Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Mang Ayat! Itulah panggilan akrab Prof. Dr. Ayatrohaedi, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Salah seorang penggagas perubahan nama Fakultas Sastra UI (FSUI) menjadi FIB-UI ini, boleh dikatakan tergolong ilmuwan yang agak aneh. Di Universitas Indonesia, misalnya, dapat dipastikan, hanya Mang Ayat satu-satunya guru besar yang disapa dengan panggilan Mang. Meski ada pula yang memanggilnya Pak atau Prof., kebanyakan koleganya, karyawan, atau bahkan mahasiswa-mahasiswa pascasarjana (S-2 atau S-3) yang dibimbingnya, sudah terbiasa memanggilnya, Mang Ayat. Barangkali itulah bentuk penghormatan dan sekaligus kedekatan orang-orang yang mengenalnya. Mang Ayat sendiri, dengan gaya egaliternya, menanggapi semua itu wajar dan biasa saja. Boleh jadi karena kesederhanaanya itu pula, banyak mahasiswa baru yang sering terkecoh, bahkan di antaranya ada yang seenaknya memperlakukannya sebagai karyawan biasa. Dan Mang Ayat, juga menanggapinya biasa saja, meski belakangan mahasiswa itu takut setengah mati ketika tahu bahwa Mang Ayat adalah guru besar di jurusannya.
Keanehannya yang lain menyangkut penampilannya yang khas. Selain hampir tak pernah kelihatan pakai dasi, ia juga terkesan cuek. Cara berpakaiannya sederhana dan tak pernah lepas dengan sepatu-sandalnya. Penampilannya yang demikian, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan kekaguman mereka yang mengenal sosok Mang Ayat. Dalam kegiatannya membimbing penulisan tesis atau disertasi (S-2 dan S-3), misalnya, tak sedikit mahasiswa pascasarjana itu kerap dibuat kelimpungan. Ia dikenal sebagai pembimbing yang membaca dengan “mata elang”; sangat cermat dan tahu saja di mana kelemahan dan kesalahan itu bersembunyi, baik yang menyangkut salah ketik, kesalahan penulisan ejaan dan istilah, kekacauan kalimat, atau salah nalar dalam mengemukakan argumentasi.
Kegiatannya di kampus, jika tidak mengajar atau menguji atau usai membimbing mahasiswa yang akan menyelesaikan tesis atau disertasinya, ia bisa seenaknya keluar-masuk jurusan-jurusan, ikut mengobrol dengan dosen-dosen atau karyawan, sambil tidak lupa mengeluarkan joke-joke dan cerita-cerita lucunya. Jika tidak kelihatan keluyuran seperti itu, dapat dipastikan, ia sedang duduk menghadap komputer, menulis apa saja. Dan seminggu kemudian, tulisannya nongol di suratkabar atau majalah ibukota.
Satu hal lagi yang unik yang melekat pada diri adik kandung sastrawan Ajip Rosidi ini menyangkut kepakarannya. Sebagai lulusan sarjana sastra Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia (sekarang Jurusan Arkeologi) tahun 1964 dengan predikat Ahli Purbakala, di kalangan arkeolog, ia dikenal sebagai salah seorang empu. Hampir semua prasasti yang tersebar di seluruh Nusantara ini, pernah menjadi bahan kajiannya, atau setidak-tidaknya pernah dibacanya. Khusus mengenai prasasti-prasasti berbahasa Sunda Kuno, terutama naskah Pangeran Wangsakerta, Mang Ayat sejak awal tahun 1970-an secara gencar telah memperkenalkannya ke khalayak ramai melalui berbagai tulisan. Kemudian muncul berbagai reaksi, bahkan juga tuduhan, bahwa yang menulis naskah itu adalah Mang Ayat sendiri. Mengingat naskah itu berbahasa Sunda kuno, masyarakat tetap saja kesulitan untuk bisa mengapresiasi naskah itu.
Ketika ditanya, mengapa masyarakat belum bisa mengapresiasi prasasti berbahasa atau beraksara Sunda kuno atau Sunda buhun. Mang Ayat enteng saja berujar: “Itulah masalahnya. Sebab, dari puluhan juta orang Sunda, sekarang ini hanya tinggal lima orang yang bisa membaca aksara Sunda kuno atau Sunda buhun itu. Mereka itu adalah: (1) Edi S. Ekadjati, (2) Tien Wartini, (3) Undang Ahmad Darsa (dosen Unpad), dan (4) Hasan Djafar (dosen UI).”
“Lho, katanya lima orang?”
“Iya. Satunya yang lagi ngomong ini,” jawabnya sambil tertawa ringan.
Beberapa karya Mang Ayat di bidang arkeologi, selain artikel-artikel lepas yang dimuat di banyak suratkabar dan majalah, juga makalah-makalah dan hasil penelitiannya yang kemudian dibawakan di berbagai pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Berbagai tulisan itu kemudian dihimpun dalam buku, antara lain, Lokal Genius: Kepribadian Budaya Bangsa (1986) dan Sundakala (2005). Pemberian gelar guru besar (Profesor) merupakan bukti dedikasi dan prestasinya. Bahkan, rekan-rekan sejawatnya sesama arkeolog, secara berseloroh kerap memanggilnya “Ayatullah Rohaedi”. Lalu apanya yang “aneh” lagi dari sosok arkeolog ini?
Betul, di bidang arkeologi, tidak diragukan lagi kepakaran Ayatrohaedi ini. Tetapi, disertasi yang berjudul “Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa” (1978) tidak termasuk bidang arkeologi. Disertasinya itulah yang mengantarkannya sebagai doktor linguistik dan perintis dialektologi –salah satu bidang kajian dalam linguistik— di Indonesia. Maka dalam bidang dialektologi itu pula, Mang Ayat kini termasuk salah satu dari sebanyaknya sepuluh orang di Indonesia yang ahli di bidang itu. Menurut Prof. Dr. Amran Halim, promotornya, disertasi Ayatrohaedi merupakan disertasi pertama tentang dialektologi di Asia Tenggara. Di bidang bahasa, ia telah menghasilkan beberapa buku, antara lain, Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (berasal dari disertasi, 1985), Dialektologi: Sebuah Pengantar (1979, 1981), Tatabahasa Sunda (terjemahan karya D.K. Ardiwinata, 1985), Tatabahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda (terjemahan karya J. Kats dan R. Suriadiraja, 1986), Cerdas Tangkas Berbahasa (dua jilid, 1996). Sebagai pakar bahasa, ia telah menulis sekitar 300 artikel tentang kebahasaan yang dimuat di berbagai suratkabar dan majalah ibukota dan majalah terbitan daerah.
Sebagai ilmuwan, kiprah Mang Ayat, selain di bidang arkeologi dan linguistik, juga di bidang sastra (Sunda dan Indonesia) dan kebudayaan secara umum. Ia juga telah menghasilkan sekitar 100-an tulisan mengenai sastra Sunda, sastra Indonesia, sejarah, dan kebudayaan. Tulisan-tulisannya sangat informatif, tetapi di balik itu, ia rajin mengritik siapa atau lembaga apa saja yang dipandangnya tidak tepat dan menyalahi logika ilmiah. Maka, jika tidak hati-hati benar, kita bisa terjerat oleh provokasinya yang memang sangat argumentatif dan logis. Selain itu, dalam banyak tulisannya, ia juga gemar menyodorkan berbagai istilah yang dikeluarkannya dari kosakata bahasa Sansekerta atau bahasa Sunda.
***
Ayatrohaedi lahir di Jatiwangi, Majalengka, 5 Desember 1939. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Jatiwangi (1952), Sekolah Menengah Pertama di Majalengka (1955), ia hijrah ke Jakarta melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas yang diselesaikannya tahun 1959. Setelah itu, ia masuk Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia Fakultas Sastra UI dan lulus akhir tahun 1964.
Selesai kuliah, Ayatrohaedi bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Belum setahun bekerja di sana, ia dipindahkan ke Mojokerto (1965—1966). Karena situasi politik yang kacau ketika itu, ia memutuskan untuk mengundurkan dari pekerjaannya itu. Tetapi, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung menariknya menjadi pengajar di sana (1966—1972).
Ketika ada kesempatan mengikuti Pelatihan Lanjutan Linguistik dan Filologi di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte di Universitas Leiden, Ayatrohaedi ikut program itu selama hampir tiga tahun (1971—1973). Minatnya untuk mendalami dialektologi membawanya ke Prancis. Mula-mula bermukim di Bordeaux untuk meningkatkan kemahiran bahasa Prancis. Kemudian pindah ke Grenoble untuk mendalami teori dan metode penelitian dialektologi. Pulang dari Prancis, Ayatrohaedi mengajar di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan terus bertahan hingga pensiun tahun 2004.
Beberapa jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain, Ketua Jurusan Arkeologi (1983—1987), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (1989—1994), dan Pembantu Dekan Bidang Akademik FSUI (1999—2000).
***
Kiprahnya sebagai sastrawan dimulai samasa masih SMP (dalam bahasa Sunda) dan kelas satu SMA (dalam bahasa Indonesia). Cerpen pertamanya, berjudul “Sejak Itu” yang dimuat majalah Tjerita, No. 2, Januari 1957 merupakan awal kepengarangannya dalam sastra Indonesia. Sejak itu beberapa cerpennya dimuat juga di majalah Tjerita, Siasat, dan Mimbar Indonesia, tiga majalah sastra yang waktu itu sangat berpengaruh. Selain di majalah Mimbar Indonesia dan Siasat, masih ada sekitar 90-an puisinya yang dipublikasikan melalui majalah Basis, Djaja, Pustaka dan Budaya, Budaya Jaya, Trio, Berita Indonesia, dan Seloka. Semua dihasilkan antara tahun 1957 sampai 1978.
Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, Ayatrohaedi –seperti kebanyakan sastrawan pada masa itu—aktif pula dalam berbagai kegiatan dan hiruk-pikuk sastra waktu itu. Ketika terjadi polemik antara kubu pendukung humanisme universal dan kubu realisme sosialis, ia memang belum terlalu jauh masuk dalam konflik itu. Tetapi, posisinya yang demikian, Ayatrohaedi, bersama sastrawan lainnya, seperti Ajip Rosidi, Ramadhan KH, dan Toto Sudarto Bachtiar, seperti terjepit di tengah dua arus besar pertentangan kubu humanisme universal –para pendukung Manifes Kebudayaan—dan realisme sosialis –para pendukung Lekra/PKI. Itulah sebabnya, keikutsertaannya sebagai peserta dalam Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI), 1—7 Maret 1964 yang –sebelum dan sesudah penyelenggaraan konferensi itu—begitu gencar ditentang kubu Lekra/PKI, mengatasnamakan kelompok sastrawan Bandung, tetapi sekaligus juga menunjukkan sikap tegas dan pemihakan Ayatrohaedi dalam konflik kedua kubu itu.
Sebagai reaksi atas penyelenggaraan KKPI, Lekra/PKI kemudian menyelenggarakan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner, 28 Agustus—2 September 1964. Golongan Lekra/PKI kemudian memelesetkan singkatan KKPI menjadi KK-PSI yang mengesankan sebagai Konferensi Karyawan Partai Sosialis Indonesia. Secara tegas golongan Lekra/PKI menyatakan bahwa sastrawan yang mengikuti KKPI adalah golongan kontrarevolusi, reaksioner, penjilat, dan munafik. Belakangan, mereka yang terlibat dalam konferensi itu, banyak yang mengalami teror dan tekanan dari pihak Lekra/PKI.
Dalam situasi yang demikian, Ayatrohaedi tidak kehilangan kreativitasnya. Ia terus menulis esai, cerpen, dan puisi. Dua kumpulan cerpennya yang terbit pada masa itu adalah Yang Tersisih (1965) dan Warisan (1965). Sejumlah puisinya yang dimuat di berbagai majalah sejak tahun 1957 kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Pabila dan di Mana (1977). Di samping itu, Ayatrohaedi juga menulis cerita anak, yaitu Panji Segala Raja (1974), Ogin si Anak Sakti (1992), dan Panggung Keraton (1993). Adapun karya terjemahannya, antara lain, Puisi Negro (1976), Senandung Ombak (terjemahan novel Yukio Mishima, 1976), Kacamata Sang Singa (cerita anak, terjemahan karya G. Vildrac, 1980).
Ayatrohaedi, seperti juga beberapa sastrawan Indonesia yang begitu peduli pada kebudayaan dan bahasa daerahnya, seperti Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Suripan Sadi Hutomo, Jus Rusyana, dan beberapa sastrawan lainnya, bisa seenaknya bolak-balik menulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah (Sunda) dan bahasa Indonesia. Maka, selain menulis dalam bahasa Indonesia, Ayatrohaedi juga menulis dalam bahasa Sunda. Karya kreatifnya dalam bahasa Sunda, di antaranya, Hujan Munggaran (kumpulan cerpen, 1960), Kabogoh Tere (Roman, 1967), Pamapag (antologi puisi, 1972), dan Di Kebon Binatang (1990).
Beberapa bukunya yang sedang dalam proses penerbitan, antara lain, Bahasa Indonesia: Api dalam Sekam (kumpulan makalah tentang bahasa Indonesia), Kepala Kerbau (kumpulan esai bahasa, sastra, sejarah, budaya), (Ge)litik Bahasa (kumpulan esai bahasa Indonesia dalam kolom harian Kompas), Gerombolan (kumpulan cerpen), Kata, Mata, Mata, Kata (kumpulan puisi), dan (Ke)kasih Abadi (novel).
***
Demikianlah, sosok Ayatrohaedi, Sang Guru Besar yang “aneh” itu, dengan kesederhanaan dan keunikannya, tetap memancarkan kekaguman bagi mereka yang mengenal kiprah kepakarannya di bidang arkeologi, linguistik, sejarah, sastra (Sunda dan Indonesia), dan kebudayaan. Ternyata, penampilan yang sederhana itu tak mengurangi kekaguman dan rasa hormat orang kepadanya. Itulah sosok sastrawan Prof. Dr. Ayatrohaedi!
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar