Langsung ke konten utama

Gadis Itu Bernama Yang Liu

Nasrulloh Habibi *
Riau Pos, 6 Jan 2013

AKHIR dan awal tahun Desember esok menjadi pergantian masa dimana momen itu akan digunakan masyarakat Indonesia untuk merayakan datangnya tahun baru. Seperti biasa, serangkaian acara akan digelar mulai dari pesta kembang api, nonton film, berkeliling kota, mendaki gunung atau bahkan sekadar kumpul bersama teman di rumah dengan menikmati masakan yang diracik sendiri untuk menghabisi malam di akhir tahun. Semua merayakan dengan bahagia. Tak terkecuali setiap akhir tahun selalu bertepatan dengan hari Natal oleh umat Kristiani yang juga turut merayakan saat berharga tersebut. Namun, di penghujung akhir 2011 yang lalu, ada sebagian orang yang sedang berduka atas kepergian seseorang.

Pengarang yang biasa bergelut dengan dunia kata dan imajinasi. Kabar duka cita itu berasal dari meninggalnya penulis kelahiran Banjarmasin berdarah Tionghoa, Lan Fang. Pengarang yang produktif menulis sekaligus berdedikasi tinggi dalam dunia Literasi. Jika setiap penulis, seniman, budayawan, sampai kiyai besar di Jawa Timur ditanya siapa Lan Fang itu, maka saya yakin mereka mengenalnya. Ya, pengarang yang satu itu memang punya pergaulan yang sangat luas di kalangan apapun. Baik di kalangan penulis pemula ataupun yang ternama. Sifat keahlian bergaul dan kesederhanaan menjadikannya disukai siapa saja, meski kadang cerewet bahkan mudah cemberut, begitu kata orang yang sering bergaul dengannya.

Keberadaan pengarang ini juga tak mudah diterka, mobilitasnya sangat tinggi begitu kata guru besarnya Budi Darma, baik di kota-kota lain atau di Surabaya sendiri. Sering mengisi seminar atau pelatihan kepenulisan sastra di sekolah, pesantren atau di mana. Dia seolah tak ingin berhenti untuk mengabdi pada diri sendiri dan semua orang. Pada hari itu Selasa, 27 Desember 2011 saya baru mengetahui beritanya dari internet. Sontak saya sangat keget kerena terpampang jelas foto Lan Fang sambil mengangkat segelas kopi diwarnai senyum manisnya yang mistik. Keterangan menyebutkan meninggalnya pengarang ini karena kanker payudara yang dideritanya telah mengganas sehingga tak bisa diselamatkan. Dia meninggal di RS Mont Elisabeth Singapura setelah lima hari sebelumnya sempat di rawat di Ghuangzou, Cina.

Entah mengapa perasaan sedih dan kehilangan begitu nian menjalari hati ini. Sebenarnya pertanyaan dan rasa itu masih mengalun lembut dan tak enggan pergi. Teman, sahabat, saudara, kekasih atau siapakah dia? Saya tak tahu, yang saya tahu hanya beberapa paras cantiknya bertemu muka dalam tatapan tak lebih dari tiga kali. Saya tak begitu mengenal Lan Fang seperti yang orang bilang di kebanyakan situs jejaring sosial tentang keakrabannya. Tak sedikit rekan di dunia maya atau di dunia nyata berkomentar tentang kepergiannya yang mendadak. Terutama kawan baiknya seperti Wina Bojonegoro, Sanie B. Kuncoro, HU Mardi Luhung, Leak Kustia, dll. Untuk mengenang dan memberi apresiasi tertinggi, mereka menggelar kegiatan yang bertema Festival untuk Lan Fang. Diselenggarakan mulai 3 Januari hingga 11 Maret 2012. Pembukaan acara dimulai dari pembacaan cerpen Lan Fang oleh Gus Ipul. Kegiatan yang digagas oleh Rully Anwar tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari sahabat lainnya. Begitu juga pada 15 Desember kemarin diadakan acara Tribute to Lan Fang di Surabaya yang dihadiri sahabat dan pengagumnya. Mereka berdiskusi, membacakan puisi, cerpen, karya Lan Fang dan karya sendiri.

Saya mengenal beliau karena sama-sama jatuh cinta dengan dunia kata-kata, imajinasi dan nilai seni. Sekitar tahun 2008 kali pertama bertemu pada seminar sastra yang diselenggarakan Unesa di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni bertemakan Sastra Pop dan Sastra Serius dengan masing-masing pembicara Mashuri, Audifax dan Lan Fang. Memang benar, apa yang dikatakan AS Laksana, Lan Fang orang yang paling antusias saat berdiskusi seputar masalah sastra pop mengingat dia sendiri juga seorang penulis pop. Yang kedua, pertemuan saya dalam bedah buku puisi Pena Kencana pada 2009 di Gramedia Plaza Surabaya yang dimoderatori Srikit Syah dengan pembicara Budi Darma dan seorang dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair. Saat itu, Lan Fang bukan sebagai pembicara melainkan sebagai peserta saja. Dan yang terakhir kali saya bertemu pada kesempatan yang cukup membanggakan dan mengharukan dalam hidup, karena saat itu saya mengantar seorang teman penyair Madura Umar Fauzi Ballah menerima penghargaan sebagai juara I dalam lomba cipta puisi yang diadakan Yayasan Indonesia Tionghoa (INTI) Jatim, di Gedung Juang 45 Surabaya, di situ Lan Fang sebagai salah satu dewan juri selain Sapardi dan Budi Darma. Sikap tegur sapanya membuat hati saya terenyuh dan kagum, ternyata masih ada ya orang Cina yang mau mengakrabi kaum pribumi macam teman saya yang berkulit hitam legam dan berasal dari daerah pula. Waktu itupun saya dikenalkan dengannya dan percakapan yang diobrolkan meski basa-basi tapi masih terkenang sampai sekarang.

Hanya tiga pertemuan membuat hati kelimpungan saat mengetahui dan menyadari bahwa pengarang itu kini telah tiada. Perempuan ini sangat mistik seperti Yang Liu dalam ceritanya yang digambarkan pendiam, sederhana dan cantik seperti bunga anggrek yang semerbak harum baunya. Tanaman yang tahan banting dalam hempasan angin, badai, hujan deras dan terik panas yang membara. Tak semua buku karyanya bisa saya nikmati, dan hal itu karena beberapa hal yang tak bisa dijelaskan begitu saja. Hanya dari Yang Liu-lah saya mengenal lebih dekat siapa Lan Fang. Dalam Yang Liu, saya melihat Lan Fang di situ, ada semacam nuansa yang intim antara pengarang dan dan karyanya. Seperti yang dikemukakan Budi Darma, ‘’Pada mula awal kepengarangannya pribadi Lan Fang tampak begitu hanyut dalam karya yang dilahirkan. Sebut saja Pai Yin, Kembang Gunung Purei dan pada karya di bagian akhir semisal Lelakon, Perempuan Kembang Jepun dan Ciuman di Bawah Hujan pribadi Lan Fang sebagai pengarang tak begitu terpengaruh dalam karyanya. Lan Fang beralih strategi menjadi seorang narator yang tak terlalu ikut dalam ceritanya’’.

Tapi saya merasakan Lan Fang tetap hanyut dalam Yang Liu. Dalam Yang Liu yang saya kenal, tetap nampak sosok Lan Fang sebagai pengarang yang ikut dalam karyanya. Saya mengenal kepribadiannya sebagai seorang Ibu dalam cerpen ‘’Ulang Tahun Koko’’, melihat pahit getir hidupnya sebagai perempuan dari cerita yang dimulai dari tengah, merasakan persahabatan dan cinta dari Aku, Denny dan Matius dan Ucal dan Si Monyet. Saya bisa mengenal Lan Fang yang selalu bercermin saat menempatkan diri pada lingkungan apa un dalam ‘’Rumah Tanpa Cermin’’.

Begitulah cara saya mengenal Lan Fang dari Yang Liu buku kumpulan cerpennya. Perkenalan itu sangat singkat dan menyisahkan tanda tanya besar. Benarkah dia telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan orang-orang yang menyayanginya dengan genangan air mata. Entahlah, dan jika tahun demi tahun mendatang AS Laksana sejak itu akan mengenal hari kelahirannya untuk mengenang kepergian Lan Fang. Maka, pada tiap tahun demi tahun di hari akhir tahun saya akan menuliskan kenangan untuknya.***

Mojokerto, 20 Desember 2012.

*) Nasrulloh Habibi, Lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mulai menulis puisi, cerpen, esai dan resensi sejak 2008. Pernah tergabung dalam beberapa forum diskusi sastra dan seni seperti Komunitas Rabo Sore (KRS), Komunitas Bangbang Wetan, Halte Sastra (DKS), Komunitas Arek Japan (KAJ) dan Teater Institut (TI). Pernah turut sebagai salah satu aktor latar dalam naskah Nyai Ontosoroh oleh R Giryadi diadaptasi dari Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer di Taman Budaya dan Kesenian Ismail Marzuki (TIM) Festamasio IV Jakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/01/gadis-itu-bernama-yang-liu.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…