Tampilkan postingan dengan label Denny Mizhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Denny Mizhar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

Pertunjukan Teater Negri Sungsang dan Silaturrahmi Budaya

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com


Sore tampak cerah, orang-orang sedang menata barang dagangannya, berharap mengais rejeki di sebuah pagelaran teater. Desa Wisata Jono Kecatan Temayang Kabupaten Bojonegoro akan ada pergelaran Teater dari Komunitas Suket Indonesia dari Jombang. Kali ini mereka akan menampilkan Negri Sungsang. Desa Wisata Jono adalah tempat perdana yakni pertunjukan teater Komunitas Suket Indonesia dengan kalaborasi dengan Komunitas Jaran Kepang Wahyu Budaya Mojowarno pada Minggu, 22 Januarai 2012.

Jumat, 27 Januari 2012

Setahun Pelangi Sastra Malang

Denny Mizhar
__Pelangi Sastra Malang

Pada mulanya adalah pertemuan yang sering terjadi antara saya dan Ragil Supriyanto yang biasa dipanggil Ragil Sukriwul. Saya diajak gabung di Komunitas Mozaik Malang dengan gerak yang merambah dunia seni dan sastra. Tetapi saya belum intens, hanya ketika Mozaik dengan penerbitannya menggarap antologi cerpen yang diberi judul “Pledoi: Pelangi Sastra Malang dalam cerpen” saya dimintanya untuk memegang tanggung jawab di bagian produksi: membantu mencari dana penerbitan hingga buku tersebut terbit pada tahun 2009.

Kamis, 10 November 2011

Kisah Lebaran Yang Ironis

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam menyambut lebaran Idhul Fitri ada tradisi di Indonesia yang tiap tahunnya tak pernah terlewatkan, yakni mudik ke kampung halaman dan silaturrahmi antar keluarga juga tetangga. Hal tersebut menandakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan yang perlu dirayakan dengan penuh makna. Tetapi, apakah semua masyarakat Indonesia yang beragama Islam dapat menikmati perayaan tersebut?

Lebaran Idhul Fitri adalah peringatan hari besar agama yang berbaur dengan tradisi budaya, kadang kala menyisakan duka. Adapun kedukaan yang menyelimuti perayaan lebaran di antaranya: tidak bisa pulang ke kampung karena tidak mempunyai biaya, tidak dapat tiket kendaraan karena terlalu banyaknya orang yang pulang kampung, kemacetan lalu lintas, kemiskinan dan lain sebagainya.

Kisah-kisah tersebut dapat dibaca lewat karya cepen Umar Kayam yang banyak bercerita tentang lebaran. Lebaran dalam cerpen Umar Kayam kisahnya kebanyakan Ironi atau kedukaan. Harusnya lebaran dapat dinikmati dengan kegembiraan dan penuh makna, akan tetapi sebaliknya. Dalam cerpennya yang berjudul “Ke Solo, Ke Njanti” Tokoh Ibu dan dua anaknya sudah membeli karcis bus menuju Wonogiri. Namun, mereka tidak dapat pulang kampung dikarenakan banyaknya calon pemudik di terminal bus hingga mereka tidak dapat masuk ke dalam bus. Problemnya, tidak terjadi pada beberapa hari menjelang Lebaran tetapi pada hari pertama dan kedua Lebaran. Pada kenyataannya dua hari Lebaran, masih banyak orang yang akan pulang ke kampung halaman. Padahal Ibu tersebut sudah berjanji pada anaknya akan pulang kampung halaman, dengan persiapan sudah dilakukan selama tiga tahun. Tokoh ibu itupun akhirnya kembali lagi bekerja pada majikannya, kecewa tidak dapat pulang ke kampung halaman meski menghibur anak-anaknya dengan diajak jalan-jalan.

Begitu pula dalam cerpen yang berjudul “Menjelang Lebaran”, Umar Kayam masih berkisah tentang keluarga yang tidak jadi pulang ke kampung halaman. Tersebab Kamil, suami Sri kena PHK dari tempatnya bekerjanya. Sri dan Kamil yang sudah berjanji pada dua anaknya untuk pulang kampung halaman, tidak jadi. Bahkan pembantunya yang sudah bekerja selama sepuluh tahun tidak digaji meskipun masih boleh tetap tinggal dalam keluarga mereka.

Lain lagi dengan cerpen yang berjudul “Sardi” yang berkisah kenekatan tokoh Sardi, kalau dalam cerpen “Ke Solo, Ke Njanti” persoalannya banyaknya orang yang juga pulang ke kampung halaman dan cerpen “Menjelang Lebaran” adalah karena kena PHK dan harus berfikir ulang akan hidup keluarga. Kenekatan tokoh Sardi untuk pulang ke kampung halaman dengan cara menilep uang majikannya karena bisiskan dari syaitan, uang yang didapatkan dari gaji hanya cukup untuk naik kendaraan saja. Akhirnya, cek yang dicairkan Sardi tidak diserahkannya kepada majikannya, tetapi dia bawa ke kampung halaman dan dibagi-bagikannya kepada sanak familinya. Dengan begitu Sardi yang pada awalnya ngotot untuk berangkat ke Jakarta kini tidak berani lagi kembali.

Dari tiga cerpen yang ditulis oleh Umar Kayam yang kesemuanya terhimpun dalam buku kumpulan cerpen “Lebaran di Karet, di Karet…” yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2002. Cerpen-cerpen tersebut menggambarkan keironisan atau kedukaan lebaran. Lebaran yang identik dengan pulang ke kampung halaman tidak serta mudah diraih bagi mereka yang miskin. Kemiskinan menyebabkan keterbalikan akan glamour-nya pesta lebaran, di sana-sini perputaran uang terjadi dengan cepat, budaya konsumtif menggejala: baju baru, makanan untuk sajian tamu dengan mewah. Bagaimana dengan yang orang miskin?.

Sajak Sitor Sitomorang yang berjudul “Malam Lebaran” dalam kumpulan sajak “Dalam Sajak” (1955), dengan bunyi: bulan di atas kuburan. Meski pada proses penciptaannya terjadi ketika Sitor berkunjung ke rumah Pramoedya saat hari raya Idul Fitri dan ketika pulang Sitor melihat Bulan juga berjinjing ingin mengetahui apa di balik tembok Loji Jawa ternyata kuburan ungkap sitor dalam buku “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang” (Pamusuk, 2009). Dapat ditarik makna bahwa kemeriahan lebaran atau kebahagiaan lebaran yang ditandakan dengan bulan, berbanding terbalik dengan kuburan. Dan kuburan adalah tempat yang sepi dan menyeramkan. Maka jika digabungkan, dibalik kemeriahan peringatan lebaran ada derita yang dialami orang-orang miskin yang tak dapat menikmati lebaran di kampung halaman bahkan tak mampu membeli baju baru juga makanan untuk disajikan pada tamu-tamunya.

Meskipun teks-teks sastra cerpen Umar Kayam dan Sajak Sitor Sitomurang (mungkin) fiksi atau (mungkin) nyata, tetapi hal tersebut setidaknya patut dijadikan renungan bagi umat Islam yang merayakan lebaran Idhul Fitri. Karena teks sastra tidak hadir dari ruang kosong, sefiksi-fiksinya teks sastra tetap tidak beranjak dari realitas budaya penulis.

Dengan begitu, maka perayaan lebaran tidak perlu diperingati dengan konsumtif, glamour dan pesta yang tidak bernilai kemanusiaan atau keagamaan. Perayaan Lebaran Idhul Fitri adalah tempat kesunyian refleksi menata hidup ke depan. Idhul Fitri memiliki makna kembali pada kesucian, manusia kembali lagi seperti kertas putih. Dari kertas putih tersebut, esok hendaknya dihiasi dengan warna kebajian. Kebajikan dalam konteks kisah orang miskin di cerpen- cerpen Umar Kayam dan ironi makna lebaran dalam Sajak Sitor Sitomorang tidak terjumpai lagi di bumi Indonesia. Kemenangan milik semua orang dan bangsa ini selalu diisi dengan aktivitas kebajikan. Manusia yang kembali menjadi kertas putih suci mencapai makna yang hakiki dan berkesadaran sosial yang tinggi.

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang

Minggu, 04 September 2011

Renungan Malam Lebaran

Denny Mizhar*
http://sastra-indonesia.com/

Malam tadi semua orang menanti keputusan penetapan 1 Syawal 1432 H untuk peringatan hari raya Idhul Fitri. Adapun dengan hasil penetapan pemerintah bahwa 1 Syawal 1432 H pada tanggal 31 Agustus 2011 juga Organisasi keagamaan Nahdatul Ulama sama dengan pemerintah. Meskipun sudah ditetapkan masih ada penetapan lain akan jatuhnya 1 Syawal 1432 H yakni tanggal 30 Agustus 2011 hal itu dilakukan oleh Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan Muhammadiyah yang jauh hari sudah memutuskannya. Saya tak hendak mempertentangkan perbedaan keputusan tersebut, bagi saya setiap keputusan punya rujukan dan dalil-dalil yang diyakini kebenarannya masing-masing, terpenting adalah bagaimana menyikapi perbedaan dengan dewasa. Meskipun saya melaksanakan hari raya tanggal 30 Agustus 2011.

Maka dengan begitu, bagi saya puasa Ramadhan telah usai. Kumandang takbir di masjid-masjid, di suarau-suarau menggema. Saling kirim pesan pendek ucapan selamat lebaran dan permohonan ma’af mengalir bagai air terjun yang menderas sampai ke bawah. Jalanan pun ramai orang-orang berarak-arakan sambil mengumandangkan gema takbir menyebut besaran Allah SWT.

Lebaran, mengingatkanku pada sebuah sajak yang ditulis oleh Sitor Sitomorang yang berjudul “Malam Lebaran”. Sajak pendek yang terinspirasi ketika Sitor Sitomorang pergi ke rumah satrawan Pramoedya Ananta Toer. Bunyi sajaknya: Bulan Di Atas Kuburan. Meskipun pendek, sajak tersebut bagi saya memiliki makna yang dalam. Kalau dilihat kesatuan sajaknya, jika malam lebaran tentu bulan masih belum terlihat. Bagaimana bisa ada bulan di atas kuburan. Dua kata yang paradoksal bulan yang menggambarkan kecantikan dan seringkali diidiomkan dengan perempuan bersanding kuburan yang memiliki makna suram, kematian. Kalau digabungkan maka kecantikan yang suram. Ada binerasi yang mencipta makna diantaranya. Atau mungkin saja ada perempuan hamil sedang berada di kuburan waktu malam lebaran, tapi entalah. Sebab saya tak hendak membahas perempuan hamil tetapi membahas judul dan isi secara teks dan menafsirnya berkaitan dengan lebaran.

Lebaran yang sejatinya adalah ritual keagamaan dalam rangka perayaan hari besar yang bernama Idhul Fitri. Tetapi pada kenyataanya di Indonesia perayaan tersebut telah berbaur dengan kebudayaan masyarakat Indonesia yakni mudik lebaran. Mudik adalah kebiasaan masyarakat untuk pulang kampung dan bertemu dengan keluarga atau kerabat dekat untuk bersilaturrahmi dan saling berma’af-ma’afan. Selain itu pesta-pesta kecil ataupun besar dipersiapkan dengan membeli baju baru, memasak makanan yang akan dimakan bersama-sama keluarga. Kesemua itu tentunya membutuhkan tidak sedikit biaya yang keluar. Inilah yang saya namakan bulan yakni kecantikan, keindahan dan kemeriahan lebaran.

Di samping kemeriahan lebaran tentu masih menyisakan beberapa probelm lebaran. Misalnya saja beberapa kawan saya sedang bekerja di luar pulau jawa, di Ibu Kota dan di beberapa daerah lainnya tidak dapat pulang. Persoalan beberapa kawan saya tidak dapat mudik dikarenakan mereka tidak punya biaya untuk pulang lebaran meskipun ada beberapa di antaranya dengan lebaran dapat meraup rezeki yang lebih banyak. Keresahan-keresahan kawan saya menarik pertanyaan akan lebaran yang banyak dinikmati dengan kemeriahan dengan berlebihan dan tidak jarang sifat konsumtifnya lebih banyak dari pada memaknai hakekat makna lebaran Idhul Fitri itu sendiri.

Saya juga berfikir tak hanya kawan saya yang tidak bisa pulang, orang-orang yang miskin tentunya tak dapat menikmati lebaran dengan meriah bahkan mungkin ada yang tidak dapat membeli baju baru atau menyediakan makanan untuk tamunya di rumahnya. Persoalan kemiskinan bangsa ini masih belum benar terselesaikan. Hal ini membuat keyakinan saya, bahwa di sebagian lain orang-orang merayakan lebaran dengan meriah dan glamor di bagian lain orang-orang merayakan lebaran dengan menahan perut lapar, memikirkan uang sekolah yang semakin mahal dan bahan pokok yang tiba-tiba mahal ketika lebaran tiba.

Jadi teks sajak Sitor mewakili gambaran yang terjadi di Malam Lebaran. Bulan di Atas Kuburan. Kemeriahan pesta lebaran dan kondisi kemiskinan yang terjadi. Maka dalam agama Islam di anjurkan untuk berzakat dan bersodaqoh. Hal tersebut upaya menjembatani pengentasan kemiskinan walaupun berulang kali lebaran, berulang kali zakat dibagikan orang miskin masih berceceran. Bisa jadi pengelolaan zakat dan sodaqoh yang kurang maksimal.

Lebaran Idhul Fitri sendiri memiliki makna penyucian diri atau kembalinya diri menjadi suci seperti kertas putih. Ramahdan adalah perjalanan spiritual yang mengandung nilai sosial dan puncak keyaninan bagi umat Islam. Harusnya di maknai dengan seksama agar tidak hanya ritual dan penjalanan budaya semata. Nilai-nilai yang memiliki demensi kesolehan individual dan makna kesolehan sosial dapat terejahwantahkan dengan baik.

Dengan begitu harusya, jika menelisik dalam makna yang ada pada Idul Fitri maka sehabisnya tak ada lagi dosa, mulai dari dosa individu ataupun dosa sosial yang mengikis nilai kemanusiaan. Sehingga kemanusiaan tetap terjaga dengan baik yang berdasar nilai ketuhanan. Tetapi nyatanya, sehabis lebaran tahun-tahun lalu masih saja kita jumpai dosa-dosa yang berhamburan di mana-mana. Aku mengaris bawai dosa sosial, sebab dosa sosial urasannya bukan hanya dengan Allah SWT saja tetapi bersingungngan dengan manusia lainnya.

Lalu kembali aku menelisik surat Al-Maun, barang siapa yang menghadik orang miskin dan anak yatim maka dia lalai dalam sholatnya. Kira-kira itu terjemahan bebas saya dari surat tersebut. Maka, jika melihat kemiskinan yang masih melanda bangsa ini saya mengambil kesimpulan: kebanyakan dari kita lalai dalam sholat. Sholat saya memberi arti adalah ritual keagamaan, bisa jadi sholat lima waktu, puasa, ataupun ibadah-ibadah yang lainnya.

Malam ini saya yang hanya bisa merenung sebab saya juga mungkin termasuk orang yang lalai dalam sholat. Tak bisa berbuat banyak pada kemiskinan yang melanda bangsa. Lalu, harus berbuat apakah di lebaran kali ini? mari merenung dan berbuat sesuatu paling tidak semisal berbuat tidak berlebihan dalam perayaan, menghindari sikak hedonistik (kesenangan sesaat), dan memberi zakat atau sodaqoh yang membuat orang tak mampu berusaha lagi dengan modal zakat/sodaqoh (menafsir ulang bentuk pemberian) yang kita berikan pada orang-orang yang lemah.

Begitulah renungan saya pada malam lebaran kali ini. Saya hanya coba memberi pemaknaan sendiri atas puisi Sitor Sitomorang tersebut dengan konteks kondisi yang aku pandang di realitas masyarakat saat ini.

Malam Lebaran, Lamongan, 1 Syawal 1432 H

Beberapa Puisi Lama, saya post ulang mengakhiri catatan renungan kali ini.

Idul Fitri

hilal memerah aku terpanah
tepat di dinding hati
lama menjelma quldi

hancurku kembali
mengeja hari lebih sunyi
pada idul fitri

menempah hati
merdeka diri

sebulan adalah perjalanan
menetapkan puisi pada bilik diri

Malang, 3 Syawal 1429 H



Prosesi Suci

Sebulan penuh menuntun hati
Mengayun diri pada pintu suci
Berhuyun-duyun berserah diri

Membaca isyarat Illahi
Selagi hari fitri menghampiri
Lantunkan do’a saling menyalami

Hilanglah dosa
pada jiwa-jiwa yang mencari
Bebaskan hitam hati
capai kemanusiaan sejati

Mengelupaslah dosa insani
Tak ada noda lagi
takdir surgawi menghampiri

Malang, Ramadhan 1430 H



Perjalanan Suci

Pada bejanah berupah cinta
hati melangkah
setapak dosa melebur
mengurai hakekat diri

Lembaran waktu
mengantar pada jantung muasal
jadilah kertas putih kembali
terhapus sudah dosa diri

Laa ilaaha ha illa Anta
Melantun dengan cinta
kembali pada-Nya
sebab hari fitri kini tiba

Malang, Ramadhan 1430 H



MALAM TAKBIRAN

1
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Walillahilham

Berkumandang lantunan kebesaran-Mu ya Ilahi
Aku berdo’a untuk negeri ini
Berkali-kali Kau uji tak juga jerah mengakhiri

Pada malam takbir suci
Nama-Mu mengalun di seluruh pelosok negeri
Mengobati miskin hati

Ya Rabbi, pemilik semesta ini
Tunduk aku merunduk
Memohon ampunan untuk negeri

Untuk pemimpin-pemimpin yang engkau sayangi
Tunjukkan bagaimana mengatur negeri
Biar miskin enyah dari sini

2
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Walillahilham

Sejagat ilmu-Mu tak habis untuk digali
Ilhamkanlah pada negeri yang aku cintai
Menumbangkan gelapnya akal budi
Agar negeri ini tak selalu dibodohi

(Bukankah ini hari fitri waktu
untuk merenungi nasib negeri
membebaskan nafsu rakus pada diri
agar kemerdekaan sejati dapat teraih)

Lamongan, 1 Syawal 1429 H

*) Pengajar di SMK MUDA (Muhammadiyah Dua) Kota Malang, Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar-Indonesia Malang yang sedang Mudik ke Kampung Halaman.

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1432 H- MINAL AIDZIN WAL FAIZIN MOHON MA’AF LAHIR DAN BATHIN.

Jumat, 28 Januari 2011

Pohon Keramat

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Malam purnama di tahun baru Jawa. Semua penduduk desa Antabrantah timur berbondong-bondong menuju pohon besar yang terletak di dekat sungai. Tepatnya pohon tersebut terletak di perbatasan desa Antrabrantah timur dan Antrabantrah barat. Meskipun sama nama desa tersebut, para penduduknya memiliki pandangan hidup yang berbeda. Desa Antrabarantah timur masih cenderung percaya, desanya ada yang mbaurekso, tinggalnya di pohon besar yang sekarang akan dipuja juga diberi sesajen. Mereka menganggap pohon tersebut harus dirawat, jika tidak maka malapetaka akan menimpah desanya. Sedang desa Antrabrantah Barat tidak mengenal sama sekali hal-hal yang berbau tahayul, penduduknya modern berfikirnya rasional, pekerjaannya banyak dikantoran. Sedang Desa Antrabarantah timur kebanyakan penduduknya adalah bertani. Perbedaan yang jauh. Antara desa Antabrantah Timur dan Antabrantah Barat. Terkadang mereka bersitegang tentang pemahaman dan cara pandang hidup mereka. Desa Antrabrantah timur, diwakili Parman sebagai kepala desa yang sering menghadiri rapat di kecamatan. Sedang Desa Antrabaratah Barat diwakili oleh Stiven.

Malam yang sakral bagi desa Antraberantah timur, seluruh penduduknya berpesta selamatan di dekat pohon besar: melakukan ritual, pertunjukan kesenian tradisional, bau kemayan bertebaran, bunga tujuh rupa tak ketinggalan. Sedangkan Desa Antaberantah barat biasa saja, kebanyakan penduduknya masih sibuk kerja, memanjakan diri pergi mengunjungi klub-klub malam dan beberapa tidur pulas.

Sebenarnya di desa Antrabrantah barat juga tertanam pohon bersar mirip dengan pohon yang ada di desa Antaberantah timur. Tapi sejak setahun lalu sudah tumbang. Kerena kepala desa mereka menjualnya pada investor yang sedang mencari lokasi mendirikan perumahan. Stive, sebagai kepala desa Antaberantah barat, sebelum menjual pada investor telah diingatkan oleh Parman Kepala desa Antaberantah timur. Perdebatan sengit terjadi dikantor kecamatan.

“Stive, jangan sekali-kali menjual tahan di perbatasan desamu dan desaku. Leluhur kita pasti akan marah, bila itu kau lakukan. Desamu dan desaku memiliki leluhur yang sama. Pohon trembesi besar yang ada di desamu adalah leluhur kita laki-laki. sedang Pohon trembesi besar di desaku adalah leluhur kita perempuan”. Stive tak mau diam. Dia juga angkat bicara. “Sekarang mana buktinya bila pohon trembesi itu ada leluhur kita. Mereka sudah mati dan tidak akan hidup lagi. Otakmu yang harus dibenahi. Jika kami dari kampung Antaberantah Barat menjual tanah dan di sana ada pohon besar, tentu desa kami akan mendapat keuntungan besar. Masyarakat kami pun bisa menikmati hasilnya dengan mendirikan bangunan tempat wisata. Mereka juga bisa memiliki dan mebeli hunian rumah nyaman yang didirikan oleh investor. Isi kepalamu itulah yang membuat wargamu masih tradisional”.

Pak Kartono sebagai kepala kecamatan tidak bisa melerai. Malahan menyerahkan urusan tersebut untuk diselesaikan sendiri. Kecenderunagn Pak Kartono membela Stive, sebab di luar forum sebelum rapat dimulai Pak Kartono sudah dihubungi oleh Stive, jika tanahnya desanya laku, pak Kartono juga mendapat bagian. Tidak dapat dicegah lagi, penjualan atas tanah milik desa Antaberantah Barat yang berbatasan dengann desa Antaberantah Timur.

Seluruh penduduk Antaberantah Timur was-was karena pasangan dari pohon yang dikeramatkan dan dipercayai sebagai rumah leluhur meraka harus ditebang. Sebenarnya Parman tahu, bahwa apa yang dipercaya oleh masyarakatnya adalah tak masuk akal. Bukan soal itu, parman ingin mepertahankan pohon-pohon besar yang ada di desa Antaberantah. Parman adalah segelintir orang desa Antaberantah timur yang berpendidikan tinggi. Sebab kenekatannya pergi ke kota untuk kuliah ia menyandang sarjana pertanian. Kepedulian Parman pada desanya yang membuatnya kembali lagi di desa Antaberantah Timur. Padahal Ia mendapat penawaran dari salah satu pengusaha di kota untuk bekerja di perusahaannya yang bergerak di bidang pertanian. Tapi Parman tidak mau, Ia masih ingin mengembangkan tanah kelahirannya. Ia masih ingin bertani tradisional, meneruskan orang tuanya. Hingga pada suatu hari ada pemilihan lurah, Parman mencalonkan dirinya. Sebagai lurah, banyak yang simpati pada Parman karena kepeduliaannya pada pertanian dan membimbing penduduknya untuk bertani dengan baik, rama lingkungan dan menghasilkan tanaman yang bekualitas. Secara ekonomi sebenarnya masyarakat desa Antaberatah timur tidak kesusahan setelah datangnya Parman kembali ke desa. Ia juga mencari saluran-salauran pemasaran hasil pertanian desanya ke kota. Tidak seperti sebelumnya, harus melewati tengkulak yang membeli hasil panen dengan murah dan menjual dengan mahal di kota.

Berbeda dengan Stive, ia anak keturunan Belanda yang masih tinggal di desa Antaberantah Barat. Sebab itu ia suka membangun kampungnya agar masyarakatnya modern. Karena bekerja sebagai petani baginya adalah pekerjaan tradisional dan hanya orang-orang malas saja yang suka bertani. menanam benih, menunggu hingga panen. diselanya Sambil menunggu panen mereka berleha-leha di rumah. ada yang berjudi ada yang adu ayam. itulah pikiran yang dimiliki Stive.

Penduduk Antaberantah Timur menabur kembang di pohon yang dikeramatkan. Suara gending-gendingan mengalur rampak. Di bawah pohon pisang Parman merenung tentang apa yang terjadi suatu hari nanti di desa Antaberantah Barat, jika pohon-pohon ditebang semua dan didrikan bangunan. Apalagi pemanasan global sedang merong-rong bumi. Keasrian desa akan hilang, Ketahan air akan berkurang. Sebenarnya kalau ia berprinsip dengan ilmu-ilmu yang dipelajari waktu dibangku kuliah dulu tentu ia akan berfikir seperti Stive. Ia hanya ingin melestarikan pohon keramat itu dengan cara pandang masyarakat. sebenarnya Ia juga tak percaya akan penunggu pohon tersebut. Yang Ia percaya adalah pohon-pohon akan menyelamatkan desanya dari banjir dan udara yang sejuk juga asri itu saja. Melalui alam fikir masyarakat itulah hal tersebut dilakukan.

Menjelang pagi, pesta perayaan tahun baru Jawa usai. Semua penduduk desa Antaberantah Timur kembali pulang, bertepatan dengan gerimis yang datang. Parman tak segera pulang, ia berteduh di pos dekat pohon trembesi besar yang dikeramatkan oleh penduduk desanya. Ia menyuruh istrinya pulang.

“Pulanglah dek, aku akan di sini dulu”

“Ayo pulang juga mas, mendungnya tebal. sepertinya hujan lebat akan datang”

“Gampang dek, nanti mas juga pulang. jika sudah ingin pulang”

“Jangan terlalu berfikir keras mas, tentang desa Antaberantah Barat. Toh mereka sudah punya kepala desa yang memikirkan mereka”

“Tidak dek, aku hanya kasihan pada penduduk Antaberantah Barat yang dididik oleh Kepala desanya untuk hidup dengan mengutamakan materi belaka”

“Sudahlah mas…., baiklah adinda pulang dulu. Jaga diri ya mas. Hujannya sepertinya akan deras”

Sambil berlari kecil, Istri Parman meninggalkannya. Hujan deras sudah menyapa. Parman melihat lampu-lampu yang menyala berkerlipan di desa Antaberantah Barat. Parman merebahkan tubuhnya di pos yang tersedia tikar. Parman tertidur. Di tidurnya Parman bermimpi. Ada air bah turun dari pegunungan yang di desa agak jauh dari desa Antaberantah. Desa yang penduduknya semua berkebun kopi, tanah yang dibuatnya menanam kopi dahulunya adalah hutan lebat. Tapi atas perintah dari salah satu aparatur Pemerintah yang memiliki HPH, mereka membabat pohon-pohon di sana. Airnya semakin besar. Hingga sampai di sungai perbatasan Desa Antaberantah timur dan Antaberantah Barat. Air bah yang membawa batu-batu mengerus tanah hingga sungai menjadi lebar. Rumah-rumah yang didirikan oleh investor atas penjulanan tanah dan penebangan Pohon keramat di desa Antaberantah Barat pun iku hanyut. Air tak sampai menyentuh rumah penduduk Antaberantah Timur, sebab pohon-pohon besar yang mereka keramatkan menopang pergerakan air bah tersebut. orang berlarian dari desa Antaberantah Barat menuju Desa Antaberantah timur. Kentongan pun berbunyi. Semua penduduk Antaberantah timur berkumpul di pos dekat Pohon dekat pohon keramat. Parman melihat Stive terbawa air bah dan tak ada yang menolongnya bersama orang-orang-orang yang tinggal diperumahan dekat sungai perbatasan desa Antaberantah timur dan barat.

“Mas…Mas… Bangun, ada banjir…. Mas…”

Parman pun bangun di samping kiri dan kanannya banyak orang-orang berkumpul beberapa Ia kenal dan ada juga yang tidak dikenalnya.

“Astagfirullahaladzim… aku tidak bermimpi”

Malang, Desember 2010

Pergerakan Sastra di Malang

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Polemik pembacaan atas pergerakan sastra di Malang dan pengakuannya pada wilayah Jawa Timur terjadi sejak lama. Tan Tjin Siong (1989) pernah menulis dengan nada gugatan dengan judul “Peta Sastra Malang” : “Sebagai warga Jatim pecinta sastra, rasanya kurang sreg kalau selama ini hanya keberadaan atau kegiatan sastra di Surabaya yang mendapat porsi paling banyak untuk dibicarakan. Ada kesan penganak tirian terhadap daerah lain…. Nah, apa Malang tak punya peta sastra yang menarik untuk dibicarakan? Ada. Bahkan bahkan peran sastranya di Jawa Timur tak bisa diabaikan”. Apa yang dituliskan oleh Tan Tjin Siong mendapat balasan oleh Sauripan Sadi Hutomo (1994) dalam bukunya “Kronik Sastra Indonesia di Malang” bahwa gugatan oleh Tan Tjin Siong tidak berdasar jika melihat dokumentasi-dokumentasi secara mendalam apa yang dilakukan oleh generasi pendahulunya di Malang. Sauripan Sadi Hutomo membagi dua pembacaan atas sastra Malang yaitu pembacaan sastra secara Emik dan Etik. Pembacaan bersifat Etik yakni pembacaan yang dilakukan oleh orang luar Malang sedang Pembacaan Emik pembacaan yang dilakukan oleh orang Malang sendiri.

Apa yang dilakukan oleh W. Harianto (WH) dengan tulisannya di Kompas Jatim pada 23 Desember 2010 adalah pembacaan secara Etik terhadap Perpuisian Mutahir Malang. WH menyebutkan ada nama tiga penyair Mutahir Malang. WH mengatakan “Terbukti pada beberapa tahun terakhir, booming penyair itu hanya euforia dan pseudo-reality. Namun, tidak banyak yang tercatat dari Malang ketika arah perpuisian kita sebatas kontemplasi redaksi di ruang tertutup”. Menjadi pertanyaan saya adalah ruang tertutup itu ruang yang hanya bisa dinikmati penyairnya saja atau tertutup hanya di Malang? Tetapi realitasnya tidaklah benar jika hanya berada dalam ruang tertutup itu. Jika menelisik gerakan penyair-penyair Malang. pada era 2000-an hingga sekarang. Misalnya terbitnya beberapa antologi puisi secara komunitas yang meluas atau persingungan penyair-penyair Malang antar komunitas dengan daerah lain. WH juga mengatakan bahwa “Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim”. Peryataan itu akan gugur dengan sendirinya jika membaca antologi cerpen “Pledooi: Pelangi sastra Malang dalam cerpen” yang diterbitkan oleh MOZAIK BOOK bekerjasama Dewan Kesenian Jawa Timur.

Selain itu penyebutan nama-nama penyair mutakhir oleh WH masih belum merepresentasikan penyair Malang. Masih ada beberapa nama yang harus di sebutkan dalam dimanika kepenyairan Malang. Selain Ragil Suprinto Samid, Yusri Fajar dan Denny Mizhar masih ada beberapa nama jika hendak menyebutkan nama-nama penyair mutakhir Malang di antaranya Abdul Mukid, Lodzi Hadi, Lubis Grafura, Liza Wahyu, Masdar Zaenal, Masaly, Aziz Abdul Ghofar Andi Wirambara, Faradina I, Amrullah Budari, Ria AS, Tsabit Nur Paramita, Johan W, Royan Dwi J, Hasan Caleg, dll. Nama-nama itu yang pernah mengisi buku-buku antologi puisi yang diterbitkan secara indie, antologi puisi tunggal juga bersama ataupun mempublikasikan karyanya melaui media internet.

Gerak Sastra Malang

Jika WH melakukan pembacaan secara etik maka saya akan membaca secara emik. Gesekan-gesekan penyair malang dengan pergerakannya seusai periode 90-an. Pertama dapat diamati lewat komunitas-komunitas yang dibentuk oleh penyair Malang. Ada beberapa komunitas diantaranya Forum Penyair Muda Malang, Bengkel Imajinasi, Komunitas Sastra Reboan Pustaka Rakjat, Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis UM, Komunitas Jalaludin Rumi, Komunitas Pramoedya, Komunitas Sastra Parkiran, Lembah Ibarat, Mafia Sastra UMM, dll. Saya pikir kesepian Puisi Malang yang disitir oleh WH tidaklah terjadi. Interaksi karya dan diskusi karya terjadi dalam komunitas-komunitas tersebut. Beberapa komunitas-komunitas tersebut pernah disinggahi beberapa penyair atau sastrawan yang sudah punya nama di percaturan sastra koran ataupun mereka yang terlibat dalam dinamika sastra Indonesia. Dan mereka melakukan diskusi intens.

Bagi saya, tidak perlu risau, Malang tidak perna dibaca oleh otoritas sastra Jawa Timur. Toh HB Jasin penah menulis “sastra berbahas Indonesia tidak hanya terjadi di pusat saja (baca: jakarta) tetapi di daerah-daerah juga ada (Sauripan, 1994). Ungkapan seorang paus sastra tersebut dapat digubah menjadi sastra tidak hanya terjadi di surabaya tetapi juga ada di Malang ataupun daerah-daerah wilayah Jawa Timur. Maka tidak menjadi soal jika Malang tanpa harus dibicarakan oleh Surabaya tapi Malang bergerak kesustraannya dengan caranya sendiri.

Akan tetapi interaksi antar komunitas-komunitas sastra di Malang kira-kira setahunan ini mulai redup. Karena penyair atau sastrawan Malang kebanyakan adalah mahasiswa, setelah lulus kuliah, sedikit yang menetap di Malang. Sehingga naik turunya komunitas-komunitas sastra di Malang terjadi. Kampus tidak bisa dipisahkan dengan gerak perpuisian di Malang. Karena basis atau kantong-kantong komunitas sastra masih didonomasi oleh kampus. Dari pergerakan sastra di Malang masih menyisakan satu problem, yakni pembacaan atas karya-karya penyair Malang secara mendalam dan koprehensip. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena kurangnya kritikus sastra di Malang (?).

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang.

Minggu, 02 Januari 2011

Sajak Di Bawah Bayang-Bayang Rezim Tiran

Judul Buku : 50% Indonesia Merdeka; kumpulan puisi Heri Latief
Penulis : Heri Latief
Penerbit : Ultimus dan Lembaga Sastra Pembebasan
Terbitan I : Agustus 2008
Tebal Buku : xxii + 86
Peresensi : Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Latar belakang penindasan rezim tiran yang tak kunjung padam di bangsa Indonesia. Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat, kapitalime tak surut-surut mengeksploitasi sumber daya-sumber daya bumi pertiwi akhirnya membuat rakyat tak berdaya, serta masih banyak lagi problematika yang sedang diderita bangsa Indonesia. Dari persoalan-persoalan tersebut kesadaran Heri Latief terpicu untuk menuangkan suara berontaknya dalam sajak-sajak yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka, diterbitkan oleh Ultimus Bandung, Agustus 2008. Suara-suara perih yang dirasakan anak bangsa yang sebagian terwakilkan oleh Heri Latief, nampak jelas sekali dalam sajak-sajak yang ditulisnya.

Hal tersebut mengingatkan saya pada penyair Wiji Thukul yang sampai saat ini masih tidak diketahui keberadaanya. Akibat pergolakan dan perlawan rezim orde baru hingga tumbang yang melahirkan orde reformasi. Wiji Thukul hilang bersama 12 aktivis pro demokrasi lainnya saat itu. Sajak yang masih mengema sampai sekarang yang ditulis oleh wiji Thukul “hanya ada satu kata: Lawan!”. Perlawanan terhadap penindasan tidak akan pernah padam dari orang-orang yang memiliki kesadaran politik kritis. Bahwa ada penindasan yang dilakukan oleh penguasa dengan sewenang-wenang, entah itu penuasa politik, penguasa modal, penguasa wacana, penguasa agama.

Dalam pengantar buku 50 % Merdeka tersebut Eep Saefulloh Fatah mengatakan, bahwa banyak kegagalan orang dalam mengenal Heri Latief karena hanya sekedar menimbang gaya penulisan sajaknya tetapi alpa dalam membaca pesan-pesan tegas yang disampaikannya. Selain itu Eep juga mengutarakan perihal kepenyairan Heri Latief adalah penyair yang memihak hal tersebut didapatkan dari pembacaan atas sikap Heri Latief yang menegaskan pemihakan. Senada dengan Asahan Aidit seorang filolog dalam pengantar setelah Eep mengatakan, puisi-puisi Heri Latief adalah puisi hujatan, dakwaan, gugatan terhadap musuh-musuh rakyat. Yakni yang mebuat rakyat terhimpit, terbodohi, tertindas, akhirnya rakyat tak berdaya. Itulah yang dibela dalam sajak Heri Latief. Mari kita lihat, sebuah ajakan untuk menaikan kesadaran perlawan dalam sajak Heri Latief yang berjudul 50% Merdeka: ….. sedang di bawah banyak urusan penting/korban bencana alam mengigil kedinginan/rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan/bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran//ayo! mari kita bersama/menganyang keraguan/kita belum merdeka 100% bung!//sirajatega masih berkuasa/maka derita itu dobel bencana (hal.18)

Sangat nampak sekali dengan tegas tanpa mengunakan metafor bahwa sajak di atas mengajak untuk bersikap, karena kemerdekaan belum sepenuhnya didapat atau istilahnya, masih ada penjajahan walaupun di suasana kemerdekaan. Penjajahan itu bukan seperti jaman kolonialisme dahulu, penjahan dilakukan oleh anak bangsa sendiri pada rakyatnya. Penjajah tersebut diwakili oleh penguasa, dapat ditelisik pada ketidak pedulian penguasa pada penderitaan rakyat dengan politiknya tanpa nilai. Padahal sejatinya politik itu adalah mulia untuk mencapai kekuasaan dan kekuasaan untuk mensejahterahkan rakyat kata sosiolog klasik Ibnu Khaldun.

Hari Latif dalam sajak-sajaknya mengajak kita untuk sadar sejarah, bahwa ada kekelaman sejarah di bangsa Indonesia yakni peristiwa G3OS, dapat kita lihat dalam sajak yang berjudul 42 Tahun G30S: …. sejarah kita adalah penindasan/sekalipun dalam ruang mimpi/bermuara pada satu nama/:G30S//adalah kode buat jutaan korban/yang ditindas sampai hari ini/harga nyawa orang indonesia/murah meriah seperti obral besar! (hal.27). Kealpaan pada peristiwa yang menelan jutaan anak bangsa seakan tengelam begitu saja. Seperti kasus-kasus pelanggaran ham yang sampai kini hanya menjadi slogan penguasa dan tak pernah tuntas terjawab. Kasus tanjung priok, penghilangan orang, semanggi, pembunuhan munir, lumpur lapindo, dan lainnya masih memutar-mutar dalam benak luka bangsa Indonesia.

Selain itu, neoliberalisme juga memenjarahkan bangsa ini. Dengan agen-agennya hingga kita seakan mengiyakan satu sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Agen neoliberalismen salah satunya adalah IMF dan Bank Dunia, dalam hal ini juga menjadi persoalan yang di tulis oleh Heri Latif dalam sajaknya yang berjudul Pameran Penindasan: teruslah menetek pada IMF-bank dunia/jangan berzikir atas nama kemiskinan/ jadilah pengemis bermentalitas budak/jagoan ilmu korupsi kampiun dunia tipsani//tak pernah berani mencoba ilmu berdikari/riwayatmu tak seindah zamrud katulistiwa/hancur-lebur dirajah gerombolan maling berdasi (hal.49). Dalam sajak ini mengisyaratkan apa yang pernah dikatakan di ungkap oleh Revrisond Baswir, tentang Mafia Berkeley yakni pejabat atau pemikir yang memihak pada ekonomi neoliberal bukan pada ekonomi kerakyatan. Hingga rakyat menjadi kehilangan keberdayaannya, padahal memberdayakan rakyat untuk mengambil hak-haknya dan berekonomi adalah harus dilakukan oleh pemerintah bukan sebaliknya membela orang asing dan menghisap rakyat kecil.

Itulah suara-suara kritis sajak Heri Latif, tetapi menurut saya ada perbedaan dengan sajak-sajak Wiji Thukul yang kritis. Perbedaannya terletak pada keterlibatan secara langsung dengan rakyat. Saya hanya mengamati pada riwayat biografi Heri Latif dan biografi Whiji Thukul. Jika Wiji Thukul terlibat pada pergolakan 1998, tetapi itu tak nampak pada keterlibatan Hari Latief. Nampaknya Heri Latief ketika menulis sajak, diungkap dari daya bayang dan empati pada rakyat tertindas, sedangkan Wiji Thukul terlibat dan merasakan penindasan itu sendiri hingga dia melawannya dan hilang. Hal tersebut saya telisik dari sajak yang dibuatnya kebanyakn di Belanda tempatnya berada kini. Tetapi bukan soal antara terlibat atau tidak yang menjadi soal adalah pesan atas kesadaran kritis melihat persoalan bangsa ini menjadi lebih penting. Melawan segala penindasan hingga manusia-manusia Indonesia menjadi bebas dan menikmati kemerdekaan 100%.

Rabu, 02 Juni 2010

Parade Puisi Denny Mizhar

http://www.sastra-indonesia.com/
Waktu dan Buku

Bukankah ia berjalan tak berhenti
Melintasi sejarah detik-detik pejalan kaki
Sambil memunguti pertanyaan dan jawaban bekal mati

Gelap bila tak ada kendali
Terbawa begitu saja tanpa tersentuh hati

Terang bila punya mimpi
Membawa langkah berserah diri

Aku yang mewaktu
Sembunyi dalam buku
Tak sempat bercumbu
Sudah luka terburu-buru

Bukankah itu dulu?
Ketika kebebasan terpenjara dalam waktu beku

Kenapa menjadi kini?
Belum sempat aku kenali sudah mati

Aku dalam buku
Beku mewaktu
Ketika detik terbunuh
Sejarah berulang lalu

Malang, Desember 2009



Kota yang Menyapaku dengan Kisah

Ketika hujan ngelangut jatuhnya
aku memandang langit tampak ungu
Terbaca petanda kutukan telah menjelma
Berawal dari paha yang bersinar
ketika tubuh tersingkap oleh mata
Pada Ken Dedes, hasrat kuasa
menjelma hati yang hitam
takdir ungkap masa menyapa
Ken Arok yang lahir dari titisan Dewata:
“Barang siapa mendapatkannya
tangan menggenggam tanah jawa”
bersetubuhlah Arok dan Dedes
membangun Singosari.

Aku pun memandang parsasti tak utuh
Kelenaan dalam mengingat
Jejak-jejak bersliweran menamparku.
Memeluk Sang Empuh yang terbunuh
Oleh Keris menancap di dada
Menjadi tuan termakan
dari apa yang ditempahnya
Oh, Empu Gandring.
Ken Arok pun meminang kutukan
Bunuh yang saling membunuh
Pada anak keturunan sabdanya
Ketika nafas tinggal satu hembusan

Tubuhku yang basah
melintasi demensi waktu
menaruh kasih pada Tunggul Ametung
Yang berselimut kabut derita
gelap mata terbunuh juga

Hujan pun reda
kisah kota menyapaku belum sempurna
sambil memeluk gadis cantik
Tri Buana Tungga Dewi
dalam waktu yang terputus
terjelma lagi kutukan
ketika tahun barunya tiba.

Malang, Bulan Suro



Tuhan Yang Aku Penggal Dan Naluri Insani Yang Mati

Aku pernah memenggal nama tuhan
ketika tak kuat menjumpai tempat singgahnya

Batu batu kerikil tajam melukai kakiku
di jalan menapaki pertapaan.

Kesunyian singgah dalam kesilaman masa
keharuan menebar putik-putik kamboja
lelah dengan mudah

Bayangan-bayangan kematiannya
bergelayut di dinding nalarku penuh angka

Tak habis aku menginjaki nasib selalu patah
warna bercahaya hilang tertutup kabut nestapa

Penempaan akan diri
kian berulang-ulang dalam kehangatan purnama
ah, masih saja jauh kelanaku, sedang tubuhku penuh darah.

Dengan segala daya aku berlari merangkul sepi
di puncak perbukitan dimana tuhan pernah aku makamkan.

Seketika mulutku berkhotbah
mempertanyakan naluri insani juga mati di bukit putih.



Membaca Garis Retakan Resahmu di Bibirku
;E.R

Pada kelelahanmu menapaki jalan bukit pikir resah. Aku melihat senyum mengulum tak pernah kalah. Hati membaca waktu untuk merabah. Menanggalkan gerimis tubuh dengan mesra.

Kau menyimpan sejarah luka dalam buku harian di lemari berdinding besi tergaris pecah. Tak berharap siapanpun akan membongkar kisah. Kau tanam bunga melati putih tangkainya patah.

Aku bertanya padamu, maukah meletakkan beban di kepalamu pada pundaku? Sambil membisu kau menulis retakan nasib di bibirku. Seribu bahasa tak ada aksara untuk mengungkap puisi-syairmu yang bergemuru tentang rindu.



Kota yang Aku Lihat dari Puncak Gunung

Dari dereten bintang aku menghitung satu persatu dan tak aku temukan ujungnya. Begitukah risalah ini menjadi tinta yang tak habis-habis terbaca oleh ribuan mata. Melintasi persawaan, mendaki perbukitan mensetubuhi rasa lelah mendaki puncaknya. Ada yang selalu bertannya tentang kota yang terpandang dari atas gunung Penangungan.

Degub jantung berdebaran ketika mata lena tak dabat membaca isyarat apa yang melanda. Kota apakah itu? Yang rebah ketika malam tiba. Hanya lampu-lampu menyala seperti bintang yang aku hitung tak terhingga jumlahnya. Dimanakah letaknya?

Oh, kota yang punya nama pahlawan disana. Darah pernah tumpah menjadi sungai yang merah dan terbangun jembatan yang menghubungkan sejarah. Tertancap tugunya yang kini hanya menjadi pijakan burung-burung ketika hendak bersarang membuat rumah. Rumah-rumah tua, warung-warung makan, serta deretan masalah hilang entah kemana.

Duh, indahnya bila hanya malam saja. Dapat aku memandang tubuh menyala di setiap sudutnya. Dan hanya dari puncak sini saja aku memandang gelisah kota rebah. Oh surabaya.



Menyapa Petang Menuju Malam

Retak sudah hari menjadi dua antara gelap dan terang waktu berada
Lelangkah kaki meninggalkan jejak kata pada tanah sawah yang dipuja

Tubuh menjadi bersih dalam setubuh luruh dengan Sang kasih abadi
Kembali memintal harap mimpi jadi masa rajutan untuk membaca diri.



Gadis di Balik Pintu Berkaca Bening dan Aku yang Membuka Jendela Berselambu Biru

di balik pintu
berkaca bening rumahmu
kau belai rambutmu
menghitung helai demi helai
berapakah jumlahnya?

kau menerbangkan burung kertas biru
masuk di jendela rumahku
aku menangkap dengan terburu-buru

lahan-berlahan aku buka
tak ada goresan pena membilang makna

serupa mataku
tak lelah mengintip gelisahmu
dari satu jengkal tanganku membuka selambu biru

rumahku-rumahmu saling bertatap-tatapan
tapi mata kita tak saling bertautan
bukankah hidup untuk saling bersapaan

aku pun mengikuti hari
menghitung pagi
membuka jendela lagi
memandangmu kembali
berharap mataku-matamu saling menepi

derat bunyi pintu dari rumahmu
aku cepat membuka jendela berselambu biru
kembali aku tatap lagi

ah, teryata ibumu
senyum-senyum sambil menatapku

Malang, Januari 2010

Jumat, 21 Mei 2010

ORASI TERAKHIR

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Di suatu kota tinggal keluarga yang kata orang taat beragama. Mereka hidup tentram dan damai, mereka sekeluarga baik dan sopan pada tetangga. Bahkan para tetangga sering minta bantuan kepada mereka. Pemimpin keluarga tersebut sangat berpengaruh Pak Umar sebut banyak orang dan isterinya bernama Aisyah. Mereka berdua memiliki putra yang dikasih nama Yudi. Dia masih sekolah SMU didekat rumahnya. Yudi anak yang pandai karena dia selalu belajar kepada Ayahnya tentang agama dan banyak hal tentang kehidupan.

Suatu hari pak Umar menjadi pembicara pengkajian bulanan di daerah sekitar rumahnya. Sudah kebiasanya, menjadi penceramah disuatu pengajian keagamaan. Memang dia salah satu kyai yang disegani. Pak Umar berangkat dengan mengajak Yudi. Tiba saat Pak Umar mengisi pengajian, di dalam pidatonya Dia bilang “Melihat kondisi bangsa kita saat ini, kita harus banyak interopeksi diri, dan pemerintah harus segerah memberantas korupsi. Agar bangsa kita menjadi bangsa yang diridlohi Allah Swt. Dan bangsa kita menjadi makmur”. Para pendengar menganggukkan kepala tandanya setuju dengan apa yang diucapkan Pak Umar. Dua jam berlalu, banyak sudah yang ducapkan oleh Pak Umar kepada peserta pengajian dan akhirnya mereka berdua pulang kerumah.

Seorang anak biasanya meniru kebiasaanya orang tuanya, sama halnya dengan Yudi selalu menjadi pelopor pada acara diskusi soal agama di sekolahnya, sehingga Dia dapat julukan “Ustad” dari teman-temannya. Dia sangat disukai sama teman-temannya, tak jarang temanya minta tolong sama Dia untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan soal agama dengan jawaban yang bisa diterimaolehakal.

Waktu terus melaju hingga yudi harus mengakhiri masa SMU-nya dan beralih keperguruan tinggi. Dari awal dia punya rencana masuk jalur khusus, untuk masuk di perguruan tinggi yang masih satu daerah dengan dia, tapi memilki jarak yang sangat jauh. Dan dia harus meninggalkan rumah untuk kost. Yudi mulai mengurus segalanya sendirian tanpa ditemani oleh keluarganya hingga semuanya selesai dan tinggal melaksanakan perkuliahan.

Awal kuliah, yudi sangat gembira sekali kerena mendapatkan teman yang baru dan lain seperti di SMU dulu. Di dalam kelas Dia disukai oleh teman-temannya seperti dulu di SMU-nya. Bahkan sering dimintai tolong mengajari teman-temanya dalam hal mata kuliah. Memang yudi orangnya pandai dan cerdas.
Sudah sebulan Yudi kuliah, ada sedikit janggal yang dirasakannya, Dia terus berfikir.

“Oh ya, aku belum menemukan forum diskusi”.
Biasa dari SMU memang suka diskusi apalagi soal Agama. Malam tak bisa tidur, terus berfikir dimana ada kominitas diskusi “Besok habis kuliah aku harus jalan-jalan keliling kampus dulu dan tidak boleh langsung pulang”.
Pagi sudah tiba kebetulan hari itu Cuma satu mata kuliah dan sudah tidak ada tugas, jadi rencanya bisa dijalankan. Habis kuliah dia jalan-jalan keliling kampus. Tepat didepannya agak ke kiri Yudi melihat orang bergerombol
“Sepertinya orang diskusi” dalam hatinya.
Lalu dihampirinya “Lagi diskusi ya, boleh saya bergabung”. Lalu Yudi berkenalan satu satu,
“Anton, Mira, Ahmad, Ridwan, Aisyah”.
Diskusinya berlanjut lagi, menjadi tambah banyak permasalahn dengan datangnya Yudi, hingga waktu tidak bersahabat sama mereka. “ Sudah soreh” ujar Mira, “Ya, dilanjutkan nanti malam saja” Ridwan menyahut.
“Dimana?“Yudi bertanya kemereka, serempak menjawab “ Di sekret”, “Memang kalian punya?” Tanya yudi. Ahmad menjawab dan memberi alamat ke yudi, lalu pulang bersama-sama tiba sampai depan kampus mereka berpisah.

***

Yudi lansung pulang ke kost, menaruh tasnya di kamarnya dan lansung masuk kamar mandi untuk membersihkan badan. Seusai mandi Yudi mengabil buku yang dia punya, “Walaupun sedikit usang masih bisa dibaca dan tidak ketinggalan wacananya” ujar dalam hatinya. Lembar demi lembar dibukanya tak terasa adzan mahrib tiba. Sajadahnya dibentangkan dan langsung melaksanakan sholat tanpa ambil wudlu lagi, karena belum batal dari wudlu sholat ashar. Selesai sholat magrib, Yudi lansung pergi ke sekret teman-temannya tadi
“ Halloo kawan….!” Sapa Ahmad ke Yudi,
“Mana teman-teman yang lain?” Yudi menyahuti.
“Lagi makan sebentar lagi datang, itu mereka” jawab Ahmad.
Mereka diskusi lagi dan kali ini yudi agak kebinggungan karena banyak teori-teori baru yang muncul.
“Kawan aku tidak yambung” Yudi merasa binggung,
“Dengarkan aja dulu Yud nanti kamu nyambung sendiri”. Dan akhirnya mereka semua menyelesaikan diskusinya dengan banyak sekali pertanyaan bagi Yudi.

Besok paginya Yudi ketemu Ahmad
“Mau kemana, Mad?”
“Mau ke toko buku, kamu mau iku?”.
Dengan senang Yudi mengikuti Ahmad ke toko buku. Hingga sore tiba mereka pulang dengan membawa buku barunya yang tak sabar untuk dibaca.

Hari demi hari berlalu, Yudi senang mendapatkan komunitas yang baru, karena kemarin mengikuti pengkaderan sebagai syarat masuk dan menjadi anggota resmi di komunitas barunya. Hingga tak sadar dia nggak perna pulang kerumah orang tuanya hanya telfon dan kalau butuh uang minta transfer, walaupun satu kota tapi jaraknya jauh. Yudi, semua aktivis bertanya-tanya mana orangnya. Memang yudi pandai dan selalu konsisten dengan perjuangannya bahkan hampir tiap minggu tulisannya masuk di koran lokal, regional bahkan nasional juga masuk. Dengan ketelatenan dan kerajinannya membaca buku serta diskusi, menjadikan dia dikagumi oleh teman-temannya. Bahkan oleh para aktivis dari organisani kemasiswaan yang ada di kota tempat Yudi Kuliah.

***

Di rumah Yudi tinggal, Ayah dan Ibunya kangen sekali pada Yudi. Pak umar semakin terkenal dengan keahlian dan keapandaianya bercerama dihadapan publik. Hingga suatu hari ada rekanan dari politisi datang kerumahnya. Mereka memberi tawaran pada Pak Umar untuk bergabung di partainya dan langsung ditawari menjadi caleg. Tanpa berpiker panjang pak umar menyetujui. Karena itu yang menjadi keingginannya dibalik kepawaianya dan kepandaianya soal agama. Dalam hati berujar “Kesempatan untuk memasuki sistem dan merubah dari dalam prilaku politisi yang amoral”. Dan juga partai yang menawari pak Umar partai terbesar di Kotanya.

***
Masa libur kuliah telah tiba, Yudi pulang kerumah. Karena rasa kangennya terhadap kedua orang tua nya Ia cepat-cepat lari masuk kerumah, begitu di dalam rumah pak Umar dan istrinya menyambut kedatangan yudi. “ Yah, aku di rumah tidak lama, di kampus banyak kegiatan dan aku dibutuhkan sama teman-teman” bilang ke Ayahnya sambil memasuki kamarnya dan langsung merebahkan diri karena kecapean. Dua hari Yudi dirumah dan sudah waktunya kembali ke kampus.

Seminggu berlalu yudi dari rumah, di dalam organisasinya lagi sibuk menyiapkan aksi untuk mengontrol pemilu yang akan berlangsung. Sampai saat itu Yudi belum tahu kalau Ayahnya jadi Caleg dari partai terbesar di kotanya. Aktivis partai tersebut banyak melakukan dosa sosial.

Tiba di hari kampanye dengan kaget dan tersentak Yudi melihat Koran dengan Foto Ayahnya terpampam disana, dengan tulisan Caleg Jadi dari partai Pohon Kates. Saat itu juga Yudi telfon kerumah untuk memastikan tentang kebenaran apa yang barusan dilihat di koran. Dan yang menerima telfon adalah Ibunya, teryata benar itu adalah Ayahnya.

Sebulan selesai pemilahan umum yang diadakan di kotanya Ayah Yudi masuk di dewan dan jadi ketua dewan di darehanya.

***
“Bagaimana Yud, kamu masih meneruskan perjuangmu untuk melawan penindasan, walaupun kamu melawan Ayahmu sendiri” Kawan-kawan meyakinkan Yudi lagi “Setiap penindasan harus kita lawan, Ayahku sudah melakukan perselingkuhan terhadap politisi dan ini harus ditentang agar Agama tidak dijadikan komoditas politik dan membodohi rakyak”. Ujar Yudi dengan nada keras.

***

Yudi pulang kerumah pada hari libur Ayahnya, karena Dia ingin bertemu dengan Ayahnya. Sampai dirumah Dia bicara pada Ayahnya
“Yah, kenapa semua Ayah lakukan, untuk apa? Untuk Yudi, Yudi tidak butuh itu semua”
“Bukan begitu maksud Ayah, Kita harus berterima kasih pada partai Kates”,
“Apa yang perlu diterimasihkan, semua itu menjebak Ayah dengan massa yang Ayah miliki”
“Ayah sadar semua itu”
“Pokoknya Ayah harus Mengundurkan diri dan kembali lagi ke profesi Ayah sebagai pencerah Umat, kalau tidak mau Ayah berlawan dengan Yudi”
Yudi langsung berpamitan ke Ibunya untuk balik ke kampusnya.

***

Di kampus kawan Yudi menyiapkan Aksi untuk penolakan kebijakan pemerintah daerah yang tidak menguntungkan Rakyat. Dan semua itu Ayah Yudi terlibat dalam pengesahan Undang Undang yang dibuat untuk melegitimasi penindasan.

“Yud, besok kita aksi kamu jadi korlapnya kita aliansi dengan Organ Prodem yang lain”
Kawan-kawan yudi menginformasikan kepadaYudi
“Siap“ jawab Yudi.
Malam hari mempersiapkan perangkat-perangkatnya. Pagi hari Aksi dimulai, yudi berdiri paling depan dengan semangat yang berkobar-kobar. Tiba di depan kantor dewan di sana sudah di jaga ketat sekali oleh aparat Negara. Orasi bergantian menuntut pencabutan Undang-Undang yang disahkan oleh Dewan. Dan meminta ketua Dewan keluar, di tunggu lama tidak keluar-keluar. Aksi pun beruba menjadi panas, terjadi dorong mendorong antara peserta Aksi dengan aparat. Yudi kena pukul Aparat kepalanya bocor dan parah sekali, langsung dibawah kerumah sakit terdekat. Aksi dibubarkan oleh Aparat dengan banyak korban dari peserta aksi tapi yang paling parah adalah Yudi.

Kawannya mengabari ke Ibu Yudi, dan seketika itu Ibu Yudi berangkat menjenguk Yudi.
“Sudahlah Nak berhentilah melakukan demontrasi begini akibatnya” Ibunya berbisik ditelinga Yudi. Dengan nada agak keras “Tidak, tidak Mau” Yudi menjawab dengan nada agak kesakitan dikepalanya, sampai-sampai teman Yudi kaget. Yudi tidak mau pulang kerumah dan tidak mau minta Uang kekeluarganya. Beberapa hari dirumah sakit dan yudi akhirnya sembuh

Aksi besar-besaran terjadi Yudi ikut lagi, saatnya Yudi mengambil posisi di depan kawan-kawannya untuk melakukan orasi “Salam perlawanan, Kawan-kawan-kawan…..” belum sempat meneneruskan kalimatnya Yudi terjatuh dari tempat untuk orasi. “ Yudi tertembak…Yudi tertembak …” teriak barisan depan aksi demontarsi,.

Berakhir sudah perjuangan Yudi, “Kawan jangan berhenti sampai sini, perjuangan harus terus dilanjutkan walaupun orang terdekat kita yang melakukan penindasan…! harus kita lawan…!” “Yud bertahanlah“
“Aku tidak kuat lagi, sampaikan kepada Ayahku, menyerah dan cepat-cepat melakukan pengakuan dosa pada masyrakat yang ditindasnya.”“
Yud, bertahanlah…”
“Kawan-kawan lanjutkan perjuangan kita sampai ketidakadilan musnah di bumi ini”.

Bunga-bunga bertebaran dimana-mana seiring kepergian Yudi. Dan Aksi menjadi semakin besar

Malang, 2004

Surat dari Mei

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

AKU membaca surat yang kau kirim padaku seminggu yang lalu. Setelah lama kau tak ada kabarnya. Sempat waktu itu, aku bertanya pada semua kawanmu. Tetapi mereka diam tak memberi jawaban, di mana keberadaanmu.

Dua tahun kau menghilang tanpa jejak. Sehabis Aku meninggalkan kota tempat menyelesaikan kuliah. Pergi mengadu nasib di Ibu kota. Mencari pekerjaan demi memperbaiki hidup yang layak. Tapi aku tak tahan di Ibu kota, akhirnya aku putuskan untuk pulang kembali. Aku lebih suka di kota yang sudah lama aku singgahi, dan akan sering bertemu dengamu yakni kota Malang. Nama kota seperti nama nasibnya.

Membaca suratmu, penyesalanku kembali datang. Kenapa aku dulu harus pergi ke Ibu Kota, padahal kau sangat membutuhkanku. Aku merasa bersalah, meninggalkanmu sendirian tanpa kawan. Kau pendiam dan kritis dan tentu saja manis. Sehingga kawan-kawan sekerjamu takut berkawan denganmu atau sekedar mendekat kepadamu padahal mereka terpesona dengan kecantikanmu. Seperti aku, tetapi bukan hanya kecantikanmu juga sikap dan pendirianmu.

Terakhir kita bertemu. Kau bilang ada yang tidak beres di perusahaan, tempatmu bekerja.

“Kenapa gaji karyawan tidak sepadan dengan pendapatan perusahaan, ini jelas mereka menghisap para karyawan. Harusnya pemerintah ambil bagian dalam masalah ini, tetapi malah membela pemilik perusahaan. Atau memang takut, penanam modalnya akan kabur. Perusahaanku sudah dikuasai orang-orang asing.” Wajahmu memerah padam ketika kau bercerita kepadaku, sambil kau mengepal-ngepalkan tangan. Kejengkelanmu memuncak.

“Bila ada masalah, bilang padaku. Tetapi harus ada data-data yang kuat. Kawan-kawanku banyak yang aktivis, mereka juga ada yang memperjuangkan hak-hak buruh. Lebih baik kau cari data-data untuk meperkuat pendapatmu” sambil aku menepuk punggungmu dan membelai rambut panjangmu.
“Hem… tidak salah kau menjadi kekasihku, tidak pernah makan bangku kampus. Tapi kau tahu itu teori Marx, tentang nilai lebih yang harus diperjuangkan sebab itu adalah hak buruh.” Aku menenangkanmu untuk bertindak tidak gegabah dan berfikir jernih.

***
Surat yang kau kirim seminggu yang lalu, masih aku pandangi. Aku benar-benar menyesal. Atas kepergianku waktu itu. Aku berkali-kali baca pada halaman ke dua ?yang tak habis aku pikir?kau nekat sekali

” Mas, sudah dua tahun kurang satu minggu aku di penjara. Seminggu ketika Mas pergi ke Ibu Kota. Aku meprotes gaji yang tak adil. Aku mendapatkan data-data yang aku curi dari komputer bagian keuangan ketika aku kerja lembur. Membuatku menjadi geram tak tertahan. Aku tak inggat lagi nasehat Mas untuk membawa data tersebut ke teman-teman Mas yang aktivis buruh. Aku tak kuat Mas, melihat ketidakadilan itu. Apalagi buat karyawan kontrak yang sudah lama bekerja tak juga diangkat menjadi pkerja tetap. Sengaja aku tak pulang. Aku tidur di ruang iastirahat. Hingga pagi tiba dan kebetulan waktu itu ada rapat besar para steak holder perusahaanku. Aku masuk ruang rapat mereka dan berteriak-teriak. Anehnya teman-temanku tidak ada satupun yang membela aku. Mereka takut, kalau dikeluarkan dari perusahaanku. Sebab kau tahu kan Mas, mencari kerja sangatlah susah di Negeri ini”.

Aku menghela nafas, betapa nekatnya dirimu.

“Tiba-tiba kepala perusahaan, memerintahkan untuk pulang seluruh karyawan. Tinggal aku sendiri yang tak pulang. Berharap mendapat jawaban dari pimpinan perusahaan. Tetapi, yang datang malah dua orang petugas polisi. Mereka menangkapku. katanya aku membuat ketidaknyamanan ditempat umum, merisaukan para karyawan yang lain.”

Mei, air mataku menetes. Aku ternyata orang tolol, tak bisa berbuat apa-apa pada kekasihnya yang mengalami ketidakadilan. Kepadamu saja aku tidak bisa menolong, apalagi pada orang lain.

Benar-benar harus dipertanyakan pengabdianku pada mereka yang tidak dipihak oleh keadaan?politik, sosial, budaya dan agama.

Mei, sebenarnya aku ingin menjengukmu walau seminggu lagi kau pulang. tapi kalimat dalam suratmu tidak mengijinkan aku mengunjungimu. Rinduku yang selama ini tak tahu jalan kini ada cahaya terang. Tapi bagaimana aku memulangkannya. Pintamu tak mengharap aku datang.

***

Sejak semasa kuliah, aku menjadi aktivis yang sering demontrasi. Menyuarakan hak-hak kemanusian. Itu yang menjadi awal perkenalanku dengamu. Saat demontrasi memperingati hari buruh. Tepatnya tanggal 1 Mei empat tahun yang lalu. Aku bersama kawan-kawanku Mahasiswa bergabung dengan kelompok buruh. Kau menghampiri aku sehabis aku berorasi
Kau terpukau dengan isi dan orasiku.
“Kau mirip Soekarno mas, saat dipodium tadi.” Sambil memberi minum air gelas meniral padaku.
Aku mengira kau anak kuliahan sama denganku. Sebab kau tak pakai kaos seragam kerja seperti buruh-buruh lain yang bergabung saat demonstarsi. Kau mengenalkan dirimu adalah buruh dari perusahaan terbesar di kota Malang. Kau membolos kerja padahal harusnya tidak libur. Kau juga mengeluh, teman sekerjamu tidak ada yang mau ikut menyuarakan hak buruh. Sebab ada peringatan dari perusahaan, barang siapa yang akan ikut merayakan hari buruh akan dapat surat peringatan. Jika sudah dapat peringatan tiga kali. maka akan dikeluarkan dari perusahaan.
Kau bilang sudah mendapat surat peringatan sekali dan masih ada dua kali lagi perusahaan dapat mengeluarkanmu. Sebentar lagi dua kali, kau tetap tersenyum, tak ada risau sama sekali. Kau berharap ketika hari buruh tiba, semua perusahaan meliburkan karyawannya atau mengadakan semacam refleksi atas perjuangan buruh. Sayangnya itu masih isapan jempol di perusahaanmu. Karena libur pada tanggal 1 Mei masih menjadi tuntutan untuk diperjuangakan, juga demontrasi kali ini.
Ketika itu aku bertanya tentang asal usulmu. Kau menjawab “Namaku Mei, lahir di bulan Mei pada tanggal 1, aku ulang tahun Mas”
Aku jabat tanganmu kedua kalinya sambil mengucapkan
“Selamat ulang tahun”.
Entah ada apa dengan kata Mei. Nama bulan juga namamu serasa ganjil mendengarnya.
Lalu kita istirahat sambil makan rujak di sebelah stadion sepak bola. Kau menaljutkan ceritamu “Aku anak desa yang mencoba mengadu nasib ke kota. Sebenarnya aku ingin kuliah. Tapi kandas di tengah jalan. Sebab orang tuaku tak punya biaya. Sebenarnya Aku berharapan ingin melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan hukum dan cita-citaku ingin mengabdi pada negara dengan memperbaiki hukum yang tak pernah jelas di negara kita ini, mas”.

***

Mei, sekarang hari kau pulang. Para buruh telah menantimu. “Kau harus bersuara dengan lantang di hadapan kawan-kawanmu” Gumamku ketika hendak pergi bersiap-siap demontrasi peringatan hari buruh. Aku masih inggat pesanmu dalam surat yang kau kirim padaku. Untuk menunggumu di kerumunan para buruh demontrasi. Kau akan datang dan melambaikan tangan.
Para buruh sudah berdatangan, para Mahasiswa sudah berdatangan. Orasi sudah bergantian. Suara-suara buruh kian menggelegar di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota. Aku terus memandang kesana kemari, tak juga ada lambaian tanganmu.
Demontrasi telah usai, kau tak tampak juga. Lalu aku putuskan untuk menjemputmu. Tapi, ketika sipir yang menjaga rumah tahanan aku tanya.
“Bu, apa ada tahanan yang keluar dari sini hari ini?” Lama tak ada jawaban, sambil mebuka-buka buku arsip Ibu sipir menjawab
“Tak ada mas”.
“Coba lihat lagi Bu, namanya Mei”
“Oh, Mei. Dia sudah keluar kemarin dan dijemput oleh mobil”
“Ibu tahu kemana perginya?”
“Kami di sini tidak tahu. Sebab setelah tahanan keluar dari sini, bukan urusan kami”

Langkahku gontai, sambil cepat-cepat aku ambil telepon genggam menghubungi kawan-kawanku untuk membongkar kasus Mei.
Kita datangi perusahaan Mei. Tapi hasilnya kosong. Sebab tak ada catatan dan data bahwa Mei pernah bekerja di perusahaan tersebut. Aku mayakinkan kawan-kawanku dengan surat yang aku simpan di kantongku. Tapi, itu bukan bukti yang cukup kuat. Adapun bukti kuat adalah teman-teman sekerja sama Mei. Tentu mereka juga akan bumkam. Sebab takut untuk di keluarkan dari perusahaan.

Mei, telah hilang seperti nasib Marsinah, Seperti Nasib Wiji Tukul, seperti Nasib Kawan-kawanku yang tak tahu rimbahnya. Mereka menguap seperti asap, tak ada jejak. Serupa tuntutan buruh ketika berdemonstrasi, tak pernah ada jawab.

Malang, 21 April – 1 Mei 2010

Selasa, 09 Maret 2010

DENNY MIZHAR DAN ALAM PUITIK GUNUNG KIDUL

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Tuhan Yang Aku Penggal Dan Naluri Insani Yang Mati
Denny Mizhar

Aku pernah memenggal nama tuhan
ketika tak kuat menjumpai tempat singgahnya.

Batu-batu kerikil tajam melukai kakiku
di jalan menapaki pertapaan.

Kesunyian singgah dalam kesilaman masa
keharuan menebar putik-putik kamboja
lelah dengan mudah.

Bayangan-bayangan kematiannya
bergelayut di dinding nalarku penuh angka.

Tak habis aku menginjaki nasib selalu patah
warna bercahaya hilang tertutup kabut nestapa.

Penempaan akan diri
kian berulang-ulang dalam kehangatan purnama
ah, masih saja jauh kelanaku, sedang tubuhku penuh darah.

Dengan segala daya aku berlari merangkul sepi
di puncak perbukitan dimana tuhan pernah aku makamkan.

Seketika mulutku berkhotbah
mempertanyakan naluri insani juga mati di bukit putih.
***

Membaca puisi Denny Mizhar, mengingatkanku seringnya terjadi orang kendat, atau bunuh diri di Gunung Kidul (GK). Dari persoalan bermacam-macam yang tampaknya ada kecenderungan nasib pahit, terpancar di balik bencah tanahnya. Kefahaman ini didukung penulis puisi, yang pernah bilang dirinya sedang di sana. Lantas diriku teringat lukisan beraliran dekoratif karya pelukis Harjiman (almarhum), yang seluruh obyek lukisannya mengenai alam GK yang gersang; cucuran air hujan jarang sampai menghijaukan pandang.

GK salah satu kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), alamnya dulu sangat kering, tanah merah bercampur bebatu. Padahal masyarakat kebanyakan mengandalkan pertanian, sebagai mata pencarian hidup. Tapi waktu demi waktu insan giat berfikir dan pekerja ulet. Mulai menapaki tangga keindahan, ada yang ke Ibukota dan di Yogyakarta sendiri, demi mencukupi hayatnya. Lantas pemerintahan DIY menggalakkan penghijauan, yang kini dapat dipanen lewat semilir bayu. Namun “tradisi” bunuh diri, masih berjalan di awal tahun 2000-an. Semoga tulisan ini turun, sudah tiada lagi yang mengecutkan nyawa tersebut.

Sebenarnya aku ingin kembarai warna pantai Kroasia lewat google, sebab diriku belum ke sana, terus kujumpai puisi Denny. Lalu kuarahkanlah pada warna lokal yang tidak kalah menariknya, meski laut selatan GK tiada permainan voli pantai dengan pemain yang aduhai. Tapi tanjung karang putihnya ayik juga dipandang mata. Aku mulai saja mengupas karyanya, demi tidak ngelantur tak karuan. Kuterjemahkan perbait, kuanggap Denny Mizhar sudah berkali-kali hatamkan Sabda Zarathustra -Nietzsche, sehingga kudapati lebih naik, meski dengan secarik catatan:

I
Kerap manusia mendapati kesadaran kelemahannya, ketika sudah melampaui batas dinaya, sampai memulangkah apa saja yang diyakini. Saat itu juga, yang ditanggalkan begitu kuat hadir, tapi tak merasakan puncak perjumpaan. Sebab tengah menyatukan kesaksian, semisal jiwa ateis masih merasai kehadiran-Nya, ketika nalar tak mampu menjangkau, melemparkan duga pada hayalan.

II
Di jalanan hidup berliku penuh duri-duri tajam, dari kebodohanlah terlihat adanya kelicikan. Di sini ketakmampuan mencerna terbayang, tapi dengan memasuki goa pertapaan bertafakkur, semuanya terang dalam keinsyafan pemahaman.

III
Dalam sunyi, nilai-nilai bathin yang sudah ditapaki, menyembul mencapai langit-langit goa menyatu ruangan. Memantulkan terang cahaya dari pintu selalu terbuka, sedari pelatarannya tercium bunga harum ingatan kamboja. Bau kewaspadaan disebut keheningan makmur, kelapangan jiwa menerima.

IV
Namun, nalar yang menghitung denting air menetesi batuan putih di lantai goa, melayarkan gambaran usianya. Rumusan hidup dari bacaan, ingatan kalender merayunya berfikir kausalitas. Hati tergoda membentangkan angka, memasukkan dalam makna kesatuan bersusah payah. Serupa peperangan di medan kemanusiawian.

V
Tatkala nalar dilayarkan dengan bukti rangkaian kata “Tak habis aku…” Maka keindahan kalbu yang rapi segugusan cahaya puitik, atas pencarian hakikat dikehendaki puisi itu, membuyar penyesalan tiada habis-habisnya. Kekecewaan tergambar padat, ke puncaknya warna gelap gulita menusuki bagian rasa.

VI
Ialah cahaya-gelap pun purnama, serta bayang-bayang kelebatan dahan, mematangkan makna. Dari gerak itu bukan berasal cahaya, tapi paduan angin perasaan bergetar menyempurnakan kehangatan. Serupa “tubuhku penuh darah” atau rasa meruh di luar, sedang menyaksikan ketelanjangan sendiri.

VII
Di bait ini, logika pemenggal tuhan tak berdaya, kembali ingin mendekapi sunyi, ke hati yang pernah ditinggalkan. Meski dalam tempo detikan, tapi jarak hati dan nalar sungguh jauh, kalau tak sedang merasai kegenapan. Sepadan penyatuan selaras, lalu keduanya (hati-fikiran), bergegas keluar dari goa pertapaan, ke bukit pemakaman tuhan. Perbendaharaan makna, lenyap dari hadapan aku lirik, bermuwajjaha kepada-Nya.

VIII
Akhirnya nasib berkesaksian, lewat mempertanyakan yang tak butuhkan jawaban para penyaksi. Apakah ada atau tidak, mulutnya berucap; bahwa tuhan yang hadir dalam wacana pun, perlu nafas-nafas ruh kehadiran demi kebesaran-Nya. Kalau bukan manusia sendiri tak akan sanggup memaknai, atau terkubur nuraninya di bukit putih.

Sabtu, 13 September 2008

Puisi-Puisi Denny Mizhar

SEJARAH CINTA LUKA

Hati merah, terluka mengangah.
Tersimpan dalam kitab sejarah.

“Sempat kuminum racun cinta lewat liur mulutmu
dan kurasakan getir cinta lewat tubuhmu”

Hati merah, meruntuhkan jiwa.
Terkubur dalam kenangan cinta luka.
Tak kuasa pendam, bahkan buka kitab sejarah cinta.

Luka, perihkan langkah.

Malang, Desember 2007



SEBARIS PUISI DARIMU

Seberkas cahaya terang menelusup dalam nadiku
Membangkitkan emosi yang lama buntu
Mengedor-gedor pintu egoku
Memecahkan aku yang mati kutu

Sebaris puisi mengalir dalam jiwaku
Tersulut cahaya terang darimu
Berdansa dengan nada merdu
Membebaskan naluri batuku

Kini mataku mengerutu
Pada nasib yang tak pernah menahu
Akan ujung harap yang berlalu
Serupa peluru menembus jantungku
Menuju pintu-pintu yang tak tertuju

Malang, 26 April 2008




ADA DIRIMU

Ada wajahmu
Menempel dalam bola lampu kamarku
Muram, lebur menjadi satu dengan senyummu

Ada bibirmu
Menyatu dalam bola lampu kamarku
Mencibir, bersama kecut senyummu

Ada tubuhmu dalam kamarku
Diterangi bola lampu
Redup, merayu

Malang, Maret 2008

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar