Rabu, 14 Januari 2009

Komunitas Budaya

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Ketika seseorang mulai kaya, nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Rumah idandani, iperbesar, diperlebar, ditingkatkan. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Kendaraan juga sama, jumlahnya bertambah, jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir.

Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya, juga muncul berbagai ciri. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Kehadirannya juga semakin jarang. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Sosoknya lebih sering di tempat lain, hotel, restoran, mall, tempat peristirahatan dan kota-kota wisata.

Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan.

“Pendapatan, “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. Fasilitas, kesejahteraan, perlindungan, kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta.!”

Ia menikah dengan seorang super model.

“Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang, apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Bayangkan ada 10 rumah, tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. Istri cantik dan terkenal, tapi satu minggu belum tentu bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?”

Edy tertawa.

“Itu matematika kuno. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama.”

“Lalu apa?”

“Pencapaian. Prestasi.”

“Ukurannya?”

“Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Aku ingin di atas. Aku baru merasasenang, puas kalau sudah paling atas. Itu berarti kita berarti. Apa itu kebahagiaan atau bukan, tai kucing. Yang konkrit saja. Nomor satu dan paling depan!”

Pada suatu kali, Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol, Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya, untuk menghajar para pemuda itu.

Mula-mula ia pura-pura bertanya.

“Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?”

Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab.

“Karena Bapak orang yang sukses, bahkan sangat sukses. Kalau Bapak bisa membantu kami, kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Selama ini, kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru, yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka, sebab keuntungannya tidak kelihatan, namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Apa sebenarnya nomor satu itu. Apa sebenarnya menang itu. Dan pada akhirnya, apa sebenarnya bahagia itu.”

Edy tertawa.

‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?”

Kelima pemuda itu tersenyum.

“Wah, jangan memakai kata-kata itu, Pak Edy, sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Ini bukan revolusi, Pak. Ini hanya kebangkitan, yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Bukan dengan gedung, mobil tetapi dengan buah-budi, dengan budaya. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya, karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol.”

Edy ketawa lagi

“Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu, jangan dijawab dulu, saya belum selesai. Orang bilang mobil satu itu cukup. Saya bilang keliru. Mobil sepuluh juga belum cukup. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan, karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung, dari dusun, dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris, London, New Yotk, Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif, meskipun sudah bangun jangan layang, mono rel, dan punya bus way. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Terus-terang, saya tidak tertarik. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja, berhenti berambisi. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Maaf, selamat siang.”

Pertemuan berakhir.

Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu, gagal. Tetapi mereka tidak menyerah.

Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Mereka lalu turun ke rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Menyumbangkan apa saja, untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi.

‘Terimakasih, penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin, teguh dan percaya, komunitas budaya ini harus dilahirkan,”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar