Kirana Kejora
http://sastra-indonesia.com/
Mengalir Saja
Aku sungguh, benar-benar nggak bisa menyambut pagi ini dengan sunggingan senyum. Jengah dengan diriku yang terus mengkultuskan Raja. Aku jengkel sekali dengan cinta yang terus tumbuh, merambati nadiku, menghela bayangnya sepanjang saat. Aku benci dengan semua kebodohan ini Tuhan. Dia selalu tak pernah mengerti, aku mencintainya lebih dari yang dia tahu. Hanya karena ruang, jarak, dan waktu yang sering tak bersahabat menemui kami, maka aku ingin bunuh rasa itu. Kalau sudah begini, aku jadi ingat lagi kata-kata sok taunya Rindu beberapa hari yang lalu.
”Jangan bodoh banget jadi sephia Key. Jelas dia udah nggak pernah lagi telpon, kamu sudah tiga kali ke Jakarta, dia cuek-cuek aja. Meeting, sibuk, bla-bla, klise banget alasannya.”
Aku saat itu dongkol sekali mendengar kalimat apriori Rindu tentang keraguan cinta Raja padaku.
”Emang dia sibuk banget kok, nyiapin international oil and gas conference and exhibition kemarin. Anak buahnya yang kasih tahu aku…”
”Eh Key, sebagai sahabat, aku hanya bisa kasih saran…kamu mau ulangi lagi kebodohan dengan begitu mengkultuskannya? Nggak inget cerita kamu ama Rio? Lelaki tuh semua buaya sayangku.”
Di-jawil dengan gemes daguku dengan tangan usilnya.
Aku memang merasa dungu banget karena kisah-kisah romanku yang selalu carut marut. Kata orang-orang aku jago banget menulis fiksi roman, namun hingga usiaku dua puluh sembilan tahun ini, romanku selalu berantakan. Penulis memang hanya penghayal cinta pemimpi surga. Begitu jawabku tiap kali ada temen-temen yang meledekku. Sebuah alasan yang sebenarnya juga berat banget buat aku jadikan pembelaan atasku, tapi mau bagaimana lagi.
Jemariku tak tergerak buat menulisi monitor notebook-ku, sakit otakku kambuh lagi, error lagi. Mimikku mungkin begitu nampak bodoh jika aku bercermin saat itu. Mata kosong tak bernyawa, dan acak-acakan habis rambut panjang ikalku, belum lagi, bau banget nih badan karena, tubuhku belum tersentuh air sejak aku bangun jam sembilan tadi, tiga jam yang lalu. Males parah! Minggu kelabu, Sabtu kelam, dasar bego abis. Ngerasa nggak jomblo, punya pacar, tetapi jauh dan milik orang pula.
Kulihat lagi inbox di telpon genggamku, SMS terakhir Raja seminggu lalu.
”Key, hati-hati kalau SMS, aku lagi di rumah.”
Nasib-nasib, jadi sephia memang selalu siap buat dinomorduakan. Cukup pendek, singkat, padat SMS-nya. Jauh, jauh banget dengan SMS-SMS dia sembilan bulan yang lalu, saat berjuang keras meluluhlantakkan tembok kengerianku akan sebuah cinta.
”Huuuh! Setelah aku larut…dia begitu saja mengecilkan masalah-masalahku. Namanya pacar, ya pinginlah share dan sayang-sayangan…geblek-geblek aku nih. Tapi masih sulit juga pindah ke lain hati…mbuh wis!”
Rutukku dalam hati, sambil nggak terasa jariku mengklik program mIRC, tiba-tiba aku chating!
Bodo ah! Aku pusing banget, bukuku tinggal 10% aja, tiba-tiba bad mood, otakku masih mentok buat berimajinasi, padahal minggu depan aku harus ke Jakarta buat presentasi buku kedua ini ke penerbit, major label, Graha. Dasar bengal dan dodol kali, aku nekad aja iseng chating. Ngawur, ku pakai nickname Sephia_cantik, biarin ah narsis.
”Hay.”
Aku masih datar aja menyambut sapaan nickname 33_handsome.
”Hay juga, eh sesama narsis dilarang saling bercinta.”
Cuek aja aku menjawab chating iseng ini.
”Lagi di mana? nggak keluar minggu gini?”
”Suka-suka gue dong, mau tahu aja. Eh elo narsis banget ya, ngaku-ngaku handsome.”
”Kamu juga, ngaku-ngaku cantik.”
”Yeee emang gue cantik…liat tuh di Friendster gue!”
Dongkol hatiku lihat kalimat-kalimat dia yang ngeledek banget. Enak aja, sembarangan ngomong. Padahal gue juga ngeledek dia, ah biarin aja.
”Ah di Friendster bisa juga bohong, belum tentu tuh pic kamu.”
Nggak tahu kenapa. Dadaku jadi sesek banget, nih orang nambah gue suntuk aja.
”Heh denger ya, gue nggak pernah bohong, fair ama sapapun. Nggak kayak banyakan orang yang nggak pede banget penampakan walau cuman lewat pic, dunia cyber emang banyak semunya, tapi gue nggak!”
”Lho? Marah? Mau ngebuktiin?”
Tambah bengal nih orang ya, aku makin keras menekan tuts keyboard notebook.
”Ok! Gue terima tantangan elo! Sore ini kita ketemu! Gue juga pingin tau elo!”
”Sapa takut sayang? Kita ketemu dimana? Aku nggak tahu Surabaya, maklum aku tim dari pusat yang ditugaskan buat riset lumpur say. Ini lagi bete banget, gimana kalau kamu ke Sunrise apartement aja?”
”Ih, enak aja, emang gue paan pake nyamperin-nyemperin, nggak lah yao!”
”Duh say… Karena aku harus pantau lapangan, setiap saat aku nggak bisa ninggalin Sunrise, kantorku di sana juga, please.”
Karena sudah muncul keinginanku buat ngebuktikan gimana dia, ngalir aja aku menjawab dan mengiyakan pertemuan kami. Nggak tahu juga kenapa, aku merasa harus ketemu dia. Melupakan SMS Pasha dari Graha tadi pagi tentang bukuku. Ah sebodo amat, kalo lagi bad mood ya tetep aja kosong nih otak, batinku protes.
”Ok gue kesana! Awas bohong! Kalau bohong, elo harus beli novel gue 10 kali lipat! Nih HP gue?! Ntar elo miss call.”
”Hey…jadi kamu penulis? hmm great! Ok say aku tunggu kamu sekarang.”
Setelah dia miss call, aku save nomor telpon genggamnya. Dasar kali lagi mabok nih otak, segera aku matiin notebook dan mandi setelah sebelumnya aku telpon taxi.
***
Terduduk Terkesiap
”Udah nyampe mana sephia cute?”
Huuh, tambah kesal nih ati, ngejek bener nih orang.
”Dah masuk lobby.”
”Wait five minutes ok.”
Aku memasuki lobby dan duduk di sofa sudut. Sengaja kupilih tempat yang agak tertutup, aku pingin tahu dulu gimana dia.
Lima menit, sepuluh menit aku menunggu, dasar buaya, aku memilih cabut. Saat aku berdiri ada sapaan di belakangku. Shit! Dia ternyata lebih canggih menjebakku duluan.
”Sephia cantik…”
Aku segera menengok ke arah suaranya, dengan mataku yang siap melahap habis wajahnya. Tetapi, sunggingan senyum dari bibirnya yang membelah, membuat tenggorokanku tercekat, bagai ada ribuan duri tajam yang tertanam di dalamnya, saat wajahku yang sangat kecut tertatap mata elangnya. Duh, ternyata dia handsome habis!
”Lho kok diem ya, jabat salam dulu dong.”
Aku sadar akan kegoblokanku kali ini, aku segera menjabat tangannya. Lalu dia mengajakku duduk kembali.
”Mana novelnya?”
Dengan wajah yang sangat cukup blingsatan, memalukan banget, aku membuka tas dan mengeluarkan novelku.
”Lumayan juga buku kamu, bagus covernya, keren, eksotik. Kalau isinya sama nggak kayak penulisnya?”
Tiba-tiba ada keberanianku menatap matanya. Aku merasa dia terus mengejekku.
”Ya udah, aku balik, dah cukup pembuktian kita kahn?!”
Lalu tiba-tiba dipegangnya dengan kuat jemari tangan kananku yang berlenggang di depannya.
”Hey, jangan gitu ah, maafin aku ya. Kamu kan tamuku, minum teh di cafe dan ngobrol-ngobrol dulu ok?”
Tahu kenapa, aku nurut aja saat tanganku digandeng dan diajaknya masuk The Candle cafe. Kemudian kami duduk di sudut belakang cafe.
”Aku lagi jenuh aja, maaf ya jadi ngerjain kamu. Maklum setiap hari aku harus stand by buat memantau perkembangan lumpur. Satu bulan ini, setiap hari kerjaanku baru selesai jam tiga pagi. Capek aja pikiran dan hati, makanya tadi iseng aja aku chating di mIRC pake nickname itu say…”
Hmmm… jadi curhat nih ceritanya? Batinku, egp, emang gue pikiran apa. Duh tapi matanya dan bibirnya itu rek, napa aku jadi nggak punya daya buat bicara ya?
”Lagi nulis apa sekarang? Eh namamu say? aku Byan.”
”Panggil aja Key.”
Jawabku datar dan pendek. Tapi dia memang begitu pintar, melarutkan keangkuhanku dengan obrolan-obrolan ringan tapi menarik buat terus kusimak. Tapi napa aku mesti kagumi dia ya, duh ditambah lagu yang diputer di cafe ”Akhirnya Kumenemukanmu” punya Naff. Entah mengapa aku tiba-tiba suka dengan lagu itu. Aura Byan telah merasuki tulang sumsumku di senja yang kian merubung itu.
Tiba-tiba telpon genggamku berbunyi, duh Pasha…
”Iya nih tinggal 10% lagi. Pasti minggu depan, hmm pastinya, besok aku telpon kamu. Jangan sore ini, aku lagi di luar. Iya, iya deh aku usahain…”
Lalu aku matikan telpon genggamku.
”Ada apa Key? Kok muram gitu?”
Aku hanya meliriknya, buat apa seh tanya-tanya batinku masih dengan keangkuhan hati mengakui bahwa dia memang tampan sekali. Macho habis dengan t-shirt Polo hitam, celana jeans donker dan sepatu lars Caterpillar.
”Eh mengapa diam say?”
Say-say, ih resek bener seh, rutuk hatiku.
”Aku balik dulu deh, harus kirim email sekarang ke Graha, penting banget, dah ditunggu.”
Aku berdiri. Dan eh, sekali lagi dengan lancangnya, tangannya memegangi jemari kananku.
”Kalo mau ngenet bisa kok di kamarku, kasian kan mereka harus nunggu lama, diminum dulu tehnya, habis ini kita ke kamar aja ok?”
”Nggak ah…”
Napa jawabanku mulai melunak ya, heran juga aku.
”Nggak usah takut, aku nggak akan sentuh kamu Key, yuk!”
Kemudian dia memanggil waitress, setelah menyelesaikan bill, kami berjalan menuju lift, dan anehnya aku kok ya nurut aja kali ini, karena rasa nggak enakku ingkar janji terus dengan Pasha. Aku mangkir, harusnya seminggu yang lalu aku sudah ke Jakarta buat presentasi bukuku yang kedua.
Jadi inget kata-kata mas Sasongko dedengkot komunitas inde Surabaya, melalui telpon dua hari lalu, saat aku curhat tentang kisahku dengan Raja yang mulai kusadari, bahwa dia benar-benar bukan dan sulit aku miliki.
”Udahlah Key, bangun mood kamu lagi. Jangan kamu sia-siakan kesempatan dengan major label. Sapa seh yang nggak tahu Graha? Prestige-mu sebagai penulis daerah bisa naik. Kapan lagi obsesimu akan terwujud? Udah buruan diselesein, nggak inget kamu dengan susah payah menerbitkan buku inde-mu kemarin? Cinta nggak harus ditangisi. Hari gini ngomong cinta? Wis yo, aku mau ngurusi recording anak-anak.”
”Eit, dah nyampe nona, lady first…”
Lamunanku terhenti dengan terbukanya pintu lift dan kalimat Byan, ah menyebalkan sekali seh, aku harus terjebak gini, dan aku sadar sesadar-sadarnya. Ya Tuhan, kondisi nggak memungkinkan aku buat punya daya menolak ajakan Byan ke kamarnya, duh!
Tak lama setelah aku masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi dengan canggung, telpon genggam Byan berbunyi.
”Kok bisa sih mereka nimbun material di area racing? Coba kamu cari tahu kerjaan sapa itu! Shiit! Trus tadi siang ada demo di kantor bupati, cari tahu apa yang mereka demokan. Hubungi Aman! Kerja sendiri belum diberesi udah nyampuri kerjaan orang lain!”
Gerutunya dengan mimik serius. Dan aku mencoba mencerna siapa dia sesungguhnya, sambil kuberanikan diri untuk meliriknya. Dan degh, aku begitu blingsatan saat mata elangnya menatap tajam mataku, mata kami beradu. Dan entah kenapa mataku tak bisa terkedip dan sulit banget buat lari dari tatapannya.
”Sorry Key, ya gini kerjaanku tiap hari, underpresser. Maklum aku ke sini sebagai salah satu jarum dari goverment. Ah udahlah, lagi pusing ngomongin kerjaan, eh jadi kan ngenet-nya?”
Tiba-tiba mataku melemah dan nada bicaraku mulai lembut, kayaknya hatiku mulai sedikit-sedikit luluh. Dan aku mulai tahu siapa dia.
”Tapi kamu kan juga harus online terus…”
”Nggak juga, bisa lewat hand phone kok.”
Segera aku ambil flashdisc yang memang selalu kubawa kemana-mana. Karena flashdisc bagiku adalah separuh nyawaku. Kembali telpon genggamnya berbunyi.
”Ya, saya segera ke kantor sekarang…”
Tiba-tiba pundakku dipegang, dan terasa dingin sekali darah yang mengaliri tubuhku, aku begitu merinding. Duh, napa jadi begini Tuhaaan!
”Say, aku ke kantor dulu ya. Kantorku di apartement sebelah. Kalo kamu udah selesai call aku, atau kalo kamu mau makan call aja service room, kamu tanda tangani aja bill-nya, masukkan dalam bill my room, dan kalo kamu mau. Tidur aja di sini, kali aja kemaleman. Ntar aku balik ke kamar shubuh kali. Jangan khawatir, aku jinak kok, hahaha… kamu aman. Aku nggak akan sentuh kamu say, ok aku pergi dulu ya.”
Mengalir begitu lugas dan cepat kalimat-kalimat Byan, tanpa memberiku kesempatan berpikir atau menjawab, seakan-akan kami sudah lama bertemu dan berteman dekat. Moderat banget sih ni orang, begitu percayanya ama aku yang ditinggal begitu saja di kamarnya.
Belum selesai otakku berpikir dengan ucapan-ucapan dia barusan, tiba-tiba telpon kamar berdering. Keraguan menyelimutiku. Kuangkat nggak ya? kuangkat nggak? Dan tiba-tiba saja gagang telpon sudah menempel di telinga kananku.
”Maaf dengan ibu Byan?”
Aku bingung harus menjawab apa, namun tiba-tiba dari bibirku keluar jawaban.
”Iya…”
”Kami mau kirim baju-baju bapak dari laundry ke kamar bisa?”
Sekali lagi aku kok ya menjawab.
”Bisa…”
Lalu aku letakkan gagang telpon. Dan aku kembali terduduk di kursi dengan mimik bego… melongo.
”Hah? Aku jadi bu Byan?” batinku geli merasakan fragmen barusan.
Tak berapa lama terdengar bunyi bel, dan segera kubuka pintu kamar.
”Ini bajunya bu. Dan tolong tanda tangani bill-nya.”
Setelah aku tanda tangani bill-nya, aku terima baju Byan, lalu aku menutup pintu kamar. Namun sebelum baju-bajunya aku masukkan ke dalam lemari, iseng aku melihat nama yang tertera di bungkusan plastik bajunya, Byan Dewangkara. Dan dia ternyata? Haaah? Seorang doctor! Minder juga aku yang hanya lulusan strata satu, mbuh wis!
Aku harus selesaikan bukuku malam ini, biarin kemaleman. Dan segera aku harus kirim ke Pasha malam ini juga, nggak boleh ketunda lagi. Karena tiba-tiba saja mood-ku nulis terbangun bagus di kamar Byan, entah kenapa. Ada apa lagi dengan hatiku? Masak aku bisa pindah ke lain hati hanya dalam hitungan jam? Misteri Illahi kata Ari Lasoo. Mudah aja jawabannya, kali ini aku nggak mau pusing lagi karena cinta.
Seperti biasanya, kalo aku nulis harus teriring lagu apa saja. Kuambil remote TV dan nggak sengaja terdengar lagu itu lagi. Naff kenapa kamu hadir kembali, dan syair-syairnya begitu rekat lekat di hatiku malam itu.
”Akhirnya kumenemukanmu, saat hati ini mulai merapuh… akhirnya kumenemukanmu saat raga ini ingin berlabuh.. kuberharap engkaulah jawaban sgala risauku hatiku… dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku…”
Aaah, jadi aku mencintainya? Memang aku bertemu dia hari ini, saat aku risau akan cintaku dengan Raja, yang tak berujung karena aku hanya kekasih bayangannya, entah sampai kapan. Tapi kalau aku jatuh cinta pada Byan? Aaah kok, begitu mudahnya, aku tak yakin hatiku telah pindah. Tetapi aku nggak mau munafik, ternyata aku mulai tertarik pada sosoknya. Gentle, cuek, selengekan, tapi juga serius dan jenius.
Aku mulai merasakan kebodohanku kembali, karena menjadi pemuja rahasia baginya! Nggak! Nggak ah! Tuhan, jangan sampai aku menjatuhkan cintaku pada dia. Karena aku masih mengharap, cintaku dengan Raja bisa berujung pada suatu saat dan bermuara pada sebuah tempat.***
Pemilik Pilihan
Mataku mulai terasa berat sekali buat memelototi monitor notebook. Tapi bisa menarik nafas bahagia lega, karena akhirnya aku bisa menyelesaikan bukuku malam itu, dan menepati janjiku pada Pasha.
Tanpa kusadari aku tertidur pulas di kasur kamar, dan terhenyak bangun karena bel kamar berbunyi. Ternyata Byan sudah di depan pintu kamar. Dengan langkah berat aku bukakan pintu.
”Udah tidur say? Maaf ya ngganggu kamu. Ya udah tidur lagi aja.”
Tanpa menghiraukan kalimat Byan, aku langsung menjatuhkan tubuhku yang terasa begitu penat dan lelah nggak punya daya ke kasur.
Berlalunya saat tak begitu terasa. Aku terbangun karena suara SMS yang berturutan masak dalam telpon genggamku. Saat mataku mulai terbuka, aku begitu kaget karena tangan kananku telah merangkul paha kanan Byan yang masih tebungkus celana jeans-nya. Nampaknya dia tidak tidur, duduk bersandar di tembok sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam. Seperti terasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya. Lalu tangan kanannya begitu saja mengelus rambutku.
”Mau bangun sayang? Baru jam enam, bobok aja lagi kalo masih ngantuk.”
Terasa dibuai desahan lekuk gemulai sang angin, ucapan lembut Byan pagi itu melenakan lelap tidurku kembali.
Tak berapa lama kemudian aku terbangun lagi, karena SMS di telpon genggamku. Dan ternyata tanganku masih tetap dalam posisi memeluk paha kanan Byan.
Aku melirik ke atas, ke arahnya, dia masih seperti semula. Menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap putihnya ke langit-langit kamar dengan kuat. Serasa melepas beban berat yang bersemayam dalam hatinya.
Namun kali ini matanya yang mulai memerah, begitu tajam menatapku, dan tangan kanannya terus membelai lembut rambutku. Merasa nggak enak dengan kondisi itu, aku bangun. Tetapi matanya nampak tak lepas memandangi seluruh lekuk tubuhku. Karena merasa risau dengan perlakuannya, aku segera ganti menatap matanya.
Kemudian ditariknya tubuhku mendekat pada tubuhnya. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja bibir kami sudah saling bersentuhan, saling melumat, seolah memuntahkan hasrat yang terus membanjiri keringnya hati kami selama ini. Detak dadaku begitu hebat mengguncangkan tubuhku yang telah tertindih tubuhnya. Begitu sejuk sapa pagi itu melumuri kulit kami yang bersentuhan dengan desahan roman.
Satu demi satu lilitan benang yang menyetubuhiku mulai terlepas. Begitupun dengan Byan, tinggal jeans donker-nya yang masih melekat. Aku tak kuasa menolak semua persentuhan hatiku padanya.
Namun tiba-tiba Byan bangkit, terdiam. Dan menutupi sebagian tubuhku dengan selimut. Tatap liar matanya menelusup dalam kutub-kutub esku, melelehkan dinding salju yang melingkari jiwa sunyiku.
”Maafkan aku say, aku menyentuhmu.”
”Nggak, nggak say… Kamu nggak sentuh aku. Janjimu telah terpenuhi, meskipun hatiku telah kamu sentuh.”
Tiba-tiba mengalir saja kata ”say” dari bibirku tanpa bisa kubendung. Lalu Byan datar berucap…
”Everybody got a void in his soul. We are just two lost souls in a fish bowl”
Kemudian dibukanya tirai jendela kamar, pandangannya melesat jauh ke bumi Surabaya yang telah hiruk pikuk dengan geliat hidup manusianya. Sorot sang bintang raksasa semakin menguatkan pengakuanku akan keberadaan Byan di hatiku.
Dia menyalakan rokok putihnya, kembali dihisapnya dalam-dalam. Mata kami bertemu, bersentuhan dengan aroma bidak-bidak roman dalam relung dan relief jiwa yang kuat, tegas, bersenyawa dan berada pada satu garis, bertanya. Mengapa dan sedang ada apa dengan hati kami.
Tiba-tiba aku teringat Raja. Kembali aku terusik dengan ketololan. Aku merasa mengkhianatinya. Merasa salah dan berdosa padanya. Padahal aku juga sadar, aku bukan istrinya, dia bukan suamiku, dia milik orang… Sebuah kebingungan tak berdasar sama sekali yang kurasakan saat itu.
Kemudian aku berusaha, mencoba meyakinkan hatiku, bahwa cintaku pada Raja mulai terkikis. Semakin terkikis setelah ada pikat persentuhan hatiku dengan Byan, bukan pikat persetubuhanku dengannya, yang baru saja kukenal delapan belas jam yang lalu. Padahal, sungguh, benar-benar aku belum tahu lagu apa yang berkecamuk dalam hatinya tentangku, semoga cintaku kali ini tak salah lagi tempatnya. Sesungguhnya, cinta itu tak pernah salah. Namun, cinta bagiku, adalah sebilah belati tajam bertahta emas berlian, yang kan siap membunuh kita setiap saat, meskipun kita tak harus mati terbunuh karenanya. Dan aku harus siap terluka, karena aku jatuh cinta… Semoga aku bisa menjadi miliknya yang terpilih, dan dia bukan milik siapapun, meski Sang Pemilik Sejati tetaplah Dia…
Rumah Putih Sby, 6906
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Mei 2011
Sabtu, 23 Agustus 2008
KIDUNG CINTA AMOY
Kirana Kejora
Ku berhenti di depan toko Orion. Suasana Kembang Jepun masih seperti dulu. Malam makin marak dengan aroma masakan China dan Suroboyoan. Kidung Kya-Kya, begitu ramai dengan polah arek-arek Suroboyo di kampung pecinan itu. Larutnya malam, tak membuat mereka beranjak dari tempatnya. Tetap santai menyenangkan perut, melegakan tenggorokan, dan menyamankan hati dengan berbagai hiburan di jalan itu. Kya-kya Kembang Jepun memang tiada duanya ketika kawasan itu semarak dengan malam budaya. The spirit of place, sajian arsitektur Tiongkok adalah sebuah kemutlakan. Kaya dengan apresiasi budaya. Dari musik keroncong, tarian dan musik klasik Tiongkok, hingga Barongsai anak-anak dan tari Ngremo Bocah. Belum lagi pagelaran acara bertema special, macam Shanghai Night, Dancing on the Street, dan Festival Bulan Purnama. Ah, aku jadi begitu rindu dengan kemeriahan kota lamaku. Tempat yang sarat dengan cerita suka sekaligus bersayat luka.
”Kamu china? Tinggal di Kembang Jepun?!”
”Iya Bunda. Ada masalah?” sahut Elang, sambil memegang tangan kanan bundanya senja itu di teras rumah mereka. Saat itu aku benar-benar bingung, sedih, kecewa, dan mati saja rasanya hati ini. Sudah kuduga, pasti bundanya tak bisa menerimaku. Perbedaan kami begitu banyak, etnis, agama, dan materi.
Bunda Elang hanya melirikku, lalu melengos meninggalkan kami berdua. Segera kubangkit dari kursi, dan aku secepatnya melangkah keluar teras. Meninggalkan rumah besar itu. Ku terjang derasnya hujan. Tak kugubris teriakan Elang.
Batinku menjerit, ”Kamu tak pernah punya daya arung sebagai lelaki Elang, namun kupaham. Karena trah, penerus dan pewaris tunggal Raden Priyo Kusumo membelenggumu akan sebuah pilihan. I know hon, ic. Never mind…”
Aku terus berjalan menyusuri jalan, memunguti puing-puing kehancuran hati dan cintaku senja itu. Aku harus kembali kuat seperti saat sebelum bertemu Elang. Seperti saat aku hidup sendiri, sebatang kara, karena mama meninggal tertabrak mobil angkut, ketika mau menggelar barang dagangannya di trotoar depan toko koko Hendra. Sedang papaku, sampai sekarang tak tahu rimbanya. Kata mama, sejak aku berusia 3 tahun, papa pergi sementara waktu sampai tak ada yang mencurigainya sebagai orang PKI. Dendamku pada sebuah Orde yang begitu bengis dan begitu mudah memvonis. Tak pernah berpikir begitu banyak memakan korban anak-anak yang psikologisnya menjadi tragis.
Terus kutelusuri riak-riak kecil air yang terkadang membanjiri jalan, dari jl. Sumatra hingga tak terasa aku telah sampai jl. Rajawali. Aku lelah sekali, tubuh semampaiku mulai kedinginan, menggigil. Dan tak terasa aku telah sampai di kamar kostku, di kawasan Kembang Jepun.
Semenjak itu, aku menghilang dari kehidupan Elang. Padahal di dalam rahimku telah ada benih cinta kami. Hanya untuk membuktikan bahwa aku tak sehina tuduhan bundanya, bahwa anak Kembang Jepun identik dengan keturunan geshia. Sebuah hal yang mustahil, ketika anak gadisnya masih perawan. Dan kami lakukan persetubuhan itu atas nama cinta. Kubuktikan kegadisanku pada Elang, sekaligus dia berharap dengan kehamilanku, bundanya mau merestui hubungan kami. Namun sebelum semuanya ini kami sampaikan kepada bundanya, aku memilih pergi setelah peristiwa senja itu, daripada sakitku makin tak bisa membuatku menikmati pernikahanku dengan Elang.
”Kamu perempuan bodoh me! Ndak cengli.”
Tak kuhiraukan kalimat seru cece Lani. Aku terus mengemasi semua pakaianku dari lemari kamar kostku.
”Kamu baru saja berkarir di dunia model karena Elang. Lalu kamu membiarkan dirimu hamil dan pergi darinya.”
Kulirik sejenak cece Lani, sahabat, teman satu kamarku, seorang waitress café di Kembang Jepun. Lalu kuhela nafas panjang, kuusap perutku yang mulai membuncit.
”Ada beberapa pilihan yang bisa kamu ambil. Minta pertanggungjawaban Elang, kawin lari, atau kamu gugurkan kandunganmu. Biar karirmu tak terganggu. Jangan bodohlah me.”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Setelah selesai berkemas, kucium pipi cece Lani. ”Ndak tahulah ce. Kamsiya. Aku harus pergi.”
Cece Lani menghalangi langkahku, ditatapnya aku, mata sipit kami beradu, kubuang pandangku ke lantai ubin kamar. Lalu jemari tangan kanannya memegang daguku, dan diarahkan padanya.
”Me, terus ndik mana kamu ntik tinggal? Mau pergi kemana? Ntik yok apa dengan…”
Segera kupegang tangan kanannya, kupeluk tubuh mungilnya. Dia menangisi kepergianku. Tujuh tahun kami selalu bersama dalam keceriaan dan kesedihan, sebuah persahabatan yang terjalin karena sakit yang kami rasakan sama. Di jalan kami bertemu dan di jalan kami hidup bersama.
”Sudahlah ce, biarkan meme pilih jalan hidup yang sebenarnya.”
Semenjak itu kami hanya berhubungan lewat surat. Dan satu tahun kemudian dia menikah dengan koko Johan, sales marketing salah satu produk minuman di café tempatnya bekerja.
Keterpurukan masa laluku tak menjadikan aku mati jiwa. Dengan tabungan yang ku miliki, kuberanikan diri pijaki bumi Jakarta. Beruntung kontrakku dengan beberapa iklan masih menghasilkan royalti. Hingga aku bisa merawat kandunganku dengan baik, selain bisa mengontrak rumah mungil di pinggiran Jakarta, dan sanggup menggaji ning Ginah, pembantu yang kubawa dari Surabaya. Dia yang selama ini membantuku berjualan baju di kaki lima Kembang Jepun, sebelum Elang, seorang fotografer ternama di Surabaya menemukanku, mengajakku menjadi modelnya, lalu memacariku dan mengajakku menikah.
”Sungguh, kusisakan cinta itu buatmu, bukan berarti kau tersia dan terbuang hon. Namun ku memang tak bisa mengikisnya habis. Aku terluka karenamu, bukan karena kau telah menyakitiku, namun karena kau pernah datang dengan keseluruhan cintamu…buat Kemilau….buah cinta kita, aku panggil dia Key…kunci cinta kita hon…”
Kukirim email kepada Elang, terus mengalir saja tak henti satu tahun ini, namun tak pernah ada jawaban darinya. Akupun tak mau mencari dimana dia. Bagiku kehadiran Key sudah sangat berarti. Aku hanya ingin, dia tahu aku punya bukti cinta itu tetap untuknya.
Meski karirku sebagai model cemerlang, namun ku tetap tak bisa memberi keluarga yang sempurna bagi seorang Key. Hingga ku terima pinangan Erick, seorang manajer hotel tempatku menginap, ketika aku ada show di Paris. Dia lelaki romantis yang bisa membuatku melupakan Elang meski hanya sejenak.
Aku memang wanita pemuja suasana, yang begitu merindukan sebuah kelembutan hati dan belaian kasih yang bisa menjadikanku wanita seutuhnya.
”I wanna married with you.”
Aku begitu larut dengan Erick yang meminangku di kala sunrise di bawah ”Gadis Besi” menara karya Alexandre Gustave Eiffel itu.
Tiga bulan kemudian, kami mengikat janji suci, menikah di Champ de Mars, di bawah la tour Eiffel, semua mengalir begitu saja, bak aliran sungai Seine yang terus setia menyejukkan besi menara itu, ketika panas menyengatnya. Sebuah surga dunia yang tak pernah ada dalam impianku. Bulan madu yang indah dengan mengunjungi istana Versailles, aku merasa menjadi permaisuri Louis XVIII. Mungkin ini sebuah kemenanganku atas pertapaan batinku selama ini. Meskipun sejujurnya aku belum sepenuhnya punya cinta buat Erick, namun aku ingat pesan ning Ginah, menikahkah dengan orang yang mencintaimu, kelak kamu akan bahagia. Dan Erick bisa menerimaku apa adanya. Bagiku saat itu, aku ingin membina sebuah mahligai indah berumah tangga.
Setelah menikah dan tinggal di Paris, Tuhan belum juga menitipkan buah hati kami di dalam rahimku. Mungkin karena di sudut hatiku, masih begitu lekat bayang seorang Elang. Hingga tak ada keikhlasan rahim ini buat mengandung benih Erick, entahlah. Padahal, Erick begitu tulus mencintaiku dan Key.
Ternyata Tuhan hanya sembilan bulan menjodohkan kami, Erick meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hatiku hancur karena aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku kembali hidup hanya bertiga dengan Key dan ning Ginah. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku memilih Surabaya karena bagiku, kota ini adalah ibuku. Aku selalu home sick dimanapun aku tinggal. Aku mulai membuka sebuah usaha, yang tak jauh dari keahlianku. Membuka butik di Pasar Atum.
Butikku makin maju. Hingga aku bertemu dengan Prima Laksana, seorang designer kondang Surabaya. Meskipun pekerjaannya akrab dengan dunia perempuan, namun Prima adalah lelaki macho dan begitu sempurna di mataku. Kami sering mengerjakan pekerjaan bersama-sama. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah, setelah tujuh bulan berpacaran. Meski usianya lima tahun di bawahku. Aku sudah merasa mantap menyandarkan kelelahan hatiku padanya. Bagiku ini pernikahanku yang terakhir. Dia begitu bertanggung jawab pada keluarga dan sangat menyayangi Key.
”Benar kan kataku. Kamu bisa temukan lelaki yang lebih baik dari semua lelaki yang pernah ada dalam hatimu…”
Aku hanya manggut-manggut mendengar kalimat cece Lani, sambil memegang cincin berlian yang telah melingkari jari manis kananku lima bulan ini. Lalu kami masuk ke dalam Rembulan café di Tunjungan Plaza III. Kami rehat sebentar, capek banget setelah shoping seharian sekalian nostalgia, karena kami lama ndak jalan bareng.
”Belum ada tanda-tanda junior Prima di perutmu me?”
Aku mengelus perutku yang masih ramping, sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan mengikuti cece Lani duduk di sudut kanan belakang cafe. Namun setelah duduk, pandanganku serasa tak nyaman dengan yang kulihat di samping kiri meja kami.
Aku kenal sekali dengan performance lelaki, dengan hem lengan panjang biru laut, yang hanya terlihat punggungnya itu. Aku terdiam, tak menggubris kalimat-kalimat cece Lani. Lalu cece Lani ikut terdiam, melihat ke meja samping kami.
Kedua tangan itu saling erat menggenggam, meremas, dan pasangan lelaki berhem biru itu menangis sesenggukan. Lamat-lamat kudengar kalimat-kalimat yang meluncur dari lelaki berhem biru itu, ketika nada musik cafe berhenti.
”Yakinlah, aku masih sayang kamu. Aku menikah karena buat status saja. Berapa kali harus kubilang? Toh kita masih bisa ketemu tiap hari…sudahlah…ragaku miliknya, tapi hatiku tetap milikmu…”
Rasanya saat itu aku ingin segera membubarkan pemandangan menjijikkan itu. Namun ragaku tak kuat, karena gemuruh detak sang jantung yang benar-benar tak bersahabat lagi dengan tubuhku. Prima Laksana ternyata seorang gay! Aku pingsan!
”Saudari Lilian dan saudara Prima Laksana …silakan masuk ke ruang sidang tiga…”
Tiba-tiba aku dikejutkan suara petugas Pengadilan Agama yang memanggilku ke ruang sidang. Aku memasuki ruang sidang ditemani cece Lani. Nampak di ruang sidang hanya ada pengacara suamiku.
”Sabar me..semoga gugatanmu menang…”
Kalimat cece Lani datar, dia turut merasa sangat bersalah, karena selama ini dialah yang mendorongku untuk menerima lamaran Prima. Maka dia terus setia menemaniku hingga putusan sidang berakhir.
Ketukan palu hakim, memenangkan gugatanku. Namun terasa hampa hatiku dan kosong pikiranku. Kalut tak bermakna rasanya hidup ini, sebuah kelelahan yang tak berkesudahan. Cece Lani lalu membimbingku keluar dari ruang sidang.
”Ijinkan aku datang dengan keseluruhan cintaku…”
Sebuah suara yang datar dan berat, yang pernah kukenal. Aku dan cece Lani menghentikan langkah di pelataran mobil. Kami mencari arah suara itu, di belakang kami. Kami menoleh. Lelaki dengan tampilan macho, celana dan jaket blue jeans, rambut terkuncir rapi ke belakang. Aku merasa, tiba-tiba menjadi arca tua yang siap roboh.
”Elang…!” Sempat kudengar kalimat cece Lani sebelum mataku berkunang-kunang dan dibopong Elang, dibawa masuk ke dalam mobil…batinku menjerit…honey!
”Cik, tolong mobile minggir…”
Suara tukang parkir dan ketukan tangannya di kaca mobilku, membuyarkan lamunanku malam itu. Segera aku menjalankan mobilku. Kulajukan pelan-pelan menyusuri sepanjang jalan Kembang Jepun, sambil kuhapus air mataku yang tiba-tiba begitu saja mengaliri tirus pipiku.
Batinku malam itu. ”Dimana kamu Elang? Rumahmupun telah sunyi tak berpenghuni..maafkan aku hon…”
Rumah Hijau, 230907, energi kepak elang
Ku berhenti di depan toko Orion. Suasana Kembang Jepun masih seperti dulu. Malam makin marak dengan aroma masakan China dan Suroboyoan. Kidung Kya-Kya, begitu ramai dengan polah arek-arek Suroboyo di kampung pecinan itu. Larutnya malam, tak membuat mereka beranjak dari tempatnya. Tetap santai menyenangkan perut, melegakan tenggorokan, dan menyamankan hati dengan berbagai hiburan di jalan itu. Kya-kya Kembang Jepun memang tiada duanya ketika kawasan itu semarak dengan malam budaya. The spirit of place, sajian arsitektur Tiongkok adalah sebuah kemutlakan. Kaya dengan apresiasi budaya. Dari musik keroncong, tarian dan musik klasik Tiongkok, hingga Barongsai anak-anak dan tari Ngremo Bocah. Belum lagi pagelaran acara bertema special, macam Shanghai Night, Dancing on the Street, dan Festival Bulan Purnama. Ah, aku jadi begitu rindu dengan kemeriahan kota lamaku. Tempat yang sarat dengan cerita suka sekaligus bersayat luka.
”Kamu china? Tinggal di Kembang Jepun?!”
”Iya Bunda. Ada masalah?” sahut Elang, sambil memegang tangan kanan bundanya senja itu di teras rumah mereka. Saat itu aku benar-benar bingung, sedih, kecewa, dan mati saja rasanya hati ini. Sudah kuduga, pasti bundanya tak bisa menerimaku. Perbedaan kami begitu banyak, etnis, agama, dan materi.
Bunda Elang hanya melirikku, lalu melengos meninggalkan kami berdua. Segera kubangkit dari kursi, dan aku secepatnya melangkah keluar teras. Meninggalkan rumah besar itu. Ku terjang derasnya hujan. Tak kugubris teriakan Elang.
Batinku menjerit, ”Kamu tak pernah punya daya arung sebagai lelaki Elang, namun kupaham. Karena trah, penerus dan pewaris tunggal Raden Priyo Kusumo membelenggumu akan sebuah pilihan. I know hon, ic. Never mind…”
Aku terus berjalan menyusuri jalan, memunguti puing-puing kehancuran hati dan cintaku senja itu. Aku harus kembali kuat seperti saat sebelum bertemu Elang. Seperti saat aku hidup sendiri, sebatang kara, karena mama meninggal tertabrak mobil angkut, ketika mau menggelar barang dagangannya di trotoar depan toko koko Hendra. Sedang papaku, sampai sekarang tak tahu rimbanya. Kata mama, sejak aku berusia 3 tahun, papa pergi sementara waktu sampai tak ada yang mencurigainya sebagai orang PKI. Dendamku pada sebuah Orde yang begitu bengis dan begitu mudah memvonis. Tak pernah berpikir begitu banyak memakan korban anak-anak yang psikologisnya menjadi tragis.
Terus kutelusuri riak-riak kecil air yang terkadang membanjiri jalan, dari jl. Sumatra hingga tak terasa aku telah sampai jl. Rajawali. Aku lelah sekali, tubuh semampaiku mulai kedinginan, menggigil. Dan tak terasa aku telah sampai di kamar kostku, di kawasan Kembang Jepun.
Semenjak itu, aku menghilang dari kehidupan Elang. Padahal di dalam rahimku telah ada benih cinta kami. Hanya untuk membuktikan bahwa aku tak sehina tuduhan bundanya, bahwa anak Kembang Jepun identik dengan keturunan geshia. Sebuah hal yang mustahil, ketika anak gadisnya masih perawan. Dan kami lakukan persetubuhan itu atas nama cinta. Kubuktikan kegadisanku pada Elang, sekaligus dia berharap dengan kehamilanku, bundanya mau merestui hubungan kami. Namun sebelum semuanya ini kami sampaikan kepada bundanya, aku memilih pergi setelah peristiwa senja itu, daripada sakitku makin tak bisa membuatku menikmati pernikahanku dengan Elang.
”Kamu perempuan bodoh me! Ndak cengli.”
Tak kuhiraukan kalimat seru cece Lani. Aku terus mengemasi semua pakaianku dari lemari kamar kostku.
”Kamu baru saja berkarir di dunia model karena Elang. Lalu kamu membiarkan dirimu hamil dan pergi darinya.”
Kulirik sejenak cece Lani, sahabat, teman satu kamarku, seorang waitress café di Kembang Jepun. Lalu kuhela nafas panjang, kuusap perutku yang mulai membuncit.
”Ada beberapa pilihan yang bisa kamu ambil. Minta pertanggungjawaban Elang, kawin lari, atau kamu gugurkan kandunganmu. Biar karirmu tak terganggu. Jangan bodohlah me.”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Setelah selesai berkemas, kucium pipi cece Lani. ”Ndak tahulah ce. Kamsiya. Aku harus pergi.”
Cece Lani menghalangi langkahku, ditatapnya aku, mata sipit kami beradu, kubuang pandangku ke lantai ubin kamar. Lalu jemari tangan kanannya memegang daguku, dan diarahkan padanya.
”Me, terus ndik mana kamu ntik tinggal? Mau pergi kemana? Ntik yok apa dengan…”
Segera kupegang tangan kanannya, kupeluk tubuh mungilnya. Dia menangisi kepergianku. Tujuh tahun kami selalu bersama dalam keceriaan dan kesedihan, sebuah persahabatan yang terjalin karena sakit yang kami rasakan sama. Di jalan kami bertemu dan di jalan kami hidup bersama.
”Sudahlah ce, biarkan meme pilih jalan hidup yang sebenarnya.”
Semenjak itu kami hanya berhubungan lewat surat. Dan satu tahun kemudian dia menikah dengan koko Johan, sales marketing salah satu produk minuman di café tempatnya bekerja.
Keterpurukan masa laluku tak menjadikan aku mati jiwa. Dengan tabungan yang ku miliki, kuberanikan diri pijaki bumi Jakarta. Beruntung kontrakku dengan beberapa iklan masih menghasilkan royalti. Hingga aku bisa merawat kandunganku dengan baik, selain bisa mengontrak rumah mungil di pinggiran Jakarta, dan sanggup menggaji ning Ginah, pembantu yang kubawa dari Surabaya. Dia yang selama ini membantuku berjualan baju di kaki lima Kembang Jepun, sebelum Elang, seorang fotografer ternama di Surabaya menemukanku, mengajakku menjadi modelnya, lalu memacariku dan mengajakku menikah.
”Sungguh, kusisakan cinta itu buatmu, bukan berarti kau tersia dan terbuang hon. Namun ku memang tak bisa mengikisnya habis. Aku terluka karenamu, bukan karena kau telah menyakitiku, namun karena kau pernah datang dengan keseluruhan cintamu…buat Kemilau….buah cinta kita, aku panggil dia Key…kunci cinta kita hon…”
Kukirim email kepada Elang, terus mengalir saja tak henti satu tahun ini, namun tak pernah ada jawaban darinya. Akupun tak mau mencari dimana dia. Bagiku kehadiran Key sudah sangat berarti. Aku hanya ingin, dia tahu aku punya bukti cinta itu tetap untuknya.
Meski karirku sebagai model cemerlang, namun ku tetap tak bisa memberi keluarga yang sempurna bagi seorang Key. Hingga ku terima pinangan Erick, seorang manajer hotel tempatku menginap, ketika aku ada show di Paris. Dia lelaki romantis yang bisa membuatku melupakan Elang meski hanya sejenak.
Aku memang wanita pemuja suasana, yang begitu merindukan sebuah kelembutan hati dan belaian kasih yang bisa menjadikanku wanita seutuhnya.
”I wanna married with you.”
Aku begitu larut dengan Erick yang meminangku di kala sunrise di bawah ”Gadis Besi” menara karya Alexandre Gustave Eiffel itu.
Tiga bulan kemudian, kami mengikat janji suci, menikah di Champ de Mars, di bawah la tour Eiffel, semua mengalir begitu saja, bak aliran sungai Seine yang terus setia menyejukkan besi menara itu, ketika panas menyengatnya. Sebuah surga dunia yang tak pernah ada dalam impianku. Bulan madu yang indah dengan mengunjungi istana Versailles, aku merasa menjadi permaisuri Louis XVIII. Mungkin ini sebuah kemenanganku atas pertapaan batinku selama ini. Meskipun sejujurnya aku belum sepenuhnya punya cinta buat Erick, namun aku ingat pesan ning Ginah, menikahkah dengan orang yang mencintaimu, kelak kamu akan bahagia. Dan Erick bisa menerimaku apa adanya. Bagiku saat itu, aku ingin membina sebuah mahligai indah berumah tangga.
Setelah menikah dan tinggal di Paris, Tuhan belum juga menitipkan buah hati kami di dalam rahimku. Mungkin karena di sudut hatiku, masih begitu lekat bayang seorang Elang. Hingga tak ada keikhlasan rahim ini buat mengandung benih Erick, entahlah. Padahal, Erick begitu tulus mencintaiku dan Key.
Ternyata Tuhan hanya sembilan bulan menjodohkan kami, Erick meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hatiku hancur karena aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku kembali hidup hanya bertiga dengan Key dan ning Ginah. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku memilih Surabaya karena bagiku, kota ini adalah ibuku. Aku selalu home sick dimanapun aku tinggal. Aku mulai membuka sebuah usaha, yang tak jauh dari keahlianku. Membuka butik di Pasar Atum.
Butikku makin maju. Hingga aku bertemu dengan Prima Laksana, seorang designer kondang Surabaya. Meskipun pekerjaannya akrab dengan dunia perempuan, namun Prima adalah lelaki macho dan begitu sempurna di mataku. Kami sering mengerjakan pekerjaan bersama-sama. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah, setelah tujuh bulan berpacaran. Meski usianya lima tahun di bawahku. Aku sudah merasa mantap menyandarkan kelelahan hatiku padanya. Bagiku ini pernikahanku yang terakhir. Dia begitu bertanggung jawab pada keluarga dan sangat menyayangi Key.
”Benar kan kataku. Kamu bisa temukan lelaki yang lebih baik dari semua lelaki yang pernah ada dalam hatimu…”
Aku hanya manggut-manggut mendengar kalimat cece Lani, sambil memegang cincin berlian yang telah melingkari jari manis kananku lima bulan ini. Lalu kami masuk ke dalam Rembulan café di Tunjungan Plaza III. Kami rehat sebentar, capek banget setelah shoping seharian sekalian nostalgia, karena kami lama ndak jalan bareng.
”Belum ada tanda-tanda junior Prima di perutmu me?”
Aku mengelus perutku yang masih ramping, sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan mengikuti cece Lani duduk di sudut kanan belakang cafe. Namun setelah duduk, pandanganku serasa tak nyaman dengan yang kulihat di samping kiri meja kami.
Aku kenal sekali dengan performance lelaki, dengan hem lengan panjang biru laut, yang hanya terlihat punggungnya itu. Aku terdiam, tak menggubris kalimat-kalimat cece Lani. Lalu cece Lani ikut terdiam, melihat ke meja samping kami.
Kedua tangan itu saling erat menggenggam, meremas, dan pasangan lelaki berhem biru itu menangis sesenggukan. Lamat-lamat kudengar kalimat-kalimat yang meluncur dari lelaki berhem biru itu, ketika nada musik cafe berhenti.
”Yakinlah, aku masih sayang kamu. Aku menikah karena buat status saja. Berapa kali harus kubilang? Toh kita masih bisa ketemu tiap hari…sudahlah…ragaku miliknya, tapi hatiku tetap milikmu…”
Rasanya saat itu aku ingin segera membubarkan pemandangan menjijikkan itu. Namun ragaku tak kuat, karena gemuruh detak sang jantung yang benar-benar tak bersahabat lagi dengan tubuhku. Prima Laksana ternyata seorang gay! Aku pingsan!
”Saudari Lilian dan saudara Prima Laksana …silakan masuk ke ruang sidang tiga…”
Tiba-tiba aku dikejutkan suara petugas Pengadilan Agama yang memanggilku ke ruang sidang. Aku memasuki ruang sidang ditemani cece Lani. Nampak di ruang sidang hanya ada pengacara suamiku.
”Sabar me..semoga gugatanmu menang…”
Kalimat cece Lani datar, dia turut merasa sangat bersalah, karena selama ini dialah yang mendorongku untuk menerima lamaran Prima. Maka dia terus setia menemaniku hingga putusan sidang berakhir.
Ketukan palu hakim, memenangkan gugatanku. Namun terasa hampa hatiku dan kosong pikiranku. Kalut tak bermakna rasanya hidup ini, sebuah kelelahan yang tak berkesudahan. Cece Lani lalu membimbingku keluar dari ruang sidang.
”Ijinkan aku datang dengan keseluruhan cintaku…”
Sebuah suara yang datar dan berat, yang pernah kukenal. Aku dan cece Lani menghentikan langkah di pelataran mobil. Kami mencari arah suara itu, di belakang kami. Kami menoleh. Lelaki dengan tampilan macho, celana dan jaket blue jeans, rambut terkuncir rapi ke belakang. Aku merasa, tiba-tiba menjadi arca tua yang siap roboh.
”Elang…!” Sempat kudengar kalimat cece Lani sebelum mataku berkunang-kunang dan dibopong Elang, dibawa masuk ke dalam mobil…batinku menjerit…honey!
”Cik, tolong mobile minggir…”
Suara tukang parkir dan ketukan tangannya di kaca mobilku, membuyarkan lamunanku malam itu. Segera aku menjalankan mobilku. Kulajukan pelan-pelan menyusuri sepanjang jalan Kembang Jepun, sambil kuhapus air mataku yang tiba-tiba begitu saja mengaliri tirus pipiku.
Batinku malam itu. ”Dimana kamu Elang? Rumahmupun telah sunyi tak berpenghuni..maafkan aku hon…”
Rumah Hijau, 230907, energi kepak elang
Selasa, 12 Agustus 2008
PERI KECIL DAN DEWA MALAM
Kirana Kejora
CINTA MAYA
”Virus hampa telah rajam hati malam ini dewa…”
Larasati mulai membuka sapa mayanya di Yahoo Messenger pada sebuah id dewa_malam. Sambil dia pilih lagu-lagu cinta di mp3-nya. Teralunlah Dealova-nya Once…aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu…aku ingin kau tahu bahwaku selalu memujamu…
”Jingga lembayung tumpah dalam genangan, menyentuh kerling mata senja”
Laras nampak tersenyum ciut, sambil mata kejoranya menatap layar monitor PC- nya.
”Genangan asmara peri kecil dengan dewa malamnya..siangku bersenandung hampa tanpa ujarmu..kenapa tak kau runuti jejak hatiku yang kosong hari ini? Riakmupun tak kutemui, tak ada sentuh relungku..aku sedih…”
”Janganlah air mata tumpah tanpa ada di dadaku.”
”Namun kapan kau rasa hangatnya air mata di dada itu?”
”Saat rindumu mencapai klimaks, maka pejamkan matamu, panggil aku dengan mantramu.”
”Tak kah kau rasa asa pelukku? Setiap malam cekam rajam tubuh peri kecilmu?”
”Aku akan ada dengan keseluruhanmu.”
”Peri kecilmu jiwanya mulai sakit.”
”Dewa malammupun semakin gila! Makin sadar bahwa birahinya menjadi sumber inspirasinya! Tanpanya aku hilang!”
”Ketika birahi datang melanda, apa yang akan kamu lakukan? Make love dengan dewi mayamu?”
”Mendatangi kamar suciku, bercinta dengan tubuhku, mencipta dewi mayaku..kamu Peri Kecil.”
”The candle make love? Kita bikin sebuah mahakarya…kolaborasi yang indah sepasang pujangga khayal!”
”Ya! Sebuah cerita panjang tentang kisahnya sendiri…Perkawinan Surga judulnya.”
”Penulisnya cukup dewa malam feat peri kecil.”
”Perkawinan Surga/Kuda, Ksatria, dan Peri Kecil.”
”Jangan…better..Perkawinan Surga/Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Peri, kurang menggigit sub judulnya.”
”Ya sudah, bagaimana kalau begini saja, Perkawinan Surga/Kuda, Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Ya…bagus begitu Periku, bagaimana alurnya?”
”Energi Dewa Malamku bisa jadi jiwa tulisan itu, ketika real kita bertemu, tergantung aura pertemuan cinta kita kelak.”
”Peri Kecil dan Dewa Malam yang menemukan makna cinta sesungguhnya, cinta yang selama ini dianggapnya telah hilang.”
”Kali ini kita bikin skenario buat perjalanan kita sendiri…bukan fiksi murni Dewa…dan kau tahu, aku selalu bikin hentakan yang menyakitkan pembacanya di akhir cerpen-cerpenku selama ini.”
”Tunggu! Aku tak ingin kau un happy-kan tulisan ini, ingat, ini kolaborasi Dewa Malam dan Peri Kecil…tak bisa Peri Kecil egois dengan pilihannya..dan please, kamu jadi mengingatkanku dengan seseorang…NGGAK!”
”Kenapa kamu Dewa? Kamu telah bikin sakit seseorang? Atau kamu telah membuat sebuah luka?”
Tak ada jawaban…berhentilah kalimat-kalimat maya mereka berdua…tiba-tiba Dewa Malam offline. Wajah putih Laras semakin memucat, dia kernyitkan dahi, dan tangan kirinya mengambil HP yang tergeletak di samping kiri monitor PC-nya. Dia cari nama Dewa Malam dalam daftar contacts HP-nya.
Terdengar nada tunggu begitu panjang, tanpa jawaban…Kau tahu mengapa, percintaan ini, kembali terjadi, Tuhan semoga ini menjadi…suratan takdirku..hidup bersamanya, hingga maut memisahkan..Tuhan semoga ini terjadi…Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya…hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya..Tuhan Kau tahu…suara flamboyan Ari Lasso dengan Tuhan Kau Tahu-nya..begitu menyayat hati Larasati.
Lalu dimatikannya HP, Laras termenung, membatin,”Apa yang salah padaku? Aku telah menyakitinya Tuhan?”
Segera dia meninggalkan pesan di inbox ym dewa_malam, setelah sebelumnya dia klik Pujaanku milik Melly feat Jimmo. Larut dalam lagu hati adalah energi Laras buat menulis apa yang menjadi cerca pikir buat rehatkan hatinya, yang sesungguhnya sudah sangat lelah dengan sebuah kembara cintanya selama ini.
Persembahan kalbuku..nantikan dikau di tidur lelapku..pujaanku… Sayatan gitar Anto Hoed membalut kalut hatinya….burung berkicau tanda setia pada pagi, ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi, jantung kau mintapun kan kuberikan, betapa dalamnya cinta untukmu…
”Kita buat sebuah persembahan nirwana hati yang putih, indah tak bernoda, kan kupakai gaun jingga pemberianmu, yang menjadi selimut sutra tubuhku yang dahaga…”
”Menjaring kekangan di tepian cakrawala, duduk di sutra langit yang terhampar, di belantar ruap yang bangun pura.”
Laras nampak girang, lega, ketika muncul jawaban dewa_malam, yang ternyata online, invisible. Jemarinya makin berenergi meraba huruf demi huruf keyboard PC-nya.
”Hingga aku klimaks pada puncak batas, aku tak tahu bahasa langitmu..terlalu tinggi buat Peri Kecil, yang tetap berusaha jadi telaga hatimu.”
”Aku sembunyi di balik bukit tubuh, yang terhempar di samudra luas, riak meriak mendawai senja, temaram rebah dalam pelukan bulan, menyatu dalam syair birahi, larut dan hilang.
”Ketika kau telah sentuh begitu dahsyat, Peri Kecilmu tak bisa berbuat”
”Sihir pesona tubuh, meradang, memerah bibir, meraih tubuh, mencipta aku dalam bayangan suci terhenti, mengaum, menindih, mencengkeram, dan terkulai
”Belai aku dg syair-syair romanmu yg dalam, peluk aku dalam remang rembulan, ajak aku berdansa dalam roman surgamu…aku lelah menulis orang lain…kali ini syahkan kita menulis tentang dera hati kita…syahkan percintaan nyata kita…tak dalam kembara maya yang hanya lamun khayal semata…kita buang sosok-sosok imajiner kita..saatnya kita bertarung dengan nyata raga, berani bercinta kembali!”
”Why silent?” kusambung sapaku lagi.
”Aku mati kata dan terantuk batu, mendengar syair-syairmu, kataku hilang begitu saja, nggak banyak kata-kata lagi…selain, L A K U K A N!”
”When?”
”Tiga hari lagi, senja menjelang maghrib, ku telah tiba pada pijakan bumimu.”
”Saat penampakan kau dan aku yang sebenarnya…kita akhiri ujaran-ujaran maya ini, buat memulai raba raga nyata..dengan makna cinta yang ada. Kutunggu sambutmu, sungguh.”
”Namun satu pintaku, jangan akhiri kolaborasi cerita ini dengan sebuah kepahitan. Meski selalu katamu…kepahitan, kepedihan itu adalah bagian dari sebuah realita hidup..cinta adalah luka…namun, tak bisakah kita tulis skenario ini dengan indah berbuah senyum?”
Larasati tak bisa menjawab ujaran Dewa Malam kali ini, terpaku diam, entah apa yang menjadi cerca pikirnya malam itu…***
TERHELA NYATA
Sebuah keberanian berkomitmen, tiba saat gelisahkan hati Larasati. Namun satu sisi hatinya, mengiyakannya.
Kembali terngiang wejangan alm. Ibunya,”Sampai kapan kamu bercinta di dunia maya? Tak ada ujungnya Laras, hadapi dengan nyata cinta itu. Berkomitmenlah dengan cinta yang sesungguhnya, kubur semua trauma yang bisa menyakitkanmu setiap saat. Sakitmu karena Diandra, tak harus membuatmu terus melukai diri sendiri, dengan sembunyi. Siapapun pujaanmu itu, ajaklah untuk bertemu…”
Dalam kesenyapan hati, sendiri mendiami rumah joglo yang begitu besar, akhir-akhir ini menjadi alasan kuat Laras untuk mendobrak kelambu-kelambu hitam yang sering membutakan hatinya untuk menguraikannya, melihat matahari menerangi rumah hatinya.
Baginya, telah cukup pertapaan semu ini, meski telah lahir beberapa buku dari kesenyapan hatinya selama ini. Namun saat ini, dia benar-benar ingin menjadi wanita seutuhnya, bercinta kembali, menikmati hidup dalam hangat dekap seorang lelaki sejati. Yang selama ini hanya ada dalam sosok-sosok imajiner novel-novelnya.
”Bangun Laras! Buang impian kamu tentang dia. Elang Lazuardi itu tak pernah ada! Dia hanya ada dalam bumi mayamu! Kamu harus keluar dari rumah gelapmu. Khayalanmu telah melewati batas nadirmu sebagai manusia normal…”
Dia ingat kembali kalimat-kalimat terakhir Jingga…dan tak terasa matanya yang telah lama kering, basah…Larasati menangisi kepergian orang-orang yang dicintainya…ibu, Jingga, Diandra?
Ah! Nggak! Nama terakhir itu tak boleh kutangisi kepergiannya! Go to hell! Namun air matanya makin deras membasahi ranum pipinya, menggenangi dua lesung pipi kanan kirinya. Menangisi sebuah kebodohan! Batinnya.
Tiba-tiba terdengar…wahai cintaku, andaikan kau tahu, bahwa sekali hidupku, hanya untuk mencintaimu, selamanya di hati…selamanya dalam hidupku…Mati Bersamamu-nya Bebi Romeo. Nada panggil Dewa Malam.
Segera Laras menghapus air matanya, diambilnnya HP dari dalam tas ransel hitamnya.
”Peri kecil, aku landing. Dimana posisi kamu? Ok, aku ke sana. Jangan ada getar berlebih karena sua awal ini…”
Tiba-tiba gemuruh riak dalam hati Larasati menjadi ombak besar yang terus menggulung paru-parunya, menyesakkan dadanya. Dia terus menghela nafas panjang.
Sebuah langkah berani, berkomitmen tanpa saling mengenal raga dan wajah! Gila! Sebuah gambling yang terlalu berani, mungkin...entah...begitu batinnya selama ini.
Tak terasa Larasati telah meneguk dua gelas orange juice, namun, minuman dingin itu, tetap tak kuasa mengusir keringat yang terus mengucur dari dahinya. Tissue di atas meja Nirwana Café bandara Juanda-pun, tak kuasa untuk menampik buliran-buliran hangat yang terus muncul di wajahnya.
”Duh! Lama banget ya? 60 menit berlalu, tak muncul jua…paling lama 20 menit telah sampai ke sini..” rutuknya.
Lalu ditelponnya Dewa Malam. Hingga 3 kali, hanya terdengar…. Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya, hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya…kembali penggalan syair Tuhan Kau Tahu-nya Ari Lasso.
”Shitt! You lie me! I hate you!
Tiba-tiba matanya basah, menangisi kebodohannya kali ini. Segera dia membayar bill café, dan keluar café secepatnya. Setengah berlari memanggil taxi.
”Peri kecil…”
Lambaian tangan kiri Larasati untuk menghentikan taxi, tiba-tiba ditangkap jemari kanan lelaki tegap berambut ikal sebahu, yang telah berdiri di samping kanan Larasati.
Setengah terperangah, Laras menoleh, menatap tajam wajah lelaki yang menangkup jemari tangan kirinya, tak kuasa dia melepas jemari tangannya, karena genggaman lelaki itu makin kuat.
Lirih, Larasati membuka bibirnya, berucap,” Dewa malam…”
”Dia seperti Elang Lazuardi-ku Tuhan…” batinnya.
”Kita bicarakan semua kenyataan yang tak pernah terbayang sebelumnya ini…”
Kalimat Dewa Malam, menghentikan lamunan sesaat Larasati. Sambil berjalan, terus memegang erat tangan Peri Kecil, Dewa Malam mengajaknya memasuki Nirwana café. Mereka duduk di sudut kanan café.
Senja yang makin merubung, membuat nyala lilin di meja kayu itu makin nampak terang berpijar.
Dewa Malam menatap tajam mata kejora Larasati, yang masih terpana dengan penampakan raga Dewa Malam. Dia begitu merasa, bertemu dengan sosok imajiner-nya sendiri.
”Aku tahu kalutmu, setelah 1 jam tepat, menungguku…”
Jemari tangan kiri Dewa menambah erat genggaman jemari kanannya menangkup jemari tangan kiri Laras yang terasa makin dingin.
”Jujur, aku telah 40 menit menatapmu dari luar jendela café…aku begitu terkejut, berkali-kali kupelototkan mataku menatapmu, tak percaya Peri Kecilku adalah kamu…”
”Kenapa?”
”Jujur, wajahmu mirip sekali dengan dia…”
”Ah..klise sekali!” tiba-tiba mendidih darah Larasati, terasa ada sesuatu yang membuatnya illfeel dengan kalimat-kalimat Dewa Malam barusan.
”Yakinilah, jujur… Kamu mirip sekali dengan dia, yang telah 3 tahun ini meninggalkanku…”
”Dewa…buat apa berlama-lama dengan imaji-mu? Masa lalumukah yang kau buat persembahan raga kita? Agar aku yakini cintamu? Kamu salah! Aku tak pernah mau dalam baying-bayang masamu! Apapun alasan kamu! Kita sudahi semua cerita konyol ini!”
Dewa semakin tajam menatap mata kejora Larasati. Kali ini, dia begitu nampak serius.
”Dengar Peri Kecil! Dia pergi karena suratan takdir! Dia berada di surga yang sebenarnya, karena dia meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama ibunya…dan bersama benih cinta kami di dalam rahimnya…”
Nampak berkaca bening, mata elang Dewa Malam. Dan Larasati begitu merah matanya, tajam menatap mata lelaki yang telah jujur berujar tentang kisahnya. Hatinya mulai bisa meraba siapa Dewa Malam.
”Jadi…kamu Hans?”
Dewa Malam menggangguk, tanpa melepas pandang matanya ke wajah Laras yang makin nampak memerah.
”Ya Tuhan!”
”Kamu mirip sekali dengan Jingga…”
”Jingga tak pernah bercerita tentangmu…tiga hari menjelang peristiwa itu, dia menulis email ke aku, cerita romannya denganmu. Aku memutuskan pergi dari Surabaya, setelah Diandra meninggalkanku begitu saja, aku ingin mengubur semua ceritaku dengan lelaki brengsek itu di Surabaya.”
Sejenak Larasati berhenti bicara, ketika seorang waitress perempuan menyodorkan datfar menu.
”Minum apa kamu Peri? Air jeruk kesukaanmu?”
Larasati menggelengkan kepala, sambil menghela panjang nafasnya.
”Ok, nanti saja mbak…terima kasih.”
Setelah waitress café pergi meninggalkan meja mereka, Larasati melanjutkan ujarannya.
”Bagiku saat itu, Surabaya adalah neraka jahanam… Surabaya kembali menjadi bumi bagiku, setelah orang-orang yang kucintai, yang kutinggalkan selama 3 tahun, telah pergi dengan cintanya buatku. Ibu dan Jingga, menyusulku, menjemputku di tempat pengasinganku, tempat aku begitu larut dengan sosok-sosok imajiner-ku, yang kupikir, begitu tulus memiliki cinta buatku. Ibu dan Jingga begitu mencemaskan aku, karena banyak yang telah menganggapku gila, meski novel-novelku banyak yang menjadi best seller, aku terus hidden, mencintai kesenyapanku di sebuah pondok… lari dari kenyataan pahitnya cinta. Aku tak lebih dari seorang perempuan bodoh! Dosaku terbesar pada Ibu dan Jingga. Hingga maut menjemput mereka hanya sesaat, 10 menit, sebelum mereka menemuiku…untuk menjemput dan memberi tahuku tentang rencana pernikahan kalian.”
”Tapi, kenapa Jingga tak pernah bercerita tentangmu?”
”Sama. Diapun tak pernah bercerita tentangmu…dia tak ingin saudara kembarnya makin nelangsa, dengan tahu kisah roman apiknya denganmu, karena patah hati yang telah membelenggu hidupku selama ini. Aku salah, begitu mengkultuskan cintaku pada Diandra..”
”Sudahlah Peri…”
”Hans, kini kau tahu siapa Peri Kecilmu. Aku tak ingin cintamu jatuh, karena bayang-bayang Jingga, Bidadari Pelangi-mu…”
Hans, menggelengkan kepalanya, menyibakkan ikal rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
”Bukankah, Dewa Malam menjatuhkan cintanya pada Peri Kecil, ketika belum tahu raga, wajah Peri Kecil itu? Kita bercinta karena syair roman maya, tanpa tersekat nyata raga mulanya. Dan bagiku, itu sebuah keindahan nirwana cinta yang sebenarnya. Aku tulus memilikinya buatmu Peri Kecilku. Harusnya kamu yakini itu, karena aku telah kubur namaku, Ksatria Malam, buat Bidadari Pelangi, yang nyata telah hilang dari kehidupanku, meski dia dulu pernah singgah begitu dalam, menelusupi ruang hatiku. Tapi itu harus kuakui, hanya masa lalu, yang harus segera kututup, tak perlu kubuka kembali, jika itu membuatku sakit.”
Larasati tak kuasa menatap tatapan tajam Hans, dia buang mukanya, memandangi pesawat yang landing di hamparan lantai beton di depan jendela café.
Burung besi yang telah memiliki masa yang tepat, buat mendaratkan tubuh, roda, dan sayap-sayapnya, ke sebuah landasan yang kuat. Karena dia tak ingin nyawa-nyawa yang terhela di dalam tubuhnya, hilang sia-sia karena salah landasan.
Begitupun hati Laras, mulai menemukan landasannya. Bisa menerima realita cintanya sebagai sang Peri Kecil dengan Hans, sang Dewa Malamnya.
“Inikah cintaku yang sesungguhnya Tuhan? Cintaku pada orang-orang yang mencintaiku dengan tulus? Ibu, Jingga, dan Hans? Maafkan aku Jingga, jika ternyata cintaku jatuh pada Ksatria Malam yang dulu pernah kau miliki…Tuhan, berilah surgamu, buat Jingga yang telah berkorban buatku…” batin Larasati.
Kembali buliran air bening keluar dari mata kejoranya. Jemari kanan Hans, mengusapnya pelan, namun Laras segera menampiknya.
”Biarkan air mata ini keluar Hans…aku ingin menangis buat Jingga. Dia telah berkorban buat cinta kita…persembahan nirwana itu buatnya Hans…”
Hans, memeluk erat Laras, dibiarkannya air mata Laras menghangati dadanya.
”Saat tepat kau tumpahkan semua air mata itu untuk menghangatkan senyap dadaku setelah kepergian Jingga… Bagiku, saat ini dan esok, kaulah Peri Kecilku, cinta nyata dalam hidupku. Jingga adalah seseorang yang membawa cintanya buat kita dalam keabadian nirwana cinta. Kita sama-sama memiliki cinta buatnya.”
Aku menangis mengenangmu…sgala tentangmu ku memanggilmu dalam hati ini...ku memanggilmu dalam hati ini..ku kenang dirimu…Lirih-nya Ari Lasso mengakhiri drama indah Peri Kecil dan Dewa Malam dalam temaram Nirwana café.
Larasati telah menemukan Elang Lazuardi yang sesungguhnya, sosok khayalannya itu, kini ada di hadapannya, memeluknya nyata. Dalam wujud seorang Hans, Dewa Malamnya, Ksatria Malam milik Jingga.
Tulisan hatinya malam itu, begini…Cinta sejati tak pernah terkuak oleh siapapun, hingga kapanpun, karena, cinta sejati tetap abadi menjadi rahasia Dia! Sang Maha Pecinta! Penulis Eksotik Maha Terbaik!
----
Rumah Putih, awal bulan ke tujuh 07, mengenangmu buat persembahan nirwana cinta,
sebuah energi dari dewa malam..
CINTA MAYA
”Virus hampa telah rajam hati malam ini dewa…”
Larasati mulai membuka sapa mayanya di Yahoo Messenger pada sebuah id dewa_malam. Sambil dia pilih lagu-lagu cinta di mp3-nya. Teralunlah Dealova-nya Once…aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu…aku ingin kau tahu bahwaku selalu memujamu…
”Jingga lembayung tumpah dalam genangan, menyentuh kerling mata senja”
Laras nampak tersenyum ciut, sambil mata kejoranya menatap layar monitor PC- nya.
”Genangan asmara peri kecil dengan dewa malamnya..siangku bersenandung hampa tanpa ujarmu..kenapa tak kau runuti jejak hatiku yang kosong hari ini? Riakmupun tak kutemui, tak ada sentuh relungku..aku sedih…”
”Janganlah air mata tumpah tanpa ada di dadaku.”
”Namun kapan kau rasa hangatnya air mata di dada itu?”
”Saat rindumu mencapai klimaks, maka pejamkan matamu, panggil aku dengan mantramu.”
”Tak kah kau rasa asa pelukku? Setiap malam cekam rajam tubuh peri kecilmu?”
”Aku akan ada dengan keseluruhanmu.”
”Peri kecilmu jiwanya mulai sakit.”
”Dewa malammupun semakin gila! Makin sadar bahwa birahinya menjadi sumber inspirasinya! Tanpanya aku hilang!”
”Ketika birahi datang melanda, apa yang akan kamu lakukan? Make love dengan dewi mayamu?”
”Mendatangi kamar suciku, bercinta dengan tubuhku, mencipta dewi mayaku..kamu Peri Kecil.”
”The candle make love? Kita bikin sebuah mahakarya…kolaborasi yang indah sepasang pujangga khayal!”
”Ya! Sebuah cerita panjang tentang kisahnya sendiri…Perkawinan Surga judulnya.”
”Penulisnya cukup dewa malam feat peri kecil.”
”Perkawinan Surga/Kuda, Ksatria, dan Peri Kecil.”
”Jangan…better..Perkawinan Surga/Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Peri, kurang menggigit sub judulnya.”
”Ya sudah, bagaimana kalau begini saja, Perkawinan Surga/Kuda, Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Ya…bagus begitu Periku, bagaimana alurnya?”
”Energi Dewa Malamku bisa jadi jiwa tulisan itu, ketika real kita bertemu, tergantung aura pertemuan cinta kita kelak.”
”Peri Kecil dan Dewa Malam yang menemukan makna cinta sesungguhnya, cinta yang selama ini dianggapnya telah hilang.”
”Kali ini kita bikin skenario buat perjalanan kita sendiri…bukan fiksi murni Dewa…dan kau tahu, aku selalu bikin hentakan yang menyakitkan pembacanya di akhir cerpen-cerpenku selama ini.”
”Tunggu! Aku tak ingin kau un happy-kan tulisan ini, ingat, ini kolaborasi Dewa Malam dan Peri Kecil…tak bisa Peri Kecil egois dengan pilihannya..dan please, kamu jadi mengingatkanku dengan seseorang…NGGAK!”
”Kenapa kamu Dewa? Kamu telah bikin sakit seseorang? Atau kamu telah membuat sebuah luka?”
Tak ada jawaban…berhentilah kalimat-kalimat maya mereka berdua…tiba-tiba Dewa Malam offline. Wajah putih Laras semakin memucat, dia kernyitkan dahi, dan tangan kirinya mengambil HP yang tergeletak di samping kiri monitor PC-nya. Dia cari nama Dewa Malam dalam daftar contacts HP-nya.
Terdengar nada tunggu begitu panjang, tanpa jawaban…Kau tahu mengapa, percintaan ini, kembali terjadi, Tuhan semoga ini menjadi…suratan takdirku..hidup bersamanya, hingga maut memisahkan..Tuhan semoga ini terjadi…Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya…hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya..Tuhan Kau tahu…suara flamboyan Ari Lasso dengan Tuhan Kau Tahu-nya..begitu menyayat hati Larasati.
Lalu dimatikannya HP, Laras termenung, membatin,”Apa yang salah padaku? Aku telah menyakitinya Tuhan?”
Segera dia meninggalkan pesan di inbox ym dewa_malam, setelah sebelumnya dia klik Pujaanku milik Melly feat Jimmo. Larut dalam lagu hati adalah energi Laras buat menulis apa yang menjadi cerca pikir buat rehatkan hatinya, yang sesungguhnya sudah sangat lelah dengan sebuah kembara cintanya selama ini.
Persembahan kalbuku..nantikan dikau di tidur lelapku..pujaanku… Sayatan gitar Anto Hoed membalut kalut hatinya….burung berkicau tanda setia pada pagi, ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi, jantung kau mintapun kan kuberikan, betapa dalamnya cinta untukmu…
”Kita buat sebuah persembahan nirwana hati yang putih, indah tak bernoda, kan kupakai gaun jingga pemberianmu, yang menjadi selimut sutra tubuhku yang dahaga…”
”Menjaring kekangan di tepian cakrawala, duduk di sutra langit yang terhampar, di belantar ruap yang bangun pura.”
Laras nampak girang, lega, ketika muncul jawaban dewa_malam, yang ternyata online, invisible. Jemarinya makin berenergi meraba huruf demi huruf keyboard PC-nya.
”Hingga aku klimaks pada puncak batas, aku tak tahu bahasa langitmu..terlalu tinggi buat Peri Kecil, yang tetap berusaha jadi telaga hatimu.”
”Aku sembunyi di balik bukit tubuh, yang terhempar di samudra luas, riak meriak mendawai senja, temaram rebah dalam pelukan bulan, menyatu dalam syair birahi, larut dan hilang.
”Ketika kau telah sentuh begitu dahsyat, Peri Kecilmu tak bisa berbuat”
”Sihir pesona tubuh, meradang, memerah bibir, meraih tubuh, mencipta aku dalam bayangan suci terhenti, mengaum, menindih, mencengkeram, dan terkulai
”Belai aku dg syair-syair romanmu yg dalam, peluk aku dalam remang rembulan, ajak aku berdansa dalam roman surgamu…aku lelah menulis orang lain…kali ini syahkan kita menulis tentang dera hati kita…syahkan percintaan nyata kita…tak dalam kembara maya yang hanya lamun khayal semata…kita buang sosok-sosok imajiner kita..saatnya kita bertarung dengan nyata raga, berani bercinta kembali!”
”Why silent?” kusambung sapaku lagi.
”Aku mati kata dan terantuk batu, mendengar syair-syairmu, kataku hilang begitu saja, nggak banyak kata-kata lagi…selain, L A K U K A N!”
”When?”
”Tiga hari lagi, senja menjelang maghrib, ku telah tiba pada pijakan bumimu.”
”Saat penampakan kau dan aku yang sebenarnya…kita akhiri ujaran-ujaran maya ini, buat memulai raba raga nyata..dengan makna cinta yang ada. Kutunggu sambutmu, sungguh.”
”Namun satu pintaku, jangan akhiri kolaborasi cerita ini dengan sebuah kepahitan. Meski selalu katamu…kepahitan, kepedihan itu adalah bagian dari sebuah realita hidup..cinta adalah luka…namun, tak bisakah kita tulis skenario ini dengan indah berbuah senyum?”
Larasati tak bisa menjawab ujaran Dewa Malam kali ini, terpaku diam, entah apa yang menjadi cerca pikirnya malam itu…***
TERHELA NYATA
Sebuah keberanian berkomitmen, tiba saat gelisahkan hati Larasati. Namun satu sisi hatinya, mengiyakannya.
Kembali terngiang wejangan alm. Ibunya,”Sampai kapan kamu bercinta di dunia maya? Tak ada ujungnya Laras, hadapi dengan nyata cinta itu. Berkomitmenlah dengan cinta yang sesungguhnya, kubur semua trauma yang bisa menyakitkanmu setiap saat. Sakitmu karena Diandra, tak harus membuatmu terus melukai diri sendiri, dengan sembunyi. Siapapun pujaanmu itu, ajaklah untuk bertemu…”
Dalam kesenyapan hati, sendiri mendiami rumah joglo yang begitu besar, akhir-akhir ini menjadi alasan kuat Laras untuk mendobrak kelambu-kelambu hitam yang sering membutakan hatinya untuk menguraikannya, melihat matahari menerangi rumah hatinya.
Baginya, telah cukup pertapaan semu ini, meski telah lahir beberapa buku dari kesenyapan hatinya selama ini. Namun saat ini, dia benar-benar ingin menjadi wanita seutuhnya, bercinta kembali, menikmati hidup dalam hangat dekap seorang lelaki sejati. Yang selama ini hanya ada dalam sosok-sosok imajiner novel-novelnya.
”Bangun Laras! Buang impian kamu tentang dia. Elang Lazuardi itu tak pernah ada! Dia hanya ada dalam bumi mayamu! Kamu harus keluar dari rumah gelapmu. Khayalanmu telah melewati batas nadirmu sebagai manusia normal…”
Dia ingat kembali kalimat-kalimat terakhir Jingga…dan tak terasa matanya yang telah lama kering, basah…Larasati menangisi kepergian orang-orang yang dicintainya…ibu, Jingga, Diandra?
Ah! Nggak! Nama terakhir itu tak boleh kutangisi kepergiannya! Go to hell! Namun air matanya makin deras membasahi ranum pipinya, menggenangi dua lesung pipi kanan kirinya. Menangisi sebuah kebodohan! Batinnya.
Tiba-tiba terdengar…wahai cintaku, andaikan kau tahu, bahwa sekali hidupku, hanya untuk mencintaimu, selamanya di hati…selamanya dalam hidupku…Mati Bersamamu-nya Bebi Romeo. Nada panggil Dewa Malam.
Segera Laras menghapus air matanya, diambilnnya HP dari dalam tas ransel hitamnya.
”Peri kecil, aku landing. Dimana posisi kamu? Ok, aku ke sana. Jangan ada getar berlebih karena sua awal ini…”
Tiba-tiba gemuruh riak dalam hati Larasati menjadi ombak besar yang terus menggulung paru-parunya, menyesakkan dadanya. Dia terus menghela nafas panjang.
Sebuah langkah berani, berkomitmen tanpa saling mengenal raga dan wajah! Gila! Sebuah gambling yang terlalu berani, mungkin...entah...begitu batinnya selama ini.
Tak terasa Larasati telah meneguk dua gelas orange juice, namun, minuman dingin itu, tetap tak kuasa mengusir keringat yang terus mengucur dari dahinya. Tissue di atas meja Nirwana Café bandara Juanda-pun, tak kuasa untuk menampik buliran-buliran hangat yang terus muncul di wajahnya.
”Duh! Lama banget ya? 60 menit berlalu, tak muncul jua…paling lama 20 menit telah sampai ke sini..” rutuknya.
Lalu ditelponnya Dewa Malam. Hingga 3 kali, hanya terdengar…. Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya, hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya…kembali penggalan syair Tuhan Kau Tahu-nya Ari Lasso.
”Shitt! You lie me! I hate you!
Tiba-tiba matanya basah, menangisi kebodohannya kali ini. Segera dia membayar bill café, dan keluar café secepatnya. Setengah berlari memanggil taxi.
”Peri kecil…”
Lambaian tangan kiri Larasati untuk menghentikan taxi, tiba-tiba ditangkap jemari kanan lelaki tegap berambut ikal sebahu, yang telah berdiri di samping kanan Larasati.
Setengah terperangah, Laras menoleh, menatap tajam wajah lelaki yang menangkup jemari tangan kirinya, tak kuasa dia melepas jemari tangannya, karena genggaman lelaki itu makin kuat.
Lirih, Larasati membuka bibirnya, berucap,” Dewa malam…”
”Dia seperti Elang Lazuardi-ku Tuhan…” batinnya.
”Kita bicarakan semua kenyataan yang tak pernah terbayang sebelumnya ini…”
Kalimat Dewa Malam, menghentikan lamunan sesaat Larasati. Sambil berjalan, terus memegang erat tangan Peri Kecil, Dewa Malam mengajaknya memasuki Nirwana café. Mereka duduk di sudut kanan café.
Senja yang makin merubung, membuat nyala lilin di meja kayu itu makin nampak terang berpijar.
Dewa Malam menatap tajam mata kejora Larasati, yang masih terpana dengan penampakan raga Dewa Malam. Dia begitu merasa, bertemu dengan sosok imajiner-nya sendiri.
”Aku tahu kalutmu, setelah 1 jam tepat, menungguku…”
Jemari tangan kiri Dewa menambah erat genggaman jemari kanannya menangkup jemari tangan kiri Laras yang terasa makin dingin.
”Jujur, aku telah 40 menit menatapmu dari luar jendela café…aku begitu terkejut, berkali-kali kupelototkan mataku menatapmu, tak percaya Peri Kecilku adalah kamu…”
”Kenapa?”
”Jujur, wajahmu mirip sekali dengan dia…”
”Ah..klise sekali!” tiba-tiba mendidih darah Larasati, terasa ada sesuatu yang membuatnya illfeel dengan kalimat-kalimat Dewa Malam barusan.
”Yakinilah, jujur… Kamu mirip sekali dengan dia, yang telah 3 tahun ini meninggalkanku…”
”Dewa…buat apa berlama-lama dengan imaji-mu? Masa lalumukah yang kau buat persembahan raga kita? Agar aku yakini cintamu? Kamu salah! Aku tak pernah mau dalam baying-bayang masamu! Apapun alasan kamu! Kita sudahi semua cerita konyol ini!”
Dewa semakin tajam menatap mata kejora Larasati. Kali ini, dia begitu nampak serius.
”Dengar Peri Kecil! Dia pergi karena suratan takdir! Dia berada di surga yang sebenarnya, karena dia meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama ibunya…dan bersama benih cinta kami di dalam rahimnya…”
Nampak berkaca bening, mata elang Dewa Malam. Dan Larasati begitu merah matanya, tajam menatap mata lelaki yang telah jujur berujar tentang kisahnya. Hatinya mulai bisa meraba siapa Dewa Malam.
”Jadi…kamu Hans?”
Dewa Malam menggangguk, tanpa melepas pandang matanya ke wajah Laras yang makin nampak memerah.
”Ya Tuhan!”
”Kamu mirip sekali dengan Jingga…”
”Jingga tak pernah bercerita tentangmu…tiga hari menjelang peristiwa itu, dia menulis email ke aku, cerita romannya denganmu. Aku memutuskan pergi dari Surabaya, setelah Diandra meninggalkanku begitu saja, aku ingin mengubur semua ceritaku dengan lelaki brengsek itu di Surabaya.”
Sejenak Larasati berhenti bicara, ketika seorang waitress perempuan menyodorkan datfar menu.
”Minum apa kamu Peri? Air jeruk kesukaanmu?”
Larasati menggelengkan kepala, sambil menghela panjang nafasnya.
”Ok, nanti saja mbak…terima kasih.”
Setelah waitress café pergi meninggalkan meja mereka, Larasati melanjutkan ujarannya.
”Bagiku saat itu, Surabaya adalah neraka jahanam… Surabaya kembali menjadi bumi bagiku, setelah orang-orang yang kucintai, yang kutinggalkan selama 3 tahun, telah pergi dengan cintanya buatku. Ibu dan Jingga, menyusulku, menjemputku di tempat pengasinganku, tempat aku begitu larut dengan sosok-sosok imajiner-ku, yang kupikir, begitu tulus memiliki cinta buatku. Ibu dan Jingga begitu mencemaskan aku, karena banyak yang telah menganggapku gila, meski novel-novelku banyak yang menjadi best seller, aku terus hidden, mencintai kesenyapanku di sebuah pondok… lari dari kenyataan pahitnya cinta. Aku tak lebih dari seorang perempuan bodoh! Dosaku terbesar pada Ibu dan Jingga. Hingga maut menjemput mereka hanya sesaat, 10 menit, sebelum mereka menemuiku…untuk menjemput dan memberi tahuku tentang rencana pernikahan kalian.”
”Tapi, kenapa Jingga tak pernah bercerita tentangmu?”
”Sama. Diapun tak pernah bercerita tentangmu…dia tak ingin saudara kembarnya makin nelangsa, dengan tahu kisah roman apiknya denganmu, karena patah hati yang telah membelenggu hidupku selama ini. Aku salah, begitu mengkultuskan cintaku pada Diandra..”
”Sudahlah Peri…”
”Hans, kini kau tahu siapa Peri Kecilmu. Aku tak ingin cintamu jatuh, karena bayang-bayang Jingga, Bidadari Pelangi-mu…”
Hans, menggelengkan kepalanya, menyibakkan ikal rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
”Bukankah, Dewa Malam menjatuhkan cintanya pada Peri Kecil, ketika belum tahu raga, wajah Peri Kecil itu? Kita bercinta karena syair roman maya, tanpa tersekat nyata raga mulanya. Dan bagiku, itu sebuah keindahan nirwana cinta yang sebenarnya. Aku tulus memilikinya buatmu Peri Kecilku. Harusnya kamu yakini itu, karena aku telah kubur namaku, Ksatria Malam, buat Bidadari Pelangi, yang nyata telah hilang dari kehidupanku, meski dia dulu pernah singgah begitu dalam, menelusupi ruang hatiku. Tapi itu harus kuakui, hanya masa lalu, yang harus segera kututup, tak perlu kubuka kembali, jika itu membuatku sakit.”
Larasati tak kuasa menatap tatapan tajam Hans, dia buang mukanya, memandangi pesawat yang landing di hamparan lantai beton di depan jendela café.
Burung besi yang telah memiliki masa yang tepat, buat mendaratkan tubuh, roda, dan sayap-sayapnya, ke sebuah landasan yang kuat. Karena dia tak ingin nyawa-nyawa yang terhela di dalam tubuhnya, hilang sia-sia karena salah landasan.
Begitupun hati Laras, mulai menemukan landasannya. Bisa menerima realita cintanya sebagai sang Peri Kecil dengan Hans, sang Dewa Malamnya.
“Inikah cintaku yang sesungguhnya Tuhan? Cintaku pada orang-orang yang mencintaiku dengan tulus? Ibu, Jingga, dan Hans? Maafkan aku Jingga, jika ternyata cintaku jatuh pada Ksatria Malam yang dulu pernah kau miliki…Tuhan, berilah surgamu, buat Jingga yang telah berkorban buatku…” batin Larasati.
Kembali buliran air bening keluar dari mata kejoranya. Jemari kanan Hans, mengusapnya pelan, namun Laras segera menampiknya.
”Biarkan air mata ini keluar Hans…aku ingin menangis buat Jingga. Dia telah berkorban buat cinta kita…persembahan nirwana itu buatnya Hans…”
Hans, memeluk erat Laras, dibiarkannya air mata Laras menghangati dadanya.
”Saat tepat kau tumpahkan semua air mata itu untuk menghangatkan senyap dadaku setelah kepergian Jingga… Bagiku, saat ini dan esok, kaulah Peri Kecilku, cinta nyata dalam hidupku. Jingga adalah seseorang yang membawa cintanya buat kita dalam keabadian nirwana cinta. Kita sama-sama memiliki cinta buatnya.”
Aku menangis mengenangmu…sgala tentangmu ku memanggilmu dalam hati ini...ku memanggilmu dalam hati ini..ku kenang dirimu…Lirih-nya Ari Lasso mengakhiri drama indah Peri Kecil dan Dewa Malam dalam temaram Nirwana café.
Larasati telah menemukan Elang Lazuardi yang sesungguhnya, sosok khayalannya itu, kini ada di hadapannya, memeluknya nyata. Dalam wujud seorang Hans, Dewa Malamnya, Ksatria Malam milik Jingga.
Tulisan hatinya malam itu, begini…Cinta sejati tak pernah terkuak oleh siapapun, hingga kapanpun, karena, cinta sejati tetap abadi menjadi rahasia Dia! Sang Maha Pecinta! Penulis Eksotik Maha Terbaik!
----
Rumah Putih, awal bulan ke tujuh 07, mengenangmu buat persembahan nirwana cinta,
sebuah energi dari dewa malam..
Jumat, 18 Juli 2008
Puisi-puisi Kirana Kejora
LELAKIKU DAN KUDANYA
Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati
Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya
Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla
Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya
Bumi Samudra, Surabaya, 070507
SURAT KEPADA ILALANGMU
Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu
Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku rerimbunan sang ruh
Persembahan secawan anggur hati
Tlah menyingkap gaun tidurku
Sungguh tubuhku lunglai tiada nadi daya
Hingga sapa matahari
Menghangatkan sunyi tubuhku
Kelam terrenda temaram kabut masa
Aku masih sabit yang terpenggal
Yang tak pernah memiliki malam, siang, pagi
Karena singgahku
Tak pernah termiliki siapapun
Kecuali Kupu-Kupu Saljuku
Aku hanya debu yang ingin menjadi gurun
Entah kapan dan dimana
Kamu tak pernah miliki daya arung
Buat sauhkan sampan roman ini
Sedang waktu mulai tak bersahabat
Dengan ruang hati yang kita miliki
Topannya mengiris kulit
Menidurkan kembali bulu-bulunya
Sudahlah, kelelahanku tlah menuju kematian
Padahal aku ingin terus hidup
Buat penumpang kecil sampanku…
Syairmu setinggi langit ke tujuh
Ku sulit sentuh dan gapai
Cekat pita hati
Katupkan bibirku yang tertoreh pujimu
Kembarakan gemintang rindu cinta
Pada langit yang tak pernah memberi jawab
Walau sedikit
Menunggu sesuatu yang abstrak
Tak berbentuk
Meski bisa berasa jiwa
Namun tak bisa tersentuh raga
Semua yang terpilih
Adalah milik Sang Berkehendak!
Aku ingin kita bertemu dalam ruang
Tanpa sekat-sekat maya
Pergumulan raga yang kuinginkan
Buat buktikan daya arung lelaki sejatimu!
Usah kau jawab
Jika kau tak sedia lakukan itu!
Menara 4, Taman Anggrek,
Jkt, 12:21, 240407
NYANYIAN EIDELWEIS LANGIT
Lembut laut sang pasir
Tirani yang kokoh buat sambut rindumu
Kisaran saat tak bisa pisahkan hasrat
Cinta yang kita hidupkan
Adalah fajar yang terus menyingsing
Tahukah arti pergumulan ini?
Langit bersendawa dengan roman birunya
Berbuih bersama tulus putihnya
Sudi terus payungi pasir yang menggunung
Lalu datang keabadaian
Lewat kelopakku
Yang tak pernah terjamah buliran air mata
Ku sapu tangis embun
Ku redam kalut pagi
Ku peluk geliat siang
Ku cium galau malam
Kekuatan tangkai kehidupan harus jadi milikku
Meski aromaku tak pernah terhirup
Dan indahku tak tersinggahi kilat mata
Ku terlupa
Ku tersisih
Tak apa ku bilang
Karena garisku
Ku hanya lambang keabadian cinta
Itukah perempuan?
Rumah Putih, Surabaya 030507
NIRWANA CINTA SELAMANYA
Perempuan itu menyipukan malunya dengan senyum
Dan berkata kepada kekasihnya
”Lelaki adalah elang, pantang baginya buat mundur!
Inginku, jadilah engkau elang yang bukan pemangsa
Namun elang sang dewa angin
Yang siap meminangku sang dewi bhumi”
Kemudian sang lelaki menjawab
Begini,
”Perempuan adalah eidelweis, pantang baginya menangis
Tegar kelopakmu yang tetap menyimpan kelembutan
adalah lambang keabadian abdimu kepadaku”
Setelah mantra hati mereka termantap
Dalam sebuah kitab
Perempuan dan lelaki itu menikah
Abadilah cinta kita, tersimpan selamanya
Dalam hati DIA Sang Pemilik Abadi
Begitu,
Kalimat surga perempuan dan lelaki itu di atas pelaminannya
Bhumi Menteng Dalam, 200308
KAMU TAK SENTUH AKU
Ku penuhi janjiku padamu
Hanya keterpaguan yang keluar dari bibirku
Ketika kau lontarkan kalimatmu
Itu membuatku terpagut
Makin membuat kalut
Hatiku berkabut
Segera kuhapus bayanganmu yang melekat
Yang memaskeri wajahku begitu pekat
Makin luruh menuruni hatiku yang terpikat
Memita jantungku begitu erat
Ternyata
Keberadaanmu begitu kuat
Sesadarnya aku merasa tak terjerat
Aku merasa tak terikat
Hingga
Tak ada beban berat
Karena
Ternyata
Kau tak sentuh aku
Tepatnya ragaku
Meski jiwaku
Sebenarnya telah kau sentuh
Kuat!
Erat!
Ikat!
Dengan kedinginanmu sebagai elang kutub!
Kamarku, Permata Ex. 210608
Masih denganmu sunya yang kubawa
Kirana Kejora lahir di kota kapur, perbatasan JaTim dan JaTeng, tanggal 2-2-1972. Buku pertamanya; Kepak Elang, buku keduanya; Selingkuh (Almira, 2006), buku ketiganya; Perempuan dan Daun (2007).
Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati
Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya
Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla
Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya
Bumi Samudra, Surabaya, 070507
SURAT KEPADA ILALANGMU
Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu
Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku rerimbunan sang ruh
Persembahan secawan anggur hati
Tlah menyingkap gaun tidurku
Sungguh tubuhku lunglai tiada nadi daya
Hingga sapa matahari
Menghangatkan sunyi tubuhku
Kelam terrenda temaram kabut masa
Aku masih sabit yang terpenggal
Yang tak pernah memiliki malam, siang, pagi
Karena singgahku
Tak pernah termiliki siapapun
Kecuali Kupu-Kupu Saljuku
Aku hanya debu yang ingin menjadi gurun
Entah kapan dan dimana
Kamu tak pernah miliki daya arung
Buat sauhkan sampan roman ini
Sedang waktu mulai tak bersahabat
Dengan ruang hati yang kita miliki
Topannya mengiris kulit
Menidurkan kembali bulu-bulunya
Sudahlah, kelelahanku tlah menuju kematian
Padahal aku ingin terus hidup
Buat penumpang kecil sampanku…
Syairmu setinggi langit ke tujuh
Ku sulit sentuh dan gapai
Cekat pita hati
Katupkan bibirku yang tertoreh pujimu
Kembarakan gemintang rindu cinta
Pada langit yang tak pernah memberi jawab
Walau sedikit
Menunggu sesuatu yang abstrak
Tak berbentuk
Meski bisa berasa jiwa
Namun tak bisa tersentuh raga
Semua yang terpilih
Adalah milik Sang Berkehendak!
Aku ingin kita bertemu dalam ruang
Tanpa sekat-sekat maya
Pergumulan raga yang kuinginkan
Buat buktikan daya arung lelaki sejatimu!
Usah kau jawab
Jika kau tak sedia lakukan itu!
Menara 4, Taman Anggrek,
Jkt, 12:21, 240407
NYANYIAN EIDELWEIS LANGIT
Lembut laut sang pasir
Tirani yang kokoh buat sambut rindumu
Kisaran saat tak bisa pisahkan hasrat
Cinta yang kita hidupkan
Adalah fajar yang terus menyingsing
Tahukah arti pergumulan ini?
Langit bersendawa dengan roman birunya
Berbuih bersama tulus putihnya
Sudi terus payungi pasir yang menggunung
Lalu datang keabadaian
Lewat kelopakku
Yang tak pernah terjamah buliran air mata
Ku sapu tangis embun
Ku redam kalut pagi
Ku peluk geliat siang
Ku cium galau malam
Kekuatan tangkai kehidupan harus jadi milikku
Meski aromaku tak pernah terhirup
Dan indahku tak tersinggahi kilat mata
Ku terlupa
Ku tersisih
Tak apa ku bilang
Karena garisku
Ku hanya lambang keabadian cinta
Itukah perempuan?
Rumah Putih, Surabaya 030507
NIRWANA CINTA SELAMANYA
Perempuan itu menyipukan malunya dengan senyum
Dan berkata kepada kekasihnya
”Lelaki adalah elang, pantang baginya buat mundur!
Inginku, jadilah engkau elang yang bukan pemangsa
Namun elang sang dewa angin
Yang siap meminangku sang dewi bhumi”
Kemudian sang lelaki menjawab
Begini,
”Perempuan adalah eidelweis, pantang baginya menangis
Tegar kelopakmu yang tetap menyimpan kelembutan
adalah lambang keabadian abdimu kepadaku”
Setelah mantra hati mereka termantap
Dalam sebuah kitab
Perempuan dan lelaki itu menikah
Abadilah cinta kita, tersimpan selamanya
Dalam hati DIA Sang Pemilik Abadi
Begitu,
Kalimat surga perempuan dan lelaki itu di atas pelaminannya
Bhumi Menteng Dalam, 200308
KAMU TAK SENTUH AKU
Ku penuhi janjiku padamu
Hanya keterpaguan yang keluar dari bibirku
Ketika kau lontarkan kalimatmu
Itu membuatku terpagut
Makin membuat kalut
Hatiku berkabut
Segera kuhapus bayanganmu yang melekat
Yang memaskeri wajahku begitu pekat
Makin luruh menuruni hatiku yang terpikat
Memita jantungku begitu erat
Ternyata
Keberadaanmu begitu kuat
Sesadarnya aku merasa tak terjerat
Aku merasa tak terikat
Hingga
Tak ada beban berat
Karena
Ternyata
Kau tak sentuh aku
Tepatnya ragaku
Meski jiwaku
Sebenarnya telah kau sentuh
Kuat!
Erat!
Ikat!
Dengan kedinginanmu sebagai elang kutub!
Kamarku, Permata Ex. 210608
Masih denganmu sunya yang kubawa
Kirana Kejora lahir di kota kapur, perbatasan JaTim dan JaTeng, tanggal 2-2-1972. Buku pertamanya; Kepak Elang, buku keduanya; Selingkuh (Almira, 2006), buku ketiganya; Perempuan dan Daun (2007).
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar