Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmadun Yosi Herfanda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juli 2021

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

NYANYIAN KEBANGKITAN
 
Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu

Sabtu, 04 Agustus 2012

Keraton Yogya Bertabur Puisi

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Selama dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman.

Jumat, 18 November 2011

Membaca Kepeloporan Taufiq Ismail

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 25 Mei 2008

SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.

Maka, Rabu (14/5) di Auditorium Mahkamah Konstitusi, Jakarta, tiga buku tebal pun diluncurkan untuk memaknai 55 tahun pergulatan Pelopor Angkatan 66 itu dalam sastra Indonesia. “Taufiq Ismail tidak bermaksud memeringati usianya, tapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” kata Ketua Panitia Pelaksana Acara ‘Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia’, Fadli Zon.

Perbuatan utama Taufiq sebagai pengarang, sebagai sastrawan, adalah menulis. Dan, itulah yang dilakukan Taufiq selama 55 tahun (1953-2008). Tidak kurang dari 517 puisi, 346 prosa, dan 96 lirik lagu, telah ditulisnya. Hasilnya adalah buku kumpulan puisi setebal 1.076 halaman, dua buku kumpulan prosa setebal 880 halaman dan 801 halaman, serta buku kumpulan lirik lagu setebal 102 halaman.

Keempat buku tersebut disatukan dalam empat jilid buku bertajuk Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Ia mengaku tak menduga jika tulisannya sebanyak itu. Semula, untuk buku kumpulan prosa ia memprediksi cukup satu jilid, setebal sekitar 800 halaman.

”Ternyata tulisan saya yang berhasil ditemukan terus bertambah, hingga harus dua jilid,” ujar Taufiq Ismail. “Untuk puisi sebagian besar masih saya ingat puisi apa saja yang pernah saya tulis. Tapi, untuk prosa, sebagian besar sudah lupa apa yang pernah saya tulis,” tambahnya.

Orang yang tidak kalah kagetnya adalah Hamzah, anak muda pengagum Taufiq Ismail yang mendapat tugas untuk mengumpulkan semua tulisan Taufiq yang pernah dimuat di berbagai media massa, termasuk di Republika. “Saya tak menduga, ternyata tulisan Pak Taufiq banyak sekali,” katanya, “Itu pun saya yakin masih ada tulisan yang tak berhasil saya temukan, dan Pak Taufiq sudah lupa tulisan itu.”

Buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 1 menghimpun 517 puisi Taufiq yang ditulis sejak 1953 sampai 2008, termasuk sajak-sajak yang pernah dibukukan dalam Benteng (1966), Tirani (1966), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Pada buku jilid 1 ini pembaca juga dapat menikmati sajak-sajak Taufiq pada masa awal kepenyairannya yang belum pernah dibukukan. Sajak pertamanya, berjudul Doa Dalam Lagu, ditulis pada 1953 saat Taufiq masih berusia 18 tahun (masih SMA). Sangat menarik untuk disimak:

Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu
Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu
Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.

Sedangkan buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit jilid 2 dan 3 menghimpun semua prosa yang pernah ditulis Taufiq Ismail sejak 1960-2008, baik berupa kolom, esai, cerpen, maupun drama. Tulisan-tulisan pada jilid 2 dikelompokkan berdasarkan media massa yang memuatnya, seperti Horison, Republika, Harian Kami, Tempo, Gatra, Ummat, Kompas, dan Sinar Harapan. Sementara, jilid 3 disusun secara tematik, dan berdasar jenis tulisan.

“Dari buku-buku itu kita jadi tahu, bahwa Pak Taufiq sangat produktif, dan tidak hanya menulis puisi dan esai, tapi juga cerpen dan naskah drama. Buku-buku itu makin mengukuhkan kebesaran Pak Taufiq sebagai sastrawan,” kata Maman S Mahayana, kritikus sastra dari UI.

Peran dan kebesaran Taufiq Ismail sebagai sastrawan juga diakui oleh cendekiawan Muslim, Yudi Latif. “Kita memiliki tiga sastrawan besar, Taufiq Ismail, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri,” katanya, “Bagi bangsa Indonesia, Taufiq Ismail memiliki peran sangat penting, karena menampakkan kepeloporan dalam mengupayakan kebangkitan bangsa melalui jalan kebudayaan.”

Dalam ketiadaan platform politik yang jelas, menurut Yudi, gerakan kebudayaan menjadi alternatif penting untuk menjaga kewarasan publik. Adalah melalui sastra, nyanyian, dan seni yang lain, yang dibudayakan dalam masyarakat, yang dapat membuat gerakan dan cita-cita sosial dapat bertahan dalam memori kolektif.

Buku-buku tebal menjadi penanda terpenting untuk memaknai peran dan perjalanan panjang Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia. Dalam buku, karya-karya dan ide-ide cemerlangnya diabadikan untuk diwariskan kepada anak cucu, serta disosialisasikan kepada publik yang luas.

Hajatan Besar untuk Sang Pelopor

Peluncuran empat jilid buku tebal itu menjadi penanda terpenting rangkaian hajatan ’55 tahun Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia’ yang digelar oleh majalah Horison. Peluncuran buku-buku Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit (Penerbit Horison, 2008) diberi bobot dengan orasi budaya oleh Dr Anies Baswedan.

Peluncuran yang diadakan pada Rabu (14/5) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta, itu juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh seniman Studiklub Teater Bandung (STB), Iman Soleh, dan pertunjukan musik oleh Bimbo. Menandai peluncuran buku, Pemimpin Redaksi Horison, Jamal D Rahman, menyerahkan satu set buku tebal itu kepada Taufiq Ismail. Sastrawan kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935, ini lantas menyerahkan masing-masing satu set buku ke berbagai kalangan.

Rangkaian acara berlanjut di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (17/5), dengan seminar nasional yang menampilkan pembicara Prof Dr Budi Darma, Prof Dr Arief Rachman, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Dr Yudi Latif, serta orasi sastra oleh Mendiknas Dr Bambang Sudibyo. Juga diserahkan penghargaan kepada para juara lomba menulis esai tentang peran Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia.

Rangkaian acara masih akan berlanjut di Studio TVRI Padang, Rabu (28/5), berupa seminar internasional. Dr Fasli Jalal akan tampil sebagai keynote speaker. Tampil pula pembicara Dr Rebecca Fanany (Australia), Darman Moenir, Dr Ismet Fanany MA, Drs Yulizal Yunus MA, Dr Ir Raudha Thaib, dan Upita Agustine. Seminar ini akan dibuka oleh Gubernur Sumatra Barat, H Gamawan Fauzi, dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi-puisi Taufiq. Acara pamungkas ini akan disiarkan langsung oleh TVRI Padang.

Menurut Anies Baswedan, potret perjalanan Taufiq Ismail adalah potret sebuah transformasi sosial di Indonesia. Taufiq menjadi saksi permanen naik-turunnya denyut jantung bangsa. “Taufiq Ismail memang menembus batas bangsa-bangsa. Tapi, rumah Taufiq Ismail tetaplah Indonesia. Kepeduliannya kepada Indonesia melebihi deretan puisi-puisi yang pernah ditulisnya tentang bangsa lain,” katanya.

Di kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, Padang, kini Taufiq juga sedang membangun Rumah Puisi, yang kelak juga akan dipenuhi buku-buku. Untuk Rumah Puisi itu, sastrawan Ikranegara menyerahkan secara simbolis koleksi buku-buku pribadinya selama 30 tahun. Sedangkan budayawan Emha Ainun Najib membacakan doa-doa khusus untuk Taufiq, agar diberi berkah kesehatan dan kesempatan untuk terus memberikan yang terbaik bagi kemajuan anak bangsa. (ahmadun yh)

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/pustaka-membaca-kepeloporan-taufiq.html

Minggu, 03 Oktober 2010

Menuju Format Baru Pengajaran Sastra

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Pengajaran sastra di sekolah sampai saat ini belum berjalan secara maksimal. Indikator utama yang memperkuat sinyalemen itu adalah masih rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra mereka — meskipun aspek ini lebih mendapat perhatian dibanding aspek apresiasi sastra — umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Mereka, misalnya, umumnya lebih mengenal Britney Spears atau Westlife di negeri Paman Sam daripada Abdul Hadi WM di negeri sendiri.

Selain itu, juga tampak masih kuat kecenderungan minat baca mereka yang kurang terarah kepada karya-karya yang masuk dalam kategori sastra, tapi lebih ke fikfi-fikfi pop yang menghibur. Buku-buku chicklit, teenlit, dan fiksi seksual, misalnya, sangat laris di pasaran, tapi buku-buku sastra yang lebih serius dan mengandung nilai-nilai yang luhur, baik novel, kumpulan cerpen maupun puisi, masih kurang laku dan hanya berdebu di toko-toko buku atau menumpuk di gudang penerbit.

Secara umum, tingkat apresiasi sastra masyarakat kita — produk dari pendidikan formal sejak tingkat SLTP sampai perguruan tinggi — memang masih rendah. Hal ini, menurut beberapa pengamat dan akademisi sastra, juga disebabkan oleh kegagalan pengajaran sastra di sekolah, khususnya di jenjang SLTP dan SLTA.

Persoalan yang sudah dilansir oleh almarhum HB Jassin sejak 1970-an itu hingga kini agaknya belum bisa diatasi secara tuntas oleh pihak-pihak terkait, seperti penyusun kurikulum sekolah menengah dan guru sastra. Kurikulum terbaru, yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun belum menjamin keberhasilan pengajaran sastra di sekolah. Begitu juga KPTS ( ) yang mulai diberlakukan tahun lalu. Sebab, pelajaran sastra masih menjadi bagian kecil (20 persen) dari pelajaran bahasa Indonesia.

Sejak zaman HB Jassin (1970-an) sampai sekarang, sebenarnya sudah tidak kurang sastrawan dan pakar pengajaran sastra yang mencoba mengusulkan perbaikan pengajaran sastra di sekolah itu. Dalam tahun 1980-an, misalnya, berkali-kali Suminto A Sayuti membahasnya dalam beberapa artikel di media cetak dan berbagai forum diskusi. Dalam tahun 1990-an dan 2000-an, penyair Taufiq Ismail juga berkali-kali mempersoalkannya.

Ketika menyampaikan orasi sastra pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Surabaya, 27 September 2004, misalnya, Taufiq Ismail masih mensinyalir bahwa pengajaran sastra di sekolah miskin apresiasi dan 0 buku. Sehingga, hasilnya adalah para lulusan SMU yang rendah apresiasi sastranya dan rendah pula minat bacanya.

Akan tetapi, ibarat berteriak-teriak di tengah padang pasir, atau menyodok bukit kapur dengan tangkai sapu ijuk, usulan-usulan dan gagasan-gagasan perbaikan itu nyaris tidak berarti apa-apa, dan lenyap ditelah hiruk-pikuk isu politik yang masih malingkar-lingkar pada persoalan korupsi dan kekuasaan.

Gagasan-gagasan perbaikan yang sudah muncul sejak 30 tahun yang lalu itu sampai kini belum membuahkan perubahan yang berarti, apalagi radikal, dalam pengajaran sastra di sekolah, baik di tingkat kebijakan pemerintah maupun pada praktek pengajaran sastra di sekolah. Pengajaran sastra masih menjadi ‘bagian kecil’ dari pengajaran bahasa, sehingga tetap berjalan secara kurang maksimal.

Kualitas pengajaran sastra di sekolah penting untuk ditingkatkan, karena tidak hanya memiliki tujuan kurikuler yang bersifat jangka pendek untuk menyumbang nilai rapor atau NEM bagi kelulusan siswa. Tapi, juga memiliki tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk ikut menyiapkan generasi penerus, manusia Indonesia, yang unggul dan berbudaya. Tujuan ideal tersebut hanya bisa dicapai jika pengajaran sastra di sekolah berhasil meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra.

Karena itu, aspek apresiasi dan minat baca itulah idealnya yang diberi tekanan dalam praktek pengajaran sastra di sekolah. Sebab, hanya dengan tingkat apresiasi dan minat baca yang tinggi, nilai-nilai budaya bangsa yang luhur dalam karya sastra dapat diwariskan kepada siswa, demi tercapainya tujuan ideal tersebut.

Jika hanya tujuan kurikuler yang ditekankan, sangat mungkin sebagian besar siswa tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran sastra secara sungguh-sungguh. Sebab, nilai pelajaran sastra hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen pada nilai bahasa Indonesia. Persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan berbicara dan keterampilan mendengarkan.

Selain itu, juga aspek pengetahuan dan penguasaan ketatabahasaan. Akumulasi dari nilai tiap aspek kebahasaan itulah — ditambah dengan nilai pelajaran sastra — yang dimunculkan menjadi satu nilai pelajaran bahasa Indonesia pada rapor serta nilai Ebtanas (sekarang diganti namanya menjadi Ujian Akhir Nasional — UAN) siswa.

Hasil pengajaran sastra akan lebih parah lagi, jika pelajaran sastra diberikan secara monoton, tidak menarik, dengan kecakapan serta pengetahuan guru yang terbatas dan media serta fasilitas pendukung yang terbatas pula. Misalnya, guru hanya mengandalkan materi yang ada pada buku pelajaran, merenangkan pelajaran secara ala kadarnya dengan metode yang ala kadarnya, dan buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah pun terbatas.

Secara garis besar, tujuan pengajaran sastra dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, tujuan ideal yang bersifat jangka panjang untuk membentuk karakter siswa. Rincian dari tujuan ini, antara lain, (1) membentuk karaktek siswa agar memiliki rasa keindahan dan peduli pada masalah-masalah keindahan; (2) menumbuhkan sifat-sifat mulia pada diri siswa, seperti kearifan, kesantunan, kerendah-hatian, ketuhanan, keadilan dan kepedulian pada nasib sesama; (3) mewariskan nilai-nilai luruh budaya bangsa untuk membentuk jati diri siswa sekaligus jati diri bangsa; (4) menumbuhkan sikap apresiatif terhadap karya sastra, dan (5) menumbuhkan minat baca terhadap karya sastra.

Dan, kedua, tujuan praktis yang bersifat jangka pendek sesuai dengan yang tertera pada kurikulum. Berbeda dengan tujuan ideal yang lebih abstrak, berdimensi jangka panjang, dan sulit diukur hasilnya; tujuan yang bersifat praktis ini relatif dapat diukur hasilnya dan hasil akhirnya adalah nilai raport dan nilai UAN siswa.

Pada modul pelajaran yang disusun oleh guru, tujuan praktis itu biasa dijabarkan menjadi Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Contoh TIU untuk aspek pengetahuan tentang sejarah sastra Indonesia, misalnya saja, siswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang angkatan-angkatan dalam sastra Indonesia. TIU tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya (1) siswa dapat menyebutkan nama-nama sastrawan Angkatan 66, dan (2) siswa dapat menyebutkan karya-karya sastrawan Angkatan 66.

Penjabaran dari TIU ke TIK juga dapat dilakukan pada modul untuk aspek pengetahuan tentang teori dan apresiasi sastra. TIU untuk teori sastra, misalnya, siswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang prinsip-prinsip estetika puisi. TIU ini dapat dijabarkan menjadi beberapa TIK, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan empat dari lima metode puisi, (2) siswa dapat menyebutkan dua fungsi tipografi, serta (3) siswa dapat menyebutkan tiga macam citraan dan contohnya.

Sedangkan TIU untuk aspek apresiasi sastra, misalnya, siswa dapat memahami dan menghargai karya sastra. TIU ini dapat dijabarkan menjadi, misalnya, (1) siswa dapat menyebutkan tokoh protagonis dan antagonis novel X, (2) siswa dapat menyebutkan jenis alur novel X, (3) siswa dapat menyebutkan tema novel X, (4) siswa dapat menyebutkan jenis ending novel X, (5) siswa dapat menyebutkan gaya-gaya bahasa dalam novel X, dan (6) siswa dapat menyebutkan pesan-pesan moral novel X.

—-
Tulisan ini merupakan makalah untuk Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra dalam rangka Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia 2007, HMBSI FPBS UPI Bandung, di gedung PKM UPI, 10 April 2007.

*) Sastrawan dan wartawan Republika

Senin, 20 September 2010

Pekan Presiden Penyair: Mengapresiasi Sang Maestro

Ahmadun Yosi Herfanda
http://arsip.net/Republika

Penyair Sutardji Calzoum Bachri adalah maestro perpuisian Indonesia. Sapardi Djoko Damono menempatkannya sebagai ‘mata kiri’ — untuk menyandingkannya dengan Cahiril Anwar yang disebut sebagai ‘mata kanan’ — kesusatraan Indonesia.

Tetapi, Sutardji, dengan nada guyon pernah menyebut dirinya sebagai ‘presiden penyair Indonesia’. Dan, sebutan itu melekat hingga sekarang. “Ketika Sutardji menyebut dirinya ‘presiden penyair’ sebenarnya hanya guyon, tapi julukan itu populer hingga sekarang,” kata Rendra, suatu hari.

Namun, siapapun mengakui Sutardji sebagai penyair besar. Meskipun kebesarannya tidak dapat diperbandingkan dengan Rendra atau Taufiq Ismail — karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri — kritikus sastra Indonesia terkini, Maman S Mahayana, meniilai Sutardji lebih besar dibanding Chairil Anwar.

“Sutardji dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting perjalanan sejarah sastra Indonesia,” kata Maman dalam dialog sastra di Kafe Penus, komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (5/7) lalu.

Menurut Maman, banyak aspek menarik pada puisi-puisi Sutardji, yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji, baik semangat pemberontakan, pencapaian estetik, maupun semangatnya untuk kembali ke puitika Timur, yakni puitika mantra — tradisi sastra lisan Melayu lama. “Selain puitika mantra yang membebaskan kata dari beban makna, puisi-puisi Sutardji juga dipengaruhi tasawuf,” katanya.

Dalam diskusi sastra pra-Pekan Presiden Penyair itu Maman menguraikan banyak aspek menarik dari karya dan pemikiran Sutardji, yang menurutnya akan dikaji tuntas dalam sesi seminar internasional — salah satu mata acara Pekan Presiden Penyair yang akan berlangsung di TIM pada 14-19 Juli 2007.

Menjelang diskusi, ketua panitia iven internasional itu, Asrizal Nur, mengemukakan alasannya mengapa memilih penyair kelahiran Riau itu untuk dirayakan secara cukup besar-besaran, bukan Rendra, misalnya. “Acara besar untuk Rendra sudah sering diadakan orang. Sedangkan untuk Sutardji belum. Padahal, peran Sutradji sangat penting bagi sastra Indonesia, dan banyak sisi kreatif yang layak diteladani,” katanya.

Menurut Asrizal, Pekan Presiden Penyair diadakan sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-66 Sutardji. Berbagai mata acara disiapkan untuk memeriahkan perhelatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu, yang diketuainya itu. “Kita adakan semeriah mungkin agar dampak apresiatifnya benar-benar terasa bagi masyarakat sastra Indonesia,” katanya.

Berbagai mata acara yang akan mewarnai Pekan Presiden Penyair ini, antara lain lomba baca puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri, seminar internasional tentang karya-karya Sutardji, talkshow Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru, panggung apresiasi, pameran foto, bazaar buku, serta ditutup dengan malam puncak dan pidato kebudayaan Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Seminar internasional, tambah Asrizal, akan menghadirkan pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB, Estetika Dalam Karya SCB, dan Posisi SCB dalam Peta Sastra.

Pembicara yang direncanakan tampil adalah Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim Bin Haji Abd Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato’ Kemala (Malaysia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan Harry Aveling (Australia), serta para pakar sastra dari dalam negeri seperti Dr Abdul Hadi WM, Taufik Ikram Jamil, Prof Dr Suminto A Sayuti, dan Donny Gahral Adian.

“Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM. Diharapkan akan dihadiri para sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum,” tambah Maman, penanggung jawab seminar.

Sedangkan lomba baca puisi Piala Sutardji akan diadakan pada 14-16 Juli di halaman parkir TIM. Lomba dibagi ke dalam dua babak, penyisihan dan final. “Lomba bersifat terbuka dan lintas kategori. Persyaratan utamanya, peserta minimal berusia 15 tahun,” tambah Asrizal. “Pendaftaran peserta akan dilayani sampai tanggal 12 Juli 2007,” tambahnya.

Selama dua malam berturut-turut, 17-18 Juli, pukul 19.30, akan digelar Malam Apresiasi Karya Sutardji Calzoum Bachri di Teater Kecil TIM. Pada acara tersebut akan tampil beberapa seniman dan pejabat pemerintah untuk membacakan karya-karya Sutardji.

Pada 17 Juli, menurut Asrizal, akan tampil Jose Rizal Manua, Slamet Sukirnanto, Hamzad Rangkuti, Ahmadun Yosi Herfanda, Agus R Sarjono, Rukmi Wisnu Wardhani, Asrizal Nur, Shantined, Musikalisasi Local Ambeien, Amien Wangsitalaja, Diah Hadaning, Wanda Leopalda, Badai Muth Siregar, Rara Gendis, Hudan Hidayat, Remy Novaris DM, Chavcay Syaefullah, Wowok Hesti Prabowo, dan Musikalisasi Puisi Saung Pangulinan.

Panggung apresiasi, pada 18 Juli, akan dimeriahkan penampilan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan MS Ka’ban, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Dault, beberapa pejabat pemerintah dari daerah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

“Selain itu, juga akan tampil sejumlah penyair dan tokoh masyarakat, seperti KHA Mustofa Bisri, D Zawawi Imran, Fahrunnas MA Jabbar, Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, serta musikalisasi puisi Sanggar Matahari dan Komunitas Budaya Nusantara Tanjung Pinang,” tambah Asrizal.

Malam puncak acara, 19 Juli 2007, pukul 19.00 WIB, akan diisi pidato kebudayaan oleh Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri, pemutaran film dokumenter dan pentas musik SCB, serta beberapa penampilan seni pendukung lainnya.

Sutardji, yang sempat hadir pada diskusi sastra di Kafe Penus, menyambut gembira apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya-karyanya. Ia berharap, acara ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat dan penghargaan pemerintah terhadap sastra. “Mudah-mudahan acara seperti ini juga dapat diselenggarakan untuk penyair lain,” katanya.

Talk Show dan Dua Bintang Tamu

Dua bintang tamu yang masih belia, Abdurahman Faiz (penyair cilik) dan Niken Larasati (siswa SMA, juara menulis cerpen nasional) akan ikut memeriahkan talk show Sutardji Calzoum Bachri bersama siswa dan guru.

Acara menarik ini akan digelar pada pada 18 Juli, pukul 09.00-12.00 WIB di Teater Kecil TIM. “Acara ini akan mempertemukan dan mengakrabkan Sutardji dengan para siswa dan guru SMA,” kata Asrizal Nur.

Karena itu, tambahnya, acara ini bersifat terbuka bagi para guru dan siswa dari daerah mana pun. “Para guru dan siswa yang berminat dapat mendaftarkan diri sesegera mungkin dengan mengontak panitia di 021-7752144. Pendaftaran akan ditutup jika jumlah peserta telah memenuhi kuota,” tambahnya.

Senin, 26 Juli 2010

Novel Mahabbah Rindu dan Puncak Fiksi Islami

Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika

Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.

Dengan label novel inspiratif pencarian kebenaran iman Abidah mencoba menyajikan fiksi Islami yang agak lebih dalam dan serius (nyastra) dibanding novel-novel pop Islami semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ataupun novel-novel pop Islami lain karya para penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP).

Bobot kesastraan Mahabbah Rindu barangkali dapat disejajarkan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa –salah satu di antara sedikit penulis FLF yang lebih banyak menulis ‘fiksi sastra’ dari pada ‘fiksi pop Islami’ –seperti terlihat pada cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008).

Mahabbah Rindu adalah novel ke-tujuh dari Abidah el Khalieqy yang telah diterbitkan. Novel-novel Abidah lainnya yang sudah terbit, antara lain Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Geni Jora (2004), dan Nirzona (2007). Naskah Geni Jora terpilih sebagai juara kedua Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2004.

Sebagaimana novel-novel Abidah sebelumnya, Mahabbah Rindu juga ditaburi narasi-narasi yang sangat puitis. Judul dan subjudul di dalamnya pun rata-rata puitis. Bahkan, novel ini dibuka dengan empat baris puisi, untuk kemudian masuk ke narasi adegan rukuk dan sujud sang tokoh utama (aku) di tengah malam:

Duhai cahaya mata, engkau rinduku cuma
Harapan hidupku, kebahagiaan dan kesedihanku
Sebab hatiku enggan mencinta segala
Selain dirimu, cermin kesempurnaanmu

Dengan begitu, terbitnya novel Mahabbah Rindu memperkuat fenomena fiksi (cerpen dan novel) puitis dalam khasanah sastra Indonesia, yang juga terasa pada karya-karya Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Maroeli Simbolon, Azhari, Ucu Agustin, Raudal Tanjung Banua, dan umumnya para cerpenis yang juga merangkap sebagai penyair.

Selain banyak menulis cerpen dan novel, Abidah memang dikenal sebagai salah satu penyair nasional yang cukup kuat dengan sajak-sajak religiusnya. Seperti juga Helvy –yang juga dikenal sebagai penyair– cita-rasa bahasa yang puitis sangat mempengaruhi Abidah dalam menulis fiksi, dan ini menambah cita rasa sastrawi cerpen-cerpen dan novel-novelnya.

Terbitnya Mahabbah Rindu juga makin memperkuat posisi Abidah dalam tradisi penulisan fiksi Indonesia. Dengan novel-novelnya, dan dengan kemenangannya dalam sayembara novel DKJ, tidak berlebihan jika Abidah dianggap sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia. Novel-novelnya bahkan dapat dianggap sebagai salah satu puncak fiksi sastra Islami –bukan fiksi pop Islami.

Ketika dalam beberapa seminar dan diskusi saya menyebut Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak fenomena fiksi Islami, yang saya maksud adalah fiksi Islami dalam genre fiksi pop atau fiksi pop Islami, bukan fiksi Islami secara keseluruhan.

Penyebutan itu pun masih debatable, karena masih banyak karya-karya fiksi pop Islami lain yang tak kalah menarik, semisal karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, Izzatul Jannah, dan Afifah Afra. Sebenarnya, penyebutan itu lebih berkait pada kemampuan Ayat-Ayat Cinta dalam merebut selera pasar, sehingga secara mengejutkan menjadi mega bestseller. Dan, kini Ayat-Ayat Cinta pun dibayang-bayangi oleh Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang dari segi kualitas kesastraan relatif lebih bagus.

Jika berbicara tentang fiksi Islami secara keseluruhan dan dalam arti luas, maka kita akan menemukan puncak-puncak lain, seperti karya-karya Danarto, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, dan M Fudoli Zaini –untuk menyebut beberapa saja dari kalangan penulis senior. Sedangkan untuk penulis generasi muda kita dapat menyebut karya-karya Abidah, Helvy, Azhari, dan Ucu Agustin.

*) Wartawan Republika.

Buku-buku Sutan Takdir Alisabana

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari.

Sederet diskusi pun diadakan untuk membahas buku-buku dan pemikiran STA, antara lain di Taman Ismail Marzuki, The Habibie Center, dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok. Sejumlah media massa pun menyambut cukup antusias diskusi-diskusi tersebut, dengan memberikan ruang cukup lebar untuk pemberitaannya.

Almarhum STA semasa hidupnya telah menulis cukup banyak buku. Setidaknya ada 35 buku karya STA yang telah terbit, berupa tiga buku filsafat, sembilan buku kebudayaan, delapan buku bahasa, 12 buku sastra (termasuk novel dan kumpulan puisi), dan tiga buku umum.

Di antara novel STA yang paling terkenal dan fenomenal adalah Layar Terkembang. Novel ini menduduki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah sastra Indonesia, karena menawarkan konsep pembaruan budaya sekaligus pemuliaan terhadap kaum perempuan. Melalui tokoh Tuti, jelas sekali bagaimana gambaran perempuan yang ideal menurut STA: Terpelajar, berpikiran maju, dan menjadi aktivis serta pelopor perubahan sosial ke arah kemajuan.

Selain melalui buku, pemikiran STA juga banyak dilansir dalam berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media massa sejak tahun 1930-an. Pemikiran STA tentang kebudayaan Indonesia bahkan sempat berkembang menjadi polemik panjang, dalam dasawarsa 1930-an, yang antara lain melibatkan Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara.

Dalam polemik itu konsep-konsep budaya Timur dan Barat dicoba didialogkan untuk menemukan konsep budaya baru bagi masa depan bangsa. Dari polemik tersebut lahir sebuah buku berjudul Polemik Kebudayaan (dirangkum oleh Achdiat Kartamihardja), yang sampai sekarang masih sering dijadikan rujukan oleh para pakar budaya ketika membicarakan tentang masa depan kebudayaan nasional. Artinya, polemik tersebut telah memberikan dasar-dasar penting bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.

Karena karya-karya sastranya, terutama novel Layar Terkembang, dan polemik kebudayaannya yang sangat menyejarah, selama ini masyarakat lebih mengenal STA sebagai sastrawan dan budayawan, yang pernah memimpin majalah Pujangga Baru. Nama majalah itu pun oleh HB Jassin lantas dijadikan nama angkatan Angkatan Pujangga Baru dalam sastra Indonesia, dengan STA sebagai pelopornya. Penempatan STA sebagai pelopor Angkatan Pujangga Baru, tentu, makin memantapkan posisinya dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus menguatkan eksistensi kesastrawanannya.

Namun, sumbangan penting STA bagi bangsa ini tentu tidak hanya dalam bidang sastra dan budaya. STA juga memberi sumbangan penting di bidang pendidikan, filsafat, dan sosiologi, yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan nasional, setidaknya di bidang pemikiran budaya.

Buku-buku yang diterbitkan Dian Rakyat di atas mencoba menghadirkan gambaran ketokohan STA yang seutuhnya, dan antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi, sehingga perlu dibaca keduanya. Buku Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan menggambarkan sosok STA dan berbagai perannya. Sedangkan Manusia Renaisance lebih menyorot pemikiran-pemikirannya.

Dari karya dan pemikirannya, terlihat bahwa STA adalah manusia berkarakter laut, dan bukan gunung. Dinamis dan ingin cepat maju, serta tak pernah mau tinggal diam melihat bangsanya yang masih terbelakang. Wajar kalau ada yang menyebut STA sebagai fajar modernisme Indonesia.

Luar biasanya, semangat untuk membangun Indonesia modern dilontarkan STA sebelum negara bernama Indonesia lahir. Sejak awal dasawarsa 1930-an, tidak lelah-lelahnya tokoh dinamis ini memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pemikiran sastra, bahasa, filsafat, dan terutama kebudayaan.

STA yakin, untuk memajukan suatu bangsa, peran kebudayaan sangat vital. STA yakin, agar dapat berjalan dengan baik, suatu masyarakat harus memiliki kebudayaan yang dapat menjadi dasar atau sandaran bagi kemajuan ilmu dan teknologi. Jadi, pesan tersirat STA, kalau ingin bangsa ini maju dan sejahtera lahir-batin, jangan sepelekan kebudayaan.

*) Wartawan Republika

Jumat, 16 Januari 2009

'Menyatukan' Nusantara dalam Pesta Sastra

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/

Salah satu keputusan penting dan paling strategis dari International Poetry Gathering dalam Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri, awal Juli 2008 lalu, adalah diteruskannya iven tersebut sebagai forum tahunan para penyair di Nusantara -- Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina.

Keputusan tersebut sangat strategis, karena dapat 'menyatukan' para penyair -- dan pecinta sastra -- se Nusantara dalam semangat bersastra yang sama, yakni membangun peradaban masyarakat yang maju, moderat, adil, demokratis, religius, dan berjati diri, lewat sastra.

"Kami, wakil dari Malaysia sepakat untuk meneruskan iven ini sebagai tradisi tahunan, karena dalam iven ini sastrawan Indonesia dan Malaysia dapat bersatu untuk bersama-sama membangun peradaban Nusantara, tanpa terpengaruh persoalan politik dan konflik kepentingan," kata SM Zakir, Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), yang menjadi salah satu panelis gathering tersebut.

Sejak pertama kali diadakan di Medan -- oleh Laboratirium Sastra Medan serta Dinas Kebudayaan dan Priwisata Medan -- tahun 2007, gathering menjadi mata acara terpenting pesta sastra tersebut, selain seminar internasional, workshop proses kreatif, dan panggung baca puisi para penyair Nusantara.

Tahun lalu, Pesta Penyair Indonesia Medan 2007 sempena The 1st Medan International Poetry Gathering telah menetapkan iven ini sebagai forum (wadah) bersama para penyair Nusantara, dan akan diselenggarakan setahun sekali secara bergilir di daerah-daerah serta negara asal para peserta.

Dalam gathering di Medan itu pula nama pesta penyair ini disempurnakan menjadi Pesta Penyair Nusantara ..., The ... International Poetry Gathering. Tanda titik-titik (...) diisi tahun pelaksanaan, dan kali keberapa serta di kota mana iven tersebut diselenggarakan.

Sehingga, di Kediri, nama iven ini menjadi Pesta Penyair Nusantara 2008, sempena The 2nd Kediri International Poetry Gathering. Dan, tahun depan, akan menjadi Pesta Penyair Nusantara 2009, sempana The 3nd Kualalumpur International Poetry Gathering, karena telah disepakati tahun depan akan diadakan di ibukota negeri jiran, Malaysia.

Sejarah

Dengan kesepakatan strategis tersebut, berarti Kediri telah ikut mencatatkan sejarah penting atas tradisi tersebut, dan berjasa ikut mempertahankannya.

Karena, dengan 'Kesepakatan Kediri' itu, tradisi tahunan tersebut dapat terus bergulir untuk mencari bentuknya yang makin sempurna dan memberikan manfaat yang makin besar bagi tradisi kreatif dan kehidupan sastra di Nusantara.

Maka, impaslah sudah, jerih payah ketua panitia pelaksana Khoirul Anwar yang tetap bertekad melaksanakan pesta sastra tersebut sesuai rencana, meskipun sempat mengalami kecelakaan yang fatal dan masih harus memakai tongkat sampai acara tersebut selesai, serta sempat menghadapi kesulitan berat dalam mencari dana untuk biaya acara.

Juga tidak dapat dilupakan kerja keras Jack Ponadi Efendi Santoso sebagai sekretaris panitia, Subardi Agan sebagai editor dan pembantu utama di balik layar, serta Sarah Serena selaku anggota panitia ad hoc yang rela hijrah sementara dari Jakarta ke Kediri meski masih pengantin baru.

Meskipun terkesan kurang perfect dalam memanaj acara dan sempat mengecewakan beberapa peserta, penghargaan yang setimpal tetap patut diberikan atas tekad, ketabahan dan kerja keras Khoirul Anwar dan kawan-kawannya tersebut. Tentu, juga penghargaan kepada pihak-pihak yang akhirnya membantu pelaksanaan pesta sastra tersebut, seperti walikota Kediri, bupati Kediri, rektor Unik (Universitas Kediri -- bukan Universitas Islam Kediri), direktur DohoTV, sejumlah anggota DPRD Kediri, serta berbagai pihak lain yang turut menyukseskan acara tersebut.

Penghargaan yang tinggi patut pula diberikan kepada para pembicara seminar dan workshop, pembaca puisi, anggota tim adviser dan ad hoc, serta para peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga di Nusantara, yang tetap bersemangat untuk hadir meski harus membiayai perjalannya ke Kediri dengan isi dompet sendiri atau harus meminta bantuan dana dari sana sini atas upayanya sendiri.

Memang masih begitulah realitas kehidupan sastra di Nusantara, khususnya Indonesia. Iven-iven penting sastra masih sulit untuk mendapatkan sponsor dan pendanaan yang cukup dari pemerintah, sehingga harus dilaksanakan secara bergotong-royong -- susah-senang dipikul bersama oleh para sastrawan, penyair, apresian, dan mereka yang terlibat di dalamnya.

Karena itu, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai para 'pejuang sastra' yang dedikasi dan semangat juangnya untuk ikut membangun peradaban bangsa lewat sastra lebih tinggi dibanding pejabat negara, pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Mereka bukan saja para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tanpa gaji bulanan.

Maka, sampai bertemu lagi di Kuala Lumpur tahun 2009, hai para pejuang sastra! Dalam sastra kita bersatu, bersama, serasa dan sejiwa!( )

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar