Untuk Penulis Pemula Juga Diriku Sendiri
(I)
Yang tampak di hadapan kita, bisa ditulis bercorak bobot termiliki. Realitas angan, kejadian sekitar pun pengandaian tak masuk akal, dapat dirumuskan sesuai nalar perasaan. Analisa pendek pula diberangkatkan, sebelum badai kelupaan, hantu keputusasaan.
Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolak hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Menulis juga bermakna membaca, mengkaji diri, menyimak gejolak emosi. Setidaknya tak menghantam lewat tangan, tetapi berani menulis kejujuran.
Usah canangkan cita terlalu dini, kegiatan menulis tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Daripada bengong ngelamun, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini.
Menulis hal mudah, karena telah mengenal huruf, tanda baca dan faham rangkaian kata menjelma pengertian. Usah menyelidik terlalu, yang tertulis sudah ditulis orang atau belum. Menulis tak lebih melukis memuntahkan emosi, serta pertimbangan dari pantulan penalaran. Anggap menulis itu kegiatan pemberitaan, bahwa di sekitar kita ada kejadian yang tak patut dilewatkan.
Tak mungkin kita merekam seluruh peristiwa bergumul dalam kehidupan, dengan merawat ingan terus-menerus. Alangkah sia-sia jika tak menulis seumur hidupnya, meski di buku harian. Sebab keluhan hidup terhadapati akan kental mewarnai kelak. Jikalau ditulis, kalimah itu yang merawat kepribadian.
Ini sekadar berani, tiada takut dicemooh bermutu atau tidak. Yang jelas, tiap gurat memutiara patut dihargai. Jangan sekali-kali anggap remeh tulisan sendiri meski pun buruk, itulah tangga mengingat kebodohan. Dengan berjalannya waktu bersungguh, sedikit demi sedikit kita pelajari kejiwaan diri.
Tidak perlu mendatangi psikolog, dukun pun sejarawan. Kala mulai menulis, itulah sejarah awal, kejiwaan pertama dan kita menjadi peramal bagi diri sendiri. Olehnya, rawatlah karya pertama bertinta emas. Agar menghargai kebodohan muasal, sebagai kecerdasan tak terduga, tidak tersangka sebelumnya.
Aku tak miliki bahan ketika menulis ini. Nyata mengalir, padahal bermodal berani. Mari perturuti jemari agar kenang memutiara, yang kelak semua membaca dengan kekhusyukan, seperti kita dalam kepungan keheningan. Usah bernalar jauh, gelas di dekat menceritakan kegunaanya. Kursi, lantai, langit-langit pun buku-buku berserak bisa diajak bicara. Kala dialog bermunculan, itulah diri sesungguhnya dan besok lebih jernih dari hari ini.
Kejadian sekitar ialah informasi berharga, maka tulislah. Sebab ingatan kita tak sanggup mencatat seluruh. Dengan menulis kita dapati apa yang jadi keinginan, harapan niscaya cemerlang jika dituangkan. Alangkah lebih baik berani menulis, daripada sang cerdas yang ngoceh, namun ditinggal tidur para pendengar muak.
Menulis itu realitas kecerdasan kita yang bodoh, maka bersungguhlah agar tak jadi bahan tertawaan langsung. Simpan-koreksi berulang, sebelum dipublikasikan. Jika sekiranya berani menampilkan meski bobrok, kemukakan. Sebab malu sesal awal, guru paling keras mengajarkan bahwa kesungguhan hidup ialah niscaya.
Kita sulit menulis sebab tak banyak rekaman kata di batok kepala, tak ingat semua dalam kamus. Di sini tak anjurkan menyuntuki kamus, bacalah buku apa saja. Kata-kata luwes kegunaanya, jikalau merasakan makna kata yang sedang tertulis. Penghayatan kata antara kita mungkin beda, maka jangan hawatir perbedaan makna. Sejati itu milik kita, dan para peneliti kita biarkan bekerja dengan daya tangkapnya yang indah.
Camkan, lebih baik pemula daripada lihai menulis. Karena kelihaiannya, tidak memunculkan kejujuran karakter. Melupakan kesejatian, sebab perturuti kelincahan. Lantas pengendapan berkurang sedari kepribadiannya paling intim. Sedang pemula tidak mempunyai warna selain corak termiliki. Langkah kita kesadaran tapak demi tapak. Yang melesat di kedalaman angan impian murni, kekal dalam sanubari.
Jika mereka baca karya kita dengan seleranya, kita juga punya kesenangan beda. Atau memang cara pandang berbeda, maka usah hawatir perbedaan. Yang dibilang baik orang lain, belum tentu bermutu di hadapan kita. Setiap insan miliki timbangan, ketika melangkah di alam penulisan. Olehnya, ayo berangkat menulis, agar memiliki penilaian lebih baik untuk diri sendiri. Daripada menyadong pandangan orang lain.
Kita bisa tulis puisi, prosa, novel, balada, hikayat, sejarah, filsafat, psikologi, musik, matematika dan sebagianya. Tidakkah ilmu bisa dipelajari, “ilmu katon” istilah orang Jawa. Dengan logika dasar yang ada, kita berangkatkan pemahaman hidup dengan apa yang dituliskan. Usah hawatir dianggap amatir. Sejatinya semua insan amatir, ketika jiwanya menyadari kerentahan, kekurangan. Seperti saat-saat mencret, tentara gagah berani sekali pun, tak bisa berbuat apa-apa ketika sakit perut.
Usah cemas berbeda faham. Lebih baik para amatir yang menggenggam kejujuran. Daripada yang lincah menulis, namun telah tergadai logikanya dengan yang tiada kaitannya nurani, sebagai landasan pemberangkatan menjadi manusia beradab.
(II)
Percaya tidak, pendahulu kita pernah bilang menulis itu mahal. Tiba-tiba lainnya bicara, mengarang itu gampang (bersenyum sinis). Yang lain menganggap kita instan. Padahal sebelumnya menakut-nakuti kita para pemula. Memangnya hanya mereka yang memahami kata bekerja. Di sini suntuk masing-masing, bersayap pengetahuan diberikan tuhan. Jikalau ada menghalangi, anggap sebagai penutup rahmat.
Mereka ternyata ragu, sejarah waktu dapat menentukan nasib karya. Olehnya, jangan dengar ocean yang menjegal langkah. Mari bersungguh tak mereka saja mampu. Jangan tertunduk yang suka dibesarkan, kita sama bernyawa. Ingatlah, kesuntukan dua tahun, melebihi yang berleha sepuluh tahun, perkalikan itu. Dan jangan biarkan tersita perkataan merongrong. Yakinlah mampu, terus berkarya!
Bagaimana gelapnya sejarah sastra indonesia dengan Pram kurang diperhitungkan. Tapi sebab kegigihannya, orang luar menerima dan sastra kita baru melek membaca karyanya. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah, mencipta dunia yang di dalamnya tiada penjegalan pun hantu-hantu tak masuk akal.
Kesungguhan timbangan amal, menggoyang takdir tak mapan bathinnya. Niat ibarat magnit menyedot jarum di dekatnya, mampu getarkan lempeng besi walau mata tak melihatnya. Tancapkan niat, getarkan bumi berkeyakinan melampaui. Keyakinan kita melesakkan wajah-wajah buram.
Sastra bukan hanya milik mereka, kita lahir di bencah nusantara untuk memperkaya khasana dunia. Ayo beramai-ramai menabur bebijian pendapat, hanya penabur kelak mendapatkan. Tidakkah waktu kekinian lebih purna serta luas jangkauannya, inilah keniscayaan sekarang!
Bacalah buku-buku guna tak dipermainkan pendapat, terutama sejarah dunia dan teorinya. Agar tak dipandang remeh orang-orang yang duduk dikursi. Jangan lelap sebelum tancapkan keyakinan di kedalaman karya. Bacalah, biar sanggup tertawa atas bukit yang memberi petuah.
Sejarah tidak berdialog pada kita kecuali berkarya. Biar mereka anggap remeh, terus bersungguh. Kita diberikan tuhan nyawa, dengan itu seimbangkan tanah air tercinta, bahwa bukan mereka saja.
Mari lahap keilmuan sedari penjuru sekuat daya, agar tahu sudut mereka duduk berlantang mengeluarkan pandapat. Amini saja, namun jangan luma kewajiban berkarya. Terus sampai mereka muak melihat langkah-langkah kita!
Di sini bukan merendahkan kerjanya, sebab meremehkan seperti sundel bolong. Mudah ditujah lewat pintu kapan saja, arah mana pun. Kita mantabkan langkah, agar tak tersendat pendapat sekilas, dari sehabis pulas mendengkur kekeyangan.
Tidakkah tuhan anugerahi nyawa sekali. Saat tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, akan dipolitisir waktu-waktu pembodohan. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Itulah kesungguhan, kegigihan pantang mundur meski api melumat, walau hujan banjir menenggelamkan simpanan.
Harta paling nyata hanyalah ilmu, dengannya dunia hancur lebur dapat dibangun kembali. Nyali tak lekang nyawa bersarungkan badan. Jangan terkecoh jembatan layang ciptaan. Mari membaca filsafat ilmu, agar bathin tegak sentausa.
Meyakini hasil penelitian, percaya sehabis mempelajari, terus menyelami identitas, agar tak mudah mengamini secara bathin pendapat lain. Sebab kebenaran kerap dimanipulasi, ketika tiada aliran pemahaman lebih. Seair kali mandek, warnanya berubah keruh.
Sekali menjawab pertanyaan, di sutu terbaca. Maka jangan sering menuruti, kalau iseng tak masalah demi mengecoh menyenangkan. Sebab tampang dunia kelihatan di jaman kekinian. Bacalah berbathin dan selidiki penuh kewaspadaan.
Mengamati ucapan yang meremehkan, sepertinya lupa pernah muda. Pun lalai kalau energi pemuda lebih daripada yang cepat lelah sebab usia. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan percepat segalanya?
Terus membaca menulis sampai teler mendekati gila berkali-kali. Di sana temukan manfaat, dari teknik hingga menimbang ruh karya. Pecahnya isi kepala melancarkan berkata-kata dalam penalaran bathin. Istilah jawa “wes ngerti padange ndonyo” atau sudah faham terangnya dunia.
Ketika kandungan otak membuyar, pemahaman awal sepasir berserakan. Dengan sekop sungguh diangkut. Lalu direkatkan bersemen niat, bersama baja keyakinan. Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni.
Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantung membuta, bisa mengelak. Terus membaca meski kantuk, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan.
Itu sekadar contoh, aku yakin kita miliki kegilaan masing-masing untuk melahirkan karya. Ini tegur sapaan amatir pemberani. Untuk akhiri ocean, mari perbaharui niat kesungguhan pagi. Anggap belum mengerjakan apa-apa, sehingga tak sungkan menghadapi situasi apa pun. Tergerus hasrat tumpul kesumat menjelma kasih. Keputusasaan pada yang tak pernah terbentur. Rasakan kegagalan secorengan muka atas belati sendiri.
Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh pun betul. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.
*) Pengelana yang suka nulis, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar