Langsung ke konten utama

Mitos Bara Biru Nirwan Dewanto

Acep Iwan Saidi *
Kompas, 14 Des 2008

”A tree is a tree. Yes, of course. But a tree as expressed by Minou Drouet is no longer quite a tree, it is a tree which is decorated, adapted to a certain type consumption, laden with literary self-indulgence, revolt, images, in short with a type of social usage which is added tu pure matter” (Barthes, 1983: 109).
JIKA mitos merupakan tipe wicara (”a type of speech”) seperti dikatakan Barthes, sastra tentu merupakan mitos. Soalnya, sastra adalah model wicara juga. Sebagaimana halnya mitos, yang utama dalam sastra adalah bagaimana sesuatu diujarkan, bukan apa yang diujarkan.

Metaforarisasi” adalah sebuah mekanisme pemitosan: pembubuhan sejumlah fungsi, makna, dan pesan pada materi murni. Materi murni seperti pohon, ranting, debu, dan lain-lain dicuci dan dialihkan tempat serta fungsinya.

Dengan mekanisme tersebut, sastra sebagai mitos identik dengan idealisasi atas materi murni. Di situ penyair menempati posisi pemancar (sender) yang mengirim hal ideal kepada pembaca (receiver). Penyair menginterpelasi obyek-obyek ke dalam ”lembaga kreatif” pada dirinya, mengeksiskan obyek-obyek tersebut sebelum kemudian menjadikannya agen yang mengirim sejumlah pesan ideal. Pembaca pun teryakinkan.

Dalam mitos, keyakinan atas yang ideal itu umumnya melampaui batas nalar. Hal terpenting dalam mitos memang bukan benar atau salah, logis atau tidak, melainkan yakin atau tidak. Mitos adalah seperangkat linguistik yang memasyarakat atau tersosialisasikan. Dalam sosialisasi terdapat proses ”menetapkan”. Penetapan ini terjadi sejalan dengan tertanamnya keyakinan (Berg, Penulisan Sejarah Jawa, 1974, hal 7).

Pada level itu, metaforarisasi menjadi identik dengan cara teks sastra bekerja memancarkan ideologi. Karena proses inilah Louis Althusser menyebut sastra sebagai salah satu elemen dari Ideological State Aparatuss (ISA). Sastra memancarkan ideologi dengan caranya yang paling halus (Althusser, Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies, 2004 hal 20).

Idiom mengejutkan

Penempatan teks sastra dalam perspektif di atas saya pakai untuk mendekati sajak-sajak Nirwan Dewanto (ND) yang terkumpul dalam himpunan Jantung Lebah Ratu.

Membaca sajak-sajak ND dalam himpunan ini, saya menemukan beberapa idiom yang berasa menyentak, dan karena itu, asing. Mungkin ini pula yang menyebabkan Melani Budianta, dalam endorsement buku ini, menulis ”membaca puisi Nirwan membuat kita bertanya: Siapa yang bicara? Dari mana datang suaranya? Tapi sajak-sajak Nirwan bukan teka-teki, melainkan sehamparan estetika”.

Apa yang dimaksud sehamparan estetika oleh Budianta, bagi saya adalah sebaran idiom yang mengejutkan. Perhatikan, misalnya, sajak ”Perenang Buta” (hal 3). Sesuai judulnya, sajak ini bertutur tentang perenang buta dalam samudra (tentu kita tidak harus memaknainya secara harfiah). Sebab itu, perenang buta diriwayatkan dalam himpunan kata yang sekomunitas: arus, tanjung, ubur-ubur, ganggang, teluk, dan mercu suar. Ekologi kata ini juga berelasi dengan kata dari komunitas lain yang logis, baik secara sintaktik maupun semantik. Namun, di antara relasi itu ada yang terasa muncul dengan tiba-tiba. Periksa larik 6 dan 7 sebagai berikut, ”Tak beda ubur-ubur atau dara/mendekat ke punggungnya”.

Kata dara pada larik itu datang sekonyong-konyong menghancurkan struktur. Dengannya logika metafor terjerembab dan terputus. Tiba-tiba kita dibawa ke dalam imaji yang asing. Fokus sajak yang telah dibangun sejak kata pertama menjadi terpecah sebab putusnya rantai penandaan (skizofrenik).

Selanjutnya, pada sajak ”Kunang-Kunang” (hal 2), ditemukan idiom lain yang juga menarik ditelisik. Perhatikan bait berikut, ”Baraku biru, begitu biru, sehingga sebatang sungai meninggikan/sayapnya ke arahku dan berkata, terbanglah seperti aku sebab kau adalah kembaranku, tapi segera aku tahu ia tak bermata, maka ia lupa siapa bundanya”.

Pertanyaan atas larik ini adalah: bagaimana kaitan antara ”baraku biru” dan sebatang sungai sehingga ia harus meninggikan sayapnya? Ada rantai logika sintaktik yang putus, sintak yang lagi-lagi skizofrenik.

Jika relasi ungkapan itu skizofrenik, idiom sebatang sungai pada bait itu menunjukkan kasus lain. Hemat saya, kata sebatang yang ditempelkan pada sungai telah mereduksi realitas. Imaji kita tentang sungai tiba-tiba menyempit dengan kata sebatang. Sebatang, kita tahu, adalah kata yang biasa digunakan untuk pohon/kayu (sebatang pohon/kayu). Sebatang juga bisa disebut sebagai kata yang mengklasifikasi, memisahkan sesuatu dari keberagaman (serumpun, misalnya).

Walhasil, idiom sebatang sungai bisa dibilang sebagai idiom yang menyederhanakan, formalistik. Bukankah sungai merupakan arsitektur alam yang renik dan kompleks, mengalur dari gunung sampai ke laut. Dibandingkan dengan idiom skizofrenik di atas, sebatang sungai menandai hal yang bisa dibilang sebaliknya. Jika yang pertama merupakan ujaran individu yang spesifik (parole), yang kedua adalah ujaran khalayak yang telah menjadi sistem (langue).

Berikutnya adalah idiom baraku biru. Bagaimanakah bara sampai menjadi biru? Apakah bara biru yang dimaksud identik dengan cahaya yang dipancarkan kunang-kunang pada malam hari? Bisakah kita menjelaskannya secara biologis bahwa biru cahaya kunang-kunang adalah energi yang membuatnya bisa terbang? Jika ya, mengapa harus serumit itu? Bukankah dalam realitas bara itu merah api, arang yang masih menyala?

Sajak tersebut memang menggunakan kunang-kunang sebagai subyek lirik. Diri (kunang-kunang) dan realitas dilihat dari sudut pandang kunang-kunang. Namun, tentu kita tidak bisa menafikan kehadiran ND. Tampak di situ bahwa melalui kunang-kunang, ND sedang menggedor ”logos”. Ia hendak memindahkan mitos lama bahasa dengan menatah mitos baru. Pada mulanya semua kata memang metaforik: pengalihan dari realitas ke mitos.

Identitas puitik

Sejauh yang teramati, putusnya rantai penandaan macam itu juga terdapat dalam beberapa sajak lain. Fakta tekstual ini mungkin disebabkan dua hal. Pertama, karena saya adalah pembaca yang lebih akrab dengan buah duku, daripada buah ceri seperti ND yang dalam larik pertama sajak ”Penyair” menulis ”buah ceri di kantung celana”.

Kedua, mungkin saja hasrat ND yang menggelegak merambah berbagai kemungkinan bahasa telah membuat dia lupa pada karakteristik spesifik bahasa di mana dia menetap. Ia meramu dan mengadoni berbagai potensi perpuisian sejagat seperti seorang posmodernis yang merayakan keberagaman dan ”eklitisme”. Akan tetapi, di balik itu agaknya ada nafsu untuk menciptakan identitas puitik (aestethic idiolect), membuat kode-kode yang belum terpahami, yang oleh Umberto Eco disebut sebagai penciptaan kode radikal (a radical code-making); bak seorang modernis yang merindukan kebaruan. Akibatnya, berbagai paradoks terjadi sehingga hamparan estetika itu berdiam dalam misteri.

Kapankah pembaca seperti saya bisa memahami hamparan estetika tersebut? Barangkali kelak, setelah ujaran ND itu menjadi penanda yang menancap di sebuah anak tangga. Sebagaimana telah disinggung, melalui Jantung Lebah Ratu ND tampak tengah mencipta mitos lain pada bahasa. Karena itu, dibutuhkan pengujaran yang terus-menerus sehingga menjadi seperangkat linguistik yang socialized. Dengannya kemudian kita tidak perlu lagi bertanya, mengapa bara itu biru, tak lagi merah menyala sebagai api!

* Dosen FSRD ITB, Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/12/buku-mitos-bara-biru-nirwan-dewanto.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…