Haris del Hakim
Jalan itu berkelok sangat tajam. Sapi’i terlambat membanting setir mobilnya, menabrak pohon, dan beberapa saat kemudian dia sudah terbaring di rumah sakit; dadanya dijahit dan kedua matanya harus ditutup perban.
Mata bagi Sapi’i sangat penting artinya. Karena, hampir semua orang memuji matanya. Sorotnya teduh, bulunya lentik, serta lirikannya meruntuhkan jantung siapa pun yang memandangnya. Salah satu buktinya adalah istri yang cantik dan terpaut lima belas tahun darinya. Hanya berbekal mata itu pula ia terbilang sukses dalam pekerjaan sebagai pialang. Persoalan jual beli yang menjadikannya sebagai perantara jarang mendapatkan masalah. Mulai dari rumah, tanah, kendaraan, dan apa saja yang bisa diperantarai.
Sapi’i menggerakkan tangan hendak membuka perban di kepala, namun istrinya segera mencegah dan memekik, “Kamu sudah sadar, Mas?”
“Mengapa aku di rumah sakit?” tanya Sapi’i dengan nada keras. “Bukankah kamu tahu aku paling alergi dengan bau rumah sakit?”
Istri Sapi’i yang muda itu menjawab dengan tangisan. Dia tahu betapa sakit hati Sapi’i kalau tahu mata kesayangannya tidak berfungsi lagi. Ketika Sapi’i mengulang pertanyaannya lagi, goncangan tubuhnya tak tertahankan hingga menekan bagian dada Sapi’i yang baru dijahit. Sapi’i menjerit, “Mengapa sekujur tubuhku diperban?”
Istri Sapi’i makin keras menangis. Untunglah pintu terbuka dan seorang dokter muda yang tampan tersenyum pada istri Sapi’i. Bibirnya melontarkan pertanyaan dengan nada lembut, “Sudah sadar?”
Tangan Istri Sapi’i mengelus dada yang diperban namun matanya menatap dokter muda itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan tentang luka Sapi’i. Sapi’i jengah diperbincangkan dan menanyakan langsung keadaannya. Seperti dokter-dokter lain, dokter muda itu meyakinkan Sapi’i bahwa lukanya baik-baik saja dan rumah sakit ini akan sanggup memberikan pengobatan hingga sembuh, meskipun tidak secara total. Tidak lupa dokter muda itu juga menyebut kekuasaan Tuhan tentang cobaan dan menyuruh Sapi’i bersabar. Begitu pula sarannya kepada istri Sapi’i. Sapi’i menanyakan berapa perkiraan biaya perawatan dan dokter muda itu tidak langsung memberikan jawaban berapa jumlah nominal yang harus dikeluarkan, melainkan dia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan luka Sapi’i yang semakin parah bila dibiarkan. Tentu saja, dengan bahasa kedokteran yang tidak dipahami maksudnya oleh Sapi’i dan istrinya. Setidaknya, mereka berdua bisa membayangkan bahwa luka yang dialami Sapi’i tidak bisa dianggap remeh dan tentu saja ongkosnya mahal.
Sapi’i merasa bosan dengan penjelasan dokter muda itu dan menukas dengan pertanyaan berapa rupiah dia harus membayarnya. Dokter muda itu memperdengarkan seringai ramah, “Belum bisa dipastikan.”
Rasa dongkol menghantam dada Sapi’i. Untuk tahu satu kalimat pendek saja dia harus mendengar ceramah panjang lebar tanpa mengerti maksudnya pula. Ketika terdengar pintu kamar ditutup ia pun bernafas lega.
***
Jutaan rupiah telah keluar dari tabungan Sapi’i, bahkan tak tersisa lagi, namun semua itu tidak dapat mengembalikan matanya yang teduh. Dunianya pun berubah. Selama ini orang-orang berduyun-duyun meminta pendapat dan nasehat padanya, dunia pun gemerlap dengan lampu kerlap-kerlip dan bermacam ragam manusia, dan kesibukan seperti hiburan yang memukau serta menyeret para pemainnya dalam arus tak terbendung. Sekarang dia sendirian ditinggalkan sanakkerabat dan teman-temannya dalam dunia gelap yang hanya dihuni oleh beberapa suara di sekitarnya saja.
Hampir tiga tahun Sapi’i menjalani dunia gelap dan tergantung pada orang lain. Dia hanya mengandalkan telinganya yang perlahan mulai rusak digerogoti usia. Hanya suara istrinya yang bisa dikenali dengan baik dan beberapa sanak kerabat yang masih sering berkunjung padanya. Sementara mereka yang hanya dekat ketika dia menggenggam sukses sudah tidak pernah menghubunginya lagi dan terlupakan oleh Sapi’i.
Kekayaan Sapi’i yang dikumpulkan selama puluhan tahun sudah ludes untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa badan usahanya telah berpindah tangan. Tahun pertama usaha transportasi, kemudian pertokoan, disusul perumahan, lantas swalayan-swalayan, servis mobil, dan akhirnya tinggal rumah yang ditempatinya yang tersisa. Istri Sapi’i pontang-panting mengatur simpanan dan aset yang kian tipis. Apabila sampai tiga bulan ke depan tidak ada penghasilan tetap maka bukan tidak mungkin bila rumah mereka pun terjual. Keadaan itu diperparah dengan teman-teman istri Sapi’i yang mulai mencemooh keluarganya sebagai orang bangkrut. Sapi’i hanya bisa menghiburnya dengan nasehat-nasehat untuk bersabar.
***
Pagi itu sesuatu yang luar biasa terjadi. Mata Sapi’i yang buta akibat kecelakaan dapat melihat kembali. Sorak kegirangan, rasa tidak percaya, puji sukur berkali-kali, terbalut menjadi satu. Dia memuji Tuhan yang mengembalikan matanya yang teduh. Dia memanggil istrinya untuk membagi kebahagiaan tak disangka itu. Ia berteriak berkali-kali tetapi tidak ada sahutan. Dia keluar dari kamar.
Liku-liku lorong ruang masih dapat dikenali meskipun dia merasa asing, seperti seseorang yang telah lama meninggalkan rumah dan kembali lagi. Rumah Sapi’i masih bersih. Istrinya perempuan yang rajin meskipun bertahun-tahun Sapi’i menjadi bebannya; sebagai orang buta dan bangkrut. Dia terus berteriak memanggil istrinya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari seorang bangkrut selain kembalinya modal utama dan harapan untuk bangkit kembali? Selama lima tahun dia kehilangan mata yang teduh dan sekarang kembali lagi.
“Lily!” teriak Sapi’i dengan keras ketika mendapati istrinya sedang memotong rumput di taman..
Istri Sapi’i tampak kaget mendengar suaminya memanggil dirinya dan perlahan-lahan mendekatinya. Dia masih juga belum percaya ketika Sapi’i menunjukkan kedua matanya yang tak lagi terpejam dan berfungsi dengan baik. Sapi’i mengatakan kalau ada tanah di jidat istrinya sebagai bukti kalau dia sudah bisa melihat lagi. Istri Sapi’i meraba bagian tubuh yang dimaksud dan mendapati sepotong tanah basah di jidatnya. Ia melepas gunting rumput dan memeluk suaminya erat-erat.
Istri Sapi’i buru-buru melepaskan pelukannya kemudian masuk ke rumah. Tangannya mengambil buku telepon dan beberapa saat kemudian ia sibuk berbicara dengan teman-temannya. Ia menghubungi siapa saja dan mengatakan suaminya sudah dapat melihat lagi, tentu saja sambil mengungkapkan harapan bahwa sebentar lagi masa kejayaan akan terulang kembali. Mata yang teduh itu akan melindungi dirinya dan nama baiknya yang hampir suram itu.
“Ini memang mukjizat,” kata istri Sapi’i. “Bapak benar-benar orang baik. Sejak dulu sudah saya katakan kalau kami akan mengulang kejayaan itu. Pada saat musibah ini menimpa suamiku, saya yakin ini ujian dari Tuhan. Saya akan bersabar dan kesabaran itu telah membuahkan hasil sekarang.”
Hampir setengah hari istri Sapi’i sibuk menelepon ke sana kemari. Dia juga menambahkan kalau nanti malam ada sukuran sederhana. Sapi’i berkali-kali memperingatkan bilamana biaya pulsa akan membengkak bulan ini, tetapi dengan enteng istrinya menjawab, “Tenang saja. Nanti malam semua pasti sudah kembali. Matamu yang teduh itu akan mengeruk kekayaan harta mereka.”
Pada sore hari banyak teman-teman lama Sapi’i yang berkunjung ke rumahnya. Mereka memberikan ucapan turut berbahagia atas kesembuhannya. Mereka yang selama ini menghilang ketika Sapi’i menderita kebutaan mengemukakan alasan masing-masing. Mereka juga mengemukakan upaya-upaya yang dilakukan demi membantunya. Sapi’i mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas semua itu. Seperti yang dikatakan oleh istrinya; di antara mereka ada yang menyelipkan amplop, yang tergesa-gesa menggenggam lembaran ratusan ribu, ada juga yang meletakkan Bilyet Giro ke meja Sapi’i.
Ketika semua sudah pulang, istri Sapi’i cepat-cepat mengumpulkan amplop dan surat berharga yang ada. Dia menghitung jumlahnya dan bersorak gembira karena hanya dalam semalam ia mendapatkan ratusan juta rupiah. Dia kembali mengatakan kalau kejayaan itu akan kembali.
“Lihat, Pa. Sinar matamu yang teduh telah berfungsi kembali menjadi modal utama kita. Dalam semalam saja telah terkumpul uang sedemikian banyak. Tatapan matamu berhasil mengetuk pintu hati semua orang. Tidak percuma aku bersabar selama ini.” Ungkapan itu disusul dengan penjelasan bagaimana menderitanya perempuan itu; mulai dari dihina teman-teman hingga harus ke sana kemari untuk menawarkan perusahaannya.
“Kita sudah tua, Lily,” komentar Sapi’i dengan nada menasehati. “Lihat saja rambutmu sudah ditumbuhi uban.”
“Apa urusannya dengan usia. Uang tetaplah uang. Kekayaan tetaplah kekayaan,” jawab istrinya sambil mengibaskan uang di tangan kiri.
Sapi’i celingukan mencari sesuatu. Istrinya menanyakan apa yang dicarinya. “Aku ingin bercermin agar tahu kalau usiaku sudah tua.”
Dengan nada ketus istri Sapi’i menjawab, “Cerminnya sudah kujual. Untuk apa lagi cermin bila kecantikanku tidak ada yang menikmati lagi?! Lumayan harganya, cukup untuk kebutuhan kita seminggu.”
Istri Sapi’i menawarkan kaca di wadah bedaknya. Sapi’i mengambilnya dan segera berkaca. Pertama kali yang ditatap adalah matanya. Dia sudah rindu melihat sinar matanya yang teduh. Dulu dia merasa sangat percaya diri setiap kali habis melihat keteduhannya.
Akan tetapi, betapa terkejutnya Sapi’i ketika melihat sorot matanya bukan lagi sorot mata yang teduh dan mengayomi orang lain, melainkan sorot mata yang mengiba pada orang-orang yang melihatnya.
Surabaya, juli 2006
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Rabu, 20 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar