Minggu, 11 Januari 2009

Seniman Abai Catat Konsep Karya

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

SEMOGA ini bukan kegelisahan pribadi, sehingga luput dari sindiran cerdas Albert Einstein: “Seluruh masalah di bumi ini bisa dipecahkan ilmu pengetahuan, kecuali masalah pribadi.” Bermula dari sepinya gagasan seni, sejak dari sejarah, kritik, dan karya seni ditambah kebimbangan proyeksi akademisi di perguruan tinggi, memicu pentingnya seniman mencatat sendiri “konsep gagasan estetik maupun artistik” karyanya.

Tanpa kerendahan hati atas catatan seputar pemikiran sang seniman, lantas, apa yang kemudian bisa ditawar dari perjalanan sejarah, kritik dan karya seni?

Sejarah seni pasti ada, mungkin tidak terbaca. Kritik seni barangkali tidak bekerja. Sementara karya boleh lahir, berbiak, lalu mati tanpa jejak. Padahal ketiga hal itu adalah subtansi seni yang tak bisa disapih, apalagi dianiaya. Jawa Timur, mustinya tumbuh subur dalam ketiga ranah itu karena kekayaan sub-kultur yang plural, beragam, dan menjanjikan bagi perkembangan jagad seni sejak sastra, rupa, musik, teater dan lain sebagainya. Boleh dikata, puncak-puncak kebudayaan diantaranya pernah ada di wilayah yang secara administratif kebetulan disebut Jawa Timur ini.

Dari sinilah, catatan konsep kesenian itu penting untuk kemudian menjadi “harta karun” baru pendokumentasian hasil pemikiran kebudayaan. Semuanya untuk dibaca. Segalanya demi bertaruh, bertarung bagi perkembangan sumbangsih budaya dalam penulisan sejarah, kritik, dan karya seni.

Sekadar contoh di lapangan sastra modern (Jawa Timur) ada sederet nama yang tak semua punya catatan bagus perihal sejarah, kritik, dan karyanya. Sejak Muhammad Ali, Budi Darma, Akhudiat, D Zawawi Imron, Suparto Broto, Hardjono WS, M Fudloli Zaini, Sabrot D Malioboro. Lantas L Machali, Herry Lamongan, Aming Aminudin, M Anis, Rusdi Zakki, Wawan Setiawan, Sirikit Syah, Wahyu Prasetyo, Beni Setia, Jil Kalaran. Pada generasi yang mutakhir, Kusprihanto Namma, dan Bonari Nabobenar, M Shoim Anwar, Tjahyono Widarmanto, Tjahyono Widianto, Syaiful Hajar, Leres Budi Santoso, Zoya Herawati, Ratna Indraswari Ibrahim, Syaf Anton, Hidayat Raharja, HU Mardi Luhung, Arif B Prasetiyo, Mashurii, Riadi Ngasiran, Anas Yusuf, S Yoga, dan tentu jumlahnya bisa ditambah lebih banyak lagi.

Melihat jumlahnya yang tak sedikit, dapat dipahami bila sebagian seniman tak sepaham dengan pentingnya mencatat “konsep estetis dan artistik karyanya.” Biasanya pendapat itu atas dasar pikiran bahwa tugas itu mustinya diemban kritikus sastra (seni). Akan tetapi kemiskinan kritik sastra kita, dan pentingnya membuat tonggak sejarah seni di “tempat sendiri” semoga melunturkan asumsi sebagian yang kurang setuju. Kerendahan hati dalam menyusun konsep seni, dan mencatat sejarah sendiri menjadi yang utama untuk entah di suatu waktu, entah hari ini atau esok di masa yang mendatang pasti bakal dibaca, didokumentasi, diteliti dan menjadi pondasi karya berikutnya.

Barangkali bisa dimulai dengan pertanyaan kecil pada diri sendiri. Semisal, mengapa menulis sebagian besar karya sastra justru pada saat kehilangan pekerjaan? Tentu saja sulit dicari persis jawabannya. Barangkali hanya bisa merasakan dampaknya. Inilah kiranya persoalan pribadi pengarang, yang di luar dugaan, telah banyak menlahirkan karya-karya yang kemudian bukan lagi menjadi persoalan pribadi saja. Pendeknya telah berkembang jauh menjadi problem keilmuan dalam hal ini sastra.

Ini contoh kecil untuk menjelaskan bahwa menulis sastra adalah suatu upaya menjaga diri, memahami diri agar tak kehilangan hak milik sebagai manusia. Semacam cinta yang sesungguhnya, cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan, apalagi kehilangan. Cinta yang tidak takut pada jarak, waktu dan tentu saja ruang. Cinta yang bisa mendengar dan merasakan jerit tangis, luka, bahagia, sampai dasar relung yang terdalam manusia. Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tak sanggup menampung kandungan isinya. Tapi juga cinta yang tak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata.

Dalam wilayah gagasan, saat itulah tak sulit untuk merondai pikiran dengan menempatkan dirinya pada tirai puisi—imajinasi, persepsi, intuisi atau interpretasi. Tidak terlalu susah membiarkan otaknya memutar balik pandangan tentang pikiran dalam semesta. Semesta telah dirangkumnya dalam satu gerak pikiran besar. Tidak bersusah payah berkat kata dalam puisi, yang menghadirkan perasaan, intuisi, imajinasi, jiwa, kesadaran bahkan ruh—hal yang sangat manusiawi sekaligus mempribadi. Sebaliknya ia telah menemukan ruh, kesadaran, jiwa, imajinasi intuisi dan perasaan setiap kata sebagaimana ia temukan dirinya dalam kata.

Ia membabtiskan kata itu seperti manusia juga. Seperti partikel, seperti gelombang abstrak, sebagaimana dalam teori relativitasnya Einstein yang kesohor itu. Sebab itu meskipun ia tahu begitu banyak, jutaan kata-kata, miliaran buku-buku, seperti juga manusia ia tahu bagaimana harus hidup, menyela dan menyusun pikiran besar. Ia pun tahu, perlu kerendahatian untuk berjanji. Juga janji sebagai pengarang memperlakukan kata seperti halnya terhadap manusia. Begitu sebaliknya akan menghormati manusia seperti halnya angkat topi terhadap kata.

Betapa ia tak akan tinggal diam saat menjumpai kenyataan seperti sekarang: Kata sudah demikian kejam menjadi pembunuh berdarah dingin yang menghabisi manusia, seluruh semesta, membantai sesama kata dan bahkan membunuh dirinya. Akibatnya, kematian terjadi dimana-mana. Kecuali bagi siapa saja yang bersih dan jujur. Pendek kata sebagai pribadi, sebagai pengarang, sebagai ilmuwan dan sebagai manusia, setiap mereka berjanji akan menemukan dan melahirkan kebersihan dan kejujuran kata dalam kepengarangannya kelak. Kata sendiri belum pernah diperlakukan semulia roh dasarnya.

Jika pun terjadi, apologi di luar itu semua justru melepaskannya dari ruh sastra sebagaimana galibnya yang musti percaya diri, “kreatif,” berani, bebas, sadar diri tengah menarikan tarian semesta di lautan kata. Entah itu ia dalam keadaanya yang terkendali atau sedang dikendalikan oleh suatu kekuatan yang di luar dirinya, tapi ia yakini sebagai imamnya, penciptanya. Kadang-kadang ruh sastra itu tak peduli benar dirinya bermakna atau tidak. Tapi pertanyaan itu tak pernah diajukan padanya yang telah tahu tujuan hidupnya. Kedengarannya hanya serentetan bunyi. Kelihatannya cuma bayang-bayang. Kesannya seperti tanpa pesan. Sebaliknya bukan mustahil di belakang itu malah tersimpan pikiran besar, arti yang gemilang dalam perjalanan hidupnya. Spirit hidup yang luar biasa di tengah lautan kata meskipun dalam kenyataannya di negeri ini dalam penggunaannya, kata-kata demikian keruhnya, tidak orisinil, kerdil dan kosong. Kendati entah di kedalaman lautan kata atau di pinggiran pesisir pantai perawan, saat ini terus diuji oleh sastrawan-sastrawan dengan jiwa besar.

Kebesaran jiwa sastrawan-sastrawan, pengarang-pengarang, seakan mutlak diperlukan dan terus diupayakan mendekati pemaknaannya, yang kurang lebih serupa takdirnya, nasibnya, spirit hidupnya, kegelisahannya: serupa dengan kata. Sebagai pengarang tentu ia harus sadar berada di sepanjang ruang dan waktu. Sebagai pengarang tentu tidak akan mencari jawab apalagi untuk menemukannya. Karena naluri kepengarangan mengungkapkan hal itu akan sia-sia. Pengarang hanyalah diberi hak untuk mengajukan pertanyaan, bujuk rayu, kebijakan filosofis, dalam bentuk seindah mungkin, sedahsyat mungkin agar seolah kelak mendapat jawaban pasti atas segala tanya dan mengakhiri kegelisahannya.

Mungkin jawabannya seperti ini: Mengarang lebih tepatnya adalah usaha menipu diri sendiri. Sampai di sini pengarang penting untuk percaya berkat pengorbanan—yang meski tak istimewa tapi perlu dengan jiwa besar seperti itu,—sanggup mempertahan diri, menahan diri dengan puasa agar senantiasa melakoni sebagai manusia yang kreatif semestinya atas nama Sang Pencipta. Pengarang perlu menipu diri untuk meraih kegelisahan hidup kepengarangan selanjutnya, kebingungan berikutnya. Kedengarannya memang naïf, dan gila. Pengarang harus gagah hidup miskin, di tengah kemiskinan di lautan kata, samudera bahasa di negeri ini, yang fatalnya juga masih hidup susah karena serba terjerat kemiskinan, juga terlilit utang (apalagi kata).

Dengan demikian segala kemungkinan bisa terjadi sekalipun ini paling tidak mungkin. Menjadi makhluk yang karena keterbatasannya sanggup menjangkau ketakterbatasannya. Menjadi sesuatu yang biasa demi menuju yang luar biasa. Berada di suatu peristiwa kecil tapi menjadi dahsyatnya. Sesuatu yang seringkali sia-sia, tak tersentuh tetapi sesungguhnya betapa luas maknanya. Atau sesuatu peristiwa besar yang semula percuma, kemudian disederhanakan agar selanjutnya enak dibaca dan perlu. Tak mengapa, kawan.[]

*) Penulis adalah pengarang, Pimpinan Komunitas KELUARGA (Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga).

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar