Jumat, 16 Januari 2009

PROFESOR ANEH YANG SASTRAWAN: AYATROHAEDI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Mang Ayat! Itulah panggilan akrab Prof. Dr. Ayatrohaedi, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Salah seorang penggagas perubahan nama Fakultas Sastra UI (FSUI) menjadi FIB-UI ini, boleh dikatakan tergolong ilmuwan yang agak aneh. Di Universitas Indonesia, misalnya, dapat dipastikan, hanya Mang Ayat satu-satunya guru besar yang disapa dengan panggilan Mang. Meski ada pula yang memanggilnya Pak atau Prof., kebanyakan koleganya, karyawan, atau bahkan mahasiswa-mahasiswa pascasarjana (S-2 atau S-3) yang dibimbingnya, sudah terbiasa memanggilnya, Mang Ayat. Barangkali itulah bentuk penghormatan dan sekaligus kedekatan orang-orang yang mengenalnya. Mang Ayat sendiri, dengan gaya egaliternya, menanggapi semua itu wajar dan biasa saja. Boleh jadi karena kesederhanaanya itu pula, banyak mahasiswa baru yang sering terkecoh, bahkan di antaranya ada yang seenaknya memperlakukannya sebagai karyawan biasa. Dan Mang Ayat, juga menanggapinya biasa saja, meski belakangan mahasiswa itu takut setengah mati ketika tahu bahwa Mang Ayat adalah guru besar di jurusannya.

Keanehannya yang lain menyangkut penampilannya yang khas. Selain hampir tak pernah kelihatan pakai dasi, ia juga terkesan cuek. Cara berpakaiannya sederhana dan tak pernah lepas dengan sepatu-sandalnya. Penampilannya yang demikian, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan kekaguman mereka yang mengenal sosok Mang Ayat. Dalam kegiatannya membimbing penulisan tesis atau disertasi (S-2 dan S-3), misalnya, tak sedikit mahasiswa pascasarjana itu kerap dibuat kelimpungan. Ia dikenal sebagai pembimbing yang membaca dengan “mata elang”; sangat cermat dan tahu saja di mana kelemahan dan kesalahan itu bersembunyi, baik yang menyangkut salah ketik, kesalahan penulisan ejaan dan istilah, kekacauan kalimat, atau salah nalar dalam mengemukakan argumentasi.

Kegiatannya di kampus, jika tidak mengajar atau menguji atau usai membimbing mahasiswa yang akan menyelesaikan tesis atau disertasinya, ia bisa seenaknya keluar-masuk jurusan-jurusan, ikut mengobrol dengan dosen-dosen atau karyawan, sambil tidak lupa mengeluarkan joke-joke dan cerita-cerita lucunya. Jika tidak kelihatan keluyuran seperti itu, dapat dipastikan, ia sedang duduk menghadap komputer, menulis apa saja. Dan seminggu kemudian, tulisannya nongol di suratkabar atau majalah ibukota.

Satu hal lagi yang unik yang melekat pada diri adik kandung sastrawan Ajip Rosidi ini menyangkut kepakarannya. Sebagai lulusan sarjana sastra Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia (sekarang Jurusan Arkeologi) tahun 1964 dengan predikat Ahli Purbakala, di kalangan arkeolog, ia dikenal sebagai salah seorang empu. Hampir semua prasasti yang tersebar di seluruh Nusantara ini, pernah menjadi bahan kajiannya, atau setidak-tidaknya pernah dibacanya. Khusus mengenai prasasti-prasasti berbahasa Sunda Kuno, terutama naskah Pangeran Wangsakerta, Mang Ayat sejak awal tahun 1970-an secara gencar telah memperkenalkannya ke khalayak ramai melalui berbagai tulisan. Kemudian muncul berbagai reaksi, bahkan juga tuduhan, bahwa yang menulis naskah itu adalah Mang Ayat sendiri. Mengingat naskah itu berbahasa Sunda kuno, masyarakat tetap saja kesulitan untuk bisa mengapresiasi naskah itu.

Ketika ditanya, mengapa masyarakat belum bisa mengapresiasi prasasti berbahasa atau beraksara Sunda kuno atau Sunda buhun. Mang Ayat enteng saja berujar: “Itulah masalahnya. Sebab, dari puluhan juta orang Sunda, sekarang ini hanya tinggal lima orang yang bisa membaca aksara Sunda kuno atau Sunda buhun itu. Mereka itu adalah: (1) Edi S. Ekadjati, (2) Tien Wartini, (3) Undang Ahmad Darsa (dosen Unpad), dan (4) Hasan Djafar (dosen UI).”

“Lho, katanya lima orang?”
“Iya. Satunya yang lagi ngomong ini,” jawabnya sambil tertawa ringan.
Beberapa karya Mang Ayat di bidang arkeologi, selain artikel-artikel lepas yang dimuat di banyak suratkabar dan majalah, juga makalah-makalah dan hasil penelitiannya yang kemudian dibawakan di berbagai pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Berbagai tulisan itu kemudian dihimpun dalam buku, antara lain, Lokal Genius: Kepribadian Budaya Bangsa (1986) dan Sundakala (2005). Pemberian gelar guru besar (Profesor) merupakan bukti dedikasi dan prestasinya. Bahkan, rekan-rekan sejawatnya sesama arkeolog, secara berseloroh kerap memanggilnya “Ayatullah Rohaedi”. Lalu apanya yang “aneh” lagi dari sosok arkeolog ini?

Betul, di bidang arkeologi, tidak diragukan lagi kepakaran Ayatrohaedi ini. Tetapi, disertasi yang berjudul “Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa” (1978) tidak termasuk bidang arkeologi. Disertasinya itulah yang mengantarkannya sebagai doktor linguistik dan perintis dialektologi –salah satu bidang kajian dalam linguistik— di Indonesia. Maka dalam bidang dialektologi itu pula, Mang Ayat kini termasuk salah satu dari sebanyaknya sepuluh orang di Indonesia yang ahli di bidang itu. Menurut Prof. Dr. Amran Halim, promotornya, disertasi Ayatrohaedi merupakan disertasi pertama tentang dialektologi di Asia Tenggara. Di bidang bahasa, ia telah menghasilkan beberapa buku, antara lain, Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (berasal dari disertasi, 1985), Dialektologi: Sebuah Pengantar (1979, 1981), Tatabahasa Sunda (terjemahan karya D.K. Ardiwinata, 1985), Tatabahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda (terjemahan karya J. Kats dan R. Suriadiraja, 1986), Cerdas Tangkas Berbahasa (dua jilid, 1996). Sebagai pakar bahasa, ia telah menulis sekitar 300 artikel tentang kebahasaan yang dimuat di berbagai suratkabar dan majalah ibukota dan majalah terbitan daerah.

Sebagai ilmuwan, kiprah Mang Ayat, selain di bidang arkeologi dan linguistik, juga di bidang sastra (Sunda dan Indonesia) dan kebudayaan secara umum. Ia juga telah menghasilkan sekitar 100-an tulisan mengenai sastra Sunda, sastra Indonesia, sejarah, dan kebudayaan. Tulisan-tulisannya sangat informatif, tetapi di balik itu, ia rajin mengritik siapa atau lembaga apa saja yang dipandangnya tidak tepat dan menyalahi logika ilmiah. Maka, jika tidak hati-hati benar, kita bisa terjerat oleh provokasinya yang memang sangat argumentatif dan logis. Selain itu, dalam banyak tulisannya, ia juga gemar menyodorkan berbagai istilah yang dikeluarkannya dari kosakata bahasa Sansekerta atau bahasa Sunda.
***

Ayatrohaedi lahir di Jatiwangi, Majalengka, 5 Desember 1939. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Jatiwangi (1952), Sekolah Menengah Pertama di Majalengka (1955), ia hijrah ke Jakarta melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas yang diselesaikannya tahun 1959. Setelah itu, ia masuk Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia Fakultas Sastra UI dan lulus akhir tahun 1964.

Selesai kuliah, Ayatrohaedi bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Belum setahun bekerja di sana, ia dipindahkan ke Mojokerto (1965—1966). Karena situasi politik yang kacau ketika itu, ia memutuskan untuk mengundurkan dari pekerjaannya itu. Tetapi, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung menariknya menjadi pengajar di sana (1966—1972).

Ketika ada kesempatan mengikuti Pelatihan Lanjutan Linguistik dan Filologi di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte di Universitas Leiden, Ayatrohaedi ikut program itu selama hampir tiga tahun (1971—1973). Minatnya untuk mendalami dialektologi membawanya ke Prancis. Mula-mula bermukim di Bordeaux untuk meningkatkan kemahiran bahasa Prancis. Kemudian pindah ke Grenoble untuk mendalami teori dan metode penelitian dialektologi. Pulang dari Prancis, Ayatrohaedi mengajar di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan terus bertahan hingga pensiun tahun 2004.

Beberapa jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain, Ketua Jurusan Arkeologi (1983—1987), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (1989—1994), dan Pembantu Dekan Bidang Akademik FSUI (1999—2000).
***

Kiprahnya sebagai sastrawan dimulai samasa masih SMP (dalam bahasa Sunda) dan kelas satu SMA (dalam bahasa Indonesia). Cerpen pertamanya, berjudul “Sejak Itu” yang dimuat majalah Tjerita, No. 2, Januari 1957 merupakan awal kepengarangannya dalam sastra Indonesia. Sejak itu beberapa cerpennya dimuat juga di majalah Tjerita, Siasat, dan Mimbar Indonesia, tiga majalah sastra yang waktu itu sangat berpengaruh. Selain di majalah Mimbar Indonesia dan Siasat, masih ada sekitar 90-an puisinya yang dipublikasikan melalui majalah Basis, Djaja, Pustaka dan Budaya, Budaya Jaya, Trio, Berita Indonesia, dan Seloka. Semua dihasilkan antara tahun 1957 sampai 1978.

Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, Ayatrohaedi –seperti kebanyakan sastrawan pada masa itu—aktif pula dalam berbagai kegiatan dan hiruk-pikuk sastra waktu itu. Ketika terjadi polemik antara kubu pendukung humanisme universal dan kubu realisme sosialis, ia memang belum terlalu jauh masuk dalam konflik itu. Tetapi, posisinya yang demikian, Ayatrohaedi, bersama sastrawan lainnya, seperti Ajip Rosidi, Ramadhan KH, dan Toto Sudarto Bachtiar, seperti terjepit di tengah dua arus besar pertentangan kubu humanisme universal –para pendukung Manifes Kebudayaan—dan realisme sosialis –para pendukung Lekra/PKI. Itulah sebabnya, keikutsertaannya sebagai peserta dalam Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI), 1—7 Maret 1964 yang –sebelum dan sesudah penyelenggaraan konferensi itu—begitu gencar ditentang kubu Lekra/PKI, mengatasnamakan kelompok sastrawan Bandung, tetapi sekaligus juga menunjukkan sikap tegas dan pemihakan Ayatrohaedi dalam konflik kedua kubu itu.

Sebagai reaksi atas penyelenggaraan KKPI, Lekra/PKI kemudian menyelenggarakan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner, 28 Agustus—2 September 1964. Golongan Lekra/PKI kemudian memelesetkan singkatan KKPI menjadi KK-PSI yang mengesankan sebagai Konferensi Karyawan Partai Sosialis Indonesia. Secara tegas golongan Lekra/PKI menyatakan bahwa sastrawan yang mengikuti KKPI adalah golongan kontrarevolusi, reaksioner, penjilat, dan munafik. Belakangan, mereka yang terlibat dalam konferensi itu, banyak yang mengalami teror dan tekanan dari pihak Lekra/PKI.

Dalam situasi yang demikian, Ayatrohaedi tidak kehilangan kreativitasnya. Ia terus menulis esai, cerpen, dan puisi. Dua kumpulan cerpennya yang terbit pada masa itu adalah Yang Tersisih (1965) dan Warisan (1965). Sejumlah puisinya yang dimuat di berbagai majalah sejak tahun 1957 kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Pabila dan di Mana (1977). Di samping itu, Ayatrohaedi juga menulis cerita anak, yaitu Panji Segala Raja (1974), Ogin si Anak Sakti (1992), dan Panggung Keraton (1993). Adapun karya terjemahannya, antara lain, Puisi Negro (1976), Senandung Ombak (terjemahan novel Yukio Mishima, 1976), Kacamata Sang Singa (cerita anak, terjemahan karya G. Vildrac, 1980).

Ayatrohaedi, seperti juga beberapa sastrawan Indonesia yang begitu peduli pada kebudayaan dan bahasa daerahnya, seperti Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Suripan Sadi Hutomo, Jus Rusyana, dan beberapa sastrawan lainnya, bisa seenaknya bolak-balik menulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah (Sunda) dan bahasa Indonesia. Maka, selain menulis dalam bahasa Indonesia, Ayatrohaedi juga menulis dalam bahasa Sunda. Karya kreatifnya dalam bahasa Sunda, di antaranya, Hujan Munggaran (kumpulan cerpen, 1960), Kabogoh Tere (Roman, 1967), Pamapag (antologi puisi, 1972), dan Di Kebon Binatang (1990).

Beberapa bukunya yang sedang dalam proses penerbitan, antara lain, Bahasa Indonesia: Api dalam Sekam (kumpulan makalah tentang bahasa Indonesia), Kepala Kerbau (kumpulan esai bahasa, sastra, sejarah, budaya), (Ge)litik Bahasa (kumpulan esai bahasa Indonesia dalam kolom harian Kompas), Gerombolan (kumpulan cerpen), Kata, Mata, Mata, Kata (kumpulan puisi), dan (Ke)kasih Abadi (novel).
***

Demikianlah, sosok Ayatrohaedi, Sang Guru Besar yang “aneh” itu, dengan kesederhanaan dan keunikannya, tetap memancarkan kekaguman bagi mereka yang mengenal kiprah kepakarannya di bidang arkeologi, linguistik, sejarah, sastra (Sunda dan Indonesia), dan kebudayaan. Ternyata, penampilan yang sederhana itu tak mengurangi kekaguman dan rasa hormat orang kepadanya. Itulah sosok sastrawan Prof. Dr. Ayatrohaedi!

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar