jendelasastra.com
DARI DUKA MASA LALU
dari ribuan sungai masa lalu
aku menatap garis garis pantai
yang terus berbuih di depanku.
sebuah kisah harus ditebarkan,
betapapun pahitnya
sebuah sejarah
seperti sejarah kanak-kanak
di jalan raya,
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sihar Ramses Simatupang. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Maret 2018
Jumat, 09 Maret 2018
Bedah Buku Kritik Sastra di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki
Selasa, 16 November 2010
Saat Rombongan Seniman Masuk Kampung
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Sebuah kampung, komunitas sastra, dengan “kepala suku”-nya Gola Gong yang pernah dikenal dengan novel remaja Balada Si Roy, merupakan komunitas yang aktif dalam hal pustaka dan regenerasi penulis.
Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang bermarkas di Serang Banten saat ini sedang mengagendakan jadwal kesenian rutin, khususnya kesusastraan. Agenda untuk mengundang para seniman sebagai pembicara merupakan langkah lain dari Gola Gong cs.
Dengan komandan Heri Hendrayana itu, beberapa sastrawan dari seluruh wilayah Nusantara diundang dalam tajuk “Ode Kampung (Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara)”, berlangsung 3-5 Februari mendatang.
Gola Gong, Ketua Umum PRD ini mengatakan, idiom kampung secara etimologis, dalam perspektif kita adalah kebersahajaan, kesederhanaan, keluguan. “Namun dalam perspektif lain, kampung juga bisa berarti kebodohan, ketertindasan, kemalasan. Apalagi ketika kampung diberi akhiran -an (maksudnya kampungan, maka: norak, ketinggalan zaman, adalah label yang sering ditempelkan di jidat kita),” ujarnya kepada SH baru-baru ini.
Hal lain yang tak dapat dihindarkan adalah idiom kota pun kerap dianggap cerdas, bebas, megah, sehingga tiap orang ingin menjadi warga kota. Kota, tempat bersarangnya mimpi-mimpi, mengadu nasib dan peruntungan.
Dalam Ode Kampung yang mengangkat tema besar “Sastrawan di Tengah Persoalan Kampungnya” memang bertujuan saling belajar dari realitas keberagaman berkesenian, terutama dalam prosa cerpen dan puisi.
Pada acara ini, para peserta yang akan menginap di rumah warga kampung Ciloang dan Komp. Hegar Alam, akan mendapatkan sajian mulai dari pembukaan dari Pak RT Hegar Alam, penyerahan Antologi Ode Kampung, pentas seni anak-anak Rumah Dunia (puisi dan teater).
Padat
Acara selama tiga hari itu akan diisi dengan berbagai tema diskusi, pemutaran film dokumenter dan pentas teater Rumah Dunia, Teater STIE La Tansa. Para pembicara yang akan diundang antara lain Gus tf Sakai, Toto ST Radik, Isbedy Stiawan ZS Acep Zam Zam Noor, Jamal D Rahman, Ahmadun Yossy Herfanda (konfirmasi), Ibnu Wahyudi (UI, Depok), Prof Yoyo Mulyono (Rektor Untirta, Serang), Saut Situmorang, Binhad Nurrohmat, dan Irfan Hidayatullah. Para sastrawan ini memang diundang dari berbagai tempat antara lain Lampung, Jakarta, Ciputat, Tasikmalaya, Cimahi, Sumedang, Rangkas, Jogja, Rancaekek, dan Tangerang.
Rumah Dunia untuk mendatang juga telah menyusun program Writing Camp, sekitar April hingga Agustus dan berlangsung sebulan sekali. Dengan acara yang diperuntukkan di wilayah Banten, semua peserta akan mondok di rumah-rumah warga di sekitar Rumah Dunia, acaranya juga semacam Bengkel Cerpen dan Bengkel Puisi.
Nama-nama sastrawan yang diminta kesediaannya menjadi montir pada acara Writing Camp antara lain Eka Budianta mengangkat tema “Puisi-puisi Lingkungan Hidup”, Hudan Hidayat dengan tema “Fiksi Gila”, Yanusa Nugroho dengan tema Puisi Audio Visual, atau Sitok Srengenge dengan tema “Monologku”.
http://www.sinarharapan.co.id/
Sebuah kampung, komunitas sastra, dengan “kepala suku”-nya Gola Gong yang pernah dikenal dengan novel remaja Balada Si Roy, merupakan komunitas yang aktif dalam hal pustaka dan regenerasi penulis.
Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang bermarkas di Serang Banten saat ini sedang mengagendakan jadwal kesenian rutin, khususnya kesusastraan. Agenda untuk mengundang para seniman sebagai pembicara merupakan langkah lain dari Gola Gong cs.
Dengan komandan Heri Hendrayana itu, beberapa sastrawan dari seluruh wilayah Nusantara diundang dalam tajuk “Ode Kampung (Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara)”, berlangsung 3-5 Februari mendatang.
Gola Gong, Ketua Umum PRD ini mengatakan, idiom kampung secara etimologis, dalam perspektif kita adalah kebersahajaan, kesederhanaan, keluguan. “Namun dalam perspektif lain, kampung juga bisa berarti kebodohan, ketertindasan, kemalasan. Apalagi ketika kampung diberi akhiran -an (maksudnya kampungan, maka: norak, ketinggalan zaman, adalah label yang sering ditempelkan di jidat kita),” ujarnya kepada SH baru-baru ini.
Hal lain yang tak dapat dihindarkan adalah idiom kota pun kerap dianggap cerdas, bebas, megah, sehingga tiap orang ingin menjadi warga kota. Kota, tempat bersarangnya mimpi-mimpi, mengadu nasib dan peruntungan.
Dalam Ode Kampung yang mengangkat tema besar “Sastrawan di Tengah Persoalan Kampungnya” memang bertujuan saling belajar dari realitas keberagaman berkesenian, terutama dalam prosa cerpen dan puisi.
Pada acara ini, para peserta yang akan menginap di rumah warga kampung Ciloang dan Komp. Hegar Alam, akan mendapatkan sajian mulai dari pembukaan dari Pak RT Hegar Alam, penyerahan Antologi Ode Kampung, pentas seni anak-anak Rumah Dunia (puisi dan teater).
Padat
Acara selama tiga hari itu akan diisi dengan berbagai tema diskusi, pemutaran film dokumenter dan pentas teater Rumah Dunia, Teater STIE La Tansa. Para pembicara yang akan diundang antara lain Gus tf Sakai, Toto ST Radik, Isbedy Stiawan ZS Acep Zam Zam Noor, Jamal D Rahman, Ahmadun Yossy Herfanda (konfirmasi), Ibnu Wahyudi (UI, Depok), Prof Yoyo Mulyono (Rektor Untirta, Serang), Saut Situmorang, Binhad Nurrohmat, dan Irfan Hidayatullah. Para sastrawan ini memang diundang dari berbagai tempat antara lain Lampung, Jakarta, Ciputat, Tasikmalaya, Cimahi, Sumedang, Rangkas, Jogja, Rancaekek, dan Tangerang.
Rumah Dunia untuk mendatang juga telah menyusun program Writing Camp, sekitar April hingga Agustus dan berlangsung sebulan sekali. Dengan acara yang diperuntukkan di wilayah Banten, semua peserta akan mondok di rumah-rumah warga di sekitar Rumah Dunia, acaranya juga semacam Bengkel Cerpen dan Bengkel Puisi.
Nama-nama sastrawan yang diminta kesediaannya menjadi montir pada acara Writing Camp antara lain Eka Budianta mengangkat tema “Puisi-puisi Lingkungan Hidup”, Hudan Hidayat dengan tema “Fiksi Gila”, Yanusa Nugroho dengan tema Puisi Audio Visual, atau Sitok Srengenge dengan tema “Monologku”.
Minggu, 03 Oktober 2010
Menyikapi Internet Sebagai Media Bersastra
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Pembacaan cerita pendek oleh Danarto di QB Book Store saat peluncuran Graffiti Imaji oleh Yayasan Multimedia Sastra pekan lalu adalah sebuah momen menarik buat para penulis yang selama ini cukup produktif di dalam situs internet. Terbitnya kumpulan cerita pendek—memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapardi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti—ini menguatkan posisi karya sastra dalam dunia internet.
Seiring perkembangan teknologi, internet menjadi alternatif media bagi seniman untuk berkarya. Tak heran, banyak situs yang kemudian bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan. Salah satunya adalah www.cybersastra.net. Situs yang dibentuk oleh Yayasan Multimedia Sastra ini nyatanya mampu menjadi wadah yang memadai. Buktinya, telah dua buku diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra yang materinya diambil dari karya-karya yang disumbangkan seniman pada situs tersebut, baik berupa cerita pendek, puisi, maupun esei.
Situs lain yang juga bergerak di bidang sastra bernama www.bumimanusia.or.id. Dari situs ini, telah dihasilkan beberapa karya tercetak antara lain antologi cerpen Puthut E.A yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, dan Beatniks, puisi-puisi Nuruddin Asyhadie, dan Bumi Manusia 1: Ini … Sirkus Senyum. Ini belum dihitung dengan terbitnya beberapa jurnal yang sebelumnya telah melewati sistem penyeleksian melalui editorial situs tersebut.
Para sastrawan yang cukup dikenal dan setia di dalam berproses pun, banyak yang sudah pernah terlibat di dalam pengukuhan karya-karya para sastrawan di dunia internet. Tak kurang beberapa nama seniman yang cukup lama dikenal, ikut mendukung fenomena sastra internet di media massa. Para penulis itu antara lain Eka Darma Putera, F. Rahardi, Meidy Lukito hingga Sobron Aidit.
Kontroversi
Walau sastra internet tak bisa dipandang sebagai genre karena tidak menghasilkan sebuah tradisi baru, tanpa perjuangan estetik (istilah yang digunakan penyair Ahmadun Yosi Herfanda), dan juga masih mengangkat nama-nama penyair lama di media cetak, antara lain Dorothea Rosa Herliany, Viddy AD, Aslan Abidin, Endang Supriadi, Gus tf Sakai, dan Cecep Syamsul Hari, tak dapat disangkal pula keberadaannya memunculkan pula nama-nama baru yang tengah berproses dan mulai menguat di dunia sastra maya itu.
Sementara itu, Ribut Wiyoto (penulis esei sastra) menanggapi dengan tajam. Menurutnya, sasatra internet adalah media yang terlalu mudah menerima naskah, tanpa memiliki kriteria yang jelas. Redaksi juga dipandangnya terlalu berkompromi dengan naskah-naskah yang masuk di dalamnya. Akibatnya, para penulis yang ada pun agak diragukan kualitasnya. Walau pemerhati sastra, Yaqin Saja, juga mengingatkan tentang situs lain yang tidak dicermati oleh Ribut–misalnya yang mengangkat karya Sitor Situmorang–tetapi kualitas karya memang harus jadi perhatian tersendiri bagi redaksi.
Jagat sastra Indonesia tampaknya membutuhkan sebuah isu kontroversial selain isu kelahiran para senimannya. Bila dulu muncul perdebatan tentang sastra Balai Pustaka atau bukan, Lekra atau Manifest, sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia, genre prosa liris, sastra kontekstual lewat Arief Budiman dan Ariel Haryanto, mungkinkah isu ”kacangan” tentang sastra internet menjadi sebuah topik dan fenomena menarik?
Di sisi lain, selain kekurangan yang ada, media internet memang meruapkan sebuah alternatif terhadap tersumbatnya kebebasan kreatif mengenai kriteria sastra di dalam media massa. Di dalam pembicaraan SH dengan Nanang Suryadi dan Sutan Iwan Soekri Munaf, dipaparkan juga tentang kelebihan sastra internet yang antara lain ikut memberikan ruang baru terhadap definisi cerpen. Cerpen yang bisa hadir dalam bentuk ”sangat mini” atau ”sangat panjang”, itu berbeda dengan media massa yang punya syarat tegas tentang halaman cerpen yang memenuhi kriteria.
Intensitas yang jauh lebih dinamis dibanding media cetak merupakan kelebihan media internet. Media ini bisa menampung lebih banyak karya dibanding majalan, jurnal, atau koran yang hanya memuat beberapa karya saja dalam satu minggu.
Sastra internet adalah sebuah tradisi yang muncul di tengah perkembangan teknologi. Di Indonesia, atau di dunia, sastra internet bisa jadi merupakan sebuah tesis dan antitesis terhadap dinamisasi sastra. Tersumbatnya saluran eksistensi bagi generasi muda—yang terlihat dari minimnya kelahiran komunitas baca sastra, kantong kesenian, peluncuran antologi atau event lomba—membuat sastra internet adalah sebuah tawaran yang kemudian digandrungi. Apakah internet hanya melahirkan seniman yang instan, tak percaya diri dan tak teruji dalam persaingan? Perjalanan waktulah yang akan membuktikannya.
http://www.sinarharapan.co.id/
Pembacaan cerita pendek oleh Danarto di QB Book Store saat peluncuran Graffiti Imaji oleh Yayasan Multimedia Sastra pekan lalu adalah sebuah momen menarik buat para penulis yang selama ini cukup produktif di dalam situs internet. Terbitnya kumpulan cerita pendek—memuat 83 karya yang dipilih oleh Sapardi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyanti—ini menguatkan posisi karya sastra dalam dunia internet.
Seiring perkembangan teknologi, internet menjadi alternatif media bagi seniman untuk berkarya. Tak heran, banyak situs yang kemudian bermunculan untuk mewadahi kreativitas para sastrawan. Salah satunya adalah www.cybersastra.net. Situs yang dibentuk oleh Yayasan Multimedia Sastra ini nyatanya mampu menjadi wadah yang memadai. Buktinya, telah dua buku diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra yang materinya diambil dari karya-karya yang disumbangkan seniman pada situs tersebut, baik berupa cerita pendek, puisi, maupun esei.
Situs lain yang juga bergerak di bidang sastra bernama www.bumimanusia.or.id. Dari situs ini, telah dihasilkan beberapa karya tercetak antara lain antologi cerpen Puthut E.A yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, dan Beatniks, puisi-puisi Nuruddin Asyhadie, dan Bumi Manusia 1: Ini … Sirkus Senyum. Ini belum dihitung dengan terbitnya beberapa jurnal yang sebelumnya telah melewati sistem penyeleksian melalui editorial situs tersebut.
Para sastrawan yang cukup dikenal dan setia di dalam berproses pun, banyak yang sudah pernah terlibat di dalam pengukuhan karya-karya para sastrawan di dunia internet. Tak kurang beberapa nama seniman yang cukup lama dikenal, ikut mendukung fenomena sastra internet di media massa. Para penulis itu antara lain Eka Darma Putera, F. Rahardi, Meidy Lukito hingga Sobron Aidit.
Kontroversi
Walau sastra internet tak bisa dipandang sebagai genre karena tidak menghasilkan sebuah tradisi baru, tanpa perjuangan estetik (istilah yang digunakan penyair Ahmadun Yosi Herfanda), dan juga masih mengangkat nama-nama penyair lama di media cetak, antara lain Dorothea Rosa Herliany, Viddy AD, Aslan Abidin, Endang Supriadi, Gus tf Sakai, dan Cecep Syamsul Hari, tak dapat disangkal pula keberadaannya memunculkan pula nama-nama baru yang tengah berproses dan mulai menguat di dunia sastra maya itu.
Sementara itu, Ribut Wiyoto (penulis esei sastra) menanggapi dengan tajam. Menurutnya, sasatra internet adalah media yang terlalu mudah menerima naskah, tanpa memiliki kriteria yang jelas. Redaksi juga dipandangnya terlalu berkompromi dengan naskah-naskah yang masuk di dalamnya. Akibatnya, para penulis yang ada pun agak diragukan kualitasnya. Walau pemerhati sastra, Yaqin Saja, juga mengingatkan tentang situs lain yang tidak dicermati oleh Ribut–misalnya yang mengangkat karya Sitor Situmorang–tetapi kualitas karya memang harus jadi perhatian tersendiri bagi redaksi.
Jagat sastra Indonesia tampaknya membutuhkan sebuah isu kontroversial selain isu kelahiran para senimannya. Bila dulu muncul perdebatan tentang sastra Balai Pustaka atau bukan, Lekra atau Manifest, sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia, genre prosa liris, sastra kontekstual lewat Arief Budiman dan Ariel Haryanto, mungkinkah isu ”kacangan” tentang sastra internet menjadi sebuah topik dan fenomena menarik?
Di sisi lain, selain kekurangan yang ada, media internet memang meruapkan sebuah alternatif terhadap tersumbatnya kebebasan kreatif mengenai kriteria sastra di dalam media massa. Di dalam pembicaraan SH dengan Nanang Suryadi dan Sutan Iwan Soekri Munaf, dipaparkan juga tentang kelebihan sastra internet yang antara lain ikut memberikan ruang baru terhadap definisi cerpen. Cerpen yang bisa hadir dalam bentuk ”sangat mini” atau ”sangat panjang”, itu berbeda dengan media massa yang punya syarat tegas tentang halaman cerpen yang memenuhi kriteria.
Intensitas yang jauh lebih dinamis dibanding media cetak merupakan kelebihan media internet. Media ini bisa menampung lebih banyak karya dibanding majalan, jurnal, atau koran yang hanya memuat beberapa karya saja dalam satu minggu.
Sastra internet adalah sebuah tradisi yang muncul di tengah perkembangan teknologi. Di Indonesia, atau di dunia, sastra internet bisa jadi merupakan sebuah tesis dan antitesis terhadap dinamisasi sastra. Tersumbatnya saluran eksistensi bagi generasi muda—yang terlihat dari minimnya kelahiran komunitas baca sastra, kantong kesenian, peluncuran antologi atau event lomba—membuat sastra internet adalah sebuah tawaran yang kemudian digandrungi. Apakah internet hanya melahirkan seniman yang instan, tak percaya diri dan tak teruji dalam persaingan? Perjalanan waktulah yang akan membuktikannya.
Senin, 20 September 2010
Surat Bunga dari Ubud: Putu dan ”Sejarah yang Terserpih”
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta.
Begitu pun sejarah tentang biografi di sebuah rezim di tengah prahara politik di Indonesia, hingga sekarang menjadi kemelut, menjadi kontroversi, bahkan mampu memperlambat dan memacetkan proses hukum yang sedang dijalankan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK): korban 1965 yang pembelaannya masih menimbulkan pro-kontra dari setiap lapisan politik masa kini.
Sejarah yang gamang, sejarah yang rawan.
Perasaan semacam itu tertangkap di buku Surat Bunga dari Ubud (Penerbit Koekoesan, 2008) yang diluncurkan di Goethe Institut Jl Sam Ratulangi 9-15 Jakarta, Jumat (7/11) malam, didukung oleh Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA), Institut for Global Justice (IGJ), Penerbit Koekoesan, Kelompok Insan Pemerhati Seni (KIPAS), Meja Budaya dan Goethe Institut.
Ada fenomena yang berbeda antara teks cerpen dan puisi. Cerpen cenderung berupa dunia imaji yang rapi dan penuh siasat untuk melepaskan diri dari personalitas penulisnya. Di dalam puisi, terendus jejak biografi sekaligus perasaan si senimannya.
Karena itu, tak tepat bila membaca puisi penulis kelahiran Singaraja, Bali, 1939 yang pernah mendekam di penjara politik Salemba dan Tangerang sejak 1966 hingga 1976 ini, hanya diarahkan kepada fenomena diksi, tipologi dan tanda-tanda baca lainnya di dalam karya.
Di karya penyair yang sebelumnya pernah menulis kumpulan puisi Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok-Matahari Berlin (1990) itu, terseliplah cinta personalnya tentang keluarga, ”rantai cinta” di masa lalu, genetik Bali seorang Putu Oka Sukanta, lengkap dengan spiritualitas ”manusia Pulau Dewata” di Nusantara.
Sepuluh tahun, tentu begitu mengerikannya, sebuah ruang terali sempit yang tanpa kebebasan fisik dan ketidakpastian masa depan – diganduli belenggu pemikiran dan belenggu karya di atas riwayat hidupnya.
Tak hanya itu, dalam kebebasan pun, hingga tahun 1998 bahkan sekarang, stigma itu terus berlangsung, mempermainkan riwayat tiap orang yang pernah terlibat dan terkalahkan oleh prahara sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan hukum di masa menyedihkan itu. Kendati bersalah pun, tak ada pengadilan dan hukum yang memadai untuk mengantarkan mereka dalam pesakitan panjangnya. Bahkan, khalayak awam seperti petani dan ”kalangan lugu”, harus ikut menderita dalam stigma prahara politik tahun 1960-an.
Ada sejarah yang berjalan di atas muka bumi, yang ikut mempermainkan seorang Putu Oka Sukanta. Tubuh yang menua, pengalaman hidup yang mendera, dunia yang terus berubah. Sama seperti menyaksikan sastrawan Sitor Situmorang, Martin Aleida, mendiang Pramoedya Ananta Toer atau seniman rupa Agustin Sibarani, mereka adalah “mata masa lalu” yang sempat melihat kekinian zaman yang terus bergerak. Aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) hingga aktivis Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ikut dirobohkan dan dihancurkan dalam sejarah itu.
Seorang mantan tapol akhirnya memperhatikan dunia yang berubah wajah, dunia yang kini berada di tengah sistem industri liberal, pasar bebas. Negaranya kini masih menjadi negara berkembang yang mengklaim diri tekun dengan spiritualitas Asia – penuh dengan harmoni, namun sekaligus juga dimainkan oleh “spiritualitas” baru: televisi kabel, generasi MTV (music television, sebuah program televisi internasional), plus globalisasi yang membelit. Sekaligus juga krisis ekonomi dan rasa kebangsaan yang diserpih…
***
Amatlah unik bila dipasang asumsi bahwa penyair yang pernah tersisih dalam sejarah rezim tiran Orde Baru, umumnya tetap menggali kenangan dan rasa rindu dendam pada tanah air di dalam puisinya.
Tanah rantau tetap sulit menjadi tanah air pertama, tanah rantau kerap dijadikan tanah yang kedua. Mereka masih kerap membandingkan antara Amerika, Eropa dengan rasa kangen tanah air.
Itu dapat saja terjadi, baik pada sastrawan eksil, ataupun sastrawan yang mendapat ganjaran hukum beberapa tahun dari tiran Orde Baru dan sekeluar dari penjara baru dapat merasakan hawa kebebasan di paru-parunya.
Umumnya, mereka tetap menggali kenangan, rasa rindu dendam pada tanah air. Sekali pun hanya singgah atau bahkan menetap di negeri orang.
Putu Oka Sukanta memang bukan sastrawan eksil secara fisik – kendati dia ”eksil, pernah tersingkir dari sebuah sejarah biografi dan karya”. Putu kembali tinggal dan bekerja di negeri ini. Setelah mewarisi keahlian Dokter Lee, dia pun bekerja di bidang konsultasi akupunktur di rumah praktiknya yang terletak di sebuah gang kota Jakarta. ”Hidup saya justru dari sini, Bung,” ujarnya pada penulis, saat bertandang ke tempatnya berpraktik.
Putu, juga diundang ke beberapa negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia untuk mempresentasikan tulisannya. Di semua puisi yang ber-titimangsa (keterangan latar tempat dan waktu) negeri lain itu, Putu ternyata tak henti membandingkan dengan kecintaan dan kerinduan pada tanah airnya.
Bacalah puisi berjudul ”Stockholm”, dengan titimangsa pembuatan karya di Huddingen-Amsterdam, November 2000, Putu menggubah larik puisinya. Mantel tebal dengan bahasa Jawa di Huddingen Swedia mengingatkannya pada masa lalu di Pendopo Taman Siswa:
jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya
Juga pada puisinya yang lain, kali ini, melalui pikiran dan kenangan Putu, tanah leluhurnya pun tiba-tiba saja ”hinggap” di Ithaca. Antara Bali dan Amerika. Amboi, betapa jauhnya perbandingan dua alam berbeda benua disajikannya dalam santapan puitik!
pantai Bali di Ithaca
naik jukung bertiga
menggali sumur peradaban semesta
tak kan kering ditimba pengarang dunia
(”Pantai Bali Ithaca”, halaman 40)
***
Namun, manakah yang lebih kuat, perasaan yang terkait dunia sosial Putu, terutama dalam konteks kebangsaan, dibandingkan keterpesonaan si penyair dengan alam semesta termasuk matahari, Pulau Bali atau keindahan alam mancanegara?
Putu bisa memunculkan satir perjalanan berbangsa sekaligus pesona alam. Kendati saat melukiskan alam dalam sajak, kerinduannya sebagai manusia, sebagai manusia Bali yang religius, kepada Sang Pencipta di karyanya, Putu terasa lebih mampu mengendalikan olah bahasa ketimbang tema-tema puisinya yang bernuansa politis.
Untuk politik, terkadang Putu sangat verbal, puisinya bisa menjadi begitu ”terang”, sayangnya dalam terang, banyak sisi lain yang bisa terlupakan, entah segi bunyi ataupun permainan metafora. Putu berada di persimpangan itu, puisi yang simbolik, dengan bahasa verbal untuk menyiratkan keadaan. Demikianlah dia kini, berada di antara sejarah kekinian, dengan cara pandang ”mata masa lalu” yang masih dia miliki.
http://www.sinarharapan.co.id/
Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta.
Begitu pun sejarah tentang biografi di sebuah rezim di tengah prahara politik di Indonesia, hingga sekarang menjadi kemelut, menjadi kontroversi, bahkan mampu memperlambat dan memacetkan proses hukum yang sedang dijalankan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK): korban 1965 yang pembelaannya masih menimbulkan pro-kontra dari setiap lapisan politik masa kini.
Sejarah yang gamang, sejarah yang rawan.
Perasaan semacam itu tertangkap di buku Surat Bunga dari Ubud (Penerbit Koekoesan, 2008) yang diluncurkan di Goethe Institut Jl Sam Ratulangi 9-15 Jakarta, Jumat (7/11) malam, didukung oleh Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA), Institut for Global Justice (IGJ), Penerbit Koekoesan, Kelompok Insan Pemerhati Seni (KIPAS), Meja Budaya dan Goethe Institut.
Ada fenomena yang berbeda antara teks cerpen dan puisi. Cerpen cenderung berupa dunia imaji yang rapi dan penuh siasat untuk melepaskan diri dari personalitas penulisnya. Di dalam puisi, terendus jejak biografi sekaligus perasaan si senimannya.
Karena itu, tak tepat bila membaca puisi penulis kelahiran Singaraja, Bali, 1939 yang pernah mendekam di penjara politik Salemba dan Tangerang sejak 1966 hingga 1976 ini, hanya diarahkan kepada fenomena diksi, tipologi dan tanda-tanda baca lainnya di dalam karya.
Di karya penyair yang sebelumnya pernah menulis kumpulan puisi Selat Bali (1982), Tembang Jalak Bali (1986), Salam (1986), Tembok-Matahari Berlin (1990) itu, terseliplah cinta personalnya tentang keluarga, ”rantai cinta” di masa lalu, genetik Bali seorang Putu Oka Sukanta, lengkap dengan spiritualitas ”manusia Pulau Dewata” di Nusantara.
Sepuluh tahun, tentu begitu mengerikannya, sebuah ruang terali sempit yang tanpa kebebasan fisik dan ketidakpastian masa depan – diganduli belenggu pemikiran dan belenggu karya di atas riwayat hidupnya.
Tak hanya itu, dalam kebebasan pun, hingga tahun 1998 bahkan sekarang, stigma itu terus berlangsung, mempermainkan riwayat tiap orang yang pernah terlibat dan terkalahkan oleh prahara sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan hukum di masa menyedihkan itu. Kendati bersalah pun, tak ada pengadilan dan hukum yang memadai untuk mengantarkan mereka dalam pesakitan panjangnya. Bahkan, khalayak awam seperti petani dan ”kalangan lugu”, harus ikut menderita dalam stigma prahara politik tahun 1960-an.
Ada sejarah yang berjalan di atas muka bumi, yang ikut mempermainkan seorang Putu Oka Sukanta. Tubuh yang menua, pengalaman hidup yang mendera, dunia yang terus berubah. Sama seperti menyaksikan sastrawan Sitor Situmorang, Martin Aleida, mendiang Pramoedya Ananta Toer atau seniman rupa Agustin Sibarani, mereka adalah “mata masa lalu” yang sempat melihat kekinian zaman yang terus bergerak. Aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) hingga aktivis Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) ikut dirobohkan dan dihancurkan dalam sejarah itu.
Seorang mantan tapol akhirnya memperhatikan dunia yang berubah wajah, dunia yang kini berada di tengah sistem industri liberal, pasar bebas. Negaranya kini masih menjadi negara berkembang yang mengklaim diri tekun dengan spiritualitas Asia – penuh dengan harmoni, namun sekaligus juga dimainkan oleh “spiritualitas” baru: televisi kabel, generasi MTV (music television, sebuah program televisi internasional), plus globalisasi yang membelit. Sekaligus juga krisis ekonomi dan rasa kebangsaan yang diserpih…
***
Amatlah unik bila dipasang asumsi bahwa penyair yang pernah tersisih dalam sejarah rezim tiran Orde Baru, umumnya tetap menggali kenangan dan rasa rindu dendam pada tanah air di dalam puisinya.
Tanah rantau tetap sulit menjadi tanah air pertama, tanah rantau kerap dijadikan tanah yang kedua. Mereka masih kerap membandingkan antara Amerika, Eropa dengan rasa kangen tanah air.
Itu dapat saja terjadi, baik pada sastrawan eksil, ataupun sastrawan yang mendapat ganjaran hukum beberapa tahun dari tiran Orde Baru dan sekeluar dari penjara baru dapat merasakan hawa kebebasan di paru-parunya.
Umumnya, mereka tetap menggali kenangan, rasa rindu dendam pada tanah air. Sekali pun hanya singgah atau bahkan menetap di negeri orang.
Putu Oka Sukanta memang bukan sastrawan eksil secara fisik – kendati dia ”eksil, pernah tersingkir dari sebuah sejarah biografi dan karya”. Putu kembali tinggal dan bekerja di negeri ini. Setelah mewarisi keahlian Dokter Lee, dia pun bekerja di bidang konsultasi akupunktur di rumah praktiknya yang terletak di sebuah gang kota Jakarta. ”Hidup saya justru dari sini, Bung,” ujarnya pada penulis, saat bertandang ke tempatnya berpraktik.
Putu, juga diundang ke beberapa negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia untuk mempresentasikan tulisannya. Di semua puisi yang ber-titimangsa (keterangan latar tempat dan waktu) negeri lain itu, Putu ternyata tak henti membandingkan dengan kecintaan dan kerinduan pada tanah airnya.
Bacalah puisi berjudul ”Stockholm”, dengan titimangsa pembuatan karya di Huddingen-Amsterdam, November 2000, Putu menggubah larik puisinya. Mantel tebal dengan bahasa Jawa di Huddingen Swedia mengingatkannya pada masa lalu di Pendopo Taman Siswa:
jelas ini bukan di pendopo taman siswa
orang-orangnya bermantel tebal berbahasa jawa
di sebuah gedung di huddingen swedia
tapak kaki di langit hujan bertanya
Juga pada puisinya yang lain, kali ini, melalui pikiran dan kenangan Putu, tanah leluhurnya pun tiba-tiba saja ”hinggap” di Ithaca. Antara Bali dan Amerika. Amboi, betapa jauhnya perbandingan dua alam berbeda benua disajikannya dalam santapan puitik!
pantai Bali di Ithaca
naik jukung bertiga
menggali sumur peradaban semesta
tak kan kering ditimba pengarang dunia
(”Pantai Bali Ithaca”, halaman 40)
***
Namun, manakah yang lebih kuat, perasaan yang terkait dunia sosial Putu, terutama dalam konteks kebangsaan, dibandingkan keterpesonaan si penyair dengan alam semesta termasuk matahari, Pulau Bali atau keindahan alam mancanegara?
Putu bisa memunculkan satir perjalanan berbangsa sekaligus pesona alam. Kendati saat melukiskan alam dalam sajak, kerinduannya sebagai manusia, sebagai manusia Bali yang religius, kepada Sang Pencipta di karyanya, Putu terasa lebih mampu mengendalikan olah bahasa ketimbang tema-tema puisinya yang bernuansa politis.
Untuk politik, terkadang Putu sangat verbal, puisinya bisa menjadi begitu ”terang”, sayangnya dalam terang, banyak sisi lain yang bisa terlupakan, entah segi bunyi ataupun permainan metafora. Putu berada di persimpangan itu, puisi yang simbolik, dengan bahasa verbal untuk menyiratkan keadaan. Demikianlah dia kini, berada di antara sejarah kekinian, dengan cara pandang ”mata masa lalu” yang masih dia miliki.
Kamis, 05 Agustus 2010
Melestarikan Pantun, Menjaga Tamadun Melayu
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/
Menjaga kelestarian peradaban - tamadun - budaya Melayu adalah hal positif, terutama bagi penyair atau pun penulis pantun. Namun, kaidah kesusastraan Melayu harus tetap dijaga. Tujuannya, agar “pakem” itu tak disalahpahami generasi muda pembaca buku pantun dan syair.
Hal itu diutarakan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah satu pembicara dalam acara bedah buku syair dan pantun Bual Kedai Kopi karya duet Martha Sinaga dan Suryatati A Manan yang digelar di Hotel Mitra, Bandung, Sabtu (15/5). Ungkapan itu berkaitan dengan pembedahan setiap pantun dan syair Martha maupun Suryatati setelah dikaitkan dengan aturan dan pola dalam pantun.
Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang dikenal luas di seantero Nusantara. Lazimnya, pantun terdiri dari empat larik, dengan pola a-b-a-b atau a-a-a-a. Semua pantun terdiri atas dua bagian, sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, juga bagian kedua yang menyampaikan maksud, selain mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Selain itu, baik sampiran maupun isi, selain logis, juga wajib memiliki suku kata yang sama. Hal itu diperlukan untuk menjaga keindahan pengucapan dan keindahan bunyi. “Pantun adalah budaya lisan yang cukup berharga, karenanya upaya pelestarian syair diperlukan agar budaya Melayu sebagai budaya tinggi bisa tetap lestari,” papar Ahmadun.
Ahmadun kemudian mengatakan bahwa, pantun juga syair, dalam beberapa karya Suryatati terutama Martha, dirasakan kurang taat asas. Selain memberikan kritik pada salah satu pantun, misalnya pada pantun karya Martha berjudul “Oh” (Bual Kedai Kopi, terbitan Yayasan Kalpataru Jakarta, halaman 79) pada baris pertamanya menghadirkan isi namun tanpa sampiran. Selain itu, ungkapan yang berpanjang-panjang, tak tepat antara isi dan sampiran pun dikritik Ahmadun.
“Jika mungkin, sangat arif dan bijaksana jika buku ini diedit lagi. Bila tidak, saya khawatir ini menjadi preseden buruk bagi pengajaran pantun di kalangan pelajar,” tegas Ahmadun. Dia kemudian menyebutkan nama Tusiran Suseno, seorang yang mengerti soal aturan dan kaidah baik di syair maupun pantun Melayu yang tinggal di Kepulauan Riau, seharusnya bisa dimintai pandangannya untuk buku ini. Menanggapi itu, baik Martha maupun Suryatati mengakui bahwa saran Ahmadun dapat menjadi masukan dalam teknik dan estetika berpantun.
Tema Sosial
Sebelum pembahasan Ahmadun, pembicara lainnya, sastrawan Sides Sudyarto DS lebih menelaah buku Bual Kedai Kopi melalui tema dan latar sosial. Di syair maupun pantun, menurut Sides, Suryatati sebagai Wali Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, kerap terlibat di birokrasi. Juga Martha Sinaga yang berlatar belakang jurnalis, mempunyai perbedaan sudut pandang.
“Persamaannya, keduanya mencoba bicara secara jujur dan terbuka, mereka hanya berbicara apa yang mereka ketahui, mereka tak berbicara apa yang mereka tak ketahui. Hasilnya, keluguan yang disampaikan dalam bahasa yang merakyat, komunikatif, mudah dicerna oleh kalangan atas hingga yang paling bawah,” ujar Sides.
Dalam makalah bertajuk “Suryatati A Manan dan Martha Sinaga: dalam Kesaksian dan Kritik Sosial” itu, menurut Sides, Bual Kedai Kopi bukanlah sebuah bualan, melainkan kesaksian dua pribadi mengenai realitas sosial yang dikemas dalam pantun dan syair. “Mereka melestarikan bentuk pantun dan syair sebagai genre sastra kita, di sisi lain menjadi sumbangsih berupa keprihatinan menyangkut lingkungan manusia dan lingkungan hidup kita yang meradang akibat ulah sesama,” ujar Sides.
Matdon, penyair dan wartawan, yang ikut membahas acara bedah buku Bual Kedai Kopi, melontarkan bahwa karya sastra yang menyadari estetika lokal, akan memperkaya bahasa Indonesia. Selain itu, Matdon memperbandingkan dengan pantun dari Sunda. Pengertian pantun Melayu, di Sunda, kerap disebut sisindiran, yang cara menulisnya sama-sama berupa sampiran dan isi.
“Sastra mampu menyampaikan pesan bagi kondisi masyarakat, urusan penyair tak sekadar menulis puisi, pantun dan syair, tapi juga peduli pada lingkungan di luar kepenyairan dan karyanya. Jika kedua penulis memakai dan sangat mengagungkan lokalitas bahasa itu bagus dan patut dicontoh,” ujarnya.
Baik Suryatati A Manan maupun Martha Sinaga, papar Matdon, memilih wilayah perhatian tersendiri. Wilayah sosial, politik dan ekonomi, menjadi bagian dari hampir semua karya yang mereka tulis.
http://www.sinarharapan.co.id/
Menjaga kelestarian peradaban - tamadun - budaya Melayu adalah hal positif, terutama bagi penyair atau pun penulis pantun. Namun, kaidah kesusastraan Melayu harus tetap dijaga. Tujuannya, agar “pakem” itu tak disalahpahami generasi muda pembaca buku pantun dan syair.
Hal itu diutarakan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah satu pembicara dalam acara bedah buku syair dan pantun Bual Kedai Kopi karya duet Martha Sinaga dan Suryatati A Manan yang digelar di Hotel Mitra, Bandung, Sabtu (15/5). Ungkapan itu berkaitan dengan pembedahan setiap pantun dan syair Martha maupun Suryatati setelah dikaitkan dengan aturan dan pola dalam pantun.
Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang dikenal luas di seantero Nusantara. Lazimnya, pantun terdiri dari empat larik, dengan pola a-b-a-b atau a-a-a-a. Semua pantun terdiri atas dua bagian, sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, juga bagian kedua yang menyampaikan maksud, selain mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Selain itu, baik sampiran maupun isi, selain logis, juga wajib memiliki suku kata yang sama. Hal itu diperlukan untuk menjaga keindahan pengucapan dan keindahan bunyi. “Pantun adalah budaya lisan yang cukup berharga, karenanya upaya pelestarian syair diperlukan agar budaya Melayu sebagai budaya tinggi bisa tetap lestari,” papar Ahmadun.
Ahmadun kemudian mengatakan bahwa, pantun juga syair, dalam beberapa karya Suryatati terutama Martha, dirasakan kurang taat asas. Selain memberikan kritik pada salah satu pantun, misalnya pada pantun karya Martha berjudul “Oh” (Bual Kedai Kopi, terbitan Yayasan Kalpataru Jakarta, halaman 79) pada baris pertamanya menghadirkan isi namun tanpa sampiran. Selain itu, ungkapan yang berpanjang-panjang, tak tepat antara isi dan sampiran pun dikritik Ahmadun.
“Jika mungkin, sangat arif dan bijaksana jika buku ini diedit lagi. Bila tidak, saya khawatir ini menjadi preseden buruk bagi pengajaran pantun di kalangan pelajar,” tegas Ahmadun. Dia kemudian menyebutkan nama Tusiran Suseno, seorang yang mengerti soal aturan dan kaidah baik di syair maupun pantun Melayu yang tinggal di Kepulauan Riau, seharusnya bisa dimintai pandangannya untuk buku ini. Menanggapi itu, baik Martha maupun Suryatati mengakui bahwa saran Ahmadun dapat menjadi masukan dalam teknik dan estetika berpantun.
Tema Sosial
Sebelum pembahasan Ahmadun, pembicara lainnya, sastrawan Sides Sudyarto DS lebih menelaah buku Bual Kedai Kopi melalui tema dan latar sosial. Di syair maupun pantun, menurut Sides, Suryatati sebagai Wali Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, kerap terlibat di birokrasi. Juga Martha Sinaga yang berlatar belakang jurnalis, mempunyai perbedaan sudut pandang.
“Persamaannya, keduanya mencoba bicara secara jujur dan terbuka, mereka hanya berbicara apa yang mereka ketahui, mereka tak berbicara apa yang mereka tak ketahui. Hasilnya, keluguan yang disampaikan dalam bahasa yang merakyat, komunikatif, mudah dicerna oleh kalangan atas hingga yang paling bawah,” ujar Sides.
Dalam makalah bertajuk “Suryatati A Manan dan Martha Sinaga: dalam Kesaksian dan Kritik Sosial” itu, menurut Sides, Bual Kedai Kopi bukanlah sebuah bualan, melainkan kesaksian dua pribadi mengenai realitas sosial yang dikemas dalam pantun dan syair. “Mereka melestarikan bentuk pantun dan syair sebagai genre sastra kita, di sisi lain menjadi sumbangsih berupa keprihatinan menyangkut lingkungan manusia dan lingkungan hidup kita yang meradang akibat ulah sesama,” ujar Sides.
Matdon, penyair dan wartawan, yang ikut membahas acara bedah buku Bual Kedai Kopi, melontarkan bahwa karya sastra yang menyadari estetika lokal, akan memperkaya bahasa Indonesia. Selain itu, Matdon memperbandingkan dengan pantun dari Sunda. Pengertian pantun Melayu, di Sunda, kerap disebut sisindiran, yang cara menulisnya sama-sama berupa sampiran dan isi.
“Sastra mampu menyampaikan pesan bagi kondisi masyarakat, urusan penyair tak sekadar menulis puisi, pantun dan syair, tapi juga peduli pada lingkungan di luar kepenyairan dan karyanya. Jika kedua penulis memakai dan sangat mengagungkan lokalitas bahasa itu bagus dan patut dicontoh,” ujarnya.
Baik Suryatati A Manan maupun Martha Sinaga, papar Matdon, memilih wilayah perhatian tersendiri. Wilayah sosial, politik dan ekonomi, menjadi bagian dari hampir semua karya yang mereka tulis.
Minggu, 05 April 2009
Peluncuran Buku “Menoleh Silam Melirik Esok”
Dari Buku ke Perdebatan Lekra-Manikebu
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id
Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.
Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Seorang lagi, sastrawan penandatangan Manifestasi Kebudayaan di Indonesia, Taufiq Ismail. Moderatornya, Ikranegara, penyair dan penulis–belakangan berperan dalam film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata, yang disutradarai Mira Lesmana dan Riri Riza.
Agenda di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu, Jakarta (18/2), adalah “Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra” menandai peluncuran buku JJ Kusni bertajuk Menoleh Silam Melirik Esok, terbitan Ultimus Bandung Februari 2009. Buku ini berisi komentarnya di milis selama dia bekerja dan tinggal di Paris, kisah sejarah pada masa prahara itu, hingga kisah pribadinya sebagai figur sastrawan “eksil”.
Namun, pertemuan kelompok budayawan dengan perbedaan latar belakang itu sudah acapkali terjadi, antara lain pertemuan yang dimediasi oleh mendiang sastrawan Ramadhan KH di awal tahun 2000-an, serta dihadiri sastrawan Lekra dan Manifes. Juga peluncuran buku karya mendiang Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit yang dihadiri para sastrawan Manifes, atau sebaliknya.
“Dialog ini sudah terlambat, bahkan pertemuan pribadi antarsastrawan berbeda latar politik pun sudah dilakukan sejak dulu,” ujar Putu Oka Sukanta.
Namun, pertemuan dalam rangka peluncuran buku ini tetap hangat dalam perdebatan. Kendati berbicara rekonsiliasi, mereka tetap membawa luka psikologi dalam memori masing-masing. Kusni Sulang–nama masa silam JJ Kusni–juga Taufiq Ismail sama-sama berkisah, masih menyebutkan rentetan kelemahan kelompok yang berseberangan dengannya.
Pertemuan itu tetap bukan hal yang luar biasa. Martin Aleida malah mempertanyakan maksud pertemuan itu, seperti juga Martin menanyakan latar JJ Kusni yang mewakili Lekra di momen diskusi, juga mempertanyakan kapasitasnya sebagai sejarawan di buku itu. Forum diskusi mempertanyakan komitmen Taufiq untuk berekonsiliasi. Amarzan Loebis menimpali bahwa sejarah Lekra dan Manifes adalah sejarah yang telah menjadi jenazah.
Pertanyakan Masa Lalu
Diskusi berjalan dinamis, penuh emosi, dan sedikit bernuansa arogansi. Martin mengatakan, kualitas teks JJ Kusni “belum apa-apa” ketimbang barisan anggota Lekra lainnya. Ia sekaligus mempertanyakan karya Sitor yang tak masuk dalam buku yang disusun Taufiq.
“Anda boleh lupa menyertakan nama yang lain, tapi jangan nama Sitor Situmorang”. Taufiq kemudian menjawab bahwa sejak remaja dirinya menyukai buku kumpulan puisi Sitor Situmorang bertajuk Surat Kertas Hijau dan ketika singgah di Italia dalam perjalanan studi ke Amerika Serikat, dia bahkan teringat buku Sitor, Lagu Gadis Itali.
“Untuk Sitor, kami memintanya secara khusus. Tidak bisa tidak, ini (Sitor) raksasa puisi. Saya mengutus langsung (mendiang penyair) Hamid Jabbar, tapi dia (Sitor Situmorang) menolak dengan sombong. Dia tak mau memberikan,” papar Taufiq.
Kepada media Kompas, Maret tahun 2002, penyair Sitor Situmorang dalam dialog di kalangan budayawan di kebun belakang situs Ki Padmosusastro, Solo, memang mengaku menolak karyanya dimasukkan dalam buku Antologi Puisi Indonesia susunan Taufiq Ismail dan terbitan majalah Horison bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, serta pihak sponsor. Respons itu dilakukannya karena dia tahu di proyek yang sama dan orang yang sama (Taufiq Ismail-red)-dalam penerbitan antologi, sebelumnya-namanya sudah tak dimasukkan.
Pada antologi pertama itu, nama Sitor yang tak tercantum justru dipersoalkan pemerhati sastra lainnya.
Joesoef Isak, yang sedang tak sehat dan berniat ke Singapura, hadir di momen diskusi dan menyatakan kerinduan dua kubu di negeri ini untuk saling memaafkan. Putu Oka Sukanta yang mengisahkan perjalanan hidupnya menjadi dokter ahli refleksi kemudian menyatakan kekangenannya untuk bertemu dengan JJ Kusni–surprise dapat bertemu dengan rekan karib.
Menurut Martin, JJ Kusni bukan Pramoedya Ananta Toer. Sikapnya tak mewakili sikap semua orang yang punya trauma politik. Dia mengkritik niat keikhlasan Taufiq pada rekonsiliasi. Aktivis muda Yeni Rosa Damayanti, bahkan mengingatkan ribuan korban yang wafat tanpa penuntasan hukum, juga pengadilan pada dua kubu besar dalam prahara 1965, sebelum niatan saling memaafkan dilakukan–Yeni mencontohkan pengadilan di Afrika Selatan.
Rekonsiliasi harus diungkapkan terlebih dahulu dari pihak korban. Namun, Taufiq mengambil referensi sejarah di Malaysia, bahwa rekonsiliasi tak bermakna hitungan dagang yang harus diaudit. Ini bisa dimaknai saling memaafkan dari kedua kelompok tanpa membicarakan lagi sejarah karena keduanya “sama-sama satu bangsa” yang menatap hari esok dan masa depan.
“Bila rantai dendam masih membelit tubuh bangsa, bagaimana kita mau maju ke depan, memasuki abad ini, semua itu sudah tak terpakai,” ujarnya.
Jurnalis senior Aristides Katoppo, kemudian menimpali bahwa perbedaan dapat menjadi energi buat perjalanan berbangsa karena negeri ini justru berlandaskan ke-bineka-an. Jurnalis, penyair dan penandatangan Manifestasi Kebudayaan, Goenawan Mohamad menyatakan sejarah bukan bangkai namun yang lebih penting adalah mempelajari untuk konteks masa depan. “Banyak kesalahan Lekra dan Manikebu, salah satunya adalah memberi alasan untuk menindas kebebasan. Kini kita merebut kembali dan menggunakan kemerdekaan yang ada,” ujar Goenawan.
Inilah sejarah generasi yang seakan rekonsilasi namun belum pernah–mungkin tak akan pernah menyetujui sepenuhnya istilah itu. Zaman bergerak dan bergeser–namun kenangan organisasi Lekra dan catatan masa silam transkrip tandatangan dan pernyataan Manifestasi Kebudayaan tak pernah lekang.
“Itulah sejarah paman-paman sekalian,” ujar seorang sastrawan muda. Sastrawan berusia 30-an itu kemudian menambahkan, “Sejarah yang telah menenggelamkan sejarah-sejarah lainnya, kedua kubu makin buram dalam menjalankan visi dan masa depan.”
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id
Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.
Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Seorang lagi, sastrawan penandatangan Manifestasi Kebudayaan di Indonesia, Taufiq Ismail. Moderatornya, Ikranegara, penyair dan penulis–belakangan berperan dalam film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata, yang disutradarai Mira Lesmana dan Riri Riza.
Agenda di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu, Jakarta (18/2), adalah “Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra” menandai peluncuran buku JJ Kusni bertajuk Menoleh Silam Melirik Esok, terbitan Ultimus Bandung Februari 2009. Buku ini berisi komentarnya di milis selama dia bekerja dan tinggal di Paris, kisah sejarah pada masa prahara itu, hingga kisah pribadinya sebagai figur sastrawan “eksil”.
Namun, pertemuan kelompok budayawan dengan perbedaan latar belakang itu sudah acapkali terjadi, antara lain pertemuan yang dimediasi oleh mendiang sastrawan Ramadhan KH di awal tahun 2000-an, serta dihadiri sastrawan Lekra dan Manifes. Juga peluncuran buku karya mendiang Pramoedya Ananta Toer, Sobron Aidit yang dihadiri para sastrawan Manifes, atau sebaliknya.
“Dialog ini sudah terlambat, bahkan pertemuan pribadi antarsastrawan berbeda latar politik pun sudah dilakukan sejak dulu,” ujar Putu Oka Sukanta.
Namun, pertemuan dalam rangka peluncuran buku ini tetap hangat dalam perdebatan. Kendati berbicara rekonsiliasi, mereka tetap membawa luka psikologi dalam memori masing-masing. Kusni Sulang–nama masa silam JJ Kusni–juga Taufiq Ismail sama-sama berkisah, masih menyebutkan rentetan kelemahan kelompok yang berseberangan dengannya.
Pertemuan itu tetap bukan hal yang luar biasa. Martin Aleida malah mempertanyakan maksud pertemuan itu, seperti juga Martin menanyakan latar JJ Kusni yang mewakili Lekra di momen diskusi, juga mempertanyakan kapasitasnya sebagai sejarawan di buku itu. Forum diskusi mempertanyakan komitmen Taufiq untuk berekonsiliasi. Amarzan Loebis menimpali bahwa sejarah Lekra dan Manifes adalah sejarah yang telah menjadi jenazah.
Pertanyakan Masa Lalu
Diskusi berjalan dinamis, penuh emosi, dan sedikit bernuansa arogansi. Martin mengatakan, kualitas teks JJ Kusni “belum apa-apa” ketimbang barisan anggota Lekra lainnya. Ia sekaligus mempertanyakan karya Sitor yang tak masuk dalam buku yang disusun Taufiq.
“Anda boleh lupa menyertakan nama yang lain, tapi jangan nama Sitor Situmorang”. Taufiq kemudian menjawab bahwa sejak remaja dirinya menyukai buku kumpulan puisi Sitor Situmorang bertajuk Surat Kertas Hijau dan ketika singgah di Italia dalam perjalanan studi ke Amerika Serikat, dia bahkan teringat buku Sitor, Lagu Gadis Itali.
“Untuk Sitor, kami memintanya secara khusus. Tidak bisa tidak, ini (Sitor) raksasa puisi. Saya mengutus langsung (mendiang penyair) Hamid Jabbar, tapi dia (Sitor Situmorang) menolak dengan sombong. Dia tak mau memberikan,” papar Taufiq.
Kepada media Kompas, Maret tahun 2002, penyair Sitor Situmorang dalam dialog di kalangan budayawan di kebun belakang situs Ki Padmosusastro, Solo, memang mengaku menolak karyanya dimasukkan dalam buku Antologi Puisi Indonesia susunan Taufiq Ismail dan terbitan majalah Horison bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, serta pihak sponsor. Respons itu dilakukannya karena dia tahu di proyek yang sama dan orang yang sama (Taufiq Ismail-red)-dalam penerbitan antologi, sebelumnya-namanya sudah tak dimasukkan.
Pada antologi pertama itu, nama Sitor yang tak tercantum justru dipersoalkan pemerhati sastra lainnya.
Joesoef Isak, yang sedang tak sehat dan berniat ke Singapura, hadir di momen diskusi dan menyatakan kerinduan dua kubu di negeri ini untuk saling memaafkan. Putu Oka Sukanta yang mengisahkan perjalanan hidupnya menjadi dokter ahli refleksi kemudian menyatakan kekangenannya untuk bertemu dengan JJ Kusni–surprise dapat bertemu dengan rekan karib.
Menurut Martin, JJ Kusni bukan Pramoedya Ananta Toer. Sikapnya tak mewakili sikap semua orang yang punya trauma politik. Dia mengkritik niat keikhlasan Taufiq pada rekonsiliasi. Aktivis muda Yeni Rosa Damayanti, bahkan mengingatkan ribuan korban yang wafat tanpa penuntasan hukum, juga pengadilan pada dua kubu besar dalam prahara 1965, sebelum niatan saling memaafkan dilakukan–Yeni mencontohkan pengadilan di Afrika Selatan.
Rekonsiliasi harus diungkapkan terlebih dahulu dari pihak korban. Namun, Taufiq mengambil referensi sejarah di Malaysia, bahwa rekonsiliasi tak bermakna hitungan dagang yang harus diaudit. Ini bisa dimaknai saling memaafkan dari kedua kelompok tanpa membicarakan lagi sejarah karena keduanya “sama-sama satu bangsa” yang menatap hari esok dan masa depan.
“Bila rantai dendam masih membelit tubuh bangsa, bagaimana kita mau maju ke depan, memasuki abad ini, semua itu sudah tak terpakai,” ujarnya.
Jurnalis senior Aristides Katoppo, kemudian menimpali bahwa perbedaan dapat menjadi energi buat perjalanan berbangsa karena negeri ini justru berlandaskan ke-bineka-an. Jurnalis, penyair dan penandatangan Manifestasi Kebudayaan, Goenawan Mohamad menyatakan sejarah bukan bangkai namun yang lebih penting adalah mempelajari untuk konteks masa depan. “Banyak kesalahan Lekra dan Manikebu, salah satunya adalah memberi alasan untuk menindas kebebasan. Kini kita merebut kembali dan menggunakan kemerdekaan yang ada,” ujar Goenawan.
Inilah sejarah generasi yang seakan rekonsilasi namun belum pernah–mungkin tak akan pernah menyetujui sepenuhnya istilah itu. Zaman bergerak dan bergeser–namun kenangan organisasi Lekra dan catatan masa silam transkrip tandatangan dan pernyataan Manifestasi Kebudayaan tak pernah lekang.
“Itulah sejarah paman-paman sekalian,” ujar seorang sastrawan muda. Sastrawan berusia 30-an itu kemudian menambahkan, “Sejarah yang telah menenggelamkan sejarah-sejarah lainnya, kedua kubu makin buram dalam menjalankan visi dan masa depan.”
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar