Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fahrudin Nasrulloh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Membaca Takdir Perempuan Pengarang

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 14 Mei 2006

Judith, adik Shakespeare itu, siapa yang kuasa menakar gairah dan bara hati perempuan yang terperangkap dalam tubuh penyair? Ia bunuh diri pada suatu malam kelam nan pucat di musim dingin dan dikubur di persimpangan jalan tempat bis-bis berhenti menurunkan penumpangnya. (Virginia Woolf, 1882-1941).

Demikian yang pernah dibayangkan Virginia Woolf andai Shakespeare punya adik perempuan yang memiliki bakat yang sama. Bisa saja Judith, sebagaimana yang Woolf bayangkan, tidak akan menciptakan apa pun yang berarti dalam hidupnya.

Senin, 26 Juli 2010

Presiden Bogambola

Fahrudin Nasrulloh
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Ayo, kita bebaskan iblis dan setan
Agar jelas mana surga mana neraka
Tanpa dunia di tengahnya!

Kita seakan dibikin bahlul dan geregetan menonton kondisi kisruh KPK-POLRI yang hinggi kini makin memanas. Mafia peradilan, makelar kasus, dan koruptor di mana-mana. Seperti puting-beliung Menggasak siapa saja. Skandal Bank Century sungguh menghantui. Hingga, si Amin, nasabahnya, stress lalu bunuh diri. Lama-lama orang-orang yang terlibat di dalamnya bagai monster. Memangsa saudara sendiri. Negeri ini bak “pabrik aib”, “sampah kebejatan” dan gudangnya anjing-anjing politik yang kerjanya nyolong dan saling menjilat. Tak ubahnya mafioso Michael Corleone dalam The Godfather yang kuasa membeli jabatan kehormatan “Mobilionare” di kepausan Vatikan. Everything is money and gun will finished everything, begitulah yang tersirat di film besutan Francis Ford Coppola dan Mario Puzzo ini. Jadi, demi segala persoalan di negeri ini, apa kira-kira yang dipikirkan Presiden kita?

Jadi pada siapa rakyat berharap penyelesaian semua itu? Pada Presiden? Pada MUI? Pada penegak hukum? Tampaknya tidak ada jaminan. Jika benar-benar serius, apa yang dilakukan SBY dalam 100 hari pemerintahannya? Solusi hanya andai-andai. Ngambang dan lamban. Ya, inilah “Dunia Bogambola” kita: dunia yang buntu, mampat, mentok, no way to run, no way to out. Bayangkan, jika selokan Anda mampat. Sampah menumpuk, menyumbat. Kadang karena bangkai tikus atau kucing kudisan. Baunya minta ampun. Bikin pening dan muntah-muntah. Bau banger, amis, dan rasa jijik juga adalah yang kita tonton tiap hari di TV. Drama politik yang mendebarkan. Santapan sinetron politik yang lebih aduhai, bikin ngiler, belingsatan, lebih menggairahkan plus kepingkal-pingkal ketimbang adegan Aming di film Perjaka Terakhir. Di balik semua keruwetan negeri ini, apa yang selalu digelisahkan Presiden kita?

Sajak Sosiawan Leak “Dunia Bogambola” yang ditulisnya pada 2000 tidak diniatkan menggambarkan kemampatan akut seseorang. Tapi sebagai sindiran, ia menonjok siapa pun. Karena dirinya sendiri juga pernah merasakan kebuntuan sebagai seniman, dan terhentak untuk mencari jalan keluar dengan berseru: Ayo, kita bebaskan iblis dan setan. Tapi toh iblis dan setan telah menguasai babi-babi politik yang sebenarnya tahu perbedaan mana jalan yang menuntun ke surga maupun ke neraka. Mengerti mana halal mana haram. Baik dan buruk. Nista dan bajik. Meski orang-orang Indonesia mayoritas muslim. Ya, puisi Leak cuma kata-kata yang tak mampu seperti celeng hutan menyeruduk kaum koruptor. Puisi bukan Izrail yang dengan seucap geram dapat menggencet nyawa si durja. Puisi juga bukan tank yang seketika bisa melindas ketidakadilan.

Namun, jika dihayati benar, puisi dapat berfungsi sebagai peniup kesadaran. Corong berisi angin kearifan, kendati tak semua orang bisa menangkapnya. Apapun bisa terudar atasnya. Bentuknya bisa kesadaran kolektif yang menggedor kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Mengintrusi alam batin rakyat. Yang sekian lama disia-siakan. Dipecundangi. Ditilap. Digelapkan kesejahteraannya. Reformasi 1998 adalah bukti pemicu gerakan perlawanan rakyat dan pemuda. “Suara rakyat adalah suara Tuhan”, menemukan momentumnya saat itu. Apakah sengkarut hukum yang didramatisir saat ini bakal meledakkan aksi sosial yang besar? Entahlah. Imajinasi tidak bisa diremehkan. Imajinasi akan “suara Tuhan” sebagai kebenaran yang diangankan dalam konteks psiko-sosiologi menyimpan “daya bangkit” sendiri. Ia dapat jadi hulu-ledak atas nama perlawanan rakyat. Apa pula yang akan diperbuat sang Presiden jika hal itu terjadi?

Krisis kepemimpinan saat ini di ujung ambang. Masyarakat tak lagi percaya. Mereka hanya punya harapan. Mungkin yang tersisa impen-impen kosong. Boleh jadi banyak yang kecewa atas terpilihnya SBY, juga menteri-menteri pilihannya. Setidaknya untuk saat-saat pelik akhir-akhir ini. Tepisan berulang-ulang SBY soal keterlibatan sejumlah tim suksesnya yang diduga menerima aliran dana dari Bank Century untuk kampanye kian mengasapi kebingungan masyarakat. Prasangka pahit dan menyudutkan ini sangat memukul SBY hingga ia perlu bersumpah “Demi Allah” atas tuduhan pengucuran dana tersebut.

Pemerintahan yang bersih dan tata hukum yang steril dari anjing-anjing politikus busuk adalah harapan kita semua. Tak ada yang berharap negara ini mengalami krisis yang menghebat. Sejarah mencatat betapa Jerman, Italia dan Jepang hancur habis-habisan setelah Perang Dunia II, lalu bisa pulih, membangun kembali kejayaan mereka. Raden Patah di Demak juga demikian. Ia bisa memulihkan situasi centang-perenang dan hiruk huru-hara di masa Wikrama Wardana. Di masa selanjutnya, pemerintahan Raden Patah juga mengalami kegoncangan yang luar biasa akibat lahirnya sosok Panembahan Senopati yang menancapkan kekuatan baru di tlatah Mataram.

SBY dan pemerintahannya tidak diperhadapkan pada situasi genting demikian. Hanya yang perlu diingat bagaimana ia mamandang dan menempatkan “rasio” kedaulatan rakyat. Artinya, tujuan SBY dipilih adalah agar cita-cita dan harapan rakyat terwujud. Bukan menambah beban penderitaan. Pasti, rakyat tak menghendaki kekuatan Presiden yang misalnya, absolut, fasis, tiranik, atau lebih kuat menancapkan partai politik tunggal demi kelanggengan kekuasaannya. Buku Membela Masa Depan karya WS Rendra menyebutnya sebagai “Politik Daulat Tuanku”. Inilah praktek yang dilakukan Niccolo Macheavelli di zaman renaissance Eropa di Florenzo, Italia. Ia mendasarkan pemikirannya bahwa stabilitas politik hanya bisa diciptakan oleh seorang penguasa yang secara mutlak menguasai dana dan serdadu dalam negara. Para pemimpin kesohor dunia melakoni teori ini seperti Napoleon, Stalin, Hitler, dan Mussolini. Inilah yang kita khawatirkan terjadi di negeri ini, meski agak mustahil.

Justru “Daulat Hukum” yang sekarang dirongrong, dilanda krisis. Dilecehkan cukong-cukong, dan Anda bisa terkaget-kaget sendiri bagaimana rekaman si Anggodo yang mencatut banyak pihak menyebar menjelma gosip sengak bahkan fitnah. Kewibawaan hukum di sana dimainkan. Ditertawakan. Ditunggangi. Yang fakta disulap jadi fiksi. Yang fiksi direka-rancang sedetil mungkin supaya jadi fakta yang benar-benar dapat dibuktikan. Kita tak lagi tahu mana penegak hukum yang jujur dan bersih dengan penegak hukum yang kotor dan jago bersilat manipulasi. Terasa benar di rekaman itu, si penegak hukum diperintah-perintah dengan cibiran mengece. Jika sudah begitu, sebagaimana kesan Mahfud MD (ketua Mahkamah Konstitusi yang dihadirkan beberapa waktu lalu di acara Kick Andy): para penegak hukum ini seperti “binatang” yang bisa seenak udelnya disuruh-suruh seperti budak. Nah, bagimana Presiden mengatasi semua sengkarut di lembaga hukum Indonesia ini?

Saya tidak berharap, Presiden kita adalah Presiden Bogambola: yang pikiran dan kerjanya tidak fokus karena digrujug banyak persoalan sehingga jadi buntu, mampat, dan mentok. Kita tunggu, dengan debar dan gatal, episode sandiwara politik selanjutnya!

Minggu, 04 Juli 2010

“Geladak Sastra”, Kekaryaan, dan Sinergi Komunitas

Fahrudin Nasrulloh*
http://sosbud.kompasiana.com/

Dunia kepenulisan dan geliat berbagai komunitas apapun bentuk dan aktivitasnya di setiap kota maupun desa, jika kita pernah menyusuri wilayah-wilayah itu dan mencermatinya, sedikit demi sedikit ternyata menyibak jendela pengalaman bahwa di sana bertumbuh dan bergerak beragam gairah dan potensi mulai dalam bentuk kegiatan kawula muda kampung, kemahasiswaan, ataupun komunitas tertentu yang hal ini sungguh menunjukkan suatu perkembangan interaksi sosial yang positif. Di sisi lain jaringan di dunia maya, facebook misalnya, makin menjebak dan membusuki diri tiap individu, kecuali tentu saja ada nilai positif darinya untuk meluaskan informasi dan jaringan antar institusi, pebisnis, jasa wira usaha, ataupun komunitas.

Pengaruh “ledakan media”, sebagaimana yang disebut Afrizal Malna, salah satunya adalah percepatan, pergesekan, dan perubahan yang tidak bisa ditebak ujungnya, namun dampaknya terasa dalam ritus keseharian walau tanpa tersadari alangkah kita begitu susah untuk berjeda barang sebentar berefleksi diri atas apa yang terjadi, sementara di sisi lain kita telah melarut mengarus dalam derap guncangan teknologi tersebut.

Salah satu pengaruh besarnya, entah terasa atau sudah menjadi biasa, adalah betapa mahal dan susahnya apa yang kita sebut “silaturahmi” dan “pertemuan”. Dalam konteks bersastra, ruang lingkup sosialnya, dan pegiat atau pesastra di dalamnya, kini tampaknya cukup menempa kekaryaan dalam kamar sunyinya masing-masing, selain orientasi kepengarangan yang bebas nilai yang makin jarang ditemukan pengarang yang benar-benar berkarya dan menggali inspirasi dari problematik sosial dan oleh sebab itu menuntutnya untuk terjun riset ke masyarakat. Penulis yang tercandui dunia internet, menyimpan pengaruh tak terkira, dan cenderung menghasilkan karya dari kesunyian dirinya sendiri. Tapi semua itu sah dan boleh-boleh saja, sebab berkarya adalah memilih jalan kebebasan yang tidak terikat bahkan atas nama suatu ideologi.

Dari cara pandang sekilas di atas, dan merujuk akan pentingnya sebuah pertemuan, dialog, bertukar tangkap gagasan dan saling menyodorkan karya untuk diobrolkan dengan santai sambil mencicip kopi-teh atau air putih saja dan hidangan ala kadarnya, maka Komunitas Lembah Pring dari Kampung Mojokuripan Sumobito Jombang menggelindingkan agenda kecil berupa “Geladak Sastra” guna mewadahi dan menjadikannya ruang sosial di mana para penulis, pemerhati kesenian, komunitas-komunitas, warga kampung, dapat terlibat bersama-sama secara guyub dengan kesederhanaan dan kesahajaan.

Dari hasil penelusuran dan jalan-jalan, pegiat Komunitas Lembah Pring, yang dilurahi oleh Jabbar Abdullah, untuk sementara dapat mengumpulkan sejumlah data tentang penulis dan komunitas yang bergeliat namun selama ini belum terkabarkan dan untuk itulah kiranya jadi berharga sebagai referensi merekatkan jaringan dalam berbagai kegiatan yang bisa diagendakan secara rutin dan berkesinambungan.

Seperti contoh ada penulis bernama Sarah Mariska, gadis belia dari Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito ini sudah lama menyimpan sejumlah karya. Sebut saja: Devil’s Park (novel), Oak (novel), What I Feel (kumpulan cerpen), Setan versus Malaikat (naskah drama), Aku Anak Desa (kumpulan esai). Agus M. Herlambang dari UNIPDU Jombang yang bergiat di Buletin Change telah memiliki kumpulan cerpen berjudul Sepuluh Kepala Babi, dan sekumpulan esai Kita dan Mbah Dukun. Mubarok dari UNDAR Jombang dengan kumpulan esai Menatap Masa Depan Indonesia. Eka Kristino dari UNIPDU Jombang dengan kumpulan puisi Awan yang Kesepian. Ada juga M.F. Bary Luay dari UNIPDU Jombang telah menghimpun sekumpulan puisi berjudul Seruan Izrail dan kumpulan cerpen Kematian si Abah. Bambang Irawan dari Komunitas Alif Mojoagung, selain sebagai aktor teater, ia juga sebagai penulis lakon drama, misalnya Malingku Maling, Wewe Gombel, Jamu Mbah Gandul, Ambar Hambar, dan sekumpulan esai berumbul Film Indie Kita. Pada komunitas yang sama, ada pula Purwanto yang menyimpan kumpulan puisi berjudul Sepenggal Kisah. Komunitas dari Mojoagung ini memiliki potensi dan semangat ingin maju yang luar biasa.

Sabrank Suparno dari Kampung Dowong, yang pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh tani, pengasak gabah, pencitak batu-bata, dan tukang brujul sawah, namun di balik itu selain aktivitas rutin perbulannya di Jamaah Padang Mbulan Cak Nun, ia juga telah melahirkan sejumlah karya yang memenangi Sayembara Menulis dalam rangka Workshop Kepenulisan Jamaah Maiyah pada Desember 2009 dengan judul Rembulan Cincin Kawin Dunia (buku ilmiah populer) dan Negeri Rasul Seluas Sajadah (buku populer religius sastrawi). Sekarang ia mulai menyiapkan sekumpulan cerkak dengan bendera Bobok Suruh Bodeh.

Masih di belahan Sumobito, tepatnya di Kampung Rejosari, tersebutlah Endah Wahyuningsih, seorang mahasiswi anyaran tahun 2009 di kampus STKIP PGRI Jombang. Ia termasuk gadis muda yang produktif menulis sejak di bangku kelas 2 SMP. Sejumlah cerpen dan novel remaja sudah ditulisnya di usia belasan itu. Hingga kini, meski sepengakuannya ia termasuk gadis ndeso dan kuper jika dibandingkan teman-temannya, namun memang semangat nulisnya sejak dini tersebut masih banyak yang perlu kita ketahui dan gali nilai spirit darinya. Kebanyakan karya-karyanya masih dalam bentuk tulisan tangan, belum diketik baik dengan mesin ketik manual maupun dengan fasilitas komputer. Beberapa karyanya yang sempat terekam misalnya: Tangisan Bidadari (rampai puisi, 200 halaman), Jiwa-jiwa Merpati yang Lara (himpunan Cerpen), Oh Mama Oh Papa (novel), Misteri Giok Merah (novel), Dua Belas Lilin Untuk Cinta (novel), Peri Biru (novel), dan Satu Cinta Dua Kasih Sayang (novel). Ada pula Siti Sa’adah, dari kampus yang sama, asal Gebang Malang, Diwek, selain sebagai guru dan beraktivitas di Tim Pelestari Seni-Budaya Jombang, ia adalah penulis cerpen yang potensial di masa mendatang dengan karakter cerpen yang digali dari pengalaman kampung dan problematik santri di pesantren.

Tampaknya geliat mahasiswa STKIP PGRI Jombang yang di tahun ajaran 2010 ini mengantongi jumlah sekitar 4800 mahasiswa. Kegiatan teater dan bersastra cukup bergeriap di sini. Banyak pementasan teater yang digelar, juga musikalisasi puisi. Di awal 2010 misalnya, Rahmat Sularso dan Syamsul Huda, berkreasi dengan membuat antologi Cecerak Jombang (cerita rakyat) dan kumpulan puisi Jagad Berkata-kata. Tradisi pendokumentasian ini patut diacungi jempol. Sebab, pasti, tidak semua mahasiswa mau berkarya, dan lewat tugas mata kuliah Proses Kreatif, mereka diharuskan untuk menulis. Macam Tugas demikian tidak lepas dari spirit yang digerakkan oleh dosen prodi bahasa Indonesia, Imam Ghazali AR dan Nanda Sukmana.

Pada wilayah yang tak jauh, M.S. Nugroho, seorang guru SMP 3 Peterongan, adalah pegiat teater pelajar di masa mudanya, dan kini tetap aktif menyutradarai berbagai pementasan teater pelajar, terutama di sekolah di mana dia mengajar. Beberapa rampai cerpen anak (8 cerpen) dan cerpen dewasa atau umum (13 cerpen) telah ia siapkan untuk diterbitkan. Ada 8 karya cerita tentang semacam Dongeng Politik dengan jenis cerita populer dan jenaka. 13 naskah drama tersimpan di laci kerja kreatifnya: Malin-End the Scene, Wewe Gombel, Surya Terbenam Pagi, Bulan Tersaput Awan, Yuyu Kangkang, Nyanyian Marduk Pada Bulan, Kusir Delman dan Wakuncar, Audensi Keluarga, Surup, Raja Toba, Setan, Y di Puncak Kematian, Ekstase dalam Secangkir Revolusi, dan Perjuangan Milik Bersama. Angka ini termasuk jarang dimiliki pegiat teater lain di Jombang. Meski kita belum tahu, berapa sutradara teater di Jombang yang getol membikin naskah sendiri, bukan melulu menggarap naskah sutradara kesohor lain di negeri ini misalnya pada naskah Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Heru Kesawa Murti, dan lain-lain. Sebuah novel sedang disempurnakannya dengan judul New Secret Painter. Sementara itu, 3 skenario film karangannya siap digodok bersama sejumlah sejawat yang tergabung dalam tim film indie. 3 skenario itu adalah: Ilmu Kalong, Bulan Tertusuk Ilalang, dan Tujuh Hari Meniti Kematian. Cucuk Espe atau Cucuk Suparno dari Peterongan, barangkali juga memiliki sejumlah naskah drama tersendiri, yang salah satunya adalah naskah 13 Pagi yang pernah dipertunjukkan di auditorium UNDAR pada 14 Desember 2009.

Sedang di belantara sastra pesantren, yang baru tercatat, ada Khilma Anis dari Pondok Pesantren Tambak Beras, selain dia, tampaknya cukup banyak jebolan dari pesantren ini yang tersebar di beberapa kampus di Jawa yang lumayan aktif dan produktif berkarya, namun belum terlacak keberadaannya. Kemudian Hilmi As’ad, ia adalah seorang kiai muda yang kalem namun energik dan produktif dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang mulai populer dengan terbitan novelnya: Tasawuf Cinta (Diva Press: Jogja, 2008)), Hakikat Cinta (Diva Press: Jogja, 2009), dan Putri Sio (Koekoesan: Jakarta, 2010). Para pengarang muda pesantren baik yang bermukim Jombang maupun di luar, telah menjadi penulis berbakat. Setidaknya mereka mewarisi kegigihan dan ketokohan sosok-sosok semisal Emha Ainun Nadjib, Abidah El-Khalieqy, Ahmad Munif, Yusron Aminullah, Shoim Anwar, dan lain-lain.

Membincang keberadaan komunitas di Jombang, pernah Komunitas Lembah Pring bergabung serta dalam kegiatan “Bengkel Menulis I” yang diadakan oleh Komunitas Fikrah Institut pada 27 Februari 2010 di pendopo Perkembunan Daerah Panglungan (PDP), Wonosalam. Komunitas yang memfokuskan pada dunia kepenulisan kreatif dan diskusi sastra ini dibentuk pada akhir 2009 oleh perkumpulan kawula muda PMII Jombang seperti Wahib Pamungkas dan Anwar Masduki Azzam. Setiap minggu mereka menggelar diskusi sastra, pemikiran keislaman, dan ke-NU-an. Memang teramat padat jika tiap minggu berdiskusi. Justru militansi mereka yang patut dicatat. Komunitas lain yang bertebaran sebenarnya banyak juga, seperti Forum Tetesan Pena dari UKM Jurnalistik UNIPDU yang dipimpin oleh M. Ali Fatkhurrozi, Formasis (Forum Mahasiswa Ibnu Siena) dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso yang dipandu Mubaruk, CLMBK (Create Letter Mahasiswa Bimbingan Konseling) dari UNDAR pimpinan Kharis Sofyan, dan lain-lain, yang secara pribadi mengembangkan kreativitas personalnya dalam menulis seperti Nur Aini (pengelola Buletin Penalaran dari STKIP Jombang); Budi Syarifuddin dan Rohmatul Hidayah dari UNIPDU; Zaenal Fuadin dan Liestya Ambarwati Kohar dari Komunitas Alif Mojoagung; Laily Syarifah, penulis sekaligus guru di SMP 3 Peterongan; Siti Sulami, penulis asal Ngoro yang sudah melahirkan novel Fatihah Cinta, dan kini sedang menggarap sebuah novel baru lagi dan kumpulan cerpen.

Paparan di atas menunjukkan betapa potensi kreatif penulis di Jombang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tujuan digelarnya agenda rutin “Geladak Sastra” adalah sebagai wadah, tempat berkumpul, ajang pertemuan yang sederhana dan tidak mewah, membuka gagasan apapun dan dari siapapun, dan tidak hanya terbatas pada penulis dan komunitas dari Jombang saja, tetapi membuka diri bagi yang lain di luar kota untuk terlibat, urun pemikiran, serta mengelilingkan “Geladak Sastra” tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang disepakati bersama. Ada tiga pokok agenda “Geladak Sastra”: pertama, bedah karya. Bedah karya ini bersifat fleksibel, tidak harus karya yang sudah diterbitkan oleh penerbit atau lembaga tertentu. Karya yang misalnya berupa puisi, cerpen, esai, naskah drama, atau catatan-catatan perjalanan, atau apapun, dapat diajukan ke lurah Komunitas Lembah Pring, dan akan dipertimbangkan untuk diagendakan. Semisal untuk puisi, cukup 5 sampai 10 puisi, dalam bentuk fotokopian. Untuk cerpen 3 judul. Untuk naskah drama dan novel 1 judul. Kedua, berbentuk diskusi atau jagongan ringan dengan tema sastra, seni, dan budaya. Di sini akan dihadirkan pembicara baik dari Jombang maupun dari luar kota. Ketiga, dalam format dialog lepas atau talk show atau orasi budaya yang dirancang misalnya menghadirkan seniman tradisonal ataupun yang kontemporer atau dalam bentuk refleksi publik yang nyantai dari sastrawan maupun budayawan. Bisa juga dalam bentuk pementasan musikalisasi puisi atau monolog dengan batas waktu tertentu. Tiga agenda ini akan diselang-seling sesuai kebutuhan dan bersifat kondisional.

Gelaran “Geladak Sastra” Komunitas Lembah Pring sebagaimana ilustrasi di atas, dengan segala keterbatasannya, akan diupayakan mampu berjalan sesuai dengan rancangan agendanya. Agenda perdana berupa bedah karya dan diskusi kumpulan cerpen Siti Sa’adah Pensi Dor pada Minggu siang, 28 Maret 2010, di markas Komunitas Lembah Pring, di Kampung Mojokuripan. Dan pada 18 April 2010 membedah kumpulan cerkak Bobok Suruh Bodeh karya Sabrank Suparno di langgar Kampung Dowong, Ploso Kerep. Ajang diskusi yang kedua ini dihadiri direktur Penerbit Pustaka Pujangga, Nurel Javissyarqi yang untuk seterusnya akan menyumbangkan masing-masing satu buku terbitannya kepada pembicara, moderator, dan pengarang yang dibedah karyanya. Tentu waktulah yang akan menguji seberapa tangguh kegiatan ini dapat berderap. “Asal jangan tai-tai ayam,” demikian seloroh seorang teman mengapresiasi. Paling tidak, kita akan melihat, hingga beberapa bulan ke depan sampai akhir 2010. Selamat berkarya, dan terus bergerak!
—-

*) Fahrudin Nasrulloh, pekerja kata di Komunitas Lembah Pring Jombang

Kamis, 01 April 2010

Kota, Buku Puisi, dan Sastra Pinggiran*

Fahrudin Nasrulloh

Puisi adalah sebuah kota yang sedang berperang – Hans Chinowski –

Begitulah kiranya gambaran sebuah kota yang berkobar dalam benak penyair Hans Chinowski, si tokoh absurd dalam novel Factotum, karya Charles Bukowski. Kota, ya sebuah kota, sebujur fosil dari kampung silam dan seiring menderasnya waktu perlahan tersulap oleh deru zaman dan modernitas menjadi sebuah wilayah yang menawarkan pilihan hidup tidak sekadar hidup. Di sana, hidup tidak semata mengalir seperti air, namun lautan yang menyimpan selapang harapan juga bayangan yang mungkin dapat “terampas” dan “terbuang”.

Bisakah sepotong puisi kuasa merayap dalam gemerlap kota dan memberikan spirit hidup bagi seorang penyair, bahkan manusia lainnya? Tentu secara kasat mata puisi tidak bisa menyulap si miskin jadi berharta. Puisi tak dapat menghalau rangsekan tank atau menyerap luapan banjir atau menyedot lumpur Lapindo yang kini kian tak tertanggulangi itu. Bahkan kitab suci pun tak kuasa melakukan itu. Tapi puisi juga bersemayam dalam kitab suci. Bahwa di sana bersemat semacam kehidupan, organisme, meski teramat rahasia, yang menggerakkan pencinta kitab suci, juga puisi, untuk meneruskan hidup dengan sumeleh dan sumringah: bersama Tuhan dengan segenap pengharapan. Juga impian untuk senantiasa mewujudkan perubahan demi kemajuan dan cita-cita bersama.

Di situlah sebuah kota menjadi ajang bagi yang hidup. Kota yang menetaskan sejarah. Menorehkan selaksa cerita lewat kisah manusia. Lantas bagaimanakah sebuah kota dicita-citakan mampu membangkitkan spirit bagi para penyair yang menghidupinya? Sebut saja sebagai misal: kota Mojokerto. Inilah kota tilas sejarah dari peradaban mahabesar kerajaan Majapahit yang pengaruhnya selama ratusan tahun silam menjangkau seluruh Nusantara hingga wilayah manca.

Inilah kabar dari sebuah kota yang nyaris tak terdengar gaung para penyairnya. Namun munculnya antologi Mojokerto dalam Puisi (DKM, 2006, Mojokerto) merupakan salah satu bukti nyata bahwa di kota ini gairah berpuisi tidak bisa diremehkan begitu saja bila dibandingkan dengan kota ikon budaya lainnya semisal Yogyakarta, Solo, Semarang, Jakarta, dan Surabaya. Kendati gerakan revitalisasi sastra pinggiran telah tamat beberapa tahun lampau. Namun, masih saja para penyair, dan kreator seni pada umumnya, bermekaran bak jamur hujan. Inikah bukti bahwa puisi tidak sekadar kata-kata, tapi serupa ruh yang mengada yang menjiwai pada semacam kitab suci? Seakan ada sesuatu yang mengekal dan terus lahir dari sana.

Antologi tersebut memuat 14 penyair yang terdiri dari Aming Aminoedhin, Andi Nurkholis, Chamim Khohari, Gatot Sableng, Hardjono WS, Max Arifin, Moh. Misbakh, Mugianto, Faqih, Saiful Bakri, Suliadi, Suyitno Ethexs, Tausikal, dan Umi Salamah. Dalam kata pengantar, yang ditulis oleh Dwi Astuti Abdul Gani, tertoreh beberapa larik sambutan, mungkin serupa puisi, yang cukup menggugah dan inspiratif: Hari ini kubelah/Udara kotaku/Dengan kata-kataku/Yang menyanjungmu/Atau mungkin mencacimu/Karena cintaku padamu Mojokerto/Dan kini, telah kusiapkan/14 mata tombak/Pembelah udaramu.

Baris-baris di atas begitu lantang, seperti tombak runcing yang berkelebatan di sebuah kota yang sedang berperang; mengisyaratkan bahwa 14 penyair itu lagi mempertaruhkan kreativitas mereka lewat puisi. Adakah mereka berperang dengan pekik Kita guyah lemah/Sekali tetak tentu rebah seperti teriak Chairil Anwar? Tentu waktu yang kelak menguji kesungguhan itu. Bahwa hidup dan proses kreatif penyair sejatinya dihadapkan pada dua hal: ia terkutuk demi kata untuk hidup-mati berkarya atau jadi penulis puisi sekadar untuk pelepas penat dari hidup yang nelangsa dan berputus harap. Lantaran itu, kita membutuhkan “Penyair-penyair ‘beneran’ dan bukan penyair-penyair ‘kebeneran’”, demikian seruan dalam pengantar antologi puisi bersama Surat Di Jalan Berdebu (DKM, 1998, Mojokerto).

Lebih dari itu, para penyair Mojokerto terus bergerak, berbaris, sembari mengibarkan puisi-puisi mereka. Antologi demi antologi terus berlahiran. Sebut saja: Selamat Pagi Ngoro Industri (Hulig-Hulig Indie Press, 2002); Bulan Dalam Bingkai (Swaramas Press, 2002); Indonesia Adalah Aku (Forsamo, 2002) dan Goblok (2006) karya Suyitno Ethexs; Kidung Perjalanan (2002) karya Heru Budianto; dan Berita Basi (DKM, 2004) karya Saiful Bakri.

Seberapa jauh para penyair ini (atau penulis puisi?) menakar sekaligus mengokohkan kualitas kepenyairan mereka? Tentu jawabannya ada pada kritikus sastra yang menggeluti proses kreatif mereka dan seberapa getol mereka bersabung-tanding dalam ajang besar di gelanggang perpuisian Indonesia yang “batu-uji”nya adalah media massa, baik di koran maupun majalah sastra misalnya. Hal ini menjadi penting. Sebab, tanpa semangat demikian, para penyair ini cuma ber”solilokui” dalam sumur pengap yang mereka sangka di dalamnya mereka telah hidup dan mempertarungkan puisi-puisi mereka di jagat perpuisian Indonesia.

Penyair harus mencari jalan kembaranya sendiri. Karena selama ini sudah tak terhitung penyair yang berhenti atau disibukkan dengan urusan-urusan di luar puisi dan proses kreatif. Karena itu, salah satu sebab yang menurut Afrizal Malna sangat membahayakan adalah ketika, “Banyak penyair bermunculan dan melihat kepenyairan hanya sebuah perjalanan untuk mendapatkan legitimasi. Ruang eksistensi untuk banyak pergulatan kian menghilang. Petualangan lebih banyak bermain dalam wilayah hubungan-hubungan legitimatis seperti ini.”

Kita pun berharap, sebuah kota seperti Mojokerto tetaplah memberikan spirit pertarungan kreatif, apapun bentuknya. Bukan seperti kota Utara Kuru (dalam kisah pewayangan) yang seolah hidup seolah mati, kendati menjanjikan ketenangan yang melenakan. Dan “Kita tidak ingin hidup di kota seperti itu,” tentang Bung Karno ketika bicara soal jati diri bangsa. Tersebab itu, dalam konteks negeri yang kian tak menentu ini: bisakah para penyair “pinggiran” tersebut dapat menyorong “perubahan baru” dalam arus besar perpuisian Indonesia?

*) Jurnal Kebudayaan Banyumili, Mojokerto, edisi April 2007.

Kamis, 18 Maret 2010

Kritik Sastra dan Alienasi Kaum Akademisi

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.surabayapost.co.id/

Seperti apakah perkembangan sastra mutakhir Jawa Timur? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab dalam satu penyoalan tapi justru dari sanalah kita bisa terus berupaya menggalinya dari berbagai perspektif. Perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatakan sangat kuat dan menggembirakan. Munculnya berbagai jenis-bentuk dan genre sastra dalam dekade terakhir ini memperkaya khasanah sastra kita; melalui beragam perspektif dari hasil riset mereka di dalam kehidupan dan perkembangan persoalan di wilayah perkotaan yang memunculkan karya-karya yang dapat diandalkan dan mampu mengisi perbendaharaan rohani. Secara khusus misalnya, munculnya para penulis perempuan yang menguakkan diri mereka ke dalam masyarakat melalui novel, cerpen, dan puisi yang nampak seiring dengan tema-teman feminisme yang juga disorot dengan berbagai perspektif lain.

Begitu pula dengan para penulis lainnya yang berusaha untuk lebih memperkaya sastra melalui sejarah lokal melahirkan karya-karya yang bukan hanya dalam perspektif sastra saja, tapi bisa juga sebagai kontribusi di dalam perkembangan pemikiran sosial, antropologi, etnografi, keagamaan, dan lain-lain. Yang menarik, kini kita temukan suatu cara kerja dari kalangan penulis yang dengan intensif melakukan riset dan studi perbandingan melalui penelitian dari perspektif sosiologis, antropologi, etnografi, nilai-nilai religius, politik, etos kerja ekonomi. Semuanya itu dijadikan sebagai bahan dalam penciptaan karya.

Marilah kita ambil contoh puisi karya Mardi Luhung, salah satu penyair Jawa Timur yang kini sangat menonjol bukan hanya di wilayahnya saja, namun juga berpengaruh dalam kehidupan sastra di Indonesia. Puisi yang dihasilkan dari pengamatan yang intensif terhadap berbagai cerita lokal, legenda, mitos, fabel, dan celoteh humor warga serta cara pandang hidup dalam kehidupan seks dan sejarah leluhur keluarga menjadi bagian dari proses penciptaan penyair yang berdomisili di Gresik ini. Sama halnya dengan Nurel Javissyarqi, penyair Lamongan, melalui proses perjalanannya dalam studi keagamaan selama 8 tahun dan proses pencarian dasar-dasar pemikiran lokal yang dipadukan dengan keyakinannya serta sejumlah arus pemikiran global dari para pemikir pos moderen hingga membentuk keunikan dan kelebihan tersendiri pada puisi-puisinya.

Pada wilayah Novel, Mashuri yang dengan tekun dan nampak kuat menciptakan suatu kerangka dan muatan lokal membuat banyak kalangan pengamat sastra di Jakarta terperangah. Sementara itu Zoya Herawati yang kini sedang menyelesaikan suatu novel yang paling tebal di wilayah Jatim dan Indonesia, sekitar 7-8 ratus halaman, merupakan hasil penelitian sepanjang 10 tahun di Madura. Novel dengan latar belakang sejarah sosial pada tahun 1960-an dan ditarik hingga kini, serta ulang-alik pada masa lampau secara terus-menerus, membuktikan, bukan hanya secara teknik, kepiawaian Zoya. Tapi juga memberikan perspektif dan membongkar posisi kaum perempuan akibat sistem politik yang tidak adil.

Itulah kilasan singkat sebagai ilustrasi dari perkembangan mutakhir sastra di Jawa Timur, yang sesungguhnya masih terdapat bukan hanya satu atau dua namun belasan atau bahkan puluhan penulis yang bisa dihandalkan. Jawa Timur sangat mungkin bisa menjadi simpul sejarah sastra seperti juga sastra Jawa lama yang pada abad ke-16 sangat kuat mempengaruhi perkembangan di wilayah Jawa Tengah (baca: Mataram), seperti yang pernah didedahkan oleh de Graaf.

Namun, perkembangan sastra Jawa Timur yang menggembirakan itu, tidaklah didukung oleh atmosfir tradisi kritik yang baik. Misalnya kita bertanya-tanya, siapakah kalangan kampus atau akademisi yang menulis kritik sastra mutakhir di Jawa Timur? Kita dapat menoleh dan mempertanyakan hal ini pada kalangan akademisi, selain kita sudah bosan disesaki akan data jumlah peminat jurusan sastra Indonesia yang setiap tahunnya meluluskan ratusan orang yang rata-rata tidak jelas orientasi spiritnya. Sementara itu kita juga menyaksikan peningkatan strata pendidikan para pengajar yang kini rata-rata magister dan tak sedikit yang meraih doktor. Lalu, untuk apakah jenjang pendidikan yang tampak tinggi dan wah itu dan berada dalam posisi sebagai akademisi jika mereka tidak melecut diri untuk menggali dan mengembangkan khasanah sastra mutakhir? Adakah mereka menganggap sastra mutakhir Jawa Timur tak layak untuk dikupas dan dijadikan bahan studi yang sebenarnya melimpah itu?

Yang menyedihkan adalah dari kalangan akademisi kita, pada sisi lain mereka tidak juga melakukan penelusuran pada masa silam, tiadanya kupasan sastra di masa lampau, dan oleh sebab itu sastra mutakhir tak pula tersentuh. Ironi lainnya, justru kalangan penulis sangat intensif melakukan penelitian kembali dalam proses penciptaan karyanya. Jadi, apa sesungguhnya tugas akademisi, selain mengajar, bukankah melakukan penelitian? Ataukah mereka mengalami sejenis disorientasi atau aborsi intelektual? Bila memang demikian, boleh jadi para akademisi telah terkubang dalam kondisi alienasi, dan tak berbeda seperti kebanyakan pegawai negeri!

*) Penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Puputan Walanda Tack

Fahrudin Nasrulloh
diambil dari Suara Merdeka 24, 08, 2008

TAK disangkal cerita ini terus berseliweran bergeliut sawang tak terkuburkan. Menjelma roh cenayang pencilakan berkabut sengir yang menyelimuti para penggila kronik Kompeni-Keraton Jawa. Ya, pada siang jahanam 8 Februari 1686 di Carta Seora, Kapten Tack dibantai Surapati dan gerombolannya, sehingga Kompeni me-marabi mereka, ”Bandit-bandit berlidah anjing pengumbar darah”. Ini menjadi semacam pagebluk yang menguar nyasar ke mana-mana, melesat deras melebihi dencingan anak panah. Terus bergentayangan dalam sekian wiracarita dan perbantahan para tukang cerita VOC.

Sandiwara Amuk Tergila

Seratan Zan Marstel dalam Puputan Walanda Tack akan menuntun jalan cerita ini: Di gang-gang sekisar kraton; berpusing-pusinganlah Kapten Letnan Greving, Letnan Vonck, dan Letnan Eygel. Bersiaga ketat pun tetaplah liwung batin dan pikiran bule-bule itu. Sebelumnya, Greving terus dibayang-bayangi mimpi terkutuknya. ”Laknat culas orang-orang Jawa ini!” semburnya sambil mengelus-elus gagang pistolnya.

Saat sepagi tadi, tatkala menjemput Tack di jembatan Banyudana, mimpi itu masih saja mengulik benaknya, terasa begitu terang menyergap mripatnya yang cerlang diterpa pijar angkasa. Dengan serak lirih ia melapor, ”Maaf, Surapati lolos, Kapten.”

”Memang Sunan dungu itu tak becus mengatasi anjing gendeng itu. Huch, cuhz!!”

Dan Sindureja utusan Amangkurat II yang menyertai Tack itu, tiada siapa tahu menyelinap pergi dari tempat itu bak ditelan bumi.

Cerita terus merayap menggeremat. O, Roh Kudus, selamatkan kami dari ingatan linglung di kesiur senyap. Juga cakap nglantur melayap-layap. Tack berbisik pada Van Vliet dan Van der Meer, ”Ada hubungan rahasia apa antara Surapati dengan Sri Sunan? Orang-orang licin, pembuat onar, dan aneh. Ah, aku rasa aku mencium bau darahku sendiri. Ganjil ini!”

Van Vliet menoleh. Diam. Menatap sayu jarannya Tack. ”Yang satu serigala alas. Satunya katak kembung yang dikelilingi ular blantotan macan. Kita harus berhati-hati, Kapten! Soal darah, tiap hari kita ini mimpi diguyur darah, bukan!” tukas Van der Meer.

Ahualah, lukisan apa pula yang terboreh di sekujur para prajurit bayaran yang dipasok dari Makassar, Sumenep, dan Bali di bawah perintah Wangsanata, Mangkuyuda, dan Singabarong. Siapa pun mereka, menus-menus berjubah putih dan hitam, berudeng mlipir lancip dengan wajah kecut campur cengar-cengir tapi sekilas memancarkan aroma beku-tawar. Pesona raut yang tak mencerminkan berpihak pada siapa-siapa. Apalah yang dapat disangkakan, mereka ini berpihak pada siapa? Siapa membayar siapa? Siapa dibayar siapa? Hawa hasutan di sana-sini terasa mencangkul pikiran dan hati. Sungguh lacur dibayangkan. Hanya orang yang nyawanya terkucuri getih Kristus yang bisa melihat selubung keberpihakan mereka. Namun riwayat tersebar mencacat mereka-mereka ini berada di pihak Sri Sunan. Tapi apa yang terjadi kemudian, teracunilah si penyimak yang tak pernah terjerumus dalam muslihat riwayat bernanah ini.

Pantaslah ditimbang-timbang. Ditelusur-teliti ulang. Diluruskan kembali dengan cermat-seksama perkara laporan-laporan yang amat membingungkan dari Letnan Anthonie Eygel. Orang ini serdadu payah, kerap mabuk, ingatannya diragukan. Memang ia satu-satunya perwira Belanda yang melarikan diri dari pembantaian di alun-alun itu, setelah disergap keterkejutan akan serdadu-serdadunya yang morat-marit meninggalkan senjata-senjata dan panji-panji. Kita tak ingin wiracarita ini kelak jadi reremah cermin pecah, bukan? Lihat pula rincian korban versi Eygel; serdadu Kompeni tewas: 79. Luka-luka ringan: 29. Luka-luka berat: 41. Prajurit Sri Sunan: 95 (cukuplah semerawut kebenaran angka ini. Sebagian dari mereka adalah orang-orang Bali, Mataram, dan Pasuruan yang bersekongkol dengan Surapati. Juga pendekar bayaran Kompeni, dan sisanya prajurit Sri Sunan sendiri. Siapa satu per satu memihak siapa tiada tahu). Keterangan ini rancu? Eygel tak kunjung memecahkan misteri siapa saja yang berkomplot dengan siapa. Tapi Eygel cuma penulis laporan ecek-ecek. Malangnya, seluruh laporannya dijadikan dokumen penting bagi VOC. Konyol dan amburadul.

Situasi berkabut kekalapan itu alangkah pelik diblejeti. Eygel juga tak memberitakan kekejaman begundal-begundal Surapati seperti Suradenta, Suragenta, Cakrapati dan Barongpati. Tak jeli bahwa empat segawon rimba tersohor ini bengisnya minta ampun. Pengalaman mereka bersabung-tarung dalam laga rampokan macan tak diragukan lagi. Ia luput mencatat peristiwa ini, saat kebiadaban mereka mengoyak-ngoyak mayat Tack yang ditemukan tersungkur tragis dengan 21 luka mengerikan: 5 bacokan parang (2 di pelipis kiri-kanan, 1 di tengkuk, 1 di punggung, dan 1 di tempurung kepala). 1 hujaman kapak di lengan kanan, nyaris putus. 2 tusukan keris di jantung dan lambung. 7 tancapan anak panah yang bersarang di jidat dan hampir di sekujur tubuh. 3 sabetan celurit di paha kiri, dada, dan mulut. 1 sabetan golok di pantat, kotorannya berceceran. 1 tetakan trisula di tangkurnya. 2 gempuran rantai besi di wajah dan pundak kiri. 1 cocoran tombak di mata kanan. Barangkali bukan hanya mereka yang melakukan penistaan ini. Orang-orang Kompeni selalu tergelincir dibayang-bayangi aib mereka sendiri. Betapa tidak, kehormatan pasukan Kompeni harus dijaga, lebih-lebih semisal demi seorang jendral, sebagaimana Jendral Coen atau Si Pitekun atau Si Mur Jangkung yang tewas (atau mati karena sakit?) hanya oleh seorang tamtama Mataram pada 1629 di palagan Batavia.

Dua Kelana Kisah Bertabir Mala

Tampaknya siapa pun yang binasa di Carta Seora kala itu, arwahnya akan senantiasa menyusup dalam puspa wiracarita pada masa mendatang, dari yang terterang sampai yang tersamar. Menjelma jejanin cerita yang berlayapan mengerubung ingatan dan membangkitkan syakwasangka. Dan Ki Brajandalagati memborehkan riwayat tersendiri dalam anggitannya yang berjuluk Sesuluk Surapati. Serat ini, sebelum berkisah dengan pejal dan alot, dibabah dengan sepenggal kidungan:

Sura lelana ing segarani pati
Ageming aji moncering lati
La ilaha byar pet sirna jagat
Illallah byar lhap nggulung wahdat
Getih mili nyurup ing Gusti
Wa ma almautu illa bissyaifi au bighairihi

Bebulu di tengkuk sesengkringan, aliran dedarah bergelegakan. Urat-urat tenggorokan sendut-sendutan. Wajah terpanggang hawa merah, kayak disembur-semburkan geni. Yang menerjang, menyepak, menjegal, menggilas, membacok, meletuskan senapan dan bedil, menikam, menggigit dan menghujami dengan tombak, menusuk, menggejrot kepala yang berkelejat-kelejat sekaratul maut: siapa bercampuh lawan siapa, tak penting lagi serdadu siapa. Lebih cepat darah tersimbah lebih baik. Disebabkan serdadu brengsek macam ini, lama dipasti setamsil kecoa digilas ratusan sepatu besi. Kongkalikong! Asu-lah mereka berbuntut buntung. Mati pun, tak sesiapa menangguk untung.

Apa yang mengawang-awang, yang berliuk-liukan di masjid keraton. Menyala-nyalalah lebat api bebakaran. Mampus ditebus mampus. Ajal dibayar ajal. Popor dipatahkan. Panji-panji disuwek diludahi. Pedang dibengkungkan. Tumbak dicuklekkan. Lihat pula bebangkai serdadu Tack: Letnan Greving dan Sersan Samuel Maurits: rubuh diinjak-injak ternistakan. Arwah mereka berjengkelitan menjerit-jerit diperebutkan malaikat buta dan iblis pincang. Juga 25 pengawal mereka bermandi darah di undakan teras kraton. Menyaksikan itu; gemuruh tubuh Eygel, Vonck, dan Van der Meer bak dikencingi demit gundul dan gendruwo, gatal-panas audzubillah, sebelum Tack nongol dan mripatnya bak tercomplong carang lantas memancarkan cahaya beringas kesumat. Munclak-munclaklah ia. Tapi pancen ia serdadu sejati, tak mlungker nyali. Ia sebar perintah dan taktik rapi-apik sehingga gerombolan Surapati keteter terdesak menghambur ke dalem keraton. Kala itulah, siapa menusuk siapa: jadi kisah indah-nyeri demi dibabar-wartakan ke anak-cucu di tlatah Jawa ini....

Tack ini orangnya waspada benar, tapi kesombongannya bikin gatal hidung. Terasalah ia merogoh diri bakal binasa. Betapa terbaca, ketika ia menggerakkan perwira Herfts bersama 57 prajurit dan 11 pucuk meriam untuk berjaga-jaga di gerbang keraton. ”Awasi juga gerak-gerik Sri Sunan! Penipu licik dan penakut itu bisa-bisa menghasut siapa saja. Dasar munyuk gundhul! Cepatlah kau disambar gledek!” pekik cerca Tack di hadapan serdadu-serdadunya.

Lalu 150 serdadu dijejerkan Tack di loji di bawah komando Kapten Leeman.

”Surapati dan gudel-gudel Bali itu tak bakal bertahan lama. Begitu melihat aku datang, mereka pasti lari kecirit-cirit,” desis Tack, serentak disambut bahak terpingkal-pingkal para prajuritnya.

Demi mata maut tersangit, kesombongan niscaya tergelincir.

Sekonyong-konyong Tack disentakkan oleh laporan Adipati Urawan dan Adipati Jepara soal berandal-berandal Surapati lain yang berhuru-hara membakari rerumah di sebelah timur keraton. Lantaran terlalu berapi-api menumpas para pengacau itu — dan sebab itu perhitungannya tercecer — Tack memerintahkan Letnan Eygel dengan 6 prajurit meluncur ke tempat kejadian. Terkecoh ia. Di sana, alah acuih, tak ada siapa-siapa. Hanya kobaran geni jejilatan menerbangkan lelatu kayu yang mulai bergedebrukan ambruk.

Pasukan Surapati yang terkepung di keraton terpaksa merapat berlindung di belakang tembok istana dan rumah-rumah yang sebagian telah kobong. Mangkuyuda, Singabarong, Surenglelana, dan Suradenta menyusup ke kandang macan. Entah merancang kelicikan apa. Sementara di alun-alun, asap tebal mengabut, menggeliut-geliut, kian merusakkan segala mata yang kalap dan kalut. Lamat-lamat terdengar ada yang menggeremat di kuping, tak tahu dari mana: gendingan Banyu Getih mengalun menggebah wewulu kuduk dan mendidihkan air kencing. Surapati yang tiba-tiba didampingi Singabarong dan Mangkuyuda bersungut-sungut bersiaga dengan senjata terhunus.

Ujug-ujug terdengarlah pekik tempik orang-orang Surapati ”Babat, amuk, babat!”

Serupa macan-macan kesurupan mereka merangsek pasukan Tack. Cacah mereka memang tak begitu banyak. Lantaran teriakan itu bak dihantui geram kesumat, welahwelah, seolah mereka disorong ribuan arwah pencucup ubun-ubun yang ngedan menceleng-buta. Pertarungan bengispun tak terelakkan. Dentingan pedang dan bayonet beradu berpercikan. Bedil dan senapan dibuang. Siapa yang terbrutal itulah yang selamat. Saat kudus seperti ini, nyawa tak lebih sedebrus kentut. Dan musuh harus ditebas-babat bagai anjing pesakitan.

Melihat 12 prajuritnya bergelimpangan, Tack mundur. Menoleh-noleh kanan-kiri-belakang. Berkali-kali. Sedikit gentar. Tapi pijar sorotnya tetap mencorong menantang maut. Bedilnya di tangan kirinya masih mengepulkan asap. Sempat terhirup olehnya dan terasa menyesakkan dada. Seolah ia ingin menyesap kekuatan nyawa-nyawa yang bertumbangan di hadapannya. Pikirannya menembus kekelaman terjahat dan berkejar-kejaran dengan seabrek musuh yang pernah ditumpasnya. Tak jauh darinya, Surapati melesat gesit. Jarak antara keduanya hanya lima tombak. Dua serdadu Tack yang tersisa coba menghalanginya, menghunus dengan sangkur siap tujes. Seketika batang leher mereka ditebang dalam dua gebrakan mahakilat. Surapati mendesis bak ular weling, matanya mecicil ke arah Tack sambil misuh-misuh ia menjilati darah dua korbannya yang menciprati pipi dan mulutnya.

”Kapiten, apakah sira masih bertakabur diri bahwa kami cuma anjing-anjing kumuh yang ciut nyali melabrak bedil, senapan, dan meriam Kompeni? Billahi ingsun bersumpah, riwayat sira kelak akan dicibir menjelma aib lantaran sira mampus di tangan si bandit Surapati. Ya, bajingan kroco kayak ingsun ini. Terbangkanlah jiwa piatu sira, Kapiten!! Sebelum jadi mayat, apa kalimat terakhir sira untuk dikenang di alam baka?”

”Demi tetesan darah Kristus yang tiada surut memancarkan belas kasih di Bukit Golgota, kita akan berlaga lagi di neraka, Surapati!!”

Dengan sigap Tack mencelat menunggang jaran setonya. Menerjang Surapati dengan beringas. Pedang panjangnya dikibas-kibaskannya ke jantung Surapati. Surapati berguling-gulingan di antara mayat-mayat yang berserakan. Ia terkekeh-kekeh berteriak, ”Pertarungan macam apa ini, Tack? Babi kepet pengecut!! Ayo turun! Serdadu sejati lawan begundal kelas teri!!”

Tack tak menggubris. Sekali lagi dengan kecepatan tinggi ia mengentak-entak turangganya sembari memutar-mutar pedangnya di atas kepalanya. Kali ini Tack menghimpun kekuatan penuh. Bersijurus membabatnya bersama gebrakan si jaran. Dalam jarak dua puluhan tombak, Surapati tetap saja berdiri tegap. Ia melolos keris dari warangkanya. Sedang tangan kanannya masih tetap menggenggam pedang. Ia pun menghambur berlari bak digebuk hantu. Membungkukkan tubuhnya lalu menggelesor ke tanah hendak menyambar Tack dari arah kiri. Brass, cress, tang ting tang!! Campuh timpuk bersabetan. Serangan Tack luput. Tapi pedang Surapati sempat menggeres dengkul kanannya. Ia terjatuh tak jauh dari jarannya. Tack meringis getir melihat dengkulnya mengucur darah. Segera ia bangun dan memungut pedangnya yang terpental. Namun sebelum Tack menapakkan kakinya pada sanggurdi jarannya, Surapati yang lebih dulu bangkit melihat peluang ini dan tanpa cas-cis-cus secepat kera gila menyerang Tack dalam jarak tiga tombak.

Andai Tack sempat melihat gerak ngedan Surapati itu, ia mungkin bisa menangkis serangannya. Namun gerakan Surapati melebihi sengal napas Tack. Ia menyogrok leher Tack dengan kerisnya hingga tembus. Mencabutnya kembali. Getih pun bermancuran. Tenggorokannya seperti dihajar bara baja. Tack menyumbat muncratan di lehernya dengan tangan kirinya yang tergetar hebat. Mripatnya berkerjap-kerjap melotot-lotot memercikkan serapah keji yang tak kuasa dibalasnya. Ia terhuyung-huyung limbung. Pedang di tangan kanannya masih disabet-sabetkan ke arah Surapati sebelum ia tersungkur. Saat ajalnya meregang sekarat, ia memandang aroma bangsat raut Surapati yang menjilat-jilati kerisnya yang berleleran darah itu.

Lalu segerombol orang berbaju putih, hitam keklawu-klawuan, dumadakan bermuntahan datang berteriak-teriak bengis dan secara sadis mencocori Tack hingga ia lepas ajal dengan 27 luka mengerikan di sekujur tubuhnya.

Pertempuran brutal dan bersawang teka-teki itu (atau tepatnya mungkin kerusuhan terbejat?) mengakibatkan 68 prajurit Kompeni tumpas. 1 raib. Dan 12 lainnya terluka tapi sempat terselamatkan ke tempat lebih aman. Sementara 40 prajurit Surapati tewas. 20 sekarat. 15 kabur lalu mati dan dikubur di bengawan Sala.

Hanya kematian bersimbah lukalah berbanjir getihlah yang diganjar takzim nan kutukan sekaligus pepletikan api yang dikuduskan Ilahi di palagan alun-alun Carta Seora itu. Jangan nyana lelara dua kelana ini tak bersawan nelangsa sepanjang masa. Tapi aduhai ngilu-pukau bergayut dahsyat cecabang kisah mereka hingga kuasa menerbangkan bebunga khayalan siapa saja. (35)
---
*)Padepokan Lembah Pring Jombang, 2006-2008

Minggu, 10 Agustus 2008

Kiai dan Kitab Kuning

Fahrudin Nasrulloh

Ketika Clifford Geertz meninggal pada 30 oktober 2006 yang lalu, tentu semua orang bakal mengenang karya abadinya The Religion of Java sebagai tetirah, di samping beberapa karyanya yang lain. Tiba-tiba, saat itu saya jadi teringat akan Martin Van Bruinessen, seorang ilmuan Belanda yang menyuntuki jagat pesantren dengan menulis Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Mizan, 1995, Bandung). Kiranya masih banyak peneliti sekaliber Geertz yang layak dicermati dan diteladani seperti Mark. R. Woodward, Karel A. Steenbrink, Von Koningsveld, Robert W. Hefner, atau Peter Carey dan lain-lain.

Jika Geertz mengeksplorasi sinkretisme Islam-Jawa sehingga lahir santri-priyayi dan abangan. Maka Martin, dalam bukunya tersebut, mendedahkan intensitas observasi kebenaran ilmiah yang demikian menarik: menelusuri seabrek karya tulis para “ulama Jawi” yang, menurut Gus Dur, telisiknya mengantarkannya pada sebuah pengenalan yang unik dan jenius ihwal respon adaptif dan kreatif para ulama terhadap tantangan modernisasi yang diusung peradaban modern dalam dua abad terakhir ini.

Lebih lanjut, bila dalam buku pertama Martin, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, di mana penulis menyusuri tilas sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di nusantara, maka dalam buku yang kedua itu Martin membabarkan secara mendalam perihal silsilah keilmuan (intellectual genealogy) dan studi kritis atas kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren sejak abad 19 dan 20 M. Buku ini menunjukkan betapa besarnya vitalitas metodologi tradisional dalam menularkan ilmu pengetahuan yang diyakini dari generasi ke generasi berikutnya.

Dari sini sejarah membuktikan bahwa tradisi menulis dan membaca sudah ada sejak lampau. Bahkan Sultan Agung Mataram (1613-1645), yang adalah raja sekaligus ulama itu, pernah berjuang demi mempertahankan kekuasaan kerajaan Islam dengan membikin proyek raksasa dengan menitahkan para pujangganya untuk menulis Babad Tanah Jawi. Semacam tilas ing wuri-wuri, menorehkan jejak agar ingatan di kemudian waktu dapat terjaga dengan baik. Ia meyakini bahwa pengukuhan legitimasi kraton lewat tradisi tulisan merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda waktu itu (1619). Ikhtiar ini terus berlanjut selama rentang seratus lima puluh tahun ke depan hingga perpecahan kerajaan Mataram terjadi (1755) yang melahirkan dua kekuasaan: Kasunanan Surakarta di bawah Susuhunan Paku Buwana III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I.

Pada masa itu lahir beberapa karya kapujanggan semisal Serat Centini (12 jilid) yang digubah oleh tiga pujangga Kraton Surakarta atas perintah KGP. Adipati Anom Amengkunegara III, putra mahkota Sunan Paku Buwana IV. Karya ini ditulis pada 1814, yang mewedar kisah perjalanan spiritual putra-putri Sunan Giri Prapen setelah dikalahkan oleh menantu Sultan Agung, Pangeran Pekik dari Surabaya. Demikian pula kita bisa menyimak karya-karya Ronggowarsito (1802-1873) seperti Suluk Saloka Jiwa, Serat Kalatida, atau Serat Wirid Hidayat Jati. Juga Serat Cebolek yang dianggit oleh Kanjeng Raden Adipati Suryakusuma (pensiunan Bupati Semarang) pada 1892, yang berisi cerita tentang Haji Ahmad Rifa’i dan Haji Mutamakkin.

Tampaknya kini tradisi pesantren seolah kehilangan gaungnya bahkan nyaris mandek dalam kancah intelektualisme Islam di Indonesia. Namun kita masih bisa berbangga (atau sekadar in memoriam) pada Syekh Nawawi Al-Jawi (lahir 1815) asal Banten. Sejak usia 15 tahun beliau sudah belajar keilmuan Islam di Mekah di bawah bimbingan sejumlah syekh (dari 1830-1870), sebagaimana yang direkam oleh C.S. Hurgronje, hingga beliau wafat di sana. Karangannya sekitar 114 kitab (dari fiqh, ushul fiqh, nahwu, barzanji, dan tafsir), dan 38 kitab yang terpenting dari jumlah itu telah dijadikan sumber rujukan dan kitab kajian di hampir semua pesantren. Seluruh karyanya mendulang apresiasi yang luar biasa dari kalangan ulama di negara-negara Timur Tengah. Salah satu karyanya adalah Murah Labib yang terbit di Kairo dan diakui mutunya yang berisi persoalan-persoalan krusial keagamaan sebagai hasil diskusi dan perdebatannya dengan para ulama Al-Azhar. Karenanya, beliau dijuluki sebagai Sayyid Ulama Hijaz.

Selain Syekh Nawawi, ada ratusan kitab yang ditelurkan oleh para ulama nusantara seperti: Syekh Arsyad Banjar, Syekh Abdul Karim Banten, Syekh Abdus Shamad Palembang, Syekh Shaleh Darat Semarang, Syekh Abd Al-Muhyi Pamijahan, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Khalil Bangkalan, hingga Kiai Muhammad Ihsan Jampes Kediri dan Kiai Bisri Musthofa Rembang.

Kita juga bisa bercermin pada apa yang diwariskan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (1871-1947) yang telah menulis belasan karya monumental yang diamini pelbagai kalangan memberikan pembaruan yang besar dalam cakrawala dunia pesantren. Kitab yang beliau tulis antara lain, Durarul Muntatsirah dan Tamyizul Haq Minal Bathil. Dalam dua kitab ini K.H. Hasyim Asy’ari mengecam habis praktek sufisme dan tarekat yang menyimpang, juga pengkultusan figur kiai yang berlebihan. Kemudian Risalah Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan embrio urgensif dan dasar utama dari didirikannya NU. Karya ini pun besar pengaruhnya untuk membentengi kaum tradisionalis dari faham modernis yang menolak ijma’ ulama (baca: Latiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama, Biografi K.H. Hasyim Asy’ari dengan pengantar yang cemerlang dari Howard M. Federspiel, LKiS, 2000, Yogyakarta. Juga M. Ishom Hadzik, “Pemikiran Keagamaan K.H. Hasyim Asy’ari, Republika, 15 September 2001).

Selanjutnya, dalam kancah pemikiran Islam kontemporer, kita tidak bisa melupakan kontribusi para pemikir dan peneliti yang serius dalam menggali hazanah pesantren. Sebut saja sosok Zamakhsyari Dhofier yang dalam rentang 1977-1978 melakukan penelitian di sejumlah pesantren, terutama di pesantren Tebuireng Jombang. Setelah rampung, hasil penelitiannya itu diterbitkan dengan judul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai. (LP3S, 1982, Jakarta). Karya lulusan Australian National University Canberra ini berisi tentang ciri-ciri umum pesantren, pengajaran kitab kuning, intelektualisme kiai dan santri, faham ahlussunnah wal jamaah dan profil pesantren di abad 20. Sejurus dengan itu, ikhtiar Martin di atas juga patut ditindaklanjuti secara terbuka dan akomodatif terkait seberapa akurat signifikansi pengajaran kitab kuning zaman lampau dalam membentuk watak intelektualisme generasi muda di dunia pesantren?

Barangkali kita membutuhkan humanisasi kitab kuning, seperti yang pernah digagas oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, kita musti berusaha melihat teks kitab kuning sebagai fakta dinamis yang hidup dan menyejarah. Jalan menuju humanisasi kitab kuning dapat ditempuh melalui kajian historis dan sosiologis. Dengan kajian historis diharapkan bisa membuka pelbagai kemungkinan untuk mencermati ragam kecenderungan intelektual dalam teks kitab kuning terhadap medan perubahan yang terjadi dalam aras sosial. Sementara kajian sosiologis adalah kontekstualisasi kitab kuning pada keutuhan makna dan wujudnya dalam ranah sosial, politik, budaya, dan ekonomi.

Walhasil, dari uraian di atas, akan menyeruak sederet pertanyaan: sejauh mana para kiai di zaman yang carut-marut ini tergerak untuk melanjutkan (alih-alih menghadirkan pembaruan) perjuangan intelektualisme generasi silam demi kemajuan Islam, lebih-lebih pesantren? Kesibukan apalagi bagi kiai di samping mengurus santrinya dan membanjirnya undangan tabligh baik dari kota hingga ke pelosok desa? Masihkah kiai masa kini terus disibukkan bergulat di partai dan berebut kursi di pemerintahan? Mungkin tidak semua kiai demikian. Lalu bagaimana tradisi pengabdian kiai dengan ketulusan hati (sebagaimana yang diteladankan oleh para wali dan ulama dahulu) terhadap nasib umatnya sekarang ini? Wallahu A’lam bi al-Shawab

Jawa Pos, 17 Desember 2006.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Melacak Tilas Santri Majapahit

Fahrudin Nasrulloh

Pada 27 April 2006 saya bertemu dengan seorang penelusur silsilah Kiai Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo; Pak Haris Daryono namanya (ia sendiri berdomisili di Tulungagung). Perjumpaan itu terjadi di rumah seorang sahabat di komplek perumahan Minomartani di Sleman, Yogyakarta. Sungguh pertemuan yang tak disangka-sangka. Sebab saya sendiri sedang mencari informasi tentang pesantren tertua di Jawa. Memang, menurut Martin van Bruinessen, Pesantren Tegalsarilah yang merupakan pesantren pertama di Jawa pada abad 18. Sebab pada abad 17, bahkan 16, tidak ditemukan data otentik yang menunjukkan adanya pondok pesantren. Sekali lagi kabar ini menurut Tuan Martin.

Terkait itu, hal istimewa dari Pak Haris, pertama ia membawa sebendel karya naskahnya, yang rencananya akan ditawarkan ke penerbit di Jogja (malangnya belum ada yang menerima), yang berjudul Dari Majapahit Menuju Babad Pondok Tegalsari. Sungguh, dari naskah ini, saya mendapatkan informasi yang benar-benar baru dan sangat menarik, terutama tentang kronik Gajah Mada. Inilah nukilan dari naskah itu.

Menurut Drs. F.C. Kamari (Kasubdit Jen. Ops Dik Depdik/Dosen Lemhanas RI) menceriterakan pendapat Bung Karno tentang Gajah Mada, bahwa, “setelah perang Bubat, Gajah Mada melarikan diri ke Sumatera, tetapi tidak begitu lama kembali ke Majapahit dan sebelum sampai di Majapahit tersangkut arus sungai hingga ke selatan.” Jadi yang dimaksud sungai itu barangkali adalah Kali Brantas dari Kertosono ke selatan dan yang meneruskan ke Pantai Selatan adalah Sungai Ngrowo di Tulungagung.

Akhir perjalanan hidup Gajah Mada di sekitar wilayah Kediri bisa jadi mengandung kebenaran mengingat: pertama, Kediri merupakan jalur lalu lintas perjalanannya sewaktu meloloskan diri (waktu itu transportasi utama lalu lintas adalah sungai). Kedua, masa kecil pendadaran kanuragannya ada di sekitar Kediri. Ketiga, Gajah Mada pernah juga menjadi Patih di Dhaha Kediri selama 2 tahun (sebelum menjadi Maha Patih Majapahit). Keempat, adanya kemungkinan keberadaan Gajah Mada di Kediri ini disembunyikan dan dilindungi oleh Adipati Patih Demang Panoelar atau Pangeran Demang dan keluarganya di mana kita tahu bahwa keluarga itu merupakan keluarga besar para patih di kerajaan Majapahit. (halaman 107-108).

Hal menarik yang kedua tatkala Pak Haris menunjukkan foto Gajah Mada (dan Sabdo Palon) yang, sekonyong-konyong, membelalakkan mata saya. Wah, ini sungguh berbeda dengan gambar sosok Gajah Mada pada sampul buku Sejarah Gajah Mada karya Muhammad Yamin yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka sekitar tahun 1970-an, atau patungnya yang terpahat mentereng di arah utara Embong Tekuk di Jl. Jayanegara di Mojokerto. Sementara foto Sabdo Palon sama sekali saya belum pernah mendapatinya. Kendati kedua foto ini tampak samar, namun barangkali dengan upaya rekonstruksi grafis yang canggih, kedua foto ini bisa kelihatan lebih jernih. Nukilan dari naskah Pak Haris itu sebagai berikut.

Di lembar berikut ini penulis cantumkan foto Maha Patih Gajah Mada versi Mbah Darmo, seorang paranormal dari Dusun Dimo, Desa Babadan Kecamatan Babadan Kabupaten Madiun. Beliau secara kebetulan berpotret bersama dengan murid-muridnya di wilayah Trowulan. Salah satu cetakan kamera mereka menghasilkan dua gambar: Maha Patih Gajah Mada dan Sabdopalon. Kebenaran secara supranatural ihwal dua sosok ini telah ditashihkan melalui 21 tokoh supranatural dari seluruh daerah di Jawa Timur. Sementara kajian ilmiah belum dapat dilakukan. Inilah foto Gajah Mada (halaman 107-108).

Hal menarik yang ketiga, sebagaimana penuturan Pak Haris, Gajah Mada seusai perang Bubat, pada tahun 1357, berusaha dibunuh oleh para prajurit Majapahit atas perintah Raja Hayam Wuruk, karena dianggap bersalah memerangi raja dan pasukan Sunda, sehingga Dyah Pitaloka sebagai calon permaisurinya, bunuh diri. Namun akhirnya Gajah Mada berhasil kabur. Selanjutnya dalam Kitab Nagarakrtagama disebut bahwa Gajah Mada meninggal tahun 1364.

Cerita ini semakin memikat saat Pak Haris menukilkan secuplik cerita bahwa ketika menetap di daerah Kediri itu Gajah Mada telah masuk Islam. Berita ini diperkuat dengan diketemukannya situs berujud makam di kawasan komplek pekuburan Islam di Dusun Tukum, Desa Mrican, Kecamatan Majarata, Kediri. Di situs makam itu tertoreh nama Ki Ageng Tukum yang dinisbahkan pada nama muslimnya Gajah Mada. Namun setelah tahun 1920, makam Ki Ageng Tukum tersebut dipindahkan ke Desa Badal, kecamatan Ngadiluwih, Kediri.

Tentu, riwayat ini merupakan versi teranyar (bahkan teraneh) dari kembara Pak Haris. Kendati masih bisa diperdebatkan dari segi waktu ihwal masuknya Islam di Jawa. Yang terang, jika bertolak dari penelitiannya, yang didasarkan pada hirarkhi umum sebuah penelitian, mulai dari data sejarah yang dihimpun oleh para sejarawan, kemudian rujukan dari seabrek kitab babad, lalu cerita tutur, dan yang terakhir bersumber dari cerita rakyat setempat; nyata-nyata menunjukkan ketelatenan dan kegetolan Pak Haris yang memang bukan sejarawan, tapi seorang PNS Pemda di Tulungagung. Namun perkara lain yang terus menggerus saya -- ihwal keajaiban fotografi ini -- kian menenggelamkan saya pada On Photography-nya Susan Sontag yang membabar kemungkinan kehadiran sang kala dari segala masa. Bahwa kecanggihan jepretan fotografer; ibarat pelor pistol yang meledakkan black hole, memercikkan serpihan peristiwa silam ke masa kini yang tanpa sadar lambat-laun memerangkap medan ingatan, imajinasi, dan arketipe optis yang menakjubkan dan tak tergantikan.

Di pengujung pertemuan itu saya sempatkan bertanya untuk yang terakhir pada Pak Haris sebelum dia cabut pulang, “Mengapa Bapak berjerih susah menggali kerak sejarah ihwal Gajah Mada yang misterius dan yang riwayatnya sayup-sayup samar dan nyaris tanpa jejak itu?” Dia hanya tersenyum tipis lantas berujar, “Everything is Iluminated! Kau pernah nonton film yang dibintangi Elijah Wood itu kan? Dari situlah keyakinanku semakin tergugah dan trengginas untuk terus menyempurnakan buku ini, Kawan!” Saya terharu sekaligus geleng-geleng kepala, sembari mengangguk takzim padanya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Suara Merdeka, 5 Agustus 2007.

Rabu, 06 Agustus 2008

Menelusuri Riwayat Tragedi Iblis

Fahrudin Nasrulloh

“Tak ada pencinta sejati selain Iblis.” Ungkapan Syekh Abdul Latief dari Sind ini terdengar ganjil dan rawan jika kita tak akrab menyelami riwayat tragis si biang mahajahat itu. Ihwal asal-usul nama Iblis dalam Kitab Leviticus (16:10) dikenal dengan sebutan Azazel yang berarti sejenis ruh laknat yang hidup di gurun mahaluas yang di dalamnya tidak ada kehidupan juga kematian. Kajian Iblisologi ini konon demikian dahsyat menyedot minat sejumlah sufi tersohor di masa silam. Dari sini pula salah satu cikal-bakal gerakan tasawuf menyebar ke segenap penjuru dunia. Sebut saja misalnya sederet mistikus bersama karya mereka: Ibnu Ghanim (Taflis Iblis); Al-Hallaj (Tawasin), Attar (Musibatnama, Lisanul Ghayb); ‘Ainul Qudhat (Tamhidat), Al-Junaid (Kitabul Fana’); Ibnu Munawar (Asrarul Tauhid); Al-Makki (Qut al-Qulub), Al-Baqli (Masrabul Arwah); Sana’i (Haqiqatul Haqiqah), Abu Nuaim (Hilyatul Auliya’); Ibnu Arabi (Ruhul Quds); hingga Iqbal di mana Hellmut Ritter kerap mengulas fenomena tragika Iblis dalam bebaris puisi Jãvidñama-nya.

Memang tak terhitung Hadits Rasulullah yang menyinggung tema yang enigmatik seputar Iblis. Salah satunya adalah penyebutan ketika Iblis menetaskan tujuh telur yang masing-masing berujud tujuh bocah Iblis sebagai balatentara terpilih yang berjuluk Mudahhish, Hasist, Zalanbur, Miswat, Dasim dan A’war. Mereka bersemayam di pasar, perempuan sundal, kamar mandi, puisi, dan tempat-tempat maksiat.

Ketujuh keturunan Iblis ini, menurut Al-Muhasibi, harus senantiasa diwaspadai dalam ruang tergelap kalbu manusia. Karena, sebagaimana diwejangkan Kanjeng Nabi, “Sesungguhnya Iblis itu melarutkan tipuliciknya dalam aliran darah manusia.” Legenda tentang Iblis yang bermuasal dari Al-Quran juga literatur Hadits selanjutnya menjadi topik sentral di mana benih-benih biografi Iblis meruah dalam pelbagai kajian. Di antaranya pada sekisar dramatisasi penolakan dan godaannya terhadap Adam dan Hawa juga para nabi sesudahnya.

Iblis yang riwayatnya pernah menggegerkan takhta akhirat itu tentu dicatat dengan tinta merah oleh kebanyankan kaum beriman sebagai musuh terbesar nan terkutuk. Namun sebaliknya, misteri pembangkangan dan selubung remang-senyap kepribadian Iblis justru menggelindingkan setampuk wacana diskursif bahwa pada dirinya sejak azali tersemat misteri lain yang menggelontorkan inklusivisme dan dialektika yang paradoksal dan, lantaran itu, menjadi kontroversial. “Dialah makhluk yang lebih bersifat monoteistik ketimbang Tuhan itu sendiri,” begitu komentar Iqbal seraya menirukan kegundahan Attar dalam kitabnya Mazharul Aja’ib.

Percampuhan dialektis tentang rahasia batin Iblis dalam psikologi kaum sufi ini juga dieksplorasi secara intensif oleh murid Annemarie Schimmel: Peter J. Awn, lewat bukunya Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi (Bentang: 2000, Yogyakarta). Dalam buku ini Peter coba memblejeti biografi Iblis hingga ke ranah ambiguitas paling rawan dan terkelam yang membikin gonjang-ganjing dimensi tauhid yang baku dan given. Karena begitu melimpah dan kompleksnya unggunan cerita Iblis dalam khazanah kesufian, sehingga kajian semacam ini memerlukan studi lanjut yang lebih teliti dan cermat.

Fokus dari kajian Iblisologi di atas berpusar pada pertarungan batin antara Iblis dengan terutama para sufi (juga para nabi) yang mengabadikan segenap hidupnya di jalan ketuhanan. Maka, pencapaian kesejatian fana’ dalam kontemplasi dialektis dengan Iblis menjadi titik tolak untuk mengasah mencambuk kedalaman batin mereka. Sumber referensi kaum sufi rata-rata berupa cuplikan kisah pengalaman yang terserak meruah dari banyak karya sufi. Seperti kisah tentang kegentaran Iblis ketika berhadapan dengan seorang sufi yang benar-benar telah menghayati kesejatian fana’ fil fana’. Ia-lah Ain al-Qudhat yang pernah melukiskan kembara batinnya dalam kisah maharingkas berikut: Saat kalbuku tiba-tiba disingkapkan oleh cahaya gaib Ilahi; kulihatlah ia berwajah gulana. Ia terbit dari sepercik cahaya gerhana matahari dan kudengar lolongannya terasa pahit menyayat yang meletus dari sedebu pasir kuning di mana aku saat itu lagi rebahan istirah. Ia berkata padaku, “Kau sedang merenungkan apa?” Kujawab, “Kematian selalu membayangi langkahku.” Tanyanya lagi, “Dengan cara apa kau mengatasinya?” Jawabku, “Aku saat ini hanya membutuhkan kain kafan.” Ia bertanya lagi, “Apakah kau tidak menginginkan keajaiban lain dari dunia ini?” Kujawab ia dengan agak jengkel, “Semua tanah yang kupijak adalah kuburanku. Hanya itulah keajaiban yang berharga bagiku.” Mendengar itu, dengan raut masam campur kesal, ia meninggalkanku begitu saja sambil menggerutu dalam hati; alangkah membosankannya manusia yang satu ini!

Cerita di atas, jika direnungi dalam kerangka psikologi sufi, bahwa kembara spiritual Ain al-Qudhat tidak bisa dibaikan begitu saja tanpa campur-tangan Iblis. Andaikata, tanpa perannya yang penuh muslihat itu, Ain al-Qudhat tak akan menemukan lika-liku peristiwa dan kecamuk batin sehingga kelak ia dapat mengungkai rahasia Tuhan dan ketersingkiran Iblis. Bahkan Al Hallaj justru mengakui tanpa tedeng aling-aling saat ia berkata dalam Tawasin-nya, “Guru spiritualku adalah Iblis dan Firaun.”

Iblis memang sosok cerdik nan fasih mendongengkan kabar tersamar ihwal tujuh ratus langkah menuju pencerahan makrifatullah. Di padang pengembaraan inilah para sufi menceburkan diri demi merengkuh cahaya Ilahi, meski masih samar adakah mereka benar-benar menemukan jalan yang benar. Siapa yang berani menyana jika Al-Hallaj atau Suhrawardi al-Maqtul termakan muslihat Iblis berupa kesombongan spiritual tatkala mereka merasa benar sebagai syahid sejati yang telah hulul dalam Tuhan? Hingga kini persoalan seputar wahdatul wujud semacam itu masih tetap krusial diberdebatkan.

Selanjutnya, dan ini yang lebih penting, bagaimana kaitan antara Tuhan sendiri dengan Iblis? Menurut R.C. Zaehner dalam Our Savage God (New York: Sheed&Ward, 1974), peran Iblis adalah sebagai instrumen Tuhan dalam celah-ceruk probabilitas amr dan iradah-Nya. Karena instrumen Iblis tak lain menebarkan penderitaan dan kerusakan, kendati semua tanggung-jawabnya terkembali pada Tuhan. Maka, pertanyaan yang muncul kemudian apakah Tuhan terlibat atas kebejatan yang dilahirkan Iblis? Tetapi mengapa Tuhan tidak mengendalikan Iblis dan mencegah penyebaran kejahatannya? Sebab, bagi Zaehner, masih ada kejahatan dalam hati Tuhan yang paling rahasia. Dia-lah Al-Rahman sekaligus saevus dues, Yang Maha Pengasih juga Yang Maha Kejam dan Penghancur yang menakutkan. Barangkali hanya segelintir orang yang sudi bergelut dengan sekian pertanyaan tentang keadilan Tuhan dan si Terkasih yang Terkutuk ini.

Lepas dari kecamuk pemikiran di atas, Iblis sejatinya, dalam kesadaran ambangnya itu, begitu pasrah memperuntukkan dirinya membanjiri roh manusia dengan kegelisahan dan kemungkaran tanpa memperhitungkan kutukan yang bakal menimpanya kelak. Namun yang perlu dicatat: dari jasa Iblislah derajat penghambaan sejati manusia terukir cemerlang dalam lanskap kronik spiritualisme Islam.

Suara Merdeka, 17 Juni 2007.

Buku, Membaca, dan Pengarang

Fahrudin Nasrulloh

The world exists because the books exists.
If God is, it is because He is in the book.
-- Edmond Jabès, Je bâtis ma demeure --

Sejarah semesta adalah panggung pertunjukan yang lahir dari khayalan, bebayang teka-teki magis dan renungan Tuhan. Buku, terutama kitab suci, adalah medium yang dijadikan manusia untuk mengenal dirinya, semesta dan Tuhannya. Barangkali benar apa yang didedahkan oleh Edmond Jabès bahwa dunia ada lantaran buku ada, jika Tuhan ada, itu pun lantaran Dia ada dalam buku. Sebagaimana juga yang diyakini manusia beriman, bahwa kitab suci dari setiap agama merupakan lentera kehidupan, penuntun jalan menuju kebenaran dan keabadian. Dan di sini kita tidak membahas ihwal kitab suci, namun bagaimana kita memaknai buku dan ikhtiar membaca, lebih-lebih, sampai sejauh mana seorang pengarang kuasa melahirkan karyanya, menyerap inspirasi dari proses mahapanjang dalam membaca buku.

Syahdan, suatu saat, tatkala Borges ditanya oleh seorang sahabatnya: Demi siapa penulis berkarya? Ia hanya menjawab, “Demi teman-temanku dan untuk melampaui ruang dan waktu.” Boleh jadi sebagian penulis menganggap dengan gamang bahwa dunia tak lebih sekadar catalog mungil nan komplit untuk mencari jejak kebenaran. Maka mungkin saja dunia adalah harta karun yang menakjubkan, wadah segala yang padat menguap menjadi udara, hingga memantik prahara keyakinan bagi manusia. Di sinilah pengarang, sebagai manusia yang bernalar, terus mencari jati dirinya, salah satunya, dengan cara menulis, dengan segala alasan, dengan unggunan kecemasan dan kecamuk impian.

Sebuah tulisan atau kitab atau buku, menurut Virginia Woolf, seperti rawa-rawa purba dari sekadar potongan kertas yang bersetubuh dengan lem dan benang. Pengarang bakal menggigil di tepian, dan menunggu tenggelam bersama dengan semacam pikiran yang mengerikan, terus larut dalam keabadiannya, dan mungkin tidak akan pernah hidup kembali.

Setiap buku yang kita baca adalah padang aksara yang menyimpan berlaksa makna di mana kita berusaha membaca kehidupan ini beserta segala keajaiban yang memancar berpenderan dari dalamya. Dengan membaca, lambat laun, kita membentuk karakter, melalui kebiasaan sehari-hari yang terus berulang, dengan curahan pikiran, mengembangkan imajinasi dan kerja keras hingga kita mampu menentukan siapa diri kita yang sebenarnya. Karena itu, seorang pengarang yang baik kerap berkeyakinan bahwa ia harus menuliskan takdirnya sendiri, tentu sebagai pengarang yang baik, dengan terus menulis sampai akhir hayat. Kita adalah kata-kata, ujar Leon Bloy, atau tulisan dari buku gaib, dan satu-satunya yang tak sirna di dunia adalah buku; adalah dunia itu sendiri. Omnis mundi creatura, quasi liber et picture, nobis est speculum; semua makhluk di dunia, bagaikan buku dan gambar, kaca cermin bagi kita. Demikian kata penyair Alanus.

Lantas seperti apa hubungan antara buku, proses membaca dan pengarang? Sudah pasti ketiga hal ini tidaklah bisa dipisahkan. Saling berjalin berkelindan. Buku adalah api, membaca adalah proses memantik api dan pengarang adalah si penyulut api. Satu pertanyaan sederhana bagi Walter Benyamin tentang mengapa seseorang memutuskan diri menjadi pengarang: karena ia tidak menemukan sebuah buku apa pun yang bisa membuatnya bahagia. Bisa jadi lantaran adanya, ungkap Alain de Botton, sebuah buku yang baik malah justru dapat membungkam pikiran dan imajinasi pengarang.

Jika demikian, benarkah pengarang yang menghasilkan karya unggul tidak pernah membaca buku yang baik? Tidak juga. Atau mungkin, banyak pengarang yang menemui kemandulan, bahkan kemalangan, dalam berkarya setelah membaca sebuah karya bermutu yang mengakibatkan -- dengan segala keagungan sekaligus kutukan dari karya itu -- imajinasi dan daya ciptanya terkubur mati, bahkan tak akan bangkit untuk selamanya? Atau kita sepakat dengan sugesti yang sederhana, seperti yang dilontarkan oleh Toni Morrison, “Bila ada sebuah buku yang ingin kau baca, tapi buku itu belum pernah ditulis, maka engkaulah yang mesti menuliskannya.” Namun memang ada peristiwa, jika kita simak sejarah, bahwa Musailamah al-Kazzab, si nabi palsu itu, yang merasa hebat dan pede membikin syair-syair untuk menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an. Tapi akhirnya ia gagal dan merana.

Boleh jadi, bagi pengarang yang selalu diamuk kebimbangan dalam proses kepengarangannya; spirit membaca, pada akhirnya, memang diperlukan untuk mengisap dan menyingkap semua rahasia kehidupan. Untuk mengusir semua yang tak hidup, agar kematian tak pernah hidup dalam kehidupan yang sekejap ini. Dan, hidup yang berkaki kuat, seperti seruan Sindhunata, adalah hidup yang menyejarah, namun bagaimana kita bisa tahu sejarah, jika kita tidak membaca? Hidup yang berkaki kuat adalah hidup yang tidak sempit dan berani menjelajah, tapi bagaimana kita tahu akan yang luas, dan mendapat inspirasi untuk penjelajahan, jika kita tidak membaca? Hidup yang berkaki kuat adalah hidup yang percaya akan adanya penopang yang menyangga kelemahan kita, atau yang menguatkan diri kita tanpa kita sadari, namun bagaimana kita tahu akan rahmat dan anugerah tersebut, bila kita tidak membaca?

Membaca adalah juga sebentuk perlawanan untuk memenangkan kebaikan dan memaknai kesia-siaan. Membaca adalah disiplin hidup. Bagi pengarang, mengurung diri dalam buku demi membangkitkan, merangsang, dan mengalahkan kecemasan serta kemalasan merupakan suatu keniscayaan. “Kubaca apa saja demi kesunyianku sendiri! Darahku adalah nerakaku, kurasakan maut yang terus membelah dalam jiwaku, tapi di sanalah kebesaran dan kekuatanku mengekal,” demikian pekik Kafka. Pendek kata, pengarang akan menjadi punah seketika bila ia berhenti membaca.

Saat kita dilanda kegagalan dalam mencapai impian kita mengenai karya yang sempurna, kita akan bertanya dan terus bertanya; adakah karya yang sempurna? Lantaran sebuah buku bangkit dari bacaan dan kembara hayalan, maka manusia seolah-olah dikutuk untuk terus mencari dirinya dengan segala cara dan sumber pengetahuan untuk menemukan makna hidupnya. Padahal tak ada sesuatu pun yang sebenarnya dicari manusia, jika merujuk sabda Buddha: hidup ini adalah jalan menuju diri sendiri. Pikiran adalah cermin, bacaan yang menuntun kita dalam menjalani kehidupan, ialah yang menentukan kebahagiaan dan penderitaan.

Pada awalnya Buddha mengajarkan pada para cantriknya bahwa dunia hanyalah cetusan pikiran belaka, tapi ternyata banyak manusia dilimbung linglung nan celaka di dalamnya. Diombang-ambingkan kesadaran tak bertuan, sehingga Buddha, melalui para cantriknya, mengabadikan sabda-sabdanya dalam Bhagavad Gita. Demikian pula para sufi yang memandang dunia mengada berasal dari Kekuatan dan Kemahabesaran Yang Kuasa. Maka tak heran bila Ibnu Arabi berhasil menuangkan gagasannya dalam Shajarat al-Kawn, salah satu karya magnum opus-nya yang monumental selain Futuhul Makkiyah.

Tampaknya dalam sejarah manusia, terutama bagi para filsuf dan mistikus, terus berusaha mencari rahasia semesta. Dan salah satu mediumnya adalah dengan berkarya, membaca dan menelaah warisan leluhur mereka lalu mengembangkannya. Pada taraf selanjutnya, gagasan tentang semesta beserta segenap isinya dari masa silam hanya bisa mengabadi lewat buku, pada kulit hewan atau guratan yang ditatahkan pada batu dan kayu.

Ketika buku bisa menjadi wadah bagi ingatan demi melampaui waktu dan ketak-abadi-an manusia, maka setiap gagasan bagi pengarang merupakan suluk untuk memaknai apa yang fana dan mencari rahasia yang baka. Andaikan buku, tradisi membaca, dan kerja hidup kepengarangan menjadi bagian terpenting peradaban manusia, tentu kita akan bisa mengambil banyak manfaat darinya. Bayangkan saja bila di dunia ini tidak ada buku bahkan kitab suci, pastilah hidup manusia bagai mayat kesiangan dan bayang-bayang waktu yang kelam. Hidup tanpa buku seperti tubuh tanpa ruh, pohon tanpa daun, atau sebendel Kitab Keheningan tanpa tulisan. Verba vollen scripta manent.

Suara Merdeka, 18 Maret 2007

Senin, 04 Agustus 2008

Pengarang dan Proses Kreatif

Fahrudin Nasrulloh

Suatu hari di pertengahan April 2006, ketika saya bertandang ke sebuah toko buku di Yogyakarta, secara kebetulan saya mendapati sebuah buku karya A.S. Laksana berjudul Creative Writing: Tips dan Strategi untuk Menulis Cerpen dan Novel. Satu hal yang menarik dari buku ini adalah si penulis menawarkan strategi baru (baca: tips dan kiat) dalam dunia karang-mengarang. Memang, sebelumnya, telah menjamur buku tentang kiat mengarang mulai dari Yuk Menulis Cerpen Yuk (Muhammad Diponegoro), Mengarang Itu Gampang (Arswendo Atmowiloto), Menulis Nggak Perlu Bakat (Ebo) dan lain-lain.

Secara umum, buku-buku serupa itu, jika kita baca tuntas, cukuplah membakar adrenalin kita untuk menulis, dengan tips-tips ringan dan menyehatkan, tanpa membayangkan alangkah dalam proses itu banyak hal yang patut diperhitungkan dengan matang dan sadar diri: suatu proses kreatif yang dilematis dan tak segampang yang dibayangkan. Namun, bagi A.S. Laksana, dalam pengantar buku tersebut, menyuguhkan semacam greget yang sederhana tapi penting bahwa menulis itu perlu demi menjaga kesadaran ingatan dan kesehatan tubuh jika kita ingin menjadi pengarang yang baik.

Pertanyaan yang muncul kemudian: apa makna dan mengapa proses kreatif jadi begitu sulit diwujudkan? Mengapa pula ia membutuhkan keberanian yang besar? Bukankah itu semata soal menjernihkan cerapan mata dan pikiran atas sekerumun ingatan, simbol dan mitos yang tak bernyawa? Betapa kita dihadapkan dengan gelimang teka-teki yang mustahil dapat dipecahkan.

Proses kreatif, bagi pengarang, seolah-olah lahir dari kuburan mimpi, semacam perjumpaan secara intensif antara manusia yang sadar dengan dunianya: antara yang nyata dan yang maya. Jika boleh dibilang bahwa hakikat proses kreatif berada dalam bebayang absurditas diri yang demikian personal dan nyaris tak tersadari, yang memantik kecemasan yang gulana, semacam kemuskilan sekaligus tertawan dalam ikhtiar mengenal dunia yang kita diami. Maka, dengan sendirinya, proses kreatif juga merupakan sebentuk upaya penanggulangan eksistensi diri.

Tampaknya inilah yang tiada henti menghantui sebagian pengarang, bahkan menjadi kutukan, untuk menulis hingga berdarah-darah sampai mati. Mencambuknya demi melahirkan karya yang tak lekang oleh waktu dan ruang. Jika demikian, kenikmatan apa yang menggerakkan pengarang untuk berkarya? Lanskap indrawi macam apa yang menyusup ke dalam jiwanya saat ia menikmati teks yang dihasilkannya? Sekadar jouissance (kenikmatan) atau ocehan yang tak rampung diomelkan? Memang, dalam ranah sastra, mengutip Foucault, teks tak lebih sekadar a point of rest, a halt, a blazon, a flat. Sehubungan dengan itu, novelis Karel Capek pernah ditanya tentang apa yang membuatnya ingin jadi penulis, ia menjawab, “Karena saya benci membicarakan tentang diri saya sendiri.” Barangkali Camus, Goethe, Chateaubriand, Proust, Calvino, Faulkner, Kafka, dan Joyce tak memberondongkan gagasan besar. Mereka sekadar melahirkan makna keberadaan yang asing. Mereka tak memekikkan sabda, tapi semata mencari bentuk dari bayangan mimpi-mimpi mereka. Mungkin menulis adalah tindakan gaib atas nama kata dengan segenap penghancuran dan kepalsuan, dan berakhir dengan karya.

Lantas bagaimana dengan bakat itu sendiri yang kerap dikaitkan dengan pengarang? Desiderius berdalih, “Bakat itu tidak ada. Yang ada hanyalah keinginan yang kuat untuk mewujudkan setiap impian. Tak seorang pun menghormati bakat, sejauh itu masih tersembunyi.” Mungkin bakat secara neurologis dapat dikatakan sebagai “berkah”. Tetapi justru kreatifitas yang terus dinyalakan harus menjadi tindakan yang nyata.

Apabila menilik proses kreatif para pujangga Jawa kuno, sebagaimana ungkapan Kuntara Wiryamartana bahwa, panca indra merupakan dimensi raga untuk memasuki jiwa. Pengendapan dimulai dengan semadi untuk menyesap pengalaman ragawi ke kedalaman jiwa. Di sinilah tahap penjinakan berbagai aktivitas untuk bisa masuk ke dunia sukma, dunia niskala: dunia tanpa ukuran, tanpa rasa, tanpa warna, semua serba kosong. Dalam dimensi inilah terjadi hubungan dengan Yang Maha Tunggal.

Pada titik pertemuan itu, imbuhnya, ilham tidak dapat digambarkan sebelum masuk ke dimensi jiwa. Jadi, ada penjernihan ilham dari ruang sukma ke ruang jiwa, yang kemudian diwujudkan dalam ruang raga. Proses itu, tuturnya, terus berlangsung dalam diri para kawi (pujangga) yang berkreasi untuk menempuh kesempurnaan. Pengalaman yang luas tentang kehidupan di dunia nyata menjadi syarat mutlak para kawi untuk memunculkan kreatifitas. Pengalaman yang bersifat naratif maupun dramatik dikumpulkan sebanyak mungkin untuk diwujudkan dalam kakawin (karya sastra). Kakawin keluar dari puncak budi, kemudian menyurup ke diri pengarang, dan akhirnya, ia kuasa mewujudkan karyanya.

Proses kreatif, intinya, adalah pengenalan diri hingga bisa mengendalikan proses tersebut. Sebagaimana dalam cerita wayang Dewa Ruci. Pertemuan dua kesejatian antara Bima dengan Dewa Ruci yang melebur menjadi satu. Dewa Ruci adalah perwujudan jiwa Bima. Gambaran ini digambarkan dengan petuah Carilah kayu besar yang menjadi sarang angin. Makna kayu besar adalah wadag manusia yang hidup karena ada siklus udara saat bernapas. (baca Agung Setyahadi Merefleksi Proses Kreatif Leluhur, Kompas, Sabtu 25 Maret 2006).

Menurut W.S. Rendra, proses kreatif adalah manjing ing kahanan nggayuh ngarsaning Hyang Widi (melebur dalam dunia nyata dan merengkuh dunia keilahian). Pengarang harus memahami sekaligus menghayati proses kreatifnya sebagai bentuk yogabasa: sujud karya. Bahwa setiap karya harus menjadi roh ibadah; bahwa prinsip berkarya adalah untuk mewujudkan kebebasan, kejujuran dan keindahan.
Lantaran menulis merupakan peristiwa magis demi menghadirkan dunia baru, maka proses kreatif, menurut Archibald MacLeish dalam Poetry and Experience, tak lain setakik usaha guna mempertemukan dua kutub: antara yang Ada dan yang Maya. Terus berjuang mengetuk keheningan atas ke-Tidak Ada-an untuk menghasilkan Ada.

Sebab itu, segala hal yang bersentuhan dengan proses kreatif memang menjadi suatu keniscayaan yang musti dijalani oleh setiap pengarang. Melenyapkan bayangan kegagalan dan tak bersekutu dengan manusia berjiwa malang dan yang gentar menghadapi penderitaan. Di sinilah pengarang mempertaruhkan segenap hidupnya: hidup terkutuk sebagai pengarang atawa hidup dalam omong kosong yang menyedihkan. Sejalan dengan itu, Isaac Asimov juga bersemboyan, “Hidup adalah menulis sebagaimana hidup adalah bernapas.”

Stephen King dalam bukunya On Writing memancangkan anjuran senada dalam proses kreatif, “Ada dua hal yang harus kau lakukan: banyak membaca dan banyak menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas.”

Andaikata pengarang adalah sosok pencecap rahasia tabir semesta demi menggetarkan jiwa pembacanya, seperti angin yang mendesir pada permukaan air, maka benarkah anggapan bahwa pengarang mengarang karena tersiksa menanggung misteri keberadaannya? Lalu apa yang diburu pengarang sepanjang hayat? Mengukir nama di atas tinta emas dalam buku sejarah dan berharap dikenang sepanjang jaman? Ihwal ini, Lord Byron menyindir, “Apa arti ketenaran? Kecuali mengisi bagian kertas yang tak pasti, selain sesuatu yang bakal hilang dalam uap. Sekadar untuk itu: manusia menulis, bicara, berkhotbah, membunuh, dan membakar mimpi buruk mereka. Untuk merengkuh yang pada akhirnya hanyalah debu.”

Lantas bagaimana dengan pengarang yang gagal, setelah bernanah-nanah menguras daya kreatifnya namun hanya menghasilkan karya sampah (atau plagiat)? Mungkin, bagi pengarang yang berhasil ataupun yang gagal: itu adalah urusan batin mereka masing-masing. Setidaknya, mereka telah berusaha sekuat tenaga -- dengan segenap kesia-siaan dan kepedihan -- untuk memaknai hidup mereka.

Akhirnya, bagi siapa pun, yang menekuni dunia kepengarangan; menulis itu perlu, sebagaimana yang diimbau oleh A.S. Laksana di atas, dengan segala keluhuran hingga keremeh-temehannya. Maka dari itu saya hanya mengucapkan kepada semua pengarang: selamat berkarya dan teruslah berkarya!

Jawa Pos, 6 Agustus 2006.

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar