Weli Meinindartato
Adegan 1
(Layar panggung dibuka)
Pemain utama memasuki panggung, berada di tengah dan melakukan percakapan monolog ke arah penonton.
Pemain 1: “Memang pada suatu saat aku perlu meluruskan hidupku yang telah lama berceceran. Entah karena kesadaranku telah tumbuh dalam diri atau karena memang demikian, hidup memerlukan saat-saat yang monumental terhadap apa yang namanya pencerahan atau apapun sebutannya.”
(Berjalan ke samping kanan dan kiri, bolak-balik sambil terus mengucapkan monolog, dengan tetap menghadap penonton)
Pemain 1:“Aku yang telah menyicipi dunia lebih dari seperempat abad tapi lebih terasa lebih lama mengenyamnya. Apakah aku merupakan titisan kedua dari diriku yang sebelumnya dan berupaya mencapai ujung moksa. Sepertinya ada yang salah dengan diriku terdahulu.”
(Masuk pemain 2, berada di sudut kanan panggung, memberi narasi)
Pemain 2 :“Celakalah bagi orang-orang yang mewarisi dosa yang belum pernah ia lakukan dalam hidupnya.”
(Pemain 1 melanjutkan kalimat)
Pemain 1:“Seseorang yang sia-sia dalam hidup adalah orang yang seperti itu. Aku dan aku yang nantinya adalah pewaris yang sah dari aku sebelumnya.”
(pemain 1 surut kebelakang panggung, disusul pemain 2)
(layar panggung ditutup)
Adegan 2
(layar panggung dibuka)
Sesosok tubuh yang roboh (pemain 1) dengan tertelungkup telah ditinggalkan oleh serombongan orang yang memakai baju coklat dengan tameng fiber dan penutup kepala dari plastik anti pecah, polisi anti huru-hara.
Orang yang terakhir (pemain 3) tampak menengok ke belakang ke arah tubuh yang roboh masih menyempatkan kembali menghajar tubuh orang yang jatuh roboh itu dengan godam karetnya lalu menendang pinggangnya.
Pemain 3:“biar mampus lu, sekalian!”
Tak ada pengaruh pada tubuh yang roboh. Tetap diam tak bergeming
Sedang tertelungkup, darah mengalir keluar dari kepalanya.
Lalu datang impian tentang rumah rakitan di atas pohon, di wajahnya terlihat senyuman.
(layar panggung ditutup)
Adegan 3
Flash back
(layar panggung di buka)
Monolog
(pemain bercerita tentang dirinya, mengekspresikannya dengan gerak sesuai alur yang diceritakannya)
Pemain 4:“Aku anak berumur sepuluh tahun yang sudah mulai berpetualang. Aku dalam tidurku masih sama lelapnya seperti tidur yang sebelum-sebelumnya masih juga dengan mimpi-mimpi tentang rumah rakitan di atas pohon nangka di belakang rumahku. Tiap malam selalu dengan mimpi itu dan tak ada habis-habisnya cerita tentang pembangunan rumah yang dirasa belum sempurna walaupun sudah sering ditinggali untuk tidur siang dan pada saat malam sewaktu ibuku terlengah dari pelarianku kerumah rakitan, hingga besok paginya aku terbangun masih di tempat yang sebelumnya, di kamarku. Rasa jengkel pasti datang ketika menyadari aku telah dipindahkan ke tempat semula, tak habis pikir mengapa itu tak tersadarkan pada saat tubuhku yang ringan bagai triplek ini dibopong pulang ke kandang, kamarku. Dan besok paginya pastinya kakak ku akan mengomel dengan bibir yang lebih maju satu senti dari biasanya, sebab ujarnya bahwa hanya dia yang bersusah payah menjemputku dan menggendongku, berkali-kali ia cerita bahwa ia sangat sulit membangunkanku dengan segala cara. Pernah ia menampar, menggulingkan tubuhku, memijit jempol kakiku yang dianggapnya aku ini orang yang sedang kerasukan setan, tapi tetap saja aku terlelap. Ibuku yang cemas selalu meminta bapak atau kakakku untuk mengambilku dari atas pohon. Tak habis pikir, mengapa mereka tega menghancurkan keinginanku untuk terjaga esok paginya di atas rumah pohon rakitanku.”
“Suatu hari aku naik keatas loteng rumah dan melihat keindahan dari cahaya yang masuk lewat genteng. Berdebu dan banyak barang-barang tua yang tak terpakai. Memang loteng menjadi gudang bagi kami sekeluarga. Ketika semua orang tak ada dirumah hanya aku seorang, inilah waktu yang tepat untuk berbenah loteng. Horeee!!
“Pekerjaan itu layaknya bermain-main, pegang kemoceng lalu mainkan, wuus...wuus seperti Brama Kumbara memainkan pedangnya, pedang membabat ke kiri lalu menusuk ke depan ditarik dan maju babat kanan lalu berbalik ke belakang dengan mengacungkan pedang dan mulai membabat, membabat dan membabat. Angkat perkakas lawas seperti permainan bongkar pasang, angkat – singkirkan – taruh – singkirkan – taruh – angkat. Menyapu dan mengepel itu lebih kusuka. Tanpa terasa waktu sore dan semua sudah selesai rapi dan saatnya aku tidur di atas kertas kardus yang telah kususun. Esok paginya aku bangun di tempat yang sama, loteng. Segarnya tubuhku, wah senang sekali rasanya bisa seperti ini. Mulai saat itu aku adalah penghuni loteng yang tidak bisa diganggu-gugat. Kebahagiaan seperti itu tak akan terlupakan dalam hidupku. Tapi mengapa tetap saja hingga kini mimpi tentang rumah rakitan di atas pohon nangka itu tak pernah lepas dalam mimpi-mimpiku.”
Adegan 4
diruang perawatan
Pemain 1 berjalan gontai dengan ditopang seorang temannya (pemain 5) meraih kursi roda untuk diduduki. Juru rawat memeriksa perban di kepala, setelah selesai diobati 2 orang temannya (pemain 6-7) yang lain datang menghampiri. Terjadi Dialog
Pemain 6: hai bung!
Pemain 5: kemana saja kalian sewaktu terjadinya chaos kemarin?
Pemain 6: aku sudah ada diluar area demo
(mendadak semua pemain diam mematung kecuali pemain 1, melakukan monolog ke arah penonton)
Pemain 1: “aku melihat ia berada di tengah pasukan anti huru-hara menjelang terjadinya bentrokan”
(keadaan kembali seperti semula, semua dapat bergerak. Dialog dilanjutkan)
Pemain 7: gua lari ke arah Tengku Umar, eh... bagaimana kabar elu, kepala lu masih pusing?
Pemain 1 : aduh berat banget nih pala.
(sambil memegang keningnya)
pemain 5 : gimana nggak berat tuh pala, lu pingsan 10 jam. Tim palang merah nemuin lu di pojok dekat tempat sampah, dengan darah memenuhi muka dan kaos lu yang putih dekil udah ganti warna merah. Sebelumnya elu udah ngilang tiga jam setelah tadi chaos.......
(dst. dengan uraian yang lebih panjang lagi dan lambat laun terdengar sayup)
(mendengar uraian yang panjang dari temannya, pemain pertama menjadi bertambah pusing, lantas tertidur diatas kursi rodanya karena pengaruh obat).
Pemain 5: “tuh khan, dia masih terpengaruh obat, biar dia istirahat dulu, jangan lu ajak ngobrol dulu.”
(impian masa kecil kembali terulang, rumah rakitan di atas pohon nangka sedang dirovasi atapnya yang bocor. Saat itu sedang hujan besar)
Adegan 5
Seseorang datang mengetuk pintu. perawakannya yang khas, dengan rambut yang kaku ke atas dan pakaian ketat yang kumel dengan asesoris memenuhi tubuhnya. Aku yang lelah tetap enggan bangun dan berdiri untuk membukanya. Suara ketukan pintu kembali terdengar lebih. Mataku yang terpejam merasa sedikit terusik, terpaksa aku bangkit dan melangkah menuju pintu. Merasa ragu untuk membukanya agaknya lebih baik ku tanyakan siapa gerangan di luar.
Pemain 1: siapa ?
Pemain 8: aku
(suara yang aku kenal baik, kala ini suara itu nampak tergesa-gesa dengan nafas yang memburu)
pemain 8: polisi sedang mencariku
(mendengar begitu, keinginan untuk membuka pintu menjadi ragu dan tinbul rasa was-was, lantas aku batalkan)
kemudian aku tanyakan
pemain 1: lalu kenapa kau ke sini
pemain 8: yang aku ingat hanya tempatmu ini
pemain 1: Mengapa pada saat-saat genting seperti ini yang kamu ingat hanya aku. Dan kau tau sendiri kalau aku paling tidak suka berurusan dengan cecunguk yang bernama polisi. Semua kebiasaan buruk yang memancing mereka sudah aku hentikan.
Pemain 8: tolonglah
(pintu masih tertutup dan aku ragu untuk membukanya)
pemain 8 : ingatkah dulu, sewaktu kau terluka parah dan hanya aku yang menyelamatkanmu dari kematian. Hanya aku yang menolongmu. Jadi tolong bukakan pintu.
(pemain 1 menghadap penonton )
pemain 1: “aku masih mengingatnya, kejadian itu yang membuatku tidak menyukai kekerasan dan kesewenangan. Kejadian yang membuatku sadar bahwa dunia ini keras, kebenaran yang aku dan teman-teman usung menjadi sebab orang lain tak menyukainya. Dan membela orang lemah adalah sesuatu yang haram bagi mereka yang menyukai kekuasaan. Adalah tindakan yang konyol hanya diam dan tak memberi tanggapan terhadap kejadian yang dzolim pada lingkungan sekitar sehingga tidak mampu melakukan perlawanan.”
(sesaat kemudian, pemain 1 menghadap ke pintu dan kembali berkata kepada temannya)
pemain 1: sekarang perkara apa yang kau bawa, pasti kau masih menjual obat-obatan
Pemain 8: sudahlah kalau kau tau, sekarang bukalah pintunya, agar aku dapat sembunyi. Waktu sudah mendesak, dan rasanya hanya disini tempat yang aman.
(pemain 1 kembali menghadap penonton)
permain 1: “setiap orang yang datang kepadaku hanyalah meminta pertolongan padaku, mereka tidak tahu bahwa akulah yang perlu mereka tolong.”
(kemudian pemain 1 menghadap pintu kembali)
Pemain 1: kau juga tahu aku di sini untuk sembunyi. Dan kau datang ke sini juga untuk hal yang sama. Kau dan aku bukan pada perkara yang sama. Lalu bagaimana nanti terhadap apa yang nantinya terjadi padaku bila aku juga tertangkap dan disangkut-pautkan dengan kasusmu. Aku tak mau mengotori semangat perjuanganku dengan hal yang tak berguna dengan membuat mimpi-mimpi yang akhirnya merusak otakku.
Pemain 8: yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri. Kau tak rela orang lain hadir dalam serentetan takdir dirimu, padahal yang terjadi pada orang lain juga akibat dari tingkahmu yang kau anggap suatu kebenaran postulat. Ingatlah bung! Semua orang menjalankan hidupnya sesuai apa-apa yang diharapkan dan perwujudan tindakan. Kau sendiri, mengapa lantas menjadi seperti ini. Menjadi orang pelarian, lantas apa pengaruhnya? Kau tidak akan menjadi pahlawan, bung! Dan bahwasanya otakmu memang sudah rusak oleh idealisme yang kau buat terhadap dunia-dunia mimpi yang juga terlahir dari pandangan-pandanganmu terhadap apa yang namanya negara dan demokrasi.
Pemain 1: Biar saja! Setidaknya hal itulah yang dapat ku banggakan, tapi dirimu, kau ini adalah racun bagi semua manusia yang ada di dunia.
Pemain 8: racun, aku ini racun, hei bung!
Buku-buku yang kau baca juga adalah racun. Bayangkan saja karena buku-buku yang kau baca dapat merubah dirimu seperti ini, hilangnya persahabatan. Dimana waktu remaja kau dan aku menjalani masa-masa itu bersama, hidup di jalan dan menemukan tantangan di sana. Dan karena buku-bukumu kau menjadi orang pelarian, bersembunyi pada ketidak pastian keadaan yang ada di luar.
Pemain 1: setidaknya aku dapat berbangga dengan diriku sendiri.
Pemain 8: Buku-buku itu memang benar-benar telah meracunimu.
Pemain 1: hidup memang bergerak dan berubah. Setidaknya aku berubah pada wujud yang lebih baik dari pada yang lalu, bagaimana dengan kamu yamg hidupmu tidak mengalami perubahan sedikitpun.
Pemain 8: itu menurutmu, tapi aku dan komunitasku yang lain merasa bahwa jalanan memberikan pengetahuan yang banyak dan membuka cakrawalaku terhadap dunia.
Pemain1 : segerombolan orang sepertimu itu juga adopsi dan tidak murni, bung! Budaya yang bebas pada komunitas punkermu lebih meresahkan masyarakat. Dan hal-hal yang ke barat-baratan kau bawa juga ke sini. Mengapa kau dan teman-temanmu tidak tinggal tuh....di Inggris sana.
Pemain 8: kami di jalan tidak pernah meminta, mencuri apalagi memeras. Tingkah kami adalah perwujudan dari situasi dunia sekarang ini. Dan itu relevan. Kami berjalan dibumi selaras dengan wajah bumi itu sendiri. Kedewasaan kami adalah kedewasaan praxis. Segala proses yang bernama kedewasaan itu tercipta dari sejumlah pengalaman dan memiliki tangga-tangga yang musti dilalui. Bahwasanya dalam hidup ............
(kata-katanya terputus dan berpikir kembali, merasa tidak perlu meneruskan perdebatan berlarut-larut, kemudia dilanjutkan kembali)
pemain 8: ahhhh, sudah. Bukalah cepat!
(Pemain 1 terlihat bimbang)
Pemain 8: perlawanan yang kamu jalankan seperti aku juga. Kita ingin merobohkan tembok besar yang menghalangi pandangan dan berupaya mengenyahkannya.
(pemain 1 menjadi gusar)
pemain 8: kita adalah sama-sama orang pelarian.
(pemain 1, kata-kata ini begitu dalam, dan membuatnya merasa sedih)
(pemain 1 menghadap ke penonton)
pemain 1: “aku tak mengerti mengapa aku menjadi seperti ini, orang-orang dalam persembunyian. Berahi apa yang menyebabkanku menjadi wujud yang amat asing bagi ku sendiri. Bahkan aku takut melihat diriku sendiri, dan ketakutan itu telah hadir dan melebihi ketakutanku pada persembunyian ini.”
(Kesadaran itu pecah oleh suara yang memelas)
Pemain 8: Sudilah untuk menolongku dan bersembunyi di sini.
(Pemain 1 bergegas membukakan pintu, kedua orang itu saling berpelukan)
Pemain 1: Marilah bersembunyi di sini. Jangan takut mereka tidak akan tahu. Dan mari kita kembali bercerita tentang masa remaja kita yang indah dulu.
Sesaat kemudian terdengar kegaduhan di depan rumah dan ada langkah derapan orang-orang yang bergegas. Suara derap langkah itu semakin lama semakin terdengar. Kami berdua merasa cemas. Langkah itu menuju kamarku, dengan segera kututup pintu dan ku kunci dari dalam.
Suara derap itu semakin jelas ada di depan pintu. seseorang berkata dengan keras ke arah kami yang ada di dalam.
Pemain 9: Siswo!! Nurrohman!! Menyerahlah, cepat buka pintu!
Suara itu memanggil kami berdua, kami saling berhadapan. Dan bergegas mencari jalan keluar.
Terdengar tendangan keras ke pintu kami. Pintu itu terbuka.
Acungan senjata telah mengarah ketubuh kami berdua.
Kami digiring keluar
TAMAT.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar