Bernando J. Sujibto*
http://www.lampungpost.com/
DISKURSUS seputar kritik dan apresiasi karya sastra tak akan ada habisnya selama pencarian kreativitas-imajinatif masih, meminjam istilah Arif B. Prasetyo, konsisten dengan pencarian pembaruan (concern with newness). Dalam perjalanan khazanah kesusastraan, dinamika karya sastra dan kritiknya adalah sebuah keniscayaan.
Keduanya seperti dua mata uang yang saling membentuk (atau menciptakan) dan "merekonstruksi" sebuah kekuatan yang terkandung sebagai kekayaan atas keduanya.
Pada titik inilah keduanya menjadi suatu hal yang perlu dioptimalkan peran sekaligus peranannya. Keduanya harus dicari titik relevansi pencerahannya yang pada gilirannya melahirkan dinamika harmonis-mutualistik, keduanya saling mewarnai dan menjadi kesatuan yang padu.
Bahkan, bagi sebagian kritikus sastra, kritik sastra yang baik harus seperti karya sastra itu sendiri. Artinya, kritik sastra yang baik harus juga bisa menjadi sebuah karya yang netral seperti halnya karya sastra tersebut.
Dalam pandangan penulis, kritikus sastra di Tanah Air tak ubahnya seperti seorang hamba yang "terjebak metodologi". Dominasi metodelogi dalam kritik sastra dengan segenap perangkatnya selalu menciptakan determinasi bahkan reduksi besar-besaran terhadap karya sastra. Karya sastra seolah mempunyai satu ruang interpretasi ketika metodologi--yang selama ini menjadi "proyek" akademik--menjadi suatu penentu dasar dan pakem yang paten.
Posisi karya sastra yang otonom dan merdeka sebagai sebuah teks untuk segala zaman tidak mendapatkan ruang apresiasi yang semestinya. Bahkan ironisnya, kritik sastra yang (dianggap) baik dan bertuah oleh banyak kalangan adalah kritik sastra yang selalu merujuk pada tataran historisasi, periodisasi, genreisasi sastra gaya akademik yang kental dengan perangkat metodologi an sich.
Ketekunan H.B. Jassin mengamati khazanah kesusastraan kita benar-benar menjadi "paus" bahkan raja yang harus diamini. Satu sisi, Jassin menjadi kebanggaan kita karena berhasil membaca karya sastra dengan tekun dan serius. Namun, di sisi lain hasil Jassin benar-benar menjadi patokan baku dan mereduksi pembacaan kritis terhadap karya sastra generasi selanjutnya.
Pembacaan karya sastra seakan cukup dengan periodesasi, genre, unsur-unsur "mentah" lain. Usaha menelanjanginya hingga tulang putihnya, meminjam istilah Chairil Anwar, belum bernyali.
Hasil pekerjaan Jassin yang telah mengklasifikasi karya sastra dan sastrawannya dalam periode, aliran, dan jenis-jenis, disadari atau tidak, memengaruhi dan mereduksi daya interpretasi intelektualitas kita terhadap karya sastra.
Anehnya, kegandrungan kritikus kita masih terpaku dalam hal ini. Kritikus sastra kita seperti terjangkit sindrom metode tentang periodisasi dan unsur-unsur sempit karya sastra itu sendiri.
Tak aneh jika kemudian ada suara minor bahwa perkembangan kritik sastra kita sama sekali tidak mempunyai arah yang mencerahkan sebagai jembatan transformatif mendialogkan karya sastra dengan masyarakat luas.
Menarik kita mengetahui wawancara Jorge Luis Borges di salah satu majalah sastra Prancis, Le Magazine Litteraire bulan Juni 1977. Waktu itu Borges sama sekali tidak bisa melihat.
Borges ditanya, kenapa tidak suka dengan teori sastra akademik (literary schools). Jawaban Borges adalah the literary schools are made for the historians of the literature, i.e. for the opposite of the men of letters (sastra akademik dibuat untuk sejarawan sastra, berseberangan dengan sastrawan sendiri).
Borges justru mengagumi khazanah sastra Persia, Irak, dan Arab klasik yang tidak mempunyai sejarah kesusastraan. Dia percaya karya sastra yang baik adalah eternal (abadi) dan tak lekang oleh waktu seperti ketika membaca karya puisi Hafiz ataupun karya sastrawan Persia yang lain seperti Rumi.
Karya-karya mereka, meminjam istilah Borges, beyond the dates, of the schools. Karena pembacaan terhadap karya sastra tanpa memedulikan kapan lahir (karya klasik maupun up to date), genre, dan semacamnya akan melahirkan nuansa yang lebih enjoy (enjoy it perhaps better).
Hal senada sempat dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri ketika menanggapi "surat sastra dari Jogja"-nya Joko Pinurbo yang menggugat larik puisinya yang salah cetak oleh redaktur dan dimuat rubrik puisi Bentara Harian Kompas tahun 2004. Sutardji dengan tenang mengatakan bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang tidak lekang meski dipermak dengan cara apa pun. Baginya, karya sastra yang baik seperti batu karang, meskipun dihantam berkali-kali keganasan gelombang, batu karang tetaplah batu karang!
Mencari Kritikus yang Lain
Mencari kritikus sastra yang lain di atas adalah sebuah ironi bagi perjalanan kritik sastra Tanah Air. Yang dibutuhkan sekarang, sebagai sugesti sastra, bagaimana kritikus mampu membaca "sisi lain" sebuah karya sastra.
Majalah sastra dan koran-koran yang memuat esai dan kritik sastra semestinya sudah evaluasi diri. Majalah sastra Horison, sebagai representasi majalah sastra Indonesia, seharusnya menyajikan esai yang cerdas, tidak mengulang-ulang kajian yang sebelumnya sudah pernah disentuh.
Esai Maman S. Mahayana di Horison beberapa waktu lalu (saya lupa tanggal terbitnya) tentang pembacaannya terhadap Rendra tak ubahnya seperti mengulang romantisme sejarah. Rendra yang lekat dengan nuansa balada, puisi pamflet, dan kritik sosialnya yang pedas dalam karya-karyanya dalam esai itu kembali diungkit.
Apa yang dapat diambil pembaca? Sama sekali pertanyaan itu tidak butuh jawaban karena semuanya telah jelas. Kenapa sisi lain Rendra, seperti dimensi religiositasnya dalam sepak terjang karya-karyanya tidak pernah disentil secara khusus?
Jadi, pencarian pembaruan (concern with newness) bukan hanya bagi sastrawan, tapi juga kritikus, menjadi elan vital terciptanya tradisi kritik yang menohok dan cerdas.
Sekarang kita butuh kritikus yang otonom dan bahkan--dalam tahap tertentu--harus "individualis". Hal ini sah saja mengingat karya sastra itu sendiri ambivalen dan personal.
Sebenarnya, kalau mau disadari, munculnya motode kritik yang telah legal-formal bagi kaum akademisi itu pada mulanya ialah "eksprimentasi personal" dan semacam kegelisahan seseorang terhadap suatu hal (karya sastra).
Namun, perlu disadari bahwa penerapan pembacaan semacam ini tentu menuntut beberapa prangkat pisau analisis yang perlu ditajamkan dan kreativitas kritikus terhadap karya sastra. Ketika kesadaran semacam ini telah tersentuh, hal yang niscaya jika dunia kesusastraan dan kritiknya akan lebih dewasa di tahun berikutnya.
Dunia kesusastran kita kan lebih cerah menatap masa depannya. Selamat tahun baru sastra Tanah Air!
*)Esais dan koordinator Lesehan Sastra-Budaya KUTUB Yogyakarta.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Bernando J. Sujibto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bernando J. Sujibto. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Januari 2009
Jumat, 26 September 2008
Negara Ini Memang Butuh Pemuda...
Bernando J. Sujibto
Benar. Negara ini memang butuh pemuda untuk maju dan sehat dalam setiap mekanisme yang dijalaninya. Saya bukan hendak mengatakan kalau pemimpin masa depan Indonesia harus di tangan generasi muda. Tapi yang jelas spirit muda di tubuh yang muda pula akan cepat dirasakan perubahannya dalam setiap denyut kehidupan ini. Hal itu tidak dapat terhindarkan karena peran pemuda telah menjadi sejarah terpenting sejak awal Indonesia berdiri.
Sejak era Soekarno berakhir kendali pemerintahan Indonesia di bawah penguasa lima presiden sejak rezim Orde Baru hingga Susolo B. Yudhoyono telah dilakoni oleh kaum tua. Soeharto maju menjadi presiden dalam usia 57 tahun, Habibie , Gus Dur , Megawati , SBY . Mekanisme kenegaraan yang dipegang kaum tua selama hampir setengah abad lamanya telah menunjukkan gejala apatis. Arena pemerintahan pun menjadi tempat paling ‘basah’ untuk mempertahankan kekuatan absolutisme kekuasaan yang terselubung d bawah "rezim tua". Sehingga proses regenerasi di negeri ini begitu buruk dalam catatan sejarah karena kenyataannya dalam kurun setengah abad kaum muda memang sengaja dibatasi aksesnya.
Sekarang kita bisa melihat secara kritis apa saja capaian yang ditunjukkan para kaum tua sejak Orba berkuasa hingga Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Kebijakan, citra dan gaya pemerintah, dan segala macam mekanisme birokrasi yang dipraktikkan sejauh ini masih tidak jauh beda. Mereka menganut sistem lama yang berselingkuh di bawah birokrasi yang tidak sehat, apriori, dan jelas apatis terhadap perkembangan yang terjadi. Sehingga saat ini bangsa dan negara Indonesia perlu mereformasi total sistem birokrasi gaya lama dan para birokratnya yang tidak mempunyai proyeksi progresif bagi kemajuan dan kesejahteraan negara ini ke depan.
Satu hal tidak boleh dilupakan sebagai fakta sejarah yang teramat penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Bangsa ini dapat terbebas dari kolonialisme karena berkat tekad bulad para pemuda yang mempunyai proyeksi jernih bagi masa depan negara yang sejahtera dan berdaulat. Sehingga Soekarno, Sjahrir, dan Hatta mengambil inisiatif atas kemerdekaan negeri ini. Dan bisa dibuktikan kejeniusan mereka dalam menyusun strategic-goal design bagi nakhoda Indonesia pertama. Semua itu tidak bisa dilepaskan dengan usia mereka yang masih berdarah segar sebagai generasi pemuda yang aktif, prioneer dan strategis.
Dalam sejarah dunia, generasi muda memang telah mencatatkan sejarah tersendiri dan tidak diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sosok Fidel Castro, sang revolusioner Kuba, yang menjadi pemimpin dalam usia 33 tahun setelah menumpaskan rezim otoritarianisme Batista. Castro telah membuktikan bisa menggerakkan semua lapisan masyarakat secara masif dan agresif untuk mengkudeta rezim meliter yang kejam.
Begitulah ciri agresifitas gerakan generasi muda yang tidak bisa dihindarkan—aktif, taktis, dan progresif. Dalam konteks Indonesia, sebuah negara yang terjerat dalam persoalan berlapis dan kronis selama bertahun-tahun, pemimpin yang mempunyai visi taktis dan progserif adalah suatu keniscayaan. Indonesia membutuhkan corak pemimpin seperti di atas demi mengembalikan spirit kesejahteraan dan kedaulatan bagi bangsa dan negana Indonesia tanpa terkecuali.
Kini saatnya kaum muda memimpin demi cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia. Semua kepercayaan harus disandarkan kepada generasi terbaik bangsa ini yang hendak membuktikan diri sebagai founding father kedua bagi Indonesia yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik dan kompleks. Karena tanpa ada tekad perubahan yang segar dan progresif yang berdasarkan kepada kondisi bangsa dana negara secara universal lapangan, kesejahteraan dan kedaulatan Indonesia tidak akan tercapai.
Mengiringi mereka (generasi muda terbaik) yang hendak mempersembahkan perubahan bagi Indonesia, kami generasi muda bangsa, para mahasiswa, mengucapkan selamat berjuang. Buktikan, bung!
Benar. Negara ini memang butuh pemuda untuk maju dan sehat dalam setiap mekanisme yang dijalaninya. Saya bukan hendak mengatakan kalau pemimpin masa depan Indonesia harus di tangan generasi muda. Tapi yang jelas spirit muda di tubuh yang muda pula akan cepat dirasakan perubahannya dalam setiap denyut kehidupan ini. Hal itu tidak dapat terhindarkan karena peran pemuda telah menjadi sejarah terpenting sejak awal Indonesia berdiri.
Sejak era Soekarno berakhir kendali pemerintahan Indonesia di bawah penguasa lima presiden sejak rezim Orde Baru hingga Susolo B. Yudhoyono telah dilakoni oleh kaum tua. Soeharto maju menjadi presiden dalam usia 57 tahun, Habibie , Gus Dur , Megawati , SBY . Mekanisme kenegaraan yang dipegang kaum tua selama hampir setengah abad lamanya telah menunjukkan gejala apatis. Arena pemerintahan pun menjadi tempat paling ‘basah’ untuk mempertahankan kekuatan absolutisme kekuasaan yang terselubung d bawah "rezim tua". Sehingga proses regenerasi di negeri ini begitu buruk dalam catatan sejarah karena kenyataannya dalam kurun setengah abad kaum muda memang sengaja dibatasi aksesnya.
Sekarang kita bisa melihat secara kritis apa saja capaian yang ditunjukkan para kaum tua sejak Orba berkuasa hingga Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Kebijakan, citra dan gaya pemerintah, dan segala macam mekanisme birokrasi yang dipraktikkan sejauh ini masih tidak jauh beda. Mereka menganut sistem lama yang berselingkuh di bawah birokrasi yang tidak sehat, apriori, dan jelas apatis terhadap perkembangan yang terjadi. Sehingga saat ini bangsa dan negara Indonesia perlu mereformasi total sistem birokrasi gaya lama dan para birokratnya yang tidak mempunyai proyeksi progresif bagi kemajuan dan kesejahteraan negara ini ke depan.
Satu hal tidak boleh dilupakan sebagai fakta sejarah yang teramat penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Bangsa ini dapat terbebas dari kolonialisme karena berkat tekad bulad para pemuda yang mempunyai proyeksi jernih bagi masa depan negara yang sejahtera dan berdaulat. Sehingga Soekarno, Sjahrir, dan Hatta mengambil inisiatif atas kemerdekaan negeri ini. Dan bisa dibuktikan kejeniusan mereka dalam menyusun strategic-goal design bagi nakhoda Indonesia pertama. Semua itu tidak bisa dilepaskan dengan usia mereka yang masih berdarah segar sebagai generasi pemuda yang aktif, prioneer dan strategis.
Dalam sejarah dunia, generasi muda memang telah mencatatkan sejarah tersendiri dan tidak diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sosok Fidel Castro, sang revolusioner Kuba, yang menjadi pemimpin dalam usia 33 tahun setelah menumpaskan rezim otoritarianisme Batista. Castro telah membuktikan bisa menggerakkan semua lapisan masyarakat secara masif dan agresif untuk mengkudeta rezim meliter yang kejam.
Begitulah ciri agresifitas gerakan generasi muda yang tidak bisa dihindarkan—aktif, taktis, dan progresif. Dalam konteks Indonesia, sebuah negara yang terjerat dalam persoalan berlapis dan kronis selama bertahun-tahun, pemimpin yang mempunyai visi taktis dan progserif adalah suatu keniscayaan. Indonesia membutuhkan corak pemimpin seperti di atas demi mengembalikan spirit kesejahteraan dan kedaulatan bagi bangsa dan negana Indonesia tanpa terkecuali.
Kini saatnya kaum muda memimpin demi cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia. Semua kepercayaan harus disandarkan kepada generasi terbaik bangsa ini yang hendak membuktikan diri sebagai founding father kedua bagi Indonesia yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik dan kompleks. Karena tanpa ada tekad perubahan yang segar dan progresif yang berdasarkan kepada kondisi bangsa dana negara secara universal lapangan, kesejahteraan dan kedaulatan Indonesia tidak akan tercapai.
Mengiringi mereka (generasi muda terbaik) yang hendak mempersembahkan perubahan bagi Indonesia, kami generasi muda bangsa, para mahasiswa, mengucapkan selamat berjuang. Buktikan, bung!
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar