Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Tanjung Dungkak, adalah kota kecil dari sekian puluh kota yang pernah aku singgahi. Dibanding Tanjung Benoa Bali, kota ini tak sekedar jauh wilayah teritorialnya, melainkan jauh pula tingkat peradapannya. Kawasan sunyi dari lalu lalang menusia, minim gedung mewah, tak ada kendaraan transportasi dan dunia gemerlap. Keadaan ini berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Tanjung Benoa Bali yang tak sepi turis manca negara silih berganti menyinggahi.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 April 2012
Jumat, 21 Oktober 2011
Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.
Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.
Dari sudut politik, kita dapat amati setiap menjelang berlangsungnya pemilu. Partai politik, bahkan calon kandidat presiden sekali pun, memprioritaskan agenda utama dalam rangka menggaet suara dari Jawa Timur. Dengan jumlah penduduk yang padat dalam wilayah yang tanggung dibanding Kalimantan, Sulawesi, Sumatera serta Irian, diasumsikan kalau menang pemilu di Jawa Timur, kemungkinan besar menang pemilu di Indonesia.
Secara antropologi, kekondangan Jawa Timur dikenal dunia sejak pernah bercokolnya kerajaan besar Majapahit, kerajaan yang luasnya mencapai duapertiga belahan bumi hingga ke semenanjung Madagaskar dan beberapa bagian negara Filipina.
Potensialitas intelektual juga tumbuh merebak. Banyak tokoh kaliber nasional menduduki posisi penting di pemerintahan pusat. Dari lima kali pergantian presiden di Indonesia, tiga diantaranya dari Jawa Timur: Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Sejarawan Barat abad terkini mulai menggeser teorinya tentang perdaban tertinggi di dunia. Bukan lagi Mesopotamia-Byzantium. Karena pada wilayah ini tidak ditemukan indikator pendukung terjadinya kebudayaan tertinggi: yaitu banyaknya gunung berapi dan aliran sungai sebagai kemakmuran agrarian. Gunung berapi pangkal kesuburan vulkanik, serta sungai sebagai sarana penunjang irigasi. Sementara wilayah kecil Jawa Timur dihuni gunung berapi terbanyak di dunia. Sedari Kelud hingga Semeru, tercatat sekitar 10 gunung berapi. Tak ada yang menyamai wilayah ini.
Dari sinilah optimisme degub kebangkitan jaman berpusat di Jawa Timur. Apalagi bagi penduduk muslim, sebagai indikator ke dua setelah jumlah gunung berapi dan sungai, ialah keyakinan ajaran islam.
Sholat, bagi muslim merupakan referentasi kehidupan total yang menyangkut perilaku moral individu dan sosial. Sudah pasti, terangkum pula ilmu pengetahuan di dalamnya. Bagi muslim, runtutan gerak rukun sholat berpusat ketika tahiyat akhir. Sebuah posisi yang menjadi ujung sahnya sholat. Do’a tahiyat akhir pun merupakan dialektika langsung antara Nabi Muhammad dengan Alloh saat mi’roj ke Sidratul Muntaha, sebuah pertemuan dengan kapasitas peradaban tertinggi. Posisi tahiyat akhir dapat ditarik temu ruasnya dengan peta propinsi Jawa Timur.
Posisi tahiyat akhir, jika dilihat dari atas (langit) persis peta Jawa Timur. Yakni kaki kiri: tumit, telapak hingga ujung jari menjadi semenanjung Banyuwangi: Blambangan, pesisir Ketapang, Sritanjung, pesisir Bondowoso, Situbondo hingga lengkungan pantai Kenjeran. Sementara telapak kaki kanan menjorok ke timur menjadi pulau Madura. Sedang lutut kanan menjadi tapal batas Bojonegoro. Dan lutut kaki kiri juga menjorok ke pojok barat menjadi perbatasan Pacitan. Pendeknya, sepulang mi’roj dari Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad membawa peta Jawa Timur: peta kebangkitan jaman yang sudah ditentukan theokrasi.
Indikator berikutnya, Syeh Subakir jauh dari Ubyekistan datang mbabat alas di pulau Jawa ini, yang kemudian meninggalkan jejak para wali dalam missi membangun peradaban masyarakat Jawa. Dari 9 wali, 5 diantaranya di Jawa Timur pesisir utara. Sebagian ahli kebatinan berasumsi bahwa keberadaan 5 wali yang menduduki pesisir utara, berfungsi sebagai pengimbang pulau Jawa Timur agar tidak miring ke selatan, sebab bagian selatan pulau Jawa banyak dihuni gunung berapi. Terbukti pulau Jawa miring ke utara yang ditandai dengan aliran air yang pasti ke utara. Kecuali satu sungai di Tulungagung mengalir ke selatan. Sungai yang dibangun Belanda sabagai alternatirf pengesatan wilayah tersebut.
Barulah berdiri kerajaan islam Demak yang diamping Sunan Kalijaga. Dengan sistim perdikannya, Sunan Kalijaga membagi kekuasaan kepada 147 anak Brawijaya V dari Mataram hingga seluruh wilayah nusantara. Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga juga sebelumnya menguasai pusat persenjataan Majapahit yang dipegang oleh Empu Supo, tokoh persenjataan yang tak tertandingi waktu itu. Padatan gelombang waktu ini simbol penjinakan kekuasaan militer sebelum menjadi negara federal atau yang dikenal dengan otonomi daerah.
Kebangkitan Jawa Timur masa kolonial ditandai pekik takbir Bung Tomo untuk membakar semangat jihat Arek Suroboyo yang didukung para santri seJawa Timur. Terdepaklah agresi militer II yang dikenal dengan pertempuran 10 November.
Ada satu pertanyaan untuk menyongsong jati diri Jawa Timur sebagai peta kebangkitan jaman mendatang. Yakni sejauhmana kesiapan pelaku sejarah di Jawa Timur mengetahui jati dirinya bahwa mereka berpotensi besar? Naif jika Jawa Timur tidak mempersiapkan kebesarannya sedini mungkin. Selayaknyalah Jawa Timur mulai menentukan skala kebesaran dalam berkiprah. Sekaliber regional, nasional, atau mendunia?
_______________
*) Penulis Sabrank Suparno. Menulis esai, puisi, cerpen, cerkak bahasa nJombangan. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Team pengelola media web: www.Sastra-Indonesia.com. Forum Sastra Jombang.blogspot. Alumnus MAN Filial Tambakberas di Balongrejo dan Pondok Pesantren Kwadungan Sumobito tahun 1997. Jebol 2 semester Universitas Sunan Giri (Unsuri) jurusan sospol HI dan Universitas Taruna (Unita) jurusan pendidikan. Lalu bekerja sebagai pedangan Art Shop di Bali hingga tahun 2003. Pernah kursus bahasa Inggris di BESC (Basic Ingglis Study Club) Kediri. Pernah menjadi Team Riset litbang Kajian Keislaman di STAIN Kediri. Pernah berkerja nyambi membina Yayasan Anak Yatim Tunas Harapan di Sumenep tahun 2006. Perumus jaringan pemuda tiga negara: Indonesia, Portugal, Timor Laste, sehingga pada 12 Juli 2009 menggelar acara: Diskusi Ilmiah Budaya yang dihadiri Carlos Miquel Fonseca Horta (seniman asal Portugal) di tempat penulis bersama remaja desa. Pernah menjalani sebagai pedagang kaligrafi keliling seputar Tugu Pahlawan-halaman Balai Kota Madya-Kebun Binatang- Masjid Agung Surabaya. Memenangi lomba penulisan esai sastra Islami Jamaah Maiyah yang diselenggarakan oleh Emha Ainun Nadjib dkk. Aktif sebagai penulis warta di Pengajian Padhang mBulan di Jombang dan Komunitas Bang Bang Wetan di Balai Pemuda Surabaya (tiap bulan) hingga sekarang. Team motifator penulis Jombang hingga sekarang. Pemangku Devisi Kepenulisan di Komunitas Seni Tirto Agung Mojoagung-Jombang. Ajeg bertani dan menghadiri undangan pembinaan jurnajistik hingga sekarang. Esai dan cerpen pernah dimuat beberapa media Rasar Mojokerto-Jombang (esai), Radar Surabaya (esai), Bulletin Maiyah Jawa Timur (esai), Majalah Santri Tebuireng (esai), Buku Antologi Hujan Sunyi Banaspati (cerpen). Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02, desa Plosokerep, kecamatan Sumobito, kabupaten Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com.HP: 085-735-970-909.
http://sastra-indonesia.com/
Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.
Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.
Dari sudut politik, kita dapat amati setiap menjelang berlangsungnya pemilu. Partai politik, bahkan calon kandidat presiden sekali pun, memprioritaskan agenda utama dalam rangka menggaet suara dari Jawa Timur. Dengan jumlah penduduk yang padat dalam wilayah yang tanggung dibanding Kalimantan, Sulawesi, Sumatera serta Irian, diasumsikan kalau menang pemilu di Jawa Timur, kemungkinan besar menang pemilu di Indonesia.
Secara antropologi, kekondangan Jawa Timur dikenal dunia sejak pernah bercokolnya kerajaan besar Majapahit, kerajaan yang luasnya mencapai duapertiga belahan bumi hingga ke semenanjung Madagaskar dan beberapa bagian negara Filipina.
Potensialitas intelektual juga tumbuh merebak. Banyak tokoh kaliber nasional menduduki posisi penting di pemerintahan pusat. Dari lima kali pergantian presiden di Indonesia, tiga diantaranya dari Jawa Timur: Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Sejarawan Barat abad terkini mulai menggeser teorinya tentang perdaban tertinggi di dunia. Bukan lagi Mesopotamia-Byzantium. Karena pada wilayah ini tidak ditemukan indikator pendukung terjadinya kebudayaan tertinggi: yaitu banyaknya gunung berapi dan aliran sungai sebagai kemakmuran agrarian. Gunung berapi pangkal kesuburan vulkanik, serta sungai sebagai sarana penunjang irigasi. Sementara wilayah kecil Jawa Timur dihuni gunung berapi terbanyak di dunia. Sedari Kelud hingga Semeru, tercatat sekitar 10 gunung berapi. Tak ada yang menyamai wilayah ini.
Dari sinilah optimisme degub kebangkitan jaman berpusat di Jawa Timur. Apalagi bagi penduduk muslim, sebagai indikator ke dua setelah jumlah gunung berapi dan sungai, ialah keyakinan ajaran islam.
Sholat, bagi muslim merupakan referentasi kehidupan total yang menyangkut perilaku moral individu dan sosial. Sudah pasti, terangkum pula ilmu pengetahuan di dalamnya. Bagi muslim, runtutan gerak rukun sholat berpusat ketika tahiyat akhir. Sebuah posisi yang menjadi ujung sahnya sholat. Do’a tahiyat akhir pun merupakan dialektika langsung antara Nabi Muhammad dengan Alloh saat mi’roj ke Sidratul Muntaha, sebuah pertemuan dengan kapasitas peradaban tertinggi. Posisi tahiyat akhir dapat ditarik temu ruasnya dengan peta propinsi Jawa Timur.
Posisi tahiyat akhir, jika dilihat dari atas (langit) persis peta Jawa Timur. Yakni kaki kiri: tumit, telapak hingga ujung jari menjadi semenanjung Banyuwangi: Blambangan, pesisir Ketapang, Sritanjung, pesisir Bondowoso, Situbondo hingga lengkungan pantai Kenjeran. Sementara telapak kaki kanan menjorok ke timur menjadi pulau Madura. Sedang lutut kanan menjadi tapal batas Bojonegoro. Dan lutut kaki kiri juga menjorok ke pojok barat menjadi perbatasan Pacitan. Pendeknya, sepulang mi’roj dari Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad membawa peta Jawa Timur: peta kebangkitan jaman yang sudah ditentukan theokrasi.
Indikator berikutnya, Syeh Subakir jauh dari Ubyekistan datang mbabat alas di pulau Jawa ini, yang kemudian meninggalkan jejak para wali dalam missi membangun peradaban masyarakat Jawa. Dari 9 wali, 5 diantaranya di Jawa Timur pesisir utara. Sebagian ahli kebatinan berasumsi bahwa keberadaan 5 wali yang menduduki pesisir utara, berfungsi sebagai pengimbang pulau Jawa Timur agar tidak miring ke selatan, sebab bagian selatan pulau Jawa banyak dihuni gunung berapi. Terbukti pulau Jawa miring ke utara yang ditandai dengan aliran air yang pasti ke utara. Kecuali satu sungai di Tulungagung mengalir ke selatan. Sungai yang dibangun Belanda sabagai alternatirf pengesatan wilayah tersebut.
Barulah berdiri kerajaan islam Demak yang diamping Sunan Kalijaga. Dengan sistim perdikannya, Sunan Kalijaga membagi kekuasaan kepada 147 anak Brawijaya V dari Mataram hingga seluruh wilayah nusantara. Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga juga sebelumnya menguasai pusat persenjataan Majapahit yang dipegang oleh Empu Supo, tokoh persenjataan yang tak tertandingi waktu itu. Padatan gelombang waktu ini simbol penjinakan kekuasaan militer sebelum menjadi negara federal atau yang dikenal dengan otonomi daerah.
Kebangkitan Jawa Timur masa kolonial ditandai pekik takbir Bung Tomo untuk membakar semangat jihat Arek Suroboyo yang didukung para santri seJawa Timur. Terdepaklah agresi militer II yang dikenal dengan pertempuran 10 November.
Ada satu pertanyaan untuk menyongsong jati diri Jawa Timur sebagai peta kebangkitan jaman mendatang. Yakni sejauhmana kesiapan pelaku sejarah di Jawa Timur mengetahui jati dirinya bahwa mereka berpotensi besar? Naif jika Jawa Timur tidak mempersiapkan kebesarannya sedini mungkin. Selayaknyalah Jawa Timur mulai menentukan skala kebesaran dalam berkiprah. Sekaliber regional, nasional, atau mendunia?
_______________
*) Penulis Sabrank Suparno. Menulis esai, puisi, cerpen, cerkak bahasa nJombangan. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Team pengelola media web: www.Sastra-Indonesia.com. Forum Sastra Jombang.blogspot. Alumnus MAN Filial Tambakberas di Balongrejo dan Pondok Pesantren Kwadungan Sumobito tahun 1997. Jebol 2 semester Universitas Sunan Giri (Unsuri) jurusan sospol HI dan Universitas Taruna (Unita) jurusan pendidikan. Lalu bekerja sebagai pedangan Art Shop di Bali hingga tahun 2003. Pernah kursus bahasa Inggris di BESC (Basic Ingglis Study Club) Kediri. Pernah menjadi Team Riset litbang Kajian Keislaman di STAIN Kediri. Pernah berkerja nyambi membina Yayasan Anak Yatim Tunas Harapan di Sumenep tahun 2006. Perumus jaringan pemuda tiga negara: Indonesia, Portugal, Timor Laste, sehingga pada 12 Juli 2009 menggelar acara: Diskusi Ilmiah Budaya yang dihadiri Carlos Miquel Fonseca Horta (seniman asal Portugal) di tempat penulis bersama remaja desa. Pernah menjalani sebagai pedagang kaligrafi keliling seputar Tugu Pahlawan-halaman Balai Kota Madya-Kebun Binatang- Masjid Agung Surabaya. Memenangi lomba penulisan esai sastra Islami Jamaah Maiyah yang diselenggarakan oleh Emha Ainun Nadjib dkk. Aktif sebagai penulis warta di Pengajian Padhang mBulan di Jombang dan Komunitas Bang Bang Wetan di Balai Pemuda Surabaya (tiap bulan) hingga sekarang. Team motifator penulis Jombang hingga sekarang. Pemangku Devisi Kepenulisan di Komunitas Seni Tirto Agung Mojoagung-Jombang. Ajeg bertani dan menghadiri undangan pembinaan jurnajistik hingga sekarang. Esai dan cerpen pernah dimuat beberapa media Rasar Mojokerto-Jombang (esai), Radar Surabaya (esai), Bulletin Maiyah Jawa Timur (esai), Majalah Santri Tebuireng (esai), Buku Antologi Hujan Sunyi Banaspati (cerpen). Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02, desa Plosokerep, kecamatan Sumobito, kabupaten Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com.HP: 085-735-970-909.
Minggu, 28 Agustus 2011
Lawatan Budaya Menggugah Kekuatan Desa
Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/
Perubahan Anda sudah disimpan
Berawal dari grenang-greneng antar seniman yang mengandaikan bagaimana caranya bisa mengekspresikan diri dalam satu forum dan tidak berbelit dengan urusan dana, lembaga dan atau instansi terkait, dari sanalah ide Lawatan Budaya muncul. Kemudian para seniman tersebut menyiasati daya untuk mewujutkan terlaksananya titik sentral ide tersebut. Sertamerta bagi yang ingin terlibat, pletikan kekuatan pun mulai terumus, bahwa tidak ada kata kunci yang jitu, kecuali membakar lemak jiwa dengan sistem‘rewang, soyo, gotongroyong, semua yang terlibat mengikhlaskan energi untuk urun mengisi agenda.
Berangkat dari gejolak kebebasan dan terlaksananya kemampuan berkesenian dimaksud, menandai awal ‘Komunitas Suket Indonesia’ terpanggil untuk terlibat. Namun keterlibatan ‘Suket’ dalam pelaksanaan ini hanyalah sebagai fasilitator yang mewadahi geliat para seniman. Jauh hari sebelumnya, seperti yang diungkapkan salah satu pentolan Suket: Mbah Catur (Kepala desa Mojowarno yang juga lulusan UMM tahun 1998) bersama istrinya Riris D. Nugrahini (lulusan IKIP Tuban 2001), “kalau teman-teman ingin menggebyarkan semangat berkesenian, dipersilahkan. Kami hanya bisa menyediakan tempat, yakni gedung Balai Desa, silahkan dipakai. Bagi yang jauh juga kami sediakan mess tidur. Soal hidangan, tur mergo kalian tamu, umpomo gak ono duwek yo tak utang-utangno, tapi gak iso mewah, sak onoke wae.” Berawal dari konsep semacam inilah munculnya gagasan Lawatan Budaya, yang informasinya kemudian disebar antar kawan seniman dengan jejaring facebook. Alhasil, siapa pun yang bersedia bergabung, artinya bukanlah sebagai fihak ter-undang, tapi berpartisipasi dengan uang saku sendiri yang disebut istilah rewang, gotongroyong di atas. Sama artinya bahwa siapa pun yang hadir, entah pada Lawatan Budaya yang sudah terlaksana atau pun yang akan datang, yang bersedia terlibat adalah sekaligus merangkap panitia, semua harus berkordinasi serempak, tanpa harus jagakno satu sama lain, atau dituankan.
Adapun gambaran secara gamblang proses terlaksananya Lawatan Budaya seperti yang diungkapkan Riris D. Nugrahini (Bu Lurah Mojowarno) di awal agenda Lawatan Budaya pada diskusi 23 Juni 2011, bahwa “Lawatan Budaya bermula dari niatan para seniman untuk melangsungkan ‘reuni plus’ menambah teman dengan jejaring baru.” Seperti yang sudah berlangsung, Lawatan Budaya teragenda dari tanggal 23-26 Juni 2011 lalu.
Repertoar tanggal 23 Juni 2011
Hadrah
Acara dibuka secara khitmat oleh penampilan seni Hadrah dari Ranting ISHARI desa Mojowarno. Pembukaan Hadrah molor hingga jam 20;00 dari jadwal semula jam 18:00. Hal ini dikarenakan Ranting ISHARI ini memiliki kegiatan rutin saban malam Jum’at untuk berhadrah di masjid seusai magrib (17:45-80:00) yang tidak bisa ditinggalkan. Namun sekali lagi, bahwa dalam rentetan Lawatan Budaya tidak menekankan teori praktis bardasar sketdjoule jadwal yang kemudian memaknai kegagalan jika terjadi kemelencengan dari planing terterap, tetapi lebih menekankan kesempatan, kemauan, serta kebersediaan tampil urun mengisi. Ketidaktepatan waktu bukanlah hal yang esensi, sepanjang satu fihak dengan fihak lain dalam waktu tunggu benar-benar masih berjuang bersama, berkesenian di tempat lain. Dengan demikian tidak ada kesan yang terbangun akibat kemoloran yang dianggap mencuri waktu orang lain.
Orasi Budaya
Seusai Hadrah, acara dilanjutkan dengan pemaparan konsep ‘Watak Nusantara Sebagai Negara Agraris’ oleh Pak Sunu Budiman selaku wakil warga desa Mojowarno. Dalam paparannya, Pak Sunu mengudal sejarah Majapahit yang khusus berkaitan dengan wilayah Mojowarno berdasarkan cerita turun-temurun dari nenek moyang setempat. Di antaranya bahwa sentra perekonomian Majapahit dahulu terletak di pelabuhan Canggu (sekarang wilayah sekitar pabrik Ciwi Mojokerto). Di Canggu ini dahulu serupa teluk yang menjorok dari sungai Brantas dan bermuara di selat Madura. Pusat pelabuhan Canggu tersebut sekarang ditandai dengan ‘Tugu atau Tonggak Gajah’. Dari Canggu inilah terkait erat dengan Mojowarno yang ditandai Candi Pangungak-an yang dalam bahasa masyarakat setempat berarti ‘ngenguk, nginceng, ndilok, memantau. Candi Pangungak-an berfungsi sebagai pengontrol, daya filterisasi berbagai transaksi dagang yang berlangsung di pelabuhan Canggu.
Pak Sunu juga menyingkap perihal ras asli warga Mojowarno berasal dari 3 wilayah, yakni Gunung Kendeng, Sidoarjo dan Yogyakarta. Khusus yang dari Jogja, adalah anak keturunan Pangeran Diponegoro yang lari ke wilayag timur saat geger makam leluhurnya yang hendak digusur Belanda yang mencanangkan pembangunan jalan Anyer-Situbondo.
Begitu pula ketika Pak Sunu memaknai buku ‘Negarakartagama karya Sota Soma dan Emputantular, kata Karta=aturan, Gama=senggama yang artinya menjalankan berkehidupan warga yang berhubungan erat dengan pertanian (sistem agraris).
Dalam buku Negarakartagama juga digambarkan pola budaya zaman Majapahit yang tertera semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Waha Wisesa’, yang diasumsikan sebagai kekuatan simbol kesederhanaan. Di mana kesederhanaan juga meliputi cara pribumi dalam mempertahankan tanah airnya dengan semboyan “Sak Dumuk Bathuk, Sak Nyari Bumi, dibelani sampek mati.”
Pak Sunu mengakhiri sambutannya dengan menyimpulkan contoh kongkrit keberadaan warga Mojowarno yang hingga kini belum terjadi kasus sengketa tanah antar warga. Ketidaksepahaman yang mengarah ke konflik warga, cukup diredam dengan rundingan antar sesepuh desa.
Monolog Andhika (Yogyakarta)
Meskipun anggota ISHARI kelar menampilkan tugasnya, tetapi mereka tidak langsung pulang. Anggota yang berjumlah sekitar 30 orang tersebut kemudian bergabung bersama para seniman untuk menyaksikan pementasan monolog sesi pertama yang diperankan oleh Andhika (Yogyakarta) dan sesi ke dua yang dibawakan oleh Galuh (Surabaya). Pementasan Andhika yang menyodorkan teater tubuh, gerak tanpa kata, tubuh yang berbicara, bagi warga desa terkesan rada aneh. Mereka membayangkan Andhika sama dengan pemain pencak silat jaman dulu yang hanya mengungkapkan ekspresi tubuh ketika menyelaraskan musik. Saya sempat bertanya kepada salah satu penonton, “apakah bapak mengerti apa yang dimaksud penari ini?” “Tidak,” jawabnya. Saya bertanya ulang, “tetapi apakah bapak percaya bahwa dibalik tariannya, sesungguhnya ada yang dimaksudkan tentang suatu hal?” “ Ya.”
Monolog Galuh (Surabaya)
Sesi kedua, panggung diisi pementasan monolog rekan Galuh (Surabaya) yang mengangkat tema kritik pengaruh globalisasi dengan judul ‘Kebun’. Naskah yamg diangkat Galuh bukanlah naskah berat, sebab masyarakat udik sudah akrab dengan cerita klasik ‘Kancil Nyolong Timun’. Namun, di sinilah kepiawaian Galuh sebagai seniman tertantang untuk menyuguhkan takhnik penceritaan berbeda dengan alur cerita umumnya. Galuh sebagai tukang cerita, berperan menjadi tiga aktor sekaligus, yakni Si Akulirik, Si Kancil dan Petani. Saat berperan sebagai tokoh Kancil, Galuh langsung berimprovisasi dengan salah satu penonton yang seketika didapuk sebagai Pak Tani yang memergoki ulah pencurian Kancil. Tokoh Pak Tani yang tanpa latihan proses teater terlebih dulu, spontan mampu ber-ekting geram dan berkacakpinggang di hadapan Kancil.
Konsep berkesenian Galuh yang demikian, seperti menjabarkan pertanyaan Arifin C Noer dalam opini pendeknya yang terangkum dalam buku Teater Tanpa Masa Silam (DKJ 2005). Berawal dari pertanyaan siapakah Aku, dalam kaitannya dengan Alam dan Karya, Arifin C Noer melesapkan Aku menjadi Kita. Kita harus senantiasa bocah dan alam menjadi teman sepermainan. Sehingga terjalin hubungan seumpama lelaki dan perempuan yang menghidupi kelengkapan alam anorganik, fisis-chemis, yang kimiawi, vegetatif, animal, human, supranatural dll. Lebih spesifik dari Arifin C Noer, Asrul Sani menyebutnya ‘keterlibatan seluruh civitas teater’ yang meliputi penonton, pewarta, bahkan EO sekali pun yang ia tulis sejak tahun 50-an dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.
Suspansi pementasan Kebun memasuki titik klimaks naskah yang diangkat Galuh. Yakni ketika ‘Kancil’ terlelap tidur dalam kurun sejarah yang teramat sangat lama, dan diperagakan Galuh dengan bersandar pada salah satu bahu penonton. Terkesan sekali, simbol dua subyek yang enjoi dalam (kesepakatan) keterlenaan. Hingga saat sejarah membangunkan ‘Kancil’ dengan perubahan menyeluruh yang tidak terduga, yakni suara gemuruh 2 motor vespa yang sejak sore dipasang asesoris panggung. Kancil pun tergeragap bangun. Ia kaget. Betapa keterlenaan sejenak, sejarah sudah berubah menjadi modernisasi deru mesin. Yang paling naïf bagi Kancil ialah betapa matanya kehilangan entitas kebun Pak Tani sebagai lahan curian timunnya, telah berubah menjadi gedung pabrik, mall, reil estate. Namun keberhasilan Galuh masih ditentukan di akhir pementasan, yakni ketika Galuh merayu-sentuh hati penonton untuk diajak menyaksikan gubuk dan patung yang berjarak 100 meter dari ruang pementasan. Gubuk yang dibangun oleh Sanggare Cah-Cah Tuban, mengingatkan betapa penting dan mahal karya petani meski pun berupa gubuk di tengah sawah, patung bikinan untuk menggusak manuk, atau sekedar umbul-umbul klaras bahkan kain warna warni sebagai pertanda padi (mbok Sri) hamil dan tingkepan (tradisi tileman). Kesadaran hal ini sengaja ditohokkan oleh Galuh dan Sanggare Cah Cah Tuban, bahwa komunitas petani dengan segala kecerdikannya menyiasati hasil panen lebih baik dengan sistim kerja nyaman. Sedang pada sisi lain, Galuh mengungkit ke tumpangtindihan budaya kota yang masih merindukan suasana desa, sementara di sisi lain, petani mulai meninggalkan kebudayaan desa dan merindukan suasana kota. Berbeda dengan ‘viuw rich farmer’ di Bali misalnya yang kalau kita amati pada 5 tahun terakhir mulai digarap ‘aspal setapak di tengah sawah’ untuk para turis yang ingin menikmati keindahan persawahan.
Repertoar tanggal 24 Juni 2011
Shering bersama Agung PW
Seri Lawatan Budaya pada 24 Juni 2011, menghadirkan Agung PW yang membahas seputar tema‘Heritage’. Ada wacana tak terduga dari pemaparan Agung PW, yakni penelusuran mengenai struktur wajah kebudayaan klasik hingga berbagai perubahan yang terakibat oleh perkembangan kebudayaan itu sendiri. Khusus wilayah Mojowarno misalnya, Agung menilai perubahan struktur artistik bangunan masjid, gereja dan beberapa model bangunan telah berganti still dari eksteroir lama. Begitu juga bidang pertanian, sistem kapitalisasi pertanian, sertamerta merubah pola pengolahan tanah, pupuk, pengairan dsb yang cenderung bersifat individualis (baca makalah Agung yang berjudul: Untuk Siapa Heritage Indonesia? Di http://dawetnesia.blogspot.com). Seperti diperkenalkan Abdul Malik dari komunitas Banyumili Mojokerto, bahwa sosok Agung PW, adalah seniman lokal Mojowarno yang luput dari jaringan seniman Jombang, padahal kiprah kesenimanannya berbasis STIBA Malang jurusan Inggris-Prancis angkatan tahun 87. Maka, menjadi berbobot jika kajian Heritage kemudian didasarkan atas perbandingannya selama ke Jepang (2008) dalam program Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts.
Orasi Puisi Bersama 17 Penyair
Serentetan Lawatan Budaya tanggal 24 malam digebyarkan oleh gemuruh 17 penyair dari berbagai kabupaten. Acara yang rencana dimulai pukul 18:00 mundur hingga 20:00 WIB. Penyebab molornya ialah keterlambatan Gamelan Musik S’ketika yang jauh sebelumnya bersedia mengiringi kerempekan selama pembacaan puisi. Namun keterlambatan musik S’ketika tidaklah berarti jika dibanding kesediaannya turut mengisi acara, sebab semua menyadari bahwa awak musisi S’ketika baru pulang dari misinya mengikuti lomba di Probolinggo. Lebih tidak sebanding lagi jika ditilik dari perjuangan musik S’ketika yang di beberapa event kesenian di Jombang, tulus menyumbang memeriahkan. Dari liputan Tim Lincak Sastra misalnya, sempat menemui pemanggungan S’ketika yang kian ‘oke’(rancak) bergaya ‘ngiyaikanjeng’, namun lebih spesifik ke musikalisasi puisi. Tidak hanya di lawatan Budaya saja Sketia tampil, pada 10 April 2011, musisi ini mengiringi kehadiran Afrizal Malna dan Titarubi di Gedung Bung Tomo Pemkab Jombang. Tanggal 14 dan 28 Mei, S’ketika juga tampil secara sukarela di agenda rutinan Angkringan Seni di Dinsosnaker Jombang. Dan masih banyak lagi perjuangan musisi S’ketika di berbagai tempat, berbagai event, berbagai komunitas Jombang dan luar Jombang.
Sayup irama musik S’ketika mulai melantun dengan salam pembuka, khas musikalisasi puisi. Satu-dua tembang yang sekaligus menghantarkan MC (Yosi Ari Wijayanti dari Universitas Nusantara PGRI Kediri angkatan 2010) membaca larik-larik puisi Lawatan Budaya. Bait puisi yang sengaja diformat ‘Jejer-an” untuk mengikat ruang, memfokuskan kesadaran bahwa yang sedang berlangsung adalah pemaknaan sejarah dengan sastra. Cuplikan puisi Lawatan Budaya yang dilantunkan Yosi adalah:
Agenda Sastra pada serangkaian acara Lawatan Budaya di Balai Desa Mojowarno tanggal 24 Juni 2011)
(detik-detik penghantar Lawatan Budaya: diiringi instrument dengan lirik kalem oleh Musik S’ketika)
marilah mengunjungi bumi
di sana, milyatan manusia bersemayam
besama para Nabi terkasih
uluran tangan cintanya mengusap kerisauan, membelai ketenteraman
malayang sebulir padi. dengan sinar ke-emasan, jatuh dari angkasa
tepat, di dekat kutub selatan dan katulistiwa
terbentang berserakan indonesiaraya
kepulauan yang bergandeng-gandeng mesrah
sebuah negeri hijau ranau pantulan surga
kala pagi menyingsing. surya merangkak mendaki bebukitan
sinarnya semburat menerpa dedauanan
ceracau burung perenjak berkicau riang sambil bertelantingan di antara ranting dan dahan
sapi dan kerbau berdengau
panas mencandai hijau lembir klorofil
‘clak’, cangkul petani menyapa sawah
liuk pucuk padi, mekar mayang dan kembang tebu
kala malam menjelang
matahari beranjak pulang
cakrawala senja mengusap merah menjadi jingga
perlahan remang dan gelap mendekap hari
keriuk srengai sayap belalang, kerik jangkrik, denging anai dan keret bajang
menyambut tapak kaki perantau, menimang tubuh pejalan jauh, memijit lelah membuai manja.
selamat datang kembara jiwa. para perekam gravitasi sejarah.
inilah selonjor negeri memanjang bagai sajadah
dari langit ujung timurnya menyerupai peta yang dibawa rasul dari sidratul muntaha
peta takhiyat. kaki kiri bertekuk menjadi semenanjung Blambangan, Ketapang, sepanjang pantai Sritanjung. sedang kaki kiri berselonjor menjadi Madura. Jawa Timur, peta kebangkitan jaman.
sebuah negeri, dengan 10 gunung menjulang.
sebuah negeri, aliran sungai Brantas memanjang
sebuah negeri, bermekaran warna-warni, warno-warno, ijo-abang, Mojowarno-Jombang.
(Dilanjut dengan ucapan selamat datang kepada para tamu yang hadir)
Susunan acara sastra pada Lawatan Budaya tanggal 24 Juni 2011
Iringan Musik S’ketika:
-Mahendra PW……(Jombang)
-Ahmat Fatoni…….(Mojokerto)
-Toni Saputra…… (Trenggalek)
-Kukun Triyoga……(Mojokerto)
-Yoyok SP……….. (Nganjuk)
-Iwan Kapit………..(Kediri)
-Sabrank Suparno (Jombang)
Iringan musik S’ketika:
-Jabbar Abdullah……(Mojokerto)
-Juwaini………………(Kediri)
-Ratna Kumala……….(Nganjuk)
-M. Ali……………….(Gersik)
-Chairul Anwar………(Malang)
-Glewo Anam…………(Mojokerto)
-Titin Darma Ayu……..(Tuban)
Iringan musik S’ketika:
-Mbah Rego …………(Nganjuk)
-Abdul Malik………….(Mojokerto)
-Lek Mujib…………….(Jombang)
-Saiful Bahcri ………….(Mojokerto)
-Kotak Hitam……………(Lamongan)
Instrument musik S’ketika yang piawai dalam lekak-lekuk perpuisian, terus mengiringi setiap pembacaan berlangsung. Sebuah usaha memaksimalkan bunyi pendukung kekuatan penyampaian karakter puisi.
Mahendra PW yang didapuk sebagai pembaca pertama, durasinya terhambat oleh ‘byar-pet’jegleknya listrik yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Bahwa penambahan watt yang diserap banyaknya gamelan musik S’ketika, sertamerta mengurangi daya kekuatan listrik dalam gedung tersebut. Namun demikianlah refleksi yang terjadi, suasana gelagapan dadakan seperti turut memaknai bahwa sejatinya puisi terekam dari siang-malam, gelap-terang, kalut-nyaman. Keadaan demikian tidak menjadikan Mahendra PW kehilangan performa. Ia tetap memanfaatkan improvisasi dengan penonton walau dalam kondisi ruangan gelap. Menggali kekuatan suara. Tanpa lampu. Tanpa pemandangan.
Akhmad Fatoni, penyair berbakat dari Mojokerto tampil mengesankan dengan tiga judul puisinya: tentang kau yang ingin pulang, tentang penyair, dan cerita seorang petualang. Dengan matanya yang tajam, Akhmad Fatoni mulai berani menghidupkan pembacaannya. Tidak jauh dengan Akhmad Fatoni, rekan Iwan Kapit menggali ke PeDe annya dengan berpenampilan ala Taufik Ismail yang khas dengan topi baretnya. Kegenitan Iwan Kapit, saat ia mengekspresikan puisi binalnya yang membincang soal wanita simpanan. Iwan Kapit bersuit bagai barisan kigolog yang menunggu antrian tante-tante nakal di jembatan Delta Plasa Surabaya.
Banyak teori pembacaan puisi yang diperagakan oleh para penyair dalam serangkaian cara Lawatan Budaya. Jabbar Abdullah menyerupai sastrawan China-Taiwan yang berorasi sekedar membaca biasa, namun isi kedalaman puisi itu sendiri yang paling menentukan bobot. Demikian juga Glewo Anam, ia tampil khas dengan rambut panjangnya yang diikat. Sementara Abdul Malik berdandan dan bergaya Sipitung atau para peronda desa dengan sarung di leher dan memakai kopyah hitam.
Kekuatan orasi puisi Yoyok SP justru pada semangatnya yang menggebu di belantika perpuisisan. Didukung usianya yang cukup wareg dalam mengenyam asinnya garam, Yoyok SP merapal puisi puisi sumblim karyanya. Begitu juga Rego Ilalang, tak sekedar bait puisinya yang hidup ketika dibaca, namun ekspresi wajahnya ketika menghantarkan kalimat, merupakan catatan tersendiri bagi seorang Rego, ekspresi yang puitif.
Penampilan nyleneh justru diperankan Tosa Poetra, penyair yang bermukim di kaki bukit Jaran Dawuk Trenggalek. Sebagaimana Rego Ilalang, Toni Poetra berpenampilan atribut khas Jawa kulonan, yakni memakai udeng. Namun Tosa Poetra mirip dengan penampilan Sosiawan Leak yang ketika membaca puisi, merubah dirinya dulu menjadi babi. Tosa Poetra merubah dirinya menjadi Jaran Dawuk atau Kuda Putih. Ia mondar-mandir menguasai panggung dengan aksesoris krincingan. Ulahnya pun liar bagai kuda lepas kendali. Demikianlah Tosa Poetra dengan khas Jaran Dawuk sebagai inspirasi kekuatan lokalnya.
Cak Juwaini dan Choeroel Anwar, ke duanya bagai Nakula-Sadewa bila bertemu dalam satu panggung. Wajah, rambut, usia dan perawakan, ke duanya menyerupai Rendra si Burung Merak. Cak Ju dengan karakter panggung yang gelenggem namun menggema, sementara Choeroel Anwar menambah ulah performennya dengan membaca puisi sambil berdiri di atas meja yang kebetulan tersedia sebagai properti panggung.
Agenda yang terhapus dialami penyair Kukun Triyoga. Ketidakhadiran Kukun tersebab berbarengan dengan 7 hari meninggalnya orang tua penyair ini. Sehingga, selaku MC, Yosi Ari Wijayanti merefleksi ketidakhadiran Kukun dengan mengajak seluruh hadirin untuk membacakan do’a yang dikhususkan pada almarhum orang tua Kukun Triyoga. Namun ketidakhadiran Kukun, tidak mengurangi jumlah pembaca puisi, sebab seketika tergantikan oleh hadirnya penyair wanita asal Nganjuk, Ratna Kumala. Meski belum terdaftar sebelumnya, Ratna Kumala tidak mampu membendung demam panggungnya sebagai penyair. Ia segera menghubungi panitia untuk turut membaca puisi walaupun suaminya harus rela menggendong anaknya yang sedang menangis ketika Ratna membaca puisi. Shound pun menggelegar berkat suara sopram Ratna. Saya, sempat bertanya kepada suami Ratna, “apakah Mas, sering menyaksikan sang istri membaca puisi?” “Ya, saya selalu menghantarkan dia, itu hobinya.” Saya pun mencandai anaknya Ratna dengan mengatakan, “lihat itu! Mamamu sedang membaca puisi. Kau harus lebih hebat daripada Mamamu!”
Dari kawasan timur wilayah Gerbang Kertasusila juga hadir penyair wanita Titin Ilfam Mulib (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Widya Darma Surabaya Angkatan 2009). Gadis kelahiran asli Tuban ini membacakan dua puisinya yang berjudul: Kemunafikan Fana // Menggerus Lokalitas. Sebagaimana Titin, M. Ali dari Gersik juga berpenampilan lugu, namun dibalik kepolosan sikapnya, tak dinyana kedua penyair kawasan timur ini memiliki kekuatan jiwa kepenyairan yang handal. Sedang saya sendiri yang jauh hari sebelumnya mendaftar baca puisi, sempat membaca puisi panjang yang berjudul: Ujaran-Ujaran Ambradoz. Itu saja. Sementara Muhammad Mujiburrohman (Lek Mujib) membacakan puisinya yang berjudul: Cuci Otak. Dengan khas suara bass, Lek Mujib menggedor-gedor kritikan tajam tentang berbagai ketimbangan kebudayaan dan cara berfikir. Gaya pembacaan puisi Lek Mujib di Lawatan Budaya, tidak jauh beda ketika satu panggung dengan D.Zawawi Imron, Sosiawan Leak, serta Max Arifin (alm) di Undar dalam acara Gebyar Malam 1001 Puisi sekitar tahun 2000-an.
Refleksi Puisi bersama Kris Budiman (Yogyakarta)
Serampung seluruh prosesi pembacaan puisi, agenda tanggal 24 Juni malam, ditutup dengan diskusi puisi yang dipandu Kris Budiman (Sosiolog Sastra dari Yogyakarta). Sebagaimana peserta yang lain, Kris Budiman juga rewang untuk menghadiri Lawatan Budaya. Sebuah keterlibatan yang petut diacungi jempol, lantaran kebesaran namanya di dunia sastra, tidak lantas mengkederkan diri untuk terlibat membina generasi penerus sastra. Keterlibatan Kris semacam ini, merupakan konsekuensi tersendiri sebagai profesionalis di bidangnya.
Dalam menyikapi budaya pembacaan puisi panggung, Kris Budiman berpendapat bahwa di Indonesia khususnya, puisi panggung merupakan ciri khas tersendiri, di mana puisi dipresentasikan dengan memadukan tekhnik berteater. Yakni usaha pendiskriftifan makna puisi dengan mengeksplorasi berbagai bentuk personifikasi. Puisi tidak sebatas ditulis dan dibaca. Memasuki wilayah kesempurnaan maknanya diperlukan berbagai cara untuk menghadirkan puisi secara utuh. Di sinilah pentingnya pemanggungan puisi, di mana pendekatan berbagai unsur: analitik, parafrase, emotif, ekspresif, histories, sosiologis, mimesis dll lebih mengena. Kris juga menyinggung secara khusus pendekatan puisi berdasarkan filologis. Adanya perbedaan morfologis pada setiap bangsa yang berkenaan dengan bahasa lokal. Orang-orang Inggris asli cukup berbicara dengan gerakan dagu. Berbeda dengan Orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan mengandalkan bibir yang kemudian terkesan besosol (moncong).
Menyoal demam puisi pendek yang lagi digemari di Indonesia, Kris Budiman mengatakan sebagai gejala adopsi dari bentuk puisi Heiku Jepang. Di samping itu ada gejala kreatifitas lain seperti yang dilakukan Gunawan Maryanto yang sedang menggarap puisi berpolah tembang macapat Jawa, dengan ciri memperhitungkan jumlah ketukan, suku kata, sajak serta rimanya.
Repertoar Tanggal 25 Juni 2011
Diskusi bersama Joko Bibit Santoso (Teater Ruang Solo)
Makalah dengan tajuk “ Fakta Teater Yang Selalu Dipungkiri Secara Sosial” ditulis khusus oleh Joko Bibit Santoso untuk agenda Lawatan Budaya pada 25 Juni. Joko Bibit menuangkan catatan ringan yang terjadi pada kurun 1999 hingga 2005 berkenaan dengan fakta teater yang dilakoninya. Seorang pemuda kampung menanyakan hal sepeleh sebelum masuk anggota Teater Ruang. Apakah berteater bisa menjamin masadepan saya? Beberapa bulan kemudian (Fakta tahun 2000), pemuda tersebut dikirim Joko Bibit ke workshop kelompok teater terkenal dari Perancis. Alkhasil, ia terpilih menjadi aktor dalam karya terbaru mereka. Selanjutnya sebagai langkah pembekalan ia dikursuskan bahasa Inggris dan Perancis. Dalam kontrak 1 tahun pentas keliling dunia: Eropa, Amerika, Australia, Afrika, gaji pemuda tersebut 10 kalilipat gaji Walikota yang waktu itu sekitar 2 juta/bulan. Setelah keberhasilannya, si pemuda membelikan televise 1 inci untuk orangtuanya, 1 sepeda motor untuk adiknya, 2 mobil dan rumah elit di Solo Baru, memberi teman-teman di Teater Ruang masing-masing Rp.250 ribu, sedang untuk Teater Ruang sendiri senilai 1 juta. Namun ditolak oleh Joko Bibit dengan alasan sederhana: Bukan lantaran uang seseorang menjadi anggota Teater Ruang, bukan lantaran uang pula anggota dipersaudarakan. Namun karena teater mempertemukan anggota sebagai satu saudara.
Lebih jauh sesungguhnya yang diinginkan Joko Bibit terhadap pemuda tersebut adalah melebarkan wacana teater ke masyarakat. Bagaimana menerjemahkan konsep kebersamaan berteater memberi kontribusi-fungsi di luar kelompok teater itu sendiri. Joko Bibit menyarankan agar uang yang diberikan ke anggota Teater Ruang, dialihkan untuk membangun WC umum tempat dia dan keluarganya buang hajat. Dari beberapa kamar WC yang ia bangun, diperuntukkan khusus dia dan keluarganya, pasti diijinkan warga.
Pemungkiran terhadap fakta teater kian kentara pada sikap pemuda kampung tersebut setelah sukses. Ia benar-benar lepas dari kebersamaan. Diceritakan Joko Bibit, saat kelompok Teater Ruang membangun gedung ‘Kenthot Roejito’secara bergotong-royong, pemuda itu tidak membantu dan hanya mampir menitipkan atau menganbil barang saja. Akhirnya si pemuda dikeluarkan dari keanggotaan Teater Ruang. Setelah kontrak kerjanya habis dengan kelompok teater Perancis, perekonomian pemuda tersebut pun ambruk. Mobil, rumah, dan segala kemewahannya ludes terjual. Ia kembali bersama keluarganya menempati rumah kontrakan dengan atri WC umum seperti semula.
Fakta teater yang diceritakan Joko Bibit di atas, pada akhirnya dialegorikan pada fakta teater yang dialami Joko Bibit sendiri belum lama saat tulisan ini diturunkan. Dengan tulus berteater, Joko Bibit mengalami keajaiban tak terduga pada keluarganya. Saat anaknya masuk Fakultas Kedokteran UNS, uang regristasi senilai 7 juta tiba-tiba dibayar seseorang yang senang anak Joko Bibit masuk di Kedokteran. Tidak hanya itu, buku-buku mahal pun dibantu gratis oleh dosennya. Uang gedung senilai 10 juta dibebaskan. Dan masih mendapat beasiswa tiap semesternya senilai 5 juta dengan rincian 2 juta untuk membayar SPP, 3 juta untuk uang saku. Ditambah lagi uang regristasi senilai 7 juta yang sudah dibayar, dikembalikan pihak kampus dan akhirnya dibelikan motor untuk transportasi kuliah.
Lain makalah yang ditulis Joko Bibit, lain pula kegayengan saat berdiskusi. Menyikap iklim perteateran di Jombang yang hanya berproses ketika menghadiri event, terutama itu dijadikan konsep dasar teater pelajar, Joko Bibit mengkritik tajam. Berkesenian yang bertumpu pada event-EO, hanyalah berujung pembangunan nama besar bagi dirinya. Kebudayaan EO berakibat mematikan kreativitas kesenian yang pasti mandul jika tidak dikucur dana, dan cara berkesenian yang bertendensi materiel lebih baik membubarkan diri.
Kedatangan Joko Bibit bersama 2 pasukannya yang tergabung dalam Komunitas Tanggul Budaya (Solo), menyelingi diskusi dengan beberapa nomor puisi dan diiringi musik Siter. Bobot keilmuan berteater Joko Bibit pun tidak dilewatkan para seniman Jombang untuk Hadir. Tampak Ketua Dewan Kesenian Jombang (Agus Riadi), Inswiardi, Anjrah Lelono Broto, Farid Dulkamdi, A. Nugroho, Bambang Bei Irawan dll. Anjrah sependapat dengan konsep berteater Joko Bibit, bahwa jikalau seniman berani menentang arus, suatu saat arus akan mengikuti seniman penentang.
Seusai acara, Joko Bibit dkk megunjungi beberapa situs sejarah Majapahit bersama Riris selaku tuan rumah, dengan perhitungan senyawang berada di sekitar pusat Majapahit.
Monolog Herwasis W. Putro (Teater Laskar-Tuban)
Tema apa yang hendak diperankan Herwasis? Saat panggung terbuka, penonton disuguhi lantai penuh jerami serta properti kursi menggantung. Sebagai petani, orang desa, sang tokoh tidak hanya kehilangan lahan persawahan yang merupakan entitas seni tersendiri dalam hidupnya, melainkan kehilangan loyalitas generasi penerus bangsa yang kian tidak memahami budaya negeri sendiri. Naskah yang didaur seimbang antara realis dan surealis itu masih dipahami penonton ketika memparafrasekan kelangenan masa kecilnya yang hampir seluruh anak bangsa mengingatnya. Lantunan lagu kebangsaan, “Garuda Pancasila / akulah pendukungmu / patriot proklamasi / setia berkorban untukmu,” sayup sayup menyeret kenangan ke dalam relung masa kanak-kanak di bangku sekolah dasar. Dengan koor lagu Garuda Pancasila memletikkan semangat menyala dalam jiwa yang membubungkan harapan setiap anak, agar negaranya kelak gagah perkasa seperti Garuda sang Rajawali.
Realitas masa kecil yang kemudian dihadapkan pada ketimpangan masa kini, mengilhami Herwasis dalam menggarap monolognya. Semestinya kebesaran Indonesia di masanya, masa yang diidam-idamkan sejak kecil tidak pernah terwujut menjadi sosok Garuda pujaan, lantaran tapuk pemerintahan dipegang pemimpin berkarakter emprit dan cipret. Atau keputusasaan menjadi Garuda undil yang sayapnya tidak bisa mengepak lebar, lantang berkoar, terbang jauh melintasi benua dan pulau, serta daya akomodasi cupet terhadap mangsa jarahan. Sementra di sisi lain, militansi logosentrik yang kadung mengental di badan sejak kecil, sulit untuk dirubah. Yakni kesadaran bahwa perangkat organ Garuda sesungguhnya simbol yang lemah sebagai karakter suatu bangsa. Bukan sosok Garudanya, melainkan jumlah 17 sayap, 8 ekor, 45 bulu tidak memadai keperkasaan terbang sang Garuda ketika terbebani 5 perisai yang begitu besar. Di sinilah kelemahan burung Garuda idaman, tidak kuat terbang dan cenderung mengurung dalam sangkar dan hanya mematuk makanan yang tersedia di hadapannya.
Jika menilik ulang sejarah jumlah organ Garuda yang dipahami berhubungan erat dengan hari kemedekaan Indonesia, yakni 17-8-1945, sesungguhnya tidak lepas dari pengeboman Herosima dan Nagasaki Jepang oleh pasukan Sekutu pada 14-8-1945. Setelah 3 hari masa vocum, barulah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Padahal bisa dibayangkan jika Herosima dan Nagasaki dibom tanggal 31 Januari. Nah, jika logosentris dihubungkan dengan hari kemerdekaan, betapa Garuda sebagai lambang negara adalah burung bersayap berindil.
Monolog ‘Nyanyian Angsa’ oleh Arif (Teater Swara Malang)
Sejak awal panggung disetting satu bentuk untuk beberapa kali penampilan. Panitia menyarankan bila terjadi pergantian konsep tata ruang atau properti, pemeran dimohon berkordinasi dengan rekan yang tampil lebih awal, sehingga memudahkan proses penataan ruang kembali tanpa merubah total.
Menyambung penampilan Herwasis, Arif menggarap ‘Nyanyian Angsa’ naskah karya Chekhov. Setting tokoh sengaja dikondisikan dengan kebudayaan aslinya, sehingga tampaklah Arif seperti bule Chekoslovakia masuk desa. Naskah yang mengisahkan pentingnya penghargaan kasih sayang kepada seorang gelandangan sekali pun.
Kemiripan cerita yang sama pernah digarap Yenusa Nugroho dalam cerpennya Kalung Kolang Kaling (Jawa Pos..2010). Tentang betapa sunyi jiwa seorang tokoh panggung terkenal kala pertunjukan usai. Yel yel riuh tepuk tangan penonton tidak terdengar sebagaimana di atas penggung beberapa jam sebelumnya. Sang tokoh tidak memerankan ketokohannya, dan kembali memerankan diri-sendiri di balik layar, di gedung yang semua orang sudah bubar, bahkan tinggal dirinya sendiri. Apalagi bagai jatuh tertimpa tangga, akibat kecapekan berakting, sang tokoh nyaris tertidur dalam gedung pertunjukan yang terkunci. Apalah arti kekondangan, hanya dieluhkan sebatas profesionalitas belaka, dan bukan sebagai manusia yang membutuhkan kelengkapan kasih-sayang perangkat rohaniyah. Sendirian dalam gedung gelap, betapa sunyi yang menghiris, menyayat, mencabik sanubari. “Yegorka..! Pedruska..!” Demikianlah sang tokoh kesunyian jiwa Svetlovidof (Badut tua) memanggil dua penjaga gedung pertunjukan yang menguncinya. Naïf bagi Svetlovidof, ia hanya menemukan Nikituska (Ivanits) seorang kawan akting pemeren pembantu yang pasti menjadi teman setia satu-satunya dalam gedung tersebut. Alkhasil, ditemukanlah Nikituska tertidur dalam almari. Keduanya lalu bergurau, mamahami arti ketenaran yang pincang dan lucu jika dihadapkan pada dua realitas, yakni panggung dan kehidupan nasibnya. Dalam gedung kosong tersebut, mereka berdua memerankan diri mereka sebagai manusia yang menggali penghargaan kasih-sayang antar sesama.
Dalam diskusi setelah pementasan Herwasis dan Arif selesai, barulah kedua pemeran mendapat apreseasi serta beberapa kritikan dari penonton. Juwaini (Cak Ju) penyair Kediri yang sempat bermalam beberapa hari di Lawatan Budaya, mengkritik penampilan Arif dengan monolog ‘Nyanyian Angsa-nya’, terlalu sembrono dengan properti cagak mikorofon, betapa properti yang tidak berhubungan dengan pementasan, sangat mengganggu pemandangan, apalagi juru kamera.
Repertoar 25 Juni 2011
Workshop Mendongeng oleh Rumah Baca Kol. Sampoerno, Mojokerto
Rentetan Lawatan Budaya Mojowarno juga tak luput dari bidikan seniman yang memperhatikan pembentukan, perkembangan jiwa anak-anak. Metode cerita atau mendongeng dinilai media paling efektif untuk menancapkan patok nilai moral sejak file jiwa anak masih putih dini. Selaras dengan sistem nourologi, di mana otak mampu memutar ulang memori hingga 60 ribu kali setiap harinya, dongeng atau cerita yang baik, syarat dengan pembentukan karakter nilai moral, dimungkinkan rekaman yang merasuk saat anak dini, akan diputar ulang saat anak dewasa dan memegang tampuk pimpinan sejarah akan datang.
Atas dasar itulah Komunitas Rumah Baca Kol. Sampoerno Mojokerto merasa penting berkesenian dengan melibatkan anak-anak. Gagasan ini juga menyadarkan para pendidik dan orang tua, bagaimana seharusnya mempengaruhi pendidikan anak dengan pola harmonisasi keluarga, anak, dan pendidik. Yaitu bagaimana masing masing berperan aktif dalam porsinya, orang tua berteater keseharian sebagai orang tua, pendidik sebagai guru, dan anak berperan sebagai anak. Contoh semisal pada sistem pengajaran anak yatim-piatu se-Indonesia, para pendidik mengajarkan anak berwajah melas, memperihatinkan, nelangsa ketika mereka berhadapan dengan para donatur. Pembentukan karakter demikian terhadap anak didik, sangatlah keliru, sabab hanya membangun mental anak berpangku tangan pada belas kasihan atas perubahan nasibnya. Bukan sebaliknya, bermental tangguh yang tidak akan mengharap pada siapapun atas perubahan diri mereka, kecuali meng-asah kelebihan yang bernilai pada diri sebagai mengambilan hak atas dedikasinya. Tidak serakah mengambil hak orang lain, kecuali mengambil hak kelebihannya.
Pantomim dan Puisi Anak Autis
Perhatian terhadap kepedulian anak, hingga me-nyektor ke anak autis yang oleh masyarakat dan kawan sepermainan acapkali termarginalkan. Kekurangsempurnaan takdir yang diterima sebagai manusia normal, membuat anak autis harus berjuang ekstra dalam menyelesaikan tujuan hidup layaknya standarisasi manusia wajar.
Pantomim yang diperankan anak autis, menceritakan rutinitas anak sekolah (desa), bagaimana ia mengawali keseharian sejak berangkat ke sekolah, mandi, naik sepeda sampai di rumahnya, membantu ayahnya mencangkul.
Melalui wahana seni, dalam hal ini teater dan sastra, Lawatan Budaya juga mengapreseasi kemahiran anak autis yang sebelumya terbina ber-pantomim dan puisi. Rasa percayadiri anak autist ini sengaja digali dan dibangkitkan oleh asuhan Hadi Sutarno bersama istrinya (Fitriyah) yang memang sejak lulus Fakultas Psikologi Undar Jombang, mereka bergiat khusus dalam bimbingan anak autis seputar Jombang.
Anak autis ini membaca puisi ‘Aku-nya Chairil Anwar. Namun bagi Hadi Sutarno dan Fitriyah, membutuhkan waktu 3 bulan untuk melatih, baik puisi atau pantomim.
Kentrungan Bersama Sarkadek Lamongan
Seni kentrungan yang dibawa Sarkadek dari Lamongan, merupakan kentrungan khas Lamongan yang menceritakan babat perjalanan para wali. Sebagaimana diketahui, 5 dari 9 wali bermakam dan mukim di Jawa Timur pesisir utara (Gersik, Lamongan).
Gebyar (Semi) Wayang Kulit Bersama Manunggal Laras Bareng-Jombang
Jiwa kesenimanan dalang muda, Heru asal Bareng, yang kini menjabat sebagai KASI Kebudayaan Disporabudpar Jombang, terpanggil untuk rewang mengisi pertunjukan wayang kulit. Kesenian tradisional Jawa yang paling tua itu, merasa perlu diperkenalkan secara mengena ke benak generasi muda yang kian berpaling pada kesenian modern sejalan merebaknya era-facebooker, hp, dan google. Di sinilah dalang Heru memaparkan perihal mendasar dalam pertunjukan wayang kulit. Yakni menyangkut tatanan wayang berjajar memanjang pada lanskap (kleber putih) yang sekaligus sebagai medium pementasan.
Susunan wayang berawal di titik tengah, tempat dalang menggebyakkan lakon cerita. Di tengah inilah tempat Kelir atau Gunungan sebagai membuka sekaligus menutup lakon. Pada kelir bergambar hutan dan singa, simbol suatu adegan sedang memaparkan kondisi wilayah hutan belantara. Sedang kelir bergambar keraton, menunjukkan bahwa lakon mengetengahkan kondisi (sedang) kerajaan, atau negara. Dari kelir menuju pinggir (yang paling jauh dari dalang), tatanan wayang disebut ‘Sumpingan’, yang artinya tatanan menyerupai bentuk kuping, dari lingkaran kecil pusat selaput gendang, kemudian melingkar lebar di tepi. Disebut sumpingan, juga karena bersifat seperti rumah siput. Dalam tradisi wayang Jawa Timuran, istilah sumpingan biasa disebut ‘Sampiran’, yang artinya dari jajaran wayang pada kleber, terdapat satu wayang yang disampirkan. Pada bagian kanan dalang, wayang yang disampirkan di pundak wayang berjajar lainnya adalah tokoh Betoro Guru, sedangkan pada bagian kiri, wayang yang disampirkan adalah tokoh Betari Durgo.
Dalam kesempatan Lawatan Budaya lalu, dalang muda Heru mementaskan lakon ‘Ilange Jimat Kalimosodo’ yang dalam wayang Jawa Timuran dikenal dengan lakon ‘mBangun Candi Sapto Wargo. Lakon yang padat dengan simbolik dan reflektif dengan berbagai alur perubahan tampuk kebudayaan pemerintahan Indonesia.
Ilange Jamus (Jimat) Kalimosodo membeberkan cerita keteledoran pembesar Astina yang kurang peka dalam menyerahkan penentu kebijaksanaan negara, yakni tidak menyeleksi secara tepat perihal: Siapa? Atas nama apa? Kepentingan apa? Akibatnya, kewibawan negara Astina runtuh karena seluruh gudang persenjataan terkuras habis dicuri lawan oposisi sayap kiri yang dipimpin Ratu Bumiloka. Dalam menjalankan aksinya, Bumiloka didukung Adik perempuannya Mustokoweni. Dalam lakon ini, Mustokoweni berperan aktif dengan ilmu kadigdayaannya yang mampu merubah diri, menjelma menjadi siapapun yang dikehendaki. Dengan ilmu mancoloputro-mancoloputri, Mustokoweni tidak kesulitan merebut Jimat Kalimosodo dari tangan para punggawa Astina. Ketika pusaka dipegang Arjuna, Mustokoweni menjelma diri menjadi Kresna yang berpura membutuhkan jimat tersebut. Tanpa syakwasangka, Arjuna pun memberikan Jimat Kalimasada begitu saja. Begitu juga ketika Jimat di tangan Kresna, Mustokoweni merubah diri menjadi orang terdekat Kresna. Namun kekalutan perihal hilangnya Jamus Kalimosodo oleh ulah Mustokoweni diketahui Semar. Dengan gampang Semar turun tangan menyelesaikan kekalutan Astina, sebab Semar yang memahami data sejarah Mustokoweni, mengetahui kalau Mustokoweni mempunyai pria idaman yang digadang menjadi pendamping hidupnya, yakni Bambang Priambodo. Semar pun merubah diri menjadi lelaki imajiner, kekasih bayangan Mostokoweni, yakni Bambang Priambodo. Semar memahami betul bahwa konsep umumnya manusia ialah apapun yang ia punya, akan jemrintil jika berhadapan dengan kekuatan cinta.
Lakon ‘Ilange Jamus Kalimasodo’ mengeja detail politik di Indonesia, bahwa bermacam-macam partai sesungguhnya bertujuan sama, yakni atas nama memperjuangkan kepentingan rakyat. Di sinilah semua partai, lembaga, institusi, komunitas apapun berulah mendo-mendo, merubah diri menjadi pejuang rakyat dalam mengambil simpati masyarakat. Bahkan tak segan-segan menampilkan begraund kekuatan super power meski imajiner di balik kancah perpolitikan sekali pun.
Pementasa Jaran Kepang ‘Tung Dor’ Kesenian Asli Desa Mojowarno
Di samping mempersilahkan seniman luar kabupaten atau propinsi untuk turut menyemarakkan Lawatan Buaya yang didukung Pemerintah Desa Mojowarno, Komunitas Suket, serta Komunitas Seni Mawarno juga menampilkan kesenian tradisi desa sendiri. Kesenian Jaran Dor atau Jaran Kepang yang pelakunya asli warga desa Mojowarno sengaja diuri-uri oleh Kades Catur agar bangkit kembali setelah vocum beberapa tahun. pementasan Jaran Kepang Mojowarno merupakan penutup seluruh rangkaian acara Lawatan Budaya. Seperti pementasan Jaran Kepang umumnya di daerah Jombang, tak kurang 300 penonton berjubel melingkari pelataran pementasan, dari kalangan tua, muda-mudi, dan anak sekalipun. Namun yang berbeda dari penampilan Jaran Kepang desa Mojowarno dibanding performa Jaran Kepang lain ialah proses ‘strum’ atau yang dikenal kerasukan, sengaja memakai strum lepas. Dalam strum lepas ini, proses keranjingan bias saja menimpa secara liar kepada siapapun yang ada di sekitar. Bahkan beberapa penoton gadis berteriak untuk ikut terkana strum. Dan proses strum inilah acara yang paling diminati penonton, bagaimana mereka menyaksikan pemain, teman atau siapa saja kerasukan yang berulah seperti penari Jaran Kepang. Ada yang menarik dari proses strum Jaran Kepang di penghujung Lawatan Budaya lalu, yakni keranjingannya Arif seniman asal Malang yang mementaskan monolog ‘Nyanyian Angsa’,tersaut strum sejak gamelan Jaranan ditabuh. Arif yang berada di dalam gedung Balai Desa, tiba tiba mendengus dan berulah seperti kadal. Ia merangkak serta kuku tangannya mencakar. Beberapa pawang mencoba menyembuhkan Arif, namun proses pemulihan Arif dari roh yang merasuki tergolong kuat. Saya (penulis) dan Bu Lurah Riris D. Nugrahini sempat kebingungan, apalagi saat Arif kerasukan, sempat mencakar beberapa kabel listrik. Dalam kekalutan tersebut, saya dan Riris sempat berbisik, ”sesungguhnya inilah pementasa Arif yang menarik daripada yang ia pentaskan saat bermonolog Nyanyian Angsa kemarin.”
*) Penggiat Lincak Sastra-Jombang.
http://sastra-indonesia.com/
Perubahan Anda sudah disimpan
Berawal dari grenang-greneng antar seniman yang mengandaikan bagaimana caranya bisa mengekspresikan diri dalam satu forum dan tidak berbelit dengan urusan dana, lembaga dan atau instansi terkait, dari sanalah ide Lawatan Budaya muncul. Kemudian para seniman tersebut menyiasati daya untuk mewujutkan terlaksananya titik sentral ide tersebut. Sertamerta bagi yang ingin terlibat, pletikan kekuatan pun mulai terumus, bahwa tidak ada kata kunci yang jitu, kecuali membakar lemak jiwa dengan sistem‘rewang, soyo, gotongroyong, semua yang terlibat mengikhlaskan energi untuk urun mengisi agenda.
Berangkat dari gejolak kebebasan dan terlaksananya kemampuan berkesenian dimaksud, menandai awal ‘Komunitas Suket Indonesia’ terpanggil untuk terlibat. Namun keterlibatan ‘Suket’ dalam pelaksanaan ini hanyalah sebagai fasilitator yang mewadahi geliat para seniman. Jauh hari sebelumnya, seperti yang diungkapkan salah satu pentolan Suket: Mbah Catur (Kepala desa Mojowarno yang juga lulusan UMM tahun 1998) bersama istrinya Riris D. Nugrahini (lulusan IKIP Tuban 2001), “kalau teman-teman ingin menggebyarkan semangat berkesenian, dipersilahkan. Kami hanya bisa menyediakan tempat, yakni gedung Balai Desa, silahkan dipakai. Bagi yang jauh juga kami sediakan mess tidur. Soal hidangan, tur mergo kalian tamu, umpomo gak ono duwek yo tak utang-utangno, tapi gak iso mewah, sak onoke wae.” Berawal dari konsep semacam inilah munculnya gagasan Lawatan Budaya, yang informasinya kemudian disebar antar kawan seniman dengan jejaring facebook. Alhasil, siapa pun yang bersedia bergabung, artinya bukanlah sebagai fihak ter-undang, tapi berpartisipasi dengan uang saku sendiri yang disebut istilah rewang, gotongroyong di atas. Sama artinya bahwa siapa pun yang hadir, entah pada Lawatan Budaya yang sudah terlaksana atau pun yang akan datang, yang bersedia terlibat adalah sekaligus merangkap panitia, semua harus berkordinasi serempak, tanpa harus jagakno satu sama lain, atau dituankan.
Adapun gambaran secara gamblang proses terlaksananya Lawatan Budaya seperti yang diungkapkan Riris D. Nugrahini (Bu Lurah Mojowarno) di awal agenda Lawatan Budaya pada diskusi 23 Juni 2011, bahwa “Lawatan Budaya bermula dari niatan para seniman untuk melangsungkan ‘reuni plus’ menambah teman dengan jejaring baru.” Seperti yang sudah berlangsung, Lawatan Budaya teragenda dari tanggal 23-26 Juni 2011 lalu.
Repertoar tanggal 23 Juni 2011
Hadrah
Acara dibuka secara khitmat oleh penampilan seni Hadrah dari Ranting ISHARI desa Mojowarno. Pembukaan Hadrah molor hingga jam 20;00 dari jadwal semula jam 18:00. Hal ini dikarenakan Ranting ISHARI ini memiliki kegiatan rutin saban malam Jum’at untuk berhadrah di masjid seusai magrib (17:45-80:00) yang tidak bisa ditinggalkan. Namun sekali lagi, bahwa dalam rentetan Lawatan Budaya tidak menekankan teori praktis bardasar sketdjoule jadwal yang kemudian memaknai kegagalan jika terjadi kemelencengan dari planing terterap, tetapi lebih menekankan kesempatan, kemauan, serta kebersediaan tampil urun mengisi. Ketidaktepatan waktu bukanlah hal yang esensi, sepanjang satu fihak dengan fihak lain dalam waktu tunggu benar-benar masih berjuang bersama, berkesenian di tempat lain. Dengan demikian tidak ada kesan yang terbangun akibat kemoloran yang dianggap mencuri waktu orang lain.
Orasi Budaya
Seusai Hadrah, acara dilanjutkan dengan pemaparan konsep ‘Watak Nusantara Sebagai Negara Agraris’ oleh Pak Sunu Budiman selaku wakil warga desa Mojowarno. Dalam paparannya, Pak Sunu mengudal sejarah Majapahit yang khusus berkaitan dengan wilayah Mojowarno berdasarkan cerita turun-temurun dari nenek moyang setempat. Di antaranya bahwa sentra perekonomian Majapahit dahulu terletak di pelabuhan Canggu (sekarang wilayah sekitar pabrik Ciwi Mojokerto). Di Canggu ini dahulu serupa teluk yang menjorok dari sungai Brantas dan bermuara di selat Madura. Pusat pelabuhan Canggu tersebut sekarang ditandai dengan ‘Tugu atau Tonggak Gajah’. Dari Canggu inilah terkait erat dengan Mojowarno yang ditandai Candi Pangungak-an yang dalam bahasa masyarakat setempat berarti ‘ngenguk, nginceng, ndilok, memantau. Candi Pangungak-an berfungsi sebagai pengontrol, daya filterisasi berbagai transaksi dagang yang berlangsung di pelabuhan Canggu.
Pak Sunu juga menyingkap perihal ras asli warga Mojowarno berasal dari 3 wilayah, yakni Gunung Kendeng, Sidoarjo dan Yogyakarta. Khusus yang dari Jogja, adalah anak keturunan Pangeran Diponegoro yang lari ke wilayag timur saat geger makam leluhurnya yang hendak digusur Belanda yang mencanangkan pembangunan jalan Anyer-Situbondo.
Begitu pula ketika Pak Sunu memaknai buku ‘Negarakartagama karya Sota Soma dan Emputantular, kata Karta=aturan, Gama=senggama yang artinya menjalankan berkehidupan warga yang berhubungan erat dengan pertanian (sistem agraris).
Dalam buku Negarakartagama juga digambarkan pola budaya zaman Majapahit yang tertera semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Waha Wisesa’, yang diasumsikan sebagai kekuatan simbol kesederhanaan. Di mana kesederhanaan juga meliputi cara pribumi dalam mempertahankan tanah airnya dengan semboyan “Sak Dumuk Bathuk, Sak Nyari Bumi, dibelani sampek mati.”
Pak Sunu mengakhiri sambutannya dengan menyimpulkan contoh kongkrit keberadaan warga Mojowarno yang hingga kini belum terjadi kasus sengketa tanah antar warga. Ketidaksepahaman yang mengarah ke konflik warga, cukup diredam dengan rundingan antar sesepuh desa.
Monolog Andhika (Yogyakarta)
Meskipun anggota ISHARI kelar menampilkan tugasnya, tetapi mereka tidak langsung pulang. Anggota yang berjumlah sekitar 30 orang tersebut kemudian bergabung bersama para seniman untuk menyaksikan pementasan monolog sesi pertama yang diperankan oleh Andhika (Yogyakarta) dan sesi ke dua yang dibawakan oleh Galuh (Surabaya). Pementasan Andhika yang menyodorkan teater tubuh, gerak tanpa kata, tubuh yang berbicara, bagi warga desa terkesan rada aneh. Mereka membayangkan Andhika sama dengan pemain pencak silat jaman dulu yang hanya mengungkapkan ekspresi tubuh ketika menyelaraskan musik. Saya sempat bertanya kepada salah satu penonton, “apakah bapak mengerti apa yang dimaksud penari ini?” “Tidak,” jawabnya. Saya bertanya ulang, “tetapi apakah bapak percaya bahwa dibalik tariannya, sesungguhnya ada yang dimaksudkan tentang suatu hal?” “ Ya.”
Monolog Galuh (Surabaya)
Sesi kedua, panggung diisi pementasan monolog rekan Galuh (Surabaya) yang mengangkat tema kritik pengaruh globalisasi dengan judul ‘Kebun’. Naskah yamg diangkat Galuh bukanlah naskah berat, sebab masyarakat udik sudah akrab dengan cerita klasik ‘Kancil Nyolong Timun’. Namun, di sinilah kepiawaian Galuh sebagai seniman tertantang untuk menyuguhkan takhnik penceritaan berbeda dengan alur cerita umumnya. Galuh sebagai tukang cerita, berperan menjadi tiga aktor sekaligus, yakni Si Akulirik, Si Kancil dan Petani. Saat berperan sebagai tokoh Kancil, Galuh langsung berimprovisasi dengan salah satu penonton yang seketika didapuk sebagai Pak Tani yang memergoki ulah pencurian Kancil. Tokoh Pak Tani yang tanpa latihan proses teater terlebih dulu, spontan mampu ber-ekting geram dan berkacakpinggang di hadapan Kancil.
Konsep berkesenian Galuh yang demikian, seperti menjabarkan pertanyaan Arifin C Noer dalam opini pendeknya yang terangkum dalam buku Teater Tanpa Masa Silam (DKJ 2005). Berawal dari pertanyaan siapakah Aku, dalam kaitannya dengan Alam dan Karya, Arifin C Noer melesapkan Aku menjadi Kita. Kita harus senantiasa bocah dan alam menjadi teman sepermainan. Sehingga terjalin hubungan seumpama lelaki dan perempuan yang menghidupi kelengkapan alam anorganik, fisis-chemis, yang kimiawi, vegetatif, animal, human, supranatural dll. Lebih spesifik dari Arifin C Noer, Asrul Sani menyebutnya ‘keterlibatan seluruh civitas teater’ yang meliputi penonton, pewarta, bahkan EO sekali pun yang ia tulis sejak tahun 50-an dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.
Suspansi pementasan Kebun memasuki titik klimaks naskah yang diangkat Galuh. Yakni ketika ‘Kancil’ terlelap tidur dalam kurun sejarah yang teramat sangat lama, dan diperagakan Galuh dengan bersandar pada salah satu bahu penonton. Terkesan sekali, simbol dua subyek yang enjoi dalam (kesepakatan) keterlenaan. Hingga saat sejarah membangunkan ‘Kancil’ dengan perubahan menyeluruh yang tidak terduga, yakni suara gemuruh 2 motor vespa yang sejak sore dipasang asesoris panggung. Kancil pun tergeragap bangun. Ia kaget. Betapa keterlenaan sejenak, sejarah sudah berubah menjadi modernisasi deru mesin. Yang paling naïf bagi Kancil ialah betapa matanya kehilangan entitas kebun Pak Tani sebagai lahan curian timunnya, telah berubah menjadi gedung pabrik, mall, reil estate. Namun keberhasilan Galuh masih ditentukan di akhir pementasan, yakni ketika Galuh merayu-sentuh hati penonton untuk diajak menyaksikan gubuk dan patung yang berjarak 100 meter dari ruang pementasan. Gubuk yang dibangun oleh Sanggare Cah-Cah Tuban, mengingatkan betapa penting dan mahal karya petani meski pun berupa gubuk di tengah sawah, patung bikinan untuk menggusak manuk, atau sekedar umbul-umbul klaras bahkan kain warna warni sebagai pertanda padi (mbok Sri) hamil dan tingkepan (tradisi tileman). Kesadaran hal ini sengaja ditohokkan oleh Galuh dan Sanggare Cah Cah Tuban, bahwa komunitas petani dengan segala kecerdikannya menyiasati hasil panen lebih baik dengan sistim kerja nyaman. Sedang pada sisi lain, Galuh mengungkit ke tumpangtindihan budaya kota yang masih merindukan suasana desa, sementara di sisi lain, petani mulai meninggalkan kebudayaan desa dan merindukan suasana kota. Berbeda dengan ‘viuw rich farmer’ di Bali misalnya yang kalau kita amati pada 5 tahun terakhir mulai digarap ‘aspal setapak di tengah sawah’ untuk para turis yang ingin menikmati keindahan persawahan.
Repertoar tanggal 24 Juni 2011
Shering bersama Agung PW
Seri Lawatan Budaya pada 24 Juni 2011, menghadirkan Agung PW yang membahas seputar tema‘Heritage’. Ada wacana tak terduga dari pemaparan Agung PW, yakni penelusuran mengenai struktur wajah kebudayaan klasik hingga berbagai perubahan yang terakibat oleh perkembangan kebudayaan itu sendiri. Khusus wilayah Mojowarno misalnya, Agung menilai perubahan struktur artistik bangunan masjid, gereja dan beberapa model bangunan telah berganti still dari eksteroir lama. Begitu juga bidang pertanian, sistem kapitalisasi pertanian, sertamerta merubah pola pengolahan tanah, pupuk, pengairan dsb yang cenderung bersifat individualis (baca makalah Agung yang berjudul: Untuk Siapa Heritage Indonesia? Di http://dawetnesia.blogspot.com). Seperti diperkenalkan Abdul Malik dari komunitas Banyumili Mojokerto, bahwa sosok Agung PW, adalah seniman lokal Mojowarno yang luput dari jaringan seniman Jombang, padahal kiprah kesenimanannya berbasis STIBA Malang jurusan Inggris-Prancis angkatan tahun 87. Maka, menjadi berbobot jika kajian Heritage kemudian didasarkan atas perbandingannya selama ke Jepang (2008) dalam program Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts.
Orasi Puisi Bersama 17 Penyair
Serentetan Lawatan Budaya tanggal 24 malam digebyarkan oleh gemuruh 17 penyair dari berbagai kabupaten. Acara yang rencana dimulai pukul 18:00 mundur hingga 20:00 WIB. Penyebab molornya ialah keterlambatan Gamelan Musik S’ketika yang jauh sebelumnya bersedia mengiringi kerempekan selama pembacaan puisi. Namun keterlambatan musik S’ketika tidaklah berarti jika dibanding kesediaannya turut mengisi acara, sebab semua menyadari bahwa awak musisi S’ketika baru pulang dari misinya mengikuti lomba di Probolinggo. Lebih tidak sebanding lagi jika ditilik dari perjuangan musik S’ketika yang di beberapa event kesenian di Jombang, tulus menyumbang memeriahkan. Dari liputan Tim Lincak Sastra misalnya, sempat menemui pemanggungan S’ketika yang kian ‘oke’(rancak) bergaya ‘ngiyaikanjeng’, namun lebih spesifik ke musikalisasi puisi. Tidak hanya di lawatan Budaya saja Sketia tampil, pada 10 April 2011, musisi ini mengiringi kehadiran Afrizal Malna dan Titarubi di Gedung Bung Tomo Pemkab Jombang. Tanggal 14 dan 28 Mei, S’ketika juga tampil secara sukarela di agenda rutinan Angkringan Seni di Dinsosnaker Jombang. Dan masih banyak lagi perjuangan musisi S’ketika di berbagai tempat, berbagai event, berbagai komunitas Jombang dan luar Jombang.
Sayup irama musik S’ketika mulai melantun dengan salam pembuka, khas musikalisasi puisi. Satu-dua tembang yang sekaligus menghantarkan MC (Yosi Ari Wijayanti dari Universitas Nusantara PGRI Kediri angkatan 2010) membaca larik-larik puisi Lawatan Budaya. Bait puisi yang sengaja diformat ‘Jejer-an” untuk mengikat ruang, memfokuskan kesadaran bahwa yang sedang berlangsung adalah pemaknaan sejarah dengan sastra. Cuplikan puisi Lawatan Budaya yang dilantunkan Yosi adalah:
Agenda Sastra pada serangkaian acara Lawatan Budaya di Balai Desa Mojowarno tanggal 24 Juni 2011)
(detik-detik penghantar Lawatan Budaya: diiringi instrument dengan lirik kalem oleh Musik S’ketika)
marilah mengunjungi bumi
di sana, milyatan manusia bersemayam
besama para Nabi terkasih
uluran tangan cintanya mengusap kerisauan, membelai ketenteraman
malayang sebulir padi. dengan sinar ke-emasan, jatuh dari angkasa
tepat, di dekat kutub selatan dan katulistiwa
terbentang berserakan indonesiaraya
kepulauan yang bergandeng-gandeng mesrah
sebuah negeri hijau ranau pantulan surga
kala pagi menyingsing. surya merangkak mendaki bebukitan
sinarnya semburat menerpa dedauanan
ceracau burung perenjak berkicau riang sambil bertelantingan di antara ranting dan dahan
sapi dan kerbau berdengau
panas mencandai hijau lembir klorofil
‘clak’, cangkul petani menyapa sawah
liuk pucuk padi, mekar mayang dan kembang tebu
kala malam menjelang
matahari beranjak pulang
cakrawala senja mengusap merah menjadi jingga
perlahan remang dan gelap mendekap hari
keriuk srengai sayap belalang, kerik jangkrik, denging anai dan keret bajang
menyambut tapak kaki perantau, menimang tubuh pejalan jauh, memijit lelah membuai manja.
selamat datang kembara jiwa. para perekam gravitasi sejarah.
inilah selonjor negeri memanjang bagai sajadah
dari langit ujung timurnya menyerupai peta yang dibawa rasul dari sidratul muntaha
peta takhiyat. kaki kiri bertekuk menjadi semenanjung Blambangan, Ketapang, sepanjang pantai Sritanjung. sedang kaki kiri berselonjor menjadi Madura. Jawa Timur, peta kebangkitan jaman.
sebuah negeri, dengan 10 gunung menjulang.
sebuah negeri, aliran sungai Brantas memanjang
sebuah negeri, bermekaran warna-warni, warno-warno, ijo-abang, Mojowarno-Jombang.
(Dilanjut dengan ucapan selamat datang kepada para tamu yang hadir)
Susunan acara sastra pada Lawatan Budaya tanggal 24 Juni 2011
Iringan Musik S’ketika:
-Mahendra PW……(Jombang)
-Ahmat Fatoni…….(Mojokerto)
-Toni Saputra…… (Trenggalek)
-Kukun Triyoga……(Mojokerto)
-Yoyok SP……….. (Nganjuk)
-Iwan Kapit………..(Kediri)
-Sabrank Suparno (Jombang)
Iringan musik S’ketika:
-Jabbar Abdullah……(Mojokerto)
-Juwaini………………(Kediri)
-Ratna Kumala……….(Nganjuk)
-M. Ali……………….(Gersik)
-Chairul Anwar………(Malang)
-Glewo Anam…………(Mojokerto)
-Titin Darma Ayu……..(Tuban)
Iringan musik S’ketika:
-Mbah Rego …………(Nganjuk)
-Abdul Malik………….(Mojokerto)
-Lek Mujib…………….(Jombang)
-Saiful Bahcri ………….(Mojokerto)
-Kotak Hitam……………(Lamongan)
Instrument musik S’ketika yang piawai dalam lekak-lekuk perpuisian, terus mengiringi setiap pembacaan berlangsung. Sebuah usaha memaksimalkan bunyi pendukung kekuatan penyampaian karakter puisi.
Mahendra PW yang didapuk sebagai pembaca pertama, durasinya terhambat oleh ‘byar-pet’jegleknya listrik yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Bahwa penambahan watt yang diserap banyaknya gamelan musik S’ketika, sertamerta mengurangi daya kekuatan listrik dalam gedung tersebut. Namun demikianlah refleksi yang terjadi, suasana gelagapan dadakan seperti turut memaknai bahwa sejatinya puisi terekam dari siang-malam, gelap-terang, kalut-nyaman. Keadaan demikian tidak menjadikan Mahendra PW kehilangan performa. Ia tetap memanfaatkan improvisasi dengan penonton walau dalam kondisi ruangan gelap. Menggali kekuatan suara. Tanpa lampu. Tanpa pemandangan.
Akhmad Fatoni, penyair berbakat dari Mojokerto tampil mengesankan dengan tiga judul puisinya: tentang kau yang ingin pulang, tentang penyair, dan cerita seorang petualang. Dengan matanya yang tajam, Akhmad Fatoni mulai berani menghidupkan pembacaannya. Tidak jauh dengan Akhmad Fatoni, rekan Iwan Kapit menggali ke PeDe annya dengan berpenampilan ala Taufik Ismail yang khas dengan topi baretnya. Kegenitan Iwan Kapit, saat ia mengekspresikan puisi binalnya yang membincang soal wanita simpanan. Iwan Kapit bersuit bagai barisan kigolog yang menunggu antrian tante-tante nakal di jembatan Delta Plasa Surabaya.
Banyak teori pembacaan puisi yang diperagakan oleh para penyair dalam serangkaian cara Lawatan Budaya. Jabbar Abdullah menyerupai sastrawan China-Taiwan yang berorasi sekedar membaca biasa, namun isi kedalaman puisi itu sendiri yang paling menentukan bobot. Demikian juga Glewo Anam, ia tampil khas dengan rambut panjangnya yang diikat. Sementara Abdul Malik berdandan dan bergaya Sipitung atau para peronda desa dengan sarung di leher dan memakai kopyah hitam.
Kekuatan orasi puisi Yoyok SP justru pada semangatnya yang menggebu di belantika perpuisisan. Didukung usianya yang cukup wareg dalam mengenyam asinnya garam, Yoyok SP merapal puisi puisi sumblim karyanya. Begitu juga Rego Ilalang, tak sekedar bait puisinya yang hidup ketika dibaca, namun ekspresi wajahnya ketika menghantarkan kalimat, merupakan catatan tersendiri bagi seorang Rego, ekspresi yang puitif.
Penampilan nyleneh justru diperankan Tosa Poetra, penyair yang bermukim di kaki bukit Jaran Dawuk Trenggalek. Sebagaimana Rego Ilalang, Toni Poetra berpenampilan atribut khas Jawa kulonan, yakni memakai udeng. Namun Tosa Poetra mirip dengan penampilan Sosiawan Leak yang ketika membaca puisi, merubah dirinya dulu menjadi babi. Tosa Poetra merubah dirinya menjadi Jaran Dawuk atau Kuda Putih. Ia mondar-mandir menguasai panggung dengan aksesoris krincingan. Ulahnya pun liar bagai kuda lepas kendali. Demikianlah Tosa Poetra dengan khas Jaran Dawuk sebagai inspirasi kekuatan lokalnya.
Cak Juwaini dan Choeroel Anwar, ke duanya bagai Nakula-Sadewa bila bertemu dalam satu panggung. Wajah, rambut, usia dan perawakan, ke duanya menyerupai Rendra si Burung Merak. Cak Ju dengan karakter panggung yang gelenggem namun menggema, sementara Choeroel Anwar menambah ulah performennya dengan membaca puisi sambil berdiri di atas meja yang kebetulan tersedia sebagai properti panggung.
Agenda yang terhapus dialami penyair Kukun Triyoga. Ketidakhadiran Kukun tersebab berbarengan dengan 7 hari meninggalnya orang tua penyair ini. Sehingga, selaku MC, Yosi Ari Wijayanti merefleksi ketidakhadiran Kukun dengan mengajak seluruh hadirin untuk membacakan do’a yang dikhususkan pada almarhum orang tua Kukun Triyoga. Namun ketidakhadiran Kukun, tidak mengurangi jumlah pembaca puisi, sebab seketika tergantikan oleh hadirnya penyair wanita asal Nganjuk, Ratna Kumala. Meski belum terdaftar sebelumnya, Ratna Kumala tidak mampu membendung demam panggungnya sebagai penyair. Ia segera menghubungi panitia untuk turut membaca puisi walaupun suaminya harus rela menggendong anaknya yang sedang menangis ketika Ratna membaca puisi. Shound pun menggelegar berkat suara sopram Ratna. Saya, sempat bertanya kepada suami Ratna, “apakah Mas, sering menyaksikan sang istri membaca puisi?” “Ya, saya selalu menghantarkan dia, itu hobinya.” Saya pun mencandai anaknya Ratna dengan mengatakan, “lihat itu! Mamamu sedang membaca puisi. Kau harus lebih hebat daripada Mamamu!”
Dari kawasan timur wilayah Gerbang Kertasusila juga hadir penyair wanita Titin Ilfam Mulib (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Widya Darma Surabaya Angkatan 2009). Gadis kelahiran asli Tuban ini membacakan dua puisinya yang berjudul: Kemunafikan Fana // Menggerus Lokalitas. Sebagaimana Titin, M. Ali dari Gersik juga berpenampilan lugu, namun dibalik kepolosan sikapnya, tak dinyana kedua penyair kawasan timur ini memiliki kekuatan jiwa kepenyairan yang handal. Sedang saya sendiri yang jauh hari sebelumnya mendaftar baca puisi, sempat membaca puisi panjang yang berjudul: Ujaran-Ujaran Ambradoz. Itu saja. Sementara Muhammad Mujiburrohman (Lek Mujib) membacakan puisinya yang berjudul: Cuci Otak. Dengan khas suara bass, Lek Mujib menggedor-gedor kritikan tajam tentang berbagai ketimbangan kebudayaan dan cara berfikir. Gaya pembacaan puisi Lek Mujib di Lawatan Budaya, tidak jauh beda ketika satu panggung dengan D.Zawawi Imron, Sosiawan Leak, serta Max Arifin (alm) di Undar dalam acara Gebyar Malam 1001 Puisi sekitar tahun 2000-an.
Refleksi Puisi bersama Kris Budiman (Yogyakarta)
Serampung seluruh prosesi pembacaan puisi, agenda tanggal 24 Juni malam, ditutup dengan diskusi puisi yang dipandu Kris Budiman (Sosiolog Sastra dari Yogyakarta). Sebagaimana peserta yang lain, Kris Budiman juga rewang untuk menghadiri Lawatan Budaya. Sebuah keterlibatan yang petut diacungi jempol, lantaran kebesaran namanya di dunia sastra, tidak lantas mengkederkan diri untuk terlibat membina generasi penerus sastra. Keterlibatan Kris semacam ini, merupakan konsekuensi tersendiri sebagai profesionalis di bidangnya.
Dalam menyikapi budaya pembacaan puisi panggung, Kris Budiman berpendapat bahwa di Indonesia khususnya, puisi panggung merupakan ciri khas tersendiri, di mana puisi dipresentasikan dengan memadukan tekhnik berteater. Yakni usaha pendiskriftifan makna puisi dengan mengeksplorasi berbagai bentuk personifikasi. Puisi tidak sebatas ditulis dan dibaca. Memasuki wilayah kesempurnaan maknanya diperlukan berbagai cara untuk menghadirkan puisi secara utuh. Di sinilah pentingnya pemanggungan puisi, di mana pendekatan berbagai unsur: analitik, parafrase, emotif, ekspresif, histories, sosiologis, mimesis dll lebih mengena. Kris juga menyinggung secara khusus pendekatan puisi berdasarkan filologis. Adanya perbedaan morfologis pada setiap bangsa yang berkenaan dengan bahasa lokal. Orang-orang Inggris asli cukup berbicara dengan gerakan dagu. Berbeda dengan Orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris dengan mengandalkan bibir yang kemudian terkesan besosol (moncong).
Menyoal demam puisi pendek yang lagi digemari di Indonesia, Kris Budiman mengatakan sebagai gejala adopsi dari bentuk puisi Heiku Jepang. Di samping itu ada gejala kreatifitas lain seperti yang dilakukan Gunawan Maryanto yang sedang menggarap puisi berpolah tembang macapat Jawa, dengan ciri memperhitungkan jumlah ketukan, suku kata, sajak serta rimanya.
Repertoar Tanggal 25 Juni 2011
Diskusi bersama Joko Bibit Santoso (Teater Ruang Solo)
Makalah dengan tajuk “ Fakta Teater Yang Selalu Dipungkiri Secara Sosial” ditulis khusus oleh Joko Bibit Santoso untuk agenda Lawatan Budaya pada 25 Juni. Joko Bibit menuangkan catatan ringan yang terjadi pada kurun 1999 hingga 2005 berkenaan dengan fakta teater yang dilakoninya. Seorang pemuda kampung menanyakan hal sepeleh sebelum masuk anggota Teater Ruang. Apakah berteater bisa menjamin masadepan saya? Beberapa bulan kemudian (Fakta tahun 2000), pemuda tersebut dikirim Joko Bibit ke workshop kelompok teater terkenal dari Perancis. Alkhasil, ia terpilih menjadi aktor dalam karya terbaru mereka. Selanjutnya sebagai langkah pembekalan ia dikursuskan bahasa Inggris dan Perancis. Dalam kontrak 1 tahun pentas keliling dunia: Eropa, Amerika, Australia, Afrika, gaji pemuda tersebut 10 kalilipat gaji Walikota yang waktu itu sekitar 2 juta/bulan. Setelah keberhasilannya, si pemuda membelikan televise 1 inci untuk orangtuanya, 1 sepeda motor untuk adiknya, 2 mobil dan rumah elit di Solo Baru, memberi teman-teman di Teater Ruang masing-masing Rp.250 ribu, sedang untuk Teater Ruang sendiri senilai 1 juta. Namun ditolak oleh Joko Bibit dengan alasan sederhana: Bukan lantaran uang seseorang menjadi anggota Teater Ruang, bukan lantaran uang pula anggota dipersaudarakan. Namun karena teater mempertemukan anggota sebagai satu saudara.
Lebih jauh sesungguhnya yang diinginkan Joko Bibit terhadap pemuda tersebut adalah melebarkan wacana teater ke masyarakat. Bagaimana menerjemahkan konsep kebersamaan berteater memberi kontribusi-fungsi di luar kelompok teater itu sendiri. Joko Bibit menyarankan agar uang yang diberikan ke anggota Teater Ruang, dialihkan untuk membangun WC umum tempat dia dan keluarganya buang hajat. Dari beberapa kamar WC yang ia bangun, diperuntukkan khusus dia dan keluarganya, pasti diijinkan warga.
Pemungkiran terhadap fakta teater kian kentara pada sikap pemuda kampung tersebut setelah sukses. Ia benar-benar lepas dari kebersamaan. Diceritakan Joko Bibit, saat kelompok Teater Ruang membangun gedung ‘Kenthot Roejito’secara bergotong-royong, pemuda itu tidak membantu dan hanya mampir menitipkan atau menganbil barang saja. Akhirnya si pemuda dikeluarkan dari keanggotaan Teater Ruang. Setelah kontrak kerjanya habis dengan kelompok teater Perancis, perekonomian pemuda tersebut pun ambruk. Mobil, rumah, dan segala kemewahannya ludes terjual. Ia kembali bersama keluarganya menempati rumah kontrakan dengan atri WC umum seperti semula.
Fakta teater yang diceritakan Joko Bibit di atas, pada akhirnya dialegorikan pada fakta teater yang dialami Joko Bibit sendiri belum lama saat tulisan ini diturunkan. Dengan tulus berteater, Joko Bibit mengalami keajaiban tak terduga pada keluarganya. Saat anaknya masuk Fakultas Kedokteran UNS, uang regristasi senilai 7 juta tiba-tiba dibayar seseorang yang senang anak Joko Bibit masuk di Kedokteran. Tidak hanya itu, buku-buku mahal pun dibantu gratis oleh dosennya. Uang gedung senilai 10 juta dibebaskan. Dan masih mendapat beasiswa tiap semesternya senilai 5 juta dengan rincian 2 juta untuk membayar SPP, 3 juta untuk uang saku. Ditambah lagi uang regristasi senilai 7 juta yang sudah dibayar, dikembalikan pihak kampus dan akhirnya dibelikan motor untuk transportasi kuliah.
Lain makalah yang ditulis Joko Bibit, lain pula kegayengan saat berdiskusi. Menyikap iklim perteateran di Jombang yang hanya berproses ketika menghadiri event, terutama itu dijadikan konsep dasar teater pelajar, Joko Bibit mengkritik tajam. Berkesenian yang bertumpu pada event-EO, hanyalah berujung pembangunan nama besar bagi dirinya. Kebudayaan EO berakibat mematikan kreativitas kesenian yang pasti mandul jika tidak dikucur dana, dan cara berkesenian yang bertendensi materiel lebih baik membubarkan diri.
Kedatangan Joko Bibit bersama 2 pasukannya yang tergabung dalam Komunitas Tanggul Budaya (Solo), menyelingi diskusi dengan beberapa nomor puisi dan diiringi musik Siter. Bobot keilmuan berteater Joko Bibit pun tidak dilewatkan para seniman Jombang untuk Hadir. Tampak Ketua Dewan Kesenian Jombang (Agus Riadi), Inswiardi, Anjrah Lelono Broto, Farid Dulkamdi, A. Nugroho, Bambang Bei Irawan dll. Anjrah sependapat dengan konsep berteater Joko Bibit, bahwa jikalau seniman berani menentang arus, suatu saat arus akan mengikuti seniman penentang.
Seusai acara, Joko Bibit dkk megunjungi beberapa situs sejarah Majapahit bersama Riris selaku tuan rumah, dengan perhitungan senyawang berada di sekitar pusat Majapahit.
Monolog Herwasis W. Putro (Teater Laskar-Tuban)
Tema apa yang hendak diperankan Herwasis? Saat panggung terbuka, penonton disuguhi lantai penuh jerami serta properti kursi menggantung. Sebagai petani, orang desa, sang tokoh tidak hanya kehilangan lahan persawahan yang merupakan entitas seni tersendiri dalam hidupnya, melainkan kehilangan loyalitas generasi penerus bangsa yang kian tidak memahami budaya negeri sendiri. Naskah yang didaur seimbang antara realis dan surealis itu masih dipahami penonton ketika memparafrasekan kelangenan masa kecilnya yang hampir seluruh anak bangsa mengingatnya. Lantunan lagu kebangsaan, “Garuda Pancasila / akulah pendukungmu / patriot proklamasi / setia berkorban untukmu,” sayup sayup menyeret kenangan ke dalam relung masa kanak-kanak di bangku sekolah dasar. Dengan koor lagu Garuda Pancasila memletikkan semangat menyala dalam jiwa yang membubungkan harapan setiap anak, agar negaranya kelak gagah perkasa seperti Garuda sang Rajawali.
Realitas masa kecil yang kemudian dihadapkan pada ketimpangan masa kini, mengilhami Herwasis dalam menggarap monolognya. Semestinya kebesaran Indonesia di masanya, masa yang diidam-idamkan sejak kecil tidak pernah terwujut menjadi sosok Garuda pujaan, lantaran tapuk pemerintahan dipegang pemimpin berkarakter emprit dan cipret. Atau keputusasaan menjadi Garuda undil yang sayapnya tidak bisa mengepak lebar, lantang berkoar, terbang jauh melintasi benua dan pulau, serta daya akomodasi cupet terhadap mangsa jarahan. Sementra di sisi lain, militansi logosentrik yang kadung mengental di badan sejak kecil, sulit untuk dirubah. Yakni kesadaran bahwa perangkat organ Garuda sesungguhnya simbol yang lemah sebagai karakter suatu bangsa. Bukan sosok Garudanya, melainkan jumlah 17 sayap, 8 ekor, 45 bulu tidak memadai keperkasaan terbang sang Garuda ketika terbebani 5 perisai yang begitu besar. Di sinilah kelemahan burung Garuda idaman, tidak kuat terbang dan cenderung mengurung dalam sangkar dan hanya mematuk makanan yang tersedia di hadapannya.
Jika menilik ulang sejarah jumlah organ Garuda yang dipahami berhubungan erat dengan hari kemedekaan Indonesia, yakni 17-8-1945, sesungguhnya tidak lepas dari pengeboman Herosima dan Nagasaki Jepang oleh pasukan Sekutu pada 14-8-1945. Setelah 3 hari masa vocum, barulah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Padahal bisa dibayangkan jika Herosima dan Nagasaki dibom tanggal 31 Januari. Nah, jika logosentris dihubungkan dengan hari kemerdekaan, betapa Garuda sebagai lambang negara adalah burung bersayap berindil.
Monolog ‘Nyanyian Angsa’ oleh Arif (Teater Swara Malang)
Sejak awal panggung disetting satu bentuk untuk beberapa kali penampilan. Panitia menyarankan bila terjadi pergantian konsep tata ruang atau properti, pemeran dimohon berkordinasi dengan rekan yang tampil lebih awal, sehingga memudahkan proses penataan ruang kembali tanpa merubah total.
Menyambung penampilan Herwasis, Arif menggarap ‘Nyanyian Angsa’ naskah karya Chekhov. Setting tokoh sengaja dikondisikan dengan kebudayaan aslinya, sehingga tampaklah Arif seperti bule Chekoslovakia masuk desa. Naskah yang mengisahkan pentingnya penghargaan kasih sayang kepada seorang gelandangan sekali pun.
Kemiripan cerita yang sama pernah digarap Yenusa Nugroho dalam cerpennya Kalung Kolang Kaling (Jawa Pos..2010). Tentang betapa sunyi jiwa seorang tokoh panggung terkenal kala pertunjukan usai. Yel yel riuh tepuk tangan penonton tidak terdengar sebagaimana di atas penggung beberapa jam sebelumnya. Sang tokoh tidak memerankan ketokohannya, dan kembali memerankan diri-sendiri di balik layar, di gedung yang semua orang sudah bubar, bahkan tinggal dirinya sendiri. Apalagi bagai jatuh tertimpa tangga, akibat kecapekan berakting, sang tokoh nyaris tertidur dalam gedung pertunjukan yang terkunci. Apalah arti kekondangan, hanya dieluhkan sebatas profesionalitas belaka, dan bukan sebagai manusia yang membutuhkan kelengkapan kasih-sayang perangkat rohaniyah. Sendirian dalam gedung gelap, betapa sunyi yang menghiris, menyayat, mencabik sanubari. “Yegorka..! Pedruska..!” Demikianlah sang tokoh kesunyian jiwa Svetlovidof (Badut tua) memanggil dua penjaga gedung pertunjukan yang menguncinya. Naïf bagi Svetlovidof, ia hanya menemukan Nikituska (Ivanits) seorang kawan akting pemeren pembantu yang pasti menjadi teman setia satu-satunya dalam gedung tersebut. Alkhasil, ditemukanlah Nikituska tertidur dalam almari. Keduanya lalu bergurau, mamahami arti ketenaran yang pincang dan lucu jika dihadapkan pada dua realitas, yakni panggung dan kehidupan nasibnya. Dalam gedung kosong tersebut, mereka berdua memerankan diri mereka sebagai manusia yang menggali penghargaan kasih-sayang antar sesama.
Dalam diskusi setelah pementasan Herwasis dan Arif selesai, barulah kedua pemeran mendapat apreseasi serta beberapa kritikan dari penonton. Juwaini (Cak Ju) penyair Kediri yang sempat bermalam beberapa hari di Lawatan Budaya, mengkritik penampilan Arif dengan monolog ‘Nyanyian Angsa-nya’, terlalu sembrono dengan properti cagak mikorofon, betapa properti yang tidak berhubungan dengan pementasan, sangat mengganggu pemandangan, apalagi juru kamera.
Repertoar 25 Juni 2011
Workshop Mendongeng oleh Rumah Baca Kol. Sampoerno, Mojokerto
Rentetan Lawatan Budaya Mojowarno juga tak luput dari bidikan seniman yang memperhatikan pembentukan, perkembangan jiwa anak-anak. Metode cerita atau mendongeng dinilai media paling efektif untuk menancapkan patok nilai moral sejak file jiwa anak masih putih dini. Selaras dengan sistem nourologi, di mana otak mampu memutar ulang memori hingga 60 ribu kali setiap harinya, dongeng atau cerita yang baik, syarat dengan pembentukan karakter nilai moral, dimungkinkan rekaman yang merasuk saat anak dini, akan diputar ulang saat anak dewasa dan memegang tampuk pimpinan sejarah akan datang.
Atas dasar itulah Komunitas Rumah Baca Kol. Sampoerno Mojokerto merasa penting berkesenian dengan melibatkan anak-anak. Gagasan ini juga menyadarkan para pendidik dan orang tua, bagaimana seharusnya mempengaruhi pendidikan anak dengan pola harmonisasi keluarga, anak, dan pendidik. Yaitu bagaimana masing masing berperan aktif dalam porsinya, orang tua berteater keseharian sebagai orang tua, pendidik sebagai guru, dan anak berperan sebagai anak. Contoh semisal pada sistem pengajaran anak yatim-piatu se-Indonesia, para pendidik mengajarkan anak berwajah melas, memperihatinkan, nelangsa ketika mereka berhadapan dengan para donatur. Pembentukan karakter demikian terhadap anak didik, sangatlah keliru, sabab hanya membangun mental anak berpangku tangan pada belas kasihan atas perubahan nasibnya. Bukan sebaliknya, bermental tangguh yang tidak akan mengharap pada siapapun atas perubahan diri mereka, kecuali meng-asah kelebihan yang bernilai pada diri sebagai mengambilan hak atas dedikasinya. Tidak serakah mengambil hak orang lain, kecuali mengambil hak kelebihannya.
Pantomim dan Puisi Anak Autis
Perhatian terhadap kepedulian anak, hingga me-nyektor ke anak autis yang oleh masyarakat dan kawan sepermainan acapkali termarginalkan. Kekurangsempurnaan takdir yang diterima sebagai manusia normal, membuat anak autis harus berjuang ekstra dalam menyelesaikan tujuan hidup layaknya standarisasi manusia wajar.
Pantomim yang diperankan anak autis, menceritakan rutinitas anak sekolah (desa), bagaimana ia mengawali keseharian sejak berangkat ke sekolah, mandi, naik sepeda sampai di rumahnya, membantu ayahnya mencangkul.
Melalui wahana seni, dalam hal ini teater dan sastra, Lawatan Budaya juga mengapreseasi kemahiran anak autis yang sebelumya terbina ber-pantomim dan puisi. Rasa percayadiri anak autist ini sengaja digali dan dibangkitkan oleh asuhan Hadi Sutarno bersama istrinya (Fitriyah) yang memang sejak lulus Fakultas Psikologi Undar Jombang, mereka bergiat khusus dalam bimbingan anak autis seputar Jombang.
Anak autis ini membaca puisi ‘Aku-nya Chairil Anwar. Namun bagi Hadi Sutarno dan Fitriyah, membutuhkan waktu 3 bulan untuk melatih, baik puisi atau pantomim.
Kentrungan Bersama Sarkadek Lamongan
Seni kentrungan yang dibawa Sarkadek dari Lamongan, merupakan kentrungan khas Lamongan yang menceritakan babat perjalanan para wali. Sebagaimana diketahui, 5 dari 9 wali bermakam dan mukim di Jawa Timur pesisir utara (Gersik, Lamongan).
Gebyar (Semi) Wayang Kulit Bersama Manunggal Laras Bareng-Jombang
Jiwa kesenimanan dalang muda, Heru asal Bareng, yang kini menjabat sebagai KASI Kebudayaan Disporabudpar Jombang, terpanggil untuk rewang mengisi pertunjukan wayang kulit. Kesenian tradisional Jawa yang paling tua itu, merasa perlu diperkenalkan secara mengena ke benak generasi muda yang kian berpaling pada kesenian modern sejalan merebaknya era-facebooker, hp, dan google. Di sinilah dalang Heru memaparkan perihal mendasar dalam pertunjukan wayang kulit. Yakni menyangkut tatanan wayang berjajar memanjang pada lanskap (kleber putih) yang sekaligus sebagai medium pementasan.
Susunan wayang berawal di titik tengah, tempat dalang menggebyakkan lakon cerita. Di tengah inilah tempat Kelir atau Gunungan sebagai membuka sekaligus menutup lakon. Pada kelir bergambar hutan dan singa, simbol suatu adegan sedang memaparkan kondisi wilayah hutan belantara. Sedang kelir bergambar keraton, menunjukkan bahwa lakon mengetengahkan kondisi (sedang) kerajaan, atau negara. Dari kelir menuju pinggir (yang paling jauh dari dalang), tatanan wayang disebut ‘Sumpingan’, yang artinya tatanan menyerupai bentuk kuping, dari lingkaran kecil pusat selaput gendang, kemudian melingkar lebar di tepi. Disebut sumpingan, juga karena bersifat seperti rumah siput. Dalam tradisi wayang Jawa Timuran, istilah sumpingan biasa disebut ‘Sampiran’, yang artinya dari jajaran wayang pada kleber, terdapat satu wayang yang disampirkan. Pada bagian kanan dalang, wayang yang disampirkan di pundak wayang berjajar lainnya adalah tokoh Betoro Guru, sedangkan pada bagian kiri, wayang yang disampirkan adalah tokoh Betari Durgo.
Dalam kesempatan Lawatan Budaya lalu, dalang muda Heru mementaskan lakon ‘Ilange Jimat Kalimosodo’ yang dalam wayang Jawa Timuran dikenal dengan lakon ‘mBangun Candi Sapto Wargo. Lakon yang padat dengan simbolik dan reflektif dengan berbagai alur perubahan tampuk kebudayaan pemerintahan Indonesia.
Ilange Jamus (Jimat) Kalimosodo membeberkan cerita keteledoran pembesar Astina yang kurang peka dalam menyerahkan penentu kebijaksanaan negara, yakni tidak menyeleksi secara tepat perihal: Siapa? Atas nama apa? Kepentingan apa? Akibatnya, kewibawan negara Astina runtuh karena seluruh gudang persenjataan terkuras habis dicuri lawan oposisi sayap kiri yang dipimpin Ratu Bumiloka. Dalam menjalankan aksinya, Bumiloka didukung Adik perempuannya Mustokoweni. Dalam lakon ini, Mustokoweni berperan aktif dengan ilmu kadigdayaannya yang mampu merubah diri, menjelma menjadi siapapun yang dikehendaki. Dengan ilmu mancoloputro-mancoloputri, Mustokoweni tidak kesulitan merebut Jimat Kalimosodo dari tangan para punggawa Astina. Ketika pusaka dipegang Arjuna, Mustokoweni menjelma diri menjadi Kresna yang berpura membutuhkan jimat tersebut. Tanpa syakwasangka, Arjuna pun memberikan Jimat Kalimasada begitu saja. Begitu juga ketika Jimat di tangan Kresna, Mustokoweni merubah diri menjadi orang terdekat Kresna. Namun kekalutan perihal hilangnya Jamus Kalimosodo oleh ulah Mustokoweni diketahui Semar. Dengan gampang Semar turun tangan menyelesaikan kekalutan Astina, sebab Semar yang memahami data sejarah Mustokoweni, mengetahui kalau Mustokoweni mempunyai pria idaman yang digadang menjadi pendamping hidupnya, yakni Bambang Priambodo. Semar pun merubah diri menjadi lelaki imajiner, kekasih bayangan Mostokoweni, yakni Bambang Priambodo. Semar memahami betul bahwa konsep umumnya manusia ialah apapun yang ia punya, akan jemrintil jika berhadapan dengan kekuatan cinta.
Lakon ‘Ilange Jamus Kalimasodo’ mengeja detail politik di Indonesia, bahwa bermacam-macam partai sesungguhnya bertujuan sama, yakni atas nama memperjuangkan kepentingan rakyat. Di sinilah semua partai, lembaga, institusi, komunitas apapun berulah mendo-mendo, merubah diri menjadi pejuang rakyat dalam mengambil simpati masyarakat. Bahkan tak segan-segan menampilkan begraund kekuatan super power meski imajiner di balik kancah perpolitikan sekali pun.
Pementasa Jaran Kepang ‘Tung Dor’ Kesenian Asli Desa Mojowarno
Di samping mempersilahkan seniman luar kabupaten atau propinsi untuk turut menyemarakkan Lawatan Buaya yang didukung Pemerintah Desa Mojowarno, Komunitas Suket, serta Komunitas Seni Mawarno juga menampilkan kesenian tradisi desa sendiri. Kesenian Jaran Dor atau Jaran Kepang yang pelakunya asli warga desa Mojowarno sengaja diuri-uri oleh Kades Catur agar bangkit kembali setelah vocum beberapa tahun. pementasan Jaran Kepang Mojowarno merupakan penutup seluruh rangkaian acara Lawatan Budaya. Seperti pementasan Jaran Kepang umumnya di daerah Jombang, tak kurang 300 penonton berjubel melingkari pelataran pementasan, dari kalangan tua, muda-mudi, dan anak sekalipun. Namun yang berbeda dari penampilan Jaran Kepang desa Mojowarno dibanding performa Jaran Kepang lain ialah proses ‘strum’ atau yang dikenal kerasukan, sengaja memakai strum lepas. Dalam strum lepas ini, proses keranjingan bias saja menimpa secara liar kepada siapapun yang ada di sekitar. Bahkan beberapa penoton gadis berteriak untuk ikut terkana strum. Dan proses strum inilah acara yang paling diminati penonton, bagaimana mereka menyaksikan pemain, teman atau siapa saja kerasukan yang berulah seperti penari Jaran Kepang. Ada yang menarik dari proses strum Jaran Kepang di penghujung Lawatan Budaya lalu, yakni keranjingannya Arif seniman asal Malang yang mementaskan monolog ‘Nyanyian Angsa’,tersaut strum sejak gamelan Jaranan ditabuh. Arif yang berada di dalam gedung Balai Desa, tiba tiba mendengus dan berulah seperti kadal. Ia merangkak serta kuku tangannya mencakar. Beberapa pawang mencoba menyembuhkan Arif, namun proses pemulihan Arif dari roh yang merasuki tergolong kuat. Saya (penulis) dan Bu Lurah Riris D. Nugrahini sempat kebingungan, apalagi saat Arif kerasukan, sempat mencakar beberapa kabel listrik. Dalam kekalutan tersebut, saya dan Riris sempat berbisik, ”sesungguhnya inilah pementasa Arif yang menarik daripada yang ia pentaskan saat bermonolog Nyanyian Angsa kemarin.”
*) Penggiat Lincak Sastra-Jombang.
Jumat, 28 Januari 2011
Sastra Singo Edan Meraung Gemontang
(Reportase, bedah “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri.
Mungkin demikian kenyataannya. Sambatan serupa juga kita temukan di wilayah mana pun ketika aktivitas kesusastraan mengalami stagnan. Akan tetapi terlalu kerdil, jika sumbatan yang pada akhirnya berakibat kemampatan kesusastraan tersebut dipahami sebagai satu-satunya dikhotomi baku. Sedangkan situasi yang sebenarnya hanya kondisional, untuk merubah lebih sumringah, bukan karena pelakunya tidak mampu, melainkan tak mau.
Menilik lebih jeli perihal geliat sastra yang ada di Malang sekarang, tidaklah separah gambaran di atas. Komunitas Pelangi Sastra Malang yang dipandegani rekan Denny Mizhar, terbukti mampu meng-agen-da-kan kecipak kesusastraan yang rutin tiap bulan. Itu terhitung satu komunitas. Sedang dalam lingkup wilayah Malang, ada puluhan bahkan ratusan pegiat sastra dari berbagai jebolan kampus, baik yang bergerak di komunitas pun independent.
Bukti adanya geliat sastra di kota pendidikan ini terlihat pada tanggal 23 Januari 2011 pukul 9;00 pagi. Dimana Komunitas Pelangi Sastra mengadakan bedah kumpulan puisi “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono. Acara yang diadakan di Aula Perpustakaan pusat Kota Malang JL. Raya Ijen 30A itu mampu menarik perhatian pengunjung perpus yang setiap hari berjubel. Maklum bertepatan hari Minggu yang di sekitar kawasan itu digelar pasar dadakan; pasar Minggu pagi.
Sepanjang tergelarnya acara tampak lebih rampak dengan iringan alunan Swara Akustik garapan dua musisi sepuh yang masih bersemangat, mBah Antok dan Pak Abi. Denting dawai kedua misisi inilah yang menghantarkan Grace Forevah membacakan larik-larik puisi guratan Tengsoe. Sastra seperti menyatu dalam jiwanya. Power suaranya menunjang, membuat Grace mampu membacakan puisi tersebut lebih hidup.
Yang tak kalah mengesankankan ialah gadis sepantaran Grace, Maria Dini anak perempuan Tengsoe. Meski tak sepiawai Grace, pengunjung seperti merasakan jalinan kemesraan bersastra antara bapak dengan anaknya. Tampak mata Tengsoe berkerling kaca ketika anaknya membacakan puisi karyanya.
Setelah diulas lebih komprehensif oleh sastrawan muda Yusri Fajar yang telah menyelesaikan kuliahnya di Jerman dan kini mengajar di FIB Univ Brawijaya, buku “Salam Mempelai” berubah menjadi secawan anggur. Tak heran jika banyak pengunjung segera meneguk sejudul puisi untuk dibaca sebagai sela acara berlangsung. Sebut saja Nanang penyair Malang dkk, Alex dari Komunitas Rebo Sore Surabaya yang sengaja nimbrung pagi itu. Pun Ibu Faradina, selaku pecinta sastra yang berdomisili di Malang ini, turut kesemsem untuk membacakan secara spontan dengan lihainya. Sedang Bonari Nabonenar juga sempat menjenguk acara yang digagas kaum muda tersebut. Nurel Javissyarqi (penyair Lamongan) membaca puisi yang berjudul “Pengantin Pagi,” dan Denny Mizhar berhasil menuntaskan pembacaan puisi terpanjang dalam buku itu dengan judul “Lia dan Rambutnya.”
Menurut Yusri Fajar, penyair seusia Tengsoe Tjahjono masih terkesan optimis membangun reruntuhan sejarah Indonesia. Terbukti dari beberapa puisinya dipenuhi nuansa akulirik-romantis yang dituangkan secara hati-hati sebagai bentuk rekaman perjalanan merantaui ke berbagai wilayah di Nusantara. Padahal setiap penyair selalu dihadapkan tiga permasalahan mendasar selama hidupnya; politik, eksistensi dan metafisik. Sedang keprihatinan Tengsoe terhadap ketimpangan sosial, digambarkan dalam puisi “Rembang Dolly” yang digurat secara stereotype yang dinilai berhasil tak membuat PSK tersinggung.
Selain Denny Mizhar, geliat sastra di Malang juga bisa kita jumpai kegetolan mBak Ratna (Cerpenis kawakan) yang hingga kini rutin menumbuhkembangkan potensi berkesenian kawula muda. Sebagai konsekwensi seniman, yang meski pun tidak wajib hukumnya, mBak Ratna pada tanggal 23 Januari jam 7 malam, sibuk melangsungkan acara rutinan yang dikenal ‘Musik Arbanat’, ramuan aransemen dari beberapa biolis muda.
Predikat Malang sebagai kota pendidikan, otomatis disertai pembludakan berbagai jenis kampus, fakultas dengan segala macam perkuliahannya yang diamberi pembelajar sejagat berduyun-duyun dari seantero Tanah Air. Meski masyarakat Malang bercorak urbanisme; wilayah potensial untuk membangun imperium kesusastraan setara kota-kota megapolitan lain di Indonesia.
Malang, dengan psikologi kota yang dihuni penduduk rata-rata berintelektualitas tinggi, keberadaan sastra cukup berarti. Walau sastra hanya setara garam, yang dipandang remeh-temeh dengan disiplin ilmu hidup lainnya, ternyata menjadi bumbu penyedap kebuntuan, kegersangan, kepenatan jiwa seluruh kaum profesional ketika mentok pada titik kejenuhan. Seringkali sms atau facebook dari para dosen, mahasiswa non sastra, ”Cak! Ajari aku bersastra. Ampang rasanya keilmuanku tanpa disertai sastra.” Menggauli sastra berarti membiasakan diri berperilaku lembut, menjaga kearifan bersikap sosial, mengasah ketajaman intuisi, merangsang kepekaan perasaan, menyelami kedalaman jiwa, mengembangkan wawasan luas, bahkan menuju spiritualitas (Budaya Tanding Emha).
Keberadaan Pelangi Sastra Malang hanyalah Gogor (anak macan) mungil yang pada saatnya tumbuh besar sebagai Singa nan lantang berkoar. Kapan? Tak butuh waktu lama. Asal para pecintanya segera merapat rukun dan guyup. Diawali kebersediaan para singa sastra untuk bertengger di pelataran kampus. Kemudian berlompatan antar ubung-ubung kampus lain. Barulah segera ancang raungan ke delapan penjuru mata angin.
*) Lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02. Desa Plosokerep, Sumobito, Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri.
Mungkin demikian kenyataannya. Sambatan serupa juga kita temukan di wilayah mana pun ketika aktivitas kesusastraan mengalami stagnan. Akan tetapi terlalu kerdil, jika sumbatan yang pada akhirnya berakibat kemampatan kesusastraan tersebut dipahami sebagai satu-satunya dikhotomi baku. Sedangkan situasi yang sebenarnya hanya kondisional, untuk merubah lebih sumringah, bukan karena pelakunya tidak mampu, melainkan tak mau.
Menilik lebih jeli perihal geliat sastra yang ada di Malang sekarang, tidaklah separah gambaran di atas. Komunitas Pelangi Sastra Malang yang dipandegani rekan Denny Mizhar, terbukti mampu meng-agen-da-kan kecipak kesusastraan yang rutin tiap bulan. Itu terhitung satu komunitas. Sedang dalam lingkup wilayah Malang, ada puluhan bahkan ratusan pegiat sastra dari berbagai jebolan kampus, baik yang bergerak di komunitas pun independent.
Bukti adanya geliat sastra di kota pendidikan ini terlihat pada tanggal 23 Januari 2011 pukul 9;00 pagi. Dimana Komunitas Pelangi Sastra mengadakan bedah kumpulan puisi “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono. Acara yang diadakan di Aula Perpustakaan pusat Kota Malang JL. Raya Ijen 30A itu mampu menarik perhatian pengunjung perpus yang setiap hari berjubel. Maklum bertepatan hari Minggu yang di sekitar kawasan itu digelar pasar dadakan; pasar Minggu pagi.
Sepanjang tergelarnya acara tampak lebih rampak dengan iringan alunan Swara Akustik garapan dua musisi sepuh yang masih bersemangat, mBah Antok dan Pak Abi. Denting dawai kedua misisi inilah yang menghantarkan Grace Forevah membacakan larik-larik puisi guratan Tengsoe. Sastra seperti menyatu dalam jiwanya. Power suaranya menunjang, membuat Grace mampu membacakan puisi tersebut lebih hidup.
Yang tak kalah mengesankankan ialah gadis sepantaran Grace, Maria Dini anak perempuan Tengsoe. Meski tak sepiawai Grace, pengunjung seperti merasakan jalinan kemesraan bersastra antara bapak dengan anaknya. Tampak mata Tengsoe berkerling kaca ketika anaknya membacakan puisi karyanya.
Setelah diulas lebih komprehensif oleh sastrawan muda Yusri Fajar yang telah menyelesaikan kuliahnya di Jerman dan kini mengajar di FIB Univ Brawijaya, buku “Salam Mempelai” berubah menjadi secawan anggur. Tak heran jika banyak pengunjung segera meneguk sejudul puisi untuk dibaca sebagai sela acara berlangsung. Sebut saja Nanang penyair Malang dkk, Alex dari Komunitas Rebo Sore Surabaya yang sengaja nimbrung pagi itu. Pun Ibu Faradina, selaku pecinta sastra yang berdomisili di Malang ini, turut kesemsem untuk membacakan secara spontan dengan lihainya. Sedang Bonari Nabonenar juga sempat menjenguk acara yang digagas kaum muda tersebut. Nurel Javissyarqi (penyair Lamongan) membaca puisi yang berjudul “Pengantin Pagi,” dan Denny Mizhar berhasil menuntaskan pembacaan puisi terpanjang dalam buku itu dengan judul “Lia dan Rambutnya.”
Menurut Yusri Fajar, penyair seusia Tengsoe Tjahjono masih terkesan optimis membangun reruntuhan sejarah Indonesia. Terbukti dari beberapa puisinya dipenuhi nuansa akulirik-romantis yang dituangkan secara hati-hati sebagai bentuk rekaman perjalanan merantaui ke berbagai wilayah di Nusantara. Padahal setiap penyair selalu dihadapkan tiga permasalahan mendasar selama hidupnya; politik, eksistensi dan metafisik. Sedang keprihatinan Tengsoe terhadap ketimpangan sosial, digambarkan dalam puisi “Rembang Dolly” yang digurat secara stereotype yang dinilai berhasil tak membuat PSK tersinggung.
Selain Denny Mizhar, geliat sastra di Malang juga bisa kita jumpai kegetolan mBak Ratna (Cerpenis kawakan) yang hingga kini rutin menumbuhkembangkan potensi berkesenian kawula muda. Sebagai konsekwensi seniman, yang meski pun tidak wajib hukumnya, mBak Ratna pada tanggal 23 Januari jam 7 malam, sibuk melangsungkan acara rutinan yang dikenal ‘Musik Arbanat’, ramuan aransemen dari beberapa biolis muda.
Predikat Malang sebagai kota pendidikan, otomatis disertai pembludakan berbagai jenis kampus, fakultas dengan segala macam perkuliahannya yang diamberi pembelajar sejagat berduyun-duyun dari seantero Tanah Air. Meski masyarakat Malang bercorak urbanisme; wilayah potensial untuk membangun imperium kesusastraan setara kota-kota megapolitan lain di Indonesia.
Malang, dengan psikologi kota yang dihuni penduduk rata-rata berintelektualitas tinggi, keberadaan sastra cukup berarti. Walau sastra hanya setara garam, yang dipandang remeh-temeh dengan disiplin ilmu hidup lainnya, ternyata menjadi bumbu penyedap kebuntuan, kegersangan, kepenatan jiwa seluruh kaum profesional ketika mentok pada titik kejenuhan. Seringkali sms atau facebook dari para dosen, mahasiswa non sastra, ”Cak! Ajari aku bersastra. Ampang rasanya keilmuanku tanpa disertai sastra.” Menggauli sastra berarti membiasakan diri berperilaku lembut, menjaga kearifan bersikap sosial, mengasah ketajaman intuisi, merangsang kepekaan perasaan, menyelami kedalaman jiwa, mengembangkan wawasan luas, bahkan menuju spiritualitas (Budaya Tanding Emha).
Keberadaan Pelangi Sastra Malang hanyalah Gogor (anak macan) mungil yang pada saatnya tumbuh besar sebagai Singa nan lantang berkoar. Kapan? Tak butuh waktu lama. Asal para pecintanya segera merapat rukun dan guyup. Diawali kebersediaan para singa sastra untuk bertengger di pelataran kampus. Kemudian berlompatan antar ubung-ubung kampus lain. Barulah segera ancang raungan ke delapan penjuru mata angin.
*) Lahir di Jombang 24 Maret 1975. Redaktur Bulletin Lincak Sastra. Beralamat di Dowong RT/RW: 08/02. Desa Plosokerep, Sumobito, Jombang. Email: sabrank_bre@yahoo.com
Jumat, 21 Januari 2011
Puisi itu…! Menerjang Pecundang
Sabrank Suparno
http://sastra-perlawanan.blogspot.com/
Detik detik penutupan serangkaian acara Gebyar Pesta Seni Rakyat Jombang yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) beserta lembaga terkait di gedung PSBR, dipungkasi dengan pertunjukan Teatrikalisasi-Puisi-Musik persembahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang angkatan 2009. Pementasan sesi pertama digelar pukul 15:30 dan pementasan ulang pukul 19:00, dengan 4 judul puisi sekaligus: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS. Rendra, Menghisap Kelembak Menyan karya Emha Ainun Nadjib, dan terahir MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail.
Seperti ada serabut di tempurung kepala penonton. Kalau pun tidak, pasti ada gumpalan di rongga dada yang pada saatnya akan meledak. Seminggu, semenjak acara berlangsung, saya kerap klitar kilter hingga larut menyaksikan seluruh pementasan di gedung itu. Dan ketika sekitar jam 2:00 siang, seluruh mahasiswa tampak melakukan persiapan di pelataran masjid dan area parkir, dengan memoles diri, memoles temannya sesuai peran masing-masing. Saya jadi ingat sebilik tobongan yang dipakai berias para pemain ludruk sebelum tampil. Sebilik ruang sederhana yang kerap saya masuki ketika meliput ludruk bersama rekan Fahrudin Nasrulloh. Itupun hanya di kerumuni hanya sekitar 60 awak seniman. Tetapi mahasiswa STKIP angkatan 2009 yang berjumlah sekitar 250 berjubel menyesaki pelataran PSBR.
Ada catatan tersendiri di sana. Canda canda kecil, wajah belepotan, over menor, menyiapkan alat adegan dll. Meski belum menyamai pementasan Sumpah Gajah Mada yang ditulis Sri Murtono pada tahun 1952 di depan musium Sonobudoyo (Keraton Yogyakarta) yang melibatkan 350 aktor termasuk 125 diantaranya aktris, 8 ekor kuda, sepuluh kereta yang ditarik 20 ekor sapi, di seluas panggung berukuran 50 kali 135 meter.*
Ah, ini buakan zaman perang. Sungguh. Pagi setelah malam penutupan itu, seperti desingan peluru berhamburan memberondong. Ledakan kanon, thank, pistol, bedil, bayonet, martil, koka, granat masih membekas di pendengaran saya. Seperti ada pertempuran semalam.
Macapat Sasana Gebyar Seni
Acara dibuka dengan penampilan Sasana Gebyar Seni pimpinan Bapak Suhartono yang berpadepokan di Perumahan Jombang Indah. Komunitas ini menampilkan paduan lantunan macapat dengan teatrikal dalang. Dimana salah satu anggota mereka berperan memegang kelir, bertempur dengan kelir itu, yang dalam pementasan wayang kulit dikenal dengan istilah ‘nyirep goro goro’menyingkirkan prahara.
Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta
Seiring pergantian musik setelah goro goro menyingkir, barulah keluar ratusan para pelacur. Orasi pembacaan Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta pun berselang seling menyelinap diantara kerumunan para pelacur. Saya, sempat lupa kalau para pelacur itu hanyalah penampakan puisinya Rendra. Hingga saya sempat bertanya pada rekan Jabbar Abdulloh selaku networker yang sedang meliput, “ Jabbar, tarife pelacur iki piroan?” sambil tersenyum Jabbar menjawab “selawe nggeblak dewe”, haha.
Demikianlah ketika puisi diteatrikalisasikan. Adalah misi yang digagas seniman dengan harapan agar maksud isi puisi yang ditulis sastrawan efektif membekas di hati dan kesadaran penonton. Proses kerja teatrikalisasi itu sendiri mencoba menerjemahkan keterbatasan bahasa dalam menggambarkan sesuatu (visual). Jalan ini juga ditempuh Afrizal Malna dengan gagasan Puisi Art: Penyampaian puisi yang didesain dengan vidio. Untuk menggambarkan kilat misalnya, atau kecepatan pesawat super sonik, tak cukup hanya mengandalkan bahasa. Tetapi akan lebih paham jika ditampakkan ilustrasi visual.
Dalam proses teatrikalisasi puisi atau puisi musik, diperlukan garapan yang seimbang antar civitas: Penonton, pemain, penulis naskah, kritikus, bahkan peliput. Terutama hal yang menyangkut konseptual, termasuk memahami kondisi ruang. Sebab, pada kadar intonasi yang tidak reflektif terhadap ruang bisa menenggelamkan puisi itu sendiri. Disinilah letak kegagalan pementasan.
Pada pementasan Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta, sutradara seperti kurang memahami konsep ‘kesamaan derajat’ yang ditawarkan Rendra. Bukan kesamaan gaya, kostum, cara, bahkan predikat kesejatian pelacur itu sendiri. Nyaris tidak ditemukan pelacur yang bergaya-berpakaian kantoran, anak kuliah, bahkan cabutan usia SMA. Sehingga tidak sertamerta mewakili realitas yang ada. Pelacur disitu hanya dipahami sabagai PSK kelas rendahan yang dijajahkan di pinggir jalan. Kalaupun agak elit, taruhlah tempat tempat prostitusi seperti Padang Galak, Ketewel (Denpasar), Padyang Ulan (Banyuwangi), Tretes (Pasuruan), Gang Dolly dan Kremil (Surabaya), Balong Cangkring/BC (Mojokerto), Tunggorono, Klubuk (Jombang), Guyangan (Nganjuk), Lembah UGM (Yogyakarta), Jurang Songgoriti (Malang) dll.
Namun kekurangan akting itu dalam batas kewajaran. Seperti dikatakan Henri Nurcahyo Esais Surabaya saat diskusi teater di gedung PSBR tanggal 6 Januari 2011 pagi, bahwa dunia teater adalah dunia seolah-olah. Maka tak heran jika para pelacur di panggung PSBR adalah pelacur yang diragukan kepelacurannya. Artinya, meski pun mereka bergaya dan berpenampilan ala pelacur, tapi tidak sungguh sungguh berprofesi sebagai pelacur. Andai pun ada yang terlanjur (maaf), sehina hinanya pelacur yang dicolok Rendra dalam puisi ini, ialah orang yang sembodo, ksatria dalam hidupnya. Sebab mereka nyata dalam transaksi menjual dirinya secara total. Sementara para penguasa malah menjadi pelacur ter-hina yang menjual rakyat (tubuh lain) demi eksistensinya.
Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Kejanggalan pada pementasan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo dapat kita lihat dari penuangan momentum sejarah. Apakah sesuai tahun terbunuhnya Atmo Karpo dengan interpretasi gaya konflik yang dibangun diatas panggung? Memang, dalam naskah itu, atas nama dendam kesumat, Joko Pandan menelikung kematian Atmo Karpo dari 4 penjuru mata angin. Armo Karpo terjungkal setelah bahu kirinya tertembus anak panah. Sepertinya zaman nomaden. Lantas, kenapa 4 wanita pemanahnya tidak memakai BeHa koteka sekalian?
Keadaan demikian akan menyulitkan format para penonton. Hendak dikemanakan konsep format yang demikian? Kesannya, tragedi itu hanya terjadi di masa lampau. Padahal sesungguhnya bahaya selalu mengancam siapa pun dalam berbagai bentuk. Termasuk kekejaman tekhnologi cyber yang lebih bahaya bagai busur angin.
Menghisap Kelembak Menyan
Pengemasan Edy Haryoso selaku sutradara tidak jauh melebar dari teks format aslinya ketika dibacakan Emha Ainun Nadjib sendiri bersama teater Dynasti. Seting backround pementasan Menghisap Kelembak Menyan formatnya tidak berubah. Naskah ini tergolong sublim. Perebutan eksistensi digambarkan dalam perang dialog antar dua teori yang bertabrakan akibat kondisi kekinian yang dialami generasi penerus bangsa. Orang tua dan kaum feodal menjadikan pitutur kuno sebagai bius demokratisasi, sedang kaum intelektual muda menemui kenyataan berbalik 180 derajat.
Benturan dua teori di atas diharapkan menjadi serbuk /glepung yang disebut ‘irama pembusukan’. Berawal dari teori medok, mogol, tanggung, entah gak entah-mateng gak mateng. Setelah mati, busuk, barulah muncul kehidupan baru, file file baru yang lebih tertata.
Karena pakem dengan format aslinya, menjadikan pementasan Menghisap Kelembak Menyan kurang menghenyak penonton. Meskipun dari alur teks penonton terpukau. Kentaranya, sutradara hanya menguasai intensitas teks, tetapi lemah intensitas ruang. Dengan hanya berdiri monoton di pojok, penonton yang paling belakang tidak terdengar. Apalagi para penonton yang belum pernah dikursus menjadi penonton yang baik, bisik kegaduhannya acapkali menenggelamkan suara orator. Saya sekedar membayangkan seandainya pembaca puisinya sambil berjalan menguasai panggung, mengacung-acungkan teks, mengibaskan atau bahkan membanting teks ke lantai. Dan sah juga sambil menghampiri kerumunan penonton. Setahu saya, Emha sering mengatakan “kalau anda meniru saya, Emhais, nyakNun, artinya aku gagal membangun kemandirian kalian. Anggaplah aku garam bagimu yang kau ramu untuk sekedar ngepyuri bumbu masakan sosial”*
MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia)
Ada kreativitas ide pada pementasan MAJOI. Yaitu penuangan panggung yang bersifat elastis. Hanya dengan alat sederhana, sesi peralihan adegan yang bernuansa kehidupan modern efektif seperti menonton layar kaca. Sayangnya si tokoh yang pemalu (penyebab), yang kemudian bersedih (akibat malu) gagal mewakili kesedihan Taufik Ismail yang didera oleh kabar tentang keburukan negerinya yang disimbolkan dua orang samar (media). Tokoh tidak menggambarkan ekspresi wajah kesedihan yang sesekali mengernyitkan dahi. Bahkan tidak berani bertatapan mata dengan penonton. Seperti ada rasa kekurangan akting dalam dirinya. Si tokoh seperti orang yang tidak pernah putus cinta, yang mengajarkan hidup meratap-ratap serasa mati dalam kehidupan.
Disinilah pentingnya mencari aktor yang digali berdasarkan kondisi keseharian seseorang. Seperti dikatakan R. Giryadi (Ketua DKJT) saat nyambangi diskusi teater dan penutupan pentas seni tanggal 6 Januari di Jombang perihal konsep detail mengenal ruang. Ia mencontohkan soal latihan mengenal alam, tidak harus dilakukan di gunung, pantai, hutan seperti teori lawas. Bagi warga kota lebih baik di mall, dsb yang dekat dengan kesehariannya.
Awal pertempuran terbuka dalam pementasan Teatrikalisasi-Puisi-Musik oleh angkatan 2009 lalu dimulai keberaniannya memilih puisi ber-alur pemberontakan atas ketimpangan sosial. Selanjutnya gencar memberondong bertubi-tubi tembakan bait kata kata ke penonton. Kata Matori A Elwa:
Setiap pertempuran pasti ada yang terluka
Satu meninggal dunia
Dua luka parah
Selebihnya dirawat di rumah sendiri sendiri.
http://sastra-perlawanan.blogspot.com/
Detik detik penutupan serangkaian acara Gebyar Pesta Seni Rakyat Jombang yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) beserta lembaga terkait di gedung PSBR, dipungkasi dengan pertunjukan Teatrikalisasi-Puisi-Musik persembahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang angkatan 2009. Pementasan sesi pertama digelar pukul 15:30 dan pementasan ulang pukul 19:00, dengan 4 judul puisi sekaligus: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS. Rendra, Menghisap Kelembak Menyan karya Emha Ainun Nadjib, dan terahir MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail.
Seperti ada serabut di tempurung kepala penonton. Kalau pun tidak, pasti ada gumpalan di rongga dada yang pada saatnya akan meledak. Seminggu, semenjak acara berlangsung, saya kerap klitar kilter hingga larut menyaksikan seluruh pementasan di gedung itu. Dan ketika sekitar jam 2:00 siang, seluruh mahasiswa tampak melakukan persiapan di pelataran masjid dan area parkir, dengan memoles diri, memoles temannya sesuai peran masing-masing. Saya jadi ingat sebilik tobongan yang dipakai berias para pemain ludruk sebelum tampil. Sebilik ruang sederhana yang kerap saya masuki ketika meliput ludruk bersama rekan Fahrudin Nasrulloh. Itupun hanya di kerumuni hanya sekitar 60 awak seniman. Tetapi mahasiswa STKIP angkatan 2009 yang berjumlah sekitar 250 berjubel menyesaki pelataran PSBR.
Ada catatan tersendiri di sana. Canda canda kecil, wajah belepotan, over menor, menyiapkan alat adegan dll. Meski belum menyamai pementasan Sumpah Gajah Mada yang ditulis Sri Murtono pada tahun 1952 di depan musium Sonobudoyo (Keraton Yogyakarta) yang melibatkan 350 aktor termasuk 125 diantaranya aktris, 8 ekor kuda, sepuluh kereta yang ditarik 20 ekor sapi, di seluas panggung berukuran 50 kali 135 meter.*
Ah, ini buakan zaman perang. Sungguh. Pagi setelah malam penutupan itu, seperti desingan peluru berhamburan memberondong. Ledakan kanon, thank, pistol, bedil, bayonet, martil, koka, granat masih membekas di pendengaran saya. Seperti ada pertempuran semalam.
Macapat Sasana Gebyar Seni
Acara dibuka dengan penampilan Sasana Gebyar Seni pimpinan Bapak Suhartono yang berpadepokan di Perumahan Jombang Indah. Komunitas ini menampilkan paduan lantunan macapat dengan teatrikal dalang. Dimana salah satu anggota mereka berperan memegang kelir, bertempur dengan kelir itu, yang dalam pementasan wayang kulit dikenal dengan istilah ‘nyirep goro goro’menyingkirkan prahara.
Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta
Seiring pergantian musik setelah goro goro menyingkir, barulah keluar ratusan para pelacur. Orasi pembacaan Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta pun berselang seling menyelinap diantara kerumunan para pelacur. Saya, sempat lupa kalau para pelacur itu hanyalah penampakan puisinya Rendra. Hingga saya sempat bertanya pada rekan Jabbar Abdulloh selaku networker yang sedang meliput, “ Jabbar, tarife pelacur iki piroan?” sambil tersenyum Jabbar menjawab “selawe nggeblak dewe”, haha.
Demikianlah ketika puisi diteatrikalisasikan. Adalah misi yang digagas seniman dengan harapan agar maksud isi puisi yang ditulis sastrawan efektif membekas di hati dan kesadaran penonton. Proses kerja teatrikalisasi itu sendiri mencoba menerjemahkan keterbatasan bahasa dalam menggambarkan sesuatu (visual). Jalan ini juga ditempuh Afrizal Malna dengan gagasan Puisi Art: Penyampaian puisi yang didesain dengan vidio. Untuk menggambarkan kilat misalnya, atau kecepatan pesawat super sonik, tak cukup hanya mengandalkan bahasa. Tetapi akan lebih paham jika ditampakkan ilustrasi visual.
Dalam proses teatrikalisasi puisi atau puisi musik, diperlukan garapan yang seimbang antar civitas: Penonton, pemain, penulis naskah, kritikus, bahkan peliput. Terutama hal yang menyangkut konseptual, termasuk memahami kondisi ruang. Sebab, pada kadar intonasi yang tidak reflektif terhadap ruang bisa menenggelamkan puisi itu sendiri. Disinilah letak kegagalan pementasan.
Pada pementasan Bersatulah Pelacur Pelacur Kota Jakarta, sutradara seperti kurang memahami konsep ‘kesamaan derajat’ yang ditawarkan Rendra. Bukan kesamaan gaya, kostum, cara, bahkan predikat kesejatian pelacur itu sendiri. Nyaris tidak ditemukan pelacur yang bergaya-berpakaian kantoran, anak kuliah, bahkan cabutan usia SMA. Sehingga tidak sertamerta mewakili realitas yang ada. Pelacur disitu hanya dipahami sabagai PSK kelas rendahan yang dijajahkan di pinggir jalan. Kalaupun agak elit, taruhlah tempat tempat prostitusi seperti Padang Galak, Ketewel (Denpasar), Padyang Ulan (Banyuwangi), Tretes (Pasuruan), Gang Dolly dan Kremil (Surabaya), Balong Cangkring/BC (Mojokerto), Tunggorono, Klubuk (Jombang), Guyangan (Nganjuk), Lembah UGM (Yogyakarta), Jurang Songgoriti (Malang) dll.
Namun kekurangan akting itu dalam batas kewajaran. Seperti dikatakan Henri Nurcahyo Esais Surabaya saat diskusi teater di gedung PSBR tanggal 6 Januari 2011 pagi, bahwa dunia teater adalah dunia seolah-olah. Maka tak heran jika para pelacur di panggung PSBR adalah pelacur yang diragukan kepelacurannya. Artinya, meski pun mereka bergaya dan berpenampilan ala pelacur, tapi tidak sungguh sungguh berprofesi sebagai pelacur. Andai pun ada yang terlanjur (maaf), sehina hinanya pelacur yang dicolok Rendra dalam puisi ini, ialah orang yang sembodo, ksatria dalam hidupnya. Sebab mereka nyata dalam transaksi menjual dirinya secara total. Sementara para penguasa malah menjadi pelacur ter-hina yang menjual rakyat (tubuh lain) demi eksistensinya.
Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Kejanggalan pada pementasan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo dapat kita lihat dari penuangan momentum sejarah. Apakah sesuai tahun terbunuhnya Atmo Karpo dengan interpretasi gaya konflik yang dibangun diatas panggung? Memang, dalam naskah itu, atas nama dendam kesumat, Joko Pandan menelikung kematian Atmo Karpo dari 4 penjuru mata angin. Armo Karpo terjungkal setelah bahu kirinya tertembus anak panah. Sepertinya zaman nomaden. Lantas, kenapa 4 wanita pemanahnya tidak memakai BeHa koteka sekalian?
Keadaan demikian akan menyulitkan format para penonton. Hendak dikemanakan konsep format yang demikian? Kesannya, tragedi itu hanya terjadi di masa lampau. Padahal sesungguhnya bahaya selalu mengancam siapa pun dalam berbagai bentuk. Termasuk kekejaman tekhnologi cyber yang lebih bahaya bagai busur angin.
Menghisap Kelembak Menyan
Pengemasan Edy Haryoso selaku sutradara tidak jauh melebar dari teks format aslinya ketika dibacakan Emha Ainun Nadjib sendiri bersama teater Dynasti. Seting backround pementasan Menghisap Kelembak Menyan formatnya tidak berubah. Naskah ini tergolong sublim. Perebutan eksistensi digambarkan dalam perang dialog antar dua teori yang bertabrakan akibat kondisi kekinian yang dialami generasi penerus bangsa. Orang tua dan kaum feodal menjadikan pitutur kuno sebagai bius demokratisasi, sedang kaum intelektual muda menemui kenyataan berbalik 180 derajat.
Benturan dua teori di atas diharapkan menjadi serbuk /glepung yang disebut ‘irama pembusukan’. Berawal dari teori medok, mogol, tanggung, entah gak entah-mateng gak mateng. Setelah mati, busuk, barulah muncul kehidupan baru, file file baru yang lebih tertata.
Karena pakem dengan format aslinya, menjadikan pementasan Menghisap Kelembak Menyan kurang menghenyak penonton. Meskipun dari alur teks penonton terpukau. Kentaranya, sutradara hanya menguasai intensitas teks, tetapi lemah intensitas ruang. Dengan hanya berdiri monoton di pojok, penonton yang paling belakang tidak terdengar. Apalagi para penonton yang belum pernah dikursus menjadi penonton yang baik, bisik kegaduhannya acapkali menenggelamkan suara orator. Saya sekedar membayangkan seandainya pembaca puisinya sambil berjalan menguasai panggung, mengacung-acungkan teks, mengibaskan atau bahkan membanting teks ke lantai. Dan sah juga sambil menghampiri kerumunan penonton. Setahu saya, Emha sering mengatakan “kalau anda meniru saya, Emhais, nyakNun, artinya aku gagal membangun kemandirian kalian. Anggaplah aku garam bagimu yang kau ramu untuk sekedar ngepyuri bumbu masakan sosial”*
MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesia)
Ada kreativitas ide pada pementasan MAJOI. Yaitu penuangan panggung yang bersifat elastis. Hanya dengan alat sederhana, sesi peralihan adegan yang bernuansa kehidupan modern efektif seperti menonton layar kaca. Sayangnya si tokoh yang pemalu (penyebab), yang kemudian bersedih (akibat malu) gagal mewakili kesedihan Taufik Ismail yang didera oleh kabar tentang keburukan negerinya yang disimbolkan dua orang samar (media). Tokoh tidak menggambarkan ekspresi wajah kesedihan yang sesekali mengernyitkan dahi. Bahkan tidak berani bertatapan mata dengan penonton. Seperti ada rasa kekurangan akting dalam dirinya. Si tokoh seperti orang yang tidak pernah putus cinta, yang mengajarkan hidup meratap-ratap serasa mati dalam kehidupan.
Disinilah pentingnya mencari aktor yang digali berdasarkan kondisi keseharian seseorang. Seperti dikatakan R. Giryadi (Ketua DKJT) saat nyambangi diskusi teater dan penutupan pentas seni tanggal 6 Januari di Jombang perihal konsep detail mengenal ruang. Ia mencontohkan soal latihan mengenal alam, tidak harus dilakukan di gunung, pantai, hutan seperti teori lawas. Bagi warga kota lebih baik di mall, dsb yang dekat dengan kesehariannya.
Awal pertempuran terbuka dalam pementasan Teatrikalisasi-Puisi-Musik oleh angkatan 2009 lalu dimulai keberaniannya memilih puisi ber-alur pemberontakan atas ketimpangan sosial. Selanjutnya gencar memberondong bertubi-tubi tembakan bait kata kata ke penonton. Kata Matori A Elwa:
Setiap pertempuran pasti ada yang terluka
Satu meninggal dunia
Dua luka parah
Selebihnya dirawat di rumah sendiri sendiri.
Rabu, 01 Desember 2010
Rian
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/
Klak, klak, klak. Denting jam di tembok lembab itu kian berdengung di telingaku. Berbeda dengan malam malam sebelumnya, setiap detak jam kini bergema yang gaungnya terngiang merasuk ke sumsum tulangku. Dadaku sesak. Nafasku tersengal. Tubuhku gemetar. Ketegaranku runtuh. Kekuatanku lunglai. Keteguhanku roboh. Nyali-nyaliku raib.
Klak, klak, kak. Detak jam dinding itu berubah menjadi detak-detak langkah sepatu. Ia tidak banyak. Hanya seorang yang langkahnya tegak, pelan dengan ayunan langkah yang dibandul jarak lebarnya dengan kesamaan tepat durasinya, santai, perlahan namun pasti. Ia menyelinap dari keremangan malam yang sunyi. Ia mendekat. Mendekat. Semakin mendekat. Dan tak lama lagi sosok hitamnya dengan wajah samar sudah di depan, samping, atau belakangku.
Pemilik langkah itu adalah seorang berwajah dingin, hati beku, kapala batu. Kerut giginya segera menggerus-gerus ketika melihat orang yang dia cari sudah di depan langkah. Ialah orang yang pernah memutar silet di depan matanya, kemudian menyayat pelipis, dahi, leher, punggung, tangan sampai hampir putus nadinya. Ialah orang yang mengencingi kepalanya sebelum mendadung leher, menyerimpung, kemudian menyeretnya ke bibir kubangan.
Di bibir kubangan yang baru digali itu, ia sengaja membiarkan engos nafas terahirnya. Hirupan hirupan terahir itulah ia nikmati sebagai cawan yang ia reguk bersloki-sloki. Antara remang, sadar dan keliyang, ia membiarkan tawanan mautnya tertekuk sambil memandangi beberapa teman yang mendahului menghuni petak persegi empat itu. Ia segera menjejak tubuh tak berdaya itu hingga terjungkal. Yang ia bayangkan betapa ia akan tersendat sendat menghela nafas ketika serpihan tanah urug sedikit demi sedikit menyumpal hidungnya dan menimbun badannya.
Setelah kubangan itu rata seperti semula, ia masih menunggu kemungkinan yang harus disikat pula. Yakni urugan tanah yang bergera-gerak tanda manusia di dalamnya masih bernyawa. Ia segera mengambil selonjor pring apus yang diruncingkan. Ujung lancipnya kemudian ditancap persis sekitar tanah yang bergerak. Dan itulah kematian yang ia inginkan.
Ia adalah aku. Yang sekarang rebah di pojok bilik sempit jeruji besi. Orang orang memanggilku Rian. Tapi tak tentu. Kadang tiap tempat aku perlu mengganti nama.
***
Mungkin aku titisan ayah, seorang yang tampan, tinggi, santun, dan masa mudanya, ibu adalah salah satu gadis yang kesemsem ketampanannya. Jangankan menggendongku, sejak kecil pun ia tak pernah memperlihatkan wajahnya kepadaku. Mungkin saja ayahku adalah lelaki selingkuhan ibu yang embrionya menjadi jabang bayi kecilku dulu.
Sejak itu aku membenci laki laki. Sosok yang digadang lebar jangkahnya, seenaknya datang dan pergi meninggalkan wanita, meninggalkan ibuku dan janda janda lainnya. Tanpa ayah sang soko guru, aku tak banyak faham bagaimana menjadi laki-laki. Laki laki yang perkasa melindungi keluarganya. Laki laki yang kelaki lakiannya membuat wanita berguna kewanitaannya.
Detak langkah itu menghilang saat wajah para hakim melintas. Mereka berkelebat dengan jubah dan palu godamnya. Aku seperti masih duduk lunglai di depan meja hijau. Namun yang paling jelas dalam bayanganku bukan mereka sedang memaparkan putusan final atas kebiadapanku. Atau pengacaraku yang gigih mempledoiku dengan berkas tebal verbalnya. Melainkan bisikan hakim dan pengacara, bahwa nyawaku seharga 2 hektar sawah ibu di selatan desa.
Aku sengaja tak menjual sawah untuk membeli nyawaku. Sejak muda ibuku sudah sengsara. Aku tak ingin ibuku terlunta saat usia senjanya. Mungkin ini hal yang paling kejam dalam hidupku. Hingga nyawaku sendiri harus kubenci.
***
Klak, klak, klak. Langkah itu datang lagi. Mungkin yang ini sepatu jinjit istri perwira polisi. Ia dan 17 wanita lainnya adalah korban kebiadapanku. Mereka itu para wanita dungu. Yang pasti terjerat jalinan asmara denganku. Dan setiap yang kuhabisi nyawanya adalah yang saat bersamaku pasti berkali-kali kukakahi selakangannya. Tak Cuma itu, mereka juga yang hartanya kukuras dengan kelihaian tipu dayaku. Istri polisi itu akan melampiaskan kecewanya dengan menikamku, senyawang aku masih berbentuk tubuh dan hati yang bisa merasakan sakit.
Aku memang beruntung dilahirkan dengan peringai tampan. Tak sulit bagiku menggaet wanita. Teori imaj building yang menilai kebaikan berdasar apa yang dilihat, seperti menempatkan aku menjadi pangeran kehidupan. Toh mereka tidak peduli walau hatiku busuk, sebab yang mereka cari adalah ketampanan.
Setiap berpacaran dengan wanita wanita itu, aku seringkali dikenalkan kerabat, famili, teman sekolah, juga para tetangga. Yang mereka inginkan adalah agar dipuji beruntung mendapat kekasih tampan. Padahal sesungguhnya aku tertawa diam-diam.
Berbeda dengan Wina dan Kalia. Mereka berdua bekerja sebagai menejer perusahaan. Wina tergaet, karena aku mengaku produser film. Dan Kalia terpikat pengakuanku sebagai intelegen polisi. Mobil mereka dulu sering kupinjam untuk menggaet gadis gadis desa yang kemajaran. Meski dengan mobil pinjaman, aku gampang memanen para perawan yang mahkotanya mulai mekar dan menyeruakkan aroma harum. Lingkungan dan kesusahan yang mereka tanggung bertahun tahun telah menutupi kesejatian yang sejati. Mereka tak seperti burung yang bisa terbang. Keluasan hidup yang ditempuh cukup dirampungkan dengan kibasan sayap. Dalam sekejap, sampailah pada wilayah yang jauh.
Mereka seperti hewan melata. Kesengsaraan merayap di bumi, membuat mereka bertarung keras menaklukkan hujan dan kemarau, banjir dan daun kekeringan, lembah dan tebing tebing curam yang melelahkan. Kelelahan sedemikian payah dan menutupi ketajaman nyalinya.
Mereka adalah wanita yang khatam berguru pada koran dan televisi. Yang programnya mengajarkan kehidupan terhadap apa yang laku dijual. Bukan apa yang baik. Bagi Koran dan televise, jika manusia digigit anjing, itu hal yang lumrah. Tetapi manusia menggigit anjing, itu yang luar biasa dan laris diekspose.
Wanita yang tidak kutarget sebagai mangsaku, ialah wanita yang mampu berkoar membela kaumnya. Kadang suara wanita pembela itu serak berteriak “kenapa wanita selalu dijadikan tawanan sangkar madu?” Tetapi itulah wanita dengan segala kelemahanya. Tanpa dijadikan tawanan, mereka memang kerap berseliweran di sekitar sangkar tawanan. Wanita mewarisi rahim sang Hawa. Yang kemecer melahap sebungkul keabadian dalam dirinya, yang bukan keabadian Tuhan.
***
Klak, klak, klak. Sesungguhnya itu hanyalah suara jam dinding. Tak ada satu langkah pun menghampiriku. “Ngaaa..!” Itupun hanya suara kucing penghuni lapas ini, dan bukan jeritan anak si Windi yang kubunuh sekalian bersama ibunya. Kucing yang keluar masuk tanpa diperiksa Sipir karna tak membawa bingkisan makanan enak seperti para pembesuk kamar sebelah.
Sebetulnya aku ingin tertangkap saat membunuh mangsa ke sepuluhku. Sebab aku yakin setiap nyawa kuculik dari tangan tuhan. Tapi tak bisa. Itulah kepolisian di negaraku, hanya bersungguh sungguh mengusut kasus jika ada bayaran. Negaraku memang bukan layaknya negara. Sebab tak punya pemerintah. Yang punya ialah panitia pengatur aliran dana pinjaman luar negeri. Bahkan, kewenangan kekuasaan dimanfaatkan sebagai bisnis sampingan makelar kasus. Ternyata pejabat di negaraku ini kebiadapannya dalam menjagal mangsa, malabihi kenekatanku. Mangsa terakhir yang membuat ulahku terungkap, bukanlah kepiawaian kinerja polisi. Melainkan aku sengaja meninggalkan jejak tanda yang merujuk identitasku.
***
Dengan terpaksa, aku menyukai takdir hidupku. Dengan begini artinya aku diutus mengingatkan cara berfikir kehidupan bahwa menyukai berdasar fisik semata, sama dengan menjeburkan diri ke jurang kenistaan. Hekk, sungguh inilah yang disebut zaman edan. Bukan zamannya yang edan, tapi manusianya berotak tumpul. Tak mamapu sedikit pun bangkit dari trend hidup yang tengah mengungkungnya. Mereka mencampakkan larik larik puisi sufinya Khalil Gibran: Tubuh bukanlah jiwa / Tubuh hanyalah rumah bagi jiwa / Tubuh yang indah / Belum tentu dihuni jiwa yang indah / Tetapi di jiwa yang indah / Pasti tersirat tubuh yang indah pula. Namun aku juga faham resikonya, yaitu dinista orang, dihukum mati, dan dilempar ke sulutan munclaknya api neraka.
Meski beberapa bulan terahir, Ustad yang mendampingiku mengalihkan pandangan bahwa Tuhan pasti membuka pintu taubatnya jika aku menyadari itu sebagai suatu kesalahan dan lantas memohon ampun. Ustad hanyalah mengamankan hati dan prasangkaku menjelang kematian yang beberapa langkah lagi menghampiriku. Kematian yang waktunya diketukan palu hakim di meja hijau saat aku divonis eksekusi mati.
Klak, klak, klak. Bukan sekedar detik detik jam dinding yang menjemput ajalku. Menurut Ustad, tengah malam nanti waktuku dieksekusi. Langkah langkah sepatu itu kian mendekat. Mataku segera diiakat sehelai kain, dan teropong diselobongkan ke kepalaku. Rombongan bersepatu itu mengajakku ke suatu tempat yang berjarak setu jam setengah mengendarai mobil. Aku dituntun bagai sandera dengan tangan terborgol. Persis waktu kecilku di kampung bersama teman sebaya. Kami bermain perang perang, bedil bedilan dan sandera sanderaan. Aku diikat temanku di pohon Jarak. Ujung senapan laras panjang yang kami buat dari gedebok pisang diacung-acungkan ke jidakku sambil meluapkan amarah kemenangan.
Macam-macam peradaban ada peperangan / Macam-macam zaman ada pertempuran / Macam- macam periode ada pertentangan / Macam- macam musim ada pergolakan / Macam- macam negara ada peperangan / Macam- macam wilayah kerajaan ada pertempuran / Macam- macam keluarga ada pertentangan / Macam- macam diri manusia ada pergolakan / Ada pertempuran, pergolakan, pertentangan dan peperangan yang macam-macam untuk menemukan wilayah dan jati diri /
Namun jangan macam-macam bertempur, berperang, jika engkau belom miliki aji-aji kesaktian yang macam-macam / Salah satu macam kesaktianku bertempur dan berperang adalah : sun malik ajiku, aji sluman slumun slamet / Untuk memenangkan diriku, aku mengalahkan dirimu, dengan cara memenagkan dirimu / Hanya dengan jurus cinta, kasih, sayang, musuh terkapar tanpa tercabik. Tinggallah yang aku lakukan! Jangan sampai kalah walau dalam kemenangan sekalipun. Sebelum 16 regu tembak serempak! Dor! Satu diantara peluru menembus jantung hatiku.
http://sastra-indonesia.com/
Klak, klak, klak. Denting jam di tembok lembab itu kian berdengung di telingaku. Berbeda dengan malam malam sebelumnya, setiap detak jam kini bergema yang gaungnya terngiang merasuk ke sumsum tulangku. Dadaku sesak. Nafasku tersengal. Tubuhku gemetar. Ketegaranku runtuh. Kekuatanku lunglai. Keteguhanku roboh. Nyali-nyaliku raib.
Klak, klak, kak. Detak jam dinding itu berubah menjadi detak-detak langkah sepatu. Ia tidak banyak. Hanya seorang yang langkahnya tegak, pelan dengan ayunan langkah yang dibandul jarak lebarnya dengan kesamaan tepat durasinya, santai, perlahan namun pasti. Ia menyelinap dari keremangan malam yang sunyi. Ia mendekat. Mendekat. Semakin mendekat. Dan tak lama lagi sosok hitamnya dengan wajah samar sudah di depan, samping, atau belakangku.
Pemilik langkah itu adalah seorang berwajah dingin, hati beku, kapala batu. Kerut giginya segera menggerus-gerus ketika melihat orang yang dia cari sudah di depan langkah. Ialah orang yang pernah memutar silet di depan matanya, kemudian menyayat pelipis, dahi, leher, punggung, tangan sampai hampir putus nadinya. Ialah orang yang mengencingi kepalanya sebelum mendadung leher, menyerimpung, kemudian menyeretnya ke bibir kubangan.
Di bibir kubangan yang baru digali itu, ia sengaja membiarkan engos nafas terahirnya. Hirupan hirupan terahir itulah ia nikmati sebagai cawan yang ia reguk bersloki-sloki. Antara remang, sadar dan keliyang, ia membiarkan tawanan mautnya tertekuk sambil memandangi beberapa teman yang mendahului menghuni petak persegi empat itu. Ia segera menjejak tubuh tak berdaya itu hingga terjungkal. Yang ia bayangkan betapa ia akan tersendat sendat menghela nafas ketika serpihan tanah urug sedikit demi sedikit menyumpal hidungnya dan menimbun badannya.
Setelah kubangan itu rata seperti semula, ia masih menunggu kemungkinan yang harus disikat pula. Yakni urugan tanah yang bergera-gerak tanda manusia di dalamnya masih bernyawa. Ia segera mengambil selonjor pring apus yang diruncingkan. Ujung lancipnya kemudian ditancap persis sekitar tanah yang bergerak. Dan itulah kematian yang ia inginkan.
Ia adalah aku. Yang sekarang rebah di pojok bilik sempit jeruji besi. Orang orang memanggilku Rian. Tapi tak tentu. Kadang tiap tempat aku perlu mengganti nama.
***
Mungkin aku titisan ayah, seorang yang tampan, tinggi, santun, dan masa mudanya, ibu adalah salah satu gadis yang kesemsem ketampanannya. Jangankan menggendongku, sejak kecil pun ia tak pernah memperlihatkan wajahnya kepadaku. Mungkin saja ayahku adalah lelaki selingkuhan ibu yang embrionya menjadi jabang bayi kecilku dulu.
Sejak itu aku membenci laki laki. Sosok yang digadang lebar jangkahnya, seenaknya datang dan pergi meninggalkan wanita, meninggalkan ibuku dan janda janda lainnya. Tanpa ayah sang soko guru, aku tak banyak faham bagaimana menjadi laki-laki. Laki laki yang perkasa melindungi keluarganya. Laki laki yang kelaki lakiannya membuat wanita berguna kewanitaannya.
Detak langkah itu menghilang saat wajah para hakim melintas. Mereka berkelebat dengan jubah dan palu godamnya. Aku seperti masih duduk lunglai di depan meja hijau. Namun yang paling jelas dalam bayanganku bukan mereka sedang memaparkan putusan final atas kebiadapanku. Atau pengacaraku yang gigih mempledoiku dengan berkas tebal verbalnya. Melainkan bisikan hakim dan pengacara, bahwa nyawaku seharga 2 hektar sawah ibu di selatan desa.
Aku sengaja tak menjual sawah untuk membeli nyawaku. Sejak muda ibuku sudah sengsara. Aku tak ingin ibuku terlunta saat usia senjanya. Mungkin ini hal yang paling kejam dalam hidupku. Hingga nyawaku sendiri harus kubenci.
***
Klak, klak, klak. Langkah itu datang lagi. Mungkin yang ini sepatu jinjit istri perwira polisi. Ia dan 17 wanita lainnya adalah korban kebiadapanku. Mereka itu para wanita dungu. Yang pasti terjerat jalinan asmara denganku. Dan setiap yang kuhabisi nyawanya adalah yang saat bersamaku pasti berkali-kali kukakahi selakangannya. Tak Cuma itu, mereka juga yang hartanya kukuras dengan kelihaian tipu dayaku. Istri polisi itu akan melampiaskan kecewanya dengan menikamku, senyawang aku masih berbentuk tubuh dan hati yang bisa merasakan sakit.
Aku memang beruntung dilahirkan dengan peringai tampan. Tak sulit bagiku menggaet wanita. Teori imaj building yang menilai kebaikan berdasar apa yang dilihat, seperti menempatkan aku menjadi pangeran kehidupan. Toh mereka tidak peduli walau hatiku busuk, sebab yang mereka cari adalah ketampanan.
Setiap berpacaran dengan wanita wanita itu, aku seringkali dikenalkan kerabat, famili, teman sekolah, juga para tetangga. Yang mereka inginkan adalah agar dipuji beruntung mendapat kekasih tampan. Padahal sesungguhnya aku tertawa diam-diam.
Berbeda dengan Wina dan Kalia. Mereka berdua bekerja sebagai menejer perusahaan. Wina tergaet, karena aku mengaku produser film. Dan Kalia terpikat pengakuanku sebagai intelegen polisi. Mobil mereka dulu sering kupinjam untuk menggaet gadis gadis desa yang kemajaran. Meski dengan mobil pinjaman, aku gampang memanen para perawan yang mahkotanya mulai mekar dan menyeruakkan aroma harum. Lingkungan dan kesusahan yang mereka tanggung bertahun tahun telah menutupi kesejatian yang sejati. Mereka tak seperti burung yang bisa terbang. Keluasan hidup yang ditempuh cukup dirampungkan dengan kibasan sayap. Dalam sekejap, sampailah pada wilayah yang jauh.
Mereka seperti hewan melata. Kesengsaraan merayap di bumi, membuat mereka bertarung keras menaklukkan hujan dan kemarau, banjir dan daun kekeringan, lembah dan tebing tebing curam yang melelahkan. Kelelahan sedemikian payah dan menutupi ketajaman nyalinya.
Mereka adalah wanita yang khatam berguru pada koran dan televisi. Yang programnya mengajarkan kehidupan terhadap apa yang laku dijual. Bukan apa yang baik. Bagi Koran dan televise, jika manusia digigit anjing, itu hal yang lumrah. Tetapi manusia menggigit anjing, itu yang luar biasa dan laris diekspose.
Wanita yang tidak kutarget sebagai mangsaku, ialah wanita yang mampu berkoar membela kaumnya. Kadang suara wanita pembela itu serak berteriak “kenapa wanita selalu dijadikan tawanan sangkar madu?” Tetapi itulah wanita dengan segala kelemahanya. Tanpa dijadikan tawanan, mereka memang kerap berseliweran di sekitar sangkar tawanan. Wanita mewarisi rahim sang Hawa. Yang kemecer melahap sebungkul keabadian dalam dirinya, yang bukan keabadian Tuhan.
***
Klak, klak, klak. Sesungguhnya itu hanyalah suara jam dinding. Tak ada satu langkah pun menghampiriku. “Ngaaa..!” Itupun hanya suara kucing penghuni lapas ini, dan bukan jeritan anak si Windi yang kubunuh sekalian bersama ibunya. Kucing yang keluar masuk tanpa diperiksa Sipir karna tak membawa bingkisan makanan enak seperti para pembesuk kamar sebelah.
Sebetulnya aku ingin tertangkap saat membunuh mangsa ke sepuluhku. Sebab aku yakin setiap nyawa kuculik dari tangan tuhan. Tapi tak bisa. Itulah kepolisian di negaraku, hanya bersungguh sungguh mengusut kasus jika ada bayaran. Negaraku memang bukan layaknya negara. Sebab tak punya pemerintah. Yang punya ialah panitia pengatur aliran dana pinjaman luar negeri. Bahkan, kewenangan kekuasaan dimanfaatkan sebagai bisnis sampingan makelar kasus. Ternyata pejabat di negaraku ini kebiadapannya dalam menjagal mangsa, malabihi kenekatanku. Mangsa terakhir yang membuat ulahku terungkap, bukanlah kepiawaian kinerja polisi. Melainkan aku sengaja meninggalkan jejak tanda yang merujuk identitasku.
***
Dengan terpaksa, aku menyukai takdir hidupku. Dengan begini artinya aku diutus mengingatkan cara berfikir kehidupan bahwa menyukai berdasar fisik semata, sama dengan menjeburkan diri ke jurang kenistaan. Hekk, sungguh inilah yang disebut zaman edan. Bukan zamannya yang edan, tapi manusianya berotak tumpul. Tak mamapu sedikit pun bangkit dari trend hidup yang tengah mengungkungnya. Mereka mencampakkan larik larik puisi sufinya Khalil Gibran: Tubuh bukanlah jiwa / Tubuh hanyalah rumah bagi jiwa / Tubuh yang indah / Belum tentu dihuni jiwa yang indah / Tetapi di jiwa yang indah / Pasti tersirat tubuh yang indah pula. Namun aku juga faham resikonya, yaitu dinista orang, dihukum mati, dan dilempar ke sulutan munclaknya api neraka.
Meski beberapa bulan terahir, Ustad yang mendampingiku mengalihkan pandangan bahwa Tuhan pasti membuka pintu taubatnya jika aku menyadari itu sebagai suatu kesalahan dan lantas memohon ampun. Ustad hanyalah mengamankan hati dan prasangkaku menjelang kematian yang beberapa langkah lagi menghampiriku. Kematian yang waktunya diketukan palu hakim di meja hijau saat aku divonis eksekusi mati.
Klak, klak, klak. Bukan sekedar detik detik jam dinding yang menjemput ajalku. Menurut Ustad, tengah malam nanti waktuku dieksekusi. Langkah langkah sepatu itu kian mendekat. Mataku segera diiakat sehelai kain, dan teropong diselobongkan ke kepalaku. Rombongan bersepatu itu mengajakku ke suatu tempat yang berjarak setu jam setengah mengendarai mobil. Aku dituntun bagai sandera dengan tangan terborgol. Persis waktu kecilku di kampung bersama teman sebaya. Kami bermain perang perang, bedil bedilan dan sandera sanderaan. Aku diikat temanku di pohon Jarak. Ujung senapan laras panjang yang kami buat dari gedebok pisang diacung-acungkan ke jidakku sambil meluapkan amarah kemenangan.
Macam-macam peradaban ada peperangan / Macam-macam zaman ada pertempuran / Macam- macam periode ada pertentangan / Macam- macam musim ada pergolakan / Macam- macam negara ada peperangan / Macam- macam wilayah kerajaan ada pertempuran / Macam- macam keluarga ada pertentangan / Macam- macam diri manusia ada pergolakan / Ada pertempuran, pergolakan, pertentangan dan peperangan yang macam-macam untuk menemukan wilayah dan jati diri /
Namun jangan macam-macam bertempur, berperang, jika engkau belom miliki aji-aji kesaktian yang macam-macam / Salah satu macam kesaktianku bertempur dan berperang adalah : sun malik ajiku, aji sluman slumun slamet / Untuk memenangkan diriku, aku mengalahkan dirimu, dengan cara memenagkan dirimu / Hanya dengan jurus cinta, kasih, sayang, musuh terkapar tanpa tercabik. Tinggallah yang aku lakukan! Jangan sampai kalah walau dalam kemenangan sekalipun. Sebelum 16 regu tembak serempak! Dor! Satu diantara peluru menembus jantung hatiku.
Selasa, 16 November 2010
Maha Karya Sastra di Bumi Majapahit
Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
1. Buku Sastra Raksasa.
Ruang sastra, yang turut membentuk berlangsungnya kebudayaan pasti mengalami titik klimaks dan titik nisbi. Kapan sastra berkulminasi, ia akan mendominasi kadar warna kebudayaan pada suatu komunitas atau negara. Sebaliknya sastra pada titik nisbi cenderung termarginalkan kekuasaan dan hanya menjadi keranjang luapan keluh bagi pecintanya.
Sepanjang meruangnya sastra dalam sejarah keindonesiaan, kembang kempisnya kesusastraan juga dipengaruhi pertarungan antar sekterianisme sastra. Yang mana dalam perhelatan itu tiap sempalan (golongan) justru mengamalkan kilas balik nilai pluralisme kebangsaan.
Sumpah Pemuda yang mengikat ke satu bangsa, satu bahasa, resmi melibas spora lokalitas. Padahal, keindonesiaan itu sendiri terbentuk dari berbagai lokalitas. Dalam wacana ini, sang ‘ibu sastra’ sebagai inti lokalitas didurhakai dengan mengagungkan ‘sastra pasar’ yang menjual dagangan di lapak media yang berbasis komunal sekterianistik. Disinilah inti lokalitas sebagai akar kesusastraan pluralitas tercerabut. Akibatnya kiblat sastra kehilangan arah. Di satu sisi menJogjakan genre sastra, di sisi lain menJakartakan atau meMelayukan. Pluralitas yang semestinya ialah mempertgas identitas masing-masing, dan bukan menggeneralisasikan.
Sumpah Palapa Gajah Mada di bumi Majapahit seolah menyembul kembali dan sekaligus menjawab perpecahan antar sekte sastra kontemporer. Terbukti Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto tanggal 23 Oktober 2010 nekat melauncing antologi puisi dan cerpen dengan tajuk ‘Majapahit dalam Sastra’. Tentu bukan gejala megalomania paranoid pihak penyelenggara ke arah MURI buku sastra. Kita tau! Sejarah kesusastraan Indonesia sejak Zaman Balai Pustaka yang lahir 1908 hingga kini belum tercatat adanya kemonceran sejarah sastra. Apalagi era-sekarang, percetakan akan gulung modal jika menerbitkan buku sastra. Inilah kegilaan sastrawan bumi Majapahit yang menerbitkan 94 judul cerpen setebal 706 halaman dan 620 judul puisi setebal 825 halaman.
Siapa pun bisa berpendapat gebyah uyah perihal proyek penerbitan buku yang ketebalannya melibas Das Kapitalisnya Karl Mark. Namun sejarah akan mencatat lain jika melongok beberapa poin yang berkaitan dengan terciptanya buku antologi Majapahit dalam Sastra tersebut. Pertama: Alokasi dana untuk biro sastra di Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto hanya 2,5 juta / tahun. Sedang kekurangannya disokong dana pribadi pegiatnya termasuk DKJT senilai 1,5 juta. Bisa dibayangkan hiruk pikuk yang terjadi dalam sebuah proyek pengadaan buku yang bersandar’ati karep, bondo cupet’ini. Kedua: Awak kurator biro sastranya yang menyisir hingga 6 rem cetakan pengirim email dari seluruh pelosok nusantara. Ketiga: Bagaimana kerja team dalam merumuskan standarisasi pengkategorian karya yang dimuat. Poin ketiga inilah yang perlu dicuatkan sebagai alegori kerja sastra / kerja puitik ke tengah bergelimangnya kesusastraan Indonesia.
2. Sastra Perawan.
Awal pencetakan buku Antologi Puisi dan Cerpen Majapahit dalam Sastra ini mencapai total: 1531 lembar. Sedangkan agenda ini digagas rutin tiap tahun. Bisa dibayangkan proyek sastra raksasa tersebut pada tahun-tahun berikutnya. Pekerja sastra yang terlibat akan dihadapkan pada persoalan teknis-adsministratif yang amat gigantik ketika menangani karya sastra senusantara.
Berbeda dengan buku cetakan Jurnal Cerpen atau Puisi Indonesia yang diterbitkan tiap tahun. Jurnal Indonesia, hanya memuat puluhan karya sastrawan yang dinilai kelas kakap saja. Sedang antologi Majapahit dalam Sastra ini memuat karya penulis dari pelosok ‘deso kluthuk’ sekalipun, yang dimungkinkan luput dari incaran kesusastraan pusat sebagai data base analisis. Dengan sendirinya, kehadiran karya senusantara akan mendominasi unsur lokal dalam membentuk pluralitas yang bukan sentralitas.
Dominasi lokal dalam buku ini efektif jika dijadikan kajian kesusastraan Indonesia dalam menganalisa perubahan gen sastra kontemporer. Sebab karya sastra lokalitas pelosok adalah sastra yang masih ‘perawan’ sebelum dijamahi kecimpung pandangan sastra media yang notabenenya terbentuk hanya segelintir editor.
Penampungan gen sastra perawan yang apalagi se-nusantara, yang apalagi dilakukan pegiat sastra di area bumi Majapahit (biro sastra setempat) merupakan pengulangan gelombang waktu momental Sumpah Palapa Gajah Mada: Dimana kekuatan ekonomi pertanian pedalaman dirubah menjadi kekuatan ekonomi maritim federal yang bukan maritim sentralistik. Demikian agaknya rumusan yang melandasi terbitnya buku ini. Yaitu keberaniannya menampung indikasi perubahan genologi sastra nusantara. Orientasi yang diterapkan adalah merubah kekuatan sastra lokal pedalaman menuju kekuatan sastra maritim federal. Berbeda dengan konsep pusat yang menggeneralisasikan potensi lokal menuju karakter sentral.
Contoh kongkrit pergerakan sastra berbasis maritim federal dalam Antologi Majapahit dalam Sastra ditandai barisan nama dari belahan nusantara yang antara lain: Naqiyyah Syam (Lampung Timur), Maryam Zakaria (Gorontalo), Lola Giovani (Payakumbuh), Gracia Asri (asal Jogja tinggal di Perancis), Bambang Kariyawan (Pekanbaru), Yuli Duryat (asal Pemalang tinggal di Hongkong) dll. Nama nama ini tidak ditemukan dalam barisan sastrawan Indonesia. Sebagai sastrawan, nilai karya mereka sulit dideteksi secara individu ataupun komunitas. Namun memahami kesusastraan Indonesia secara komperehensif, karya mereka pasti membentuk karakter entitas teks serta entitas ruang tersendiri. Buku tebal dengan 94 judul cerpen dan 602 judul puisi telah tercetak. Silahkan menandingi!
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
1. Buku Sastra Raksasa.
Ruang sastra, yang turut membentuk berlangsungnya kebudayaan pasti mengalami titik klimaks dan titik nisbi. Kapan sastra berkulminasi, ia akan mendominasi kadar warna kebudayaan pada suatu komunitas atau negara. Sebaliknya sastra pada titik nisbi cenderung termarginalkan kekuasaan dan hanya menjadi keranjang luapan keluh bagi pecintanya.
Sepanjang meruangnya sastra dalam sejarah keindonesiaan, kembang kempisnya kesusastraan juga dipengaruhi pertarungan antar sekterianisme sastra. Yang mana dalam perhelatan itu tiap sempalan (golongan) justru mengamalkan kilas balik nilai pluralisme kebangsaan.
Sumpah Pemuda yang mengikat ke satu bangsa, satu bahasa, resmi melibas spora lokalitas. Padahal, keindonesiaan itu sendiri terbentuk dari berbagai lokalitas. Dalam wacana ini, sang ‘ibu sastra’ sebagai inti lokalitas didurhakai dengan mengagungkan ‘sastra pasar’ yang menjual dagangan di lapak media yang berbasis komunal sekterianistik. Disinilah inti lokalitas sebagai akar kesusastraan pluralitas tercerabut. Akibatnya kiblat sastra kehilangan arah. Di satu sisi menJogjakan genre sastra, di sisi lain menJakartakan atau meMelayukan. Pluralitas yang semestinya ialah mempertgas identitas masing-masing, dan bukan menggeneralisasikan.
Sumpah Palapa Gajah Mada di bumi Majapahit seolah menyembul kembali dan sekaligus menjawab perpecahan antar sekte sastra kontemporer. Terbukti Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto tanggal 23 Oktober 2010 nekat melauncing antologi puisi dan cerpen dengan tajuk ‘Majapahit dalam Sastra’. Tentu bukan gejala megalomania paranoid pihak penyelenggara ke arah MURI buku sastra. Kita tau! Sejarah kesusastraan Indonesia sejak Zaman Balai Pustaka yang lahir 1908 hingga kini belum tercatat adanya kemonceran sejarah sastra. Apalagi era-sekarang, percetakan akan gulung modal jika menerbitkan buku sastra. Inilah kegilaan sastrawan bumi Majapahit yang menerbitkan 94 judul cerpen setebal 706 halaman dan 620 judul puisi setebal 825 halaman.
Siapa pun bisa berpendapat gebyah uyah perihal proyek penerbitan buku yang ketebalannya melibas Das Kapitalisnya Karl Mark. Namun sejarah akan mencatat lain jika melongok beberapa poin yang berkaitan dengan terciptanya buku antologi Majapahit dalam Sastra tersebut. Pertama: Alokasi dana untuk biro sastra di Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto hanya 2,5 juta / tahun. Sedang kekurangannya disokong dana pribadi pegiatnya termasuk DKJT senilai 1,5 juta. Bisa dibayangkan hiruk pikuk yang terjadi dalam sebuah proyek pengadaan buku yang bersandar’ati karep, bondo cupet’ini. Kedua: Awak kurator biro sastranya yang menyisir hingga 6 rem cetakan pengirim email dari seluruh pelosok nusantara. Ketiga: Bagaimana kerja team dalam merumuskan standarisasi pengkategorian karya yang dimuat. Poin ketiga inilah yang perlu dicuatkan sebagai alegori kerja sastra / kerja puitik ke tengah bergelimangnya kesusastraan Indonesia.
2. Sastra Perawan.
Awal pencetakan buku Antologi Puisi dan Cerpen Majapahit dalam Sastra ini mencapai total: 1531 lembar. Sedangkan agenda ini digagas rutin tiap tahun. Bisa dibayangkan proyek sastra raksasa tersebut pada tahun-tahun berikutnya. Pekerja sastra yang terlibat akan dihadapkan pada persoalan teknis-adsministratif yang amat gigantik ketika menangani karya sastra senusantara.
Berbeda dengan buku cetakan Jurnal Cerpen atau Puisi Indonesia yang diterbitkan tiap tahun. Jurnal Indonesia, hanya memuat puluhan karya sastrawan yang dinilai kelas kakap saja. Sedang antologi Majapahit dalam Sastra ini memuat karya penulis dari pelosok ‘deso kluthuk’ sekalipun, yang dimungkinkan luput dari incaran kesusastraan pusat sebagai data base analisis. Dengan sendirinya, kehadiran karya senusantara akan mendominasi unsur lokal dalam membentuk pluralitas yang bukan sentralitas.
Dominasi lokal dalam buku ini efektif jika dijadikan kajian kesusastraan Indonesia dalam menganalisa perubahan gen sastra kontemporer. Sebab karya sastra lokalitas pelosok adalah sastra yang masih ‘perawan’ sebelum dijamahi kecimpung pandangan sastra media yang notabenenya terbentuk hanya segelintir editor.
Penampungan gen sastra perawan yang apalagi se-nusantara, yang apalagi dilakukan pegiat sastra di area bumi Majapahit (biro sastra setempat) merupakan pengulangan gelombang waktu momental Sumpah Palapa Gajah Mada: Dimana kekuatan ekonomi pertanian pedalaman dirubah menjadi kekuatan ekonomi maritim federal yang bukan maritim sentralistik. Demikian agaknya rumusan yang melandasi terbitnya buku ini. Yaitu keberaniannya menampung indikasi perubahan genologi sastra nusantara. Orientasi yang diterapkan adalah merubah kekuatan sastra lokal pedalaman menuju kekuatan sastra maritim federal. Berbeda dengan konsep pusat yang menggeneralisasikan potensi lokal menuju karakter sentral.
Contoh kongkrit pergerakan sastra berbasis maritim federal dalam Antologi Majapahit dalam Sastra ditandai barisan nama dari belahan nusantara yang antara lain: Naqiyyah Syam (Lampung Timur), Maryam Zakaria (Gorontalo), Lola Giovani (Payakumbuh), Gracia Asri (asal Jogja tinggal di Perancis), Bambang Kariyawan (Pekanbaru), Yuli Duryat (asal Pemalang tinggal di Hongkong) dll. Nama nama ini tidak ditemukan dalam barisan sastrawan Indonesia. Sebagai sastrawan, nilai karya mereka sulit dideteksi secara individu ataupun komunitas. Namun memahami kesusastraan Indonesia secara komperehensif, karya mereka pasti membentuk karakter entitas teks serta entitas ruang tersendiri. Buku tebal dengan 94 judul cerpen dan 602 judul puisi telah tercetak. Silahkan menandingi!
Senin, 20 September 2010
Rahim Sastra Ibu Pertiwi
Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS
Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Nurel Javissyarqi, sahabatku ini seperti menyorong sampan ke arahku yang berdiri di seberang tepian telaga, saat ia menyuruhku: “Sabrank, tolong kau resensi Antologi Puisi Sihir Terahir yang ditulis Komunitas Perempuan ASAS.” Dan aku mengibaratkan 23 penyair wanita ini sebagai bentangan pulau-pulau Nusantara, yang tak akan pernah khatam kujelajahinya, sebab tiap pulau menyimpan wilayah rahasia kealaman. Lelaki hanyalah perantau yang tak pasti kakinya mampu berjejak pada jalanan setapak. Pulau Nusantara ini adalah gempilan tembok sorga yang jatuh berpuing-puing saat tersenggol Raja Malaikat ketika ia berdansa merayakan kemenangan kontes kilauan cahaya yang digelar Tuhan, jauh sebelum kehidupan ada.
Per-empu-an, kata dasarnya’empu/bentol/bonggel yang menumbuhkan tunas. Saat ia remaja disebut ‘gadis per-rawan’, kemudian nona, nyonya yang tetap konstan sebagai wanita dan memiliki perempuan.
Adalah sebuah proyek raksasa jika kemudian wanita ASAS berdebut di perpuisian, yang kreatifitas itu nyata mengisi celah di antara himpitan privacy kewanitaannya. Pengantin baru temanku diawali dengan perselisihan kecil. Sang suwami, mengajak istri berkunjung ke rumah saudara sekiar jam 11 siang. Istri menunda sore hari biar tidak terlalu panas. Suwami berargumen filsafat,”panas matahari saja takut, toh kepanasan tidak sendiri. Matahari memang tercipta untuk bumi. Kenapa harus menyesali panas? Petani, kuli bangunan, pemecah batu, lebih kepanasan dari kita.” Meski perselisihan usai beberapa jam kemudian, pengantin wanita sempat menangis. Permasalahan mereka sepeleh. Sang wanita sedang menstrulasi, dan dalam perhitungannya sekitar 2 jam lagi sudah harus banjir dan ganti softtex. Ketabuahan berganti softtex di rumah orang lain tidak dipahami suwami. Sementara istri tidak menjelaskan secara utuh.
Puisi puisi Antologi Sihir Terahir adalah ‘jabang bayi sejarah’ dari rahim 23 wanita: Aldika Restu Pramuli, Alfatihatus Sholihatunnisa, Amelia Rachman, Cut Nanda A, Dea Ayu Ragilia, Desti Fatin Fauziyyah, Dewi Kartika, Dian Hartati, Dian Budiana, Ellie R. Noer, Evi Sefiani, Evi Sukaesih, Fadhila Ramadhona, Fina Sato, Ikarisma Kusmalina, Ike Ayuwandari, Laila N. Guntari, Lela Siti Nurlaila, Maya Mustika K, Seli Desmiarti, Tita Maria Kanita, W. Herlya Winna, Winarni Rahmawati.
Corak puisi yang meraka lahirkan dalam Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS ini merupakan garis mediteranian sejarah sebelumnya, dimana keserempakan warna tekstur menisbikan kemajalan fluktuatif. Ruang medium semacam ini menjadi zona pembatas yang memisahkan corak bersikap wanita dari kungkungan hepnotis sejarah sekian lama yang memandang wanita hanya sebatas pelengkap penderita kaum Adam. Sihir Terahir bukan sekedar letupan damba puisi Seli Desmiarti, tapi ekspresi geliat wanita zaman yang menandai proses pelonggaran jerat konvensi perkembangan sejarah sastra yang menyerimpungnya.
Sebagai makhluk dunia, wanita tak bisa menghindar dari ekses muara kegelapan sitem sosial, politik suatu negara. Di Indonesia, kwantitas wanita yang lahir di atas tahun 1965 membaik seiring tertingalnya masa traumatisasi G30 S PKI. Semakin jauh meninggalkan jejak trauma, semakin baik pula. Apalagi perempuan ASAS lahir seputaran tahun 80 an. Wanita Indonesia prakemerdekaan hidup dirundung was was dan ketakutan. Sedang di sisi lain, wanita harus menggendong bayi yang dilahirkan, yang artinya ketika menggendong, wanita sedang menghembuskan suasana hati yang direkam langsung sang bayi, dan diputar ulang ketika bayi dewasa kelak. Jika ibu menggendong dengan hati was, iri, takut, merasa tertindas, maka anak akan merealisasikan dalam hidupnya. Sampai pada sekitar tahun 2017, pejabat di Indonesia adalah anak yang dilahirkan pra1965. Rasa dendam dan was wanita waktu itu tergambar jelas dari ulah pejabat sekarang yang tak henti korupsi, mencurigai yang lain, bersaing menumpuk kekayaan dll. Dunia sastra pun demikian. Simak pertikaian Lesbumi, Lekra, Manikebu, Poros Tengah, Poros Langit, Poros sorga, TUK, dll yang untung saja tidak mengeluarkan KTP sebab royokan ‘tua’. Dan ini membosankan.
Tapak-tapak jejak meninggalkan tahun 1965, wanita masih harus lekat dengan rendahnya SDM yang memberlakukan wanita sebagai sangkar madu. Dan ini terjadi sampai batas yang belum diketahui ujungnya. Kekuatan karya sastra tak pernah beranjak dari pijakan mengexploitasi aroma sex belaka. Komposisi ini disebut sastra kelamin. Paul I. Willman, WS. Rendra dan semua penulis sampai era2010 masih asyik mengexploitasi wanita sebagai karya kebesaran. Dalihnya sederhana, yakni menyibak keutuhan sastra. Bahkan sepanjang penulis wanita yang saya amati masih ajeg merelakan buka aurat dalam sastranya yang sesungguhnya hanyalah program mendukung ambisi kaum adam.
Sejak Joyce Carol Oates, Joan Didion, Susan Sontag, Nadine Gordimer, Elizabeth Bishop, sampai Ayu Utami, Lang Fang, Ida Ahdiah, Yetti A.KA, Oka Rusmini, Ana Balqis, Aquarina Kharisma Sari, Abidah El Khalieqy dan banyak lagi barisan penulis wanita yang happy enjoy dengan aroma sastra kelamin. Keadaan ini menggambarkan kesempitan ruang sastra yang seolah olah tidak ada lagi kreasi puncak suspansi terhadap wilayah sastra yang luas.
Puisi ASAS menapaki lambaikan tangan seraya membelok keadaan ke arah zamaniahnya. Inilah yang disebut garis medium. Rontaan untuk menuntut diri wanita tampil baru sebagai penghuni zaman dilontarkan Tita Maria Kanita dalam larik puisi//menyimak wanita tidak cuma dilihat, namun didengar// puisi Telinga. W. Herlya Winna dalam Cahaya di Halaman Mata//Kutanam cahaya di halaman mata//menghasilkan anak-anak matahari//Kukayuh tubuh saat petang, rubuhkan sisa-sisa waktu//. Fina Sato dalam Tak Pernah Kutemukan Wujutmu dalam Riuh//ihwal seorang perempuan bukan dongeng si penjaga cahaya//. Ellie R. Noer dalam Bidadari Mandi//dulu bidadari mandi di pelangi//sekarang mandi di menu pagi//. Puisi Bahteranya Dian Hartati juga mengambil langkah tegas//aku dan tubuhku diintai waktu//siapa penghuni berikutnya//dapatkah kujelaskan pada mereka//tempat berlabuh yang aman tetap tubuhku//. Sikap perpuisian mereka ini sedang mempersiapkan new space bangunan peradapan wanita yang proporsial.
Meski keadaan ini tidak nyata membalik sastra, tetapi gelagat Sihir Terahir awal sentakan sihir sastra dalam menggali wanita sebagai kelengkapan.
Hehehe. Tentu saja tidak bisa menuntut wanita secara berlebihan. Wanita sebagai makhluk kealaman, syarat dengan keterbatasan. Namanya juga wanita. Seluas jangkahnya terbatas jarik dan daster yang dikenakan. Meski wanita menyarap bak ular kobra yang sengit, bengis, apalagi wanita produk fakultasan, keinginannya sejajar dengan pria, kerap menghilangkan esensi kewanitaannya. Se-gander apapun, wanita tetap menstrulasi, hamil, melahirkan, mengasuh, menghembuskan suara hati untuk mewarnai si jabang bayi. Wanita hanya memiliki satu gen keturunan. Tabiatnya tentu sama sejak suku Hawa, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Minahasa, Padang, Jombang, Bandung, Aborigin, Mindanao, Arab, Yahudi, suku awal wanita hingga suku ahir wanita. Berbeda dengan laki-laki yang menurunkan berjuta-juta gen spermatozoon.
Wajar. Fitroh, jika dalam Antologi Sihir Terahir masih menyerta tradisi pramedium, yakni tradisi wanita mencipta karya sebagai pelampiasan/ekstas diri membangun dirinya, pandangan mengenai dirinya, di hadapan dirinya sendiri. Puisi wanita adalah wakil bahasa tabu dan diamnya. Kejalangan menyertakan nama seseorang yang dituju dalam puisinya sesungguhnya hanya mengotori/inveriority penafsiran sastra. Fina Sato misal, dalam puisi Mungkin Aku Lupa Menghitung Kisah, ditujukan buat Rosadi, dalam puisi Kota Kuno ditujukan buat Eko Budiharjo, dan satu lagi buat Wayan Sunarta. W.Herlya Winna ditujukan pada Kang Nyonk dan Novia, Winarni.R membingkis khusus buat inisial ‘Deng’, Fadhila Ramadhona menyertakan A.R. Kusumah dan H.S Wijaya dalam puisi Lelaki Senja-nya. Sementara Dian Hartati dan Ellie R. Noer masing-masing mendata satu tautan nama: ~ba dan Acep Zamzam Noor. Hehehe, seandainya perantauan mereka mengarungi jagat raya dan bertemu idola, kekasih, musuh, tokoh ternama, jin, malaikat, bahkan ‘tuhan’, berapa banyak lagi deretan nama dijumpai dalam puisi yang hanya untuk ngudal rasa pelampiasan.
Minggu 12 September 2010, buku Sihir Terahir baru sampai di tanganku. Aku baca serius. Aku amati. Aku orasi mondar-mandir di balai rumah, didengar saudara, bapak, ibu, teman yang mereka tak mengerti sastra. Yang mereka tau, aku penulis dan sering diundang baca puisi. Kenapa aku seriusi buku ini? Bukan karena aku laki-laki, dan Sihir Terahir ngerumpinya 23 penyair wanita, hingga aku memberi perhatian khusus. Hehehe, sederhana saja yang ingin kuketahui. Apa rahasia buku ini kok sampai menyebabkan aku dan tunanganku terpisah gara-gara buku ini.
Sebetulnya tidak ada hubungan antara pertengkaran hebat aku dengan tunanganku. Tapi juga tidak bisa jika buku ini tidak dihubungkan. Setelah 3 minggu buku ini dipinjam pacarku, ia aku mainta menghantar kerumah, karena aku ingin segera meresensinya. Sampai di tengah perjalanan pacarku tidak mau kerumah, malu bertemu ibuku. Aku marah. Dia menangis. Aku memahami pacarku tak ada militansi dengan kepentingan sastraku, persahabatabku yang sudah tertunda sebulan. Pacarku memahami bahwa aku cowok yang tak memahami wanita. Hubungan kami beku, padahal kami mestinya sudah resmi.
Ternyata, sekecil apapun oleh-oleh bagi wanita yang ia bawa saat bertamu adalah hal penting. Tetapi lelaki kerap tak memahaminya.
Suara wanita adalah yang tak diwakili laki-laki. Sebagaimana kekuatan wanita jika didampingi lelaki dekatnya. Untuk berkarya, laki-laki hanya memerlukan dukungan dari wanita. Untuk berkarya, wanita memerlukan kelonggaran waktu yang diberikan laki-laki.
Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Nurel Javissyarqi, sahabatku ini seperti menyorong sampan ke arahku yang berdiri di seberang tepian telaga, saat ia menyuruhku: “Sabrank, tolong kau resensi Antologi Puisi Sihir Terahir yang ditulis Komunitas Perempuan ASAS.” Dan aku mengibaratkan 23 penyair wanita ini sebagai bentangan pulau-pulau Nusantara, yang tak akan pernah khatam kujelajahinya, sebab tiap pulau menyimpan wilayah rahasia kealaman. Lelaki hanyalah perantau yang tak pasti kakinya mampu berjejak pada jalanan setapak. Pulau Nusantara ini adalah gempilan tembok sorga yang jatuh berpuing-puing saat tersenggol Raja Malaikat ketika ia berdansa merayakan kemenangan kontes kilauan cahaya yang digelar Tuhan, jauh sebelum kehidupan ada.
Per-empu-an, kata dasarnya’empu/bentol/bonggel yang menumbuhkan tunas. Saat ia remaja disebut ‘gadis per-rawan’, kemudian nona, nyonya yang tetap konstan sebagai wanita dan memiliki perempuan.
Adalah sebuah proyek raksasa jika kemudian wanita ASAS berdebut di perpuisian, yang kreatifitas itu nyata mengisi celah di antara himpitan privacy kewanitaannya. Pengantin baru temanku diawali dengan perselisihan kecil. Sang suwami, mengajak istri berkunjung ke rumah saudara sekiar jam 11 siang. Istri menunda sore hari biar tidak terlalu panas. Suwami berargumen filsafat,”panas matahari saja takut, toh kepanasan tidak sendiri. Matahari memang tercipta untuk bumi. Kenapa harus menyesali panas? Petani, kuli bangunan, pemecah batu, lebih kepanasan dari kita.” Meski perselisihan usai beberapa jam kemudian, pengantin wanita sempat menangis. Permasalahan mereka sepeleh. Sang wanita sedang menstrulasi, dan dalam perhitungannya sekitar 2 jam lagi sudah harus banjir dan ganti softtex. Ketabuahan berganti softtex di rumah orang lain tidak dipahami suwami. Sementara istri tidak menjelaskan secara utuh.
Puisi puisi Antologi Sihir Terahir adalah ‘jabang bayi sejarah’ dari rahim 23 wanita: Aldika Restu Pramuli, Alfatihatus Sholihatunnisa, Amelia Rachman, Cut Nanda A, Dea Ayu Ragilia, Desti Fatin Fauziyyah, Dewi Kartika, Dian Hartati, Dian Budiana, Ellie R. Noer, Evi Sefiani, Evi Sukaesih, Fadhila Ramadhona, Fina Sato, Ikarisma Kusmalina, Ike Ayuwandari, Laila N. Guntari, Lela Siti Nurlaila, Maya Mustika K, Seli Desmiarti, Tita Maria Kanita, W. Herlya Winna, Winarni Rahmawati.
Corak puisi yang meraka lahirkan dalam Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS ini merupakan garis mediteranian sejarah sebelumnya, dimana keserempakan warna tekstur menisbikan kemajalan fluktuatif. Ruang medium semacam ini menjadi zona pembatas yang memisahkan corak bersikap wanita dari kungkungan hepnotis sejarah sekian lama yang memandang wanita hanya sebatas pelengkap penderita kaum Adam. Sihir Terahir bukan sekedar letupan damba puisi Seli Desmiarti, tapi ekspresi geliat wanita zaman yang menandai proses pelonggaran jerat konvensi perkembangan sejarah sastra yang menyerimpungnya.
Sebagai makhluk dunia, wanita tak bisa menghindar dari ekses muara kegelapan sitem sosial, politik suatu negara. Di Indonesia, kwantitas wanita yang lahir di atas tahun 1965 membaik seiring tertingalnya masa traumatisasi G30 S PKI. Semakin jauh meninggalkan jejak trauma, semakin baik pula. Apalagi perempuan ASAS lahir seputaran tahun 80 an. Wanita Indonesia prakemerdekaan hidup dirundung was was dan ketakutan. Sedang di sisi lain, wanita harus menggendong bayi yang dilahirkan, yang artinya ketika menggendong, wanita sedang menghembuskan suasana hati yang direkam langsung sang bayi, dan diputar ulang ketika bayi dewasa kelak. Jika ibu menggendong dengan hati was, iri, takut, merasa tertindas, maka anak akan merealisasikan dalam hidupnya. Sampai pada sekitar tahun 2017, pejabat di Indonesia adalah anak yang dilahirkan pra1965. Rasa dendam dan was wanita waktu itu tergambar jelas dari ulah pejabat sekarang yang tak henti korupsi, mencurigai yang lain, bersaing menumpuk kekayaan dll. Dunia sastra pun demikian. Simak pertikaian Lesbumi, Lekra, Manikebu, Poros Tengah, Poros Langit, Poros sorga, TUK, dll yang untung saja tidak mengeluarkan KTP sebab royokan ‘tua’. Dan ini membosankan.
Tapak-tapak jejak meninggalkan tahun 1965, wanita masih harus lekat dengan rendahnya SDM yang memberlakukan wanita sebagai sangkar madu. Dan ini terjadi sampai batas yang belum diketahui ujungnya. Kekuatan karya sastra tak pernah beranjak dari pijakan mengexploitasi aroma sex belaka. Komposisi ini disebut sastra kelamin. Paul I. Willman, WS. Rendra dan semua penulis sampai era2010 masih asyik mengexploitasi wanita sebagai karya kebesaran. Dalihnya sederhana, yakni menyibak keutuhan sastra. Bahkan sepanjang penulis wanita yang saya amati masih ajeg merelakan buka aurat dalam sastranya yang sesungguhnya hanyalah program mendukung ambisi kaum adam.
Sejak Joyce Carol Oates, Joan Didion, Susan Sontag, Nadine Gordimer, Elizabeth Bishop, sampai Ayu Utami, Lang Fang, Ida Ahdiah, Yetti A.KA, Oka Rusmini, Ana Balqis, Aquarina Kharisma Sari, Abidah El Khalieqy dan banyak lagi barisan penulis wanita yang happy enjoy dengan aroma sastra kelamin. Keadaan ini menggambarkan kesempitan ruang sastra yang seolah olah tidak ada lagi kreasi puncak suspansi terhadap wilayah sastra yang luas.
Puisi ASAS menapaki lambaikan tangan seraya membelok keadaan ke arah zamaniahnya. Inilah yang disebut garis medium. Rontaan untuk menuntut diri wanita tampil baru sebagai penghuni zaman dilontarkan Tita Maria Kanita dalam larik puisi//menyimak wanita tidak cuma dilihat, namun didengar// puisi Telinga. W. Herlya Winna dalam Cahaya di Halaman Mata//Kutanam cahaya di halaman mata//menghasilkan anak-anak matahari//Kukayuh tubuh saat petang, rubuhkan sisa-sisa waktu//. Fina Sato dalam Tak Pernah Kutemukan Wujutmu dalam Riuh//ihwal seorang perempuan bukan dongeng si penjaga cahaya//. Ellie R. Noer dalam Bidadari Mandi//dulu bidadari mandi di pelangi//sekarang mandi di menu pagi//. Puisi Bahteranya Dian Hartati juga mengambil langkah tegas//aku dan tubuhku diintai waktu//siapa penghuni berikutnya//dapatkah kujelaskan pada mereka//tempat berlabuh yang aman tetap tubuhku//. Sikap perpuisian mereka ini sedang mempersiapkan new space bangunan peradapan wanita yang proporsial.
Meski keadaan ini tidak nyata membalik sastra, tetapi gelagat Sihir Terahir awal sentakan sihir sastra dalam menggali wanita sebagai kelengkapan.
Hehehe. Tentu saja tidak bisa menuntut wanita secara berlebihan. Wanita sebagai makhluk kealaman, syarat dengan keterbatasan. Namanya juga wanita. Seluas jangkahnya terbatas jarik dan daster yang dikenakan. Meski wanita menyarap bak ular kobra yang sengit, bengis, apalagi wanita produk fakultasan, keinginannya sejajar dengan pria, kerap menghilangkan esensi kewanitaannya. Se-gander apapun, wanita tetap menstrulasi, hamil, melahirkan, mengasuh, menghembuskan suara hati untuk mewarnai si jabang bayi. Wanita hanya memiliki satu gen keturunan. Tabiatnya tentu sama sejak suku Hawa, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Minahasa, Padang, Jombang, Bandung, Aborigin, Mindanao, Arab, Yahudi, suku awal wanita hingga suku ahir wanita. Berbeda dengan laki-laki yang menurunkan berjuta-juta gen spermatozoon.
Wajar. Fitroh, jika dalam Antologi Sihir Terahir masih menyerta tradisi pramedium, yakni tradisi wanita mencipta karya sebagai pelampiasan/ekstas diri membangun dirinya, pandangan mengenai dirinya, di hadapan dirinya sendiri. Puisi wanita adalah wakil bahasa tabu dan diamnya. Kejalangan menyertakan nama seseorang yang dituju dalam puisinya sesungguhnya hanya mengotori/inveriority penafsiran sastra. Fina Sato misal, dalam puisi Mungkin Aku Lupa Menghitung Kisah, ditujukan buat Rosadi, dalam puisi Kota Kuno ditujukan buat Eko Budiharjo, dan satu lagi buat Wayan Sunarta. W.Herlya Winna ditujukan pada Kang Nyonk dan Novia, Winarni.R membingkis khusus buat inisial ‘Deng’, Fadhila Ramadhona menyertakan A.R. Kusumah dan H.S Wijaya dalam puisi Lelaki Senja-nya. Sementara Dian Hartati dan Ellie R. Noer masing-masing mendata satu tautan nama: ~ba dan Acep Zamzam Noor. Hehehe, seandainya perantauan mereka mengarungi jagat raya dan bertemu idola, kekasih, musuh, tokoh ternama, jin, malaikat, bahkan ‘tuhan’, berapa banyak lagi deretan nama dijumpai dalam puisi yang hanya untuk ngudal rasa pelampiasan.
Minggu 12 September 2010, buku Sihir Terahir baru sampai di tanganku. Aku baca serius. Aku amati. Aku orasi mondar-mandir di balai rumah, didengar saudara, bapak, ibu, teman yang mereka tak mengerti sastra. Yang mereka tau, aku penulis dan sering diundang baca puisi. Kenapa aku seriusi buku ini? Bukan karena aku laki-laki, dan Sihir Terahir ngerumpinya 23 penyair wanita, hingga aku memberi perhatian khusus. Hehehe, sederhana saja yang ingin kuketahui. Apa rahasia buku ini kok sampai menyebabkan aku dan tunanganku terpisah gara-gara buku ini.
Sebetulnya tidak ada hubungan antara pertengkaran hebat aku dengan tunanganku. Tapi juga tidak bisa jika buku ini tidak dihubungkan. Setelah 3 minggu buku ini dipinjam pacarku, ia aku mainta menghantar kerumah, karena aku ingin segera meresensinya. Sampai di tengah perjalanan pacarku tidak mau kerumah, malu bertemu ibuku. Aku marah. Dia menangis. Aku memahami pacarku tak ada militansi dengan kepentingan sastraku, persahabatabku yang sudah tertunda sebulan. Pacarku memahami bahwa aku cowok yang tak memahami wanita. Hubungan kami beku, padahal kami mestinya sudah resmi.
Ternyata, sekecil apapun oleh-oleh bagi wanita yang ia bawa saat bertamu adalah hal penting. Tetapi lelaki kerap tak memahaminya.
Suara wanita adalah yang tak diwakili laki-laki. Sebagaimana kekuatan wanita jika didampingi lelaki dekatnya. Untuk berkarya, laki-laki hanya memerlukan dukungan dari wanita. Untuk berkarya, wanita memerlukan kelonggaran waktu yang diberikan laki-laki.
Jumat, 10 September 2010
Besutan Sebagai Bingkai Inspirasi Sosial
Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Di Jombang, seni Besutan tergolong pementasan teater tradisional. Istilah ‘Besut’ diambil dari kiroto boso (kiro-kiro boso seng ceto) yang artinya “mbeberno maksud’// memaparkan uneg-uneg dan tujuan.
Seni besutan di Jombang pertama kali diperankan oleh Pak Santik (1894-1897) saat Pak Santik menjadi abdi dalem di kantor Kabupaten Jombang. Selain sebagai abdi dalem Kabupaten, Pak Santik juga sebagai petani tulen. Sembari menunggu hasil panen itulah Pak Santik mengisi hari-hari luangnya dengan mengamen keliling.
Sebagai seniman, Pak Santik perlu memilih dan menentukan bentuk performanya. Ia berharap cara mengamennya dapat menarik simpati penonton. Setelah ia uji coba dengan merias dirinya dengan bedak tebal dan menor seperti badut, Pak Santik kemudian ditertawakan cucunya yang melihat dandanan konyolnya pertama kali. Dari tertawaan cucunya inilah Pak Santik berfikir “kok cucu pada tertawa, oow berarti lucu”. Dengan bermodal penampilan lucu sebelum berimprovisasi Pak Santik percaya kalau seni mengamennya pasti menghibur.
Ketika tidak mengamen, Pak Santik tetap dipanggil dengan nama aslinya. Namun ketika akan berangkat ngamen, Pak Santik berdandan khas ala tradisional rakyat desa yang dimodifikasi ulah kekanak-kanakan: Celana hitam komprang, kaos lorek merah putih, berpoles bedak tebal, dan memakai kupluk bayi yang ujungnya lancip. Saat berpakaian seperti inilah, Pak Santik menamakan dirinya Besut.
Aktifitas ngamen Besut ini, murni mencari uang di musim tunggu panen. Besut blusukan ke berbagai desa. Tak syak, dalam waktu dekat pengamen besut terkenal ke seluruh pelosok sekitar Jombang.
Setelah Besut digemari banyak penonton, ia mulai menggagas metode yang cermat, tepat dan bermutu dalam melakonkan adegan penyampaian maksud yang dituju. Tentu akan lebih rampak jika dialektika yang dilakukan tergambar langsung dengan lawan main, dan bukan bermonolog. Maka Besut kemudian menggaet kawan-kawannya yang senasib (dalam menunggu panen tiba) untuk ikut mengamen. Kepekaan Besut dalam menyampaikan maksudnya, tidak jauh-jauh dari sentilan dasar problematika keseharian masyarakat sekitar. Yakni perbincangan geleter sepotar laki-laki dan perempuan, sepasang kekasih, masalah masalah rumah tangga(suami-isteri). Besut kemudian merias temannya laki-lakinya dipoles ala wanita. Disisi lain, dengan berdandan ala wanita bertujuan menyembunyikan profil dirinya agar tidak diketahui anak, kerabat yang mungkin malu.
Ketika rombongan pengemen Besut masih berjumlah 2 orang, performa ngamennya hanya seputar pitutur para sesepuh, parikan, anekdot lawakan yang dilantunkan dengan gandang. Tetapi ketika anggotanya bertambah, dan memungkinkan untuk memerankan alur cerita, barulah rombongan Besut mengamen dengan pagelaran cerita utuh dengan lakon “Besutan”.
Dalam lakon Besutan ini, Pak Santik mendapuk dirinya sebagai tokoh utama Besut, dan dibantu peran pendamping Rusmini, Paman Gondo, dan Sumo Gambar. Dalam beberapa pementasan ludruk sekitar tahun 80an yang pernah saya saksikan, dimainkan juga peran cantrik bernama Pentul Tembem.
Lakon Besutan, hanya mempunyai satu alur cerita baku. Yakni, Besut sebagai pemuda desa yang jatuh cinta pada Rusmini. Percintaan Besut dan Rusmini kandas terhela paman Rusmini yang bernama Paman Gondo, sebab Paman Gondo ingin menjodohkan Rusmini dengan seorang borjuis yang diperankan oleh Sumo Gambar.
Sebagaimana folklor daerah-daerah lain di Indonesia, seni Besutan adalah teater tradisional yang digurat berdasarkan simbol kehalusan seni penciptanya. Misi cerita Besutan juga menambah ke nilai pemberontakan yang mewakili refleksi kolonial. Percintaan Besut dan Rusmini, melampirkan simbolik pribumi mencintai bangsanya. Rusmini adalah gadis belia yang ikut pamannya, dan bukan orang tuanya, adalah metafora Indonesia yang nama dan tradisinya tidak berinduk dari hati rakyat. Paman Gondo yang menguasai Rusmini (tanah air) justru getol menukar keponakannya dengan negara-negara kapitalis (Sumo Gambar) dengan cirri peringai tinggi, besar, berwajah buruk, serakah. Di Jawa Tengah, Sumo Gambar ditakwilkan sesosok orang yang pandai menggambar, merancang desain, setting mode, grand desain, purcaca, atau sebutan setara.
Pagelaran Besutan, diawali dengan adegan bermantra keluarnya seorang yang membawa obor dengan mata terpejam dan mulut tersumpal susur, serta jalan merangkak. Lakon digebyakkan setelah obor mati disembur mulut si Besut yang tersumpal.
Fenomena pascakolonial tergambar dalam bingkai Besutan. Obor pencerahan yang ditawarkan penjajah, berujung tendensi melumpuhkan dan membutakan rakyat Indonesia. Dengan menggantisipasi jarak pandang terhadap program colonial diharapkan dapat memadamkan muslihat pencerahan penjajah.
Dalam diskusi yang bertajuk “Prospek Teater Tradisional dan Modern” yang digelar Disporabudpar pada 10 Juli 2010 lalu, sastrawan legendaris Sosiawan Leak berasumsi bahwa : “ besutan sebagai teater tradisi, hanyalah bingkai yang dapat dimasuki muatan sosial, politik, agama dll.
Seni Besutan merupakan metamorfosis dari seni Lerok-Besutan dan kemudian menjadi Ludruk. Seni Lerok hanya dimainkan satu orang dengan wajah hiperpoles. Sehingga dikenal istilah Lerok : terlalu menor. Sebagian sumber mengatakan: Lerok singkatan dari 2 kata : li dan rok (kemaluan laki-laki dan perempuan bahasa Jawa Timuran).
Sementara itu Nasrul Ilaihi (cak Nas) selaku pengamat seni- budaya Jombang, memaparkan, bahwa seni Besutan marak kembali seputar era 80-a, setelah hengkang sejak akhir pendudukan Belanda. Apalagi sekarang mulai ada beberapa dalang muda lokal(Dalang Jekdhong: kusus dalang Jawa Timuran) yang mengadopsi peran Lembok dalam pementasan wayang, menjadi peran ‘Besut’.
Untuk menunjang subur dan berkembangnya kembali seni Besutan, Beny Setia (cerpenis asal Caruban) menganjurkan, perlu adanya sponsorsif media lokal yang menggandeng media nasional. Pun juga diperlukan keberanian sutradara untuk merubah hukum panggug pementasan lebih minimalis menyesuakan dengan perkembangan zaman.
Bagaimanapun juga percaturan dunia perteateran Indonesia dihadapkan dengan tehnologi sibernetik. Namun yang lebih tandas dari kelanggengan teater sebagai anak sungai seni adalah hendak dikemanakan? Departemen Kesenian dan Kebudayaan masih menyejajarkan sebagai proses edukatif anak bangsa. Namun ketika dilipat dalam Dinas Pariwisata dan Budaya, cenderung mulai dikomersilkan.
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Di Jombang, seni Besutan tergolong pementasan teater tradisional. Istilah ‘Besut’ diambil dari kiroto boso (kiro-kiro boso seng ceto) yang artinya “mbeberno maksud’// memaparkan uneg-uneg dan tujuan.
Seni besutan di Jombang pertama kali diperankan oleh Pak Santik (1894-1897) saat Pak Santik menjadi abdi dalem di kantor Kabupaten Jombang. Selain sebagai abdi dalem Kabupaten, Pak Santik juga sebagai petani tulen. Sembari menunggu hasil panen itulah Pak Santik mengisi hari-hari luangnya dengan mengamen keliling.
Sebagai seniman, Pak Santik perlu memilih dan menentukan bentuk performanya. Ia berharap cara mengamennya dapat menarik simpati penonton. Setelah ia uji coba dengan merias dirinya dengan bedak tebal dan menor seperti badut, Pak Santik kemudian ditertawakan cucunya yang melihat dandanan konyolnya pertama kali. Dari tertawaan cucunya inilah Pak Santik berfikir “kok cucu pada tertawa, oow berarti lucu”. Dengan bermodal penampilan lucu sebelum berimprovisasi Pak Santik percaya kalau seni mengamennya pasti menghibur.
Ketika tidak mengamen, Pak Santik tetap dipanggil dengan nama aslinya. Namun ketika akan berangkat ngamen, Pak Santik berdandan khas ala tradisional rakyat desa yang dimodifikasi ulah kekanak-kanakan: Celana hitam komprang, kaos lorek merah putih, berpoles bedak tebal, dan memakai kupluk bayi yang ujungnya lancip. Saat berpakaian seperti inilah, Pak Santik menamakan dirinya Besut.
Aktifitas ngamen Besut ini, murni mencari uang di musim tunggu panen. Besut blusukan ke berbagai desa. Tak syak, dalam waktu dekat pengamen besut terkenal ke seluruh pelosok sekitar Jombang.
Setelah Besut digemari banyak penonton, ia mulai menggagas metode yang cermat, tepat dan bermutu dalam melakonkan adegan penyampaian maksud yang dituju. Tentu akan lebih rampak jika dialektika yang dilakukan tergambar langsung dengan lawan main, dan bukan bermonolog. Maka Besut kemudian menggaet kawan-kawannya yang senasib (dalam menunggu panen tiba) untuk ikut mengamen. Kepekaan Besut dalam menyampaikan maksudnya, tidak jauh-jauh dari sentilan dasar problematika keseharian masyarakat sekitar. Yakni perbincangan geleter sepotar laki-laki dan perempuan, sepasang kekasih, masalah masalah rumah tangga(suami-isteri). Besut kemudian merias temannya laki-lakinya dipoles ala wanita. Disisi lain, dengan berdandan ala wanita bertujuan menyembunyikan profil dirinya agar tidak diketahui anak, kerabat yang mungkin malu.
Ketika rombongan pengemen Besut masih berjumlah 2 orang, performa ngamennya hanya seputar pitutur para sesepuh, parikan, anekdot lawakan yang dilantunkan dengan gandang. Tetapi ketika anggotanya bertambah, dan memungkinkan untuk memerankan alur cerita, barulah rombongan Besut mengamen dengan pagelaran cerita utuh dengan lakon “Besutan”.
Dalam lakon Besutan ini, Pak Santik mendapuk dirinya sebagai tokoh utama Besut, dan dibantu peran pendamping Rusmini, Paman Gondo, dan Sumo Gambar. Dalam beberapa pementasan ludruk sekitar tahun 80an yang pernah saya saksikan, dimainkan juga peran cantrik bernama Pentul Tembem.
Lakon Besutan, hanya mempunyai satu alur cerita baku. Yakni, Besut sebagai pemuda desa yang jatuh cinta pada Rusmini. Percintaan Besut dan Rusmini kandas terhela paman Rusmini yang bernama Paman Gondo, sebab Paman Gondo ingin menjodohkan Rusmini dengan seorang borjuis yang diperankan oleh Sumo Gambar.
Sebagaimana folklor daerah-daerah lain di Indonesia, seni Besutan adalah teater tradisional yang digurat berdasarkan simbol kehalusan seni penciptanya. Misi cerita Besutan juga menambah ke nilai pemberontakan yang mewakili refleksi kolonial. Percintaan Besut dan Rusmini, melampirkan simbolik pribumi mencintai bangsanya. Rusmini adalah gadis belia yang ikut pamannya, dan bukan orang tuanya, adalah metafora Indonesia yang nama dan tradisinya tidak berinduk dari hati rakyat. Paman Gondo yang menguasai Rusmini (tanah air) justru getol menukar keponakannya dengan negara-negara kapitalis (Sumo Gambar) dengan cirri peringai tinggi, besar, berwajah buruk, serakah. Di Jawa Tengah, Sumo Gambar ditakwilkan sesosok orang yang pandai menggambar, merancang desain, setting mode, grand desain, purcaca, atau sebutan setara.
Pagelaran Besutan, diawali dengan adegan bermantra keluarnya seorang yang membawa obor dengan mata terpejam dan mulut tersumpal susur, serta jalan merangkak. Lakon digebyakkan setelah obor mati disembur mulut si Besut yang tersumpal.
Fenomena pascakolonial tergambar dalam bingkai Besutan. Obor pencerahan yang ditawarkan penjajah, berujung tendensi melumpuhkan dan membutakan rakyat Indonesia. Dengan menggantisipasi jarak pandang terhadap program colonial diharapkan dapat memadamkan muslihat pencerahan penjajah.
Dalam diskusi yang bertajuk “Prospek Teater Tradisional dan Modern” yang digelar Disporabudpar pada 10 Juli 2010 lalu, sastrawan legendaris Sosiawan Leak berasumsi bahwa : “ besutan sebagai teater tradisi, hanyalah bingkai yang dapat dimasuki muatan sosial, politik, agama dll.
Seni Besutan merupakan metamorfosis dari seni Lerok-Besutan dan kemudian menjadi Ludruk. Seni Lerok hanya dimainkan satu orang dengan wajah hiperpoles. Sehingga dikenal istilah Lerok : terlalu menor. Sebagian sumber mengatakan: Lerok singkatan dari 2 kata : li dan rok (kemaluan laki-laki dan perempuan bahasa Jawa Timuran).
Sementara itu Nasrul Ilaihi (cak Nas) selaku pengamat seni- budaya Jombang, memaparkan, bahwa seni Besutan marak kembali seputar era 80-a, setelah hengkang sejak akhir pendudukan Belanda. Apalagi sekarang mulai ada beberapa dalang muda lokal(Dalang Jekdhong: kusus dalang Jawa Timuran) yang mengadopsi peran Lembok dalam pementasan wayang, menjadi peran ‘Besut’.
Untuk menunjang subur dan berkembangnya kembali seni Besutan, Beny Setia (cerpenis asal Caruban) menganjurkan, perlu adanya sponsorsif media lokal yang menggandeng media nasional. Pun juga diperlukan keberanian sutradara untuk merubah hukum panggug pementasan lebih minimalis menyesuakan dengan perkembangan zaman.
Bagaimanapun juga percaturan dunia perteateran Indonesia dihadapkan dengan tehnologi sibernetik. Namun yang lebih tandas dari kelanggengan teater sebagai anak sungai seni adalah hendak dikemanakan? Departemen Kesenian dan Kebudayaan masih menyejajarkan sebagai proses edukatif anak bangsa. Namun ketika dilipat dalam Dinas Pariwisata dan Budaya, cenderung mulai dikomersilkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar