Rabu, 17 Desember 2008

Bila Adat Dilindas

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

“Dalam hubungannya dengan hukum pidana, harus diakui banyak aturan adat Bali yang “dilindas” oleh hukum nasional. Menurut Peneliti dan Konsultan Adat Bali Wayan P. Windia, fenomena ini mencuat sejak pengadilan adat ditiadakan pada 1951 silam, “tulis Bali Post pada 10 Oktober.

Amat langsung menggunting tulisan itu. Dengan bernafsu menggaris bawahi alenia yang menyebutkan:

“Apabila proses pelindasan aturan adat oleh hukum nasional ini terus berlanjut, kata dia, jelas akan sangat mempengaruhi eksistensi desa pakraman yang notabene merupakan salah satu kekuatan Bali. Desa pakraman menjadi makin lemah dan tak berdaya. Ketika desa pakraman sudah lemah dan tidak lagi memiliki kekuatan, maka dia tinggal menunggu terjadinya ‘ngaben massal’ lantaran tidak lagi punya posisi tawar,” tegasnya.

Lalu dengan menggebu-gebu mengirimkan kepada sahabatnya. Tak tersangka-sangka datang jawaban panjang lebar,

“Pak Amat, saya kira bukan hanya di Bali, juga di berbagai wilayah, seperti Sumatra Barat,, Kalimantan, Batak, Sulawesi, Papua, hukum adat sering berhadapan dan dilindas oleh hukum nasional. Apalagi sekarang di masa kebangkitan daerah dengan adanya otonomi daerah, maka semua orang berpikir yang terbaik bagi daerahnya adalah segala yang berbau lokal. Bila ini berlanjut memang negara federasi pada akhirnya yang akan memberikan penyelesaian. Di tiap wilayah berlaku hukum daerah meskipun ada ketentuan federal. Sesudah itu setiap wilayah mungkin akan merasa lebih mantap kalau menjadi negara sendiri dan meminta kerelaan boleh melepaskan diri dari NKRI. Sementara itu di setiap daerah juga akan muncul berbagai perbedaan. Bali Utara dan Bali Selatan saja misalnya, tinggal menunggu waktu kapan mau berpisah. Saya sangat takut pada perpisahan. Pada masa hari raya saja, ketika semua orang ke rumah masing-masing, saya sering merasa kosong, pedih, karena ternyata kebersamaan kita tetap kalah oleh solidaritas asal/daerah/wilayah bukan kenyataan sehari-hari. “

“Pak Amat, saya kira banyak orang lupa bahwa perubahan sedang terjadi dan akan terus terjadi. Seandainya Indonesia belum ada dan apa yang disebut hukum nasional oleh Pak Windia utu belum ada, hukum adat akan tetap mengalami perubahan, karena kita tidak akan mungkin hidup seperti di masa lalu. Berbagai perubahan yang begitu radikal di dalam citra manusia, baik mengenai keadilan, kebenaran maupun ukuran kebahagiaan, tidak akan mungkin dipuaskan oleh adat yang mengatur manusia dalam kelompok kecil di masa lalu. Saya kira kita semua pada hakekatnya tidak siap berubah. Dan memang tidak harus siap. Sebagaimana juga perpisahan, perubahan menimbulkan rasa sedih, karena ada yang tercerabut. Tetapi langkah dunia sudah kian bergegas, lompatannya tambah besar. Dan kita selalu lupa bahwa kita dibekali senjata yang mandraguna yang kita selalu sebut-sebut yakni: desa-kala-patra — hanya saja kita tak selamanya mau di-covert untuk bisa ngigel agar bisa ngibing dengan berbagai perubahan.”

“Pak Amat, saya sungguh sedih menerima surat Pak Amat. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, sebab Pak Windia pasti menyampaikan itu dengan maksud baik. Saya hanya semakin bingung, karena berbagai maksud baik kini semakin bertentangan, sehingga bukan kejahatan dan niat buruk lagi yang membuat kita berkelahi tetapi apa yang kita namakan kebenaran dan keadilan. Karena kita semua mengejar maksud baikm kita masing-masing yang sama-sama kita yakini itu dengan mengacungkan pengrupak.”

“Pak Amat, kapan hidup ini akan bisa damai? Kapan kita berani menerima bahwa kita wajib menerima perubahan dan meninggalkan yang lama? Atau kapan kita harus mempertahankan segala warisan budaya kita yang lama, namun tak perlu menentang langkah zaman yang membawa kita menjadi sebuah bangsa yang Indonesia yang baru dan satu. Saya bingung. Sungguh bingung dan sedih sekali!”

Amat terhenyak menerima jawaban itu. Lalu ia memanggil Ami, menyuruhnya membaca surat itu dan minta pertimbangan.

“Apa pendapatmu Ami?”

Setelah membaca, Ami balik bertanya.

“Sahabat Bapak ini orang Bali?”
“Jelas. Dari namanya saja sudah kelihatan dia orang Bali. Pakai I Gusti begitu!”

“Ya saya tahu. Tapi dia kan sudah lama tidak tinggal di Bali!”
“Memang. Dia hanya 20 tahun di Bali dan 40 tahun hidup di luar Bali.”
“Kalau begitu apa dia masih orang Bali?”

“O iya dong! Orang Bali di mana pun tinggal tetap saja orang bali Seperti juga orang Amerika di mana saja tinggal dia tetap Amerika.”
“Bukan itu maksud saya. Apa secara rasa dia tetap Bali? Apa emosinya masih tetap emosi orang Bali setelah lama tidak tinggal di Bali?”

Amat tertegun.

“Menurut pendapatmu bagaimana?”

“Menurut Ami, karena dia sudah hidup di luar Bali dua kali lebih lama dari dia hidup di Bali , I Gusti teman Bapak ini sebenarnya secara emosional dia bukan orang Bali lagi.”

“Kalau begitu semua komentarnya itu bukan komentar orang Bali?”
“Bukan.”

Amat tersenyum.

“Bagus! Jadi tidak usah dipikirin?”

Sekarang Ami yang tersenyum.

“Nah di sini persoalannya. Bapak perlu komentar orang Bali yang emosional atau komentar orang yang sudah berjarak dengan Bali tetapi obyektif?”

Amat tercengang.

“O kalau begitu kamu setuju dengan pendapat I Gusti yang sudah luntur kebaliannya itu Ami?! Berarti kamu sendiri sudah bukan orang Bali!”

Ami tertawa lagi lalu pergi. Amat jadi penasaran. Ia muring-muring, lalu mencoba menumpahkan unek-unek pada tetangga.

“Anak-anak zaman sekarang ini kebaliannya sudah luntur. Mereka bukan orang Bali lagi seperti kita-kita ini. Betul tidak Pak Made?”

Pak Made yang tidak punya anak mengangguk setuju. Amat jadi merasa lebih nyaman. Tetapi begitu sampai di rumah, Bu Amat yang sudah lama menunggu, langsung bertanya.

“Bapak tahu kenapa tadi Ami tertawa lalu pergi meninggalkan Bapak?”
“Kenapa?”

Bu Amat tertawa.

“Kenapa?!!!!”
“Karena yang membuat I Gusti itu sedih, ternyata Bapak!”

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar