KRT. Suryanto Sastroatmodjo
Jacinta yang baik.
Memang sudah selayaknya apabila dalam suasana perayaan Natal yang sepi seperti ini, kau lebih menjemput diri sendiri atau lebih akrab dengan sesuatu yang bernama kejujuran. Apabila saya mengatakan hal semacam ini, tiada lain karena didorong rasa tulus dalam pergaulan yang cukup lama, dan karena itulah wajar, jika saya berterus-terang. Sedangkan jika saya banyak menyembunyikan sesuatu, maka kurang baik bagi kita semua. Seraya melonggarkan segenap kesumukan dan kegetiran yang menyesakkan, kukira lebih baiklah apabila kita sanggupkan diri untuk mengonceki buntalan-buntalan dalam jiwa. Kuharap kau menjadi lebih dewasa sedikit. Melalui penjabaran pada setiap sudut-sudut pencerah batin.
Jacinta yang budiman.
Manakala kita bicarakan tentang pendaki pongah di persimpangan, tiada lain kinilah saatnya untuk mengungkapkan hal itu. Jangan cemas, bahwa ada yang terhindarkan dari rasa nan berkecamuk ini. Jangan cemas, bahwa dirimu akan menjadi seorang lain di tengah persoalan gemuruh yang meributi dunia selingkungan. Jangan cemas, bahwa ada yang ditempiaskan dari rengkuhan yang manis – jauh sebelum orang sampai kepada kebulatan pikiran. Karena kitapun yakin, segala kumandang tiada jauh meninggalkan pokok suara. Dan jika saya mengajak dirimu bangkit, itu adalah syah adanya. Tuntutan-tuntutan itu harus dirumuskan secara langsung.
Jacinta yang setiawan.
Kulihat sekuntum mawar nan diberkaskan kemarin oleh pemilik sanggar yang terkenal itu kepada seorang pengagum karya lukisnya? Aku sengaja memperhatikannya. Ikatan yang nampaknya bersahaja, dan hanya dihias dengan lipatan-lipatan perca kain merahjambu, membuhulkan karangan itu lebih kokoh dan padu. Aku lihat bahwa sang pengagum menikmati lukisan seraya bibirnya mengulumkan senyum pengakuan, atas kehadiran mahakarya itu. Bukan pujian muluk, bukan sanjungan yang menjamah langit nilakandi. Pada rasa tertarik, pada rasa berperhatian, dan pada rasa gemati yang benar-benar mengelopak dalam jiwa. Pada rengkuhan demikian semuanya terucapkan.
Elok pula kita ungkapkan bahwa yang selama ini disebut kesetiaan bertumpu pada tiga masalah saling berkait. Yang pertama, terhubungnya silaturahmi yang tiada kentara, antara si empunya karya dengan pihak pemerhati, dalam suasana saling terpengaruh. Yang kedua, terhubungnya buah pikiran yang maju, lebih maju katimbang manusia sekeliling, lebih mendahului zamannya, dengan ruanglingkup yang masih mempertanyakan ragam hias tertentu, atau kecenderungan aliran seni. Ketiga, lantaran terdapat beberapa kelompok yang kepingin memiliki martabat budaya yang kokoh dan benar, karena itu maka berusaha untuk menciptakan ‘selera pasar’ yang barangkali bisa langsung menyusun percik Pidato Pengukuhan lagu musim, dan meraihnya lebih dekat. Makin merumuskan waktu dan tempat.
Jacinta yang baik.
Agaknya lebih menonjol juga kebahagiaan kita, jikalau bagian dari kepepalan hidup ini ikut menjadi selubung bumi ini. Dengan kata lain, ada niatan dari diri sendiri agar hidup makin bernas, makin rampak semakin semarak. Karena tanpa menginginkan suatu rangkuman yang lengkap, maka orang masih juga terombang-ambing, bertanya-tanya dalam liputan yang ragam-bagai. Akan tetapi, jika diupayakan menjadi pemilik dari satu bahan kesenian, atau menjadi pilar ketegarannya, mungkin tiada nan senyap.
Bagaimana menggembalakan pikiran, sehingga ia menjadi perkakas kejuangan yang lestari? Bagaimana menjuruskan gagasan (yang semula berupa lintasan-lintasan lepas) hingga menjadi bunderan yang mewadahi ragam-ragam lainnya? Kadangkala diperlukan keceriwisan berlebihan, jika masyarakat ingin benar-benar menggapai berkas-berkas sinar matahari. Karena kalau tanpa melihat kemungkinan untuk menaklukkan hati orang, sedangkan pada kurun ini kita sudah melihat banyaknya jelaga yang mencorengi tembok kota ini – ah, ah, niscaya bakal lahir juga seorang pecinta kemurnian. Demikianlah bergema nyanyian Kesiapan yang digarap.
Jacinta nan setiawan.
Baiklah, kita patoki kehidupan sebagaimana lazimnya kita gunakan untuk menggarisi untai-peristiwa yang memikat. Dengan segala daya, masyarakat bisa digandeng untuk ikut menyemarakkannya. Sementara itu, dikau dapat pula meletakkan diri sebagai orang yang mengakui dayapikatnya sendiri, serta mampu mengembangkan hakcipta menjadi ukuran wigati. Apalagi kalau hal ini dimaksudkan agar dunia mencatat sebuah gerak paling berarti. Apalagi, kalau tak jauh dari kemauan untuk ‘membuka selubung hati’. Maka di balik keyakinan untuk menang, kita sanggup mengabsyahkan cinta ini.
Jacinta nan baik.
Sebuah pelabuhan adalah rentang-jala yang melambangkan batin majemuk. Ia mengkait-langsung pola-pikir yang bertolak dari ruang dan waktu, karena itu secara tulus pula memberangkatkan kemungkinan awal dari sebuah Nasib. “Ah, komentarmu waktu itu.” Kita justru sekarang bukan membicarakan pelabuhan dari nasib-nasib umat manusia. Kita malahan amat banyak berkata tentang titik tolak kebendaan yang meronta-ronta di langit hampa sebelum pada akhirnya terbanting di bumi nyata.
Keberangkatan paling pagi berlangsung sedari dimulainya keculasan pertama, sedangkan yang terakhir di kala kulit-kulit iblis mengelupas tanpa kendali. “Ah, ah. Kuanggap pandanganmu kelewat picik. Atau kelewat terpancang pada ukuran agamawi tertentu, yang belum disentuh oleh rembangnya matahari petang. Akan tetapi, Jacinta, kalaulah kau pernah bilang seperti itu, aku segera percaya betapa aku yang dulu nyinyir itu tergolong orang yang menyepelekan jalan nasib sendiri.
Menganggap sepi pergulatan kemanusiaan yang ada dalam sumber kefitrianku sendiri. Lantas aku ngomong dan ngomong, sampai ujung bibir berbusa dan orang-orang mendengarkan dengan separuh hati”. “Bukan, bukan begitu, sayangku.” Sangkalmu, bukan? “Dikau belum faham akan kidung zaman, atau kurang maklum terhadap arus hidup yang bergemuruh sepanjang liku dan hilirnya. Kau hanya mendewakan katahati, yang seringkali lewat di sela-sela angkaramurka dan tak mampu meredakan olak-alik pergulatan pikir yang tumbuh suatu kurun waktu. Lemah dan nyaris renta.” Kala mengucapkan wawasan ini, pipimu memerah, mata bulatmu bersinar-sinar. Kukira dikau telah menyatakan sesuatu yang berasal dari dasar pribadi kuatmu…
Jacinta yang baik.
Sepanjang pewartaan ilmu pengetahuan (yang kita tangkap sesaat atau yang kita serbu secara menggebu) bisanya tidak pula menjadi satu kesunyataan dumadi. Sepanjang pewartaan cerah yang hadir di belantara masa, maka diperlukan kesaksian insani, sekelompok maupun sendiri. Bahkan, berpamrih atau hanya setangkup perhatian yang terperi. Dalam kesatuan nilai yang menggemulung hati gunung dan lembahnya, memperhatikan kajian demi kajian yang sempat dihayati, para pemikir berjuang keras. Antaranya, mengkristalkan apa yang bernama penemuan masasilam, setelah itu bisa menggolongkan cara-beda suatu persoalan keseharian. Kalau hal ini dapat berlangsung baik, kitapun sanggup menguak kerahasiaan dari pintu-pintu mulia (yang selama ini diyakini terletak di jantung kebudayaan) itu. Setrum hayati dari mata air tempat kecimpung.
Jacinta yang penyabar.
Masih ingatkah Adik pada telaga kecil yang terletak di desa Suryajati itu? Telaga itupun bernama Surya-Jati, alias kesejatian sinar yang menjiwai kehidupan. Ketika masa-masa indah sekolah dulu, kita seringkali mengayuh sepeda dari sekolah ke telaga kecil itu, bolak-balik lebih dari dua jam, karena pelajaran Ilmu Pasti dari guru yang kurang kita sukai hendak dihindari. Kalau sudah lewat satu pal dari pelataran sekolah, tiba di perempatan jalan, kita sampai pada sebuah pos alit, dengan bangunannya bergaya Jawa, sedangkan kotakpos di depannya bercat oranye, bagaikan tugu kukuh menjulang – kemudian kita berbelok ke kiri, sepanjang jalan ditumbuhi kenari.
Perjalanan jauh terus ke selatan kota. “Aku heran, Syam,” katamu waktu itu. “Apakah sebenarnya yang kita cari di telaga sana? Rasanya kita hanya duduk-duduk seraya membasuh airnya nan jernih.” Maka akupun segera memotong: “Bukan itu, kawan. Siapapun tentu kepingin mandi berkecimpung di telaga jernih, dan bukan yang lain.” Kemudian pelan-pelan mulut mungilmu mengoceh: “Siapa dan apa katanya. Di Surya Jati kita justru kepingin mandi cahaya suci!” Ah, ah, ah. Tak salah, ungkapmu berhasil menyadarkan bahwa hal itulah yang harus kita hayati di telaga yang punya nama ‘kesejatian sinar’ tadi.
Namun, tatkala pada hari-hari lanjut kita bersiram di mata air sejuk itu, kukira bukan lantaran menghindari pelajaran Ilmu Pasti nan menyebalkan, melainkan ada dorongan lain. Kini aku tahu, apa namanya. Percikan dan getaran air-gemair yang sampai ke badan kita, memberikan suasana baru. Paling tidak, rasa kangen yang tiap kali bangkit (antara kita, tentu!) dapat terobati. Telaga alit itu barangkali hanya ujud dari pendekatan ulang!
Jacinta yang baik.
Sesudah deretan angka melunturkan sejuta kesan, lalu pulalah perhitungan saat-saat yang berdekap, maka hidup menjadi gaya ulang sejati. Bukankah aku masih muda, teramat remaja masa itu? Sedangkan buah pikir yang berloncatan masih jauh dari sekrup pemanteknya. Dirimu pun masih lebih teragak-agak untuk mengenal tolok-ukur dari pemahaman ilmu. Karena apa yang tengah kita hadapi (dan sergap) senantiasa berlangsung antara reranting aking dan guguran daun berlumut. Kalau terjadi perenungan serta permenungan, maka yang lahir adalah golak-galik pandangan kanak-kanak, bukan yang lain. Hanya saja itu sudah cukup buat zamannya. Karena pada deretan kini, ada tantangan lain yang memaksa diri untuk mengamati ‘hilang’nya suatu pamrih (yang waktu itu tercuri oleh sifat naif), dan kalau akan benar-benar jujur, rasanya datang pamrih lanjut yang lebih mengental bukan? Caranya ialah dengan menggelimangi sejarah umat.
Jacinta tersayang.
Memberikan hari-hari cerah, kiranya lebih menggairahkan katimbang menyudutkan hari-hari yang tak pula ditafsirkan ke balik segala rengkuhan. Mengembalikan hari-hari yang ceria, niscaya lebih utama lagi. Tuhan melimpahkan anugerah Kasih di hati kaum muda, kaum remaja, karena Dia ingin agar serbuk-serbuk darah dalam jasad mereka hangat, bahkan panas. Secara kodrati semuanya dikembalikan kepada nilai paling luhur. Di balik pertemuan-pertemuan yang tanpa bayang-rancang masa depan, aku dan dirimu telah melaksanakan sabda Tuhan sebaik-baiknya. Mengunjungi dusun-dusun ranum seputar telaga di pedalaman, untuk menggali renungan maha dalam. Menggauli panorama terpencil, lantaran tekad dijelmakan suatu pandang dan tilik, kendati usia muda belum mengokohkannya. Kebersamaan yang tampil, mendaki tebing-tebing.
Jacinta, Jacinta.
Kutatap kembali aksara-aksara buku harianku semasa sekolah. Aku menghela nafas. Aku bahagia bersama sejarah nan memupus kudus.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar