Senin, 11 Agustus 2008

BALADA BUNGA TERATAI

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=105


(I) Ketika genta mengalung ke lembah-lembah jiwa;
pohon akasia, trembesi, mahoni dan jati,
menyatukan irama seuntaian sembahyang.
Gegaslah kekasih, sebelum prahara menumbangkan seluruh.

(II) Rambutmu menjuntai semilir angin petikan embun,
ke dada ranum telaga, dan petani kebun anggur
memeras buahnya di musim bunga,
ketika mentari menyemaikan rumputan padi;
petak-petak sawah segarkan aliran sungai
yang menanti-nanti pesta sedekah bumi.

(III) Kau gubahan kidung berabad terangkum buku,
bulu-bulu sayap mengepak, menggugah nafas besarmu;
darah tercecer memandikan kampung halaman,
dan bayangan mendung membawa angin pergi gerimis.
Keajaiban pagi bagi letih, dan bumi-langit terasa dekat,
serasa jasad lapar, telinga tuli, mata berkunang-kunang;
meninggalkan jauh ruh hitam menuju alam temaram.

(IV) Reranting kering terlunta di sungai,
berkilo gelisah burung mengapung di angkasa;
mengurangi daya tarik bumi menyekutui badai,
memasuki pandangan cahaya.
Tinta memuncak dedaun mengerudungi pelajar,
dan celah dahan mengkabarkannya;
kecupan tipis pada udara ketinggian,
tidur tenang di atas dahan, lainnya menyertakan laguan senja,
dan tubuh berkilau jingga, berpandangan Keilahian pertama.

(V) Getar-getir perubahan, lama memunguti tenaga bumi;
tuntunan kisah ini di aliran sungai berkelok jiwa pertiwi.
Manusia melintasi batu perbukitan melaju arus deras,
sukmanya berserah, jurang ikhlas menanti maut;
datang senyum mengenang tangisan hujan,
mengungkit rindu pada semerbak bunga-bunga pantai.
Menyeret lembut lidah gelombang sedari kaktus-kaktus liar;
hamba tenggelam, larut dalam senandung lamunan.
Harum pusaran itu melintasi kubur hitungan,
nafas terangkat mata air kehendak,
hayat bercerita Bunga Teratai.

(VI) Dorongan lahir tergerak atas batin kegaiban,
alis celuritmu seanggun kembang turi,
pada jubah malam menaburkan bintang-gemintang.
Kau menghuni langit telaga berlayar; awan dilipat malaikat
menyungkup di awang-uwung gerbang kota.
Menanti-nanti pembuka abad, dunia baru tersesap ruh kodrat,
lalu hikayat rakyat melekat.

(VII) Ombak menggoyang selat lepas,
bayu menggerakkan tiap kalimah cakrawala;
berjumpa berita kekal mencapai pantai-pantai doa ibunda,
dan selalu menghempas karang, tanjung redam pasir perasaan.
Anak-anak pesisir menemukan garam hakekat,
sedang alunan ini kau terima sebagaimana filsafat.

(VIII) Nada menelusup ceruk jauh ke telinga dunia;
kalimah nan senyum pasrah menyanyikan rasa.
Ini syairan pujangga sebelum lanjut usia;
kelana muda seharum tirakatnya, berlimpah-ruah rahmat-Nya.
Sebutir embun diperebutkan,
nurani menapaki sedenyut nadi, para utusan menggubah hati.

(IX) Bergetarlah, ingatannya mengucurkan getah segar,
jika kapal kandas di tepian karang nyata;
mulanya asing menuju rindu menggali makna,
kehausan kerontang merambah surga batin, kalbu bermekaran.

(X) Ku panggil mahkota teratai di tepian telaga jiwa,
kembara miskin bercermin berucap kata; “teratai,
biar kupungut pagut seteguk airmu
pengusir dahagaku pengganjal lapar,
sudah lama hamba merasakan rana kehilangan.”
Lalu kau berbalas;
“ambillah bagi penyembuh dahaga pengisi lapar,
ini sesembahan suciku, kala kau benar membutuhkan.”
Lewat cawan kedua tangannya, ia meminum kejernihan,
lantas kuncup-kuncup merenggangkan pelukan malam.

(XI) Tiada cerita sempurna,
ia melanjutkan menyusuri tepian;
telah menghanyutkan sepucuk surat
di telaga merawat ketenangan jiwa,
kasih martabat utama,
mengangkat peradaban di mata abad hampir sirna.
Wajah berseri, angin tropis mengibaskan rambutmu
sebening bayi menatap, senantiasa pada Yang Kuasa.

(XII) Selembar surat kesaksian, tersingkap kitab embun pagi
yang pecah di padang gersang, kan terlupa gelak tawa ringan;
terlaksana benar sebuah rasa tajam mengena,
awan menampakkan pisau-pisau putih berkilatan,
di sanalah kepemudaan segar menderai berkah;
ketika kunang-kunang menyembunyikan cahayanya,
dingin membatu ke dakian puncak,
dan sayap kekupu patah di jendela.

(XIII) Mendung tiada penjara angin merunduk,
semulia orang utama mengayomi umatnya;
sekali rintik gerimis menciptakan kuncup-kuncup kembali,
ingatannya waspada, semerbak masa-masa pergantian.
Pada jeruji, panasnya sukma jilatan nyata,
kering waktu membatu di kening sujud.
Potongan tulang muda bergerak,
nuraninya tersambung ke puncak;
petapa lupa raga melampaui tempat-waktu,
mengunci diri dalam sunyi,
bermuwajjaha kepada Ilahi.

(XIV) Seluruh daya terkuras, abad kini tahta damai sejati,
seunting padi yang sembahyang di batu pualam,
nyawa bebijian dipertaruhkan beterbangan;
bunga nan sayu, degup jantung tinggal satu,
bagimu gerbang bersemi,
mengisahkan panggung seringan senyuman,
bagi yang berhenti di telaga wengimu sejati.
Burung hijau menghiasi pagi, dedaun lentur bergoyangan
seirama kabar tangga pesawahan lembah, hadir tiada akhir
selalu dipunggah di negeri-negeri persinggahan.
Ruhmu setingkat bunga relief di bebatuan candi,
alam hijau melingkari karya agung di kedalaman hati.

(XV) Tiada kata mewakili, mimpi mengalir ke sungai pertiwi,
menikmati kenakalan bebatuan cadas
merayapi kemarau memaksa
memasuki belahan sunyi, sukma para kembara.
Hanya batu selain kata beku,
pengap lumut membungkam dinding rindu,
sedang aksara menguap habis dilupa,
lalu kabut bersinggah ke dataran baru;
sudah cukupkah menerima, sebagai hawa selamanya?

(XVI) Memegang tangkai, bunga layu keemasan,
buah kuberi kini mengering, keranjangnya senantiasa harum,
tangisan tulus perak warnanya,
bertemu guru dalam tidur panjang;
”inikah kakang adi-ari-ari, yang menjagamu di setiap waktu?”
Fajar mengingatkan perjalanan mencari akan ujung bumi sejati;
”bagaimana keadaanmu di sana,
kala mencari keindahan semesta?”

(XVII) Bunga padma mekar malam hari,
bersembunyi digelap sunyi,
rembulan menguntit sang ayu dari balik celah-celah waktu,
cahaya bergejolak dalam badai lewat.
Bila suka biarkan pergi, tugasmu hanya menjaganya,
dan jangan dicegah jikalau berjumpa
akan surat-surat dihanyutkan di telaga,
sebab takdir berpisah serupa bayangan setia mengikuti raga;
kenanglah itu lesung pipit si wajah mawar,
hingga habis cemburu, sebab luka-duka bersarang di hati insan.

(XVIII) Salamku; “anak-anak gembala bermandi di sendang,
memetik tangkaimu, menciumi kelopak ikhlas dikau hadirkan.”
Inilah kisah berkembang di pedusunan;
suatu kali bunga itu terkulai,
karena di antara anak itu ada yang lalai, tiada membawamu
beserta rumput semanggi bagi ternak-ternaknya.
Aku pungut-peluk sedekap jiwa sang bocah,
dan kau merelakan walau aku bukan pengembala;
bunga keindahan menjanjikan bahagia, demi jiwa-jiwa kesepian.

(XIX) Malam itu aku menjelma penyair;
secangkir wedang kopi berbatang rokok terhisap,
asap membumbung melampaui logika-mimpi,
melaju pena berlayar;
kesadaran ketakjuban kepadamu, pelita hidup di kamar sempit.
Gairah terdalam dari bawah sadar penciptaan,
masa menjelma keabadian;
ini kegilaan malam ganjil,
ketika aku dalam pusaran bau kembang.

(XX) Kemarin diri hanya kembara yang tumpul tulis-menulis,
sedang waktu kini berlembar-lembar kertas menderita tinta,
sepanjang rambut ikal sungai malam membentang.
Di ujungnya ditaruh senyuman, memberi kekuatan gaib bagiku;
siapa kau sebenarnya? Apa hanya sekuntum padma?
Atau jelmaan kehalusan semesta?
Kuasapi ruangan bercendana, hingga lupa alamat kelahiran.

(XXI) Di tengah ketinggian nyala api,
rantai kuat mengikat diri,
sepi kacau, pagar tak bertuan;
”keluarkah ia dari sisi kapujanggaan?
Lihatlah kembara gila tiada tahu tujuan,
berjalan memanggul kehancuran, memakan kebusukan.
Hujan basah terik menyengat, pucat kabur pandangan;
jika besi berkarat, debu-debu sekarat.

(XXII) Purnama memuncakkan keagungan,
memberi cungkup di renung ganjil nan sepi;
lihatlah lidah gelombang menjilati dinding kalbu,
bias pecah di kanvas langit, terampas haknya tinta.
Nyalakan obor sewaktu hatinya padam,
berkobar menerangi sudut-sudut wangi senyuman
yang tak jelas datangnya dalam sarung bimbang.
Di ruang suwung, rumah laba-laba ditarik benang merah,
cahaya enggan menyembul, memendam cerlang lentera;
bagimu hadiah, menolong kesadaran menjauh.

(XXIII) Walau pelitamu membakar sayap-sayapku,
tiada kubawa marah; luka bakar menyimpan kenangan,
kan terbebas rindu terucap sayang.
Wangi suci bau teratai, beterbangan hati mungil semesta,
kembang sakral kini dianggap biasa;
Apakah ini rengkuhan masa-masa berganti keremajaan?
Padma di sampingmu menemani gamelan hening telaga,
dan malam-malam penuh berkah petikan kalbu
yang tiada dimiliki kembang lain.

(XXIV) Senandung persetubuhan kelopak-kelopak fajar
mengulum bibir kabut menyampaikan waktu hangat;
tangga awan mengendap menuju kerajaan seribu bulan,
bersaksi sebagaimana gerhana menyepuh purnama.
Di taman ganjil Welirang, kehangatan hadir,
bebatuan krikil mengancam tanya;
”adakah perkawinan tiada tamat di lubuk manusia?”
Lupa beraroma sepi, gelisah sembuh dalam mimpi;
Apakah patut dikata selain kisah sejati,
setia menyertaimu sampai upacara kasih,
tentang kepulangan abadi serumpun teratai.

(XXV) Karmamu akhir-awal dimulai,
seluruh partikal udara jelmaan kasih,
selimut berpeluk hangat sahabat,
kata-kata melepaskan keindahan tropis;
mengunyah rindu sembuhkan hati,
serumput hijau berangin hikayat jati.
Sekar teratai purnama, rangkaian kelopaknya bersatu tangkai;
inilah lorong-lorong nafasmu denyutan semesta,
daun-daunnya mengambang bagaikan tlatah,
dan para penjaring ikan menambah hasil renungan,
dikenangnya langgam surut tenggelam
lalu meninggi ke puncak persembahan.

(XXVI) Ucapan seekor katak jantan; “ini penyambung nyawa,
jaman mendatang tinggal kenangan,
sedih menggenang, menenggelam;
sebutir air telaga di tangan,
teratai mekar berbiak sebebas deraian hujan bersusulan,
memuji-muja keagungan penciptaaan,
menaikkan derajat air rawa di belahan besar legenda
atas taburan bintang biru rupawan,
senyanyian angin berkabut ke pintu-pintu rumah,
laksana sentuhan halus kidungan nenek moyang
bagi mata rantai abad menyulami malam bestari.”

(XXVII) Malam letih membekukan serpihan kabut,
berenangan di sungai dingin memetik kesucian purbawi,
atas kelembutan merajut kisah sejati;
panggung penuh pagelaran, siang diperjual-belikan,
penghuni bumi mata rantai, menghilang kala leburkan laku.
Pengkisah rasa, nafasnya sebatang nyala lilin memberi cahaya,
tiada nyawanya kekal walau tersambung sumbu;
timur-barat meleleh pemahamanmu,
dan jasad cepat-lambat berlalu, nyala api padam pula.

(XXVIII) Angin segar menaikkan tarian;
kabarnya gairah muntahan darah semangat luka diserah,
menyenandungkan kasihmu lekas menghabiskan nyawa.
Bergerak maju lebih tinggi dari menunggu dinginnya mati;
tuangan guci lagu busa, dentingan beling gelas pesta,
senyuman renyah tertikam syahwat, mabuk perasaan.

(XXIX) Angin berbisik tak padam di tengah kehendak,
biji api mengupas kulit daging membuka cermin kebaharuan;
”aku nyala lilin dari kobaranmu selalu.”
Tubuh meleleh jiwa manis, maksud mengisi kosong malam,
tumpukan batu penjaga sunyi berkisah stupa bagi candi,
purnanya pengertian suci darimu telah terjawab;
karena gugup meragu dalam kepenuhan rindu,
jangan sampai punah, hingga hilang cemburu.

(XXX) Sepyuran rintik gerimis di tengah malam
menjaga jiwa sepi di abad gemerlap,
semula niat melangkah lalu mengekang pahit lidah;
seteguk air pengusir keluh, berlari-berseri
gemerincing nyanyian kereta kencana menjemputmu,
ditarik enam ekor turangga bersayap putih keemasan,
menjelajahi alam tanpa tlatah ke seluruh jagad rahasia.

(XXXI) Begitulah kasih, bukan tidur dalam kecemasan,
tidak tenang dalam kekosongan; memikul beban lelah,
tercabik bila lena oleh tarian sebilah pedang di udara.
Nantinya raga berlalu lepas, hawa dingin meliuk,
para malaikat mencabut kehendak.
Sebelum runduk mengintai, daun hijaumu berharga
ketika ujung timur melelapkan sang surya;
rombongan gagak terbang, tiap hari pergolakan,
perang meminta-minta tumbal anak-anak jaman.

(XXXII) Negri teratai berkembang damai,
tapi kini tiada penghuni, raut-raut pucat dingin rasa,
masih ada permintaan nyawa, tumbal tergambar samar,
pemimpin lupa diri loba daratan; lautan darah, anggur suci,
tumpah di meja peradilan.
Mereka mengikuti hukum sendiri-sendiri, pesta kematian;
matahari menggurit bencana, para perempuan tersungkur
demi impian purnama luka.
Tetesan darah terjatuh di kelopak retak,
mengusap bunga mawar berairmata duka;
teratai dalam senyap resah.

(XXXIII) Lukisan mega senja di telaga jingga,
minuman segar;
zaman edan, kiamat dipercepat maunya.
Kapal-kapal tiada berlayar,
dinding-dinding karang pecah atas angin menumpahkan gelora.
Kabarnya telah dekat, digulung peta waktu dunia ke akhirat,
kitab-kitab suci tak lagi mengusik kalbu,
sapulidi mematung di sudut ruangan tamu.
Mereka lebih tertarik roman picisan novel mimpi, kan
tiada sampai, belenggu menenggelamkan di arus kemabukan;
burung bangkai lebih awal terbang memporandakan negri kutu.

(XXXIV) Masa itu mengunyah empedu puluhan waktu,
punah orang suci jiwa; yang baik pamer kebaikannya,
yang jahat semakin beringas tiada malu.
Para cendekia lebih gila dari orang-orang tak waras,
mata sejajar sulit membedakan saat kejadiannya muncul;
matahari-bulan bertenggelam, satu di utara, lainnya di selatan.
Yang ikhlas merawat alam selalu diberi kemudahan bimbingan;
antara petaka dan pesta, antara darah juga telaga,
matahari sirna ketika malam memberi pengajaran kembara.

(XXXV) Sudah menjadi kodrat tiada dapat terelak,
mungkin hanya bisa dikurangi, seperti kata pujangga;
kan kembali teratai memekarkan kelopak wengi,
ibarat bocah di tepian telaga Mbalong Sari,
tanah lempung dijadikannya dunia sendiri, atau
menerbangkan layang-layang benangnya nyantol di barongan,
kesedihan mendentang, biarkan teratai penyembuh prahara;
tanah sunyi, bau rumput mewangi, hening purna sadar diri,
bukan meninggi ke puncak berahi, namun
kehendaknya manunggaling kawula-Gusti.

September 2000 Gunung Kidul, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar