Senin, 01 September 2008

Menampik Rasa Jengah Terhadap Bangsa

Judul Buku : Kagum Pada Orang Indonesia
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress– Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2008
Tebal : 56 Halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto*

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak/Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak/Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza/Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia/Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata/Dan kubenamkan topi baret di kepala/Malu aku jadi orang Indonesia.

Potongan puisi “Malu (Aku) jadi orang Indonesia” yang ditulis oleh Taufiq Ismail pada tahun 1998 di atas menunjukkan betapa kekaguman terhadap bangsa ini telah lama pudar bahkan perlahan sirna. Ada rasa malu mengakui bahwa bangsa Indonesia sebenarnya pun patut untuk dikagumi. Bahwa di balik kebobrokan yang ditampilkan oleh Taufiq Ismail dalam puisinya tersebut, masih ada ruang untuk memberikan pujian kepada Indonesia sebagai bangsa besar dan memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh negara belahan lain di dunia ini.

Kekaguman itulah yang disorot oleh budayawan, Emha Ainun Nadjib, dalam kumpulan esainya ini. Dengan ciri khasnya yang sangat pandai dalam memilih diksi, Cak Nun menunjukkan kekagumannya terhadap orang Indonesia. Dan kekaguman yang dinyatakan oleh Cak Nun dalam bukunya ini, semuanya merupakan kekurangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia. Cak Nun menanggap bahwa kekurangan atau cela yang ada dalam diri manusia Indonesia, itulah yang perlu untuk dikagumi.

Untuk mengetahui karakter orang Indonesia tentu dibutuhkan banyak perjumpaan dengan mereka. Mustahil mengenal sifat orang Indonesia jika tidak ada interaksi dengan mereka. (Hal. 5) Dan Cak Nun dikenal sangat dekat dengan rakyat kecil (urban), bahkan tidak jarang pula menyuarakan suara mereka yang tidak sempat didengar oleh pemerintah. Sebagai satrio piningit di era globalisasi, Cak Nun memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat. Kedekatan ini pulalah yang melahirkan kecintaan besar Cak Nun terhadap manusia Indonesia, hingga berbuah pada kekaguman terhadap manusia Indonesia.

Pengajian rutin yang dilakukannya di berbagai daerah juga ikut menjadi dokumentasi dari kelahiran buku ini, hingga banyak hal yang dapat disorot oleh Cak Nun dari manusia Indonesia. “Kunjungan” Cak Nun ke negara-negara lain juga ikut menjadi oleh-oleh untuk diceritakan dalam kumpulan esai ini.

Runtuhnya rasa kagum terhadap manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Taufiq Ismail lewat puisinya “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”, tidak lain adalah kritik terhadap diri manusia Indonesia. Ada yang salah dalam diri manusia Indonesia atau dalam istilahnya Taufiq Ismail “orang Indonesia”. Bahwa setelah kemerdekaan Indonesia diperoleh, manusia Indonesia belum siap untuk menjadi penguasa Indonesia, hingga tidak mengherankan pada babak selanjutnya manusia Indonesia masih menjadi pekerja.

Tercatat bahwa Indonesia adalah negara paling banyak yang mengirimkan delegasinya untuk menjadi tenaga kerja ketimbang menjadi mahasiswa. Disinilah letak degradasi kebanggan terhadap Indonesia yang direkam oleh taufiq Ismail lewat puisi “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”. Bahwa manusia Indonesia masih lebih bangga memakai produk luar negeri daripada produk hasil negeri sendiri.

Cak Nun yang sangat mengerti manusia Indonesia merespon hal itu. Baginya, itu merupakan salah satu kelebihan manusia Indonesia yang patut untuk dikagumi. Ungkapan paradok semacam inilah yang sering dilontarkan Cak Nun, dan Cak Nun menilai bahwa dengan cara inilah rasa kagum dan rasa percaya diri kepada manusia Indonesia dapat kembali terangkat. Tidak salah jika dalam kumpulan esainya ini Cak Nun memberi judul pada salah satu esainya “Bangsa Besar Tak Butuh Kebesaran”.

Cak Nun berpendapat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kebodohan yang merata dalam kehidupan bangsa kita di semua segmen dan strata, tidak mengurangi kebesaran bangsa Indonesia. Untuk menjadi besar, bangsa Indonesia tidak memerlukan kepandaian. Bodoh pun kita tetap besar. Dengan mental kerdil pun kita tetaqp besar. Dengan modal moralitas yang rendah dan hina pun bangsa kita tetap bangsa besar. Oleh karena itu kita tidak memerlukan kebesaran, karena memang sudah besar. (Hal. 21)

Pemahaman akan “siapa” orang Indonesia sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh Cak Nun, pada tahun 1977, Muchtar Lubis berhasil mengidentifikasi lebih dari sepuluh sifat orang Indonesia. Namun kebanyakan bernada negatif. Di antaranya hasil identifikasi Muchtar Lubis yang bernada negatif yaitu, menilai bahwa orang Indonesia hipokrit, enggan bertanggung jawab atas perilakunya, bermental feodal, percaya takhayul dan tidak hemat. Sedangkan yang bernada positif yaitu orang Indonesia itu artistik, yang bermakna bahwa orang Indonesia mencintai seni.

Nampaknya hasil identifikasi yang dilakukan oleh Muchtar Lubis inilah yang kemudian dipakai sebagai tolak ukur untuk membaca apa dan siapa orang Indonesia selama ini. Wajar jika kemudian kritik berbalas selalu terjadi di negeri ini. Kritik tersebut lebih sering dilontarkan antar sesama orang Indonesia, namun ketika Negara lain yang mengkritik, mengolok atau menggunjingkan Indonesia, kita lebih banyak memilih diam. Bahkan ketika pulau Indonesia, kebudayaan Indonesia hingga pada produk yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia diklaim sebagai milik bangsa lain, kitapun tetap memilih diam.

Sikap diam yang dilakukan oleh manusia Indonesia diinterpretasikan oleh Cak Nun bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang tak butuh kebesaran. Kerendah hatian itulah yang digarisbawahi oleh Cak Nun sebagai sikap manusia Indonesia yang pantas untuk dikagumi. Dilain hal, yang patut dikagumi dari manusia Indonesia adalah sikap kerja keras. Tidak benar jika dikatakan bahwa manusia Indonesia adalah pemalas. Hal ini dibuktikan oleh Cak Nun ketika mendapati tenaga kerja Indonesia lebih disayang oleh pimpinan perusahaan di mana mereka bekerja daripada tenaga kerja dari bangsa lain. Untuk menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak pemalas, dalam salah satu esainya pada buku ini Cak Nun sengaja memberi judul “Bukan Bangsa Pemalas”.

Manusia Indonesia tidaklah harus menjadi manusia yang disegani atau bahkan ditakuti oleh bangsa lain, karena kekaguman terhadap manusia Indonesia adalah murni kekaguman akan potensi yang dimiliki oleh manusia Indonesia seutuhnya. Kehadiran buku ini cocok kiranya untuk ditampilkan sebagai perenungan bersama akan kekurangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia untuk kemudian dijadikan sebagai kekuatan manusia Indonesia yang sesungguhnya. Karena bukanlah senjata berat atau kapal yang tangguh yang dapat melindungi bangsa ini, melainkan karakter dan jati diri manusia Indonesia untuk melindungi harga diri bangsanya.

Akhirnya, tidak perlu lagi kita mengumandangkan “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Tapi, bangga aku menjadi orang Indonesia.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar