Senin, 08 Desember 2008

"Tarian Cermin": 99 Sajak Mustafa Ismail

Adek Alwi*
http://www.suarakarya-online.com/

PALING tidak ada tiga sebab mengapa tahun 1970-an dan 1980-an tak banyak benar sastrawan asal (dan yang tinggal di) Aceh kita kenal. Pertama, mereka mungkin tak serajin LK Ara, Isma Sawitri, Zakaria M Passe (untuk contoh yang tak banyak itu) mempublikasikan karyanya di majalah dan koran Jakarta. Kedua, teknologi informasi termasuk dunia penerbitan belum semaju periode-periode sesudah itu. Ketiga, jumlah sastrawan yang muncul di tahun 1990-an dan 2000-an bisa jadi memang lebih banyak, juga kerajinan mereka mengirimkan karya ke media Jakarta, dan mereka diuntungkan pula oleh kemajuan teknologi informasi termasuk dunia penerbitan.

Nah, apapun sebabnya namun sejak periode 1990-an gairah sastra di Nanggroe Aceh Darussalam memang tinggi frekuensinya. Hal itu ditandai oleh penerbitan buku kaum sastrawan di daerah itu, berita-berita tentang aktivitas mereka, serta karya-karya mereka yang dipublikasikan di media Ibu Kota.

Mustafa Ismail satu dari generasi sastrawan Aceh pada masa yang bergairah itu. Suatu hari, bertemu kami di TIM dan dia hadiahi saya antologi puisinya terbaru, "Tarian Cermin". Saya sudah kenal nama penyair, cerpenis, serta wartawan kelahiran 1971 ini. Puisi dan cerpennya tersebar di banyak media (pun cerpen Azhari yang juga asal Aceh, muda usia pula). "Tarian Cermin" diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh dengan BRR NAD tahun 2007, menghimpun 99 sajak Mustafa Ismail bertahun cipta 1993 hingga 2003. Rinciannya: 1 sajak tahun 1993; 4 tahun 1995; 21 tahun 1996; 13 tahun 1997; 4 tahun 1998; 32 tahun 2000; 1 tahun 2001; 9 tahun 2002; dan 14 sajak di tahun 2003.

Rincian itu penting dibuat, juga (seperti ditulis Mustafa dalam Prolog) bahwa sajak-sajak di tahun-tahun "awal kepenyairan" tidak diubah atau direvisinya sehingga dapat kita ikuti perjalanan kepenyairan dia dalam kurun waktu 10-11 tahun itu. Nah, dalam konteks perjalanan kepenyairan inilah saya lihat hal-hal menarik dalam "Tarian Cermin".

Bila dipilah menurut tahun penciptaan serta domisili penyair, maka sajak-sajak pada kumpulan ini dapat kita kelompokkan ke dalam tiga periode, dan masing-masing periode memperlihatkan tema-tema yang menonjol. Pertama, periode 1993-1996 yaitu ketika penyair masih berdomisili di daerah asal. Kedua, periode 1997-1998, sewaktu penyair mulai menetap di Jakarta sebagai jurnalis. Ketiga, periode 2000-2003, tatkala penyair (tentunya) sudah beradaptasi dengan rantau atau Ibu Kota.

Pada periode pertama sajak lebih didominasi tema-tema kegelisahan, semacam keinginan untuk berangkat, pergi, atau melakukan perjalanan (kata yang kerap hadir di banyak sajak). Itu bisa karena keadaan, seperti dalam sajak "Satire Cinta": penjara jadi sangat akrab saat terpahami/ membentuk butiran embun dan tarian rumput/ kita kehilangan waktu untuk berbasa-basi/ semua yang kita bicarakan adalah tanah lapang/ dan kebun terserang hama//.

Atau, bisa juga karena rasa kesia-siaan ("Hujan Sudut Kota"), serta sunyi yang lahir akibat situasi ("Kita Saling Memanggil", "Romantisme Jarak 1"); yang membuat aku-lirik menengok 'dunia dalam': ketika kau katakan hari adalah kesunyian/ aku pun terlempar dalam sumur yang kau sediakan/ mencoret-coret puisi tentang diri sendiri/.

Di periode kedua, atau di masa transisi kepindahan ke Jakarta, tema kerinduan, juga cinta (walau di akhir-akhir periode pertama hal ini juga terlihat) lebih menonjol. Begitupun rasa gagap, dan juga tekad buat menghadapi lingkungan baru, Jakarta, kota besar itu. Yang terakhir ini misalnya terlihat pada sajak "Kosong": kadang kita harus selalu ingat, jalan tidak seperti diperkirakan/ maka bersiaplah untuk bersedih, untuk menerima nasib yang dingin/dan segala keinginan membusuk dalam coretan dinding// begitulah yang kucoba pahami kini: Sebuah kota tiba-tiba saja meledak dalam genggaman/ aku ingin bersedih, sebagaimana juga engkau mungkin,/ senantiasa mengharapkan bukit-bukit yang meninggi, bulan yang perak/ dan diatasnya kita menari//. Atau pada puisi "Ketika Kau Memakan Daging-dagingku", dan juga "Sketsa Kemarau 3".

Adapun tema kerinduan, misalnya kepada tanah lahir, atau rumah mengemuka dalam sajak "Orkes Pagi Hari", juga sajak "Menengok Tahun". Dan, kepada keluarga, sajak "Menerima Surat 1" yang ditujukan kepada ayah, juga "Membaca Wajah Ibu" yang bagi saya terasa indah: disitulah bintang itu, terselip dalam kelopak mata/ tetap cerah, tetap indah/ dan aku pun larut dalam sinarnya// disitulah laut,mengalirkan hawa dingin/ bagi setiap perjalanan/ tetap teduh, tetap biru/ membuatku selalu kangen dan terpana// disitulah sumur, yang tak pernah lelah/ memberi/ aku adalah gayung yang masih tetap/ menimbanya//.

Dan tema cinta, terlihat pada sajak "Memo Pagi", "Menerima Surat 2", "Sajak Pagi Hari", "Prosa Kasmaran", atau yang lain-lain.

Di periode ketiga (2000-2003), yang menyumbang 50-an sajak bagi kumpulan ini, mengedepan tema-tema 'besar' dalam arti telah meluas dari sekadar persoalan diri sendiri ke keadaan di Aceh yang pada periode ini masih rusuh. Menurut saya tema ini terenungkan lalu tertuang dalam sajak sebab penyair sudah selesai beradaptasi dengan rantau, Jakarta, kota besar. Juga, setelah ada jarak fisik, pun waktu, maka peristiwa di kampung halaman yang tentunya terekam dalam diri mendesak minta diekspresikan. Dan tema itu hadir dalam puisi "Elegi Tanah Kelahiran 1989-1998 (1)", "Elegi Tanah Kelahiran 1989-1998 (2)". Pun pada sajak "Berita", "Dialog (1)", "Dialog (2)", "Dialog (3)", "Ironi", "Berumah di Bawah Langit", "Sajak Kehilangan", "Cerita Dari Surat Kabar (1), "Belajar Dari Nasib", "Lhokseumawe", dan sejumlah sajak lagi. Kita kutip "Elegi Tanah Kelahiran 1989-1998 (1)" yang agak prosais, guna ikut merasakan akibat rusuh yang (pernah) berlarut-larut itu: ketika bukit itu dibongkar dan tulang-tulang menyembul keluar/ aku tertegun dan kalut: manusiakah yang menguburnya/ betapa hidup begitu mudah berakhir. Cinta begitu saja dicabut/.

Akhirnya, ingin pula diutarakan hal lain yang sempat saya catat, bahwa entah karena pengaruh profesinya yang lain (cerpenis, wartawan), atau memang disengaja sebab kecenderungan puisi Indonesia mutakhir banyak demikian: pada beberapa sajak Mustafa Ismail dalam kumpulan ini merebak pula aroma prosais. Misalya larik sajak "Dialog 1996" ini: Kembang Tanjung tidak terlalu jauh dari Sigli,/ kota yang sempat menyimpan surat-surat dari lautan/. Atau pada sajak "Seorang Lelaki yang Menangis" berikut: lelaki itu telah melipat jasnya, lalu menangis, sepanjang jalan/ ia melangkah jauh, merobek seluruh malam,/ tetapi malam telah mati, hari telah pergi, menangis sudah tidak punya arti/ lelaki itu kembali pulang, membuka jasnya, lalu pergi/ hidup harus berarti, katanya, hidup jangan dinikmati sendiri/ pandanglah sejenak ke depan, kakiku masih berdarah!/.

Lantas, ada ungkapan yang berulang: suatu ketika, entah kapan, kita mulai lagi sebuah obrolan (sajak "Banda Aceh: Obrolan"), dan, ini: suatu hari, entah kapan, kau tatap lagi rumah itu (sajak "Luka yang Dititipkan").

Lainnya lagi adalah musuh utama puisi, yaitu salah cetak, seperti tersua dalam sajak "Orkes Pagi Hari", "Memo Sigli (2), atau jangan-jangan juga di puisi lain yang luput dari mata saya. ***

*) Pengarang, wartawan, dan dosen Politeknik Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar