Minggu, 07 September 2008

PERAHU NUH

Teguh Winarsho AS

“CERITAKANLAH kepadaku satu kejadian yang menakjubkan,” pinta Erina pada seorang juru cerita.
Sesaat sang juru cerita menatap bola mata Erina yang binar-binar menyala, lalu mulai menuturkan kisahnya:


MALAM itu hujan turun deras. Di atas loteng rumah berpapan kayu, tampak dua anak kecil meringkuk dalam selimut kusam, kumal. Dua tubuh bocah itu terlihat kurus dan dekil, sesekali mengigil, gemetar, menahan dingin dan lapar. Sudah sehari semalam mereka terjebak tak bisa keluar rumah lantaran banjir yang tiba-tiba datang mengepung rumah mereka. Beruntung mereka segera naik ke loteng atas yang biasa digunakan sebagai gudang. Tak terpikirkan oleh dua bocah itu, buku-buku sekolah, seragam, sepatu, tas, yang pastilah sudah hancur atau hanyut terbawa arus.

Genangan air hampir menyentuh papan loteng, ketika dua bocah itu, Ani dan Agus, terlelap dalam kantuk berat. Guntur sesekali menggelegar disusul hujan deras seperti kemarahan yang lama terpendam dan kemudian teremas. Air di dalam rumah kembali berbuncah, meriak, mengombak, merangkak, menjilat-jilat papan loteng. Sesekali terdengar suara papan loteng berkeriut, seperti regang mau patah. Tapi dingin dan lapar telah membuat tidur dua bocah itu kian lelap. Sedikit pun tak terusik oleh gemuruh hujan, papan loteng yang berkeriut, maupun kecipak air yang mulai menyentuh papan loteng.

Tapi tengah malam tiba-tiba Ani terbangun. Ia merintih memegangi perutnya yang berkerucuk lapar. Melilit-lilit seperti ada puluhan cacing yang menggigit. Di sebelahnya Agus masih tidur pulas, mendengkur lirih. Terdengar ganjil suara dengkur Agus di tingkah guntur dan halilintar. “Aku lapar. Apakah Bapak sudah pulang.....” Susah payah Ani membuka mulutnya yang gigil dan pucat. Matanya berkedip-kedip seperti berusaha menembus gelap malam. Tapi malam terlampau gelap membuat gadis kecil itu terus menggosok-gosok mata mencari cahaya.

Jelas tak ada jawaban dari mulut Agus, lantaran bocah laki-laki usia dua belas tahun itu tidurnya sangat nyenyak, tanpa gerak. Tak tega membangunkan kakaknya, Ani kembali merapatkan selimut. Meringkuk. Membenamkan wajah di lipatan bantal. Ingin tidur. Tapi tiba-tiba beberapa ekor nyamuk berdenging-denging di telinganya, berputar-putar, sesekali menukik di wajah. Ani merasa terganggu, mencoba menepuk nyamuk-nyamuk nakal itu, tapi selalu gagal.

Agus tersentak kaget mendengar bunyi tepukkan Ani. Sesaat wajah Ani merasa bersalah. Agus segera bangun, menggeliat, menggosok-gosok mata. Dalam gelap, samar-samar Agus masih bisa melihat Ani, adik perempuan satu-satunya, duduk di dekatnya. Agus menyibak selimut ikut duduk di sebelah Ani. Rambutnya kusut acak-acakkan. Matanya sayu seperti mata kupu-kupu. “Sudah malam. Kenapa kamu belum tidur?” Suara Agus terdengar lirih ditelan gemuruh hujan. Di luar, sesekali kilat menyambar.

Ani tak menjawab. Kedua tangannya masih sibuk menepuk-nepuk nyamuk. Ia seperti gemas dengan nyamuk-nyamuk nakal itu.
“Aku lapar....” ucap Ani suaranya serak. Wajahnya memelas.

“Bersabarlah. Semua makanan yang kita miliki terendam air. Kita sudah tak punya makanan lagi.”
“Kenapa Bapak belum pulang juga?”
“Sebentar lagi Bapak pasti pulang. Sekarang kita tidur saja....” Agus menghela napas berat, mencoba menenangkan adiknya.

“Apakah Bapak akan bawa makanan buat kita?”
“Ya, Bapak pasti akan bawa makanan banyak...”
“Apakah Bapak akan berenang lagi seperti ketika berangkat?”

Sekilas menatap Ani, Agus menggelengkan kepala pelan. Bibirnya tersenyum getir. “Tidak. Bapak akan datang bersama aparat dengan perahu untuk mengangkut kita keluar dari rumah ini. Sayang, air sudah terlalu tinggi dan kemarin aparat yang bertugas mengangkut penduduk keluar dari jebakan banjir tak sampai ke sini..” Ada kekecewaan tiba-tiba membayang di wajah Agus. Kekecewaan yang sama memantul pula di wajah Ani yang murung, sedih. Di luar hujan semakin deras. Angin mendesau menghempas-hempas seng atap rumah.

“Andai saja....” Ani tiba-tiba bersuara, tapi tak diteruskan kalimatnya. Jari-jari tangannya memain-mainkan ujung selimut.
“Andai apa?”

Sesaat Ani menarik napas dalam-dalam, pandangan matanya menerobos hujan dan kelam malam di luar. “Andai saja perahu Nabi Nuh datang kemari menolong kita.....”

“Perahu Nabi Nuh?!” Tiba-tiba Agus seperti diingatkan oleh sesuatu. Bola matanya mengerjap. Bibirnya merekah. Ia ingat guru ngaji di madrasah pernah cerita tentang sejarah perahu Nabi Nuh. Ketika banjir besar melanda, perahu Nabi Nuh menyelamatkan orang banyak. Bahkan binatang-bintang ternak juga diselamatkan. “Tapi....” Mendadak Agus tak meneruskan kalimatnya. Wajahnya murung ditekuk ke bawah. Bola matanya kembali redup.

“Kenapa?”
“Perahu Nabi Nuh sudah tidak ada. Peristiwa itu sudah lama berlalu.”
“Tapi apa salahnya kita berdoa dan berharap?”
“Berdoa? Ya, kita memang harus terus berdoa....” Agus mengangguk-angguk. Dalam hati ia membenarkan ucapan adiknya.

Hujan turun semakin deras. Langit seperti murka. Air di dalam rumah kembali berbuncah dan mulai merambat papan loteng. Seketika Ani memekik manakala ujung kakinya terkena air yang menggenang di lantai papan loteng. Refleks Ani melompat. Menjerit.

Dalam gelap, dalam panik, dalam takut, dalam lapar, teramat susah bertindak bijaksana. Namun, Agus, bocah laki-laki dua belas tahun itu sigap bertindak. Agus ingat, ada dua buah meja panjang tak jauh dari situ. Dengan sisa-sia tenaga yang ada ia segera mendorong meja panjang di sudut, disatukan dengan meja lainnya. Dua meja dijadikan satu menjadi lebih lebar. Dengan isyarat tangan Agus kemudian menyuruh Ani naik ke atas meja sebelum air semakin tinggi. Tapi sayang, selimutnya tak sempat dibawa, keburu basah. Agus sendiri segera meloncat ke atas meja, jongkok menggigil kedinginan.

Kini air benar-benar sudah menggenang papan loteng, berbuncah bercampur sampah. Tampak selimut Ani mengapung dalam air, bergerak-gerak mengikuti riak. Dalam diam Agus merasakan sesekali meja di bawahnya bergerak-gerak, seperti ada kekuatan yang perlahan-lahan menggasak. Lalu, sesekali telinganya juga menangkap bunyi aneh dari papan loteng seperti mulai regang. Tapi Agus merekam semua itu hanya untuk dirinya sendiri. Ia tak ingin membuat Ani semakin takut. Padahal jika air semakin tinggi, lantai loteng yang terbuat dari kayu itu bisa roboh.

“Bagaimana jika air terus naik ke atas? Aku takut....” suara Ani mengejutkan Agus.
Agus mendekap erat adiknya. Dalam hati ia terus berdoa agar perahu Nabi Nuh segera datang menyelamatkan dirinya.

“Tidak. Sebentar lagi air pasti surut.”
Benar. Di luar hujan mulai reda. Tinggal gerimis riwis-riwis seperti kelambu tipis. Agus menarik napas lega, ingin meneruskan tidurnya. Tapi entah kenapa tiba-tiba rasa kantuknya berangsur-angsur menjauh. Matanya menyala.

Agus teringat Bapak yang hingga kini belum pulang. Apakah Bapak lupa jalan pulang karena air cukup tinggi? Gelap? Pekat? Atau ke mana? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menggelisahkan Agus. Membuat kepalanya suntuk. Terbayang di benak Agus, sore menjelang gelap sewaktu Bapak berenang keluar untuk mencari makanan dan bantuan perahu. Sudah berapa jam? Tak ada jam di ruangan itu. Tapi Agus bisa menandai malam sudah larut.
Ah, perahu Nabi Nuh. Perahu Nabi Nuh.... ***

SEMENTARA itu pada saat yang sama di tempat lain, seorang laki-laki, merangkak di bawah gerimis, wajahnya bengkak, memar, berlumur darah. Laki-laki naas itu adalah Bapak Agus dan Ani. Di sekelilingnya puluhan orang menatap laki-laki naas itu dengan penuh kemarahan sambil menggenggam batu dan pentungan kayu. Beberapa bungkus roti, mie instan, kemasan air mineral, berserak di jalan, terinjak-injak. Tak ada yang memperhatikan barang-barang itu karena sosok laki-laki naas dengan wajah bengkak, memar, berlumur darah jauh lebih menarik.

Kian lama kerumunan orang itu kian bertambah banyak. Berteriak-teriak serupa kesurupan. Mengumpat. Memaki. Menendang. Memukul. Membuat suasana malam yang dingin menjadi panas, gerah, gaduh dan ribut. Orang-orang yang sedang tidur terbangun mendengar suara-suara itu, lalu lari keluar. Meski berkali-kali laki-laki naas itu melolong kesakitan dan memohon belas kasihan, namun tangan-tangan kekar di sekelilingnya terus menghajar. Batu dan pentungan kayu terus melayang.

“Ayo! Ayo! Jangan dikasih ampun!”
“Dasar pencuri tak tahu diri!”
“Ayo! Hajar terus!”
“Pukul! Pukul!”
Sembari merangkak dan mengerang kesakitan, laki-laki naas itu mendengar suara riuh rendah orang-orang di sekelilingnya yang terus menghajar tubuhnya. Dalam posisi seperti ini tiba-tiba ia sadar betapa sesusungguhnya bukan kematian dirinya yang ia takutkan, tapi nasib dua anaknya yang ia tinggal di rumah. Entah, pikiran semacam itu tiba-tiba melintas di benaknya. Hingga tiba-tiba ia tak merasakan lagi rasa sakit dan perih luka-lukanya. Ia berhenti merangkak, diam, pasrah menerima caci maki dan pukulan. Sebagian orang tampak heran, tapi lebih banyak yang justru membabi buta kesetanan.

Sementara dari arah kios bensin seberang jalan, seorang laki-laki kekar bertato lari membawa jerigen sembari berteriak lantang, “Bakar! Bakar!”

Dan, persis saat laki-laki kekar bertato hendak mengguyur laki-laki naas itu dengan bensin, dari kerumunan belakang terdengar suara seorang perempuan tak kalah lantang. “Astaghfirullah! Hentikan! Hentikan! Jangan lakukan itu! Jangan!” Tersengal-sengal napas perempuan itu merangsek ke dalam kerumunan. Orang-orang saling pandang. Heran.

“Tapi dia pencuri. Harus diberi pelajaran!”
“Betul! Orang lain susah kebanjiran, dia malah mencari kesempatan!”
“Tunggu! Jangan main hakim sendiri! Perbuatan kalian yang ingin membakar laki-laki itu sungguh sangat biadap! Tidak berperikemanusiaan! Sedangkan Allah saja Maha Pengampun! Kenapa kalian mudah kalap?!” Perempuan itu menatap tajam lawan bicaranya. Jantungnya berdegup keras. Wajahnya memerah. Lututnya gemetar.

“Jangan-jangan Ibu komplotannya!”
“Demi Allah aku tak kenal siapa laki-laki ini. Tapi kudengar dia mencuri di tokoku. Aku mengikhlaskannya. Tapi tolong bawa dia ke kantor polisi.”

Orang-orang seketika terdiam. Bungkam. Pada saat bersamaan mobil polisi datang dengan sirene meraung-raung. Kerumunan orang itu segera bubar menyelinap masuk ke dalam gang. Batu-batu dan pentungan kayu disembunyikan. Dalam sekejap jalanan menjadi lengang.

Laki-laki naas itu kemudian diangkut mobil patroli polisi dengan kedua tangan diborgol di belakang. Sepanjang jalan ia lebih sering menundukkan kepala, teringat kedua anaknya yang ia tinggal di rumah. Gerimis masih menderai membuat luka di tubuhnya menganga. Memutih. Tapi laki-laki itu tidak merintih seperti tidak merasakan sakit. ***

LAKI-LAKI itu bersyukur, polisi tidak menahannya. Ia diperbolehkan pulang esok harinya. Bahkan oleh perempuan pemilik toko yang ikut mengantar ke kantor polisi, yang terharu mendengar ceritanya, ia diberi banyak makanan untuk dibawa pulang. Meski tubuh laki-laki itu penuh luka, namun ia melangkah pulang dengan perasaan bahagia. Sekarung makanan melekat erat di punggungnya. Laki-laki itu terus berjalan riang di bawah gerimis yang terus berderai. Sesekali ia menatap langit di atas memastikan apakah akan turun hujan deras.

Tak ada mobil atau sepeda motor melintas di jalan karena ruas jalan itu telah tergenang air setinggi pinggang. Laki-laki itu berjalan dalam genangan air coklat melawan arus deras. Sesekali tubuhnya menggigil oleh udara dingin. Kadang kakinya terperosok lubang, membuat tubuhnya sempoyongan mau jatuh, namun sekuat tenaga ia berusaha menjaga sekarung makanan di punggung agar tidak jatuh terkena air. Baginya makanan itu jauh lebih berharga dari luka-luka di tubuhnya yang kian menganga atau bahkan nyawanya sekalipun.

Di tepi jalan yang posisinya jauh lebih tinggi, di banding tanah seberang jalan, laki-laki itu berdiri, menatap kampungnya yang tergenang air. Seulas senyum melingkar di bibirnya yang lebab hitam. Ia akan berenang untuk mencapai rumahnya. Ia masih punya sedikit tenaga. Tapi meski sudah berkali-kali menggosok mata, hingga perih dan merah, ia tetap tak menemukan di mana posisi rumahnya. Ia justru terkesiap, baru sadar, kini di depan matanya yang tampak justru sebuah telaga dengan air coklat berbuncah-buncah. Tak sebuah rumah tampak. Ujungnya sekali pun!

Terlepas begitu saja karung berisi makanan dari punggung laki-laki itu. Tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga dan gairah hidup. Tapi ia masih sanggup berjalan menuju jembatan. Hati-hati naik ke atas jembatan, berpengangan erat pada pilar-pilar baja. Di bawah jembatan, air sungai meluap-luap. Jika tidak hati-hati ia bisa terpeleset jatuh dan terbawa deras arus sungai.

Cukup lama ia berdiri di atas jembatan. Mengedar pandang, mencari di mana posisi rumahnya. Tapi sekali lagi yang tampak hanya genangan air. Kampungnya telah rata dengan air! Laki-laki itu menunduk dan menangis sesengukkan. Usahanya untuk menyelamatkan kedua anaknya sia-sia. Ia merasa marah dan kesal. Ia sudah tak punya apa-apa lagi di dunia ini.

Persis saat laki-laki itu ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai, tiba-tiba ia mendengar suara kedua anaknya memanggil-manggil dari kejauhan. Ia segera mengangkat kepalanya mencari di mana arah sumber suara. Cukup lama ia mengedar pandang hingga tiba-tiba bibirnya tersenyum saat matanya menangkap di jauhan, di atas air yang menggenang seluruh kampung, tampak sebuah perahu berlayar mendekat. Laki-laki itu menggosok-gosok mata merasa tidak yakin dengan penglihatannya.

Tapi, perahu itu memang benar-benar nyata! Tampak kedua anaknya, Ani dan Agus, tersenyum melambai-lambaikan tangan. “Bapak, Bapak, kami naik perahu Nabi Nuh!” teriak Ani dan Agus bersamaan. Tapi laki-laki yang dipanggil Bapak itu terus menggosok-gosok mata seperti tak percaya.

“Begitulah ceritanya, Erina....” kata juru cerita mengakhiri kisahnya.
“Apakah yang dinaiki dua bocah itu memang benar-benar perahu Nabi Nuh?” tanya Erina penasaran.
“Entahlah. Aku hanya mendengar cerita ini dari orang lain. Waktu itu aku pun juga menanyakan hal yang sama. Dia menjawab hanya mendengar cerita itu dari orang lain juga....”

Depok, 2006


Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar