Senin, 15 September 2008

PARA AMATIR YANG PEMBERANI (I - II)

Untuk Penulis Pemula Juga Diriku Sendiri

(I)
Yang tampak di hadapan kita, bisa ditulis bercorak bobot termiliki. Realitas angan, kejadian sekitar pun pengandaian tak masuk akal, dapat dirumuskan sesuai nalar perasaan. Analisa pendek pula diberangkatkan, sebelum badai kelupaan, hantu keputusasaan.

Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolak hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Menulis juga bermakna membaca, mengkaji diri, menyimak gejolak emosi. Setidaknya tak menghantam lewat tangan, tetapi berani menulis kejujuran.

Usah canangkan cita terlalu dini, kegiatan menulis tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Daripada bengong ngelamun, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini.

Menulis hal mudah, karena telah mengenal huruf, tanda baca dan faham rangkaian kata menjelma pengertian. Usah menyelidik terlalu, yang tertulis sudah ditulis orang atau belum. Menulis tak lebih melukis memuntahkan emosi, serta pertimbangan dari pantulan penalaran. Anggap menulis itu kegiatan pemberitaan, bahwa di sekitar kita ada kejadian yang tak patut dilewatkan.

Tak mungkin kita merekam seluruh peristiwa bergumul dalam kehidupan, dengan merawat ingan terus-menerus. Alangkah sia-sia jika tak menulis seumur hidupnya, meski di buku harian. Sebab keluhan hidup terhadapati akan kental mewarnai kelak. Jikalau ditulis, kalimah itu yang merawat kepribadian.

Ini sekadar berani, tiada takut dicemooh bermutu atau tidak. Yang jelas, tiap gurat memutiara patut dihargai. Jangan sekali-kali anggap remeh tulisan sendiri meski pun buruk, itulah tangga mengingat kebodohan. Dengan berjalannya waktu bersungguh, sedikit demi sedikit kita pelajari kejiwaan diri.

Tidak perlu mendatangi psikolog, dukun pun sejarawan. Kala mulai menulis, itulah sejarah awal, kejiwaan pertama dan kita menjadi peramal bagi diri sendiri. Olehnya, rawatlah karya pertama bertinta emas. Agar menghargai kebodohan muasal, sebagai kecerdasan tak terduga, tidak tersangka sebelumnya.

Aku tak miliki bahan ketika menulis ini. Nyata mengalir, padahal bermodal berani. Mari perturuti jemari agar kenang memutiara, yang kelak semua membaca dengan kekhusyukan, seperti kita dalam kepungan keheningan. Usah bernalar jauh, gelas di dekat menceritakan kegunaanya. Kursi, lantai, langit-langit pun buku-buku berserak bisa diajak bicara. Kala dialog bermunculan, itulah diri sesungguhnya dan besok lebih jernih dari hari ini.

Kejadian sekitar ialah informasi berharga, maka tulislah. Sebab ingatan kita tak sanggup mencatat seluruh. Dengan menulis kita dapati apa yang jadi keinginan, harapan niscaya cemerlang jika dituangkan. Alangkah lebih baik berani menulis, daripada sang cerdas yang ngoceh, namun ditinggal tidur para pendengar muak.

Menulis itu realitas kecerdasan kita yang bodoh, maka bersungguhlah agar tak jadi bahan tertawaan langsung. Simpan-koreksi berulang, sebelum dipublikasikan. Jika sekiranya berani menampilkan meski bobrok, kemukakan. Sebab malu sesal awal, guru paling keras mengajarkan bahwa kesungguhan hidup ialah niscaya.

Kita sulit menulis sebab tak banyak rekaman kata di batok kepala, tak ingat semua dalam kamus. Di sini tak anjurkan menyuntuki kamus, bacalah buku apa saja. Kata-kata luwes kegunaanya, jikalau merasakan makna kata yang sedang tertulis. Penghayatan kata antara kita mungkin beda, maka jangan hawatir perbedaan makna. Sejati itu milik kita, dan para peneliti kita biarkan bekerja dengan daya tangkapnya yang indah.

Camkan, lebih baik pemula daripada lihai menulis. Karena kelihaiannya, tidak memunculkan kejujuran karakter. Melupakan kesejatian, sebab perturuti kelincahan. Lantas pengendapan berkurang sedari kepribadiannya paling intim. Sedang pemula tidak mempunyai warna selain corak termiliki. Langkah kita kesadaran tapak demi tapak. Yang melesat di kedalaman angan impian murni, kekal dalam sanubari.

Jika mereka baca karya kita dengan seleranya, kita juga punya kesenangan beda. Atau memang cara pandang berbeda, maka usah hawatir perbedaan. Yang dibilang baik orang lain, belum tentu bermutu di hadapan kita. Setiap insan miliki timbangan, ketika melangkah di alam penulisan. Olehnya, ayo berangkat menulis, agar memiliki penilaian lebih baik untuk diri sendiri. Daripada menyadong pandangan orang lain.

Kita bisa tulis puisi, prosa, novel, balada, hikayat, sejarah, filsafat, psikologi, musik, matematika dan sebagianya. Tidakkah ilmu bisa dipelajari, “ilmu katon” istilah orang Jawa. Dengan logika dasar yang ada, kita berangkatkan pemahaman hidup dengan apa yang dituliskan. Usah hawatir dianggap amatir. Sejatinya semua insan amatir, ketika jiwanya menyadari kerentahan, kekurangan. Seperti saat-saat mencret, tentara gagah berani sekali pun, tak bisa berbuat apa-apa ketika sakit perut.

Usah cemas berbeda faham. Lebih baik para amatir yang menggenggam kejujuran. Daripada yang lincah menulis, namun telah tergadai logikanya dengan yang tiada kaitannya nurani, sebagai landasan pemberangkatan menjadi manusia beradab.

(II)
Percaya tidak, pendahulu kita pernah bilang menulis itu mahal. Tiba-tiba lainnya bicara, mengarang itu gampang (bersenyum sinis). Yang lain menganggap kita instan. Padahal sebelumnya menakut-nakuti kita para pemula. Memangnya hanya mereka yang memahami kata bekerja. Di sini suntuk masing-masing, bersayap pengetahuan diberikan tuhan. Jikalau ada menghalangi, anggap sebagai penutup rahmat.

Mereka ternyata ragu, sejarah waktu dapat menentukan nasib karya. Olehnya, jangan dengar ocean yang menjegal langkah. Mari bersungguh tak mereka saja mampu. Jangan tertunduk yang suka dibesarkan, kita sama bernyawa. Ingatlah, kesuntukan dua tahun, melebihi yang berleha sepuluh tahun, perkalikan itu. Dan jangan biarkan tersita perkataan merongrong. Yakinlah mampu, terus berkarya!

Bagaimana gelapnya sejarah sastra indonesia dengan Pram kurang diperhitungkan. Tapi sebab kegigihannya, orang luar menerima dan sastra kita baru melek membaca karyanya. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah, mencipta dunia yang di dalamnya tiada penjegalan pun hantu-hantu tak masuk akal.

Kesungguhan timbangan amal, menggoyang takdir tak mapan bathinnya. Niat ibarat magnit menyedot jarum di dekatnya, mampu getarkan lempeng besi walau mata tak melihatnya. Tancapkan niat, getarkan bumi berkeyakinan melampaui. Keyakinan kita melesakkan wajah-wajah buram.

Sastra bukan hanya milik mereka, kita lahir di bencah nusantara untuk memperkaya khasana dunia. Ayo beramai-ramai menabur bebijian pendapat, hanya penabur kelak mendapatkan. Tidakkah waktu kekinian lebih purna serta luas jangkauannya, inilah keniscayaan sekarang!

Bacalah buku-buku guna tak dipermainkan pendapat, terutama sejarah dunia dan teorinya. Agar tak dipandang remeh orang-orang yang duduk dikursi. Jangan lelap sebelum tancapkan keyakinan di kedalaman karya. Bacalah, biar sanggup tertawa atas bukit yang memberi petuah.

Sejarah tidak berdialog pada kita kecuali berkarya. Biar mereka anggap remeh, terus bersungguh. Kita diberikan tuhan nyawa, dengan itu seimbangkan tanah air tercinta, bahwa bukan mereka saja.

Mari lahap keilmuan sedari penjuru sekuat daya, agar tahu sudut mereka duduk berlantang mengeluarkan pandapat. Amini saja, namun jangan luma kewajiban berkarya. Terus sampai mereka muak melihat langkah-langkah kita!

Di sini bukan merendahkan kerjanya, sebab meremehkan seperti sundel bolong. Mudah ditujah lewat pintu kapan saja, arah mana pun. Kita mantabkan langkah, agar tak tersendat pendapat sekilas, dari sehabis pulas mendengkur kekeyangan.

Tidakkah tuhan anugerahi nyawa sekali. Saat tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, akan dipolitisir waktu-waktu pembodohan. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Itulah kesungguhan, kegigihan pantang mundur meski api melumat, walau hujan banjir menenggelamkan simpanan.

Harta paling nyata hanyalah ilmu, dengannya dunia hancur lebur dapat dibangun kembali. Nyali tak lekang nyawa bersarungkan badan. Jangan terkecoh jembatan layang ciptaan. Mari membaca filsafat ilmu, agar bathin tegak sentausa.

Meyakini hasil penelitian, percaya sehabis mempelajari, terus menyelami identitas, agar tak mudah mengamini secara bathin pendapat lain. Sebab kebenaran kerap dimanipulasi, ketika tiada aliran pemahaman lebih. Seair kali mandek, warnanya berubah keruh.

Sekali menjawab pertanyaan, di sutu terbaca. Maka jangan sering menuruti, kalau iseng tak masalah demi mengecoh menyenangkan. Sebab tampang dunia kelihatan di jaman kekinian. Bacalah berbathin dan selidiki penuh kewaspadaan.

Mengamati ucapan yang meremehkan, sepertinya lupa pernah muda. Pun lalai kalau energi pemuda lebih daripada yang cepat lelah sebab usia. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan percepat segalanya?

Terus membaca menulis sampai teler mendekati gila berkali-kali. Di sana temukan manfaat, dari teknik hingga menimbang ruh karya. Pecahnya isi kepala melancarkan berkata-kata dalam penalaran bathin. Istilah jawa “wes ngerti padange ndonyo” atau sudah faham terangnya dunia.

Ketika kandungan otak membuyar, pemahaman awal sepasir berserakan. Dengan sekop sungguh diangkut. Lalu direkatkan bersemen niat, bersama baja keyakinan. Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni.

Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantung membuta, bisa mengelak. Terus membaca meski kantuk, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan.

Itu sekadar contoh, aku yakin kita miliki kegilaan masing-masing untuk melahirkan karya. Ini tegur sapaan amatir pemberani. Untuk akhiri ocean, mari perbaharui niat kesungguhan pagi. Anggap belum mengerjakan apa-apa, sehingga tak sungkan menghadapi situasi apa pun. Tergerus hasrat tumpul kesumat menjelma kasih. Keputusasaan pada yang tak pernah terbentur. Rasakan kegagalan secorengan muka atas belati sendiri.

Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh pun betul. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.

*) Pengelana yang suka nulis, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar