Minggu, 07 September 2008

Malam Seribu Bulan

Teguh Winarsho AS

Sungguh saya menyesal tidak memberi uang recehan pada laki-laki tua yang menengadahkan tangannya sembari menatap saya dengan sorot mata iba ketika mobil yang dikendarai istri saya berhenti di traffic light, sepulang kami dari mengambil uang di Bank. Padahal di dalam mobil ada banyak uang recehan yang memang khusus disediakan istri saya untuk dibagi-bagi pada para pengemis di perempatan jalan. Rasa sesal itu terus menghantui selama perjalanan sampai saya tiba di rumah.

Malamnya saya tidak bisa tidur meski telah menelan beberapa pil tidur yang tentu saja sudah over dosis. Saya juga sudah mempraktekkan beberapa teori untuk mempercepat jatuh tidur; menarik nafas dalam-dalam lantas mengeluarkannya perlahan-lahan. Atau memejamkan mata rapat-rapat dan mengosongkan pikiran. Tapi semua itu ternyata tak membuahkan hasil. Bayangan laki-laki tua itu tak mau pergi dari benak saya. Terus berkelebat-kelebat di kepala saya sambil menengadahkan tangannya seperti memaksa saya agar segera menyerahkan sesuatu kepadanya.

Selama tiga malam berturut-turut saya sangat tersiksa oleh bayangan itu hingga keesokan harinya saya memutuskan untuk mencari laki-laki tua itu ke tempat di mana saya pernah ketemu dia dengan diantar istri saya. Meski begitu istri saya tetap tidak tahu maksud saya yang sebenarnya. Sejak mengalami kelumpuhan pada dua kaki saya empat tahun lalu, nyaris setiap bepergian, kemana pun saja, saya selalu diantar istri saya. Hanya sesekali saya menyuruh sopir pribadi. Saya merasa lebih aman jika yang mengemudi istri saya sendiri.

Tapi sampai di traffic light, saya tak menemukan laki-laki tua yang saya maksud. Mungkin laki-laki tua itu sudah pindah ke tempat lain. Karenanya saya menyuruh istri saya untuk keliling kota dengan alasan sekalian menunggu buka puasa. Istri saya tidak keberatan, malah tersenyum dan bilang, "Sejak kapan Papa suka jalan-jalan sore. Kayak anak muda saja." Lalu tertawa. Saya ikut tertawa meski tidak sungguh-sungguh tertawa. Mata saya terus mengawasi setiap traffic light, setiap perempatan, setiap pertigaan bahkan setiap pinggir jalan.

Berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus traffic light sudah saya lewati, tapi saya belum menjumpai laki-laki tua itu. Istri saya mulai curiga dan bertanya macam-macam. Dari pertanyaan yang nadanya cemburu sampai pertanyaan serius. Tapi saya tetap bungkam. Saya kemudian menyuruh istri saya memutar mobilnya, pulang.

Sampai di rumah, baru saya ceritakan maksud saya yang sebenarnya. Saya ceritakan juga bagaimana tersiksanya saya setiap malam oleh bayangan laki-laki tua itu. Bagaimana perasaan berdosa itu terus menghantui saya setiap malam. Mengejar-ngejar saya. Menguntit di setiap celah tarikan napas saya ke mana dan di mana pun saya berada. Istri saya kaget bukan main. Dari mulutnya terdengar desahan istighfar berkali-kali. Suaranya lirih namun menggetarkan. Saya yang berada di dekatnya ikut tergetar.
"Kalau begitu besok kita cari lagi," kata istri saya kemudian sambil masuk ruang makan ketika terdengar adzan maghrib dari masjid. Langkahnya lesu tidak bersemangat. Sorot matanya redup seperti kehabisan tenaga.

Saya mendorong kursi roda mengikuti langkah istri saya dengan perasaan kosong. Hampa. Sampai di meja makan istri saya lebih banyak diam, seperti tak berselera menghadapi hidangan makanan ada di atas meja. Tangannya selalu gemetar ketika mengangkat sendok.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya dan istri kembali mencari laki-laki tua itu. Kali ini istri saya turun di setiap perempatan atau pertigaan jalan, bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar situ tentang laki-laki tua yang sebelumnya sudah saya gambarkan ciri-cirinya. Tapi dari sekian orang yang ditanya, tak ada seorang pun yang mengenali laki-laki tua itu. Bahkan sebagian mengatakan belum pernah melihat laki-laki dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan istri saya. Tapi kami tidak kecewa. Kami terus keliling kota mencari laki-laki tua itu. Bahkan istri saya sampai keluar masuk kampung-kampung kumuh.

Sepuluh jam lebih kami mencari tanpa henti, tanpa istirahat barang sejenak pun kecuali untuk shalat dzuhur dan ashar. Tahu-tahu hari sudah gelap. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar adzan maghrib. Kami kemudian mencari masjid terdekat untuk buka puasa sekaligus shalat maghrib. Selesai shalat istri saya masih ingin terus mencari laki-laki tua itu, tapi saya menolak. Saya bilang pada istri saya bahwa pencarian bisa dilanjutkan besok pagi. Semula istri saya tidak setuju. Tapi ketika kemudian saya ingatkan bahwa di rumah ada seorang gadis cilik, yang tentu saja sedang menunggu kedatangan kami, baru istri saya mau pulang. Gadis cilik itu adalah Putri, buah hati kami satu-satunya.

Benar. Sampai di rumah, Putri memang sedang menunggu kedatangan kami di meja makan. Biasanya Putri akan cemberut atau malah marah-marah menyambut kedatangan kami karena tidak menemaninya buka puasa. Ternyata tidak. Putri tidak cemberut atau marah, sebaliknya justru tersenyum ceria. Wajahnya segar, matanya berbinar-binar.

"Sudah buka puasa, Put?" tanya istri saya sambil mendorong kursi roda saya.
"Sudah, tapi baru sedikit," jawab Putri malu-malu.
"Kenapa baru sedikit?"
"Habis makanan Putri tadi sudah Putri berikan sama Pak tua."
"Pak tua? Pak tua siapa?" saya penasaran.

Putri kemudian cerita bahwa sore tadi ketika sedang buka puasa mendengar suara ribut-ribut dari rumah sebelah. Iseng-iseng Putri keluar mengintip lewat lubang pagar. Di halaman rumah sebelah ia melihat seorang laki-laki tua berpakaian kumal, compang-camping, mengenakan kopiah hitam yang sudah pudar warnanya, dibentak-bentak dan dicaci-maki oleh pemilik rumah sebelah saat laki-laki tua itu minta segelas air putih.

Dan, ketika laki-laki tua itu melintas di depan rumah kami, Putri memanggilnya. Putri kemudian memberinya segelas susu miliknya berikut sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauk. "Kata ustadz memberi buka puasa pada orang lain pahalanya besar. Seperti pahala orang berpuasa," kata Putri saat mengakhiri ceritanya.

Saya dan istri mengangguk-angguk. Hati saya tiba-tiba bergetar hebat. Ciri-ciri laki-laki tua yang diceritakan Putri persis dengan laki-laki tua yang pernah saya jumpai di traffic light beberapa waktu lalu. Saya benar-benar terharu. Diam-diam saya bangga pada Putri.

Larut malam, entah jam berapa, saya dibangunkan oleh suara tangis keras dari rumah sebelah. Semula saya tidak ingin keluar karena badan saya capek sekali. Tapi setelah mendengar suara tangis yang semakin lama semakin bertambah keras disertai jerit histeris susul menyusul itu, akhirnya saya turun juga dari ranjang, lari keluar. Sampai di luar saya melihat tetangga kanan-kiri sudah berdatangan ke rumah sebelah.

"Ada apa, Pak?" tanya saya pada Pak Imron yang baru saja pulang dari rumah sebelah.
"Baru saja Pak Kosim kecelakan," jawab Pak Imron pelan.
"Mobilnya menabrak pohon. Hancur."

Saya terkejut. Tiba-tiba saya teringat cerita Putri tadi sore.
"Tapi ngomong-ngomong, kapan Pak Anwar sembuh?" tanya Pak Imron tiba-tiba berjalan menghampiri saya.
Saya bingung, meraba-raba tubuh saya. Tapi buru-buru saya sadar ternyata saya sudah bisa berdiri tegak dengan dua kaki saya sendiri. Dan ketika saya menengok ke belakang, ingin memberitahukan kabar gembira ini pada istri saya, saya lihat istri dan Putri sudah bersujud terlebih dulu di lantai ruang tamu.

"Oya, tetangga sebelah meninggal, Pak," lagi ucap Pak Imron mengejutkan.
"Meninggal?" Saya kaget. "Innalillahi wa inna illaihi rojiuun....."
Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Tapi saya tidak tahu apakah saya sedih atau bahagia. Sebab kini saya sudah bisa berjalan.
Sementara suara tangis dari rumah sebelah kian terdengar histeris...

* Depok, 2006
pernah terbit di Suara Karya, Sabtu, 25 November 2006

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar