http://sastra-indonesia.com/
ULANGAN BAHTERA
Seperti firman, dia membuat bahtera di puncak bukit. Dan
memasukkan bekal serta memilih setiap yang berpasangan dengan
tenang. Sambil diajar menghitung. Dan cara menghadapi laut.
Laut yang akan menenggelamkan bukit tanpa ampun.
“Tapi, apa benar laut bisa menenggelamkan bukit?”
Dia cuma ketawa. Dia tahu, jika pengetahuannya tak bisa
diungkap semua. Harus ada yang tetap rahasia. Dan tetap
dibiarkan seperti teka-teki sapi betina yang kuning. Yang
membuat kaum pendebat terus menerus berputaran. Berpusaran.
“Tuan bisa ketawa. Sebab, Tuhan-tuan mungkin juga ketawa,”
Dia kembali ketawa. Dan segulung kulit kambing dibentang.
Dia pun menunjuki dua atau tiga noktah. Tapi tetap saja
tak memberi keterangan. Dibiarkannya yang ada terbekap.
Dan dibiarkannya yang ada bersungut-sungut: wah, wah..
Dan sepekan ke depan, sebelum laut tiba dan menengelamkan,
dia turun ke seputar bukit. “Akh, betapa indahnya bukit ini,”
Dan dia pun memungut sejumput pasir. Lewat pasir itu, dia
berdoa dengan panjang. Panjang yang disergap senyap.
Dia sadar: memang ada yang mengakuinya. Dan ada juga
yang mengujinya. Mungkin yang tak disadari, mengapa
ada si ketiga yang selalu berkilah: “Pergi sendiri juga sebuah
pilihan bukan?” Si ketiga yang selalu mengunci mulut.
Si ketiga yang memang tak bisa dia ungkap. Kecuali
membuatnya mesti berkebat. Sebelum segalanya terlambat.
Bukit tenggelam. Dan laut yang tiba, menyingkap rahasianya.
Seperti rahasia dia dan Tuhan-nya yang mungkin juga ketawa itu.
(Gresik, 2007)
BATU APUNG
Batu apung yang cemburu pada sang utusan sebelum terbang ke langit, menghitam di matamu yang makin hitam itu. Dan duniamu yang hitam memang penuh bentangan yang terkibar. Seperti kain raksasa. Yang tak akan bisa dicari panjang dan lebarnya: “Aku ingin membikin anak-anak berlarian dengan merdeka!”
Tapi teriakanmu itu, teriakan yang juga hitam, cuma mengapung di panggung. Seperti seekor mamalia pilihan yang dilelang. Lalu kau ringkus dengan dedaunan dan biji-biji ulat. Seperti sesaji harian yang mesti kau lepas. Ketika semua orang sibuk memasangkan sayap di kedua tangan dan kakimu yang ingin naik.
“Silakan, jika Tuan mau terbang menemui sang utusan!” Ahai, apa kau siap untuk terbang? Di seputarmu, tubuh-tubuh yang kepalanya telah kau sunduk pun saling menggigil. Dan anak-anak yang berlariannya akan kau merdekakan itu cuma berdiri di pinggiran. Sambil menyembab: “Beri kami recehan, entar Tuan, kami beri doa yang makbul, oke?”
Kau pun cuma mendengus. Dan batu apung yang menghitam di matamu yang makin hitam itu pun mendadak memelar. Menutup semuanya. Termasuk meja, gorden, kursi, taplak dan pendingin di jantungmu. Yang kemarin siang telah kau jagakan pada si melata. Si melata yang di hari-hari tertentu, memasukkan si makelar yang menawarkan kenyamanan.
Kenyamanan untuk terbang. Kenyamanan untuk menemui sang utusan. Dan kenyamanan untuk balik lagi sambil berlagak: “Di langit aku telah bertemu sang utusan. Dan sang utusan berkata, mengapa matamu begitu hitam. Dan begitu seperti tak ada lubang untuk bianglala. Seperti mata milik si pasukan gajah yang telengas dulu?”
Lalu kembali kau pun mendengus. Dan kembali pula kau mengganti si melata penjaga jantungmu dengan seekor gajah yang besar. Dengan belalai, kuping, kaki, perut dan kerahasiaan yang juga besar. Kerahasiaan yang menegak Kerahasiaan. yang seluruh keutuhanya kau beri otot besi. Dan kau tindik dengan pesan: “Ya, ya, percayalah, segala taruhan itu memang bermula di ini!”
(Gresik, 2007)
*) Dari kumpulan puisi Mardi Luhung bertitel “BUWUN” diterbitkan PUstaka puJAngga, 2010.
MARDI LUHUNG: Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media, seperti: Kalam, Surabaya Post, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, HAI, Kuntum, Tebuireng, Memorandum, Kolong, Teras, Buletin DKS, Kidung DKJT, Karya Darma dan Jurnal Selarong. Sedangkan buku yang memuat puisinya adalah: Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2003), Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (Horison, 2002), Bapakku Telah Pergi (BMS, 1995), TUK volume II Bertandang dalam Proses (TUK, 1999), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), Birahi Hujan (DKJ-AKAR-Logung, 2004) dan Living Together (Kalam, 2005). Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996) dan Wanita yang Kencing di Semak (2002). Pernah memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional pada Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diadakan oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999). Mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam Bidang Puisi (2002), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), International Literary Biennale (2005) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Mardi Luhung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mardi Luhung. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 April 2011
Minggu, 27 Juni 2010
BAWEAN SENANDUNG DI ATAS AWAN
Judul Buku : Buwun
Pengarang : Mardi Luhung
Jenis Buku : Kumpulan Puisi
Epilog : Beni Setia
Penerbit : PUstaka puJAngga, Februari 2010
Tebal Buku : 66 hlm. 12 x 19 cm
Peresensi : Imamuddin SA
Pengarang : Mardi Luhung
Jenis Buku : Kumpulan Puisi
Epilog : Beni Setia
Penerbit : PUstaka puJAngga, Februari 2010
Tebal Buku : 66 hlm. 12 x 19 cm
Peresensi : Imamuddin SA
Senin, 15 September 2008
PERAHUKU
diambil dari Jurnal Nasional 14 Sep 2008
Mardi Luhung
Umi dan Abi pergi ke taman kampung. Umi berkebaya sedap. Abi berbaju koko. Kata keduanya: “Kami ingin naik sepur kelinci yang panjang!” terus tersenyum. Senyum yang lepas. Dan membuntut di belakang sepur kelinci yang panjang itu. Seperti buntut layang-layang yang tertempa oleh angin. Meriah dan menyala. Dengan warna yang terang. Warna yang ketika masuk ke dalam mimpiku, akan mewarnai relungnya. Sampai membuat mimpiku merajuk: “Tolong, jangan, jangan bangunkan aku dari ini semua!” Dan senyum yang mengingatkan aku pada yang bertumbuhan di kelebatan bulumu. Yang kerap kau warnai. Yang sesekali menggumpal. Dan sesekali bergerai. Meluncurkan perahuku yang aku anyam dari puisi.
Perahuku yang aku anyam dari puisi?
Ya, ya, perahuku memang aku anyam dari puisi. Puisi yang kata-katanya aku petik dari butir embun yang menetes. Jatuh ke sayap kepik. Memantul. Dan membuat rona yang kelap-kelip. Rona yang sering memasuki mata. Membangun sebuah kolam air yang lonjong. Kolam air yang jernih. Yang kata kabar, tempat tujuh bidadari turun dari surga dan keramas di situ. Lalu seorang pemburu datang. Menembakkan senapannya. Tujuh bidadari pun lenyap sambil menebar ancaman: “Seumur-umurnya, kau, pemburu, akan terlunta-lunta. Seperti terlunta-luntanya si penjual. Sebab telah menjual si orang suci dengan dua karung keping emas. Dua karung keping emas yang kelak akan menjelma besi yang menggembol di punggung!”
Dan si penjual yang kelak akan turun-naik bukit. Sebab dikejar sesal. Diburu awas: “Aku tak sengaja! Aku tak sengaja, menjual si orang suci itu!” terus hilang di balik hutan onak. Dan sekian abad ke depan, rimbun hutan onak itu akan menjadi teka-teki. Teka-teki tentang pengkhianatan sebuah kesetiaan. Juga pembalasan kekelabuan yang ada di tempat yang tak terjangkau. Kekelabuan yang sesekali muncul di dalam angan atau di sela genta. Genta yang digoyang-goyang oleh si pengkotbah. Yang sering berkotbah semacam ini: “Bangun, bangunlah hai orang yang lalai mendengar. Orang yang selalu berjalan di musim panas dan dingin. Di musim yang selalu membuat kau menjadi menghormati setiap yang layak untuk dihormati!”
Tapi selamu: “Apa perahumu yang meluncur itu punya kemudi?” Wah, aku tak menggubris. Sebab, aku tetap terpukau pada Umi dan Abi. Yang asyik di sepur kelinci yang panjang itu. Lihatlah, keduanya bahagia. Ada musim panen yang tak mau pamit. Dan ada kibaran benderang di musim itu. Yang di bawahnya, kebun palawija dan rempah pun saling hilir dan sihir. Kebun palawija dan rempah yang dijaga si orang-orangan yang terus menegak. Si orang-orangan yang punya tangan dari jerami. Sedang, topinya pun tampak kebesaran. Menutupi wajahnya yang terbikin dari labu kering. Labu yang cokelat dan keling. Seakan menyimpan hangat matahari. Matahari yang pernah diketapel oleh si anak nakal. Dan gumpilannya dipungut untuk diberikan kepada si adik. Yang berkilah: “Kakak, Kakak, ayo, ketapelkan matahari untukku!”
Dan waktu itu, si adik berbaju kuning. Berpita merah. Dan bersepatu putih. Tanpa kaos kaki dan topi. Dari lentik matanya, seperti ingin meringkus setiap yang dipandangnya. Untuk kemudian dilipat dan diremas-remas menjadi secangkup lempung basah. Lempung basah yang akan dengan mudah dijadikan rumah dengan segala isinya. Termasuk juga dua ekor kucing gemuk. Kucing yang selalu ditemui di genting. Ketika gerhana bulan tiba. Dan musim kawin membuka selubungnya.
…
Selanjutnya, menurut bisik-bisik, setelah si adik menerima gumpilan matahari, pun menelannya. Dan seketika itu pula, si adik pun menjelma cahaya. Cahaya yang melintas. Melintas dengan kecepatan yang tinggi. Seperti seekor naga yang bergegas. Naga yang menyala yang menggores angkasa di malam hari. Dan menurut bisik-bisik yang lain, jika siapa saja melihat goresan di angkasa itu, maka setiap permintaannya akan terpenuhi. Oleh karenanya, tak salah jika goresan di angkasa itu dirindukan bagi yang ingin merengkuh harap. Termasuk juga meringkus cemas. Dan doanya adalah: “Naga lewat, semua selamat. Naga pergi, jangan melambai. Segala amanat, tak terkhianat!”
Dan kelak, siapa saja tahu, jika naga itu akan berhenti di sebuah negeri. Kawin. Beranak. Dan mati dalam wujud seonggok batu. Batu bening yang tersepuh binar keemasan. Batu yang selalu diziarahi para pasangan kekasih. Agar mereka tetap setia. Sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Sampai di antara mereka ada yang mengembuskan napas terakhir. Dan berbisik: “Aku tunggu kau, aku tunggu kau. Tak ada yang bisa melenyapkan kenangan kita. Sebab, sekali telah tertulis di jantung ini, siapa yang mampu menghapusnya…”
Lalu, aku berangan: “Apa kelak kita bisa sebahagia mereka?” Ya, ya, di depan cerminmu aku pun mencoba menelisik tubuhku. Tubuh yang hijau. Hijau yang bening. Dan bening yang menampakkan setiap isi perutnya. Menampakkan dirimu yang ada di balik usus. Dan sergahku: “Mengapa kau bersembunyi di balik ususku? Apa kau tetap tak ingin pulang?” Kau menggeleng. Gelengan yang tak begitu tegas. Apa kau ragu? Apa juga kau punya pilihan yang tak terduga? Pilihan yang selalu muncul-hilang seperti bayangan si burung bul-bul. Si burung bulbul yang membuat segenap kampung ribut. Ingin memburu dan menangkapnya. Agar dapat dijadikan hidangan bagi sang raja. Sang raja yang sakit tapi tak mati-mati. Sang raja yang telah membunuh dan memakan 1.000 istrinya. Sampai istri yang ke-1001 datang dan menyadarkannya. Menyadarkan dengan hikayat yang sambung-bersambung. Hikayat yang kelak akan dibaca oleh siapa saja yang percaya pada cinta dan pengorbanan. Hikayat yang menempel di sebentuk potongan tangan.
“Tapi, aku juga mengenal potongan tangan yang lain?” sergahmu tiba-tiba.
“Potongan tangan yang lain! Potongan tangan apa?”
Ternyata dari sergahanmu itu, aku jadi tahu, jika potongan tangan yang lain, yang kau kenal itu telah gosong. Keling, liat dan cenderung ingin menangkapi angin. Dan antara membuka dan menutupnya seperti tak berbeda. Sama-sama normal tapi bebal. Potongan tangan yang pernah diceritakan saat dunia masih dihuni para penyihir. Yang menyihir tongkat jadi ular. Ular jadi belalang. Belalang jadi gunung. Gunung jadi rumput. Rumput jadi kambing. Kambing jadi kembang. Kembang jadi kayu. Kayu jadi angin. Angin jadi genting. Genting jadi kodok. Kodok jadi pipi. Pipi jadi ludah. Ludah jadi daging. Daging jadi jalan. Dan jalan jadi jarak panjang yang berkelok. Jarak panjang yang pergi tapi tak pernah pulang. Terus dan terus melangkah. Ke mana? Lagi-lagi tak jelas.
Dan akh, ketika aku ingin tahu itu potongan tangan milik siapa? Kau pun cuma menunjuk pada si bugil yang datang dari arah lain. Si bugil yang kerahasiaannya telah tersilang. Yang lehernya jenjang. Tapi, justru di leher itu selingkar ijuk terlingkar. Dan si bugil yang seluruh tubuhnya berwarna selang-seling. Ada hijau, kuning, cokelat, merah, jingga juga ungu. Yang menyalanya silih-ganti. Tergantung pada tempat yang ditempatinya. Jadi, barangkali si bugil mirip bunglon yang berwujud manusia. Bunglon yang pernah dibisikkan oleh si pengigau. Ketika dua kupingnya telah diiris sendiri. Dan ketika di ubun-ubunnya telah melingkar asap berat. Yang sesekali menjelma mulut buas. Sesekali lain, menjelma bibir yang merangsang.
Lalu potongan tangan gosong itu pun menarik ijuk yang melingkar di leher si bugil. Sampai si bugil mendekat. Menjilat. Dan menyergah: “Kekasihku, kerinduan kita untuk menjadi sepasang mambang, adalah kerinduan yang begitu melelahkan. Padahal, pantai demikian jauh. Kelenyapan demikian merayap.” Seperti rayapan seekor cecak di tembok licin. Pelan, pelan, pelan dan pelan. Sambil mendengarkan tangisan manja si wanita pada si lelakinya. Tangisan manja yang selalu bertanya seperti ini: “Sayang, cecak itu bicara apa? Adakah dusta? Adakah luka? Adakah yang tak terketahui padaku?” Ya, karena si lelakinya cuma tersenyum, maka saat itu juga, si wanita pun mengakhiri hidupnya persis di bawah patung si dewa kasmaraan.
Si dewa kasmaran yang pernah menikam ayahnya yang berwujud anjing. Lalu menendang sampan jadi gunung. Sebab tak tahu, jika dia mencintai soal yang salah. Padahal, menurutnya, cinta bukan merupakan sebuah kekeliruan. Melainkan, sebuah rasa yang tak diketahui: dari mana datangnya, siapa yang mendatangkannya, dan mengapa mesti datang? Dan mengapa pula, bagi setiap yang didatangi selalu mesti berpikir dulu. Dan mesti mencari jawab, pada orang-orang suci yang telah menusuk dua matanya. Agar menjadi buta dan tidak dibutakan oleh cinta. Grrrrrhhh, si dewa kasmaran benar-benar marah waktu itu.
Malamnya, taman kampung pun padam. Pengunjung pulang. Dan sepur kelinci yang panjang itu pun teronggok seperti bangkai. Bangkai yang melingkar. Bangkai yang tak lagi punya kekuatan dan daya. Kecuali pasrah dan menerima segala tiba. Apakah nanti menjadi padam, remang atau malah sesekali menggeliat. Seperti digeliatkan oleh sesuatu yang tak pernah putus. Sesuatu yang pernah menulis setiap nama (termasuk namaku dan namamu), di selembar daun. Sedangkan, dari kursi bekas yang dipakai Umi dan Abi, aku melihat tangan gosong dan si bugil itu sedang berpelukan. Berpelukan lama. Lama sekali. Dan dari balik remang, pelukan keduanya mengingatkan aku pada sebentuk lambang purba. Dari sebuah hutan yang selalu ditakaburi bandang.
“Mengapa kau masih bersembunyi di balik ususku?”
Perahuku yang aku anyam dari puisi pun terus meluncur.
…
Ya, ya, perahuku yang aku anyam dari puisi memang terus meluncur. Meluncurkan diriku. Juga meluncurkan dirimu yang bersembunyi di balik ususku. Dan perahuku ini melewati setiap ketinggian yang membentang. Ketinggian yang begitu luas. Dan begitu membuat dirinya kelak akan menjelma debu. Debu alit. Debu yang segera meragukan diri sendiri. Apakah benar dirinya terus bisa meluncur dan bahagia? Atau malah remuk dan lenyap disaput waktu.
Disaput waktu!
(Gresik, 2008)
Mardi Luhung
Umi dan Abi pergi ke taman kampung. Umi berkebaya sedap. Abi berbaju koko. Kata keduanya: “Kami ingin naik sepur kelinci yang panjang!” terus tersenyum. Senyum yang lepas. Dan membuntut di belakang sepur kelinci yang panjang itu. Seperti buntut layang-layang yang tertempa oleh angin. Meriah dan menyala. Dengan warna yang terang. Warna yang ketika masuk ke dalam mimpiku, akan mewarnai relungnya. Sampai membuat mimpiku merajuk: “Tolong, jangan, jangan bangunkan aku dari ini semua!” Dan senyum yang mengingatkan aku pada yang bertumbuhan di kelebatan bulumu. Yang kerap kau warnai. Yang sesekali menggumpal. Dan sesekali bergerai. Meluncurkan perahuku yang aku anyam dari puisi.
Perahuku yang aku anyam dari puisi?
Ya, ya, perahuku memang aku anyam dari puisi. Puisi yang kata-katanya aku petik dari butir embun yang menetes. Jatuh ke sayap kepik. Memantul. Dan membuat rona yang kelap-kelip. Rona yang sering memasuki mata. Membangun sebuah kolam air yang lonjong. Kolam air yang jernih. Yang kata kabar, tempat tujuh bidadari turun dari surga dan keramas di situ. Lalu seorang pemburu datang. Menembakkan senapannya. Tujuh bidadari pun lenyap sambil menebar ancaman: “Seumur-umurnya, kau, pemburu, akan terlunta-lunta. Seperti terlunta-luntanya si penjual. Sebab telah menjual si orang suci dengan dua karung keping emas. Dua karung keping emas yang kelak akan menjelma besi yang menggembol di punggung!”
Dan si penjual yang kelak akan turun-naik bukit. Sebab dikejar sesal. Diburu awas: “Aku tak sengaja! Aku tak sengaja, menjual si orang suci itu!” terus hilang di balik hutan onak. Dan sekian abad ke depan, rimbun hutan onak itu akan menjadi teka-teki. Teka-teki tentang pengkhianatan sebuah kesetiaan. Juga pembalasan kekelabuan yang ada di tempat yang tak terjangkau. Kekelabuan yang sesekali muncul di dalam angan atau di sela genta. Genta yang digoyang-goyang oleh si pengkotbah. Yang sering berkotbah semacam ini: “Bangun, bangunlah hai orang yang lalai mendengar. Orang yang selalu berjalan di musim panas dan dingin. Di musim yang selalu membuat kau menjadi menghormati setiap yang layak untuk dihormati!”
Tapi selamu: “Apa perahumu yang meluncur itu punya kemudi?” Wah, aku tak menggubris. Sebab, aku tetap terpukau pada Umi dan Abi. Yang asyik di sepur kelinci yang panjang itu. Lihatlah, keduanya bahagia. Ada musim panen yang tak mau pamit. Dan ada kibaran benderang di musim itu. Yang di bawahnya, kebun palawija dan rempah pun saling hilir dan sihir. Kebun palawija dan rempah yang dijaga si orang-orangan yang terus menegak. Si orang-orangan yang punya tangan dari jerami. Sedang, topinya pun tampak kebesaran. Menutupi wajahnya yang terbikin dari labu kering. Labu yang cokelat dan keling. Seakan menyimpan hangat matahari. Matahari yang pernah diketapel oleh si anak nakal. Dan gumpilannya dipungut untuk diberikan kepada si adik. Yang berkilah: “Kakak, Kakak, ayo, ketapelkan matahari untukku!”
Dan waktu itu, si adik berbaju kuning. Berpita merah. Dan bersepatu putih. Tanpa kaos kaki dan topi. Dari lentik matanya, seperti ingin meringkus setiap yang dipandangnya. Untuk kemudian dilipat dan diremas-remas menjadi secangkup lempung basah. Lempung basah yang akan dengan mudah dijadikan rumah dengan segala isinya. Termasuk juga dua ekor kucing gemuk. Kucing yang selalu ditemui di genting. Ketika gerhana bulan tiba. Dan musim kawin membuka selubungnya.
…
Selanjutnya, menurut bisik-bisik, setelah si adik menerima gumpilan matahari, pun menelannya. Dan seketika itu pula, si adik pun menjelma cahaya. Cahaya yang melintas. Melintas dengan kecepatan yang tinggi. Seperti seekor naga yang bergegas. Naga yang menyala yang menggores angkasa di malam hari. Dan menurut bisik-bisik yang lain, jika siapa saja melihat goresan di angkasa itu, maka setiap permintaannya akan terpenuhi. Oleh karenanya, tak salah jika goresan di angkasa itu dirindukan bagi yang ingin merengkuh harap. Termasuk juga meringkus cemas. Dan doanya adalah: “Naga lewat, semua selamat. Naga pergi, jangan melambai. Segala amanat, tak terkhianat!”
Dan kelak, siapa saja tahu, jika naga itu akan berhenti di sebuah negeri. Kawin. Beranak. Dan mati dalam wujud seonggok batu. Batu bening yang tersepuh binar keemasan. Batu yang selalu diziarahi para pasangan kekasih. Agar mereka tetap setia. Sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Sampai di antara mereka ada yang mengembuskan napas terakhir. Dan berbisik: “Aku tunggu kau, aku tunggu kau. Tak ada yang bisa melenyapkan kenangan kita. Sebab, sekali telah tertulis di jantung ini, siapa yang mampu menghapusnya…”
Lalu, aku berangan: “Apa kelak kita bisa sebahagia mereka?” Ya, ya, di depan cerminmu aku pun mencoba menelisik tubuhku. Tubuh yang hijau. Hijau yang bening. Dan bening yang menampakkan setiap isi perutnya. Menampakkan dirimu yang ada di balik usus. Dan sergahku: “Mengapa kau bersembunyi di balik ususku? Apa kau tetap tak ingin pulang?” Kau menggeleng. Gelengan yang tak begitu tegas. Apa kau ragu? Apa juga kau punya pilihan yang tak terduga? Pilihan yang selalu muncul-hilang seperti bayangan si burung bul-bul. Si burung bulbul yang membuat segenap kampung ribut. Ingin memburu dan menangkapnya. Agar dapat dijadikan hidangan bagi sang raja. Sang raja yang sakit tapi tak mati-mati. Sang raja yang telah membunuh dan memakan 1.000 istrinya. Sampai istri yang ke-1001 datang dan menyadarkannya. Menyadarkan dengan hikayat yang sambung-bersambung. Hikayat yang kelak akan dibaca oleh siapa saja yang percaya pada cinta dan pengorbanan. Hikayat yang menempel di sebentuk potongan tangan.
“Tapi, aku juga mengenal potongan tangan yang lain?” sergahmu tiba-tiba.
“Potongan tangan yang lain! Potongan tangan apa?”
Ternyata dari sergahanmu itu, aku jadi tahu, jika potongan tangan yang lain, yang kau kenal itu telah gosong. Keling, liat dan cenderung ingin menangkapi angin. Dan antara membuka dan menutupnya seperti tak berbeda. Sama-sama normal tapi bebal. Potongan tangan yang pernah diceritakan saat dunia masih dihuni para penyihir. Yang menyihir tongkat jadi ular. Ular jadi belalang. Belalang jadi gunung. Gunung jadi rumput. Rumput jadi kambing. Kambing jadi kembang. Kembang jadi kayu. Kayu jadi angin. Angin jadi genting. Genting jadi kodok. Kodok jadi pipi. Pipi jadi ludah. Ludah jadi daging. Daging jadi jalan. Dan jalan jadi jarak panjang yang berkelok. Jarak panjang yang pergi tapi tak pernah pulang. Terus dan terus melangkah. Ke mana? Lagi-lagi tak jelas.
Dan akh, ketika aku ingin tahu itu potongan tangan milik siapa? Kau pun cuma menunjuk pada si bugil yang datang dari arah lain. Si bugil yang kerahasiaannya telah tersilang. Yang lehernya jenjang. Tapi, justru di leher itu selingkar ijuk terlingkar. Dan si bugil yang seluruh tubuhnya berwarna selang-seling. Ada hijau, kuning, cokelat, merah, jingga juga ungu. Yang menyalanya silih-ganti. Tergantung pada tempat yang ditempatinya. Jadi, barangkali si bugil mirip bunglon yang berwujud manusia. Bunglon yang pernah dibisikkan oleh si pengigau. Ketika dua kupingnya telah diiris sendiri. Dan ketika di ubun-ubunnya telah melingkar asap berat. Yang sesekali menjelma mulut buas. Sesekali lain, menjelma bibir yang merangsang.
Lalu potongan tangan gosong itu pun menarik ijuk yang melingkar di leher si bugil. Sampai si bugil mendekat. Menjilat. Dan menyergah: “Kekasihku, kerinduan kita untuk menjadi sepasang mambang, adalah kerinduan yang begitu melelahkan. Padahal, pantai demikian jauh. Kelenyapan demikian merayap.” Seperti rayapan seekor cecak di tembok licin. Pelan, pelan, pelan dan pelan. Sambil mendengarkan tangisan manja si wanita pada si lelakinya. Tangisan manja yang selalu bertanya seperti ini: “Sayang, cecak itu bicara apa? Adakah dusta? Adakah luka? Adakah yang tak terketahui padaku?” Ya, karena si lelakinya cuma tersenyum, maka saat itu juga, si wanita pun mengakhiri hidupnya persis di bawah patung si dewa kasmaraan.
Si dewa kasmaran yang pernah menikam ayahnya yang berwujud anjing. Lalu menendang sampan jadi gunung. Sebab tak tahu, jika dia mencintai soal yang salah. Padahal, menurutnya, cinta bukan merupakan sebuah kekeliruan. Melainkan, sebuah rasa yang tak diketahui: dari mana datangnya, siapa yang mendatangkannya, dan mengapa mesti datang? Dan mengapa pula, bagi setiap yang didatangi selalu mesti berpikir dulu. Dan mesti mencari jawab, pada orang-orang suci yang telah menusuk dua matanya. Agar menjadi buta dan tidak dibutakan oleh cinta. Grrrrrhhh, si dewa kasmaran benar-benar marah waktu itu.
Malamnya, taman kampung pun padam. Pengunjung pulang. Dan sepur kelinci yang panjang itu pun teronggok seperti bangkai. Bangkai yang melingkar. Bangkai yang tak lagi punya kekuatan dan daya. Kecuali pasrah dan menerima segala tiba. Apakah nanti menjadi padam, remang atau malah sesekali menggeliat. Seperti digeliatkan oleh sesuatu yang tak pernah putus. Sesuatu yang pernah menulis setiap nama (termasuk namaku dan namamu), di selembar daun. Sedangkan, dari kursi bekas yang dipakai Umi dan Abi, aku melihat tangan gosong dan si bugil itu sedang berpelukan. Berpelukan lama. Lama sekali. Dan dari balik remang, pelukan keduanya mengingatkan aku pada sebentuk lambang purba. Dari sebuah hutan yang selalu ditakaburi bandang.
“Mengapa kau masih bersembunyi di balik ususku?”
Perahuku yang aku anyam dari puisi pun terus meluncur.
…
Ya, ya, perahuku yang aku anyam dari puisi memang terus meluncur. Meluncurkan diriku. Juga meluncurkan dirimu yang bersembunyi di balik ususku. Dan perahuku ini melewati setiap ketinggian yang membentang. Ketinggian yang begitu luas. Dan begitu membuat dirinya kelak akan menjelma debu. Debu alit. Debu yang segera meragukan diri sendiri. Apakah benar dirinya terus bisa meluncur dan bahagia? Atau malah remuk dan lenyap disaput waktu.
Disaput waktu!
(Gresik, 2008)
Minggu, 24 Agustus 2008
Sajak Mardi Luhung
PENGANTEN PESISIR
Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring
di depan para pesilat bertopeng monyet
celeng, macan, dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit
aku datang dalam muasal bercinta
seperti dulu ketika kita sama-sama punya pagi
sama-sama mengumpulkan telur-telur sembilang
lalu dikeringkan kemudian digoreng
ketika senja menyelinap di jajaran
macapat-macapatmu yang kini tinggal bisik
dan tahukah kau yang paling aku benci?
adalah ketika kita sama-sama ke sekolah
dan sama-sama disebut : “Orang Laut,”
orang yang dianggap kosro
kurang adat dan keringatnya pun seamis
lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai
aku datang dalam itikad berumah tangga
melengkungkan janur, membikin primbon bahagia
dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu
tapi, seperti juga mercusuar yang kini tinggal letak
dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu
adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak
sementara itu, kertas-kertas kwitansi
telah mengubah sperma-sperma kita menjadi
lumut-lumut yang entah siapa panggilannya…..
Gresik, 1993
Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring
di depan para pesilat bertopeng monyet
celeng, macan, dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit
aku datang dalam muasal bercinta
seperti dulu ketika kita sama-sama punya pagi
sama-sama mengumpulkan telur-telur sembilang
lalu dikeringkan kemudian digoreng
ketika senja menyelinap di jajaran
macapat-macapatmu yang kini tinggal bisik
dan tahukah kau yang paling aku benci?
adalah ketika kita sama-sama ke sekolah
dan sama-sama disebut : “Orang Laut,”
orang yang dianggap kosro
kurang adat dan keringatnya pun seamis
lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai
aku datang dalam itikad berumah tangga
melengkungkan janur, membikin primbon bahagia
dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu
tapi, seperti juga mercusuar yang kini tinggal letak
dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu
adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak
sementara itu, kertas-kertas kwitansi
telah mengubah sperma-sperma kita menjadi
lumut-lumut yang entah siapa panggilannya…..
Gresik, 1993
Senin, 21 Juli 2008
KEPOMPONG
Mardi Luhung
diambil dari Koran Tempo, 20 Juli 2008
”Sekak! Matilah rajamu. Raja hitam. Hitam yang begitu mencekam. Yang matanya juga hitam. Dan jubahnya berkibar dengan irama saluang. Tepat rembulan bulat penuh. Dan sekian ekor anjing kelabu mengendus-ngenduskan hidungnya,” dan itu kataku. Terus menghisap siasat. Siasat masuk ke paru-paru. Aku tukikkan ke dalam yang paling dalam. Lalu aku hembuskan keluar. Gulungan siasat pun membentuk lingkaran. Lingkaran kecil. Lalu agak membesar. Membesar. Dan buyar. Tapi bau tengiknya tetap bertempat.
“Mati? Kok gampang. Apa kau pikir, raja hitamku seperti cecunguk yang ketinggalan harapannya. Lalu menghunus pedangnya. Dan crap! Menghunjamkan ke lambung sendiri. He, he, he, itu mimpi,” jawabmu. Seakan menjawab teka-teki silang yang sudah ada kuncinya. Dan kau, dengan gesit tapi pelan, melangkahkan bayangan raja hitammu ke petak pojok. Ada kesiur ombak yang menerpa tebing. Dan ada seseorang yang perawakannya kabur melintas. Siapa orang itu. Lelaki ataukah perempuan. Kau cuma ketawa. Dan orang itu pun terus melintas. Dari bekas lintasannya, aku melihat jejak yang begitu dalam. Jejak yang mengingatkan pada langkah si tertuduh. Yang diarak ke setiap kampung. Dengan kepala bermahkota duri. Tapi, mulutnya tak bosan-bosan untuk berteriak: “Ingatlah, jika segalanya telah selesai, hanya ada dua yang terpilih. Mati mendadak atau malah ditelikung!”
Ya, seekor kuda putih muncul dari balik kerahasiaan. Kau pun melirik padaku. Sergahmu: “Kau ingin menunggang kuda putih itukan? Silahkan. Tunggangilah. Dan majukan ke petakku yang penuh jebakan itu!” Akh, sebelum segalanya berlanjut, bentengmu pun menderap ke sisi kiri. Suaranya seperti beton yang menggelundung. Beton yang hanya hadir ketika maut akan menyelinap. “Sekak balik!” sergahmu lagi. Dan kau ketawa. Raja putihku tersekak. Tersekak dengan cara dimuntah-muntahkan. Muntah darah. Muntah nanah. Muntah lendir. Dan muntahan-muntahan itu pun menggenang. Lalu mengalir. Menuju parit. Dan menghilir seperti sungai yang baru lahir. Yang di atasnya, sekian bangkai terapung. Bangkai yang gembung dengan corak warna-warni: amis!
…
“Aku raja putihmu. Kenapa kau tinggalkan aku?” begitu sebuah suara yang aku dengar di malam itu dari luar rumahku. Rumahku yang tak seberapa besar ini tiba-tiba menjadi dingin. Bulu-bulu kuduk di badanku meremang. Suara siapa itu? Apa benar itu suara raja putihku. Raja putih yang tadi sore telah kalah itu. Dan sekaligus muntah-muntah. Akh, gila! Gila! Ini memang gila! Dan memang, aku rasa, setelah kekalahan tadi sore, aku selalu saja memikirkan langkah-langkah buruk yang membuat aku terjebak. Langkah-langkah buruk yang membuat aku mesti terus-terusan menyesali kekalahan caturku.
Lain itu, dalam permainan catur, kekalahan yang tampak, bukanlah kekalahan yang membekas di badan. Melainkan yang memar di kedalaman pikiran. Seperti layang-layang putus, kedalaman pikiran pun tak bertali. Melimbung. Sebelum akhirnya tersuruk ke tanah. Lalu dirubung gerombolan serangga yang berkilah: “Mangkanya jadi sesuatu jangan selalu terbang melulu!” Dan aku pun jadi bergidik. Diam-diam mencoba untuk mencari jalan keluar dari ini semua. Jalan keluar yang seperti diimpikan setiap siapa saja. Yang merasa jika tak ada lagi kesempatan untuk tetap bertempat.
“Kenapa? Aku raja putihmu,” kembali suara itu terdengar. Dan kali ini, jendela rumahku diketuknya. Suara ketukan itu bukan tok-tok-tok. Tapi, irama ngelangut yang sering mengiringi penari klasik. Penari klasik yang sedang membawakan sebuah tari keputus-asaan. Tari yang jika dilihat selalu menampilkan dekor lenggang. Dengan sebuah lampu sorot. Yang akan menyorot kemana pun penari klasik itu bergerak. Melempar tangan. Memutar kaki. Dan sesekali menggelengkan kepala. Seperti ingin memluntir sekaligus mencopotnya. Aduh, apa yang terjadi, jika penari klasik dapat mencopot kepalanya sendiri? Lalu menendang dan menggiringnya. Seperti giringan dalam sepak bola.
Lalu, antara ragu dan tidak, aku pun membuka jendela rumahku. Di balik jendela telah terpacak sosok bocah. Bocah itu kulitnya ungu. Dan seperti balon yang enteng, bocah itu pun meloncati jendela rumahku. Loncatan yang barangkali lebih mirip dengan mengambang. Saat itu, di kerimbunan pohon rambutan di jalan, ada seekor codot menangkup. Rasanya, codot itu bukan codot biasa. Sebab dari tubuhnya, aku melihat bintik-bintik yang berpendaran. Bintik-bintik yang hanya aku lihat pada leher si monster yang ada di ke dalaman lautan. Si monster yang pernah bertarung dengan si pemancing. Petarungan yang telah disadur oleh si penulis yang punya tangan satu. Si penulis yang setiap mulai menulis selalu menenggak arak, Lalu berlarian sambil mengacung-acungkan kapak. Dan meracau seperti tukang ramal yang meracaukan mantranya: “Atasnya jembatan, bawahnya jurang. Atasnya dimakan. Bawahnya digoyang. Puah! Pergi kau dusta. Masuk kau kata!”
“Kenapa kau tinggalkan aku?” kembali si bocah itu berkata. Dan perkataan itu sepertinya bukan lewat mulutnya. Sebab, ketika perkataan itu aku dengar, mulutnya tetap terkatup. “Tapi, siapa kau bocah?” dan tanyaku balik. Si bocah ketawa. Tubuhnya yang berkulit ungu itu terguncang. Dan astaga, aku baru sadar, jika leher si bocah lebih mirip leher ular. Berlipatan. Dan mempunyai gerak naik-turun. Dan di gerak naik-turun itu, ada gilingan yang terus menggiling. Menggiling setiap yang masuk. Setiap yang akan menjadi adonan. Adonan basah, lembek dan gampang untuk dibentuk sesukanya.
“Aku raja putihmu. Raja putihmu yang telah kalah dalam permainan catur tadi sore. Dan kenapa aku seperti ini? Itu karena aku raja. Raja yang tak boleh mati sebelum papan catur terlipat. Pemain bersalaman. Dan tawa kemenangan memenuhi ruangan. Tanpa tahu, bahwa sebenarnya mereka telah mengorbankan seorang bocah. Kenapa kau tinggalkan aku?”
Apa?! Jadi raja dalam permainan catur itu adalah seorang bocah. Akh, aku tercekat. Aku tak tahu lagi, apa yang mesti aku katakan. Cuma aku merasa, jika apa yang aku alami malam ini seperti sebuah mimpi. Tapi apa benar ini mimpi. Aku cubit tanganku. Wau, sakit! Jadinya, ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata. Tapi, kenapa raja putih dalam catur dapat berwujud bocah? Tiba-tiba, entah darimana, ada sebentang tetoron menyergapku. Aku megap-megap. Tak bisa bernafas. Tubuhku pun jadi enteng. Suara-suara yang tak karuan silih-masuk ke kupingku. Kadang jerit. Kadang ketawa. Kadang menangis. Dan kadang tak jelas, apa itu suara seseorang ataukah bukan. Dan yang lebih aneh, aku merasa seluruh bagian tubuhku pun memelar.
Tanganku merengkuh cemara. Leherku menjulur sejangkung gedung. Kakiku menjejak antara patung kota dan pucuk tugu. Dan mataku, pun dengan enak melihat semuanya. Melihat tol yang tergenang. Kampung yang morat-marit. Gedung rakyat yang diluruk. Rumah ibadah yang diseret bandang. Orang-orang yang digusur. Sekumpulan yang dipinggirkan. Penguburan yang ditaburi omelan. Tahun-tahun yang berlalu. Tahun-tahun yang digedruk. Dan juga, seekor ikan paus yang berkelebatan di udara. Ikan paus yang menguik. Menguik dengan begitu mengenaskan. Sampai-sampai aku yang mendengarnya turut terharu. Turut merasa apa yang dirasanya. Dan turut juga mencari apa yang dicarinya. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Jerami yang tajam dan gatal. Aku pun terpejam.
“Kenapa? Takut? Bukalah matamu…”
Aku tak berani. Tapi tetap membuka. Tapi gelap.
“Bukalah lagi…”
Aku membuka lagi. Gelap. Kabur. Gelap. Kabur. Meremang. Dan terang. Terang sekali. Lalu seperti cahaya yang terpintal, terang itu pun menyurut. Astaga, aku telah berada di sebuah kebun. Kebun dengan aneka bunga yang elok. Ada yang berwana merah. Putih. Biru. Jingga. Juga yang merambat dan berjuntai. Atau tegak-tegak seperti parang yang terhunus. Dan di kebun itulah seratus, atau mungkin seribu bocah ungu saling kejar. Dan saling canda. Seribu bocah ungu sepertinya tak ada yang beda. Semuanya sama. Dan semuanya pun seperti juga tak berjejak. Tapi mengambang. Mengambang seperti balon. Meloncat ke sana dan ke mari. Tertawa. Dan kadang-kadang saling bergulingan tanpa terluka sedikit pun. “Kau tahu, inilah tempatku. Tempat seribu bocah. Bocah berkulit ungu. Yang jika di papan catur akan menjelma raja. Raja hitam atau putih,” bisik si bocah persis di kupingku.
…
Tuan pembaca yang baik, itulah, itulah kisah hidupku. Hidupku yang saat ini tinggal di kamar ini. Kamar yang bercat putih-hitam. Cat papan catur. Dan kamar yang tak pernah terbuka. Selalu tertutup. Hanya teriakanku yang terdengar dari dalamnya. Teriakanku yang panjang dan melolong: “Aku tak bermaksud mengorbankan pion itu. Pergi! Pergi!” Ya, ya, begitulah teriakanku itu. Dan aku tak tahu, kenapa teriakan itu selalu aku ulang seperti itu. Apa tidak bosan dan capek? Yang pasti, setiap aku berteriak itu, selalu membayangkan sebuah ketakutan yang amat sangat. Lalu merasa, jika aku sedang dirubung oleh teror. Atau hal yang menggiriskan. Yang jelas, mulutku kini jadi bukan mulu lagi. Tapi semacam lubang yang mendengung. Yang dimasuki sekian tawon ganas yang kehilangan ratunya. Tawon ganas yang mengusung penyengat.
Tuan pembaca yang baik, konon aku yang suka menjerit dan melolong ini memang gila catur. Dan untuk hal ini, aku ingin selalu menang. Tak mau kalah. Dan berusaha selalu di atas angin. Bahkan, jika perlu, sebelum bermain catur, aku mengamati lemari kakekku. Lemari yang penuh dengan patung aneh. Atau rajah kuno yang susah ditebak isinya. Rajah ruwet dengan gambar lelaki bersungut atau bertopeng landak. Yang di sebelahnya sebentuk altar sedang diisi sosok korban yang tengkurap. Korban yang wajahnya begitu datar. Hampir tak berlekuk. Dan untuk menuntaskan semuanya, aku pun tak segan-segan mengemut buah kuda. Harapku: “Jika buah kuda ini aku emut, maka ruh kuda pun dapat aku hisap!” He, he, he, aku memang miring. Miring karena permainan catur.
Dan ya, ya, ya, Tuan pembaca yang sekali lagi baik, aku pikir cukup di sinilah pertemuan kita. Kapan-kapan disambung lagi. Aku ngantuk nih. Mau bobok. Kolestrol naik. Darah tinggi naik. Semuanya naik. Apa yang tak naik? He, he, he jawab dong? Masak dari tadi aku yang nyerocos terus. Oh ya, aku besok juga mau latihan menembak dan menjaring. Aku ingin menembak bagi yang suka jahil. Dan aku ingin menjaring ikan-ikan yang berseliweran di kolong ranjangku. Ikan-ikan yang punya kaki dan tangan. Kaki dan tangan yang sering memukuli dan menendangi ranjangku. Dan aku yang tertidur pun terguncang-guncang. Bahkan, malah kadang-kadang terlompat ke atas. Menyundul atap kamar. Menempel di sebelah cicak yang ekornya putus. Apa Tuan pembaca yang baik mau ikut?
He, he, he nanti sajalah. Jika memang aku sudah terlatih. Aku akan mengajari Tuan pembaca. Mau kan? Kini, silahkan pergi dulu. Oh ya, lewat jendela saja. Jangan lewat pintu. Sebab pintu itu telah aku palang. Biar tak ada yang menggangu, jika sewaktu-waktu, bocah ungu yang mengambang, yang merupakan sosok raja di permainan catur itu, datang dan berkata: “Kenapa kau tinggalkan aku. Jangan takut. Bukalah matamu. Ayo, bukalah matamu,” Dan jangan lupa juga, sehari dua kali aku selalu dikunjungi si suster dan si dokter gemuk. Si suster dan si dokter gemuk yang aku benci. Sebab, keduanya tak punya hormat. Masuk ke kamar lewat lubang kunci tanpa salam. Padahal membawa sepiring pil. Pil yang sebesar tai kambing. Yang jika aku minum, selalu menerbangkan apa yang ada di anganku. Sampai-sampai aku tak tahu lagi: “Apakah masih ada atau malah sudah jadi kepompong!”
(Gresik, 2008)
Mardi Luhung: penyair tinggal di Gresik. Bukunya Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007). Pendiri komunitas De Nagari Gresik.
diambil dari Koran Tempo, 20 Juli 2008
”Sekak! Matilah rajamu. Raja hitam. Hitam yang begitu mencekam. Yang matanya juga hitam. Dan jubahnya berkibar dengan irama saluang. Tepat rembulan bulat penuh. Dan sekian ekor anjing kelabu mengendus-ngenduskan hidungnya,” dan itu kataku. Terus menghisap siasat. Siasat masuk ke paru-paru. Aku tukikkan ke dalam yang paling dalam. Lalu aku hembuskan keluar. Gulungan siasat pun membentuk lingkaran. Lingkaran kecil. Lalu agak membesar. Membesar. Dan buyar. Tapi bau tengiknya tetap bertempat.
“Mati? Kok gampang. Apa kau pikir, raja hitamku seperti cecunguk yang ketinggalan harapannya. Lalu menghunus pedangnya. Dan crap! Menghunjamkan ke lambung sendiri. He, he, he, itu mimpi,” jawabmu. Seakan menjawab teka-teki silang yang sudah ada kuncinya. Dan kau, dengan gesit tapi pelan, melangkahkan bayangan raja hitammu ke petak pojok. Ada kesiur ombak yang menerpa tebing. Dan ada seseorang yang perawakannya kabur melintas. Siapa orang itu. Lelaki ataukah perempuan. Kau cuma ketawa. Dan orang itu pun terus melintas. Dari bekas lintasannya, aku melihat jejak yang begitu dalam. Jejak yang mengingatkan pada langkah si tertuduh. Yang diarak ke setiap kampung. Dengan kepala bermahkota duri. Tapi, mulutnya tak bosan-bosan untuk berteriak: “Ingatlah, jika segalanya telah selesai, hanya ada dua yang terpilih. Mati mendadak atau malah ditelikung!”
Ya, seekor kuda putih muncul dari balik kerahasiaan. Kau pun melirik padaku. Sergahmu: “Kau ingin menunggang kuda putih itukan? Silahkan. Tunggangilah. Dan majukan ke petakku yang penuh jebakan itu!” Akh, sebelum segalanya berlanjut, bentengmu pun menderap ke sisi kiri. Suaranya seperti beton yang menggelundung. Beton yang hanya hadir ketika maut akan menyelinap. “Sekak balik!” sergahmu lagi. Dan kau ketawa. Raja putihku tersekak. Tersekak dengan cara dimuntah-muntahkan. Muntah darah. Muntah nanah. Muntah lendir. Dan muntahan-muntahan itu pun menggenang. Lalu mengalir. Menuju parit. Dan menghilir seperti sungai yang baru lahir. Yang di atasnya, sekian bangkai terapung. Bangkai yang gembung dengan corak warna-warni: amis!
…
“Aku raja putihmu. Kenapa kau tinggalkan aku?” begitu sebuah suara yang aku dengar di malam itu dari luar rumahku. Rumahku yang tak seberapa besar ini tiba-tiba menjadi dingin. Bulu-bulu kuduk di badanku meremang. Suara siapa itu? Apa benar itu suara raja putihku. Raja putih yang tadi sore telah kalah itu. Dan sekaligus muntah-muntah. Akh, gila! Gila! Ini memang gila! Dan memang, aku rasa, setelah kekalahan tadi sore, aku selalu saja memikirkan langkah-langkah buruk yang membuat aku terjebak. Langkah-langkah buruk yang membuat aku mesti terus-terusan menyesali kekalahan caturku.
Lain itu, dalam permainan catur, kekalahan yang tampak, bukanlah kekalahan yang membekas di badan. Melainkan yang memar di kedalaman pikiran. Seperti layang-layang putus, kedalaman pikiran pun tak bertali. Melimbung. Sebelum akhirnya tersuruk ke tanah. Lalu dirubung gerombolan serangga yang berkilah: “Mangkanya jadi sesuatu jangan selalu terbang melulu!” Dan aku pun jadi bergidik. Diam-diam mencoba untuk mencari jalan keluar dari ini semua. Jalan keluar yang seperti diimpikan setiap siapa saja. Yang merasa jika tak ada lagi kesempatan untuk tetap bertempat.
“Kenapa? Aku raja putihmu,” kembali suara itu terdengar. Dan kali ini, jendela rumahku diketuknya. Suara ketukan itu bukan tok-tok-tok. Tapi, irama ngelangut yang sering mengiringi penari klasik. Penari klasik yang sedang membawakan sebuah tari keputus-asaan. Tari yang jika dilihat selalu menampilkan dekor lenggang. Dengan sebuah lampu sorot. Yang akan menyorot kemana pun penari klasik itu bergerak. Melempar tangan. Memutar kaki. Dan sesekali menggelengkan kepala. Seperti ingin memluntir sekaligus mencopotnya. Aduh, apa yang terjadi, jika penari klasik dapat mencopot kepalanya sendiri? Lalu menendang dan menggiringnya. Seperti giringan dalam sepak bola.
Lalu, antara ragu dan tidak, aku pun membuka jendela rumahku. Di balik jendela telah terpacak sosok bocah. Bocah itu kulitnya ungu. Dan seperti balon yang enteng, bocah itu pun meloncati jendela rumahku. Loncatan yang barangkali lebih mirip dengan mengambang. Saat itu, di kerimbunan pohon rambutan di jalan, ada seekor codot menangkup. Rasanya, codot itu bukan codot biasa. Sebab dari tubuhnya, aku melihat bintik-bintik yang berpendaran. Bintik-bintik yang hanya aku lihat pada leher si monster yang ada di ke dalaman lautan. Si monster yang pernah bertarung dengan si pemancing. Petarungan yang telah disadur oleh si penulis yang punya tangan satu. Si penulis yang setiap mulai menulis selalu menenggak arak, Lalu berlarian sambil mengacung-acungkan kapak. Dan meracau seperti tukang ramal yang meracaukan mantranya: “Atasnya jembatan, bawahnya jurang. Atasnya dimakan. Bawahnya digoyang. Puah! Pergi kau dusta. Masuk kau kata!”
“Kenapa kau tinggalkan aku?” kembali si bocah itu berkata. Dan perkataan itu sepertinya bukan lewat mulutnya. Sebab, ketika perkataan itu aku dengar, mulutnya tetap terkatup. “Tapi, siapa kau bocah?” dan tanyaku balik. Si bocah ketawa. Tubuhnya yang berkulit ungu itu terguncang. Dan astaga, aku baru sadar, jika leher si bocah lebih mirip leher ular. Berlipatan. Dan mempunyai gerak naik-turun. Dan di gerak naik-turun itu, ada gilingan yang terus menggiling. Menggiling setiap yang masuk. Setiap yang akan menjadi adonan. Adonan basah, lembek dan gampang untuk dibentuk sesukanya.
“Aku raja putihmu. Raja putihmu yang telah kalah dalam permainan catur tadi sore. Dan kenapa aku seperti ini? Itu karena aku raja. Raja yang tak boleh mati sebelum papan catur terlipat. Pemain bersalaman. Dan tawa kemenangan memenuhi ruangan. Tanpa tahu, bahwa sebenarnya mereka telah mengorbankan seorang bocah. Kenapa kau tinggalkan aku?”
Apa?! Jadi raja dalam permainan catur itu adalah seorang bocah. Akh, aku tercekat. Aku tak tahu lagi, apa yang mesti aku katakan. Cuma aku merasa, jika apa yang aku alami malam ini seperti sebuah mimpi. Tapi apa benar ini mimpi. Aku cubit tanganku. Wau, sakit! Jadinya, ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata. Tapi, kenapa raja putih dalam catur dapat berwujud bocah? Tiba-tiba, entah darimana, ada sebentang tetoron menyergapku. Aku megap-megap. Tak bisa bernafas. Tubuhku pun jadi enteng. Suara-suara yang tak karuan silih-masuk ke kupingku. Kadang jerit. Kadang ketawa. Kadang menangis. Dan kadang tak jelas, apa itu suara seseorang ataukah bukan. Dan yang lebih aneh, aku merasa seluruh bagian tubuhku pun memelar.
Tanganku merengkuh cemara. Leherku menjulur sejangkung gedung. Kakiku menjejak antara patung kota dan pucuk tugu. Dan mataku, pun dengan enak melihat semuanya. Melihat tol yang tergenang. Kampung yang morat-marit. Gedung rakyat yang diluruk. Rumah ibadah yang diseret bandang. Orang-orang yang digusur. Sekumpulan yang dipinggirkan. Penguburan yang ditaburi omelan. Tahun-tahun yang berlalu. Tahun-tahun yang digedruk. Dan juga, seekor ikan paus yang berkelebatan di udara. Ikan paus yang menguik. Menguik dengan begitu mengenaskan. Sampai-sampai aku yang mendengarnya turut terharu. Turut merasa apa yang dirasanya. Dan turut juga mencari apa yang dicarinya. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Jerami yang tajam dan gatal. Aku pun terpejam.
“Kenapa? Takut? Bukalah matamu…”
Aku tak berani. Tapi tetap membuka. Tapi gelap.
“Bukalah lagi…”
Aku membuka lagi. Gelap. Kabur. Gelap. Kabur. Meremang. Dan terang. Terang sekali. Lalu seperti cahaya yang terpintal, terang itu pun menyurut. Astaga, aku telah berada di sebuah kebun. Kebun dengan aneka bunga yang elok. Ada yang berwana merah. Putih. Biru. Jingga. Juga yang merambat dan berjuntai. Atau tegak-tegak seperti parang yang terhunus. Dan di kebun itulah seratus, atau mungkin seribu bocah ungu saling kejar. Dan saling canda. Seribu bocah ungu sepertinya tak ada yang beda. Semuanya sama. Dan semuanya pun seperti juga tak berjejak. Tapi mengambang. Mengambang seperti balon. Meloncat ke sana dan ke mari. Tertawa. Dan kadang-kadang saling bergulingan tanpa terluka sedikit pun. “Kau tahu, inilah tempatku. Tempat seribu bocah. Bocah berkulit ungu. Yang jika di papan catur akan menjelma raja. Raja hitam atau putih,” bisik si bocah persis di kupingku.
…
Tuan pembaca yang baik, itulah, itulah kisah hidupku. Hidupku yang saat ini tinggal di kamar ini. Kamar yang bercat putih-hitam. Cat papan catur. Dan kamar yang tak pernah terbuka. Selalu tertutup. Hanya teriakanku yang terdengar dari dalamnya. Teriakanku yang panjang dan melolong: “Aku tak bermaksud mengorbankan pion itu. Pergi! Pergi!” Ya, ya, begitulah teriakanku itu. Dan aku tak tahu, kenapa teriakan itu selalu aku ulang seperti itu. Apa tidak bosan dan capek? Yang pasti, setiap aku berteriak itu, selalu membayangkan sebuah ketakutan yang amat sangat. Lalu merasa, jika aku sedang dirubung oleh teror. Atau hal yang menggiriskan. Yang jelas, mulutku kini jadi bukan mulu lagi. Tapi semacam lubang yang mendengung. Yang dimasuki sekian tawon ganas yang kehilangan ratunya. Tawon ganas yang mengusung penyengat.
Tuan pembaca yang baik, konon aku yang suka menjerit dan melolong ini memang gila catur. Dan untuk hal ini, aku ingin selalu menang. Tak mau kalah. Dan berusaha selalu di atas angin. Bahkan, jika perlu, sebelum bermain catur, aku mengamati lemari kakekku. Lemari yang penuh dengan patung aneh. Atau rajah kuno yang susah ditebak isinya. Rajah ruwet dengan gambar lelaki bersungut atau bertopeng landak. Yang di sebelahnya sebentuk altar sedang diisi sosok korban yang tengkurap. Korban yang wajahnya begitu datar. Hampir tak berlekuk. Dan untuk menuntaskan semuanya, aku pun tak segan-segan mengemut buah kuda. Harapku: “Jika buah kuda ini aku emut, maka ruh kuda pun dapat aku hisap!” He, he, he, aku memang miring. Miring karena permainan catur.
Dan ya, ya, ya, Tuan pembaca yang sekali lagi baik, aku pikir cukup di sinilah pertemuan kita. Kapan-kapan disambung lagi. Aku ngantuk nih. Mau bobok. Kolestrol naik. Darah tinggi naik. Semuanya naik. Apa yang tak naik? He, he, he jawab dong? Masak dari tadi aku yang nyerocos terus. Oh ya, aku besok juga mau latihan menembak dan menjaring. Aku ingin menembak bagi yang suka jahil. Dan aku ingin menjaring ikan-ikan yang berseliweran di kolong ranjangku. Ikan-ikan yang punya kaki dan tangan. Kaki dan tangan yang sering memukuli dan menendangi ranjangku. Dan aku yang tertidur pun terguncang-guncang. Bahkan, malah kadang-kadang terlompat ke atas. Menyundul atap kamar. Menempel di sebelah cicak yang ekornya putus. Apa Tuan pembaca yang baik mau ikut?
He, he, he nanti sajalah. Jika memang aku sudah terlatih. Aku akan mengajari Tuan pembaca. Mau kan? Kini, silahkan pergi dulu. Oh ya, lewat jendela saja. Jangan lewat pintu. Sebab pintu itu telah aku palang. Biar tak ada yang menggangu, jika sewaktu-waktu, bocah ungu yang mengambang, yang merupakan sosok raja di permainan catur itu, datang dan berkata: “Kenapa kau tinggalkan aku. Jangan takut. Bukalah matamu. Ayo, bukalah matamu,” Dan jangan lupa juga, sehari dua kali aku selalu dikunjungi si suster dan si dokter gemuk. Si suster dan si dokter gemuk yang aku benci. Sebab, keduanya tak punya hormat. Masuk ke kamar lewat lubang kunci tanpa salam. Padahal membawa sepiring pil. Pil yang sebesar tai kambing. Yang jika aku minum, selalu menerbangkan apa yang ada di anganku. Sampai-sampai aku tak tahu lagi: “Apakah masih ada atau malah sudah jadi kepompong!”
(Gresik, 2008)
Mardi Luhung: penyair tinggal di Gresik. Bukunya Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007). Pendiri komunitas De Nagari Gresik.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar