Minggu, 11 Januari 2009

Membangun Surga Berteater

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Teater Garasi menyiapkan setiap eksponen pendukungnya, termasuk aktor, adalah kreator.

Dua orang perempuan sibuk bersolek di sudut ruang terbuka. Lalu lalang orang yang lewat seolah tak mengganggu aktivitas mereka untuk menyapu pupur ke muka. Di muka yang berbeda beberapa anak tampak sibuk melarikan diri dari kejaran Satuan Polisi Pamong Praja.

Kemudian dari podium muncul seorang pengamen yang merapal tentang Catatan Pinggir milik Goenawan Mohamad. Cerita tragis mengenai pedagang gorengan yang bunuh diri itu lalu disahuti oleh seorang perempuan dalam kotak dengan untaian sajak Chairil Anwar.

Situasi jalanan yang dekat, namun kerap terlupakan diboyong dengan sempurna ke atas pentas oleh Teater Garasi. Repetoar berjudul Je.ja.lan itu pun menjelma menjadi karya yang menuai banyak puja-puji. "Kami menggunakan kesenian untuk menawarkan alternatif pandangan atas kenyataan," kata Direktur Artistik Teater Garasi Yudi Ahmad Tajudin kepada Jurnal Nasional, beberapa waktu lalu.

Teater Garasi merupakan sebuah komunitas kreatif dan laboratorium penciptaan teater. Didirikan oleh tiga orang sekawan, Yudi Ahmad Tajudin, Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto, komunitas ini berusaha mencari dan menciptakan bentuk-bentuk pengucapan artistik yang segar dan mampu membangun dialektika kritis terhadap lingkungannya.

Sejak lima belas tahun silam Teater Garasi menjadi wadah untuk menampung gagasan kritis dalam wujud kerja kreatif dengan pendekatan lintas disiplin. "Buat kami, teater merupakan alat baca lingkungan selain sebagai ekspresi kesenian," ujar Yudi.

Konsep labolatorium penciptaan teater menjadi salah satu ciri yang membedakan Teater Garasi dengan kelompok lainnya. Ada semangat untuk selalu mendasarkan karya pada riset, baik secara bentuk maupun tema.

Mungkin ada beberapa kelompok teater lain yang memakai pola kerja serupa, namun memilih untuk tidak menamainya secara eksplisit. Tetapi Teater Garasi memilih untuk menamainya secara terbuka sebagai salah satu jalan untuk kritis dengan metoda yang digunakan.

Jelajah estetika yang mereka lakukan bukan hanya sekadar berkutat pada tumpukan buku atau berselancar di dunia maya. Anggota Teater Garasi juga turun langsung untuk mengenal lebih dekat materi-materi yang akan mereka pentaskan.

Sebagai salah satu contoh ketika menggarap Waktu Batu, Yudi mengajak rekan-rekannya untuk melakukan pendekatan spesifik terhadap candi. Dengan terjun langsung, sensibilitas pun terasa lebih terbuka. Bukan hanya mata, semua indra diajak untuk mengidentifikasi.

Hasilnya tak sia-sia, Anggota Teater Garasi, Ugoran Prasad yang sebelumnya menghadapi kesulitan membayangkan medan kuburan ala fantasi Mahabrata Jawa untuk kebutuhan skenario-nya, perlahan merasa paham mengenai bentuk ruang Setra Gandamayit.

Bukan hanya itu, patung garuda mencengkeram gajah di Candi Sukuh juga kemudian mengilhami bentuk topeng yang dipakai awak teater Garasi saat pementasan. Imaji kura-kura yang kerap muncul di Candi Sukuh pun tak kuasa mereka hapus sehingga menjadi bagian improvisasi di atas panggung.

Distribusi Kekuasaan

Ciri lain dari Teater Garasi yang jarang ditemui pada kelompok lain adalah adanya distribusi kekuasaan. Kekuataan kelompok tidak hanya bersandar pada satu tokoh, melainkan menyebar merata. "Sejak lama kami menolak konsep sentralisme, di mana proses kreatif hanya bertumpu pada satu orang," kata Anggota Teater Garasi, Gunawan Maryanto.

Salah satu program guna memperkokoh visi tersebut adalah Seri Solo Sembilan Aktor. Pada program tersebut masing-masing aktor diberi keleluasaan untuk merancang karya yang ingin mereka tampilkan mulai dari pengembangan gagasan, perwujudan idiom-idiom kreatif, hingga strategi presentasi karya di depan publik.

Lakon Shakuntalla yang disutradarai oleh Naomi Srikandi merupakan salah satu dari Seri Solo Sembilan Aktor yang berhasil menuai sukses. Repertoar yang diangkat dari novel karya Ayu Utami ini seolah menjadi langkah awal yang nyaris tanpa aral bagi Naomi.

Naomi mampu menghidupkan teks dan karakter kompleks yang terdapat dalam naskah. Sehingga pertunjukan yang berlangsung selama satu jam ini menjadi sarat akan ungkapan padat yang menyiratkan carut marut pengalaman hidup Shakuntala.

Lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Ini mencairkan pertunjukannya dengan menggunakan idiom kebudayaan massa. Salah satunya dengan kostum tukang sulap yang digunakan saat menceritakan memori dan fantasi Shakuntala tentang tubuh, seks, dan kekerasan ayahnya.

Lebih dari itu, kesuksesan Naomi juga tak lepas dari dukungan seting yang digarap Titarubi. Pilihan bentuk dan corak minimalis, ditambah tata cahaya arahan Johan Didik, seolah menegaskan kehadiran dualisme seksualitas: feminin dan maskulin.

Gunawan mengatakan, tujuan utama program Seri Solo Sembilan Aktor ini adalah guna menumbuhkan aktor sekaligus kreator. "Sebagai penegasan bahwa aktor adalah kreator, bukan sekadar boneka sutradara," kata lelaki yang memperoleh Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini.

Selanjutnya ia memaparkan bahwa sebagai seniman seorang aktor dapat menawarkan gagasannya. Setelah dipaparkan dan disepakati bersama gagasan tersebut dapat segera diolah, baik melalui riset literer atau cara lainnya.

Senada dengan Gunawan, Yudi mengatakan, program Seri Solo Sembilan Aktor menjadi langkah supaya awak Teater Garasi tidak terjebak dalam gerombolan. "Itu merupakan strategi kelembagaan. Bahaya laten yang mengancam kelompok teater adalah hilangnya individu dalam komunitas," ujar Yudi.

Program tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi kelangsungan hidup Teater Garasi. Di mana para anggotanya diberikan ruang kreatif sendiri sehingga tumbuh menjadi seniman yang independen.

Pengamat seni Alia Swastika memandang positif pola "distribusi kekuasaan" yang dilakukan dalam tubuh Teater Garasi. Penyegaran penyutradaraan menurutnya, meski belum semuanya berhasil namun ada beberapa karya yang perlu digarisbawahi.

Proses penyegaran tersebut melahirkan inspirasi yang beragam, sehingga Teater Garasi produktif menghasilkan karya yang kaya warna. "Teater Garasi merupakan salah satu kelompok yang memberikan inspirasi bagi dunia teater tanah air," kata Alia.

Sementara itu, Yudi melihat "distribusi kekuasaan" itu sebagai salah satu strategi untuk menghindari kebangkrutan. Banyak kelompok teater terpaksa gulung tikar ketika menginjak usia belasan tahun.

Menurut Yudi, permasalahan yang dihadapi biasanya berkisar pada dana dan sistem manajemen tradisional. "Karena itu kami menolak rumusan-rumusan tradisional di kelompok teater yang biasanya hanya berpusat pada satu tokoh," ujar lelaki yang pernah meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja ini.

Berkaca dari pengalaman-pengalaman kelompok lain, sejak awal Teater Garasi mencoba menerapkan sistem manajemen distribusi kewenangan dan tanggungjawab. Anggota kelompok dirangkul untuk saling memahami visi misi. "Sehingga kalau mereka membuat karya masih dalam kerangka visi Teater Garasi," kata Yudi.

Lebih lanjut, Teater Garasi berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan baik dari dalam maupun dari luar. "Kami berusaha mengidentifikasi diri sehubungan dengan lingkungan, publik, dan penonton. Kami ingin tumbuh bersama," kata pria yang juga menyutradarai pertunjukan Waktu Batu.

Mengembangkan Jejaring

"Kalau hanya mencari kekayaan dan popularitas mending buat sinetron saja." Jawaban itu terlontar ketika ditanya mengapa memilih teater sebagai muara berkesenian. Sementara untuk negara berkembang seperti Indonesia, berkecimpung di dunia teater layaknya menceburkan diri dalam sumur tanpa dasar.

Dunia teater memang tidak menjanjikan kemegahan materi ataupun embel-embel popularitas. Banyak aktor dan sutradara teater yang hidup dalam keterbatasan materi, walau nama mereka sudah banyak dikenal.

38 tahun lalu dramawan WS Rendra pernah melontarkan ungkapan "Kegagahan Dalam Kemiskinan: Teater Modern di Indonesia". Meski telah terentang waktu puluhan tahun, rasanya ungkapan yang dimuat dalam buku Mempertimbangkan Tradisi itu rasanya masih sesuai dengan keadaan para penggelut dunia teater di Tanah Air.

D antara anggota Teater Populer pimpinan Teguh Karya (alm) terdapat semacam kredo yang terus-menerus didengungkan untuk mempertahankan semangat berteater. "Di rumah ada surga, tapi kami memilih kelam di jalan."

Yudi memandang keterbatasan tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Ia mengatakan, para pekerja teater harus kembali pada niat awal berkecimpung ke dunia tersebut. "Kalau untuk mencari kekayaan dan popularitas teater merupakan pilihan yang salah karena tidak ada infrastruktur untuk itu," kata alumni Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM ini.

Untuk menyiasati hal itu, Teater Garasi memasang strategi dengan meluaskan medan kreatif ke lingkungan yang lebih luas. Perwujudannya dengan kemitraan dengan lembaga-lembaga kebudayaan dan sosial lain, baik dalam wilayah lokal maupun global.

Terentang dari institusi kebudayaan/sosial lokal sampai pada lembaga kebudayaan semacam Centre Culturel Francaise (CCF) dan The Japan Foundation (untuk produksi pertunjukan teater), Asia Link (untuk program Artist in Residency), OSI-Open Society Institute (dalam bentuk institutional building), Hivos Foundation (untuk hibah yang sama sejak tahun 2003-2007), Kedutaan Belanda (2006-2009) serta lembaga-lembaga festival teater/seni pertunjukan baik di dalam maupun luar negeri.

"Kami menjalin kerja sama dengan lembaga donor baik dari dalam maupun luar negeri yang peduli pada kesenian sebagai aktivitas kultural," ujar Yudi.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar