Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutejo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2013

Reproduksi Sastra Dalam Kurikulum 1994

Sutejo *
Karya Darma, 30 Nov 1994

Berlakunya kurikulum bahasa Indonesia 1994 dalam dunia pendidikan kita secara teoritis akan menuansakan warna baru dalam pengajarannya. Di samping alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, juga ditingkatkannya aspek reproduksi sastra yang menekankan pada kemampuan dan bakat siswa untuk melahirkan karya sastra.

Jumat, 26 Maret 2010

KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan.

Pada tanggal 11/6/08 ketika ia mengenalkan penulis dengan seorang peneliti dari Malasyia, dia langsung komentar, “Kritik ya! Kalau berhadapan dengan orang kita tak perlu takut. Semua orang sama. Mereka belum tentu lebih pinter dari kita. Tegak dan sigap, katanya.” Bagi, penulis hal itu kritik konstruktif yang saya sambut dengan lapang dada. Dua lelaki Malasyia itu adalah Prof. Datuk Abdul Latif Abu Bakar dan Prof. Abdullah Zakaria bin Ghazali (Universitas Malaya Kuala Lumpur). Hal itu, terjadi di sebuah seminar internasional di Jakarta. Dan, lelaki “sang guru” itu adalah Maman S. Mahayana (Universitas Indonesia).

Apa yang menarik dipetik dari pengalaman Maman? Lelaki ini lebih dikenal sebagai kritikus sastra yang telah begitu banyak menulis buku diantaranya 9 Jawaban Sastra (2005), Bermain-main dengan Cerpen (2006), Ekstrinsikalitas Karya Sastra (2007). Dalam menulis kritik, misalnya, hal yang sering dikatakan adalah: (a) jangan banyak menggunakan istilah asing (b) pergunakan bahasa yang sederhana tetapi bermakna, (c) jangan bombastis, dan (d) lakukan secara tajam dan argumentatif.

Empat hal ini seperti pigura yang senantiasa memberikan batas atas gagasan dalam berekspresi. Esai, yang kemudian, banyak saya tekuni –terus terang— ada kecenderungan untuk menerjemahkan pesan sang Maman. Yang oleh beberapa mahasiswa, ia sering dipanggil sang Dewa Mahayana. Hal itu paralel dengan teori fungsionalisasi yang sering disarang Budi Darma dalam penampingan kepenulisan pada para mahasiswa. Bahwa segala sesuatu dalam deret kalimat “harus” berfungsi. Karena itu, kalau bisa diungkapkan 5 kalimat mengapa harus 15 kalimat? Begitulah barangkali jika diungkapkan secara oratoris. Untuk ini, memang kejernihan dalam berbahasa merupakan sebuah kunci penting. Demikian atas teori tertentu yang dipergunakan dalam sebuah esai, misalnya, tidak boleh bombastis. Secukupnya.

Di sinilah, sesungguhnya dalam penulisan esai, memang, yang dibutuhkan adalah eksplorasi, impresi, dan investigasi yang mendalam. Gaya tentunya tidak terikat. Sebagaimana sifat esai yang pribadi, maka kekhasan tulisan yang “tidak terikat” merupakan pilihan yang tepat. Sebuah esai, karena itu, dituntut kompetensi bidang yang andal di samping kejelian dalam mengajinya. Inilah, pesan terdalam yang sering dipesankan Maman dalam penulisan ulasan berupa esai.

Selama ini, dalam berbagai pelatihan penulisan fiksi, Maman S. Mahayana mengilustrasikan kemampuan dasar yang penting dimiliki calon penulis. Kemampuan dasar itu mencakup diantaranya: (a) mendeskripsikan ruang dan tempat, (b) mendeskripsikan profil, (c) menarasikan peristiwa, (d) merangkai kejadian, (e) melatihkan gaya cerita, (f) membuat potongan kisah, (g) melukiskan karakter, dan sebagainya. Kemampuan dasar dalam penulisan fiksi seringkali merupakan faktor yang perlu dimiliki. Logikanya, hal-hal itu akan menjadi bahan penting dalam pembangunan kemampuan kreatif selanjutnya. Cerpen yang baik, misalnya, kata Maman mutlak menuntut kemampuan pembuatan seting yang menarik. Karena hal itu merupakan hal pertama. Ia mencohtohkan Ahmad Tohari, seorang novelis yang kuat dalam penulisan setting. Mau tidak mau, memang, setting akan berandil atas karakter tokoh yang dipilihnya.

Karena itu, jika Anda pengin menulis fiksi tentunya pesan-pesan ini tidak boleh diabaikan. Kekokohan totalitas cerita karena itu, mau tidak mau, ditentukan oleh kekokohan aspek-aspen pembangunnya. Baru setelah itu, kemengaliran dalam penceritaan. Ibarat alir air, sebuah cerita mampu mengantarkan aliran imajinasi seakan-akan pembaca arus dalam geraknya. Kalaupun tokoh bercakap, seakan tokoh hidup dalam pikiran yang diciptakannya. Dalam bahasa Budi Darma, dengan alat demikian, tokoh akan bisa hidup (bercahaya?) lewat pikiran dan bahasa yang digunakannya dalam dialog.

Lebih dari itu, hal lain yang penting Anda miliki adalah pentingnya kebiasaan membaca. Membaca, kata Maman, adalah ruang dialog, ruang berbagi, dan ruang pemodelan. Bagaimana akan menulis cerpen kalau tidak tahu cerpen. Di sinilah, ukuran pertama-tama setelah orang mampu membedakan karakter cerpen (termasuk yang baik dan buruk), baru akan terjadi proses transformasi pengetahuan secara tidak langsung. Cerpen yang baik, katanya, tokohnya tidak harus banyak. Tetapi inspiratif dan menggerakkan imaji pembaca.

Pada tengah Juni 2008 lalu, hal itu juga diungkapkan pada penyair Nurel Javissyarqi (asal Lamongan). Lelaki kurus yang bukan pendidik (karena alergi keberaturan pola guru) itu terus-menerus terjebak dalam ruang diskusi. Apakah kemudian karya itu baik atau tidak, tentunya akan terus bisa diperdebatkan. Hanya, yang penting dipahami adalah dalam menulis maupun memahami teks sastra ada tiga kode menarik yang perlu direnungkan: (a) kode bahasa, (b) kode budaya, dan (c) kode sastra. Penguasaan penulis dalam menulis teks sastra, tentunya mutlak menguasai ketiganya.

Kode bahasa akan menuntun pada ketepatan dan keruntuntan, termasuk kejernihan dalam berbahasa. Kode budaya akan menggiring penulis pada kemampuan membuat imajinasi pembaca lewat pilihan kata yang berbudaya, mencerminkan konteks sosial, dan lain sebagainya. Di sini, penulis merupakan bagian dari struktur budaya itu sendiri, dan karenannya pilihan bahasa itu pun dengan sendirinya merupakan simbol kebudayaan sosial masyarakatnya. Dalam menampilkan tokoh-tokohnya, misalnya, tokoh tidak boleh tercerabut dalam “koridor budaya” ini. Baik secara bahasa maupun kemungkinan simbol-simbol budaya yang melingkarinya. Sedangkan, kode sastra mengingatkan kita bahwa tulisan sastra bukanlah bahasa biasa. Tetapi bahasa indah estetik yang memberikan ruang imajinasi, ruang bayang hingga terawang angan pembaca yang terus alirkan pikiran bimbang. Artinya, teks sastra memang bukanlah menyuguhkan kebenaran mutlak. Tetapi, pemaknaan yang terus berproses dan berulang sehingga kebenaran yang ditawarkan pun bersifat implisit.

Maman, barangkali termasuk sedikit orang yang sabar dalam meberikan pengantar para penulis muda. Melalui bahasa yang kadang “bombastis” untuk menggali motivasi yang diantarkannya sesungguhnya selalu ada bahasa komunikasi penting yang menarik untuk direfleksikan. Ditawar ulang. Tugas kritikus, katanya, memberikan ruang dialog, membuka pintu, dan membukakan jendela estetis. Sejauh dan sedapat mungkin. Kritikus sastra bukanlah pembunuh kreativitas tetapi penumbuh dan penggali keestetikan yang –barangkali pula—masih terpendam.

Bagaimanapun, lanjutnya, menulis dan berkesenian membutuhkan latihan yang terus-menerus. Mengapa? Jika Anda penulis (terlebih calon penulis) berhenti berlatih adalah kemandekan. Kemandekan artinya kepuasan. Padahal dunia kepenulisan adalah dunia alir air laut yang terus bergulung dan berombak. Kepenulisan terus-menerus mengalami pendakian sesekali, tetapi mengalami penurunan pula dalam kala yang berbeda. Artinya, latihan (dan pembacaan atas teks-teks terbaik) merupakan ruang pemodelan kreatif yang menarik untuk dilatihkan. Ini sama sekali bukan berarti pemasungan kreatif, tetapi lebih dari itu, adalah ruang tinju untuk membangkitkan nyali tak henti untuk meniti. Jalan kepenulisan adalah titian hati dai satu sisi dan di sisi lain adalah titian pikir. Memadukan keduanya adalah butuh kearifan kreatif –yang seringkali—antar penulis bersifat unik.

Bagaimana dengan Anda? Meminjam bahasa motivasi, berlatih adalah saat penemuan diri, dan berlatih pula adalah kala berdoa. Pasrah atas hasil yang diungkapkan bersifat gerak menerima dan berubah. Untuk itu, berlatihlah untuk menemukan style diri, bahasa pengucapan, sehingga akan menjadi pesona pada saatnya.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Rabu, 21 Januari 2009

BELAJAR MENULIS DARI EKA KURNIAWAN*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam gagas utama MataBaca, edisi September 2005 (hal. 10-11), salah satu penulis muda produktif dan banyak mengolah cerpen yang berangkat dari obsesi tertentu, rajin membuat catatan perjalanan atau penelitian sederhana. Pengarang ini adalah Eka Kurniawan. Di samping itu dia berpesan kepada kita begini (a) menulislah tentang hal apa saja yang kau ketahui dan (b) naskah yang ditolak dapat kita otak atik lagi, diedit lagi, kemudian dikirimkan ke media yang lain.

Sebagaimana Ucu Agustin, pesan tertolaknya tulisan merupakan peringatan agar kita dapat memperbaikinya kembali. Kalau Ucu berpesan ketika tulisan ditolak nggak usah gelisah maka Eka Kurniawan bilang lebih dari itu untuk kiranya dapat diperbaiki kembali, diotak-atik lagi. Dengan begitu, kita akan dapat melihat kekurangannya. Apalagi biasanya, koreksi dan saran dari redaktur diiringkan dalam penolakan itu.

Ibarat penjual kue seorang penulis perlu rajin untuk menawarkan dan terus meningkatkan kualitas kue yang diproduksinya. Hal ini mengingatkan filosofi kapitalisme yang memang memberikan ruang demikian. Tulisan yang ditolak media bukanlah kiamat bagi penulis. Bisa jadi hal itu disebabkan (a) kekurangcocokkan gaya dengan media yang kita tuju, (b) kadang masih dikaitkan dengan aktualitas tema, (c) kadang disebabkan alokasi karakter yang disediakan media tidak ditepati, (d) menyinggung pihak tertentu sehingga pertimbangan security menjadi pilihan penolakan, dan (e) perimbangan nama penulis (ini tentunya tidak semua media).

Untuk itu, jika salah satu alasan ini yang kita terima maka tinggal bagaiamna kita menyesuaikan dengan masukan dan selera itu. “Perngorbanan” estetik kadang-kadang harus diambil untuk pemuatan. Bukankah otoritas memang berada di tangan redaktur? Soal kualitas bagaimanapun dan kapan pun akan terus dapat diperdebatkan. Di sinilah, saya teringat akan pesan Maman S. Mahayana, untuk tetap berpegang pada “kualitas estetis” dalam kenisbian yang selalu dapat didialogkan.

Hal kedua yang dipesankan Eka adalah menulis dapat tentang apa saja. Hal ini berkaitan dengan tema atau masalah. Artinya, karena kehidupan terdiri dari aneka bidang kehidupan, dan begitu banyak persoalan yang melingkari kehidupan ini; maka sedemikian luas dan terbataslah bahan kepenulisan itu. Kuncinya, empati dan kemampuan berlibat kita dalam menggali, mengidentifikasi, dan mengeksplorasinya menjadi bahan cerpen yang menarik. Seno Gumira Adjidarma pernah menulis persoalan yang sederhana, telinga. Telinga dalam imajinasi Seno, dituangkan dalam dramatisasi percintaan seorang tentara yang di medan perang kemudian menemukan mata-mata yang diperung telinganya untuk dikirimkan pada kekasihnya. Absurd, memang. Tetapi itulah, jika imajinasi liar, dan hal itu sangat mungkin terjadi.

Demikian juga, Agus Noor pernah menulis cerpen judulnya mulut. Metafora mulut tentu sedemikian luas dan bias. Untuk ini, maka seorang penulis dapat mengembangkan sesuai dengan keliarannya masing-masing. Semakin liar, barangkali semakin baik. Tergantung bagaimana kita mengolahnya menjadi cerita yang nalar, logis, dan kaya-kaya nyata terjadi. Meskipun kecil kemungkinan, tetapi cerita sendiri sering berangkat dari keganjilan-keganjilan yang teralami (sebagaimana akuan Budi Darma) maka hal ini pun menjadi mungkin dan mudah untuk dikembangkan.

Sebagaimana Seno Gumira Adjidarma dan Budi Darma yang memanfaatkan perjalanan sebagai upaya research, penelitian sederhana, maka dapatlah kita melakukan pencatatan atas kejadian yang kita alami itu. Buku harian saran Danarto dapat sebagai alat utamanya. Mungkin merupakan rekaman peristiwa aneh, kejadian biasa, atau apa saja. Karena itu, jika Anda sedang melakukan perjalanan menarik kiranya jika Anda mau untuk melakukan teknik ini karena ke depan ia akan menjadi bahan penulisan yang menarik pula. Semakin avontour perjalanan itu maka akan semakin menarik pula. Arswendo Atmowiloto pernah melakukan perjalanan dengan kelompok sirkus kemudian melahirkan novelnya yang berjudul Cirkus. Demikian juga Ernest Hemingway yang menulis Lelaki Tua dan Laut setelah melakukan perjalanan panjang ke Afrika. Mengapa kita tidak memanfaatkan perjalanan untuk hal yang produktif, untuk bahan kepenulisan?

Hal lain yang tak kalah menarik dari pengalaman Eka Kurniawan adalah pentingnya obsesi. Sebuah obsesi memang dalam praktik kehidupan ini seringkali menggerakkan. Apalagi dalam kepenulisan tentu tidak jauh berbeda. Obsesi merupakan keinginan yang tersembunyi, terselubung di balik hati; yang menarik untuk diwujudkan. Jika kita memiliki obsesi tertentu maka menarik kiranya untuk dituangkan ke dalam tulisan. Entah, apa dan kapan. Entah berguna atau tidak, yang pasti jika kita mau mengawali dalam bentuk kepenulisan bukan hal aneh jika kemudian akan berbuah hasil yang menggembirakan di belakang hari.

Obsesi ini selanjutnya juga bersifat lampu penggerak. Obsesi akan mengingatkan pada (a) mimpi tentang teks cerpen yang bagaimanakah yang kita impikan, (b) mimpi idola seperti apakah penulis yang kita idamkan, (c) mimpi pemaknaan yang bagaimanakah yang ingin kita lesapkan, dan (d) puncak obsesi akhir dari semua rangkaian dunia kepenulisan yang kita impikan. Obsesi menjadi sebuah cita. Cita menjadi daya. Daya akan alirkan kreativitas. Kreativitas memberikan keunikan. Keunikan akan melahirkan kekhasan kita sebagai seorang penulis yang berbeda dari yang lainnya. Inilah, ruh kepenulisan yang menarik untuk diobsesikan. Sebuah dunia lepas dari keterpengaruhan orang lain! Tetapi dalam prosesnya tidak ditabukan mengekor atau memodeli dari sastrawan lain.

Hem, bagaimana dengan Anda? Kalau melihat perjalanan Eka Kurniawan menulis demikian mudah dan sederhana mengapa kita tidak memasuki pintu pengalaman yang sudah terbuka? Sambil menyalakan lampu harapan, barangkali obsesi tersembunyi dapat diwujudkan.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Senin, 05 Januari 2009

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Hal ini dilakukan juga untuk mengatur Nurel dalam menentukan perguruan tinggi di mana jendela masa depan harapannya dapat diwujudkan. Tetapi jiwa berontak Nurel memilih untuk tidak selesaikan skripsi di jurusan ekonomi.

Apa yang menarik dari penulis ini? Beberapa hal berikut saya impresikan dari pertemuan empat hari bersama Maman S. Mahayana dan Kasnadi dalam tamasya budaya Jakarta-Bogor. Di emper rumah Bang Maman, hal-hal menarik berikut dapat direnungkan (a) ketidakpuasaannya atas institusi formal karena mengalirkan kebohongan, (b) memilih komunitas untuk mencerdaskan buah kepalanya, (c) pengalaman menulisnya adalah pergulatan sosial budaya lewat meditasi kultural ke berbagai tempat spiritual, (d) semangat lokalitasnya yang tinggi dalam menggerakkan dunia kepenulisan –dan karena itu dia mendirikan penerbit bernama Pustaka Pujangga–, (e) kebiasaan mengarang segala hal dalam pendidikan, dan (f) masa kecilnya sulit membaca –dan karena itu—baru bisa membaca di usia dia belajar di kelas-5 SD.

Unik? Tentu, begitulah jika kejujuran yang menjadi langit pemikiran kita. Persoalannya adalah apa yang Nurel miliki, ternyata, tidak dimiliki oleh kecenderungan remaja kita. Jiwa kepenulisannya muncul, ketika banyak pemikirannya yang tidak terfasilitasi oleh ruang-ruang publik. Di sinilah, maka Nurel mengedarkan pemikirannya berupa buku yang merupakan foto kopi ke berbagai komunitas kemudian dibedah dan dikritisi. Sebuah upaya pencerdasan bangsa, katanya. Ketika, teman-teman lokal lainnya (kemudian mendirikan penderbit Pustaka Ilalang) takut berbagai ancaman –yang mungkin dari pihak—keamaan, dia malah berkerlit, “Wong mencerdaskan anak-anak bangsa kok dilarang.” Di sinilah, tampak dua penting (a) keberanian yang luar biasa, dan (b) jiwa pemberontak khas anak muda. Ketika anak-anak muda lebih banyak memilih demo, lelaki Nurel sebaliknya memilih pena sebagai senjata bertarung pemikirannya.

Dalam ruang diskusi yang tak berdinding itu, Nurel juga tak alergi kritik. Di sinilah, memang akan terjadi proses refleksi dan penajaman. Ternyata, tidak ini saja upaya penajaman itu. Dia bahkan menyusuri tempat-tempat yang dinilai magis, lokalitas, dan spiritualitas. Dalam proses kepenulisannya, dia terinspirasi oleh beberapa tempat religius. Pondok Tegalsari, misalnya, di Ponorogo, adalah salah satu tempat terakhir yang dia kunjungi. Kasan Besari adalah sosok historis yang melahirkan Ronggowarsito sang pujangga besar nusantara. Di tempat-tempat itulah, akunya akan memantik kondisi magis (bawah sadar?) yang menarik. Realita ini barangkali mengingatkan apa yang diungkapkan Rendra, bahwasanya sastrawan (penulis) adalah agen kontemplasi sosial.

Selanjutnya, kenekatan untuk mengembangkan dunia kepenulisan terinspirasi oleh pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Yakni, baru di usia SD kelas-5 dia lancar membaca. Hal membuatnya termotivasi setelah mengenal dunia buku di saat-saat dia tekun berkomunitas di Jogjakarta. Di sinilah, barangkali sebuah ruh religius –yang rata-rata—tidak dimiliki oleh para guru. Jika Nurel seorang sastawan jatuh cinta pada dunia kepenulisan maka realita guru kita –yang tidak mencintai kepenulisan– akan menjadi paradoks sepanjang masa. Terlebih jika diamati, dalam berbagai penerbitan buku-bukunya dibiayai sendiri. Andai motivasi Nurel ini menjadi motivasi para guru, tentunya, akan menjadi sinyal positif di masa depan.

Bagaimana dengan Anda? Sebuah bilik cahaya yang menarik untuk diselisik mengingat ruang-ruang gelap dunia pendidikan kita nyaris tidak memberikan tempat untuk penyemaian dunia kepenulisan ini. Jika lahir 1000 Nurel saja, maka ibarat virus ia akan menjalar begitu cepat. Andai tiap kota di Jawa Timur lahir Nurel dengan idealismenya ini maka dinamika perbukuan akan menjadi dunia alternatif yang efektif mengubah mentalitas bangsa yang akut dan parah.

Hal lain yang menarik disimak adalah semangat lokalitas. Artinya, mengapa dia tidak memilih Jogja atau Jakarta sebagai persalinan pemikiran dan tulisan-tulisannya? Jawaban ringan sambil bercanda dia bilang, “Kalau di Jakarta aku kan hanya nomor kesekian puluh saja, atau bahkan ratusan. Tetapi kalau di Lamongan, tentu akan menjadi nomor satu karena yang merintis memang baru Nurel.” Sebuah logika berkarya yang menarik untuk diapresiasi. Pengibaran bendera penerbitan dari kabupaten daerah akan menjadi sejarah di masa depan.

Penulis, selanjutnya, meminjam metafor perjalanan Nurel adalah pentingnya jiwa pemberontak. Sebuah jiwa tidak kompromi atas kemapanan. Jiwa demikian dalam kepenulisan ibarat nyala api yang akan menghangatkan. Karena itu, menarik untuk ditransformasikan kepada siapa pun kita. Terlebih, anak-anak muda yang –nyaris menjadi agen perubahan—ini sudah lama terjebak pada politisasi peran sosialnya. Proses permenungan dan berkarya seperti terlupa oleh hirup pikuk politik.

Hal terakhir, dan ini yang menuntut mobilitas tinggi adalah bagaimana dia menyusuri beragam tempat untuk pengembangan pemikirannya: diskusi dan bedah buku. Sebuah upaya memasyarakatkan pemikiran di satu sisi dan pada sisi lain merupakan gerakan bawah tanah untuk melawan hegemoni arus atas Jakarta. Semacam pemberontakan? Jika meminjam kecenderungan berpikir Nurel, maka hal ini bisa jadi adalah upaya penyebaran virus kepenulisan dan pemberontakan berpikir.

Akhirnya, jika kita mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Nurel, maka ada baiknya kita memilih sekian pemikiran dan kiprah dalam membumikan pemikiran dan karya. Keberanian Anda jadi penulis adalah mutiara masa depan. Jika itu dipelihara secara sempurna masa depan telah ada digenggaman Anda.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Jumat, 26 Desember 2008

MENYIBAK RUH SUKSES MENULIS ANDREA HIRATA

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Jawa Pos tanggal 14 Desember 2007, memuat feature yang inspirasional, yakni tentang perjalanan buku yang menjadi bestseller dari pengarang yang tidak mau disebut sastrawan. Lelaki pengarang ini dalam perjalanan akademiknya luar biasa: (a) lulus di UI dengan predikat cum laude, dan (b) S2 dari dua perguruan tinggi luar negeri yang juga cum laude. Bukan masalah pendidikannya yang luar biasa tetapi nuansa spiritualitas yang mengikat. Lelaki luar biasa ini bernama Andrea Hirata. Dia menulis pada awalnya untuk konsumsi sendiri, untuk menghormati gurunya yang memiliki etos bekerja luar biasa, dan karena itu dia ingin mengabadikan kekagumannya pada sang guru. Hanya setelah lulus UI dan S2-nya, cita-cita menulisnya itu belum kesampaian.

Sampai suatu waktu dia mendengar kabar tentang gurunya itu dari teman sekolahnya di Belitung tentang ikhwal sakitnya sang guru, sontak nyali nadarnya keluar, meluncur deras. Kemudian dia menuliskan draft buku, yang kemudian dijilid sendiri, dan dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Absudrnya, ketika dia udah bekerja di Telkom, dan laptopnya tertinggal di kamar, dia meminta temannya untuk mengambil, di situlah pintu rahasia itu mengebor menjadi sungai uang yang kini direngkuhnya. File karya itu kemudian ditawarkan ke Bentang oleh temannya, dan selang beberapa waktu lelaki itu dapat telepon dari Gangsar Sukrisno tentang ikhwal layaknya novel dari tangannya itu untuk diterbitkan.

Lelaki itu bernama Andrea Hirata. Yang kini tetralogi novelnya, untuk yang keempat tinggal menunggu penerbitannya yang direncanakan pada 2008 ini. Ketiga novelnya yang berjudul Laskar Pelangi, Pemimpi, dan ... ; ternyata kemudian menjadi bestseller, yang secara kalkulatif menjadi 500 ribu eksemplar. Pada 2007 ini, karya-karya itu juga diminta penerbit Malasyia, dan yang akan menyusul adalah Singapura. Apa yang menarik dari pengalaman Andrea Hirata untuk kita layari?

Pertama, dalam menulis memang ada lorong rahasia yang nyaris tidak dapat diprediksikan oleh siapa pun. Sebuah buku yang tidak direncakan untuk diterbitkan, akhirnya tercium secara tidak langsung, dan melalui cara yang tidak langsung pula. Tetapi, ketika Tangan Panjang Tuhan menjulur dalam bentang tempat dan ruang yang tak terbatas oleh waktu, apa pun dalam sejarah hidup dapat tercipta. Apalagi, manakala suci hati yang mengalir dalam kepenulisan menjadi ruh di dalamnya, bukan ajaib ketika Tuhannya menemukannya dalam angguk yang mengagumkan.

Kedua, bekal berpikir dan kemampuan akademik tampaknya berandil juga dalam kesuksesan seseorang dalam menulis. Perjalanan akademik Andreas Haretta, siapa pun akan mengakui. Lulus cum laude sejak S1 dan S2 adalah bekal akademik yang luar biasa. Pengalaman ini, diakui atau tidak, meneguhkan apa pesan Budi Darma yang mengatakan bahwa kemampuan menulis erat kaitannya dengan kemampuan akademik (berpikir) seseorang. Kegagalan berpikir dengan sendirinya, akan menghambat kelancaran ”berkomunikasi” dalam karya untuk sampai pada pembaca dan tentunya berkaitan pula dengan kejeniusan tampilan dalam karya.

Permasalahannya adalah mengapa banyak orang pandai di Indonesia yang tidak mampu menulis? Sebuah otokritik yang menarik untuk dipikir ulang. Barangkali, memang kita percaya pada ungkapan banyak tokoh dunia, bahwa profesi apa pun sesungguhnya keberhasilannya ditentukan oleh faktor etos dan motivasi kerja yang dapat menjadi 99 persen. Einstein mengatakan, 99 persen hasil yang kita peroleh karena kerja keras, bukan takdir, apalagi bakat yang secara mitologis selalu menjadi hutan sembunyi atas kemalasan kita. Jika Anda ingin mewujudkan mimpi besar dalam hidup ini tidak ada cara lain kecua kerja keras.

Ketiga, kekuatan impresi seseorang suatu waktu dapat menjadi bom investasi yang tidak ternilai. Sebagaimana saya pernah menulis tentang ”Menulis dan Guru” yang di dalamnya menginspiraskan akan pentingnya etika dalam kepenulisan, maka sisi lain pengalaman kreatif Andrea Hirata ini mengingatkan demikian kudusnya posisi guru dalam perjalanan umat manuisa. Ketulusan ibu guru, menginspirasikan sang murid untuk memberikan kado dan kenangan indah padanya. Di luar dugaan kenangan itu menjadi muara dan sungai finansial yang tidak akan kering sepanjang hayat. Bukankah sebuah buku yang telah tertulis, bestseller, akan menunggu panen raya sepanjang massa?

Keempat, kerendahan hati menjadi segara karya yang memesona. Setiap karya akan mengabadikan nama. Andreas Haretta telah menorehkan dengan tinta emas dalam sejarah hidupnya. Meskipun begitu, dia selalu menolak dikukuhkan sebagai sastrawan dan penulis. Alasannya, dia tidak pernah membaca karya sastra, termasuk buku-buku yang lain dia tidak begitu banyak menyukainya. Apa yang dapat kita petik? Di sinilah, barangkali kita akan setuju bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah misteri besar Tuhan, semacam Takdir dengan t besar. Sebab, sebagaimana galibnya (dan ini banyak disarankan oleh para penulis), orang yang ingin sukses menulis mutlak harus suka baca. Akan tetapi apa yang dialami Andrea, sungguh membelalakkan mata kita. Sebuah lorong rahasia kehidupan kepenulisan yang akan semakin menggerakkan siapa pun kita yang bersemangat menulis.

Kritik mengapa kemudian buku yang ditulis tidak melalui proses membaca menjadi bestseller? Kemungkinan berikut menarik untuk dipikirkan: (a) kemungkinan ”pembaca kita” bodoh, (b) kemungkinan pembaca kita lagi memasuki kala transisi di pintu dunia baca, (c) kemungkinan kemampuan ajaib yang alir pada diri penulis karena sesungguhnya berbicara juga menulis itu sendiri, dan (d) kemungkinan kerendahan hati penulis yang menyembunyikan kebiasaan membaca itu sendiri. Kebiasaan membaca suatu bidang jika dibingkai dengan kecakapan berpikir secara tepat akan memberikan imbalan yang sama atas bidang-bidang lainnya.

Kelima, profesi apa pun bukan hambatan seseorang untuk menjadi penulis yang berhasil. Latar belakang ekonomi dan lingkup kerja di PT Telkom, bukan hambatan pengembangan kepenulisannya. Ini tentu mengingatkan kita tentang sebuah buku yang ditulis oleh teman TKW dari Banyuwangi, Anda Luar Biasa! (2007). Perempuan TKW yang penulis itu bernama Eni Kusuma. Dalam kata pengantar bukunya dia mengungkapkan begini, ”... Jika saya tidak suka belajar, tidak peduli akan talenta diri, tidak menyukai harapan, cita-cita dan semangat, mungkin Anda tidak menemukan saya dalam buku ini.” (hal. xviii). Ungkapan ini, mengingatkan betapa pentingnya etos, cita, dan kesadaran akan talenta dalam kepenulisan.

Jika Eni adalah seorang TKW –yang hanya alumni SMA—mampu berhasil, menulis sebuah buku motivasi pertama yang ditulis oleh TKW, dan dikomentari oleh para ahli motivasi kelas wahid di tanah air; tentunya hal ini merupakan pemantik yang menarik untuk dikaji. Dalam merentas dunia kepenulisan, selanjutnya dia mengungkapkannya begini: ”Katakanlah, jika situs Pembelajar.com adalah kurikulum saya, maka milis adalah tempat praktik saya, dan artikel-artikel saya yang dimuat di situs itu adalah hasil ulangan saya. Boleh dibilang naskah buku ini adalah skripsi saya setelah kuliah di Pembelajar.com selama lebih kurang enam bulan..”.

Apa yang menggetarkan? Sebuah pengakuan yang layak disimak, --dan lebih dari itu—kita penting belajar darinya adalah (a) bergaul dengan alat global, (b) belajar tidak harus formal, dan (c) kesuksesan dalam kepenulisan yang tidak ditandai oleh kepakaran. Sebuah lonjakan kreasi yang –rasanya— sulit dipercaya seorang TKW aktif dalam sebuah situs (selanjutnya memiliki milis) sebagai tempat ”berguru” kesuksesan. Di sinilah, maka jika Anda ingin memasuki dunia kepenulisan di era global, --demi kelancaran—alat global ini penting untuk digauli.

Andrea Hirata dan Eni Kusuma adalah tamparan dunia akademik –khususnya perguruan tinggi— yang selama ini menasbihkan sebagai jantung perubahan, agen keilmuan, dan nafas gerak kehidupan. Dua contoh yang senantiasa akan menjadi air jernih yang memantulkan kritik pedas! Di manakah kita akan meletakkan semangat ke depan? Jika banyak negara telah merangkak dan memantikkan karya, sementara kita masih sering hanya terpesona oleh kejadian di sekitar kita? Mengapa tidak memiliki daya getar seperti tsunami? Andai kehadiran kedua penulis kita analogkan tsunami inspirasi, maka kematian atas kesombongan pribadi selayaknya dikebumikan dalam-dalam.

Mudah-mudahan kearifan negara dalam menggembalakan tunas bangsa dalam berkarya akan semakin peka. Jika tunas-tunas demikian tidak dikawal terlebih tidak disemaikan, harapan perubahan kultur berkehidupan makro tentunya juga sulit dicipta. Bagaimanapun membaca dan menulis adalah penanda penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Mengapa kita tidak melangkah dari tangga kehidupan yang menggerakkan ini?
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Kamis, 18 Desember 2008

MENULIS DAN ASMA NADIA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: "Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah." Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD.

Sedangkan Asma Nadia yang terlahir 26 Maret 1972 di Jakarta ini memiliki proses kreatif realtif dekat dengan Helvy dan yang menarik untuk disimak. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh kerja kepenulisannya yang begitu produktif, 30 lebih judul buku telah dilahirkannya. Lebih dari itu, tiga buku diantaranya meraih Anugerah Adikarya Ikapi, yakni (a) Kumpulan cerpen Rembulan di Mata Ibu (2002), (b) Dialog Dua Layar (2003), dan (c) novel 1001 Dating (2005). Berikut merupakan refleksi dari ungkap kreatif yang dilaporkan MataBaca (edisi September 2005:22-23).

Apa yang menarik dari proses kreatif Asma Nadia? Sebuah jejak menulis yang menarik untuk dijejaki (a) begitu mendapat ide penulis ini langsung menentukan alur, tokoh, setting, dan endingnya, (b) ketika ide belum matang (belum jelas bentuknya) dia perlu waktu untuk mengendapkan dan mungkin observasi supaya ide menemukan bentuk terbaiknya, (c) menulis itu perlu komitmen sebagaimana profesi yang lain, (d) bakat turunan ayahnya, (e) terbentuk oleh budaya menulis di keluarga, (f) kritik pedas yang terus mengalir dari suaminya, (g) anak dan suami yang mengerti akan kerja kreatifnya, (i) pentingnya alasan yang kuat dalam menulis, dan (j) pentingnya kerja keras.

Kalau karibnya, Helvy Tiana Rosa pernah mengaku bahwa awal kepenulisannya sejak SD, SMP, dan SMA untuk mencari tambahan biaya sekolah, akhirnya termotivasi untuk membagi sesuatu yang abadi dengan orang lain. Agak berbeda dengan seniornya itu, Nadia lebih diuntungkan oleh bakat yang mengalir dari ayahnya. Bakat pun, pesan A.A. Navis jika tidak didukung oleh etos yang tinggi hanya akan menyumbang kesuksesan 20 persen saja. Karena dalam pengalaman Navis, memang profesi menulis 80 persen lebih ditentukan oleh kerja keras. Di sinilah, hal pertama yang menarik dipetik dari Nadia, “Jangan mudah menyerah. Penulis harus ngotot. Ingat, bahwa keberhasilan adalah jumlah kegagalan +1,” ungkapnya. Profesi apa pun memang membutuhkan etos dan keuletan yang tinggi.

Dalam konteks akuan demikian, maka hal kedua yang menarik diambil adalah pesan Nadia yang mengingatkan bahwa prfesi menulis membutuhkan komitmen. Komitmen yang bagaimana? Tentunya, menyeluruh. Tidak heran, jika keluarga Nadia begitu komit dalam mendorongnya. Suami rajin mengritik dan menilai, anak-anaknya memahami akan profesinya, dan bahkan kultur dan aroma menulis kental di keluarganya. Bahkan, Eva Maria Putri Salsabila yang masih duduk di SD, anaknya, juga menekuni dunia kepenulisan.

Hal ini mengingatkan penulis perempuan dari Surabaya yang mirip dengan Nadia. Yati Setiawan yang bersuami seorang penulis Wawan Setiawan dan kedua anak remajanya pun aktif menulis di Nova. Budaya membaca dan menulis sudah mengakar. Meskipun tidak secemerlang Nadia, namun Yati Setiawan juga memiliki komitmen yang tidak jauh berbeda dengannya. Wuih! Jika sukses menulis itu kita impikan, maka pembudayaan baca tulis di keluarga, komitmen, dan motivasi warganya akan menjadi kunci pentingnya. Pelan-pelan, marilah kita ciptakan keluarga kita sebagai keluarga yang komit pada kedua bidang ini.

Pengalaman kreatif Nadia dalam menggauli ide itu menarik disimak. Jika sudah matang, maka tinggal tentukan plot, tokoh, setting, dan ending-nya. Tapi kalau belum, sebagaimana Ayu Utami, HU Mardiluhung, dan penulis lainnya dibutuhkanlah research. Dalam bahasa Nadia, butuh observasi dan pengendapan agar lebih matang. Masalah tuh bagaimana mengendapkannya? Memikir-mikirkan terus, mengaitkan dengan informasi dan memori kita, menggulatkan dengan pengalaman batin dan didukung observasi lapangan maupun pustaka, tentunya. Mengingat membaca dan menulis merupakan pasangan yang paling mengasyikkan maka nyaris keduanya tidak bisa dipisahkan.

Hal keempat yang tidak boleh dilupakan adalah terciptanya tradisi berguru. Pembaca, dalam bahasa kejujuran kreatif (siapa pun itu hakikatnya adalah guru). Asma Nadia, suami dan anak-anaknya adalah guru kepenulisan itu. Alir kritik pedas suaminya, Alamsyah, adalah ruang refleksi setiap waktu. Dan inilah, juga ketika kita mencermati Yati Setiawan (Surabaya) itu telah sukses membentuk kultur guru-murid (dalam artian filosofis ini) di balik kultur positif di keluarganya. Sebuah tradisi yang kita impikan manakala kita (dan Anda) yang merindukan menulis menjadi profesi di keluarga kita. Berat? Ah, tidak sebenarnya, semua bisa bermula dari kebiasaan kecil macam (a) tradisi kado buku pada anggota keluarga, (b) adanya keteladanan baca, (c) adanya sharing pengalaman tulis, (d) adanya saat-saat diskusi rileks dalam memasakkan pengalaman, dan (e) tentunya perlunya ketersediaan sarana pendukung yang membimbing.

Terakhir, pentingnya keteguhan alasan. Bukankah alasan ini bisa menggerakkan apa pun profesi orang? Semacam latar belakang, background yang akan menentukan langkah menulis selanjutnya. Dalam pengalaman proses kreatif banyak penulis dikenal beragam alasan (a) ada yang menulis untuk mencari uang macam Isbedy Setyawan, (b) ada yang menulis untuk mengekspresikan diri macam Dinar Rahayu, (c) ada yang menulis untuk menyalurkan hobi, (d) ada yang menulis karena panggilan mood takdir macam Budi Darma, (e) ada yang menulis untuk mencari popularitas, (f) ada yang menulis untuk memotret dan sampaikan realitas macam Nh. Dini, dan (g) ada yang menulis untuk melakukan protes sosial macam Wiji Thukul. Eh, sekarang “Apa alasan Anda memasuki rumah kepenulisan?” Selamat berenung, apa pun alasan Anda (dan itu bisa ditambah draf alasannya) akan menentukan langkah-jejak karya Anda di masa depan.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Senin, 01 Desember 2008

SEKOLAH MENULIS PADA GOLA GONG*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Gola Gong adalah salah seorang pendiri dan pengajar Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) yang telah begitu banyak melahirkan penulis muda berbakat di tanah air (dan ini merupakan bagian mimpi besar hidup saya). Penting diketahui, tahun kedua sudah menerbitkan kumpulan cerpen Kaca Mata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Qizin La Aziva melahirkan novel Gerimis Terakhir (DAR! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan karyanya berjudul Mana Bidadari Untukku (Beranda Hikmah, 2004).Tahun kelima, karya tulis mereka beterbaran di majalah dan koran lokal Jakarta. Tiga antologi cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku: Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005). Tahun 2005 itu, kedua siswanya, Qizink La Aziva dan Ade Jahran merintis sebagai wartawan lokal Jakarta (lihat Gola Gong, Menemukan Ide, MataBaca edisi September 2005:36-37).

Ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari pengalaman mengajar dan proses kreatif Gola Gong. Pada hal, sejak awal jelas ia mengatakan bahwa dia tidak memiliki gen kepenulisan (ayah guru olah raga dan ibunya besar dari keluarga petani). Tapi Gola memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menjadi pengarang (dan ini, sekali lagi, merupakan bagian motivasi hidup saya). Bagaimana dengan Anda? Keinginan menggebu, melahirkan usaha, usaha menerbitkan etos, etos melahirkan hasil dan karya, karya menerbitkan nama. Inilah hal pertama yang paling menonjol dapat dipetik dari pengalaman proses perjalanan kepenulisan Gola Gong.

Kedua, pada pengalaman pembelajaran menulis di KMRD itu ia selalu mengenalkan dunia jurnalistik pada muridnya selama satu bulan dan pada bulan kedua dikenalkan rumus 5W+1H, yang dalam pengalaman Gola dapat pula diterapkan dalam mengarang. Hal itu diberikan selama satu bulan. Ada beberapa pertanyaan penggali yang dikemukakan Gola (a) apakah Anda pernah bepergian jauh, dan (b) sukakah Anda membaca? Begitulah, pertanyaan mendasar yang selalu ditanyakan. Hal ini merupakan bahan dasar seseorang akan memasuki dunia menulis (fiksi).

Ketiga, dalam memotivasi penulis muda Gola selalu menyarankan begini (a) janganlah duduk di depan komputer dengan kepala kosong karena hanya membuang waktu saja, (b) ketika hendak menulis siapkan dulu semua: bahan, sinopsis, detailnya: alur cerita, tokoh, konflik, latar, dan karakter para tokoh, dan (c) seseorang ketika menulis sudah memasuki tahap produksi. Apa yang diproduksi? Itulah hakikatnya yang disiapkan pada dua hal sebelumnya (a dan b). Namun jika kita belajar dari penulis mapan macam Budi Darma, atau penulis mutkahir macam Dinar Rahayu dan Nukila Amal, praktis persiapan teknis demikian tidak terjadi. Sebab, bagi penulis ini menulis adalah sebuah proses yang mengalir. Bagaimana? Nggak usah bingung, itulah nanti yang akan Anda alami ketika sudah leading menjadi penulis. Saat demikianlah, yang disebut dengan mooding.

Lalu apa lagi yang dapat diambil? Buatlah buku harian. Ini penting, karena dengan buku harian ini kita berlatih dan mengolah kata. Dalam pengalaman Danarto, hal itu tidak saja melatih, tetapi juga sebagai bank inspirasi yang menarik.

Keempat, membudayakan membaca. Dalam bahasa analogis Ismail Marahimin, membaca seperti memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” dalam menulis. Di sinilah Gola Gong berkesimpulan, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Alfons Taryadi mengilustrasikan dua keterampilan ini sebagai “dua keasyikan yang saling terkait” (baca Membaca & Menulis, MataBaca April 2003:11-12). Hal itu diungkapkan ketika melaporkan pengakuan empat perempuan penulis masing-masing Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Dewi Lestari, dan Violetta Simatupang di TB Gramedia Matraman.

Kelima, kesulitan mengawali tulisan dapat diatasi dengan etos keras dan semangat belajar yang tiada henti. Gola Gong, secara tersirat dapat dipahami bahwa kesulitan pengawalan tulisan akan dapat teratasi dengan belajar keras, dengan membaca, dan dengan mencermati karya-karya orang lain. Jika kita tak pernah membaca, mungkin ini merupakan kesalahan terbesar, karena membaca ibarat pintu segala “temuan” berbagai kemungkinan yang menggerakkan “tenaga dalam” (pinjam bahasa Ismail Marahimin). Dalam teori psikologis, membaca memang dapat mempengaruhi alam bawah sadar yang berpengaruh penting terhadap terbentuknya kepribadian kita.

Keenam, dapat diawali dari mana saja. Ibarat kita bepergian ke pantai, dan di sana kita temukan aneka hal: keindahan pantai, keragaman pengunjung, ombak besar, perahu, nelayan, pasir, batu, ataupun. Kita dapat mengawali dari mana saja. Dari perahu, misalnya, dapat memancing imaji yang sangat panjang: (a) bukankah perahu simbol perjalanan, (b) perahu simbol kehidupan itu sendiri, (c) perahu metafor perempuan, (d) perahu lukisan beratnya perjalanan hidup yang penuh gelombang, dan (e) bukankah ada peribahasa yang mengatakan bahwa perkawinan itu seperti mengarungi bahtera di lautan.

Ketujuh, pentingnya mengoptimalkan pengalaman jurnalistik. Goenawan Mohammad, Seno Gumira Adjidarma, Oka Rusmini, Arswendo Atmowiloto, Bre Redana, Veven Sp Wardhana, Ayu Utami adalah sedikit nama yang berbasis jurnalistik kemudian sukses menjadi penulis. Bahkan Albert Camus, pemenang nobel bidang sastra 1957 adalah seorang penulis besar yang sukses pula sebagai kolumnis di Combat.

Kedelapan, manfaat berobservasi dalam bepergian. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai model mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan melibatkan emosi dalam berbagai persoalan yang ditemukan. Banyak penulis yang memanfaatkan pengalaman ini. Beni Setia, penyair Caruban asal Bandung, pernah bercerita kalau ia tidak mempunyai ide menyempatkan bepergian ke Surabaya, naik bus kota, sampai menemukan ide yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan.

Akhirnya, dengan membaca dapat dimanfaatkan pula sebagai bentuk observasi yang lain. Dengan banyak membaca laporan perjalanan orang, misalnya, akan menginspirasikan akan makna bepergian dengan membaca sebagai observasi. Laporan-laporan feature media cetak macam feature perjalanan, feature berita, feature human interest, feature wisata, dan feature sejarah merupakan sarana jurnalistik yang dapat dioptimalkan. Nah, nggak usah bepergian sendiri, lewat membaca ragam feature ini sama artinya kita telah berselancar ke samudera perjalanan dengan ketajaman observasi dan imajinasi.

Kesimpulannya, apa yang terpenting dapat disarikan dari pengalaman Gola Gong? Ternyata, (a) menulis itu dapat diajar-binakan, (b) menulis butuh etos, dan (c) bakat bukanlah ukuran. Dengan begitu mengeluh adalah hal yang perlu dibuang jauh. Menulis adalah sebuah gerak menapak, bukan laku tuntun yang menggantungkan pada kekuatan lain. Tapi sebuah ghirah abadi bersumber pada inner motivation seseorang. Nyala api yang senantiasa akan menghidupkan dan mencerahkan gerak imajinasi dan pikir calon-calon penulis. Silakah melangkah! Bersekolahlah pada pengalaman Kelas Menulis Rumah Dunia ini.***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Kamis, 06 November 2008

BELAJAR MENULIS DARI OKA RUSMINI*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Perempuan kasta Brahmana ini ikhlas melepaskan “kebrahmanaan” dengan menikah seorang lelaki bernama Arief B Prasetya, seorang sastrawan muda yang kokoh karena komunitas andal di Utan Kayu bersama Nirwan Dewanto, Ayu Utami, Sitok Srengenge, dan lain sebagainya. Karya-karya Oka lebih banyak berbicara masalah sosiologis adat Bali yang dikritisinya. Sebuah upaya protes untuk menyuarakan aspirasi perempuan dalam menggugat cultur dan adat masyarakat Bali dengan berbagai hal yang kurang menguntungkan wanita. Di Jurnal Perempuan, bahkan Oka Rumini pernah dikukuhkan sebagai sosok perempuan yang teguh dan (terus) melakukan perlawanan!

Apa yang dapat dipelajari dalam pengalaman sastrawan Ida Ayu Oka ini? Berikut merupakan refleksi menarik yang penting dipertimbangkan untuk mendiskusikan keberlasungan kepenulisan kita di masa depan: (a) realitas sosial (utamanya perempuan Bali) menggerakkan inspirasi para tokohnya, (b) pengalaman kewartawanan mendorong lahirnya ide itu karena bertemu dengan berbagai lapisan sosial, (c) pengalaman keperempuannya yang menjadi muara (penentu) karyanya, dan (d) tidak terikat pada penulis tertentu dalam berkarya.

Meskipun Oka membaca banyak karya sastrawan macam Nh. Dini, Leila S. Chudori, Umar Kayam, Ahmad Tohari, dan Budi Darma; misalnya, dia menemukan sisi rumpang yang tidak dieksplorasikan. Untuk inilah, hal ini barangkali yang dapat dikaitkan dengan penulis-penulis lainnya. Sebuah belajar melalui karya orang lain untuk menemukan “makna lain” sehingga inspiratif untuk penulisan berikutnya. Eksplorasi kerumpangan itu, dia mencontohkannya begini: Ketika membaca Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi, muncullah pertanyaan dasar yang menggerakkanya, “Apakah mungkin wanita Bali mengungkapkannya seperti Pariyem?”

Berangkat dari realitas (tema) keperempuannya, yang seksis misalnya, memang sangat diuntungkan oleh era industrialisasi yang praktis menggempur kemutakhiran yang didukung keberpihakan gender ini. Tidak heran, hal demikian menjadi inspirasi penting, karena bagaimana bagaimanapun wanita dalam sepuluh tahun terakhir telah menjadi isu sentral kehidupan mutakhir dengan berbagai sisiknya. Tidak mengherankan jika hal ini menggerakkan para penulis perempuan lain macam Nukila Amal, Dwi Lestari, Djanar Maesa Ayu, Oka Rusmini, dan lain sebagainya. Artinya, ketika hal ini (aspektualitas seks) menguat, maka konsep industrialiasinya tidak dapat terlepaskan.

Karya sastra memang sejatinya dapat menjadi cermin realitas sosial. Tak heran jika Oka Rusmini begitu getol mengungkapkan sisi sisip lain konteks sosial masyarakat dalam keragaman dimensinya. Sebuah upaya mengungkapkan kritik di satu sisi dan pada sisi lain upaya spiritual berbasis multikultural untuk alirkan nilai-nilai universal yang mestinya dijunjung. Di sinilah, maka pandangan sosiologi senantiasa mengritisi pada latar sosiologis pengarang sebagai alat bantu dalam menafsirkan aspek sosial kemasyarakatan dalam karya.

Hal kedua yang menarik, sebagaimana yang dialami oleh Ayu Utami, Seno Gumira Adji Darma, dan Taufik Ikram Jamil yang membantu suksesnya seorang dalam berkarya adalah pengalaman kewartawanannya sebelum menjadi sastrawan (pengarang). Tidak saja itu, tetapi juga pengalaman liputan lapangan memberikan inspirasi banyak sebagai seorang pengarang. Dengan begitu, bagaimanapun memang dalam berkarya pengalaman lapang seseorang akan mendorong eksplorasi dan intensifikasi penulisannya.

Kejurnalistikan memang banyak andil atas produktivitas dan kualitas seorang sastrawan. Dalam perjalanan sastra Indonesia kita kenal Mochtar Lubis sebagai jurnalis ulung sekaligus sastrawan agung. Latar kewartawanan ini mengingatkan akan pentingnya penelusuran informasi sebagai detail bahan di dalam pikiran. Apalagi, dalam rumus kejurnalistikan ada beberapa hal yang bersifat of the record. Di sinilah hal penting yang seringkali menggerakkan karena memang hal itu tidak mungkin diberitakan formal tetapi menjadi refleksi menarik dalam kekaryaan. Di samping memang kewartawanan memberikan pengalaman lintas batas, lintas sosial, lintas kultural, lintas etnis, dan lintas waktu. Sebuah kekayaan batin yang jika dieramkan akan menjadi investasi besar dalam dunia kepenulisan.

Ketiga, realita kewanitaannya menggerakkan kepenulisannya menyaran pada ralita sosial dan religius yang seringkali sangat patriarkhis. Subordinatif! Tidak jarang juga bahkan hegemoni. Lewat jendela karya dimungkinan impresi dan refleksi batin dapat diekspresikan secara estetis. Wilayah etik yang hegemonik menjadi sangkur perjuangan untuk melemparkan pesan terselubung. Ini merupakan keniscayaan karena teks sastra di satu sisi hakikatnya merupakan ekspresi batin sastawannya dan refleksi sosial pengarang pada sisi lainnya.

Terakhir, bagaimana pengalaman Oka Rusmini yang tidak mau terikat pada pengarang tertentu. Artinya, semuanya mungkin memberikan inspirasi dan memberikan ruang-ruang rumpang (lowong) yang tidak tergarap oleh pengarang lainnya. Dengan begitu, kemampuan analitis seorang Oka Rusmini sesungguhnya berperan penting. Menyeliai sesuatu yang rumpang, tentu dibutuhkan kemampuan analitis dan apresiasi yang tinggi pula.

Jika kita mau belajar menulis dari Oka Rusmini ini, maka keterikatan pada seseorang pengarang (epigon) tidaklah disarankan, sebaliknya seluas mungkin kita membaca karya orang lain untuk menemukan kerumpangan lahan garapan. Kedua, bagaimana aspektualitas budaya yang melekat pada kehidupan kita merupakan lahan subur kepengarangan. Dan selanjutnya, sisi peran dan siapa kita akan menentukan pandangan kita dalam menulis dan berkarya. Karena kita bukan wartawan, maka kita dapat meningkatkan pergulatan kebahasaan kita dan petualangan kita dengan berbagai hal yang bermakna. Mudah-mudahan kita dapat memetik makna dari pengalaman Oka Rusmini sebagai sang Ida Ayu yang terus menggugat ketidakadilan adat dan sosial masyarakat melalui berbagai karya dan tulisannya.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Minggu, 19 Oktober 2008

BELAJAR MENULIS DARI KURNIA EFFENDI*

Sutejo

Dalam laporan gagas utama Mata Baca, edisi September 2005 (hal. 10-11), diungkapkan beberapa pengalaman yang kemudian menjadi tips menarik seorang cerpenis muda Indonesia yang sangat handal. Ia adalah Kurnia Effendi, yang lahir di Tegal Jawa Tengah 20 Oktober 1960. Berikut merupakan tips menarik itu: (a) membuat 10 file sekaligus untuk 10 calon cerpennya, (b) terinspirasi indera visual kemudian menyusur ke audio, (c) kala mood hilang melakukan kegiatan rutin atau mengerjakan sesuatu yang kita suka, (d) disiplin dalam menulis merupakan keharusan tetapi ingat jangan melakukan diri kita seperti robot, dan (e) jika naskah ditolak kita perlu arif menerimanya, anggap cerpen itu tidak cocok untuk media yang bersangkutan.

Bandingkan kemudian hal ini dengan apa yang di-tips-kan Hamsad Rangkuti. Ia menyarankan pada kita begini (a) mulailah meninggalkan beberapa kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan menulis, (b) banyaklah membaca karena semakin banyak yang bisa kita peroleh, (c) dialog dan narasi akan datang susul-menyusul, begitu latar, tokoh dan peristiwa ditemukan. Bedakan kan? Memang menulis itu bersifat personal sebenarnya. Unik.

Nah, sekarang marilah kita berguru pada Kurnia Effendi. Pengalaman menarik yang dapat diambil dari teknik 10 file 10 judul adalah bisa jadi memang ketika menulis sebuah cerpen, sedang alur kreatif terjadi muncul ide baru, dan ketika menulis lagi, muncul ide lagi. Kalau yang ini wajar dan banyak terjadi. Tetapi pengalaman Kurnia ini menarik, buka file 10 nulis judul cerpen 10. Gak masalah! Coba tirukan aja, manakala Anda bisa melakukannya seperti itu berarti memang hal itu cocok buat Anda.

Masalahnya memang ide itu bisa muncul saling berkaitan. Ide yang satu melahirkan ide lainnya. Sebuah keniscayaan yang menarik untuk dicoba. Mungkin Anda terinspirasi tentang Perempuan Bersepatu Laras. Sekaligus, mungkin Anda akan memetik ide tentang Perempuan Berbibir Besi. Muncul lagi, misalnya (a) Perempuan Bertangan Besi, (b) Perempuan Penakluk, (c) Perempuan Bercadar, (d) Perempuan Bersenjata, (e) Perempuan Teroris, (f) Perempuan Bercelurit, dan (g) Perempuan Bertato. Ini hanyalah kemungkinan judul yang akan menjadi file judul Anda ketika berimajinasi tentang sosok perempuan-perempuan penakluk dalam berbagai ragamnya. Bukankah perempuan adalah inspirasi yang tak pernah habis? Dalam segala dimensi mereka seperti generator penggerak segala gerak kehidupan.

Ingat teknik menulis ATM (amati, tirukan, dan modifikasikan)! Hal ini juga berlaku pada proses kreatif bukan pada sekadar karya. Dengan demikian kemungkinan itu memang sangat mungkin terjadi. Sekarang saja, misalnya, saya punya ide tentang wanita yang begitu menggerakkan. Kita coba yang lain, maka secara spontan pula saya bisa buka file 10 dengan judul cerpen 10. Inilah kisahnya (a) file 1: Perempuan Gemini, (b) file 2: Perempuan Bercadar, (c) file 3: Perempuan Penambang, (d) file 4: Perempuan Bersarung Besi, (e) file 5: Perempuan Bertahi Lalat di Dada, (f) file 6: Ikal, (g) file 7: Mata Perempuan Leo, (h) file 8: Perempuan Tusuk Sate, (i) file 9: Perempuan Helder, dan (j) file 10: Perempuanku Tanpa Kelamin. Mudahkah?

Persoalannya, judul-judul itu akan menari-nari dengan sub-ide pengembangan yang bervariasi pula. Mungkin benar awalnya seorang perempuan, tetapi dalam perjalanan ide yang beranak bisa jadi menyuguhkan ragam perempuan, dan itu akan menjadi anak-anak ide yang tentu harus difasilitasi oleh “rahim” yang sama. Bukankah kita lahir dari rahim yang sama bedanya adalah rumah sakitnya? Karena itu, jangan kuatir terhadap pengalaman empirik Kurnia Effendi yang mampu menulis ide dan judul sekali duduk 10 buah. Ini mengingatkan akan pentingnya (a) membuat daftar ide, (b) daftar judul, dan (c) daftar peristiwa.

Kepekaan masing-masing indera seorang penulis memang berbeda, dan kalau kita belajar dari kasus Kurnia Effendi ini yang mencontohkan kasus tsunami di Aceh. “Saya terinspirasi tsunami dari perasaan seorang anak yang ditinggal pergi ayah-putus-asanya.” Kemudian dia spontan teringat lagu Leo Kristi yang berjudul Laut Lepas Kita Pergi. Trans-inderawi ini biasa. Tergantung kecenderungan sensitivitas masing-masing dan itulah akan membukakan pintu ide, yang kemudian memancing pada ide lanjutannya. Bisa jadi, orang hanya mencium bau parfum, misalnya, sudah terinspirasi beraneka ragam imaji yang mendorong untuk penuangan sebuah karya. Entah puisi, entah cerpen. Semuanya tergantung pada ketersediaan “stok” imajinasi yang mengantarkan di pintu ruang cerpen atau karya lainnya.

Belajar dari Kurnia Efendi ini pintu masuk imajinasi adalah indera visual. Karena itu, bukalah lebar-lebar pandangan mata (bertaut mata hati) pada realita. Realita itu kemudian akan alirkan imaji-imaji indera lainnya. Sebuah kemolekan, misalnya, akan mengingatkan indera penciuman. Biasanya sensualitas berbalut dengan keharuman. Sekaligus mengingatkan imaji gerak karena liuk goda dalam langkah adalah daya tarik yang ditebarkan oleh si sensualis. Begitu seterusnya.

Ketiga, perlunya kita tak perlu memaksa ketika mood hilang. Pesan menarik Kurnia Effendi adalah perlunya kita mengisi dengan kegiatan lain, boleh rutin atau hobi kesukaan yang akan menyegarkan. Dalam pengalaman orang lain, disinggung juga, kemungkinan mood hilang karena terbatasnya material. Jika ini yang terjadi, dapat dipecahkan dengan membaca tema-tema yang sama. Tetapi jika ini pun tak mempan maka saran Kurnia ini menarik menjadi pilihannya. Sebab, mood sebagaimana diungkapkan Budi Darma adalah ruh keterbiusan maka ketika keterbiusan hilang mau tidak mau gerak persalinan pun jadi terhambat. Gak usah tegang, gak usah bimbang. Tinggalkan dengan melakukan aktivitas pemancing macam membaca dan berenung.

Keempat, untuk mewujudkan apa pun membutuhkan disiplin tinggi, demikian juga dengan kegiatan menulis. Saran Kurnia tentunya di tips yang ini adalah penting disiplin, baik waktu, masalah, maupun hal lainnya. Untuk apa? Sekali lagi untuk (a) melatih memanaj waktu, (b) bertanggung jawab, (c) membangun etos, dan (d) melatih kesadaran. Bidang apa pun, khusus di bidang bisnis, misalnya, disiplin merupakan penyangga dasar. Jika tidak korporasi bisnis bisa boboh. Jika kita analogkan menulis sebagai bisnis korporet maka kedisiplinan tinggi akan menjadi taruhannya.

Terakhir, tentang penolakan naskah. Betul, tak usah tersinggung karena hal itu merupakan hal wajar. Semua penulis pernah ditolah. Pahami saja bahwa hal itu tidak cocok dengan style yang mereka (redaktur budaya) pegang. Simpan, baca, edit, dan bila perlu lemparkan ke media yang lain. Hal ini sebagai strategi karena --kadang—berkaitan dengan aktualitas. Sebuah godaan fakta yang menjadi imajinasi. Budi Darma, misalnya, pernah menulis Pilot Bejo ketika realita sosial lagi hangat disoroti kasus jatuhnya Adam Air.

Sekarang, lakukanlah sebagian tips boleh, semua juga boleh. Ingat, hal itu bersifat individual, karena itu, jangan dipaksakan! Luwes mengalir seperti alir air adalah resep alami kepenulisan. Bukankah bawah sadar menggerakkan hidup kita sebesar 88 persennya? Demikian tentu dunia kepenulisan ini.***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos

Selasa, 14 Oktober 2008

MENYISIR KEPENULISAN PROFETIK ABDUL HADI

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Pada tengah Juni 2008, saya sempat ngobrol bersama Abdul Hadi sebelum menjadi pembicara dalam rangkaian diskusi hantaran pengukuhan guru besarnya. Abdul Hadi sendiri adalah pelopor sastra profetik –yang sampai sekarang—tetap konsisten dengan pilihan pengucapan dan corak kekaryaannya. Pada acara diskusi di Universitas Paramadina Jakarta itu saya menyebutnya nabi, karena secara filosofis kepenyairan di Yunani adalah “proses kenabian”. Penyair adalah nabi kehidupan karena menyuarakan ruh-ruh kenabian. Budi Darma menyebutnya dengan rhapsodist: orang yang bergagasan cemerlang dan berbahasa secara cermerlang pula.

Lelaki profetik itu pernah mengikuti International Writing Iowa tahun 1973-74 dan lulus Ph.D. dari Universiti Sains Malasyia dengan disertasi Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Syaikh Hamzah Fansuri (1995). Pada 1978 dia mendapat hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta; 1979 memperoleh Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia; 1985 memperoleh Hadiah Sastra ASEAN (Sea Write Award) dari pemerintah Thailand; buku esainya Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (1999) memperoleh Hadiah Buku Terbaik 2000 dari Yayasan Buku Utama; dan 2003 mendapat Hadiah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur.

Beberapa poin berikut adalah hasil refleksi dan pembacaan atas pengalaman kreatifnya, baik itu langsung maupun tidak. Sebuah cermin yang dapat ditatap maknanya dalam menapaki dunia kepenulisan: (a) dia banyak memperoleh ide saat membaca al-Qur’an, (b) dia banyak mengamati realita sosial hingga muncul refleksi profetiknya, (c) aura liris-profetik karya-karya adalah pilihan pengucapan yang konsisten, (d) corak multikulturalisme sebagai ladang kreatif, (e) gerakan profetik dengan mengembalikan makna karya sastra sebagai gerakan kembali ke sumber, dan (f) pengalaman pembacaannya atas teks-teks sastra sufi tampaknya memengaruhinya untuk berkarya.

Menulis bagi Pada awal 1980-an, Abdul Hadi (ingat saya) adalah sastrawan yang memopulerkan sastra profetik. Sekaligus merupakan pilihan pengucapannya sebagai penyair. Sebuah upaya untuk kembali ke akar kehidupan, dan kembali ke sumber dalam bahasa Danarto. Bukankah “kesufian” adalah kodrat umat manusia dalam graduasi yang berbeda? Orang Jawa, menyebutnya agama agemining ati, karena itu, bersastra (yang profetik) tentunya merupakan salah satu “pakaian kehidupan” itu sendiri. Sastra profetik sendiri adalah semacam “genre” atau aliran sastra yang memandang bahwa karya sastra memiliki muara moralitas tersembunyi, yang alir profetiknya semacam oase transendental untuk mengobati kehausan dalam kehidupan. Dalam konteks sastra profetik ini, sebagian orang akan menyebutnya dengan sastra sufistik atau sastra transendental.

Dalam konteks mutakhir muncul gairah sastra Islami dengan puncak Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak pentasbihannya, akan menjadi jembatan (transisi apresiasi) menuju pergulatan optimal atas keberadaan sastra profetik yang diusungnya. Sebab, sastra profetik seringkali menggunakan simbol-simbol estetik (bahasa metafora) –yang tentunya— tidak sama manakala kita berhadapan dengan teks Ayat-Ayat Cinta.

Sementara itu, di bangku-bangku sekolah kita temukan nyaris guru-guru sastra tak beranjak dari problem masa lampaunya: jengah di padang estetika sastra dan gundah di tengah sawah pembelajaran yang berubah. Problem guru sastra adalah problem “orang tua” yang tak jelas nasabnya, tak jelas pula pola asuhnya. Guru sastra adalah produk kognifikasi estetika sastra, karena pembelajaran sastra bukanlah pergulatan tetapi verbalisme informasi estetik. Belum lagi, dalam praksisnya, guru seringkali tidak berani beranjak dari dunia lamanya. Sastra terpandang sebagai si anak liar, anak belantara yang tak jelas buminya. Padahal, dalam sejarah negara berbudaya, sastra merupakan pintu masuk bagi warga yang berbudaya. Negara macam Inggris, Jerman, Jepang, Cina, Amerika, Perancis adalah contoh-contoh itu. Belum lagi Yunani sebagai bangsa sumber ilmu adalah muara estetika sastra pula.

Dalam konteks membumikan sastra profetik (paradigma kesenian Abdul Hadi ini), sebagai penulis pemula misalnya, kita penting untuk mengenali, menghayati dan –barangkali—menjadi corak ini sebagai pola diikuti dengan pengucapan yang matang. Makna di balik pilihan demikian adalah makna pesan tersembunyi yang digerakkan teks sastra. Dunia sastra dengan sendirinya adalah jembatan budaya di satu sisi dan di sisi lain merupakan jembatan layang untuk menanamkan berbagai kepentingan. Gagap sosiologis masyarakat kita, dengan demikian, merupakan bagian dari kegagalan pembelajaran sastra secara tidak langsung.

Sebab, realitas sosial dalam pandangan sosiologi sastra merupakan sebab musabab lahirnya sebuah karya sastra (puisi). Ignas Kleden, berpandangan bahwa hubungan kausalitas itu sedemikian kuatnya sehingga teks sastra tidak lain adalah refleksi (superstruktur) dari struktur sosial di mana seorang pengarang menghasilkan karyanya. Georg Lukacs dalam Ignas Kleden, mengungkapkan bahwa fungsi refleksi-imaji karya sastra dapat berperanan sebagai pantulan kembali dari situasi masyarakatnya (Wiederspiegelung), baik menjadi semacam salinan atau kopi (Abbild) suatu struktur sosial, maupun menjadi tiruan atau mimesis (Nachahmung) masyarakat. Refleksi ini dengan sendirinya, bukan sekadar reproduksi suatu realitas sosial menurut berbagai kesan yang masuk dari luar ke dalam persepsi tetapi juga mengandung respons dan reaksi aktif terhadap impresi tersebut. Dan, Abdul Hadi dalam berbagai pergulatan sosial dalam menapaki perjalanan ruangnya macam Rotterdam, London, Hamburg, Zurich, Baghdad, Teheran, Istambul, Tokyo, Seoul, Kyoto, Taiwan, Dacca, Bangkok, Manila, New Delhi, Singapura, dan Kuala Lumpur; telah meletakkan bingkai multikultural itu dengan profetik sebagai sumbunya.

Dalam konteks historis sosiologi Melayu, maka keberadaan sastra profetik (sufistik) ini tidak sulit ditemukan. Hamzah Fansuri, misalnya, sebagai simbol sastra Melayu yang paling populer, ternyata memiliki hubungan dalam konteks abad 20-an. Bahkan, tentunya sampai sekarang hal itu dapat ditelusuri dalam berbagai karya, baik puisi maupun fiksi. Akar sosiologis tentang genre ini tentunya sudah mendarah daging. Bagi Abdul Hadi, kegetolannya dalam sastra Melayu memang semacam pilihan untuk (a) mengabadikan histori perjalanan sastra yang sebenarnya sudah tua, dan (b) membumikan cara dan teori sastra yang berbeda dengan kecenderungan sastra Indonesia yang beroreantasi Barat.

Abdul Hadi, seperti apa yang dipesankan Sutardji Calzaum Bahri, “Dul, jadilah dirimu sendiri. Bukan antek Barat.” Dan, memang Abdul Hadi telah merentas karakter teori dan teks sastra dengan pola sendiri. Termasuk pola penafsiran hermeneutik dengan metode ta’wil yang ditawarkannya. Hal itu dilakukan, barangkali karena konteks sosilogis yang mengalirinya adalah muara multikultural yang –sesungguhnya sudah realita yang menarik—untuk ditarik pada makna yang komprehensif. Sebab, baginya kehidupan itu tidak dapat dipilah-pilah sebagaimana realita sekarang.
***

Ketika pengalaman keislaman menguat yang ditandai dengan maraknya buku-buku Islami, pilihan corak sastra profetik (dalam realita multikultural) sangatlah menarik. Sewindu terakhir persoalan spiritualitas menguat seiring dengan rumitnya persoalan hidup yang semakin merebak, baik persoalan sosial, politik, ekonomi, hukum, psikologi, pendidikan, dan agama. Bahkan, agama seringkali dinilai bukan sebagai sumber kedamaian tetapi muara persoalan. Berbagai bentuk kekerasan di Indonesia, misalnya, seringkali disebabkan oleh persoalan agama ini. Dalam konteks inilah, maka spiritualitas –sungguh—menjadi oase di padang gurun kekeringan jiwa. Spirit yang merujuk pada semangat kebaikan, menggerakkan, dan menemukan. Bukan membedakan. Puisi, misalnya, sebagaimana pilihan tema Abdul Hadi dapat menjadi contoh dalam gerakan sastra profetik itu.

Sejak 2000 bermunculan konsep-konsep spiritualitas bersifat interdisipliner: spiritual quation-nya Ian Marshal dan Ranah Johar, ESQ Ary Ginandjar, SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) Ahmad Faiz Zainuddin, dan masih banyak lagi. Ada buku lain, Spiritual Reading, yang mengisahkan bagaimana secara historis umat Islam sesungguhnya telah membumikan baca tulis sehingga dalam perjalanan peradaban abad 4 sampai awal belasan. Meskipun konsep spiritual beragam maknanya, tetapi yang hakiki spiritual mengarah pada makna spirit kebaikan yang universal. Banyak orang yang tidak beragama tetapi mereka memiliki spiritualitas yang tinggi. Untuk komunitas masyarakat macam Tengger, Baduy, Bisu, dan Samin adalah contoh konkrit yang memancarkan spiritualitas itu. Prinsip perikehidupan Samin (sebenarnya mereka menamakan dirinya Sedulur Sikep) tentang kebaikan, misalnya, mereka memformulasikan secara sederhana: kesamaan antara rembug karo kasunyatan.

Dalam konteks penguatan spiritualitas profetik ini, maka sungguh menarik mendiskusikan sastra profetik itu dalam banyak ragam. Yang pertama-tama, jika kita ingin menulis jenis karya yang profetik maka, penting untuk belajar pada sastrawan macam Danarto, Abdul Hadi WM, Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Kuntowijoyo, dan sebagainya di ruang-ruang kelas. Paling tidak, sastrawan ini, dinilai kuat dan kental nilai sufistiknya dalam kecenderungan karyanya.

Jika kita menjatuhkan pilihan pada pengucapan lirik bertema profetik maka hal berikut menarik untuk dipikirkan: (a) perlunya kita memiliki penguasaan atas simbol bahasa, (b) penguasaan simbol budaya, dan (c) penguasaan simbol estetika sastra. Masalahnya, bahasa, budaya, dan estetika yang bagaimana? Yang bersifat profetik. Artinya, filosofi dan gerak sifat kenabian yang alir di dalamnya.

Secara sosial, Abdul Hadi, sejak kecil memang sudah bergulat dengan teks-teks bersifat sufisme. Abdul Hadi sejak muda sudah bergulat dengan puisi. Subijantoro Atmosuwito, menuliskan Abdul Hadi sebagai born as a poet. Sejak kecil ia sudah bergulat dengan puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan penyair lainnya. Dia juga banyak bergulat dengan pemikiran dan karya sastra sufi Timur Tengah dan Melayu menjadikan Abdul Hadi pelopor di garis sastra profetik ini. Dalam bahasa Subijantoro, Abdul Hadi adalah penyair yang sangat prolifik, menjurus pada penemuan pribadi, dan mungkin calon tokoh terkuat dalam sejarah sastra mendatang (ingat, ini dituliskan Subijantoro sekitar 1989).

Tidak heran, jika kemudian kepenulisan Abdul Hadi dipandang memiliki posisi penting. Paling tidak hal itu disebabkan oleh: (a) sebagai salah satu penyair putera Madura yang representatif, (b) dia dipandang mampu mempertahankan perpuisian liris di jejak pendahulunya macam Amir Hamzah, Chairil, dan Sitor Situmorang, dan (c) ada eksperimentasi yang dilakukannya untuk mengrinstalisasi pengertian falsafi (profetik atau sufistik, penulis). Dengan begitu, maka penelusuran falsafi dalam konteks sastra profetik menarik untuk mengaitkannya dalam lingkup religiustias latar dan pergulatannya.

Larik-larik puisi berikut menggambarkan bagaimana pembacaan nilai-nilai kesufian menjadi bingkai kepenyairannya.

Ruh meratap dan bersedih, sayang
menggetar dalam permainan api
maha dahsyat ini
Ruh tiada tidur, mengembara dengan sayapnya
kudus dan putih

Hutan-hutan hangus terbakar
Ruh terbang dan minum arak
Dikoyak-koyak keinginan
Ruh meratap dan bersedih, sayang
Dari puisi Ruh.

Dalam pengakuannya kompleksitas hidup di dunia ini tidak bisa dipisah-pisahkan. Sehingga, fenomena hidup hakikatnya merupakan kaitan yang bersifat makro dan saling terkait. Dan, pucak penggeraknya adalah ruh profetik itu. Dalam memberikan pengantar terjemahan Matsnawi, Abdul Hadi mengungkapkan bahwa para sufi (termasuk penyair profetik), lebih dan sering tergerak oleh apa yang disebut mahabbah dan ‘isyq (cinta yang berlipat ganda sehingga menimbulkan energi kreatif untuk menjelmakan sesuatu sebagai bukti cinta yang mendalam).

Seorang penyair sufistik, dengan demikian, berkarya merupakan perwujudan dari ‘isyq itu sendiri. Tidak heran, ruh ‘isyq ini alir dalam segala wajah, bentuk, dan wujud. Meminjam pemahaman ini, maka menafsirkan larik-larik: /Ruh meratap dan bersedih, sayang/ menggetar dalam permainan api/ maha dahsyat ini/ Ruh tiada tidur, mengembara dengan sayapnya/ kudus dan putih// Hutan-hutan hangus terbakar/ Ruh terbang dan minum arak/ Dikoyak-koyak keinginan/ Ruh meratap dan bersedih, sayang//

Ruh dalam konteks bait-bait itu, tentunya mengingatkan akan apa yang diungkapkan Abdul Hadi bahwa penyair –karena cintanya pada Tuhan-- (karena Alam misalnya juga ayat dan perwujudan Tuhan itu sendiri) sebagai representasi ruh (idealisme kesucian hati) yang pasti tergerak oleh kepincangan realitas. Frase “permainan api”, “maha dahsyat” dan larik “Hutan-hutan hangus terbakar” dan “Dikoyak-koyak keinginan” menggambarkan keserakahan manusia ketika tidak bersahabat dengan hutan. Frase permainan api tentu misalnya, mengingatkan tentang beragam kemungkinan: (a) hutan yang sengaja dibakar untuk kepentingan perusahaan tertentu, dan (b) kelalaian manusia dalam mengelola hutan karena kemarau sehingga terbakar.

Kesadaran kudus (ruh), kesadaran untuk menahan diri, misalnya, dalam larik-larik itu direpresentasikan dengan diksi “ruh” secara berulang. Beragam makna tentang ruh, tentu, menjadi estetika tersendiri dalam pemahaman atas sebuah puisi. Yang terpenting, misalnya, bagi seorang guru bagaimana menyampaikan pesan religius akan penting perwujudan cinta terhadap alam.

Sebagai perbandingan, Hamid Jabbar yang juga mengalami pergulatan sosiologis Islami tampak demikian menonjol pula nuansa sufisme di dalam karya-karyanya. Secara sosiologis dia diasuh oleh iklim sosial yang kental dengan aroma kultural, kaya dengan khazanah budaya, seni tradisi, dan lingkungan yang relijius. Puisi-puisi Hamid Jabbar dengan sendirinya merupakan refleksi dari kehidupan yang dialaminya. “…Lalu kenangan saya di surau,” begitu ungkap Hamid Jabbar, “di pengajian yang disampaikan ayah saya, mengingatkan kepada kisah Nabi Ibrahim, yaitu ke sesaat sebelum dilemparkannya Nabi Ibrahim ke dalam api unggun.... Ketika itu, saya ingat pula bahwa ada perintah Allah dalam Al-Qur’an, secara tersurat mengingatkan bahwa apa pun yang engkau perlukan, mintalah selalu kepada Allah.”

Dalam pandangan Horace, dulce (indah) dan utile (bermanfaat) , maka puisi-puisi Abdul Hadi, tidak saja sebuah keindahan puisi tetapi juga menawarkan manfaat relijius. Sebab, ragam tema puisi Hamid Jabbar mengimajikan dunia yang oleh Heidegger disebutnya dengan Yang Empat-Lipat (Geviert), yang satu diantaranya adalah “tuhan-tuhan”. Tuhan-tuhan ini hanya dimungkinkan muncul di dalam dimensi (hadirat) ketuhanan, dan hadirat ketuhanan dimungkinkan hanya di dalam dimensi yang Suci (the Holy), dan hanya dari kebenaran Ada-lah esensi dari yang-Suci dapat dipikirkan. Barangkali, sufistikisasi puisi Hamid Jabbar tak kalah dengan sastrawan macam Fariduddin Attar, Mohammad Iqbal, Jalaluddin Rummi, Rabiah Al-Adawiyah yang oleh Maman S. Mahayana dinilai berhasil mengemas pesan agama (relijius) ini ke dalam estetika sastra.
***

Dalam menulis sastra profetik, karena itu, barangkali penting dipahami penyairnya sendiri mengasah pengalaman profetiknya. Abdul Hadi dalam banyak karyanya, tampaklah bagaimana relijiusitas (sence of religi), dalam wujudnya, mencakup pengakuan kebesaran Tuhan (God’s glory), perasaan dosa (guilt feeling), dan perasaan takut kepada-Nya (fear to God). Rasa takut, pengakuan atas kebesaran Tuhan, dan rasa berdosa demikian, misalnya, dapat dijadikan pintu kepenulisan. Bagaimana dengan Anda? Jangan alergi, sebab religius itu sesungguhnya bukanlah label-label keislaman tetapi lebih dari itu hakikatnya sesuatu yang merupakan entitas dari ruh kesejatian hidup yang tunggal.

Dua puisi Abdul Hadi WM berikut, dapat dijadikan cermin bagaimana inspirasi pengalaman pribadi dan pergulatan atas kemakrifatan hidup menjadi pilar kepenulisannya. Puisi pertama, jelas-jelas terinspirasi oleh kalam Tuhan dalam surah Qaf:6 yang berbunyi: “Tuhan lebih dekat (pada manusia) dibanding urat lehermu sendiri”. Juga pada Al-Baqarah:115: “Ke mana pun kau memandang akan tampak wajah Tuhan.” Dalam berbagai tema dan setting sastra, dua ayat ini tentunya mengingatkan bahwa tangan-tangan dan mata Tuhan demikian memenuhi. Sebuah ruh gerak religi agar senantiasa ingat, waspada, dan “menyatu” dalam kerlingnya. Puncak dari puisi pertama misalnya, dalam gelap Tuhan sekalipun, nyala (metaforik: makna, petunjuk, hikmah) dapat dipetik. Frase “lampu padammu” barangkali metafora dari hukuman, kebuntuan hidup, kesusahan, dan lain sebagainya.

Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu

1976
(dalam Rachmad Djoko Pradopo, 1991:27)

Pengalaman multikultural Abdul Hadi memang menggerakkan dalam kepenyairannya. Hal itu, pernah dibincangkan bersama penulis pada sebuah kala di Universitas Paramadina. Baginya, pengalaman kultural adalah sebuah kekayaan yang luar biasa. Dan puisi Meditasi III sesungguhnya merupakan endapan atas pengalaman sosialnya ketika menemukan realita sosial keagamaan yang penuh klaim akan keabsahan Tuhan masing-masing. Hal ini tampak secara filosofis dalam puisi itu. Puncaknya, bahkan Abdul Hadi menyentil di dalam tubuh manusia (sebagai pengalaman sufistik) merupakan rumah semayam Tuhan.

Meditasi III

Akupun sudah letih naik turun candi, keluar masuk gereja
dan mesjid. Tuhan makin sempit rasa kebangsaannya.
“Musa, Musa!” akulah Tuhan orang Israel!” teriaknya.
Di mesjid, di rumah sucinya yang lain ia berkata pula:
“Akulah hadiah seluruh dunia, tapi sinarku memancar di Arab.”
Aku termenung. Apa kekurangan orang Jawa?
Kunyanyikan Bach dalam tembang kinanti dan kupulas Budha
jadi seorang dukun Madura.
Aku menemu sinar di mata kakekku yang sudah mati.
Bila hari menahun dan kota jadi benua, aku akan bikin negeri
di sebuah flat karena aku pun adalah rumah-Nya.
Dikutip dari Bani Sudardi, 2003:147.

Puncak puisi ini, sesungguhnya mengingatkan satu pertanyaan penting: “Mengapa umat sering memperebutkan Tuhan?” Sampai-sampai, suatu kali, penulis temukan semacam “protes kecil” penulis buku yang mengungkapkan oratoris begini: “Tuhan, sebenarnya agamamu apa?” Sebuah oase permenungan, ketika dalam puisi itu, Tuhan seakan diperebutkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara, di ujung puisi itu, penyair mengingatkan “setiap tempat” adalah rumah-Nya. Sebuah puncak kesadaran trasenden yang menarik untuk ditanamkan, terutama di dalam konteks berbangsa yang multikulturalisme.

Dalam kasus puisi-puisi pengalaman sufistik lainnya macam Hamid Jabbar, misalnya, (yang terkumpul dalam Indonesiaku), beberapa puisi profetik tampak pada: Hidup dalam Maut (hal. 218), Pergi ke Hilang Waktu (hal. 219), Sehilang-hilangnya (hal. 220), Berkubur dalam Dengkur? (hal. 221), Ke Puncak Diam (hal. 226), 1 Jam Menjelang Kau Pulang (hal. 227), Mata, Mata Tunggal yang Selalu Memandang (hal. 227), Suluh Padam (hal. 227), Terbiar Belajar Mati (hal. 228), Kakiku Rumah Berjalan (hal. 228), Sampit (hal. 229), Kemerdekaan (hal. 229), Kota & Kampung Hidup-Matimu (hal. 230-231), dan Reguk Hampa Muntahkan Luka (hal. 232).

Puisi-puisi itu ditulisnya dalam keadaan belum usai, karena ditemukan di HP-nya pada saat dia mencapai “puncak profetiknya”. Ia menyatu dengan Tuhannya dalam tamasya baca-batinnya di Dies Natalis Universitas Islam Negeri, 29 Mei 2004 (empat tahun lalu). Diam (suwung), meminjam tradisi Hindu adalah saat relijius yang disebut dalam bahasa Sansekerta-nya sebagai sunyata, yang berarti “kekosongan” –yang dalam pemaknaan Goenawan Mohammad— ia sinonim dengan pengertian ”realitas yang lebih mulia”. Kondisi ini terpancarkan dalam puisinya berjudul Ke Puncak Diam berikut.

Ke Puncak Diam

setiap langkah adalah darah
derap gairah merambah punah

nadi-nadi di bumi tubuh ruh ini
jalan pendakian sunyi tak henti

nuju puncak segala mungkin
yang entahlah tetap mungkin


melagukan segala nyanyi
lagu rindu peneruka abadi

yang bersipongang ngngngngggg
dari lengang ke lengang ngngg

biar muaranya tetaplah punah
tapi alangkah indah alangkah

setiap langkah adalah darah
mengucap kejadian pasrah

yang bersipongang ngngngngggg
dari lengang ke lengang ngngg

ke dalam jeram hati terdalam
alirkan salam ke puncak diam

Bantimurung, 30 Agustus 2003

Sebagai bahan permenungan kita, dapat diilustrasikan sebagai berikut. “Bunda Teresa bersahabat dengan diam”, begitulah tulis Goenawan Mohammad. “Hening” (diam, penulis) memang sebuah pengakuan tentang Tuhan sebagai yang tak terungkapkan dalam bahasa –sebab Ia senantiasa misteri yang kekal--. Secara metaforik, karena itu, judul “Ke Puncak Diam” adalah kematian. Ini sekaligus mengimajikan perjalanan penyair ke puncak kepenyairannya. Larik-larik /setiap langkah adalah darah/ derap gairah merambah punah//. Diksi darah bisa bermakna hidup tetapi dalam konteks itu berarti kematian karena diikuti dengan ungkapan “merambah punah”. Apalagi, bait ke-2, diimajikan penyair dengan gambaran umum kodrat perjalanan hidup manusia sebagai “jalan pendakian sunyi tak henti”. Hidup hanyalah perjalanan menuju mati. Hal itu, semakin magis karena aliterasi /h/ dalam larik itu –secara teoritik—mengimajikan kepedihan dan kedukaan.

Bait ke-3, diimajikan sebagai perjalanan menuju puncak dalam setting waktu berkemungkinan. Bukankah kedatangan (ketibaan) di puncak diam rahasia Tuhan?: /nuju puncak segala mungkin/ yang entahlah tetap mungkin//. Ini dipertegas dengan bait ke-4: /melagukan segala nyanyi/ lagu rindu peneruka abadi//. Idiom “segala sunyi” dan lagu rindu peneruka abadi mengimajikan kematian yang baik adalah kerinduan setiap makhluk. Sedangkan, “segala sunyi” sendiri menyaran pada hakikat segala realita hidup yang tidakberarti. Sebuah kesadaran –yang tidak saja “kesunyian ontologis”, tetapi juga “kesunyian antropologis”-- pinjam istilah Arif B. Prasetyo.

Bait ke-5 menggambarkan kelengangan yang secara semantik sebangun dengan kecenderungan kata yang sering dipakai Hamid Jabbar, semisal sunyi, sepi, pasrah, diam, tidur, dan pergi. Lengang, karena itu, secara metaforis adalah sebuah jalan hening menuju kepasrahan. Tampak bagaimana intensifnya penyair menggambarkan asal kematian (diksi muara) tetap tidak berarti (diksi punah) yang diikuti dengan diksi “alangkah” dua kali, menggambarkan begitu indah langkah “menuju pasrah”. Kutipan bait ke-7 berikut menggambarkannya: /setiap langkah adalah darah/ mengucap kejadian pasrah// yang diikuti penggambaran setting suasana lengang pada bait ke-8. Puncak perjalanan kematian itu seperti tergambar dalam bait terakhir:

ke dalam jeram hati terdalam
alirkan salam ke puncak diam

Ungkapan “jeram hati” menggambarkan telah terjadi personifikasi yang intensif, bahwa hati bergerak deras menuju kedalaman batin yang mengantarkan keselamatan (salam) ke puncak diam (kematian). Sebab, jeram secara leksikal bermakna aliran air yang deras dan menurun. Hati diasosiasikan bak aliran deras menuju kedalaman sebelum merangkak kembali ke puncak diam. Idiomatik “puncak diam”, hakikatnya, metaforis dari segala perjalanan hidup manusia. Demikianlah, memang, dalam perjalanan thariqah, hening (dzikir) dengan diam merupakan puncak menyatunya hamba dengan sang Khaliq.

Begitulah, kepenulisan Abdul Hadi tergerakkan oleh kekuatan Makrokosmos yang subtil. Pergulatannya dalam merengkuh ide saat membaca al-Qur’an begitu tampak. Pergumulannya dengan realitas sosial menuntunnya pada bilik refleksi yang profetik. Pengucapan liris-profetik adalah cermin konsistennya kekaryaannya sepanjang sejarah. Dalam banyak kasus puisinya, corak multikulturalisme tampak sebagai ladang kreatif yang membingkai. Puncaknya, kepenulisannya dalam bingkai profetik telah mengembalikan makna berkarya sebagai gerakan kembali ke sumber. Sebuah pengalaman kesufian yang tampaknya memengaruhinya dalam gerak dan pandangan estetiknya.
***

Walhasil, apa yang dapat dipelajari dari kepenyairan Abdul Hadi WM bagi kepenulisan Anda? Pertama, bahwa berkarya hakikatnya adalah belajar membaca totalitas kehidupan yang estetik. Menulis, karena itu, ekspresi totalitas itu sehingga keutuhan diri menjadi mimpi. Hidup bukanlah potongan atau pisahan atas komponen struktur hidup tetapi gelayut kelindan dalam suprastruktur yang tersruktur. Pandangan makrokosmos dalam hukum keterkaitan begitu menggerakkannya dalam karya-karyanya. Kemanunggalan dengan alam misalnya, adalah realitas total yang tidak terpisahkan dari eksistensi manusia itu sendiri. Di sinilah maka substansi mahabah atau ‘isyq yang diistilahkan Abdul Hadi. Sebuah gelora cinta yang meluap hingga rambah dalam gerak dan karya.

Kedua, pergulatan sufisme kepenulisannya alir dari pengalaman hidup dan penyatuan diri dalam bingkai multikulturaisme. Kesejatian sufisme dalam berkarya bukanlah label dan simbol agama tertentu. Tetapi, alir ke ruh puncak yang bersifat transendental tetapi berwujud dalam beraragam realita yang mengemuka. Kepenulisan Abdul Hadi adalah potret wihdatul wujud dalam segala rupa. Kemanunggalan sifat yang menyaran pada hakikat kejadian adalah kodrat tuhan. Dalam bahasa Abu Bakar, dia pernah berpesan bahwa tak pernah Abu Bakar dalam melihat realita kecuali Tuhan ada di sana. Dalam karya penulisan yang kita ciptakan, karena itu, menarik menghadirkan ruh sufisme ini sebagai bentuk penghambaan abadi. Menghati.

Pengalaman kepenulisan Abdul Hadi ini tampaknya berkaitan erat dengan hal pertama. Ajaran kebaikan universal alir dalam segala sisi dan segi kebudayaan. Semacam postmodernisme barangkali. Riak Tuhani mau tidak mau menjadi gerak karya-karya Abdul Hadi. Pada dimensi ini, maka hal terpenting tentunya mengingatkan kita pada penyadaran Hyang Tunggal dalam segala realita. Puisi Meditasi merupakan contoh terpenting di samping Tuhan, Kita Begitu Dekat. Dalam ajaran sufisme dikenal bahwa Tuhan alir dalam urat nadi manusia. Di sisi lain Tuhan juga dimetaforikkan berada pikiran manusia itu sendiri.

Ketiga, estetika karya kepenulisan hakikatnya adalah kesadaran filosofis sebagai fundasinya. Dengan demikian apa pun karya kita akan menajamkan tentang jargon sastra untuk masyarakat, sastra dalam kepentingan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan secara makro. Bukan ajaran klaim-klaim tertutup atas kebenaran estetis tetapi inklusivisme teks yang memberikan ruang kemungkinan dan mengail makna secara tersembunyi.

Keempat, pemahaman atas sumber ilmu, Qur’an dan Hadis, merupakan kemutlakan dalam alur penciptakan teks sufistik-profetik. Bagaimana mungkin alirkan sufisme yang profetik tanpa memahami sumbernya? Sebuah oratoris komunikasi yang menyadarkan kita bahwa kekekalan makna adalah otoritas Hyang Maha Tunggal. Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi hening, suwung, sepi, yang bersifat transendental-dialogis.

Kebiasaan membaca Qur’an, karena itu, banyak menginspirasi berbagai karyanya. Bagi Abdul Hadi, Qur’an merupakan sumber segala keilmuan, termasuk karya sastra. Di sinilah, maka menarik menjadikannya bilik renung dalam berkarya. Sebuah sumber yang tentunya tak kan pernah kering. Dalam konteks ini, Abdul Hadi pernah mengungkapkan pentingnya kembali ke akar dan kembali pula pada sumber. Bukankah Qur’an dan Hadis adalah sumber segala sumber? Akar segala akar kehidupan?

Kelima, dalam berkarya Abdul Hadi ternyata banyak diilhami pula dalam perjalanannya. Perjalanannya ke berbagai negara dan pergulatannya dengan berbagai lapisan senantiasa memantikkan inspirasi religius dalam berkarya. Sebuah tamasya kepenulisan yang bersifat ruhani. Sebuah alir perjalanan yang menarik ditiru dan pada titik penting menggerakkan untuk mengabadikannya. Ujungnya, di satu sisi senantiasa akan menjadi cermin merenungkan eksistensi kemanusiaan dan pada sisi lain akan memancarkan cahaya terang bagi penulis muda.

Bagaimana dengan Anda? Menepis sangka atas ketidak membuminya puisi-puisi Abdul Hadi sebagaimana kritik Sukron Kamil adalah kecerobohan pandangan karena tidak mengaitkan filosofi transendental dalam kemajemukan kultur yang ada.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
------------------------------------------------
Tulisan ini diolah dari makalah presentasi penulis dalam acara diksusi Tapak Budaya Paramadina Pengukuhan Guru Besar Abdul Hadi WM di Universitas Paramadina, Jakarta tanggal 9 Juni 2008.
Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esay-Esay Sastra dan Budaya, Jakarta: Freedom Institute dan Grafiti (2004), hal. 9
Ibid.
Lihat, Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik, Jakarta: Pustaka Firdaus (1999), hal. 4
Subijantoro Atmosuwito, Perihal Sastra dan Religiusitas Sastra, Bandung: Sinar Baru (1989), hal. 42.
Ibid.
Ibid. hal. 42-43.
Abdul Hadi WM , “Pesan Profetik Matsnawi Karya Agung Jalaluddin Rummi” pengantar buku Matsnawi, Yogjakarta: Bentang (2006). Hal. vi.
Taufik Ismail, “Jalan Berliku-liku Tanah Airku, Penuh Rambu-rambu Indonesiaku” sebagai “Kata Pengantar” dalam Indonesiaku. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Menengah Depdiknas (2005), hal. x
Hamid Jabbar, “Proses Kreatif Saya” dalam Horison edisi Maret, XXXVIII/3/2004, Kakilangit, hal. 13.
Budi Darma, “Esai adalah Sebuah Jendela Terbuka” dalam Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional-Rosda (2005), hal.xi
Haidar Bagir, “Sekumpulan Tulisan dengan Banyak Sekali ‘Barangkali’”, pengantar dalam Catatan Pinggir 6, Jakarta: Pusat Data dan Analisa TEMPO (2006), hal.xxi (bagian catatan kaki).
Ibid.
Maman S. Mahayana, “Dakwah Agama dalam Sastra” dalam 9 Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Oreantasi Kritik Jakarta: Bening Publising, (2005), hal. 170
Y.B.Mangunwijaya, Sastra dan Religiositas, Yogjakarta: Kanisius (1988). hal. 11
Lihat Goenawan Mohammad, “Diam” dalam Catatan Pinggir 5, Jakarta: Grafiti (2002), hal. 405
Goenawan Mohammad, Ibid.
Arief B. Prasetyo, “Semalam di Malaya: Tentang Anatomi Sunyi dalam Simfoni Perjalanan Suhaimi Haji Muhammad” dalam Dendy Sugono dan Budi Darma (Ed), Jendela Terbuka: Antologi Esri Mastera, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional dan Rosdakarya Bandung (2005). Hal. 32. Esay ini memperbincangkan fenomena “sunyi” yang demikian dominan dipergunakan penyair Malasyia. Semacam “alam sunyi” yang menyaran pada kesenantiasaan hidup yang terbelah dalam konflik antara apa yang wujud di luar batin dan yang mewujud di dalam batin.

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar