Abdul Malik
http://batampos.co.id/
Pada 1787 Sultan Mahmud, Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Lingga kala itu, memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Hulu Riau di Bintan ke Daik di Lingga. Rombongan Sultan Mahmud berhijrah ke Lingga dengan 200 perahu. Dalam pada itu, rombongan lain yang terdiri atas 150 perahu berhijrah ke Pulau Bulang, Batam, dipimpin oleh Temenggung Abdul Jamal. Karena orang Melayu semuanya beredar, Hulu Riau menjadi kosong dari orang Melayu. Para pekerja di ladang gambir kemudian menguasai ladang milik orang Melayu di Bintan.
Apa pasal? Pemerintah kolonial Belanda pada 17 Juni 1785 mengirim David Ruhde menjadi Residen Riau pertamanya. Ruhde ternyata membawa lengkap perangai penjajahnya: kasar, angkuh, dan sombong. Sang Residen mengambil kayu-kayu dan hasil hutan Riau-Lingga tanpa meminta izin sama sekali kepada pihak Kerajaan Riau-Lingga. Tentulah Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali serta rakyat Riau-Lingga merasa dilecehkan sehingga mereka sangat marah.
Perlakuan biadab David Ruhde menuai padahnya. Belum genap dua tahun dia di Riau-Lingga, tepatnya pada 10 Mei 1787, sepasukan lanun dari Tempasok, Kalimantan Barat datang menyerang Belanda di Tanjungpinang. Kala itu benteng Belanda yang dijaga satu garnisun berkekuatan tak kurang dari 200 orang ranap dihantam pihak penyerang. Setelah benteng mereka diporak-porandakan, David Ruhde dipaksa untuk menyerah dan diberi waktu tiga hari harus meninggalkan Riau-Lingga, kembali ke Melaka. Menurut catatan penulis kronik, Ruhde terpaksa meninggalkan Riau-Lingga dan kembali ke Melaka dengan hanya mengenakan pakaian sehelai sepinggang.
Belanda tentulah tak akan percaya bahwa serangan itu semata-mata ulah para laun Tempasok. Tentulah ada aktor intelektual di belakang semua itu. Siapa lagi kalau bukan Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali? Bukan penjajah Belanda kalau tak melakukan serangan balasan.
Karena khawatir akan tindak balas Belanda, yang tentu akan membawa dampak yang tak menguntungkan, Sultan Mahmud memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Daik, Lingga. Dan, dalam kepindahan itu Temenggung Abdul Jamal menetap di Pulau Bulang, Batam.
Pangeran Oranye Belanda terlempar dari istananya. Itu terjadi akibat dari bergolaknya Revolusi Perancis di Eropa. Khawatir kawasan jajahannya jatuh ke pihak Perancis, William Oranye menyerahkannya di bawah penjagaan Inggris. Oleh Gubernur Inggris di Melaka, pada 18 September 1795 kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga dikembalikan kepada Sultan Mahmud. Hal yang sama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Sejak itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi negara yang merdeka kembali.
Engku Muda Muhammad, putra Temenggung Abdul Jamal, yang telah ditempa oleh ayahndanya di Pulau Bulang, Batam, ditunjuk oleh Sultan Mahmud sebagai pejabat sementara Yang Dipertuan Muda. Dari Pulau Bulang dia kembali ke Bintan. Negeri Riau menjadi ramai kembali dengan pelbagai aktivitas kehidupan manusia untuk anekaragam keperluannya.
Setelah Raja Ali kembali menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, Engku Muda Muhammad diangkat Sultan menjadi Temenggung Johor. Akan tetapi, dia menolak dan memilih pindah ke Singapura. Tun Ibrahim, adiknya, kemudian menggantikannya menjadi Temenggung Johor.
***
Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir bin (alm.) Yang Dipertuan Riau Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata Batam Brick Goods di Pulau Batam.
Selanjutnya, dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bertepatan dengan 26 Juli 1898 M. ketentuan itu dipertegas lagi. Bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir dikukuhkan lagi haknya sebagai pengelola Pulau Batam. Maka, berkembanglah usaha batu bata di Batam itu.
Alih-alih, Residen Riau, di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 dengan “Firman” (tanda petik oleh A.M.) No. 61/L yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops membatalkan semua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Hal itu terjadi setelah Sultan Riau-Lingga dimakzulkan (secara sepihak dituruntahtakan oleh pemerintah kolonial Belanda karena Sultan dianggap pembangkang). Semua surat kepemilikan itu harus diganti dengan surat dari Residen Riau.
Tentu saja Raja Ali Kelana, dan sebagaian orang Melayu, tak mau menerima keputusan itu. Dia dan mereka mengharamkan mengubah surat dari Sultan dengan surat dari penjajah Belanda. Sebagai akibatnya, perusahaannya di Batam dengan terpaksa harus ditinggalkannya. Begitu pun sebagian rakyat Riau-Lingga lebih memilih meninggalkan harta-benda mereka daripada menukarkan surat kepemilikan yang dibuat Sultan dengan surat penjajah Belanda. Cara itulah yang ditempuh oleh orang Melayu, bukan hanya di Batam, melainkan juga di Bintan dan tempat-tempat lain. Bagi Raja Ali Kelana dan rakyat pengikutnya, marwah bangsa jauh lebih tinggi nilainya daripada harta-benda. Untuk menjunjung marwah itulah, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan harta-benda, yang padahal, mereka adalah pemilik dan ahli waris sahnya.
Adalah aneh tetapi nyata. Dalam alam merdeka, hak mereka atas tanah dan harta-benda lain tak dipulihkan seperti yang tercantum dalam surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Padahal, mereka meninggalkan semua itu karena menentang Belanda dan tak sudi bertuankan penjajah itu. Nah, yang merdeka sebenarnya siapa?
Bagaimanakah Batam hari ini? Dunia memang terus berubah. Namun, tentu, kita sangat berharap perubahannya menjadi lebih baik, baik pada fisik daerahnya maupun pada masyarakatnya secara utuh dan menyeluruh. Kata orang bijak, sejarah selalu berulang dan sejarah akan memberikan kesaksiannya kepada kita tentang pelbagai peristiwa yang diperbuat dan dialami manusia (tokoh) dalam ruang dan waktu. Dalam perspektif ruang dan waktu itu pulalah, tokohnya akan terbalut oleh satu di antara tiga warna: putih, hitam, atau abu-abu. Sekarang tinggal pilih, warna apakah yang dikehendaki?***
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar