Rabu, 10 September 2008

BILA SEKAR MEMBELUKAR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Ayunda Florentina Betty Suharti.
Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon kehidupannya sehari-hari senantiasa dirundung gersang, bagaikan di lautan pasir, yang tiada nampak sepotong pun selain pokok-pokok zaitun yang kerontang, dan sesekali genangan air yang keruh, tak memuaskan tegukan harap. Berbagai cercaan hawa nafsu dari indera yang bergerak-serta.

Ayunda Florentina Betty Suharti yang sabar.
Tiga hari lewat, kita merencanakan ziarah ke Gua Jatijajar, karena di kawasan itu, hendak kuperlihatkan kepada bibi kita yang malang itu bekas-bekas pertapaan para priyagung negeri Kebumen yang resik ini, seperti restan-restan jelajah keperkasaan Jaka Sangkrip Surawijaya – si anak rakyat yang tersisih, tanpa asal-usul jelas, terkapar – namun berkat suatu tarakbrata dan lelanabrata yang menguras tenaga masamuda, ia peroleh anugerah Hyang Maha Pengasih Penyayang. Sampai kemudian di peroleh bahagia nan memutik di Arga Bulupitu, berkat pertolongan pejuang-pejuang supernatural, Dewi Nawangsari dan Kyai Kumbang Ali-Ali, yang mengantarkannya ke dhampar kencana Kabupaten.

Dia, Adipati pertama di Kebumen, yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Mas Ario Adipati Arungbinang I. Tentu bukan kisah jantan dan penakluk itu yang perlu dileluri, melainkan bagaimana dia berhasil mengatasi derita hidup lahir batin. Karena, sesungguhnya, selama hayat menggelimantang di mayapada, tantangan dan kendala senantiasa susul-menyusul, menghantam tengkuk, menendang pinggang. Kalau anak manusia alpa, tanpa usaha menangkis dan hanya bersenjatakan tangis memuput-menggerimis, alamat pintu keberuntungan tertutup rapat.

Bila tubuh cukat-trengginas menyambut seberkas sinarputih dari horison tak bertepi, dan nalar jernih mulai dikibarkan, maka pori-pori merekah, cucur peluh membanjiri bumi, dan sebaran benih pun mekar bertunas. Hiduplah para Penabur! Dengan sejumput kekaguman ini aku sampaikan penghargaan kepada Surawijaya alias Sang Arungbinang I, jejaka dusun yang mampu merubah nasib. Justru lantaran ia sadar – duaratus lima puluh tahun silam, di kala mengawali rintisan daerah tercinta ini, dengan membabat belukar. Kuthawinangun sebagai kiat pertama – dan pengharapan pun menyala. Kebangsawanan hanya sebuah gurit perada nan disematkan lintang panjer rahina. Rerumput hijau, di mana pun elok dibiak!

Ayunda Florentina Betty Suharti.
Sembari duduk di kursi yang telah mengelupas cat-cat pinggirnya, kuperhatikan mata Tante Yottiek yang basah. Ia selalu mengeluh dan merintih. Dari semasa kecil dulu, kalau kebetulan aku singgah ke Surabaya, kudengar kalimat senada. Bibi yang sering bermimpi di tengah gurun berhalimun. Adakalanya terasa, perkawinannya seperti di luar rencana dan gambaran cermatnya. Tapi, jika kuperhatikan putra-putrinya yang mungil dan sikap gemati dan mengemong dari pihak suaminya, Oom Syuaib, aku terharu. Belum pernah kutemukan seorang suami yang begitu mengalah dan penyabar. Manusia eloklah berhandai-handai dengan deru-dorong deras.

Memang, di kota dagang Surabaya yang serba berselimut cahaya dan warna, manusia acapkali tertipu dengan khayalannya sendiri, yang kadang, tanpa disadarinya, telah melangkahi ambang kewantahan. Yunda pernah bilang, bukan, bahwa: “Bahagia dan beruntung adalah perasaan sesaat, nan gumantung orang yang mengalaminya sendiri. Di tengah hidup melarat dan tindasan angkara yang tanpa wataspun, orang bisa mengucapkan sekalimat syukur. Saat orang teringat Tuhan, hidup mekar bagai mawar-hutan yang indah tengah rimbun belukar. Saat itu, puncak keindahan nampak dari jauh, yang tak terlukiskan para pendatang. Di kala orang tengah mabuk kenikmatan duniawi, dan alpa dari renungan kudus, alpa dari sebut-puja Sang Maha Pencipta, maka tanpa diduga kerapkali bencana menyerbu dan merobohkan tiang-tiang penopang yang dibanggakan. Mengapa kita tidak mulai dari yang serba kecil…?” Benar, benar sekali, Yunda. Kukira, kita bisa mengucapkannya sebagai semacam penghibur kepada bibi kita dari Surabaya ini, yang sesudah rambut penuh uban, masih juga diamuk oleh sumuknya dukanestapa yang begitu melemaskan.

“Setiap aku berkunjung ke berbagai kota, mengunjungi para keponakan, terasa ada yang bisa memberikan sepercik sinar pepadhang. Aku berterimakasih. Tapi Betty, aku hanya bisa mengucapkan, dengan hati semplah. Karena, setelah aku kembali ke Surabaya, aku sesali peruntunganku sendiri.”
“Karena Tante Yottiek merasa malang dan tertikam, itulah soalnya. Tante jarang menyebut Tuhan, dan jarang mengunjungi tempat ibadat.”

“Ah, betty, kau tahu saja! Aku dikenal alim sejak remaja. Malahan rajin mengaji dan juga rajin belajar tentang agama apa saja kepada guru-guru privat, kapan pun aku mau. Orangtuaku mendidik, supaya aku menghormati semua agama dan rajin menyeru namaNya. Tapi di haritua ini…”
“Ya, aneh. Di hari tua, Tante Yottiek seperti jauh sekali dari doa dan puja-sesanti. Jauh berjalan di tengah padang ilalang, tanpa melihat telempap yang terang, untuk penggembalaan anak-anak domba. Begitukah?” Kisah legendaris masa lampau, menumbuhkan inspirasi.

“Betty, Betty, kemenakanku,” ia tertawa renyah seraya merangkul bahumu, bila andika berdua sudah berbicara tentang penyembahan terhadap Yang Maha Pengampun. Aku sendiri kemudian mencoba mengonceki peristiwa ini. Ataukah tante sekeluarga memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang-orang zuhud, yang harus pasrah terhadap kemelaratan? Ataukah dia yang kurang mampu hidup secara hemat lagi cermat? Ataukah dia terlampau berdiri di atas angan-angan, yang begitu melampaui batas kenyataan sehari-hari? Jikalau hati-nurani memaksakan ditempuhnya ujian keberanian!

Ayunda Florentina Betty Suharti.
Katakanlah, bahwa ngrasani atau membicarakan perihal orang lain, adalah sesuatu yang mengasyikkan. Tapi dalam hal itu, kita bukannya demikian. Keprihatinan mewarnai bincang-bincang bebas di beranda rumah Kangmas Dokter Haji Suharto di Kebumen – tepat diiring kulon Rumah Sakit Umum yang sarat oleh pengunjung setiap jam! – dan sambil memperhatikan lalu-lalangnya anggota keluarga mem-bezuk pasien, dan bising oleh deru sepeda motor, dengan bau bensinnya yang menyesakkan hawa panas kemarau ini, kita pun sempat tercenung. Sebagai tamu kita, Tante Yottiek tergolong mahir berkisah, dan ilir-gumilirnya dongeng-dongeng masa lalu seperti suguhan perjamuan akrab. Pada suasana demikian, tanpa terasa hari berangkat sore dengan suntingan cerah;

Ayunda Betty Suharti.
Kamis lalu, aku bilang kepada Kangmas Dokter, agar kita bisa bertamasya ke Jatijajar, kemudian diteruskan ke Waduk Wadaslintang, dan tentunya (kalau sopir Suhud yang ramah itu tak lelah), ke Arga Bulupitu, berziarah ke petilasan yang mengungkapkan derita insani, geliat-juang insani dan rintisan kebahagiaan insan. Tante Yottiek tentunya akan gembira sekali, kalau bisa mendengar secara jlentreh semua kisah perjalanan nasib semacam ini. Masih ingatkah Yunda, sewaktu tengah hari dulu, kita bertiga menyusuri perkampungan sepanjang lembah Kali Lukula yang lebar dan kecoklatan, dengan kemampuannya untuk menggogos tebing-tebing-tepiannya, hingga tiap tahun, selalu terjadi erosi yang mengecutkan wargakota kita. Kita singgah di Kuthasari, Pasar Temenggungan, dan membeli rengginang, alen-alen dan roti bongko yang lezat, dengan sajian minuman es kolak nan menyegarkan? Di sepanjang jalanan kampung yang belum diaspal itu, nampak kanak-kanak sehat, berpipi gembil, bermata bulat suminar. Semoga Kebumen senantiasa mencerminkan suatu keberuntungan.

Kujawil tangan Tante Yottiek ketika itu: “Tengok, tengoklah Tanteku! Parit-parit di sini santer airnya. Tidak seperti di Yogyakarta sana, air parit yang kecil-kecil di perkampungan selalu macet. Orang membuang sampah seenaknya. Bahkan bak-bak sampah menggunung, berbau busuk, penuh lalat! Dalam soal kebersihan kota, Yogya harus banyak belajar dari Kebumen.” Tante tersenyum. “Kau melihatnya hanya satu segi saja, Ndut. Bagaimana kalau kau juga membandingkan bidang hidup yang lain. Misalnya, kegairahan seninya!” Tante dapat saja menyangkal ucapanku. Tapi pesiar sore-sore dengan jalan-jalan kaku begini, selain menyehatkan tubuh, juga memberikan kesempatan bagi kita untuk bertatap muka dengan banyak kalangan, yang selama ini kita abaikan.

Ayunda Florentina Betty Suharti.
Kangmas Dokter mengatakan, kalau Yu Betty sudah sehat betul, barulah boleh pulang kembali ke Surabaya, kembali ke medan-tugas, mengajar dan mengelola Taman Kanak-kanak “Kesuma Putra” (yang kangen dan teramat lama ditinggalkan Ibu Guru yang paling sabar ini!) – dan karena itu, kuharap patuhilah nasihat ini. Karena, setelah Yunda beristirahat di rumah sakit selama dua bulan, dan kemudian bisa menenangkan hati di Kebumen (justru dalam rumah yang masih termasuk kompleks rumah sakit itu!), pelan-pelan akan redalah kesibukan dalam memberikan les-les privat di Surabaya yang tanpa-kenal waktu, menyebabkan kau jatuh sakit, dan pingsan. Lever-mu kambuh waktu itu, dan Yunda harus mematangkan beberapa jenis makanan yang bergetah. Ah, Yunda sayang. Bersykurlah, bahwa Tante Yottiek menyempatkan diri menjengukmu di Kebumen. Hatimu tentu terhibur oleh kehadirannya dan beliau pun memperoleh kesenangan secumplik, bila sesekali lepas dari kesibukan rutin rumahtangga, atau pekerjaan-pekerjaan kasar di rumah kerabatnya sendiri (yang kurang menghargainya secara layak itu). Moga-moga saja, kelak hidupnya berubah gemilang – karena ketekunan telah berbuah.

Nah, sekali lagi istirahatlah sementara waktu, Yunda. Bulan depan, mungkin Andika sudah diperkenankan kembali ke tengah murid-muridmu yang mungil-lucu, yang dengan ceria menyanyikan “Lagu Bagi Ibu Guru” yang syairnya lembut, dan teramat mengena. Bila mungkin dalam kesempatan yang lain, kita bisa kembali menyusuri kampung-kampung di Kebumen yang tanahnya beraroma khas (bila hujan pertama menyiramnya) dan senyum ikhlas penduduknya. Dan, bukankah sebulan lagi, musim-penghujan akan mulai berdenting, bukan?
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar