Langsung ke konten utama

AMA ni MOLLING

Saut Poltak Tambunan
Suara Karya, 29 Des 2012

“HOIII, Ama ni Molling, duduklah sebentar, buru-buru mau ke mana?” sapa seseorang yang tampaknya mulai mabuk di kedai tuak Lapo Sipitudai.

“He he he,” Ama ni Molling hanya tertawa menyeringai sambil mengemas bungkusan makanan yang dibelinya. Giginya coklat semua kebanyakan merokok.
“Sesekali ngobrollah sini,” sambung yang lain.
“Ini si Molling belum makan,” sahut Ama ni Molling menunjukkan bungkusan makanan lalu melangkah keluar, meninggalkan aroma tuak dan celoteh orang sekedai itu.

Olop nama aslinya, lengkapnya Marolop. Sudah enampuluhan umurnya dan menurut cerita orang dahulu dia nyaris insinyur dari ITB. Lelaki ini hidup sendiri. Tak menikah. Ia lebih suka menyendiri di sawahnya atau berada di depan perapian besar di tengah rumahnya.

Gelar panggilan untuk orang Batak berubah seiring statusnya berketurunan. Marolop akan digelari Ama ni Lompas, andai anak pertamanya dinamai si Lompas. Nanti menjadi Ompu Tangkas jika cucu pertamanya bernama si Tangkas. Tetapi Marolop tak menikah. Usianya membuat orang merasa tak patut menyebut nama kecilnya.

Belasan tahun ia tinggal berdua dengan anjing kampung yang setia itu, si Molling. Di mana ada Marolop, pasti ada si Molling. Entah dari siapa muncul pikiran konyol itu, tahu-tahu orang sekampung menyebutnya Ama ni Molling. Keterlaluan memang, seolah si Molling anjing itu anaknya.

Sesekali dia mampir ke lapo Sipitudai, kedai tuak di kampung itu. Bukan untuk kombur ngalor-ngidul seperti biasanya orang kampung, hanya beli lauk untuk makan dengan si Molling. Hebatnya, si Molling meniru tuannya, tak suka gaul dengan anjing kampung lainnya. Ia lebih suka tetap berada di dekat kaki tuannya.

Tak ada yang tega menganggapnya tak waras. Sebab ia baik. Sawahnya luas. Setiap panen, dua janda miskin di kampung itu dia beri padi. Kaleng adalah takaran padi di kampung ini, sekarung tujuh kaleng. Ama ni Molling suka berburu.

Hampir setiap pulang berburu ia memanggil anak-anak makan di rumahnya. Sesekali ia dapat rusa atau ringgarung (pelanduk yang dalam cerita anak-anak suka mencuri mentimun di kebun petani). Belakangan lebih sering bawa rande (belibis). Ia juga mengajari anak-anak itu cara menangkap belibis. Dua buah jeruk besar yang bisa mengambang di permukaan air, dihubungkan dengan senar pancing sepanjang sepuluh meter. Dipasang di tala-tala – rawa-rawa.

Nanti jika serombongan belibis yang disebut rande berenang di situ, kakinya akan terlilit senar. Dia bilang, belibis punya solidaritas tinggi. Jika seekor terjerat, temannya akan menolong lalu ikut terjerat. Karena itu sekali menjerat bisa dapat 20 ekor belibis.

“Jangan kalian ambil semua, seperlunya saja. Betinanya lepaskan biar bisa bertelur, beranak dan datang lagi ke tala-tala,” begitu pesan Ama ni Molling.Sejak muda Ama ni Molling gemar berburu.

“Semua sudah berubah. Sekarang terlalu banyak orang berburu pakai senapan, binatang hutan sudah hampir punah,” kata Ama ni Molling. Dahulu, begitu cerita Ama ni Molling, berburu gompul (beruang) pun bisa. Pernah ia dapat beruang sebesar tigakali ukuran manusia. Dia bilang mudah menangkapnya. Beruang suka madu, pandai memanjat tapi turunnya meluncur hingga berdebuk ke tanah seperti nangka.

Jika terlihat ada beruang memanjat pohon, pasang saja dua-tiga batang tombak di bawahnya. Setelah itu beruang dilempar batu atau kayu. Beruang itu akan meluncur turun, jatuh, lalu mati tertancap tombak.

Cerita seperti ini membuat anak-anak tercengang kagum. “Di hutan tak boleh serakah. Berburu tak boleh berlebihan. Jangan asal-asalan. Nagogo bisa marah.”

Setiap kali Ama ni Molling menyebut nagogo, maksudnya harimau si penguasa hutan, anak-anak bergidik ngeri. Tahun 60-an memang banyak harimau di hutan itu. Sering mereka dengar cerita orang mati diterkam harimau.
“Sekarang orang membabat hutan, gelondong batang pohon diangkut ke pabrik!” kata anak-anak itu.

Ama ni Molling diam tak menjawab. Wajahnya keruh. Pembabat hutan itu memang rakus, jangankan pohon, ‘penguasa hutan’ pun dihabisinya. Lain kali Ama ni Molling mengajari anak-anak memasang perangkap untuk menang-kap babi hutan, ringgarung (kancil) dan rusa. Termasuk menangkap monyet pakai kelapa.

Sekali waktu dia bawa beberapa anak ke hutan. Dia tunjukkan akar dan daun semak yang bisa dijadikan obat. Dia sebutkan pula nama pohon liar di hutan dan manfaatnya yang sudah nyaris terlupakan. Ada hoting, tambissum, maranti bunga, maranti bosi, sarimarnaek langit, turi-turi, bane, motung dan lain-lain.

* * *

“TAHUN BARU liburan Bu?” tanya Erika setelah menyerahkan ketikan makalah di kamar Nurita, Hotel Danau Toba Medan.

“Hmm, libur ke mana, ya? Ada ide?” balas Nurita sambil membalik-balik makalahnya untuk para pejabat pemegang otoritas pertanian di Korsel awal bulan depan.
“Ah, kamu ini.
Nama saya salah lagi: Dr. Ir. Nuritaningsih, M.AP. Bukan MPA,” tukas Nurita.
“Aduh, maaf, Bu. Salah copy lagi. Saya perbaiki sebentar!” Erika bangkit, kembali ke kamarnya.
“Sudah, nanti saja. Urus tiket kita, telepon Pak Juki, suruh siapkan rapat evaluasi akhir tahun besok.”

“Baik, Bu,” sahut Erika perempuan sekretaris itu manut. Bagaimana tak salah ketik? Baru sore tadi selesai seminar, sampai di hotel harus mengetik makalah.
Tahun baru libur ke mana? Pertanyaan Erika tadi masih berpendar-pendar di benak Nurita. Dia dan suaminya berdarah Jawa, tetapi sudah sejak dulu ia meniru tradisi keluarga Batak dari teman-teman kuliahnya. Orang Batak bisa bergegas ribuan kilometer untuk mengejar moment malam tahun baru itu, berkumpul dengan keluarga besar dan berdoa bersama. Nurita sudah punya keluarga besar sendiri. Anak cucunya pasti sudah menyiapkan acara bersama untuk malam tahun baru nanti.

Untuk tugas kantor, bisa berkali-kali dalam setahun Nurita ke Medan ini. Selalu ia ingat seseorang istimewa dalam hidupnya tetapi tak terlintas pikiran untuk menemui di kampungnya yang butuh enam-tujuh jam perjalanan lagi.

Nurita berdiri di depan cermin, mengusap kerut di sudut matanya. Di lehernya. Ia merasa jauh lebih tua dari usianya. Tahun depan ia akan pensiun. Puluhan tahun Nurita hidup untuk suami dan anak cucunya. Puluhan tahun kerja keras merealisasikan ambisinya untuk sebuah kursi penting di pemerintahan.
“Usia tak bisa dibantah, tapi … ya, Tuhan …!
Sudah bagaimana dia sekarang?” tiba-tiba ia teringat lagi seseorang itu, lelaki yang pernah mengatakan itu padanya: Kau lebih suka tampak pintar daripada cantik.”Erika, batalkan tiket Ibu besok. Kau pulang sendiri, Ibu mau ke kampung teman dulu,” kata Nurita tak lama kemudian lewat telepon ke kamar Erika.

“Lha, barusan saya sudah telepon Pak Juki untuk rapat …!” “Nggak apa, nanti Ibu telpon Pak Ismet untuk menggantikan Ibu memimpin rapat.”

* * *

“Sebentar lagi 2013!” gumam Ama ni Molling sambil menuang separuh mi instannya ke piring si Molling. Anjing itu menguik sebentar lalu melahapnya.

Gerimis ragu siang itu. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di tengah kampung. Seorang perempuan turun menggegas langkahnya, berkerudung dan berkaca mata hitam lebar. Tampilannya tampak amat kontras dengan jalan bersemak.

“Heh? Cari siapa?” Ama ni Molling terkejut sambil jongkok memeluk si Molling yang sejak tadi menggeram melihat ada orang mendekat.

Tak ada jawaban. Tanpa menunggu dipersilakan perempuan itu sudah masuk ke rumah, membuka kaca mata dan kerudungnya lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tampaknya memang ia sengaja berpakaian seperti itu agar orang tak mengenalinya.
“Bah, kau!?” Ama ni Molling terkesiap. “Ini kau ..!?”
“Ya, aku ..!”
“Kok bisa ke sini..!?”
“Kau belum terima tanganku,” kata perempuan itu membuat Ama ni Molling makin salah tingkah.
“Eh, ya …! Aku pikir siapa tadi …!”

Mereka bersalaman. Sudah itu Ama ni Molling buru-buru masuk ke kamarnya, mengganti celana pendek kumalnya dengan celana panjang. Lalu kemeja batik yang sudah belasan tahun tak dipakainya. Ah, dia ganti lagi dengan kaus yang masih bersih. Pikirnya, biar apa adanya saja. “Aku tak bisa lama-lama di sini, tak baik kalau ada yang mengenali aku datang ke sini,” kata Nurita kemudian.
“Lalu? Untuk apa kau datang?” sahut Ama ni Molling dingin.
“Aku ingin melihatmu.”

Ama ni Molling terdiam. Puluhan tahun ia merindu perempuan ini. Luka hati menganga yang dibawanya pulang dari Bandung, memerih dan meradang berlama-lama bahkan kemudian membuatnya keterusan tak menikah. Ama ni Molling kuliah di ITB dan Nurita di Fakultas Pertanian. Ama ni Molling hanya anak petani biasa, sedang Nurita anak kepala polisi di Bandung. Itu soalnya. Dua hari Ama ni Molling menginap di sel sampai dia menandatangani pernyataan tidak akan menemui Nurita lagi. Tak akan! Sebab segera setelah itu Nurita akan menikah.

“Aku tak boleh melihatmu,” lanjut Ama ni Molling. “Maafkan aku, semua berlalu di luar kendali kita. Aku tahu perasaanmu. Tapi tak bisa kita surut ke belakang. Kita sudah tua. Esok lusa entah siapa di antara kita yang mati duluan,” lanjut Nurita lirih. “Ada hal lain yang lebih penting dari perasaan itu …!”n”Untukku tak ada lagi yang penting. Aku tinggal menunggu mati …!”
“Anakmu!” selak Nurita, suaranya bergetar, tiba-tiba tercekat tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Apa? Anakku!?” Ama ni Molling terperangah.

“Maksudku …. ,” Nurita tergagap, bingung mencari kata-kata yang paling pas untuk menyembunyikan badai di dadanya, lalu, “Di jalan tadi aku tanya alamatmu ini, mereka bilang namamu Ama ni Molling …!”

“Ama ni Molling? Maksudmu .. aku bapak si Molling?” Mendengar namanya disebut, si Molling merapat ke kaki laki-laki itu lalu mengibas-ngibaskan ekornya.
“He he he, ini si Molling. Lebih setia dari semua yang pernah kukenal.”

Nurita terdiam. Kalimat itu berubah lembing tajam yang diacu tepat menghunjam ulu hatinya. Ada yang menggelegak di matanya. Bendungan itu nyaris bobol. Tidak, dia tak boleh melihatku menangis!

“Aku harus pergi. Aku hanya ingin melihatmu, malam ini langsung pulang ke Jakarta,” kata Nurita kemudian sambil berdiri.
Ama ni Molling membisu. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan itu.
“Sebentar lagi 2013. Aku ingin ucapkan Selamat Tahun Baru,” lanjut Nurita setengah berbisik, ” … bolehkah aku memelukmu?”
“Jangan.”
“Aku … aku memaksa.”

Akhirnya lelaki itu tak menjawab lagi. Dia berdiri. Dia biarkan Nurita memeluknya. Mencium pipinya di kiri dan kanan.

Kembali ke mobil, barulah Nurita menangis sejadi-jadinya. Entah harus bersyukur atau tidak, nyatanya ia tiba-tiba tak sanggup memberi tahu lelaki yang pernah sangat dicintainya itu. Padahal ia tak ingin rahasia itu dia simpan sendiri hingga mati. “Anakmu ada padaku,” dalam tangisnya ia mendesahkan kalimat yang tadi nyaris ia babar di hadapan lelaki itu.

“Aku … aku tahu siapa ayah dari anakku ..! Hasil pertemuan kita yang terakhir di kamar kostmu sebelum aku menikah, sebelum kau memutuskan untuk pulang kampung …!” ***

* Spt-Des 2012
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=318225

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com