Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=229
Istirahlah perempuan agung, sambut mentari esok lewat sedenyar fajar
dan tunjukkan wajah berserimu di hadapan cahaya (III: I).
Bila berjaga, dekaplah kantuk berselimutkan mesra,
akan tetapi lebih terpuji, mengupas berbathin ketenangan (III: II).
Sebab tatapan setia, sepenantian terbangunnya mimpi
selepas pulas mendengkur, atas tegukan anggur kelelahan (III: III).
Penjagaannya tanpa membuatmu serba salah,
dia tidak bodoh menciptakan cermburu,
atau terpenggal pengamatan was-was (III: IV).
Perhatian lembutnya tak sampai merobohkan
yang sedang kau bangun dalam genggaman (III: V).
Jika kekagumannya merepotkanmu, dia rela meninggalkan dirimu
sambil membawa sebuah arti-kata terima kasih (III: VI).
Kalau tentrammu oleh mekarnya payung sekalipun pergi jauh,
tudung itu meneduhkan di kala terik-hujan menimpa (III: VII).
Ia kejadiannya, sedang kau berkas-berkasnya,
ia peniup angin, sementara kau pelukisnya (III: VIII).
Asalnya waktu dari kesadaran usia
dan tidak manusiawi jikalau tak inginkan lebih (III: IX).
Takdir dirinya diperjodohkan, lalu masa berbeban jikalau dikenai denda,
seekor burung mengambili secarik-carik rumput, meringankan masa silam (III: X).
Kau mencari kegunaan sarang ruh selain tempat berteduh,
manakala buih di laut centang-perenang mencapai maknanya,
insan menarik hikmah kendali, belajar kepada alam berkali-kali (III: XI).
Kesempatan itu sepotong pengertian sekilas bayangan,
ulurankan tanganmu ke hadirat kekasih, yang tersampaikan
tak melukai sisi lain, atas segala manfaat nalar bertujuan (III: XII).
Ia tak sekadar bahan perbincangan, telah melewati ondakan penelitian,
kau cendekia menggali siratan, manakala hijab terungkap laksana para utusan
membawa cerlang berbeda, sekiranya mutiara berpahat seribu rupa (III: XIII).
Ia bukan golongan filsuf tulen atau kawanan penyair mapan,
namun sorot matanya jelas berdekatan, tariklah penafsiran darinya,
kau akan kenyang, atas kepribadianmu berdaya magnit (III: XIV).
Jadikan wengi berhias warna berpeluk melodi jiwa dalam percakapan renyah,
semua berlangsung ceria, yang melewati dinding bisu tak sabar menunggu (III: XV).
Jangan menunggu di saat sebagai waktumu,
masa-masa hilang bukan berarti tidak bersamamu, kau berbeban gelisa
membawa ingatan waspada, menjadikan kau sang ratu waktu (III: XVI).
Semenjak itu kau menyambut benderang kedatangannya,
damai tanpa memendam keganjilan, dan petuahnya mengendapkan sikapmu,
jikalau dalam gurauan pesta berangsur, menuju peraduan (III: XVII).
Terimalah kesunyian tak asing, masa menginginkan perhatian serupa,
adillah tersebab kau tahta di kerajaan tidak terhingga, dan kajilah berlahan
sebelum semuanya berlalu sia-sia oleh terlena (III: XVIII).
Ciptakan mimpi-mimpimu berasal kantuk lelah gerilya,
ia bagian terikat, keluar-masuk potongan masa yang terlipat;
lihatlah pekerja di sungai, menimbun pasir mencari bijian emas,
sesekali turunkan bebanmu agar harapan ringan terasa (III: XIX).
Yang sekian waktu berkeringat kepanasan akan baik di kala senja,
meski gerah bersenyumlah di gerbang istirah, ia gandul penunggu pintu (III: XX).
Sengaja berkirim surat tidak sekali itu hilang, berkali-kali insan mengeja
tetembangan ranum menenangkan bayi, yang tampak menderu tangis (III: XXI).
Ia jelajahi kemurnian letih, sekian masa ditinggal demi mencapai makna
persembahan atau pilihan manusia, ditentukan diyakini perjalanannya (III: XXII).
Ia memahami bahasa hempasan gelombang diayun layar bathinmu
membentangi suara kedalaman, berhias bintang berjajar awan (III: XXIII).
Masihkah ingat bintang mana yang kau pilih?
Lantas ia berlalu lenyap dalam gelap malam (III: XXIV).
Anggaplah ia datuk kepercayaanmu
walau dulunya kau membatin di setiap perjamuan (III: XXV).
Belajarlah kepenuhan, agar keraguan terlempar keluar
dari kebencian hukum cincin pernikahan sepenggal (III: XXVI).
Ia menelisik corak cemberutmu lalu memperoleh manisnya, dan merindu
tamparan kedua, ciptakanlah tamparan serupa agar saat bayar hutang tidak
berkeadaan bimbang, ia mencintai harapanmu akan keabadian (III: XXVII).
Telah sampai hasrat bertujuan kepada pipimu kemerahan,
ia membelai rambutmu lalu lekat lembut kulitnya-kulitmu
saat senja berbisik gerimis seusia dedaun bambu,
derai-derainya persembahkan menuju pembaringan (III: XXVIII).
Akrabkan kembali alunan tembang kenangan semilam,
ia meniupkan ruh kehidupan bagi beranjak ke gerbang abad,
bentangan kebiruan berkaki hijau, ditelusurinya jejak gembala (III: XXIX).
Ketersipuanmu menghuni celah-celah kamar beraroma mayang,
kehadiranmu belum cukup dimengerti kekasih jika tak yakin (III: XXX).
Jemari manisnya terlingkar janji menghitung waktu kian misteri,
sudahkah temukan tongkat pencapaian? Timur-barat pecah gelap-terang,
dengan kaki-kaki lincah melangkah meninggalkan firasat salah (III: XXXI).
Siapa menghantuimu? Apakah kau masih bersahabat?
Seiring gamelan terhenti, keheningan menguasai, kau terpejam
antara ganjil nan terus cari penentu dalam goa khalwat (III: XXXII).
Asalnya tanah kita berlangitkan malam benderang gemintang,
beling-bening-hening terjaga kumpulan padat batu, api awan rindu,
lalu gelombang angin mengitari gulungan waktu membeku (III: XXXIII).
Di mana palung karang naik menjebol bibir pasir pesisir,
lantas deraian gerimis memberi lobang ribuan pada logam (III: XXXIV).
Deretan lembut memasuki kodrat alam dari rengkuhan kata
yang rapat berbaris merambat ke pegunungan kelir wayang (III: XXXV).
Terciptanya bentukan mendasar membumi periuk kehidupan,
kelopak-kelopak kembang betebaran, sedang putik-putik petikkan dawai,
tercampur di kanvas semesta jiwa melewati telinga rindumu (III: XXXVI).
Wewarna lempung hati manusia, bergejolak mengikuti irama hujan,
lalu pulung berpindah dari telatahnya semula (III: XXXVII).
Yang mengendap matang menyusuri atmosfer besar,
telaga memantulkan cahaya kasih; kehendak hidup sepoi basah menabur pagi,
bergesek turun menyulami pegunungan purbani (III: XXXVIII).
Rumput ilalang berseri bunga mentari di ketinggian dada segar pemudi
melafalkan serat Centini yang dituliskan pandita sekti (III: XXXIX).
Kenyangkan menghirup perbendaharaan harum kembang
sebab insan tak mampu melukis purnanya keagungan,
menampung lagi mengalirkan anak-anak sungai kehidupan (III: XL).
Bangsa-bangsa asing yang bertambat di kepulauanmu
mendapati semak bakau kesegaran kicauan camar,
bersahutan laguan gelombang, mencipta cikal-bakalnya langgam (III: XLI).
Rindu jiwamu memuncak gemunung berlembaran kabut
merambati sapuan kuas sesayap kekupu mengepak pergi
memikat jemari tangan mata para peri (III: XLII).
Waktu awan menyungkup menjelajahi badan bengawan,
perahu kayu para penjala ikan mengapung kelelahan, sedang para petani
membajak tanah di ketinggian bukit, melihat lembah surga penanti (III: XLIII).
Kawanan bangau berbondong melewati malam kemarau
mencari tanah hujan bagi menetap dan setia (III: XLIV).
Burung-burung pemakan bebiji menaburkan benih
pada belahan semula kosong takdir,
inilah hikayat menundukkan ladang-ladang purbawi (III: XLV).
Perkawinan burung-burung menjaga benang lestari, jikalau sayapnya sakit
terawat kibasan dedaun pagi, dirinya sesekali berlompatan pada bebatuan kerikil,
di saat awan berganti-ganti mengarungi keabadian (III: XLVI).
Melewati jalan kecil, kekuncup mungil berjatuhan seiring dentingan hujan
kepada sulur tubuh rimba kebijakan (III: XLVII).
Merunduk pepadian berisi atas hawa lereng berkisah sejati,
tiada pernah lekang kurun masa dalam percintaan (III: XLVIII).
Segenggam semangat setia pada lengan tembaga pekerja,
mendayung perahu jaman ke matahari di setiap paginya menabur kehangatan,
ia setubuhi bulan setujui bumi dilanda malam (III: XLIX).
Kala musim kelabu tempaan hayat, berulang jiwa meninggikan kenangan
meminum air degan, senyawa perjuangan tidak berhenti bertarian abadi (III: L).
Ia menjejakkan sukma hitam merangsek daya tampan,
kala khotbah dikumandangkan berpuja-puji kekinian (III: LI).
Pada kedalaman gerak, sambaran petir ke pohon membelah gamang,
lalu bintang terjatuh dikecupnya tubuh sungai memanjang di bawah jembatan
yang dilahirkan fajar sedari rimba wengi paling menawan (III: LII).
Jika sepotong roti menyisakan untuk semut sedekahmu
bersinambung putaran terkira ke hulu, serupa mati suri
melewati padang marabahaya dihampiri (III: LIII).
Walau getir ikhlaslah terdampar merestui pengembaraan
atas terdengarnya tetembangan sejauh memikul tandu gerilya,
dan setiamu ditimbangan berkah rindu merdeka (III: LIV).
Di atas tandu ia berseru, apa kalian mencari tubuh-tubuh gentayangan di
bumi sakit? Mereka diam, saling menafaskan angkasa dihempas ke bumi (III: LV).
Menyedot wewarna-keharuman dari altar hening,
bergerak nasib penuh arti, serupa batuan retak di seratnya
oleh air mengalir melewati kelembutan menguatkan jiwa (III: LVI).
Bulan menawan setiap khusuknya mata ke langit terdukung,
inikah nyanyian dijanjikan? Di atas angin bukan melupakan bumi
dan di bawah malam berkeindahan pagi (III: LVII).
Hari siang memberi kematangan, air melepas rantai dahaga,
tanah menyatukan tekad udara bertempat masa, terus melangkah berseri
sedangkan hantu-hantu murung terpenjara ambisi kerdil sendiri (III: LVIII).
Padang tandus dipandangnya menawan, bilamana meraja mengisi jejiwa
sunyi bertembangan, yang terbentuk bernilaikan puji dilestarikan alam (III: LIX).
Sayup-sayup terdiam lenyap memasuki ruang temaram, sukma berbisik;
simaklah kedalaman, jangan perjelas degup jantungmu (III: LX).
Dengarlah nyanyian kalbumu berpukulan genta menenangkan telinga,
sedang pancaran fitroh akan melahirkan jiwamu (III: LXI).
Sapuan kain putih melambai lembut menyiratkan lelaku,
di atas turangga kepakannya menuju gunung kebajikan (III: LXII).
Kepurnaan tekat atas tudingannya, sedang perbedaan drajad
berasal bau keringat kembang perjuangan (III: LXIII).
Tuluslah menyetiai seperti nyawa kembang, tetangkai yang terputus
tampak tersenyum molek kelopak-kelopaknya (III: LXIV).
Perempuan-perempuan itu membawanya ke pasar bukanlah kekejian,
di letakkan karangan bunga itu pada makam raja-raja (III: LXV).
Kembang kering dalam keranjang menanti pembeli sedalam pengabdian,
sekar tercampakkan jemari, merana di kegelapan, pilunya menjelma mulia (III: LXVI).
Seiring panggilan seruling gembala menuntun perindu,
bunyi nyaringnya mengalungkan kalbu bernilaikan merdu,
pertapa merasakan aliran sungai puja-puji matahari
akan meneguhkan bathin berkiblat semesta abadi (III: LXVII).
Kaki-kaki melangkah mata memandang gunung berjajaran batang kabut,
dedaun hijau berperasaan dewasa,
membangunkan rumput menggoyang hening embun (III: LXVIII).
Melewati pepohonan menelusup ke kulit rerimbun,
carang bekas unggun semalam menyisahkan asap membumbung
mengisyaratkan puncak kangen seawan mengembang di ubun-ubun (III: LXIX).
Aroma bunga pada tanah pebukitan diguyur hujan ketinggian,
pekabutan sejuk melampaui kehangatan dan embun mencair
dalam muka senyum menggugurkan keraguan (III: LXX).
Rerumputan masa silam merambati cahaya keyakinan,
kelopakan padma terbuka, kekupu kembara lemas di tangan penanti,
dielus sayap tipisnya dan diciumi tubuh cantiknya (III: LXXI).
Kecupan di bibirnya melahirkan kejernihan fikiran,
sukma meranggeh hening yang didamba bulu lembut perhatian (III: LXXII).
Bau kembang melati wanginya ke sudut-sudut jaman, kuncupnya
sedari kurungan semesta, tatkala dada meledak di pusaran asmara (III: LXXIII).
Angin panggung menarikan dedaunan bambu berjemari lentik
pada lengkungan alis matamu menggayuh purnama (III: LXXIV).
Bila membuktikan gairah, merdekalah jiwa-jiwa terpenjara
sebab sketsa sebatas mata dan ruh tak tertangkap olehnya (III: LXXV).
Obor nurani menjilati uluhhati dan hasrat tumpah,
jikalau mengasah pedang dalam warangka hikmah (III: LXXVI).
Tapak kuda menebah kencang berlari kepada pasir pesisir memutih,
seterbangnya elang diterjang angin pantai menuju gugusan mengagumkan,
mengejawantah bebijian melekat di taman pengertian (III: LXXVII).
Cahaya mahatari memanggang hujan demi kelestarian, memudahkan tali
-temali kendali turangga sembrani, disentak ke tanah keabadian (III: LXXVIII).
Di taman pengetahuan kekasih, kita fahami aroma kembang,
tetangkai belia menyebarkan putik-putik ke pelosok desa sejati rasa
karena hasrat tertumpah digerakkan alam sekitarnya (III: LXXIX).
Taman bunga kata-kata mengikuti angin kalimat memuara,
sedang bebatuan mulia hanyut ke dasarnya (III: LXXX).
Ikan-ikan di telaga berpandangan tanpa hempasan bimbang, andai pun ada
dedahan patah terjatuh, hanya pusaran kecil beda pendapat lemparan (III: LXXXI).
Lihatlah sejauh mana lingkaran ombak saling bertemu,
bercumbu sedalam ikatan setuju putaran waktu (III: LXXXII).
Matahari memperindah bulan sabit menyetiai wewaktu
mengisi rindu melewati perbincangan membisu (III: LXXXIII).
Kelahiran kasih sayang sakit atas perut ketabahan,
berbuncang guyup kesadaran (III: LXXXIV).
Hari-hari atas percikan air dan api, udara juga tanah-hati,
serta yang tak tertangkap indrawi (III: LXXXV).
Gerak di bawah sadar ketaklumrahan terjangkau realita,
inikah senggolan nasib manusia? Kesadaran tak mencapai mutlak! (III: LXXXVI).
Apalah hebat mengundat, mencampur aduk perkara, sebab kau kehausan,
timbalah sumbur berkah, dan gerimis mempercepat nafas doa (III: LXXXVII).
Menuju awan membumbung merayu batinmu kayungyung
segala uap membebaskan bayangan menghilangkan cinta bentuk
pula suara-suara penolakan (III: LXXXVIII).
Awan-gemawan terkikis gerimis, sekilat itu doa-doa ditimbang,
ruh hayat gentayangan menelusuri dedaun waktu ke pucuk-pucuk semesta rindu
abu tertimbun tungku, matilah bara oleh gelembung air nafas bayu (III: LXXXIX).
Tunggulah terhempas di bebatuan rela,
dentingan air ketabahan memadukan nada di tepian jiwa (III: XC).
Alam atas sadar itu tarikan benang layang-layang, sedangkan terlalu memberat
di bawah kesadaran, dan di antara keduanya, kelanggengan irama terjaga (III: XCI).
Kuda tersengat kulitnya bersemangat diarahkan larinya kepada bayu nurani,
dulu terdorong,
namun kini kemuliaan fungsikan tali-temali, demi laju masa depan nanti (III: XCII).
Sedang kecenderungan melamun itu sederet keindahan
yang melahirkan senyum tanpa mengetahui muasal-jawaban (III: XCIII).
*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar