Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=105
(I) Ketika genta mengalung ke lembah-lembah jiwa;
pohon akasia, trembesi, mahoni dan jati,
menyatukan irama seuntaian sembahyang.
Gegaslah kekasih, sebelum prahara menumbangkan seluruh.
(II) Rambutmu menjuntai semilir angin petikan embun,
ke dada ranum telaga, dan petani kebun anggur
memeras buahnya di musim bunga,
ketika mentari menyemaikan rumputan padi;
petak-petak sawah segarkan aliran sungai
yang menanti-nanti pesta sedekah bumi.
(III) Kau gubahan kidung berabad terangkum buku,
bulu-bulu sayap mengepak, menggugah nafas besarmu;
darah tercecer memandikan kampung halaman,
dan bayangan mendung membawa angin pergi gerimis.
Keajaiban pagi bagi letih, dan bumi-langit terasa dekat,
serasa jasad lapar, telinga tuli, mata berkunang-kunang;
meninggalkan jauh ruh hitam menuju alam temaram.
(IV) Reranting kering terlunta di sungai,
berkilo gelisah burung mengapung di angkasa;
mengurangi daya tarik bumi menyekutui badai,
memasuki pandangan cahaya.
Tinta memuncak dedaun mengerudungi pelajar,
dan celah dahan mengkabarkannya;
kecupan tipis pada udara ketinggian,
tidur tenang di atas dahan, lainnya menyertakan laguan senja,
dan tubuh berkilau jingga, berpandangan Keilahian pertama.
(V) Getar-getir perubahan, lama memunguti tenaga bumi;
tuntunan kisah ini di aliran sungai berkelok jiwa pertiwi.
Manusia melintasi batu perbukitan melaju arus deras,
sukmanya berserah, jurang ikhlas menanti maut;
datang senyum mengenang tangisan hujan,
mengungkit rindu pada semerbak bunga-bunga pantai.
Menyeret lembut lidah gelombang sedari kaktus-kaktus liar;
hamba tenggelam, larut dalam senandung lamunan.
Harum pusaran itu melintasi kubur hitungan,
nafas terangkat mata air kehendak,
hayat bercerita Bunga Teratai.
(VI) Dorongan lahir tergerak atas batin kegaiban,
alis celuritmu seanggun kembang turi,
pada jubah malam menaburkan bintang-gemintang.
Kau menghuni langit telaga berlayar; awan dilipat malaikat
menyungkup di awang-uwung gerbang kota.
Menanti-nanti pembuka abad, dunia baru tersesap ruh kodrat,
lalu hikayat rakyat melekat.
(VII) Ombak menggoyang selat lepas,
bayu menggerakkan tiap kalimah cakrawala;
berjumpa berita kekal mencapai pantai-pantai doa ibunda,
dan selalu menghempas karang, tanjung redam pasir perasaan.
Anak-anak pesisir menemukan garam hakekat,
sedang alunan ini kau terima sebagaimana filsafat.
(VIII) Nada menelusup ceruk jauh ke telinga dunia;
kalimah nan senyum pasrah menyanyikan rasa.
Ini syairan pujangga sebelum lanjut usia;
kelana muda seharum tirakatnya, berlimpah-ruah rahmat-Nya.
Sebutir embun diperebutkan,
nurani menapaki sedenyut nadi, para utusan menggubah hati.
(IX) Bergetarlah, ingatannya mengucurkan getah segar,
jika kapal kandas di tepian karang nyata;
mulanya asing menuju rindu menggali makna,
kehausan kerontang merambah surga batin, kalbu bermekaran.
(X) Ku panggil mahkota teratai di tepian telaga jiwa,
kembara miskin bercermin berucap kata; “teratai,
biar kupungut pagut seteguk airmu
pengusir dahagaku pengganjal lapar,
sudah lama hamba merasakan rana kehilangan.”
Lalu kau berbalas;
“ambillah bagi penyembuh dahaga pengisi lapar,
ini sesembahan suciku, kala kau benar membutuhkan.”
Lewat cawan kedua tangannya, ia meminum kejernihan,
lantas kuncup-kuncup merenggangkan pelukan malam.
(XI) Tiada cerita sempurna,
ia melanjutkan menyusuri tepian;
telah menghanyutkan sepucuk surat
di telaga merawat ketenangan jiwa,
kasih martabat utama,
mengangkat peradaban di mata abad hampir sirna.
Wajah berseri, angin tropis mengibaskan rambutmu
sebening bayi menatap, senantiasa pada Yang Kuasa.
(XII) Selembar surat kesaksian, tersingkap kitab embun pagi
yang pecah di padang gersang, kan terlupa gelak tawa ringan;
terlaksana benar sebuah rasa tajam mengena,
awan menampakkan pisau-pisau putih berkilatan,
di sanalah kepemudaan segar menderai berkah;
ketika kunang-kunang menyembunyikan cahayanya,
dingin membatu ke dakian puncak,
dan sayap kekupu patah di jendela.
(XIII) Mendung tiada penjara angin merunduk,
semulia orang utama mengayomi umatnya;
sekali rintik gerimis menciptakan kuncup-kuncup kembali,
ingatannya waspada, semerbak masa-masa pergantian.
Pada jeruji, panasnya sukma jilatan nyata,
kering waktu membatu di kening sujud.
Potongan tulang muda bergerak,
nuraninya tersambung ke puncak;
petapa lupa raga melampaui tempat-waktu,
mengunci diri dalam sunyi,
bermuwajjaha kepada Ilahi.
(XIV) Seluruh daya terkuras, abad kini tahta damai sejati,
seunting padi yang sembahyang di batu pualam,
nyawa bebijian dipertaruhkan beterbangan;
bunga nan sayu, degup jantung tinggal satu,
bagimu gerbang bersemi,
mengisahkan panggung seringan senyuman,
bagi yang berhenti di telaga wengimu sejati.
Burung hijau menghiasi pagi, dedaun lentur bergoyangan
seirama kabar tangga pesawahan lembah, hadir tiada akhir
selalu dipunggah di negeri-negeri persinggahan.
Ruhmu setingkat bunga relief di bebatuan candi,
alam hijau melingkari karya agung di kedalaman hati.
(XV) Tiada kata mewakili, mimpi mengalir ke sungai pertiwi,
menikmati kenakalan bebatuan cadas
merayapi kemarau memaksa
memasuki belahan sunyi, sukma para kembara.
Hanya batu selain kata beku,
pengap lumut membungkam dinding rindu,
sedang aksara menguap habis dilupa,
lalu kabut bersinggah ke dataran baru;
sudah cukupkah menerima, sebagai hawa selamanya?
(XVI) Memegang tangkai, bunga layu keemasan,
buah kuberi kini mengering, keranjangnya senantiasa harum,
tangisan tulus perak warnanya,
bertemu guru dalam tidur panjang;
”inikah kakang adi-ari-ari, yang menjagamu di setiap waktu?”
Fajar mengingatkan perjalanan mencari akan ujung bumi sejati;
”bagaimana keadaanmu di sana,
kala mencari keindahan semesta?”
(XVII) Bunga padma mekar malam hari,
bersembunyi digelap sunyi,
rembulan menguntit sang ayu dari balik celah-celah waktu,
cahaya bergejolak dalam badai lewat.
Bila suka biarkan pergi, tugasmu hanya menjaganya,
dan jangan dicegah jikalau berjumpa
akan surat-surat dihanyutkan di telaga,
sebab takdir berpisah serupa bayangan setia mengikuti raga;
kenanglah itu lesung pipit si wajah mawar,
hingga habis cemburu, sebab luka-duka bersarang di hati insan.
(XVIII) Salamku; “anak-anak gembala bermandi di sendang,
memetik tangkaimu, menciumi kelopak ikhlas dikau hadirkan.”
Inilah kisah berkembang di pedusunan;
suatu kali bunga itu terkulai,
karena di antara anak itu ada yang lalai, tiada membawamu
beserta rumput semanggi bagi ternak-ternaknya.
Aku pungut-peluk sedekap jiwa sang bocah,
dan kau merelakan walau aku bukan pengembala;
bunga keindahan menjanjikan bahagia, demi jiwa-jiwa kesepian.
(XIX) Malam itu aku menjelma penyair;
secangkir wedang kopi berbatang rokok terhisap,
asap membumbung melampaui logika-mimpi,
melaju pena berlayar;
kesadaran ketakjuban kepadamu, pelita hidup di kamar sempit.
Gairah terdalam dari bawah sadar penciptaan,
masa menjelma keabadian;
ini kegilaan malam ganjil,
ketika aku dalam pusaran bau kembang.
(XX) Kemarin diri hanya kembara yang tumpul tulis-menulis,
sedang waktu kini berlembar-lembar kertas menderita tinta,
sepanjang rambut ikal sungai malam membentang.
Di ujungnya ditaruh senyuman, memberi kekuatan gaib bagiku;
siapa kau sebenarnya? Apa hanya sekuntum padma?
Atau jelmaan kehalusan semesta?
Kuasapi ruangan bercendana, hingga lupa alamat kelahiran.
(XXI) Di tengah ketinggian nyala api,
rantai kuat mengikat diri,
sepi kacau, pagar tak bertuan;
”keluarkah ia dari sisi kapujanggaan?
Lihatlah kembara gila tiada tahu tujuan,
berjalan memanggul kehancuran, memakan kebusukan.
Hujan basah terik menyengat, pucat kabur pandangan;
jika besi berkarat, debu-debu sekarat.
(XXII) Purnama memuncakkan keagungan,
memberi cungkup di renung ganjil nan sepi;
lihatlah lidah gelombang menjilati dinding kalbu,
bias pecah di kanvas langit, terampas haknya tinta.
Nyalakan obor sewaktu hatinya padam,
berkobar menerangi sudut-sudut wangi senyuman
yang tak jelas datangnya dalam sarung bimbang.
Di ruang suwung, rumah laba-laba ditarik benang merah,
cahaya enggan menyembul, memendam cerlang lentera;
bagimu hadiah, menolong kesadaran menjauh.
(XXIII) Walau pelitamu membakar sayap-sayapku,
tiada kubawa marah; luka bakar menyimpan kenangan,
kan terbebas rindu terucap sayang.
Wangi suci bau teratai, beterbangan hati mungil semesta,
kembang sakral kini dianggap biasa;
Apakah ini rengkuhan masa-masa berganti keremajaan?
Padma di sampingmu menemani gamelan hening telaga,
dan malam-malam penuh berkah petikan kalbu
yang tiada dimiliki kembang lain.
(XXIV) Senandung persetubuhan kelopak-kelopak fajar
mengulum bibir kabut menyampaikan waktu hangat;
tangga awan mengendap menuju kerajaan seribu bulan,
bersaksi sebagaimana gerhana menyepuh purnama.
Di taman ganjil Welirang, kehangatan hadir,
bebatuan krikil mengancam tanya;
”adakah perkawinan tiada tamat di lubuk manusia?”
Lupa beraroma sepi, gelisah sembuh dalam mimpi;
Apakah patut dikata selain kisah sejati,
setia menyertaimu sampai upacara kasih,
tentang kepulangan abadi serumpun teratai.
(XXV) Karmamu akhir-awal dimulai,
seluruh partikal udara jelmaan kasih,
selimut berpeluk hangat sahabat,
kata-kata melepaskan keindahan tropis;
mengunyah rindu sembuhkan hati,
serumput hijau berangin hikayat jati.
Sekar teratai purnama, rangkaian kelopaknya bersatu tangkai;
inilah lorong-lorong nafasmu denyutan semesta,
daun-daunnya mengambang bagaikan tlatah,
dan para penjaring ikan menambah hasil renungan,
dikenangnya langgam surut tenggelam
lalu meninggi ke puncak persembahan.
(XXVI) Ucapan seekor katak jantan; “ini penyambung nyawa,
jaman mendatang tinggal kenangan,
sedih menggenang, menenggelam;
sebutir air telaga di tangan,
teratai mekar berbiak sebebas deraian hujan bersusulan,
memuji-muja keagungan penciptaaan,
menaikkan derajat air rawa di belahan besar legenda
atas taburan bintang biru rupawan,
senyanyian angin berkabut ke pintu-pintu rumah,
laksana sentuhan halus kidungan nenek moyang
bagi mata rantai abad menyulami malam bestari.”
(XXVII) Malam letih membekukan serpihan kabut,
berenangan di sungai dingin memetik kesucian purbawi,
atas kelembutan merajut kisah sejati;
panggung penuh pagelaran, siang diperjual-belikan,
penghuni bumi mata rantai, menghilang kala leburkan laku.
Pengkisah rasa, nafasnya sebatang nyala lilin memberi cahaya,
tiada nyawanya kekal walau tersambung sumbu;
timur-barat meleleh pemahamanmu,
dan jasad cepat-lambat berlalu, nyala api padam pula.
(XXVIII) Angin segar menaikkan tarian;
kabarnya gairah muntahan darah semangat luka diserah,
menyenandungkan kasihmu lekas menghabiskan nyawa.
Bergerak maju lebih tinggi dari menunggu dinginnya mati;
tuangan guci lagu busa, dentingan beling gelas pesta,
senyuman renyah tertikam syahwat, mabuk perasaan.
(XXIX) Angin berbisik tak padam di tengah kehendak,
biji api mengupas kulit daging membuka cermin kebaharuan;
”aku nyala lilin dari kobaranmu selalu.”
Tubuh meleleh jiwa manis, maksud mengisi kosong malam,
tumpukan batu penjaga sunyi berkisah stupa bagi candi,
purnanya pengertian suci darimu telah terjawab;
karena gugup meragu dalam kepenuhan rindu,
jangan sampai punah, hingga hilang cemburu.
(XXX) Sepyuran rintik gerimis di tengah malam
menjaga jiwa sepi di abad gemerlap,
semula niat melangkah lalu mengekang pahit lidah;
seteguk air pengusir keluh, berlari-berseri
gemerincing nyanyian kereta kencana menjemputmu,
ditarik enam ekor turangga bersayap putih keemasan,
menjelajahi alam tanpa tlatah ke seluruh jagad rahasia.
(XXXI) Begitulah kasih, bukan tidur dalam kecemasan,
tidak tenang dalam kekosongan; memikul beban lelah,
tercabik bila lena oleh tarian sebilah pedang di udara.
Nantinya raga berlalu lepas, hawa dingin meliuk,
para malaikat mencabut kehendak.
Sebelum runduk mengintai, daun hijaumu berharga
ketika ujung timur melelapkan sang surya;
rombongan gagak terbang, tiap hari pergolakan,
perang meminta-minta tumbal anak-anak jaman.
(XXXII) Negri teratai berkembang damai,
tapi kini tiada penghuni, raut-raut pucat dingin rasa,
masih ada permintaan nyawa, tumbal tergambar samar,
pemimpin lupa diri loba daratan; lautan darah, anggur suci,
tumpah di meja peradilan.
Mereka mengikuti hukum sendiri-sendiri, pesta kematian;
matahari menggurit bencana, para perempuan tersungkur
demi impian purnama luka.
Tetesan darah terjatuh di kelopak retak,
mengusap bunga mawar berairmata duka;
teratai dalam senyap resah.
(XXXIII) Lukisan mega senja di telaga jingga,
minuman segar;
zaman edan, kiamat dipercepat maunya.
Kapal-kapal tiada berlayar,
dinding-dinding karang pecah atas angin menumpahkan gelora.
Kabarnya telah dekat, digulung peta waktu dunia ke akhirat,
kitab-kitab suci tak lagi mengusik kalbu,
sapulidi mematung di sudut ruangan tamu.
Mereka lebih tertarik roman picisan novel mimpi, kan
tiada sampai, belenggu menenggelamkan di arus kemabukan;
burung bangkai lebih awal terbang memporandakan negri kutu.
(XXXIV) Masa itu mengunyah empedu puluhan waktu,
punah orang suci jiwa; yang baik pamer kebaikannya,
yang jahat semakin beringas tiada malu.
Para cendekia lebih gila dari orang-orang tak waras,
mata sejajar sulit membedakan saat kejadiannya muncul;
matahari-bulan bertenggelam, satu di utara, lainnya di selatan.
Yang ikhlas merawat alam selalu diberi kemudahan bimbingan;
antara petaka dan pesta, antara darah juga telaga,
matahari sirna ketika malam memberi pengajaran kembara.
(XXXV) Sudah menjadi kodrat tiada dapat terelak,
mungkin hanya bisa dikurangi, seperti kata pujangga;
kan kembali teratai memekarkan kelopak wengi,
ibarat bocah di tepian telaga Mbalong Sari,
tanah lempung dijadikannya dunia sendiri, atau
menerbangkan layang-layang benangnya nyantol di barongan,
kesedihan mendentang, biarkan teratai penyembuh prahara;
tanah sunyi, bau rumput mewangi, hening purna sadar diri,
bukan meninggi ke puncak berahi, namun
kehendaknya manunggaling kawula-Gusti.
September 2000 Gunung Kidul, Yogyakarta.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar