang menguatkan hati, ketika jawaban di langit telah bisa menambatkan kuda-kuda yang kita tunggangi di sepanjang perbukitan, kuyakin makin gamblanglah pertemuan dan semakin semarak medannya.
Alangkah rindunya menyenandungkan lagu itu kembali. Sewaktu tiada sedikitpun upaya buat meredakan getaran yang berdebur itu, dan tiap manusia yang berdatangan untuk merebut tempat yang tersedia (karena ada restu untuk melungguhkan kehadiran) –dapat menggenapkan suatu wahana. Barangkali, usah disebut lagi gaung lantun yang pernah tersembul. Dan apabila makhluk-makhluk angkasa menjulangkan persembahan sekali lagi, keras kita menekankan, betapa rapuhnya dada, betapa rapuhnya Asih terakhir.
Cecilia yang gemar menatap keabadian.
Tiada lain untuk menggenapi senyap yang berkertap-kertip. Pada dasarnya, kehidupan menjadi rengkahan batin yang papa, manakala biduk hidup tak mampu kita hanyutkan. Pada dasarnya apa yang melindap dalam rimba-rimba kefanaan, masihlah akan menyiratkan kembali makna tertentu, di saat perkembangan bisa ditukik. Pada liputan yang menentukan, manusia dapat mengakrabkan kembali ibu, bapa, kaum kerabat yang telah membebani kerangka hari lewatnya – asalkan dia tak mengingkari tanggung jawab berlanjut. Alangkah kokohnya serat-serat yang menjalin anyaman bahagia yang merekamnya.
Melihat mataair yang jernih, dengan keriangan nan senantiasa mempesona, agaknya dapat melilihkan dada yang dipenuhi gelita. Namun demikian, adakah dikau masih tekun meneliti karya tulis murid-muridmu yang nyaris tak pernah terhenti mengalir? Setiap kelas terbuka, dan setiap pintunya menganga, kau sering tertabrak persoalan yang meminta seluruh waktu buat menanggapi. Tiap geritan pintu yang berat dan besar itu longkang, kurasa hatimu sarat dengan kesibukan (yang entah kau sadari entah tidak, semakin membenamkan tubuh). Cara-lampah yang memberikan sekedar kemungkinan untuk mengenangkan sesekali, membentangkan dalam sela-sela padatnya kerja, adakalanya sanggup menciptakan rasa-senggang. Tapi jelasnya, bukan kelonggaran yang dihajatkan. Ragam-soal hayati malah masih menggeladrah di rambutmu.
Cecilia tersayang.
Berbagai lahan dalam pengucapan, berbagai makna kertawibawa terbukti memberikan bahan yang melingkupi. Dengan cara demikian, terbuka penjelajahan yang giat dan gemuruh, yang kau sendiri sanggup mewartakannya. Marilah, kita sungkup kebahagiaan yang meleleh. Kalau kaurasa, bahwa di belakangmu masih berbanjar tunas-tunas hijau, hendaknya dirimu mengantarkan secercah maksud (bagaimanapun coraknya) – dan betapa kuatnya tekad berpasrah. Maka tekuklah lutut dan berdoalah sekali lagi, karena esok mungkin terdapat ‘julangan juang’ yang patut diwedarkan.
----
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Cecilia yang manis.
Mengapa menelungkupi kehidupan – di kala manusia hendak mencenungi peruntungan sendiri? Mengapa menelungkupi gairah dalam kedalaman sunyi, padahal apa yang terngiang dan terbilang sebenar-benarnya merupakan gumpalan yang menebal? Mengapa sibuk memilah-milah kepergian satu misal, sedangkan perumpamaan yang derai-derai tiba menjadi intinya? Mengapa menyesali terpugarnya bangunan tua, padahal kala dirimu menelusuri bangsal-bangsalnya yang putih dan bening, ada yang terasa terkecoh?
Persinggahan yang paling kuat dalam lagu dan harapan adalah sungguh mengingatkan kita kepada surat, bagaimanapun tipisnya surat itu, bagaimanapun koyak-moyaknya surat yang datang ke tangan ini. Maka sebenarnya semacam ucapan yang menguatkan hati, ketika jawaban di langit telah bisa menambatkan kuda-kuda yang kita tunggangi di sepanjang perbukitan, kuyakin makin gamblanglah pertemuan dan semakin semarak medannya.
Alangkah rindunya menyenandungkan lagu itu kembali. Sewaktu tiada sedikitpun upaya buat meredakan getaran yang berdebur itu, dan tiap manusia yang berdatangan untuk merebut tempat yang tersedia (karena ada restu untuk melungguhkan kehadiran) –dapat menggenapkan suatu wahana. Barangkali, usah disebut lagi gaung lantun yang pernah tersembul. Dan apabila makhluk-makhluk angkasa menjulangkan persembahan sekali lagi, keras kita menekankan, betapa rapuhnya dada, betapa rapuhnya Asih terakhir.
Cecilia yang gemar menatap keabadian.
Tiada lain untuk menggenapi senyap yang berkertap-kertip. Pada dasarnya, kehidupan menjadi rengkahan batin yang papa, manakala biduk hidup tak mampu kita hanyutkan. Pada dasarnya apa yang melindap dalam rimba-rimba kefanaan, masihlah akan menyiratkan kembali makna tertentu, di saat perkembangan bisa ditukik. Pada liputan yang menentukan, manusia dapat mengakrabkan kembali ibu, bapa, kaum kerabat yang telah membebani kerangka hari lewatnya – asalkan dia tak mengingkari tanggung jawab berlanjut. Alangkah kokohnya serat-serat yang menjalin anyaman bahagia yang merekamnya.
Melihat mataair yang jernih, dengan keriangan nan senantiasa mempesona, agaknya dapat melilihkan dada yang dipenuhi gelita. Namun demikian, adakah dikau masih tekun meneliti karya tulis murid-muridmu yang nyaris tak pernah terhenti mengalir? Setiap kelas terbuka, dan setiap pintunya menganga, kau sering tertabrak persoalan yang meminta seluruh waktu buat menanggapi. Tiap geritan pintu yang berat dan besar itu longkang, kurasa hatimu sarat dengan kesibukan (yang entah kau sadari entah tidak, semakin membenamkan tubuh). Cara-lampah yang memberikan sekedar kemungkinan untuk mengenangkan sesekali, membentangkan dalam sela-sela padatnya kerja, adakalanya sanggup menciptakan rasa-senggang. Tapi jelasnya, bukan kelonggaran yang dihajatkan. Ragam-soal hayati malah masih menggeladrah di rambutmu.
Cecilia tersayang.
Berbagai lahan dalam pengucapan, berbagai makna kertawibawa terbukti memberikan bahan yang melingkupi. Dengan cara demikian, terbuka penjelajahan yang giat dan gemuruh, yang kau sendiri sanggup mewartakannya. Marilah, kita sungkup kebahagiaan yang meleleh. Kalau kaurasa, bahwa di belakangmu masih berbanjar tunas-tunas hijau, hendaknya dirimu mengantarkan secercah maksud (bagaimanapun coraknya) – dan betapa kuatnya tekad berpasrah. Maka tekuklah lutut dan berdoalah sekali lagi, karena esok mungkin terdapat ‘julangan juang’ yang patut diwedarkan.
----
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar