Judul Buku : Kolecer & Hari Raya Hantu, 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal
Editor : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Selaras Pena Kencana
Cetakan I : Juni 2010
Tebal : 224 halaman
Peresensi : S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
KOLECER atau baling-baling, sering juga disebut kitiran, mainan anak-anak yang terbuat dari daun kelapa muda atau bisa juga dari bambu yang akan berputar jika ditiup angin. Semasa kecil, saya dan teman-teman sering berlari bersama mencari angin supaya kolecer dapat berputar dengan kencang. Semakin kencang putaran kolecer, semakin rianglah hati kami.
Begitu juga yang dirasakan Neng Tin dalam cerpen Kolecer yang ditulis Nenden Lilis A. Neng Tin, tokoh penutur, menceritakan kehidupan Bi Nanah yang berputar seperti kolecer.
Bi Nanah adalah murid dari ayah Neng Tin. Karena kesibukan orang tua Neng Tin, di masa kecilnya, Bi Nanahlah yang mengasuhnya. Setiap pagi Neng Tin dibawa ke rumah Aki dan Nini (kakek dan nenek Bi Nanah), di mana Bi Nanah tinggal. Sore harinya ia dipulangkan ke rumah orang tuanya. Di tempat itulah Neng Tin kecil tahu bagaimana Bi Nanah dengan tekun merawat keperluan Aki dan Nininya yang sudah payah.
Bi Nanah juga yang mengurus kebun dan harta benda Aki dan Nini karena semua anaknya telah menjadi orang sukses di kota. Mereka tak sempat lagi merawat Aki dan Nini. Meskipun Aki sangat menginginkan Bi Nanah sekolah tinggi dan sukses seperti paman dan bibinya di kota, Bi Nanah memilih merawat Aki dan Nini. Dia kasihan dengan kondisi kakek dan neneknya itu jika harus mengurus kebun dan sawahnya, mengurus diri sendiri pun sudah susah.
Sejak kelas I SD, ibu Bi Nanah meninggal dunia, sedang ayahnya kabur dengan perempuan lain. Ibunya yang malang itu sebelumnya sakit-sakitan karena tak tahan setelah suaminya membawa istri baru di kampungnya. Sepeninggal sang ibu, Bi Nanah tinggal dengan Aki dan Nini. Keduanya sangat menyayangi Bi Nanah. Sejak kecil hingga Bi Nanah beranjak remaja, Aki selalu membuatkan kolecer yang sangat disukai Bi Nanah.
Neng Tin sangat menikmati suara kolecer itu. Sampai dia dewasa pun masih terngiang-ngiang suaranya, juga seluruh kenangan bersama Bi Nanah dan Aki-Nininya. Neng Tin tak menyangka, kolecer itu bukan sekadar mainan anak-anak, melainkan juga tamsil hidup. Setelah lama berpisah dengan Bi Nanah, dalam pertemuan yang mengharukan, di mana Bi Nanah telah tua, Neng Tin tersadar kalau hidup Bi Nanah seperti kolecer, mainan kesukaannya.
Bi Nanah akhirnya mengalami nasib serupa dengan ibunya, sakit karena perlakuan laki-laki yang menikahinya karena menginginkan harta, hingga ajal menjemput Bi Nanah. Laki-laki itu menyangka Bi Nanah akan mendapatkan warisan dari Aki dan Nini karena Bi Nanahlah yang tekun merawatnya.
Ternyata anak-anak Aki dan Nini tak memberikan apa pun pada Bi Nanah sepeninggal Aki dan Nini, karena Bi Nanah hanya cucu. Maka laki-laki itu kecewa dan berselingkuh dengan banyak perempuan lain. Bi Nanah sakit-sakitan hingga ajal menjemputnya.
Kolecer adalah salah satu dari kumpulan cerpen yang berjudul Kolecer & Hari Raya Hantu, 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal. Kumpulan cerpen ini berangkat dari beragam cerita dan tragedi anak manusia berdasar kearifan lokal di daerah masing-masing, membuat kita seperti bertamasya ke khazanah budaya Nusantara.
Buku ini memuat 20 cerpen dari 11 penulis yang sudah cukup mempunyai nama, seperti Benny Arnas yang menulis dua cerpen dalam buku ini. Cerpen Anak Ibu yang Kembali sebagai cerpen pembuka cukup membuat pembaca terkesima. Cerpen ini mengisahkan kesunyian perempuan tua yang mempunyai lima anak perempuan dan telah dibawa suami masing-masing. Mereka jauh dari orang tuanya yang sebatang kara, tak bisa merawat, atau sekadar menengok sang ibu.
Sang ibu terkenang dengan almarhum suaminya yang begitu menginginkan anak laki-laki. Di hari tuanya, dia baru menyadari kenapa suaminya sangat menginginkan anak laki-laki. Karena anak perempuan akan dibawa pergi, sedangkan anak laki-laki akan membawa istrinya dan diharapkan dapat menemani hari tua mereka.
Apa pun kisah yang disajikan penulis, kearifan lokal, baik itu tradisi, pandangan hidup, adat istiadat, maupun dongeng rakyat, yang diceritakan ulang menjadi latar belakang hampir pada seluruh cerpen. Membaca kumcer ini, kita akan mencecap bening nilai lokal lengkap dengan kompleksitas yang ada di dalamnya, seperti cerpen Pastu yang ditulis Oka Rusmini, yang kental dengan nilai-nilai Hindu-Bali yang meyakini karma.
Sementara itu, Khrisna Pabichara dalam tiga cerpennya, Laduka, Membunuh Parakang dan Selaras, menjadikan budaya Sulawesi Selatan sebagai latar budaya sekaligus landasan menatah cerita. Baminantu yang diracik Sastri Yunizarti Bakri mengisahkan pertentangan adat istiadat Minangkabau-Jawa antara ibu dan anak yang mamahami adat secara berbeda. Kisah lain yang membicarakan adat yakni Antara Bali dan Balige, yang ditulis Cesillia Ces. Cerpen ini mengisahkan sepasang kekasih yang berbeda suku dan adat istiadat, memilih melepaskan diri dari “warisan” norma leluhurnya atas nama cinta.
Kisah yang tak kalah seru ditulis Gunawan Maryanto tentang Sarpakenaka. Dalam cerpen ini, penulis mampu menghadirkan masa lalu ke masa kini, tradisi dan teknologi, dengan menghadirkan sejarah kelam G30S PKI, yang membuat pembaca terbetot untuk menandaskan cerita. Selain cerpenis di atas, ada cerpen Hanna Fransisca yang menulis Hari Raya Hantu.
Lalu, ada Noena dengan Sri Sumini, dengan cerita berlatar belakang Hong Kong, yang mengisahkan TKI. Selain itu, ada cerpen Sutan Iwan Sukri Munaf, dan Saut Poltak Tambunan. Menelusuri karya mereka, memperkaya pengetahuan kita tentang kearifan yang ada di bumi Indonesia.
S.W. Teofani, cerpenis
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label S.W. Teofani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S.W. Teofani. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 28 Mei 2011
Senin, 18 April 2011
Mendedah ‘Warah’ Sejarah
Judul buku: Syekh Bajirum dan Rajah Anjing
Penulis : Fahrudin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : 1, Februari 2011
Tebal : 142 halaman
Peresensi : S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
MEMBACA kumpulan cerpen tak ubah melakukan tamasya kisah. Kadang kita mendapatkan pengalaman batin pun pengetahuan lahir yang membuat sejenak melancong ke alam cerita yang diwarahkan penulisnya. Begitu pun kisah yang diwedarkan Fahrudin Nasrullah dalam Syekh Bajirum dan Rajah Anjing. Pembaca disuguhi bermacam kisah dengan latar sejarah pada 11 cerpen yang diagitnya. Cerpen satu dan lainnya menyuguhkan tema dan cita yang berbeda, tapi tetap dengan latar sejarah.
Ada dua tema besar yang tertuang dalam beragam judul, yaitu sejarah dengan warna sejarah kolonial dan sufistik Islam yang kental dengan kejawaan. Apa pun tema besarnya, Fahrudin mampu menggiring pembaca lesap dalam cerita yang dibangunnya dalam silang sengkarut permasalahan sang tokoh.
Seperti pada pembuka yang bertitel Surabawuk Megatruh. Pembaca diajak berpikir keras pada perdebatan filsafat yang mengerutkan dahi. Bagi yang tidak akrab dengan cerita-cerita dan tokoh-tokoh besar pesantren seperti Hasan Besari, tentu akan semakin mengernyit dan meraba-raba cerita lain pelengkap pemahaman tentang cerita yang disuguhkan. Beruntung ada catatan kaki yang membantu kita memahami pertanyaan yang menyelinap atas ketidakhafalan kita pada sejarah itu. Meskipun catatan kaki panjang dan kadang menjadi cerita baru yang terpisah masih menyisakan kehausan di sana sini.
Tapi bagi pembaca yang akrab dengan kisah hikmah tokoh-tokoh dunia pesantren dan sejarah, membaca kumpulan cerpen Fahrudin menjadi tamasya nostagik dan arung sejarah yang mengasyikkan. Bagaimana pun latar samping pembaca akan mendapat hal serupa, kembara pengetahuan sejarah dan spiritual.
Kadang kita diajak menyelam pada tokoh sekelas Hasan Besari yang mempunyai kedalaman pemahaman tauhid. Juga tokoh Surabawuk, sebagai tokoh antagonis dalam Surabawuk Megatruh, dengan pemahaman filsafat purna tentang Zat Ilahiat. Mengikuti pertarungan pemikiran keduanya kita seperti bertarung dengan diri sendiri. Hati dan pemikiran tersedot untuk kalimat demi kalimat, frasa demi frasa, yang akhirnya membetot seluruh energi untuk mengkaji lagi ketauhidan yang kita miliki.
Dialog keduanya bukanlah hitam-putih dan benar salah seperti tokoh-tokoh antagonis-protagonis cerpen pada umumnya. Pada setiap perdebatan-baik dari Hasan Basari maupun Surobawuk-mengandung pesan filsafat yang menghujam hati pun pikiran untuk mempertanyakan kembali pemahaman pun perilaku tauhid kita.
Dengan bahasa yang estetis, Fahrudin mampu membunuh kejenuhan pembaca. Meskipun dahi berkerut, dia berhasil menggiring pembaca untuk merasa rugi jika tak menyelesaikan ceritanya.
Penulis tak melukiskan Surobawuk tokoh antagonis yang bermantel salah, tak semua kata-katanya nyasar, banyak makna yang diudarnya membuat kita berkaca pada semua peribadatan pun keyakinan yang sudah mapan. Begitu pun Kiai Hasan Besari. Meskipun dia seorang kiai besar, pada kisah ini tidak disujudi atau diajeni. Dengan mencak-mencak bertabur sumpah serapah Surobawuk mementalkannya pada derajat kesetaraan untuk bertanding pengetahuan.
Pada kisah pertama Fahrudin menutupnya dengan sublimasi yang diserahkan pada imajinasi intelektual pun spiritual pembaca, tanpa menggurui.
Warna kental lain yang ada pada setiap cerpen-cerpen Fahrudin adalah dialetika filsafat dan keyakinan. Membacanya mengingatkan kita pada kitab Jawa Serat Centini yang telah dinovelkan oleh Elizabet Inandiak. Dalam Serat Centini kita diajak mengudal-udal keyakinan kita sampai pada titik manunggaling kawulo gusti.
Dalam kumpulan cerpen ini kita akan melakukan tamasya ruhiah yang ditatah dalam sejarah pun kekentalan dialektika keimanan. Bukan hanya pada cerpen Megatruh Surobawuk, pada cerpen Montel pun kita diajak berdialektika dengan diri sendiri tentang hakikat diri, ruang, sepuluh bayangan diri kita yang mengejawantah dalam laku.
Dalam cerpen Syekh Bajirum dan Rajah Anjing yang menjadi titel kumpulan cerpen ini, pembaca akan mengikuti safari ruhani yang dilakuakan Syekh Bajirum. Di sini kita tidak semata-mata melakukan telusur kata. Ada telisik sejaran perjalanan petualang unggul Ibnu Batuta juga sang tokoh Syekh Bajirum. Selain kita disuguhi data-data sejarah yang membuat pembaca nyaris tak sedang membaca fiksi, tapi menyigi pengetahuan sejarah dalam kembara sastra.
Dilengkapi referensi kitab kuning khas pesantren membuat kita tak hanya melakukan wisata sejarah, juga menjadi seorang santri yang sedang mengulang pelajaran di pondok pesantren yang telah lama ditinggalkan.
Bagi pembaca yang yang mempunyai latar belakang pesantren, kisah ini tak asing. Meskipun tak mengurangi pesona untuk membacanya karena dikemas dalam gaya dan bahasa yang cukup nyastra. Dan bagi pembaca yang baru bersentuhan dengan literatur pesantren, akan menyisakan penasaran untuk membaca lagi kisah lain yang berhubungan dengan cerpen-cerpen ini.
Kumpulan cerpen dengan penghantar Afizal Malna dan diterbtikan Pustaka Pujangga ini pun menghadirkan kisah sejarah Nusantara dan Babad Tanah Jawa, seperti cerpen Memburu Maria Van Pausten, Puputan Walanda Tack, Prahara Giri Kedaton. Cerpen lain yang tak kalah seru, antara lain Nubuat dari Sabrang, Duel Dua Bajungan, Arung Beliung, dan Huru Hara Babarong.
Akhirnya kumpulan cerpen ini sayang dilewatkan bagi para pencinta sastra karena kita tidak hanya mendapatkan cerita pada gugusan kata, banyak makna untuk kita renungkan sebagai jajan pasar kehidupan.
S.W. Teofani, cerpenis
Penulis : Fahrudin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : 1, Februari 2011
Tebal : 142 halaman
Peresensi : S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
MEMBACA kumpulan cerpen tak ubah melakukan tamasya kisah. Kadang kita mendapatkan pengalaman batin pun pengetahuan lahir yang membuat sejenak melancong ke alam cerita yang diwarahkan penulisnya. Begitu pun kisah yang diwedarkan Fahrudin Nasrullah dalam Syekh Bajirum dan Rajah Anjing. Pembaca disuguhi bermacam kisah dengan latar sejarah pada 11 cerpen yang diagitnya. Cerpen satu dan lainnya menyuguhkan tema dan cita yang berbeda, tapi tetap dengan latar sejarah.
Ada dua tema besar yang tertuang dalam beragam judul, yaitu sejarah dengan warna sejarah kolonial dan sufistik Islam yang kental dengan kejawaan. Apa pun tema besarnya, Fahrudin mampu menggiring pembaca lesap dalam cerita yang dibangunnya dalam silang sengkarut permasalahan sang tokoh.
Seperti pada pembuka yang bertitel Surabawuk Megatruh. Pembaca diajak berpikir keras pada perdebatan filsafat yang mengerutkan dahi. Bagi yang tidak akrab dengan cerita-cerita dan tokoh-tokoh besar pesantren seperti Hasan Besari, tentu akan semakin mengernyit dan meraba-raba cerita lain pelengkap pemahaman tentang cerita yang disuguhkan. Beruntung ada catatan kaki yang membantu kita memahami pertanyaan yang menyelinap atas ketidakhafalan kita pada sejarah itu. Meskipun catatan kaki panjang dan kadang menjadi cerita baru yang terpisah masih menyisakan kehausan di sana sini.
Tapi bagi pembaca yang akrab dengan kisah hikmah tokoh-tokoh dunia pesantren dan sejarah, membaca kumpulan cerpen Fahrudin menjadi tamasya nostagik dan arung sejarah yang mengasyikkan. Bagaimana pun latar samping pembaca akan mendapat hal serupa, kembara pengetahuan sejarah dan spiritual.
Kadang kita diajak menyelam pada tokoh sekelas Hasan Besari yang mempunyai kedalaman pemahaman tauhid. Juga tokoh Surabawuk, sebagai tokoh antagonis dalam Surabawuk Megatruh, dengan pemahaman filsafat purna tentang Zat Ilahiat. Mengikuti pertarungan pemikiran keduanya kita seperti bertarung dengan diri sendiri. Hati dan pemikiran tersedot untuk kalimat demi kalimat, frasa demi frasa, yang akhirnya membetot seluruh energi untuk mengkaji lagi ketauhidan yang kita miliki.
Dialog keduanya bukanlah hitam-putih dan benar salah seperti tokoh-tokoh antagonis-protagonis cerpen pada umumnya. Pada setiap perdebatan-baik dari Hasan Basari maupun Surobawuk-mengandung pesan filsafat yang menghujam hati pun pikiran untuk mempertanyakan kembali pemahaman pun perilaku tauhid kita.
Dengan bahasa yang estetis, Fahrudin mampu membunuh kejenuhan pembaca. Meskipun dahi berkerut, dia berhasil menggiring pembaca untuk merasa rugi jika tak menyelesaikan ceritanya.
Penulis tak melukiskan Surobawuk tokoh antagonis yang bermantel salah, tak semua kata-katanya nyasar, banyak makna yang diudarnya membuat kita berkaca pada semua peribadatan pun keyakinan yang sudah mapan. Begitu pun Kiai Hasan Besari. Meskipun dia seorang kiai besar, pada kisah ini tidak disujudi atau diajeni. Dengan mencak-mencak bertabur sumpah serapah Surobawuk mementalkannya pada derajat kesetaraan untuk bertanding pengetahuan.
Pada kisah pertama Fahrudin menutupnya dengan sublimasi yang diserahkan pada imajinasi intelektual pun spiritual pembaca, tanpa menggurui.
Warna kental lain yang ada pada setiap cerpen-cerpen Fahrudin adalah dialetika filsafat dan keyakinan. Membacanya mengingatkan kita pada kitab Jawa Serat Centini yang telah dinovelkan oleh Elizabet Inandiak. Dalam Serat Centini kita diajak mengudal-udal keyakinan kita sampai pada titik manunggaling kawulo gusti.
Dalam kumpulan cerpen ini kita akan melakukan tamasya ruhiah yang ditatah dalam sejarah pun kekentalan dialektika keimanan. Bukan hanya pada cerpen Megatruh Surobawuk, pada cerpen Montel pun kita diajak berdialektika dengan diri sendiri tentang hakikat diri, ruang, sepuluh bayangan diri kita yang mengejawantah dalam laku.
Dalam cerpen Syekh Bajirum dan Rajah Anjing yang menjadi titel kumpulan cerpen ini, pembaca akan mengikuti safari ruhani yang dilakuakan Syekh Bajirum. Di sini kita tidak semata-mata melakukan telusur kata. Ada telisik sejaran perjalanan petualang unggul Ibnu Batuta juga sang tokoh Syekh Bajirum. Selain kita disuguhi data-data sejarah yang membuat pembaca nyaris tak sedang membaca fiksi, tapi menyigi pengetahuan sejarah dalam kembara sastra.
Dilengkapi referensi kitab kuning khas pesantren membuat kita tak hanya melakukan wisata sejarah, juga menjadi seorang santri yang sedang mengulang pelajaran di pondok pesantren yang telah lama ditinggalkan.
Bagi pembaca yang yang mempunyai latar belakang pesantren, kisah ini tak asing. Meskipun tak mengurangi pesona untuk membacanya karena dikemas dalam gaya dan bahasa yang cukup nyastra. Dan bagi pembaca yang baru bersentuhan dengan literatur pesantren, akan menyisakan penasaran untuk membaca lagi kisah lain yang berhubungan dengan cerpen-cerpen ini.
Kumpulan cerpen dengan penghantar Afizal Malna dan diterbtikan Pustaka Pujangga ini pun menghadirkan kisah sejarah Nusantara dan Babad Tanah Jawa, seperti cerpen Memburu Maria Van Pausten, Puputan Walanda Tack, Prahara Giri Kedaton. Cerpen lain yang tak kalah seru, antara lain Nubuat dari Sabrang, Duel Dua Bajungan, Arung Beliung, dan Huru Hara Babarong.
Akhirnya kumpulan cerpen ini sayang dilewatkan bagi para pencinta sastra karena kita tidak hanya mendapatkan cerita pada gugusan kata, banyak makna untuk kita renungkan sebagai jajan pasar kehidupan.
S.W. Teofani, cerpenis
Selasa, 01 Februari 2011
Menjadikan Sederhana, Bukan Hal Sederhana
S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
Membuat segala sesuatu menjadi sederhana dan mudah diterima bukanlah pekerjaan yang sederhana. Butuh kejelian dan kematangan menguasai hal-hal yang tidak sederhana. Di zaman serbasulit kesederhanaan menjadi “barang mewah” yang tak mudah mendapatkannya. Sehingga tidak lagi dikatakan langkah sederhana.
Mengungkai kesederhanaan dengan upaya yang tidak sederhana, mungkin itulah yang sedang dilakukan Komunitas Berkat Yakin (Kober). Komunitas yang diasuh Ari Pahala Hutabarat ini, beberapa bulan terakhir (mulai Juni 2010), concern menggarap mikroteater, sebagai terobosan untuk menggairahkan kembali dunia perteateran di Lampung.
Pertunjukan teater yang semula identik dengan banyaknya pemain, lamanya durasi pementasan, dan rumitnya jalan cerita, “disederhanakan” menjadi pementasan yang lebih singkat; durasi antara 5—20 menit, dengan sedikitnya aktor, bahkan dapat dilakukan dengan seorang saja (monolog), tanpa mengurangi pesan cerita, bobot teatrikal, dan estetika pementasan.
Sekali lagi, ini bukan pekerjaan sederhana. Butuh kekuatan dari masing-masing komponen, terutama aktor, untuk membetot perhatian penonton menyimak pesan yang disampaikannya. Seorang aktor yang memainkan lakon dalam mikroteater ditutut untuk seefisien mungkin melakukan gerak, ekspresi, juga improvisasi. Segala hal yang ditampilkan harus mewakili pesan, tidak ada hal-hal “mubazir” dalam mikroteater. Kesalahan kecil saja yang diperbuat aktor dalam mikroteater, akan mencederai pertunjukan. Tapi jika sang aktor bisa mermain all out, akan menjadi prestasi dengan bobot berlipat, karena mampu berbuat maksimal dengan personel yang minim. Butuh kesungguhan dan kemampuan akting mumpuni bagi aktor mikroteater.
Begitu pun aksesori panggung. Setiap yang tertangkap mata wajib benda-benda yang mewakili tujuan mementasan. Tak ada “lemak” pada “tubuh” mikroteater. Inilah kerja menuju sederhana yang tidak sederhana itu. Butuh keseriusan dan konsistensi bagi setiap kru mikroteater.
Ini telah ditunjukan oleh aktor-aktor Kober dalam empat kali pementasan yang dilakukan pada November—Desember 2010, di tempat berbeda. Diawali dari pementasan di “rumah sendiri”, di UKMBS Unila, Kober mementaskan lakon Tua, apresiasi dari cerpen Putu Wijaya, diperankan Eka Yulianti. Lalu Kehendak Menjadi Hening, yang mengapresiasi puisi Aripahala Hutabaratm, diaktori Arya Wunanda; dan Hati yang Meracau, karya Edgar Allan Poem, dengan aktor Yulizar Fadli.
Pada pementasan kedua, di Gedung FKIP Unila, dan ketiga, di Umitra, dipentaskan lakon Tua, dengan pemeran yang sama dengan pementasan pertama, dan Bara di Hamparan Salju, karya Osman Saadi, lakon hasil improvisasi Iswadi Pratama, dipentaskan oleh Kiki Rahmatika.
Sedangkan pada pergelaran di Metro, dipentaskan Tua, Bara di di Hamparan Salju, dan Hati yang Meracau. Untuk pementasan keempat, di UML, pada Kamis (24-11), ditampilkan Kehendak Menjadi Hening, Bara di Hamparan Salju, dan Merdeka, karya Putu Wijaya, yang dimainkan Ahmad Thohamudin. Pementasan akan terus berlangsung di 13 kota/kabupaten hingga Oktober 2011, dengan 50 kali pementasan.
Dari empat kali pementasan ini bisa menjadi ukuran kebeberhasilan awal aktor Kober atas “uji coba” mikroteater di Lampung.
Sebagai contoh Bara di Tengah Salju, dilakonkan Kiki Rahmatika, yang memerankan tokoh Aisyah. Kekuatan akting Kiki, diimbangi aksesori panggung yang mendukung (tetap dengan konsep efisien-efektif), pementasan ini mampu menyedot emosi penonton. Menyimak pertunjukan ini seperti benar-benar menyaksikan Aisyah, gadis Aljazair di masa perang, yang sendirian di tengah hutan pada musim salju. Gadis malang itu menjadi gundah saat suara gemuruh pesawat pengintai tentara Prancis mendekat. Dia sekuat tenaga menghindarinya, terseok-seok di antara tebalnya salju dengan hawa dingin menusuk tulang. Deritanya belum tunai, karena pamannya, Sya’i, akhirnya syahid diberondong tentara Prancis. Gadis itu pun menyelamatkan diri di tempat persembunyiuan, dalam dingin salju dan cekam ketakutan setiap mendengar gemuruh pesawat tentara Prancis yang mengincarnya.
Sepenjang pertunjungan Bara di Hamparan Salju, penonton akan terbawa ke negeri yang jauh, dengan kekejaman tentara Prancis yang diekspresikan dengan tandas oleh Kiki. Meskipun dengan konsep efisian, tatanan panggung mampu menampilkan ganasnya musim salju, suara deru pesawat diimbangi ekspresi ketakuatan Aisyah membawa kita menyelam pada kejahatan perang, khususnya bagi perempuan.
Monolog Aisyah tentang kekejaman tentara Prancis, kehilangannya keluarga, derita trauma perang, lenyanya sang kekasih, membawa kita sampai pada keinsyafan bahwa di negeri lain, di tanah yang jauh itu, kemerdekaan sangat mahal. Seluruh cerita membawa penonton pada cekam kengerian perang yang dipuncaki dengan rebahnya gadis Aisyah hingga terkubur salju, membiarkan air duka kita meleleh. Kiki mampu memerankan Aisyah dengan apik, yang membuat kita ingin menyaksikannya lagi.
Lain Kiki, lain pula Eka Yulianti, yang berakting pada lakon Tua, karya Putu Wijaya. Diawali dengan pemandangan sosok nenek sedang duduk di kursi, yang dengan susah payah, karena matanya yang telah rabun, menjahit tangan pakaian. Kesenyapan yang terbangun memelantingkan kita pada sunyi hari tua yang mencemaskan. Dalam hening itu muncul tamu yang tidak dikenalnya, mengahadirkan ketidaknyamanan. Tamu itu mendekat, membuat sang nenek bereaksi menghindar. Tapi dia terus mendekat dan merapat, sekuat tenaga wanita tua itu menghindarinya. Dilemparkannya benda-benda yang bisa diraihnya hingga mengenai tamu asingnya. Tapi tamu itu terus mendekat dan merapat hingga merasuk ke dalam tubuh si nenek. Eka Yulianti memerankan nenek dengan piawai, dan mampu mendalami kecemasan dan ketakutan si nenek pada tamu, tamu ketuaan, yang menderanya. Penonton terbawa pada suguhan kengerian sang nenek pada teror tua yang menderanya. Pementasan ini menjadi warna lain pada perjalanan mikroteater yang tak kalah menarik.
Begitu juga lakon lain, Kehendak Menjadi Hening dan Merdeka, yang dipentaskan dengan durasi singkat, tapi mampu mendedah ruang kosong diri penonton.
Pementasan awal dari rencana panjang ini menjadi gambaran “keberhasilan” terobosan yang mampu dilakukan mikroteater. Dengan jumlah penonton yang selalu memenuhi ruangan, bisa menjadi ukuran bahwa “uji coba” dan kerja-kerja cerdas ini diterima. Dengan banyaknya jam terbang yang akan mereka jalani, pasti akan menghibahkan banyak pelajaran baru juga kematangan bertakting.
Terlalu sayang bagi penyuka teater melewatkan pentas-pentas selanjutnya yang akan mendedah keheningan dunia perteateran Lampung. Langkah berani ini dapat menjadi hadiah indah di ujung tahun bagi dunia perteateran kita. Selamat berkreasi, selamat menyaksikan.
*) Cerpenis, tinggal di Lampung
http://www.lampungpost.com/
Membuat segala sesuatu menjadi sederhana dan mudah diterima bukanlah pekerjaan yang sederhana. Butuh kejelian dan kematangan menguasai hal-hal yang tidak sederhana. Di zaman serbasulit kesederhanaan menjadi “barang mewah” yang tak mudah mendapatkannya. Sehingga tidak lagi dikatakan langkah sederhana.
Mengungkai kesederhanaan dengan upaya yang tidak sederhana, mungkin itulah yang sedang dilakukan Komunitas Berkat Yakin (Kober). Komunitas yang diasuh Ari Pahala Hutabarat ini, beberapa bulan terakhir (mulai Juni 2010), concern menggarap mikroteater, sebagai terobosan untuk menggairahkan kembali dunia perteateran di Lampung.
Pertunjukan teater yang semula identik dengan banyaknya pemain, lamanya durasi pementasan, dan rumitnya jalan cerita, “disederhanakan” menjadi pementasan yang lebih singkat; durasi antara 5—20 menit, dengan sedikitnya aktor, bahkan dapat dilakukan dengan seorang saja (monolog), tanpa mengurangi pesan cerita, bobot teatrikal, dan estetika pementasan.
Sekali lagi, ini bukan pekerjaan sederhana. Butuh kekuatan dari masing-masing komponen, terutama aktor, untuk membetot perhatian penonton menyimak pesan yang disampaikannya. Seorang aktor yang memainkan lakon dalam mikroteater ditutut untuk seefisien mungkin melakukan gerak, ekspresi, juga improvisasi. Segala hal yang ditampilkan harus mewakili pesan, tidak ada hal-hal “mubazir” dalam mikroteater. Kesalahan kecil saja yang diperbuat aktor dalam mikroteater, akan mencederai pertunjukan. Tapi jika sang aktor bisa mermain all out, akan menjadi prestasi dengan bobot berlipat, karena mampu berbuat maksimal dengan personel yang minim. Butuh kesungguhan dan kemampuan akting mumpuni bagi aktor mikroteater.
Begitu pun aksesori panggung. Setiap yang tertangkap mata wajib benda-benda yang mewakili tujuan mementasan. Tak ada “lemak” pada “tubuh” mikroteater. Inilah kerja menuju sederhana yang tidak sederhana itu. Butuh keseriusan dan konsistensi bagi setiap kru mikroteater.
Ini telah ditunjukan oleh aktor-aktor Kober dalam empat kali pementasan yang dilakukan pada November—Desember 2010, di tempat berbeda. Diawali dari pementasan di “rumah sendiri”, di UKMBS Unila, Kober mementaskan lakon Tua, apresiasi dari cerpen Putu Wijaya, diperankan Eka Yulianti. Lalu Kehendak Menjadi Hening, yang mengapresiasi puisi Aripahala Hutabaratm, diaktori Arya Wunanda; dan Hati yang Meracau, karya Edgar Allan Poem, dengan aktor Yulizar Fadli.
Pada pementasan kedua, di Gedung FKIP Unila, dan ketiga, di Umitra, dipentaskan lakon Tua, dengan pemeran yang sama dengan pementasan pertama, dan Bara di Hamparan Salju, karya Osman Saadi, lakon hasil improvisasi Iswadi Pratama, dipentaskan oleh Kiki Rahmatika.
Sedangkan pada pergelaran di Metro, dipentaskan Tua, Bara di di Hamparan Salju, dan Hati yang Meracau. Untuk pementasan keempat, di UML, pada Kamis (24-11), ditampilkan Kehendak Menjadi Hening, Bara di Hamparan Salju, dan Merdeka, karya Putu Wijaya, yang dimainkan Ahmad Thohamudin. Pementasan akan terus berlangsung di 13 kota/kabupaten hingga Oktober 2011, dengan 50 kali pementasan.
Dari empat kali pementasan ini bisa menjadi ukuran kebeberhasilan awal aktor Kober atas “uji coba” mikroteater di Lampung.
Sebagai contoh Bara di Tengah Salju, dilakonkan Kiki Rahmatika, yang memerankan tokoh Aisyah. Kekuatan akting Kiki, diimbangi aksesori panggung yang mendukung (tetap dengan konsep efisien-efektif), pementasan ini mampu menyedot emosi penonton. Menyimak pertunjukan ini seperti benar-benar menyaksikan Aisyah, gadis Aljazair di masa perang, yang sendirian di tengah hutan pada musim salju. Gadis malang itu menjadi gundah saat suara gemuruh pesawat pengintai tentara Prancis mendekat. Dia sekuat tenaga menghindarinya, terseok-seok di antara tebalnya salju dengan hawa dingin menusuk tulang. Deritanya belum tunai, karena pamannya, Sya’i, akhirnya syahid diberondong tentara Prancis. Gadis itu pun menyelamatkan diri di tempat persembunyiuan, dalam dingin salju dan cekam ketakutan setiap mendengar gemuruh pesawat tentara Prancis yang mengincarnya.
Sepenjang pertunjungan Bara di Hamparan Salju, penonton akan terbawa ke negeri yang jauh, dengan kekejaman tentara Prancis yang diekspresikan dengan tandas oleh Kiki. Meskipun dengan konsep efisian, tatanan panggung mampu menampilkan ganasnya musim salju, suara deru pesawat diimbangi ekspresi ketakuatan Aisyah membawa kita menyelam pada kejahatan perang, khususnya bagi perempuan.
Monolog Aisyah tentang kekejaman tentara Prancis, kehilangannya keluarga, derita trauma perang, lenyanya sang kekasih, membawa kita sampai pada keinsyafan bahwa di negeri lain, di tanah yang jauh itu, kemerdekaan sangat mahal. Seluruh cerita membawa penonton pada cekam kengerian perang yang dipuncaki dengan rebahnya gadis Aisyah hingga terkubur salju, membiarkan air duka kita meleleh. Kiki mampu memerankan Aisyah dengan apik, yang membuat kita ingin menyaksikannya lagi.
Lain Kiki, lain pula Eka Yulianti, yang berakting pada lakon Tua, karya Putu Wijaya. Diawali dengan pemandangan sosok nenek sedang duduk di kursi, yang dengan susah payah, karena matanya yang telah rabun, menjahit tangan pakaian. Kesenyapan yang terbangun memelantingkan kita pada sunyi hari tua yang mencemaskan. Dalam hening itu muncul tamu yang tidak dikenalnya, mengahadirkan ketidaknyamanan. Tamu itu mendekat, membuat sang nenek bereaksi menghindar. Tapi dia terus mendekat dan merapat, sekuat tenaga wanita tua itu menghindarinya. Dilemparkannya benda-benda yang bisa diraihnya hingga mengenai tamu asingnya. Tapi tamu itu terus mendekat dan merapat hingga merasuk ke dalam tubuh si nenek. Eka Yulianti memerankan nenek dengan piawai, dan mampu mendalami kecemasan dan ketakutan si nenek pada tamu, tamu ketuaan, yang menderanya. Penonton terbawa pada suguhan kengerian sang nenek pada teror tua yang menderanya. Pementasan ini menjadi warna lain pada perjalanan mikroteater yang tak kalah menarik.
Begitu juga lakon lain, Kehendak Menjadi Hening dan Merdeka, yang dipentaskan dengan durasi singkat, tapi mampu mendedah ruang kosong diri penonton.
Pementasan awal dari rencana panjang ini menjadi gambaran “keberhasilan” terobosan yang mampu dilakukan mikroteater. Dengan jumlah penonton yang selalu memenuhi ruangan, bisa menjadi ukuran bahwa “uji coba” dan kerja-kerja cerdas ini diterima. Dengan banyaknya jam terbang yang akan mereka jalani, pasti akan menghibahkan banyak pelajaran baru juga kematangan bertakting.
Terlalu sayang bagi penyuka teater melewatkan pentas-pentas selanjutnya yang akan mendedah keheningan dunia perteateran Lampung. Langkah berani ini dapat menjadi hadiah indah di ujung tahun bagi dunia perteateran kita. Selamat berkreasi, selamat menyaksikan.
*) Cerpenis, tinggal di Lampung
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar