Tampilkan postingan dengan label Bernando J. Sujibto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bernando J. Sujibto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2009

Kritik (Sastra) Pembuka Tahun

Bernando J. Sujibto*
http://www.lampungpost.com/

DISKURSUS seputar kritik dan apresiasi karya sastra tak akan ada habisnya selama pencarian kreativitas-imajinatif masih, meminjam istilah Arif B. Prasetyo, konsisten dengan pencarian pembaruan (concern with newness). Dalam perjalanan khazanah kesusastraan, dinamika karya sastra dan kritiknya adalah sebuah keniscayaan.

Keduanya seperti dua mata uang yang saling membentuk (atau menciptakan) dan "merekonstruksi" sebuah kekuatan yang terkandung sebagai kekayaan atas keduanya.

Pada titik inilah keduanya menjadi suatu hal yang perlu dioptimalkan peran sekaligus peranannya. Keduanya harus dicari titik relevansi pencerahannya yang pada gilirannya melahirkan dinamika harmonis-mutualistik, keduanya saling mewarnai dan menjadi kesatuan yang padu.

Bahkan, bagi sebagian kritikus sastra, kritik sastra yang baik harus seperti karya sastra itu sendiri. Artinya, kritik sastra yang baik harus juga bisa menjadi sebuah karya yang netral seperti halnya karya sastra tersebut.

Dalam pandangan penulis, kritikus sastra di Tanah Air tak ubahnya seperti seorang hamba yang "terjebak metodologi". Dominasi metodelogi dalam kritik sastra dengan segenap perangkatnya selalu menciptakan determinasi bahkan reduksi besar-besaran terhadap karya sastra. Karya sastra seolah mempunyai satu ruang interpretasi ketika metodologi--yang selama ini menjadi "proyek" akademik--menjadi suatu penentu dasar dan pakem yang paten.

Posisi karya sastra yang otonom dan merdeka sebagai sebuah teks untuk segala zaman tidak mendapatkan ruang apresiasi yang semestinya. Bahkan ironisnya, kritik sastra yang (dianggap) baik dan bertuah oleh banyak kalangan adalah kritik sastra yang selalu merujuk pada tataran historisasi, periodisasi, genreisasi sastra gaya akademik yang kental dengan perangkat metodologi an sich.

Ketekunan H.B. Jassin mengamati khazanah kesusastraan kita benar-benar menjadi "paus" bahkan raja yang harus diamini. Satu sisi, Jassin menjadi kebanggaan kita karena berhasil membaca karya sastra dengan tekun dan serius. Namun, di sisi lain hasil Jassin benar-benar menjadi patokan baku dan mereduksi pembacaan kritis terhadap karya sastra generasi selanjutnya.

Pembacaan karya sastra seakan cukup dengan periodesasi, genre, unsur-unsur "mentah" lain. Usaha menelanjanginya hingga tulang putihnya, meminjam istilah Chairil Anwar, belum bernyali.

Hasil pekerjaan Jassin yang telah mengklasifikasi karya sastra dan sastrawannya dalam periode, aliran, dan jenis-jenis, disadari atau tidak, memengaruhi dan mereduksi daya interpretasi intelektualitas kita terhadap karya sastra.

Anehnya, kegandrungan kritikus kita masih terpaku dalam hal ini. Kritikus sastra kita seperti terjangkit sindrom metode tentang periodisasi dan unsur-unsur sempit karya sastra itu sendiri.

Tak aneh jika kemudian ada suara minor bahwa perkembangan kritik sastra kita sama sekali tidak mempunyai arah yang mencerahkan sebagai jembatan transformatif mendialogkan karya sastra dengan masyarakat luas.

Menarik kita mengetahui wawancara Jorge Luis Borges di salah satu majalah sastra Prancis, Le Magazine Litteraire bulan Juni 1977. Waktu itu Borges sama sekali tidak bisa melihat.

Borges ditanya, kenapa tidak suka dengan teori sastra akademik (literary schools). Jawaban Borges adalah the literary schools are made for the historians of the literature, i.e. for the opposite of the men of letters (sastra akademik dibuat untuk sejarawan sastra, berseberangan dengan sastrawan sendiri).

Borges justru mengagumi khazanah sastra Persia, Irak, dan Arab klasik yang tidak mempunyai sejarah kesusastraan. Dia percaya karya sastra yang baik adalah eternal (abadi) dan tak lekang oleh waktu seperti ketika membaca karya puisi Hafiz ataupun karya sastrawan Persia yang lain seperti Rumi.

Karya-karya mereka, meminjam istilah Borges, beyond the dates, of the schools. Karena pembacaan terhadap karya sastra tanpa memedulikan kapan lahir (karya klasik maupun up to date), genre, dan semacamnya akan melahirkan nuansa yang lebih enjoy (enjoy it perhaps better).

Hal senada sempat dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri ketika menanggapi "surat sastra dari Jogja"-nya Joko Pinurbo yang menggugat larik puisinya yang salah cetak oleh redaktur dan dimuat rubrik puisi Bentara Harian Kompas tahun 2004. Sutardji dengan tenang mengatakan bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang tidak lekang meski dipermak dengan cara apa pun. Baginya, karya sastra yang baik seperti batu karang, meskipun dihantam berkali-kali keganasan gelombang, batu karang tetaplah batu karang!

Mencari Kritikus yang Lain

Mencari kritikus sastra yang lain di atas adalah sebuah ironi bagi perjalanan kritik sastra Tanah Air. Yang dibutuhkan sekarang, sebagai sugesti sastra, bagaimana kritikus mampu membaca "sisi lain" sebuah karya sastra.

Majalah sastra dan koran-koran yang memuat esai dan kritik sastra semestinya sudah evaluasi diri. Majalah sastra Horison, sebagai representasi majalah sastra Indonesia, seharusnya menyajikan esai yang cerdas, tidak mengulang-ulang kajian yang sebelumnya sudah pernah disentuh.

Esai Maman S. Mahayana di Horison beberapa waktu lalu (saya lupa tanggal terbitnya) tentang pembacaannya terhadap Rendra tak ubahnya seperti mengulang romantisme sejarah. Rendra yang lekat dengan nuansa balada, puisi pamflet, dan kritik sosialnya yang pedas dalam karya-karyanya dalam esai itu kembali diungkit.

Apa yang dapat diambil pembaca? Sama sekali pertanyaan itu tidak butuh jawaban karena semuanya telah jelas. Kenapa sisi lain Rendra, seperti dimensi religiositasnya dalam sepak terjang karya-karyanya tidak pernah disentil secara khusus?

Jadi, pencarian pembaruan (concern with newness) bukan hanya bagi sastrawan, tapi juga kritikus, menjadi elan vital terciptanya tradisi kritik yang menohok dan cerdas.

Sekarang kita butuh kritikus yang otonom dan bahkan--dalam tahap tertentu--harus "individualis". Hal ini sah saja mengingat karya sastra itu sendiri ambivalen dan personal.

Sebenarnya, kalau mau disadari, munculnya motode kritik yang telah legal-formal bagi kaum akademisi itu pada mulanya ialah "eksprimentasi personal" dan semacam kegelisahan seseorang terhadap suatu hal (karya sastra).

Namun, perlu disadari bahwa penerapan pembacaan semacam ini tentu menuntut beberapa prangkat pisau analisis yang perlu ditajamkan dan kreativitas kritikus terhadap karya sastra. Ketika kesadaran semacam ini telah tersentuh, hal yang niscaya jika dunia kesusastraan dan kritiknya akan lebih dewasa di tahun berikutnya.

Dunia kesusastran kita kan lebih cerah menatap masa depannya. Selamat tahun baru sastra Tanah Air!

*)Esais dan koordinator Lesehan Sastra-Budaya KUTUB Yogyakarta.

Jumat, 26 September 2008

Negara Ini Memang Butuh Pemuda...

Bernando J. Sujibto

Benar. Negara ini memang butuh pemuda untuk maju dan sehat dalam setiap mekanisme yang dijalaninya. Saya bukan hendak mengatakan kalau pemimpin masa depan Indonesia harus di tangan generasi muda. Tapi yang jelas spirit muda di tubuh yang muda pula akan cepat dirasakan perubahannya dalam setiap denyut kehidupan ini. Hal itu tidak dapat terhindarkan karena peran pemuda telah menjadi sejarah terpenting sejak awal Indonesia berdiri.

Sejak era Soekarno berakhir kendali pemerintahan Indonesia di bawah penguasa lima presiden sejak rezim Orde Baru hingga Susolo B. Yudhoyono telah dilakoni oleh kaum tua. Soeharto maju menjadi presiden dalam usia 57 tahun, Habibie , Gus Dur , Megawati , SBY . Mekanisme kenegaraan yang dipegang kaum tua selama hampir setengah abad lamanya telah menunjukkan gejala apatis. Arena pemerintahan pun menjadi tempat paling ‘basah’ untuk mempertahankan kekuatan absolutisme kekuasaan yang terselubung d bawah "rezim tua". Sehingga proses regenerasi di negeri ini begitu buruk dalam catatan sejarah karena kenyataannya dalam kurun setengah abad kaum muda memang sengaja dibatasi aksesnya.

Sekarang kita bisa melihat secara kritis apa saja capaian yang ditunjukkan para kaum tua sejak Orba berkuasa hingga Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Kebijakan, citra dan gaya pemerintah, dan segala macam mekanisme birokrasi yang dipraktikkan sejauh ini masih tidak jauh beda. Mereka menganut sistem lama yang berselingkuh di bawah birokrasi yang tidak sehat, apriori, dan jelas apatis terhadap perkembangan yang terjadi. Sehingga saat ini bangsa dan negara Indonesia perlu mereformasi total sistem birokrasi gaya lama dan para birokratnya yang tidak mempunyai proyeksi progresif bagi kemajuan dan kesejahteraan negara ini ke depan.

Satu hal tidak boleh dilupakan sebagai fakta sejarah yang teramat penting pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Bangsa ini dapat terbebas dari kolonialisme karena berkat tekad bulad para pemuda yang mempunyai proyeksi jernih bagi masa depan negara yang sejahtera dan berdaulat. Sehingga Soekarno, Sjahrir, dan Hatta mengambil inisiatif atas kemerdekaan negeri ini. Dan bisa dibuktikan kejeniusan mereka dalam menyusun strategic-goal design bagi nakhoda Indonesia pertama. Semua itu tidak bisa dilepaskan dengan usia mereka yang masih berdarah segar sebagai generasi pemuda yang aktif, prioneer dan strategis.

Dalam sejarah dunia, generasi muda memang telah mencatatkan sejarah tersendiri dan tidak diragukan lagi. Salah satu buktinya adalah sosok Fidel Castro, sang revolusioner Kuba, yang menjadi pemimpin dalam usia 33 tahun setelah menumpaskan rezim otoritarianisme Batista. Castro telah membuktikan bisa menggerakkan semua lapisan masyarakat secara masif dan agresif untuk mengkudeta rezim meliter yang kejam.

Begitulah ciri agresifitas gerakan generasi muda yang tidak bisa dihindarkan—aktif, taktis, dan progresif. Dalam konteks Indonesia, sebuah negara yang terjerat dalam persoalan berlapis dan kronis selama bertahun-tahun, pemimpin yang mempunyai visi taktis dan progserif adalah suatu keniscayaan. Indonesia membutuhkan corak pemimpin seperti di atas demi mengembalikan spirit kesejahteraan dan kedaulatan bagi bangsa dan negana Indonesia tanpa terkecuali.

Kini saatnya kaum muda memimpin demi cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia. Semua kepercayaan harus disandarkan kepada generasi terbaik bangsa ini yang hendak membuktikan diri sebagai founding father kedua bagi Indonesia yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik dan kompleks. Karena tanpa ada tekad perubahan yang segar dan progresif yang berdasarkan kepada kondisi bangsa dana negara secara universal lapangan, kesejahteraan dan kedaulatan Indonesia tidak akan tercapai.

Mengiringi mereka (generasi muda terbaik) yang hendak mempersembahkan perubahan bagi Indonesia, kami generasi muda bangsa, para mahasiswa, mengucapkan selamat berjuang. Buktikan, bung!

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar