NYANYIAN KEBANGKITAN
Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Juli 2021
Sabtu, 04 Agustus 2012
Keraton Yogya Bertabur Puisi
Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika
Selama dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman.
http://www.infoanda.com/Republika
Selama dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman.
Jumat, 18 November 2011
Membaca Kepeloporan Taufiq Ismail
Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 25 Mei 2008
SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.
Maka, Rabu (14/5) di Auditorium Mahkamah Konstitusi, Jakarta, tiga buku tebal pun diluncurkan untuk memaknai 55 tahun pergulatan Pelopor Angkatan 66 itu dalam sastra Indonesia. “Taufiq Ismail tidak bermaksud memeringati usianya, tapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” kata Ketua Panitia Pelaksana Acara ‘Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia’, Fadli Zon.
Perbuatan utama Taufiq sebagai pengarang, sebagai sastrawan, adalah menulis. Dan, itulah yang dilakukan Taufiq selama 55 tahun (1953-2008). Tidak kurang dari 517 puisi, 346 prosa, dan 96 lirik lagu, telah ditulisnya. Hasilnya adalah buku kumpulan puisi setebal 1.076 halaman, dua buku kumpulan prosa setebal 880 halaman dan 801 halaman, serta buku kumpulan lirik lagu setebal 102 halaman.
Keempat buku tersebut disatukan dalam empat jilid buku bertajuk Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Ia mengaku tak menduga jika tulisannya sebanyak itu. Semula, untuk buku kumpulan prosa ia memprediksi cukup satu jilid, setebal sekitar 800 halaman.
”Ternyata tulisan saya yang berhasil ditemukan terus bertambah, hingga harus dua jilid,” ujar Taufiq Ismail. “Untuk puisi sebagian besar masih saya ingat puisi apa saja yang pernah saya tulis. Tapi, untuk prosa, sebagian besar sudah lupa apa yang pernah saya tulis,” tambahnya.
Orang yang tidak kalah kagetnya adalah Hamzah, anak muda pengagum Taufiq Ismail yang mendapat tugas untuk mengumpulkan semua tulisan Taufiq yang pernah dimuat di berbagai media massa, termasuk di Republika. “Saya tak menduga, ternyata tulisan Pak Taufiq banyak sekali,” katanya, “Itu pun saya yakin masih ada tulisan yang tak berhasil saya temukan, dan Pak Taufiq sudah lupa tulisan itu.”
Buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 1 menghimpun 517 puisi Taufiq yang ditulis sejak 1953 sampai 2008, termasuk sajak-sajak yang pernah dibukukan dalam Benteng (1966), Tirani (1966), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Pada buku jilid 1 ini pembaca juga dapat menikmati sajak-sajak Taufiq pada masa awal kepenyairannya yang belum pernah dibukukan. Sajak pertamanya, berjudul Doa Dalam Lagu, ditulis pada 1953 saat Taufiq masih berusia 18 tahun (masih SMA). Sangat menarik untuk disimak:
Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu
Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu
Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.
Sedangkan buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 2 dan 3 menghimpun semua prosa yang pernah ditulis Taufiq Ismail sejak 1960-2008, baik berupa kolom, esai, cerpen, maupun drama. Tulisan-tulisan pada jilid 2 dikelompokkan berdasarkan media massa yang memuatnya, seperti Horison, Republika, Harian Kami, Tempo, Gatra, Ummat, Kompas, dan Sinar Harapan. Sementara, jilid 3 disusun secara tematik, dan berdasar jenis tulisan.
“Dari buku-buku itu kita jadi tahu, bahwa Pak Taufiq sangat produktif, dan tidak hanya menulis puisi dan esai, tapi juga cerpen dan naskah drama. Buku-buku itu makin mengukuhkan kebesaran Pak Taufiq sebagai sastrawan,” kata Maman S Mahayana, kritikus sastra dari UI.
Peran dan kebesaran Taufiq Ismail sebagai sastrawan juga diakui oleh cendekiawan Muslim, Yudi Latif. “Kita memiliki tiga sastrawan besar, Taufiq Ismail, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri,” katanya, “Bagi bangsa Indonesia, Taufiq Ismail memiliki peran sangat penting, karena menampakkan kepeloporan dalam mengupayakan kebangkitan bangsa melalui jalan kebudayaan.”
Dalam ketiadaan platform politik yang jelas, menurut Yudi, gerakan kebudayaan menjadi alternatif penting untuk menjaga kewarasan publik. Adalah melalui sastra, nyanyian, dan seni yang lain, yang dibudayakan dalam masyarakat, yang dapat membuat gerakan dan cita-cita sosial dapat bertahan dalam memori kolektif.
Buku-buku tebal menjadi penanda terpenting untuk memaknai peran dan perjalanan panjang Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia. Dalam buku, karya-karya dan ide-ide cemerlangnya diabadikan untuk diwariskan kepada anak cucu, serta disosialisasikan kepada publik yang luas.
Hajatan Besar untuk Sang Pelopor
Peluncuran empat jilid buku tebal itu menjadi penanda terpenting rangkaian hajatan ’55 tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia’ yang digelar oleh majalah Horison. Peluncuran buku-buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit (Penerbit Horison, 2008) diberi bobot dengan orasi budaya oleh Dr Anies Baswedan.
Peluncuran yang diadakan pada Rabu (14/5) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta, itu juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh seniman Studiklub Teater Bandung (STB), Iman Soleh, dan pertunjukan musik oleh Bimbo. Menandai peluncuran buku, Pemimpin Redaksi Horison, Jamal D Rahman, menyerahkan satu set buku tebal itu kepada Taufiq Ismail. Sastrawan kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935, ini lantas menyerahkan masing-masing satu set buku ke berbagai kalangan.
Rangkaian acara berlanjut di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (17/5), dengan seminar nasional yang menampilkan pembicara Prof Dr Budi Darma, Prof Dr Arief Rachman, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Dr Yudi Latif, serta orasi sastra oleh Mendiknas Dr Bambang Sudibyo. Juga diserahkan penghargaan kepada para juara lomba menulis esai tentang peran Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia.
Rangkaian acara masih akan berlanjut di Studio TVRI Padang, Rabu (28/5), berupa seminar internasional. Dr Fasli Jalal akan tampil sebagai keynote speaker. Tampil pula pembicara Dr Rebecca Fanany (Australia), Darman Moenir, Dr Ismet Fanany MA, Drs Yulizal Yunus MA, Dr Ir Raudha Thaib, dan Upita Agustine. Seminar ini akan dibuka oleh Gubernur Sumatra Barat, H Gamawan Fauzi, dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi-puisi Taufiq. Acara pamungkas ini akan disiarkan langsung oleh TVRI Padang.
Menurut Anies Baswedan, potret perjalanan Taufiq Ismail adalah potret sebuah transformasi sosial di Indonesia. Taufiq menjadi saksi permanen naik-turunnya denyut jantung bangsa. “Taufiq Ismail memang menembus batas bangsa-bangsa. Tapi, rumah Taufiq Ismail tetaplah Indonesia. Kepeduliannya kepada Indonesia melebihi deretan puisi-puisi yang pernah ditulisnya tentang bangsa lain,” katanya.
Di kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, Padang, kini Taufiq juga sedang membangun Rumah Puisi, yang kelak juga akan dipenuhi buku-buku. Untuk Rumah Puisi itu, sastrawan Ikranegara menyerahkan secara simbolis koleksi buku-buku pribadinya selama 30 tahun. Sedangkan budayawan Emha Ainun Najib membacakan doa-doa khusus untuk Taufiq, agar diberi berkah kesehatan dan kesempatan untuk terus memberikan yang terbaik bagi kemajuan anak bangsa. (ahmadun yh)
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/pustaka-membaca-kepeloporan-taufiq.html
Republika, 25 Mei 2008
SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.
Maka, Rabu (14/5) di Auditorium Mahkamah Konstitusi, Jakarta, tiga buku tebal pun diluncurkan untuk memaknai 55 tahun pergulatan Pelopor Angkatan 66 itu dalam sastra Indonesia. “Taufiq Ismail tidak bermaksud memeringati usianya, tapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” kata Ketua Panitia Pelaksana Acara ‘Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia’, Fadli Zon.
Perbuatan utama Taufiq sebagai pengarang, sebagai sastrawan, adalah menulis. Dan, itulah yang dilakukan Taufiq selama 55 tahun (1953-2008). Tidak kurang dari 517 puisi, 346 prosa, dan 96 lirik lagu, telah ditulisnya. Hasilnya adalah buku kumpulan puisi setebal 1.076 halaman, dua buku kumpulan prosa setebal 880 halaman dan 801 halaman, serta buku kumpulan lirik lagu setebal 102 halaman.
Keempat buku tersebut disatukan dalam empat jilid buku bertajuk Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Ia mengaku tak menduga jika tulisannya sebanyak itu. Semula, untuk buku kumpulan prosa ia memprediksi cukup satu jilid, setebal sekitar 800 halaman.
