A Rodhi Murtadho
http://sastra-indonesia.com/
Sampah? Sudah melebihi jajaran pegunungan, bahkan sudah punya keinginnan untuk membentuk galaksi. Mengalahkan Bima Sakti. Entah mulai kapan keinginan itu mulai tercipta. Yang pasti sejak mereka mampu membentuk planet sampah lengkap dengan satelitnya.
Aku tak tahu bagaimana mereka berkomunikasi. Keakraban muncul. Berkembang biak tanpa perkawinan yang berarti. Yang aku tahu keinginan mereka, dalam kacamata mereka, baik dan tulus dari hati nurani. Menggalang persatuan demi mewujudkan cita-cita mereka.
“Bagaimana kita bisa berkembang biak cepat di bumi ya?” ucap salah satu sampah yang menyerupai botol, “padahal manusia sangat punya keinginan memusnahkan kita.”
“Itu gampang,” kata salah satu sampah yang hancur, tak berbentuk, tak menyerupai apapun, “kita bisikkan pada industri untuk membuat kemasan yang tidak bisa didaur ulang dan tidak mudah terurai oleh bakteri. Seperti diriku yang kian hari makin hancur oleh bakteri sialan ini. Bentukku sungguh menyedihkan.”
“Ya…ya. Boleh juga. Lantas bagaimana tentang rencana kita untuk menyingkirkan manusia dari bumi.”
“Tentu saja akan kita lakukan. Semua koloni seantero jagad juga sudah siap. Tinggal mengatur strategi saja.”
Aku bahkan tidak percaya, langkah mereka sudah sedemikian jauhnya. Bahkan manusia yang menciptakan mereka, ingin mereka singkirkan. Apalagi dengan rencana mereka yang ingin berkembang biak besar-besaran. Makin membuatku khawatir.
Manusia memang hanya mampu berpikir tanpa bisa mewujudkan pikiran itu. Sementara mereka, sampah, bisa mewujudkan keinginan mereka dengan setiap tidakan yang dilakukan manusia. Layaknya dapat dikatakan bahwa mereka sudah memiliki setiap diri mereka sendiri. Sedangkan manusia hanya memiliki sampah dari dirinya.
Bahkan pikiran yang seharusnya menjadi kelebihan dan kebanggan manusia, sekarang, menjadi sampah. Pikiran sampah. Tak pernah terdengar, tercampakkan yang pasti, kegemilangan dari kecerdasan pikiran. Semua hanya mampu menciptakan sampah baru.
Kuberanikan diriku menghadap pada jutaan sampah. Dalam keadaan sedang diskusi dan menyiapkan strategi. Dengan sedikit risih yang muncul. Kulihat di jajaran sampah pemandangan yang tak lulus sensor. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tak juga kaget dengan kedatanganku.
Leleran cairan hasil hubungan mereka pun tercecer tak tertampung. Cairan yang seharusnya berada dalam rahim. Menjadi calon orok. Kupahami itu karena aku tahu kalau mereka hanya memiliki kelamin tanpa rahim. Sungguh pemandangan yang luar biasa biadabnya menurut orang-orang suci.
“Hai sampah! Jangan kau terlalu berani pada manusia. Manusia juga punya rencana menghancurkan kalian,” ucapku, “bukan hanya menyerahkan kalian pada bakteri saja, tapi lebih dari itu kalian tidak akan bisa berkembang biak karena akan kuciptakan sendiri kemasan atau benda yang bisa dipakai lagi dan tidak akan dibuang.”
“Bagaimana kau akan melakukan?” jawab salah satu sampah yang hampir tidak berbentuk, yang tadi bercakap dengan botol sampah, “kami tahu itu akan hanya ada dalam pikiranmu. Atau paling tidak, jika terwujud hanya akan ada padamu saja. Kami akan tetap berkembang biak melalui pikiran dari manusia lainnya bukan kau tentunya.”
“Kau akan kubakar!”
“Dengan apa kau akan membakarku? Kalau kau membakarku tentu dengan mudah aku menjadi sampah baru. Sampah udara. Dengan mudah aku dapat berkembang biak. Membuat sampah baru lagi. Sampah manusia.”
“Bagaimana caranya? Kau hanya sampah dan bagaimana kau bisa menjadikan manusia sebagai sampah. Bukankah sampah tetap menjadi sampah dan manusialah yang menghasilkanmu.”
“Aku hidup. Ya, karena aku hidup sekarang. Dengan bentukku sekarang, kusengat penciuman manusia. Dan kalau kau bakar aku, aku dengan mudah dapat masuk ke paru-paru manusia, aliran darah, jantung, otak, bahkan setiap lubuk hati manusia. Manusia akan lumpuh, tak punya perasaan lagi. Yang akan menjadi sampah kami berupa tubuh yang sudah ditinggalkan rohnya. Atau tubuh yang sudah ditinggalkan otak dan pemikiran tentang kami.”
Tumpukan-tumpukan sampah berloncatan di hadapanku. Memperlihatkan diri kalau mereka hidup. Sempat aku terheran. Bagaimana mereka hidup? Sementara mereka hanya barang mati tak berharga. Bentuk mereka pun tak pantas dikatakan sebagai makhluk hidup. Siapa yang memberi mereka nyawa? Atau mereka hidup dari baterai atau semacamnya tapi tak kulihat itu pada diri mereka.
“Hai sampah,bagaimana kau hidup?” tanyaku.
“Aku hidup dari pikiran manusia, nyawa kami dari hasil pemikiran yang dituangkan pada diri kami.”
“Lantas, semangatmu?”
“Kami dapat semangat juga dari pemikiran manusia. Selain dari perasaan senasib kami, sesama sampah, bertemu dengan saudara-saudara yang lain di tempat manusia mempertemukan kami.”
Semakin terperangah aku dibuatnya. Bagaimana mungkin sampah mempunyai perasaan. Punya semangat juang. Sementara manusia saja kadang-kadang tidak mempunyai perasaan. Tidak punya semangat juang untuk membasmi sampah-sampah ini.
Aku merasa semakin terpojok dengan sampah-sampah ini. Tak heran kalau mereka sudah bisa membentuk gunung. Planet dan satelitnya. Lantas bagaimana jika mereka menyerangku? Apa yang bisa kulakukan? Untuk lari pun tak mungkin. Karena setiap memandang hanya kutemukan sampah. Tanah yang kuinjak layaknya berubah menjadi lautan sampah.
“Ehmmm…,Tuan Sampah, bagaimana kalau manusia dan sampah saling berdamai? Hidup berdampingan, saling membantu, dan bertenggang rasa.”
“Tidak bisa. Manusia sudah memperlakukan kami tidak sewajarnya.”
“Maksud, Tuan?”
“Kau lihat sendiri, kami dibuang ke angkasa luar setelah bumi tak mampu lagi menampungnya. Untungnya kami bisa membentuk jajaran planet. Jadi kami bisa hidup. Enak saja mau damai! Kami akan menumpas habis manusia, mengusirnya dari bumi.”
“Ke mana Tuan akan mengirim kami?”
“Jelas ke angkasa luar. Sama seperti mereka mengirim saudara-saudara kami. Biar merasakan betapa tidak enaknya hidup di luar orbit.”
Gundukan-gundukan sampah mulai berdiri. Mengelilingiku. Nyalang mata mereka penuh emosi. Kepalan tangan mereka memaksaku memperbesar rasa takutku yang ada.
Aku mulai berpikir kalau mereka ada dan hidup seperti saat ini. Atau keinginan mereka untuk menyingkirkan manusia itu benar adanya. Barisan mereka yang kuat semata-mata disebabkan kelalaian kami. Menganggap remeh sampah. Aku teringat ketika koloni mereka tak begiu banyak. Mereka tak punya kekuatan. Tapi tata ruang tempat tinggal kami memberi peluang mereka berkembang pesat. Kebiasaan kami, membuang mereka sembarangan, sering dimanfaatkan mereka.
“Eh…, begini,” tubuhku mulai bergetar, “Tuan Sampah bagaimana kalau Tuan kami pergunakan lagi.”
“Manusia? Menggunakan sampah? Untuk apa? Dan mana mungkin? Kami tahu kebiadaban manusia. Penginkaran-pengingkaran yang mereka lakukan. Bahkan sesama manusia. Menciptakan lingkungan tanpa kami katanya. Mana buktinya? Semuanya hanya omong kosong. Apalagi janjimu seorang diri. Bagaimana kami bisa percaya?”
“Lantas mau Tuan apa?”
“Manusia harus menjadi budak kami!”
“Mana mungkin Tuan. Kami sebenarnya yang diciptakan Tuhan untuk lebih berakal. Bukan sampah. Itu tak mungkin terjadi karena derajat kami sebenarnya lebih tinggi dari sampah.”
Gundukan-gundukan sampah mulai menghantamku. Memegang erat tubuhku. Bahkan ada yang sempat masuk ke dalam tubuhku melalui rongga hidung, mulut, telinga, anus. Aku mersakan otakku diremas sampai pecah. Darahku pun mulai muncrat keluar. Jantungku mereka keluarkan. Bahkan seluruh isi perut sampai terburai keluar. Hatiku pun mereka sayat-sayat menjadi potongan kecil-kecil. Sampai kudapati diriku sudah menjadi sampah.
Gresik, 17 April 2006
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label A Rodhi Murtadho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Rodhi Murtadho. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Mei 2011
Jumat, 26 Desember 2008
Bumi Asih
A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/
Bumi dan Asih terus berkasih. Di tengah jelaga malam maupun di terik siang. Jiwa beraga petang di selimut kerinduan. hayal menggelepar di senyum kecut dahaga hening. Bumi merana dalam sendiri. Terinjak-injak sepi dalam kekalutan. Apa mau dirasa hanya berpulang gelisah.
Wajah bumi melas mengeras. Batas sudah lepas. Kewajaran dari tipu daya. Kering kerontang merana. Segala isi dikeluarkan. Semburat tanpa pesan. Hanya meninggalkan sampah. Restu berpulang ketika petang. Dengan halang, terus saja menyediakan. Bumi merasa kosong. Melayang tak karuan. Rotasi dan revolusi sudah tak pada lintasan. Sering kandas dan melenceng. Kekuatan telah hilang.
Sengat gravitasi menganaktirikan. Burung-burung raksasa bermuatan manusia ditempa. Tak stabil melayang. Ada yang dipatahkan dengan tekanan. Ada yang diceburkan. Tenggelam. Pelampung-pelampung penuh daya kecurangan diguncang. Terbakar atau tenggelam. Hanya peringatan yang hendak disampaikan. Tak diindahkan. Hanya kesedihan meradang.
"Asih, kau tahu. Aku tak pernah meratap atas tindakan manusia yang dilakukan padaku. Apapun adanya. Aku hanya menjalankan tugas. Tapi sunggguh benar-benar manusia sangat keterlaluan," Bumi serius berkata.
"Lalu bagaimana lagi Bumi. Aku sudah menebarkan auraku berupa kasih pada banyak hati kelam di kegelapan malam," Asih merayu menenangkan.
Terjal menghempas di kegalauan. Saling memikir tak saling bertanya lagi. Hanya mencerna tindakan manusia yang gagah berdiri di atas Bumi. Mengepak-ngepakkan kaki di sembarang tempat. Mencakar-cakar dan mencarut-marutkan. Memberi lubang dan menanduskan Bumi yang sebenarnya lebih perkasa. Bumi diam.
Asih tahu kalau Bumi marah. Asih memaki manusia dengan sapaan kasih dan rayuan maut. Menaklukkan terjal dan kerasnya hati manusia. Memasuki pori-pori kebekuan. Mencairkan dengan hangat deru nafas.
"Jangan kau teruskan Manusia, Bumi akan marah. Kau tahu bukan. Bumi lebih perkasa dari dirimu. Seandainya aku tak memancarkan asih-kasihku pada Bumi, tentu emosi dahsyat akan keluar. Kalau tak kucegah, Bumi akan melibas kalian. Tentu duniamu berakhir. Aku tak bisa mencegah terus-terusan. Kau tahu bukan! Bagaimanapun aku melarang, Bumi masih saja memainkan peran emosinya. Sedikit bencana untuk peringatan, begitu kata Bumi padaku. Kau harusnya merasa malu dan menyadari kelalaianmu," Asih pelan-pelan melarang.
"Aku tak peduli. Bumi diciptakan untukku. Bukannya pantas kalau aku menggunakan dan memanfaatkan Bumi sesuai keinginanku."
"Kau sudah kuperingatkan dengan Welas asih yang kumiliki. Bersabar atas tingkahmu. Perbuatanmu mengubah wajah bumi sungguh tak bisa berterima. Kau gundulkan kerindangan. Kau gantikan kehijauan. Menanduskan kesuburan. Gedung-gedung pencakar langit kau dirikan. Menutup semua dataran dengan rumah. Sampai-sampai Bumi sesak bernafas. Semua demi keuntunganmu semata. Uang dan kehormatan. Aku hanya ingin kau bisa menghormati dan menghargainya. Membalas kebaikannya dengan kebaikan. Menjaga dan melestarikan. Bukan malah tambah menghina dan merusaknya."
"Lihatlah yang akan kulakukan dan apa yang bisa dilakukan Bumi kepadaku!"
Manusia membuka celana. Memlorot. Dengan bangga mengeluarkan air seni. Bumi dikencingi. Muncrat ke sana kemari membasahi tak merata. Bau pesing dan apek membuat Bumi tak lagi bisa menahan amarah yang lama terpendam. Bumi menggoyangkan tubuh. Mengumpulkan air dalam kemihnya. Dipersiapkan untuk mengguyur manusia. Bumi ingin membalas. Mengencingi manusia. Segera muncrat. Air busuk bercampur lumpur. Tepat mengenai raut muka yang sebelumnya riang. Mendadak lesu dan terancam.
"Kau! Manusia memang tak pernah tahu diri. Aku sudah bersabar dengan apa yang selama ini kau lakukan. Tapi kau seakan tak pernah mengerti, aku juga ingin dihormati dan dihargai walaupun aku tak pernah memintanya. Kukikra kau sebagai khalifah, tahu diri. Membalas keuntungan yang kau dapat dariku dengan melestarikanku,” kata Bumi.
"Lantas apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menuntutmu. Membawa perkara ini kepada Tuhan."
"Ha! Menuntut. Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku setelah kau menuntut. Kau hanya bisa menuntut dan hanya menuntut. Harusnya kau sadar kalau kau diciptakan Tuhan untukku."
"Baiklah kalau itu maumu. Ternyata kau belum juga sadar. Sedikit bencana sudah kuturunkan dari perbuatanmu menyakiti hatiku. Namun kau tak sadar juga. Aku masih bersabar, aku akan memberimu waktu. Kesabaran ini atas permintaan Asih. Sebaiknya kau perbaiki kelakuanmu dan memikirkan kembali perbuatanmu padaku. Jika kau tidak berubah, aku akan benar-benar melakukan penuntutanku dan merealisasikan bencana,” terang Bumi
"Kau mengancam."
"Iya sebaiknya kau pikirkan," sela Asih, "aku juga akan menuntutmu, bukan hanya bumi. Sebaiknya kau pulang dan berpikir. Aku dan Bumi sudah muak melihat tampangmu."
Senja berlalu berkali-kali. Angin tetap saja berhembus. Matahari juga masih memekikkan panasnya. Waktu bersinggasana dan menjadi penentu. Detik berlalu. Menit dan jam otomatis ikut melagukan waktu. Hari, minggu, bulan terus berlayar mengarungi jeruji dalam atap ketidakberdayaan. Hanya berlalu tak memikir yang lalu. Hanya tahu masa depan. Tak peduli meski banyak yang meminta mereka kembali mengulang. Kembali pada masa. Kembali kepada yang ingin diperbaiki.
Bumi semakin panas. Tingkah Manusia tak juga berubah. Bumi mengumpulkan banyak unsur yang ada. Air, Angin, Api, Lumpur untuk dipanggil dan diajak merundingkan sesuatu yang akan dilakukan kepada manusia. Saling mencurahkan isi hati mereka. Uneg-uneg yang juga lama bertengger dalam benak dan jiwa mereka. Uneg-uneg yang sama mengenai kebiadaban manusia. Memperlakukan mereka seenaknya.
"Kita satukan kekuatan dan memberi bencana pada Manusia. Tentu Manusia akan merenung dan memikirkan betul-betul: Mengapa kita melakukannya? Dari situ, tentu tingkah mereka akan berubah," usul Angin yang disambut hangat dan anggukan setuju dari semua yang hadir.
"Baiklah," tegas Bumi menyahuti, "kalau semua setuju dengan usul Angin, kita bersama-sama akan melakukannya mulai besok. Sudah sesuai peringatan yang aku berikan dulu pada Manusia."
Angin menghimpun kekuatan dan meniupkan dirinya kuat-kuat. Namun tak cukup menggoyahkan Manusia dengan segala pertahanan rumah-rumah. Air yang mengetahui itu, segera membantu. Rintik deras merenda Angin.
Angin memutarkan Air. Kencang menjadi bogem raksasa. Meninju-ninju liar. Menyapu habis pertahanan Manusia. Rumah-rumah roboh. Terjungkir. Manusia hanya bisa melongo. Tampak bodoh.
Bumi dan lumpur segera menggabungkan diri. Air dan Angin sengaja dibiarkan memasuki tubuh mereka dalam-dalam. Kekuatan yang biasanya menopang dan mencengkeram di bukit-bukit dan gunung sudah tak ada lagi. Habis di tebang Manusia. Bumi dan Lumpur dengan mudah merobohkan diri. Melongsorkan diri kepada Manusia.
Di satu bagian tubuh Bumi yang lain, Bumi merasa sangat tersakiti ketika bor tajam menancap. Meski cerca dan ramalan tak menguntungkan, Manusia tetap saja memperdalam tancapan bor. Ada harta minyak yang banyak diidamkan semua Manusia. Kekayaan melimpah. Harta benda sebagai imbalan keuntungan.
Bukan minyak, Bumi mengeluarkan lumpur panas berbau bangkai. Merusak segala tatanan yang memang ditata rapi Manusia. Menghancurkan perlahan. Merampas segala kewenangan atas diri Manusia sendiri, bahkan.
"Wahai kau Manusia! Apa kau sudah mengerti keberingasan kami. Kau masih akan meneruskan perlakuan biadabmu kepada kami? Bukan hanya aku, Bumi, yang menuntutmu, tetapi lihatlah sendiri. Air, Angin, Api, Lumpur juga sudah tak tahan lagi merasakan kekurangajaranmu. Semua menuntutmu."
"Kalian menuntut dan merealisaikan bencana. Tapi tetap saja kalian tak bisa menjamahku. Kalian salah sasaran. Bukankah semestinya kalian yang seharusnya sadar. Orang-orang baik dan alim, kalian timpahi bencana. Terbunuh dengan mengenaskan. Sementara kami orang-orang yang telah merusak dan membuat sakit hati, yang seharusnya kalian timpahi bencana, masih saja selamat.”
"Kau. Ha...ha...!" ngakak bumi tertawa, “kau tidak tahu dan tak paham skenario yang sedang kami jalankan dari Tuhan. Orang-orang alim dan baik ini kami timpahi bencana lebih dulu sehingga bertemu lebih cepat kepada Tuhan. Tentu kebaikan yang dilakukan di dunia akan membawa mereka pada nikmat di alam selanjutnya. Setelah orang-orang alim habis, tinggallah kalian pembuat onar. Akan kami beri bencana tanpa halangan dan doa dari mereka, orang-orang alim. Kami leluasa memberi bencana. Mengacak-acak kalian sampai lumat. Menggulung kalian dalam kebingungan bencana. Penderitaan yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Setelah itu, Tuhan akan memerintahkan malaikat meniupkan terompetnya. Mengakhiri dunia. Tentu kami tak bisa menolak dan dengan sangat senang bisa mengakhiri tugas kami dengan baik.”
“Kalau begitu!”
“Ya, memang benar. Sebelum semuanya terlambat, umumkanlah pada semua manusia skenario ini. Jika kesadaran manusia lebih dini, tentu Tuhan akan memerintahkan kami untuk berhenti memberi bencana.”
“Tapi, bagaimana mereka bisa mempercayai saya? Lantas bagaimana saya bisa menjadi baik. Saya tidak tahu caranya. Jika kalian terus-terusan mengambil orang-orang baik, darimana saya bisa belajar baik. Siapa yang patut saya contoh.”
“Jadi kau ingin berbuat baik?”
“Sangat ingin. Sepertinya ingin mati lebih cepat. Saya ngeri dan takut menyaksikan bencana yang Tuhan janjikan. Skenario yang membuat orang, jika mendengarnya, pasti akan berhenti dari kelakuan buruk. Kembali menjalankan kebaikan. Menjaga alam dan melestarikan. Bukan mengambil keuntungan dengan jalan merusaknya.”
“Kepada Asih belajarlah kebaikan. Sifat kasihnya patut kau contoh. Dan jika kau kabarkan berita ini kepada manusia-manusia lainnya, tentu ini akan menjadi kebaikan bagimu. Yang mengabarkan kebaikan adalah manusia yang baik. Tentu saja, manusia lainnya akan mempercayaimu jika kau sendiri melakukan kebaikan itu. Dan juga menjadi teladan bagi manusia lainnya.”
“Ha...ha...siapa yang bakal percaya dengan skenario Tuhan. Siapa juga yang mau menjadi orang baik. Aku bukan lagi anak kecil. Setia mendengarkan dongeng pengantar lelap. Biarlah, kalian mampuskan semua orang-orang baik dan alim. Toh itu juga keuntungan bagiku. Tak ada yang akan menghalagiku untuk berbuat sesukaku. Tak ada yang melerai. Hah, aku akan bebas. Benar-benar bebas. Manusia utuh dan bebas.”
“Kau membohongi kami!”
“Siapa juga yang bodoh mendengar dan mempercayai ocehan kalian. Hanya kalian saja yang memang benar-benar bodoh dan dungu. Semua manusia tahu kalau aku adalah pembual dan pembohong kelas kakap. Tak ada satu pun yang tak berhasil aku perdayai. Termasuk kalian.”
Kemarahan yang tak ada tedeng aling-aling lagi. Emosi menguasai. Tangan-tangan perkasa dipersiapkan. Kaki-kaki jenjang bebukitan memperlihatkan ototnya. Bersiap menendang. Nyalang mata makin membinarkan tajam matahari. Bumi memanas. Air memanas. Udara memanas. Mencairkan dan membakar kutub.
"Manusia, kemanapun kau lari, kau takkan lepas dari kami. Akan kami urug kau hidup-hidup. Biar sebagian tubuhmu dimakan cacing. Kami akan mengentaskan tubuh busukmu yang masih hidup. Sehingga kau hanya bisa berputus asa dan kesakitan luar biasa kau rasakan. Tak ada semangat hidup. Yang terbayang adalah kematian. Namun jika kau mati, dimanapun kau dipendam atau dibakar, kami akan menolakmu. Membiarkan tubuhmu membusuk.”
Bumi, Air, Angin, Lumpur makin garang mempercepat proses tugas yang diberikan Tuhan kepada Manusia. Pukulan bertubi-tubi Angin dan Air makin mengacaubalaukan kehidupan. Manusia sudah tak mampu lagi menahan kekuatan mereka. Ada yang dibanting-banting dan hanya tersisa sebagian tubuh hidup penuh luka dan cacat. Longsor dari Lumpur langsung memendam mereka tanpa tanda pemakaman yang berarti. Namun lumpur kembali memuntahkan mereka dengan tubuh tak utuh lagi. Masih hidup. Hanya isak tangis. Berharap tubuh busuknya bisa segera menjemput ajal. Berharap tubuh-tubuh busuk segera bisa diberi wewangian.
Surabaya, 24 April 2007.
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/
Bumi dan Asih terus berkasih. Di tengah jelaga malam maupun di terik siang. Jiwa beraga petang di selimut kerinduan. hayal menggelepar di senyum kecut dahaga hening. Bumi merana dalam sendiri. Terinjak-injak sepi dalam kekalutan. Apa mau dirasa hanya berpulang gelisah.
Wajah bumi melas mengeras. Batas sudah lepas. Kewajaran dari tipu daya. Kering kerontang merana. Segala isi dikeluarkan. Semburat tanpa pesan. Hanya meninggalkan sampah. Restu berpulang ketika petang. Dengan halang, terus saja menyediakan. Bumi merasa kosong. Melayang tak karuan. Rotasi dan revolusi sudah tak pada lintasan. Sering kandas dan melenceng. Kekuatan telah hilang.
Sengat gravitasi menganaktirikan. Burung-burung raksasa bermuatan manusia ditempa. Tak stabil melayang. Ada yang dipatahkan dengan tekanan. Ada yang diceburkan. Tenggelam. Pelampung-pelampung penuh daya kecurangan diguncang. Terbakar atau tenggelam. Hanya peringatan yang hendak disampaikan. Tak diindahkan. Hanya kesedihan meradang.
"Asih, kau tahu. Aku tak pernah meratap atas tindakan manusia yang dilakukan padaku. Apapun adanya. Aku hanya menjalankan tugas. Tapi sunggguh benar-benar manusia sangat keterlaluan," Bumi serius berkata.
"Lalu bagaimana lagi Bumi. Aku sudah menebarkan auraku berupa kasih pada banyak hati kelam di kegelapan malam," Asih merayu menenangkan.
Terjal menghempas di kegalauan. Saling memikir tak saling bertanya lagi. Hanya mencerna tindakan manusia yang gagah berdiri di atas Bumi. Mengepak-ngepakkan kaki di sembarang tempat. Mencakar-cakar dan mencarut-marutkan. Memberi lubang dan menanduskan Bumi yang sebenarnya lebih perkasa. Bumi diam.
Asih tahu kalau Bumi marah. Asih memaki manusia dengan sapaan kasih dan rayuan maut. Menaklukkan terjal dan kerasnya hati manusia. Memasuki pori-pori kebekuan. Mencairkan dengan hangat deru nafas.
"Jangan kau teruskan Manusia, Bumi akan marah. Kau tahu bukan. Bumi lebih perkasa dari dirimu. Seandainya aku tak memancarkan asih-kasihku pada Bumi, tentu emosi dahsyat akan keluar. Kalau tak kucegah, Bumi akan melibas kalian. Tentu duniamu berakhir. Aku tak bisa mencegah terus-terusan. Kau tahu bukan! Bagaimanapun aku melarang, Bumi masih saja memainkan peran emosinya. Sedikit bencana untuk peringatan, begitu kata Bumi padaku. Kau harusnya merasa malu dan menyadari kelalaianmu," Asih pelan-pelan melarang.
"Aku tak peduli. Bumi diciptakan untukku. Bukannya pantas kalau aku menggunakan dan memanfaatkan Bumi sesuai keinginanku."
"Kau sudah kuperingatkan dengan Welas asih yang kumiliki. Bersabar atas tingkahmu. Perbuatanmu mengubah wajah bumi sungguh tak bisa berterima. Kau gundulkan kerindangan. Kau gantikan kehijauan. Menanduskan kesuburan. Gedung-gedung pencakar langit kau dirikan. Menutup semua dataran dengan rumah. Sampai-sampai Bumi sesak bernafas. Semua demi keuntunganmu semata. Uang dan kehormatan. Aku hanya ingin kau bisa menghormati dan menghargainya. Membalas kebaikannya dengan kebaikan. Menjaga dan melestarikan. Bukan malah tambah menghina dan merusaknya."
"Lihatlah yang akan kulakukan dan apa yang bisa dilakukan Bumi kepadaku!"
Manusia membuka celana. Memlorot. Dengan bangga mengeluarkan air seni. Bumi dikencingi. Muncrat ke sana kemari membasahi tak merata. Bau pesing dan apek membuat Bumi tak lagi bisa menahan amarah yang lama terpendam. Bumi menggoyangkan tubuh. Mengumpulkan air dalam kemihnya. Dipersiapkan untuk mengguyur manusia. Bumi ingin membalas. Mengencingi manusia. Segera muncrat. Air busuk bercampur lumpur. Tepat mengenai raut muka yang sebelumnya riang. Mendadak lesu dan terancam.
"Kau! Manusia memang tak pernah tahu diri. Aku sudah bersabar dengan apa yang selama ini kau lakukan. Tapi kau seakan tak pernah mengerti, aku juga ingin dihormati dan dihargai walaupun aku tak pernah memintanya. Kukikra kau sebagai khalifah, tahu diri. Membalas keuntungan yang kau dapat dariku dengan melestarikanku,” kata Bumi.
"Lantas apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menuntutmu. Membawa perkara ini kepada Tuhan."
"Ha! Menuntut. Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku setelah kau menuntut. Kau hanya bisa menuntut dan hanya menuntut. Harusnya kau sadar kalau kau diciptakan Tuhan untukku."
"Baiklah kalau itu maumu. Ternyata kau belum juga sadar. Sedikit bencana sudah kuturunkan dari perbuatanmu menyakiti hatiku. Namun kau tak sadar juga. Aku masih bersabar, aku akan memberimu waktu. Kesabaran ini atas permintaan Asih. Sebaiknya kau perbaiki kelakuanmu dan memikirkan kembali perbuatanmu padaku. Jika kau tidak berubah, aku akan benar-benar melakukan penuntutanku dan merealisasikan bencana,” terang Bumi
"Kau mengancam."
"Iya sebaiknya kau pikirkan," sela Asih, "aku juga akan menuntutmu, bukan hanya bumi. Sebaiknya kau pulang dan berpikir. Aku dan Bumi sudah muak melihat tampangmu."
Senja berlalu berkali-kali. Angin tetap saja berhembus. Matahari juga masih memekikkan panasnya. Waktu bersinggasana dan menjadi penentu. Detik berlalu. Menit dan jam otomatis ikut melagukan waktu. Hari, minggu, bulan terus berlayar mengarungi jeruji dalam atap ketidakberdayaan. Hanya berlalu tak memikir yang lalu. Hanya tahu masa depan. Tak peduli meski banyak yang meminta mereka kembali mengulang. Kembali pada masa. Kembali kepada yang ingin diperbaiki.
Bumi semakin panas. Tingkah Manusia tak juga berubah. Bumi mengumpulkan banyak unsur yang ada. Air, Angin, Api, Lumpur untuk dipanggil dan diajak merundingkan sesuatu yang akan dilakukan kepada manusia. Saling mencurahkan isi hati mereka. Uneg-uneg yang juga lama bertengger dalam benak dan jiwa mereka. Uneg-uneg yang sama mengenai kebiadaban manusia. Memperlakukan mereka seenaknya.
"Kita satukan kekuatan dan memberi bencana pada Manusia. Tentu Manusia akan merenung dan memikirkan betul-betul: Mengapa kita melakukannya? Dari situ, tentu tingkah mereka akan berubah," usul Angin yang disambut hangat dan anggukan setuju dari semua yang hadir.
"Baiklah," tegas Bumi menyahuti, "kalau semua setuju dengan usul Angin, kita bersama-sama akan melakukannya mulai besok. Sudah sesuai peringatan yang aku berikan dulu pada Manusia."
Angin menghimpun kekuatan dan meniupkan dirinya kuat-kuat. Namun tak cukup menggoyahkan Manusia dengan segala pertahanan rumah-rumah. Air yang mengetahui itu, segera membantu. Rintik deras merenda Angin.
Angin memutarkan Air. Kencang menjadi bogem raksasa. Meninju-ninju liar. Menyapu habis pertahanan Manusia. Rumah-rumah roboh. Terjungkir. Manusia hanya bisa melongo. Tampak bodoh.
Bumi dan lumpur segera menggabungkan diri. Air dan Angin sengaja dibiarkan memasuki tubuh mereka dalam-dalam. Kekuatan yang biasanya menopang dan mencengkeram di bukit-bukit dan gunung sudah tak ada lagi. Habis di tebang Manusia. Bumi dan Lumpur dengan mudah merobohkan diri. Melongsorkan diri kepada Manusia.
Di satu bagian tubuh Bumi yang lain, Bumi merasa sangat tersakiti ketika bor tajam menancap. Meski cerca dan ramalan tak menguntungkan, Manusia tetap saja memperdalam tancapan bor. Ada harta minyak yang banyak diidamkan semua Manusia. Kekayaan melimpah. Harta benda sebagai imbalan keuntungan.
Bukan minyak, Bumi mengeluarkan lumpur panas berbau bangkai. Merusak segala tatanan yang memang ditata rapi Manusia. Menghancurkan perlahan. Merampas segala kewenangan atas diri Manusia sendiri, bahkan.
"Wahai kau Manusia! Apa kau sudah mengerti keberingasan kami. Kau masih akan meneruskan perlakuan biadabmu kepada kami? Bukan hanya aku, Bumi, yang menuntutmu, tetapi lihatlah sendiri. Air, Angin, Api, Lumpur juga sudah tak tahan lagi merasakan kekurangajaranmu. Semua menuntutmu."
"Kalian menuntut dan merealisaikan bencana. Tapi tetap saja kalian tak bisa menjamahku. Kalian salah sasaran. Bukankah semestinya kalian yang seharusnya sadar. Orang-orang baik dan alim, kalian timpahi bencana. Terbunuh dengan mengenaskan. Sementara kami orang-orang yang telah merusak dan membuat sakit hati, yang seharusnya kalian timpahi bencana, masih saja selamat.”
"Kau. Ha...ha...!" ngakak bumi tertawa, “kau tidak tahu dan tak paham skenario yang sedang kami jalankan dari Tuhan. Orang-orang alim dan baik ini kami timpahi bencana lebih dulu sehingga bertemu lebih cepat kepada Tuhan. Tentu kebaikan yang dilakukan di dunia akan membawa mereka pada nikmat di alam selanjutnya. Setelah orang-orang alim habis, tinggallah kalian pembuat onar. Akan kami beri bencana tanpa halangan dan doa dari mereka, orang-orang alim. Kami leluasa memberi bencana. Mengacak-acak kalian sampai lumat. Menggulung kalian dalam kebingungan bencana. Penderitaan yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Setelah itu, Tuhan akan memerintahkan malaikat meniupkan terompetnya. Mengakhiri dunia. Tentu kami tak bisa menolak dan dengan sangat senang bisa mengakhiri tugas kami dengan baik.”
“Kalau begitu!”
“Ya, memang benar. Sebelum semuanya terlambat, umumkanlah pada semua manusia skenario ini. Jika kesadaran manusia lebih dini, tentu Tuhan akan memerintahkan kami untuk berhenti memberi bencana.”
“Tapi, bagaimana mereka bisa mempercayai saya? Lantas bagaimana saya bisa menjadi baik. Saya tidak tahu caranya. Jika kalian terus-terusan mengambil orang-orang baik, darimana saya bisa belajar baik. Siapa yang patut saya contoh.”
“Jadi kau ingin berbuat baik?”
“Sangat ingin. Sepertinya ingin mati lebih cepat. Saya ngeri dan takut menyaksikan bencana yang Tuhan janjikan. Skenario yang membuat orang, jika mendengarnya, pasti akan berhenti dari kelakuan buruk. Kembali menjalankan kebaikan. Menjaga alam dan melestarikan. Bukan mengambil keuntungan dengan jalan merusaknya.”
“Kepada Asih belajarlah kebaikan. Sifat kasihnya patut kau contoh. Dan jika kau kabarkan berita ini kepada manusia-manusia lainnya, tentu ini akan menjadi kebaikan bagimu. Yang mengabarkan kebaikan adalah manusia yang baik. Tentu saja, manusia lainnya akan mempercayaimu jika kau sendiri melakukan kebaikan itu. Dan juga menjadi teladan bagi manusia lainnya.”
“Ha...ha...siapa yang bakal percaya dengan skenario Tuhan. Siapa juga yang mau menjadi orang baik. Aku bukan lagi anak kecil. Setia mendengarkan dongeng pengantar lelap. Biarlah, kalian mampuskan semua orang-orang baik dan alim. Toh itu juga keuntungan bagiku. Tak ada yang akan menghalagiku untuk berbuat sesukaku. Tak ada yang melerai. Hah, aku akan bebas. Benar-benar bebas. Manusia utuh dan bebas.”
“Kau membohongi kami!”
“Siapa juga yang bodoh mendengar dan mempercayai ocehan kalian. Hanya kalian saja yang memang benar-benar bodoh dan dungu. Semua manusia tahu kalau aku adalah pembual dan pembohong kelas kakap. Tak ada satu pun yang tak berhasil aku perdayai. Termasuk kalian.”
Kemarahan yang tak ada tedeng aling-aling lagi. Emosi menguasai. Tangan-tangan perkasa dipersiapkan. Kaki-kaki jenjang bebukitan memperlihatkan ototnya. Bersiap menendang. Nyalang mata makin membinarkan tajam matahari. Bumi memanas. Air memanas. Udara memanas. Mencairkan dan membakar kutub.
"Manusia, kemanapun kau lari, kau takkan lepas dari kami. Akan kami urug kau hidup-hidup. Biar sebagian tubuhmu dimakan cacing. Kami akan mengentaskan tubuh busukmu yang masih hidup. Sehingga kau hanya bisa berputus asa dan kesakitan luar biasa kau rasakan. Tak ada semangat hidup. Yang terbayang adalah kematian. Namun jika kau mati, dimanapun kau dipendam atau dibakar, kami akan menolakmu. Membiarkan tubuhmu membusuk.”
Bumi, Air, Angin, Lumpur makin garang mempercepat proses tugas yang diberikan Tuhan kepada Manusia. Pukulan bertubi-tubi Angin dan Air makin mengacaubalaukan kehidupan. Manusia sudah tak mampu lagi menahan kekuatan mereka. Ada yang dibanting-banting dan hanya tersisa sebagian tubuh hidup penuh luka dan cacat. Longsor dari Lumpur langsung memendam mereka tanpa tanda pemakaman yang berarti. Namun lumpur kembali memuntahkan mereka dengan tubuh tak utuh lagi. Masih hidup. Hanya isak tangis. Berharap tubuh busuknya bisa segera menjemput ajal. Berharap tubuh-tubuh busuk segera bisa diberi wewangian.
Surabaya, 24 April 2007.
Jumat, 22 Agustus 2008
Nekromansi
A Rodhi Murtadho
Nekromansi menggejala. Banyak orang percaya akan perkataan Ilyas. Masa depan. Ketertarikan pengetahuan membuat pasien mendatanginya. Terutama mengenai jodoh, rezeki, bahkan kematian. Ihwal yang seharusnya hanya diketahui Tuhan. Keberanian Ilyas sudah melebihi batas. Mendahului Tuhan. Banyak Kyai, pendeta, biksu, dan banyak tokoh agama bersatu mengenyahkannya. Memusnahkan perbuatan Ilyas bahkan bisa jadi Ilyas sendiri yang akan dipancung.
Orang-orang terus berbondong-bondong mendatangi Ilyas. Ingin mengatahui nasibnya. Pemberitaan miring mengenai Ilyas seakan menjadi ajang promosi bagi Ilyas untuk menjadi terkenal. Lantaran tak ada tindakan tokoh agama untuk menghakiminya. Cuma omong kosong, gembar-gembor Ilyas pada setiap pasiennnya.
Banyak paranormal lain yang merasa tersaingi. Segala macam teluh dikirim. Bahkan berebutan untuk mencengkeram Ilyas. Namun semua juga berebut cepat-cepat ingin pulang kembali pada majikannya. Teluh-teluh kalah dengan aura pengaruh dari tubuh Ilyas. Berbagai macam teror dilakukan namun hasilnya juga nihil. Ilyas tetap hidup dan makin kokoh.
Ketentraman sudah hilang. Mencekam. Banyak teluh yang nyasar. Memang datang kepada Ilyas namun kembalinya banyak yang nyasar. Akibatnya banyak yang terkena teluh. Malah pasiennya bertambah. Banyak yang datang juga minta diusirkan teluh yang menempel pada diri mereka. Tentu saja hal ini makin membuat gemas para paranormal yang lain. Orderan mereka sepi. Mereka yang menggantungkan hidup pada profesi paranormal harus mencari peluang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ijasah yang mereka punyai, yang sempat dianggurkan lama, dipergunakan lagi. Ada yang menjadi kuli bangunan, kernet bus, pemulung, tukang servis, tukang becak, atau menjadi karyawan pabrik. Banyak yang kembali lagi pada profesi mereka sebelum menjadi paranormal.
Seloroh Ilyas semakin membumi. Ia layaknya artis atau pejabat negara yang terkenal dalam waktu singkat. Ukiran-ukiran perkataannya menancap begitu dalam. Seperti dewa yang mengeluarkan petuah. Semua menurut. Tak ada protes. Tarifnya makin mahal. Hanya kalangan menengah ke atas saja yang bisa menjangkaunya. Terutama artis yang banyak datang untuk menanyakan kepopulerannya. Atau pejabat yang ingin menanyakan kesuksesannya. Bahkan hartawan yang terlau sibuk mencari uang hingga lupa jodohnya, datang dan menanyakan calon pasangannya. Yang lebih tidak dimengerti, presiden-presiden dari berbagai negara menanyakan mengenai negaranya dan akhir karir mereka. Menjadi pecundang, menjadi penjahat, atau menjadi semakin populer.
“Mbah Ilyas, bagaimana saya bisa mewujudkan kemakmuran negeri kami? Juga kemakmuran saya pribadi seusai menjabat. Tolong carikan jalan hingga saya bisa menjadi seorang pahlawan bagi negeri. Bukan sebagai pecundang di masa pensiun dalam usia tua,” ungkap penerjemah bapak presiden manca negara.
Ilyas tertunduk sebentar. Memang ia hanya mengerti bahasa negerinya. Komat-kamit mulutnya disertai gerakan yang tak teratur. Matanya seperti hilang kesadaran. Wajah terlihat memucat. Tak ada degup jantung sepertinya atau pun nafas yang menyertai kehidupannya. Ilyas seperti mati. Badan tampak kaku. Namun masih duduk bersila dengan tangan tergeletak di paha.
Ilyas ingat istrinya yang pergi meninggalkannya. Sebelum menjadi sepopuler saat ini, Ilyas adalah seorang penganggur. Sumini, istrinya, tak betah hidup melarat tercekik hutang. Ia pergi dengan laki-laki lain. Wajah Sumini terus saja melekat pada ritualnya kali ini. Di hadapan presiden manca negara Ilyas tiba-tiba menangis. Bisikan-bisikan halus yang hanya didengarnya sendiri membuatnya semakin tak bisa menahan air matanya.
“Sumini meninggal,” lamat-lamat Ilyas mendengarnya.
Tak seperti biasannya. Ilyas menanyakan masalah pasien dan akan ada jawban untuk si pasien. Namun jawaban yang didapat mengenai Sumini, masalahnya sendiri.
***
Sumini yang sumringah dengan senyumnya terus saja membangkitkan gairah. Tak ada yang mampu menolaknya. Laki-laki yang berbirahi normal tentu tak akan melewatkannya. Lesung pipi seakan mengundang Ilyas untuk segera menggumulinya. Dada yang mendongkol membuat Ilyas enggan melepaskan gairah. Melepaskan kepenatan bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan yang jelas tak cukup memenuhi segalanya dalam gemerlap kehidupan.
Ilyas bertambah panas. Dalam matanya hanya ada Sumini. Segala kekuatan tertuju pada istrinya. Menancapkan gairah yang kian membara. Mengumpat segala kenikmatan. Jerit ranjang menerbangkan segala peluh yang mengucur. Mulus dan licin kulit makin mengencangkan lingkar tangan. Lidah yang halus saling mereguk kesegaran. Menyatu. Tangan tak pernah sekali pun berhenti mengendus setiap lekuk. Memainkannya. Degup jantung mengencang tak terkontrol makin mempercepat deru nafas. Mata yang terpejam tak juga membuat tidur. Saling lunglai dalam kepasrahan. Ilyas dan Sumini kemudian bersatu dengan malam.
Keadaan terus saja berubah. Ilyas tiba-tiba dipecat dari pabrik. Pengurangan karyawan. Ilyas mulai menganggur. Tak ada penghasilan. Hutang makin menumpuk. Kegelisahan makin menjadi. Tak ada modal untuk buka usaha sendiri. Atau tak ada tempat untuk menerimanya hanya sekadar menggaji seharga enam piring makanan sehari. Jalan buntu di depan. Segala malu membebani dalam setiap kerdipan mata.
Kegelisahan dalam kesendirian ditinggal Sumini terus melayangkan pikiran. Perut yang makin berdendang dengan nada saling menggesek perih tak juga membuat Ilyas sekejab bisa memejamkan mata. Pikirannya memancar ke segala arah. Mencuat tak henti. Berlompatan. Ada yang datang dan ada yang segera pergi. Sumini pergi dengan laki-laki lain.
Awalnya Ilyas selalu menepis segala bisikan yang menyertainya. Tak mau menjadi gila dengan kesedihannya. Tak mau menuruti ajakan suara. Namun perihnya perut menjadikannya penurut. Ilyas selalu menang taruhan. Seakan tahu masa depan. Berceramah layaknya dai. Beraksi menemukan segala kemegahan dengan pembacaan peluang yang tepat. Hutangnya terbayar. Hidupnya serba kecukupan. Hasil ramalannya membuat orang-orang tak segan membayarnya mahal ketika mereka menang togel.
Bisikan itu terus saja mengajak Ilyas untuk melakukan upacara malam hari. Ritual dengan kemenyan. Memperkuat naluri. Menambah ilmu kadikjayaan. Ilyas tak bisa melepaskan cengkraman suara. Sebenarnya pun Ilyas enggan untuk membuangnya. Satu-satunya sumber penghasilan. Orang membayarnya ketika dirinya menjadi gila dengan menuruti perkataan suara itu.
Mantra-mantra terus berdatangan tak diundang. Lekat dalam otak tanpa menghafal. Tak tahu kini Ilyas menyembah siapa. Asalkan bisa melanjutkan hidup dengan gelimang harta. Tak peduli sebutan orang-orang. Paranormal. Namun seolah menjadi bangga dengan sebutan itu. Semua orang menjadi takut. Tak berani menyentuh atau mendekat. Semakin sakti. Yang tak kasat mata mulai menampakkan diri dalam ritualnya. Mengkomunikasikan apa yang ditanya atau memberitahu yang terjadi atau yang akan terjadi.
Sakit hati kepada laki-laki pembawa Sumini membuat Ilyas kalap. Meminta mantra yang mujarab. Ajaib. Tak bisa disembuhkan. Teluh. Segera mengirimnya. Rambut dan pakaian Sumini yang tertinggal dijadikan alat. Meminang beberapa penyakit dan menjatuhkannya tepat pada laki-laki yang membuatnya kehilangan istri.
***
Kucuran deras air matanya membuat ngeri presiden manca negara dan penerjemahnya. Tak mengetahui atau berani menanyakannya pada Ilyas. Hanya menunggu apa yang akan diucapkannya. Perasaan was-was terus menggelayut di setiap aliran darah. Membuat mereka terus berpikir tak karuan.
Ilyas tak pernah menyangka. Teluh yang dikirimkan pada laki-laki pembawa Sumini sangat manjur hingga membuatnya meninggal. Namun kesetian macam apa yang dilakukan Sumini. Mengapa ia ikut mati bersama laki-laki itu. Padahal ia tak pernah menunjukkan kesetiaan semacam itu kepadanya. Mungkin kalau ia mau kembali pada Ilyas, akan menjadi perempuan dengan gelimang harta. Tak seperti dulu. Ia semakin tak mengerti akan apa yang diinginkan Sumini. Air matanya terus mengucur. Apa mungkin suara yang didengarnya mulai bohong kepadanya. Namun Ilyas tahu, suara itu tak sekalipun pernah berbohong.
“Pak presiden, maafkan saya! Istri saya meninggal dunia di sana bersama laki-laki yang membawanya kabur. Saya baru saja diberitahu.”
“Oleh siapa Mbah?” suara penerjemah menyambung lidah majikannya menyahuti pernyataan Ilyas.
“Suara yang selau mengikuti saya. Suara yang selau memberi tahu masa depan. Suara yang menjadikan saya paranormal. Suara yang menjadikan saya sukses dan terkenal sampai saat ini.”
“Jadi, suara itu yang menjadikan Mbah seorang paranormal. Karena Mbah percaya dengan suara itu?”
“Bagaimana saya harus menghindar. Kalau ada tempat yang bisa membebaskan saya dari suara itu tentu saya akan ke sana dan akan hidup di sana. Saya tahu hanya kematian pintunya. Itu pun saya diberitahu suara itu.”
Rasa tak percaya semakin membingungkan presiden dan penerjemahnya. Tak tahu apa yang sebenarnnya yang terjadi. Tak tahu pula mengapa parnormal seterkenal Ilyas membuka rahasianya. Sekilas tebersit dalam benak yang mulai ragu. Mungkinkah paranormal, dukun, yang terkenal sampai manca negara merupakan orang gila. Namun bagaimana orang-orang bisa yakin dan mempercayainya. Bagaimana mungkin setiap perkataannya menjadi kenyataan?
“Bagaimana dengan pertanyaan kami tadi Mbah? Apa sudah ada jawaban? Berapa lama lagi kami harus menunggu?”
Ilyas hanya diam. Seakan ditepisnya perkataan orang nomor satu di negerinya. Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya tak bisa berhenti. Mulutnya terus berkomat-kamit. Tangannya terus saja membakar kemenyan. Menjaga wangi yang memang sudah tercipta. Diambilnya setangkup kembang yang sudah tersedia. Dimasukkan dalam bara kemenyan yang mengepul. Seakan meleleh dan menghilang.
“Semoga kau menerimanya, Dik!” ucap Ilyas dengan nada pilu bercampur haru.
Ditatapnya dua orang yang berada tepat di depannya. Belum juga berkutik. Bertahan meminta jawaban. Tak dilepaskan tikaman matanya pada dua orang itu. Mereka terdiam. Saling memandang. Tak juga bergerak. Kecuali degup jantung dan hembusan nafas pelan. Semakin terbawa penasaran yang makin menjadi-jadi.
“Tolong kau katakan pada majikanmu, kalau pertanyaannya tak bisa kujawab sekarang. Mungkin juga nanti, tidak. Saya tak bisa meramal diri sendiri. Katakan juga kalau saya akan berhenti menjadi paranormal dan hidup sewajarnya. Kalau nanti suara itu terus datang, lebih baik saya akan masuk rumah sakit jiwa. Saya sudah gila.”
Diam menyentak. Tak ada tutur yang lebih berarti selain merenung. Ilyas memejamkan mata. Kedua orang yang ada di hadapannya hanya menyiratkan kebingungan dan penasaran yang dalam. Tak ada senyum. Bahkan pandangan Ilyas tak mengantar mereka keluar dari pintu.
Air mata yang sudah lama tak keluar kembali menetes. Mengucur deras. Retasan penyesalan kembali merangsek dalam jajaran gelap pandang. Bayang-bayang kenangan datang. Mendesak dan meracau. Mengumpat di sela-sela kebimbangan.
Sepi dirasa. Tawa sudah sirna. Harapan takkan pernah membuka kesempatan lagi. Hidup takkan ada sinar dengan kemewahan yang didapat. Tambatan hati untuk berbagi takkan pernah kembali. Salah diri. Ilyas hanya memaki.
“Tenanglah Ilyas. Relakan Sumini pergi. Kau bisa mendapatkan banyak perempuan yang kau mau dengan kemewahanmu,” suara tiba-tiba memunculkan diri tanpa ada panggilan dari Ilyas.
“Tak usah kau menghiburku. Aku bukan anak kecil yang mudah kau rayu. Aku tak menginginkan perempuan lain lagi selain Sumini. Itu mengapa aku kirimkan teluh kepada suaminya yang baru. Aku berharap Sumini akan kembali lagi padaku. Bukan seperti ini. Kau tak pernah mengatakan kalau akibat teluh yang kukirimkan bisa menyebabkan Sumini bunuh diri,” Ilyas menampakkan kemarahan.
“Jangan kau salahkan aku! Kau sendiri tak bertanya padaku. Aku takkan memberi tahu. Sesuai perjanjian. Kau bertanya, aku menjawab.”
“Bangsat kau! Pergi saja dariku. Aku sudah muak mendengar ocehanmu.”
Ilyas kembali meratap. Tak menemukan diri lagi ketika kuasa suara terus saja membuntuti. Sumini telah berpulang. Kesetiaan yang sungguh luar biasa. Ilyas ingin melakukan kesetiaan yang sama kepada Sumini. Ilyas ingin berpulang.
Lamongan, 11 Juli 2006
Nekromansi menggejala. Banyak orang percaya akan perkataan Ilyas. Masa depan. Ketertarikan pengetahuan membuat pasien mendatanginya. Terutama mengenai jodoh, rezeki, bahkan kematian. Ihwal yang seharusnya hanya diketahui Tuhan. Keberanian Ilyas sudah melebihi batas. Mendahului Tuhan. Banyak Kyai, pendeta, biksu, dan banyak tokoh agama bersatu mengenyahkannya. Memusnahkan perbuatan Ilyas bahkan bisa jadi Ilyas sendiri yang akan dipancung.
Orang-orang terus berbondong-bondong mendatangi Ilyas. Ingin mengatahui nasibnya. Pemberitaan miring mengenai Ilyas seakan menjadi ajang promosi bagi Ilyas untuk menjadi terkenal. Lantaran tak ada tindakan tokoh agama untuk menghakiminya. Cuma omong kosong, gembar-gembor Ilyas pada setiap pasiennnya.
Banyak paranormal lain yang merasa tersaingi. Segala macam teluh dikirim. Bahkan berebutan untuk mencengkeram Ilyas. Namun semua juga berebut cepat-cepat ingin pulang kembali pada majikannya. Teluh-teluh kalah dengan aura pengaruh dari tubuh Ilyas. Berbagai macam teror dilakukan namun hasilnya juga nihil. Ilyas tetap hidup dan makin kokoh.
Ketentraman sudah hilang. Mencekam. Banyak teluh yang nyasar. Memang datang kepada Ilyas namun kembalinya banyak yang nyasar. Akibatnya banyak yang terkena teluh. Malah pasiennya bertambah. Banyak yang datang juga minta diusirkan teluh yang menempel pada diri mereka. Tentu saja hal ini makin membuat gemas para paranormal yang lain. Orderan mereka sepi. Mereka yang menggantungkan hidup pada profesi paranormal harus mencari peluang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ijasah yang mereka punyai, yang sempat dianggurkan lama, dipergunakan lagi. Ada yang menjadi kuli bangunan, kernet bus, pemulung, tukang servis, tukang becak, atau menjadi karyawan pabrik. Banyak yang kembali lagi pada profesi mereka sebelum menjadi paranormal.
Seloroh Ilyas semakin membumi. Ia layaknya artis atau pejabat negara yang terkenal dalam waktu singkat. Ukiran-ukiran perkataannya menancap begitu dalam. Seperti dewa yang mengeluarkan petuah. Semua menurut. Tak ada protes. Tarifnya makin mahal. Hanya kalangan menengah ke atas saja yang bisa menjangkaunya. Terutama artis yang banyak datang untuk menanyakan kepopulerannya. Atau pejabat yang ingin menanyakan kesuksesannya. Bahkan hartawan yang terlau sibuk mencari uang hingga lupa jodohnya, datang dan menanyakan calon pasangannya. Yang lebih tidak dimengerti, presiden-presiden dari berbagai negara menanyakan mengenai negaranya dan akhir karir mereka. Menjadi pecundang, menjadi penjahat, atau menjadi semakin populer.
“Mbah Ilyas, bagaimana saya bisa mewujudkan kemakmuran negeri kami? Juga kemakmuran saya pribadi seusai menjabat. Tolong carikan jalan hingga saya bisa menjadi seorang pahlawan bagi negeri. Bukan sebagai pecundang di masa pensiun dalam usia tua,” ungkap penerjemah bapak presiden manca negara.
Ilyas tertunduk sebentar. Memang ia hanya mengerti bahasa negerinya. Komat-kamit mulutnya disertai gerakan yang tak teratur. Matanya seperti hilang kesadaran. Wajah terlihat memucat. Tak ada degup jantung sepertinya atau pun nafas yang menyertai kehidupannya. Ilyas seperti mati. Badan tampak kaku. Namun masih duduk bersila dengan tangan tergeletak di paha.
Ilyas ingat istrinya yang pergi meninggalkannya. Sebelum menjadi sepopuler saat ini, Ilyas adalah seorang penganggur. Sumini, istrinya, tak betah hidup melarat tercekik hutang. Ia pergi dengan laki-laki lain. Wajah Sumini terus saja melekat pada ritualnya kali ini. Di hadapan presiden manca negara Ilyas tiba-tiba menangis. Bisikan-bisikan halus yang hanya didengarnya sendiri membuatnya semakin tak bisa menahan air matanya.
“Sumini meninggal,” lamat-lamat Ilyas mendengarnya.
Tak seperti biasannya. Ilyas menanyakan masalah pasien dan akan ada jawban untuk si pasien. Namun jawaban yang didapat mengenai Sumini, masalahnya sendiri.
***
Sumini yang sumringah dengan senyumnya terus saja membangkitkan gairah. Tak ada yang mampu menolaknya. Laki-laki yang berbirahi normal tentu tak akan melewatkannya. Lesung pipi seakan mengundang Ilyas untuk segera menggumulinya. Dada yang mendongkol membuat Ilyas enggan melepaskan gairah. Melepaskan kepenatan bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan yang jelas tak cukup memenuhi segalanya dalam gemerlap kehidupan.
Ilyas bertambah panas. Dalam matanya hanya ada Sumini. Segala kekuatan tertuju pada istrinya. Menancapkan gairah yang kian membara. Mengumpat segala kenikmatan. Jerit ranjang menerbangkan segala peluh yang mengucur. Mulus dan licin kulit makin mengencangkan lingkar tangan. Lidah yang halus saling mereguk kesegaran. Menyatu. Tangan tak pernah sekali pun berhenti mengendus setiap lekuk. Memainkannya. Degup jantung mengencang tak terkontrol makin mempercepat deru nafas. Mata yang terpejam tak juga membuat tidur. Saling lunglai dalam kepasrahan. Ilyas dan Sumini kemudian bersatu dengan malam.
Keadaan terus saja berubah. Ilyas tiba-tiba dipecat dari pabrik. Pengurangan karyawan. Ilyas mulai menganggur. Tak ada penghasilan. Hutang makin menumpuk. Kegelisahan makin menjadi. Tak ada modal untuk buka usaha sendiri. Atau tak ada tempat untuk menerimanya hanya sekadar menggaji seharga enam piring makanan sehari. Jalan buntu di depan. Segala malu membebani dalam setiap kerdipan mata.
Kegelisahan dalam kesendirian ditinggal Sumini terus melayangkan pikiran. Perut yang makin berdendang dengan nada saling menggesek perih tak juga membuat Ilyas sekejab bisa memejamkan mata. Pikirannya memancar ke segala arah. Mencuat tak henti. Berlompatan. Ada yang datang dan ada yang segera pergi. Sumini pergi dengan laki-laki lain.
Awalnya Ilyas selalu menepis segala bisikan yang menyertainya. Tak mau menjadi gila dengan kesedihannya. Tak mau menuruti ajakan suara. Namun perihnya perut menjadikannya penurut. Ilyas selalu menang taruhan. Seakan tahu masa depan. Berceramah layaknya dai. Beraksi menemukan segala kemegahan dengan pembacaan peluang yang tepat. Hutangnya terbayar. Hidupnya serba kecukupan. Hasil ramalannya membuat orang-orang tak segan membayarnya mahal ketika mereka menang togel.
Bisikan itu terus saja mengajak Ilyas untuk melakukan upacara malam hari. Ritual dengan kemenyan. Memperkuat naluri. Menambah ilmu kadikjayaan. Ilyas tak bisa melepaskan cengkraman suara. Sebenarnya pun Ilyas enggan untuk membuangnya. Satu-satunya sumber penghasilan. Orang membayarnya ketika dirinya menjadi gila dengan menuruti perkataan suara itu.
Mantra-mantra terus berdatangan tak diundang. Lekat dalam otak tanpa menghafal. Tak tahu kini Ilyas menyembah siapa. Asalkan bisa melanjutkan hidup dengan gelimang harta. Tak peduli sebutan orang-orang. Paranormal. Namun seolah menjadi bangga dengan sebutan itu. Semua orang menjadi takut. Tak berani menyentuh atau mendekat. Semakin sakti. Yang tak kasat mata mulai menampakkan diri dalam ritualnya. Mengkomunikasikan apa yang ditanya atau memberitahu yang terjadi atau yang akan terjadi.
Sakit hati kepada laki-laki pembawa Sumini membuat Ilyas kalap. Meminta mantra yang mujarab. Ajaib. Tak bisa disembuhkan. Teluh. Segera mengirimnya. Rambut dan pakaian Sumini yang tertinggal dijadikan alat. Meminang beberapa penyakit dan menjatuhkannya tepat pada laki-laki yang membuatnya kehilangan istri.
***
Kucuran deras air matanya membuat ngeri presiden manca negara dan penerjemahnya. Tak mengetahui atau berani menanyakannya pada Ilyas. Hanya menunggu apa yang akan diucapkannya. Perasaan was-was terus menggelayut di setiap aliran darah. Membuat mereka terus berpikir tak karuan.
Ilyas tak pernah menyangka. Teluh yang dikirimkan pada laki-laki pembawa Sumini sangat manjur hingga membuatnya meninggal. Namun kesetian macam apa yang dilakukan Sumini. Mengapa ia ikut mati bersama laki-laki itu. Padahal ia tak pernah menunjukkan kesetiaan semacam itu kepadanya. Mungkin kalau ia mau kembali pada Ilyas, akan menjadi perempuan dengan gelimang harta. Tak seperti dulu. Ia semakin tak mengerti akan apa yang diinginkan Sumini. Air matanya terus mengucur. Apa mungkin suara yang didengarnya mulai bohong kepadanya. Namun Ilyas tahu, suara itu tak sekalipun pernah berbohong.
“Pak presiden, maafkan saya! Istri saya meninggal dunia di sana bersama laki-laki yang membawanya kabur. Saya baru saja diberitahu.”
“Oleh siapa Mbah?” suara penerjemah menyambung lidah majikannya menyahuti pernyataan Ilyas.
“Suara yang selau mengikuti saya. Suara yang selau memberi tahu masa depan. Suara yang menjadikan saya paranormal. Suara yang menjadikan saya sukses dan terkenal sampai saat ini.”
“Jadi, suara itu yang menjadikan Mbah seorang paranormal. Karena Mbah percaya dengan suara itu?”
“Bagaimana saya harus menghindar. Kalau ada tempat yang bisa membebaskan saya dari suara itu tentu saya akan ke sana dan akan hidup di sana. Saya tahu hanya kematian pintunya. Itu pun saya diberitahu suara itu.”
Rasa tak percaya semakin membingungkan presiden dan penerjemahnya. Tak tahu apa yang sebenarnnya yang terjadi. Tak tahu pula mengapa parnormal seterkenal Ilyas membuka rahasianya. Sekilas tebersit dalam benak yang mulai ragu. Mungkinkah paranormal, dukun, yang terkenal sampai manca negara merupakan orang gila. Namun bagaimana orang-orang bisa yakin dan mempercayainya. Bagaimana mungkin setiap perkataannya menjadi kenyataan?
“Bagaimana dengan pertanyaan kami tadi Mbah? Apa sudah ada jawaban? Berapa lama lagi kami harus menunggu?”
Ilyas hanya diam. Seakan ditepisnya perkataan orang nomor satu di negerinya. Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya tak bisa berhenti. Mulutnya terus berkomat-kamit. Tangannya terus saja membakar kemenyan. Menjaga wangi yang memang sudah tercipta. Diambilnya setangkup kembang yang sudah tersedia. Dimasukkan dalam bara kemenyan yang mengepul. Seakan meleleh dan menghilang.
“Semoga kau menerimanya, Dik!” ucap Ilyas dengan nada pilu bercampur haru.
Ditatapnya dua orang yang berada tepat di depannya. Belum juga berkutik. Bertahan meminta jawaban. Tak dilepaskan tikaman matanya pada dua orang itu. Mereka terdiam. Saling memandang. Tak juga bergerak. Kecuali degup jantung dan hembusan nafas pelan. Semakin terbawa penasaran yang makin menjadi-jadi.
“Tolong kau katakan pada majikanmu, kalau pertanyaannya tak bisa kujawab sekarang. Mungkin juga nanti, tidak. Saya tak bisa meramal diri sendiri. Katakan juga kalau saya akan berhenti menjadi paranormal dan hidup sewajarnya. Kalau nanti suara itu terus datang, lebih baik saya akan masuk rumah sakit jiwa. Saya sudah gila.”
Diam menyentak. Tak ada tutur yang lebih berarti selain merenung. Ilyas memejamkan mata. Kedua orang yang ada di hadapannya hanya menyiratkan kebingungan dan penasaran yang dalam. Tak ada senyum. Bahkan pandangan Ilyas tak mengantar mereka keluar dari pintu.
Air mata yang sudah lama tak keluar kembali menetes. Mengucur deras. Retasan penyesalan kembali merangsek dalam jajaran gelap pandang. Bayang-bayang kenangan datang. Mendesak dan meracau. Mengumpat di sela-sela kebimbangan.
Sepi dirasa. Tawa sudah sirna. Harapan takkan pernah membuka kesempatan lagi. Hidup takkan ada sinar dengan kemewahan yang didapat. Tambatan hati untuk berbagi takkan pernah kembali. Salah diri. Ilyas hanya memaki.
“Tenanglah Ilyas. Relakan Sumini pergi. Kau bisa mendapatkan banyak perempuan yang kau mau dengan kemewahanmu,” suara tiba-tiba memunculkan diri tanpa ada panggilan dari Ilyas.
“Tak usah kau menghiburku. Aku bukan anak kecil yang mudah kau rayu. Aku tak menginginkan perempuan lain lagi selain Sumini. Itu mengapa aku kirimkan teluh kepada suaminya yang baru. Aku berharap Sumini akan kembali lagi padaku. Bukan seperti ini. Kau tak pernah mengatakan kalau akibat teluh yang kukirimkan bisa menyebabkan Sumini bunuh diri,” Ilyas menampakkan kemarahan.
“Jangan kau salahkan aku! Kau sendiri tak bertanya padaku. Aku takkan memberi tahu. Sesuai perjanjian. Kau bertanya, aku menjawab.”
“Bangsat kau! Pergi saja dariku. Aku sudah muak mendengar ocehanmu.”
Ilyas kembali meratap. Tak menemukan diri lagi ketika kuasa suara terus saja membuntuti. Sumini telah berpulang. Kesetiaan yang sungguh luar biasa. Ilyas ingin melakukan kesetiaan yang sama kepada Sumini. Ilyas ingin berpulang.
Lamongan, 11 Juli 2006
Selasa, 19 Agustus 2008
Air
A Rodhi Murtadho
Air tergeletak di jalanan. Mengalirkan diri mencari pori tanah. Namun struktur pemukiman mempermainkan. Air hanya mengalir di pinggir-pinggir jalan. Mengisi lubang-lubang beraspal. Atau tergenang di tempat busuk tanpa bisa menghindar. Got-got beralas semen tak terstruktur menurun. Rata. Hanya memenuhi program tata pemukiman.
Air menanti matahari. Ingin segera menguapkan diri. Terkatung-katung tak diperhatikan kadang memuakkan. Apalagi diinjak-injak penuh kotoran. Jiwa ion positif dalam dirinya marah. Keperkasaan telah sirna. Menjadi barang buangan tak bisa menemukan kekasih, jiwa ion negatif. Turun ke bumi. Ingin segera melengkapkan diri bersama kekasih di sela-sela perut bumi.
“Air, aku kehausan!” kataku.
“Minumlah aku. Memang aku tercipta untukmu,” Air membuka mulut. Unjuk bicara. Ramah. Sopan mempersilahkan.
“Bagaimana aku bisa meminummu? Kau tampak kotor dan menjijikkan.”
“Terimalah aku apa adanya. Aku seperti ini juga ulah kalian, manusia. Perlakuan yang seenaknya dari kalian membuatku sakit hati. Aku tak bisa pergi ke tanah menemui kekasihku ion negatif. Tak bisa bercumbu rayu dan membersihkan diri. Tentu, aku merana di pemukiman ini.”
Air berusaha mengendapkan kotoran-kotoran dalam dirinya. Menyediakan diri sebersih mungkin. Tugas dijalani dengan ikhlas tanpa pamrih. Namun kotoran-kotoran seperti telah menyatu. Hanya matahari yang bisa membantu. Penguapan.
Langit masih tampak sayu. Matahari tak begitu mencolok. Keredupan tak melancarkan penguapan air. Tersendat-sendat. Setiap akan merangsek naik, terhalang oleh udara dingin yang menyapu. Mengembun dan turun lagi.
“Tindakan apa dari kami yang membuatmu sakit hati? Bahkan sampai-sampai kau merana? Sepertinya kami wajar-wajar saja memperlakukanmu.”
“Wajar, katamu! Kau bilang kalau mencemariku itu tindakan wajar? Menata pemukiman dengan daerah tanpa kemiringan? Aku bingung mau mengalir ke mana selain menggenang. Bahkan tindakan kalian membuat aku merana. Aku tak bisa bertemu kekasih. Kalian tutup daerah resapan dengan dalih pembangunan. Proyek-proyek ramah lingkungan. Hanya pada tulisan saja. Padahal tak mengindahkan tanah sebagai tujuan resapan. Jalan menemui kekasih.”
Aku bingung dengan penjabaran air yang begitu lengkap. Perbuatan yang tak pernah aku rencanakan. Memang setahuku, tindakan itu dengan dalih pembangunan. Demi kemaslahatan bersama kata para kontraktor. Memang juga sejauh aku berjalan, aku jarang menemukan tanah asli. Semua tertutup aspal atau cor-coran. Jika pun aku temukan dan kubandingkan akan memiliki perbandingan lima banding sembilan puluh lima.
“Iya, kami memang tak pernah memperhatikan itu. Padahal kami memperoleh banyak pertolongan darimu. Sementara kami tak pernah sekalipun memikirkan bagaimana memperlakukanmu layak. Mungkin kami lalai. Maafkan kami.”
“Lalai katamu! Apa hanya itu dalih penutup salah kalian. Siapa yang tak bisa mengatakan itu. Semut pun bisa. Kalau perilaku dan alasanmu seperti itu, aku akan balas dendam pada kalian.”
“Balas dendam!??”
“Ya, aku akan balas dendam. Tentu aku tak akan disalahkan. Yang disalahkan tentu kau yang mengatakan lalai itu sendiri.”
“Apa yang akan kau lakukan pada kami?”
“Aku dalam sekejab bisa memberi kalian wabah. Aku bisa mengundang kuman-kuman untuk melarut dalam diriku. Menularkan penyakit pada tubuh-tubuh manusia. Tentu akan menjadi mudah bagiku. Tubuh kalian sebagian besar tersusun dari diriku.”
“Sebegitu marahkah kau, air? Tak bisakah kau memaafkan kami. Akan aku umumkan di setiap kuping manusia untuk menjagamu. Jangan beri kami wabah yang berat. Untuk hidup saja kami merasa sudah susah.”
Kecipuk air memainkan lidahnya. Tangannya ditepuk-tepukkan ke kepalanya. Mata nyalang merah membangkit gairah dan emosi. Kaki sudah mendagur, mengoyak, dan memuncratkan dirinya. Bogem mentah disiapkan.
Ada air lain yang merembes keluar dari tanah. Pelan tak begitu deras. Namun kontinyu mengalir dari sela aspal yang sedikit berpori. Meluap mendekati air di kubangan yang mengamuk.
“Kekasihku sudah datang. Kau tahu, dia adalah ion negatif. Aku ion positif. Apapun bisa kami lakukan selama kami bersama.”
Tak ada cerucuk kata terlempar dari mulut-mulut kaku. Hanya pemandangan yang akrab. Air bertemu air dan menyatu. Aku lihat mereka bergumul. Menandaskan hasrat kangen yang menderu dalam. Menyatukan kandungan ion dalam tubuh mereka yang memang saling melengkapi. Cumbu rayu dimulai. Keringat deras makin memperbesar volume diri mereka. Kecupan dan tandas kasih mengobral panas meluberkan air kenikmatan.
“Apa yang kalian lakukan? Jangan memberikan pandangan yang bisa membuat aku iri. Aku juga memiliki kekasih namun tak bisa menyalakan api kasih dalam diri kami. Banyak bentangan yang sulit dilewati. Aku benar-benar iri. Hentikanlah.”
“Dengarlah baik-baik. Aku sudah muak dengan janji dan tipu daya manusia. Camkan itu! Aku tidak hanya akan memberikan wabah. Akan lebih dari itu. Camkan!”
“Kau akan melakukan apa lagi? Kau sudah bertemu dengan kekasihmu. Mestinya kau bahagia. Bukan malah mewujudkan dendam dalam dirimu kepada kami.”
“Dendam ini bukan hanya ada dalam diriku. Tetapi ada juga dalam diri kekasihku. Dan kami sudah sepakat akan melancarkan gerakan yang tak terduga bagi kalian, manusia. Tunggulah saatnya nanti.”
Matahari sudah membelalakkan mata. Meradiasi tuntunan sinar panas. Udara juga mempertemukannya kepada air. Hawa yang dibawa radiasi matahari, panas menyala. Seketika, sedikit demi sedikit air melayang bersama udara. Merangsek naik dalam tuturan uap air.
“Kami akan segera kembali. Tunggu saja.”
Ucapan perpisahan dari air semakin menggetarkan. Seluruh rona bulu kuduk berdiri. Ancaman yang belum terbukti namun begitu tandas terasa di depan kenyataan.
Langit hitam, mengetuk kilatan guntur dan sambaran petir. Kutukan air aku rasakan akan menjadi kenyataan. Aku mengumumkan ancaman air. Serius. Dan saling mengumumkan ancaman air sesama manusia. Namun juga saling tak mempercayai. Mereka lebih percaya pada tata ruang pemukiman. Bencana yang dijanjikan air hanya menjadi obrolan ringan di warung. Tata ruang pemukiman akan mengatasi dan menampik bencana yang dijanjikan air.
“Coba kalian dengarkan,” serius, “aku baru saja diberitahu orang yang ada di seberang itu. Katanya, kalau kita diancam air dan akan menurunkan wabah di negeri ini. Kalian tahu, hanya segenang air di trotoar yang mengatakannya ketika kutanya dia. Bukankan itu lucu. Katanya juga, kita telah membuat sengsara air. Menggunakan seenaknya tanpa memperhatikan kelestarian dan siklus air,” kata seseorang.
“Kau ini pandai bercanda, ya! Bagaimana mungkin. Air takkan bisa membunuh kita. Kalau kita memasak dan membuatnya kopi, itu enak. Wong air itu dicipta untuk kita. Terserah kita memperlakukannya seperti apa. Wong ada air kok bisa protes,” sahut seseorang di sebelahnya yang sedang menyerubut kopi di warung pinggir jalan.
Langit semakin gelap. Namun tak segera turun hujan. Angin sudah membias dingin. Ranum di balik hitam mendung. Matahari sudah tak menampakkan sinar lagi. Pagi dan malam tak ada beda. Hanya jam-jam digital menjadi penentu waktu. Patokan pagi, siang, dan malam.
Pohon-pohon menjadi layu. Tak bisa melakukan fotosintesis. Hanya kebutuhan air yang terpenuhi. Tak ada glukosa yang dihasilkan. Respirasi mereka terus saja mengeluarkan karbondioksida. Berebut oksigen dengan manusia-manusia. Lemas membuat manusia enggan bekerja. Lemas kekurangan oksigen. Bahkan sudah ada yang harus opname hanya untuk sekadar mendapat oksigen.
Langit tak menyibakkan mendung kelam. Terus melingkup. Panas matahari benar-benar tak terasa. Wabah kedinginan membuat bakteri-bakteri mencair dalam tubuh manusia. Penyakit-penyakit terus mewabah. Flu, batuk, pilek, demam, dan segala penyakit kambuhan terus meradang. Mengancam.
“Sudah sepuluh hari mendung namun tak turun hujan. Benarkah ini wabah yang dijanjikan air,” gumamku.
Doa-doa mulai disajikan. Kerukunan dijalin manusia. Tak peduli agama. Tak peduli ras. Golongan. Ataupun apapun. Perbedaan disingkirkan. Hanya ada harapan yang sama. Langit mau membukakan dirinya. Menampakkan kembali matahari.
Hari ketiga belas, langit semakin kasar memainkan petir. Rintik hujan mulai turun. Mengguyur seluruh permukaan bumi. Rasa syukur diucap bersama dalam hati, pikiran, dan ucapan. Merasa Tuhan telah mengabulkan permintaan mereka. Masih memihak dan mempercayai manusia untuk menjejakkan kaki di bumi.
Hujan mengguyur berhari-hari. Sudah tak ada yang pergi bekerja. Tak ada aktifitas berarti selain menutup genting-genting yang bocor. Membuat saluran-saluran air dadakan. Volume air terus bertambah. Hujan tak berhenti.
Khawatir kembali dirasa dalam hati, pikiran, dan ucapan. Umpatan-umpatan liar meracau di setiap telinga. Ada beberapa yang tetap melantunkan doa. Namun semua dirasa sia-sia. Volume air terus bertambah. Air mulai memasuki rumah-rumah tanpa permisi. Menggenang dan meluber di kamar-kamar peristirahatan. Tampak keruh dan kotor membawa lumpur dan sampah.
Wabah semakin menjulang tinggi jika digambar dalam grafik. Pernafasan dan kulit sudah terjangkit penyakit. Manusia-manusia sibuk mencari perlindungan dan penampungan. Bertengger di lantai-lantai atas rumah mereka. Bahkan di genting-genting. Untuk makan dan minum sangat susah. Meski air melimpah namun tak sanggup untuk menyantapnya dalam keadaan keruh dan penuh lumpur.
“Hei kau, manusia! Kau sudah tahu kekuatanku sekarang. Aku memenuhi ancamanku padamu. Sekarang apa yang hendak kau katakan padaku. Apa aku disalahkan. Tentu tidak, bukan. Banjir ini adalah ulah manusia, begitu kabar yang tersiar.”
“Ampuni kami, Air. Kami sudah tak tahan dengan berhari-hari kau tutupi matahari dengan dirimu yang menjelma menjadi awan. Kami sudah sakit. Sekarang kau beri kami banjir. Kami tambah sakit. Wabah menyerang kami dan tak tahu apa yang hendak kami lakukan terhadapmu dan diri kami sendiri.”
“Oh, ini belum seberapa. Kau lihat saja. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Wabah dan derita ini akan kami tambahkan padamu. Seperti dulu kalian tak memperdulikanku ketika aku kesakitan dan menahan rindu yang teramat dalam.”
“Sudah banyak dari kami yang sakit dan meninggal dunia. Kelaparan merajalela. Kehausan di tengah air yang melimpah. Kami mohon, ampuni kami. Kehormatan dan pengakuan atas dirimu dan kekuatanmu senantiasa akan kami sanjung selalu. Kami akan melestarikan dan menjagamu.”
“Sudah terlambat. Aku sudah terlalu marah dan jengkel melihat ulah kalian.”
Air hanyut tak mengeluarkan omongan lagi. Hanya gemericik dan kecipuk air menderu. Mengalir. Menyatu dengan yang lain. Membuat pusara-pusara tak bertuan. Menjebak manusia yang melewatinya. Memutar dan memelantingkan jatuh. Membanting-banting sampai mati.
Segala yang berharga dari manusia dihanyutkan dan dihancurkan. Rumah-rumah dirobohkan dengan arus deras. Panel-panel listrik dikonsletkan. Saluran telepon dirusak. Tak ada yang disisakan utuh untuk manusia. Lumpur-lumpur diangkat dari sungai menggenangi rumah. Stok makanan dari sawah pun diludeskan tak bersisa. Hanya ada bingung di benak-benak manusia.
Bukit-bukit mulai dirambah air. Dilumerkan dan dilongsorkan. Menguburkan rumah sekaligus penghuninya. Tak ada sumber air jernih sama sekali. Darah-darah dari mayat bercucuran bersama air selain kuman dari sampah yang ditumpuk manusia. Tanggul-tanggul dijebol.
Air sepertinya tak memberi ampunan. Banyak manusia yang diuraikan kembali pada air. Dipukul dan ditendang dengan bogem raksasa. Melucuti kulit manusia sampai keluar seluruh kandungan air dalam diri manusia. Sisanya diserahkan pada binatang tanah.
“Air, bicaralah padaku. Aku mohon. Kami sudah tak sanggup lagi menerima derita yang kau ciptakan. Kami kalah. Apapun boleh kau lakukan.”
“Aku ingin membunuh orang-orang yang terlibat dalam merencanakan dan membangun tata ruang pemukiman yang tak karuan ini. Apa kau sanggup?”
“Aku termasuk menjadi salah satu pembangun tata ruang pemukiman ini yang telah direncanakan para pejabat. Bunuhlah aku yang menyebabkan derita manusia lainnya. Aku sendiri juga sudah tak tahan lagi menanggung derita ini. Lebih baik mati rasanya daripada hidup berkalang derita.”
“Kau mengakui kekalahanmu. Baiklah, aku hanya akan merobek-robek tata ruang pemukiman untuk daerah resapanku. Dan hendaknya kau kabarkan pada semua manusia agar menghormatiku dan menjagaku. Aku tak sudi lagi mendengar janji palsu. Aku ingin kalian benar-benar menjagaku.”
“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Akan kukabarkan pada setiap telinga manusia yang ada di muka bumi ini.”
“Dan perlu kau ingat, jika ulah kalian tetap semena-mena kepadaku, aku tak segan-segan lagi menurunkan derita yang lebih dari ini.”
Pergulatan air semakin mengarus deras. Mencakar-cakar beton yang menutupi tanah. Menghancurkannya sekali putaran. Hujan reda. Banjir surut. Matahari bersinar kembali. Udara sejuk menyapa dentuman paru-paru. Lumpur masih menyisakan warna dan kotoran. Derita masih melekat di jiwa dan benak manusia.
Surabaya, 4 Mei 2007
Air tergeletak di jalanan. Mengalirkan diri mencari pori tanah. Namun struktur pemukiman mempermainkan. Air hanya mengalir di pinggir-pinggir jalan. Mengisi lubang-lubang beraspal. Atau tergenang di tempat busuk tanpa bisa menghindar. Got-got beralas semen tak terstruktur menurun. Rata. Hanya memenuhi program tata pemukiman.
Air menanti matahari. Ingin segera menguapkan diri. Terkatung-katung tak diperhatikan kadang memuakkan. Apalagi diinjak-injak penuh kotoran. Jiwa ion positif dalam dirinya marah. Keperkasaan telah sirna. Menjadi barang buangan tak bisa menemukan kekasih, jiwa ion negatif. Turun ke bumi. Ingin segera melengkapkan diri bersama kekasih di sela-sela perut bumi.
“Air, aku kehausan!” kataku.
“Minumlah aku. Memang aku tercipta untukmu,” Air membuka mulut. Unjuk bicara. Ramah. Sopan mempersilahkan.
“Bagaimana aku bisa meminummu? Kau tampak kotor dan menjijikkan.”
“Terimalah aku apa adanya. Aku seperti ini juga ulah kalian, manusia. Perlakuan yang seenaknya dari kalian membuatku sakit hati. Aku tak bisa pergi ke tanah menemui kekasihku ion negatif. Tak bisa bercumbu rayu dan membersihkan diri. Tentu, aku merana di pemukiman ini.”
Air berusaha mengendapkan kotoran-kotoran dalam dirinya. Menyediakan diri sebersih mungkin. Tugas dijalani dengan ikhlas tanpa pamrih. Namun kotoran-kotoran seperti telah menyatu. Hanya matahari yang bisa membantu. Penguapan.
Langit masih tampak sayu. Matahari tak begitu mencolok. Keredupan tak melancarkan penguapan air. Tersendat-sendat. Setiap akan merangsek naik, terhalang oleh udara dingin yang menyapu. Mengembun dan turun lagi.
“Tindakan apa dari kami yang membuatmu sakit hati? Bahkan sampai-sampai kau merana? Sepertinya kami wajar-wajar saja memperlakukanmu.”
“Wajar, katamu! Kau bilang kalau mencemariku itu tindakan wajar? Menata pemukiman dengan daerah tanpa kemiringan? Aku bingung mau mengalir ke mana selain menggenang. Bahkan tindakan kalian membuat aku merana. Aku tak bisa bertemu kekasih. Kalian tutup daerah resapan dengan dalih pembangunan. Proyek-proyek ramah lingkungan. Hanya pada tulisan saja. Padahal tak mengindahkan tanah sebagai tujuan resapan. Jalan menemui kekasih.”
Aku bingung dengan penjabaran air yang begitu lengkap. Perbuatan yang tak pernah aku rencanakan. Memang setahuku, tindakan itu dengan dalih pembangunan. Demi kemaslahatan bersama kata para kontraktor. Memang juga sejauh aku berjalan, aku jarang menemukan tanah asli. Semua tertutup aspal atau cor-coran. Jika pun aku temukan dan kubandingkan akan memiliki perbandingan lima banding sembilan puluh lima.
“Iya, kami memang tak pernah memperhatikan itu. Padahal kami memperoleh banyak pertolongan darimu. Sementara kami tak pernah sekalipun memikirkan bagaimana memperlakukanmu layak. Mungkin kami lalai. Maafkan kami.”
“Lalai katamu! Apa hanya itu dalih penutup salah kalian. Siapa yang tak bisa mengatakan itu. Semut pun bisa. Kalau perilaku dan alasanmu seperti itu, aku akan balas dendam pada kalian.”
“Balas dendam!??”
“Ya, aku akan balas dendam. Tentu aku tak akan disalahkan. Yang disalahkan tentu kau yang mengatakan lalai itu sendiri.”
“Apa yang akan kau lakukan pada kami?”
“Aku dalam sekejab bisa memberi kalian wabah. Aku bisa mengundang kuman-kuman untuk melarut dalam diriku. Menularkan penyakit pada tubuh-tubuh manusia. Tentu akan menjadi mudah bagiku. Tubuh kalian sebagian besar tersusun dari diriku.”
“Sebegitu marahkah kau, air? Tak bisakah kau memaafkan kami. Akan aku umumkan di setiap kuping manusia untuk menjagamu. Jangan beri kami wabah yang berat. Untuk hidup saja kami merasa sudah susah.”
Kecipuk air memainkan lidahnya. Tangannya ditepuk-tepukkan ke kepalanya. Mata nyalang merah membangkit gairah dan emosi. Kaki sudah mendagur, mengoyak, dan memuncratkan dirinya. Bogem mentah disiapkan.
Ada air lain yang merembes keluar dari tanah. Pelan tak begitu deras. Namun kontinyu mengalir dari sela aspal yang sedikit berpori. Meluap mendekati air di kubangan yang mengamuk.
“Kekasihku sudah datang. Kau tahu, dia adalah ion negatif. Aku ion positif. Apapun bisa kami lakukan selama kami bersama.”
Tak ada cerucuk kata terlempar dari mulut-mulut kaku. Hanya pemandangan yang akrab. Air bertemu air dan menyatu. Aku lihat mereka bergumul. Menandaskan hasrat kangen yang menderu dalam. Menyatukan kandungan ion dalam tubuh mereka yang memang saling melengkapi. Cumbu rayu dimulai. Keringat deras makin memperbesar volume diri mereka. Kecupan dan tandas kasih mengobral panas meluberkan air kenikmatan.
“Apa yang kalian lakukan? Jangan memberikan pandangan yang bisa membuat aku iri. Aku juga memiliki kekasih namun tak bisa menyalakan api kasih dalam diri kami. Banyak bentangan yang sulit dilewati. Aku benar-benar iri. Hentikanlah.”
“Dengarlah baik-baik. Aku sudah muak dengan janji dan tipu daya manusia. Camkan itu! Aku tidak hanya akan memberikan wabah. Akan lebih dari itu. Camkan!”
“Kau akan melakukan apa lagi? Kau sudah bertemu dengan kekasihmu. Mestinya kau bahagia. Bukan malah mewujudkan dendam dalam dirimu kepada kami.”
“Dendam ini bukan hanya ada dalam diriku. Tetapi ada juga dalam diri kekasihku. Dan kami sudah sepakat akan melancarkan gerakan yang tak terduga bagi kalian, manusia. Tunggulah saatnya nanti.”
Matahari sudah membelalakkan mata. Meradiasi tuntunan sinar panas. Udara juga mempertemukannya kepada air. Hawa yang dibawa radiasi matahari, panas menyala. Seketika, sedikit demi sedikit air melayang bersama udara. Merangsek naik dalam tuturan uap air.
“Kami akan segera kembali. Tunggu saja.”
Ucapan perpisahan dari air semakin menggetarkan. Seluruh rona bulu kuduk berdiri. Ancaman yang belum terbukti namun begitu tandas terasa di depan kenyataan.
Langit hitam, mengetuk kilatan guntur dan sambaran petir. Kutukan air aku rasakan akan menjadi kenyataan. Aku mengumumkan ancaman air. Serius. Dan saling mengumumkan ancaman air sesama manusia. Namun juga saling tak mempercayai. Mereka lebih percaya pada tata ruang pemukiman. Bencana yang dijanjikan air hanya menjadi obrolan ringan di warung. Tata ruang pemukiman akan mengatasi dan menampik bencana yang dijanjikan air.
“Coba kalian dengarkan,” serius, “aku baru saja diberitahu orang yang ada di seberang itu. Katanya, kalau kita diancam air dan akan menurunkan wabah di negeri ini. Kalian tahu, hanya segenang air di trotoar yang mengatakannya ketika kutanya dia. Bukankan itu lucu. Katanya juga, kita telah membuat sengsara air. Menggunakan seenaknya tanpa memperhatikan kelestarian dan siklus air,” kata seseorang.
“Kau ini pandai bercanda, ya! Bagaimana mungkin. Air takkan bisa membunuh kita. Kalau kita memasak dan membuatnya kopi, itu enak. Wong air itu dicipta untuk kita. Terserah kita memperlakukannya seperti apa. Wong ada air kok bisa protes,” sahut seseorang di sebelahnya yang sedang menyerubut kopi di warung pinggir jalan.
Langit semakin gelap. Namun tak segera turun hujan. Angin sudah membias dingin. Ranum di balik hitam mendung. Matahari sudah tak menampakkan sinar lagi. Pagi dan malam tak ada beda. Hanya jam-jam digital menjadi penentu waktu. Patokan pagi, siang, dan malam.
Pohon-pohon menjadi layu. Tak bisa melakukan fotosintesis. Hanya kebutuhan air yang terpenuhi. Tak ada glukosa yang dihasilkan. Respirasi mereka terus saja mengeluarkan karbondioksida. Berebut oksigen dengan manusia-manusia. Lemas membuat manusia enggan bekerja. Lemas kekurangan oksigen. Bahkan sudah ada yang harus opname hanya untuk sekadar mendapat oksigen.
Langit tak menyibakkan mendung kelam. Terus melingkup. Panas matahari benar-benar tak terasa. Wabah kedinginan membuat bakteri-bakteri mencair dalam tubuh manusia. Penyakit-penyakit terus mewabah. Flu, batuk, pilek, demam, dan segala penyakit kambuhan terus meradang. Mengancam.
“Sudah sepuluh hari mendung namun tak turun hujan. Benarkah ini wabah yang dijanjikan air,” gumamku.
Doa-doa mulai disajikan. Kerukunan dijalin manusia. Tak peduli agama. Tak peduli ras. Golongan. Ataupun apapun. Perbedaan disingkirkan. Hanya ada harapan yang sama. Langit mau membukakan dirinya. Menampakkan kembali matahari.
Hari ketiga belas, langit semakin kasar memainkan petir. Rintik hujan mulai turun. Mengguyur seluruh permukaan bumi. Rasa syukur diucap bersama dalam hati, pikiran, dan ucapan. Merasa Tuhan telah mengabulkan permintaan mereka. Masih memihak dan mempercayai manusia untuk menjejakkan kaki di bumi.
Hujan mengguyur berhari-hari. Sudah tak ada yang pergi bekerja. Tak ada aktifitas berarti selain menutup genting-genting yang bocor. Membuat saluran-saluran air dadakan. Volume air terus bertambah. Hujan tak berhenti.
Khawatir kembali dirasa dalam hati, pikiran, dan ucapan. Umpatan-umpatan liar meracau di setiap telinga. Ada beberapa yang tetap melantunkan doa. Namun semua dirasa sia-sia. Volume air terus bertambah. Air mulai memasuki rumah-rumah tanpa permisi. Menggenang dan meluber di kamar-kamar peristirahatan. Tampak keruh dan kotor membawa lumpur dan sampah.
Wabah semakin menjulang tinggi jika digambar dalam grafik. Pernafasan dan kulit sudah terjangkit penyakit. Manusia-manusia sibuk mencari perlindungan dan penampungan. Bertengger di lantai-lantai atas rumah mereka. Bahkan di genting-genting. Untuk makan dan minum sangat susah. Meski air melimpah namun tak sanggup untuk menyantapnya dalam keadaan keruh dan penuh lumpur.
“Hei kau, manusia! Kau sudah tahu kekuatanku sekarang. Aku memenuhi ancamanku padamu. Sekarang apa yang hendak kau katakan padaku. Apa aku disalahkan. Tentu tidak, bukan. Banjir ini adalah ulah manusia, begitu kabar yang tersiar.”
“Ampuni kami, Air. Kami sudah tak tahan dengan berhari-hari kau tutupi matahari dengan dirimu yang menjelma menjadi awan. Kami sudah sakit. Sekarang kau beri kami banjir. Kami tambah sakit. Wabah menyerang kami dan tak tahu apa yang hendak kami lakukan terhadapmu dan diri kami sendiri.”
“Oh, ini belum seberapa. Kau lihat saja. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Wabah dan derita ini akan kami tambahkan padamu. Seperti dulu kalian tak memperdulikanku ketika aku kesakitan dan menahan rindu yang teramat dalam.”
“Sudah banyak dari kami yang sakit dan meninggal dunia. Kelaparan merajalela. Kehausan di tengah air yang melimpah. Kami mohon, ampuni kami. Kehormatan dan pengakuan atas dirimu dan kekuatanmu senantiasa akan kami sanjung selalu. Kami akan melestarikan dan menjagamu.”
“Sudah terlambat. Aku sudah terlalu marah dan jengkel melihat ulah kalian.”
Air hanyut tak mengeluarkan omongan lagi. Hanya gemericik dan kecipuk air menderu. Mengalir. Menyatu dengan yang lain. Membuat pusara-pusara tak bertuan. Menjebak manusia yang melewatinya. Memutar dan memelantingkan jatuh. Membanting-banting sampai mati.
Segala yang berharga dari manusia dihanyutkan dan dihancurkan. Rumah-rumah dirobohkan dengan arus deras. Panel-panel listrik dikonsletkan. Saluran telepon dirusak. Tak ada yang disisakan utuh untuk manusia. Lumpur-lumpur diangkat dari sungai menggenangi rumah. Stok makanan dari sawah pun diludeskan tak bersisa. Hanya ada bingung di benak-benak manusia.
Bukit-bukit mulai dirambah air. Dilumerkan dan dilongsorkan. Menguburkan rumah sekaligus penghuninya. Tak ada sumber air jernih sama sekali. Darah-darah dari mayat bercucuran bersama air selain kuman dari sampah yang ditumpuk manusia. Tanggul-tanggul dijebol.
Air sepertinya tak memberi ampunan. Banyak manusia yang diuraikan kembali pada air. Dipukul dan ditendang dengan bogem raksasa. Melucuti kulit manusia sampai keluar seluruh kandungan air dalam diri manusia. Sisanya diserahkan pada binatang tanah.
“Air, bicaralah padaku. Aku mohon. Kami sudah tak sanggup lagi menerima derita yang kau ciptakan. Kami kalah. Apapun boleh kau lakukan.”
“Aku ingin membunuh orang-orang yang terlibat dalam merencanakan dan membangun tata ruang pemukiman yang tak karuan ini. Apa kau sanggup?”
“Aku termasuk menjadi salah satu pembangun tata ruang pemukiman ini yang telah direncanakan para pejabat. Bunuhlah aku yang menyebabkan derita manusia lainnya. Aku sendiri juga sudah tak tahan lagi menanggung derita ini. Lebih baik mati rasanya daripada hidup berkalang derita.”
“Kau mengakui kekalahanmu. Baiklah, aku hanya akan merobek-robek tata ruang pemukiman untuk daerah resapanku. Dan hendaknya kau kabarkan pada semua manusia agar menghormatiku dan menjagaku. Aku tak sudi lagi mendengar janji palsu. Aku ingin kalian benar-benar menjagaku.”
“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Akan kukabarkan pada setiap telinga manusia yang ada di muka bumi ini.”
“Dan perlu kau ingat, jika ulah kalian tetap semena-mena kepadaku, aku tak segan-segan lagi menurunkan derita yang lebih dari ini.”
Pergulatan air semakin mengarus deras. Mencakar-cakar beton yang menutupi tanah. Menghancurkannya sekali putaran. Hujan reda. Banjir surut. Matahari bersinar kembali. Udara sejuk menyapa dentuman paru-paru. Lumpur masih menyisakan warna dan kotoran. Derita masih melekat di jiwa dan benak manusia.
Surabaya, 4 Mei 2007
Kamuflase Terkamuflase
A Rodhi Murtadho
Kamuflase. Bagaimanapun menepisnya, pasti selalu terjadi pada manusia. Tubuh-tubuh rengkuh menjadi kamuflase setiap jiwa-jiwa yang sepi dalam kebosanan. Nanar mata nyalang, berkaca-kaca, atau melangkah di setiap rumpang pikiran. Yang pasti, sekarang, kehidupan masih terus berjalan.
Aku sebenarnya ingin hidup normal. Tentu saja sebagaimana manusia. Tapi aku tak tahu caranya hidup normal, tanpa kamuflase. Bagaimana tidak, harta dan pangkat seakan menjadi tujuan utama. Mencapainya tentu harus pandai berkamuflase pada setiap orang, bahkan pada diri sendiri. Menjadi diri sendiri seakan sulit namun bagaimanapun semua orang sebenarnya sudah memiliki diri mereka sendiri.
“Pak Abas, bakso dua mangkok,” kata Roni, pelangganku. “Pentol halus, tanpa saos, tapi pakai sambal.”
“Sambalnya,banyak atau sedikit?”
“Yang satu banyak yang satu sedikit.”
Paling tidak, sebagai yang sadar tentang kamuflase kehidupan, aku benar-benar merasa memiliki diri sendiri. Meski penjual bakso, aku menghilangkan semua gejala kamuflase yang mewabah. Meski tak sepenuhnya. Tubuh ini, yang harus bersosialisasi, bukan milikku semata. Tentu tak bisa seutuhnya kumiliki. Paling tidak aku harus berbagi dengan Mirna, istriku, sebulan sekali. Setiap saat harus kuserahkan jiwa pada yang kuasa dengan merasa mengkamuflasekan tubuh. Tak memiliki tubuh. Hanya jiwa semata.
“Mas, jangan terlalu berprinsip. Apakah kita mau makan prinsip, menghidupi Rifa’i dan Suni dengan prisipmu itu.”
“Ya, tentulah. Bagaimana kita bisa membentuk mereka menjadi manusia seutuhnya jika tidak berprinsip. Dari prinsip, anak-anakku akan menjadi manusia merdeka. Bebas.”
“Baik…baik. Tapi beras hanya tinggal sekilo. Tak ada uang untuk beli lauk.”
“Kau hutang dululah di warung Mak Jah.”
“Hutang dengan prinsip. Malu mas. Aku malu. Hutang kita sudah menumpuk.”
Aku terdiam tak mampu berkata apa-apa. Mungkin kalau dulu aku menerima tawaran untuk menjadi Lurah. Mungkin jalan hidupku tak sedemikian sulitnya. Kamidjan, bapakku, rela menjual sepetak sawahnya untuk modalku ikut pemilihan lurah. Warga desa banyak yang mendukung karena aku lulusan SMA. Sementara Jumadi, calon yang satunya, hanya lulusan SMP.
“Bas, ini kesempatan bagimu untuk naik jabatan jadi lurah,” kata bapakku, “sawah sepetak itu akan kujual buat modalmu.”
“Belum tentu saya akan terpilih. Banyak resikonya. Belum lagi jalanku sebagai lurah harus disetir. Kalau salah sedikit, sentilan pedas dari warga. Belum lagi kalau sudah pensiun dan kaya, pasti dibilang korupsi.”
“Lantas kau mau kerja apa?”
“Apa saja, asal sesuai dengan prinsipku.”
“Kau sudah punya istri sekarang. Ingat itu. Jangan terlalu berprinsip. Istrimu dan anakmu butuh makan, bukan prinsipmu.”
Bapak lantas balik kanan dan pergi. Layaknya tentara yang memimpin barisan. Memang aku dibentuk menjadi manusia merdeka. Bebas berprinsip. Tanpa kamuflase tentunya. Apa yang kukatakan dan yang kulakukan pasti sesuai isi hati. Tidak mengingkari keinginan jiwa. Benar-benar merdeka sebagai manusia.
“Mas, apa kita makan nasi putih saja tanpa lauk? Kasihan Rifa’i dan Suni. Mereka dalam masa pertumbuhan butuh gizi yang berimbang.”
“Kau hutang dulu lah. Pasti Mak Jah ngerti keadaan kita.”
“Aku malu, Mas.”
“Kalau kau tidak mau, aku saja yang hutang.”
Aku berangkat ke warung Mak Jah, tanpa kamuflase. Memang aku butuh lauk dengan jalan hutang untuk anak-anakku tanpa menutup-nutupi. Seperti dulu aku berangkat ke rumah Mirna. Kukatakan langsung kalau aku suka dan berniat untuk memperistri Mirna. Itu pun langsung kukatakan pada Mirna, juga tanpa kamuflase.
“Dik Mirna, aku suka sama adik. Dan kedatanganku ke sini berniat untuk memastikan, apakah adik mau jadi istriku.”
“Ngomong saja sama bapak, Mas.”
Mirna masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, Kurdi, bapaknya keluar menemuiku. Duduk berhadapan denganku.
“Ada apa, Nak Abas?”
“Begini, Pak, maaf sebelumnya. Saya ingin menjadikan Adik Mirna istri saya. Kalau boleh, saya akan mengajak keluarga. Mak dan bapak akan saya ajak ke sini untuk melamar secara resmi.”
“Mirna sudah setuju belum?”
“Dia menyuruh saya untuk langsung menanyakan pada Bapak.”
“Mir… Mir,” Kurdi memangil, “ke sini sebentar.”
“Ya, pak,” Mirna keluar dari ruang tengah, “ada apa, Pak?”
“Begini, Nak Abas ini ingin melamarmu. Apa kamu setuju?”
Mirna, layaknya gadis pingitan, terdiam dan sunggingan senyum yang tampak di bibirnya. Entah apa yang diisyaratkan. Tapi aku dan bapaknya menunggu keputusan. Hanya anggukan kecil yang kami dapatkan sebelum ia masuk lagi ke ruang tengah.
“Kamu sudah tahu kan,” jelas Kurdi, ”besok ajak keluargamu ke sini. Kita bicarakan bagaimana kelanjutannya bersama-sama.”
Di hari pelamaran, entah apa yang dibicarakan bapak dan Pak Kurdi. Tapi kulihat dari kejauhan mereka saling tertawa dan saling memainkan jarinya. Seperti menghitung. Pernikahanku dengan Mirna pun berlangsung dua minggu setelah pelamaran resmi. Tanpa persiapan yang begitu matang. Upacara sederhana ala keluarga. Tamu yang diundang hanya kerabat dan tetangga.
“Dik Mirna,” ucapku setelah kami masuk kamar pengantin, “kau sekarang sah menjadi istriku.”
“Ya, Mas.”
Suara lirih. Pandangan mata tak terlalu banyak tertuju kepadaku. Gerak yang tak terlalu banyak dan tak berarti. Mirna. Mungkin perempuan lain juga mengalami hal yang serupa. Malu-malu. Kernyit bibirnya seakan menandakan sesuatu. Menunggukukah?
Aku pun tak mampu mencairkan suasana dengan perkataan. Kucoba memberanikan diri. Melupakan rasa malu yang kupunya. Mulai kupegang tangan Mirna dan menciumnya. Pelan. Kebisingan kegiatan orang-orang yang berada di luar kamar tak terlalu mengganggu. Kurasakan tubuh Mirna mulai lunglai di dada. Melemas.
“Dik…” Bisikku pelan.
Tak ada jawaban. Hanya anggukan kecil. Bibirku pun mulai bergerilya. Tangan pun tak bisa berhenti. Ingin merasakan kelembutan tubuh. Raut muka kami pun mulai memanas. Merah. Nafas-nafas bersemburan ingin mendinginkan. Gerakan kami mulai tak terkontrol. Dekapan dan leleran keringat yang mulai muncul menyatukan tubuh kami. Melupakan rasa malu yang pernah muncul sebelumnya.
Lain dengan yang kuhadapi ketika akan bertemu dengan Mak Jah. Aku seakan memiliki beban yang tak karuan beratnya. Malu. Memang benar kata Mirna, istriku. Pantas saja kalau ia enggan hutang lagi pada Mak Jah. Tapi apapun harus aku lakukan demi anak-anakku. Aku tak mau anakku kekurangan gizi dalam masa pertumbuhan.
“Mak Jah. Saya mau hutang untuk anak saya.”
“Oalah Bas. Kalau dulu kamu mau jadi lurah, tentu kamu tak akan seperti ini, susah. Semua karena prinsipmu,” katanya.
“Ya, Mak.”
“Mau lauk apa?”
“Tahu, tempe, sama ikan asin, Mak.”
“Ini sekalian aku kasih sayur bayam untuk anakmu.”
“Terima kasih Mak.”
“Semuanya 3.500 rupiah, sayurnya gratis. Total utangmu 257.500 rupiah.”
“Ya Mak. Nanti pasti saya bayar.”
“Kapan? Kerja saja tidak. Ingat istri dan anak-anakmu. Mereka butuh makan bukan prinsipmu. Mudah-mudahan anak-anakmu kelak tidak keras kepala sepertimu. Meski punya prinsip, mereka harus mengorbankan itu jika butuh makan. Ya seperti kamu sekarang ini.”
Biasa memang kalau hutang pada Mak Jah akan mendapat banyak nasehat. Seperti kata istriku. Pantas saja kalau istriku malu untuk hutang lagi. Aku pun menghela nafas panjang memikirkan perkataan Mak Jah. Memang prinsip tidak bisa dimakan, tapi kamuflase itu layaknya membohongi diri sendiri. Menjadi orang lain dalam bentuk yang lain.
Kukatakan semuanya pada istriku. Senyuman darinya yang kudapat. Mungkin ia tahu kalau aku berpikir akan mencari kerja. Istriku terlihat bahagia dari nyalang matanya.
“Aku ingin bekerja, Dik.”
Memang selama ini kami hidup dari harta warisan ayahku. Harta yang dipersiapkan untukku menjadi lurah. Tentu saja tidak bertahan lama. Sampai kami berhutang banyak hanya untuk makan sehari-hari saja.
Entah apa yang terpikir dalam benakku. Hutang yang kian menggunung. Kebutuhan anak-anak. Dan kemlaratan yang menggiringku untuk menjadi penjual bakso.
“Mas Roni, ini baksonya, pentol halus tanpa saos tapi pakai sambal. Yang satu banyak, yang satu sedikit.”
Surabaya 14-15 April 2006
Kamuflase. Bagaimanapun menepisnya, pasti selalu terjadi pada manusia. Tubuh-tubuh rengkuh menjadi kamuflase setiap jiwa-jiwa yang sepi dalam kebosanan. Nanar mata nyalang, berkaca-kaca, atau melangkah di setiap rumpang pikiran. Yang pasti, sekarang, kehidupan masih terus berjalan.
Aku sebenarnya ingin hidup normal. Tentu saja sebagaimana manusia. Tapi aku tak tahu caranya hidup normal, tanpa kamuflase. Bagaimana tidak, harta dan pangkat seakan menjadi tujuan utama. Mencapainya tentu harus pandai berkamuflase pada setiap orang, bahkan pada diri sendiri. Menjadi diri sendiri seakan sulit namun bagaimanapun semua orang sebenarnya sudah memiliki diri mereka sendiri.
“Pak Abas, bakso dua mangkok,” kata Roni, pelangganku. “Pentol halus, tanpa saos, tapi pakai sambal.”
“Sambalnya,banyak atau sedikit?”
“Yang satu banyak yang satu sedikit.”
Paling tidak, sebagai yang sadar tentang kamuflase kehidupan, aku benar-benar merasa memiliki diri sendiri. Meski penjual bakso, aku menghilangkan semua gejala kamuflase yang mewabah. Meski tak sepenuhnya. Tubuh ini, yang harus bersosialisasi, bukan milikku semata. Tentu tak bisa seutuhnya kumiliki. Paling tidak aku harus berbagi dengan Mirna, istriku, sebulan sekali. Setiap saat harus kuserahkan jiwa pada yang kuasa dengan merasa mengkamuflasekan tubuh. Tak memiliki tubuh. Hanya jiwa semata.
“Mas, jangan terlalu berprinsip. Apakah kita mau makan prinsip, menghidupi Rifa’i dan Suni dengan prisipmu itu.”
“Ya, tentulah. Bagaimana kita bisa membentuk mereka menjadi manusia seutuhnya jika tidak berprinsip. Dari prinsip, anak-anakku akan menjadi manusia merdeka. Bebas.”
“Baik…baik. Tapi beras hanya tinggal sekilo. Tak ada uang untuk beli lauk.”
“Kau hutang dululah di warung Mak Jah.”
“Hutang dengan prinsip. Malu mas. Aku malu. Hutang kita sudah menumpuk.”
Aku terdiam tak mampu berkata apa-apa. Mungkin kalau dulu aku menerima tawaran untuk menjadi Lurah. Mungkin jalan hidupku tak sedemikian sulitnya. Kamidjan, bapakku, rela menjual sepetak sawahnya untuk modalku ikut pemilihan lurah. Warga desa banyak yang mendukung karena aku lulusan SMA. Sementara Jumadi, calon yang satunya, hanya lulusan SMP.
“Bas, ini kesempatan bagimu untuk naik jabatan jadi lurah,” kata bapakku, “sawah sepetak itu akan kujual buat modalmu.”
“Belum tentu saya akan terpilih. Banyak resikonya. Belum lagi jalanku sebagai lurah harus disetir. Kalau salah sedikit, sentilan pedas dari warga. Belum lagi kalau sudah pensiun dan kaya, pasti dibilang korupsi.”
“Lantas kau mau kerja apa?”
“Apa saja, asal sesuai dengan prinsipku.”
“Kau sudah punya istri sekarang. Ingat itu. Jangan terlalu berprinsip. Istrimu dan anakmu butuh makan, bukan prinsipmu.”
Bapak lantas balik kanan dan pergi. Layaknya tentara yang memimpin barisan. Memang aku dibentuk menjadi manusia merdeka. Bebas berprinsip. Tanpa kamuflase tentunya. Apa yang kukatakan dan yang kulakukan pasti sesuai isi hati. Tidak mengingkari keinginan jiwa. Benar-benar merdeka sebagai manusia.
“Mas, apa kita makan nasi putih saja tanpa lauk? Kasihan Rifa’i dan Suni. Mereka dalam masa pertumbuhan butuh gizi yang berimbang.”
“Kau hutang dulu lah. Pasti Mak Jah ngerti keadaan kita.”
“Aku malu, Mas.”
“Kalau kau tidak mau, aku saja yang hutang.”
Aku berangkat ke warung Mak Jah, tanpa kamuflase. Memang aku butuh lauk dengan jalan hutang untuk anak-anakku tanpa menutup-nutupi. Seperti dulu aku berangkat ke rumah Mirna. Kukatakan langsung kalau aku suka dan berniat untuk memperistri Mirna. Itu pun langsung kukatakan pada Mirna, juga tanpa kamuflase.
“Dik Mirna, aku suka sama adik. Dan kedatanganku ke sini berniat untuk memastikan, apakah adik mau jadi istriku.”
“Ngomong saja sama bapak, Mas.”
Mirna masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, Kurdi, bapaknya keluar menemuiku. Duduk berhadapan denganku.
“Ada apa, Nak Abas?”
“Begini, Pak, maaf sebelumnya. Saya ingin menjadikan Adik Mirna istri saya. Kalau boleh, saya akan mengajak keluarga. Mak dan bapak akan saya ajak ke sini untuk melamar secara resmi.”
“Mirna sudah setuju belum?”
“Dia menyuruh saya untuk langsung menanyakan pada Bapak.”
“Mir… Mir,” Kurdi memangil, “ke sini sebentar.”
“Ya, pak,” Mirna keluar dari ruang tengah, “ada apa, Pak?”
“Begini, Nak Abas ini ingin melamarmu. Apa kamu setuju?”
Mirna, layaknya gadis pingitan, terdiam dan sunggingan senyum yang tampak di bibirnya. Entah apa yang diisyaratkan. Tapi aku dan bapaknya menunggu keputusan. Hanya anggukan kecil yang kami dapatkan sebelum ia masuk lagi ke ruang tengah.
“Kamu sudah tahu kan,” jelas Kurdi, ”besok ajak keluargamu ke sini. Kita bicarakan bagaimana kelanjutannya bersama-sama.”
Di hari pelamaran, entah apa yang dibicarakan bapak dan Pak Kurdi. Tapi kulihat dari kejauhan mereka saling tertawa dan saling memainkan jarinya. Seperti menghitung. Pernikahanku dengan Mirna pun berlangsung dua minggu setelah pelamaran resmi. Tanpa persiapan yang begitu matang. Upacara sederhana ala keluarga. Tamu yang diundang hanya kerabat dan tetangga.
“Dik Mirna,” ucapku setelah kami masuk kamar pengantin, “kau sekarang sah menjadi istriku.”
“Ya, Mas.”
Suara lirih. Pandangan mata tak terlalu banyak tertuju kepadaku. Gerak yang tak terlalu banyak dan tak berarti. Mirna. Mungkin perempuan lain juga mengalami hal yang serupa. Malu-malu. Kernyit bibirnya seakan menandakan sesuatu. Menunggukukah?
Aku pun tak mampu mencairkan suasana dengan perkataan. Kucoba memberanikan diri. Melupakan rasa malu yang kupunya. Mulai kupegang tangan Mirna dan menciumnya. Pelan. Kebisingan kegiatan orang-orang yang berada di luar kamar tak terlalu mengganggu. Kurasakan tubuh Mirna mulai lunglai di dada. Melemas.
“Dik…” Bisikku pelan.
Tak ada jawaban. Hanya anggukan kecil. Bibirku pun mulai bergerilya. Tangan pun tak bisa berhenti. Ingin merasakan kelembutan tubuh. Raut muka kami pun mulai memanas. Merah. Nafas-nafas bersemburan ingin mendinginkan. Gerakan kami mulai tak terkontrol. Dekapan dan leleran keringat yang mulai muncul menyatukan tubuh kami. Melupakan rasa malu yang pernah muncul sebelumnya.
Lain dengan yang kuhadapi ketika akan bertemu dengan Mak Jah. Aku seakan memiliki beban yang tak karuan beratnya. Malu. Memang benar kata Mirna, istriku. Pantas saja kalau ia enggan hutang lagi pada Mak Jah. Tapi apapun harus aku lakukan demi anak-anakku. Aku tak mau anakku kekurangan gizi dalam masa pertumbuhan.
“Mak Jah. Saya mau hutang untuk anak saya.”
“Oalah Bas. Kalau dulu kamu mau jadi lurah, tentu kamu tak akan seperti ini, susah. Semua karena prinsipmu,” katanya.
“Ya, Mak.”
“Mau lauk apa?”
“Tahu, tempe, sama ikan asin, Mak.”
“Ini sekalian aku kasih sayur bayam untuk anakmu.”
“Terima kasih Mak.”
“Semuanya 3.500 rupiah, sayurnya gratis. Total utangmu 257.500 rupiah.”
“Ya Mak. Nanti pasti saya bayar.”
“Kapan? Kerja saja tidak. Ingat istri dan anak-anakmu. Mereka butuh makan bukan prinsipmu. Mudah-mudahan anak-anakmu kelak tidak keras kepala sepertimu. Meski punya prinsip, mereka harus mengorbankan itu jika butuh makan. Ya seperti kamu sekarang ini.”
Biasa memang kalau hutang pada Mak Jah akan mendapat banyak nasehat. Seperti kata istriku. Pantas saja kalau istriku malu untuk hutang lagi. Aku pun menghela nafas panjang memikirkan perkataan Mak Jah. Memang prinsip tidak bisa dimakan, tapi kamuflase itu layaknya membohongi diri sendiri. Menjadi orang lain dalam bentuk yang lain.
Kukatakan semuanya pada istriku. Senyuman darinya yang kudapat. Mungkin ia tahu kalau aku berpikir akan mencari kerja. Istriku terlihat bahagia dari nyalang matanya.
“Aku ingin bekerja, Dik.”
Memang selama ini kami hidup dari harta warisan ayahku. Harta yang dipersiapkan untukku menjadi lurah. Tentu saja tidak bertahan lama. Sampai kami berhutang banyak hanya untuk makan sehari-hari saja.
Entah apa yang terpikir dalam benakku. Hutang yang kian menggunung. Kebutuhan anak-anak. Dan kemlaratan yang menggiringku untuk menjadi penjual bakso.
“Mas Roni, ini baksonya, pentol halus tanpa saos tapi pakai sambal. Yang satu banyak, yang satu sedikit.”
Surabaya 14-15 April 2006
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar