Kamis, 04 September 2008

BENING, SI BINTIK BENING

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Ah, ya, hampir saja aku menuju ke persimpangan jalan nan menyesatkan. Pada waktu itu, telah aku bentangkan layar-layar untuk mengkait tempatmu berlindung. Pada waktu itu, sebenarnya aku tegangkan sebuah penutup, sehingga sigatanmu mampu menghalangi sinar yang panas, sebelum empedu memahit, dan sebelum tempurung kepalamu berdenyut lunak kena jarum-jarum langit rasa sauna. Begitu kuatkah dirimu mencoba berlindung?

Bobby yang penyantun! Kiranya dinding ini terlampau tebal menyungkup, sehingga tubuhmu kegerahan, bukan? Rumah yang berdiri dan menaungi bukan sesuatu yang didambakan dalam rentang penantian. Akan tetapi, kala aku hendak menunjukkan musykilnya pengharapan yang berselang-seling, kurasakan betapa tambah rengkahnya dirimu dari persada-asal. Aku dan ibumu tengah berupaya, agar sel-sel darah yang berada dalam badan sehat bukan mempertentangkan alur dan lajurnya, melainkan justru mengalir bersama zat-zat lainnya yang secara kodrati memperteguh kelugasan antara rengkah dan rangkah di haluan.

Tiada yang mempertajam sengketa pada kehidupan di mayapada ini selain daripada mereka yang alpa, Nak. Ini sungguh pasti. Siapa memberangkatkan sampan-sampan, tanpa bisa memacakkan dayungnya, ibaratnya meramalkan cuaca tanpa mengetahui peta gunjingan angin. Pada saat manusia mengecimpungi sendang demi sendang yang pernah membincangkan air hijaunya di pagi resik – dan dengan demikian, kebugaran pun teruji kembali. Cobalah renungi kalbumu sendiri. Cobalah dekap lembah dan tebing di sekeliling sendang itu, niscaya masih lekat parakanmu.

Minggu pertama di bulan Maret, laras dengan peringatan hari jadimu yang sedikit pun tak pernah kami lupakan. Kau mungkin khilaf, bahwa papa senantiasa menyempatkan diri untuk menyimak Mazmur atau Khotbah di Bukit, sebagai pantulan rasa larutnya pada Injil nan melekat pada pori-pori kulit ini. Apakah Tuhan mendengar nyanyian kami? Mustikah kuucapkan litany cilik pada persembahyangan di kamar terasing sudut kidul rumah kita, yang kau selalu mengatakan, bahwa bau mawar oranye yang kutanam di sepetak tanah kering itu tak terlupakan, dan bahwasanya terus terasa bahwa Sang Timur sandar di situ?

“Papa bersikeras untuk bikin perjamuan, padahal masih terlalu siang untuk merayakan “Bojana Penghabisan” yang dilindungi merpati roh kudus sepanjang upacara bergema,” kata ibumu mengingatkan. Aku menjawab: “Tidak begitu, Mam. Aku merasa anak kita selalu tiba, sebelum bubur sumsum yang tersedia di panci itu habis untuk para tamu. Aku rasa, darah daging kita sendiri terus menunggu, kapan santapan utama siap…”

Ananda yang lurus hati.
Suatu pagi, saat dikau telah duduk di akhir Sekolah Dasar dan mengadakan darmawisata bersama teman-teman sekolah, ibumu kelihatan murung sekali. Kulihat, di luar, hari pun diliputi oleh gemawan tebal, sehingga keredupan udara terasa begitu menyekat tenggorokan. “Sayangnya si Bobby bersikeras berangkat hari ini,” ibumu menyampirkan handuk yang masih tertinggal di kamar mandi sehabis kaugunakan pagi buta. “Memangnya kenapa? Adakah sesuatu yang tertinggal?” tanyaku seraya memperbaiki radio transistor yang rusak di ruang tengah. “Papa lihat, celana renang dan alat pelampungnya masih tertinggal, padahal hari ini ia tentunya mandi-mandi di laut.” Aku menghela nafas. Semoga tiada marabahaya, desisku. Tapi aku rasakan, dadaku sesak. “Kau sering lupa menyiapkan apa yang perlu, jika anakmu lanang bepergian jauh,” kataku menyiasat. “Dia sih masih kebocahan sekali.”

Lantas terjadilah malam itu, lepas suara “Love Ambon” dari radio, pertanda siaran rampung di jam duapuluhempat tepat – seorang tetangga menyampaikan kabar. Dan aku beserta ibumu seperti tak bisa bernafas, karena peristiwa yang menyakitkan itu. “Putra Bapak, kini dibawa dengan ambulans. Luka-luka pada pelipis dan punggungnya.” Aku segera bergumam: “Oh, apakah Bobby mengalami kecelakaan di laut, Pak? Ia belum begitu mahir berenang.” Tapi polisi dan petugas rumah sakit cuma menggeleng lemah. Menjelang pukul tiga pagi, tahulah aku, bahwa luka-luka yang kauderita bukan karena musibah di alam yang ganas, melainkan ulah teman-temanmu sendiri jua. “Putra Bapak sering berkelahi?” tanya seorang guru yang menungguinya di zal. Aku berdesis, “Sepengetahuanku tidak.” Tapi ibumu langsung menukas: “Tuan belum tahu agaknya. Bobby bisa juga berang dan melabrak jika harga dirinya terinjak. Apalagi teman-temannya suka melecehkan, mengoloknya.” Dokter yang mendengar itu mengerling dan ikut numbrung: “Ibu, apakah dia terkucil di sekolah? Problem apa yang merisaukannya?” Maka setengah menangis, ibumu bilang begini: “Dengarlah, Tuan. Ibu mana tak tersentuh perasaannya bila anak lanang satu-satunya diperhinakan. Soal apa lagi kalau bukan rasial, soal warna kulit, soal kebangsaan. Sedih, Tuan. Teman-teman si buyung, yang tanpa sadar dicekoki prinsip nasionalisme dan patriotisme yang kelewat batas, menuding si Bobby sebagai “sisa begundal kolonial”, anak Blandis, dan cercaan yang pedas-pedas, gara-gara kulit anakku putih-bule, bukan seperti anak pribumi.”

Dokter tertawa, mengisap cerutunya, mengepulkan asap keruhnya ke langit-langit kamar. “Lebih baik tak usah kita perhatikan gurauan-senda bocah-bocah cilik yang lagi mabuk pada suasana dewasa ini. Suasana, tatkala demam nasionalisasi perusahaan asing tengah berkecamuk, karena meningkatnya perjuangan merebut Irian Barat dari rangkulan Belanda.” Aku berkata: “Kami sadar, bukan lagi menganggap semua itu sebagai omongan bocah melainkan sudah punya wur-wuran serbuk politik ekstrim, tak sehat!”

Maka, aku melangkah untuk melihat bagian-bagian dari badanmu yang dijahit, dan memerlukan penyembuhan yang cukup lama. Sejenak lampu neon di ruangan itu mengerdip dalam siratan luruh. Kupandang wajah ibumu yang suram dan temungkul. Ah, nak – kala itu alangkah pucat mukamu, bagai kapas. Seorang murid, yang melaporkan padaku tak lupa membeberkan, bagaimana Topo melakukan serangan dengan belati berkali-kali, melukaimu. Soalnya hanya karena kau mau pinjam piring dan gelas, dan dia melarang seraya mengatakan, bahwa “anak Belanda kuning seperti kamu sudah tak layak lagi tinggal di negeri republik kami yang merdeka ini.” Kau tersinggung, dan meninju lengannya. Lalu perkelahian tak terhindarkan dan kau dikeroyok lima teman-temannya yang solider. Aku mengeluh seraya melemparkan mata ke halaman rumahsakit yang luas itu. Aku raba keningmu yang panas. Balut-balut lukamu masih berdarah!

Dan itulah yang menjadi sebagian ganjalanku. Sampai di SMTP, ketika beberapa kali aku menyarankan, supaya kau lebih banyak berolahraga di alam luas, mulai dari sepakbola, basket, volley, renang, dan senam sehat. Kau begitu wangkot, Nak. Maksud bapak, olahraga akan menambah indah bentuk-jasadmu, dan lebih banyak potensi alam yang kausedot ke dalam ragamu, memperkuat sel-sel darahmu. Rupanya elektronika lebih menarik dirimu untuk berkurung dalam kamar sempit. Kau sendiri agak rendah diri jika harus bergaul dengan sahabat-sahabat di kampung. Nak, papa tak salah jika menyarankan supaya bergiat di udara terbuka. Karena jika kau banyak berjemur di bawah terik-surya, niscaya kulitmu takkan terlalu putih. Citramu sebagai ‘Sinyo’ yang agak mencurigakan, pada saat warga kampung sekitar kita tenggelam dalam antipati terhadap orang Belanda, yang mereka anggap sebagai ‘musuh republik’.

Hanya saja, aku berbesar hati, bahwa dirimu telah menuruti nasehat ayah, tiap minggu berkebun bunga di kebun belakang. Sehabis mencangkul bersamaku dan ibumu, wajahmu berkeringat, kemerahan, juga kulit leher, bahu dan dadamu. Apa boleh buat, kesunyataanlah yang bicara. Serasa, paras bulat Kapten Van Hasselman – suami ibumu, yang pergi tanpa pesan, setelah menebar benih di rahimnya. Ya, bahkan hingga dikau menatap dunia, dan berumur setahun. Kalau aku kemudian datang sebagai pelindung, dan mengangkatmu sebagai putraku terkasih, bukanlah lantaran aku berlagak pahlawan. Tidak, Nak, kinilah tiba waktunya aku untuk bicara sejujurnya. Neng Euis Tikah, ibumu itu – kembang desa Cilambuan; puluhan pria merindukannya, berhasrat mempersunting sekar mekar ini, sebelum akhirnya agresi militer kolonial datang menikam Tanah Pasundan. Dan itu kukatakan, karena aku juga termasuk salah satu di antara jejaka kolot yang mendambakan cintanya. Lantas kami bertemu, di daerah perbatasan tatkala Euis Tikah lari dari kota, ke tempat bibinya di Karilo. Kami dipertemukan Tuhan kembali. Dia menggendong anaknya yang sehat jenaka, yakni dikau sendiri, Nak. Dia tetap ayu-suci di mataku!

Bobby yang kini sudah dewasa.
Bapakmu ini jurutulis Pegadaian Negeri kala itu dan lamaran kepada Euis Tikah mendapat perhatian selayaknya. Kami menikah, dan kemudian hijrah di kota, tempat kami membesarkan dirimu hingga sekarang. Aku keluar dari pekerjaan yang lama, dan beralih jabatan sebagai pengelola hotel yang cukup terkenal itu – suatu bidang yang membuat secara materi, berkecukupan, bahkan bisa dikatakan berkelimpahan. Kami rasa, sebagai seorang ayah, aku bisa memberikan hal-hal yang bermanfaat tanpa prasangka buruk sedikitpun. Bahkan hingga SLTA, dan dirimu kepingin memasuki Akademi Militer Nasional – aku dan ibumu menyatakan keberatan yang besar.

“Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kemiliteran, pangkat-pangkat dan tanda lencana berkilauan senantiasa mengingatkan kami kepada perang nan memusnahkan segalanya,” itu alasan dariku. Lalu kuperlihatkan potret dari harian “Dwiwarna” yang terbit pada tahun 1948, yang mengisahkan, bagaimana dua orang pamanku terbantai di Bandung Selatan, bersama dengan ratusan warga kampung di daerah kumuh itu. Pelakunya adalah Westerling, algojo Belanda yang haus darah itu. Seorang kerabatku yang lain, ikut menjadi korban ketika pulang dari pasar. Ia seorang ibu yang tengah mengandung-tua, dan ditembak di tengkuknya, sewaktu bersepeda melintas halaman sebuah kantor. Seorang sahabat mengabarkan, salah satu penembak yang ikut merobek-robek perut rakyat tak berdosa itu adalah Van Hasselman, bapak kandungmu, yang waktu itu melampiaskan kemarahannya kepada warga kampung yang konon kabarnya pernah menyinggung harga dirinya sebagai perwira kolonel.

“Papa merasa getir dan mendendam, bukan?” tanyamu menyelidik, ketika halaman pertama suratkabar itu kubuka di atas meja untuk menerangkan hal ini kepadamu. Ibumu menjeling dari kacamata minusnya dan meletakkan jemari pada lenganku. “Tidak, tidak, Nak. Tidak sama sekali,” ujarku spontan. “Mengapa aku harus terus-menerus menciptakan dendam kesumat yang serba naif itu, Nak? Seorang manusia ditakdirkan untuk tumbuh serta bangkit sebagai orang yang jantan, betapapun kecil kedudukannya. Dendam hanyalah letupan emosional yang melorotkan martabat hingga diri kita tak lebih daripada nyamuk yang selalu mendengung untuk menghisap darah, tanpa kepedulian yang pasti. Tuhan memberi kita nalar wening dan rasa yang bermahkota, yang membuat kita harus sadar akan satu pembatas yang mengatur sikap bijak kita. Melupakan sesuatu nan teramat menggetir hati, kiranya jauh lebih mulia, katimbang kita terus tergoncang dalam deru ke-dendam-an itu.” Lalu kau tercenung beberapa menit. Ibumu menimpali: “Dengarlah, Bobby. Papa mengatakan apa yang paling mendesir di dasar nurani. Ia telah menerima ibu tanpa prasyarat apapun. Ia telah mengangkatmu sebagai satu-satunya putra terhormat, bahkan dirimu juga berhak menggunakan nama keluarganya. Keluarga bangsawan yang membuat orang membanggakannya!”

Aku tak perlu menggarami dan mengasami perkataan ibumu ini. Satu senggolan kecil di kalbu, melihatmu menitikkan airmata. Nak, kau sungguh seperti papa, yang takkan membasahkan tirta kepiluan jika bukan ada sesuatu yang membikin batin terkoyak. Tapi anakku toh tak bisa berbohong dengan dirinya sendiri, bukan? “Sekiranya papa menghadapi pembunuhan brutal tersebut dengan batin koyak-moyak, sanggupkah papa menerimanya dengan tawakal?” demikian kaucoba mengusik hatiku. “Buyung sayang, bahkan sebaliknyalah. Papa semula belum bertawakal ketika menerima kabar, kedua pamanku dijagal di pinggir jalan. Aku sendiri anggota laskar pelajar, berdarah panas, mudah mengosongkan pistol untuk kemarahan nan muspra. Di sini, peristiwa itu cukup merantaskan saraf-sarafku yang muda. Aku memerlukan waktu sepuluh hari buat mendinginkan darah nan mendidih. Aku banyak berpuasa dan sembahyang tahajud, Nak.”

“Mengapa papa tak mendendam pada orang Belanda?”
“Sekali lagi, ketololan semata yang membikin orang melampiaskan sakit hati pada sesamanya, Nak. Kalau kau jadi dewasa, lalu jadi arif di kala berangkat tua, maka salah satu faktor penyebabnya adalah iman di dada. Keinsyafan, bahwa tiada yang kekal di bumi ini. Apa jadinya jika bangsa-bangsa meletupkan keberangannya?”

“Aku kini menyesal, Papa. Waktu kecil dulu, aku mudah naik darah, bila diolok-olok ‘seperti sinyo Kemayoran’, karena kulitku bule, berbeda dengan kawan-kawan yang merasa memiliki Tanah air ini, dan putra Republik yang murni. Papa menyadarkan berulangkali, perkelahian tiada arti sama sekali jika soalnya menyangkut hakiki kesucian darah pribumi atau bukan. Sementara di luar sana, masyarakat luas telah saling bahu-membahu dalam mewujudkan kerjasama kebudayaan. Aku sekarang tahu, kalaulah orang menumpahkan kesalahan pada penjajahan imperialistik ratusan tahun, maka sebenarnya sama artinya dengan mengutik-utik keringkihan-kelemahan nenekmoyangnya sendiri yang gemar bertengkar, hingga saling-cakar buat mempertahankan sejengkal bumi. Di tengah perselisihan, datang pihak ketiga: kaum penjajah Barat yang haus wilayah, yang memainkan peranannya sebagai duta-keberanian dan atasnama Sejarah, menjadi sang pemenang.”

“Andaranmu tepat, Buyung,” kataku penuh haru. “Apakah guru-guru Sejarahmu di SMA mengajarkan tentang kawicaksanaan ini?” Malam ini, kita ingin mengucapkan rasa akrab akan cita-mulia.

“Pada garis besarnya juga, Papa,” tegasmu bersemangat. “Menyesali masalampau adalah kesia-siaan. Menangisi kejatuhan bangsa, juga suatu kenaifan yang pepat. Dewasa ini kita bukan bicara lagi tentang kesucian ras, warna kulit, ataupun prabeda ideologi nan saling adu-bokong. Kelahiran tiap individu tak usah disesali sebagai beban politis yang berkepanjangan, sementara dunia yang akbar masakini telah semakin asyik-masyuk menjalin ikatan kebudayaan, Pa.” Kau sungguh memiliki derajat pengemban TulusNya.

Aku bangga dengan beberan-beberan pikiranmu, Bobby. Malam, di mana kita berbincang tentang dimensi Sejarah itu bagiku merupakan peristiwa bersejarah. “Hidup, mati, jaya, dan uzur adalah istilah-istilah histories yang mengantar insan untuk lebih menggalang keberadaan fitrahnya. Kasih yang menguntum di tengah rabuk-rabuk nan menyuburkan persada pengabdian, akan menyandang bahagia nan wangi.”

Hari-hari di SMA telah kaulalui dengan memuaskan, dan tiga tahun yang memberiku arti adalah bahwa Bobby memiliki nilai rapor yang bagus, terutama untuk ilmu pasti. Pada akhirnya aku ‘maturnuwun’ pada Gusti, saran kami kau jadikan pertimbangan dalam menentukan sekolahmu di perguruan tinggi. Kau tak jadi memasuki Akademi Militer, melainkan menjatuhkan pilihan pada Akademi Teknik yang mengkhususkan studi pada pembangunan jembatan dan bendungan. Kudoakan, jika lulus nanti, mohonlah beasiswa untuk meneruskan studimu di Delf, Negeri Belanda, yang lebih memberikan bintik-bintik bening pada bola mata pembangunan di kemudian hari, Nak.

Bobby yang lembut hati! Liburan semesteran pada tahun pertama di akademi itu, kusambut dengan pembacaan ‘Khotbah di Bukit’, dan kau kelihatan sedikit kurus dan parasmu lebih lonjong sekarang. Kalau tak salah lihat, kulitmu tak lagi seputih dulu, melainkan sudah menglasat, dan gerak tubuhmu tambah tangkas-trengginas. Horas! Laporan pertama yang kauucapkan dalam nada agak parau, tapi mata berbinar adalah: “Pa, aku ikut lomba mendaki gunung. Kami banyak berlatih menaklukkan bukit-bukit di Pasundan. Bulan depan, kelompok kami siap mendaki Galunggung. Senang, Pa! Aku banyak teman.” Ah, buyung sayang. Tubuhmu gagah-tinggi, dan wajahmu tampan. Mengapa tidak bercerita tentang gadis-gadis ranum yang kesengsem padamu? Pipimu memerah ketika papa bertanya potret setengah badan perawan jelita berlesung pipit, yang kulihat menempel di sampul buku diktatmu. “Aku giat berolahraga, Pa. Belum tertarik kaum hawa…” Bahwasanya, sebagai lelaki muda, kau memiliki dasar yang tegar.

Aku suka mesem-mesem sendiri lamun terkenang kejenakaanmu kini, dan kenakalanmu semasa bocah. Sore kemarin aku sedang mendangir kembang gladiola di pot-pot kecil merah di beranda belakang. Sedikit kusiram dengan gayung dari ember, sementara rabuk kotoran kelelawar kuaduk dengan tanah gembur. Sorot mentari petang membelah ruangan ini dengan bayang menyiku di antara kuning keunguan. Ibumu datang dalam daster birumaya dan menyampaikan jeruk yang sudah dikupas. “Pa, aku ingin menunjukkan sesuatu yang indah,” ujarnya menyentuh bahu. “Tentang apa dan siapa? Di mana, Ma?” – demikian aku tanggapi sambil mengunyah jeruk. Ia menggandengku sambil lirih menyanyikan tembang-tembang Sunda, lagu kegemaran ibumu. Tapi bukan itu yang membuat kami ketawa dan terpesona, Nak. Kau begitu bugar, muda dan perkasa dalam keadaan telanjang bulat, seperti menikmati liburan hangat di kampung. Air segar nan jernih mengguyur tubuh, dan aku seakan menangkap masa mudaku sendiri; seolah masa itu belum jauh berlalu. Bukankah buat pertama kali dulu aku ketemu ibumu semasih gadis, dekat sumur tua di sudut ladang? Aku tengah mandi telanjang bulat ketika itu, dan lupa, ada gadis lewat.

“Mama, Mama. Mama dulu juga tertarik waktu aku…”
“Bukan begitu, Pa. Tengoklah. Semakin dewasa, Bobby makin menyerupai dirimu. Wataknya, kebiasaannya. Juga kulitnya, Pa.” Aku mengerti maksud ibumu. Kulit badanmu sekarang langsat, Nak, seperti kulitku dan mamamu. Tidak terlalu putih lagi. Langsat indah. O, terimakasih. Terimakasih matahari khatulistiwa, yang membentuk tubuh kekar putraku, memberikan kulit langsat pada si buyung sayang!
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar