Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

KAMU TAK SENTUH AKU

Kirana Kejora
http://sastra-indonesia.com/

Mengalir Saja

Aku sungguh, benar-benar nggak bisa menyambut pagi ini dengan sunggingan senyum. Jengah dengan diriku yang terus mengkultuskan Raja. Aku jengkel sekali dengan cinta yang terus tumbuh, merambati nadiku, menghela bayangnya sepanjang saat. Aku benci dengan semua kebodohan ini Tuhan. Dia selalu tak pernah mengerti, aku mencintainya lebih dari yang dia tahu. Hanya karena ruang, jarak, dan waktu yang sering tak bersahabat menemui kami, maka aku ingin bunuh rasa itu. Kalau sudah begini, aku jadi ingat lagi kata-kata sok taunya Rindu beberapa hari yang lalu.

”Jangan bodoh banget jadi sephia Key. Jelas dia udah nggak pernah lagi telpon, kamu sudah tiga kali ke Jakarta, dia cuek-cuek aja. Meeting, sibuk, bla-bla, klise banget alasannya.”
Aku saat itu dongkol sekali mendengar kalimat apriori Rindu tentang keraguan cinta Raja padaku.

”Emang dia sibuk banget kok, nyiapin international oil and gas conference and exhibition kemarin. Anak buahnya yang kasih tahu aku…”
”Eh Key, sebagai sahabat, aku hanya bisa kasih saran…kamu mau ulangi lagi kebodohan dengan begitu mengkultuskannya? Nggak inget cerita kamu ama Rio? Lelaki tuh semua buaya sayangku.”
Di-jawil dengan gemes daguku dengan tangan usilnya.

Aku memang merasa dungu banget karena kisah-kisah romanku yang selalu carut marut. Kata orang-orang aku jago banget menulis fiksi roman, namun hingga usiaku dua puluh sembilan tahun ini, romanku selalu berantakan. Penulis memang hanya penghayal cinta pemimpi surga. Begitu jawabku tiap kali ada temen-temen yang meledekku. Sebuah alasan yang sebenarnya juga berat banget buat aku jadikan pembelaan atasku, tapi mau bagaimana lagi.

Jemariku tak tergerak buat menulisi monitor notebook-ku, sakit otakku kambuh lagi, error lagi. Mimikku mungkin begitu nampak bodoh jika aku bercermin saat itu. Mata kosong tak bernyawa, dan acak-acakan habis rambut panjang ikalku, belum lagi, bau banget nih badan karena, tubuhku belum tersentuh air sejak aku bangun jam sembilan tadi, tiga jam yang lalu. Males parah! Minggu kelabu, Sabtu kelam, dasar bego abis. Ngerasa nggak jomblo, punya pacar, tetapi jauh dan milik orang pula.

Kulihat lagi inbox di telpon genggamku, SMS terakhir Raja seminggu lalu.
”Key, hati-hati kalau SMS, aku lagi di rumah.”
Nasib-nasib, jadi sephia memang selalu siap buat dinomorduakan. Cukup pendek, singkat, padat SMS-nya. Jauh, jauh banget dengan SMS-SMS dia sembilan bulan yang lalu, saat berjuang keras meluluhlantakkan tembok kengerianku akan sebuah cinta.
”Huuuh! Setelah aku larut…dia begitu saja mengecilkan masalah-masalahku. Namanya pacar, ya pinginlah share dan sayang-sayangan…geblek-geblek aku nih. Tapi masih sulit juga pindah ke lain hati…mbuh wis!”

Rutukku dalam hati, sambil nggak terasa jariku mengklik program mIRC, tiba-tiba aku chating!
Bodo ah! Aku pusing banget, bukuku tinggal 10% aja, tiba-tiba bad mood, otakku masih mentok buat berimajinasi, padahal minggu depan aku harus ke Jakarta buat presentasi buku kedua ini ke penerbit, major label, Graha. Dasar bengal dan dodol kali, aku nekad aja iseng chating. Ngawur, ku pakai nickname Sephia_cantik, biarin ah narsis.

”Hay.”
Aku masih datar aja menyambut sapaan nickname 33_handsome.
”Hay juga, eh sesama narsis dilarang saling bercinta.”
Cuek aja aku menjawab chating iseng ini.
”Lagi di mana? nggak keluar minggu gini?”
”Suka-suka gue dong, mau tahu aja. Eh elo narsis banget ya, ngaku-ngaku handsome.”
”Kamu juga, ngaku-ngaku cantik.”
”Yeee emang gue cantik…liat tuh di Friendster gue!”
Dongkol hatiku lihat kalimat-kalimat dia yang ngeledek banget. Enak aja, sembarangan ngomong. Padahal gue juga ngeledek dia, ah biarin aja.
”Ah di Friendster bisa juga bohong, belum tentu tuh pic kamu.”
Nggak tahu kenapa. Dadaku jadi sesek banget, nih orang nambah gue suntuk aja.
”Heh denger ya, gue nggak pernah bohong, fair ama sapapun. Nggak kayak banyakan orang yang nggak pede banget penampakan walau cuman lewat pic, dunia cyber emang banyak semunya, tapi gue nggak!”
”Lho? Marah? Mau ngebuktiin?”
Tambah bengal nih orang ya, aku makin keras menekan tuts keyboard notebook.
”Ok! Gue terima tantangan elo! Sore ini kita ketemu! Gue juga pingin tau elo!”
”Sapa takut sayang? Kita ketemu dimana? Aku nggak tahu Surabaya, maklum aku tim dari pusat yang ditugaskan buat riset lumpur say. Ini lagi bete banget, gimana kalau kamu ke Sunrise apartement aja?”

”Ih, enak aja, emang gue paan pake nyamperin-nyemperin, nggak lah yao!”
”Duh say… Karena aku harus pantau lapangan, setiap saat aku nggak bisa ninggalin Sunrise, kantorku di sana juga, please.”

Karena sudah muncul keinginanku buat ngebuktikan gimana dia, ngalir aja aku menjawab dan mengiyakan pertemuan kami. Nggak tahu juga kenapa, aku merasa harus ketemu dia. Melupakan SMS Pasha dari Graha tadi pagi tentang bukuku. Ah sebodo amat, kalo lagi bad mood ya tetep aja kosong nih otak, batinku protes.
”Ok gue kesana! Awas bohong! Kalau bohong, elo harus beli novel gue 10 kali lipat! Nih HP gue?! Ntar elo miss call.”
”Hey…jadi kamu penulis? hmm great! Ok say aku tunggu kamu sekarang.”
Setelah dia miss call, aku save nomor telpon genggamnya. Dasar kali lagi mabok nih otak, segera aku matiin notebook dan mandi setelah sebelumnya aku telpon taxi.
***

Terduduk Terkesiap

”Udah nyampe mana sephia cute?”
Huuh, tambah kesal nih ati, ngejek bener nih orang.
”Dah masuk lobby.”
”Wait five minutes ok.”
Aku memasuki lobby dan duduk di sofa sudut. Sengaja kupilih tempat yang agak tertutup, aku pingin tahu dulu gimana dia.
Lima menit, sepuluh menit aku menunggu, dasar buaya, aku memilih cabut. Saat aku berdiri ada sapaan di belakangku. Shit! Dia ternyata lebih canggih menjebakku duluan.

”Sephia cantik…”
Aku segera menengok ke arah suaranya, dengan mataku yang siap melahap habis wajahnya. Tetapi, sunggingan senyum dari bibirnya yang membelah, membuat tenggorokanku tercekat, bagai ada ribuan duri tajam yang tertanam di dalamnya, saat wajahku yang sangat kecut tertatap mata elangnya. Duh, ternyata dia handsome habis!

”Lho kok diem ya, jabat salam dulu dong.”
Aku sadar akan kegoblokanku kali ini, aku segera menjabat tangannya. Lalu dia mengajakku duduk kembali.
”Mana novelnya?”
Dengan wajah yang sangat cukup blingsatan, memalukan banget, aku membuka tas dan mengeluarkan novelku.
”Lumayan juga buku kamu, bagus covernya, keren, eksotik. Kalau isinya sama nggak kayak penulisnya?”
Tiba-tiba ada keberanianku menatap matanya. Aku merasa dia terus mengejekku.
”Ya udah, aku balik, dah cukup pembuktian kita kahn?!”
Lalu tiba-tiba dipegangnya dengan kuat jemari tangan kananku yang berlenggang di depannya.

”Hey, jangan gitu ah, maafin aku ya. Kamu kan tamuku, minum teh di cafe dan ngobrol-ngobrol dulu ok?”
Tahu kenapa, aku nurut aja saat tanganku digandeng dan diajaknya masuk The Candle cafe. Kemudian kami duduk di sudut belakang cafe.
”Aku lagi jenuh aja, maaf ya jadi ngerjain kamu. Maklum setiap hari aku harus stand by buat memantau perkembangan lumpur. Satu bulan ini, setiap hari kerjaanku baru selesai jam tiga pagi. Capek aja pikiran dan hati, makanya tadi iseng aja aku chating di mIRC pake nickname itu say…”
Hmmm… jadi curhat nih ceritanya? Batinku, egp, emang gue pikiran apa. Duh tapi matanya dan bibirnya itu rek, napa aku jadi nggak punya daya buat bicara ya?

”Lagi nulis apa sekarang? Eh namamu say? aku Byan.”
”Panggil aja Key.”
Jawabku datar dan pendek. Tapi dia memang begitu pintar, melarutkan keangkuhanku dengan obrolan-obrolan ringan tapi menarik buat terus kusimak. Tapi napa aku mesti kagumi dia ya, duh ditambah lagu yang diputer di cafe ”Akhirnya Kumenemukanmu” punya Naff. Entah mengapa aku tiba-tiba suka dengan lagu itu. Aura Byan telah merasuki tulang sumsumku di senja yang kian merubung itu.
Tiba-tiba telpon genggamku berbunyi, duh Pasha…

”Iya nih tinggal 10% lagi. Pasti minggu depan, hmm pastinya, besok aku telpon kamu. Jangan sore ini, aku lagi di luar. Iya, iya deh aku usahain…”
Lalu aku matikan telpon genggamku.
”Ada apa Key? Kok muram gitu?”
Aku hanya meliriknya, buat apa seh tanya-tanya batinku masih dengan keangkuhan hati mengakui bahwa dia memang tampan sekali. Macho habis dengan t-shirt Polo hitam, celana jeans donker dan sepatu lars Caterpillar.
”Eh mengapa diam say?”
Say-say, ih resek bener seh, rutuk hatiku.
”Aku balik dulu deh, harus kirim email sekarang ke Graha, penting banget, dah ditunggu.”
Aku berdiri. Dan eh, sekali lagi dengan lancangnya, tangannya memegangi jemari kananku.

”Kalo mau ngenet bisa kok di kamarku, kasian kan mereka harus nunggu lama, diminum dulu tehnya, habis ini kita ke kamar aja ok?”
”Nggak ah…”
Napa jawabanku mulai melunak ya, heran juga aku.
”Nggak usah takut, aku nggak akan sentuh kamu Key, yuk!”
Kemudian dia memanggil waitress, setelah menyelesaikan bill, kami berjalan menuju lift, dan anehnya aku kok ya nurut aja kali ini, karena rasa nggak enakku ingkar janji terus dengan Pasha. Aku mangkir, harusnya seminggu yang lalu aku sudah ke Jakarta buat presentasi bukuku yang kedua.
Jadi inget kata-kata mas Sasongko dedengkot komunitas inde Surabaya, melalui telpon dua hari lalu, saat aku curhat tentang kisahku dengan Raja yang mulai kusadari, bahwa dia benar-benar bukan dan sulit aku miliki.

”Udahlah Key, bangun mood kamu lagi. Jangan kamu sia-siakan kesempatan dengan major label. Sapa seh yang nggak tahu Graha? Prestige-mu sebagai penulis daerah bisa naik. Kapan lagi obsesimu akan terwujud? Udah buruan diselesein, nggak inget kamu dengan susah payah menerbitkan buku inde-mu kemarin? Cinta nggak harus ditangisi. Hari gini ngomong cinta? Wis yo, aku mau ngurusi recording anak-anak.”

”Eit, dah nyampe nona, lady first…”
Lamunanku terhenti dengan terbukanya pintu lift dan kalimat Byan, ah menyebalkan sekali seh, aku harus terjebak gini, dan aku sadar sesadar-sadarnya. Ya Tuhan, kondisi nggak memungkinkan aku buat punya daya menolak ajakan Byan ke kamarnya, duh!
Tak lama setelah aku masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi dengan canggung, telpon genggam Byan berbunyi.

”Kok bisa sih mereka nimbun material di area racing? Coba kamu cari tahu kerjaan sapa itu! Shiit! Trus tadi siang ada demo di kantor bupati, cari tahu apa yang mereka demokan. Hubungi Aman! Kerja sendiri belum diberesi udah nyampuri kerjaan orang lain!”
Gerutunya dengan mimik serius. Dan aku mencoba mencerna siapa dia sesungguhnya, sambil kuberanikan diri untuk meliriknya. Dan degh, aku begitu blingsatan saat mata elangnya menatap tajam mataku, mata kami beradu. Dan entah kenapa mataku tak bisa terkedip dan sulit banget buat lari dari tatapannya.

”Sorry Key, ya gini kerjaanku tiap hari, underpresser. Maklum aku ke sini sebagai salah satu jarum dari goverment. Ah udahlah, lagi pusing ngomongin kerjaan, eh jadi kan ngenet-nya?”
Tiba-tiba mataku melemah dan nada bicaraku mulai lembut, kayaknya hatiku mulai sedikit-sedikit luluh. Dan aku mulai tahu siapa dia.
”Tapi kamu kan juga harus online terus…”
”Nggak juga, bisa lewat hand phone kok.”
Segera aku ambil flashdisc yang memang selalu kubawa kemana-mana. Karena flashdisc bagiku adalah separuh nyawaku. Kembali telpon genggamnya berbunyi.
”Ya, saya segera ke kantor sekarang…”
Tiba-tiba pundakku dipegang, dan terasa dingin sekali darah yang mengaliri tubuhku, aku begitu merinding. Duh, napa jadi begini Tuhaaan!
”Say, aku ke kantor dulu ya. Kantorku di apartement sebelah. Kalo kamu udah selesai call aku, atau kalo kamu mau makan call aja service room, kamu tanda tangani aja bill-nya, masukkan dalam bill my room, dan kalo kamu mau. Tidur aja di sini, kali aja kemaleman. Ntar aku balik ke kamar shubuh kali. Jangan khawatir, aku jinak kok, hahaha… kamu aman. Aku nggak akan sentuh kamu say, ok aku pergi dulu ya.”
Mengalir begitu lugas dan cepat kalimat-kalimat Byan, tanpa memberiku kesempatan berpikir atau menjawab, seakan-akan kami sudah lama bertemu dan berteman dekat. Moderat banget sih ni orang, begitu percayanya ama aku yang ditinggal begitu saja di kamarnya.

Belum selesai otakku berpikir dengan ucapan-ucapan dia barusan, tiba-tiba telpon kamar berdering. Keraguan menyelimutiku. Kuangkat nggak ya? kuangkat nggak? Dan tiba-tiba saja gagang telpon sudah menempel di telinga kananku.
”Maaf dengan ibu Byan?”
Aku bingung harus menjawab apa, namun tiba-tiba dari bibirku keluar jawaban.
”Iya…”
”Kami mau kirim baju-baju bapak dari laundry ke kamar bisa?”
Sekali lagi aku kok ya menjawab.
”Bisa…”
Lalu aku letakkan gagang telpon. Dan aku kembali terduduk di kursi dengan mimik bego… melongo.
”Hah? Aku jadi bu Byan?” batinku geli merasakan fragmen barusan.
Tak berapa lama terdengar bunyi bel, dan segera kubuka pintu kamar.

”Ini bajunya bu. Dan tolong tanda tangani bill-nya.”
Setelah aku tanda tangani bill-nya, aku terima baju Byan, lalu aku menutup pintu kamar. Namun sebelum baju-bajunya aku masukkan ke dalam lemari, iseng aku melihat nama yang tertera di bungkusan plastik bajunya, Byan Dewangkara. Dan dia ternyata? Haaah? Seorang doctor! Minder juga aku yang hanya lulusan strata satu, mbuh wis!
Aku harus selesaikan bukuku malam ini, biarin kemaleman. Dan segera aku harus kirim ke Pasha malam ini juga, nggak boleh ketunda lagi. Karena tiba-tiba saja mood-ku nulis terbangun bagus di kamar Byan, entah kenapa. Ada apa lagi dengan hatiku? Masak aku bisa pindah ke lain hati hanya dalam hitungan jam? Misteri Illahi kata Ari Lasoo. Mudah aja jawabannya, kali ini aku nggak mau pusing lagi karena cinta.
Seperti biasanya, kalo aku nulis harus teriring lagu apa saja. Kuambil remote TV dan nggak sengaja terdengar lagu itu lagi. Naff kenapa kamu hadir kembali, dan syair-syairnya begitu rekat lekat di hatiku malam itu.

”Akhirnya kumenemukanmu, saat hati ini mulai merapuh… akhirnya kumenemukanmu saat raga ini ingin berlabuh.. kuberharap engkaulah jawaban sgala risauku hatiku… dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku…”
Aaah, jadi aku mencintainya? Memang aku bertemu dia hari ini, saat aku risau akan cintaku dengan Raja, yang tak berujung karena aku hanya kekasih bayangannya, entah sampai kapan. Tapi kalau aku jatuh cinta pada Byan? Aaah kok, begitu mudahnya, aku tak yakin hatiku telah pindah. Tetapi aku nggak mau munafik, ternyata aku mulai tertarik pada sosoknya. Gentle, cuek, selengekan, tapi juga serius dan jenius.

Aku mulai merasakan kebodohanku kembali, karena menjadi pemuja rahasia baginya! Nggak! Nggak ah! Tuhan, jangan sampai aku menjatuhkan cintaku pada dia. Karena aku masih mengharap, cintaku dengan Raja bisa berujung pada suatu saat dan bermuara pada sebuah tempat.***

Pemilik Pilihan

Mataku mulai terasa berat sekali buat memelototi monitor notebook. Tapi bisa menarik nafas bahagia lega, karena akhirnya aku bisa menyelesaikan bukuku malam itu, dan menepati janjiku pada Pasha.
Tanpa kusadari aku tertidur pulas di kasur kamar, dan terhenyak bangun karena bel kamar berbunyi. Ternyata Byan sudah di depan pintu kamar. Dengan langkah berat aku bukakan pintu.

”Udah tidur say? Maaf ya ngganggu kamu. Ya udah tidur lagi aja.”
Tanpa menghiraukan kalimat Byan, aku langsung menjatuhkan tubuhku yang terasa begitu penat dan lelah nggak punya daya ke kasur.
Berlalunya saat tak begitu terasa. Aku terbangun karena suara SMS yang berturutan masak dalam telpon genggamku. Saat mataku mulai terbuka, aku begitu kaget karena tangan kananku telah merangkul paha kanan Byan yang masih tebungkus celana jeans-nya. Nampaknya dia tidak tidur, duduk bersandar di tembok sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam. Seperti terasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya. Lalu tangan kanannya begitu saja mengelus rambutku.
”Mau bangun sayang? Baru jam enam, bobok aja lagi kalo masih ngantuk.”
Terasa dibuai desahan lekuk gemulai sang angin, ucapan lembut Byan pagi itu melenakan lelap tidurku kembali.

Tak berapa lama kemudian aku terbangun lagi, karena SMS di telpon genggamku. Dan ternyata tanganku masih tetap dalam posisi memeluk paha kanan Byan.
Aku melirik ke atas, ke arahnya, dia masih seperti semula. Menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap putihnya ke langit-langit kamar dengan kuat. Serasa melepas beban berat yang bersemayam dalam hatinya.
Namun kali ini matanya yang mulai memerah, begitu tajam menatapku, dan tangan kanannya terus membelai lembut rambutku. Merasa nggak enak dengan kondisi itu, aku bangun. Tetapi matanya nampak tak lepas memandangi seluruh lekuk tubuhku. Karena merasa risau dengan perlakuannya, aku segera ganti menatap matanya.

Kemudian ditariknya tubuhku mendekat pada tubuhnya. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja bibir kami sudah saling bersentuhan, saling melumat, seolah memuntahkan hasrat yang terus membanjiri keringnya hati kami selama ini. Detak dadaku begitu hebat mengguncangkan tubuhku yang telah tertindih tubuhnya. Begitu sejuk sapa pagi itu melumuri kulit kami yang bersentuhan dengan desahan roman.

Satu demi satu lilitan benang yang menyetubuhiku mulai terlepas. Begitupun dengan Byan, tinggal jeans donker-nya yang masih melekat. Aku tak kuasa menolak semua persentuhan hatiku padanya.
Namun tiba-tiba Byan bangkit, terdiam. Dan menutupi sebagian tubuhku dengan selimut. Tatap liar matanya menelusup dalam kutub-kutub esku, melelehkan dinding salju yang melingkari jiwa sunyiku.

”Maafkan aku say, aku menyentuhmu.”
”Nggak, nggak say… Kamu nggak sentuh aku. Janjimu telah terpenuhi, meskipun hatiku telah kamu sentuh.”
Tiba-tiba mengalir saja kata ”say” dari bibirku tanpa bisa kubendung. Lalu Byan datar berucap…

”Everybody got a void in his soul. We are just two lost souls in a fish bowl”
Kemudian dibukanya tirai jendela kamar, pandangannya melesat jauh ke bumi Surabaya yang telah hiruk pikuk dengan geliat hidup manusianya. Sorot sang bintang raksasa semakin menguatkan pengakuanku akan keberadaan Byan di hatiku.
Dia menyalakan rokok putihnya, kembali dihisapnya dalam-dalam. Mata kami bertemu, bersentuhan dengan aroma bidak-bidak roman dalam relung dan relief jiwa yang kuat, tegas, bersenyawa dan berada pada satu garis, bertanya. Mengapa dan sedang ada apa dengan hati kami.

Tiba-tiba aku teringat Raja. Kembali aku terusik dengan ketololan. Aku merasa mengkhianatinya. Merasa salah dan berdosa padanya. Padahal aku juga sadar, aku bukan istrinya, dia bukan suamiku, dia milik orang… Sebuah kebingungan tak berdasar sama sekali yang kurasakan saat itu.

Kemudian aku berusaha, mencoba meyakinkan hatiku, bahwa cintaku pada Raja mulai terkikis. Semakin terkikis setelah ada pikat persentuhan hatiku dengan Byan, bukan pikat persetubuhanku dengannya, yang baru saja kukenal delapan belas jam yang lalu. Padahal, sungguh, benar-benar aku belum tahu lagu apa yang berkecamuk dalam hatinya tentangku, semoga cintaku kali ini tak salah lagi tempatnya. Sesungguhnya, cinta itu tak pernah salah. Namun, cinta bagiku, adalah sebilah belati tajam bertahta emas berlian, yang kan siap membunuh kita setiap saat, meskipun kita tak harus mati terbunuh karenanya. Dan aku harus siap terluka, karena aku jatuh cinta… Semoga aku bisa menjadi miliknya yang terpilih, dan dia bukan milik siapapun, meski Sang Pemilik Sejati tetaplah Dia…

Rumah Putih Sby, 6906

Sabtu, 23 Agustus 2008

KIDUNG CINTA AMOY

Kirana Kejora

Ku berhenti di depan toko Orion. Suasana Kembang Jepun masih seperti dulu. Malam makin marak dengan aroma masakan China dan Suroboyoan. Kidung Kya-Kya, begitu ramai dengan polah arek-arek Suroboyo di kampung pecinan itu. Larutnya malam, tak membuat mereka beranjak dari tempatnya. Tetap santai menyenangkan perut, melegakan tenggorokan, dan menyamankan hati dengan berbagai hiburan di jalan itu. Kya-kya Kembang Jepun memang tiada duanya ketika kawasan itu semarak dengan malam budaya. The spirit of place, sajian arsitektur Tiongkok adalah sebuah kemutlakan. Kaya dengan apresiasi budaya. Dari musik keroncong, tarian dan musik klasik Tiongkok, hingga Barongsai anak-anak dan tari Ngremo Bocah. Belum lagi pagelaran acara bertema special, macam Shanghai Night, Dancing on the Street, dan Festival Bulan Purnama. Ah, aku jadi begitu rindu dengan kemeriahan kota lamaku. Tempat yang sarat dengan cerita suka sekaligus bersayat luka.

”Kamu china? Tinggal di Kembang Jepun?!”

”Iya Bunda. Ada masalah?” sahut Elang, sambil memegang tangan kanan bundanya senja itu di teras rumah mereka. Saat itu aku benar-benar bingung, sedih, kecewa, dan mati saja rasanya hati ini. Sudah kuduga, pasti bundanya tak bisa menerimaku. Perbedaan kami begitu banyak, etnis, agama, dan materi.

Bunda Elang hanya melirikku, lalu melengos meninggalkan kami berdua. Segera kubangkit dari kursi, dan aku secepatnya melangkah keluar teras. Meninggalkan rumah besar itu. Ku terjang derasnya hujan. Tak kugubris teriakan Elang.

Batinku menjerit, ”Kamu tak pernah punya daya arung sebagai lelaki Elang, namun kupaham. Karena trah, penerus dan pewaris tunggal Raden Priyo Kusumo membelenggumu akan sebuah pilihan. I know hon, ic. Never mind…”

Aku terus berjalan menyusuri jalan, memunguti puing-puing kehancuran hati dan cintaku senja itu. Aku harus kembali kuat seperti saat sebelum bertemu Elang. Seperti saat aku hidup sendiri, sebatang kara, karena mama meninggal tertabrak mobil angkut, ketika mau menggelar barang dagangannya di trotoar depan toko koko Hendra. Sedang papaku, sampai sekarang tak tahu rimbanya. Kata mama, sejak aku berusia 3 tahun, papa pergi sementara waktu sampai tak ada yang mencurigainya sebagai orang PKI. Dendamku pada sebuah Orde yang begitu bengis dan begitu mudah memvonis. Tak pernah berpikir begitu banyak memakan korban anak-anak yang psikologisnya menjadi tragis.

Terus kutelusuri riak-riak kecil air yang terkadang membanjiri jalan, dari jl. Sumatra hingga tak terasa aku telah sampai jl. Rajawali. Aku lelah sekali, tubuh semampaiku mulai kedinginan, menggigil. Dan tak terasa aku telah sampai di kamar kostku, di kawasan Kembang Jepun.

Semenjak itu, aku menghilang dari kehidupan Elang. Padahal di dalam rahimku telah ada benih cinta kami. Hanya untuk membuktikan bahwa aku tak sehina tuduhan bundanya, bahwa anak Kembang Jepun identik dengan keturunan geshia. Sebuah hal yang mustahil, ketika anak gadisnya masih perawan. Dan kami lakukan persetubuhan itu atas nama cinta. Kubuktikan kegadisanku pada Elang, sekaligus dia berharap dengan kehamilanku, bundanya mau merestui hubungan kami. Namun sebelum semuanya ini kami sampaikan kepada bundanya, aku memilih pergi setelah peristiwa senja itu, daripada sakitku makin tak bisa membuatku menikmati pernikahanku dengan Elang.

”Kamu perempuan bodoh me! Ndak cengli.”

Tak kuhiraukan kalimat seru cece Lani. Aku terus mengemasi semua pakaianku dari lemari kamar kostku.

”Kamu baru saja berkarir di dunia model karena Elang. Lalu kamu membiarkan dirimu hamil dan pergi darinya.”

Kulirik sejenak cece Lani, sahabat, teman satu kamarku, seorang waitress café di Kembang Jepun. Lalu kuhela nafas panjang, kuusap perutku yang mulai membuncit.

”Ada beberapa pilihan yang bisa kamu ambil. Minta pertanggungjawaban Elang, kawin lari, atau kamu gugurkan kandunganmu. Biar karirmu tak terganggu. Jangan bodohlah me.”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Setelah selesai berkemas, kucium pipi cece Lani. ”Ndak tahulah ce. Kamsiya. Aku harus pergi.”

Cece Lani menghalangi langkahku, ditatapnya aku, mata sipit kami beradu, kubuang pandangku ke lantai ubin kamar. Lalu jemari tangan kanannya memegang daguku, dan diarahkan padanya.

”Me, terus ndik mana kamu ntik tinggal? Mau pergi kemana? Ntik yok apa dengan…”

Segera kupegang tangan kanannya, kupeluk tubuh mungilnya. Dia menangisi kepergianku. Tujuh tahun kami selalu bersama dalam keceriaan dan kesedihan, sebuah persahabatan yang terjalin karena sakit yang kami rasakan sama. Di jalan kami bertemu dan di jalan kami hidup bersama.

”Sudahlah ce, biarkan meme pilih jalan hidup yang sebenarnya.”

Semenjak itu kami hanya berhubungan lewat surat. Dan satu tahun kemudian dia menikah dengan koko Johan, sales marketing salah satu produk minuman di café tempatnya bekerja.

Keterpurukan masa laluku tak menjadikan aku mati jiwa. Dengan tabungan yang ku miliki, kuberanikan diri pijaki bumi Jakarta. Beruntung kontrakku dengan beberapa iklan masih menghasilkan royalti. Hingga aku bisa merawat kandunganku dengan baik, selain bisa mengontrak rumah mungil di pinggiran Jakarta, dan sanggup menggaji ning Ginah, pembantu yang kubawa dari Surabaya. Dia yang selama ini membantuku berjualan baju di kaki lima Kembang Jepun, sebelum Elang, seorang fotografer ternama di Surabaya menemukanku, mengajakku menjadi modelnya, lalu memacariku dan mengajakku menikah.

”Sungguh, kusisakan cinta itu buatmu, bukan berarti kau tersia dan terbuang hon. Namun ku memang tak bisa mengikisnya habis. Aku terluka karenamu, bukan karena kau telah menyakitiku, namun karena kau pernah datang dengan keseluruhan cintamu…buat Kemilau….buah cinta kita, aku panggil dia Key…kunci cinta kita hon…”

Kukirim email kepada Elang, terus mengalir saja tak henti satu tahun ini, namun tak pernah ada jawaban darinya. Akupun tak mau mencari dimana dia. Bagiku kehadiran Key sudah sangat berarti. Aku hanya ingin, dia tahu aku punya bukti cinta itu tetap untuknya.

Meski karirku sebagai model cemerlang, namun ku tetap tak bisa memberi keluarga yang sempurna bagi seorang Key. Hingga ku terima pinangan Erick, seorang manajer hotel tempatku menginap, ketika aku ada show di Paris. Dia lelaki romantis yang bisa membuatku melupakan Elang meski hanya sejenak.

Aku memang wanita pemuja suasana, yang begitu merindukan sebuah kelembutan hati dan belaian kasih yang bisa menjadikanku wanita seutuhnya.

”I wanna married with you.”

Aku begitu larut dengan Erick yang meminangku di kala sunrise di bawah ”Gadis Besi” menara karya Alexandre Gustave Eiffel itu.

Tiga bulan kemudian, kami mengikat janji suci, menikah di Champ de Mars, di bawah la tour Eiffel, semua mengalir begitu saja, bak aliran sungai Seine yang terus setia menyejukkan besi menara itu, ketika panas menyengatnya. Sebuah surga dunia yang tak pernah ada dalam impianku. Bulan madu yang indah dengan mengunjungi istana Versailles, aku merasa menjadi permaisuri Louis XVIII. Mungkin ini sebuah kemenanganku atas pertapaan batinku selama ini. Meskipun sejujurnya aku belum sepenuhnya punya cinta buat Erick, namun aku ingat pesan ning Ginah, menikahkah dengan orang yang mencintaimu, kelak kamu akan bahagia. Dan Erick bisa menerimaku apa adanya. Bagiku saat itu, aku ingin membina sebuah mahligai indah berumah tangga.

Setelah menikah dan tinggal di Paris, Tuhan belum juga menitipkan buah hati kami di dalam rahimku. Mungkin karena di sudut hatiku, masih begitu lekat bayang seorang Elang. Hingga tak ada keikhlasan rahim ini buat mengandung benih Erick, entahlah. Padahal, Erick begitu tulus mencintaiku dan Key.

Ternyata Tuhan hanya sembilan bulan menjodohkan kami, Erick meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hatiku hancur karena aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku kembali hidup hanya bertiga dengan Key dan ning Ginah. Lalu kuputuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku memilih Surabaya karena bagiku, kota ini adalah ibuku. Aku selalu home sick dimanapun aku tinggal. Aku mulai membuka sebuah usaha, yang tak jauh dari keahlianku. Membuka butik di Pasar Atum.

Butikku makin maju. Hingga aku bertemu dengan Prima Laksana, seorang designer kondang Surabaya. Meskipun pekerjaannya akrab dengan dunia perempuan, namun Prima adalah lelaki macho dan begitu sempurna di mataku. Kami sering mengerjakan pekerjaan bersama-sama. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah, setelah tujuh bulan berpacaran. Meski usianya lima tahun di bawahku. Aku sudah merasa mantap menyandarkan kelelahan hatiku padanya. Bagiku ini pernikahanku yang terakhir. Dia begitu bertanggung jawab pada keluarga dan sangat menyayangi Key.

”Benar kan kataku. Kamu bisa temukan lelaki yang lebih baik dari semua lelaki yang pernah ada dalam hatimu…”

Aku hanya manggut-manggut mendengar kalimat cece Lani, sambil memegang cincin berlian yang telah melingkari jari manis kananku lima bulan ini. Lalu kami masuk ke dalam Rembulan café di Tunjungan Plaza III. Kami rehat sebentar, capek banget setelah shoping seharian sekalian nostalgia, karena kami lama ndak jalan bareng.

”Belum ada tanda-tanda junior Prima di perutmu me?”

Aku mengelus perutku yang masih ramping, sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan mengikuti cece Lani duduk di sudut kanan belakang cafe. Namun setelah duduk, pandanganku serasa tak nyaman dengan yang kulihat di samping kiri meja kami.

Aku kenal sekali dengan performance lelaki, dengan hem lengan panjang biru laut, yang hanya terlihat punggungnya itu. Aku terdiam, tak menggubris kalimat-kalimat cece Lani. Lalu cece Lani ikut terdiam, melihat ke meja samping kami.

Kedua tangan itu saling erat menggenggam, meremas, dan pasangan lelaki berhem biru itu menangis sesenggukan. Lamat-lamat kudengar kalimat-kalimat yang meluncur dari lelaki berhem biru itu, ketika nada musik cafe berhenti.

”Yakinlah, aku masih sayang kamu. Aku menikah karena buat status saja. Berapa kali harus kubilang? Toh kita masih bisa ketemu tiap hari…sudahlah…ragaku miliknya, tapi hatiku tetap milikmu…”

Rasanya saat itu aku ingin segera membubarkan pemandangan menjijikkan itu. Namun ragaku tak kuat, karena gemuruh detak sang jantung yang benar-benar tak bersahabat lagi dengan tubuhku. Prima Laksana ternyata seorang gay! Aku pingsan!

”Saudari Lilian dan saudara Prima Laksana …silakan masuk ke ruang sidang tiga…”

Tiba-tiba aku dikejutkan suara petugas Pengadilan Agama yang memanggilku ke ruang sidang. Aku memasuki ruang sidang ditemani cece Lani. Nampak di ruang sidang hanya ada pengacara suamiku.

”Sabar me..semoga gugatanmu menang…”

Kalimat cece Lani datar, dia turut merasa sangat bersalah, karena selama ini dialah yang mendorongku untuk menerima lamaran Prima. Maka dia terus setia menemaniku hingga putusan sidang berakhir.

Ketukan palu hakim, memenangkan gugatanku. Namun terasa hampa hatiku dan kosong pikiranku. Kalut tak bermakna rasanya hidup ini, sebuah kelelahan yang tak berkesudahan. Cece Lani lalu membimbingku keluar dari ruang sidang.

”Ijinkan aku datang dengan keseluruhan cintaku…”

Sebuah suara yang datar dan berat, yang pernah kukenal. Aku dan cece Lani menghentikan langkah di pelataran mobil. Kami mencari arah suara itu, di belakang kami. Kami menoleh. Lelaki dengan tampilan macho, celana dan jaket blue jeans, rambut terkuncir rapi ke belakang. Aku merasa, tiba-tiba menjadi arca tua yang siap roboh.

”Elang…!” Sempat kudengar kalimat cece Lani sebelum mataku berkunang-kunang dan dibopong Elang, dibawa masuk ke dalam mobil…batinku menjerit…honey!

”Cik, tolong mobile minggir…”

Suara tukang parkir dan ketukan tangannya di kaca mobilku, membuyarkan lamunanku malam itu. Segera aku menjalankan mobilku. Kulajukan pelan-pelan menyusuri sepanjang jalan Kembang Jepun, sambil kuhapus air mataku yang tiba-tiba begitu saja mengaliri tirus pipiku.

Batinku malam itu. ”Dimana kamu Elang? Rumahmupun telah sunyi tak berpenghuni..maafkan aku hon…”

Rumah Hijau, 230907, energi kepak elang

Selasa, 12 Agustus 2008

PERI KECIL DAN DEWA MALAM

Kirana Kejora

CINTA MAYA

”Virus hampa telah rajam hati malam ini dewa…”
Larasati mulai membuka sapa mayanya di Yahoo Messenger pada sebuah id dewa_malam. Sambil dia pilih lagu-lagu cinta di mp3-nya. Teralunlah Dealova-nya Once…aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu…aku ingin kau tahu bahwaku selalu memujamu…

”Jingga lembayung tumpah dalam genangan, menyentuh kerling mata senja”
Laras nampak tersenyum ciut, sambil mata kejoranya menatap layar monitor PC- nya.
”Genangan asmara peri kecil dengan dewa malamnya..siangku bersenandung hampa tanpa ujarmu..kenapa tak kau runuti jejak hatiku yang kosong hari ini? Riakmupun tak kutemui, tak ada sentuh relungku..aku sedih…”
”Janganlah air mata tumpah tanpa ada di dadaku.”
”Namun kapan kau rasa hangatnya air mata di dada itu?”
”Saat rindumu mencapai klimaks, maka pejamkan matamu, panggil aku dengan mantramu.”

”Tak kah kau rasa asa pelukku? Setiap malam cekam rajam tubuh peri kecilmu?”
”Aku akan ada dengan keseluruhanmu.”
”Peri kecilmu jiwanya mulai sakit.”
”Dewa malammupun semakin gila! Makin sadar bahwa birahinya menjadi sumber inspirasinya! Tanpanya aku hilang!”
”Ketika birahi datang melanda, apa yang akan kamu lakukan? Make love dengan dewi mayamu?”
”Mendatangi kamar suciku, bercinta dengan tubuhku, mencipta dewi mayaku..kamu Peri Kecil.”
”The candle make love? Kita bikin sebuah mahakarya…kolaborasi yang indah sepasang pujangga khayal!”
”Ya! Sebuah cerita panjang tentang kisahnya sendiri…Perkawinan Surga judulnya.”

”Penulisnya cukup dewa malam feat peri kecil.”
”Perkawinan Surga/Kuda, Ksatria, dan Peri Kecil.”
”Jangan…better..Perkawinan Surga/Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Peri, kurang menggigit sub judulnya.”
”Ya sudah, bagaimana kalau begini saja, Perkawinan Surga/Kuda, Dewa Malam dan Peri Kecil.”
”Ya…bagus begitu Periku, bagaimana alurnya?”
”Energi Dewa Malamku bisa jadi jiwa tulisan itu, ketika real kita bertemu, tergantung aura pertemuan cinta kita kelak.”
”Peri Kecil dan Dewa Malam yang menemukan makna cinta sesungguhnya, cinta yang selama ini dianggapnya telah hilang.”

”Kali ini kita bikin skenario buat perjalanan kita sendiri…bukan fiksi murni Dewa…dan kau tahu, aku selalu bikin hentakan yang menyakitkan pembacanya di akhir cerpen-cerpenku selama ini.”
”Tunggu! Aku tak ingin kau un happy-kan tulisan ini, ingat, ini kolaborasi Dewa Malam dan Peri Kecil…tak bisa Peri Kecil egois dengan pilihannya..dan please, kamu jadi mengingatkanku dengan seseorang…NGGAK!”
”Kenapa kamu Dewa? Kamu telah bikin sakit seseorang? Atau kamu telah membuat sebuah luka?”

Tak ada jawaban…berhentilah kalimat-kalimat maya mereka berdua…tiba-tiba Dewa Malam offline. Wajah putih Laras semakin memucat, dia kernyitkan dahi, dan tangan kirinya mengambil HP yang tergeletak di samping kiri monitor PC-nya. Dia cari nama Dewa Malam dalam daftar contacts HP-nya.

Terdengar nada tunggu begitu panjang, tanpa jawaban…Kau tahu mengapa, percintaan ini, kembali terjadi, Tuhan semoga ini menjadi…suratan takdirku..hidup bersamanya, hingga maut memisahkan..Tuhan semoga ini terjadi…Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya…hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya..Tuhan Kau tahu…suara flamboyan Ari Lasso dengan Tuhan Kau Tahu-nya..begitu menyayat hati Larasati.
Lalu dimatikannya HP, Laras termenung, membatin,”Apa yang salah padaku? Aku telah menyakitinya Tuhan?”

Segera dia meninggalkan pesan di inbox ym dewa_malam, setelah sebelumnya dia klik Pujaanku milik Melly feat Jimmo. Larut dalam lagu hati adalah energi Laras buat menulis apa yang menjadi cerca pikir buat rehatkan hatinya, yang sesungguhnya sudah sangat lelah dengan sebuah kembara cintanya selama ini.
Persembahan kalbuku..nantikan dikau di tidur lelapku..pujaanku… Sayatan gitar Anto Hoed membalut kalut hatinya….burung berkicau tanda setia pada pagi, ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi, jantung kau mintapun kan kuberikan, betapa dalamnya cinta untukmu…

”Kita buat sebuah persembahan nirwana hati yang putih, indah tak bernoda, kan kupakai gaun jingga pemberianmu, yang menjadi selimut sutra tubuhku yang dahaga…”
”Menjaring kekangan di tepian cakrawala, duduk di sutra langit yang terhampar, di belantar ruap yang bangun pura.”
Laras nampak girang, lega, ketika muncul jawaban dewa_malam, yang ternyata online, invisible. Jemarinya makin berenergi meraba huruf demi huruf keyboard PC-nya.
”Hingga aku klimaks pada puncak batas, aku tak tahu bahasa langitmu..terlalu tinggi buat Peri Kecil, yang tetap berusaha jadi telaga hatimu.”
”Aku sembunyi di balik bukit tubuh, yang terhempar di samudra luas, riak meriak mendawai senja, temaram rebah dalam pelukan bulan, menyatu dalam syair birahi, larut dan hilang.

”Ketika kau telah sentuh begitu dahsyat, Peri Kecilmu tak bisa berbuat”
”Sihir pesona tubuh, meradang, memerah bibir, meraih tubuh, mencipta aku dalam bayangan suci terhenti, mengaum, menindih, mencengkeram, dan terkulai
”Belai aku dg syair-syair romanmu yg dalam, peluk aku dalam remang rembulan, ajak aku berdansa dalam roman surgamu…aku lelah menulis orang lain…kali ini syahkan kita menulis tentang dera hati kita…syahkan percintaan nyata kita…tak dalam kembara maya yang hanya lamun khayal semata…kita buang sosok-sosok imajiner kita..saatnya kita bertarung dengan nyata raga, berani bercinta kembali!”

”Why silent?” kusambung sapaku lagi.
”Aku mati kata dan terantuk batu, mendengar syair-syairmu, kataku hilang begitu saja, nggak banyak kata-kata lagi…selain, L A K U K A N!”
”When?”
”Tiga hari lagi, senja menjelang maghrib, ku telah tiba pada pijakan bumimu.”
”Saat penampakan kau dan aku yang sebenarnya…kita akhiri ujaran-ujaran maya ini, buat memulai raba raga nyata..dengan makna cinta yang ada. Kutunggu sambutmu, sungguh.”
”Namun satu pintaku, jangan akhiri kolaborasi cerita ini dengan sebuah kepahitan. Meski selalu katamu…kepahitan, kepedihan itu adalah bagian dari sebuah realita hidup..cinta adalah luka…namun, tak bisakah kita tulis skenario ini dengan indah berbuah senyum?”

Larasati tak bisa menjawab ujaran Dewa Malam kali ini, terpaku diam, entah apa yang menjadi cerca pikirnya malam itu…***

TERHELA NYATA

Sebuah keberanian berkomitmen, tiba saat gelisahkan hati Larasati. Namun satu sisi hatinya, mengiyakannya.

Kembali terngiang wejangan alm. Ibunya,”Sampai kapan kamu bercinta di dunia maya? Tak ada ujungnya Laras, hadapi dengan nyata cinta itu. Berkomitmenlah dengan cinta yang sesungguhnya, kubur semua trauma yang bisa menyakitkanmu setiap saat. Sakitmu karena Diandra, tak harus membuatmu terus melukai diri sendiri, dengan sembunyi. Siapapun pujaanmu itu, ajaklah untuk bertemu…”

Dalam kesenyapan hati, sendiri mendiami rumah joglo yang begitu besar, akhir-akhir ini menjadi alasan kuat Laras untuk mendobrak kelambu-kelambu hitam yang sering membutakan hatinya untuk menguraikannya, melihat matahari menerangi rumah hatinya.

Baginya, telah cukup pertapaan semu ini, meski telah lahir beberapa buku dari kesenyapan hatinya selama ini. Namun saat ini, dia benar-benar ingin menjadi wanita seutuhnya, bercinta kembali, menikmati hidup dalam hangat dekap seorang lelaki sejati. Yang selama ini hanya ada dalam sosok-sosok imajiner novel-novelnya.
”Bangun Laras! Buang impian kamu tentang dia. Elang Lazuardi itu tak pernah ada! Dia hanya ada dalam bumi mayamu! Kamu harus keluar dari rumah gelapmu. Khayalanmu telah melewati batas nadirmu sebagai manusia normal…”

Dia ingat kembali kalimat-kalimat terakhir Jingga…dan tak terasa matanya yang telah lama kering, basah…Larasati menangisi kepergian orang-orang yang dicintainya…ibu, Jingga, Diandra?

Ah! Nggak! Nama terakhir itu tak boleh kutangisi kepergiannya! Go to hell! Namun air matanya makin deras membasahi ranum pipinya, menggenangi dua lesung pipi kanan kirinya. Menangisi sebuah kebodohan! Batinnya.

Tiba-tiba terdengar…wahai cintaku, andaikan kau tahu, bahwa sekali hidupku, hanya untuk mencintaimu, selamanya di hati…selamanya dalam hidupku…Mati Bersamamu-nya Bebi Romeo. Nada panggil Dewa Malam.

Segera Laras menghapus air matanya, diambilnnya HP dari dalam tas ransel hitamnya.
”Peri kecil, aku landing. Dimana posisi kamu? Ok, aku ke sana. Jangan ada getar berlebih karena sua awal ini…”
Tiba-tiba gemuruh riak dalam hati Larasati menjadi ombak besar yang terus menggulung paru-parunya, menyesakkan dadanya. Dia terus menghela nafas panjang.
Sebuah langkah berani, berkomitmen tanpa saling mengenal raga dan wajah! Gila! Sebuah gambling yang terlalu berani, mungkin...entah...begitu batinnya selama ini.

Tak terasa Larasati telah meneguk dua gelas orange juice, namun, minuman dingin itu, tetap tak kuasa mengusir keringat yang terus mengucur dari dahinya. Tissue di atas meja Nirwana Café bandara Juanda-pun, tak kuasa untuk menampik buliran-buliran hangat yang terus muncul di wajahnya.
”Duh! Lama banget ya? 60 menit berlalu, tak muncul jua…paling lama 20 menit telah sampai ke sini..” rutuknya.

Lalu ditelponnya Dewa Malam. Hingga 3 kali, hanya terdengar…. Tuhan Kau tahu, cintaku, tlah jatuh kepadanya, hati dan juga hidupku, tlah kuserahkan kepadanya…kembali penggalan syair Tuhan Kau Tahu-nya Ari Lasso.
”Shitt! You lie me! I hate you!
Tiba-tiba matanya basah, menangisi kebodohannya kali ini. Segera dia membayar bill café, dan keluar café secepatnya. Setengah berlari memanggil taxi.
”Peri kecil…”
Lambaian tangan kiri Larasati untuk menghentikan taxi, tiba-tiba ditangkap jemari kanan lelaki tegap berambut ikal sebahu, yang telah berdiri di samping kanan Larasati.

Setengah terperangah, Laras menoleh, menatap tajam wajah lelaki yang menangkup jemari tangan kirinya, tak kuasa dia melepas jemari tangannya, karena genggaman lelaki itu makin kuat.
Lirih, Larasati membuka bibirnya, berucap,” Dewa malam…”
”Dia seperti Elang Lazuardi-ku Tuhan…” batinnya.
”Kita bicarakan semua kenyataan yang tak pernah terbayang sebelumnya ini…”
Kalimat Dewa Malam, menghentikan lamunan sesaat Larasati. Sambil berjalan, terus memegang erat tangan Peri Kecil, Dewa Malam mengajaknya memasuki Nirwana café. Mereka duduk di sudut kanan café.
Senja yang makin merubung, membuat nyala lilin di meja kayu itu makin nampak terang berpijar.

Dewa Malam menatap tajam mata kejora Larasati, yang masih terpana dengan penampakan raga Dewa Malam. Dia begitu merasa, bertemu dengan sosok imajiner-nya sendiri.
”Aku tahu kalutmu, setelah 1 jam tepat, menungguku…”
Jemari tangan kiri Dewa menambah erat genggaman jemari kanannya menangkup jemari tangan kiri Laras yang terasa makin dingin.
”Jujur, aku telah 40 menit menatapmu dari luar jendela café…aku begitu terkejut, berkali-kali kupelototkan mataku menatapmu, tak percaya Peri Kecilku adalah kamu…”
”Kenapa?”
”Jujur, wajahmu mirip sekali dengan dia…”
”Ah..klise sekali!” tiba-tiba mendidih darah Larasati, terasa ada sesuatu yang membuatnya illfeel dengan kalimat-kalimat Dewa Malam barusan.
”Yakinilah, jujur… Kamu mirip sekali dengan dia, yang telah 3 tahun ini meninggalkanku…”
”Dewa…buat apa berlama-lama dengan imaji-mu? Masa lalumukah yang kau buat persembahan raga kita? Agar aku yakini cintamu? Kamu salah! Aku tak pernah mau dalam baying-bayang masamu! Apapun alasan kamu! Kita sudahi semua cerita konyol ini!”
Dewa semakin tajam menatap mata kejora Larasati. Kali ini, dia begitu nampak serius.
”Dengar Peri Kecil! Dia pergi karena suratan takdir! Dia berada di surga yang sebenarnya, karena dia meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama ibunya…dan bersama benih cinta kami di dalam rahimnya…”

Nampak berkaca bening, mata elang Dewa Malam. Dan Larasati begitu merah matanya, tajam menatap mata lelaki yang telah jujur berujar tentang kisahnya. Hatinya mulai bisa meraba siapa Dewa Malam.
”Jadi…kamu Hans?”
Dewa Malam menggangguk, tanpa melepas pandang matanya ke wajah Laras yang makin nampak memerah.
”Ya Tuhan!”
”Kamu mirip sekali dengan Jingga…”
”Jingga tak pernah bercerita tentangmu…tiga hari menjelang peristiwa itu, dia menulis email ke aku, cerita romannya denganmu. Aku memutuskan pergi dari Surabaya, setelah Diandra meninggalkanku begitu saja, aku ingin mengubur semua ceritaku dengan lelaki brengsek itu di Surabaya.”
Sejenak Larasati berhenti bicara, ketika seorang waitress perempuan menyodorkan datfar menu.
”Minum apa kamu Peri? Air jeruk kesukaanmu?”
Larasati menggelengkan kepala, sambil menghela panjang nafasnya.

”Ok, nanti saja mbak…terima kasih.”
Setelah waitress café pergi meninggalkan meja mereka, Larasati melanjutkan ujarannya.
”Bagiku saat itu, Surabaya adalah neraka jahanam… Surabaya kembali menjadi bumi bagiku, setelah orang-orang yang kucintai, yang kutinggalkan selama 3 tahun, telah pergi dengan cintanya buatku. Ibu dan Jingga, menyusulku, menjemputku di tempat pengasinganku, tempat aku begitu larut dengan sosok-sosok imajiner-ku, yang kupikir, begitu tulus memiliki cinta buatku. Ibu dan Jingga begitu mencemaskan aku, karena banyak yang telah menganggapku gila, meski novel-novelku banyak yang menjadi best seller, aku terus hidden, mencintai kesenyapanku di sebuah pondok… lari dari kenyataan pahitnya cinta. Aku tak lebih dari seorang perempuan bodoh! Dosaku terbesar pada Ibu dan Jingga. Hingga maut menjemput mereka hanya sesaat, 10 menit, sebelum mereka menemuiku…untuk menjemput dan memberi tahuku tentang rencana pernikahan kalian.”

”Tapi, kenapa Jingga tak pernah bercerita tentangmu?”
”Sama. Diapun tak pernah bercerita tentangmu…dia tak ingin saudara kembarnya makin nelangsa, dengan tahu kisah roman apiknya denganmu, karena patah hati yang telah membelenggu hidupku selama ini. Aku salah, begitu mengkultuskan cintaku pada Diandra..”
”Sudahlah Peri…”
”Hans, kini kau tahu siapa Peri Kecilmu. Aku tak ingin cintamu jatuh, karena bayang-bayang Jingga, Bidadari Pelangi-mu…”
Hans, menggelengkan kepalanya, menyibakkan ikal rambut yang menutupi sebagian wajahnya.

”Bukankah, Dewa Malam menjatuhkan cintanya pada Peri Kecil, ketika belum tahu raga, wajah Peri Kecil itu? Kita bercinta karena syair roman maya, tanpa tersekat nyata raga mulanya. Dan bagiku, itu sebuah keindahan nirwana cinta yang sebenarnya. Aku tulus memilikinya buatmu Peri Kecilku. Harusnya kamu yakini itu, karena aku telah kubur namaku, Ksatria Malam, buat Bidadari Pelangi, yang nyata telah hilang dari kehidupanku, meski dia dulu pernah singgah begitu dalam, menelusupi ruang hatiku. Tapi itu harus kuakui, hanya masa lalu, yang harus segera kututup, tak perlu kubuka kembali, jika itu membuatku sakit.”

Larasati tak kuasa menatap tatapan tajam Hans, dia buang mukanya, memandangi pesawat yang landing di hamparan lantai beton di depan jendela café.
Burung besi yang telah memiliki masa yang tepat, buat mendaratkan tubuh, roda, dan sayap-sayapnya, ke sebuah landasan yang kuat. Karena dia tak ingin nyawa-nyawa yang terhela di dalam tubuhnya, hilang sia-sia karena salah landasan.
Begitupun hati Laras, mulai menemukan landasannya. Bisa menerima realita cintanya sebagai sang Peri Kecil dengan Hans, sang Dewa Malamnya.
“Inikah cintaku yang sesungguhnya Tuhan? Cintaku pada orang-orang yang mencintaiku dengan tulus? Ibu, Jingga, dan Hans? Maafkan aku Jingga, jika ternyata cintaku jatuh pada Ksatria Malam yang dulu pernah kau miliki…Tuhan, berilah surgamu, buat Jingga yang telah berkorban buatku…” batin Larasati.

Kembali buliran air bening keluar dari mata kejoranya. Jemari kanan Hans, mengusapnya pelan, namun Laras segera menampiknya.
”Biarkan air mata ini keluar Hans…aku ingin menangis buat Jingga. Dia telah berkorban buat cinta kita…persembahan nirwana itu buatnya Hans…”
Hans, memeluk erat Laras, dibiarkannya air mata Laras menghangati dadanya.

”Saat tepat kau tumpahkan semua air mata itu untuk menghangatkan senyap dadaku setelah kepergian Jingga… Bagiku, saat ini dan esok, kaulah Peri Kecilku, cinta nyata dalam hidupku. Jingga adalah seseorang yang membawa cintanya buat kita dalam keabadian nirwana cinta. Kita sama-sama memiliki cinta buatnya.”

Aku menangis mengenangmu…sgala tentangmu ku memanggilmu dalam hati ini...ku memanggilmu dalam hati ini..ku kenang dirimu…Lirih-nya Ari Lasso mengakhiri drama indah Peri Kecil dan Dewa Malam dalam temaram Nirwana café.

Larasati telah menemukan Elang Lazuardi yang sesungguhnya, sosok khayalannya itu, kini ada di hadapannya, memeluknya nyata. Dalam wujud seorang Hans, Dewa Malamnya, Ksatria Malam milik Jingga.
Tulisan hatinya malam itu, begini…Cinta sejati tak pernah terkuak oleh siapapun, hingga kapanpun, karena, cinta sejati tetap abadi menjadi rahasia Dia! Sang Maha Pecinta! Penulis Eksotik Maha Terbaik!

----
Rumah Putih, awal bulan ke tujuh 07, mengenangmu buat persembahan nirwana cinta,
sebuah energi dari dewa malam..

Jumat, 18 Juli 2008

Puisi-puisi Kirana Kejora

LELAKIKU DAN KUDANYA

Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati

Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya

Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla

Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya

Bumi Samudra, Surabaya, 070507



SURAT KEPADA ILALANGMU

Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu

Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku rerimbunan sang ruh

Persembahan secawan anggur hati
Tlah menyingkap gaun tidurku
Sungguh tubuhku lunglai tiada nadi daya
Hingga sapa matahari
Menghangatkan sunyi tubuhku

Kelam terrenda temaram kabut masa
Aku masih sabit yang terpenggal
Yang tak pernah memiliki malam, siang, pagi

Karena singgahku
Tak pernah termiliki siapapun
Kecuali Kupu-Kupu Saljuku
Aku hanya debu yang ingin menjadi gurun
Entah kapan dan dimana

Kamu tak pernah miliki daya arung
Buat sauhkan sampan roman ini
Sedang waktu mulai tak bersahabat
Dengan ruang hati yang kita miliki

Topannya mengiris kulit
Menidurkan kembali bulu-bulunya
Sudahlah, kelelahanku tlah menuju kematian
Padahal aku ingin terus hidup
Buat penumpang kecil sampanku…

Syairmu setinggi langit ke tujuh
Ku sulit sentuh dan gapai
Cekat pita hati
Katupkan bibirku yang tertoreh pujimu
Kembarakan gemintang rindu cinta
Pada langit yang tak pernah memberi jawab
Walau sedikit
Menunggu sesuatu yang abstrak
Tak berbentuk

Meski bisa berasa jiwa
Namun tak bisa tersentuh raga

Semua yang terpilih
Adalah milik Sang Berkehendak!
Aku ingin kita bertemu dalam ruang
Tanpa sekat-sekat maya
Pergumulan raga yang kuinginkan
Buat buktikan daya arung lelaki sejatimu!
Usah kau jawab
Jika kau tak sedia lakukan itu!

Menara 4, Taman Anggrek,
Jkt, 12:21, 240407



NYANYIAN EIDELWEIS LANGIT

Lembut laut sang pasir
Tirani yang kokoh buat sambut rindumu
Kisaran saat tak bisa pisahkan hasrat
Cinta yang kita hidupkan
Adalah fajar yang terus menyingsing

Tahukah arti pergumulan ini?
Langit bersendawa dengan roman birunya
Berbuih bersama tulus putihnya
Sudi terus payungi pasir yang menggunung

Lalu datang keabadaian
Lewat kelopakku
Yang tak pernah terjamah buliran air mata
Ku sapu tangis embun
Ku redam kalut pagi
Ku peluk geliat siang
Ku cium galau malam
Kekuatan tangkai kehidupan harus jadi milikku
Meski aromaku tak pernah terhirup
Dan indahku tak tersinggahi kilat mata
Ku terlupa
Ku tersisih
Tak apa ku bilang
Karena garisku
Ku hanya lambang keabadian cinta
Itukah perempuan?

Rumah Putih, Surabaya 030507



NIRWANA CINTA SELAMANYA

Perempuan itu menyipukan malunya dengan senyum
Dan berkata kepada kekasihnya
”Lelaki adalah elang, pantang baginya buat mundur!
Inginku, jadilah engkau elang yang bukan pemangsa
Namun elang sang dewa angin
Yang siap meminangku sang dewi bhumi”

Kemudian sang lelaki menjawab
Begini,
”Perempuan adalah eidelweis, pantang baginya menangis
Tegar kelopakmu yang tetap menyimpan kelembutan
adalah lambang keabadian abdimu kepadaku”

Setelah mantra hati mereka termantap
Dalam sebuah kitab
Perempuan dan lelaki itu menikah

Abadilah cinta kita, tersimpan selamanya
Dalam hati DIA Sang Pemilik Abadi
Begitu,
Kalimat surga perempuan dan lelaki itu di atas pelaminannya

Bhumi Menteng Dalam, 200308



KAMU TAK SENTUH AKU

Ku penuhi janjiku padamu
Hanya keterpaguan yang keluar dari bibirku
Ketika kau lontarkan kalimatmu
Itu membuatku terpagut
Makin membuat kalut
Hatiku berkabut
Segera kuhapus bayanganmu yang melekat
Yang memaskeri wajahku begitu pekat
Makin luruh menuruni hatiku yang terpikat
Memita jantungku begitu erat
Ternyata
Keberadaanmu begitu kuat
Sesadarnya aku merasa tak terjerat
Aku merasa tak terikat
Hingga
Tak ada beban berat
Karena
Ternyata
Kau tak sentuh aku
Tepatnya ragaku
Meski jiwaku
Sebenarnya telah kau sentuh
Kuat!
Erat!
Ikat!
Dengan kedinginanmu sebagai elang kutub!

Kamarku, Permata Ex. 210608
Masih denganmu sunya yang kubawa


Kirana Kejora lahir di kota kapur, perbatasan JaTim dan JaTeng, tanggal 2-2-1972. Buku pertamanya; Kepak Elang, buku keduanya; Selingkuh (Almira, 2006), buku ketiganya; Perempuan dan Daun (2007).

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar