M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Kemegahan candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta Timur masih menyisakan kemegahan dan misteri. Di tempat itu juga menyimpan kronik sejarah yang dapat dijadikan bahan ajar untuk kita, manusia Indonesia. Prambanan sebagai simbolisme perjuangan melawan kesewenangan kekuasaan yang didorong keserakahan nafsu dan ambisi manusia. Juga mengenai peliknya perjuangan cinta yang disertai hujan air mata yang menderas darah dan berakhir dengan penghianatan. Lalu apa yang musti kita pelajari dari sana?“Ya sejarah, Kang! Berkisar tentang bagaimana kentalnya feodalisme manusia Jawa.” Ucap Dhimas Gathuk yang langsung menerobos ketika saya belum sempat menjelaskan apa pun.
Sejarah? Memang demikian, mengenai sejarah manusia Jawa yang secara khusus mengenai pergolakan sosial politik kerajaan Jawa. Ketika kita menyatakan, “kerajaan feodalnya Jawa” justru memberikan kesan negatif. Pun, sebelum pembicaraan ini dimulai. Tentu saja, kesan negatif untuk manusia Jawa dan feodalisme itu sendiri. Akantetapi, dalam kesempatan ini marilah kita berpikir subjektive untuk tanpa menghakimi, dengan berusaha melihat manusia dan feodalisme sebagai suatu kesatuan. Keberadaan manusia dan feodalisme sebenarnya memiliki nilai positif, meskipun orang-orang Bolshevik terus bersikukuh kalau kehidupan manusia tanpa feodalisme adalah kehidupan yang lebih baik. Suatu impian, bahwa negara digerakkan oleh kekuatan dan kekuasaan rakyat. Toh, dalam struktur pemerintahannya pun, akan tetap menghasilkan feodalisme.
Inti dari sistem feodal tidak hanya mengacu pada tuan tanah, maupun penggolongan manusia borjouis dan proletar. Lebih jauh dari itu semua, feodalisme memiliki hakekat mengenai kepemimpinan di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam negara demokrasi, kapital sampai dengan komunis, sistem feodal masyarakat akan terus ada. Pandangan ini karena meninjau dari segi esensi mengenai feodalisme itu sendiri yang berupa: nilai kepemimpinan. Manusia yang hidup berkelompok, harus ada, salah seorang dari anggota manusia yang maju sebagai pemimpin. Perlu dijadikan bahan perbincangan kali ini adalah bersangkutan dengan nilai kepemimpinan; kepemimpinan yang seperti apa? Mestikah seorang agamawan muncul sebagai pemimpin?
Menurut saya, percuma juga ada kepemimpinan jikalau berbagai penindasan – yang secara langsung maupun tidak langsung, dan ketidak-adilan terus ada untuk menyiksa manusia yang ada di dalam kelompok masyarakat tersebut.
Pasti, orang yang memimpin adalah orang yang memiliki kekuasaan, sebab salah satu pendorong terlaksananya suatu kepemimpinan adalah aspek kekuasaan. Manusia yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, jika tidak memiliki kekuasaan tidak bisa menjalankan kepemimpinan yang dimiliki.
“Tapi bisa memimpin dengan memberikan contoh, menjadi teladan dengan memimpin dirinya sendiri!” sahut Kangmas Gathak yang kelihatannya sudah mulai gerah.
Itu idealnya, dan terkadang tidak menjadi alternatif dalam dunia perpolitikan suatu negara yang membutuhkan adanya kekuasaan dan pengakuan. Kepemimpinan sebagai kekuasaan, yang mana memiliki sifat melindungi, menjadi pengayom manusia yang dipimpin, melindungi kehormatannya sendiri sebagai pemimpin, menegakkan keadilan, dan serta mewujudkan kehidupan yang selamat.
Prabu Damar Maya sebagai simbolisme kepemimpinan dan kekuasaan kerajaan Pengging. Ketika kerajaan mendapati suatu ancaman dari Prabu Baka yang ambisius akan kekuasaan, Prabu Damar Maya bertindak. Damar Maya dengan sekuat tenaga melindungi wilayah kerajaannya, yang secara tidak langsung sebagai proses perlindungan terhadap seluruh rakyat yang ada di wilayah itu. Perlu kita ingat, kalau kerajaan Pengging adalah kerajaan ideal, yang mana kehidupan rakyatnya dijalankan dengan penuh keadilan, makmur, tentram dan sentosa. Wilayah Pengging sendiri adalah wilayah yang subur, kekayaan berlimpah ruah yang akhirnya menjelma sebagai godaan yang terus merayu Prabu Baka untuk menguasai.
Hal yang sungguh lumrah, sikap yang dimunculkan oleh Prabu Baka. Karena, meskipun Prabu berwujud Raksasa tetap memiliki sifat alamiah manusia, tidak pernah puas walau sudah memiliki satu kerajaan. Dalam kisah ini, Prabu Baka hadir sebagai simbol dari kejahatan, pemerintahan yang korup dan sewenang-wenang, tidak mampu menjalankan sistem kekuasaan untuk melindungi rakyat Baka. Karena kepemimpinan yang lemah dari kekuasaan Baka, rakyat pun tidak terlindungi bahkan dari diri Prabu itu sendiri.
“Itu artinya, pemimpin seperti Prabu Baka itu orang lemah. Sikapnya itu tidak mencerminkan kekuasaan yang dimiliki.” Ungkap Kangmas Gathak sambil merokok.
“Heh? Mosok seorang Prabu tidak memiliki kekuasaan, Kang?” sahut adik kami, Dhimas Gathuk.
“Kekuasaan itu melindungi yang dikuasai. Melindungi dari berbagai ancaman yang dapat membuat rakyat – atau yang dikuasai, itu menderita. Melindungi sekuat tenaga dan upaya, bahkan melindungi dari diri sendiri. Berani untuk mengorbankan kepentingannya sendiri demi keberlangsungan kebahagiaan orang-orang yang dikuasai. Itu, baru namanya kekuasaan.” Kangmas Gathak menjelaskan.
Dalam konteks ini, memang benar apa yang sudah dijabarkan Kangmas Gathak, hakekat dari kekuasaan adalah perlindungan dan kepemimpinan. Memimpin yang juga berarti melindungi, sebab nasib seluruh manusia yang ada di bawah kekuasaannya bergantung dari bagaimana pemimpin itu menjalankan fungsinya. Jikalau ada pemimpin yang tidak melindungi, sama halnya kita dipaksa untuk masuk ke dalam api. Kepemimpinan yang tidak melindungi sama halnya dengan pembinasahan, pembantaian dan itu bukan esensi dari kepemimpinan dan kekuasaan.
Manusia yang tidak mampu melawan dirinya sendiri dapat dipandang sebagai sebagai manusia lemah, sebab tidak mampu menguasai (memimpin) dirinya sendiri. Lantas, bagaimana bisa diandalkan untuk memimpin orang banyak?
Prabu Damar Maya beraktivitas dalam rangka menjalankan sistem kepemimpinannya, bertindak menghalau invansi Prabu Baka. Bersebab itu, Prabu Damar Maya mengutus anaknya sendiri, Bandung Bandawasa untuk berperang. Maju dan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan rakyat Pengging dari kekuasaan Prabu Baka yang merusak. Sebab, dalam cerita ini digambarkan mengenai hasil dari kekuasaan yang merusak yang disimbolkan melalui kerajaan Baka. Diceritakan, rakyat Baka mengalami kesengsaraan karena dipaksa mengikuti nafsu rajanya ketika berambisi menaklukkan Pengging.
Dari fenomena ini dapat kita lihat bagaimana peran Prabu Baka yang tidak mampu menjadi pemimpin, toh walau memiliki kekuasaan. Dan ketika ada seorang pemimpin yang hidup enak, berlimpah, bahagia, bahkan menjadi tambah gemuk, namun kondisi rakyatnya kembang kempis, sehari makan lalu sehari tidak makan, maka pemimpin seperti ini bukanlah seorang pemimpin. Dia adalah Prabu Baka yang menitis dalam diri pemimpin.
“Walau pemimpin itu mendapatkan wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk dengan cepat.
Seperti itu.
“Walau sudah terbukti dua kali mendapat wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk yang berusaha mempolitisir perbincangan untuk menunjuk hidung panjang seorang pemimpin yang pernah operasi tahi lalat.
“Hahaha…” Kangmas Gathak tertawa saja.
Meskipun Tuhan Semesta Alam telah menunjuk seseorang itu menjadi pemimpin, tidak lantas seorang Prabu berhak untuk menjalankan pemerintahan dengan sewenang-wenang. Membiarkan rakyat yang dititipkan Tuhan Semesta Alam untuk jatuh di dalam penderitaan sama halnya dengan menghina kemudian menantang pemilik rakyat itu, yang juga pemilik kekuasaan yang sebenarnya: Tuhan. Perlu kita memahami, bahwa kepemimpinan yang dititipkan Tuhan Semesta Alam adalah kepemimpinan yang berhati nurani, bukan bernafsu naluri. Ibaratnya, meskipun seorang Prabu harus mati, hal yang terpenting adalah keselamatan rakyatnya.
“Ah, si Bandawasa memang menang dalam peperangan, tapi dia juga kalah.”
Itulah permasalahan mengenai kekuasaan!
Bandung Bandawasa memang sudah memenangkan peperangan, pun akhirnya dengan sendirinya mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan atas wilayah dan kerjaan Baka yang sudah berada di bawah kakinya. Sampai akhirnya, Bandung Bandawasa menemukan perempuan cantik, langsing dan cantik bernama Rara Jonggrang. Melalui pertemuan ini, Bandung Bandawasa merasa mendapatkan giliran untuk menguasai kekuasaan, yang secara tidak langsung menempati posisi Prabu Baka yang sudah dikalahkan.
Lagi-lagi, manusia yang berkuasa berusaha memanfaatkan kekuasaan itu untuk memenuhi hasrat diri yang termanifestasikan ke dalam simbol, yaitu Rara Jonggrang itu sendiri. Saya membaca bahwa keberadaan Rara Jonggrang merupakan pengejawantahan dari hasrat manusia. Yang mana selalu menginginkan hal yang indah, menyenangkan, dan tentu saja nikmat. Aspek ini merujuk pada keinginan akan kesenangan duniawi, yang mana kecantikan Jonggrang memancar dari tubuh (duniawi) yang ditangkap oleh pandangan (baca: ranjau hawa nafsu) Bandung Bandawasa.
Bandung Bandawasa berhadapan dengan keinginannya sendiri, untuk menikahi (baca juga: menikmati) kecantikan Jonggrang yang menggiurkan dan menggairahkan. Untuk mencapai hasrat itu, Bandung Bandawasa dihadapkan pada dua syarat yang harus terpenuhi dalam rangka mendapatkan kenikmatan duniawi. Pertama, mengenai pembuatan Sumur Jalatunda yang mana dapat dipahami sebagai lubang gelap dari keinginan (nafsu) manusia yang menjebak. Seperti ketika Bandawasa memasuki sumur Jalatunda, langsung dikubur oleh Patih Gupolo atas perintah Jonggrong. Bandawasa sadar bahwa dirinya telah dipermainkan namun masih saja terbujuk hawa nafsu untuk membuat seribu candi, sebagai persyaratan yang kedua. Seribu candi yang diinginkan Jonggrang dapat kita maknai sebagai seribu keinginan manusia.
“Kenapa Jonggrang harus curang yang jutru membuat seribu candi tidak selesai?” Kangmas Gathak dan Dhimas Gathuk bersepakat menanyakan hal yang sama.
Inilah, penghianatan dari bujuk rayu keinginan (nafsu) manusia. Bandawasa hanya bisa menyelesaikan 999 buah candi, karena keinginan manusia tidak pernah selesai sehingga Jonggrang menyiasati agar tidak genap seribu. Kalau misalkan saja sudah genap seribu candi, berarti keinginan manusia telah selesai, namun sifat dari keinginan manusia itu sendiri tidak pernah selesai sampai mati, sehingga sikap Jonggrang dapat kita pahami. Keadaan ini nampaknya disadari Bandung Bandawasa yang menyelesaikan keinginannya dengan merubah Rara Jonggrang menjadi candi yang keseribu. Artinya kesenangan (hawa nafsu) harus dibunuh untuk mencapai kekuasaan yang sebenarnya, karena sebelum keinginan manusia itu mati, tidak akan mencapai kekuasaan yang sebenarnya, bersebab diri manusia itu sendiri masih dibawah kekuasaan hawa nafsu (keinginan).
“Nah, itulah yang dipesankan Nabi, bahwa memerangi hawa-nafsu, diri manusia sendiri adalah perang terbesar setiap manusia.” Sahut Kangmas Gathak dalam senyuman bangga.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Kamis Pon, 11 Maret 2011
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label M.D. Atmaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M.D. Atmaja. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Maret 2011
Jumat, 25 Februari 2011
“Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Pramoedya Ananta Toer (PAT), seorang penulis legendaris yang menjalani kehidupan dalam perjalanan panjang dan berat, serta perjuangan yang berat juga. Dia memikul tanggung jawab sebagai agen pembeber realitas sejarah masyarakatnya. Hal ini dapat saja kita tilik, dari pandangan kepenulisan PAT yang berlandaskan pada Realisme Sosialis, yang dalam pandangan Gorki: “bahwa setiap orang harus mengetahui sejarahnya”, sehingga peran untuk mengungkapkan realitas sejarah dipikul sastrawan Realisme Sosialis.
Karya PAT secara keseluruhan berupaya meraup realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Ia (karya tersebut) sebagai penggambaran hidup yang utuh, sampai-sampai Yakob Sumarjo mengatakan kalau publik akan kesulitan dalam menentukan, apakah karya PAT sebagai karya fiksi atau karya biografis. Realitas kehidupan yang mendalam, PAT gambarkan melalui karya-karyanya yang mungkin (semoga) saja ada di rak buku kita.
“Bumi Manusia” (2006) sebagai novel pertama dari Tetralogi Buru, memberikan suatu perdebatan tersendiri mengenai ranah kebudayaan. Misalnya saja, konsep mengenai “Nyai” yang muncul dalam dua pandangan berbeda, baik secara realitas maupun kisah fiksinya. Konsep ini membawa pada suatu kontradiksi pemahaman budaya, yang mungkin saja, sengaja diketengahkan penulis.
Dalam “Bumi Manusia” seorang Nyai, atau istilah Nyai mengacu sebagai produk kebudayaan pemerintah Kolonial Belanda (dan Eropa). Nyai sebagai seorang perempuan peliharaan atau sebut saja sebagai perempuan gelap yang memiliki hubungan tidak sah dengan seorang Asing (Belanda). Lihat saja, skema hidup Nyai Ontosoroh yang berperan sebagai perempuan pribumi dan menjadi gundik. Keberadaan Nyai, dalam konsep “Bumi Manusia” hampir sama dengan seorang pelacur yang mendatangkan aspek kesenangan dan pemenuhan kebutuhan akan seks.
Memang berbeda, dengan Nyai Ontosoroh yang justru menjadi penguasa di Boederij Buitenzorg milik pengusaha Belanda bernama Herman Mellema. Peran Nyai di sini memiliki tendensi yang luar biasa, sebab bagaimana seorang perempuan simpanan bisa memimpin perusahaan milik orang Belanda. Nyai Ontosoroh tidak sekedar Nyai yang diperankan. Saya membaca, di sana ada pengembanan tugas yang luar biasa penting demi kelajuan hidup perusahaan besar.
Aspek ke-Nyai-an hampir sama, apabila tidak ada hubungan pernikahan sah, maka status mereka sama dengan para selir raja Jawa. Perbedaannya, selir raja menduduki posisi terhormat dikalangan masyarakat umum, bahkan banyak dari rakyat kecil yang mengidamkan posisi tersebut. Esensi antara Nyai-nya pembesar Belanda dengan selir raja Jawa adalah sama. Lantas, apa yang membedakan diantara keduanya? Nyai di sini dapat saja dipandang sebagai suatu bagian dari sistem perbudakan bangsa Belanda pada masyarakat pribumi, seperti yang diungkapkan Nyai Ontosoroh sendiri, bahwa: “bisa saja seorang budak hidup di istana kaisar, hanya dia tinggal budak (BM, 2006: 340-341)”. Dan hal ini, sama saja dengan posisi selir raja Jawa itu sendiri.
Masyarakat Jawa, memandang fenomena “Nyai” sebagai hal yang salah karena menyimpang dan merupakan pelanggaran terhadap norma masyarakat yang berkaitan dengan prinsip moral. Akantetapi, pandangan negatif ini sepertinya tidak berlaku bagi kehidupan para selir raja Jawa. Lantas, apakah fenomena “Nyai” yang terjadi pada waktu itu karena rasa ketertarikan pembesar Hindia Belanda pada kehidupan para raja Jawa?
PAT juga menceritakan mengenai dilema Herman Mellema ketika ingin anaknya dengan Nyai Ontosoroh mendapatkan pengakuan, atas baptis dari agama Kristen. Agama tersebut menolak, karena baik Robert Mellema dan Annelies Mellema bukan anak dari pernikahan yang sah. Dengan demikian, kita melihat adanya penolakan dari agama tersebut mengenai keberadaan Nyai. Tapi sayangnya, pada masa itu ketika para pembesar Hindia Belanda memeluk agama Kristen, kenapa tidak melarang perbudakan Nyai sehingga Robert Mellema dan Annelies Mellema tidak perlu lahir?
Fenomena “Nyai”nya Pramoedya perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik, sebab di satu pihak pribumi mengatakan kalau fenomena ini sebagai produk perbudakan Hindia Belanda di Jawa, sedang disisi lain, fenomena Nyai juga muncul dalam kehidupan para raja Jawa dengan nama selir.
“Nyai” itu sendiri muncul dikarenakan adanya suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk menyerahkan nasib untuk menjadi Nyai atau selir untuk menjalani hubungan tanpa pernikahan. Kondisi ini bisa saja sebagai akibat dari kemiskinan atau situasi politik yang gemar memberikan upeti. Apabila ditinjau dari selirnya para raja Jawa, fenomena “Nyai” dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penyelewengan kekuasaan dalam tingkatan sosial, politik dan budaya.
Kemudian, apakah fenomena “Nyai” masih hadir dalam lingkungan masyarakat Indonesia modern? Mari kita jawab bersama-sama. Kalau, dalam suatu konsep “Nyai” sebagai suatu pola hubungan (seks, rumah tangga) yang di dalamnya tidak terdapat pernikahan, maka pada kondisi Indonesia modern sekarang, apakah hubungan-hubungan seperti itu masih terjadi? Sebut saja, kumpul-kebo sebagai hubungan antara lelaki dan perempuan dalam satu rumah, mereka melakukan hubungan keluarga seperti suami istri namun tidak terlebih dahulu melakukan pernikahan secara agama dan hukum.
Kumpul kebo yang membudi-daya ini berasal dari mana? Apakah karena gerak kebudayaan yang diwariskan semenjak dahulu, atau karena ada pengaruh kebudayaan lain yang ikut membentuk karakter bangsa. Kumpul kebo atau bahasa menterengnya living togheter, memiliki kesamaan karakter dengan “Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer, atau dengan selir yang berada di samping raja. Entah itu Nyai, selir, kumpul kebo, atau istilah lain masih harus ditelusur dari latar belakang yang mendasari pembentukannya. Selanjutnya, bagaimana dengan free sex anak muda sekarang? Apakah itu masuk ke dalam daftar Nyai dan Selir yang didorong faktor ekonomi, atau kegiatan anak muda sekarang menjadi genre kebudayaan yang mengacu pada kesenangan. Dan kesemua ini, mengacu pada hubungan seks.
Kembali pada konsep “Nyai”, apabila dalam khasanah Hindia Belanda yang dikemukakan Pramoedya, ada khasanah lain mengenai konsep “Nyai” ini. Khasanah yang bisa membuat kita heran, karena di dalamnya terdapat perbedaan konsep. Yaitu, masyarakat Jawa pada umumnya, memandang “Nyai” sebagai seorang perempuan yang terhormat, suci, dan menjadi pendamping atau gelar bagi perempuan bersuami yang meninggal. Hal ini sangatlah berbeda dengan konsep “Nyai” antara pandangan masyarakan Hindia Belanda dengan masyarakat Jawa. Perbedaan makna ini yang dapat membuat kita salah mengerti, sehingga tidak setiap Nyai menjadi gundik dan tidak setiap gundik mewakili “Nyai”. Kemudian, bagaimana dengan free sex, kumpul kebo dan sederet yang lainnya? Saya kira, itu tidak menjadi bahasan yang penting di sini. Atau mungkin saja, para perempuan itu ingin menjadi nyai-nyai dan para lelaki kita itu ingin menjadi tuan-tuan Belanda. Saya kira.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 22 Februari 2011.
http://sastra-indonesia.com/
Pramoedya Ananta Toer (PAT), seorang penulis legendaris yang menjalani kehidupan dalam perjalanan panjang dan berat, serta perjuangan yang berat juga. Dia memikul tanggung jawab sebagai agen pembeber realitas sejarah masyarakatnya. Hal ini dapat saja kita tilik, dari pandangan kepenulisan PAT yang berlandaskan pada Realisme Sosialis, yang dalam pandangan Gorki: “bahwa setiap orang harus mengetahui sejarahnya”, sehingga peran untuk mengungkapkan realitas sejarah dipikul sastrawan Realisme Sosialis.
Karya PAT secara keseluruhan berupaya meraup realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Ia (karya tersebut) sebagai penggambaran hidup yang utuh, sampai-sampai Yakob Sumarjo mengatakan kalau publik akan kesulitan dalam menentukan, apakah karya PAT sebagai karya fiksi atau karya biografis. Realitas kehidupan yang mendalam, PAT gambarkan melalui karya-karyanya yang mungkin (semoga) saja ada di rak buku kita.
“Bumi Manusia” (2006) sebagai novel pertama dari Tetralogi Buru, memberikan suatu perdebatan tersendiri mengenai ranah kebudayaan. Misalnya saja, konsep mengenai “Nyai” yang muncul dalam dua pandangan berbeda, baik secara realitas maupun kisah fiksinya. Konsep ini membawa pada suatu kontradiksi pemahaman budaya, yang mungkin saja, sengaja diketengahkan penulis.
Dalam “Bumi Manusia” seorang Nyai, atau istilah Nyai mengacu sebagai produk kebudayaan pemerintah Kolonial Belanda (dan Eropa). Nyai sebagai seorang perempuan peliharaan atau sebut saja sebagai perempuan gelap yang memiliki hubungan tidak sah dengan seorang Asing (Belanda). Lihat saja, skema hidup Nyai Ontosoroh yang berperan sebagai perempuan pribumi dan menjadi gundik. Keberadaan Nyai, dalam konsep “Bumi Manusia” hampir sama dengan seorang pelacur yang mendatangkan aspek kesenangan dan pemenuhan kebutuhan akan seks.
Memang berbeda, dengan Nyai Ontosoroh yang justru menjadi penguasa di Boederij Buitenzorg milik pengusaha Belanda bernama Herman Mellema. Peran Nyai di sini memiliki tendensi yang luar biasa, sebab bagaimana seorang perempuan simpanan bisa memimpin perusahaan milik orang Belanda. Nyai Ontosoroh tidak sekedar Nyai yang diperankan. Saya membaca, di sana ada pengembanan tugas yang luar biasa penting demi kelajuan hidup perusahaan besar.
Aspek ke-Nyai-an hampir sama, apabila tidak ada hubungan pernikahan sah, maka status mereka sama dengan para selir raja Jawa. Perbedaannya, selir raja menduduki posisi terhormat dikalangan masyarakat umum, bahkan banyak dari rakyat kecil yang mengidamkan posisi tersebut. Esensi antara Nyai-nya pembesar Belanda dengan selir raja Jawa adalah sama. Lantas, apa yang membedakan diantara keduanya? Nyai di sini dapat saja dipandang sebagai suatu bagian dari sistem perbudakan bangsa Belanda pada masyarakat pribumi, seperti yang diungkapkan Nyai Ontosoroh sendiri, bahwa: “bisa saja seorang budak hidup di istana kaisar, hanya dia tinggal budak (BM, 2006: 340-341)”. Dan hal ini, sama saja dengan posisi selir raja Jawa itu sendiri.
Masyarakat Jawa, memandang fenomena “Nyai” sebagai hal yang salah karena menyimpang dan merupakan pelanggaran terhadap norma masyarakat yang berkaitan dengan prinsip moral. Akantetapi, pandangan negatif ini sepertinya tidak berlaku bagi kehidupan para selir raja Jawa. Lantas, apakah fenomena “Nyai” yang terjadi pada waktu itu karena rasa ketertarikan pembesar Hindia Belanda pada kehidupan para raja Jawa?
PAT juga menceritakan mengenai dilema Herman Mellema ketika ingin anaknya dengan Nyai Ontosoroh mendapatkan pengakuan, atas baptis dari agama Kristen. Agama tersebut menolak, karena baik Robert Mellema dan Annelies Mellema bukan anak dari pernikahan yang sah. Dengan demikian, kita melihat adanya penolakan dari agama tersebut mengenai keberadaan Nyai. Tapi sayangnya, pada masa itu ketika para pembesar Hindia Belanda memeluk agama Kristen, kenapa tidak melarang perbudakan Nyai sehingga Robert Mellema dan Annelies Mellema tidak perlu lahir?
Fenomena “Nyai”nya Pramoedya perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik, sebab di satu pihak pribumi mengatakan kalau fenomena ini sebagai produk perbudakan Hindia Belanda di Jawa, sedang disisi lain, fenomena Nyai juga muncul dalam kehidupan para raja Jawa dengan nama selir.
“Nyai” itu sendiri muncul dikarenakan adanya suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk menyerahkan nasib untuk menjadi Nyai atau selir untuk menjalani hubungan tanpa pernikahan. Kondisi ini bisa saja sebagai akibat dari kemiskinan atau situasi politik yang gemar memberikan upeti. Apabila ditinjau dari selirnya para raja Jawa, fenomena “Nyai” dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penyelewengan kekuasaan dalam tingkatan sosial, politik dan budaya.
Kemudian, apakah fenomena “Nyai” masih hadir dalam lingkungan masyarakat Indonesia modern? Mari kita jawab bersama-sama. Kalau, dalam suatu konsep “Nyai” sebagai suatu pola hubungan (seks, rumah tangga) yang di dalamnya tidak terdapat pernikahan, maka pada kondisi Indonesia modern sekarang, apakah hubungan-hubungan seperti itu masih terjadi? Sebut saja, kumpul-kebo sebagai hubungan antara lelaki dan perempuan dalam satu rumah, mereka melakukan hubungan keluarga seperti suami istri namun tidak terlebih dahulu melakukan pernikahan secara agama dan hukum.
Kumpul kebo yang membudi-daya ini berasal dari mana? Apakah karena gerak kebudayaan yang diwariskan semenjak dahulu, atau karena ada pengaruh kebudayaan lain yang ikut membentuk karakter bangsa. Kumpul kebo atau bahasa menterengnya living togheter, memiliki kesamaan karakter dengan “Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer, atau dengan selir yang berada di samping raja. Entah itu Nyai, selir, kumpul kebo, atau istilah lain masih harus ditelusur dari latar belakang yang mendasari pembentukannya. Selanjutnya, bagaimana dengan free sex anak muda sekarang? Apakah itu masuk ke dalam daftar Nyai dan Selir yang didorong faktor ekonomi, atau kegiatan anak muda sekarang menjadi genre kebudayaan yang mengacu pada kesenangan. Dan kesemua ini, mengacu pada hubungan seks.
Kembali pada konsep “Nyai”, apabila dalam khasanah Hindia Belanda yang dikemukakan Pramoedya, ada khasanah lain mengenai konsep “Nyai” ini. Khasanah yang bisa membuat kita heran, karena di dalamnya terdapat perbedaan konsep. Yaitu, masyarakat Jawa pada umumnya, memandang “Nyai” sebagai seorang perempuan yang terhormat, suci, dan menjadi pendamping atau gelar bagi perempuan bersuami yang meninggal. Hal ini sangatlah berbeda dengan konsep “Nyai” antara pandangan masyarakan Hindia Belanda dengan masyarakat Jawa. Perbedaan makna ini yang dapat membuat kita salah mengerti, sehingga tidak setiap Nyai menjadi gundik dan tidak setiap gundik mewakili “Nyai”. Kemudian, bagaimana dengan free sex, kumpul kebo dan sederet yang lainnya? Saya kira, itu tidak menjadi bahasan yang penting di sini. Atau mungkin saja, para perempuan itu ingin menjadi nyai-nyai dan para lelaki kita itu ingin menjadi tuan-tuan Belanda. Saya kira.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 22 Februari 2011.
Selasa, 01 Februari 2011
DIAWALI DENGAN RESAPAN CINTA
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad
ruh bersaksi sederaian gerimis menghantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga [I]” (KPM, 2007: 1)
Begitu, Nurel Javissyarqi (NJ) mengawali karyanya yang berjudul Kitap Para Malaikat (KPM) dengan muqaddimah. Butiran puitik yang dibingkaikan sosok NJ melalui KPM-nya ini digerbangi shalawat atas Nabi, Muhammad SAW. Melantun, sebagai pembuka dari catatan panjang yang sungguh tidak bisa dianggap remeh. Seolah sudah mendapatkan deretan wangsit (baca juga dengan: kesaksian), NJ menembangkan shalawat untuk mengabari kita kalau Para Malaikat yang ditemui tidak hanya mentasbihkan keagungan Allah Ta’ala, melainkan juga berderet dalam rangka merajut doa untuk pengagungan Nabi SAW.
Membaca Kitab Para Malaikat
Mencermati sebait di awal ini, saya pun kemudian undur diri untuk mengheningkan diri sejenak. Menyusupi dan ikut bershalawat dalam hening sambil menimbang bobot kata pembuka dalam ayat I surat muqaddimah ini. Pasti, pikir saya dalam prasangka baik, sang NJ mengumpulkan sekarung nilai dalam shalawat yang tentu saja dapat dipergunakan sebagai bahan untuk menterjemahkan keakuratan usaha dalam rangka mengumpulkan berkah cahaya Ruhaniyyuun. NJ menapak tilas di perjalanan umurnya untuk mendaki dan bersusah sungguh demi mengungguli kemerlap dari makhluk-makhluk yang disucikan (KPM, 2007: 1).
Berhantar bait (baca: ayat) pertama dalam judul (baca: surat) Muqaddimah; Waktu di Sayap Malaikat, pun di sini NJ menitipkan doa keselamatan untuk seorang utusan, Nabi Besar Muhammad, penutup para Nabi Allah. “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad” NJ memulai mengungkapkan rasa yang dikristalkan dari dalam dada.
Penempatan sebaris doa ini, dimungkinkan saja, bahwa NJ bermaksud menebarkan keselamatan di muka bumi bersamaan dengan proses pembacaan KPM oleh masyarakat. Seperti yang pernah diungkapkan NJ sendiri pada hari Jum’at tanggal 23 Juli 2010 di Padepokan Selo Aji, Trowulan, Mojokerto, yang menyatakan bahwa, “KPM ini apabila cukup disimpan di rumah, niscaya rumah itu dapat terhindarkan dari marabahaya”. Pengakuan ini memberikan saya sekelumit bekal, adanya bait (baca: ayat) pertama di Muqaddimah KPM yang mengisyaratkan akan keselamatan dan sekaligus cinta, yang mendatangkan keselamatan tersebut, dari NJ pada keagungan Nabi Muhammad SAW. Khasanah cinta yang dibawa NJ, pun menjadi dorongan utama dalam panjangnya perjalanan. Masa ini membawa NJ berpapasan dengan simbol spiritual (maupun mistis) yang pada perkembangan selanjutnya menjadi pengalaman religi. Cinta, tertuang dalam estetika religius yang kental. Aspek ini membentuk KPM dengan sedemikian rupa sebagai sarana pemujaan atas cinta keilahian.
Akiya Yutaka (melalui Abdul Hadi W.M., 2004: 5) mengatakan bahwa doa dan cinta serta sembahyang memiliki peran yang sangat penting dalam proses penciptaan puisi. Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat memuat tiga aspek tersebut. Shalawat Nabi atas makro-kosmos. Sebait, yang sudah mengandungi doa, cinta serta sembahyang, seperti yang diungkapkan Akiya Yutaka di atas. Mendoakan karena mencintai, dan rasa cinta yang hadir menuntun pada sembahyang (sembah-Hyang). Akantetapi, dari tiga aspek maknawi proses penciptaan KPM, lebih didasari oleh aspek cinta. Rasa cinta, memiliki timbangan yang lebih berat daripada dua unsur yang lain.
Cinta (mahabbah) dapat diungkapkan sebagai nilai hidup yang merupakan santapan hati, makanan ruh dan juga kesenangan (Al-Jauziyah, 1998: 421). Melalui cinta ini, NJ menghidupkan jalan renungan untuk mensketsa warna jiwa cinta para Malaikat. Sampai pada noktah perjalanan tertentu, rasa cinta itu menjadi ruh pelita perjalanan jiwa yang bersaksi kemudian mengendap.
Rasa cinta menuntun pada laku perjalanan panjang yang secara tidak langsung menjadi laku dalam membuat gudang pengalaman. Perjalanan mistis (atau mungkin juga spiritual) yang menghenyak di dalam sanubari. Diawali dalam sesenggukan meresapi cinta yang menumbuh dalam batiniah yang dengan puisinya ini, NJ menasehati dirinya sendiri dan (tentu saja) para pembaca:
Maka jangan menghitung masa bertirakat,
hisaplah kutub keberadaan kekuatannya [V]
menempuh jalan pemahaman untuk sesuatu yang terus dicintai, terus disugestikan akan adanya keharusan akan kehendak sehingga menjadi tabu kalau sampai menghitung pengorbanan yang telah dipersembahkan. Cinta tidak memiliki rumus hitungan, tentang seberapa banyak yang akan didapat dengan seberapa banyak yang akan diberikan. Sebab itu, cinta jauh dari untung dan rugi. Di sana tidak ada hukum-hukum ciptaan manusia seperti ekonominya Smit atau matematika yang memiliki dasar hitungan. Rasa cinta adalah senyawa ilahiah, yang ketika mengatakan cinta musti dibarengi dengan perjalanan pemahaman sebagai nyawa persembahan seperti dalam ayat IV surat Muqaddimah.
Ikhlasnya dalam pengorbanan, melepaskan segala kepentingan yang mengunsurkan talian erat pada dunia. Dia hanya rasa untuk mencintai, yang entah dalam kadar memberi atau kadar menerima. Panjangnya dan beratnya perjalanan cinta akan membawa kekuatan serta maknanya sendiri, membuat setiap kita mendaki keluhuran jiwa yang melewati kedudukan Malaikat (Ruhaniyyuun).
Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat memiliki bangunan struktur makwani yang indah. Membawa audiens untuk berusaha keras menilik ke dalam diri. Melepaskan ego kebenaran sendiri untuk terus menerus berjalan di jalan rasa sebagai jalan hidup. Jadi, seperti dalam pandangan hidup masyarakat Jawa, manusia saat ingin mencapai pengalaman puncak religius beserta keluhuran tidak perlu keluar dari diri sendiri (Beatty, 2001: 224). Pengetahuan tentang diri, biasanya didorong kehendak dari cinta yang menghasilkan kerendahan diri. Hal ini cukup tersembunyi. Entah sengaja disembunyikan oleh NJ atau secara tidak sengaja termaktub di dasarnya tanpa pengetahuan si empu KPM, Nurel Javissyarqi.
Sebagaimana ilham dari para Malaikat (Ruhaniyyun), pengetahuan ini dibungkus dalam ayat VIV yang secara gamblang membawa pada hukum tua:
Tubuh letih mata senja setajam pandangan arif menakar peristiwa,
segenggam benih pada, senyum taburan suci para petani [XIV]
Baris pertama di ayat tersebut, menghadirkan nuansa “senja” serta “tubuh letih” yang berisyarat telah dilaluinya tapak laku yang panjang. Waktu yang tidak singkat dalam pengembaraan, dari muda ke masa tua. Simbolisme yang dibangun mengklaim soal kearifan yang dimiliki orang tua. Nah, orang tua di sini pun akhirnya membawa pada dua pengertian baru. Orang yang sudah berumur tua yang sudah makan banyak garam dunia, atau orang tua yang dikurung tanda kutip. Dua kriteria ini memiliki esensi yang sungguh berbeda jauh. Kalau orang tua karena tingkatan umur, membutuhkan adanya proses yang kedatangannya dapat ditunggu. Lain halnya dengan orang tua dikurung tanda kutip, dia bisa saja anak muda namun dengan usaha keras menjalani ritme pengetahuan yang dibutuhkan. Orang tua belum tentu menjadi orang tua (Wong Tua) dan yang muda tidak menutup kemungkinan mencapai taraf Wong Tua tersebut.
Keterkaitan struktur simbol antara tubuh letih dan (mata) senja) yang menuju pada kebijaksanaan dapat ditemukan dalam ayat “walaupun air laut berselimutkan kain sutra angkasa jiwa [XI]” oleh NJ, disimbolkan kembali dalam irama “segenggam benih pada [XIV]”. Tanaman satu ini tumbuh di lingkup masyarakat Jawa yang mengandung unsur kehidupan yang tinggi. Padi, kalau berisi dia akan menunduk, rendah diri, lain halnya apabila gabug, tidak berisi, batangnya akan tegak berdiri menantang langit.
NJ mungkin saja terlupa, kalau tidak setiap (mata) senja atau umur yang tua membuahkan kebijaksanaan. Akantetapi, NJ langsung menisbatkan nilai akan “tua” ini pada kaum petani. Golongan masyarakat yang terus berkurang peminatnya (ketimbang menjadi PNS), menjadi figur bagi manusia bijaksana. Mungkin, hal ini dipahami dari konsep laku hidup para petani itu sendiri. Membicarakan KPM, seperti yang sudah saya ungkapkan dalam tulisan “Membaca Kulit Luar Kitab Para MalaikatNurel Javissyarqi” bahwa sama dengan menelusuri kehidupan batin (dan juga mistis) masyarakat Jawa. Dengan demikian, kita dapat melihat simbol petani, sebagai golongan masyarakat pertama yang sering disebut dengan “abangan”. Petani (adalah) sebagai abangan yang menjalankan laku hidup Islam Kejawen (Koentjaraningrat dalam Magnis-Suseno SJ, 1985: 13).
Islam Kejawen (sebut juga Agami Jawi) sebagai agama dan juga pandangan hidup masyarakat petani, yang merupakan golongan masyarakat tradisional. Petani sebagai masyarakat tradisional karena kepercayaan dan perjalanan batin (spiritual) masyarakat Jawa telah berkombinasi antara kepercayaan masyarakat, Hindu-Budha, dan Islam yang sudah dijawakan. Hal ini sudah menjadi ciri khas kebudayaan Jawa yang cenderung menyaring kebudayaan luar untuk dijawakan (Magnis-Suseno SJ, 1985: 1).
Petani, hadir sebagai pandangan hidup masyarakat Jawa yang mempercayai buah dari perilaku (perbuatan). Misalnya, apabila kita berbuat kebaikan, maka kita pun akan memanen kebaikan. Keadaan ini sering muncul dalam ungkapan masyarakat Jawa yang saya kutip bebas, “Ngunduh wohing pakarti” yang dapat dimungkinkan sebagai hasil serapan dari kebudayaan Hindu-Budha mengenai hukum karma.
Prinsip kebijaksanaan petani yang dihadirkan NJ dalam Surat Muqaddimah, mengarahkan individu pada refleksi diri, seperti ungkapan dalam Dhammapada V (Narada, 1996: 93) di bawah ini:
“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang dicemari,
oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang disucikan.
Baik kekotoran maupun kesucian bergantung pada diri sendiri.
Tak ada seorang pun yang disucikan oleh orang lain.”
Kegiatan bercocok tanam (petani) mengetengahkan pandangan hidup yang sederhana namun mampu menghindarkan manusia dari penderitaan. Pandangan hidup tersebut, mungkin dijawakan oleh masyarakat Jawa dari ajaran Samyutta Nikaya (Narada, 1996: 87) yang mengungkapkan bahwa, “Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”.
Pandangan hidup yang mengedepankan nilai (serapan dari) dunia petani juga mendapatkan pengaruh (katakan juga sebagai penegasan) dari ajaran Islam yang sudah termodifikasi di Persia dan India. Tabur-tuai, begitu garis besar pandangan hidup ini, banyak terdapat dalam khasanah Islam. Untuk mendukung gagasan ini, saya mencoba mengambil contoh, sabda Nabi SAW (Al-Qasimi, 2010: 342) yang mengungkapkan nilai timbal balik, yaitu “Sesungguhnya orang yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Sabda Nabi SAW ini menyiratkan arti pentingnya peran individu dalam merasakan akibat. Harus ada sebab untuk mencapai akibat, dan sebab ditentukan oleh diri sendiri sebagai subjek utama. Firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 11, yang menyatakan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak mau merubah nasibnya” merupakan penegasan utama dalam gagasan ini.
Sepintas, melihat nilai universal yang tertuang dalam simbol ini memberikan pengalaman pada penulis, bahwa hukum petani memiliki keuniversalan nilai kebijaksanaan untuk manusia dalam menjalani hidup. Hakekat hidup dari masyarakat Jawa, yang dituangkan NJ menawarkan kearifan mencerahkan. Mendewasakan jiwa karena mampu menjadi makanan hati bagi individu yang memahami. Surat Muqaddimah menumbuhkan pengertian yang menuntun pembaca pada klimaks, khatarsis dipenuhi dengan baik. Demikian, pembaca dapat meraih “Hadiahkan bulir-bulir jagung dari keranjang emasmu … [XV]”.
Ayat selanjutnya memberikan gambaran dalam nuansa baru. Ini, yang mungkin menurut Marhalim Zaeni (Javissyarqi, 2006: 473) yang disebut sebagai “… lompatan-lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling, ada jerit dari jerih kata yang diperas berulang-ulang, ada laut yang saling berbalik arah debur ombaknya.” Sebelum menyempatkan diri menjajaki ayat selanjutnya, saya ingin mengetengahkan lompatan-lompatan pikiran itu. NJ, awalnya memasang padi dan petani, namun, makna petani pun disusupi dengan jagung yang menggandeng kalimah pengembaraan.
Kita bisa melihat pada ayat XVI surat Muqaddimah berikut:
Membasuh kaki-kaki kembara ke makam para wali,
Ada teratai bermekaran dalam bentangan waktu petang hari,
Malamnya purnama siangnya menutup kelopak-kelopak penuh rahasia [XVI]
Melalui ayat ini, adanya penegasan akan pengembaraan dari tanah suci ke tanah suci lainnya. Perjalanan yang pada akhirnya membawa pada penemuan akan keindahan. Manifestasi keindahan yang dihadirkan oleh pengalaman masa lalu dari para Wali yang saat ini telah menjadi pepunden. Pemujaan dan cinta kasih akan ajaran manusia bijak. Di langkah pengembaraan mengunjungi orang-orang mati, NJ menemukan makna tersendiri. Pun, di sana, pada wilayah yang sering dianggap sebagai akhir dari kehidupan, NJ menghisap aroma kesucian makna atas kehidupan itu sendiri yang hadir bersamaan dengan kesempurnaan cahaya (akhir).
Ayat XVI surat Muqaddimah menyuguhi kita dengan simbolisasi dari bunga Teratai yang dapat dimaknakan sebagai kesucian jalan (dan maupun tujuan). Teratai yang berpadu dengan purnama, bulan di tanggal 15 dalam penanggalan Jawa (malam) yang dapat dimaknai sebagai kesempurnaan. Teratai dan rembulan dalam perjalanan ziarah, sebagai simbolisasi pembukaan akan rahasia. Nur ilahi, yang entah berupa wangsit (baca: bisikan) yang hanya akan di dapat di waktu malam.
Perjalanan malam di mana di dalam suatu riwayat yang tersebar dari mulut ke mulut, di katakan sebagai jalan dalam mencapai derajat tinggi di dunia dan alam selanjutnya. Masyarakat Jawa, mengenal istilah tirakat, yang disinggung dalam ayat V surat Muqaddimah, yaitu sebagai jalan tapa brata untuk mengurangi tidur demi mendapatkan wahyu. Hal ini biasanya dilakukan di malam hari, dimana, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, malam hari sebagai waktu yang heneng (diam) yang dipenuhi dengan wening (kejernihan). Di saat seperti ini juga, menjadi waktu bagi para Malaikat (Ruhaniyyuun) untuk turun ke bumi dalam rangka mencatat manusia yang mencintai Keluhuran (Hidup atau Urip), dan menebar pengetahuan (wahyu atau pertanda) serta rahmat.
Apabila kita membandingkan dalam pemikiran sejarah ajaran Islam, malam hari juga menjadi malam yang sakral untuk beribadah. Ajaran Islam mengetengahkan ibadah di malam hari yang sering disebut dengan Qiyamullail yang di dalamnya terdapat berbagai manfaat. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjalankan Qiyamullail yang ada dalam Surat Al-Furqan ayat 64, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”. Pun, kita bisa melihat bagaimana Allah SWT memperjalankan Nabi SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha waktu malam hari.
Perjalanan malam yang dapat juga disebut dengan tirakat adalah perjalanan beribadah. Perjalanan ini tentu saja berbeda dengan perjalanan kencan semalaman atau perjalanan rombongan anak muda dalam arakan motor panjang yang sok-Mbois. Perjalanan, yang lebih pada penyelaman ke dalam diri demi mencapai pemahaman dan pengertian akan hakikat kehidupan. Kegiatan merasuki diri sendiri ini dapat dipastikan adanya kehendak sebagai dasar dari laku atas pelaksanaan dari doa, cinta, dan juga sembahyang.
Jarak yang ada di antara diri (individu) dengan pemahaman hakekat kerahasiaan yang tersembunyi dan biasanya terungkap di malam hari. Melakukan perjalanan ini akan membuahkan buah nikmat dari prihatin (menjalani kesusahan), harus ditempuhi bersama yakin dan ketulusan dalam kesabaran yang penuh. Hingga, sang NJ pun menulis demikian:
Memindahkan rasa sakitmu dari tangan alam ke titian waktu,
serpihan cahaya langit membatu granit, serupa butiran garam
dihempaskan ombak ke bunga karang berulang-ulang [XVII]
Niat yang sudah diungkapkan dalam ayat V surat Muqaddimah ini membuat seorang pejalan harus rela untuk tidak menghiraukan sakit saat terpaksa berhadapan dengan diri sendiri. Masa bertirakat (dalam ayat V) yang (mungkin) adalah perjalanan panjang membuatnya tertatih sendirian. Si pejalan ini hanya memiliki pengetahuan sebagai bekal yang dimunculkan dalam simbol serpihan cahaya langit dan butiran garam, pun berpapasan dengan gelombang. NJ (sang pejalan) di sini, mungkin saja sadar diri kalau dirinya manusia biasa, hawa nafsu dan rasa cinta pada dunia menjelma menjadi ombak dan bunga karang yang hampir saja (mungkin sudah) mengalahkan dirinya.
Hal musabab yang perlu ditilik lebih dalam adalah nuansa batin yang ada di sana. Pejalan (manusia) yang bertekat bulat sampai menemukan sucinya kesempurnaan, masih terpeleset di getir hawa nafsu sendiri. Lalu, bagaimana NJ menulis panjang lebar kalau, toh, dirinya sendiri berjatuhan di sana, setelah ilmu semasa pengembaraan dikalahkan (dihancurkan) sendiri? Ini bisa saja menjadi nasehat untuk kita (dan tentu saja untuk NJ sendiri) bahwa di dalam diri manusia ada musuh (serta kawan) yang perlu dicurigai.
Melepaskan halaman pertama dicerna pikiran, saya memberanikan diri untuk membuka lembaran setelahnya. Di sini, terjadi lompatan pemikiran kembali. NJ meresapkan simbil dan menghiaskan bunga Wijayakusuma pada bangunan struktur maknanya. Perjalanan yang menurut saya, jauh merasuk ke dalam sendi-sendi kebatinan masyarakat Jawa. Bagaimana NJ memandang bunga Wijayakusuma ini, yang dalam penciuman sepintas sebagai syarat seorang Ratu Adil. Pun, NJ menghadirkan sosok Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu manusia se-Jawa.
Nurel Javissyarqi membingkaikan mimpi tua atas hijrahnya masyarakat yang penuh dengan kekacauan dan penderitaan dalam masa pageblug, dilangkahkan ke titian menuju ke tatanan yang diidamkan. Hidup manusia yang dipenuhi berkah dalam situasi yang selamat dan sejahtera. NJ, memberikan hubungan yang cukup jelas antara bunga Wijayakusuma dengan kehadiran Ratu Adil dalam ayat XVIII surat Muqaddimah. Akhirnya, saya mengheneng dan mengheningkan pikiran untuk sejenak. Membayangkan mimpi kami (manusia Jawa) menyoal kedatangan Ratu Adil. Dia (Ratu Adil) sosok pemimpim yang mendapatkan petunjuk Allah dalam kerja pemerintahannya untuk membawa seluruh manusia dalam kesejahteraan, yang seperti diramalkan Raja Jayabaya dari Kediri (Yoedoprawiro, 2000: 57-58).
Ratu Adil, sebagai mimpi kolektif masyarakat Jawa, oleh NJ dikatakan bahwa kedatangannya dibarengi dengan bunga Wijayakusuma yang merekah. Saya terhenyak, keluar rumah dan mencari bunga Wijayakusuma itu, mengamati daunnya namun saya tidak mendapatkan pengertian akan Ratu Adil. Wijayakusuma sebagai syarat penobatan yang akhirnya dapat direngkuh sebagai pemahaman atas tingkatan kemampuan seseorang dalam menjadir raja. Tingkatan ini bisa disebut sebagai kriteria akan kemampuan yang harus dipenuhi.
Ayat XVIII dalam Muqaddimah ini memiliki hubungan dengan sejarah keyakinan masyarakat Jawa. Apabila sosok Ratu Adil adalah seorang penguasa Tanah Jawa, maka bunga Wijayakusuma adalah sosok pribadi dan laku dari penguasa tersebut. Hal ini dapat kita lihat lebih jauh di dalam Serat Centini yang menceritakan bagaimana Raja Kresna melabuh Wijayakusuma untuk menjadi bekal bagi seorang penguasa (Ranggasutrasna dkk, 1992: 11-12).
Manfaat Wijayakusuma ini masih tersembunyi di dalam KPM. Mungkin, NJ ingin menjadikan setiap pembaca KPM sebagai pengelana sebagaimana sosok NJ sendiri. Dalam ayat XX, tabir misteri itu sedikit dibuka dalam nuansa tersendiri, sebagai berikut:
Dasarnya sakit ada tombonya, sejengkal air bengawan mengaliri mata kaki,
menikmati tapakan melangkahi bencah membaca peta pesisir,
menjelma tarian pulang berjejak makna peristiwa sejarah [XX]
Suka atau tidak, NJ benar-benar memaksa kita untuk menjadi pengelana. Lewat lompatan pikiran yang sungguh mengagetkan ini, NJ merasuki jiwa yang tadinya diam untuk bergejolak dan mengikuti rasa hati. Di ayat XX surat Muqaddimah ini, kita musti kembali pada Wijayakusuma. Mengurai putihnya kelopak, daun serta batang yang menjulur. Lalu, apa yang sebenarnya akan kita cari untuk memahami ayat XX surat Muqaddimah ini? Menurut hemat saya, NJ membangun struktur tanda yang bertujuan untuk mengingatkan kita agar tidak melupakan jati diri, atas asal-muasal tanah kelahiran (Hidup). Di setiap tanah yang menjadi tempat tertumpahnya darah, ada jalan lain yang dapat membawa kita pada kesempurnaan.
Lalu, kenapa saya masih saja menyarankan agar terus mencermati Wijayakusuma sampai ke dalam? Cerita masa lalu (sejarah dan bisa saja dongeng) yang bersemayam di tanah ini, maksud saya adalah Jawa, dapat dijadikan sebagai uraian akan jawaban. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana NJ menghadirkan semangat dan mimpi akan Ratu Adil yang diramalkan Jayabaya. Kita juga mendapati semangat untuk membacai lembaran kitab lama demi meraih syarat pemahaman akan bagaimana sebenarnya hakekat seorang raja. Wijayakusuma untuk mengobati luka hati yang merebak (Ranggasutrasna dkk, 1992: 12), air bengawan sebagai laku pengetahuan kalau sungai menuju pada muara laut yang lapang menerima segala tanpa membedakan dan mencaci. Tarian pulang menjabarkan mengenai ajakn untuk mencermati hati sendiri, dan kemudian sejarah membawa kita pada pengolahan rasa akan asal-muasal kehidupan. Sejarah yang dalam ayat XX surat Muqaddimah KPM lebih menjorokkan pengertian pada hakekat kehidupan manusia, seperti dalam pandangan hidup masyarakat Jawa mengenai: “Sangkan paraning dumadi.”
Menilik sejarah sangkan paraning dumadi yang dapat diuraikan sebagai dasar atas perjalanan batin manusia dalam usaha memahami asal kehidupan itu sendiri. Konsep ini, menurut Maqnis-Suseno (1985: 117), sebagai inti dari spekulasi kegiatan mistik masyakat Jawa (Agama Jawi), yang mana memiliki tujuan untuk mencapai kesatuan antara mati di dalam hidup dan hidup di dalam mati. Menjalani laku dalam usaha memahami sangkan paraning dumadi, berarti melakukan perjalanan batin tingkatan spiritual yang paling tinggi. Keadaan ini, yang oleh NJ, dituang dalam ayat XXI surat Muqaddimah di bawah ini:
Mengagungkan rahmatNya sejauh menimba sumur terdalam,
jikalau bersemedi di dalam gua nurani [XXI]
Menjalani laku untuk mencapai sangkan paraning dumadi akan mengajak manusia mencapai pemahaman akan hidup, dimana terjadinya penyatuan yang materi dan yang batin. Dalam konteks ini, seringkali disebut sebagai proses penyatuan antara Tuhan dan hamba. Memahami untuk mengerti (ngerti dalam bahasa Jawa) karena sebagian manusia Jawa menyatakan kalau sebenarnya Tuhan tidak dijumpai di Mekah, melainkan dalam batin sendiri (Mulder, 1984: 24). Usaha yang perlu dilakukan untuk mencapai kemanunggalan ini, seperti kata Mulder di atas bahwa, Tuhan ada di dalam hati, maka manusia (Jawa) harus memahami keberadaan diri sendiri. Pencapaian ini terlebih dahulu perlu memahami nilai dari sangkan paraning dumadi, sebagai pengetahuan mengenai manusia (Beatty, 2001: 268).
Tujuan ini, jelas menuntut untuk menjalankan etika kebatinan, yang oleh Mulder (1984: 39), disebutkan sebagai “Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Memayu hayuning bawana.” Ayat XXI surat Muqaddimah juga mengandung unsur ini. Benar-benar membentangkan aspek pemaknaan atas simbolisme yang NJ bangun bersamaan dengan aura jalan kebatinan Jawa. Tentu saja, ini sebagai hasil yang bukan karena faktor kebetulan, melainkan tumpukan dari kerja keras yang terarah karena laku yang dijalankan.
Tapak perjalanan batin masyarakat Jawa yang (sepertinya) telah dilalui NJ membawa pada penyaksian yang termaktub dalam ayat XXII surat Muqaddimah. Atas penyaksian itu, NJ memberikan pemastian dengan ayat XXIII dan XXIV surat Muqaddimah. Sampai pada ayat XIV surat Muqaddimah ini, NJ menjabarkan pada kita mengenai ruang batin yang selama ini mendarah daging dalam kehidupan (masyarakat Jawa).
Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat, mungkin saja sebagai gambaran keseluruhan atas Kitab Para Malaikat yang terdiri dari 20 Surat (judul). Perempuan, seperti dalam surat Membongkar Raga Padmi juga dibahas di sini. Penjelmaan sosok pendamping kaum Adam yang sungguh kharismatis, sekaligus misterius akan memancing setiap kita untuk bertanya. Atau mencari tahu sendiri tentang peran perempuan dalam “Hikayat di bawah sadar penciptaan [XXVI]” maupun sesuatu “yang mengalir di bawah hati senantiasa berabadi [XXVII]”. Kemisteriusan dalam bingkai penuh pesona itu yang mungkin saja mendorong NJ untuk berkelana (kalau tidak boleh dikatakan berburu) medan keperempuanan.
Sejauh apa pun kita mencoba menyisik babak akhir dari surat Muqaddimah ini, melulu kita akan menemukan aroma cinta. Aroma yang entah untuk diri sendiri, Nabi, Katuhanan, atau pada jalan hidup itu sendiri. Cinta hadir dalam berbagai macam produk, kalau dimisalkan meja makan, di sana akan kita temui nasi cinta, es cinta, air minus cinta, sayur cinta dan sederet yang lain dalam aneka produk dan rasa.
Lalu bagaimana cinta di dalam KPM dan kehidupan itu tersuguh untuk kita? Pun, NJ telah menjawabnya, seperti yang dia tuliskan di ayat terakhir: Ragamu menghantui, tekatmu berjembatan, ia di sisihmu disetiap engkau rebah [XXXIX].
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 22 Desember 2010.
http://sastra-indonesia.com/
“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad
ruh bersaksi sederaian gerimis menghantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga [I]” (KPM, 2007: 1)
Begitu, Nurel Javissyarqi (NJ) mengawali karyanya yang berjudul Kitap Para Malaikat (KPM) dengan muqaddimah. Butiran puitik yang dibingkaikan sosok NJ melalui KPM-nya ini digerbangi shalawat atas Nabi, Muhammad SAW. Melantun, sebagai pembuka dari catatan panjang yang sungguh tidak bisa dianggap remeh. Seolah sudah mendapatkan deretan wangsit (baca juga dengan: kesaksian), NJ menembangkan shalawat untuk mengabari kita kalau Para Malaikat yang ditemui tidak hanya mentasbihkan keagungan Allah Ta’ala, melainkan juga berderet dalam rangka merajut doa untuk pengagungan Nabi SAW.
Membaca Kitab Para Malaikat
Mencermati sebait di awal ini, saya pun kemudian undur diri untuk mengheningkan diri sejenak. Menyusupi dan ikut bershalawat dalam hening sambil menimbang bobot kata pembuka dalam ayat I surat muqaddimah ini. Pasti, pikir saya dalam prasangka baik, sang NJ mengumpulkan sekarung nilai dalam shalawat yang tentu saja dapat dipergunakan sebagai bahan untuk menterjemahkan keakuratan usaha dalam rangka mengumpulkan berkah cahaya Ruhaniyyuun. NJ menapak tilas di perjalanan umurnya untuk mendaki dan bersusah sungguh demi mengungguli kemerlap dari makhluk-makhluk yang disucikan (KPM, 2007: 1).
Berhantar bait (baca: ayat) pertama dalam judul (baca: surat) Muqaddimah; Waktu di Sayap Malaikat, pun di sini NJ menitipkan doa keselamatan untuk seorang utusan, Nabi Besar Muhammad, penutup para Nabi Allah. “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad” NJ memulai mengungkapkan rasa yang dikristalkan dari dalam dada.
Penempatan sebaris doa ini, dimungkinkan saja, bahwa NJ bermaksud menebarkan keselamatan di muka bumi bersamaan dengan proses pembacaan KPM oleh masyarakat. Seperti yang pernah diungkapkan NJ sendiri pada hari Jum’at tanggal 23 Juli 2010 di Padepokan Selo Aji, Trowulan, Mojokerto, yang menyatakan bahwa, “KPM ini apabila cukup disimpan di rumah, niscaya rumah itu dapat terhindarkan dari marabahaya”. Pengakuan ini memberikan saya sekelumit bekal, adanya bait (baca: ayat) pertama di Muqaddimah KPM yang mengisyaratkan akan keselamatan dan sekaligus cinta, yang mendatangkan keselamatan tersebut, dari NJ pada keagungan Nabi Muhammad SAW. Khasanah cinta yang dibawa NJ, pun menjadi dorongan utama dalam panjangnya perjalanan. Masa ini membawa NJ berpapasan dengan simbol spiritual (maupun mistis) yang pada perkembangan selanjutnya menjadi pengalaman religi. Cinta, tertuang dalam estetika religius yang kental. Aspek ini membentuk KPM dengan sedemikian rupa sebagai sarana pemujaan atas cinta keilahian.
Akiya Yutaka (melalui Abdul Hadi W.M., 2004: 5) mengatakan bahwa doa dan cinta serta sembahyang memiliki peran yang sangat penting dalam proses penciptaan puisi. Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat memuat tiga aspek tersebut. Shalawat Nabi atas makro-kosmos. Sebait, yang sudah mengandungi doa, cinta serta sembahyang, seperti yang diungkapkan Akiya Yutaka di atas. Mendoakan karena mencintai, dan rasa cinta yang hadir menuntun pada sembahyang (sembah-Hyang). Akantetapi, dari tiga aspek maknawi proses penciptaan KPM, lebih didasari oleh aspek cinta. Rasa cinta, memiliki timbangan yang lebih berat daripada dua unsur yang lain.
Cinta (mahabbah) dapat diungkapkan sebagai nilai hidup yang merupakan santapan hati, makanan ruh dan juga kesenangan (Al-Jauziyah, 1998: 421). Melalui cinta ini, NJ menghidupkan jalan renungan untuk mensketsa warna jiwa cinta para Malaikat. Sampai pada noktah perjalanan tertentu, rasa cinta itu menjadi ruh pelita perjalanan jiwa yang bersaksi kemudian mengendap.
Rasa cinta menuntun pada laku perjalanan panjang yang secara tidak langsung menjadi laku dalam membuat gudang pengalaman. Perjalanan mistis (atau mungkin juga spiritual) yang menghenyak di dalam sanubari. Diawali dalam sesenggukan meresapi cinta yang menumbuh dalam batiniah yang dengan puisinya ini, NJ menasehati dirinya sendiri dan (tentu saja) para pembaca:
Maka jangan menghitung masa bertirakat,
hisaplah kutub keberadaan kekuatannya [V]
menempuh jalan pemahaman untuk sesuatu yang terus dicintai, terus disugestikan akan adanya keharusan akan kehendak sehingga menjadi tabu kalau sampai menghitung pengorbanan yang telah dipersembahkan. Cinta tidak memiliki rumus hitungan, tentang seberapa banyak yang akan didapat dengan seberapa banyak yang akan diberikan. Sebab itu, cinta jauh dari untung dan rugi. Di sana tidak ada hukum-hukum ciptaan manusia seperti ekonominya Smit atau matematika yang memiliki dasar hitungan. Rasa cinta adalah senyawa ilahiah, yang ketika mengatakan cinta musti dibarengi dengan perjalanan pemahaman sebagai nyawa persembahan seperti dalam ayat IV surat Muqaddimah.
Ikhlasnya dalam pengorbanan, melepaskan segala kepentingan yang mengunsurkan talian erat pada dunia. Dia hanya rasa untuk mencintai, yang entah dalam kadar memberi atau kadar menerima. Panjangnya dan beratnya perjalanan cinta akan membawa kekuatan serta maknanya sendiri, membuat setiap kita mendaki keluhuran jiwa yang melewati kedudukan Malaikat (Ruhaniyyuun).
Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat memiliki bangunan struktur makwani yang indah. Membawa audiens untuk berusaha keras menilik ke dalam diri. Melepaskan ego kebenaran sendiri untuk terus menerus berjalan di jalan rasa sebagai jalan hidup. Jadi, seperti dalam pandangan hidup masyarakat Jawa, manusia saat ingin mencapai pengalaman puncak religius beserta keluhuran tidak perlu keluar dari diri sendiri (Beatty, 2001: 224). Pengetahuan tentang diri, biasanya didorong kehendak dari cinta yang menghasilkan kerendahan diri. Hal ini cukup tersembunyi. Entah sengaja disembunyikan oleh NJ atau secara tidak sengaja termaktub di dasarnya tanpa pengetahuan si empu KPM, Nurel Javissyarqi.
Sebagaimana ilham dari para Malaikat (Ruhaniyyun), pengetahuan ini dibungkus dalam ayat VIV yang secara gamblang membawa pada hukum tua:
Tubuh letih mata senja setajam pandangan arif menakar peristiwa,
segenggam benih pada, senyum taburan suci para petani [XIV]
Baris pertama di ayat tersebut, menghadirkan nuansa “senja” serta “tubuh letih” yang berisyarat telah dilaluinya tapak laku yang panjang. Waktu yang tidak singkat dalam pengembaraan, dari muda ke masa tua. Simbolisme yang dibangun mengklaim soal kearifan yang dimiliki orang tua. Nah, orang tua di sini pun akhirnya membawa pada dua pengertian baru. Orang yang sudah berumur tua yang sudah makan banyak garam dunia, atau orang tua yang dikurung tanda kutip. Dua kriteria ini memiliki esensi yang sungguh berbeda jauh. Kalau orang tua karena tingkatan umur, membutuhkan adanya proses yang kedatangannya dapat ditunggu. Lain halnya dengan orang tua dikurung tanda kutip, dia bisa saja anak muda namun dengan usaha keras menjalani ritme pengetahuan yang dibutuhkan. Orang tua belum tentu menjadi orang tua (Wong Tua) dan yang muda tidak menutup kemungkinan mencapai taraf Wong Tua tersebut.
Keterkaitan struktur simbol antara tubuh letih dan (mata) senja) yang menuju pada kebijaksanaan dapat ditemukan dalam ayat “walaupun air laut berselimutkan kain sutra angkasa jiwa [XI]” oleh NJ, disimbolkan kembali dalam irama “segenggam benih pada [XIV]”. Tanaman satu ini tumbuh di lingkup masyarakat Jawa yang mengandung unsur kehidupan yang tinggi. Padi, kalau berisi dia akan menunduk, rendah diri, lain halnya apabila gabug, tidak berisi, batangnya akan tegak berdiri menantang langit.
NJ mungkin saja terlupa, kalau tidak setiap (mata) senja atau umur yang tua membuahkan kebijaksanaan. Akantetapi, NJ langsung menisbatkan nilai akan “tua” ini pada kaum petani. Golongan masyarakat yang terus berkurang peminatnya (ketimbang menjadi PNS), menjadi figur bagi manusia bijaksana. Mungkin, hal ini dipahami dari konsep laku hidup para petani itu sendiri. Membicarakan KPM, seperti yang sudah saya ungkapkan dalam tulisan “Membaca Kulit Luar Kitab Para MalaikatNurel Javissyarqi” bahwa sama dengan menelusuri kehidupan batin (dan juga mistis) masyarakat Jawa. Dengan demikian, kita dapat melihat simbol petani, sebagai golongan masyarakat pertama yang sering disebut dengan “abangan”. Petani (adalah) sebagai abangan yang menjalankan laku hidup Islam Kejawen (Koentjaraningrat dalam Magnis-Suseno SJ, 1985: 13).
Islam Kejawen (sebut juga Agami Jawi) sebagai agama dan juga pandangan hidup masyarakat petani, yang merupakan golongan masyarakat tradisional. Petani sebagai masyarakat tradisional karena kepercayaan dan perjalanan batin (spiritual) masyarakat Jawa telah berkombinasi antara kepercayaan masyarakat, Hindu-Budha, dan Islam yang sudah dijawakan. Hal ini sudah menjadi ciri khas kebudayaan Jawa yang cenderung menyaring kebudayaan luar untuk dijawakan (Magnis-Suseno SJ, 1985: 1).
Petani, hadir sebagai pandangan hidup masyarakat Jawa yang mempercayai buah dari perilaku (perbuatan). Misalnya, apabila kita berbuat kebaikan, maka kita pun akan memanen kebaikan. Keadaan ini sering muncul dalam ungkapan masyarakat Jawa yang saya kutip bebas, “Ngunduh wohing pakarti” yang dapat dimungkinkan sebagai hasil serapan dari kebudayaan Hindu-Budha mengenai hukum karma.
Prinsip kebijaksanaan petani yang dihadirkan NJ dalam Surat Muqaddimah, mengarahkan individu pada refleksi diri, seperti ungkapan dalam Dhammapada V (Narada, 1996: 93) di bawah ini:
“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang dicemari,
oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang disucikan.
Baik kekotoran maupun kesucian bergantung pada diri sendiri.
Tak ada seorang pun yang disucikan oleh orang lain.”
Kegiatan bercocok tanam (petani) mengetengahkan pandangan hidup yang sederhana namun mampu menghindarkan manusia dari penderitaan. Pandangan hidup tersebut, mungkin dijawakan oleh masyarakat Jawa dari ajaran Samyutta Nikaya (Narada, 1996: 87) yang mengungkapkan bahwa, “Sebagai benih yang kau tabur demikian pula akan kau petik buahnya”.
Pandangan hidup yang mengedepankan nilai (serapan dari) dunia petani juga mendapatkan pengaruh (katakan juga sebagai penegasan) dari ajaran Islam yang sudah termodifikasi di Persia dan India. Tabur-tuai, begitu garis besar pandangan hidup ini, banyak terdapat dalam khasanah Islam. Untuk mendukung gagasan ini, saya mencoba mengambil contoh, sabda Nabi SAW (Al-Qasimi, 2010: 342) yang mengungkapkan nilai timbal balik, yaitu “Sesungguhnya orang yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Sabda Nabi SAW ini menyiratkan arti pentingnya peran individu dalam merasakan akibat. Harus ada sebab untuk mencapai akibat, dan sebab ditentukan oleh diri sendiri sebagai subjek utama. Firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 11, yang menyatakan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak mau merubah nasibnya” merupakan penegasan utama dalam gagasan ini.
Sepintas, melihat nilai universal yang tertuang dalam simbol ini memberikan pengalaman pada penulis, bahwa hukum petani memiliki keuniversalan nilai kebijaksanaan untuk manusia dalam menjalani hidup. Hakekat hidup dari masyarakat Jawa, yang dituangkan NJ menawarkan kearifan mencerahkan. Mendewasakan jiwa karena mampu menjadi makanan hati bagi individu yang memahami. Surat Muqaddimah menumbuhkan pengertian yang menuntun pembaca pada klimaks, khatarsis dipenuhi dengan baik. Demikian, pembaca dapat meraih “Hadiahkan bulir-bulir jagung dari keranjang emasmu … [XV]”.
Ayat selanjutnya memberikan gambaran dalam nuansa baru. Ini, yang mungkin menurut Marhalim Zaeni (Javissyarqi, 2006: 473) yang disebut sebagai “… lompatan-lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling, ada jerit dari jerih kata yang diperas berulang-ulang, ada laut yang saling berbalik arah debur ombaknya.” Sebelum menyempatkan diri menjajaki ayat selanjutnya, saya ingin mengetengahkan lompatan-lompatan pikiran itu. NJ, awalnya memasang padi dan petani, namun, makna petani pun disusupi dengan jagung yang menggandeng kalimah pengembaraan.
Kita bisa melihat pada ayat XVI surat Muqaddimah berikut:
Membasuh kaki-kaki kembara ke makam para wali,
Ada teratai bermekaran dalam bentangan waktu petang hari,
Malamnya purnama siangnya menutup kelopak-kelopak penuh rahasia [XVI]
Melalui ayat ini, adanya penegasan akan pengembaraan dari tanah suci ke tanah suci lainnya. Perjalanan yang pada akhirnya membawa pada penemuan akan keindahan. Manifestasi keindahan yang dihadirkan oleh pengalaman masa lalu dari para Wali yang saat ini telah menjadi pepunden. Pemujaan dan cinta kasih akan ajaran manusia bijak. Di langkah pengembaraan mengunjungi orang-orang mati, NJ menemukan makna tersendiri. Pun, di sana, pada wilayah yang sering dianggap sebagai akhir dari kehidupan, NJ menghisap aroma kesucian makna atas kehidupan itu sendiri yang hadir bersamaan dengan kesempurnaan cahaya (akhir).
Ayat XVI surat Muqaddimah menyuguhi kita dengan simbolisasi dari bunga Teratai yang dapat dimaknakan sebagai kesucian jalan (dan maupun tujuan). Teratai yang berpadu dengan purnama, bulan di tanggal 15 dalam penanggalan Jawa (malam) yang dapat dimaknai sebagai kesempurnaan. Teratai dan rembulan dalam perjalanan ziarah, sebagai simbolisasi pembukaan akan rahasia. Nur ilahi, yang entah berupa wangsit (baca: bisikan) yang hanya akan di dapat di waktu malam.
Perjalanan malam di mana di dalam suatu riwayat yang tersebar dari mulut ke mulut, di katakan sebagai jalan dalam mencapai derajat tinggi di dunia dan alam selanjutnya. Masyarakat Jawa, mengenal istilah tirakat, yang disinggung dalam ayat V surat Muqaddimah, yaitu sebagai jalan tapa brata untuk mengurangi tidur demi mendapatkan wahyu. Hal ini biasanya dilakukan di malam hari, dimana, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, malam hari sebagai waktu yang heneng (diam) yang dipenuhi dengan wening (kejernihan). Di saat seperti ini juga, menjadi waktu bagi para Malaikat (Ruhaniyyuun) untuk turun ke bumi dalam rangka mencatat manusia yang mencintai Keluhuran (Hidup atau Urip), dan menebar pengetahuan (wahyu atau pertanda) serta rahmat.
Apabila kita membandingkan dalam pemikiran sejarah ajaran Islam, malam hari juga menjadi malam yang sakral untuk beribadah. Ajaran Islam mengetengahkan ibadah di malam hari yang sering disebut dengan Qiyamullail yang di dalamnya terdapat berbagai manfaat. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjalankan Qiyamullail yang ada dalam Surat Al-Furqan ayat 64, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”. Pun, kita bisa melihat bagaimana Allah SWT memperjalankan Nabi SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha waktu malam hari.
Perjalanan malam yang dapat juga disebut dengan tirakat adalah perjalanan beribadah. Perjalanan ini tentu saja berbeda dengan perjalanan kencan semalaman atau perjalanan rombongan anak muda dalam arakan motor panjang yang sok-Mbois. Perjalanan, yang lebih pada penyelaman ke dalam diri demi mencapai pemahaman dan pengertian akan hakikat kehidupan. Kegiatan merasuki diri sendiri ini dapat dipastikan adanya kehendak sebagai dasar dari laku atas pelaksanaan dari doa, cinta, dan juga sembahyang.
Jarak yang ada di antara diri (individu) dengan pemahaman hakekat kerahasiaan yang tersembunyi dan biasanya terungkap di malam hari. Melakukan perjalanan ini akan membuahkan buah nikmat dari prihatin (menjalani kesusahan), harus ditempuhi bersama yakin dan ketulusan dalam kesabaran yang penuh. Hingga, sang NJ pun menulis demikian:
Memindahkan rasa sakitmu dari tangan alam ke titian waktu,
serpihan cahaya langit membatu granit, serupa butiran garam
dihempaskan ombak ke bunga karang berulang-ulang [XVII]
Niat yang sudah diungkapkan dalam ayat V surat Muqaddimah ini membuat seorang pejalan harus rela untuk tidak menghiraukan sakit saat terpaksa berhadapan dengan diri sendiri. Masa bertirakat (dalam ayat V) yang (mungkin) adalah perjalanan panjang membuatnya tertatih sendirian. Si pejalan ini hanya memiliki pengetahuan sebagai bekal yang dimunculkan dalam simbol serpihan cahaya langit dan butiran garam, pun berpapasan dengan gelombang. NJ (sang pejalan) di sini, mungkin saja sadar diri kalau dirinya manusia biasa, hawa nafsu dan rasa cinta pada dunia menjelma menjadi ombak dan bunga karang yang hampir saja (mungkin sudah) mengalahkan dirinya.
Hal musabab yang perlu ditilik lebih dalam adalah nuansa batin yang ada di sana. Pejalan (manusia) yang bertekat bulat sampai menemukan sucinya kesempurnaan, masih terpeleset di getir hawa nafsu sendiri. Lalu, bagaimana NJ menulis panjang lebar kalau, toh, dirinya sendiri berjatuhan di sana, setelah ilmu semasa pengembaraan dikalahkan (dihancurkan) sendiri? Ini bisa saja menjadi nasehat untuk kita (dan tentu saja untuk NJ sendiri) bahwa di dalam diri manusia ada musuh (serta kawan) yang perlu dicurigai.
Melepaskan halaman pertama dicerna pikiran, saya memberanikan diri untuk membuka lembaran setelahnya. Di sini, terjadi lompatan pemikiran kembali. NJ meresapkan simbil dan menghiaskan bunga Wijayakusuma pada bangunan struktur maknanya. Perjalanan yang menurut saya, jauh merasuk ke dalam sendi-sendi kebatinan masyarakat Jawa. Bagaimana NJ memandang bunga Wijayakusuma ini, yang dalam penciuman sepintas sebagai syarat seorang Ratu Adil. Pun, NJ menghadirkan sosok Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu manusia se-Jawa.
Nurel Javissyarqi membingkaikan mimpi tua atas hijrahnya masyarakat yang penuh dengan kekacauan dan penderitaan dalam masa pageblug, dilangkahkan ke titian menuju ke tatanan yang diidamkan. Hidup manusia yang dipenuhi berkah dalam situasi yang selamat dan sejahtera. NJ, memberikan hubungan yang cukup jelas antara bunga Wijayakusuma dengan kehadiran Ratu Adil dalam ayat XVIII surat Muqaddimah. Akhirnya, saya mengheneng dan mengheningkan pikiran untuk sejenak. Membayangkan mimpi kami (manusia Jawa) menyoal kedatangan Ratu Adil. Dia (Ratu Adil) sosok pemimpim yang mendapatkan petunjuk Allah dalam kerja pemerintahannya untuk membawa seluruh manusia dalam kesejahteraan, yang seperti diramalkan Raja Jayabaya dari Kediri (Yoedoprawiro, 2000: 57-58).
Ratu Adil, sebagai mimpi kolektif masyarakat Jawa, oleh NJ dikatakan bahwa kedatangannya dibarengi dengan bunga Wijayakusuma yang merekah. Saya terhenyak, keluar rumah dan mencari bunga Wijayakusuma itu, mengamati daunnya namun saya tidak mendapatkan pengertian akan Ratu Adil. Wijayakusuma sebagai syarat penobatan yang akhirnya dapat direngkuh sebagai pemahaman atas tingkatan kemampuan seseorang dalam menjadir raja. Tingkatan ini bisa disebut sebagai kriteria akan kemampuan yang harus dipenuhi.
Ayat XVIII dalam Muqaddimah ini memiliki hubungan dengan sejarah keyakinan masyarakat Jawa. Apabila sosok Ratu Adil adalah seorang penguasa Tanah Jawa, maka bunga Wijayakusuma adalah sosok pribadi dan laku dari penguasa tersebut. Hal ini dapat kita lihat lebih jauh di dalam Serat Centini yang menceritakan bagaimana Raja Kresna melabuh Wijayakusuma untuk menjadi bekal bagi seorang penguasa (Ranggasutrasna dkk, 1992: 11-12).
Manfaat Wijayakusuma ini masih tersembunyi di dalam KPM. Mungkin, NJ ingin menjadikan setiap pembaca KPM sebagai pengelana sebagaimana sosok NJ sendiri. Dalam ayat XX, tabir misteri itu sedikit dibuka dalam nuansa tersendiri, sebagai berikut:
Dasarnya sakit ada tombonya, sejengkal air bengawan mengaliri mata kaki,
menikmati tapakan melangkahi bencah membaca peta pesisir,
menjelma tarian pulang berjejak makna peristiwa sejarah [XX]
Suka atau tidak, NJ benar-benar memaksa kita untuk menjadi pengelana. Lewat lompatan pikiran yang sungguh mengagetkan ini, NJ merasuki jiwa yang tadinya diam untuk bergejolak dan mengikuti rasa hati. Di ayat XX surat Muqaddimah ini, kita musti kembali pada Wijayakusuma. Mengurai putihnya kelopak, daun serta batang yang menjulur. Lalu, apa yang sebenarnya akan kita cari untuk memahami ayat XX surat Muqaddimah ini? Menurut hemat saya, NJ membangun struktur tanda yang bertujuan untuk mengingatkan kita agar tidak melupakan jati diri, atas asal-muasal tanah kelahiran (Hidup). Di setiap tanah yang menjadi tempat tertumpahnya darah, ada jalan lain yang dapat membawa kita pada kesempurnaan.
Lalu, kenapa saya masih saja menyarankan agar terus mencermati Wijayakusuma sampai ke dalam? Cerita masa lalu (sejarah dan bisa saja dongeng) yang bersemayam di tanah ini, maksud saya adalah Jawa, dapat dijadikan sebagai uraian akan jawaban. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana NJ menghadirkan semangat dan mimpi akan Ratu Adil yang diramalkan Jayabaya. Kita juga mendapati semangat untuk membacai lembaran kitab lama demi meraih syarat pemahaman akan bagaimana sebenarnya hakekat seorang raja. Wijayakusuma untuk mengobati luka hati yang merebak (Ranggasutrasna dkk, 1992: 12), air bengawan sebagai laku pengetahuan kalau sungai menuju pada muara laut yang lapang menerima segala tanpa membedakan dan mencaci. Tarian pulang menjabarkan mengenai ajakn untuk mencermati hati sendiri, dan kemudian sejarah membawa kita pada pengolahan rasa akan asal-muasal kehidupan. Sejarah yang dalam ayat XX surat Muqaddimah KPM lebih menjorokkan pengertian pada hakekat kehidupan manusia, seperti dalam pandangan hidup masyarakat Jawa mengenai: “Sangkan paraning dumadi.”
Menilik sejarah sangkan paraning dumadi yang dapat diuraikan sebagai dasar atas perjalanan batin manusia dalam usaha memahami asal kehidupan itu sendiri. Konsep ini, menurut Maqnis-Suseno (1985: 117), sebagai inti dari spekulasi kegiatan mistik masyakat Jawa (Agama Jawi), yang mana memiliki tujuan untuk mencapai kesatuan antara mati di dalam hidup dan hidup di dalam mati. Menjalani laku dalam usaha memahami sangkan paraning dumadi, berarti melakukan perjalanan batin tingkatan spiritual yang paling tinggi. Keadaan ini, yang oleh NJ, dituang dalam ayat XXI surat Muqaddimah di bawah ini:
Mengagungkan rahmatNya sejauh menimba sumur terdalam,
jikalau bersemedi di dalam gua nurani [XXI]
Menjalani laku untuk mencapai sangkan paraning dumadi akan mengajak manusia mencapai pemahaman akan hidup, dimana terjadinya penyatuan yang materi dan yang batin. Dalam konteks ini, seringkali disebut sebagai proses penyatuan antara Tuhan dan hamba. Memahami untuk mengerti (ngerti dalam bahasa Jawa) karena sebagian manusia Jawa menyatakan kalau sebenarnya Tuhan tidak dijumpai di Mekah, melainkan dalam batin sendiri (Mulder, 1984: 24). Usaha yang perlu dilakukan untuk mencapai kemanunggalan ini, seperti kata Mulder di atas bahwa, Tuhan ada di dalam hati, maka manusia (Jawa) harus memahami keberadaan diri sendiri. Pencapaian ini terlebih dahulu perlu memahami nilai dari sangkan paraning dumadi, sebagai pengetahuan mengenai manusia (Beatty, 2001: 268).
Tujuan ini, jelas menuntut untuk menjalankan etika kebatinan, yang oleh Mulder (1984: 39), disebutkan sebagai “Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Memayu hayuning bawana.” Ayat XXI surat Muqaddimah juga mengandung unsur ini. Benar-benar membentangkan aspek pemaknaan atas simbolisme yang NJ bangun bersamaan dengan aura jalan kebatinan Jawa. Tentu saja, ini sebagai hasil yang bukan karena faktor kebetulan, melainkan tumpukan dari kerja keras yang terarah karena laku yang dijalankan.
Tapak perjalanan batin masyarakat Jawa yang (sepertinya) telah dilalui NJ membawa pada penyaksian yang termaktub dalam ayat XXII surat Muqaddimah. Atas penyaksian itu, NJ memberikan pemastian dengan ayat XXIII dan XXIV surat Muqaddimah. Sampai pada ayat XIV surat Muqaddimah ini, NJ menjabarkan pada kita mengenai ruang batin yang selama ini mendarah daging dalam kehidupan (masyarakat Jawa).
Muqaddimah; Waktu Di Sayap Malaikat, mungkin saja sebagai gambaran keseluruhan atas Kitab Para Malaikat yang terdiri dari 20 Surat (judul). Perempuan, seperti dalam surat Membongkar Raga Padmi juga dibahas di sini. Penjelmaan sosok pendamping kaum Adam yang sungguh kharismatis, sekaligus misterius akan memancing setiap kita untuk bertanya. Atau mencari tahu sendiri tentang peran perempuan dalam “Hikayat di bawah sadar penciptaan [XXVI]” maupun sesuatu “yang mengalir di bawah hati senantiasa berabadi [XXVII]”. Kemisteriusan dalam bingkai penuh pesona itu yang mungkin saja mendorong NJ untuk berkelana (kalau tidak boleh dikatakan berburu) medan keperempuanan.
Sejauh apa pun kita mencoba menyisik babak akhir dari surat Muqaddimah ini, melulu kita akan menemukan aroma cinta. Aroma yang entah untuk diri sendiri, Nabi, Katuhanan, atau pada jalan hidup itu sendiri. Cinta hadir dalam berbagai macam produk, kalau dimisalkan meja makan, di sana akan kita temui nasi cinta, es cinta, air minus cinta, sayur cinta dan sederet yang lain dalam aneka produk dan rasa.
Lalu bagaimana cinta di dalam KPM dan kehidupan itu tersuguh untuk kita? Pun, NJ telah menjawabnya, seperti yang dia tuliskan di ayat terakhir: Ragamu menghantui, tekatmu berjembatan, ia di sisihmu disetiap engkau rebah [XXXIX].
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 22 Desember 2010.
Minggu, 02 Januari 2011
MEMBACA KULIT LUAR “KITAB PARA MALAIKAT” NUREL JAVISSYARQI
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Membaca karya sastra, dalam hal ini adalah karya puisi sama halnya dengan perjalanan panjang menyusuri jalan setapak yang dipenuhi cabang dan penunjuk jalan (baca: tanda). Berbagai macam (bentuk) penunjuk jalan tersebut membawa pada pengungkapan pengalaman, baik pengalaman realitas maupun pengalaman batin si kreator tanda. Aspek pengalaman seorang kreator mempengaruhi bangunan struktur tanda yang dibangun. Pengalaman menjadi dasar atas pembangunan bangunan tanda yang kelak akan diterjemahkan oleh pembaca. Pengalaman itu sendiri yang sebenarnya menjadi inti dari pembangunan struktur tanda, baik yang dalam pengertian transenden maupun yang imanen. Bangunan struktur atas tanda tersebut, mutlak sebagai pencerminan diri kreator tanda (sastrawan).
Bangunan struktur yang sudah jadi dan dilepaskan akan diterima masyarakat pembaca sebagai struktur makna yang diperlukan usaha interprestasi. Dalam aktivitas ini, pengalaman kembali memainkan peran yang penting. Dimana pengalaman pembaca dalam usaha menterjemahkan tanda untuk menjadi bangunan makna baru. Hasil interpretasi dapat dipastikan akan terlepas dari esensial makna yang dimaksudkan si kreator tanda. Antara makna penciptaan dan pembacaan struktur tanda, terdapat adanya jarak yang cukup signifikan yang dapat disebut sebagai ruangan ketiadaan (ada namun tiada, tiada namun ada).
Ruang ketiadaan ini memungkin terjadi adanya interaksi simbolik yang terjadi secara dialektis. Interaksi yang pada akhirnya membangun makna baru. Pembaca, dalam usaha memahami teks tanda (baca: sastra) secara tidak disadari mengembangkan struktur tanda yang pada diciptakan seorang kreator.
Karya sastra, secara khusus puisi, memiliki banyak ruang lingkup tanda yang apabila dilakukan usaha penterjemahan justru menimbulkan tanda baru. Tulisan ini bermaksud meresapi nilai pengalaman yang tertuang di dalam struktur tanda yang dibangun di Kitap Para Malaikat (KPM) karya Nurel Javissyarqi (NJ). KPM yang merupakan buku kumpulan puisi, konon menurut NJ, dipahat selama 1 tahun dan dikristalkan selama 8 tahun. Perjalanan panjang dalam proses penciptaan bangunan tanda KPM ini, sehingga dapat dipastikan kalau KPM disemayami jutaan pengalaman yang mengagumkan.
Menyimak judul, Kitab dan Para Malaikat, mengumumkan adanya jalinan pengalaman religius (kalau tidak boleh dikatakan mistis) hasil dari hubungan gelap antara NJ dan Para Malaikat. Kenapa hubungan gelap? Mungkin hubungan ini hampir sama dengan perselingkuhan, kalau antara seorang perempuan dan lelaki dapat melahirkan anak, hubungan gelap NJ dan Para Malaikat telah menghasilkan sebuah kitab lumayan panjang. Hubungan gelap, karena pertemuan NJ dengan Malaikat tidak diketahui orang lain di dalam pengalaman (baca juga: kesaksian) religius. Apabila wahyu Allah Ta’ala diterjemahkan dan disampaikan untuk para Nabi Allah, para Malaikat (tentu saja Malaikat-Nya Allah) ternyata memilih seorang NJ (Nurel Javissyarqi), seorang penyair dari Lamongan untuk menghimpun cahaya yang berserak.
Pengalaman, yang menurut NJ sebagai kesaksian, dirangkum ke dalam 21 judul (baca: surat) puisi. Surat yang merupakan manifestasi dari hebatnya pemikiran dan renungan yang membuahkan kitab. Ini yang membuat saya merasa was-was dan gemetaran sendiri membacai KPM. Bagaimana tidak, realitasnya yang saya hadapi kali ini bukan Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer yang menyusur sejarah kehidupan manusia Indonesia. Akantetapi, yang saya hadapi kali ini adalah Kitab Para Malaikat yang oleh Maman S. Mahayana (KPM, 2007: iv) disejajarkan dengan para pemikir besar dunia. Sebelum terlalu jauh saya menjajaki samudra pengalaman, terlebih dahulu saya menyibukkan diri dengan gemericik air dan derum ombak di pantainya. Hal ini saya lakukan semata-mata untuk mengukur panjang kaki, hingga saya memutuskan untuk menulis Membaca Kulit Luar “Kitab Para Malaikat” Nurel Javissyarqi ini. Saya berusaha untuk tetap tenang, mengingat pepatah lama, “Sedia payung sebelum hujan” karena tidak ingin bersombong diri yang justru membuat saya tenggelam di samudra.
Pengalaman yang bersinggungan dengan kesadaran ketika menangkapi fenomena realitas, baik dalam ruang transenden maupun imanen. Fenomena ini, yang entah dari dunia realitas maupun non-realitas (yang terjadi di dalam diri NJ), membangun pola pikir yang akhirnya tertuang sebagai karya. Setiap pengalaman, menurut Derrida (dalam Dreyfus dan Wrathall, 2005: 91), sebagai bagian kehidupan yang mengandung makna. Pengalaman yang bermakna termanifestasikan ke dalam karya yang selanjutnya meninggikan nilai sastra itu sendiri sebagai pengalaman dunia kehidupan.
Pun, hal ini dapat kita temukan di dalam bait (baca: ayat) KPM karya NJ. KPM membawa nuansa baru dalam khasanah jagat perpuisian di Indonesia. Ayat-ayat ringkas namun ketika dipahami memberikan bentangan cakrawala yang tanpa batas. Apabila di sana ditemukan adanya “batas’, lebih dikarenakan faktor individu setiap pembaca sebagai mufasir yang menggali makna.
Malaikat-nya NJ tersindromi kekaguman pada perempuan, yang mana makhluk satu ini memiliki rangka estetik yang dengan sangat berhasil menarik perhatian seniman. Tidak hanya seniman sastra, banyak diantara pengagum serta pemuja mengkreatorkan estetika yang diilhami perempuan. Konon, perempuan sebagai keturunan Hawa yang diciptakan dari Adam, pun yang menjadikan sang Adam diturunkan dari surga.
KPM sendiri tidak mampu melepaskan diri dari pesona perempuan. Indah dan makna yang terbangun di banyak tempat di dalam berbagai bahasa. Bahkan, perempuan menjadi satu pokok bahasan yang penting di Surat pertama yang berjudul Membuka Raga Padmi (KPM, 2007: 5-10). Kerangka ini apabila diterawang melalui khasanah sosiologis, akan membidik sang NJ si empu KPM adalah seorang pemuja perempuan.
Panjang dan lebar, waktu yang dibutuhkan untuk menggelar khasanah seperti ini, yang pada titik puncaknya membuat kita kelelahan untuk mengikuti NJ yang telah menisbatkan diri sebagai pengelana. Esensial perempuan terlihat jelas di surat Membuka Raga Padmi yang dengan membara menelusup jiwa perenungan. Dari rambut sampai pada mata batin, tidak kelewatan disusupi diam-diam. Pun, dalam Hukum-Hukum Pecinta, pembaca akan menemukan peran perempuan dalam kehidupan manusia.
Selain itu, permainan simbol dan bangunan struktur makna yang dibangun NJ dalam KPM-nya sangat jelas dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Simbolisasi dari latar belakang ini terdeteksi dengan sangat jelas, misalnya mengenai penandaan Bunga Wijayakusuma dalam penobatan raja, dalam Surat Muqadimah: Waktu Di Sayap Malaikat ayat XVIII (KPM, 2007: 2). Dari aspek estetik dan struktur tanda ini, menterjemahkan sebagaian pengalaman religius yang termaktub di dalamnya. Pembacaan naskah lama, dilakukan oleh NJ dalam mengkreasikan struktur tanda KPM. NJ sebagai peramu memasukkan nilai sufistik Kejawen.
Latar belakang budaya yang ikut mempengaruhi proses pengkreasian strauktur tanda merupakan hal yang lumrah. Pengalaman ini, baik transenden (maupun) imanen bercorak Jawa yang memungkinkan makna yang tidak universal. Aspek kultural yang melatarbelakangi kehidupan NJ justru menyempitkan makna KPM sebagai sebuah kitab yang semestinya universal, dapat dipahami oleh setiap manusia. Pendasaran ini saya ambil, hanya sebatas pada aspek aspek geografis dan kultural yang berbeda.
Estetika dan struktur tanda yang dibangun NJ dalam KPM lebih banyak memuat pengalaman (kesaksian) mistis Kejawen. Struktur estetik dan struktur tanda dalam KPM harus ditelusuri bersamaan dengan proses pembacaan terhadap historis masyarakat Jawa, dimana bangunan estetik dan struktur tanda itu dibangun dan termanifestasikan ke dalam KPM. Memahami KPM berarti telah memahami nilai estetika dan jalan religius masyarakat Jawa.
Banjarnegara – Studio SDS Fictionbooks, 12 Desember 2010
http://sastra-indonesia.com/
Membaca karya sastra, dalam hal ini adalah karya puisi sama halnya dengan perjalanan panjang menyusuri jalan setapak yang dipenuhi cabang dan penunjuk jalan (baca: tanda). Berbagai macam (bentuk) penunjuk jalan tersebut membawa pada pengungkapan pengalaman, baik pengalaman realitas maupun pengalaman batin si kreator tanda. Aspek pengalaman seorang kreator mempengaruhi bangunan struktur tanda yang dibangun. Pengalaman menjadi dasar atas pembangunan bangunan tanda yang kelak akan diterjemahkan oleh pembaca. Pengalaman itu sendiri yang sebenarnya menjadi inti dari pembangunan struktur tanda, baik yang dalam pengertian transenden maupun yang imanen. Bangunan struktur atas tanda tersebut, mutlak sebagai pencerminan diri kreator tanda (sastrawan).
Bangunan struktur yang sudah jadi dan dilepaskan akan diterima masyarakat pembaca sebagai struktur makna yang diperlukan usaha interprestasi. Dalam aktivitas ini, pengalaman kembali memainkan peran yang penting. Dimana pengalaman pembaca dalam usaha menterjemahkan tanda untuk menjadi bangunan makna baru. Hasil interpretasi dapat dipastikan akan terlepas dari esensial makna yang dimaksudkan si kreator tanda. Antara makna penciptaan dan pembacaan struktur tanda, terdapat adanya jarak yang cukup signifikan yang dapat disebut sebagai ruangan ketiadaan (ada namun tiada, tiada namun ada).
Ruang ketiadaan ini memungkin terjadi adanya interaksi simbolik yang terjadi secara dialektis. Interaksi yang pada akhirnya membangun makna baru. Pembaca, dalam usaha memahami teks tanda (baca: sastra) secara tidak disadari mengembangkan struktur tanda yang pada diciptakan seorang kreator.
Karya sastra, secara khusus puisi, memiliki banyak ruang lingkup tanda yang apabila dilakukan usaha penterjemahan justru menimbulkan tanda baru. Tulisan ini bermaksud meresapi nilai pengalaman yang tertuang di dalam struktur tanda yang dibangun di Kitap Para Malaikat (KPM) karya Nurel Javissyarqi (NJ). KPM yang merupakan buku kumpulan puisi, konon menurut NJ, dipahat selama 1 tahun dan dikristalkan selama 8 tahun. Perjalanan panjang dalam proses penciptaan bangunan tanda KPM ini, sehingga dapat dipastikan kalau KPM disemayami jutaan pengalaman yang mengagumkan.
Menyimak judul, Kitab dan Para Malaikat, mengumumkan adanya jalinan pengalaman religius (kalau tidak boleh dikatakan mistis) hasil dari hubungan gelap antara NJ dan Para Malaikat. Kenapa hubungan gelap? Mungkin hubungan ini hampir sama dengan perselingkuhan, kalau antara seorang perempuan dan lelaki dapat melahirkan anak, hubungan gelap NJ dan Para Malaikat telah menghasilkan sebuah kitab lumayan panjang. Hubungan gelap, karena pertemuan NJ dengan Malaikat tidak diketahui orang lain di dalam pengalaman (baca juga: kesaksian) religius. Apabila wahyu Allah Ta’ala diterjemahkan dan disampaikan untuk para Nabi Allah, para Malaikat (tentu saja Malaikat-Nya Allah) ternyata memilih seorang NJ (Nurel Javissyarqi), seorang penyair dari Lamongan untuk menghimpun cahaya yang berserak.
Pengalaman, yang menurut NJ sebagai kesaksian, dirangkum ke dalam 21 judul (baca: surat) puisi. Surat yang merupakan manifestasi dari hebatnya pemikiran dan renungan yang membuahkan kitab. Ini yang membuat saya merasa was-was dan gemetaran sendiri membacai KPM. Bagaimana tidak, realitasnya yang saya hadapi kali ini bukan Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer yang menyusur sejarah kehidupan manusia Indonesia. Akantetapi, yang saya hadapi kali ini adalah Kitab Para Malaikat yang oleh Maman S. Mahayana (KPM, 2007: iv) disejajarkan dengan para pemikir besar dunia. Sebelum terlalu jauh saya menjajaki samudra pengalaman, terlebih dahulu saya menyibukkan diri dengan gemericik air dan derum ombak di pantainya. Hal ini saya lakukan semata-mata untuk mengukur panjang kaki, hingga saya memutuskan untuk menulis Membaca Kulit Luar “Kitab Para Malaikat” Nurel Javissyarqi ini. Saya berusaha untuk tetap tenang, mengingat pepatah lama, “Sedia payung sebelum hujan” karena tidak ingin bersombong diri yang justru membuat saya tenggelam di samudra.
Pengalaman yang bersinggungan dengan kesadaran ketika menangkapi fenomena realitas, baik dalam ruang transenden maupun imanen. Fenomena ini, yang entah dari dunia realitas maupun non-realitas (yang terjadi di dalam diri NJ), membangun pola pikir yang akhirnya tertuang sebagai karya. Setiap pengalaman, menurut Derrida (dalam Dreyfus dan Wrathall, 2005: 91), sebagai bagian kehidupan yang mengandung makna. Pengalaman yang bermakna termanifestasikan ke dalam karya yang selanjutnya meninggikan nilai sastra itu sendiri sebagai pengalaman dunia kehidupan.
Pun, hal ini dapat kita temukan di dalam bait (baca: ayat) KPM karya NJ. KPM membawa nuansa baru dalam khasanah jagat perpuisian di Indonesia. Ayat-ayat ringkas namun ketika dipahami memberikan bentangan cakrawala yang tanpa batas. Apabila di sana ditemukan adanya “batas’, lebih dikarenakan faktor individu setiap pembaca sebagai mufasir yang menggali makna.
Malaikat-nya NJ tersindromi kekaguman pada perempuan, yang mana makhluk satu ini memiliki rangka estetik yang dengan sangat berhasil menarik perhatian seniman. Tidak hanya seniman sastra, banyak diantara pengagum serta pemuja mengkreatorkan estetika yang diilhami perempuan. Konon, perempuan sebagai keturunan Hawa yang diciptakan dari Adam, pun yang menjadikan sang Adam diturunkan dari surga.
KPM sendiri tidak mampu melepaskan diri dari pesona perempuan. Indah dan makna yang terbangun di banyak tempat di dalam berbagai bahasa. Bahkan, perempuan menjadi satu pokok bahasan yang penting di Surat pertama yang berjudul Membuka Raga Padmi (KPM, 2007: 5-10). Kerangka ini apabila diterawang melalui khasanah sosiologis, akan membidik sang NJ si empu KPM adalah seorang pemuja perempuan.
Panjang dan lebar, waktu yang dibutuhkan untuk menggelar khasanah seperti ini, yang pada titik puncaknya membuat kita kelelahan untuk mengikuti NJ yang telah menisbatkan diri sebagai pengelana. Esensial perempuan terlihat jelas di surat Membuka Raga Padmi yang dengan membara menelusup jiwa perenungan. Dari rambut sampai pada mata batin, tidak kelewatan disusupi diam-diam. Pun, dalam Hukum-Hukum Pecinta, pembaca akan menemukan peran perempuan dalam kehidupan manusia.
Selain itu, permainan simbol dan bangunan struktur makna yang dibangun NJ dalam KPM-nya sangat jelas dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Simbolisasi dari latar belakang ini terdeteksi dengan sangat jelas, misalnya mengenai penandaan Bunga Wijayakusuma dalam penobatan raja, dalam Surat Muqadimah: Waktu Di Sayap Malaikat ayat XVIII (KPM, 2007: 2). Dari aspek estetik dan struktur tanda ini, menterjemahkan sebagaian pengalaman religius yang termaktub di dalamnya. Pembacaan naskah lama, dilakukan oleh NJ dalam mengkreasikan struktur tanda KPM. NJ sebagai peramu memasukkan nilai sufistik Kejawen.
Latar belakang budaya yang ikut mempengaruhi proses pengkreasian strauktur tanda merupakan hal yang lumrah. Pengalaman ini, baik transenden (maupun) imanen bercorak Jawa yang memungkinkan makna yang tidak universal. Aspek kultural yang melatarbelakangi kehidupan NJ justru menyempitkan makna KPM sebagai sebuah kitab yang semestinya universal, dapat dipahami oleh setiap manusia. Pendasaran ini saya ambil, hanya sebatas pada aspek aspek geografis dan kultural yang berbeda.
Estetika dan struktur tanda yang dibangun NJ dalam KPM lebih banyak memuat pengalaman (kesaksian) mistis Kejawen. Struktur estetik dan struktur tanda dalam KPM harus ditelusuri bersamaan dengan proses pembacaan terhadap historis masyarakat Jawa, dimana bangunan estetik dan struktur tanda itu dibangun dan termanifestasikan ke dalam KPM. Memahami KPM berarti telah memahami nilai estetika dan jalan religius masyarakat Jawa.
Banjarnegara – Studio SDS Fictionbooks, 12 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Baik, Tunggu Baru
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.
Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: “Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!” sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada.
Masa, Kelurahan di ambang kehancuran. Pemuda-Pemudi berpakaian aneka warna seolah ingin berkudeta. Berkumpul, membajiri Kantor Perwakilan Ketoprak Kelurahan. Seperti lalat di atas tumpukan darah. Menggenang air mata, perlawanan, api menjalar dan satu, dua, tiga, empat gugur.
Teriakan pemberontakan yang getir, mengukuhkan semangat kemerdekaan. Kerajaan Lurah Arta, diganyang habis. Sang Lurah terpaksa turun keprabon dan orang-orang dengan bangga menamai momentum: Reformasi Kelurahan. “Kelurahan kita tidak siap dengan revolusi, makanya kita memilih jalur alternatif, reformasi.” Begitu kata seorang ahli politik yang menjadi Bapak Reformasi Kelurahan Luruh Indon.
Hingar-bingar teriakan semakin mengabur. Sampailah hari ini, teriakan itu terdengar layaknya jerit anjing kesakitan yang dilibas kekuasaan mupakat.
Terurai sewaktu malam berjalan dengan dingin dan kabut tebal dipagi harinya. Menghalangi cahaya mentari reformasi yang menelan habis setiap perjuangan, “Ah, mereka hanya ditunggangi!” teriak politisi yang tidak mau disebut namanya.
“Lha, siapa yang menunggangi?” tanya seseorang yang melihat politisi dari depan televisi.
Dhimas Gathuk berjalan. Di atas kepalanya sekarung rumput hijau untuk dua sapinya. Ia melintas di jalan kelurahan. Berjalan sempoyongan, menahan lapar setelah seharian bekerja. Kakinya pun menginjak trotoar Kantor Perwakilan Ketroprak. Mengamati seorang anggota Perwakilan yang cas-cis-cus di depan wartawan. Dhimas Gathuk meletakkan seranjang rumput dan menyongsong pada pemburu berita.
“Ini ada apa?” tanya Dhimas Gathuk pada seorang wartawan yang berdiri di barisan belakang.
“Gagasan gedung baru untuk kantor Perwakilan Ketoprak!” jawab wartawan itu sambil terus mencatat di buku kecilnya.
“Memanganya mau buat kantor baru, Mas Warta?” tanya Dhimas Gathuk sambil menggaruk kakinya.
“Katanya,”
“Lha, yang benar?”
“Ini baru dikonfirmasi. Yah, mereka akan membuat gedung baru. Katanya, gedung yang sekarang, lambang pemerintahan korup.” Wartawan itu terus mencatat tanpa memperhatikan Dhimas Gathuk yang kini menggaruk pantatnya.
“Terus?”
“Ya, katanya kalau masih pakai gedung ini, wajar kalau kinerja Perwakilan Ketoprak tidak baik. Karena gedungnya masih mewarisi pemerintahan korup, jadinya ya seperti masa lalu.”
“Gak ngerti aku, Mas Warta!” Dhimas Gathuk menggaruk pantat dengan lebih keras.
Wartawan itu berhenti menulis. Mengalihkan pandangan pada Dhimas Gathuk dengan tatapan jengkel. Dia merasa kalau petani di sampingnya terlalu cerewet. Lha, dia sendiri yang wartawan tidak secerewet ini, pikirnya.
“Agar kinerja Perwakilan Ketoprak itu menjadi baik dan berkembang, dibutuhkan gedung baru. Sejalan dengan cita-cita reformasi.” Wartawan itu menegaskan dengan pandangan melotot.
“Lha, gedung yang ini mau buat apa?”
Wartawan itu mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, Mas!”
“Memangnya kita punya uang untuk gedung baru?” Dhimas Gathuk melontarkan pertanyaan.
“Sudah dianggarkan!”
“Memang perlu gedung baru?”
“Kalau kita meninginkan kinerja yang lebih baik.”
“Ada hubungannya, kinerja dan gedung?” Dhimas Gathuk mengangkat alisnya tinggi-tinggi namun si Wartawan tidak memberikan jawaban apa-apa. “Berarti aku perlu sawah baru. Perlu rumah baru. Perlu kandang baru untuk sapi-sapiku.” Dhimas Gathuk terdiam sejenak. “Tapi bagaimana bisa?”
“Lha kenapa?” Wartawan itu menyahuti tanpa ekspresi.
“Yang dimakan saja tidak ada…” Dhimas Gathuk muram merasakan perutnya yang berdentum kelaparan.
Wartawan itu tersenyum lebar. Buru-buru dia mengangkat tangannya. Si pembicara di depan podium langsung mempersilahkan.
“Masih banyak rakyat miskin, Pak Wakil!” ucap Wartawan itu sambil menganggukkan kepala. “Daripada dana untuk membuat gedung, lebih baik dialokasikan untuk pemberdayaan petani. Seperti dia!” wartawan menunjuk Dhimas Gathuk yang tengah menggaruk pantat.
“Tidak ada hubungannya. Rakyat miskin ya rakyat miskin. Gedung baru ya gedung baru. Tapi terserah rakyat Luruh Indon saja, kok, kalau mereka ingin kinerja Perwakilan yang lebih baik, ya musti ada gedung baru. Kalau menolak gedung baru, rakyat jangan menyalahkan Perwakilan kalau masih saja korup.”
“Nah, itu!” ungkap Wartawan pada Dhimas Gathuk dalam seringai lebar.
Sekonyong-konyong, Dhimas Gathuk kembali pada rumput. Dia menuju rumah. Langsung ke kandang sapi. Dia menjulurkan sabit di tangannya. “Sapi edan, kalau kamu sampai minta kandang baru, awas ya, tak bakar untuk makan seluruh kampung!” Dhimas Gathuk bersunggut masuk rumah. Dan sapi pun lahap menyantap rumput tanpa perduli.
Lengkong – Banjarnegara, 09 September 2010.
http://sastra-indonesia.com/
Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.
Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: “Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!” sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada.
Masa, Kelurahan di ambang kehancuran. Pemuda-Pemudi berpakaian aneka warna seolah ingin berkudeta. Berkumpul, membajiri Kantor Perwakilan Ketoprak Kelurahan. Seperti lalat di atas tumpukan darah. Menggenang air mata, perlawanan, api menjalar dan satu, dua, tiga, empat gugur.
Teriakan pemberontakan yang getir, mengukuhkan semangat kemerdekaan. Kerajaan Lurah Arta, diganyang habis. Sang Lurah terpaksa turun keprabon dan orang-orang dengan bangga menamai momentum: Reformasi Kelurahan. “Kelurahan kita tidak siap dengan revolusi, makanya kita memilih jalur alternatif, reformasi.” Begitu kata seorang ahli politik yang menjadi Bapak Reformasi Kelurahan Luruh Indon.
Hingar-bingar teriakan semakin mengabur. Sampailah hari ini, teriakan itu terdengar layaknya jerit anjing kesakitan yang dilibas kekuasaan mupakat.
Terurai sewaktu malam berjalan dengan dingin dan kabut tebal dipagi harinya. Menghalangi cahaya mentari reformasi yang menelan habis setiap perjuangan, “Ah, mereka hanya ditunggangi!” teriak politisi yang tidak mau disebut namanya.
“Lha, siapa yang menunggangi?” tanya seseorang yang melihat politisi dari depan televisi.
Dhimas Gathuk berjalan. Di atas kepalanya sekarung rumput hijau untuk dua sapinya. Ia melintas di jalan kelurahan. Berjalan sempoyongan, menahan lapar setelah seharian bekerja. Kakinya pun menginjak trotoar Kantor Perwakilan Ketroprak. Mengamati seorang anggota Perwakilan yang cas-cis-cus di depan wartawan. Dhimas Gathuk meletakkan seranjang rumput dan menyongsong pada pemburu berita.
“Ini ada apa?” tanya Dhimas Gathuk pada seorang wartawan yang berdiri di barisan belakang.
“Gagasan gedung baru untuk kantor Perwakilan Ketoprak!” jawab wartawan itu sambil terus mencatat di buku kecilnya.
“Memanganya mau buat kantor baru, Mas Warta?” tanya Dhimas Gathuk sambil menggaruk kakinya.
“Katanya,”
“Lha, yang benar?”
“Ini baru dikonfirmasi. Yah, mereka akan membuat gedung baru. Katanya, gedung yang sekarang, lambang pemerintahan korup.” Wartawan itu terus mencatat tanpa memperhatikan Dhimas Gathuk yang kini menggaruk pantatnya.
“Terus?”
“Ya, katanya kalau masih pakai gedung ini, wajar kalau kinerja Perwakilan Ketoprak tidak baik. Karena gedungnya masih mewarisi pemerintahan korup, jadinya ya seperti masa lalu.”
“Gak ngerti aku, Mas Warta!” Dhimas Gathuk menggaruk pantat dengan lebih keras.
Wartawan itu berhenti menulis. Mengalihkan pandangan pada Dhimas Gathuk dengan tatapan jengkel. Dia merasa kalau petani di sampingnya terlalu cerewet. Lha, dia sendiri yang wartawan tidak secerewet ini, pikirnya.
“Agar kinerja Perwakilan Ketoprak itu menjadi baik dan berkembang, dibutuhkan gedung baru. Sejalan dengan cita-cita reformasi.” Wartawan itu menegaskan dengan pandangan melotot.
“Lha, gedung yang ini mau buat apa?”
Wartawan itu mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, Mas!”
“Memangnya kita punya uang untuk gedung baru?” Dhimas Gathuk melontarkan pertanyaan.
“Sudah dianggarkan!”
“Memang perlu gedung baru?”
“Kalau kita meninginkan kinerja yang lebih baik.”
“Ada hubungannya, kinerja dan gedung?” Dhimas Gathuk mengangkat alisnya tinggi-tinggi namun si Wartawan tidak memberikan jawaban apa-apa. “Berarti aku perlu sawah baru. Perlu rumah baru. Perlu kandang baru untuk sapi-sapiku.” Dhimas Gathuk terdiam sejenak. “Tapi bagaimana bisa?”
“Lha kenapa?” Wartawan itu menyahuti tanpa ekspresi.
“Yang dimakan saja tidak ada…” Dhimas Gathuk muram merasakan perutnya yang berdentum kelaparan.
Wartawan itu tersenyum lebar. Buru-buru dia mengangkat tangannya. Si pembicara di depan podium langsung mempersilahkan.
“Masih banyak rakyat miskin, Pak Wakil!” ucap Wartawan itu sambil menganggukkan kepala. “Daripada dana untuk membuat gedung, lebih baik dialokasikan untuk pemberdayaan petani. Seperti dia!” wartawan menunjuk Dhimas Gathuk yang tengah menggaruk pantat.
“Tidak ada hubungannya. Rakyat miskin ya rakyat miskin. Gedung baru ya gedung baru. Tapi terserah rakyat Luruh Indon saja, kok, kalau mereka ingin kinerja Perwakilan yang lebih baik, ya musti ada gedung baru. Kalau menolak gedung baru, rakyat jangan menyalahkan Perwakilan kalau masih saja korup.”
“Nah, itu!” ungkap Wartawan pada Dhimas Gathuk dalam seringai lebar.
Sekonyong-konyong, Dhimas Gathuk kembali pada rumput. Dia menuju rumah. Langsung ke kandang sapi. Dia menjulurkan sabit di tangannya. “Sapi edan, kalau kamu sampai minta kandang baru, awas ya, tak bakar untuk makan seluruh kampung!” Dhimas Gathuk bersunggut masuk rumah. Dan sapi pun lahap menyantap rumput tanpa perduli.
Lengkong – Banjarnegara, 09 September 2010.
Bunga, Jangan Menusukku…!
M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/
Semalam hujan rintik. Basah mengalir lembut di pucuk daunan. Kedinginan dan manja bermandi murni air yang ditransfer dari gumpalan hitam menggantung. Tanah merekah, menerima pancaran halus yang hangat. Mulut-mulut hitam berkecap menikmati cairan yang membawa kesuburan. Basah dan anggun. Alam raya memukau di selimut keindahan yang tak menjemukan.
Daunan yang basah, disiangi matahari. Terlihat riang dalam tarian setelah dipupus hujan semalam. Dingin itu sirna. Tinggal ranum yang terbuahi. Terkecap di bibir-bibir daunan nan hijau. Menangkap hangat cemerlang sinar. Lalu mengalirkan kehidupan.
Pada hamparan sejuk itu, tumbuhan mawar berbaris indah. Merah dan putih. Mengisi pandangan. Sejuk merasuk ke dalam hati. Lalu menari dan berganti rupa menjadi semangat membawa. Merah darah dan putih tulang manusia. Jenang merah dan jenang putih, darah dan nutfah, berpadu dalam irama indah yang mencengangkan. Mengajak setiap pikiran untuk meluncur ke masa lalu saat merah dan putih itu belum tercipta. Atau lebih jauh lagi, proses penciptaan pertama.
Lelaki kurus berdiri memandang ke hamparan luas yang basah. Senyuman lebar. Nampak puas di pancaran mata yang mengambang menaiki angin. Hujan memandikan bumi kebanggannya. Mengenyangkan tanaman. Dia duduk mengangkat gelas cangklong dipenuhi teh panas ke depan mulut. Kumpulan asap pun menyembur setelah segulung tembakau kering dia bakar.
“Lebih baik,” gumamnya pada diri sendiri, “hari ini akan cerah.”
Dia meletakkan gelas di atas meja lalu mendekati taman yang basah. Pandangannya jatuh pada kelopak mawar. Merah merekah dan basah. Ia pun teringat pada senyuman gadis manis yang bermanja di dalam pelukan. Kembali, ia merindu. Cinta yang mengetuk Dhimas Gathuk membawa dirinya pada pergulatan indah sampai akhirnya dia merawat mawar-mawar itu. Memahami kelembutan. Memahami rasa sakitnya duri andai tidak berhati-hati. Dhimas Gathuk tersenyum. Ia menunduk sebentar. Tidak lama, Dhimas Gathuk mengangkat pandangan pada bunga-bunga yang ayu menggoda.
“Selamat pagi, Bunga sekalian!” ucap Dhimas Gathuk dengan pipi memerah. “Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat?” Dhimas Gathuk tersenyum menunggu namun tidak ada jawaban. “Yah, semoga saja demikian.”
Senyuman kecil berkesemu merah telah merekah bersamaan dengan pandangan berbinar yang jatuh ke kelopak basah.
“Bunga, aku mohon, jangan menusukku.” Ucap Dhimas Gathuk dengan pandangan penuh harap.
“Sudah sinting, Dhi?” tanya Kangmas Gothak yang duduk di teras.
Dhimas Gathuk menoleh dalam senyuman. Gigi putih yang berderet membentengi diri.
“Lha, Kang, namanya juga usaha.”
“Usaha apa? Usaha jadi sinting, apa?”
Untuk menanggapi Kakaknya, Dhimas Gathuk menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia duduk di dekat bunga-bunga dengan sopan. Seperti seorang perjaka yang duduk di samping seorang perawan.
“Bukan sinting, Kang. Berusaha sebaik mungkin menjaga alam sekitar kita.”
“Maksudmu, Dhi?”
“Semalam, Kang Jambrong berkunjung, Kang! Kata Kang Jambrong, kita musti bersahabat dengan alam kalau mau selamat. Isu pemanasan global terus saja menuju pada kenyataan, Kang. Dimana-mana banyak bencana. Itu, kata Kang Jambrong, disebabkan karena manusia tidak bersahabat dengan alam.”
“Dhi?”
“Nah, Kang, pemerintahan Pak Lurah Beye suka membuat kebijakan yang anti keselarasan dengan alam. Bumi kita ini rusak, Kang. Kang Jambrong juga mengkritisi pemerintahan Pak Lurah Beye. Selama ini, banyak kebijakan yang semena-mena. Tidak saja dengan manusia kecil. Tapi juga dengan alam. Untuk menjaga kelestarian dan siklus kehidupan yang baik, kita musti menggalakkan kebijakan yang ramah lingkungan.”
Kangmas Gothak menggelengkan kepala. Dia lalu menggaruk-garuk kepala sementara adiknya terus saja berbicara tentang keramahan lingkungan yang didengar dari Jambrong.
“Untuk menciptakan alam yang sehat, kita menggalakkan persahabatan dengan alam. Kalau pemerintahan Pak Lurah Beye tidak memperhatikan ini, Kang Jambrong menyarankan pada warga untuk memulai keramahan dari setiap pribadi. Bersahabat dengan alam, ramah dengan sekitar kita adalah langkah hidup nyata yang dapat menjaga kelestarian hidup manusia.”
Kangmas Gothak tersenyum sambil membakar rokok. “Sakarepmu, Dhi. Terserah!”
“Kakangku itu memang ngeyel, bunga.” Ucap Dhimas Gathuk tanpa memperdulikan Kakaknya yang cengengesan. Bunga, jangan menusukku! Aku akan merawatmu dengan baik. Maafkan juga Kangmas Gothak, dia memang begitu tapi hatinya semerah kelopakmu.”
“Lha…?” Kangmas Gothak melongos menyaksikan adiknya yang terus berbicara ramah pada bunga-bunga di taman.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 24 September 2010
http://sastra-indonesia.com/
Semalam hujan rintik. Basah mengalir lembut di pucuk daunan. Kedinginan dan manja bermandi murni air yang ditransfer dari gumpalan hitam menggantung. Tanah merekah, menerima pancaran halus yang hangat. Mulut-mulut hitam berkecap menikmati cairan yang membawa kesuburan. Basah dan anggun. Alam raya memukau di selimut keindahan yang tak menjemukan.
Daunan yang basah, disiangi matahari. Terlihat riang dalam tarian setelah dipupus hujan semalam. Dingin itu sirna. Tinggal ranum yang terbuahi. Terkecap di bibir-bibir daunan nan hijau. Menangkap hangat cemerlang sinar. Lalu mengalirkan kehidupan.
Pada hamparan sejuk itu, tumbuhan mawar berbaris indah. Merah dan putih. Mengisi pandangan. Sejuk merasuk ke dalam hati. Lalu menari dan berganti rupa menjadi semangat membawa. Merah darah dan putih tulang manusia. Jenang merah dan jenang putih, darah dan nutfah, berpadu dalam irama indah yang mencengangkan. Mengajak setiap pikiran untuk meluncur ke masa lalu saat merah dan putih itu belum tercipta. Atau lebih jauh lagi, proses penciptaan pertama.
Lelaki kurus berdiri memandang ke hamparan luas yang basah. Senyuman lebar. Nampak puas di pancaran mata yang mengambang menaiki angin. Hujan memandikan bumi kebanggannya. Mengenyangkan tanaman. Dia duduk mengangkat gelas cangklong dipenuhi teh panas ke depan mulut. Kumpulan asap pun menyembur setelah segulung tembakau kering dia bakar.
“Lebih baik,” gumamnya pada diri sendiri, “hari ini akan cerah.”
Dia meletakkan gelas di atas meja lalu mendekati taman yang basah. Pandangannya jatuh pada kelopak mawar. Merah merekah dan basah. Ia pun teringat pada senyuman gadis manis yang bermanja di dalam pelukan. Kembali, ia merindu. Cinta yang mengetuk Dhimas Gathuk membawa dirinya pada pergulatan indah sampai akhirnya dia merawat mawar-mawar itu. Memahami kelembutan. Memahami rasa sakitnya duri andai tidak berhati-hati. Dhimas Gathuk tersenyum. Ia menunduk sebentar. Tidak lama, Dhimas Gathuk mengangkat pandangan pada bunga-bunga yang ayu menggoda.
“Selamat pagi, Bunga sekalian!” ucap Dhimas Gathuk dengan pipi memerah. “Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat?” Dhimas Gathuk tersenyum menunggu namun tidak ada jawaban. “Yah, semoga saja demikian.”
Senyuman kecil berkesemu merah telah merekah bersamaan dengan pandangan berbinar yang jatuh ke kelopak basah.
“Bunga, aku mohon, jangan menusukku.” Ucap Dhimas Gathuk dengan pandangan penuh harap.
“Sudah sinting, Dhi?” tanya Kangmas Gothak yang duduk di teras.
Dhimas Gathuk menoleh dalam senyuman. Gigi putih yang berderet membentengi diri.
“Lha, Kang, namanya juga usaha.”
“Usaha apa? Usaha jadi sinting, apa?”
Untuk menanggapi Kakaknya, Dhimas Gathuk menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia duduk di dekat bunga-bunga dengan sopan. Seperti seorang perjaka yang duduk di samping seorang perawan.
“Bukan sinting, Kang. Berusaha sebaik mungkin menjaga alam sekitar kita.”
“Maksudmu, Dhi?”
“Semalam, Kang Jambrong berkunjung, Kang! Kata Kang Jambrong, kita musti bersahabat dengan alam kalau mau selamat. Isu pemanasan global terus saja menuju pada kenyataan, Kang. Dimana-mana banyak bencana. Itu, kata Kang Jambrong, disebabkan karena manusia tidak bersahabat dengan alam.”
“Dhi?”
“Nah, Kang, pemerintahan Pak Lurah Beye suka membuat kebijakan yang anti keselarasan dengan alam. Bumi kita ini rusak, Kang. Kang Jambrong juga mengkritisi pemerintahan Pak Lurah Beye. Selama ini, banyak kebijakan yang semena-mena. Tidak saja dengan manusia kecil. Tapi juga dengan alam. Untuk menjaga kelestarian dan siklus kehidupan yang baik, kita musti menggalakkan kebijakan yang ramah lingkungan.”
Kangmas Gothak menggelengkan kepala. Dia lalu menggaruk-garuk kepala sementara adiknya terus saja berbicara tentang keramahan lingkungan yang didengar dari Jambrong.
“Untuk menciptakan alam yang sehat, kita menggalakkan persahabatan dengan alam. Kalau pemerintahan Pak Lurah Beye tidak memperhatikan ini, Kang Jambrong menyarankan pada warga untuk memulai keramahan dari setiap pribadi. Bersahabat dengan alam, ramah dengan sekitar kita adalah langkah hidup nyata yang dapat menjaga kelestarian hidup manusia.”
Kangmas Gothak tersenyum sambil membakar rokok. “Sakarepmu, Dhi. Terserah!”
“Kakangku itu memang ngeyel, bunga.” Ucap Dhimas Gathuk tanpa memperdulikan Kakaknya yang cengengesan. Bunga, jangan menusukku! Aku akan merawatmu dengan baik. Maafkan juga Kangmas Gothak, dia memang begitu tapi hatinya semerah kelopakmu.”
“Lha…?” Kangmas Gothak melongos menyaksikan adiknya yang terus berbicara ramah pada bunga-bunga di taman.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 24 September 2010
Jumat, 10 September 2010
Apakah kita masih terus diam saja?
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Setelah 65 tahun bangsa yang kita sebut dengan bangganya sebagai negara Kesatuan Republik Indonesia ini telah merdeka. Tanggal 17 Agustus selalu kita peringati dalam degup jantung keharuan atas kemenangan perjuangan rakyat di seluruh pelosok tanah dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Proklamasi kemerdekaan di hari ke 17 pada bulan Agustus di tahun 1945 merupakan buah dari kerja keras, semangat perjuangan, pengorbanan, darah dan berbagai macam usaha rakyat. Rasa cinta tanah air, kesamaan nasib, dan dorongan kuat untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajahan membawa pada kedaulatan bangsa. Di sekolah-sekolah, kita telah diajari bahwa kita para generasi muda patut bangga atas kemerdekaan bangsa karena beberapa faktor, salah satu faktor yang paling penting adalah bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia bukan atas pemberian dari bangsa lain. Kebanggan itu menjadikan warna merah dan putih sebagai bendera menjadi lebih berarti.
Di dalam sebuah film perjuangan kemerdekaan Amerika, The Patriot, di sana sempat dimunculkan keraguan akan perjuangan kemerdekaan. Sang Benjamin mengungkapkan dan dikutip bebas, bahwa “Apa kita akan melawan dan menghancurkan tirani yang letaknya jauh dengan tirani yang berada di dekat kita?” Pernyataan ini mengatakan pada publik, bahwa di dalam sebuah negara yang telah merdeka akan melahirkan tirani baru, penjajah baru yang lebih sulit untuk di lawan. Hal ini disebabkan karena apabila dahulu, perjuangan kemerdekaan adalah melawan bangsa asing akantetapi perjuangan mengisi kemerdekaan akan melawan bangsa kita sendiri.
Penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, oleh pemerintah sendiri biasanya lahir dalam bentuk kebijakan yang tidak memasyarakat. Kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil. Di sini terjadi penindasan dan kesewenang-wenangan pemerintah Republik yang telah sah dan berdaulat sebagai bangsa. Hari kemerdekaan seharusnya tidak hanya sebagai peringatan akan kesakralan detik-detik lahirnya sebuah negara. Peringatan ini, seharusnya mengajak setiap rakyat untuk mengenang perjuangan para kesatria tanah air dalam merebut kedalautan negara. Sebenarnya, apa yang dahulu di lawan dengan tumpah darah itu? Apakah kemerdekaan di atas kaki sendiri? Atau perjuangan melawan kesewenangan manusia (baca: penguasa) atas manusia yang lainnya. Apabila setelah bangsa ini memproklamasikan diri sebagai bangsa, maka setiap warga negara memiliki kewajiban untuk “menghapuskan segala penjajahan di atas dunia”.
Di tahun-tahun Indonesia muda, kita seringkali menemukan adanya banyak perlawanan sebagai usaha menghapuskan penjajahan seperti yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945. Anggota masyarakat berperan aktif sesuai dengan bidang masing-masing. Ketika sebuah ketimpangan sosial terjadi, kejahatan birokrasi merajalela, biasanya ada kelompok yang berada di tengah dan mengkritisi pemerintah. Hal ini, seperti yang dilakukan berbagai pihak, salah satunya dari golongan sastrawan. Dalam kesempatan kali ini saya mencoba untuk mengetengahkan sajak Pidato Seorang Demonstran karya Mansur Samin, yaitu:
PIDATO SEORANG DEMONSTRAN
Mereka telah tembak teman kita
Ketika mendobrak sekretariat negara
Sekarang jelas bagi saudara
Sampai mana kebenaran hukum di Indonesia.
Ketika kesukaran tambah menjadi
Para menteri sibuk ke luar negeri
Tapi korupsi makin meraja
Sebab percaya keadaan berubah
Rakyat diam saja.
Ketika produksi negara kosong
Para pemimpin asyik ngomong
Tapi harga-harga terus menanjak
Sebab percaya diatasi dengan mupakat
Rakyat masih diam saja.
Di masa gestok rakyat dibunuh
Para menteri saling menuduh
Kaum penjilat mulai berjangkit
Maka fitnah makin berjangkit
Toh rakyat masih terus diam saja.
Mereka diupah oleh jerih orang tua kita
Tapi tak tahu caara terima kasih, bahkan memfitnah:
Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara
Apakah kita masih terus diam saja?
Sajak yang ditulis oleh Mansur Samin di atas memberikan motivasi bagi para generasi muda di dalam melakukan gerakan penyelamatan negara. Banyak kekisruhan yang terjadi, namun pemerintah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, biarkan hukum yang bertindak sebagaimana mestinya. Akantetapi, bagaimana hukum di negara kita ketika menghadapi kasus BLBI maupun kasus Century yang merugikan negara lebih dari 6 trilyun. Akhir-akhir ini, kita disibukkan dengan berbagai macam kasus korupsi yang tidak pernah tuntas. Banyak pejabat korup yang melupakan kesengsaraan rakyat.
Entah dengan data-data yang di dapat atas perhitungan yang bagaimana, pemerintah seringkali mengatakan kalau rakyat berada di dalam kesejahteraan dengan BLT yang diberikan sebulan sekali. Program BLT memberikan bantuan pada rakyat untuk mengatasi kesulitan hidup yang seringkali datang dan tidak mampu diselesaikan dengan BLT tersebut. Kasus yang sangat tragis terjadi, ada seorang ibu yang membakar diri bersama dengan dua orang anaknya karena terlilit hutang 20 ribu rupiah. Hal ini seharusnya menjadi pukulan dan koreksi bagi pemerintah setempat dan pusat bahwa di negara Indonesia yang makmur masih terdapat rakyat yang sengsara karena faktor ekonomi. Melihat kasus-kasus seperti ini, apakah layak apabila para pemimpin di dalam kemewahan mereka mengatakan kalau program pengentasan kemiskinan telah mengalami sukses besar?
Korupsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia juga menjadi bagian dari permasalahan yang serius. Korupsi adalah kejahatan besar yang merugikan negara dan rakyat. Uang yang seharusnya dapat digunakan sebagai media lain dalam mengentaskan kemiskinan dan memberikan kehidupan rakyat yang layak, justru dinikmati oleh golongan tertentu yang dengan tidak bertanggung jawab. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua tahap pemerintahannya menggaungkan akan keseriusan pemberantasan korupsi. Korupsi dianggap sebagai musuh negara yang perlu mendapatkan prioritas. Hal ini digunakan oleh SBY sebagai kredo dalam menarik simpati rakyat. Selama pemerintahan SBY di tahap pertama, banyak para koruptor yang masuk penjara. Rakyat pun membusungkan dada, merasakan kebanggaan pada sang SBY yang telah berhasil membersihkan pemerintahan dari para Tikus Kantor. Walau pun belum tuntas, kinerja pemerintahan SBY di tahap pertama memang patut diacungi jempol.
Kita juga bisa melihat dari sisi lain, bahwa bagaimana para koruptor bisa jera dengan kejahatannya kalau hukuman yang dia peroleh tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukan? Politisi dari Golkar, Bambang Soesatyo mengungkapkan mengenai adanya remisi bagi para koruptor adalah sebagai sikap yang tidak serius atas kredo Presiden di dalam menangai masalah korupsi. Menurutnya, seperti yang dilansir DetikNews tanggal 20 Agustus 2010, secara tidak langsung diungkapkan adanya ketidak-seriusan atau hanya sebagai formalitas belaka usaha pemberantasan korupsi selama ini. Sebagai kosmetik, begitu Bambang S mengungkapkannya.
Berbagai macam kasus yang dapat kita temukan di dalam kehidupan sehar-hari, dapat dilihat sebagai proses pembodohan pada rakyat. Pemerintah seperti sedang bersandiwara atas sesuatu hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Berbagai macam ketimpangan dari BLBI ke Century, dari berbagai penggusuran secara paksa ke masalah lumpur Lapindo yang masih menyisakan masalah. Kita secara bersama-sama melihat ini semua, lantas, kembali ke sajak Pidato Seorang Demonstran: Apa kita masih terus diam saja?
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 21 Agustus 2010
http://www.sastra-indonesia.com/
Setelah 65 tahun bangsa yang kita sebut dengan bangganya sebagai negara Kesatuan Republik Indonesia ini telah merdeka. Tanggal 17 Agustus selalu kita peringati dalam degup jantung keharuan atas kemenangan perjuangan rakyat di seluruh pelosok tanah dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Proklamasi kemerdekaan di hari ke 17 pada bulan Agustus di tahun 1945 merupakan buah dari kerja keras, semangat perjuangan, pengorbanan, darah dan berbagai macam usaha rakyat. Rasa cinta tanah air, kesamaan nasib, dan dorongan kuat untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajahan membawa pada kedaulatan bangsa. Di sekolah-sekolah, kita telah diajari bahwa kita para generasi muda patut bangga atas kemerdekaan bangsa karena beberapa faktor, salah satu faktor yang paling penting adalah bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia bukan atas pemberian dari bangsa lain. Kebanggan itu menjadikan warna merah dan putih sebagai bendera menjadi lebih berarti.
Di dalam sebuah film perjuangan kemerdekaan Amerika, The Patriot, di sana sempat dimunculkan keraguan akan perjuangan kemerdekaan. Sang Benjamin mengungkapkan dan dikutip bebas, bahwa “Apa kita akan melawan dan menghancurkan tirani yang letaknya jauh dengan tirani yang berada di dekat kita?” Pernyataan ini mengatakan pada publik, bahwa di dalam sebuah negara yang telah merdeka akan melahirkan tirani baru, penjajah baru yang lebih sulit untuk di lawan. Hal ini disebabkan karena apabila dahulu, perjuangan kemerdekaan adalah melawan bangsa asing akantetapi perjuangan mengisi kemerdekaan akan melawan bangsa kita sendiri.
Penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, oleh pemerintah sendiri biasanya lahir dalam bentuk kebijakan yang tidak memasyarakat. Kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil. Di sini terjadi penindasan dan kesewenang-wenangan pemerintah Republik yang telah sah dan berdaulat sebagai bangsa. Hari kemerdekaan seharusnya tidak hanya sebagai peringatan akan kesakralan detik-detik lahirnya sebuah negara. Peringatan ini, seharusnya mengajak setiap rakyat untuk mengenang perjuangan para kesatria tanah air dalam merebut kedalautan negara. Sebenarnya, apa yang dahulu di lawan dengan tumpah darah itu? Apakah kemerdekaan di atas kaki sendiri? Atau perjuangan melawan kesewenangan manusia (baca: penguasa) atas manusia yang lainnya. Apabila setelah bangsa ini memproklamasikan diri sebagai bangsa, maka setiap warga negara memiliki kewajiban untuk “menghapuskan segala penjajahan di atas dunia”.
Di tahun-tahun Indonesia muda, kita seringkali menemukan adanya banyak perlawanan sebagai usaha menghapuskan penjajahan seperti yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945. Anggota masyarakat berperan aktif sesuai dengan bidang masing-masing. Ketika sebuah ketimpangan sosial terjadi, kejahatan birokrasi merajalela, biasanya ada kelompok yang berada di tengah dan mengkritisi pemerintah. Hal ini, seperti yang dilakukan berbagai pihak, salah satunya dari golongan sastrawan. Dalam kesempatan kali ini saya mencoba untuk mengetengahkan sajak Pidato Seorang Demonstran karya Mansur Samin, yaitu:
PIDATO SEORANG DEMONSTRAN
Mereka telah tembak teman kita
Ketika mendobrak sekretariat negara
Sekarang jelas bagi saudara
Sampai mana kebenaran hukum di Indonesia.
Ketika kesukaran tambah menjadi
Para menteri sibuk ke luar negeri
Tapi korupsi makin meraja
Sebab percaya keadaan berubah
Rakyat diam saja.
Ketika produksi negara kosong
Para pemimpin asyik ngomong
Tapi harga-harga terus menanjak
Sebab percaya diatasi dengan mupakat
Rakyat masih diam saja.
Di masa gestok rakyat dibunuh
Para menteri saling menuduh
Kaum penjilat mulai berjangkit
Maka fitnah makin berjangkit
Toh rakyat masih terus diam saja.
Mereka diupah oleh jerih orang tua kita
Tapi tak tahu caara terima kasih, bahkan memfitnah:
Kita dituduh mendongkel wibawa kepala negara
Apakah kita masih terus diam saja?
Sajak yang ditulis oleh Mansur Samin di atas memberikan motivasi bagi para generasi muda di dalam melakukan gerakan penyelamatan negara. Banyak kekisruhan yang terjadi, namun pemerintah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, biarkan hukum yang bertindak sebagaimana mestinya. Akantetapi, bagaimana hukum di negara kita ketika menghadapi kasus BLBI maupun kasus Century yang merugikan negara lebih dari 6 trilyun. Akhir-akhir ini, kita disibukkan dengan berbagai macam kasus korupsi yang tidak pernah tuntas. Banyak pejabat korup yang melupakan kesengsaraan rakyat.
Entah dengan data-data yang di dapat atas perhitungan yang bagaimana, pemerintah seringkali mengatakan kalau rakyat berada di dalam kesejahteraan dengan BLT yang diberikan sebulan sekali. Program BLT memberikan bantuan pada rakyat untuk mengatasi kesulitan hidup yang seringkali datang dan tidak mampu diselesaikan dengan BLT tersebut. Kasus yang sangat tragis terjadi, ada seorang ibu yang membakar diri bersama dengan dua orang anaknya karena terlilit hutang 20 ribu rupiah. Hal ini seharusnya menjadi pukulan dan koreksi bagi pemerintah setempat dan pusat bahwa di negara Indonesia yang makmur masih terdapat rakyat yang sengsara karena faktor ekonomi. Melihat kasus-kasus seperti ini, apakah layak apabila para pemimpin di dalam kemewahan mereka mengatakan kalau program pengentasan kemiskinan telah mengalami sukses besar?
Korupsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia juga menjadi bagian dari permasalahan yang serius. Korupsi adalah kejahatan besar yang merugikan negara dan rakyat. Uang yang seharusnya dapat digunakan sebagai media lain dalam mengentaskan kemiskinan dan memberikan kehidupan rakyat yang layak, justru dinikmati oleh golongan tertentu yang dengan tidak bertanggung jawab. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua tahap pemerintahannya menggaungkan akan keseriusan pemberantasan korupsi. Korupsi dianggap sebagai musuh negara yang perlu mendapatkan prioritas. Hal ini digunakan oleh SBY sebagai kredo dalam menarik simpati rakyat. Selama pemerintahan SBY di tahap pertama, banyak para koruptor yang masuk penjara. Rakyat pun membusungkan dada, merasakan kebanggaan pada sang SBY yang telah berhasil membersihkan pemerintahan dari para Tikus Kantor. Walau pun belum tuntas, kinerja pemerintahan SBY di tahap pertama memang patut diacungi jempol.
Kita juga bisa melihat dari sisi lain, bahwa bagaimana para koruptor bisa jera dengan kejahatannya kalau hukuman yang dia peroleh tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukan? Politisi dari Golkar, Bambang Soesatyo mengungkapkan mengenai adanya remisi bagi para koruptor adalah sebagai sikap yang tidak serius atas kredo Presiden di dalam menangai masalah korupsi. Menurutnya, seperti yang dilansir DetikNews tanggal 20 Agustus 2010, secara tidak langsung diungkapkan adanya ketidak-seriusan atau hanya sebagai formalitas belaka usaha pemberantasan korupsi selama ini. Sebagai kosmetik, begitu Bambang S mengungkapkannya.
Berbagai macam kasus yang dapat kita temukan di dalam kehidupan sehar-hari, dapat dilihat sebagai proses pembodohan pada rakyat. Pemerintah seperti sedang bersandiwara atas sesuatu hal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Berbagai macam ketimpangan dari BLBI ke Century, dari berbagai penggusuran secara paksa ke masalah lumpur Lapindo yang masih menyisakan masalah. Kita secara bersama-sama melihat ini semua, lantas, kembali ke sajak Pidato Seorang Demonstran: Apa kita masih terus diam saja?
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 21 Agustus 2010
Rabu, 08 September 2010
Mantan
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Dhimas Gathuk menyandarkan tubuhnya di pematang sawah ketika iring-iringan mobil melaju kencang di jalan setapak yang menuju ke tengah pusat Kelurahan Luruh Indon.
“Pejabat lewat.” Ungkap Dhimas Gathuk tanpa mengangkat kepala. “Jalan kok seperti milik mereka sendiri. Wus… wus… seenaknya sendiri.”
“Halah, Dhi, kok apa-apa kamu komentari. Dan gak ada yang bener buat kamu.” Sahut Kangmas Gothak sambil membersihkan lumpur dengan aliran sungai.
“Hehehehehe.. namanya juga komentator, Kang. Pasti, seenaknya sendiri.” Ungkap Dhimas Gathuk mengangkat kepala menyaksikan Kakangnya yang tengah membungkuk dan menggosok kaki.
Hitam lumpur yang menempel lama kelamaan tersapu air sungai. Warna yang tadinya jernih menjadi keruh. Hitam itu mengalir. Lama kelamaan memudar.
“Kang,” panggil Dhimas Gathuk namun Kakangnya tidak menyahuti atau mengangkat kepala. “sepertinya enak ya jadi pejabat.”
“Sepertinya, Dhi. Wang sinawang.”
“Lha, sudah gajinya besar, jalan dipakai sendiri, Kang. Semua orang suruh minggir.”
“Hehehehehe.. aku gak tahu, Dhi.” Kangmas Gothak naik dari sungai, “Semua itu kan sudah ada jatahnya sendiri.”
“Kok mereka tidak membuat jalan sendiri, Kang. Kan ada rumah dinas. Lha, tidak sekalian minta jalan dinas?”
“Halah, aneh-aneh.”
“Kamu punya banyak kenalan pejabat, Kang. Siapa tahu nanti Kakang bisa jadi pejabat.”
“Heh,”
“Berandai, Kang.” Sahut Dhimas Gathuk, “Dulu si Pak Miko itu juga temanmu di Serikat Rakyat Demokrat to, Kang?”
“Iya. Teman seperjuangan.”
“Nah, Pak Miko kan sudah menjabat. Kok Kakang belum?”
Kangmas Gothak langsung memfokuskan diri pada adiknya. Dhimas Gathuk cukup terkenal dengan sifat isengnya. Menggosipkan pejabat. Mencari seluk beluk kesalahan. Siang ini terlihat berbeda. Kangmas Gothak menyelidik. Saudara muda yang cerewet.
“Kamu ingin aku jadi pejabat, Dhi?”
“Bukan keinginan, Kang, siapa tahu dengan Kakang Gothak menjadi pejabat, nasib orang seperti adikmu ini bisa lebih baik.”
“Aku tidak berani berjanji, Dhi. Terlalu banyak godaan. Mendingan tetap seperti ini saja. Tidak beresiko.”
“Lho, memang resiko apa, Kang?” sahut Dhimas Gathuk sambil bangkit dari tidurannya.
“Kalau aku lupa bagaimana?”
“Lupa pada apa, Kang?”
“Lupa pada perjuangan yang sekarang.”
Dhimas Gathuk kini memfokuskan diri. Mencermati Kakangnya seseksama mungkin. Lalu menggelengkan kepala.
“Sistem itu akan melumatku habis, Dhi. Bau lumpur petani teramat sulit untuk tercium. Aku takut, Dhi, kalau justru lupa.”
Dhimas Gathuk mengedipkan mata dengan cepat. Menyaksikan Kakangnya yang menerawang. Ia melihat kepedihan di mata itu. Kepedihan yang terendam di dalam kalbu dan tak terungkapkan. Mata Kakangnya sudah seperti bola kaca yang berkilauan. Pada saat itu lah, Dhimas Gathuk sedih.
“Kalau tidak mau ya sudah, Kang. Jangan jadi pejabat. Jangan lupa pada perjuanganmu.” Dhimas Gathuk mencoba menarik kata-katanya.
Kangmas Gothak menggelengkan kepala. “Lebih baik seperti ini, Dhi. Tetap bisa berjuang sekuat tenaga. Mempertaruhkan apa pun yang ada. Jangan sampai, justru hilang ingatan akan perjuangan. Karena tidak ada mantan pejuang, Dhi.”
“Iya, Kang. Aku tahu.”
“Halah, sudah, Dhi. Lebih baik kita terus bertani. Menanam untuk memanen.” Ungkap Kangmas Gothak yang kemudian bangkit untuk turun ke sawah kembali.
Dhimas Gathuk masih memandangi Kakangnya. Air yang tadi ditumpahkan, masih utuh. Ketika saudara tua itu bangkit dan menghambur ke lumpur, Dhimas Gathuk merasakan bulu romanya berdiri, “Pejuang tidak boleh lupa dengan perjuangannya, sebab tidak ada mantan pejuang!” pikir Dhimas Gathuk sambil terus mengamati Kakangnya.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 28 Agustus 2010.
http://www.sastra-indonesia.com/
Dhimas Gathuk menyandarkan tubuhnya di pematang sawah ketika iring-iringan mobil melaju kencang di jalan setapak yang menuju ke tengah pusat Kelurahan Luruh Indon.
“Pejabat lewat.” Ungkap Dhimas Gathuk tanpa mengangkat kepala. “Jalan kok seperti milik mereka sendiri. Wus… wus… seenaknya sendiri.”
“Halah, Dhi, kok apa-apa kamu komentari. Dan gak ada yang bener buat kamu.” Sahut Kangmas Gothak sambil membersihkan lumpur dengan aliran sungai.
“Hehehehehe.. namanya juga komentator, Kang. Pasti, seenaknya sendiri.” Ungkap Dhimas Gathuk mengangkat kepala menyaksikan Kakangnya yang tengah membungkuk dan menggosok kaki.
Hitam lumpur yang menempel lama kelamaan tersapu air sungai. Warna yang tadinya jernih menjadi keruh. Hitam itu mengalir. Lama kelamaan memudar.
“Kang,” panggil Dhimas Gathuk namun Kakangnya tidak menyahuti atau mengangkat kepala. “sepertinya enak ya jadi pejabat.”
“Sepertinya, Dhi. Wang sinawang.”
“Lha, sudah gajinya besar, jalan dipakai sendiri, Kang. Semua orang suruh minggir.”
“Hehehehehe.. aku gak tahu, Dhi.” Kangmas Gothak naik dari sungai, “Semua itu kan sudah ada jatahnya sendiri.”
“Kok mereka tidak membuat jalan sendiri, Kang. Kan ada rumah dinas. Lha, tidak sekalian minta jalan dinas?”
“Halah, aneh-aneh.”
“Kamu punya banyak kenalan pejabat, Kang. Siapa tahu nanti Kakang bisa jadi pejabat.”
“Heh,”
“Berandai, Kang.” Sahut Dhimas Gathuk, “Dulu si Pak Miko itu juga temanmu di Serikat Rakyat Demokrat to, Kang?”
“Iya. Teman seperjuangan.”
“Nah, Pak Miko kan sudah menjabat. Kok Kakang belum?”
Kangmas Gothak langsung memfokuskan diri pada adiknya. Dhimas Gathuk cukup terkenal dengan sifat isengnya. Menggosipkan pejabat. Mencari seluk beluk kesalahan. Siang ini terlihat berbeda. Kangmas Gothak menyelidik. Saudara muda yang cerewet.
“Kamu ingin aku jadi pejabat, Dhi?”
“Bukan keinginan, Kang, siapa tahu dengan Kakang Gothak menjadi pejabat, nasib orang seperti adikmu ini bisa lebih baik.”
“Aku tidak berani berjanji, Dhi. Terlalu banyak godaan. Mendingan tetap seperti ini saja. Tidak beresiko.”
“Lho, memang resiko apa, Kang?” sahut Dhimas Gathuk sambil bangkit dari tidurannya.
“Kalau aku lupa bagaimana?”
“Lupa pada apa, Kang?”
“Lupa pada perjuangan yang sekarang.”
Dhimas Gathuk kini memfokuskan diri. Mencermati Kakangnya seseksama mungkin. Lalu menggelengkan kepala.
“Sistem itu akan melumatku habis, Dhi. Bau lumpur petani teramat sulit untuk tercium. Aku takut, Dhi, kalau justru lupa.”
Dhimas Gathuk mengedipkan mata dengan cepat. Menyaksikan Kakangnya yang menerawang. Ia melihat kepedihan di mata itu. Kepedihan yang terendam di dalam kalbu dan tak terungkapkan. Mata Kakangnya sudah seperti bola kaca yang berkilauan. Pada saat itu lah, Dhimas Gathuk sedih.
“Kalau tidak mau ya sudah, Kang. Jangan jadi pejabat. Jangan lupa pada perjuanganmu.” Dhimas Gathuk mencoba menarik kata-katanya.
Kangmas Gothak menggelengkan kepala. “Lebih baik seperti ini, Dhi. Tetap bisa berjuang sekuat tenaga. Mempertaruhkan apa pun yang ada. Jangan sampai, justru hilang ingatan akan perjuangan. Karena tidak ada mantan pejuang, Dhi.”
“Iya, Kang. Aku tahu.”
“Halah, sudah, Dhi. Lebih baik kita terus bertani. Menanam untuk memanen.” Ungkap Kangmas Gothak yang kemudian bangkit untuk turun ke sawah kembali.
Dhimas Gathuk masih memandangi Kakangnya. Air yang tadi ditumpahkan, masih utuh. Ketika saudara tua itu bangkit dan menghambur ke lumpur, Dhimas Gathuk merasakan bulu romanya berdiri, “Pejuang tidak boleh lupa dengan perjuangannya, sebab tidak ada mantan pejuang!” pikir Dhimas Gathuk sambil terus mengamati Kakangnya.
Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 28 Agustus 2010.
Kamis, 05 Agustus 2010
Hegemoni Sastra: Media Pengkultusan dan Perlawanan
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Karya sastra sebagai lembaga masyarakat yang bermediumkan bahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan sosiologi pengarangnya. Latar belakang pengarang memiliki peran yang besar dalam memberikan nuansa dan nilai dalam proses penciptaan karya sastra. Latar belakang tersebut, di dalamnya merangkum berbagai macam kondisi dimana sang pengarang memijakkan kaki, entah itu kondisi politik yang sedang bergejolak, maupun ideologi pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan di dalam proses penulisan karya sastra dapat dikatakan sebagai media yang tidak bersifat individual, melainkan di dalamnya mengandung sifat evolusi-sosial.
Hampir selama lebih dari 30 tahun, murid sekolah dan mahasiswa telah disuguhi karya sastra yang notabene telah diakui oleh pemerintah yang berkuasa (Baca: Orde Baru) dan karya sastra itu (oleh pemerintah) dikatakan sebagai sastra yang bernilai tinggi apabila di dalamnya mengandung nilai yang mendukung proses pembangunan. Sehingga, karya sastra tidak lagi dipandang sebagai karya yang memiliki nilai sosial dan nilai estetik melainkan nilai karya sastra terkadang ditentukan oleh haluan politik yang termanifestasikan di dalamnya. Di masa itu, sastrawan yang berada di luar paham politik pemerintah akan mendapatkan tekanan dan penyempitan ruang gerak.
Fenomena ini sudah terjadi semenjak Negara Kesatuan Republik Indonesia ini belum dilahirkan, yaitu pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan. Atau juga terdapat di dalam proses masuknya agama-agama non pribumi masuk ke nusantara yang dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India. Pada masa ini, sastra (dan juga seni secara umum) menempati posisi sebagai media untuk membantu proses penyebaran agama atau salah satu faham. Misalnya, pada masa kerajaan yang para sastrawannya secara penuh mendapatkan perlindungan dari para raja yang kemudian diminta (baca juga: diperintahkan) untuk menuliskan sejarah besar dari kerjaan raja tersebut. Proses kerja semacam ini, seolah-olah bahwa sastra dijadikan sebagai media pengkultusan akan kekuasaan seorang raja.
Kondisi sosial masyarakat memberikan arahan yang nyata bagi para pengarang dalam proses penciptaan. Dalam teori yang dikemukakan oleh Gramsci mengenai teori hegemoni, bahwa seni (dan sastra) digunakan sebagai alat untuk melakukan hegemoni dengan cara melakukan dominasi terhadap budaya dan ideologi masyarakat. Hal ini bertujuan untuk melakukan gerakan kontrol sosial.
Pemahaman semacam ini, menempatkan sastra sebagai media pendidikan (juga sebagai propaganda) dalam usaha melakukan hememoni politik dan ideologi. Sastra dapat dijadikan sebagai media membunuh kreatifitas seseorang yang memiliki pandangan berbeda dengan penguasa. Walau demikian, pada dasarnya, sastra (dapat dikatakan harus) memiliki tendensi dan menensasi sebab penciptaan sebuah karya sastra merupakan proses kreatifitas dari intuisi, persepsi dan imajinasi yang bergantung pada kondisi kejiwaan serta kerohanian pengarang.
Tendensi dan manensasi di dalam karya sastra dapat digunakan untuk melakukan pendidikan politik, sosial, keagamaan, budaya, dan lain sebagainya, kepada masyarakat pembaca. Maksud (tendensi) yang terdapat di dalam sebuah karya sastra biasanya dipengaruhi oleh ideologi pengarang.
Misalnya, karya-karya seniman Lekra, tendensi yang diemban melalui karya mereka biasanya sebagai peneguhan dan sekaligus penyebaran ajaran marxisme-leninisme dengan landasan filsafat MDH. Tendensi di sastra marxis memiliki filsafat yang normatif, dengan peninjauan permasalahan secara epistemologi. Pesan yang dikandungnya pun menjurus pada realisme sosialis, yang mana dijelaskan bahwa sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat banyak. Tendensi tidak dibawa secara eksplisit, melainkan melakukan penggambaran secara historis atas konflik sosial yang dilukiskan.
Karya sastra tidak dilahirkan secara murni dari ide dan pemikiran seorang penulis di dalam kondisi terkekang. Sastra lahir berdasarkan mekanisme yang dialektis dengan melihat kondisi sosio-kultural. Pandangan yang menyatakan bahwa sastra sebagai pandangan dunia, dapat ditinjau dari dasar bahwa sastra memiliki ide dan pemikiran, pesan dan tujuan, tema dan amanat, dan juga seluruh deferensi kultural yang ada di dalam kehidupan masyarakat.
Dilihat dari fungsi sosial yang dibawa karya sastra, dia dapat dijadikan sebagai media hegemoni sosial yang pernah dilakukan pada zaman dahulu, yaitu zaman kerajaan dan Orde Baru. Sastra dapat dijadikan juga sebagai media propaganda untuk membangkitkan kesadaran, yang sekaligus mengajak masyarakat pembaca untuk melawan dominasi ideologi penguasa (yang belum tentu bahwa penguasa mengemban ideologi negara).
Bantul, 30 Juli 2010
Studio Semangat Desa Sejahtera
http://www.sastra-indonesia.com/
Karya sastra sebagai lembaga masyarakat yang bermediumkan bahasa memiliki keterkaitan yang erat dengan sosiologi pengarangnya. Latar belakang pengarang memiliki peran yang besar dalam memberikan nuansa dan nilai dalam proses penciptaan karya sastra. Latar belakang tersebut, di dalamnya merangkum berbagai macam kondisi dimana sang pengarang memijakkan kaki, entah itu kondisi politik yang sedang bergejolak, maupun ideologi pengarang itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan di dalam proses penulisan karya sastra dapat dikatakan sebagai media yang tidak bersifat individual, melainkan di dalamnya mengandung sifat evolusi-sosial.
Hampir selama lebih dari 30 tahun, murid sekolah dan mahasiswa telah disuguhi karya sastra yang notabene telah diakui oleh pemerintah yang berkuasa (Baca: Orde Baru) dan karya sastra itu (oleh pemerintah) dikatakan sebagai sastra yang bernilai tinggi apabila di dalamnya mengandung nilai yang mendukung proses pembangunan. Sehingga, karya sastra tidak lagi dipandang sebagai karya yang memiliki nilai sosial dan nilai estetik melainkan nilai karya sastra terkadang ditentukan oleh haluan politik yang termanifestasikan di dalamnya. Di masa itu, sastrawan yang berada di luar paham politik pemerintah akan mendapatkan tekanan dan penyempitan ruang gerak.
Fenomena ini sudah terjadi semenjak Negara Kesatuan Republik Indonesia ini belum dilahirkan, yaitu pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan. Atau juga terdapat di dalam proses masuknya agama-agama non pribumi masuk ke nusantara yang dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India. Pada masa ini, sastra (dan juga seni secara umum) menempati posisi sebagai media untuk membantu proses penyebaran agama atau salah satu faham. Misalnya, pada masa kerajaan yang para sastrawannya secara penuh mendapatkan perlindungan dari para raja yang kemudian diminta (baca juga: diperintahkan) untuk menuliskan sejarah besar dari kerjaan raja tersebut. Proses kerja semacam ini, seolah-olah bahwa sastra dijadikan sebagai media pengkultusan akan kekuasaan seorang raja.
Kondisi sosial masyarakat memberikan arahan yang nyata bagi para pengarang dalam proses penciptaan. Dalam teori yang dikemukakan oleh Gramsci mengenai teori hegemoni, bahwa seni (dan sastra) digunakan sebagai alat untuk melakukan hegemoni dengan cara melakukan dominasi terhadap budaya dan ideologi masyarakat. Hal ini bertujuan untuk melakukan gerakan kontrol sosial.
Pemahaman semacam ini, menempatkan sastra sebagai media pendidikan (juga sebagai propaganda) dalam usaha melakukan hememoni politik dan ideologi. Sastra dapat dijadikan sebagai media membunuh kreatifitas seseorang yang memiliki pandangan berbeda dengan penguasa. Walau demikian, pada dasarnya, sastra (dapat dikatakan harus) memiliki tendensi dan menensasi sebab penciptaan sebuah karya sastra merupakan proses kreatifitas dari intuisi, persepsi dan imajinasi yang bergantung pada kondisi kejiwaan serta kerohanian pengarang.
Tendensi dan manensasi di dalam karya sastra dapat digunakan untuk melakukan pendidikan politik, sosial, keagamaan, budaya, dan lain sebagainya, kepada masyarakat pembaca. Maksud (tendensi) yang terdapat di dalam sebuah karya sastra biasanya dipengaruhi oleh ideologi pengarang.
Misalnya, karya-karya seniman Lekra, tendensi yang diemban melalui karya mereka biasanya sebagai peneguhan dan sekaligus penyebaran ajaran marxisme-leninisme dengan landasan filsafat MDH. Tendensi di sastra marxis memiliki filsafat yang normatif, dengan peninjauan permasalahan secara epistemologi. Pesan yang dikandungnya pun menjurus pada realisme sosialis, yang mana dijelaskan bahwa sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat banyak. Tendensi tidak dibawa secara eksplisit, melainkan melakukan penggambaran secara historis atas konflik sosial yang dilukiskan.
Karya sastra tidak dilahirkan secara murni dari ide dan pemikiran seorang penulis di dalam kondisi terkekang. Sastra lahir berdasarkan mekanisme yang dialektis dengan melihat kondisi sosio-kultural. Pandangan yang menyatakan bahwa sastra sebagai pandangan dunia, dapat ditinjau dari dasar bahwa sastra memiliki ide dan pemikiran, pesan dan tujuan, tema dan amanat, dan juga seluruh deferensi kultural yang ada di dalam kehidupan masyarakat.
Dilihat dari fungsi sosial yang dibawa karya sastra, dia dapat dijadikan sebagai media hegemoni sosial yang pernah dilakukan pada zaman dahulu, yaitu zaman kerajaan dan Orde Baru. Sastra dapat dijadikan juga sebagai media propaganda untuk membangkitkan kesadaran, yang sekaligus mengajak masyarakat pembaca untuk melawan dominasi ideologi penguasa (yang belum tentu bahwa penguasa mengemban ideologi negara).
Bantul, 30 Juli 2010
Studio Semangat Desa Sejahtera
Kamis, 01 Juli 2010
Pecahannya Merekahkan Pelangi
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Siang hari, sewaktu matahari baru saja merangkaki langit, pada kehangatannya, dua manusia, lelaki-perempuan berjalan menyusuri pasir yang gemerisik membisik. Mereka bergandengan tangan, saling merekatkan diri agar salah satunya tidak terseret begitu saja. Agar keduanya dapat berjalan seiring, di jalan yang sama untuk saling mereguk hasrat, kemurnian asa, renyahnya pemahaman atau manisnya daging yang basah. Dan, mereka pun terus berjalan dengan sama-sama menggelayut ke mega-mega hati yang di sana terdapat sungai harapan yang mengalir di tengah malam.
Lagi-lagi, lelaki-perempuan itu masih lelaki-perempuan yang kemarin-kemarin juga. Si Lelaki Pendosa yang melangkah ringan di atas kakinya yang berlumur dosa-dosa perjalanan, dan seorang Perempuan Pendoa yang malu-malu tersenyum menghadapi getirnya penderitaan. Mereka berdua adalah sepasang kekasih, yang selalu bersama di jalan-jalan yang selalu di tempuhi. Selayaknya kehidupan di sana ada sepasang kekasih. Malam bercumbu dengan siang. Pagi bersetubuh dengan sore. Hitam mengecapi aroma cinta si putih. Ini lah pasangan yang lainnnya, Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa.
Perjalanan mereka kini sampai pada papan beton yang menjorok ke lautan. Papan itu, terbaring panjang, pada ujungnya diapit ratusan anak-anak yang menanggung gelombang yang datang dan menghantam. Ombak berdebur dan langsung pecah begitu saja ketika menghantam balok-balok beton yang dingin menyapa. Air laut yang memercik, menjadi tirai dan naungan bagi Lelaki Pendosa dan kekasihnya, Perempuan Pendoa dari panas matahari.
Pada detik yang berganti dengan begitu cepatnya, si Perempuan Pendoa berlari ke ujung papan, dia mencondongkan kepalanya ke laut dimana ombak terus menghantam dengan keras. Perempuan Pendoa menatap ombak dengan girang. Pandangannya menatap penuh cahaya saat ombak bergulung dan langsung mendentum di di bawah kakinya.
“Mas!” panggilnya pada Lelaki Pendosa yang menyaksikan dirinya dari kejauhan. “Sini, Mas, temani aku!” ucap Perempuan Pendoa setengah manja dengan berteriak.
Lelaki yang berdiri mematung di belakang jauh pun, mendekati dengan lambat. Pandangannya terjurus pada ombak yang bergulung dan membentur dinding papan dengan begitu kerasnya. Air yang dipecah kerasnya beton langsung menghabur menjadi tirai selayaknya hujan di pagi hari ketika matahari baru saja memancar. Sang Lelaki Pendosa menaiki beton dimana si Perempuan Pendoa berdiri. Dia ragu sampai keduanya telah mentau di sana. Menanti ombak yang menghambur.
Tidak lama, air pun bertaburan selayaknya daunan yang berguguran…
“Ada pelangi, Maaass!!! Teriak si Perempuan Pendoa dalam keriangan yang penuh arti bagi kekasihnya.
“Kamu bahagia, Sayang?” tanya Lelaki Pendosa dengan menahan rasa harap bahwa kekasihnya akan mengatakan: Ya. “Kamu bahagia, Kekasihku, Istriku, Semangatku, Kehidupanku, Perempuan Pendoaku?” dia mengulangi pertanyaannya.
Perempuan Pendoa hanya tersenyum sambil memandangi gelombang yang datang dan pecah berhaburan di sekeliling mereka. Air itu menerpa selayaknya hujan, lalau pecahannya menciptakan pelangi yang melengkung begitu dekat dengan sepasang kekasih itu: Pendoa dan Pendosa.
“Aku bahagia, Mas!” ucap Perempuan Pendoa dalam senyuman sambil menggenggam erat tangan kekasihnya ketika ombak kembali menghambur bagai hujan dan menciptakan pelangi di sana.
“Terima kasih, Sayang…!!!” ucap Lelaki Pendosa sambil melemparkan sekecup cium pada rambut kekasihnya. “Ah, Dia menyimpan banyak misteri di dalam cakrawala itu. Misteri yang indah, ketakutan yang indah, kebahagiaan yang memabukkan.” Ucapnya sambil melemparkan pandangan jauh ke tengah laut.
“Ketakutan,” ucap Perempuan Pendoa dalam desahan. “kamu takut pada kematian, Mas?”
Lelaki Pendosa pun menggelengkan kepala. “Kematian, jalan menuju Tuhan. Kenapa musti takut mati? Kalau setelah mati kita akan bertemu dengan Zat yang telah menciptakan kita.”
“Kenapa banyak manusia takut mati?”
“Sebab mereka takut berpisah dengan dunianya!” Jawab Lelaki Pendosa dalam senyuman kecil. “Manusia terlalu takut kehilangan dunianya, sebab mungkin saja mereka tidak yakin kalau setelah kehidupan ini ada kehidupan selanjutnya. Mungkin, keyakinan mereka pada Allah perlu dipertanyakan oleh diri mereka sendiri.”
“Kamu tidak takut mati, Mas?”
Lelaki Pendosa menggelengkan kepala, “Tidak!!!” jawabnya dalam senyuman lebar. “Dalam tapakan perjalanan jauhku, aku seringkali mendengar alam raya mentasbihkan Allah, Tuhan semesta alam. Gemuruh ombak ini pun sedang bertasbih ketika menghambur ke pantai dan pecah.”
“Kamu bisa mendengarkannya, Mas? Dzikir itu..”
“Sesekali aku mendengarnya. Dari Ar-Rahman; Ar-Rahim; Al-Malik; Al-Quddus; Al-Salam; Al-Mu’min; Al-Muhaimin; Al-Aziz; Al-Jabbar; Al-Mutakabbir; Al-Khaliq; Al-Bari; Al-Musawwir; Al-Ghaffar; Al-Qahhar; Al-Wahhab; Al-Razzaq; Al-Fattah; Al-’Alim; Al-Qabidh; Al-Basit; Al-Khafidh; Ar-Rafi’; Al-Mu’izz; Al-Muzill; As-Sami’; Al-Basir; Al-Hakam; Al-’Adl; Al-Latif; Al-Khabir; Al-Halim; Al-’Azim; Al-Ghafur; Asy-Syakur; Al-’Aliy; Al-Kabir; Al-Hafiz; Al-Muqit; Al-Hasib; Al-Jalil; Al-Karim; Ar-Raqib; Al-Mujib; Al-Wasi’; Al-Hakim; Al-Wadud; Al-Majid; Al-Ba’ith; Asy-Syahid; Al-Haqq; Al-Wakil; Al-Qawiy; Al-Matin; Al-Waliy; Al-Hamid; Al-Muhsi; Al-Mubdi; Al-Mu’id; Al-Muhyi; Al-Mumit; Al-Hayy; Al-Qayyum; Al-Wajid; Al-Majid; Al-Wahid; Al-Ahad; As-Samad; Al-Qadir; Al-Muqtadir; Al-Muqaddim; Al-Mu’akhkhir; Al-Awwal; Al-Akhir; Az-Zahir; Al-Batin; Al-Wali; Al-Muta’ali; Al-Barr; At-Tawwab; Al-Muntaqim; Al-’Afuw; Ar-Ra’uf; Malik-ul-Mulk; Dzul-Jalal-Wal-Ikram; Al-Muqsit; Al-Jami’;Al-Ghaniy; Al-Mughni; Al-Mani’; Al-Darr; Al-Nafi’; Al-Nur; Al-Hadi; Al-Badi’; Al-Baqi; Al-Warith; Ar-Rasyid; dan As-Sabur. Kemudian dalam keheningan yang indah, alam raya bertasbih: Laa ilaaha illallaah.”
Ombak kembali menghambur dengan sangat keras. Air terpecah begitu saja ketika menghantam papan beton yang lama kelamaan terkikis lembut dan asinnya air laut. Keheningan merebak pada suasana hati Lelaki Pendosa. Pandangannya terjurus pada Perempuan Pendoa yang menikmati pelangi yang tercipta. Lelaki Pendosa tersenyum dengan sederhana, sedangkan di dalam hatinya berdengung nada yang bersahutan: Alhamdulillaah! Ombak datang kembali lebih besar, menghantam pantai dan pecah. Air berhamburan membasahi tubuh Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa yang telah menjadi satu. Lalu dari ombak yang terpecah, pecahannya merekahkan pelangi.
Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks,
Minggu, Selasa 29 Juni 2010
http://www.sastra-indonesia.com/
Siang hari, sewaktu matahari baru saja merangkaki langit, pada kehangatannya, dua manusia, lelaki-perempuan berjalan menyusuri pasir yang gemerisik membisik. Mereka bergandengan tangan, saling merekatkan diri agar salah satunya tidak terseret begitu saja. Agar keduanya dapat berjalan seiring, di jalan yang sama untuk saling mereguk hasrat, kemurnian asa, renyahnya pemahaman atau manisnya daging yang basah. Dan, mereka pun terus berjalan dengan sama-sama menggelayut ke mega-mega hati yang di sana terdapat sungai harapan yang mengalir di tengah malam.
Lagi-lagi, lelaki-perempuan itu masih lelaki-perempuan yang kemarin-kemarin juga. Si Lelaki Pendosa yang melangkah ringan di atas kakinya yang berlumur dosa-dosa perjalanan, dan seorang Perempuan Pendoa yang malu-malu tersenyum menghadapi getirnya penderitaan. Mereka berdua adalah sepasang kekasih, yang selalu bersama di jalan-jalan yang selalu di tempuhi. Selayaknya kehidupan di sana ada sepasang kekasih. Malam bercumbu dengan siang. Pagi bersetubuh dengan sore. Hitam mengecapi aroma cinta si putih. Ini lah pasangan yang lainnnya, Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa.
Perjalanan mereka kini sampai pada papan beton yang menjorok ke lautan. Papan itu, terbaring panjang, pada ujungnya diapit ratusan anak-anak yang menanggung gelombang yang datang dan menghantam. Ombak berdebur dan langsung pecah begitu saja ketika menghantam balok-balok beton yang dingin menyapa. Air laut yang memercik, menjadi tirai dan naungan bagi Lelaki Pendosa dan kekasihnya, Perempuan Pendoa dari panas matahari.
Pada detik yang berganti dengan begitu cepatnya, si Perempuan Pendoa berlari ke ujung papan, dia mencondongkan kepalanya ke laut dimana ombak terus menghantam dengan keras. Perempuan Pendoa menatap ombak dengan girang. Pandangannya menatap penuh cahaya saat ombak bergulung dan langsung mendentum di di bawah kakinya.
“Mas!” panggilnya pada Lelaki Pendosa yang menyaksikan dirinya dari kejauhan. “Sini, Mas, temani aku!” ucap Perempuan Pendoa setengah manja dengan berteriak.
Lelaki yang berdiri mematung di belakang jauh pun, mendekati dengan lambat. Pandangannya terjurus pada ombak yang bergulung dan membentur dinding papan dengan begitu kerasnya. Air yang dipecah kerasnya beton langsung menghabur menjadi tirai selayaknya hujan di pagi hari ketika matahari baru saja memancar. Sang Lelaki Pendosa menaiki beton dimana si Perempuan Pendoa berdiri. Dia ragu sampai keduanya telah mentau di sana. Menanti ombak yang menghambur.
Tidak lama, air pun bertaburan selayaknya daunan yang berguguran…
“Ada pelangi, Maaass!!! Teriak si Perempuan Pendoa dalam keriangan yang penuh arti bagi kekasihnya.
“Kamu bahagia, Sayang?” tanya Lelaki Pendosa dengan menahan rasa harap bahwa kekasihnya akan mengatakan: Ya. “Kamu bahagia, Kekasihku, Istriku, Semangatku, Kehidupanku, Perempuan Pendoaku?” dia mengulangi pertanyaannya.
Perempuan Pendoa hanya tersenyum sambil memandangi gelombang yang datang dan pecah berhaburan di sekeliling mereka. Air itu menerpa selayaknya hujan, lalau pecahannya menciptakan pelangi yang melengkung begitu dekat dengan sepasang kekasih itu: Pendoa dan Pendosa.
“Aku bahagia, Mas!” ucap Perempuan Pendoa dalam senyuman sambil menggenggam erat tangan kekasihnya ketika ombak kembali menghambur bagai hujan dan menciptakan pelangi di sana.
“Terima kasih, Sayang…!!!” ucap Lelaki Pendosa sambil melemparkan sekecup cium pada rambut kekasihnya. “Ah, Dia menyimpan banyak misteri di dalam cakrawala itu. Misteri yang indah, ketakutan yang indah, kebahagiaan yang memabukkan.” Ucapnya sambil melemparkan pandangan jauh ke tengah laut.
“Ketakutan,” ucap Perempuan Pendoa dalam desahan. “kamu takut pada kematian, Mas?”
Lelaki Pendosa pun menggelengkan kepala. “Kematian, jalan menuju Tuhan. Kenapa musti takut mati? Kalau setelah mati kita akan bertemu dengan Zat yang telah menciptakan kita.”
“Kenapa banyak manusia takut mati?”
“Sebab mereka takut berpisah dengan dunianya!” Jawab Lelaki Pendosa dalam senyuman kecil. “Manusia terlalu takut kehilangan dunianya, sebab mungkin saja mereka tidak yakin kalau setelah kehidupan ini ada kehidupan selanjutnya. Mungkin, keyakinan mereka pada Allah perlu dipertanyakan oleh diri mereka sendiri.”
“Kamu tidak takut mati, Mas?”
Lelaki Pendosa menggelengkan kepala, “Tidak!!!” jawabnya dalam senyuman lebar. “Dalam tapakan perjalanan jauhku, aku seringkali mendengar alam raya mentasbihkan Allah, Tuhan semesta alam. Gemuruh ombak ini pun sedang bertasbih ketika menghambur ke pantai dan pecah.”
“Kamu bisa mendengarkannya, Mas? Dzikir itu..”
“Sesekali aku mendengarnya. Dari Ar-Rahman; Ar-Rahim; Al-Malik; Al-Quddus; Al-Salam; Al-Mu’min; Al-Muhaimin; Al-Aziz; Al-Jabbar; Al-Mutakabbir; Al-Khaliq; Al-Bari; Al-Musawwir; Al-Ghaffar; Al-Qahhar; Al-Wahhab; Al-Razzaq; Al-Fattah; Al-’Alim; Al-Qabidh; Al-Basit; Al-Khafidh; Ar-Rafi’; Al-Mu’izz; Al-Muzill; As-Sami’; Al-Basir; Al-Hakam; Al-’Adl; Al-Latif; Al-Khabir; Al-Halim; Al-’Azim; Al-Ghafur; Asy-Syakur; Al-’Aliy; Al-Kabir; Al-Hafiz; Al-Muqit; Al-Hasib; Al-Jalil; Al-Karim; Ar-Raqib; Al-Mujib; Al-Wasi’; Al-Hakim; Al-Wadud; Al-Majid; Al-Ba’ith; Asy-Syahid; Al-Haqq; Al-Wakil; Al-Qawiy; Al-Matin; Al-Waliy; Al-Hamid; Al-Muhsi; Al-Mubdi; Al-Mu’id; Al-Muhyi; Al-Mumit; Al-Hayy; Al-Qayyum; Al-Wajid; Al-Majid; Al-Wahid; Al-Ahad; As-Samad; Al-Qadir; Al-Muqtadir; Al-Muqaddim; Al-Mu’akhkhir; Al-Awwal; Al-Akhir; Az-Zahir; Al-Batin; Al-Wali; Al-Muta’ali; Al-Barr; At-Tawwab; Al-Muntaqim; Al-’Afuw; Ar-Ra’uf; Malik-ul-Mulk; Dzul-Jalal-Wal-Ikram; Al-Muqsit; Al-Jami’;Al-Ghaniy; Al-Mughni; Al-Mani’; Al-Darr; Al-Nafi’; Al-Nur; Al-Hadi; Al-Badi’; Al-Baqi; Al-Warith; Ar-Rasyid; dan As-Sabur. Kemudian dalam keheningan yang indah, alam raya bertasbih: Laa ilaaha illallaah.”
Ombak kembali menghambur dengan sangat keras. Air terpecah begitu saja ketika menghantam papan beton yang lama kelamaan terkikis lembut dan asinnya air laut. Keheningan merebak pada suasana hati Lelaki Pendosa. Pandangannya terjurus pada Perempuan Pendoa yang menikmati pelangi yang tercipta. Lelaki Pendosa tersenyum dengan sederhana, sedangkan di dalam hatinya berdengung nada yang bersahutan: Alhamdulillaah! Ombak datang kembali lebih besar, menghantam pantai dan pecah. Air berhamburan membasahi tubuh Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa yang telah menjadi satu. Lalu dari ombak yang terpecah, pecahannya merekahkan pelangi.
Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks,
Minggu, Selasa 29 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar