suarakarya-online.com
Cacing Tanah
– Ria Rossiana
bukan karena kau sampah
maka aku mencintaimu yang menghumus tanah dengan rindu-rindu
tumbuh dengan jantung terbelah
menengadah untuk sesuatu yang serba biru
yang kupungut kemudian kau usut
yang kutabur kemudian kau gembur
lalu aku menyusu dari rahimmu
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Agustus 2021
Minggu, 25 Juli 2021
Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS
suarakarya-online.com
Kau Tahu
di peluk kelamaku berdiang: hangat?
di peluk sunyiaku menepi: gelisah?
kau tahu pada malam malam aku bagaikan kembang
Kau Tahu
di peluk kelamaku berdiang: hangat?
di peluk sunyiaku menepi: gelisah?
kau tahu pada malam malam aku bagaikan kembang
Sabtu, 07 November 2020
Sajak-Sajak Amien Kamil
Republika, 10 Feb 2008
TENTANG WAKTU
Panorama senjakala begitu muram
angkasa tersaput awan kelabu
usia melaju dipagut waktu.
TENTANG WAKTU
Panorama senjakala begitu muram
angkasa tersaput awan kelabu
usia melaju dipagut waktu.
Senin, 19 Agustus 2019
Sajak-Sajak Taufiq Wr. Hidayat
Mata Kemiren
sepasang matamu adalah mata sepasang sapi,
angin meniup rambutmu menggerai wangi kopi
perjalanan setiap makan siang
menjelma sepasukan pecel pitik di mejamu
dan tentang jalan-jalan menurun
pada bahu kota di bawah alismu
sepasang matamu adalah mata sepasang sapi,
angin meniup rambutmu menggerai wangi kopi
perjalanan setiap makan siang
menjelma sepasukan pecel pitik di mejamu
dan tentang jalan-jalan menurun
pada bahu kota di bawah alismu
Jumat, 23 September 2011
Sajak-Sajak Tia Setiadi
http://www.lampungpost.com/
Ode untuk Daun-Daun
: Jingga Gemilang
/1/
daun-daun yang jatuh adalah surat-surat
yang mesti kau baca.
hijau atau jambon warnanya
adalah warna lembaran hatimu sendiri
yang terbaring
menunggu, menunggu
di luar kata-kata dan ranum kulitmu
daun-daun
daun-daun
daun-daun yang jatuh—
perlahan dan tabah—
seperti sehelai sapu tangan jingga yang jatuh
dari pohon awan
sesaat selepas kauseka
kesepianku.
/2/
daun-daun yang jatuh adalah kerinduan
yang mesti kau terjemahkan.
musim demi musim
dalam celupan cahaya dan air
daun-daun itu mematangkan diri
menunggu, menunggu
sentuhanmu.
bacalah gurat-gurat wajahnya
agar kau kenali gurat-gurat wajahmu sendiri
daun-daun
daun-daun
daun-daun yang jatuh adalah lidah-lidah malaikat
yang bernyanyi
dan lidah-lidah sungai
dan burung-burung pingai
yang bernyanyi
daun-daun
daun-daun
pungut dan himpun daun-daun yang jatuh itu
lalu kau hamburkan kembali
ke mangkuk bumiku yang subur rindu:
lembaran-lembaran musim—
bak riak-riak karpet parsi—
yang hijau pupus,
amin.
Bilqis dan Sulaiman
Duhai bumi, telanlah airmu. Dan duhai langit, berhentilah…
(QS Hud [11]: 44)
“Duhai bumi, telanlah airmu,” ujar Bilqis,
sembari berjinjit di lantai Istana Ursyalim.
Ia menyangka lantai itu terbikin dari air
maka ia tarik sedikit ujung gaunnya
dan tersingkaplah dua betis gadingnya
dengan helaian-helaian bulu lunak
yang meriap berkilauan kena sinar damar
Saat Sulaiman berucap bahwa lantai itu
tersusun dari kaca dan bukan dari air
Bilqis seketika terperanjat dan tersipu
hati dan pipinya berubah jadi lembayung
bak dicelup oleh Sang Pencelup Agung
sepasang matanya runduk dalam takjub
bagaikan dua butir embun di taman yang kuyup
“Kedua mataku ternyata menipu, duhai Sulaiman,
kukira bentangan air padahal cermin yang licin,
maka kini biarlah aku buta di hadapanmu,
dan biarlah biru langit berakhir bagiku”
Kemudian Sulaiman mengecup mata Bilqis.
“Wahai Bilqis, bukan hanya engkau yang buta,
kini aku pun buta, karna meski aku mengerti
bahasa berbagai binatang dan makhluk-makhluk gaib
namun ternyata aku tak mampu memahami
huruf-huruf rahasia yang tersembunyi
di helaian-helaian halus bulu betismu,”
Dan Bilqis pun mengecup mata Sulaiman.
“Bila demikian, biarkan matamu jadi mataku,
dan mataku jadi matamu, Junjunanku,
hanya dengan begitu kebesaranmu akan tersingkap
bagiku, dan rahasiaku akan tersingkap bagimu”
Malam kian dalam, damar pun berpadaman
sebab kini minyak dan sumbunya telah bersatu
Tetapi kedua sejoli itu masih saja terjaga
di tempatnya semula, seperti dua air terjun
yang mematung, saling mengurai rahasia
dan meneroka lanskap diri masing-masing
keduanya jadi guru dan murid satu sama lain
Cinta Bilqis dan Sulaiman semakin membesar
dan sengit setiap detiknya, sementara bumi
kian menyempit, dan kemudian menjelma
jadi sehampar kolam kecil yang menyucikan
dan menyatukan guguran gairah keduanya
dengan luruhan cahaya purnama dari angkasa
yang semakin anggun dan keramat setiap detiknya.
Wijayakusuma
tanpa tahu saat ia lewat
tilasnya masih terambung—
di banjir wangi wijayakusuma.
__________________
Tia Setiadi, menulis esai dan sajak pada pelbagai media. Pernah bekerja sebagai redaktur budaya pada majalah Gong (2008). Kini bekerja sebagai chief editor penerbit Interlude dan peneliti ahli pada Parikesit Institute. Sedang menyiapkan antologi puisi tunggal: Husrev dan Shirin.
Sumber: http://www.lampungpost.com/sastra/7843-sajak-sajak-tia-setiadi.html
Ode untuk Daun-Daun
: Jingga Gemilang
/1/
daun-daun yang jatuh adalah surat-surat
yang mesti kau baca.
hijau atau jambon warnanya
adalah warna lembaran hatimu sendiri
yang terbaring
menunggu, menunggu
di luar kata-kata dan ranum kulitmu
daun-daun
daun-daun
daun-daun yang jatuh—
perlahan dan tabah—
seperti sehelai sapu tangan jingga yang jatuh
dari pohon awan
sesaat selepas kauseka
kesepianku.
/2/
daun-daun yang jatuh adalah kerinduan
yang mesti kau terjemahkan.
musim demi musim
dalam celupan cahaya dan air
daun-daun itu mematangkan diri
menunggu, menunggu
sentuhanmu.
bacalah gurat-gurat wajahnya
agar kau kenali gurat-gurat wajahmu sendiri
daun-daun
daun-daun
daun-daun yang jatuh adalah lidah-lidah malaikat
yang bernyanyi
dan lidah-lidah sungai
dan burung-burung pingai
yang bernyanyi
daun-daun
daun-daun
pungut dan himpun daun-daun yang jatuh itu
lalu kau hamburkan kembali
ke mangkuk bumiku yang subur rindu:
lembaran-lembaran musim—
bak riak-riak karpet parsi—
yang hijau pupus,
amin.
Bilqis dan Sulaiman
Duhai bumi, telanlah airmu. Dan duhai langit, berhentilah…
(QS Hud [11]: 44)
“Duhai bumi, telanlah airmu,” ujar Bilqis,
sembari berjinjit di lantai Istana Ursyalim.
Ia menyangka lantai itu terbikin dari air
maka ia tarik sedikit ujung gaunnya
dan tersingkaplah dua betis gadingnya
dengan helaian-helaian bulu lunak
yang meriap berkilauan kena sinar damar
Saat Sulaiman berucap bahwa lantai itu
tersusun dari kaca dan bukan dari air
Bilqis seketika terperanjat dan tersipu
hati dan pipinya berubah jadi lembayung
bak dicelup oleh Sang Pencelup Agung
sepasang matanya runduk dalam takjub
bagaikan dua butir embun di taman yang kuyup
“Kedua mataku ternyata menipu, duhai Sulaiman,
kukira bentangan air padahal cermin yang licin,
maka kini biarlah aku buta di hadapanmu,
dan biarlah biru langit berakhir bagiku”
Kemudian Sulaiman mengecup mata Bilqis.
“Wahai Bilqis, bukan hanya engkau yang buta,
kini aku pun buta, karna meski aku mengerti
bahasa berbagai binatang dan makhluk-makhluk gaib
namun ternyata aku tak mampu memahami
huruf-huruf rahasia yang tersembunyi
di helaian-helaian halus bulu betismu,”
Dan Bilqis pun mengecup mata Sulaiman.
“Bila demikian, biarkan matamu jadi mataku,
dan mataku jadi matamu, Junjunanku,
hanya dengan begitu kebesaranmu akan tersingkap
bagiku, dan rahasiaku akan tersingkap bagimu”
Malam kian dalam, damar pun berpadaman
sebab kini minyak dan sumbunya telah bersatu
Tetapi kedua sejoli itu masih saja terjaga
di tempatnya semula, seperti dua air terjun
yang mematung, saling mengurai rahasia
dan meneroka lanskap diri masing-masing
keduanya jadi guru dan murid satu sama lain
Cinta Bilqis dan Sulaiman semakin membesar
dan sengit setiap detiknya, sementara bumi
kian menyempit, dan kemudian menjelma
jadi sehampar kolam kecil yang menyucikan
dan menyatukan guguran gairah keduanya
dengan luruhan cahaya purnama dari angkasa
yang semakin anggun dan keramat setiap detiknya.
Wijayakusuma
tanpa tahu saat ia lewat
tilasnya masih terambung—
di banjir wangi wijayakusuma.
__________________
Tia Setiadi, menulis esai dan sajak pada pelbagai media. Pernah bekerja sebagai redaktur budaya pada majalah Gong (2008). Kini bekerja sebagai chief editor penerbit Interlude dan peneliti ahli pada Parikesit Institute. Sedang menyiapkan antologi puisi tunggal: Husrev dan Shirin.
Sumber: http://www.lampungpost.com/sastra/7843-sajak-sajak-tia-setiadi.html
Serenada Malam Kunangkunang
Shourisha Arashi
http://sastra-indonesia.com/
Kutenggelamkan diri dalam kubangan yang pekatnya adalah malam. Sedangkan dingin ini tak lagi dapat bekukan apapun karena segalanya telah hilang. Hanya jejak samar yang nyata mengarah ke entah. Dan kita takkan pernah tahu hingga saatnya tiba.
Langitku hitam. Sedang bintang yang nampak ternyata kunangkunang yang linglung mencari tempat berlindung. Kulihat telaga perak rembulan dan sekejap yang nampak adalah aku yang bersayap koyak. Terbang rendah dari dahan ke dedaunan lalu hinggap di rerumputan liar.
O, betapa sendu serenada malam kunangkunang. Dengan bisik lirih dan getar sayap yang mulai lelah. Dengan terang temaram tanpa pernah mendamba kerlapkerlip seterang bintang-gemintang. Karena gelap selalu menghargai seredup apapun nyala cahaya.
Lalu mendung pun hanya akan menjadi segumpal awan kelabu yang berlalu. Bersama angin yang mengabarkan bahwa hujan kan segera datang. Bukan janji. Hanya kabar. Maka kudengarkan dan kupahami dengan harap tak terlalu besar. Kurasa dan semoga kita masih bisa bersabar.
23 September 2011
http://sastra-indonesia.com/
Kutenggelamkan diri dalam kubangan yang pekatnya adalah malam. Sedangkan dingin ini tak lagi dapat bekukan apapun karena segalanya telah hilang. Hanya jejak samar yang nyata mengarah ke entah. Dan kita takkan pernah tahu hingga saatnya tiba.
Langitku hitam. Sedang bintang yang nampak ternyata kunangkunang yang linglung mencari tempat berlindung. Kulihat telaga perak rembulan dan sekejap yang nampak adalah aku yang bersayap koyak. Terbang rendah dari dahan ke dedaunan lalu hinggap di rerumputan liar.
O, betapa sendu serenada malam kunangkunang. Dengan bisik lirih dan getar sayap yang mulai lelah. Dengan terang temaram tanpa pernah mendamba kerlapkerlip seterang bintang-gemintang. Karena gelap selalu menghargai seredup apapun nyala cahaya.
Lalu mendung pun hanya akan menjadi segumpal awan kelabu yang berlalu. Bersama angin yang mengabarkan bahwa hujan kan segera datang. Bukan janji. Hanya kabar. Maka kudengarkan dan kupahami dengan harap tak terlalu besar. Kurasa dan semoga kita masih bisa bersabar.
23 September 2011
Senin, 18 Juli 2011
Sajak-Sajak Tosa Poetra
http://sastra-indonesia.com/
Tanggal
Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ? Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
16 Februari 2011
Bara Hati
Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu
butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu
24 Februari 2011
?
Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati berteduh di dahan jati,berdiskusi tentang bulunya yang tak juga kering
nampak mulai bosan berdebat dengan kenyataan
; Entah kapan dapat kembali terbang
Mungkin nanti jika rintik hujan telah menjadi puisi dan alam menepati janji
Namun hujan akan cuma jadi sebaris puisi tak jadi dan janji alam tak selalu pasti
kadang hujan,kadang terang (tanpa dapat terprediksi)
Sementara jarum jam terus berotasi
(semua masih dalam sebuah tanda tanya)
08 Maret 2011
Tentang Luka (catatan sederhana negeri Sakura)
Mengalun lembut sebaris lagu oh Sakura berirama lara tak lagi berirama disco maupun salsa yang kemaren gempita membahana pada segenap ruas kota
; gejolak alam adalah bait puisi maha karya penyair kita
adakah dia yang jadikan rima tengah tampakkan kuasa
adakah dia yang lahirkan diksi tak terima atas anarki
adalah dia . . .
Oh yang Esa
yang ada pada hati insan tanpa berjeda
yang telah jadi irama hidup dan diksi
; adakah terasa luka pada celah mimpi
( di balik tirai Sakura )
16 Maret 2011
Senandung Mekanik
(catatan harian pekerja bengkel)
:kepada Goes Shoe
Menulis puisi adalah membunuh sepi
pada desir angin yang bercakap
pada malam yang perlahan membungkus hati dalam lipatan mimpi.
teringat di bawah matahari
berjemur dan mandi pada telaga oli
bersetubuh dengan besi
berhari-hari
meski tak pernah ejakulasi
Mur dan baut adalah pasangan serasi
meski tak dapat bersatu bila tak padu
namun mur,baut,besi dan oli adalah kawan sejati
yang setia mengantar bersekulah
memberi berpiring nasi
baju buat anak istri
menulis puisi dan mengantar kemana pergi.
Pada celah oli yang menembus metal dan pori besi
terselip cita dan mimpi
(membina peradaban negri ).
16 Maret 2011
Lomba puisi (sayembara Tuhan)
Tahun lalu saya bikin puisi, mau saya kirim pada Tuhan
Katanya Tuhan adakan sayembara
jika ada yang dapat bikin puisi melehihi Qur’an, Dia akan pensiun jadi Tuhan.
Saya batalkan kirim puisi, sebab saya takut melebihi Qur’an.
Jika Tuhan pensiun, siapa yang gantikan?
Kamu?
Aku?
Saya tak mau jadi Tuhan, kalau jadi Tuhan semenit saja pasti bosan, Mendengar rintih dan pintamu yang tak karuan
Melihat kau turuti ajakan setan.
Saya tak lagi membikin puisi
(saya tak mau jadi Tuhan)
3/21/2011
Tanggal
Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ? Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
16 Februari 2011
Bara Hati
Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu
butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu
24 Februari 2011
?
Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati berteduh di dahan jati,berdiskusi tentang bulunya yang tak juga kering
nampak mulai bosan berdebat dengan kenyataan
; Entah kapan dapat kembali terbang
Mungkin nanti jika rintik hujan telah menjadi puisi dan alam menepati janji
Namun hujan akan cuma jadi sebaris puisi tak jadi dan janji alam tak selalu pasti
kadang hujan,kadang terang (tanpa dapat terprediksi)
Sementara jarum jam terus berotasi
(semua masih dalam sebuah tanda tanya)
08 Maret 2011
Tentang Luka (catatan sederhana negeri Sakura)
Mengalun lembut sebaris lagu oh Sakura berirama lara tak lagi berirama disco maupun salsa yang kemaren gempita membahana pada segenap ruas kota
; gejolak alam adalah bait puisi maha karya penyair kita
adakah dia yang jadikan rima tengah tampakkan kuasa
adakah dia yang lahirkan diksi tak terima atas anarki
adalah dia . . .
Oh yang Esa
yang ada pada hati insan tanpa berjeda
yang telah jadi irama hidup dan diksi
; adakah terasa luka pada celah mimpi
( di balik tirai Sakura )
16 Maret 2011
Senandung Mekanik
(catatan harian pekerja bengkel)
:kepada Goes Shoe
Menulis puisi adalah membunuh sepi
pada desir angin yang bercakap
pada malam yang perlahan membungkus hati dalam lipatan mimpi.
teringat di bawah matahari
berjemur dan mandi pada telaga oli
bersetubuh dengan besi
berhari-hari
meski tak pernah ejakulasi
Mur dan baut adalah pasangan serasi
meski tak dapat bersatu bila tak padu
namun mur,baut,besi dan oli adalah kawan sejati
yang setia mengantar bersekulah
memberi berpiring nasi
baju buat anak istri
menulis puisi dan mengantar kemana pergi.
Pada celah oli yang menembus metal dan pori besi
terselip cita dan mimpi
(membina peradaban negri ).
16 Maret 2011
Lomba puisi (sayembara Tuhan)
Tahun lalu saya bikin puisi, mau saya kirim pada Tuhan
Katanya Tuhan adakan sayembara
jika ada yang dapat bikin puisi melehihi Qur’an, Dia akan pensiun jadi Tuhan.
Saya batalkan kirim puisi, sebab saya takut melebihi Qur’an.
Jika Tuhan pensiun, siapa yang gantikan?
Kamu?
Aku?
Saya tak mau jadi Tuhan, kalau jadi Tuhan semenit saja pasti bosan, Mendengar rintih dan pintamu yang tak karuan
Melihat kau turuti ajakan setan.
Saya tak lagi membikin puisi
(saya tak mau jadi Tuhan)
3/21/2011
Sajak-Sajak Fikri MS
http://sastra-indonesia.com/
Membakar Kemenyan
Aku bakar kemenyan dan ranting kenanga di pinggan tanah liat
Aku panjatkan mantra-mantra kepada leluhur
Aku bersila di atas tikar pandan menghadap matahari
Aku ratapi kemarau dan angin yang berdebu
Langit terbelah diarak angin
mukaku ditampar silau senja
lalu gerimis terperas dari awan yang memekat
menjadi murka
guntur saling membentur
menggelegar mencakar-cakar tanah yang tandus
mendengus beringas
senja berubah menjadi kilat
apakah ini laknat yang menimpa
atau mantra yang diterima?
Mantra-mantra yang berubah menjadi lembaran proposal
berubah menjadi angka-angka
Kemenyan berubah menjadi gubuk-gubuk yang terbakar
Ranting kenanga berubah menjadi tulang-tulang
dan pinggan berubah menjadi tas cover
Batang-batang kayu berubah menjadi batang-batang emas
berubah menjadi menara
Gunung-gunung berubah menjadi burung-burung kecil
berubah menjadi bulu yang terbang
melayang-layang di atas sawah, ladang dan kebun tebu
dan berubah menjadi gedung-gedung
menjulang menancapkan kakinya di perut petani
Dan bumi pun berubah
Aku pun berubah
menjadi liar
menjadi-jadi, menjadi-jadi
Menjadi sapu tangan berwarna kuning terkoyak
Branda Cafe, Bulan Maret 2011
Malam yang Membusuk
Malam yang membusuk pelan-pelan
Aku terdampar di kaki lima
Dimamah kepahitan yang terurai satu persatu menjadi mimpi,
Mimpi-mimpi yang saling menghujam
Menusuk-nusuk gendang pendengaranku, berbisik
Berisik sekali
Membanting tubuhku ke lantai debu
Aku tersedak dijejali beribu sesak
Keindahan yang terampas
Dihajar masa lalu yang hampir saja sempurna
Aku terbujur di lantai debu
Pucat ditampar bulan
Maret, 04 2011
Lenguh Nafas Tarianmu
Kutenangkan jiwa menghadirkan pancaran matamu yang
Teduh
Kembali
Aku tersenyum mengenang engkau tersenyum
Syair ini menguraikan tentang lenguh nafas yang terhembus
pelan
ke luar dari bibirmu
bersama lembut kata-kata yang menyimpan rahasia perempuan
yang kau sampaikan lewat tarian
Engkau telah mengajakku tanpa isyarat
Menggandeng lenganku tanpa rengkuhan
Tanpa kata atau bisikkan
Wangi yang tersibak dari tanganmu
Terbuka lenguh bersama nafas menjinakkan angin dan debu-debu
Daun dan rumput tergoda
Aku pun tergoda
Kucium harum
Wangi itu tersibak lagi
Lembut dan hampir sempurna dari ketiadaan
Menarilah, menarilah bersama angin yang kau taklukkan
Teruslah menari,
Menari, menari-nari menyibakkan wangi silih berganti
Hingga semerbak harum yang menggeliat
seperti seorang Dewi
yang lari dari khayangan
Dan terus, teruskan gemulaimu
Karna musik dan lagu masih beriak
…. … …
Kutenangkan jiwa menghirup dalam
aroma tubuhmu
yang memancar dari teduh matamu
bersama nafas menjelma ke dalam sukmaku
menunggu di ujung malam
menjadi sebuah mimpi
yang kutempa menjadi sajak tentang engkau dan rahasiamu
Bahwa kecantikkanmu telah menyapaku
… … …
Kutenangkan jiwa membalas tarianmu dengan syair ini
Sementara ombak zaman menderu-deru berbisik
Membisikkan kata yang menggoda
menjadi iklan di jalan raya
Dan kau masih akan menari untukku
dan menari menyibakkan wangi yang terlepas
seperti denting gitar yang memanjakan nyanyian
dengan petikan merdu bergejolak-gejolak
di antara sangsi dan sangsai bahwa kecantikkan
bukanlah purnama pucat
di antara awan dan bintang
… … …
Kutenangkan jiwa ini menyapamu dalam sajak
sebelum semuanya usai atau kembali
menjadi biasa
Maret, 04 2011, di Branda Teater
Syair Sepasang Mata
Mata ini tuan yang punya
hendak dibawa kemana gerangan sangsi
Bila tau luka kan berdarah
manalah mungkin tuan kan datang
meminang hamba telangkup tirai
menindih bantal di bawah lelah
Memeluk pelangi di tengah malam
Seperti bulan terkurung pekat
Duhai pujangga peramu kata
Alangkah bijak tautan makna
Terselubung ayunan kemban
Jadilah dendam terkubur dalam.
Membakar Kemenyan
Aku bakar kemenyan dan ranting kenanga di pinggan tanah liat
Aku panjatkan mantra-mantra kepada leluhur
Aku bersila di atas tikar pandan menghadap matahari
Aku ratapi kemarau dan angin yang berdebu
Langit terbelah diarak angin
mukaku ditampar silau senja
lalu gerimis terperas dari awan yang memekat
menjadi murka
guntur saling membentur
menggelegar mencakar-cakar tanah yang tandus
mendengus beringas
senja berubah menjadi kilat
apakah ini laknat yang menimpa
atau mantra yang diterima?
Mantra-mantra yang berubah menjadi lembaran proposal
berubah menjadi angka-angka
Kemenyan berubah menjadi gubuk-gubuk yang terbakar
Ranting kenanga berubah menjadi tulang-tulang
dan pinggan berubah menjadi tas cover
Batang-batang kayu berubah menjadi batang-batang emas
berubah menjadi menara
Gunung-gunung berubah menjadi burung-burung kecil
berubah menjadi bulu yang terbang
melayang-layang di atas sawah, ladang dan kebun tebu
dan berubah menjadi gedung-gedung
menjulang menancapkan kakinya di perut petani
Dan bumi pun berubah
Aku pun berubah
menjadi liar
menjadi-jadi, menjadi-jadi
Menjadi sapu tangan berwarna kuning terkoyak
Branda Cafe, Bulan Maret 2011
Malam yang Membusuk
Malam yang membusuk pelan-pelan
Aku terdampar di kaki lima
Dimamah kepahitan yang terurai satu persatu menjadi mimpi,
Mimpi-mimpi yang saling menghujam
Menusuk-nusuk gendang pendengaranku, berbisik
Berisik sekali
Membanting tubuhku ke lantai debu
Aku tersedak dijejali beribu sesak
Keindahan yang terampas
Dihajar masa lalu yang hampir saja sempurna
Aku terbujur di lantai debu
Pucat ditampar bulan
Maret, 04 2011
Lenguh Nafas Tarianmu
Kutenangkan jiwa menghadirkan pancaran matamu yang
Teduh
Kembali
Aku tersenyum mengenang engkau tersenyum
Syair ini menguraikan tentang lenguh nafas yang terhembus
pelan
ke luar dari bibirmu
bersama lembut kata-kata yang menyimpan rahasia perempuan
yang kau sampaikan lewat tarian
Engkau telah mengajakku tanpa isyarat
Menggandeng lenganku tanpa rengkuhan
Tanpa kata atau bisikkan
Wangi yang tersibak dari tanganmu
Terbuka lenguh bersama nafas menjinakkan angin dan debu-debu
Daun dan rumput tergoda
Aku pun tergoda
Kucium harum
Wangi itu tersibak lagi
Lembut dan hampir sempurna dari ketiadaan
Menarilah, menarilah bersama angin yang kau taklukkan
Teruslah menari,
Menari, menari-nari menyibakkan wangi silih berganti
Hingga semerbak harum yang menggeliat
seperti seorang Dewi
yang lari dari khayangan
Dan terus, teruskan gemulaimu
Karna musik dan lagu masih beriak
…. … …
Kutenangkan jiwa menghirup dalam
aroma tubuhmu
yang memancar dari teduh matamu
bersama nafas menjelma ke dalam sukmaku
menunggu di ujung malam
menjadi sebuah mimpi
yang kutempa menjadi sajak tentang engkau dan rahasiamu
Bahwa kecantikkanmu telah menyapaku
… … …
Kutenangkan jiwa membalas tarianmu dengan syair ini
Sementara ombak zaman menderu-deru berbisik
Membisikkan kata yang menggoda
menjadi iklan di jalan raya
Dan kau masih akan menari untukku
dan menari menyibakkan wangi yang terlepas
seperti denting gitar yang memanjakan nyanyian
dengan petikan merdu bergejolak-gejolak
di antara sangsi dan sangsai bahwa kecantikkan
bukanlah purnama pucat
di antara awan dan bintang
… … …
Kutenangkan jiwa ini menyapamu dalam sajak
sebelum semuanya usai atau kembali
menjadi biasa
Maret, 04 2011, di Branda Teater
Syair Sepasang Mata
Mata ini tuan yang punya
hendak dibawa kemana gerangan sangsi
Bila tau luka kan berdarah
manalah mungkin tuan kan datang
meminang hamba telangkup tirai
menindih bantal di bawah lelah
Memeluk pelangi di tengah malam
Seperti bulan terkurung pekat
Duhai pujangga peramu kata
Alangkah bijak tautan makna
Terselubung ayunan kemban
Jadilah dendam terkubur dalam.
Sajak-Sajak Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/
SUARA HATI TKW
Raga kami telah kalian
penjara
tapi jiwa kami masih
merdeka
mimpi-mimpi kami
telah kalian gadaikan
tapi semangat kami
masih menyala
suara-suara kami
telah kalian redam
tapi nurani kami akan
terus lantang bicara
bertahun-tahun kalian
pasung kami dalam
rantai nestapa
batin kami menangis lirih
tak berdaya
peluh kami telah luruh
membasahi nurani
berusaha menggapai
mimpi-mimpi yang tak terbeli
kami memang tak seberani
MARSINAH yang rela
menukar nyawanya
demi tegaknya keadilan
bukan pula R.A. KARTINI
yang terkenal dengan
“habis gelap terbitlah terang”
kami hanya kaum BMI
di sini tuk sekedar
menyuarakan isi hati
(SA & AW)
Kennedy Town 02-09-2010
BMI (Buruh Migran Indonesia)
MUTIARA JALANAN
Mata yang telaga itu
kini telah di buramkan
debu-debu zaman
kaki yang tak beralas pun
melepuh oleh panasnya aspal jalanan
terseok menuju tiap perempatan lampu merah
diayunkan benda
di tangannya yang mengeluarkan irama
kenestapaan
ada tatapan jijik
dari balik kaca sepion keangkuhan
bibirmu tak lelah
menyanyikan kidung
agung yang memekakkan telinga
si sombong
demi cacing dalam
perut yang terus menuntut haknya
sampai di tikungan nasib
tubuhmu menggelepar
terkapar karena lapar
yang tak lagi tertanggungkan
31-08-2010
PAGI
Fajar datang
langit mempersiapkan
pagi
bintang, embun, kantuk
mimpi, harapan rindu
risau yang tak dapat
lagi ditidurkan
inginku
menyaksikan terbentuknya embun
di pepucuk daun
memaknai fajar melalui jejak gemintang
di ringkas pada
manik-manik jernih
langit sesudah fajar
kembali berbau manusia
heningnya pecah oleh
sejumlah suara
tak tentu asal dan tuju
suara yang hening
sendiri
yang berhenti jadi hening
bertenggerlah kuning emas pertama
di langit timur
semua yang ada
sekejap peroleh bingkai
dan bentuk yang
makin tetap
cahaya makin tetap
Matahari terbit
21-08-2010
Ketidakpercayaan Padaku
Aku percaya padanya
bahkan saat
dia tak berkabar padaku
aku tak menghubunginya
karena aku percaya padanya
terlalunya aku percaya
sampai tak tega hati
mengganggunya
sekali lagi karena aku percaya padanya
aku redam kelebat ketidakyakinanku atasnya
tapi dalam percayaku timbul tanya dalam hati
sungguhkah aku betul-betul percaya padanya?
Ah rasanya tidak
22 Agustus 2010
SUARA HATI TKW
Raga kami telah kalian
penjara
tapi jiwa kami masih
merdeka
mimpi-mimpi kami
telah kalian gadaikan
tapi semangat kami
masih menyala
suara-suara kami
telah kalian redam
tapi nurani kami akan
terus lantang bicara
bertahun-tahun kalian
pasung kami dalam
rantai nestapa
batin kami menangis lirih
tak berdaya
peluh kami telah luruh
membasahi nurani
berusaha menggapai
mimpi-mimpi yang tak terbeli
kami memang tak seberani
MARSINAH yang rela
menukar nyawanya
demi tegaknya keadilan
bukan pula R.A. KARTINI
yang terkenal dengan
“habis gelap terbitlah terang”
kami hanya kaum BMI
di sini tuk sekedar
menyuarakan isi hati
(SA & AW)
Kennedy Town 02-09-2010
BMI (Buruh Migran Indonesia)
MUTIARA JALANAN
Mata yang telaga itu
kini telah di buramkan
debu-debu zaman
kaki yang tak beralas pun
melepuh oleh panasnya aspal jalanan
terseok menuju tiap perempatan lampu merah
diayunkan benda
di tangannya yang mengeluarkan irama
kenestapaan
ada tatapan jijik
dari balik kaca sepion keangkuhan
bibirmu tak lelah
menyanyikan kidung
agung yang memekakkan telinga
si sombong
demi cacing dalam
perut yang terus menuntut haknya
sampai di tikungan nasib
tubuhmu menggelepar
terkapar karena lapar
yang tak lagi tertanggungkan
31-08-2010
PAGI
Fajar datang
langit mempersiapkan
pagi
bintang, embun, kantuk
mimpi, harapan rindu
risau yang tak dapat
lagi ditidurkan
inginku
menyaksikan terbentuknya embun
di pepucuk daun
memaknai fajar melalui jejak gemintang
di ringkas pada
manik-manik jernih
langit sesudah fajar
kembali berbau manusia
heningnya pecah oleh
sejumlah suara
tak tentu asal dan tuju
suara yang hening
sendiri
yang berhenti jadi hening
bertenggerlah kuning emas pertama
di langit timur
semua yang ada
sekejap peroleh bingkai
dan bentuk yang
makin tetap
cahaya makin tetap
Matahari terbit
21-08-2010
Ketidakpercayaan Padaku
Aku percaya padanya
bahkan saat
dia tak berkabar padaku
aku tak menghubunginya
karena aku percaya padanya
terlalunya aku percaya
sampai tak tega hati
mengganggunya
sekali lagi karena aku percaya padanya
aku redam kelebat ketidakyakinanku atasnya
tapi dalam percayaku timbul tanya dalam hati
sungguhkah aku betul-betul percaya padanya?
Ah rasanya tidak
22 Agustus 2010
Sajak-Sajak Akhmad Muhaimin Azzet
http://www.infoanda.com/Republika
DI LERENG MERAPI
asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan
guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan
zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu
2006
SELALU ADA JEJAK
bahkan aku tak pernah mencatat
bekas air atas batu-batu dan ganggang
apalagi belaian angin pada dedaunan
hingga gemerisik dalam kemesraan
padahal selalu ada jejak
tak sekadar tanda
yang akan menjadi saksi
saat berjumpa
bahkan aku hanya bisa diam
saat kesunyian kian larut pada malam
menumpahkan segala gerak pesona
tanpa suara, tanpa kata-kata
2006
MEMILIH KEMBALI
kemacetan demi kemacetan telah merangsek
dalam hari-hariku, lihatlah, betapa luka
telah tumpah di seruang dada
bau anyirnya mengaliri jasad yang gelora
meninggalkan polusi dunia
di manakah rayuan yang dulu kau nyanyikan
nyatanya mengembarai waktu
hanyalah kota yang kian berdesakan
wajah kepalsuan
dalam geremang malam yang kegerahan
aku memilih kembali, meski tawaran
semakin menggiurkan
2006
DI UJUNG SEBUAH JALAN
wajah siapakah yang muncul bergantian
di ujung sebuah jalan, memberikan hiburan
kepada jiwa yang sempoyongan
seharian bersitegang dengan pilihan
sesekali aku menjelma magma
yang bergemuruh dalam setiap percakapan
sebab selalu ada yang berbenturan
perihal kepentingan
di ujung sebuah jalan saatnya ditentukan
siapa kalah siapa menang
2006
Akhmad Muhaimin Azzet lahir di Banjardowo, Jombang, 2 Februari 1973. Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini banyak menulis puisi, cerpen dan esei. Karya-karyanya dimuat di media cetak daerah dan nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi puisi Tamansari (FKY, 1998), Embun Tajalli Singapura (FKY, 2000), Lirik Lereng Merapi (Aksara Indonesia dan Dewan Kesenian Sleman, 2001), Filantropi (Aksara Indonesia dan FKY, 2001), Malam Bulan (Laba-laba dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, Bandung, 2002). Tinggal di Yogyakarta.
DI LERENG MERAPI
asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan
guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan
zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu
2006
SELALU ADA JEJAK
bahkan aku tak pernah mencatat
bekas air atas batu-batu dan ganggang
apalagi belaian angin pada dedaunan
hingga gemerisik dalam kemesraan
padahal selalu ada jejak
tak sekadar tanda
yang akan menjadi saksi
saat berjumpa
bahkan aku hanya bisa diam
saat kesunyian kian larut pada malam
menumpahkan segala gerak pesona
tanpa suara, tanpa kata-kata
2006
MEMILIH KEMBALI
kemacetan demi kemacetan telah merangsek
dalam hari-hariku, lihatlah, betapa luka
telah tumpah di seruang dada
bau anyirnya mengaliri jasad yang gelora
meninggalkan polusi dunia
di manakah rayuan yang dulu kau nyanyikan
nyatanya mengembarai waktu
hanyalah kota yang kian berdesakan
wajah kepalsuan
dalam geremang malam yang kegerahan
aku memilih kembali, meski tawaran
semakin menggiurkan
2006
DI UJUNG SEBUAH JALAN
wajah siapakah yang muncul bergantian
di ujung sebuah jalan, memberikan hiburan
kepada jiwa yang sempoyongan
seharian bersitegang dengan pilihan
sesekali aku menjelma magma
yang bergemuruh dalam setiap percakapan
sebab selalu ada yang berbenturan
perihal kepentingan
di ujung sebuah jalan saatnya ditentukan
siapa kalah siapa menang
2006
Akhmad Muhaimin Azzet lahir di Banjardowo, Jombang, 2 Februari 1973. Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini banyak menulis puisi, cerpen dan esei. Karya-karyanya dimuat di media cetak daerah dan nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi puisi Tamansari (FKY, 1998), Embun Tajalli Singapura (FKY, 2000), Lirik Lereng Merapi (Aksara Indonesia dan Dewan Kesenian Sleman, 2001), Filantropi (Aksara Indonesia dan FKY, 2001), Malam Bulan (Laba-laba dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, Bandung, 2002). Tinggal di Yogyakarta.
Rabu, 02 Juni 2010
Sajak-Sajak Saut Situmorang
http://www.sastra-indonesia.com/
SABULAN
Hujan tumpah dari
langit
bagai Danau Toba
jebol
tanggulnya
dan
menghanyutkan
semuanya,
hutan,
batu batu
gunung,
rumah rumah,
dan jerit anak anak ketakutan,
masuk ke
dalam mimpi
tidurku
yang tak kan
terbangun
lagi
oleh lonceng
gereja
di Minggu pagi
senyum lembut
daun bambu di
sekitar kampungku…
Kuburkanlah mayatku dengan tulus doamu
Jogja, Mei 2010
CINTA
1.
Hidup hanyalah menunda jarak perpisahan sebelum cinta kau mengerti…
Di kota ini cinta bicara dalam metafora yang berbeda. Perahu dan bintang di laut malam adalah kekasih yang dipisah semenanjung kecil penuh nyiur yang melambai salam perpisahan dan selamat datang. Hidup cuma gelombang ombak di pasir pantai, panjang pendek tapi tak pernah meninggalkan karang tempat camar camar membangun sarang musim hujannya.
2.
Di antara tetes air hujan di atap rumah yang terus menerus mengingatkan pada makin larutnya malam dan suara desir kipas angin yang membawa dingin malam ke dalam rumah, kata kata bergolak panas ingin berteriak ke kaku garis garis dinding kamar: Berikan aku metafora untuk menaklukkan kebosanan! Kata kata seperti kucing jantan sendiri di bawah wuwungan rumah mencari birahi yang lenyap dalam gelap malam. Sesekali terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh. Kalau kau mendengar tetes hujan di atap rumahmu malam ini, kau rasakankah birahi malam di kaca jendela yang berkabut basah? Suara keluh kereta yang jauh seperti zikir doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin larut, tetes hujan makin hanyut dalam birahi kata yang memanggil manggil metafora dalam sebuah nama, namamu, Cinta.
SABULAN
Hujan tumpah dari
langit
bagai Danau Toba
jebol
tanggulnya
dan
menghanyutkan
semuanya,
hutan,
batu batu
gunung,
rumah rumah,
dan jerit anak anak ketakutan,
masuk ke
dalam mimpi
tidurku
yang tak kan
terbangun
lagi
oleh lonceng
gereja
di Minggu pagi
senyum lembut
daun bambu di
sekitar kampungku…
Kuburkanlah mayatku dengan tulus doamu
Jogja, Mei 2010
CINTA
1.
Hidup hanyalah menunda jarak perpisahan sebelum cinta kau mengerti…
Di kota ini cinta bicara dalam metafora yang berbeda. Perahu dan bintang di laut malam adalah kekasih yang dipisah semenanjung kecil penuh nyiur yang melambai salam perpisahan dan selamat datang. Hidup cuma gelombang ombak di pasir pantai, panjang pendek tapi tak pernah meninggalkan karang tempat camar camar membangun sarang musim hujannya.
2.
Di antara tetes air hujan di atap rumah yang terus menerus mengingatkan pada makin larutnya malam dan suara desir kipas angin yang membawa dingin malam ke dalam rumah, kata kata bergolak panas ingin berteriak ke kaku garis garis dinding kamar: Berikan aku metafora untuk menaklukkan kebosanan! Kata kata seperti kucing jantan sendiri di bawah wuwungan rumah mencari birahi yang lenyap dalam gelap malam. Sesekali terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh. Kalau kau mendengar tetes hujan di atap rumahmu malam ini, kau rasakankah birahi malam di kaca jendela yang berkabut basah? Suara keluh kereta yang jauh seperti zikir doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin larut, tetes hujan makin hanyut dalam birahi kata yang memanggil manggil metafora dalam sebuah nama, namamu, Cinta.
Sajak-Sajak Fajar Alayubi
http://www.sastra-indonesia.com/
Langit tak dijunjung
Setinggi-tinggi bangau terbang sampainya ke kubangan juga.
Pastilah sebuah ucapan melahirkan tulisan. Pastilah unggas akan mengerami telurnya.
Belajarlah untuk terbang karna tak bisa terbang
Tidakkah rambatan pucuk pepohon semakin lebat dan jauh jangkauannya tanpa pemeliharaan?
Ataukah bunga-bunga adalah tanda kesuburan?
Lupakan pucuk dan bunga. Kepaklah sayap lalu sisirlah angin. Betapa tujuan perlu tahapan, dan pencapaian yang dimulai dari awal.
Tidaklah hayalan berputar-putar diatas sarang sampai pikiran jatuh ke “bodoh”an.
Mungkinlah angin timur membawa keharuman. Tapi bukankah padang di barat adalah tempat asal bunga-bunga tumbuh dan menarik perhatian?
Kau Berbisik; Kau Berisik
kau telah membuat otakku sekarat!!
ia kini tertegun disana
susah mengingat
apa yang telah kau perbuat!
temali yang kurajut telah kau buat kusut!!
Tidakkah arakmu cukup untukmu?
sampai akalmu bersulang
membujuk dan merayu
kini aku mabuk
mabuk bersama para pengikutmu
kini kau tertawa
tertawa manis menawan kelincahan pikiran kami
duh jemari yang kini terasa membatu
dan pena mencatat bisuku:
telah ia tunjukan pedang indahnya
telah ia membuat rahangmu geram dan ngilu
telah ia ayunkan syair-syair surga setangkas jiwa
telah ia…
cukup!
kau telah memadamkan kegairahanku!
aku muak dengan lakumu!
dan juga intip-intip pikiranmu ke masa pendahulu
aku tak perlu itu!
ajarlah jari-jarimu tuk bicara
ajarlah pena tuk membaca
rangkailah bunga-bunga dalam buket bunga
atau biarkan harumnya menetap di taman
tentangmu
masih kusimpan beberapa kuntum guman
Di mana bulan
Diunggah melalui Facebook Seluler
gendang kecapi lama sudah tiada bertalu
rebab disana membisu jua
sunyi
hening ditusuk
nyaring tong-tong dipalu
sepi ronda tiada irama
malam diburu dengus nafsu
jejaka mencumbu gadis hilang malu
separuh usia belasan nista
berpadu mesra di medan laga pestafora
nada-nada gila cubitan ketagihan
tubuh kenyal gempal pinggul
pecah resah dalam dekapan
merajuk janji ke nirwana
semalam suntuk disudut gelap
berkali-kali membakar hati
tiada jurai percikan airmata
tiada musuh dalam selimut
terbaring lesu wajah hilang ayu
tanpa baju akan kembali
temui mimpi lupakan pagi
sebelum ajal menunggu dimalam nanti
Angklung Si Bocah
angklung si bocah bernyanyi di gubuk sunyi
samar-samar tiada lagu menentu
janji kabur didekap malam
pupuslah niat mencari langkah
tak lama
angklung si bocah hilang gundah
seketika si teteh datang tiba menjelma
bisu tiada kata perawan kota kembang
pilu dan rindu melebur satu
datang dari jauh mohon terima airmata
sesal begitu dekat kala kembali
si bocah tak tahu rupa hati:
cinta eceran telah dibeli
lagu sendu masa lalu
ibu tiada pun bapak tak berlaga
cita ingin bahagia:
gubuk tinggal cerita diganti satu istana
tiada kata si bocah bertanya
silir angin dingin dimata si teteh
dibelanya salam yang melenguh
dibelai rambutnya tak lagi bermahkota desa
angkung si bocah melagu lagi
si teteh sepi di pembaringan
si bocah mendendang malam,
si teteh mendendam sesal.
Langit tak dijunjung
Setinggi-tinggi bangau terbang sampainya ke kubangan juga.
Pastilah sebuah ucapan melahirkan tulisan. Pastilah unggas akan mengerami telurnya.
Belajarlah untuk terbang karna tak bisa terbang
Tidakkah rambatan pucuk pepohon semakin lebat dan jauh jangkauannya tanpa pemeliharaan?
Ataukah bunga-bunga adalah tanda kesuburan?
Lupakan pucuk dan bunga. Kepaklah sayap lalu sisirlah angin. Betapa tujuan perlu tahapan, dan pencapaian yang dimulai dari awal.
Tidaklah hayalan berputar-putar diatas sarang sampai pikiran jatuh ke “bodoh”an.
Mungkinlah angin timur membawa keharuman. Tapi bukankah padang di barat adalah tempat asal bunga-bunga tumbuh dan menarik perhatian?
Kau Berbisik; Kau Berisik
kau telah membuat otakku sekarat!!
ia kini tertegun disana
susah mengingat
apa yang telah kau perbuat!
temali yang kurajut telah kau buat kusut!!
Tidakkah arakmu cukup untukmu?
sampai akalmu bersulang
membujuk dan merayu
kini aku mabuk
mabuk bersama para pengikutmu
kini kau tertawa
tertawa manis menawan kelincahan pikiran kami
duh jemari yang kini terasa membatu
dan pena mencatat bisuku:
telah ia tunjukan pedang indahnya
telah ia membuat rahangmu geram dan ngilu
telah ia ayunkan syair-syair surga setangkas jiwa
telah ia…
cukup!
kau telah memadamkan kegairahanku!
aku muak dengan lakumu!
dan juga intip-intip pikiranmu ke masa pendahulu
aku tak perlu itu!
ajarlah jari-jarimu tuk bicara
ajarlah pena tuk membaca
rangkailah bunga-bunga dalam buket bunga
atau biarkan harumnya menetap di taman
tentangmu
masih kusimpan beberapa kuntum guman
Di mana bulan
Diunggah melalui Facebook Seluler
gendang kecapi lama sudah tiada bertalu
rebab disana membisu jua
sunyi
hening ditusuk
nyaring tong-tong dipalu
sepi ronda tiada irama
malam diburu dengus nafsu
jejaka mencumbu gadis hilang malu
separuh usia belasan nista
berpadu mesra di medan laga pestafora
nada-nada gila cubitan ketagihan
tubuh kenyal gempal pinggul
pecah resah dalam dekapan
merajuk janji ke nirwana
semalam suntuk disudut gelap
berkali-kali membakar hati
tiada jurai percikan airmata
tiada musuh dalam selimut
terbaring lesu wajah hilang ayu
tanpa baju akan kembali
temui mimpi lupakan pagi
sebelum ajal menunggu dimalam nanti
Angklung Si Bocah
angklung si bocah bernyanyi di gubuk sunyi
samar-samar tiada lagu menentu
janji kabur didekap malam
pupuslah niat mencari langkah
tak lama
angklung si bocah hilang gundah
seketika si teteh datang tiba menjelma
bisu tiada kata perawan kota kembang
pilu dan rindu melebur satu
datang dari jauh mohon terima airmata
sesal begitu dekat kala kembali
si bocah tak tahu rupa hati:
cinta eceran telah dibeli
lagu sendu masa lalu
ibu tiada pun bapak tak berlaga
cita ingin bahagia:
gubuk tinggal cerita diganti satu istana
tiada kata si bocah bertanya
silir angin dingin dimata si teteh
dibelanya salam yang melenguh
dibelai rambutnya tak lagi bermahkota desa
angkung si bocah melagu lagi
si teteh sepi di pembaringan
si bocah mendendang malam,
si teteh mendendam sesal.
Jumat, 06 Februari 2009
Sajak-Sajak Tan Lioe Ie
http://www2.kompas.com/
Perahu Daun
Di tepi danau kita berdiri
melempar batu kanak-kanak
ke dalamnya.
Seribu purnama bercermin di air
Batu kanak-kanak berlumut sudah.
Kita masih di sini
menyaksikan angin
menjatuhkan sehelai daun
mengapung di permukaan
menjadi perahu
menjemputmu
menembus kabut
Kau pun tak tampak lagi.
Mataku bukan mata dungu ikan
yang tertipu umpan di mata kail
Tapi tak juga sanggup menyibak kabut itu
Kau tetap lenyap dari pandang
Tinggal kecipak air ditepuk angin
Angin yang lagi akan menggugurkan daun
mengapung jadi perahu
menjemput penyeberang berikutnya.
Mimpi Buruk
Bunga plastik di jemari tua
adalah kenangan
akan kumbang dan
kupu-kupu.
Mimpi kanak-kanak
dengan ranting mengurai langit
mimpi peri-peri hutan
menari di daun-daun
terkubur di kedalaman bumi
yang rekah terbakar.
Papan usang
ratap purba hutan-hutan
jejak siapa tertinggal di sana? Lebih
senyap dari kelepak kupu-kupu. Lebih
sakit dari sengat kumbang
mendengung di liang telinga kenangan.
Tak Lagi
Langit-langit
tentu bukan langit
Langit yang tampak
bukan langit yang kau rindu
Resah kau
bagai angin tak sampai
ke hampa langit tinggi
Gundah kau
serupa sinar sia-sia
menggapai gelap laut dalam
Berulang-kali kau jenguk dirimu
Sampai kau temukan
benda-benda langit
bercahaya di dalamnya
menuntunmu ke cahaya
di luar diri. Lebih dari matahari.
Cahaya bertemu cahaya
lebur jadi satu
Kau pun berkelana dalam cahaya
menyibak tabir langit
mengurai tirai laut
Dan apa yang hendak kau katakan
tak lagi kau ucapkan.
Perahu Daun
Di tepi danau kita berdiri
melempar batu kanak-kanak
ke dalamnya.
Seribu purnama bercermin di air
Batu kanak-kanak berlumut sudah.
Kita masih di sini
menyaksikan angin
menjatuhkan sehelai daun
mengapung di permukaan
menjadi perahu
menjemputmu
menembus kabut
Kau pun tak tampak lagi.
Mataku bukan mata dungu ikan
yang tertipu umpan di mata kail
Tapi tak juga sanggup menyibak kabut itu
Kau tetap lenyap dari pandang
Tinggal kecipak air ditepuk angin
Angin yang lagi akan menggugurkan daun
mengapung jadi perahu
menjemput penyeberang berikutnya.
Mimpi Buruk
Bunga plastik di jemari tua
adalah kenangan
akan kumbang dan
kupu-kupu.
Mimpi kanak-kanak
dengan ranting mengurai langit
mimpi peri-peri hutan
menari di daun-daun
terkubur di kedalaman bumi
yang rekah terbakar.
Papan usang
ratap purba hutan-hutan
jejak siapa tertinggal di sana? Lebih
senyap dari kelepak kupu-kupu. Lebih
sakit dari sengat kumbang
mendengung di liang telinga kenangan.
Tak Lagi
Langit-langit
tentu bukan langit
Langit yang tampak
bukan langit yang kau rindu
Resah kau
bagai angin tak sampai
ke hampa langit tinggi
Gundah kau
serupa sinar sia-sia
menggapai gelap laut dalam
Berulang-kali kau jenguk dirimu
Sampai kau temukan
benda-benda langit
bercahaya di dalamnya
menuntunmu ke cahaya
di luar diri. Lebih dari matahari.
Cahaya bertemu cahaya
lebur jadi satu
Kau pun berkelana dalam cahaya
menyibak tabir langit
mengurai tirai laut
Dan apa yang hendak kau katakan
tak lagi kau ucapkan.
Jumat, 23 Januari 2009
Sajak-Sajak Nirwan Dewanto
http://cetak.kompas.com/
Boogie Woogie
—untuk Umar Kayam
Di Broadway, hanya di Broadway
langit bisa menggirangkan diri
dengan merah, semu merah,
merah Mao, merah Marilyn Monroe,
meski di setiap sudut surai salju
mengintai hendak memberkati
ungu magnolia musim semi,
hitam legam seragam polisi,
kuning taksi dan sepatu Armani,
kuning kunang-kunang tak tahu diri.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
sungguh merah tak pernah sampai
ke surga, betapapun ia meninggi
melampaui puncak menara tertinggi,
menjinjing jantung paling murni,
jantung tercuci kuas Balla dan Boccioni.
Di Broadway, hanya di Broadway
merah terkalung tenang ke leherku
(leher kadal gandrung Ragajampi)
sebelum memecah memanjang
seperti akanan, ketika gelombang
jingga memecah pasukan pemadam api,
kelabu membajak lidah para padri,
hijau terampas dari mata Lorca dan Marti.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
langit seperti berbentuk huruf Y
sebelum si lelaki rapi dari Amsterdam,
lelaki lencir kelam seperti daun pandan
(kuhapus namanya di sakuku: Mondriaan)
membentangkan putih, putih semata,
putih seluas sabana senjakala,
dan membariskan tujuh juta noktah
ke atasnya, tegak lurus silang-bersilang
seperti tujuh puluh salib tanpa pokok,
seperti simpang semua jalan New York,
noktah kuning kelabu biru merah,
kuning kunang-kunang tahu diri,
kelabu kaus kaki Januari,
biru dahi kereta bawah tanah,
merah tabah seperti duka nyonya
sebab terlalu lama ia bersandiwara
di Broadway, hanya di Broadway.
(2007)
Blues
Seperti sekuntum mawar Alabama, aku tidur di bawah kelopak matamu. Aku akan bangun bila sepucuk duri menyentuh bola mataku. Di tengah mimpi, sang kilat menerobos pintu kamar. “Di mana akarmu?” ia bertanya sambil melepas baju-hujannya. “Di sini,” aku menunjuk jantungku. Lalu ia menyobek selimutku yang merah secerlang darah. Ia pun terlelap di dalam sana. Seperti benih mawar. Ah, betapa beraneka kelopak mata yang melindungi kami. Jutaan kelopak api sampai kelopak es, yang segera berguguran ke dasar tidur kami. Sampai mawar-halilintar itu tumbuh subur melebihi wajahku sendiri. Lihat, betapa durinya melimpah ke luar mimpi, seperti hujan pagi. Tapi aku segera terbangun, menguncup, menusuk bola matamu, sebelum akhirnya terkubur di antara saputanganmu dan matahari.
(2007)
Kopi
Di tangan lelaki itu, kami coba bersabar.
Namun betapa cangkir ini gemetar
oleh tubuh kami, gairah kami
yang luas seperti langit Potosi.
Menuju kami wajah lelaki itu.
Kami akan naik ke mulut lelaki itu,
aku dan kembaranku,
aku dan seteruku:
kami akan berpisah selepas leher lelaki itu:
dia ke arah malam di usus besarnya
aku ke arah matahari di peparunya.
Tak sabar lidah lelaki itu.
Namaku arus kali atau bakal salju
sebelum lelaki itu merengkuh seteruku
yang lebih hitam dari pasir pesisir
dan lebih wangi dari lavender terakhir,
dan aku betina, bening. Betapa lelaki itu
mengaduk si serbuk jantan ke dalamku.
Oleh bahang lelaki itu, aku dan seteruku
seperti tak terpisahkan lagi, tetapi
di dasar cangkir, dia sekadar bayanganku,
dan di bibir cangkir, kembaranku.
Di bawah tatapan lelaki itu
kuajari dia melayang mencari terang.
Tapi menggelayuti seluruh tubuhku dia
membutakan mataku hanya.
Kukatakan pada dia, baiklah
kita akan berpisah (mungkin aku alah)
setelah menaklukkan lidah
lelaki itu. Tapi kami cuma bisa bertarung,
bersetubuh, (makin pahit), membubung
menghujani bentang koran pagi
yang terkulai di pangkuan lelaki itu.
Penderita insomnia lelaki itu.
(2007)
Fajar di Galena
Malam menarik kafan untuk mayatnya sendiri, setelah betapa renta ia berupaya menerangi sebatang jarum dalam mimpimu. Berapa lama sudah kau terbangun? Seraya mencari sisa putih mori ke arah rumpun kana, kau berkata kepada sebutir batu gamping di jalan setapak itu, “Mereka mencintaimu, sebab kau tak menderita insomnia.” Dengarlah, namaku matahari, aku perawat kuburan di tepi Mississippi, maka aku tak akan terkelabui oleh kata-katamu.
(2007)
Garam
Lautan jauh, terima kasih.
Meski kuhapus wajahmu
kaukirim keringatmu
ke piring putih ini.
Tukang jagal, terima kasih.
Meski kubekukan tanganmu
kauberi merah jantung
ke ujung pisau ini.
Asparaga, terima kasih.
Dengan juntai rambutmu
aku masih juga menampung
sungai darah ini.
Juru museum, terima kasih.
Dengan peta purbamu
aku berani menawan
lembu jantan Sinsinawa.
Kentang bakar, terima kasih.
Ke arah lambung birumu
aku mampu mengasah
taring serigala ini.
Prairie du Chien, terima kasih.
Kaupucatkan meja makanku
hingga aku betah memelihara
arang bara di kantung celana.
Susu masam, terima kasih.
Sebab kujilati cerminmu
kaukembarkan payudaraku
dengan aprikot jingga ini.
Peluh lautan, terima kasih.
Kausembunyikan Mississippi
agar aku mulai mengerat
lidah hangusku sendiri.
(2007)
Dua Belas Kilas Musim Gugur
—untuk Sigit Haryoto
Pohon Mapel
Jingga pada ujung jemari.
Dari lingkar batang, urat nadi
pasrah mencari geletar api.
Jembatan
Siang menyusut ke hulu.
Di atas arus, matahari beledu
gentar oleh kilatan kuku.
Angsa Liar
Tabah seperti saputangan,
putih bersulih ke selatan—
terpulau oleh rumputan.
Gerimis
Antara jejarum dan gelagah
arloji tak pernah lelah
memindai benang basah.
Sepeda
Terhadang luas lumpur,
reruji serupa pecah telur.
Sisa mata ke bukit kapur.
Museum
Marun guci di dalam lemari.
Si pelukis meninggikan hati,
“Itu milik selir dari Shanxi?”
Es Krim
Di ujung lidah, pangkal limas
mengacaukan lunak kapas
dengan susu musim panas.
Serupa Haiku
Tujuh belas suku kata
lebih, mencari ke balik jingga
kimono, gemetar payudara.
Ladang Jagung
Terurai jantung dari tangkai.
Tetirai masih sepanjang jelai—
ning-kuning mencari pantai.
Penyair
Buah ceri di kantung celana,
kantung air selebar pelana.
Hausnya sebatas umpama.
Makam
Bara mencari sekam.
Tapi hanya ujung pualam
terpanasi ke balik malam.
Pagi
Surya selebat rambut rami.
Langit mengancang bulir padi—
noktah di punggung kelinci.
(2007)
Boogie Woogie
—untuk Umar Kayam
Di Broadway, hanya di Broadway
langit bisa menggirangkan diri
dengan merah, semu merah,
merah Mao, merah Marilyn Monroe,
meski di setiap sudut surai salju
mengintai hendak memberkati
ungu magnolia musim semi,
hitam legam seragam polisi,
kuning taksi dan sepatu Armani,
kuning kunang-kunang tak tahu diri.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
sungguh merah tak pernah sampai
ke surga, betapapun ia meninggi
melampaui puncak menara tertinggi,
menjinjing jantung paling murni,
jantung tercuci kuas Balla dan Boccioni.
Di Broadway, hanya di Broadway
merah terkalung tenang ke leherku
(leher kadal gandrung Ragajampi)
sebelum memecah memanjang
seperti akanan, ketika gelombang
jingga memecah pasukan pemadam api,
kelabu membajak lidah para padri,
hijau terampas dari mata Lorca dan Marti.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
langit seperti berbentuk huruf Y
sebelum si lelaki rapi dari Amsterdam,
lelaki lencir kelam seperti daun pandan
(kuhapus namanya di sakuku: Mondriaan)
membentangkan putih, putih semata,
putih seluas sabana senjakala,
dan membariskan tujuh juta noktah
ke atasnya, tegak lurus silang-bersilang
seperti tujuh puluh salib tanpa pokok,
seperti simpang semua jalan New York,
noktah kuning kelabu biru merah,
kuning kunang-kunang tahu diri,
kelabu kaus kaki Januari,
biru dahi kereta bawah tanah,
merah tabah seperti duka nyonya
sebab terlalu lama ia bersandiwara
di Broadway, hanya di Broadway.
(2007)
Blues
Seperti sekuntum mawar Alabama, aku tidur di bawah kelopak matamu. Aku akan bangun bila sepucuk duri menyentuh bola mataku. Di tengah mimpi, sang kilat menerobos pintu kamar. “Di mana akarmu?” ia bertanya sambil melepas baju-hujannya. “Di sini,” aku menunjuk jantungku. Lalu ia menyobek selimutku yang merah secerlang darah. Ia pun terlelap di dalam sana. Seperti benih mawar. Ah, betapa beraneka kelopak mata yang melindungi kami. Jutaan kelopak api sampai kelopak es, yang segera berguguran ke dasar tidur kami. Sampai mawar-halilintar itu tumbuh subur melebihi wajahku sendiri. Lihat, betapa durinya melimpah ke luar mimpi, seperti hujan pagi. Tapi aku segera terbangun, menguncup, menusuk bola matamu, sebelum akhirnya terkubur di antara saputanganmu dan matahari.
(2007)
Kopi
Di tangan lelaki itu, kami coba bersabar.
Namun betapa cangkir ini gemetar
oleh tubuh kami, gairah kami
yang luas seperti langit Potosi.
Menuju kami wajah lelaki itu.
Kami akan naik ke mulut lelaki itu,
aku dan kembaranku,
aku dan seteruku:
kami akan berpisah selepas leher lelaki itu:
dia ke arah malam di usus besarnya
aku ke arah matahari di peparunya.
Tak sabar lidah lelaki itu.
Namaku arus kali atau bakal salju
sebelum lelaki itu merengkuh seteruku
yang lebih hitam dari pasir pesisir
dan lebih wangi dari lavender terakhir,
dan aku betina, bening. Betapa lelaki itu
mengaduk si serbuk jantan ke dalamku.
Oleh bahang lelaki itu, aku dan seteruku
seperti tak terpisahkan lagi, tetapi
di dasar cangkir, dia sekadar bayanganku,
dan di bibir cangkir, kembaranku.
Di bawah tatapan lelaki itu
kuajari dia melayang mencari terang.
Tapi menggelayuti seluruh tubuhku dia
membutakan mataku hanya.
Kukatakan pada dia, baiklah
kita akan berpisah (mungkin aku alah)
setelah menaklukkan lidah
lelaki itu. Tapi kami cuma bisa bertarung,
bersetubuh, (makin pahit), membubung
menghujani bentang koran pagi
yang terkulai di pangkuan lelaki itu.
Penderita insomnia lelaki itu.
(2007)
Fajar di Galena
Malam menarik kafan untuk mayatnya sendiri, setelah betapa renta ia berupaya menerangi sebatang jarum dalam mimpimu. Berapa lama sudah kau terbangun? Seraya mencari sisa putih mori ke arah rumpun kana, kau berkata kepada sebutir batu gamping di jalan setapak itu, “Mereka mencintaimu, sebab kau tak menderita insomnia.” Dengarlah, namaku matahari, aku perawat kuburan di tepi Mississippi, maka aku tak akan terkelabui oleh kata-katamu.
(2007)
Garam
Lautan jauh, terima kasih.
Meski kuhapus wajahmu
kaukirim keringatmu
ke piring putih ini.
Tukang jagal, terima kasih.
Meski kubekukan tanganmu
kauberi merah jantung
ke ujung pisau ini.
Asparaga, terima kasih.
Dengan juntai rambutmu
aku masih juga menampung
sungai darah ini.
Juru museum, terima kasih.
Dengan peta purbamu
aku berani menawan
lembu jantan Sinsinawa.
Kentang bakar, terima kasih.
Ke arah lambung birumu
aku mampu mengasah
taring serigala ini.
Prairie du Chien, terima kasih.
Kaupucatkan meja makanku
hingga aku betah memelihara
arang bara di kantung celana.
Susu masam, terima kasih.
Sebab kujilati cerminmu
kaukembarkan payudaraku
dengan aprikot jingga ini.
Peluh lautan, terima kasih.
Kausembunyikan Mississippi
agar aku mulai mengerat
lidah hangusku sendiri.
(2007)
Dua Belas Kilas Musim Gugur
—untuk Sigit Haryoto
Pohon Mapel
Jingga pada ujung jemari.
Dari lingkar batang, urat nadi
pasrah mencari geletar api.
Jembatan
Siang menyusut ke hulu.
Di atas arus, matahari beledu
gentar oleh kilatan kuku.
Angsa Liar
Tabah seperti saputangan,
putih bersulih ke selatan—
terpulau oleh rumputan.
Gerimis
Antara jejarum dan gelagah
arloji tak pernah lelah
memindai benang basah.
Sepeda
Terhadang luas lumpur,
reruji serupa pecah telur.
Sisa mata ke bukit kapur.
Museum
Marun guci di dalam lemari.
Si pelukis meninggikan hati,
“Itu milik selir dari Shanxi?”
Es Krim
Di ujung lidah, pangkal limas
mengacaukan lunak kapas
dengan susu musim panas.
Serupa Haiku
Tujuh belas suku kata
lebih, mencari ke balik jingga
kimono, gemetar payudara.
Ladang Jagung
Terurai jantung dari tangkai.
Tetirai masih sepanjang jelai—
ning-kuning mencari pantai.
Penyair
Buah ceri di kantung celana,
kantung air selebar pelana.
Hausnya sebatas umpama.
Makam
Bara mencari sekam.
Tapi hanya ujung pualam
terpanasi ke balik malam.
Pagi
Surya selebat rambut rami.
Langit mengancang bulir padi—
noktah di punggung kelinci.
(2007)
Minggu, 18 Januari 2009
Sajak-Sajak Tjahjono Widarmanto
http://www.lampungpost.com/
SEBUAH TAMAN
akan kutunjukkan pada kalian
sebuah taman
tak hanya untuk meneguk aroma kembang
atau indahnya warna sayap kupu-kupu
tak hanya kalian bisa menangkap getar sayap burung
atau menatap senyum langit yang menggoda
akan kutunjukkan pada kalian
sebuah taman
tempat seribu puisi berbiak dalam hati
wanginya meresap di palung hati.
ya, sebuah taman untuk kalian.
2008
PETA PARA PENYAIR
tak ada perjalanan terakhir
lorong sunyi ini tak berujung
kita adalah pasukan terpilih
tanpa kuda tanpa pelana
musyafir pemburu suara gema
ke segala sudut cuaca, taman kota, hingga garis cakrawala
tak ada perjalanan yang usai
hanya seteguk istirah melepas lelah di pojok senja
sambil menghitung berapa jarak telah dilampaui,
kesenyapan yang gemetar ingatkan petualangan sendiri
serta kenangan pada ciuman terakhir sangat manis
tinggal isak yang sayup.
tak ada perjalanan terakhir
- apa yang telah kau catat?-
ngawi-2007
SIUL BURUNG ITU
siul burung itu
pagi hari
hinggap di telinga
hinggap pula segala manisnya kenangan
kampung halaman yang tercatat di buku harian
siulnya mengabarkan rasa kangen
kenangan sungai, hutan kecil, dan tunas-tunas jati
tembang-tembang dolanan yang bergema
saat purnama di pelataran
juga wajah ibu yang menyimpan
taman surga di senyumnya.
siul burung itu
pagi hari
hinggap di telinga dengan rasa rindu
tembang kinanti dari seorang ibu.
2007
SEBUAH SUBUH DI BULAN AGUSTUS
subuh di bulan agustus
seharusnya kita tangkap aromanya berbeda
bukankah saat yang tepat mengenang gerimis air mata
yang pernah tumpah dan tuntas di bumi pertiwi
subuh di bulan agustus
mestinya lebih syahdu dari subuh yang lain
namun, mengapa kita masih saja meringkuk
di balik selimut kemanjaan.
2007
KOTAKU
kotaku tiba-tiba penuh baja dan logam
taman-taman ditumbuhi belukar api
dan dendam jadi bara di mana-mana
terbetik berita di koran dan teve
orang-orang menggenggam batu dan kapak
anak-anak berlarian memburu bapaknya
bapak-bapak berlarian memburu anaknya
langit kotaku tiba-tiba hujan batu
bau mesiu terbakar kemarau
tak ada lagi yang sudi termangu!
Surabaya-Yogya
KUCARI SEBUAH ALAMAT
*)mengenang nenek
kucari sebuah alamat
tempat wangi semerbak rambutmu berhembus
tersenyum pada gerimis
menari untuk bumi
kucari lewat bermil-mil arus sungai
dan tiupan angin berderai
kucari sebuah alamat
muara segala rahasia
kucari lewat buih-buih ombak
meluncur ke arah sarang burung
meniti puncak langit
lewat helai rambutmu wangi
kucari sebuah alamat. akhir segala resah
tuntas di puncak cinta
klaten, 2008
RUMAH PUISI
akan kubangun rumah bagi jiwa
yang lelah dan dahaga
seperti taman tempat istirah
menghikmati aroma bunga.
tempat kau dan aku berbenah
membasuh luka menidurkan resah.
akan kubangun rumah
berbata frase berpilar kata
kokoh di dada semesta
rumah tempat kita
menghikmati angin
bertabik pada langit
menari untuk bumi
di pelatarannya mengalir bening telaga
tempat kita senantiasa berkaca
berani menatap wajah sendiri
tabah menghitung luka sendiri
ikan-ikan berenang di dalamnya
bersama teratai mengajak kita
samadi dalam sunyi
merangkul rembulan dan matahari
mengecup senyum pada cakrawala
bercanda dengan mekar bunga
akan kubangun rumah
kunamai:puisi
tempat membaringkan lelah
sambil membaca sejarah
akan kubangun rumah puisi
siapa saja bisa bertamu
untuk menghapus luka dahaga jiwa
kedah, 2007
SEBUAH TAMAN
akan kutunjukkan pada kalian
sebuah taman
tak hanya untuk meneguk aroma kembang
atau indahnya warna sayap kupu-kupu
tak hanya kalian bisa menangkap getar sayap burung
atau menatap senyum langit yang menggoda
akan kutunjukkan pada kalian
sebuah taman
tempat seribu puisi berbiak dalam hati
wanginya meresap di palung hati.
ya, sebuah taman untuk kalian.
2008
PETA PARA PENYAIR
tak ada perjalanan terakhir
lorong sunyi ini tak berujung
kita adalah pasukan terpilih
tanpa kuda tanpa pelana
musyafir pemburu suara gema
ke segala sudut cuaca, taman kota, hingga garis cakrawala
tak ada perjalanan yang usai
hanya seteguk istirah melepas lelah di pojok senja
sambil menghitung berapa jarak telah dilampaui,
kesenyapan yang gemetar ingatkan petualangan sendiri
serta kenangan pada ciuman terakhir sangat manis
tinggal isak yang sayup.
tak ada perjalanan terakhir
- apa yang telah kau catat?-
ngawi-2007
SIUL BURUNG ITU
siul burung itu
pagi hari
hinggap di telinga
hinggap pula segala manisnya kenangan
kampung halaman yang tercatat di buku harian
siulnya mengabarkan rasa kangen
kenangan sungai, hutan kecil, dan tunas-tunas jati
tembang-tembang dolanan yang bergema
saat purnama di pelataran
juga wajah ibu yang menyimpan
taman surga di senyumnya.
siul burung itu
pagi hari
hinggap di telinga dengan rasa rindu
tembang kinanti dari seorang ibu.
2007
SEBUAH SUBUH DI BULAN AGUSTUS
subuh di bulan agustus
seharusnya kita tangkap aromanya berbeda
bukankah saat yang tepat mengenang gerimis air mata
yang pernah tumpah dan tuntas di bumi pertiwi
subuh di bulan agustus
mestinya lebih syahdu dari subuh yang lain
namun, mengapa kita masih saja meringkuk
di balik selimut kemanjaan.
2007
KOTAKU
kotaku tiba-tiba penuh baja dan logam
taman-taman ditumbuhi belukar api
dan dendam jadi bara di mana-mana
terbetik berita di koran dan teve
orang-orang menggenggam batu dan kapak
anak-anak berlarian memburu bapaknya
bapak-bapak berlarian memburu anaknya
langit kotaku tiba-tiba hujan batu
bau mesiu terbakar kemarau
tak ada lagi yang sudi termangu!
Surabaya-Yogya
KUCARI SEBUAH ALAMAT
*)mengenang nenek
kucari sebuah alamat
tempat wangi semerbak rambutmu berhembus
tersenyum pada gerimis
menari untuk bumi
kucari lewat bermil-mil arus sungai
dan tiupan angin berderai
kucari sebuah alamat
muara segala rahasia
kucari lewat buih-buih ombak
meluncur ke arah sarang burung
meniti puncak langit
lewat helai rambutmu wangi
kucari sebuah alamat. akhir segala resah
tuntas di puncak cinta
klaten, 2008
RUMAH PUISI
akan kubangun rumah bagi jiwa
yang lelah dan dahaga
seperti taman tempat istirah
menghikmati aroma bunga.
tempat kau dan aku berbenah
membasuh luka menidurkan resah.
akan kubangun rumah
berbata frase berpilar kata
kokoh di dada semesta
rumah tempat kita
menghikmati angin
bertabik pada langit
menari untuk bumi
di pelatarannya mengalir bening telaga
tempat kita senantiasa berkaca
berani menatap wajah sendiri
tabah menghitung luka sendiri
ikan-ikan berenang di dalamnya
bersama teratai mengajak kita
samadi dalam sunyi
merangkul rembulan dan matahari
mengecup senyum pada cakrawala
bercanda dengan mekar bunga
akan kubangun rumah
kunamai:puisi
tempat membaringkan lelah
sambil membaca sejarah
akan kubangun rumah puisi
siapa saja bisa bertamu
untuk menghapus luka dahaga jiwa
kedah, 2007
Selasa, 04 November 2008
Sajak-Sajak Nana Riskhi Susanti
http://www.republika.co.id/
MENGAJAKMU PULANG
Tak ada yang beda
pada hujan
dan kemarau
jeda diantaranya menguraikan doa
pada lengan sunyi
aku tak pernah lagi
mengirim rindu padamu
pada hujan
atau kemarau
sebab aku mau menidurkanmu
di atas semak perdu
aku ingin mengajakmu pulang
ke asal mula hatimu
: aku
Tegal,2008
KUTULIS PUISI DI PASIRMU
Hanya doa
sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu
ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan
kutulis puisi pada pasirmu
ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku rotan coklat penuh rayap kayu
dinding putih penuh kaligrafimu
tirai hijau berderaiderai
mendengar rinduku yang tak sampai padamu
karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut
kutulis puisi pada pasirmu
betapa sakit doaku yang menunggu sampai
di antara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu
aku ingin mengurai cinta
seperti puisi pasir pejalan sunyi
meski terhapus gelombang
yang dikirimkan doa ikanikan
meski impian
tak cukup untuk dituliskan
anakanak surau
membaca hurufmu
di antara tiangtiang perahu
ketika matahari mulai sembunyi
dan aku masih
menulis puisi di pasirmu
Tegal, 2008
--------
Nana Riskhi Susanti, atau Nana Eres, lahir di Tegal, 02 oktober 1990. Menulis puisi, cerpen, lakon dan esai, sejak SMA. Bergabung dalam sanggar Lare'S Dramatik Tegal. Puisinya dimuat dalam antologi Aku Ingin Mengirim Hujan(Dewan Kesenian Semarang, 2008) dan beberapa koran lokal. Kini tercacat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES.(-)
MENGAJAKMU PULANG
Tak ada yang beda
pada hujan
dan kemarau
jeda diantaranya menguraikan doa
pada lengan sunyi
aku tak pernah lagi
mengirim rindu padamu
pada hujan
atau kemarau
sebab aku mau menidurkanmu
di atas semak perdu
aku ingin mengajakmu pulang
ke asal mula hatimu
: aku
Tegal,2008
KUTULIS PUISI DI PASIRMU
Hanya doa
sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu
ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan
kutulis puisi pada pasirmu
ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku rotan coklat penuh rayap kayu
dinding putih penuh kaligrafimu
tirai hijau berderaiderai
mendengar rinduku yang tak sampai padamu
karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut
kutulis puisi pada pasirmu
betapa sakit doaku yang menunggu sampai
di antara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu
aku ingin mengurai cinta
seperti puisi pasir pejalan sunyi
meski terhapus gelombang
yang dikirimkan doa ikanikan
meski impian
tak cukup untuk dituliskan
anakanak surau
membaca hurufmu
di antara tiangtiang perahu
ketika matahari mulai sembunyi
dan aku masih
menulis puisi di pasirmu
Tegal, 2008
--------
Nana Riskhi Susanti, atau Nana Eres, lahir di Tegal, 02 oktober 1990. Menulis puisi, cerpen, lakon dan esai, sejak SMA. Bergabung dalam sanggar Lare'S Dramatik Tegal. Puisinya dimuat dalam antologi Aku Ingin Mengirim Hujan(Dewan Kesenian Semarang, 2008) dan beberapa koran lokal. Kini tercacat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES.(-)
Senin, 27 Oktober 2008
Sajak Ahmad Muchlish Amrin
SENANDUNG LERENG BUKIT RANTANI
-Non torno vibo alcun, s’iodo il vero
senza tema d’infamia it rispondo – Dante
a/
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada seribu gubuk menyalakan senja
di antara batu-batu kecil sekeras rinduku dan pintu-pintu terbuka
bagi perempuan-perempuan yang melongok ke luar jendela; menatap
kering setapak meliuk dan mekar kembang jagung bagai awan-awan tipis
digesek angin.
(Konon, perempuan-perempuan itu tinggal di tirai bambu dan memakai
sandal kayu. Kini, memasang antena parabola dan rumah kaca)
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu kudengar suara dari dalam gua
memanggil anak rantau yang hilang dan perempuan-perempuan kencing
di atas lobang dan burung-burung turun ke lembah bertekukur di atas
bunga solang. Aku menumbang ilalang yang menusuk bulan.
(Memang, anak bukan bermimpi pulang ke bulan,
anak matahari pulang ke matahari)
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada anak-anak lempung lempang
berjalan menuju puncak. gerak serak beranak pinak di gubuk; anak padi
pada merunduk dan lenggak lenggok angin gili manuk. Siapa tahu o siapa
tahu! siapa tahu o siapa tahu! Anak-anak bermata berlian itu berdiri di
atas tanah kelahirannya menjunjung langit pitam bagai malaikat
bertangan sunyi.
(Lereng menjelang petang, di jambang kumandang
rindu ambang berselang gamang, lir sa’alir alir alirgung!)
b/
Siapa tahu, di bukit rantani itu, terbit matahari,
matahari yang punya bayang-bayang lebih panjang dari batang-batang.
Dan kamu mendekati kakek yang sedang bertani, kakek yang ingin
memanen harapan.
"Ah! tolol! goblok!" umpatmu setelah datang dari seberang
memanggul tas dan tumpukan buku di amben.
(Pahit tembakau,
pahit keringat tak di rantau)
Bila anak-anak menyusuri setapak meliuk dan tembus di jantungku,
ia tengah meluruskan garis garusuk yang membusuk ke jantung ibu,
Bila ia membasuh kakinya dan mencium jejak yang telah tiada
dan memagarinya dengan warna cinta, ia telah membangun surga rahasia.
c/
Akulah anak solang yang meluruskan pandang
dan menoleh pada kakek yang mati
sebelum kamu sulut tubuhku dan kamu susun dan kamu bakar,
jadilah aku arang
kamu menghirupnya di hari kedua yang terasing
Madura-Yogyakarta, 2004/2006
Catatan:
1.Bukit Rantani adalah bukit yang dimitoskan terdiri dari dodol yang dipikul oleh Landaur (bangsa Jin). Bukit ini merupakan bukit gembar yang terkenal dengan bukit pekol, terletak di ujung timur Kabupaten Sumenep Madura
2.Solang daun tembakau setelah panen (Madura)
3.Paesan adalah nisan (Madura)
4.Garusuk adalah daun tembakau yang kering (Madura)
Sumber,http://sastrakarta.multiply.com/
-Non torno vibo alcun, s’iodo il vero
senza tema d’infamia it rispondo – Dante
a/
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada seribu gubuk menyalakan senja
di antara batu-batu kecil sekeras rinduku dan pintu-pintu terbuka
bagi perempuan-perempuan yang melongok ke luar jendela; menatap
kering setapak meliuk dan mekar kembang jagung bagai awan-awan tipis
digesek angin.
(Konon, perempuan-perempuan itu tinggal di tirai bambu dan memakai
sandal kayu. Kini, memasang antena parabola dan rumah kaca)
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu kudengar suara dari dalam gua
memanggil anak rantau yang hilang dan perempuan-perempuan kencing
di atas lobang dan burung-burung turun ke lembah bertekukur di atas
bunga solang. Aku menumbang ilalang yang menusuk bulan.
(Memang, anak bukan bermimpi pulang ke bulan,
anak matahari pulang ke matahari)
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada anak-anak lempung lempang
berjalan menuju puncak. gerak serak beranak pinak di gubuk; anak padi
pada merunduk dan lenggak lenggok angin gili manuk. Siapa tahu o siapa
tahu! siapa tahu o siapa tahu! Anak-anak bermata berlian itu berdiri di
atas tanah kelahirannya menjunjung langit pitam bagai malaikat
bertangan sunyi.
(Lereng menjelang petang, di jambang kumandang
rindu ambang berselang gamang, lir sa’alir alir alirgung!)
b/
Siapa tahu, di bukit rantani itu, terbit matahari,
matahari yang punya bayang-bayang lebih panjang dari batang-batang.
Dan kamu mendekati kakek yang sedang bertani, kakek yang ingin
memanen harapan.
"Ah! tolol! goblok!" umpatmu setelah datang dari seberang
memanggul tas dan tumpukan buku di amben.
(Pahit tembakau,
pahit keringat tak di rantau)
Bila anak-anak menyusuri setapak meliuk dan tembus di jantungku,
ia tengah meluruskan garis garusuk yang membusuk ke jantung ibu,
Bila ia membasuh kakinya dan mencium jejak yang telah tiada
dan memagarinya dengan warna cinta, ia telah membangun surga rahasia.
c/
Akulah anak solang yang meluruskan pandang
dan menoleh pada kakek yang mati
sebelum kamu sulut tubuhku dan kamu susun dan kamu bakar,
jadilah aku arang
kamu menghirupnya di hari kedua yang terasing
Madura-Yogyakarta, 2004/2006
Catatan:
1.Bukit Rantani adalah bukit yang dimitoskan terdiri dari dodol yang dipikul oleh Landaur (bangsa Jin). Bukit ini merupakan bukit gembar yang terkenal dengan bukit pekol, terletak di ujung timur Kabupaten Sumenep Madura
2.Solang daun tembakau setelah panen (Madura)
3.Paesan adalah nisan (Madura)
4.Garusuk adalah daun tembakau yang kering (Madura)
Sumber,http://sastrakarta.multiply.com/
Minggu, 26 Oktober 2008
Sajak-Sajak Tjahjono Widijanto
http://www.lampungpost.com/
DI MEJA MAKAN KELUARGA
Kami senantiasa berhadapan-hadapan di meja makan ini
medan pertarungan yang galak dalam gemuruh denting gelas,
piring, sendok, garpu juga pisau roti yang meringis
saling intai sebelum saatnya tiba
Ibu selalu mengingatkan
"kunyahlah lembut nasi, daging atau kerupuk
sampai hitungan ke empat puluh
ususmu akan aman meremas-remas dan mereka
mendekam lelap sempurna di perutmu"
Di ujung lain, kakakku mengongkel sendok
mencuil daging dan mengiris buah
secepat kilat melempar ke dalam mulutnya
lidah keras mengecap-ngecap; cap, cap, cap
Ibu langsung menyerbu
"suaramu itu mengingatkanku pada lidah serigala
yang kulihat di kebon binatang wonokromo!"
Di seberang lain, adikku perempuan langsung
tersenyum meringis terkikik-kikik, lalu buru-buru
menutupi mulut dengan serbet belacu
"kalau dengar kebon binatang itu
aku jadi ingat pacarku
di bonbin wonokromo kencan pertamaku
sembari menonton kera bersenggama"
Di ujung lain dengan jakun gemetar
bapak bergumam dan mata menyala mengintai
kepala kambing, babat dan usus sapi
sambil mengelus-elus lidah pisau
yang licin menyala
"aku ingat rumah jagal dan ngorok leher sapi yang dijagal"
Ibu tangkas menyerang,
"Bapak harus banyak makan sayur dan lalapan biar kolesterol terjaga
selamat tinggal kepala kambing, babat dan usus sapi
juga rumah jagal dan tukang jagal!"
Di kursi lain, aku berkumur-kumur
dalam gelas sisa air minum
sambil mendelik dan bersendawa
Ibu kembali meyerbu
"Jangan berkumur dengan gelas minummu
gelontor mulut dan perutmu dengan air sumur
karena kuman tak cukup diguyur segelas minum
raung sendawamu itu mengingatkanku
pada sekarat gelandangan di comberan
jangan lupa cuci piring sehabis berpesta!"
Ibu berdiri dari kursinya meninggalkan meja makan
sembari mengibarkan panji-panji kemenangan
Ngawi, 2008
MANGIR
mertua, lewat lancip bayonet dan sangit mesiu, kau mengajari aku memahami sunyi dalam gemuruh cinta ketika senja mulai meratap. tataplah daun semboja di pelataran purimu, ada bayang bocah gagu berteriak bertanya sebaris riwayat bapaknya sedang aku belum lagi sempat mengajari mereka mengahafal nama kakeknya.
kain kemben ibunya pada jemuran itu seperti secarik kitab tua yang tak sanggup menyimpan rahasia peta perjalanan sebuah armada yang makin hari hilang dermaga
di abad-abad yang terlipat cucu-cucumu menggeremang talqin sepanjang malam:
tsuma illa ruhi...--untuk ruh..(yang tak bernama)--
dan kau mengajari menulis kata-kata dalam limbur sajak memburai tak usai-usai
sembari mencucuki kornea mereka dengan peniti yang disimpan pada kutang ibunya
kelak setiap malam mulai terpejam mata tombak di sudut kamar itu akan menikammu memilih mana jeroan paling lunak untuk disantap kau menikmatinya sambil minum wedang sere atau jahe dengan tubuh berkeringat seusai bersenggama
silsilah gemetar menyimpan nama-nama yang dijeritkan di tiap pengkol jalan.
di jagat lain si Penangsang, musuh mudamu tempoh hari mencibir getir
"kau tetap saja arjuna si tukang tenung, don juan dengan bisa setajam sangkelat"
mertua, kapan kau rayakan hari pengantinku...
Ngawi, 2007
SEPERTI SUNGAI
®MDUL¯
belajarlah pada gericik sungai yang setia mengalir
kedung-lubuknya menyimpan kedalaman yang hening
gisiknya mejadi punggung bocah-bocah bermain bola
para nelayan berjejer melempar umpan seperti kesabaran batu kali
belajarlah pada batu-batu sungai
setia mencatat waktu
pergantian musim abadi
menunggui matahari berganti
belajarlah pada pasir-pasir sungai
sabar menunggui bisik-bisik angin
menyerap cahaya demi cahaya
belajarlah pada sungai
yang terus setia mengalir
seperti ketabahan petani
merawat biji menjadi buah
Ngawi, 2008
KETIKA WAKTU MENELAN USIA
®MDUL¯
Rasa-rasanya rumah masih seperti dulu
Jendela dan pintu bercat coklat abu-abu
Tempat dulu mereguk air susu ibu
Hanya jalanan tempat dulu pertama kali
Melangkahkan kaki mengembarai negeri
Dahulu penuh bau humus tanah
Kini bersalin rupa dalam legam aspal
Pekarangan tak lagi penuh bocah-bocah
Main bobak sodor atau jamuran
Di bawah naungan bulan yang lembut
Kini bocah-bocah lebih senang menonton tv
Atau antre main play sation
Pohon mangga dan kedondong di halaman muka
Meski renta masih setia bertahan dalam cuaca
Mengingatkanku pada masa kanak yang gembira
Memanjati lengan-lengannya yang kukuh perkasa
Rasa-rasanya rumah masih seperti dulu
Aku terpaku dalam dendam rindu
Mengenang wajah-wajah lama
Yang sempat terkubur dalam ingatan
Perlahan-lahan bangkit kembali
Bersama pohon-pohon yang baru tumbuh
Menggantikan pohon tua yang makin renta
Bersama musim yang setia berganti
Ngawi, 2008
DI MEJA MAKAN KELUARGA
Kami senantiasa berhadapan-hadapan di meja makan ini
medan pertarungan yang galak dalam gemuruh denting gelas,
piring, sendok, garpu juga pisau roti yang meringis
saling intai sebelum saatnya tiba
Ibu selalu mengingatkan
"kunyahlah lembut nasi, daging atau kerupuk
sampai hitungan ke empat puluh
ususmu akan aman meremas-remas dan mereka
mendekam lelap sempurna di perutmu"
Di ujung lain, kakakku mengongkel sendok
mencuil daging dan mengiris buah
secepat kilat melempar ke dalam mulutnya
lidah keras mengecap-ngecap; cap, cap, cap
Ibu langsung menyerbu
"suaramu itu mengingatkanku pada lidah serigala
yang kulihat di kebon binatang wonokromo!"
Di seberang lain, adikku perempuan langsung
tersenyum meringis terkikik-kikik, lalu buru-buru
menutupi mulut dengan serbet belacu
"kalau dengar kebon binatang itu
aku jadi ingat pacarku
di bonbin wonokromo kencan pertamaku
sembari menonton kera bersenggama"
Di ujung lain dengan jakun gemetar
bapak bergumam dan mata menyala mengintai
kepala kambing, babat dan usus sapi
sambil mengelus-elus lidah pisau
yang licin menyala
"aku ingat rumah jagal dan ngorok leher sapi yang dijagal"
Ibu tangkas menyerang,
"Bapak harus banyak makan sayur dan lalapan biar kolesterol terjaga
selamat tinggal kepala kambing, babat dan usus sapi
juga rumah jagal dan tukang jagal!"
Di kursi lain, aku berkumur-kumur
dalam gelas sisa air minum
sambil mendelik dan bersendawa
Ibu kembali meyerbu
"Jangan berkumur dengan gelas minummu
gelontor mulut dan perutmu dengan air sumur
karena kuman tak cukup diguyur segelas minum
raung sendawamu itu mengingatkanku
pada sekarat gelandangan di comberan
jangan lupa cuci piring sehabis berpesta!"
Ibu berdiri dari kursinya meninggalkan meja makan
sembari mengibarkan panji-panji kemenangan
Ngawi, 2008
MANGIR
mertua, lewat lancip bayonet dan sangit mesiu, kau mengajari aku memahami sunyi dalam gemuruh cinta ketika senja mulai meratap. tataplah daun semboja di pelataran purimu, ada bayang bocah gagu berteriak bertanya sebaris riwayat bapaknya sedang aku belum lagi sempat mengajari mereka mengahafal nama kakeknya.
kain kemben ibunya pada jemuran itu seperti secarik kitab tua yang tak sanggup menyimpan rahasia peta perjalanan sebuah armada yang makin hari hilang dermaga
di abad-abad yang terlipat cucu-cucumu menggeremang talqin sepanjang malam:
tsuma illa ruhi...--untuk ruh..(yang tak bernama)--
dan kau mengajari menulis kata-kata dalam limbur sajak memburai tak usai-usai
sembari mencucuki kornea mereka dengan peniti yang disimpan pada kutang ibunya
kelak setiap malam mulai terpejam mata tombak di sudut kamar itu akan menikammu memilih mana jeroan paling lunak untuk disantap kau menikmatinya sambil minum wedang sere atau jahe dengan tubuh berkeringat seusai bersenggama
silsilah gemetar menyimpan nama-nama yang dijeritkan di tiap pengkol jalan.
di jagat lain si Penangsang, musuh mudamu tempoh hari mencibir getir
"kau tetap saja arjuna si tukang tenung, don juan dengan bisa setajam sangkelat"
mertua, kapan kau rayakan hari pengantinku...
Ngawi, 2007
SEPERTI SUNGAI
®MDUL¯
belajarlah pada gericik sungai yang setia mengalir
kedung-lubuknya menyimpan kedalaman yang hening
gisiknya mejadi punggung bocah-bocah bermain bola
para nelayan berjejer melempar umpan seperti kesabaran batu kali
belajarlah pada batu-batu sungai
setia mencatat waktu
pergantian musim abadi
menunggui matahari berganti
belajarlah pada pasir-pasir sungai
sabar menunggui bisik-bisik angin
menyerap cahaya demi cahaya
belajarlah pada sungai
yang terus setia mengalir
seperti ketabahan petani
merawat biji menjadi buah
Ngawi, 2008
KETIKA WAKTU MENELAN USIA
®MDUL¯
Rasa-rasanya rumah masih seperti dulu
Jendela dan pintu bercat coklat abu-abu
Tempat dulu mereguk air susu ibu
Hanya jalanan tempat dulu pertama kali
Melangkahkan kaki mengembarai negeri
Dahulu penuh bau humus tanah
Kini bersalin rupa dalam legam aspal
Pekarangan tak lagi penuh bocah-bocah
Main bobak sodor atau jamuran
Di bawah naungan bulan yang lembut
Kini bocah-bocah lebih senang menonton tv
Atau antre main play sation
Pohon mangga dan kedondong di halaman muka
Meski renta masih setia bertahan dalam cuaca
Mengingatkanku pada masa kanak yang gembira
Memanjati lengan-lengannya yang kukuh perkasa
Rasa-rasanya rumah masih seperti dulu
Aku terpaku dalam dendam rindu
Mengenang wajah-wajah lama
Yang sempat terkubur dalam ingatan
Perlahan-lahan bangkit kembali
Bersama pohon-pohon yang baru tumbuh
Menggantikan pohon tua yang makin renta
Bersama musim yang setia berganti
Ngawi, 2008
Jumat, 19 September 2008
Sajak-Sajak Mashuri
MATA TUNGGAL SANG PECINTA
aku cintai senyap yang tumbuh sebagai sayap
kupu
warnanya ungu; beterbangan di tetaman kalbu
yang tak kunjung rindang
: kerna kesejukan telah berlalu
ke ujung pandang
ketika ulat terus menggeliat daun-daun,
kepompong pun ingkar janji ---dan sunyi
yang aku harap, tinggal gelap
bergelayut di akar-akar
pikiran, membelit langkah
‘tuk rayakan pesta warna
di mata tunggal
seorang pecinta yang gagal
Surabaya, 2008
BEBUAH LONTAR
kau berkisah bebuah lontar
aku teringat siwalan
lalu kita sama memanjat ingatan masing-masing
seperti seorang pembaca mengenal aksara asing
yang tertera di kertas usang
-juga dedaun yang dikeringkan
lalu kita berjemur di bawah terik
agar ada yang kekal dari kilat ingat kita
meski kita tahu antara lontar dan siwalan
sering saling berganti untuk melengkapi
tentang sebuah nama
Surabaya, 2008
ARAK NASIB
aku angkat cawan kesekian di atas berpundi arak
ketika kita bersandar di meja
dan saling gelak: perihal nasib yang terus mengeja
arus renjana
kau bangkit lalu kau sorongkan mimpi bandit
ketika sang lanun, jiwa kita, harus berkendara ke langit
lalu mengutip sebuah kata
yang bisa membuat dunia terpeta, dalam ruang nyata
kita pun bersendawa: ‘kun’
arak pun tumpah di mata kita
dunia tampak tumpah ruah
Surabaya, 2008
aku cintai senyap yang tumbuh sebagai sayap
kupu
warnanya ungu; beterbangan di tetaman kalbu
yang tak kunjung rindang
: kerna kesejukan telah berlalu
ke ujung pandang
ketika ulat terus menggeliat daun-daun,
kepompong pun ingkar janji ---dan sunyi
yang aku harap, tinggal gelap
bergelayut di akar-akar
pikiran, membelit langkah
‘tuk rayakan pesta warna
di mata tunggal
seorang pecinta yang gagal
Surabaya, 2008
BEBUAH LONTAR
kau berkisah bebuah lontar
aku teringat siwalan
lalu kita sama memanjat ingatan masing-masing
seperti seorang pembaca mengenal aksara asing
yang tertera di kertas usang
-juga dedaun yang dikeringkan
lalu kita berjemur di bawah terik
agar ada yang kekal dari kilat ingat kita
meski kita tahu antara lontar dan siwalan
sering saling berganti untuk melengkapi
tentang sebuah nama
Surabaya, 2008
ARAK NASIB
aku angkat cawan kesekian di atas berpundi arak
ketika kita bersandar di meja
dan saling gelak: perihal nasib yang terus mengeja
arus renjana
kau bangkit lalu kau sorongkan mimpi bandit
ketika sang lanun, jiwa kita, harus berkendara ke langit
lalu mengutip sebuah kata
yang bisa membuat dunia terpeta, dalam ruang nyata
kita pun bersendawa: ‘kun’
arak pun tumpah di mata kita
dunia tampak tumpah ruah
Surabaya, 2008
Minggu, 24 Agustus 2008
Sajak Mardi Luhung
PENGANTEN PESISIR
Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring
di depan para pesilat bertopeng monyet
celeng, macan, dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit
aku datang dalam muasal bercinta
seperti dulu ketika kita sama-sama punya pagi
sama-sama mengumpulkan telur-telur sembilang
lalu dikeringkan kemudian digoreng
ketika senja menyelinap di jajaran
macapat-macapatmu yang kini tinggal bisik
dan tahukah kau yang paling aku benci?
adalah ketika kita sama-sama ke sekolah
dan sama-sama disebut : “Orang Laut,”
orang yang dianggap kosro
kurang adat dan keringatnya pun seamis
lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai
aku datang dalam itikad berumah tangga
melengkungkan janur, membikin primbon bahagia
dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu
tapi, seperti juga mercusuar yang kini tinggal letak
dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu
adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak
sementara itu, kertas-kertas kwitansi
telah mengubah sperma-sperma kita menjadi
lumut-lumut yang entah siapa panggilannya…..
Gresik, 1993
Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring
di depan para pesilat bertopeng monyet
celeng, macan, dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit
aku datang dalam muasal bercinta
seperti dulu ketika kita sama-sama punya pagi
sama-sama mengumpulkan telur-telur sembilang
lalu dikeringkan kemudian digoreng
ketika senja menyelinap di jajaran
macapat-macapatmu yang kini tinggal bisik
dan tahukah kau yang paling aku benci?
adalah ketika kita sama-sama ke sekolah
dan sama-sama disebut : “Orang Laut,”
orang yang dianggap kosro
kurang adat dan keringatnya pun seamis
lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai
aku datang dalam itikad berumah tangga
melengkungkan janur, membikin primbon bahagia
dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu
tapi, seperti juga mercusuar yang kini tinggal letak
dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu
adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak
sementara itu, kertas-kertas kwitansi
telah mengubah sperma-sperma kita menjadi
lumut-lumut yang entah siapa panggilannya…..
Gresik, 1993
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar