Rilda A. Oe. Taneko*
http://www.lampungpost.com/
KABUT pagi masih menyelimuti Maastricht ketika ia pertama kali datang. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Tubuh kecil kurus dengan kulit yang kecokelatan dan wajahnya itu--ah wajah itu, mirip sekali dengan wajah perempuan Indonesia di lukisan milik Papa. Selagi kecil dulu, ada juga sesekali kulihat Papa termenung-menung di depan lukisan itu. Aku masih ingat benar, mata Papa sering kali tampak murung dan menerawang jauh.
Pagi itu, ia duduk di hadapanku, tepat memunggungi jendela kaca di ruang tamu. Di luar jendela, kabut perlahan-lahan menipis dan akhirnya lesap di udara. Embun mengering seiring dengan cercah matahari yang seperti hari-hari lain di awal musim gugur ini berusaha menyibak awan kelabu.
Tiba-tiba ia berdehem, merubah letak duduknya. Dengan sangat jelas ia mengabarkan kepadaku bahwa ia tidak suka disuruh duduk diam dan menunggu. Hmm, ternyata aku tidak sepenting yang kukira.
"Selamat datang di rumah saya, Nona. Bagaimana perjalanannya? Nyamankah di pesawat?"
Dia tersenyum. Sebentar dan sedikit saja. Lalu tanpa menjawab pertanyaanku, ia kembali merubah letak duduknya. Tubuhnya kembali dengan jelas mengisyaratkan: Ia tidak suka basa-basi.
"Nona, apakah nona tahu tujuan nona kemari?"
"Untuk jadi istri Meneer."
Singkat dan jelas. Jawabannya membuatku terdiam sesaat. Ah, aku hanya butuh seorang teman.
"Nona tidak usah panggil saya Meneer. Nama saya Jan. Cukup panggil saya dengan itu."
"Kalau begitu panggil saya Eli. Nama saya bukan Nona."
Aku tersenyum dan meminta maaf. Ia tidak seperti yang semula kubayangkan. Perempuan yang datang kepadaku pagi ini ternyata tegas dan lugas.
"Kamu tidak seperti yang saya bayangkan. Saya pikir akan datang kepada saya perempuan yang pemalu dan lemah-lembut."
"Kamu juga tidak seperti yang saya bayangkan. Kamu tidak setua dan sejelek yang saya kira," jawabnya cepat. Kali ini dengan senyum. Senyuman yang selalu saja kukenang. Senyuman yang mampu meluluhkan salju di pucuk-pucuk cemara. Senyuman itu pula yang membuatku terbahak dan mendekatkan hatiku padanya. Senyuman jahil seorang anak kecil.
***
Sedari masih kanak-kanak, Indonesia, bagiku, adalah sebuah misteri. Ia gelap bagai masa lalu, ia dekat bagai seorang saudara, ia juga, menjelma pertanyaan akan masa depan. Pertanyaan yang sampai saatnya tiba nanti baru akan terjawab. Saat ketika Sang Kala menyibakkan goresan takdir. Tak ada seorang pun boleh tahu kapan sesuatu akan berlaku. Hanya Sang Kala yang dapat menjawab, tak peduli sekuat apapun manusia berusaha. Hanya Sang Kala yang menggenggam rahasia waktu.
Indonesia, kadangkala, bagiku, adalah obsesi. Dan ialah yang memenuhi seluruh benakku ketika kecil dulu.
Dulu, ketika masih kanak-kanak, Indonesialah yang mengiringi tidur malamku. Ia menjelma menjadi sebuah dongeng. Dongeng tentang negeri yang hangat dan indah. Tentang manusia-manusianya yang ramah. Tentang kenangan Mama akan masa mudanya. Masa yang dipenuhi semangat dan kesombongan akan kemudaanya. Masa yang penuh disinari matahari, di sebuah pulau nan kaya akan rempah-rempah.
Berbeda dengan Mama, bagi Papa, Indonesia menawarkan cerita sedih tentang cinta. Cinta yang tak pernah berhujung. Baginya, cukup dengan mengingat Indonesia, hatinya akan kembali terpilin-pilin.
"Indonesia hanya tinggal kenangan. Ia ada tapi tak lagi seperti dulu. Tak ada yang sama. Tak akan ada lagi."
Itulah jawaban Papa setiap kali kutanya tentang keinginannya untuk pergi ke Indonesia. Setiap pertanyaan yang sama kuucap, ia selalu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali dan jawaban yang ia berikan lebih merupai gumam dan rancau yang mengambang. Sepertinya jawaban itu bukan buatku, tapi lebih untuk dirinya sendiri. Wajahnya murung dan matanya menerawang jauh. Mata yang selalu hadir ketika Indonesia merajai ingatannya.
Lalu, biasanya ia akan kembali menegaskan sambil menganggung-angguk, "Indonesia hanya tinggal kenangan."
Tapi menurutku, Indonesia lebih dari sekadar kenangan bagi Papa. Ia terus hadir dalam tubuh tuanya. Mangiringi putaran kursi roda dan ratusan keluh kesahnya.
Mama, bukannya tidak paham akan cerita cinta Papa. Tapi dengan cara yang aneh, ia dapat mengerti dan menerima. Mungkin nasib dan kerinduan akan hal yang sama, yang membawa mereka saling memahami.
Walaupun sebagian orang menyebut mereka penjajah, sang agresor; mereka, bagiku, adalah korban. Papa dan Mama lahir dan besar di sebuah negeri jajahan. Cinta mereka pada negeri itu tak bisa terbendung. Tapi mereka dipaksa harus pergi. Ketika suatu saat, semua orang yang ramah menjadi marah dan tanah yang mereka pijak telah bersimbah darah.
Sejak saat itu, mereka melalui hari-hari di negeri sendiri dengan harapan akan kembali tinggal di Indonesia. Akan kembali, suatu saat nanti. Mungkin bila anak-anak sudah besar nanti. Atau bila pensiun nanti. Ah, sepertinya ketika tua nanti.
Dan ketika ketuaan itu hadir, mereka telah menjadi takut. Takut untuk menemui Indonesia. Takut jika ia telah jauh berubah. Lalu sampai akhirnya, mereka kubur semua mimpi-mimpi ketika mereka menutup mata.
Bukan tidak sedih hatiku, menyadari impian kedua orang tua tiada tercapai. Tapi, mungkin itulah kebijaksanaan yang telah mereka pilih, untuk hidup bahagia dalam kenangan lalu daripada menggantikannya dengan kenyataan berbeda.
***
"Kenapa kamu mau menjadi istri saya?"
"Saya butuh uang."
Ah ah, selain tegas dan lugas, Eli ternyata perempuan yang sangat jujur. "Selain uang, apa yang kamu ingini sebagai istri saya?"
"Kalau boleh, saya lebih dulu ingin mendengar dari Jan. Apa yang Jan harapkan dari saya sebagai istri?"
Matanya lurus memandang mataku. Awalnya aku pikir, akulah sang penanya. Dan perempuan yang datang padaku akan menjawab semua pertanyaanku sambil menunduk malu. Tak berani memandang wajahku. Setidaknya itulah gambaranku tentang perempuan Indonesia. Ternyata aku salah.
Tak menduga, aku mendapat pertanyaan dari perempuan di depanku ini. Lebih lagi, pertanyaan itu hadir dari mata yang tajam dan meminta kejujuranku. Ah, pertanyaan dari perempuan yang khusus didatangkan untuk menjadi istriku. Perempuan yang kata teman Indonesiaku masih keponakannya. Perempuan miskin yang yatim dan tidak berpendidikan tinggi.
"Saya selalu merasa kesepian. Saya ingin memiliki teman."
"Saya akan menemani Jan."
"Saya 64 sekarang. Sudah sering sakit-sakitan. Saya ingin ada yang merawat dan melayani saya."
"Kalau begitu saya akan merawat dan melayani Jan."
"Saya suka makanan Indonesia. Suka sekali."
"Saya akan masak makanan Indonesia apa saja yang Jan suka."
Lalu saya terdiam. Pengharapan saya hanya itu.
"Sekarang giliran saya," katanya memotong lamunan saya, "Saya ingin diri saya dan keluarga saya mati dalam agama saya. Maka saya minta Jan untuk memeluk agama saya. Saya ingin pindah kewarganegaraan sehingga kalau Jan mati, saya tetap punya hak untuk tinggal di negeri ini. Saya tidak ingin pulang," dihela panjang napasnya, matanya menerawang jauh, hanya dalam hitungan detik, kemudian ia kembali, "Saya ingin Jan membuat pernyataan bahwa semua pensiun dan tunjangan Jan adalah milik saya, sehingga jika Jan mati nanti saya tidak akan merasakan miskin lagi. Saya ingin Jan membiayai sekolah adik-adik saya dan mengirim uang bulanan untuk Ibu saya."
Ia perempuan yang kuat. Maka semuanya terjadilah. Aku memeluk agamanya. Ia berpindah kewarganegaraan. Semua pensiun dan tunjanganku adalah miliknya. Dan aku setiap bulan mengirimkan uang untuk ibunya serta menyekolahkan lima orang adik-adiknya. Sebagai balasannya, selama pernikahan kami, ia pun selalu menepati janjinya. Ia menjadi temaku, sehingga aku merasai ramai. Juga merawatku hingga aku merasa sembuh. Juga melayaniku seolah akulah raja baginya. Lebih lagi, tidak satu rumah makan pun di kota ini yang mampu menandingi kelezatan masakannya.
Lalu, ketika memasuki tahun ke dua pernikahan kami. Ia kembali meminta sesuatu dariku. "Aku ingin seorang anak. Aku dengar kalau punya anak, negara ini akan memberi tunjangan lebih. Dan nanti kalau Jan mati, sampai usia 21 tahun tunjangan anak akan diberikan pada ibunya."
"Tapi saya sudah tua."
"Saya masih muda."
Ia perempuan yang kuat. Maka setahun kemudian lahirlah anak kami. Seorang anak, yang seolah menjawab segala pertanyaanku sejak kecil dulu. Pertanyaan akan masa depanku dengan sebuah negeri yang jauh, Indonesia. Seorang anak, yang dalam dirinya bercampur darahku dan Eli. Penerus Papa dan Mamaku. Pembawa nama keluarga Holland. Seorang anak setengah Indonesia.
Seiring dengan bertumbuhnya anak kami, di tahun ke tiga itu, Eli tiba-tiba berubah, ia menjadi lebih khawatir akan kesehatanku. Tak jenuh-jenuh ia meramu dan meracik segala akar-akaran menjadi obat. Tidak letih ia memijat tubuh tuaku dan memastikan kalau aku sehat.
Di tahun kelima, semua penyakit-penyakit yang pernah kurasakan lenyap. Tidak pernah aku merasa sesehat dan yang terpenting lagi: merasa sebahagia ini. Eli membuatku yakin bahwa akulah laki-laki paling berharga di seluruh dunia. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Rasa yang membawaku lesap ke dalam pusara kebahagiaan yang ia ciptakan.
Bertolak belakang dengan kata-katanya yang seolah berharap kematianku dulu, perbuatan Eli membuatku menduga-duga. Semakin hari dugaan di benakku semakin menyuburkan bunga-bunga di dada. Membuat dada ini hangat dan tenang. Ah ah, apakah ini...cinta?
Sampai suatu waktu. Di pagi yang berselimut kabut tebal. Aku masih mengunyah nasi goreng ketika keberanian itu datang. Akhirnya pertanyaanku terucap juga.
"Eli, kenapa kamu terus berusaha agar aku tetap sehat?"
Sambil tetap memunggungiku dan melanjutkan memutar-mutar potongan jahe di atas api kompor-tak pernah lupa tiap pagi Eli membuatkan wedang jahe untukku, ia menjawab tenang, "Aku baru tahu kalau ternyata pensiun dan tunjangan selama Jan hidup jauh lebih besar daripada kalau Jan mati."
Seperti yang berulang aku bilang, ia perempuan yang kuat.
Maastricht, Oktober 2007
*) Alumni Unila, kini melanjutkan studi di Belanda.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Minggu, 07 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar