Rabu, 14 Januari 2009

Batam Dalam Resa dan Resam Melayu (2)

Abdul Malik
http://batampos.co.id/

Pada 1787 Sultan Mahmud, Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Lingga kala itu, memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Hulu Riau di Bintan ke Daik di Lingga. Rombongan Sultan Mahmud berhijrah ke Lingga dengan 200 perahu. Dalam pada itu, rombongan lain yang terdiri atas 150 perahu berhijrah ke Pulau Bulang, Batam, dipimpin oleh Temenggung Abdul Jamal. Karena orang Melayu semuanya beredar, Hulu Riau menjadi kosong dari orang Melayu. Para pekerja di ladang gambir kemudian menguasai ladang milik orang Melayu di Bintan.

Apa pasal? Pemerintah kolonial Belanda pada 17 Juni 1785 mengirim David Ruhde menjadi Residen Riau pertamanya. Ruhde ternyata membawa lengkap perangai penjajahnya: kasar, angkuh, dan sombong. Sang Residen mengambil kayu-kayu dan hasil hutan Riau-Lingga tanpa meminta izin sama sekali kepada pihak Kerajaan Riau-Lingga. Tentulah Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali serta rakyat Riau-Lingga merasa dilecehkan sehingga mereka sangat marah.

Perlakuan biadab David Ruhde menuai padahnya. Belum genap dua tahun dia di Riau-Lingga, tepatnya pada 10 Mei 1787, sepasukan lanun dari Tempasok, Kalimantan Barat datang menyerang Belanda di Tanjungpinang. Kala itu benteng Belanda yang dijaga satu garnisun berkekuatan tak kurang dari 200 orang ranap dihantam pihak penyerang. Setelah benteng mereka diporak-porandakan, David Ruhde dipaksa untuk menyerah dan diberi waktu tiga hari harus meninggalkan Riau-Lingga, kembali ke Melaka. Menurut catatan penulis kronik, Ruhde terpaksa meninggalkan Riau-Lingga dan kembali ke Melaka dengan hanya mengenakan pakaian sehelai sepinggang.

Belanda tentulah tak akan percaya bahwa serangan itu semata-mata ulah para laun Tempasok. Tentulah ada aktor intelektual di belakang semua itu. Siapa lagi kalau bukan Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali? Bukan penjajah Belanda kalau tak melakukan serangan balasan.

Karena khawatir akan tindak balas Belanda, yang tentu akan membawa dampak yang tak menguntungkan, Sultan Mahmud memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Daik, Lingga. Dan, dalam kepindahan itu Temenggung Abdul Jamal menetap di Pulau Bulang, Batam.

Pangeran Oranye Belanda terlempar dari istananya. Itu terjadi akibat dari bergolaknya Revolusi Perancis di Eropa. Khawatir kawasan jajahannya jatuh ke pihak Perancis, William Oranye menyerahkannya di bawah penjagaan Inggris. Oleh Gubernur Inggris di Melaka, pada 18 September 1795 kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga dikembalikan kepada Sultan Mahmud. Hal yang sama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Sejak itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi negara yang merdeka kembali.

Engku Muda Muhammad, putra Temenggung Abdul Jamal, yang telah ditempa oleh ayahndanya di Pulau Bulang, Batam, ditunjuk oleh Sultan Mahmud sebagai pejabat sementara Yang Dipertuan Muda. Dari Pulau Bulang dia kembali ke Bintan. Negeri Riau menjadi ramai kembali dengan pelbagai aktivitas kehidupan manusia untuk anekaragam keperluannya.

Setelah Raja Ali kembali menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, Engku Muda Muhammad diangkat Sultan menjadi Temenggung Johor. Akan tetapi, dia menolak dan memilih pindah ke Singapura. Tun Ibrahim, adiknya, kemudian menggantikannya menjadi Temenggung Johor.
***

Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir bin (alm.) Yang Dipertuan Riau Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata Batam Brick Goods di Pulau Batam.

Selanjutnya, dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bertepatan dengan 26 Juli 1898 M. ketentuan itu dipertegas lagi. Bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir dikukuhkan lagi haknya sebagai pengelola Pulau Batam. Maka, berkembanglah usaha batu bata di Batam itu.

Alih-alih, Residen Riau, di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 dengan “Firman” (tanda petik oleh A.M.) No. 61/L yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops membatalkan semua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Hal itu terjadi setelah Sultan Riau-Lingga dimakzulkan (secara sepihak dituruntahtakan oleh pemerintah kolonial Belanda karena Sultan dianggap pembangkang). Semua surat kepemilikan itu harus diganti dengan surat dari Residen Riau.

Tentu saja Raja Ali Kelana, dan sebagaian orang Melayu, tak mau menerima keputusan itu. Dia dan mereka mengharamkan mengubah surat dari Sultan dengan surat dari penjajah Belanda. Sebagai akibatnya, perusahaannya di Batam dengan terpaksa harus ditinggalkannya. Begitu pun sebagian rakyat Riau-Lingga lebih memilih meninggalkan harta-benda mereka daripada menukarkan surat kepemilikan yang dibuat Sultan dengan surat penjajah Belanda. Cara itulah yang ditempuh oleh orang Melayu, bukan hanya di Batam, melainkan juga di Bintan dan tempat-tempat lain. Bagi Raja Ali Kelana dan rakyat pengikutnya, marwah bangsa jauh lebih tinggi nilainya daripada harta-benda. Untuk menjunjung marwah itulah, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan harta-benda, yang padahal, mereka adalah pemilik dan ahli waris sahnya.

Adalah aneh tetapi nyata. Dalam alam merdeka, hak mereka atas tanah dan harta-benda lain tak dipulihkan seperti yang tercantum dalam surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Padahal, mereka meninggalkan semua itu karena menentang Belanda dan tak sudi bertuankan penjajah itu. Nah, yang merdeka sebenarnya siapa?

Bagaimanakah Batam hari ini? Dunia memang terus berubah. Namun, tentu, kita sangat berharap perubahannya menjadi lebih baik, baik pada fisik daerahnya maupun pada masyarakatnya secara utuh dan menyeluruh. Kata orang bijak, sejarah selalu berulang dan sejarah akan memberikan kesaksiannya kepada kita tentang pelbagai peristiwa yang diperbuat dan dialami manusia (tokoh) dalam ruang dan waktu. Dalam perspektif ruang dan waktu itu pulalah, tokohnya akan terbalut oleh satu di antara tiga warna: putih, hitam, atau abu-abu. Sekarang tinggal pilih, warna apakah yang dikehendaki?***

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar