Langsung ke konten utama

Pesta Puisi, Silaturahmi Antargenerasi

Dari Gelar ”Percakapan Lilin” RDP
Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

PENYAIR Riki Dhamparan Putra (RDP) telah meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang bertajuk “Percakapan Lilin” (LP) di Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak Denpasar, pada Minggu (15/8) lalu. Berbagai kalangan hadir dalam peluncuran buku puisi penyair muda yang memang memiliki pergaulan luas itu. Tak hanya kalangan sastrawan, juga perupa, mahasiswa, sampai para aktivis LSM.


Beragam materi acara juga disuguhkan, mulai dari musikalisasi puisi, pembacaan puisi, dramatisasi puisi, hingga diskusi sastra. Para petampil itu misalnya kelompok Teater Angin SMAN 1 Denpasar, kelompok Tulus Ngayah Denpasar, Kolaborasi RDP dan Teater Ex-Gas ISI Denpasar, serta beberapa penyair dan seniman pembaca puisi. Hampir semua petampil mengekspresikan puisi-puisi karya RDP yang tergabung dalam buku PL. Tak pelak, acara ini kemudian jadi seperti ajang “pesta puisi” silahturahmi antargenerasi. Sebutlah dari sastrawan generasi tua — di antaranya hadir Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira — hingga para penyair muda di bawah generasi Riki.

Riki adalah penyair muda asal Padang, Sumatera Barat, yang hampir sepuluh tahun sudah bermukim di Bali. Di acara ini, di samping pergelanan kolaborasi seni, juga banyak diperbincangkan seputar dunia kepenyairan dan perkembangan sastra di Bali terkait dengan perkembangan dunia kepenyairan dan perpuisian di Indonesia, pergaulan sastra dan regenerasi kepenyairan di Bali, wadah organisasi atau komunitas seni, sampai perbukuan sastra di Bali.

Riki yang bernama asli Eki Putra Yuliadi, lahir pada 1 Juli 1975, memang dikenal kalangan sastra di Bali sebagai salah seorang penyair berbakat yang cukup menonjol di angkatannya. Ketika baru mengawali proses dan pergaulan kreatif di Bali, ia “dijodohkan” dengan penyair Raudal Tanjung Banua dan Wayan Sunarta oleh Umbu Landu Paranggi sebagai “Trisula”.

Dalam buku PL-nya, Riki menampilkan puisi-puisi yang ditulisnya selama sepuluh tahun sejak hadirnya di Bali. Sebagian puisi-puisi tersebut telah memenangkan beberapa lomba cipta puisi tingkat nasional, juga dimulai di beberapa media seperti Jurnal Puisi, CAK, Koran Tempo, Singgalang, Bali Post, dan beberapa antologi bersama yang terbit di Bali dan luar Bali.

Menurut rencana, Riki juga akan membawa bukunya yang memuat 53 puisi terbaiknya itu keliling Indonesia, ke beberapa kota penting, untuk silaturahmi ke beberapa penyair dan pecinta sastra. “Buku puisi ini adalah harta kekayaan saya yang saya kumpulkan selama merantau di Bali. Saya tak perlu pulang membawa harta benda karena orangtua saya sudah punya sawah-ladang yang luas. Sebagai penyair, saya cukup pulang membawa puisi, buah dari cock-tanam kebun jiwa, perjuangan dan ‘sembahyang’ saya, yang akan saya persembahkan buat ayah-bunda,” aku Riki.

Regenerasi
Dalam acara diskusi serangkaian peluncuran buku PL ini, masalah regenerasi kepenyairan dan komunikasi antargenerasi sastra di Bali yang belakangan dinilai kurang berjalan baik, misalnya, sempat ditanggapi oleh Frans Nadjira. Frans menilai perlunya ada orang-orang yang mau berperan di situ. Menurutnya, orang-orang dari Fak. Sastra Unud, misalnya, perlu berperan, mengingat merekalah yang secara keilmuan memang membidangi sastra. Jika selama ini Fak. Sastra Unud hanya sedikit berperan, maka perlu ditumbuhkan kesadarannya. Frans juga menyarankan pada generasi terkini yang mengaku gelisah dan ingin merebut tongkat estafet kepenyairannya itu, agar jangan memelihara budaya feodal dengan terus mengagungkan sastrawan generasi terdahulu.

Beberapa anak muda yang saat ini sedang memulai karir kreativitas kepenyairannya di Bali memang ada yang mengeluhkan dirinya kurang mengetahui peta kesastraan karena para seniornya tak mau memberi. Sebagian dari mereka juga mengaku kurang mendapat perhatian dan dukungan para sastrawan seniornya. Bahkan (anehnya?) ada yang merasa kemunculannya “terhalang-halangi” oleh keberadaan penyair sebelumnya.

Terhadap keluhan atau pengaduan seperti itu, penyair Tan Lioe Ie dan Warih Wisatsana memberikan gambaran perlunya menumbuhkan kesadaran pada diri seorang yang akan dan telah memasuki dunia kepenyairan. Bahwa, kreativitas kepenyairan mesti ditempuh dengan kemauan keras, semangat tinggi, perjuangan yang gigih dan bersungguh-sungguh, juga ketulusan dan kesetiaan. Selain juga perlu membuka cakrawala lebih luas, tidak hanya belajar lebih banyak terkait dengan soal teknik kepenulisan dan kaya literatur, juga menumbuhkan dan membangun pergaulan yang lebih luas terutama dengan kalangan yang bisa mengakses kepercayaannya untuk mendukung kelangsungan dan pengembangan kreativitasnya itu.

Terkait soal keluhan pemuatan puisi di koran yang dinilai minim oleh kalangan muda, Umbu Landu Paranggi misalnya juga menanggapi, agar para anak muda generasi puisi di Bali yang terbaru sekarang tidak tergantung pada ruang yang ada di koran di Bali saja, tapi harus berani “menyerbu” — mengirimkan karyanya — ke luar Bali. Tentang penerbitan (buku) sastra karya sastrawan di Bali, yang selama ini kurang bertumbuh dengan baik sebagaimana di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, atau Surabaya, juga hangat diperbincangkan. Dari segi kualitas, karya para sastrawan di Bali dinilai tidak kalah, namun dalam soal penerbitan buku Bali memang masih ketinggalan.

Bertemu
Di acara ini, ada hal yang mengharukan terjadi, yakni bertemunya penyair Riki dengan sahabat sekampungnya — Raudal Tanjung Banua yang juga penyair dan cerpenis. Setelah cukup lama di Bali, Raudal kini memang tinggal di Yogyakarta guna menempuh studi. Raudal yang hadir ke Denpasar untuk acara peluncuran buku sahabatnya tersebut sengaja dipertemukan dengan Riki di atas panggung oleh Frans Nadjira. Frans merasa sangat bahagia sekaligus terharu melihat Riki telah berhasil menghadirkan buku kumpulan puisi pertamanya. Sementara Raudal saat ini juga sedang berbintang cemerlang dalam kancah sastra di tanah air — baru-baru ini ia juga menerima Award dari Jurnal Puisi Indonesia sebagai Penyair Terbaik Indonesia tahun ini.
***

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com