Rabu, 20 Agustus 2008

MATA YANG TEDUH

Haris del Hakim

Jalan itu berkelok sangat tajam. Sapi’i terlambat membanting setir mobilnya, menabrak pohon, dan beberapa saat kemudian dia sudah terbaring di rumah sakit; dadanya dijahit dan kedua matanya harus ditutup perban.

Mata bagi Sapi’i sangat penting artinya. Karena, hampir semua orang memuji matanya. Sorotnya teduh, bulunya lentik, serta lirikannya meruntuhkan jantung siapa pun yang memandangnya. Salah satu buktinya adalah istri yang cantik dan terpaut lima belas tahun darinya. Hanya berbekal mata itu pula ia terbilang sukses dalam pekerjaan sebagai pialang. Persoalan jual beli yang menjadikannya sebagai perantara jarang mendapatkan masalah. Mulai dari rumah, tanah, kendaraan, dan apa saja yang bisa diperantarai.

Sapi’i menggerakkan tangan hendak membuka perban di kepala, namun istrinya segera mencegah dan memekik, “Kamu sudah sadar, Mas?”

“Mengapa aku di rumah sakit?” tanya Sapi’i dengan nada keras. “Bukankah kamu tahu aku paling alergi dengan bau rumah sakit?”

Istri Sapi’i yang muda itu menjawab dengan tangisan. Dia tahu betapa sakit hati Sapi’i kalau tahu mata kesayangannya tidak berfungsi lagi. Ketika Sapi’i mengulang pertanyaannya lagi, goncangan tubuhnya tak tertahankan hingga menekan bagian dada Sapi’i yang baru dijahit. Sapi’i menjerit, “Mengapa sekujur tubuhku diperban?”

Istri Sapi’i makin keras menangis. Untunglah pintu terbuka dan seorang dokter muda yang tampan tersenyum pada istri Sapi’i. Bibirnya melontarkan pertanyaan dengan nada lembut, “Sudah sadar?”

Tangan Istri Sapi’i mengelus dada yang diperban namun matanya menatap dokter muda itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan tentang luka Sapi’i. Sapi’i jengah diperbincangkan dan menanyakan langsung keadaannya. Seperti dokter-dokter lain, dokter muda itu meyakinkan Sapi’i bahwa lukanya baik-baik saja dan rumah sakit ini akan sanggup memberikan pengobatan hingga sembuh, meskipun tidak secara total. Tidak lupa dokter muda itu juga menyebut kekuasaan Tuhan tentang cobaan dan menyuruh Sapi’i bersabar. Begitu pula sarannya kepada istri Sapi’i. Sapi’i menanyakan berapa perkiraan biaya perawatan dan dokter muda itu tidak langsung memberikan jawaban berapa jumlah nominal yang harus dikeluarkan, melainkan dia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan luka Sapi’i yang semakin parah bila dibiarkan. Tentu saja, dengan bahasa kedokteran yang tidak dipahami maksudnya oleh Sapi’i dan istrinya. Setidaknya, mereka berdua bisa membayangkan bahwa luka yang dialami Sapi’i tidak bisa dianggap remeh dan tentu saja ongkosnya mahal.

Sapi’i merasa bosan dengan penjelasan dokter muda itu dan menukas dengan pertanyaan berapa rupiah dia harus membayarnya. Dokter muda itu memperdengarkan seringai ramah, “Belum bisa dipastikan.”

Rasa dongkol menghantam dada Sapi’i. Untuk tahu satu kalimat pendek saja dia harus mendengar ceramah panjang lebar tanpa mengerti maksudnya pula. Ketika terdengar pintu kamar ditutup ia pun bernafas lega.

***
Jutaan rupiah telah keluar dari tabungan Sapi’i, bahkan tak tersisa lagi, namun semua itu tidak dapat mengembalikan matanya yang teduh. Dunianya pun berubah. Selama ini orang-orang berduyun-duyun meminta pendapat dan nasehat padanya, dunia pun gemerlap dengan lampu kerlap-kerlip dan bermacam ragam manusia, dan kesibukan seperti hiburan yang memukau serta menyeret para pemainnya dalam arus tak terbendung. Sekarang dia sendirian ditinggalkan sanakkerabat dan teman-temannya dalam dunia gelap yang hanya dihuni oleh beberapa suara di sekitarnya saja.

Hampir tiga tahun Sapi’i menjalani dunia gelap dan tergantung pada orang lain. Dia hanya mengandalkan telinganya yang perlahan mulai rusak digerogoti usia. Hanya suara istrinya yang bisa dikenali dengan baik dan beberapa sanak kerabat yang masih sering berkunjung padanya. Sementara mereka yang hanya dekat ketika dia menggenggam sukses sudah tidak pernah menghubunginya lagi dan terlupakan oleh Sapi’i.

Kekayaan Sapi’i yang dikumpulkan selama puluhan tahun sudah ludes untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa badan usahanya telah berpindah tangan. Tahun pertama usaha transportasi, kemudian pertokoan, disusul perumahan, lantas swalayan-swalayan, servis mobil, dan akhirnya tinggal rumah yang ditempatinya yang tersisa. Istri Sapi’i pontang-panting mengatur simpanan dan aset yang kian tipis. Apabila sampai tiga bulan ke depan tidak ada penghasilan tetap maka bukan tidak mungkin bila rumah mereka pun terjual. Keadaan itu diperparah dengan teman-teman istri Sapi’i yang mulai mencemooh keluarganya sebagai orang bangkrut. Sapi’i hanya bisa menghiburnya dengan nasehat-nasehat untuk bersabar.

***
Pagi itu sesuatu yang luar biasa terjadi. Mata Sapi’i yang buta akibat kecelakaan dapat melihat kembali. Sorak kegirangan, rasa tidak percaya, puji sukur berkali-kali, terbalut menjadi satu. Dia memuji Tuhan yang mengembalikan matanya yang teduh. Dia memanggil istrinya untuk membagi kebahagiaan tak disangka itu. Ia berteriak berkali-kali tetapi tidak ada sahutan. Dia keluar dari kamar.

Liku-liku lorong ruang masih dapat dikenali meskipun dia merasa asing, seperti seseorang yang telah lama meninggalkan rumah dan kembali lagi. Rumah Sapi’i masih bersih. Istrinya perempuan yang rajin meskipun bertahun-tahun Sapi’i menjadi bebannya; sebagai orang buta dan bangkrut. Dia terus berteriak memanggil istrinya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari seorang bangkrut selain kembalinya modal utama dan harapan untuk bangkit kembali? Selama lima tahun dia kehilangan mata yang teduh dan sekarang kembali lagi.

“Lily!” teriak Sapi’i dengan keras ketika mendapati istrinya sedang memotong rumput di taman..

Istri Sapi’i tampak kaget mendengar suaminya memanggil dirinya dan perlahan-lahan mendekatinya. Dia masih juga belum percaya ketika Sapi’i menunjukkan kedua matanya yang tak lagi terpejam dan berfungsi dengan baik. Sapi’i mengatakan kalau ada tanah di jidat istrinya sebagai bukti kalau dia sudah bisa melihat lagi. Istri Sapi’i meraba bagian tubuh yang dimaksud dan mendapati sepotong tanah basah di jidatnya. Ia melepas gunting rumput dan memeluk suaminya erat-erat.

Istri Sapi’i buru-buru melepaskan pelukannya kemudian masuk ke rumah. Tangannya mengambil buku telepon dan beberapa saat kemudian ia sibuk berbicara dengan teman-temannya. Ia menghubungi siapa saja dan mengatakan suaminya sudah dapat melihat lagi, tentu saja sambil mengungkapkan harapan bahwa sebentar lagi masa kejayaan akan terulang kembali. Mata yang teduh itu akan melindungi dirinya dan nama baiknya yang hampir suram itu.

“Ini memang mukjizat,” kata istri Sapi’i. “Bapak benar-benar orang baik. Sejak dulu sudah saya katakan kalau kami akan mengulang kejayaan itu. Pada saat musibah ini menimpa suamiku, saya yakin ini ujian dari Tuhan. Saya akan bersabar dan kesabaran itu telah membuahkan hasil sekarang.”

Hampir setengah hari istri Sapi’i sibuk menelepon ke sana kemari. Dia juga menambahkan kalau nanti malam ada sukuran sederhana. Sapi’i berkali-kali memperingatkan bilamana biaya pulsa akan membengkak bulan ini, tetapi dengan enteng istrinya menjawab, “Tenang saja. Nanti malam semua pasti sudah kembali. Matamu yang teduh itu akan mengeruk kekayaan harta mereka.”

Pada sore hari banyak teman-teman lama Sapi’i yang berkunjung ke rumahnya. Mereka memberikan ucapan turut berbahagia atas kesembuhannya. Mereka yang selama ini menghilang ketika Sapi’i menderita kebutaan mengemukakan alasan masing-masing. Mereka juga mengemukakan upaya-upaya yang dilakukan demi membantunya. Sapi’i mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas semua itu. Seperti yang dikatakan oleh istrinya; di antara mereka ada yang menyelipkan amplop, yang tergesa-gesa menggenggam lembaran ratusan ribu, ada juga yang meletakkan Bilyet Giro ke meja Sapi’i.

Ketika semua sudah pulang, istri Sapi’i cepat-cepat mengumpulkan amplop dan surat berharga yang ada. Dia menghitung jumlahnya dan bersorak gembira karena hanya dalam semalam ia mendapatkan ratusan juta rupiah. Dia kembali mengatakan kalau kejayaan itu akan kembali.

“Lihat, Pa. Sinar matamu yang teduh telah berfungsi kembali menjadi modal utama kita. Dalam semalam saja telah terkumpul uang sedemikian banyak. Tatapan matamu berhasil mengetuk pintu hati semua orang. Tidak percuma aku bersabar selama ini.” Ungkapan itu disusul dengan penjelasan bagaimana menderitanya perempuan itu; mulai dari dihina teman-teman hingga harus ke sana kemari untuk menawarkan perusahaannya.

“Kita sudah tua, Lily,” komentar Sapi’i dengan nada menasehati. “Lihat saja rambutmu sudah ditumbuhi uban.”

“Apa urusannya dengan usia. Uang tetaplah uang. Kekayaan tetaplah kekayaan,” jawab istrinya sambil mengibaskan uang di tangan kiri.

Sapi’i celingukan mencari sesuatu. Istrinya menanyakan apa yang dicarinya. “Aku ingin bercermin agar tahu kalau usiaku sudah tua.”

Dengan nada ketus istri Sapi’i menjawab, “Cerminnya sudah kujual. Untuk apa lagi cermin bila kecantikanku tidak ada yang menikmati lagi?! Lumayan harganya, cukup untuk kebutuhan kita seminggu.”

Istri Sapi’i menawarkan kaca di wadah bedaknya. Sapi’i mengambilnya dan segera berkaca. Pertama kali yang ditatap adalah matanya. Dia sudah rindu melihat sinar matanya yang teduh. Dulu dia merasa sangat percaya diri setiap kali habis melihat keteduhannya.

Akan tetapi, betapa terkejutnya Sapi’i ketika melihat sorot matanya bukan lagi sorot mata yang teduh dan mengayomi orang lain, melainkan sorot mata yang mengiba pada orang-orang yang melihatnya.

Surabaya, juli 2006

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar