Minggu, 11 Januari 2009

SASTRA SUNDA YANG KIAN MENGKILAP

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra Sunda, sebagai sastra etnik, juga sastra etnik lain, diandaikan berada dalam posisi terjepit ketika berhadapan dengan sastra Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjerumuskan kedudukan sastra daerah menerima nasib dalam posisi marjinal. Sastra etnik seketika mengalami degradasi. Ia tidak dapat melepaskan bayang-bayang sastra Indonesia. Begitu juga ketika sastra daerah dikaitkan dengan perkara komersial, ia tak leluasa masuk wilayah pendukungnya. Kendala utamanya jatuh pada alasan klise: tak ada pembaca, tak ada pembeli. Penerbit pun emoh menerbitkan.

Di tengah hiruk-pikuk sastra Indonesia, sastra Sunda seolah mengalami nasib itu. Pandangan hiperbolis itu sekadar alasan bagi penerbit untuk menolak naskah berbahasa Sunda. Jika penerbit mengukur segala naskah berdasarkan pertimbangan komersial, ujungnya jatuh pada persoalan ekonomi. Penerbit tak punya idealisme dan komitmen kultural. Orientasinya satu: keuntungan material.
***

Sastrawan Sunda mengada lantaran menyeruak panggilan tanah kelahiran. Itulah idealisme kultural yang menciptakan kegelisahan anak kandung-budaya, bukan sebagai si Malin Kundang. Pembacanya hadir karena ada dorongan kultural untuk memaknai ibu-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Di situlah pasang- surut perkembangan kesusastraan, sering ditentukan oleh kondisi sosial-budaya zaman. Pada awal zaman Orde Baru kesusastraan Sunda mengalami booming. Ajip Rosidi dalam esainya, “Situasi Sastra Sunda Masa Kini” (Budaja Djaja, No. 2, Th. I, Djuli 1968), menyinggung persoalan itu. Menurutnya, situasi sastra Sunda ketika itu berbeda dengan kondisi zaman sebelumnya (1960—1965). Pada tahun 1965—1966, banyak pengarang Sunda bermunculan. Tidak sedikit pula karya sastra (Sunda) yang diterbitkan. Belum lagi puisi, cerpen, atau cerita bersambung yang dimuat suratkabar dan majalah. Dalam pengamatan Ajip, penerbit akan lebih cepat menjual sebanyak 5000 eksemplar buku (sastra Sunda) dibandingkan buku sastra berbahasa Indonesia.

Jika menengok ke belakang, masyarakat Pasundan memang punya tradisi sastra yang kokoh. Sastra lisan –termasuk folklore—sampai kini masih menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat. Dalam sastra Sunda modern pun, novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata terbit mendahului novel-novel Balai Pustaka. Azab dan Sengsara Seorang Gadis karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, terbit tahun 1920.

Secara kuantitas, pengarang dan karya berbahasa Jawa dan Sunda, jauh lebih banyak dibandingkan pengarang dan karya berbahasa Melayu. Selama enam tahun (1911—1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan tahun 1908, menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).

Meski selepas itu Balai Pustaka memilih menerbitkan naskah berbahasa Melayu, komunitas sastrawan dan pendukung sastra Sunda, masih memperlihatkan kesemarakannya. Terbitnya beberapa suratkabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914—1918), bulanan Papaes Nonoman (1914—1919), suratkabar Sipatahoenan (1923—1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929—1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931—1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilletton) menunjukkan bahwa sastra Sunda sudah berkembang baik ketika itu. Bahkan, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, M.A. Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.

Sebagai perbandingan, antara tahun 1914—1942, Balai Pustaka menerbitkan tidak lebih dari 50-an novel berbahasa Melayu. Sementara novel berbahasa Sunda yang terbit dalam rentang waktu yang sama berjumlah tidak kurang dari 40-an buah. Jadi, secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka. Artinya, tradisi penerbitan sastra Sunda, punya reputasi baik. Tentu saja tradisi yang reputasional itu tidak akan mudah hilang.
***

Jika tahun 1968, Ajip Rosidi optimis atas perkembangan sastra Sunda, lewat dua dasawarsa kemudian, dalam sambutan –berbahasa Sunda—pemberian Hadiah Sastra Rancage pertama (1989), Ajip tidak dapat menyimpan keprihatinannya. Dikatakan, di Bandung hanya ada satu toko buku yang menjual buku berbahasa Sunda. Toko buku lain tak ada yang berani menerima buku-buku berbahasa Sunda. Alasannya: tak ada yang membeli dan cuma mempersempit (ruang) saja. Apa yang terjadi kemudian?

Pemberian Hadiah Sastra Rancage, memicu perkembangan kesusastraan Sunda secara luar biasa. Setiap tahun terbit sejumlah buku sastra Sunda, berupa antologi puisi atau cerpen, dan novel. Setiap tahun grafiknya cenderung meningkat kuantitas dan kualitasnya. Sastrawan-sastrawan muda pun bermunculan. Selain nama Yus Rusyana dan sastrawan seangkatannya yang mulai surut ke belakang dan digantikan posisinya oleh sastrawan generasi Tatang Sumarsono, seperti Godi Suwarna, Juniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, Etty RS, Soni Farid Maulana, muncul pula nama –sekadar menyebut beberapa—Deden Abdul Aziz, Dadan Sutisna, dan Chiye Retty Isnendes.

Jelas, pemberian Hadiah Sastra Rancage sejak 1989 hingga kini, telah menumbuhkan kegairahan kreatif sastrawannya. Meski dalam setahun penerbitan buku sastra Sunda tidak pernah mencapai angka 20, setidaknya karya sastra yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage, telah melewati seleksi dan penilaian yang ketat. Demikian juga, meski nama baru dalam setiap tahun masih dapat dihitung dengan jari, dapat dipastikan, regenerasi sastrawan Sunda akan bergulir secara alamiah. Jika pun dalam setahun hanya muncul satu nama, ia tetap punya arti penting bagi sebuah proses regenerasi.

Kesemarakan itu makin berpengaruh luas ketika Yayasan Kebudayaan Racage, sejak tahun 1993 memberi Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak. Sejak tahun 1998 cakupannya diperluas dengan memberikan hadiah kepada karya sastra dan sastrawan Jawa dan Bali. Jadi, penghargaan bagi sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali, juga bermakna legitimatif atas pentingnya sastra daerah. Bagi kesusastraan Sunda sendiri, langkah Paguyuban Pasundan yang juga memberi Hadiah DK Ardiwinata untuk naskah buku yang belum diterbitkan, punya makna lain bagi perkembangan kesusastraan Sunda di masa depan.
***

Bagaimana kualitas karya yang memperoleh penghargaan itu? Apakah itu siasat untuk menunjukkan keberadaan sastra Sunda dalam arus deras sastra Indonesia? Bagaimana pula sastrawan Sunda menerjemahkan wawasan estetiknya? Apakah sekadar melanjutkan tradisi lisan, folklore, dan kisah supernatural yang hingga kini masih hidup dalam mitologi orang Sunda?

Andai saja dulu bahasa Sunda diangkat sebagai bahasa Indonesia, maka novel Baruang ka nu Ngarora (1914) karya DK Ardiwinata tentu menjadi monumen dalam perjalanan sastra Indonesia. Meski begitu, dibandingkan Azab dan Sengsara dan novel Balai Pustaka yang terbit sebelum merdeka, Baruang ka nu Ngarora tetap menunjukkan keunggulannya. Penokohannya tidak karikaturis, konflik kelas sosial priyayi —pedagang –lebih merepresentasikan problem sosiologis masyarakat Sunda. Bagaimana priyayi yang jadi sumber bencana rumah tangga Ujang Kusen—Nyi Rapiah, tetap hidup bahagia, sementara Ujang Kusen dan Nyi Rapiah, justru jadi pecundang. Di luar persoalan tematik, pesona bahasa Sunda dalam narasi, deskripsi latar material—sosial, dan dialog yang memperlihatkan kelas sosial –melalui undak-usuk bahasa—menjadikan novel itu tampil sebagai novel modern dalam segala hal.

Novel Sunda lain yang awal, Carios Agan Permas (1926) karya Yuhana menegaskan keberpihakan pengarang atas nasib wong cilik. Di akhir cerita, semangat membela rakyat kecil diwujudkan melalui usaha membangun rumah sakit untuk orang miskin, memelihara anak yatim dan orang jompo. Secara intrinsik pengarang berkisah melalui dua alur cerita yang berliku, yang dalam novel Indonesia digunakan Nur Sutan Iskandar (Hulubalang Raja, 1934) dan Nh Dini (Pada Sebuah Kapal, 1973). Jika dicermati, tampak juga pengaruh kisah Ciung Wanara dan Sangkuriang dengan pola inisiasi model cerita Panji. Tentu kita masih dapat menderetkan novel Sunda lainnya yang punya banyak keunggulan, seperti Matri Jero (1928) dan Pangeran Kornel (1930) karya R. Memed Sastrahadiprawira.

Salah satu kekuatan –dan kekhasan—sastra Sunda terpancar pada rasa bahasa yang memesona. Ia secara inheren melekat pada berbagai kecap anteran, morfem yang berfungsi menegaskan atau menambah kesan tertentu. Kecap anteran tak punya makna leksikal, tetapi kehadirannya penting untuk memberi bobot semantik. Kekayaan puisi Sunda (modern) salah satunya terletak pada keindahan bunyi kecap anteran ini, di samping pemanfaatan diksi yang juga sarat nuansa makna. Rasa bahasa itulah yang juga banyak dieksploitasi sastrawan Sunda untuk membangun narasi dalam cerpen atau novel. Dari sudut itu saja, sastra Sunda punya keleluasaan melakukan eksplorasi potensi bahasa.

Tetapi, bahasa apa pun yang digunakan, tetap akan gagal jadi karya baik jika pengarang tak pandai membangun kisahan, tak cerdas menyiasati alur cerita, malas mencari bahan, dan sekadar mengandalkan bakat alam. Jika begitu, ia tetap bergeming sebagai medioker. Dan itu tidak terjadi pada sastrawan Sunda. Periksa saja novel-novel Tatang Sumarsono. Demung Janggala, pemenang Hadiah Rancage 1994 ini, kaya unsur sejarah dengan narasi yang membuai. Latar sejarah dikemas menjadi potret sosial yang menggambarkan berbagai karakter manusia. Tatang tentu harus membongkar arsip tentang Dipati Ukur, Sultan Agung, kerajaan Mataram, dan kondisi masyarakat Pasundan abad ke-17.

Dalam Galuring Gending, pemenang Hadiah Rancage 2002, Tatang tidak menafsir fakta sejarah. Ia membuat “sejarah” melalui pemotretan tokoh Sarah atas peristiwa seputar kejatuhan Orde Baru. Di sana ia seperti sengaja pamer kepiawaian bercerita lewat berbagai teknik. Selain detail fisiologis tokoh-tokohnya, latar tempat, suasana dan kultural dalam berbagai gaya dialog, juga coba memanfaatkan teknik stream of consciousness. Bagi saya, Galuring Gending merupakan novel besar. Kualitasnya boleh disandingkan dengan novel Indonesia, bahkan juga dengan novel dunia.

Kekuatan cerpen—novel Sunda sejak Ardiwinata, Dyah Padmini, Tatang Sumarsono, Dadan Sutisna adalah kepiawaian mendongeng yang tidak meninggalkan deskripsi latar (tempat—sosial—kultural). Maka, ketika tokoh Sarah, Rodiah atau siapa pun, dimunculkan, terbayanglah sosok manusia dengan asesoris pakaian dan gaya bicara khas Sunda atau mewakili status sosial tertentu. Cerpen—novel Sunda cenderung tidak meninggalkan cantelan sosio-kultural. Di sinilah sastra Sunda dapat dimaknai sebagai representasi orang Sunda dalam berhadapan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Usaha penerjemahan khazanah sastra Sunda ke dalam bahasa Indonesia sesungguhnya dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat etnik lain untuk memahami sosiologi dan kultur orang Sunda.

*) Pengajar Kesusastraan Sunda di FIB-UI, Depok.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar