Minggu, 11 Januari 2009

Pluralitas

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa, bangsa dan bahasa. Hanya dengan cara seperti itu, impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa, Bali, Nusa Tenggara Tinur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun.

Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945, yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila, muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Kita mengakui bahwa kendati satu, di Indonesia ada banyak perbedaan. Baik suku, adat-istiadat, agama dan sebagainya. Tetapi dengan semangat gotong-royong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan.

Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan, kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Dan ini bukan hal yang mudah. Beberapa peristiwa berdarah muncul, (DI TII, Kahar Muzakar, PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri.

Setelah 52 tahun merdeka, pada 1997, terjadi reformasi. Indonesia yang satu mulai diragukan. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. Beberapa wilayah (Aceh, Papua, Riau) mau merdeka. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Insiden etnis terjadi di Pontianak.

Di Jakarta sendiri muncul FPI, Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali, Papua, Jawa Barat. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri, karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Banyak lagi masalah lain, misalnya masalah pembubaran Ahmadyah.

Perbedaan semakin jelas. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya, bukan esensi janji bersatu. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Ini masalah yang serius. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru.

Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu?

Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat.

Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Memang betul, selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Tetapi kalau diusut, perbedaan tersebut masih bersifat horisontal.

Baik bahasa mau pun adat-istiadat, banyak bukti, kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan, kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Gotong-royong itu sendiri misalnya, di mana-mana dikenal. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia.

Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. Kalau ada, itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal, tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi, agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial).

Sekarang kita mesti berhati-hati. Baik idiologi, agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi, agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya.

Para pemimpin partai, pemuka agama dan para konglomerat. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti, benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya.

Kemajemukan yang ada di Indonesia, adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. Sesuatu yang datang dari luar, meski pun berbeda, diberikan hak hadir.

Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”, bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. Ada juga yang disebut “nempahan raga”, bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda).

Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempat-waktu dan suasana. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Kendati begitu, pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955, sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Banjar terpecah. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Semuanya karena politik.

Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan.

Pluralisme di Indonesia bermasalah, karena pemimpin dan pemukanya bermasalah.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama.

Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama, sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak, tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar?

Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok, golongan dan pribadinya, dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat, pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak.

Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi, reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan, menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur, akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar