Langsung ke konten utama

Membincangkan Cinta dalam Karya Sastra

Desi Sommalia Gustina *
Riau Pos, 25 Agu 2013

CINTA merupakan sebuah persoalan yang acap mengisi takdir kehidupan manusia. Karena itulah barangkali pembicaraan mengenai cinta menjadi topik yang kerap menggoda. Begitupun dalam karya sastra, membincangkan masalah cinta laksana tema yang tak pernah usang. Baik ketika membaca karya yang ditulis di masa lalu, maupun yang terbaru. Hal ini tentu tidaklah mengherankan, karena persoalan cinta merupakan hal yang sangat universal. Di mana setiap makhluk hidup dapat merasakannya.
Namun, kesedihan dan kehilangan selalu hadir dalam karya sastra yang mengusung tema cinta. Simak saja dalam novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, betapa Putri sangat terpukul ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Nenolelaki yang begitu ia cintai, dinyatakan hilang dan tak pernah kembali setelah terlibat dalam serentetan aksi demonstrasi pada masa Orde Baru. Atau lihat pula dalam Helen of Troy, ketika Helen dipersunting oleh raja, yang menyebabkan Paris berontak, dan kembali merebut hatinya. Atau dalam novel Laila Majnun, di mana dalam novel tersebut digambarkan bagaimana Majnun menempuh cara-cara ‘gila’ demi memperjuangkan cintanya terhadap Laila, perempuan yang ia cintai. Juga dalam Romeo and Juliet-nya Shakespeare, yang justru membuat kecut, dimana adegan percintaan itu malah diakhiri dengan kematian antara kedua kekasih. Meskipun tidak tertutup pula kemungkinan kisah cinta yang berakhir happy ending, seperti dalam kisah cinta Cinderella, dimana mereka hidup berbahagia.

Persoalan mengenai cinta juga dibincangkan oleh Muhammad Subhan dalam novelnya yang berjudul Rinai Kabut Singgalang (FAM Publishing, cetakan 1, Januari 2013). Persoalan cinta dalam novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) ini tampil dengan penuh kegetiran, namun sublim. Membaca RKS adalah membaca adegan perjalanan cinta dua insan yang penuh liku. Kisah cinta antara dua anak manusia; Fikri dan Rahima, yang hingga maut memisahkan keduanya tak kunjung bersatu dalam ikatan pernikahan. Mengikuti alur perjalanan kisah Fikri dan Rahima dalam novel ini adalah juga mengikuti persoalan percintaan dua insan yang memberi pelajaran akan pentingnya kesabaran.

Sejatinya yang menjadi batu sandungan kisah cinta antara Fikri dan Rahima dalam novel ini merupakan persoalan yang biasa kita jumpai dalam kehidupan, yaitu tentang perbedaan strata sosial. Dimana dalam novel ini digambarkan Fikri adalah lelaki miskin. Namun, di tengah kemiskinannya Fikri mencoba berdiri sejajar untuk mendapatkan Rahima, sang kekasih hati. Tetapi, bak kata pepatah, kadang mencintai tak berarti harus saling memiliki. Begitupun yang terjadi terhadap Fikri dan Rahima dalam novel ini. Di mana pembaca akan melihat cinta sejati yang tersandung, tersandera intrik-intrik dari para tokoh. Disamping itu, menyimak persoalan cinta dalam RKS ini, pembaca akan menemukan persoalan cinta yang dibalut dengan warna lokal yang kuat, yaitu kebudayan Minang yang matrilineal (garis ibu) melalui tokoh kakak Rahima, yaitu Ningsih, yang memisahkan Fikri si miskin dengan Rahima. Di mana dalam novel ini digambarkan Ningsih merasa berkuasa atas diri Rahima, terutama dalam hal memilihkan jodoh bagi sang adik. Meski di sisi lain, Ningsih tahu betapa besar cinta Rahima terhadap Fikri, demikian pula sebaliknya.

Persoalan cinta memang merupakan salah satu persoalan pokok kehidupan manusia. Sulit ditebak, dan tak mudah dipaksakan. Seperti dalam novel RKS ini, bagaimanapun upaya Ningsih untuk menjauhkan Rahima dari Fikri, namun cinta keduanya tetap menyala. Sehingga ketika cinta menjelma jadi kelindan yang masuk ke dalam teks-teks sastra, yang tergambar ialah keharuan mendalam, perjuangan tanpa henti dari para pelaku cinta tersebut. Akan tetapi, sejatinya persoalan cinta tak hanya sebatas itu, terkadang cinta, sebagaimana juga yang dijabarkan dalam RKS, juga memberikan gambaran cinta yang universal, tidak saja cinta antara lawan jenis, seperti cinta Fikri terhadap Rahima. Namun juga cinta terhadap sesama manusia. Cinta pada sahabat, misalnya, yang digambarkan begitu tulus dalam novel ini, yakni cinta Yusuf kepada Fikri sahabatnya, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam novel RKS ini pembaca disuguhkan tulusnya jalinan cinta antara dua sahabat, melebihi putihnya cinta antara dua insan yang sedang kasmaran. Memang, sebuah tanya tercipta, di tengah beragam problem hidup manusia seperti hari ini, masih adakah ruang bagi manusia untuk membina persahabatan dengan amat setia? Diantara kesibukan-kesibukan setiap individu dengan persoalannya masing-masing, masih adakah perasaan kasih dan sayang yang begitu tulus dari seorang sabahat seperti Yusuf kepada Fikri? Namun, begitulah, Subhan seolah ingin menunjukkan betapa manusia membutuhkan seorang sahabat yang tulus dan berkelimpahan cinta. Karena sejatinya dalam hidup, setiap manusia memerlukan seorang sahabat yang demikian tulus seperti sosok Yusuf dalam novel RKS ini. Sebab, seorang sahabat yang berkelimpahan cinta, ia akan memiliki bahan baku yang melimpah untuk terus berbagi kebaikan di muka bumi. Dan mereka yang berkelimpahan cinta akan berkelimpahan energi untuk berbuat baik.

Begitupun Yusuf, dimana dalam novel ini digambarkan menjadi sosok yang senantiasa menjaga nyala cintanya terhadap sahabatnya Fikri. Dan, disaat yang sama, pembaca juga menyaksikan, Yusuf yang tengah merawat cintanya pada Fikri sesunggunya ia juga tengah menjaga energi baik dalam dirinya. Lihatlah, tatkala di dalam novel ini digambarkan bagaimana kelaratan dan keterpurukan melanda hati Fikri ketika mendapati penolakan dari Ningsih atas lamarannya terhadap Rahima, berkat motivasi seorang sahabat, diantara hati yang remuk redam itu, Fikri pelan-pelan bangkit, berusaha untuk memahami, mengerti, dan menerima suratan kasih tak sampainya pada Rahima. Ketabahan Fikri kemudian mengubah kenyataan dalam hidupnya, mengantarkannya menjadi seorang penulis novel terkenal dan disukai.

Selain persoalan cinta yang menguras emosi yang dipaparkan dalam novel ini, pembaca juga dihibur dengan serangkaian perjalanan yang digambarkan demikian detil dalam novel ini. Terutama sepanjang perjalanan Serang-Palembang-Jambi-Tebo-Bukit Tinggi. Terlebih dalam hal penggambaran setting lokasi ranah Minangnya yang permai. Pembaca seolah sedang dibawa berwisata oleh tokoh Fikri. Sehingga tidaklah berlebih jika dikatakan RKS seakan menjadi semacam panduan pariwisata bagi para pelancong keluarga. Melalui RSK Subhan menyajikan panorama gambar yang sangat indah. Alam Minangkabau yang digambarkan begitu terperinci seolah membuat pembaca begitu dekat dengan cerita di dalamnya.

Di samping itu, melalui novel ini, hemat saya, Subhan berhasil menyampaikan amanat kepada pembacanya. Seperti halnya Ahmad Fuadi yang berasal dari Kampung Bayur, Maninjau, lewat novel Negeri Lima Menara (Gramedia), menyampaikan pesan ‘man jada wa jadaa’ (yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan buku keduanya Ranah Tiga Warna dengan amanat ‘man shabara zhafira’ (yang bersabar akan beruntung). Di RKS, pembaca akan diingatkan, bahwa bersikap sabar seperti tokoh Fikri akan mendapatkan kebahagiaan tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Di samping itu, melalui tokoh Fikri, secara verbal pembaca diingatkan untuk terus berbagi kepada sesama selama nyawa belum berpisah dari raga. Terlebih lagi novel ini juga menitipkan pesan bahwa kematian adalah sesuatu yang mutlak, dan bisa terjadi dengan kondisi apapun.

Namun, karena tokoh demi tokoh dalam novel ini ‘dimatikan’ oleh sang pengarang, ketika menuntaskan membaca lembaran terakhir novel ini, saya seolah baru saja membaca sebuah dongeng. Begitu.

16 Februari 2013

*) Desi Sommalia Gustina, lahir di Sungai Guntung, Indragiri Hilir, Riau, 18 Desember 1987. Alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/08/membincangkan-cinta-dalam-karya-sastra.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…