”Ternyata tulisan saya yang berhasil ditemukan terus bertambah, hingga harus dua jilid,” ujar Taufiq Ismail. “Untuk puisi sebagian besar masih saya ingat puisi apa saja yang pernah saya tulis. Tapi, untuk prosa, sebagian besar sudah lupa apa yang pernah saya tulis,” tambahnya.
Orang yang tidak kalah kagetnya adalah Hamzah, anak muda pengagum Taufiq Ismail yang mendapat tugas untuk mengumpulkan semua tulisan Taufiq yang pernah dimuat di berbagai media massa, termasuk di Republika. “Saya tak menduga, ternyata tulisan Pak Taufiq banyak sekali,” katanya, “Itu pun saya yakin masih ada tulisan yang tak berhasil saya temukan, dan Pak Taufiq sudah lupa tulisan itu.”
Buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 1 menghimpun 517 puisi Taufiq yang ditulis sejak 1953 sampai 2008, termasuk sajak-sajak yang pernah dibukukan dalam Benteng (1966), Tirani (1966), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Pada buku jilid 1 ini pembaca juga dapat menikmati sajak-sajak Taufiq pada masa awal kepenyairannya yang belum pernah dibukukan. Sajak pertamanya, berjudul Doa Dalam Lagu, ditulis pada 1953 saat Taufiq masih berusia 18 tahun (masih SMA). Sangat menarik untuk disimak:
Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu
Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu
Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.
Sedangkan buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 2 dan 3 menghimpun semua prosa yang pernah ditulis Taufiq Ismail sejak 1960-2008, baik berupa kolom, esai, cerpen, maupun drama. Tulisan-tulisan pada jilid 2 dikelompokkan berdasarkan media massa yang memuatnya, seperti Horison, Republika, Harian Kami, Tempo, Gatra, Ummat, Kompas, dan Sinar Harapan. Sementara, jilid 3 disusun secara tematik, dan berdasar jenis tulisan.
“Dari buku-buku itu kita jadi tahu, bahwa Pak Taufiq sangat produktif, dan tidak hanya menulis puisi dan esai, tapi juga cerpen dan naskah drama. Buku-buku itu makin mengukuhkan kebesaran Pak Taufiq sebagai sastrawan,” kata Maman S Mahayana, kritikus sastra dari UI.
Peran dan kebesaran Taufiq Ismail sebagai sastrawan juga diakui oleh cendekiawan Muslim, Yudi Latif. “Kita memiliki tiga sastrawan besar, Taufiq Ismail, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri,” katanya, “Bagi bangsa Indonesia, Taufiq Ismail memiliki peran sangat penting, karena menampakkan kepeloporan dalam mengupayakan kebangkitan bangsa melalui jalan kebudayaan.”
Dalam ketiadaan platform politik yang jelas, menurut Yudi, gerakan kebudayaan menjadi alternatif penting untuk menjaga kewarasan publik. Adalah melalui sastra, nyanyian, dan seni yang lain, yang dibudayakan dalam masyarakat, yang dapat membuat gerakan dan cita-cita sosial dapat bertahan dalam memori kolektif.
Buku-buku tebal menjadi penanda terpenting untuk memaknai peran dan perjalanan panjang Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia. Dalam buku, karya-karya dan ide-ide cemerlangnya diabadikan untuk diwariskan kepada anak cucu, serta disosialisasikan kepada publik yang luas.
Hajatan Besar untuk Sang Pelopor
Peluncuran empat jilid buku tebal itu menjadi penanda terpenting rangkaian hajatan ’55 tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia’ yang digelar oleh majalah Horison. Peluncuran buku-buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit (Penerbit Horison, 2008) diberi bobot dengan orasi budaya oleh Dr Anies Baswedan.
Peluncuran yang diadakan pada Rabu (14/5) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta, itu juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh seniman Studiklub Teater Bandung (STB), Iman Soleh, dan pertunjukan musik oleh Bimbo. Menandai peluncuran buku, Pemimpin Redaksi Horison, Jamal D Rahman, menyerahkan satu set buku tebal itu kepada Taufiq Ismail. Sastrawan kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935, ini lantas menyerahkan masing-masing satu set buku ke berbagai kalangan.
Rangkaian acara berlanjut di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (17/5), dengan seminar nasional yang menampilkan pembicara Prof Dr Budi Darma, Prof Dr Arief Rachman, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Dr Yudi Latif, serta orasi sastra oleh Mendiknas Dr Bambang Sudibyo. Juga diserahkan penghargaan kepada para juara lomba menulis esai tentang peran Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia.
Rangkaian acara masih akan berlanjut di Studio TVRI Padang, Rabu (28/5), berupa seminar internasional. Dr Fasli Jalal akan tampil sebagai keynote speaker. Tampil pula pembicara Dr Rebecca Fanany (Australia), Darman Moenir, Dr Ismet Fanany MA, Drs Yulizal Yunus MA, Dr Ir Raudha Thaib, dan Upita Agustine. Seminar ini akan dibuka oleh Gubernur Sumatra Barat, H Gamawan Fauzi, dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi-puisi Taufiq. Acara pamungkas ini akan disiarkan langsung oleh TVRI Padang.
Menurut Anies Baswedan, potret perjalanan Taufiq Ismail adalah potret sebuah transformasi sosial di Indonesia. Taufiq menjadi saksi permanen naik-turunnya denyut jantung bangsa. “Taufiq Ismail memang menembus batas bangsa-bangsa. Tapi, rumah Taufiq Ismail tetaplah Indonesia. Kepeduliannya kepada Indonesia melebihi deretan puisi-puisi yang pernah ditulisnya tentang bangsa lain,” katanya.
Di kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, Padang, kini Taufiq juga sedang membangun Rumah Puisi, yang kelak juga akan dipenuhi buku-buku. Untuk Rumah Puisi itu, sastrawan Ikranegara menyerahkan secara simbolis koleksi buku-buku pribadinya selama 30 tahun. Sedangkan budayawan Emha Ainun Najib membacakan doa-doa khusus untuk Taufiq, agar diberi berkah kesehatan dan kesempatan untuk terus memberikan yang terbaik bagi kemajuan anak bangsa. (ahmadun yh)
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/pustaka-membaca-kepeloporan-taufiq.html
Minggu, 03 Oktober 2010
Menuju Format Baru Pengajaran Sastra
Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika
Pengajaran sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding aspek apresiasi sastra — umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Mereka, misalnya, umumnya lebih mengenal Britney Spears atau Westlife di negeri Paman Sam daripada Abdul Hadi WM di negeri sendiri.
Selain itu, juga tampak masih kuat kecenderungan minat baca mereka yang kurang terarah kepada karya-karya yang masuk dalam kategori sastra, tapi lebih ke fikfi-fikfi pop yang menghibur. Buku-buku chicklit, teenlit, dan fiksi seksual, misalnya, sangat laris di pasaran, tapi buku-buku sastra yang lebih serius dan mengandung nilai-nilai yang luhur, baik novel, kumpulan cerpen maupun puisi, masih kurang laku dan hanya berdebu di toko-toko buku atau menumpuk di gudang penerbit.
Secara umum, tingkat apresiasi sastra masyarakat kita — produk dari pendidikan formal sejak tingkat SLTP sampai perguruan tinggi — memang masih rendah. Hal ini, menurut beberapa pengamat dan akademisi sastra, juga disebabkan oleh kegagalan pengajaran sastra di sekolah, khususnya di jenjang SLTP dan SLTA.
Persoalan yang sudah dilansir oleh almarhum HB Jassin sejak 1970-an itu hingga kini agaknya belum bisa diatasi secara tuntas oleh pihak-pihak terkait, seperti penyusun kurikulum sekolah menengah dan guru sastra. Kurikulum terbaru, yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun belum menjamin keberhasilan pengajaran sastra di sekolah. Begitu juga KPTS ( ) yang mulai diberlakukan tahun lalu. Sebab, pelajaran sastra masih menjadi bagian kecil (20 persen) dari pelajaran bahasa Indonesia.
Sejak zaman HB Jassin (1970-an) sampai sekarang, sebenarnya sudah tidak kurang sastrawan dan pakar pengajaran sastra yang mencoba mengusulkan perbaikan pengajaran sastra di sekolah itu. Dalam tahun 1980-an, misalnya, berkali-kali Suminto A Sayuti membahasnya dalam beberapa artikel di media cetak dan berbagai forum diskusi. Dalam tahun 1990-an dan 2000-an, penyair Taufiq Ismail juga berkali-kali mempersoalkannya.
Ketika menyampaikan orasi sastra pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Surabaya, 27 September 2004, misalnya, Taufiq Ismail masih mensinyalir bahwa pengajaran sastra di sekolah miskin apresiasi dan 0 buku. Sehingga, hasilnya adalah para lulusan SMU yang rendah apresiasi sastranya dan rendah pula minat bacanya.
Akan tetapi, ibarat berteriak-teriak di tengah padang pasir, atau menyodok bukit kapur dengan tangkai sapu ijuk, usulan-usulan dan gagasan-gagasan perbaikan itu nyaris tidak berarti apa-apa, dan lenyap ditelah hiruk-pikuk isu politik yang masih malingkar-lingkar pada persoalan korupsi dan kekuasaan.
Gagasan-gagasan perbaikan yang sudah muncul sejak 30 tahun yang lalu itu sampai kini belum membuahkan perubahan yang berarti, apalagi radikal, dalam pengajaran sastra di sekolah, baik di tingkat kebijakan pemerintah maupun pada praktek pengajaran sastra di sekolah. Pengajaran sastra masih menjadi ‘bagian kecil’ dari pengajaran bahasa, sehingga tetap berjalan secara kurang maksimal.
Kualitas pengajaran sastra di sekolah penting untuk ditingkatkan, karena tidak hanya memiliki tujuan kurikuler yang bersifat jangka pendek untuk menyumbang nilai rapor atau NEM bagi kelulusan siswa. Tapi, juga memiliki tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk ikut menyiapkan generasi penerus, manusia Indonesia, yang unggul dan berbudaya. Tujuan ideal tersebut hanya bisa dicapai jika pengajaran sastra di sekolah berhasil meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra.
Karena itu, aspek apresiasi dan minat baca itulah idealnya yang diberi tekanan dalam praktek pengajaran sastra di sekolah. Sebab, hanya dengan tingkat apresiasi dan minat baca yang tinggi, nilai-nilai budaya bangsa yang luhur dalam karya sastra dapat diwariskan kepada siswa, demi tercapainya tujuan ideal tersebut.
Jika hanya tujuan kurikuler yang ditekankan, sangat mungkin sebagian besar siswa tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran sastra secara sungguh-sungguh. Sebab, nilai pelajaran sastra hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen pada nilai bahasa Indonesia. Persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan berbicara dan keterampilan mendengarkan.
Selain itu, juga aspek pengetahuan dan penguasaan ketatabahasaan. Akumulasi dari nilai tiap aspek kebahasaan itulah — ditambah dengan nilai pelajaran sastra — yang dimunculkan menjadi satu nilai pelajaran bahasa Indonesia pada rapor serta nilai Ebtanas (sekarang diganti namanya menjadi Ujian Akhir Nasional — UAN) siswa.
Hasil pengajaran sastra akan lebih parah lagi, jika pelajaran sastra diberikan secara monoton, tidak menarik, dengan kecakapan serta pengetahuan guru yang terbatas dan media serta fasilitas pendukung yang terbatas pula. Misalnya, guru hanya mengandalkan materi yang ada pada buku pelajaran, merenangkan pelajaran secara ala kadarnya dengan metode yang ala kadarnya, dan buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah pun terbatas.
Secara garis besar, tujuan pengajaran sastra dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk membentuk karakter siswa. Rincian dari tujuan ini, antara lain, (1) membentuk karaktek siswa agar memiliki rasa keindahan dan peduli pada masalah-masalah keindahan; (2) menumbuhkan sifat-sifat mulia pada diri siswa, seperti kearifan, kesantunan, kerendah-hatian, ketuhanan, keadilan dan kepedulian pada nasib sesama; (3) mewariskan nilai-nilai luruh budaya bangsa untuk membentuk jati diri siswa sekaligus jati diri bangsa; (4) menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya sastra, dan (5) menumbuhkan minat baca terhadap karya sastra.
Dan, kedua, tujuan praktis yang bersifat jangka pendek sesuai dengan yang tertera pada kurikulum. Berbeda dengan tujuan ideal yang lebih abstrak, berdimensi jangka panjang, dan sulit diukur hasilnya; tujuan yang bersifat praktis ini relatif dapat diukur hasilnya dan hasil akhirnya adalah nilai raport dan nilai UAN siswa.
Pada modul pelajaran yang disusun oleh guru, tujuan praktis itu biasa dijabarkan menjadi Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Contoh TIU untuk aspek pengetahuan tentang sejarah sastra Indonesia, misalnya saja, siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang angkatan-angkatan dalam sastra Indonesia. TIU tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya (1) siswa dapat menyebutkan nama-nama sastrawan Angkatan 66, dan (2) siswa dapat menyebutkan karya-karya sastrawan Angkatan 66.
Penjabaran dari TIU ke TIK juga dapat dilakukan pada modul untuk aspek pengetahuan tentang teori dan apresiasi sastra. TIU untuk teori sastra, misalnya, siswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang prinsip-prinsip estetika puisi. TIU ini dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan empat dari lima metode puisi, (2) siswa dapat menyebutkan dua fungsi tipografi, serta (3) siswa dapat menyebutkan tiga macam citraan dan contohnya.
Sedangkan TIU untuk aspek apresiasi sastra, misalnya, siswa dapat memahami dan menghargai karya sastra. TIU ini dapat dijabarkan menjadi, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan tokoh protagonis dan antagonis novel X, (2) siswa dapat menyebutkan jenis alur novel X, (3) siswa dapat menyebutkan tema novel X, (4) siswa dapat menyebutkan jenis ending novel X, (5) siswa dapat menyebutkan gaya-gaya bahasa dalam novel X, dan (6) siswa dapat menyebutkan pesan-pesan moral novel X.
—-
Tulisan ini merupakan makalah untuk Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra dalam rangka Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2007, HMBSI FPBS UPI Bandung, di gedung PKM UPI, 10 April 2007.
*) Sastrawan dan wartawan Republika
http://www.infoanda.com/Republika
Pengajaran sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding aspek apresiasi sastra — umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Mereka, misalnya, umumnya lebih mengenal Britney Spears atau Westlife di negeri Paman Sam daripada Abdul Hadi WM di negeri sendiri.
Selain itu, juga tampak masih kuat kecenderungan minat baca mereka yang kurang terarah kepada karya-karya yang masuk dalam kategori sastra, tapi lebih ke fikfi-fikfi pop yang menghibur. Buku-buku chicklit, teenlit, dan fiksi seksual, misalnya, sangat laris di pasaran, tapi buku-buku sastra yang lebih serius dan mengandung nilai-nilai yang luhur, baik novel, kumpulan cerpen maupun puisi, masih kurang laku dan hanya berdebu di toko-toko buku atau menumpuk di gudang penerbit.
Secara umum, tingkat apresiasi sastra masyarakat kita — produk dari pendidikan formal sejak tingkat SLTP sampai perguruan tinggi — memang masih rendah. Hal ini, menurut beberapa pengamat dan akademisi sastra, juga disebabkan oleh kegagalan pengajaran sastra di sekolah, khususnya di jenjang SLTP dan SLTA.
Persoalan yang sudah dilansir oleh almarhum HB Jassin sejak 1970-an itu hingga kini agaknya belum bisa diatasi secara tuntas oleh pihak-pihak terkait, seperti penyusun kurikulum sekolah menengah dan guru sastra. Kurikulum terbaru, yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun belum menjamin keberhasilan pengajaran sastra di sekolah. Begitu juga KPTS ( ) yang mulai diberlakukan tahun lalu. Sebab, pelajaran sastra masih menjadi bagian kecil (20 persen) dari pelajaran bahasa Indonesia.
Sejak zaman HB Jassin (1970-an) sampai sekarang, sebenarnya sudah tidak kurang sastrawan dan pakar pengajaran sastra yang mencoba mengusulkan perbaikan pengajaran sastra di sekolah itu. Dalam tahun 1980-an, misalnya, berkali-kali Suminto A Sayuti membahasnya dalam beberapa artikel di media cetak dan berbagai forum diskusi. Dalam tahun 1990-an dan 2000-an, penyair Taufiq Ismail juga berkali-kali mempersoalkannya.
Ketika menyampaikan orasi sastra pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Surabaya, 27 September 2004, misalnya, Taufiq Ismail masih mensinyalir bahwa pengajaran sastra di sekolah miskin apresiasi dan 0 buku. Sehingga, hasilnya adalah para lulusan SMU yang rendah apresiasi sastranya dan rendah pula minat bacanya.
Akan tetapi, ibarat berteriak-teriak di tengah padang pasir, atau menyodok bukit kapur dengan tangkai sapu ijuk, usulan-usulan dan gagasan-gagasan perbaikan itu nyaris tidak berarti apa-apa, dan lenyap ditelah hiruk-pikuk isu politik yang masih malingkar-lingkar pada persoalan korupsi dan kekuasaan.
Gagasan-gagasan perbaikan yang sudah muncul sejak 30 tahun yang lalu itu sampai kini belum membuahkan perubahan yang berarti, apalagi radikal, dalam pengajaran sastra di sekolah, baik di tingkat kebijakan pemerintah maupun pada praktek pengajaran sastra di sekolah. Pengajaran sastra masih menjadi ‘bagian kecil’ dari pengajaran bahasa, sehingga tetap berjalan secara kurang maksimal.
Kualitas pengajaran sastra di sekolah penting untuk ditingkatkan, karena tidak hanya memiliki tujuan kurikuler yang bersifat jangka pendek untuk menyumbang nilai rapor atau NEM bagi kelulusan siswa. Tapi, juga memiliki tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk ikut menyiapkan generasi penerus, manusia Indonesia, yang unggul dan berbudaya. Tujuan ideal tersebut hanya bisa dicapai jika pengajaran sastra di sekolah berhasil meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra.
Karena itu, aspek apresiasi dan minat baca itulah idealnya yang diberi tekanan dalam praktek pengajaran sastra di sekolah. Sebab, hanya dengan tingkat apresiasi dan minat baca yang tinggi, nilai-nilai budaya bangsa yang luhur dalam karya sastra dapat diwariskan kepada siswa, demi tercapainya tujuan ideal tersebut.
Jika hanya tujuan kurikuler yang ditekankan, sangat mungkin sebagian besar siswa tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran sastra secara sungguh-sungguh. Sebab, nilai pelajaran sastra hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen pada nilai bahasa Indonesia. Persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan berbicara dan keterampilan mendengarkan.
Selain itu, juga aspek pengetahuan dan penguasaan ketatabahasaan. Akumulasi dari nilai tiap aspek kebahasaan itulah — ditambah dengan nilai pelajaran sastra — yang dimunculkan menjadi satu nilai pelajaran bahasa Indonesia pada rapor serta nilai Ebtanas (sekarang diganti namanya menjadi Ujian Akhir Nasional — UAN) siswa.
Hasil pengajaran sastra akan lebih parah lagi, jika pelajaran sastra diberikan secara monoton, tidak menarik, dengan kecakapan serta pengetahuan guru yang terbatas dan media serta fasilitas pendukung yang terbatas pula. Misalnya, guru hanya mengandalkan materi yang ada pada buku pelajaran, merenangkan pelajaran secara ala kadarnya dengan metode yang ala kadarnya, dan buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah pun terbatas.
Secara garis besar, tujuan pengajaran sastra dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk membentuk karakter siswa. Rincian dari tujuan ini, antara lain, (1) membentuk karaktek siswa agar memiliki rasa keindahan dan peduli pada masalah-masalah keindahan; (2) menumbuhkan sifat-sifat mulia pada diri siswa, seperti kearifan, kesantunan, kerendah-hatian, ketuhanan, keadilan dan kepedulian pada nasib sesama; (3) mewariskan nilai-nilai luruh budaya bangsa untuk membentuk jati diri siswa sekaligus jati diri bangsa; (4) menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya sastra, dan (5) menumbuhkan minat baca terhadap karya sastra.
Dan, kedua, tujuan praktis yang bersifat jangka pendek sesuai dengan yang tertera pada kurikulum. Berbeda dengan tujuan ideal yang lebih abstrak, berdimensi jangka panjang, dan sulit diukur hasilnya; tujuan yang bersifat praktis ini relatif dapat diukur hasilnya dan hasil akhirnya adalah nilai raport dan nilai UAN siswa.
Pada modul pelajaran yang disusun oleh guru, tujuan praktis itu biasa dijabarkan menjadi Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Contoh TIU untuk aspek pengetahuan tentang sejarah sastra Indonesia, misalnya saja, siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang angkatan-angkatan dalam sastra Indonesia. TIU tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya (1) siswa dapat menyebutkan nama-nama sastrawan Angkatan 66, dan (2) siswa dapat menyebutkan karya-karya sastrawan Angkatan 66.
Penjabaran dari TIU ke TIK juga dapat dilakukan pada modul untuk aspek pengetahuan tentang teori dan apresiasi sastra. TIU untuk teori sastra, misalnya, siswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang prinsip-prinsip estetika puisi. TIU ini dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan empat dari lima metode puisi, (2) siswa dapat menyebutkan dua fungsi tipografi, serta (3) siswa dapat menyebutkan tiga macam citraan dan contohnya.
Sedangkan TIU untuk aspek apresiasi sastra, misalnya, siswa dapat memahami dan menghargai karya sastra. TIU ini dapat dijabarkan menjadi, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan tokoh protagonis dan antagonis novel X, (2) siswa dapat menyebutkan jenis alur novel X, (3) siswa dapat menyebutkan tema novel X, (4) siswa dapat menyebutkan jenis ending novel X, (5) siswa dapat menyebutkan gaya-gaya bahasa dalam novel X, dan (6) siswa dapat menyebutkan pesan-pesan moral novel X.
—-
Tulisan ini merupakan makalah untuk Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra dalam rangka Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2007, HMBSI FPBS UPI Bandung, di gedung PKM UPI, 10 April 2007.
*) Sastrawan dan wartawan Republika
Senin, 20 September 2010
Pekan Presiden Penyair: Mengapresiasi Sang Maestro
Ahmadun Yosi Herfanda
http://arsip.net/Republika
Penyair Sutardji Calzoum Bachri adalah maestro perpuisian Indonesia. Sapardi Djoko Damono menempatkannya sebagai ‘mata kiri’ — untuk menyandingkannya dengan Cahiril Anwar yang disebut sebagai ‘mata kanan’ — kesusatraan Indonesia.
Tetapi, Sutardji, dengan nada guyon pernah menyebut dirinya sebagai ‘presiden penyair Indonesia’. Dan, sebutan itu melekat hingga sekarang. “Ketika Sutardji menyebut dirinya ‘presiden penyair’ sebenarnya hanya guyon, tapi julukan itu populer hingga sekarang,” kata Rendra, suatu hari.
Namun, siapapun mengakui Sutardji sebagai penyair besar. Meskipun kebesarannya tidak dapat diperbandingkan dengan Rendra atau Taufiq Ismail — karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri — kritikus sastra Indonesia terkini, Maman S Mahayana, meniilai Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar.
“Sutardji dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting perjalanan sejarah sastra Indonesia,” kata Maman dalam dialog sastra di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (5/7) lalu.
Menurut Maman, banyak aspek menarik pada puisi-puisi Sutardji, yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji, baik semangat pemberontakan, pencapaian estetik, maupun semangatnya untuk kembali ke puitika Timur, yakni puitika mantra — tradisi sastra lisan Melayu lama. “Selain puitika mantra yang membebaskan kata dari beban makna, puisi-puisi Sutardji juga dipengaruhi tasawuf,” katanya.
Dalam diskusi sastra pra-Pekan Presiden Penyair itu Maman menguraikan banyak aspek menarik dari karya dan pemikiran Sutardji, yang menurutnya akan dikaji tuntas dalam sesi seminar internasional — salah satu mata acara Pekan Presiden Penyair yang akan berlangsung di TIM pada 14-19 Juli 2007.
Menjelang diskusi, ketua panitia iven internasional itu, Asrizal Nur, mengemukakan alasannya mengapa memilih penyair kelahiran Riau itu untuk dirayakan secara cukup besar-besaran, bukan Rendra, misalnya. “Acara besar untuk Rendra sudah sering diadakan orang. Sedangkan untuk Sutardji belum. Padahal, peran Sutradji sangat penting bagi sastra Indonesia, dan banyak sisi kreatif yang layak diteladani,” katanya.
Menurut Asrizal, Pekan Presiden Penyair diadakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-66 Sutardji. Berbagai mata acara disiapkan untuk memeriahkan perhelatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu, yang diketuainya itu. “Kita adakan semeriah mungkin agar dampak apresiatifnya benar-benar terasa bagi masyarakat sastra Indonesia,” katanya.
Berbagai mata acara yang akan mewarnai Pekan Presiden Penyair ini, antara lain lomba baca puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri, seminar internasional tentang karya-karya Sutardji, talkshow Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru, panggung apresiasi, pameran foto, bazaar buku, serta ditutup dengan malam puncak dan pidato kebudayaan Sutardji Calzoum Bachri (SCB).
Seminar internasional, tambah Asrizal, akan menghadirkan pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB, Estetika Dalam Karya SCB, dan Posisi SCB dalam Peta Sastra.
Pembicara yang direncanakan tampil adalah Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim Bin Haji Abd Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato’ Kemala (Malaysia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan Harry Aveling (Australia), serta para pakar sastra dari dalam negeri seperti Dr Abdul Hadi WM, Taufik Ikram Jamil, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Donny Gahral Adian.
“Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM. Diharapkan akan dihadiri para sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum,” tambah Maman, penanggung jawab seminar.
Sedangkan lomba baca puisi Piala Sutardji akan diadakan pada 14-16 Juli di halaman parkir TIM. Lomba dibagi ke dalam dua babak, penyisihan dan final. “Lomba bersifat terbuka dan lintas kategori. Persyaratan utamanya, peserta minimal berusia 15 tahun,” tambah Asrizal. “Pendaftaran peserta akan dilayani sampai tanggal 12 Juli 2007,” tambahnya.
Selama dua malam berturut-turut, 17-18 Juli, pukul 19.30, akan digelar Malam Apresiasi Karya Sutardji Calzoum Bachri di Teater Kecil TIM. Pada acara tersebut akan tampil beberapa seniman dan pejabat pemerintah untuk membacakan karya-karya Sutardji.
Pada 17 Juli, menurut Asrizal, akan tampil Jose Rizal Manua, Slamet Sukirnanto, Hamzad Rangkuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Agus R Sarjono, Rukmi Wisnu Wardhani, Asrizal Nur, Shantined, Musikalisasi Local Ambeien, Amien Wangsitalaja, Diah Hadaning, Wanda Leopalda, Badai Muth Siregar, Rara Gendis, Hudan Hidayat, Remy Novaris DM, Chavcay Syaefullah, Wowok Hesti Prabowo, dan Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan.
Panggung apresiasi, pada 18 Juli, akan dimeriahkan penampilan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan MS Ka’ban, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Dault, beberapa pejabat pemerintah dari daerah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Selain itu, juga akan tampil sejumlah penyair dan tokoh masyarakat, seperti KHA Mustofa Bisri, D Zawawi Imran, Fahrunnas MA Jabbar, Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, serta musikalisasi puisi Sanggar Matahari dan Komunitas Budaya Nusantara Tanjung Pinang,” tambah Asrizal.
Malam puncak acara, 19 Juli 2007, pukul 19.00 WIB, akan diisi pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri, pemutaran film dokumenter dan pentas musik SCB, serta beberapa penampilan seni pendukung lainnya.
Sutardji, yang sempat hadir pada diskusi sastra di Kafe Penus, menyambut gembira apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya-karyanya. Ia berharap, acara ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat dan penghargaan pemerintah terhadap sastra. “Mudah-mudahan acara seperti ini juga dapat diselenggarakan untuk penyair lain,” katanya.
Talk Show dan Dua Bintang Tamu
Dua bintang tamu yang masih belia, Abdurahman Faiz (penyair cilik) dan Niken Larasati (siswa SMA, juara menulis cerpen nasional) akan ikut memeriahkan talk show Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru.
Acara menarik ini akan digelar pada pada 18 Juli, pukul 09.00-12.00 WIB di Teater Kecil TIM. “Acara ini akan mempertemukan dan mengakrabkan Sutardji dengan para siswa dan guru SMA,” kata Asrizal Nur.
Karena itu, tambahnya, acara ini bersifat terbuka bagi para guru dan siswa dari daerah mana pun. “Para guru dan siswa yang berminat dapat mendaftarkan diri sesegera mungkin dengan mengontak panitia di 021-7752144. Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta telah memenuhi kuota,” tambahnya.
http://arsip.net/Republika
Penyair Sutardji Calzoum Bachri adalah maestro perpuisian Indonesia. Sapardi Djoko Damono menempatkannya sebagai ‘mata kiri’ — untuk menyandingkannya dengan Cahiril Anwar yang disebut sebagai ‘mata kanan’ — kesusatraan Indonesia.
Tetapi, Sutardji, dengan nada guyon pernah menyebut dirinya sebagai ‘presiden penyair Indonesia’. Dan, sebutan itu melekat hingga sekarang. “Ketika Sutardji menyebut dirinya ‘presiden penyair’ sebenarnya hanya guyon, tapi julukan itu populer hingga sekarang,” kata Rendra, suatu hari.
Namun, siapapun mengakui Sutardji sebagai penyair besar. Meskipun kebesarannya tidak dapat diperbandingkan dengan Rendra atau Taufiq Ismail — karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri — kritikus sastra Indonesia terkini, Maman S Mahayana, meniilai Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar.
“Sutardji dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting perjalanan sejarah sastra Indonesia,” kata Maman dalam dialog sastra di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (5/7) lalu.
Menurut Maman, banyak aspek menarik pada puisi-puisi Sutardji, yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji, baik semangat pemberontakan, pencapaian estetik, maupun semangatnya untuk kembali ke puitika Timur, yakni puitika mantra — tradisi sastra lisan Melayu lama. “Selain puitika mantra yang membebaskan kata dari beban makna, puisi-puisi Sutardji juga dipengaruhi tasawuf,” katanya.
Dalam diskusi sastra pra-Pekan Presiden Penyair itu Maman menguraikan banyak aspek menarik dari karya dan pemikiran Sutardji, yang menurutnya akan dikaji tuntas dalam sesi seminar internasional — salah satu mata acara Pekan Presiden Penyair yang akan berlangsung di TIM pada 14-19 Juli 2007.
Menjelang diskusi, ketua panitia iven internasional itu, Asrizal Nur, mengemukakan alasannya mengapa memilih penyair kelahiran Riau itu untuk dirayakan secara cukup besar-besaran, bukan Rendra, misalnya. “Acara besar untuk Rendra sudah sering diadakan orang. Sedangkan untuk Sutardji belum. Padahal, peran Sutradji sangat penting bagi sastra Indonesia, dan banyak sisi kreatif yang layak diteladani,” katanya.
Menurut Asrizal, Pekan Presiden Penyair diadakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-66 Sutardji. Berbagai mata acara disiapkan untuk memeriahkan perhelatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu, yang diketuainya itu. “Kita adakan semeriah mungkin agar dampak apresiatifnya benar-benar terasa bagi masyarakat sastra Indonesia,” katanya.
Berbagai mata acara yang akan mewarnai Pekan Presiden Penyair ini, antara lain lomba baca puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri, seminar internasional tentang karya-karya Sutardji, talkshow Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru, panggung apresiasi, pameran foto, bazaar buku, serta ditutup dengan malam puncak dan pidato kebudayaan Sutardji Calzoum Bachri (SCB).
Seminar internasional, tambah Asrizal, akan menghadirkan pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB, Estetika Dalam Karya SCB, dan Posisi SCB dalam Peta Sastra.
Pembicara yang direncanakan tampil adalah Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim Bin Haji Abd Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato’ Kemala (Malaysia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan Harry Aveling (Australia), serta para pakar sastra dari dalam negeri seperti Dr Abdul Hadi WM, Taufik Ikram Jamil, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Donny Gahral Adian.
“Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM. Diharapkan akan dihadiri para sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum,” tambah Maman, penanggung jawab seminar.
Sedangkan lomba baca puisi Piala Sutardji akan diadakan pada 14-16 Juli di halaman parkir TIM. Lomba dibagi ke dalam dua babak, penyisihan dan final. “Lomba bersifat terbuka dan lintas kategori. Persyaratan utamanya, peserta minimal berusia 15 tahun,” tambah Asrizal. “Pendaftaran peserta akan dilayani sampai tanggal 12 Juli 2007,” tambahnya.
Selama dua malam berturut-turut, 17-18 Juli, pukul 19.30, akan digelar Malam Apresiasi Karya Sutardji Calzoum Bachri di Teater Kecil TIM. Pada acara tersebut akan tampil beberapa seniman dan pejabat pemerintah untuk membacakan karya-karya Sutardji.
Pada 17 Juli, menurut Asrizal, akan tampil Jose Rizal Manua, Slamet Sukirnanto, Hamzad Rangkuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Agus R Sarjono, Rukmi Wisnu Wardhani, Asrizal Nur, Shantined, Musikalisasi Local Ambeien, Amien Wangsitalaja, Diah Hadaning, Wanda Leopalda, Badai Muth Siregar, Rara Gendis, Hudan Hidayat, Remy Novaris DM, Chavcay Syaefullah, Wowok Hesti Prabowo, dan Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan.
Panggung apresiasi, pada 18 Juli, akan dimeriahkan penampilan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan MS Ka’ban, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Dault, beberapa pejabat pemerintah dari daerah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Selain itu, juga akan tampil sejumlah penyair dan tokoh masyarakat, seperti KHA Mustofa Bisri, D Zawawi Imran, Fahrunnas MA Jabbar, Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, serta musikalisasi puisi Sanggar Matahari dan Komunitas Budaya Nusantara Tanjung Pinang,” tambah Asrizal.
Malam puncak acara, 19 Juli 2007, pukul 19.00 WIB, akan diisi pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri, pemutaran film dokumenter dan pentas musik SCB, serta beberapa penampilan seni pendukung lainnya.
Sutardji, yang sempat hadir pada diskusi sastra di Kafe Penus, menyambut gembira apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya-karyanya. Ia berharap, acara ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat dan penghargaan pemerintah terhadap sastra. “Mudah-mudahan acara seperti ini juga dapat diselenggarakan untuk penyair lain,” katanya.
Talk Show dan Dua Bintang Tamu
Dua bintang tamu yang masih belia, Abdurahman Faiz (penyair cilik) dan Niken Larasati (siswa SMA, juara menulis cerpen nasional) akan ikut memeriahkan talk show Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru.
Acara menarik ini akan digelar pada pada 18 Juli, pukul 09.00-12.00 WIB di Teater Kecil TIM. “Acara ini akan mempertemukan dan mengakrabkan Sutardji dengan para siswa dan guru SMA,” kata Asrizal Nur.
Karena itu, tambahnya, acara ini bersifat terbuka bagi para guru dan siswa dari daerah mana pun. “Para guru dan siswa yang berminat dapat mendaftarkan diri sesegera mungkin dengan mengontak panitia di 021-7752144. Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta telah memenuhi kuota,” tambahnya.
Senin, 26 Juli 2010
Novel Mahabbah Rindu dan Puncak Fiksi Islami
Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika
Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.
Dengan label novel inspiratif pencarian kebenaran iman Abidah mencoba menyajikan fiksi Islami yang agak lebih dalam dan serius (nyastra) dibanding novel-novel pop Islami semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ataupun novel-novel pop Islami lain karya para penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP).
Bobot kesastraan Mahabbah Rindu barangkali dapat disejajarkan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa –salah satu di antara sedikit penulis FLF yang lebih banyak menulis ‘fiksi sastra’ dari pada ‘fiksi pop Islami’ –seperti terlihat pada cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008).
Mahabbah Rindu adalah novel ke-tujuh dari Abidah el Khalieqy yang telah diterbitkan. Novel-novel Abidah lainnya yang sudah terbit, antara lain Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Geni Jora (2004), dan Nirzona (2007). Naskah Geni Jora terpilih sebagai juara kedua Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2004.
Sebagaimana novel-novel Abidah sebelumnya, Mahabbah Rindu juga ditaburi narasi-narasi yang sangat puitis. Judul dan subjudul di dalamnya pun rata-rata puitis. Bahkan, novel ini dibuka dengan empat baris puisi, untuk kemudian masuk ke narasi adegan rukuk dan sujud sang tokoh utama (aku) di tengah malam:
Duhai cahaya mata, engkau rinduku cuma
Harapan hidupku, kebahagiaan dan kesedihanku
Sebab hatiku enggan mencinta segala
Selain dirimu, cermin kesempurnaanmu
Dengan begitu, terbitnya novel Mahabbah Rindu memperkuat fenomena fiksi (cerpen dan novel) puitis dalam khasanah sastra Indonesia, yang juga terasa pada karya-karya Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Maroeli Simbolon, Azhari, Ucu Agustin, Raudal Tanjung Banua, dan umumnya para cerpenis yang juga merangkap sebagai penyair.
Selain banyak menulis cerpen dan novel, Abidah memang dikenal sebagai salah satu penyair nasional yang cukup kuat dengan sajak-sajak religiusnya. Seperti juga Helvy –yang juga dikenal sebagai penyair– cita-rasa bahasa yang puitis sangat mempengaruhi Abidah dalam menulis fiksi, dan ini menambah cita rasa sastrawi cerpen-cerpen dan novel-novelnya.
Terbitnya Mahabbah Rindu juga makin memperkuat posisi Abidah dalam tradisi penulisan fiksi Indonesia. Dengan novel-novelnya, dan dengan kemenangannya dalam sayembara novel DKJ, tidak berlebihan jika Abidah dianggap sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia. Novel-novelnya bahkan dapat dianggap sebagai salah satu puncak fiksi sastra Islami –bukan fiksi pop Islami.
Ketika dalam beberapa seminar dan diskusi saya menyebut Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak fenomena fiksi Islami, yang saya maksud adalah fiksi Islami dalam genre fiksi pop atau fiksi pop Islami, bukan fiksi Islami secara keseluruhan.
Penyebutan itu pun masih debatable, karena masih banyak karya-karya fiksi pop Islami lain yang tak kalah menarik, semisal karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, Izzatul Jannah, dan Afifah Afra. Sebenarnya, penyebutan itu lebih berkait pada kemampuan Ayat-Ayat Cinta dalam merebut selera pasar, sehingga secara mengejutkan menjadi mega bestseller. Dan, kini Ayat-Ayat Cinta pun dibayang-bayangi oleh Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang dari segi kualitas kesastraan relatif lebih bagus.
Jika berbicara tentang fiksi Islami secara keseluruhan dan dalam arti luas, maka kita akan menemukan puncak-puncak lain, seperti karya-karya Danarto, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, dan M Fudoli Zaini –untuk menyebut beberapa saja dari kalangan penulis senior. Sedangkan untuk penulis generasi muda kita dapat menyebut karya-karya Abidah, Helvy, Azhari, dan Ucu Agustin.
*) Wartawan Republika.
http://www.infoanda.com/Republika
Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.
Dengan label novel inspiratif pencarian kebenaran iman Abidah mencoba menyajikan fiksi Islami yang agak lebih dalam dan serius (nyastra) dibanding novel-novel pop Islami semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ataupun novel-novel pop Islami lain karya para penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP).
Bobot kesastraan Mahabbah Rindu barangkali dapat disejajarkan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa –salah satu di antara sedikit penulis FLF yang lebih banyak menulis ‘fiksi sastra’ dari pada ‘fiksi pop Islami’ –seperti terlihat pada cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008).
Mahabbah Rindu adalah novel ke-tujuh dari Abidah el Khalieqy yang telah diterbitkan. Novel-novel Abidah lainnya yang sudah terbit, antara lain Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Geni Jora (2004), dan Nirzona (2007). Naskah Geni Jora terpilih sebagai juara kedua Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2004.
Sebagaimana novel-novel Abidah sebelumnya, Mahabbah Rindu juga ditaburi narasi-narasi yang sangat puitis. Judul dan subjudul di dalamnya pun rata-rata puitis. Bahkan, novel ini dibuka dengan empat baris puisi, untuk kemudian masuk ke narasi adegan rukuk dan sujud sang tokoh utama (aku) di tengah malam:
Duhai cahaya mata, engkau rinduku cuma
Harapan hidupku, kebahagiaan dan kesedihanku
Sebab hatiku enggan mencinta segala
Selain dirimu, cermin kesempurnaanmu
Dengan begitu, terbitnya novel Mahabbah Rindu memperkuat fenomena fiksi (cerpen dan novel) puitis dalam khasanah sastra Indonesia, yang juga terasa pada karya-karya Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Maroeli Simbolon, Azhari, Ucu Agustin, Raudal Tanjung Banua, dan umumnya para cerpenis yang juga merangkap sebagai penyair.
Selain banyak menulis cerpen dan novel, Abidah memang dikenal sebagai salah satu penyair nasional yang cukup kuat dengan sajak-sajak religiusnya. Seperti juga Helvy –yang juga dikenal sebagai penyair– cita-rasa bahasa yang puitis sangat mempengaruhi Abidah dalam menulis fiksi, dan ini menambah cita rasa sastrawi cerpen-cerpen dan novel-novelnya.
Terbitnya Mahabbah Rindu juga makin memperkuat posisi Abidah dalam tradisi penulisan fiksi Indonesia. Dengan novel-novelnya, dan dengan kemenangannya dalam sayembara novel DKJ, tidak berlebihan jika Abidah dianggap sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia. Novel-novelnya bahkan dapat dianggap sebagai salah satu puncak fiksi sastra Islami –bukan fiksi pop Islami.
Ketika dalam beberapa seminar dan diskusi saya menyebut Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak fenomena fiksi Islami, yang saya maksud adalah fiksi Islami dalam genre fiksi pop atau fiksi pop Islami, bukan fiksi Islami secara keseluruhan.
Penyebutan itu pun masih debatable, karena masih banyak karya-karya fiksi pop Islami lain yang tak kalah menarik, semisal karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, Izzatul Jannah, dan Afifah Afra. Sebenarnya, penyebutan itu lebih berkait pada kemampuan Ayat-Ayat Cinta dalam merebut selera pasar, sehingga secara mengejutkan menjadi mega bestseller. Dan, kini Ayat-Ayat Cinta pun dibayang-bayangi oleh Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang dari segi kualitas kesastraan relatif lebih bagus.
Jika berbicara tentang fiksi Islami secara keseluruhan dan dalam arti luas, maka kita akan menemukan puncak-puncak lain, seperti karya-karya Danarto, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, dan M Fudoli Zaini –untuk menyebut beberapa saja dari kalangan penulis senior. Sedangkan untuk penulis generasi muda kita dapat menyebut karya-karya Abidah, Helvy, Azhari, dan Ucu Agustin.
*) Wartawan Republika.
Buku-buku Sutan Takdir Alisabana
Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika
Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari.
Sederet diskusi pun diadakan untuk membahas buku-buku dan pemikiran STA, antara lain di Taman Ismail Marzuki, The Habibie Center, dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok. Sejumlah media massa pun menyambut cukup antusias diskusi-diskusi tersebut, dengan memberikan ruang cukup lebar untuk pemberitaannya.
Almarhum STA semasa hidupnya telah menulis cukup banyak buku. Setidaknya ada 35 buku karya STA yang telah terbit, berupa tiga buku filsafat, sembilan buku kebudayaan, delapan buku bahasa, 12 buku sastra (termasuk novel dan kumpulan puisi), dan tiga buku umum.
Di antara novel STA yang paling terkenal dan fenomenal adalah Layar Terkembang. Novel ini menduduki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah sastra Indonesia, karena menawarkan konsep pembaruan budaya sekaligus pemuliaan terhadap kaum perempuan. Melalui tokoh Tuti, jelas sekali bagaimana gambaran perempuan yang ideal menurut STA: Terpelajar, berpikiran maju, dan menjadi aktivis serta pelopor perubahan sosial ke arah kemajuan.
Selain melalui buku, pemikiran STA juga banyak dilansir dalam berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media massa sejak tahun 1930-an. Pemikiran STA tentang kebudayaan Indonesia bahkan sempat berkembang menjadi polemik panjang, dalam dasawarsa 1930-an, yang antara lain melibatkan Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara.
Dalam polemik itu konsep-konsep budaya Timur dan Barat dicoba didialogkan untuk menemukan konsep budaya baru bagi masa depan bangsa. Dari polemik tersebut lahir sebuah buku berjudul Polemik Kebudayaan (dirangkum oleh Achdiat Kartamihardja), yang sampai sekarang masih sering dijadikan rujukan oleh para pakar budaya ketika membicarakan tentang masa depan kebudayaan nasional. Artinya, polemik tersebut telah memberikan dasar-dasar penting bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.
Karena karya-karya sastranya, terutama novel Layar Terkembang, dan polemik kebudayaannya yang sangat menyejarah, selama ini masyarakat lebih mengenal STA sebagai sastrawan dan budayawan, yang pernah memimpin majalah Pujangga Baru. Nama majalah itu pun oleh HB Jassin lantas dijadikan nama angkatan Angkatan Pujangga Baru dalam sastra Indonesia, dengan STA sebagai pelopornya. Penempatan STA sebagai pelopor Angkatan Pujangga Baru, tentu, makin memantapkan posisinya dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus menguatkan eksistensi kesastrawanannya.
Namun, sumbangan penting STA bagi bangsa ini tentu tidak hanya dalam bidang sastra dan budaya. STA juga memberi sumbangan penting di bidang pendidikan, filsafat, dan sosiologi, yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan nasional, setidaknya di bidang pemikiran budaya.
Buku-buku yang diterbitkan Dian Rakyat di atas mencoba menghadirkan gambaran ketokohan STA yang seutuhnya, dan antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi, sehingga perlu dibaca keduanya. Buku Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan menggambarkan sosok STA dan berbagai perannya. Sedangkan Manusia Renaisance lebih menyorot pemikiran-pemikirannya.
Dari karya dan pemikirannya, terlihat bahwa STA adalah manusia berkarakter laut, dan bukan gunung. Dinamis dan ingin cepat maju, serta tak pernah mau tinggal diam melihat bangsanya yang masih terbelakang. Wajar kalau ada yang menyebut STA sebagai fajar modernisme Indonesia.
Luar biasanya, semangat untuk membangun Indonesia modern dilontarkan STA sebelum negara bernama Indonesia lahir. Sejak awal dasawarsa 1930-an, tidak lelah-lelahnya tokoh dinamis ini memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pemikiran sastra, bahasa, filsafat, dan terutama kebudayaan.
STA yakin, untuk memajukan suatu bangsa, peran kebudayaan sangat vital. STA yakin, agar dapat berjalan dengan baik, suatu masyarakat harus memiliki kebudayaan yang dapat menjadi dasar atau sandaran bagi kemajuan ilmu dan teknologi. Jadi, pesan tersirat STA, kalau ingin bangsa ini maju dan sejahtera lahir-batin, jangan sepelekan kebudayaan.
*) Wartawan Republika
http://www.infoanda.com/Republika
Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari.
Sederet diskusi pun diadakan untuk membahas buku-buku dan pemikiran STA, antara lain di Taman Ismail Marzuki, The Habibie Center, dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok. Sejumlah media massa pun menyambut cukup antusias diskusi-diskusi tersebut, dengan memberikan ruang cukup lebar untuk pemberitaannya.
Almarhum STA semasa hidupnya telah menulis cukup banyak buku. Setidaknya ada 35 buku karya STA yang telah terbit, berupa tiga buku filsafat, sembilan buku kebudayaan, delapan buku bahasa, 12 buku sastra (termasuk novel dan kumpulan puisi), dan tiga buku umum.
Di antara novel STA yang paling terkenal dan fenomenal adalah Layar Terkembang. Novel ini menduduki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah sastra Indonesia, karena menawarkan konsep pembaruan budaya sekaligus pemuliaan terhadap kaum perempuan. Melalui tokoh Tuti, jelas sekali bagaimana gambaran perempuan yang ideal menurut STA: Terpelajar, berpikiran maju, dan menjadi aktivis serta pelopor perubahan sosial ke arah kemajuan.
Selain melalui buku, pemikiran STA juga banyak dilansir dalam berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media massa sejak tahun 1930-an. Pemikiran STA tentang kebudayaan Indonesia bahkan sempat berkembang menjadi polemik panjang, dalam dasawarsa 1930-an, yang antara lain melibatkan Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara.
Dalam polemik itu konsep-konsep budaya Timur dan Barat dicoba didialogkan untuk menemukan konsep budaya baru bagi masa depan bangsa. Dari polemik tersebut lahir sebuah buku berjudul Polemik Kebudayaan (dirangkum oleh Achdiat Kartamihardja), yang sampai sekarang masih sering dijadikan rujukan oleh para pakar budaya ketika membicarakan tentang masa depan kebudayaan nasional. Artinya, polemik tersebut telah memberikan dasar-dasar penting bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.
Karena karya-karya sastranya, terutama novel Layar Terkembang, dan polemik kebudayaannya yang sangat menyejarah, selama ini masyarakat lebih mengenal STA sebagai sastrawan dan budayawan, yang pernah memimpin majalah Pujangga Baru. Nama majalah itu pun oleh HB Jassin lantas dijadikan nama angkatan Angkatan Pujangga Baru dalam sastra Indonesia, dengan STA sebagai pelopornya. Penempatan STA sebagai pelopor Angkatan Pujangga Baru, tentu, makin memantapkan posisinya dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus menguatkan eksistensi kesastrawanannya.
Namun, sumbangan penting STA bagi bangsa ini tentu tidak hanya dalam bidang sastra dan budaya. STA juga memberi sumbangan penting di bidang pendidikan, filsafat, dan sosiologi, yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan nasional, setidaknya di bidang pemikiran budaya.
Buku-buku yang diterbitkan Dian Rakyat di atas mencoba menghadirkan gambaran ketokohan STA yang seutuhnya, dan antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi, sehingga perlu dibaca keduanya. Buku Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan menggambarkan sosok STA dan berbagai perannya. Sedangkan Manusia Renaisance lebih menyorot pemikiran-pemikirannya.
Dari karya dan pemikirannya, terlihat bahwa STA adalah manusia berkarakter laut, dan bukan gunung. Dinamis dan ingin cepat maju, serta tak pernah mau tinggal diam melihat bangsanya yang masih terbelakang. Wajar kalau ada yang menyebut STA sebagai fajar modernisme Indonesia.
Luar biasanya, semangat untuk membangun Indonesia modern dilontarkan STA sebelum negara bernama Indonesia lahir. Sejak awal dasawarsa 1930-an, tidak lelah-lelahnya tokoh dinamis ini memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pemikiran sastra, bahasa, filsafat, dan terutama kebudayaan.
STA yakin, untuk memajukan suatu bangsa, peran kebudayaan sangat vital. STA yakin, agar dapat berjalan dengan baik, suatu masyarakat harus memiliki kebudayaan yang dapat menjadi dasar atau sandaran bagi kemajuan ilmu dan teknologi. Jadi, pesan tersirat STA, kalau ingin bangsa ini maju dan sejahtera lahir-batin, jangan sepelekan kebudayaan.
*) Wartawan Republika
Jumat, 16 Januari 2009
'Menyatukan' Nusantara dalam Pesta Sastra
Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/
Salah satu keputusan penting dan paling strategis dari International Poetry Gathering dalam Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri, awal Juli 2008 lalu, adalah diteruskannya iven tersebut sebagai forum tahunan para penyair di Nusantara -- Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina.
Keputusan tersebut sangat strategis, karena dapat 'menyatukan' para penyair -- dan pecinta sastra -- se Nusantara dalam semangat bersastra yang sama, yakni membangun peradaban masyarakat yang maju, moderat, adil, demokratis, religius, dan berjati diri, lewat sastra.
"Kami, wakil dari Malaysia sepakat untuk meneruskan iven ini sebagai tradisi tahunan, karena dalam iven ini sastrawan Indonesia dan Malaysia dapat bersatu untuk bersama-sama membangun peradaban Nusantara, tanpa terpengaruh persoalan politik dan konflik kepentingan," kata SM Zakir, Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), yang menjadi salah satu panelis gathering tersebut.
Sejak pertama kali diadakan di Medan -- oleh Laboratirium Sastra Medan serta Dinas Kebudayaan dan Priwisata Medan -- tahun 2007, gathering menjadi mata acara terpenting pesta sastra tersebut, selain seminar internasional, workshop proses kreatif, dan panggung baca puisi para penyair Nusantara.
Tahun lalu, Pesta Penyair Indonesia Medan 2007 sempena The 1st Medan International Poetry Gathering telah menetapkan iven ini sebagai forum (wadah) bersama para penyair Nusantara, dan akan diselenggarakan setahun sekali secara bergilir di daerah-daerah serta negara asal para peserta.
Dalam gathering di Medan itu pula nama pesta penyair ini disempurnakan menjadi Pesta Penyair Nusantara ..., The ... International Poetry Gathering. Tanda titik-titik (...) diisi tahun pelaksanaan, dan kali keberapa serta di kota mana iven tersebut diselenggarakan.
Sehingga, di Kediri, nama iven ini menjadi Pesta Penyair Nusantara 2008, sempena The 2nd Kediri International Poetry Gathering. Dan, tahun depan, akan menjadi Pesta Penyair Nusantara 2009, sempana The 3nd Kualalumpur International Poetry Gathering, karena telah disepakati tahun depan akan diadakan di ibukota negeri jiran, Malaysia.
Sejarah
Dengan kesepakatan strategis tersebut, berarti Kediri telah ikut mencatatkan sejarah penting atas tradisi tersebut, dan berjasa ikut mempertahankannya.
Karena, dengan 'Kesepakatan Kediri' itu, tradisi tahunan tersebut dapat terus bergulir untuk mencari bentuknya yang makin sempurna dan memberikan manfaat yang makin besar bagi tradisi kreatif dan kehidupan sastra di Nusantara.
Maka, impaslah sudah, jerih payah ketua panitia pelaksana Khoirul Anwar yang tetap bertekad melaksanakan pesta sastra tersebut sesuai rencana, meskipun sempat mengalami kecelakaan yang fatal dan masih harus memakai tongkat sampai acara tersebut selesai, serta sempat menghadapi kesulitan berat dalam mencari dana untuk biaya acara.
Juga tidak dapat dilupakan kerja keras Jack Ponadi Efendi Santoso sebagai sekretaris panitia, Subardi Agan sebagai editor dan pembantu utama di balik layar, serta Sarah Serena selaku anggota panitia ad hoc yang rela hijrah sementara dari Jakarta ke Kediri meski masih pengantin baru.
Meskipun terkesan kurang perfect dalam memanaj acara dan sempat mengecewakan beberapa peserta, penghargaan yang setimpal tetap patut diberikan atas tekad, ketabahan dan kerja keras Khoirul Anwar dan kawan-kawannya tersebut. Tentu, juga penghargaan kepada pihak-pihak yang akhirnya membantu pelaksanaan pesta sastra tersebut, seperti walikota Kediri, bupati Kediri, rektor Unik (Universitas Kediri -- bukan Universitas Islam Kediri), direktur DohoTV, sejumlah anggota DPRD Kediri, serta berbagai pihak lain yang turut menyukseskan acara tersebut.
Penghargaan yang tinggi patut pula diberikan kepada para pembicara seminar dan workshop, pembaca puisi, anggota tim adviser dan ad hoc, serta para peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga di Nusantara, yang tetap bersemangat untuk hadir meski harus membiayai perjalannya ke Kediri dengan isi dompet sendiri atau harus meminta bantuan dana dari sana sini atas upayanya sendiri.
Memang masih begitulah realitas kehidupan sastra di Nusantara, khususnya Indonesia. Iven-iven penting sastra masih sulit untuk mendapatkan sponsor dan pendanaan yang cukup dari pemerintah, sehingga harus dilaksanakan secara bergotong-royong -- susah-senang dipikul bersama oleh para sastrawan, penyair, apresian, dan mereka yang terlibat di dalamnya.
Karena itu, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai para 'pejuang sastra' yang dedikasi dan semangat juangnya untuk ikut membangun peradaban bangsa lewat sastra lebih tinggi dibanding pejabat negara, pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Mereka bukan saja para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tanpa gaji bulanan.
Maka, sampai bertemu lagi di Kuala Lumpur tahun 2009, hai para pejuang sastra! Dalam sastra kita bersatu, bersama, serasa dan sejiwa!( )
http://www.infoanda.com/
Salah satu keputusan penting dan paling strategis dari International Poetry Gathering dalam Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri, awal Juli 2008 lalu, adalah diteruskannya iven tersebut sebagai forum tahunan para penyair di Nusantara -- Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina.
Keputusan tersebut sangat strategis, karena dapat 'menyatukan' para penyair -- dan pecinta sastra -- se Nusantara dalam semangat bersastra yang sama, yakni membangun peradaban masyarakat yang maju, moderat, adil, demokratis, religius, dan berjati diri, lewat sastra.
"Kami, wakil dari Malaysia sepakat untuk meneruskan iven ini sebagai tradisi tahunan, karena dalam iven ini sastrawan Indonesia dan Malaysia dapat bersatu untuk bersama-sama membangun peradaban Nusantara, tanpa terpengaruh persoalan politik dan konflik kepentingan," kata SM Zakir, Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), yang menjadi salah satu panelis gathering tersebut.
Sejak pertama kali diadakan di Medan -- oleh Laboratirium Sastra Medan serta Dinas Kebudayaan dan Priwisata Medan -- tahun 2007, gathering menjadi mata acara terpenting pesta sastra tersebut, selain seminar internasional, workshop proses kreatif, dan panggung baca puisi para penyair Nusantara.
Tahun lalu, Pesta Penyair Indonesia Medan 2007 sempena The 1st Medan International Poetry Gathering telah menetapkan iven ini sebagai forum (wadah) bersama para penyair Nusantara, dan akan diselenggarakan setahun sekali secara bergilir di daerah-daerah serta negara asal para peserta.
Dalam gathering di Medan itu pula nama pesta penyair ini disempurnakan menjadi Pesta Penyair Nusantara ..., The ... International Poetry Gathering. Tanda titik-titik (...) diisi tahun pelaksanaan, dan kali keberapa serta di kota mana iven tersebut diselenggarakan.
Sehingga, di Kediri, nama iven ini menjadi Pesta Penyair Nusantara 2008, sempena The 2nd Kediri International Poetry Gathering. Dan, tahun depan, akan menjadi Pesta Penyair Nusantara 2009, sempana The 3nd Kualalumpur International Poetry Gathering, karena telah disepakati tahun depan akan diadakan di ibukota negeri jiran, Malaysia.
Sejarah
Dengan kesepakatan strategis tersebut, berarti Kediri telah ikut mencatatkan sejarah penting atas tradisi tersebut, dan berjasa ikut mempertahankannya.
Karena, dengan 'Kesepakatan Kediri' itu, tradisi tahunan tersebut dapat terus bergulir untuk mencari bentuknya yang makin sempurna dan memberikan manfaat yang makin besar bagi tradisi kreatif dan kehidupan sastra di Nusantara.
Maka, impaslah sudah, jerih payah ketua panitia pelaksana Khoirul Anwar yang tetap bertekad melaksanakan pesta sastra tersebut sesuai rencana, meskipun sempat mengalami kecelakaan yang fatal dan masih harus memakai tongkat sampai acara tersebut selesai, serta sempat menghadapi kesulitan berat dalam mencari dana untuk biaya acara.
Juga tidak dapat dilupakan kerja keras Jack Ponadi Efendi Santoso sebagai sekretaris panitia, Subardi Agan sebagai editor dan pembantu utama di balik layar, serta Sarah Serena selaku anggota panitia ad hoc yang rela hijrah sementara dari Jakarta ke Kediri meski masih pengantin baru.
Meskipun terkesan kurang perfect dalam memanaj acara dan sempat mengecewakan beberapa peserta, penghargaan yang setimpal tetap patut diberikan atas tekad, ketabahan dan kerja keras Khoirul Anwar dan kawan-kawannya tersebut. Tentu, juga penghargaan kepada pihak-pihak yang akhirnya membantu pelaksanaan pesta sastra tersebut, seperti walikota Kediri, bupati Kediri, rektor Unik (Universitas Kediri -- bukan Universitas Islam Kediri), direktur DohoTV, sejumlah anggota DPRD Kediri, serta berbagai pihak lain yang turut menyukseskan acara tersebut.
Penghargaan yang tinggi patut pula diberikan kepada para pembicara seminar dan workshop, pembaca puisi, anggota tim adviser dan ad hoc, serta para peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga di Nusantara, yang tetap bersemangat untuk hadir meski harus membiayai perjalannya ke Kediri dengan isi dompet sendiri atau harus meminta bantuan dana dari sana sini atas upayanya sendiri.
Memang masih begitulah realitas kehidupan sastra di Nusantara, khususnya Indonesia. Iven-iven penting sastra masih sulit untuk mendapatkan sponsor dan pendanaan yang cukup dari pemerintah, sehingga harus dilaksanakan secara bergotong-royong -- susah-senang dipikul bersama oleh para sastrawan, penyair, apresian, dan mereka yang terlibat di dalamnya.
Karena itu, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai para 'pejuang sastra' yang dedikasi dan semangat juangnya untuk ikut membangun peradaban bangsa lewat sastra lebih tinggi dibanding pejabat negara, pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Mereka bukan saja para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tanpa gaji bulanan.
Maka, sampai bertemu lagi di Kuala Lumpur tahun 2009, hai para pejuang sastra! Dalam sastra kita bersatu, bersama, serasa dan sejiwa!( )
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar