Langsung ke konten utama

Seni dan Hubungan Harmoni

Isbedy Stiawan Z.S. *
Lampung Post, 23 Des 2012

UNTUK melihat suatu daerah dapat dikatakan harmoni, lihat kehidupan kesenian di sana tidak mati, kata Taufik Rahzen.

Kesenian, setelah agama dan filsafat, sudah barang tentu memiliki peran bagi keseimbangan (harmoni) kehidupan manusia. Kesenian dipandang mampu menyelaraskan hubungan antarmanusia. Kalau seni sebagai bentuk ekspresi seorang seniman dalam melihat fenomena dan hubungan manusia yang ada, tentu masyarakat penikmat akan merasakan getarnya.
Getar itu akan menyublim dalam jiwa dan hati manusia. Setelah itu menjadi sinyal dalam kehidupan nyata ini. Seni yang baik selalu akan mengantar getaran-getaran kepada penikmatnya. Atau dengan kata lain, membawa sentuhan halus ke dalam hati penikmatnya.

***

TEMA Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antarbangsa 3 di Pangkor, Perak, tahun 2012 ini, yaitu Meningkatkan harmoni menerusi seni amat sejalan dengan harapan tiap manusia.

Manusia pada hakikatnya ingin hidup harmoni (seimbang) di mana pun ia tinggal. Oleh karena itu, tema ini relevan sekali dengan kehendak tiap-tiap manusia maupun bangsa.

Tatkala politik, ekonomi, serta sosial yang akhir-akhir ini di hampir semua negara/bangsa semakin karut-marut, maka kesenian dapat berperan di dalamnya untuk menjadi penyeimbang kehidupan manusia. Apatah lagi kita tahu, bahwa seni sifatnya universal. Tidak bisa tidak atau mau atau menolak, seni bisa diterima oleh bangsa mana pun.

Kalau saja kesenian hanya berada (ada) dalam sekat-sekat (kotak) kenegeraan/kebangsaan, tentu karya-karya seni pemenang Nobel semacam novel Doctor Zhivago Boris Pasternak hanya bisa dipahami oleh bangsa Rusia.

Begitu pun puisi-puisi Chairil Anwar yang dikenal menggelorakan semangat juang bangsa Indonesia, serta karya-karya Pramudya Ananta Toer (Indonesia) tak bisa dipahami oleh pembaca di Malaysia, sekiranya apa yang ada dalam karya-karyanya tak universal.

Hal sama manakala saya, yang dari Indonesia, dengan riang dan bisa memahami karya-karya seni?dalam hal ini puisi?dari teman-teman sastrawan di Malaysia, Brunei, serta Singapura.

Karya seni tidak akan lahir jauh dari pijakan buminya, atau mengasingkan diri dari kehidupan manusia yang membuat ia lahir. Adakah, kalau memang ada tunjukkan, karya seni yang lahir melulu permainan khayalan (imaji) tanpa adanya sebelum itu sentuhan dari kehidupan manusia di mana karya seni itu lahir?

Ada banyak seniman, dari literatur ihwal proses kreatif mereka, hampir dipastikan terlebih dahulu bersentuhan dengan manusia. Dalam hal ini, bisa saja hanya mengamati atau berdialog langsung.

***

BAGAIMANA peran seni dalam meningkatkan (hubungan yang) harmoni bagi manusia? Memang tidak seluruhnya peran ini mesti dibebankan ke tubuh seni. Tetapi, sekali lagi, kita tak dapat sepenuh berharap dari ekonomi, politik, ataupun sosial mampu menyelaraskan (menyeimbangkan) hubungan manusia.

Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh ihwal hubungan harmoni atau tak harmoni antarbangsa. Cukup tengok bagaimana belakangan ini hubungan bilateral?di dalamnya tentu ada muatan politik?antara Malaysia dengan Indonesia.

Dari soal pulau sampai ke masalah klaim produk kebudayaan, seperti reog dan sebagainya. Ketidakharmonian kedua bangsa ini bukan didasari oleh semata produk budaya (seni), melainkan lebih kepada masuknya sekaligus rancunya politik di masing-masing negara.

Padahal, seni sebagai karya yang cenderung mimesis (peniruan), individu-individu dari bangsa ini punya peran sebagai desain. Reog yang merupakan salah satu karya budaya orang Jawa Timur (Indonesia) bisa saja secara fasih dimainkan oleh orang Malaysia yang bersuku Jawa Timur.

Sementara hubungan pelaku seni (seniman) di kedua bangsa ini?Malaysia dan Indonesia?sejatinya tetap tetap berlangsung amat harmoni. Para seniman?khususnya sastrawan Malaysia?kerap diundang ke Indonesia, begitu pun sebaliknya.

Dalam hubungan yang harmoni di bidang sastra, beberapa negara ASEAN misalnya membentuk Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara), kemudian Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) bagi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei; serta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand.

Artinya, kesenian sebagai karya yang universal dapat diterima tanpa perlu sekat-sekat bernama negara dan politik. Di sinilah, barangkali, pentingnya peran seni dalam meningkatkan hubungan yang harmoni?baik antarmanusia maupun antarbangsa.

Para seniman yang yang lebih mengedepankan hidup seimbang, selaras, proporsi, serasi, sesuai, teratur, konsistensi, tertib dalam karya-karyanya, sangat mungkin punya peran mengantar manusia dalam berhubungan secara harmoni.

Rasa-rasanya?sudah pasti!?tak satu pun karya seni menjad corong kesesatan?dan menyesatkan?manusia lain sebagai penikmat. Kalaulah ada, mesti dipertanyakan kekaryaseniannya itu.

Seniman dengan ?kebebasan? kreatifnya, akan selalu menyuarakan ?jalan lempang (lurus)? bagi manusia banyak. Dia berada di tengah-tengah kekarut-marutan politik, ekonomi, sosial dengan memberi solusi keselarasan.

Sayangnya, peran-peran seni dalam menciptakan hubungan yang harmoni baik secara individu ataupun antarmanusia, kurang mendapat perhatian negara. Minimnya cos bagi kesenian dibanding politik ataupun pariwisata (ekonomi) menunjukkan negara telah menomorsekiankan seni.

Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antarbangsa di Pangkor yang tahun ini sudah ketiga kalinya digelar, bisa dijadikan pijakan guna membangun hubungan yang harmoni antarbangsa melalui seni.

Jika politik mencerai-beraikan (kita), seni yang (akan) menyatukan.

*) Isbedy Stiawan Z.S., sastrawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/12/seni-dan-hubungan-harmoni.html

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com