Langsung ke konten utama

Perempuan Dalam Tradisi Mongondow

Jurnal : Tijdschrift Voor Indische Taal- Land-En Volkenkunde. Deel LXXVIII
Judul Tulisan : De Plechtigheid “Waterscheppen” in Bolaang Mongondow Monajoek Polat Monondeaga
Pengarang : W. Dunnebier
Penerbit : Koninklijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschapen
Tahun Terbit : 1938
Peresensi : Rahmi Hattani
http://sastra-indonesia.com/

“Tonga’ adi’ bobai noloendoe-loendoek-mai i oekoe-oekoed, mangalenja: tajoekan, boeongan, tobokon, le’adan, lamba’an, boeligan
bo tombajangan in toemogogopat’) (bajang in tajoek, bajang in tobok, bajang i le’ad bo bajang i lamba’)” (W.Dunnebier).

Menjelaskan posisi perempuan dalam sejarah Mongondow, mesti dilihat dalam konteks bagaimana budaya Mongondow “mengkultuskan” perempuan, terutama pada prosesi ritual-ritual adat yang dilakukan masyarakat Bolaang Mongondow dahulu kala. Tulisan ini, merupakan sebuah tulisan etnografi yang cukup menarik, dari seorang misionaris yang ditugaskan Belanda di Bolaang Mongondow sekitar tahun 1903. W. Dunnebier yang namanya tidak lagi asing dalam kamus para akademisi Bolaang Mongondow, hampir semua tulisan mengenai Bolaang Mongondow selalu merujuk pada karya-karyanya. Kali ini Dunnebier menuliskan sebuah laporan tentang prosesi upacara adat kuno yaitu Monayuk dan Monondeaga. Tulisan berbahasa Mongondow lampau ini, berlatar tahun 1919. Jika merujuk pada sejarah dinasti-dinasti Bolaang Mongondow, maka tahun 1919 adalah masa dinasti Raja Datu Cornelis Manoppo (H. M. Taulu, 1961).

Kedua upacara adat ini (Monayuk dan Monondeaga) merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan secara bersamaan pada waktu itu. Saat ini, sebagian kalangan masyarakat Bolaang Mongondow, menganggap bahwa ritual adat Monayuk dilakukan untuk mengobati orang sakit, namun dalam tulisan ini, Monayuk merupakan sebuah upacara yang harus dilakukan oleh orang tua untuk membersihkan jiwa anak-anaknya, demikian halnya dengan Monondeaga, upacara ini bertujuan menegaskan kepada diri seorang anak perempuan bahwa ia telah dewasa, dan untuk itu segala tingkah laku serta ucapannya harus senantiasa berada dalam aturan-aturan adat yang telah ditetapkan. Selain itu, kedua upacara ini dilaksanakan untuk menghormati pesan leluhur, karena dengan upacara adat inilah setiap keluarga di Bolaang Mongondow merasa telah menjaga keturunan nenek moyang mereka dengan baik.

Dunnebier, tidak menyajikan makna-makna atau penafsiran dengan menggunakan cara pandang atau teori-teori tertentu dalam tulisan ini. Tetapi Dunnebier menarasikan dengan apa adanya, mengenai, sebuah keluarga yang bukan berasal dari kalangan bangsawan yang melaksanakan kedua prosesi upacara adat Monayuk dan Monondeaga. Manoe (seorang kepala keluarga) yang pada waktu itu memiliki beberapa orang anak (laki-laki dan perempuan) berkeinginan untuk menyelenggarakan kedua upacara tersebut.

„E, akoeoi naa pinomaja’ kami toloe inta inojod, biniagmai doman ing goejanga boga’, tonga’ oempaka tonga’ totoeoe oekoed in takit i moena, eda’ kinooendaman-bi’ ing goejanga.
Sebab nion, mani’ pokioendam-pa i adi’ minta dodoejoenja nion” (hal. 3).

Demikian Dunnebier menuliskan, dalam konteks ini Manoe merasa memiliki tanggung jawab menjaga keturunannya dengan cara melakukan kedua upacara itu sebagaimana yang dilakukan para leluhurnya. Akhirnya setelah membayar denda kepada Mayor (pihak Belanda) serta Guhanga dan Bobato, ritualpun dilaksanakan. Mengingat biaya yang dikeluarkan cukup besar, maka diperoleh kesepakatan bahwa upacara tersebut dilaksanakan bersama saudaranya yang lain.

Prosesi yang memakan waktu paling lama dalam upacara ini adalah Monondeaga, sesuai namanya, upacara ini dikhususkan bagi anak perempuan yang telah memasuki masa dewasa pertama. Berbeda dengan laki-laki yang baginya hanya dilakukan upacara Monayuk saja, bagi perempuan selain Monayuk, juga disertai dengan Monondeaga. Ritual menarik selama berlangsungnya upacara ini (Monondeaga) adalah “Tobokon” atau “Monobok”, dalam tulisan ini, Monobok (tindik telinga) merupakan tahapan pertama dari Monondeaga, ritual Monobok adalah ritual memberi lubang/menindik pada telinga anak perempuan yang dilakukan oleh dua orang perempuan yang duduk disamping kiri dan kanan anak tersebut. Namun sebelum ritual tersebut dilakukan, sang anak terlebih dahulu, Ompoe-an (semacam doa dalam bahasa Mongondow).

„Ompoe’! dia’-don doman mokohaat ko inimoe, dia’-don
doman mokotongkekeb, dia’-don doman mokotombitoel, dia’-don
doman mokoboengom-boengoi ko inimoe, dia’-don doman mokonoeka-
noeka.Mokoroemba-don kom bobiagmoe,mokononoi-don
doman kong kobobiagmoe, mokolanggo’-don kong kamangmoe,
si aindon pinodoedoei nai ina’moe bo nai ama’moe kon takit i moena, atorang doengkoelon, oea’ nongkon Doemoga.” (hal. 10).

Dari salah satu ritual tersebut, kita bisa menafsirkan bagaimana masyarakat Bolaang Mongondow dimasa lalu memperlakukan perempuan. Penghargaan kepada perempuan yang tercermin dalam prosesi-prosesi adat Monondeaga ini, merupakan salah satu bukti, bahwa dalam perjalanan sejarah Bolaang Mongondow, perempuan diposisikan sebagai manusia yang keberadaannya mesti dijaga dan dihargai. Prosesi Monobok tersebut memberi pesan kepada kita bahwa setiap perempuan dalam tradisi Mongondow tidak sembarangan dalam menghias diri (fungsi dari telinga yang dilubangi/ditindik adalah untuk memakai perhiasan).

Selain Monobok, prosesi selanjutnya adalah Le’ad (meratakan gigi), saat ini prosesi Le’ad lebih sering dilaksanakan menjelang pernikahan, namun dalam tulisan ini Le’ad merupakan salah satu tahapan dalam upacara adat Monondeaga. Tradisi serupa juga terdapat pada masyarakat Bali. Sebelum prosesi ini dilangsungkan, doa-doa (Ompoe-an) tradisionalpun kembali dipanjatkan.

„Ompoe’ ! dia’ doman mokoïmbaloian
dia’ doman mokopoïmponik mokopoïmponag, dia”
doman mokodara-darag, dia’ doman mokoboengom-boengoi pinomaja’
dia’ doman mokotoïngkekeb, si aindon dinoegoe’, aindon
inoekoed podoedoei in takit i moena.”(hal. 12).

Dalam doa tersebut, kita menemukan sekaligus memahami bahwa perempuan Mongondow, mesti senantiasa menjaga tindakannya sebagai seorang perempuan yang telah memasuki masa dewasa. Sebagai perempuan yang telah disempurnakan dengan dilaksanakannya upacara tersebut. Memperhatikan prosesi upacara adat Monondeaga, yang dalam tulisan ini dilangsungkan dalam beberapa tahapan (Monobok, Le’ad, Lamba’an dan Buligan), memberi pengetahuan tersendiri bagi kita, mengenai perempuan Mongondow. Setidaknya dengan adanya upacara adat ini, semakin menegaskan bahwa tradisi Mongondow memposisikan perempuan sesuai dengan keberadaan dirinya sebagai makhluk yang memiliki peran tersendiri dalam kehidupannya. Karena itu, wajib diadakan sebuah ritual khusus untuk menyambut masa kedewasaannya.

Pada substansinya, ritual Monondeaga bisa menjadi basis kajian utama mengenai konsep gender yang kini banyak mendasarkan teorinya pada fatwa-fatwa ilmu pengetahuan modern. Bagaimanapun, ritual ini patut dikaji kembali pemaknaannya dimasa kini, ketika kaum perempuan makin melupakan pentingnya menghargai kearifan tradisi masa lalu yang begitu kaya dengan nilai-nilai kehidupan, moral, dan spiritual. Bolaang Mongondow, memiliki tokoh perempuan yang berperan penuh dalam sejarah perjalanan tanah ini. Inde’ Dou’, seorang Bogani perempuan yang berasal dari timur Bolaang Mongondow, yang oleh sebagian kalangan keberadaannya masih dianggap sebagai mitos, posisinya mesti dikaji kembali dan dijadikan spirit bagi semua kaum perempuan Mongondow, Ba’i Sopina yang dalam cerita lisan digambarkan sebagai sosok pemberani yang memimpin pasukan (menggantikan suaminya) dalam perang Pontodon juga wajib di telusuri kembali perjalanan hidupnya, demikian pula dengan Ny. Nurtina Gonibala yang perannya tak akan pernah terlupakan dalam tubuh PPI Laskar Banteng Bolaang Mongondow setidaknya pantas menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin membangun Bolaang Mongondow.

Untuk itu, sekali lagi basis pengetahuan perempuan Mongondow, mesti diawali dari tradisi Mongondow dan tokoh-tokoh perempuan Mongondow, dan selanjutnya direpresentasikan dalam konteks kehidupan bernegara, hingga perempuan Mongondow mampu menegaskan keberadaannya dalam peta sejarah nasional dan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai orang Mongondow, yang dilahirkan dari leluhur yang menghargai kaum perempuan sesuai dengan posisi dan aturan adat yang ditetapkan. Basis pengetahuan tersebut digunakan sebagai analisa untuk membaca konsep gender dan keberadaan perempuan masa kini. Dengan demikian perempuan Mongondow memiliki paradigma sendiri dalam mendefinisikan situasi kehidupan modern (yang cenderung memarginalkan perempuan) dimana ia menemui segala tantangan dalam menegaskan posisinya sebagai perempuan.

Tulisan Dunnebier ini, bisa menjadi referensi utama bagi semua kalangan yang ingin sepenuhnya mendalami tradisi dan budaya Bolaang Mongondow. Sekalipun kedua upacara yang terdapat dalam tulisan ini tidak atau jarang sekali ditemui dalam kehidupan masyarakat Bolaang Mongondow saat ini, namun Dunnebier telah menyajikan satu informasi penting kepada kita tentang kekayaan tradisi masa lalu, yang dimiliki oleh leluhur kita.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150818686166215

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…