KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Rasanya baru seperempat jam lalu, ketika kita melepas keberangkatan Tante Yottiek yang tergesa, di Stasiun Kota Kebumen, dalam kemarau yang menyesakkan nafas. Semalam, banyak sekali Tante mengungkapkan kisah-kisah masa mudanya yang penuh kenangan, sungguh pun sebagian besar diliputi kepahitan. Tapi alangkah sedihnya, bila menyaksikan sejak dulu, lakon kehidupannya sehari-hari senantiasa dirundung gersang, bagaikan di lautan pasir, yang tiada nampak sepotong pun selain pokok-pokok zaitun yang kerontang, dan sesekali genangan air yang keruh, tak memuaskan tegukan harap. Berbagai cercaan hawa nafsu dari indera yang bergerak-serta.
Ayunda Florentina Betty Suharti yang sabar.
Tiga hari lewat, kita merencanakan ziarah ke Gua Jatijajar, karena di kawasan itu, hendak kuperlihatkan kepada bibi kita yang malang itu bekas-bekas pertapaan para priyagung negeri Kebumen yang resik ini, seperti restan-restan jelajah keperkasaan Jaka Sangkrip Surawijaya – si anak rakyat yang tersisih, tanpa asal-usul jelas, terkapar – namun berkat suatu tarakbrata dan lelanabrata yang menguras tenaga masamuda, ia peroleh anugerah Hyang Maha Pengasih Penyayang. Sampai kemudian di peroleh bahagia nan memutik di Arga Bulupitu, berkat pertolongan pejuang-pejuang supernatural, Dewi Nawangsari dan Kyai Kumbang Ali-Ali, yang mengantarkannya ke dhampar kencana Kabupaten.
Dia, Adipati pertama di Kebumen, yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Raden Mas Ario Adipati Arungbinang I. Tentu bukan kisah jantan dan penakluk itu yang perlu dileluri, melainkan bagaimana dia berhasil mengatasi derita hidup lahir batin. Karena, sesungguhnya, selama hayat menggelimantang di mayapada, tantangan dan kendala senantiasa susul-menyusul, menghantam tengkuk, menendang pinggang. Kalau anak manusia alpa, tanpa usaha menangkis dan hanya bersenjatakan tangis memuput-menggerimis, alamat pintu keberuntungan tertutup rapat.
Bila tubuh cukat-trengginas menyambut seberkas sinarputih dari horison tak bertepi, dan nalar jernih mulai dikibarkan, maka pori-pori merekah, cucur peluh membanjiri bumi, dan sebaran benih pun mekar bertunas. Hiduplah para Penabur! Dengan sejumput kekaguman ini aku sampaikan penghargaan kepada Surawijaya alias Sang Arungbinang I, jejaka dusun yang mampu merubah nasib. Justru lantaran ia sadar – duaratus lima puluh tahun silam, di kala mengawali rintisan daerah tercinta ini, dengan membabat belukar. Kuthawinangun sebagai kiat pertama – dan pengharapan pun menyala. Kebangsawanan hanya sebuah gurit perada nan disematkan lintang panjer rahina. Rerumput hijau, di mana pun elok dibiak!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Sembari duduk di kursi yang telah mengelupas cat-cat pinggirnya, kuperhatikan mata Tante Yottiek yang basah. Ia selalu mengeluh dan merintih. Dari semasa kecil dulu, kalau kebetulan aku singgah ke Surabaya, kudengar kalimat senada. Bibi yang sering bermimpi di tengah gurun berhalimun. Adakalanya terasa, perkawinannya seperti di luar rencana dan gambaran cermatnya. Tapi, jika kuperhatikan putra-putrinya yang mungil dan sikap gemati dan mengemong dari pihak suaminya, Oom Syuaib, aku terharu. Belum pernah kutemukan seorang suami yang begitu mengalah dan penyabar. Manusia eloklah berhandai-handai dengan deru-dorong deras.
Memang, di kota dagang Surabaya yang serba berselimut cahaya dan warna, manusia acapkali tertipu dengan khayalannya sendiri, yang kadang, tanpa disadarinya, telah melangkahi ambang kewantahan. Yunda pernah bilang, bukan, bahwa: “Bahagia dan beruntung adalah perasaan sesaat, nan gumantung orang yang mengalaminya sendiri. Di tengah hidup melarat dan tindasan angkara yang tanpa wataspun, orang bisa mengucapkan sekalimat syukur. Saat orang teringat Tuhan, hidup mekar bagai mawar-hutan yang indah tengah rimbun belukar. Saat itu, puncak keindahan nampak dari jauh, yang tak terlukiskan para pendatang. Di kala orang tengah mabuk kenikmatan duniawi, dan alpa dari renungan kudus, alpa dari sebut-puja Sang Maha Pencipta, maka tanpa diduga kerapkali bencana menyerbu dan merobohkan tiang-tiang penopang yang dibanggakan. Mengapa kita tidak mulai dari yang serba kecil…?” Benar, benar sekali, Yunda. Kukira, kita bisa mengucapkannya sebagai semacam penghibur kepada bibi kita dari Surabaya ini, yang sesudah rambut penuh uban, masih juga diamuk oleh sumuknya dukanestapa yang begitu melemaskan.
“Setiap aku berkunjung ke berbagai kota, mengunjungi para keponakan, terasa ada yang bisa memberikan sepercik sinar pepadhang. Aku berterimakasih. Tapi Betty, aku hanya bisa mengucapkan, dengan hati semplah. Karena, setelah aku kembali ke Surabaya, aku sesali peruntunganku sendiri.”
“Karena Tante Yottiek merasa malang dan tertikam, itulah soalnya. Tante jarang menyebut Tuhan, dan jarang mengunjungi tempat ibadat.”
“Ah, betty, kau tahu saja! Aku dikenal alim sejak remaja. Malahan rajin mengaji dan juga rajin belajar tentang agama apa saja kepada guru-guru privat, kapan pun aku mau. Orangtuaku mendidik, supaya aku menghormati semua agama dan rajin menyeru namaNya. Tapi di haritua ini…”
“Ya, aneh. Di hari tua, Tante Yottiek seperti jauh sekali dari doa dan puja-sesanti. Jauh berjalan di tengah padang ilalang, tanpa melihat telempap yang terang, untuk penggembalaan anak-anak domba. Begitukah?” Kisah legendaris masa lampau, menumbuhkan inspirasi.
“Betty, Betty, kemenakanku,” ia tertawa renyah seraya merangkul bahumu, bila andika berdua sudah berbicara tentang penyembahan terhadap Yang Maha Pengampun. Aku sendiri kemudian mencoba mengonceki peristiwa ini. Ataukah tante sekeluarga memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang-orang zuhud, yang harus pasrah terhadap kemelaratan? Ataukah dia yang kurang mampu hidup secara hemat lagi cermat? Ataukah dia terlampau berdiri di atas angan-angan, yang begitu melampaui batas kenyataan sehari-hari? Jikalau hati-nurani memaksakan ditempuhnya ujian keberanian!
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Katakanlah, bahwa ngrasani atau membicarakan perihal orang lain, adalah sesuatu yang mengasyikkan. Tapi dalam hal itu, kita bukannya demikian. Keprihatinan mewarnai bincang-bincang bebas di beranda rumah Kangmas Dokter Haji Suharto di Kebumen – tepat diiring kulon Rumah Sakit Umum yang sarat oleh pengunjung setiap jam! – dan sambil memperhatikan lalu-lalangnya anggota keluarga mem-bezuk pasien, dan bising oleh deru sepeda motor, dengan bau bensinnya yang menyesakkan hawa panas kemarau ini, kita pun sempat tercenung. Sebagai tamu kita, Tante Yottiek tergolong mahir berkisah, dan ilir-gumilirnya dongeng-dongeng masa lalu seperti suguhan perjamuan akrab. Pada suasana demikian, tanpa terasa hari berangkat sore dengan suntingan cerah;
Ayunda Betty Suharti.
Kamis lalu, aku bilang kepada Kangmas Dokter, agar kita bisa bertamasya ke Jatijajar, kemudian diteruskan ke Waduk Wadaslintang, dan tentunya (kalau sopir Suhud yang ramah itu tak lelah), ke Arga Bulupitu, berziarah ke petilasan yang mengungkapkan derita insani, geliat-juang insani dan rintisan kebahagiaan insan. Tante Yottiek tentunya akan gembira sekali, kalau bisa mendengar secara jlentreh semua kisah perjalanan nasib semacam ini. Masih ingatkah Yunda, sewaktu tengah hari dulu, kita bertiga menyusuri perkampungan sepanjang lembah Kali Lukula yang lebar dan kecoklatan, dengan kemampuannya untuk menggogos tebing-tebing-tepiannya, hingga tiap tahun, selalu terjadi erosi yang mengecutkan wargakota kita. Kita singgah di Kuthasari, Pasar Temenggungan, dan membeli rengginang, alen-alen dan roti bongko yang lezat, dengan sajian minuman es kolak nan menyegarkan? Di sepanjang jalanan kampung yang belum diaspal itu, nampak kanak-kanak sehat, berpipi gembil, bermata bulat suminar. Semoga Kebumen senantiasa mencerminkan suatu keberuntungan.
Kujawil tangan Tante Yottiek ketika itu: “Tengok, tengoklah Tanteku! Parit-parit di sini santer airnya. Tidak seperti di Yogyakarta sana, air parit yang kecil-kecil di perkampungan selalu macet. Orang membuang sampah seenaknya. Bahkan bak-bak sampah menggunung, berbau busuk, penuh lalat! Dalam soal kebersihan kota, Yogya harus banyak belajar dari Kebumen.” Tante tersenyum. “Kau melihatnya hanya satu segi saja, Ndut. Bagaimana kalau kau juga membandingkan bidang hidup yang lain. Misalnya, kegairahan seninya!” Tante dapat saja menyangkal ucapanku. Tapi pesiar sore-sore dengan jalan-jalan kaku begini, selain menyehatkan tubuh, juga memberikan kesempatan bagi kita untuk bertatap muka dengan banyak kalangan, yang selama ini kita abaikan.
Ayunda Florentina Betty Suharti.
Kangmas Dokter mengatakan, kalau Yu Betty sudah sehat betul, barulah boleh pulang kembali ke Surabaya, kembali ke medan-tugas, mengajar dan mengelola Taman Kanak-kanak “Kesuma Putra” (yang kangen dan teramat lama ditinggalkan Ibu Guru yang paling sabar ini!) – dan karena itu, kuharap patuhilah nasihat ini. Karena, setelah Yunda beristirahat di rumah sakit selama dua bulan, dan kemudian bisa menenangkan hati di Kebumen (justru dalam rumah yang masih termasuk kompleks rumah sakit itu!), pelan-pelan akan redalah kesibukan dalam memberikan les-les privat di Surabaya yang tanpa-kenal waktu, menyebabkan kau jatuh sakit, dan pingsan. Lever-mu kambuh waktu itu, dan Yunda harus mematangkan beberapa jenis makanan yang bergetah. Ah, Yunda sayang. Bersykurlah, bahwa Tante Yottiek menyempatkan diri menjengukmu di Kebumen. Hatimu tentu terhibur oleh kehadirannya dan beliau pun memperoleh kesenangan secumplik, bila sesekali lepas dari kesibukan rutin rumahtangga, atau pekerjaan-pekerjaan kasar di rumah kerabatnya sendiri (yang kurang menghargainya secara layak itu). Moga-moga saja, kelak hidupnya berubah gemilang – karena ketekunan telah berbuah.
Nah, sekali lagi istirahatlah sementara waktu, Yunda. Bulan depan, mungkin Andika sudah diperkenankan kembali ke tengah murid-muridmu yang mungil-lucu, yang dengan ceria menyanyikan “Lagu Bagi Ibu Guru” yang syairnya lembut, dan teramat mengena. Bila mungkin dalam kesempatan yang lain, kita bisa kembali menyusuri kampung-kampung di Kebumen yang tanahnya beraroma khas (bila hujan pertama menyiramnya) dan senyum ikhlas penduduknya. Dan, bukankah sebulan lagi, musim-penghujan akan mulai berdenting, bukan?
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar