Senin, 05 Januari 2009

ORANG-ORANG PELARIAN

Weli Meinindartato

Adegan 1

(Layar panggung dibuka)
Pemain utama memasuki panggung, berada di tengah dan melakukan percakapan monolog ke arah penonton.

Pemain 1: “Memang pada suatu saat aku perlu meluruskan hidupku yang telah lama berceceran. Entah karena kesadaranku telah tumbuh dalam diri atau karena memang demikian, hidup memerlukan saat-saat yang monumental terhadap apa yang namanya pencerahan atau apapun sebutannya.”

(Berjalan ke samping kanan dan kiri, bolak-balik sambil terus mengucapkan monolog, dengan tetap menghadap penonton)

Pemain 1:“Aku yang telah menyicipi dunia lebih dari seperempat abad tapi lebih terasa lebih lama mengenyamnya. Apakah aku merupakan titisan kedua dari diriku yang sebelumnya dan berupaya mencapai ujung moksa. Sepertinya ada yang salah dengan diriku terdahulu.”

(Masuk pemain 2, berada di sudut kanan panggung, memberi narasi)

Pemain 2 :“Celakalah bagi orang-orang yang mewarisi dosa yang belum pernah ia lakukan dalam hidupnya.”

(Pemain 1 melanjutkan kalimat)

Pemain 1:“Seseorang yang sia-sia dalam hidup adalah orang yang seperti itu. Aku dan aku yang nantinya adalah pewaris yang sah dari aku sebelumnya.”

(pemain 1 surut kebelakang panggung, disusul pemain 2)
(layar panggung ditutup)



Adegan 2

(layar panggung dibuka)
Sesosok tubuh yang roboh (pemain 1) dengan tertelungkup telah ditinggalkan oleh serombongan orang yang memakai baju coklat dengan tameng fiber dan penutup kepala dari plastik anti pecah, polisi anti huru-hara.

Orang yang terakhir (pemain 3) tampak menengok ke belakang ke arah tubuh yang roboh masih menyempatkan kembali menghajar tubuh orang yang jatuh roboh itu dengan godam karetnya lalu menendang pinggangnya.

Pemain 3:“biar mampus lu, sekalian!”

Tak ada pengaruh pada tubuh yang roboh. Tetap diam tak bergeming
Sedang tertelungkup, darah mengalir keluar dari kepalanya.
Lalu datang impian tentang rumah rakitan di atas pohon, di wajahnya terlihat senyuman.
(layar panggung ditutup)



Adegan 3

Flash back
(layar panggung di buka)
Monolog
(pemain bercerita tentang dirinya, mengekspresikannya dengan gerak sesuai alur yang diceritakannya)

Pemain 4:“Aku anak berumur sepuluh tahun yang sudah mulai berpetualang. Aku dalam tidurku masih sama lelapnya seperti tidur yang sebelum-sebelumnya masih juga dengan mimpi-mimpi tentang rumah rakitan di atas pohon nangka di belakang rumahku. Tiap malam selalu dengan mimpi itu dan tak ada habis-habisnya cerita tentang pembangunan rumah yang dirasa belum sempurna walaupun sudah sering ditinggali untuk tidur siang dan pada saat malam sewaktu ibuku terlengah dari pelarianku kerumah rakitan, hingga besok paginya aku terbangun masih di tempat yang sebelumnya, di kamarku. Rasa jengkel pasti datang ketika menyadari aku telah dipindahkan ke tempat semula, tak habis pikir mengapa itu tak tersadarkan pada saat tubuhku yang ringan bagai triplek ini dibopong pulang ke kandang, kamarku. Dan besok paginya pastinya kakak ku akan mengomel dengan bibir yang lebih maju satu senti dari biasanya, sebab ujarnya bahwa hanya dia yang bersusah payah menjemputku dan menggendongku, berkali-kali ia cerita bahwa ia sangat sulit membangunkanku dengan segala cara. Pernah ia menampar, menggulingkan tubuhku, memijit jempol kakiku yang dianggapnya aku ini orang yang sedang kerasukan setan, tapi tetap saja aku terlelap. Ibuku yang cemas selalu meminta bapak atau kakakku untuk mengambilku dari atas pohon. Tak habis pikir, mengapa mereka tega menghancurkan keinginanku untuk terjaga esok paginya di atas rumah pohon rakitanku.”

“Suatu hari aku naik keatas loteng rumah dan melihat keindahan dari cahaya yang masuk lewat genteng. Berdebu dan banyak barang-barang tua yang tak terpakai. Memang loteng menjadi gudang bagi kami sekeluarga. Ketika semua orang tak ada dirumah hanya aku seorang, inilah waktu yang tepat untuk berbenah loteng. Horeee!!

“Pekerjaan itu layaknya bermain-main, pegang kemoceng lalu mainkan, wuus...wuus seperti Brama Kumbara memainkan pedangnya, pedang membabat ke kiri lalu menusuk ke depan ditarik dan maju babat kanan lalu berbalik ke belakang dengan mengacungkan pedang dan mulai membabat, membabat dan membabat. Angkat perkakas lawas seperti permainan bongkar pasang, angkat – singkirkan – taruh – singkirkan – taruh – angkat. Menyapu dan mengepel itu lebih kusuka. Tanpa terasa waktu sore dan semua sudah selesai rapi dan saatnya aku tidur di atas kertas kardus yang telah kususun. Esok paginya aku bangun di tempat yang sama, loteng. Segarnya tubuhku, wah senang sekali rasanya bisa seperti ini. Mulai saat itu aku adalah penghuni loteng yang tidak bisa diganggu-gugat. Kebahagiaan seperti itu tak akan terlupakan dalam hidupku. Tapi mengapa tetap saja hingga kini mimpi tentang rumah rakitan di atas pohon nangka itu tak pernah lepas dalam mimpi-mimpiku.”



Adegan 4

diruang perawatan
Pemain 1 berjalan gontai dengan ditopang seorang temannya (pemain 5) meraih kursi roda untuk diduduki. Juru rawat memeriksa perban di kepala, setelah selesai diobati 2 orang temannya (pemain 6-7) yang lain datang menghampiri. Terjadi Dialog

Pemain 6: hai bung!

Pemain 5: kemana saja kalian sewaktu terjadinya chaos kemarin?

Pemain 6: aku sudah ada diluar area demo

(mendadak semua pemain diam mematung kecuali pemain 1, melakukan monolog ke arah penonton)

Pemain 1: “aku melihat ia berada di tengah pasukan anti huru-hara menjelang terjadinya bentrokan”

(keadaan kembali seperti semula, semua dapat bergerak. Dialog dilanjutkan)

Pemain 7: gua lari ke arah Tengku Umar, eh... bagaimana kabar elu, kepala lu masih pusing?

Pemain 1 : aduh berat banget nih pala.
(sambil memegang keningnya)

pemain 5 : gimana nggak berat tuh pala, lu pingsan 10 jam. Tim palang merah nemuin lu di pojok dekat tempat sampah, dengan darah memenuhi muka dan kaos lu yang putih dekil udah ganti warna merah. Sebelumnya elu udah ngilang tiga jam setelah tadi chaos.......
(dst. dengan uraian yang lebih panjang lagi dan lambat laun terdengar sayup)

(mendengar uraian yang panjang dari temannya, pemain pertama menjadi bertambah pusing, lantas tertidur diatas kursi rodanya karena pengaruh obat).

Pemain 5: “tuh khan, dia masih terpengaruh obat, biar dia istirahat dulu, jangan lu ajak ngobrol dulu.”

(impian masa kecil kembali terulang, rumah rakitan di atas pohon nangka sedang dirovasi atapnya yang bocor. Saat itu sedang hujan besar)



Adegan 5

Seseorang datang mengetuk pintu. perawakannya yang khas, dengan rambut yang kaku ke atas dan pakaian ketat yang kumel dengan asesoris memenuhi tubuhnya. Aku yang lelah tetap enggan bangun dan berdiri untuk membukanya. Suara ketukan pintu kembali terdengar lebih. Mataku yang terpejam merasa sedikit terusik, terpaksa aku bangkit dan melangkah menuju pintu. Merasa ragu untuk membukanya agaknya lebih baik ku tanyakan siapa gerangan di luar.

Pemain 1: siapa ?

Pemain 8: aku

(suara yang aku kenal baik, kala ini suara itu nampak tergesa-gesa dengan nafas yang memburu)

pemain 8: polisi sedang mencariku

(mendengar begitu, keinginan untuk membuka pintu menjadi ragu dan tinbul rasa was-was, lantas aku batalkan)
kemudian aku tanyakan

pemain 1: lalu kenapa kau ke sini

pemain 8: yang aku ingat hanya tempatmu ini

pemain 1: Mengapa pada saat-saat genting seperti ini yang kamu ingat hanya aku. Dan kau tau sendiri kalau aku paling tidak suka berurusan dengan cecunguk yang bernama polisi. Semua kebiasaan buruk yang memancing mereka sudah aku hentikan.

Pemain 8: tolonglah

(pintu masih tertutup dan aku ragu untuk membukanya)

pemain 8 : ingatkah dulu, sewaktu kau terluka parah dan hanya aku yang menyelamatkanmu dari kematian. Hanya aku yang menolongmu. Jadi tolong bukakan pintu.

(pemain 1 menghadap penonton )

pemain 1: “aku masih mengingatnya, kejadian itu yang membuatku tidak menyukai kekerasan dan kesewenangan. Kejadian yang membuatku sadar bahwa dunia ini keras, kebenaran yang aku dan teman-teman usung menjadi sebab orang lain tak menyukainya. Dan membela orang lemah adalah sesuatu yang haram bagi mereka yang menyukai kekuasaan. Adalah tindakan yang konyol hanya diam dan tak memberi tanggapan terhadap kejadian yang dzolim pada lingkungan sekitar sehingga tidak mampu melakukan perlawanan.”

(sesaat kemudian, pemain 1 menghadap ke pintu dan kembali berkata kepada temannya)

pemain 1: sekarang perkara apa yang kau bawa, pasti kau masih menjual obat-obatan

Pemain 8: sudahlah kalau kau tau, sekarang bukalah pintunya, agar aku dapat sembunyi. Waktu sudah mendesak, dan rasanya hanya disini tempat yang aman.

(pemain 1 kembali menghadap penonton)

permain 1: “setiap orang yang datang kepadaku hanyalah meminta pertolongan padaku, mereka tidak tahu bahwa akulah yang perlu mereka tolong.”

(kemudian pemain 1 menghadap pintu kembali)

Pemain 1: kau juga tahu aku di sini untuk sembunyi. Dan kau datang ke sini juga untuk hal yang sama. Kau dan aku bukan pada perkara yang sama. Lalu bagaimana nanti terhadap apa yang nantinya terjadi padaku bila aku juga tertangkap dan disangkut-pautkan dengan kasusmu. Aku tak mau mengotori semangat perjuanganku dengan hal yang tak berguna dengan membuat mimpi-mimpi yang akhirnya merusak otakku.

Pemain 8: yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri. Kau tak rela orang lain hadir dalam serentetan takdir dirimu, padahal yang terjadi pada orang lain juga akibat dari tingkahmu yang kau anggap suatu kebenaran postulat. Ingatlah bung! Semua orang menjalankan hidupnya sesuai apa-apa yang diharapkan dan perwujudan tindakan. Kau sendiri, mengapa lantas menjadi seperti ini. Menjadi orang pelarian, lantas apa pengaruhnya? Kau tidak akan menjadi pahlawan, bung! Dan bahwasanya otakmu memang sudah rusak oleh idealisme yang kau buat terhadap dunia-dunia mimpi yang juga terlahir dari pandangan-pandanganmu terhadap apa yang namanya negara dan demokrasi.

Pemain 1: Biar saja! Setidaknya hal itulah yang dapat ku banggakan, tapi dirimu, kau ini adalah racun bagi semua manusia yang ada di dunia.

Pemain 8: racun, aku ini racun, hei bung!
Buku-buku yang kau baca juga adalah racun. Bayangkan saja karena buku-buku yang kau baca dapat merubah dirimu seperti ini, hilangnya persahabatan. Dimana waktu remaja kau dan aku menjalani masa-masa itu bersama, hidup di jalan dan menemukan tantangan di sana. Dan karena buku-bukumu kau menjadi orang pelarian, bersembunyi pada ketidak pastian keadaan yang ada di luar.

Pemain 1: setidaknya aku dapat berbangga dengan diriku sendiri.

Pemain 8: Buku-buku itu memang benar-benar telah meracunimu.

Pemain 1: hidup memang bergerak dan berubah. Setidaknya aku berubah pada wujud yang lebih baik dari pada yang lalu, bagaimana dengan kamu yamg hidupmu tidak mengalami perubahan sedikitpun.

Pemain 8: itu menurutmu, tapi aku dan komunitasku yang lain merasa bahwa jalanan memberikan pengetahuan yang banyak dan membuka cakrawalaku terhadap dunia.

Pemain1 : segerombolan orang sepertimu itu juga adopsi dan tidak murni, bung! Budaya yang bebas pada komunitas punkermu lebih meresahkan masyarakat. Dan hal-hal yang ke barat-baratan kau bawa juga ke sini. Mengapa kau dan teman-temanmu tidak tinggal tuh....di Inggris sana.

Pemain 8: kami di jalan tidak pernah meminta, mencuri apalagi memeras. Tingkah kami adalah perwujudan dari situasi dunia sekarang ini. Dan itu relevan. Kami berjalan dibumi selaras dengan wajah bumi itu sendiri. Kedewasaan kami adalah kedewasaan praxis. Segala proses yang bernama kedewasaan itu tercipta dari sejumlah pengalaman dan memiliki tangga-tangga yang musti dilalui. Bahwasanya dalam hidup ............

(kata-katanya terputus dan berpikir kembali, merasa tidak perlu meneruskan perdebatan berlarut-larut, kemudia dilanjutkan kembali)

pemain 8: ahhhh, sudah. Bukalah cepat!

(Pemain 1 terlihat bimbang)

Pemain 8: perlawanan yang kamu jalankan seperti aku juga. Kita ingin merobohkan tembok besar yang menghalangi pandangan dan berupaya mengenyahkannya.

(pemain 1 menjadi gusar)

pemain 8: kita adalah sama-sama orang pelarian.

(pemain 1, kata-kata ini begitu dalam, dan membuatnya merasa sedih)
(pemain 1 menghadap ke penonton)

pemain 1: “aku tak mengerti mengapa aku menjadi seperti ini, orang-orang dalam persembunyian. Berahi apa yang menyebabkanku menjadi wujud yang amat asing bagi ku sendiri. Bahkan aku takut melihat diriku sendiri, dan ketakutan itu telah hadir dan melebihi ketakutanku pada persembunyian ini.”

(Kesadaran itu pecah oleh suara yang memelas)

Pemain 8: Sudilah untuk menolongku dan bersembunyi di sini.

(Pemain 1 bergegas membukakan pintu, kedua orang itu saling berpelukan)

Pemain 1: Marilah bersembunyi di sini. Jangan takut mereka tidak akan tahu. Dan mari kita kembali bercerita tentang masa remaja kita yang indah dulu.

Sesaat kemudian terdengar kegaduhan di depan rumah dan ada langkah derapan orang-orang yang bergegas. Suara derap langkah itu semakin lama semakin terdengar. Kami berdua merasa cemas. Langkah itu menuju kamarku, dengan segera kututup pintu dan ku kunci dari dalam.
Suara derap itu semakin jelas ada di depan pintu. seseorang berkata dengan keras ke arah kami yang ada di dalam.

Pemain 9: Siswo!! Nurrohman!! Menyerahlah, cepat buka pintu!

Suara itu memanggil kami berdua, kami saling berhadapan. Dan bergegas mencari jalan keluar.

Terdengar tendangan keras ke pintu kami. Pintu itu terbuka.
Acungan senjata telah mengarah ketubuh kami berdua.
Kami digiring keluar

TAMAT.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar