Kolecer & Hari Raya Hantu
Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/
Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek. Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh 11 penulis dalam duapuluh cerita pendek. Nama-nama mereka sudah dikenal dengan pengalaman menulis yang cukup menggaram. Kumpulan cerpen ini menjadi menarik ketika dikemas dengan memasukkan warna-warna lokal dalam tradisi yang kadang memunculkan tragedi pada para pelaku budaya tradisi itu sendiri. Kisah-kisah biasa bisa menjadi sangat menarik ketika dikemas dalam dunia kata dengan cara yang apik. Begitu sebagian dari kata pengantar kumpulan cerpen “Kolecer dan Hari Raya Hantu, 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal” yang diberikan oleh Free Hearty, pengamat budaya dan juga dosen Universitas Al-Azhar Jakarta. Kumcer ini diluncurkan di Gelanggang Remaja Bulungan, Jaksel, Jumat, lalu.
Free Hearty tampil sebagai pembicara bersama cerpenis Agus Noor dalam talkshow “Kearifan Lokal dan Trend Sastra”. “Selain talkshow juga diisi dengan pagelaran seni”, kata Saut Poltak Tambunan, salah satu cerpenis yang karyanya termuat di kumcer itu. Komunitas Persada Etnika dari Bogor misalnya akan menampilkan musik etnis yang menawan, seperti halnya Tunrung Rincik (Rampak Gendang dari Makassar) dan parade lagu daerah yang dinyanyikan oleh beberapa penulis seperti Fanny Poyk, Saut Poltak Tambunan, Nurul Aini dan Shinta Miranda. Mantan wartawan yang kini lebih sering main film Sujiwo Tejo ikut meramaikan acara tersebut. Peluncuran kumcer itu tentu tak lengkap tanpa penampilan para penulisnya, meski tak semua atau karyanya. Cesilia Ces, Benny Arnas, Khrisna Pabichara, Iwan Soekry berduet dengan Irmansyah akan membacakan petikan cerpen karya mereka. Dalam siaran pers panitia, diketahui sekilas tentang pengisi “Kolecer dan Hari Raya Hantu” yang sampulnya didominasi warna hijau itu.
Kumcer itu memang mencoba menampilkan beragam tradisi di Indonesia yang dituangkan oleh 11 cerpenis dalam 20 cerpen, dengan berbagai sudut pandang yang menarik.
Nenden Lilis, cerpenis dari Bandung misalnya menyajikan dua cerpen Hari Pasar dan Kolecer. Dua cerpen yang berkisah tentang kritikan dan kerinduan akan masa lalu, serta pintarnya tukang obat menjajakan barang dagangannya dengan berbagai tipuan.
Hanna Fransisca yang kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat dengan Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam. Dua kisah yang kental dengan budaya leluhur Hanna, yang ditulisnya dengan gaya jenaka namun miris, seperti pada beberapa goresan puisinya.
Sedangkan Benny Arnas (Lubuk Linggau, Sumsel) menyajikan Anak Ibu yang Kembali dan Tujuh. Dua cerpen ini menyajikan budaya daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan, dan menjadi kekecewaaan kala tak sesuai dengan kenyataan, serta tukang tenung yang sama terhormatnya dengan pimpinan daerah setempat.
Cesillia Ces (Bali) mengemas kisah antara Bali dengan Balige Toba Samosir. Ketika dua anak manusia menjembataninya dengan cinta, mereka berhadapan dengan tradisi masing-masing yang demikian kukuh mempertahankan eksistensinya.
Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang dan Selasar Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua.
Sastri, Noena dan Oka Rusmini yang memunculkan masing-masing satu buah cerita pendek memberikan tema dengan perempuan sebagai tokoh sentral. Sastri Bakrie (Padang) mempertanyakan penerapan Adat, Tradisi dan Agama dalam budaya Minangkabau dalam cerpennya Baminantu.
Oka Rusmini (Bali) dalam Pastu mengisahkan tentang persahabatan dan bertahan untuk kawin atau tetap melajang. Apakah menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan? Karena ketika lajang, perempuan dipandang dengan sebelah mata. Perempuan pun mengejar perkawinan demi status disebut ibu, istri sebagai perempuan sempurna. Lalu Kasta pun menjadi hal yang menyudutkan perempuan pada kondisi kepatuhan dengan resiko tersisihkan bila tidak patuh. Padahal perkawinan sering pula menyeret ke dalam lubang penghianatan demi penghianatan yang kadang berujung kepada kematian demi kematian.
Noena (BMI Hongkong) seakan mewakili kaumnya Buruh Migran di Hongkong. Ia memberikan kisah lain yang berakhir sukses dari perjuangan seorang perempuan yang berada di negeri orang dan didzalimi oleh oknum penguasa setempat. Cerita penderitaan perempuan yang tertindas dan terdzolimi sering terjadi. Kehendak perempuan untuk menemukan diri sendiri atau menjadi mandiri sering berakhir tragis. Sutan Iwan Soekri Munaf (Pariaman, Sumbar) yang lebih akrab disapa Iwan Soekri, menyuguhkan kepiawaian retoriknya dalam prosa liris Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini. Iwan mengawali kisahnya dengan kemegahan ‘kerajaan keluarga’ Minang masa lalu, melengkapinya dengan kisah kepahlawanan kaum albino menghadapi musuh, menggunakan otak yang lebih kuat dari otot.
Saut Poltak Tambunan (Tapanuli) mengangkat kisah dengan warna lokal yang kental lewat Lali Panggora, Elang Pengabar, Menunggu Matahari dan Omak. Lali Panggora bukan kisah dalam tradisi, tetapi kisah ini dikemas di lingkaran tradisi yang sering terjadi. Elang Pengabar yang terbang berputar menebar keresahan pada diri si ‘Aku’. Sebaliknya, kedatangan Elang Pengabar memunculkan kegembiraan menunggu kematian bagi pembuat peti mati.
Dalam Menunggu Matahari, Saut Poltak bercerita tentang cinta dan kasih yang diekspresikan dengan cara yang salah. Kekerasan sang ayah dan kemanjaan si Adik telah membuat kakak laki-laki lari dan hilang tak jelas rimbanya. Sedangkan dalam Omak bercerita tentang ibu yang dalam cerita ini Saut Poltak menyebutnya ‘omak’. Perempuan beranak tujuh dengan ’sense of crisis’ yang tinggi, tampil menating nasib ketujuh anaknya di tengah kemelut perang pemberontakan PRRI. ***
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Eka Fendri Putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eka Fendri Putra. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Oktober 2010
Jumat, 10 September 2010
Evi Idawati, Kembali Rilis Buku Baru, Mencintaimu
Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/
Cinta merupakan salah satu tema besar yang tidak akan habis dieksplorasi dalam penciptaan karya seni. Terlebih di dalam puisi. Hampir semua penyair menuliskan pemahamannya tentang cinta, baik sebagai wahana ekspresi maupun sebagai satu cara komunikasi penyair terhadap realitas di sekelilingnya.
Berbicara tentang cinta bukan hanya berbicara tentang bahasa ungkap yang dimiliki perorangan atau personal tetapi sudah menjadi bahasa yang universal. Maka kemudian cinta tak lekang oleh jaman.
Meski didengungkan oleh ribuan penyair, para kreator yang mengekspresikan hati dan pikirannya di dalam karya-karyanya, dari jaman dulu sampai sekarang. Tetap saja cinta layak untuk dibicarakan. Layak untuk dikumandangkan. Tidak usang untuk disuarakan. Evi Idawati bukan penyair baru dalam Sastra Indonesia, meskipun kiprahnya merambah hampir disemua ranah seni, teater, sinetron, film dan masih banyak lagi. Tetapi sudah empat buku puisinya diterbitkan.
Pengantin Sepi (2002), Namaku Sunyi (2005), Imaji dari Batas Negeri (2008) dan yang sedang anda baca sekarang ini adalah Mencintaimu (2010). Evi Idawati termasuk penyair yang produktif.
Dia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga cerpen, novel dan juga skenario. Karya-karyanya banyak tersebar di media massa. Sebuah kebanggaan bagi IsacBook untuk menerbitkan kali kedua buku puisi penyair perempuan Indonesia ini setelah buku puisi Imaji dari Batas Negeri yang diterima masyarakat pecinta sastra dengan baik.
Di dalam buku ini, Evi Idawati mengeksplorasi cinta sebagai pencapaian kemanusiaannya yang dituangkan lewat bait kata yang indah, lembut dengan pengendapan makna yang memikat. Mencintai dan mengasihi manusia yang mendasari cintanya kepada Sang Pencipta.
Membaca puisi-puisi Evi Idawati dalam kumpulan ini, anda akan diajak menjelajah dan menemukan makna-makna baru tentang cinta.Sajak-sajak Evi Idawati dalam antologi ini dapat digolongkan sebagai sajak-sajak imajis. Hampir semua bertumpu pada citra-citra lihatan (Viasual image) atau citra-citra kongkrit.
Kadang citra-citra itu dibangun seakan sebuah swa-cakapan (monolog) yang tak memberi tempat kepada lawan bicara untuk menjawab. Sajak-sajak jenis ini mulai menonjol pada tahun 1970an, antara lain dengan munculnya antologi Mata Pisau Sapardi Djoko Damono, dan kemudian diikuti banyak penulis angkatan berikutnya, tetapi sedikit sekali yang berhasil dan konsisten.
* * *
Evi Idawati adalah penyair angkatan 2000an yang berhasil menghidupkan kembali aliran ini walaupun dewasa ini cenderung dilupakan.
Corak pengucapan sajak-sajaknya cenderung sederhana, tetapi didukung oleh semangat puitik yang memadai.
Kata Abdul Hadi WM dalam catatannya untuk buku ini, sementara Baban Banita Ketua Prodi Sastra Unpad mengatakan bahwa Sesungguhnya, puisi-puisi Evi Idawati diwarnai oleh ragam kerinduan pilu yang berisi cabik-cabik luka perang. karena kesejajaran sekaligus kejauhan antara kehendak dekat kepada Tuhan dengan keinginan dekat kepada kekasih manusia.
Jika kehendak dekat pada Tuhan segalanya pasti, yakni kepasrahan dan permintaan yang sekaligus, absolut dan sangat tunggal. Sedangkan pada kekasih manusia, keinginan dekat itu seperti angin yang terus melayang-layang dalam kepastian dan ketidakpastian.
Keinginan tersebut kemudian campuraduk jadi satu: antara cinta yang dipayungi kepasrahan juga rasa ketidakpercayaan pada kekasih manusia.
Anda bisa mendapatkan puisi-puisi cinta Evi Idawati dan menjadikan koleksi yang bisa ditempatkan bersama buku-buku lain yang anda miliki. Semoga Sanggup memberi inspirasi dan pemahaman bagi siapapun yang membacanya sepanjang waktu. ***
http://www.suarakarya-online.com/
Cinta merupakan salah satu tema besar yang tidak akan habis dieksplorasi dalam penciptaan karya seni. Terlebih di dalam puisi. Hampir semua penyair menuliskan pemahamannya tentang cinta, baik sebagai wahana ekspresi maupun sebagai satu cara komunikasi penyair terhadap realitas di sekelilingnya.
Berbicara tentang cinta bukan hanya berbicara tentang bahasa ungkap yang dimiliki perorangan atau personal tetapi sudah menjadi bahasa yang universal. Maka kemudian cinta tak lekang oleh jaman.
Meski didengungkan oleh ribuan penyair, para kreator yang mengekspresikan hati dan pikirannya di dalam karya-karyanya, dari jaman dulu sampai sekarang. Tetap saja cinta layak untuk dibicarakan. Layak untuk dikumandangkan. Tidak usang untuk disuarakan. Evi Idawati bukan penyair baru dalam Sastra Indonesia, meskipun kiprahnya merambah hampir disemua ranah seni, teater, sinetron, film dan masih banyak lagi. Tetapi sudah empat buku puisinya diterbitkan.
Pengantin Sepi (2002), Namaku Sunyi (2005), Imaji dari Batas Negeri (2008) dan yang sedang anda baca sekarang ini adalah Mencintaimu (2010). Evi Idawati termasuk penyair yang produktif.
Dia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga cerpen, novel dan juga skenario. Karya-karyanya banyak tersebar di media massa. Sebuah kebanggaan bagi IsacBook untuk menerbitkan kali kedua buku puisi penyair perempuan Indonesia ini setelah buku puisi Imaji dari Batas Negeri yang diterima masyarakat pecinta sastra dengan baik.
Di dalam buku ini, Evi Idawati mengeksplorasi cinta sebagai pencapaian kemanusiaannya yang dituangkan lewat bait kata yang indah, lembut dengan pengendapan makna yang memikat. Mencintai dan mengasihi manusia yang mendasari cintanya kepada Sang Pencipta.
Membaca puisi-puisi Evi Idawati dalam kumpulan ini, anda akan diajak menjelajah dan menemukan makna-makna baru tentang cinta.Sajak-sajak Evi Idawati dalam antologi ini dapat digolongkan sebagai sajak-sajak imajis. Hampir semua bertumpu pada citra-citra lihatan (Viasual image) atau citra-citra kongkrit.
Kadang citra-citra itu dibangun seakan sebuah swa-cakapan (monolog) yang tak memberi tempat kepada lawan bicara untuk menjawab. Sajak-sajak jenis ini mulai menonjol pada tahun 1970an, antara lain dengan munculnya antologi Mata Pisau Sapardi Djoko Damono, dan kemudian diikuti banyak penulis angkatan berikutnya, tetapi sedikit sekali yang berhasil dan konsisten.
* * *
Evi Idawati adalah penyair angkatan 2000an yang berhasil menghidupkan kembali aliran ini walaupun dewasa ini cenderung dilupakan.
Corak pengucapan sajak-sajaknya cenderung sederhana, tetapi didukung oleh semangat puitik yang memadai.
Kata Abdul Hadi WM dalam catatannya untuk buku ini, sementara Baban Banita Ketua Prodi Sastra Unpad mengatakan bahwa Sesungguhnya, puisi-puisi Evi Idawati diwarnai oleh ragam kerinduan pilu yang berisi cabik-cabik luka perang. karena kesejajaran sekaligus kejauhan antara kehendak dekat kepada Tuhan dengan keinginan dekat kepada kekasih manusia.
Jika kehendak dekat pada Tuhan segalanya pasti, yakni kepasrahan dan permintaan yang sekaligus, absolut dan sangat tunggal. Sedangkan pada kekasih manusia, keinginan dekat itu seperti angin yang terus melayang-layang dalam kepastian dan ketidakpastian.
Keinginan tersebut kemudian campuraduk jadi satu: antara cinta yang dipayungi kepasrahan juga rasa ketidakpercayaan pada kekasih manusia.
Anda bisa mendapatkan puisi-puisi cinta Evi Idawati dan menjadikan koleksi yang bisa ditempatkan bersama buku-buku lain yang anda miliki. Semoga Sanggup memberi inspirasi dan pemahaman bagi siapapun yang membacanya sepanjang waktu. ***
Langganan:
Postingan (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar