Tersungging di Padang Ilalang

Nur Wachid *
__Tabloid Seputar Ponorogo

Mata nanar berpijak pada tumpuan batu senandung ilmu. Bermaslahat keangkuhan jiwa berkejora putih. Titik semu pada daun pintu mulai terdengar asing. Tak tersahut dengan kata majikan. Tampak kusut wajah tak berhias. Berkobar api semangat bermahligai optimistis. Dengan segala kemampuan dan tenaga, padi – padi kering yang setinggi gunung rinjani mulai tak tampak tinggi menjulang. Cucur deras keringat membasahi kain putih lusuh yang dikenakannya.
Tak sanggup lagi rasanya, ditengadahkannya kendi air membasahi kering tenggorokan. Serasa tak henti rasa haus melanda tubuh. Baru air surut dari kendi, tenggorakan sudah mulai basah. Tinggal empat kali pikul. Berdiri kakinya kokoh seperti kaki ayam jantan berjalu petarung. Tangan penuh otot, jari seperti paku – paku besar dari besi jawa. Sekali tekam satu pikul padi – padi kering memenuhi pundak. Bibir mulai tersenyum melihat Gunung Rinjani tak berhias keindahan, rata dengan tanah. Belum selesai mengambil nafas suara itu mucul dari sudut halaman. Agak lirih tapi semakin lama menjadi keras tak tertahan telinga. “Kamar mandi sudah mulai dipenuhi lumut hijau!” Tak ada perintah cuma mengeluarkan kata – kata bermakna perintah. Butir keringat belum mulai kering. Otot kaki masih terasa tegang. Nafas naik turun kencang seperti mobil naskar. Diambilah sikat dan perangkat alat pembersih.

Hari – hari dilalui sebegitu berat. Tak ada yang sanggup hidup seperti kehidupan Simon di Bukit Lintang. Suara kokok ayam sebagai pertanda alam mulai terang benderang. Di hari yang masih pagi itu, bahkan tak kebanyakan dari mereka yang masih mendengkur mendengar suara panggilan berjama’ah. Tapi tidak dengan Simon dengan wajah tak berekspresi, rumah satu paket dengan sudut – sudut halaman nampak tak ada kotoran tersisa. Baju – baju bertahta milik penghuni rumah juga sudah tersampir rapi di bentangan tali belakang rumah. Matahari mulai mengintip dari timur. Simon bergegas membasahi tubuhnya dengan air kolam di kamar mandi. Seragam putih yang tak nampak putih lagi siap menjadi jubah mencari ilmu.

Parade hingar bingar mengiringi bayangan Simon mengayuh sepeda tua. Sampai pada halaman berisi kuda besi yang tersusun rapi. Sepeda itu nampak asing dan terlalu bengap di halaman itu. Lirikan tajam mata Simon mengarah pada setiap kuda besi yang berdiri tangguh. Suara tawa mencekik, kali ini dua personil lawak jawa tulen yang setiap hari menjadi gubuk peristirahatan Simon pada sawah terbentang luas. Ubed dan Danar tiba – tiba gambar itu muncul bersama tawa mencekik dihadapan Simon. Ketiga telapak tangan saling diadukan yang menjadikan lengkap perawakan personil lawak jawa tulen. Itulah julukan bagi ketiga bocah ingusan yang berhari luar biasa. SMK Cahaya Harapan tertulis besar di gapura gerbang pintu lalu lalang impian bangsa. Sekolah itu menjadi tempat perhelatan yang sesekali dikerumuni riuh kebisuan oleh suara Pak Khosim. Satu kata mujarab hingga mampu menembus dinding – dinding kebisingan. Tertunduk semua kepala dan mata pekik tak berani mengeluarkan tatapan mata elang. Suara sepatu kulit kilap mengkilap menjadi pemenang di ruang kelas berisi 29 siswa. Pak Khosim yang seperti algojo raja tega, hari ini tak seperti biasa. “Anak – anak! Hari ini nampak begitu cerah, suasana kelas nampak rindang, wajah – wajah kalian nampak penuh semangat.” Kepala tertunduk, satu persatu mulai berani manampakkan batang hidung. Tapi tak bertengger lama. “Untuk itu keluarkan satu lembar kertas, hari ini kita ujian.” Suara reflek sorak mewarnai kelas. Mata melotot Pak Khosim menghipnotis semua siswa mengikuti perintahnya. Simon nampak datar, beda dengan teman – temannya yang kebingunan seperti anak kecil kehilangan Ibunya di tengah pasar malam. Bekal materi terkunci rapat ditas dalam otak Simon. Menjadikan dia hari itu bintang kelas.

Jarum jam melingkar tertempel di permukaan putih dinding kelas telah menunjuk angka berbunyi bel sekolah. Seperti biasa personil lawak jawa tulen bercengkrama di gubuk latah yang tersungging di padang ilalang. Simon, Ubed, dan Danar berlarian melompat di tengah tinggi ilalang menuju tempat yang mereka sebut surga harapan. Gubuk itu berada di tepi sungai yang di belakangnya tumbuh ilalang tinggi menjulang. Melepas lelah terbaring dengan kepala saling bersinggungan. Mata perlahan mulai terpejam, tapi tidak dengan hati dan pikiran yang kian benderang masuk dalam dunia harapan. “Hari ini memang aku nampak seperti pengemis jalanan yang sering diacuhkan oleh raja jalanan, tapi Aku tak tuli, Aku tak buta, Aku tak bisu, dan Aku tak bodoh. Dengan seragam putih kusam ini, Aku bersiap kelak nanti menjadi petarung jalanan bercincin emas putih, bermahkota intan berlian, berjaket dan bersepatu kulit buaya, dengan kuda besi yang tak pernah lelah aku pacu.” Kata Simon dengan penuh keyakinan dan harapan. Beberapa detik hening. Giliran Ubed berharap. “Orang tua ku menyuruhku kawin setelah lulus nanti dengan anak perawan Kepala Desa. Tapi Aku akan berontak, Aku tak mau menjadi orang kuno. Aku akan ke kota menimba ilmu hingga Aku menjadi Insyinyur berhelm kuning, berpakaian stelan baju masuk, dengan dasi bermotif klasik.” “Aku tak mau kalah dengan kalian berdua.” Kata Danar. “Aku anak bungsu dikeluargaku. Aku sudah dikunci untuk tetap disini menggarap sawah – sawah dan perkebunan warisan keluargaku. Tapi Aku akan buka kunci itu, masuk di Akademi Kepolisian menjadi Abdi Negara dengan bintang lima di pundakku.” Terlukis jelas harapan itu dikesaksian air bening sungai, dihadapan gubuk, dibelakang ilalang dan suara kincir yang digerakkan angin berhembus. “Aku pasti bisa.” Tiga kata serentak bersamaan menguasai keras padat menambah energi positif menjelma sebagai semangat membara. Itulah yang menjadikan tempat itu surga harapan bagi personil pelawak jawa tulen.

Kristal cahaya terbentuk dari uraian cahaya senja yang terpancar ke permukaan sungai. Indahnya bukan main, tapi mereka kini sudah pulang ke tempat tinggal masing–masing. Simon sibuk dengan segala bentuk perintah majikan. Ubed berkonteks bangsawan sibuk dengan tutur pinutur alus Bapaknya. Sedangkan Danar harus berbelit–belit dengan urusan sawah–sawah dan perkebunannya. Kesibukan–kesibukan itu mengisi kekosongan liburan semester. Hingga mereka merasakan kerinduan. Kerinduan pada personil lawak jawa tulen, kerinduan pada surga harapan, kerinduan pada SMK Cahaya Harapan, kerinduan pada Pak Khosim. Walau Pak Khosim adalah seorang Killer, tapi itu menjadikan kekuatan roh kerinduan. Itulah yang akan menjadi bumbu–bumbu keharmonisan anak cucu Adam. Malam Jum’at nampak sunyi seram memancarkan aura mistis. Bulu kuduk yang tak mau berhenti berdiri. Suara – suara tawa terkubur dalam–dalam oleh nyanyian burung malam. Hal itu tak menggoyahkan kekuatan niat Simon pergi mengaji di Surau Pak Haji Darmiji. Simon sudah tak asing lagi dengan suasana mencekam. Tampak semangat melepas kerinduan bertemu dengan dua sahabat personil lawak jawa tulen yang juga setiap malam Jum’at mengaji di Surau Pak Haji Darmiji. Aura mistis terhapus saat ketiga personil lawak jawa tulen bertemu di bawah atap surau berdinding anyaman bambu. Selesai mengaji obrolan–obrolan bahkan canda tawa tak ingin di lewati. Sesekali Pak Haji Darmiji menyumbang intermeso yang menambah kembang api keceriaan malam itu. “Jangan lupa rajin belajar, sebentar lagi kalian hadapi UAN.” Kami minta do’anya Pak Haji. Cukup dengan anggukan kepala, membawa langkah kaki mereka berpamitan pulang.

Hari pertama masuk setelah liburan semester menjadi curahan kerinduan diantara siswa SMK Cahaya Harapan. Bagi anak–anak Bukit Lintang, di sekolahlah mereka dapat berkumpul. Suasana itu bertolak belakang ketika siswa–siswi SMK Cahaya Harapan berhadapan dengan tiga hari penentuan. Hari yang ditunggu–tunggu sekaligus hari yang tak ingin dilewati sudah di depan mata. Bagi personil lawak jawa tulen, tiga hari itu adalah tantangan. Tantangan yang harus dilewati dengan siraman bekal materi ilmu. Tantangan yang harus dijawab dengan untaian kata–kata kepada Sang Illahi. Cuma tiga hari, keliatan tak panjang. Tapi butuh siasat agar hari yang tak panjang menghasilkan kenikmatan yang tak pendek.

Satu dua titik berjalan menghardik pada roda dasar. Sudut–sudut bertabur kesunyian mencampakkan kekuatan. Bagai bendera berkibar dengan penghormatan khidmat. Dengan kain diikat dikepala, bersenjata bambu runcing tajam. Perjuangan jelas nampak ditunjukkan anak–anak SMK Cahaya Harapan selama tiga hari. Tak terbesit sedikitpun pada benak raut muka keceriaan. Hingga pada titik temu Wali murid berkumpul di Aula Sekolah. Simon, Ubed, dan Danar linglung dan cemas. Entah apa dipikirnya. Sepi gelisah di tengah banyak orang. Sebuah amplop putih bersih diserahkan pada setiap Wali. Pelan diawali do’a mata terpejam, tangan Ayah Simon mulai menelusuri bentuk amplop. Air mata Ayah Simon bergelimpangan ketika membaca secuil kertas di dalam amplop. Simon serentak mengeluarkan kristal dari matanya, tampak bening hingga menetes di pipi menjadi air mata. Entah air mata bahagia atau kesedihan. Tangan Sang Ayah memeluk tubuh anaknya. Didekapnya erat. Simon hanya pasrah menikmati hangatnya pelukan Sang Ayah. “Kau lulus dengan nilai terbaik di Sekolah, Anakku.” Sujud syukur kepada Sang Pencipta seakan menggambarkan kontak batin ucapan terima kasih kepada–Nya. Menghadap arah penjuru kesucian, kepala menempel di lantai dengan hati sebagai kunci dan air mata sebagai pendamping. Ketika berdiri, kedua sahabatnya sudah di depan mata. Saling berpelukan dan kebahagiaan mengalir hingga Aula Sekolah seakan menjadi rumah milik personil lawak jawa tulen.
***

Pecah dan buyar oleh sentuhan tangan halus seorang istri di pundak Simon. Seorang gadis cantik berjilbab dengan wajah bercahaya berdiri di belakang Simon. “Hari ini hari libur. Dari tadi pagi mas melamun terus. Apa ada masalah dengan pekerjaan?” Tanya istri Simon. “Gak ada. Tiba – tiba saja tadi pagi, kehidupanku dulu yang sangat berat tergambar jelas. Bahkan kedua sahabatku di SMK Cahaya Harapan juga ikut di sana.” Air mata mulai menggenangi mata Simon. “Hari – hari yang berat tapi sangat membahagiakan. Tanpa hari–hari itu, aku takkan pernah menjadi aku yang sekarang ini. Dengan hari–hari itu kudapatkan beasiswa. Dengan hari–hari itu ku menjadi mahasiswa yang lulus caumlot. Dengan hari–hari itu ku mendapatkan pekerjaan. Hingga semua harapanku menjadi nyata dengan hari–hari itu.” Semakin banyak kata–kata terurai air mata kian deras mengalir. Tangan lembut Sang Istri mengusapnya dengan penuh kasih sayang. “Aku rindu pada tanah kelahiranku, Bukit Lintang. Aku rindu bercengkrama dengan keluarga. Aku rindu dengan gelak tawa personil lawak jawa tulen. Aku rindu dengan keindahan surga harapan. Aku rindu dengan mistis surau Pak Haji. Aku rindu dengan keriuhan sekolahku SMK Cahaya Harapan. Hari ini kita pulang ke Bukit Lintang. Kamu persiapkan jaket dan sepatu kulitku. Aku mempersiapkan kuda besi.” Anggukan kepala Sang Istri melangkahkan kuda besi melewati gedung–gedung tinggi perncakar langit, rimbun hutan mahoni, padang ilalang yang kuning menguning, hijau padi terbentang panjang, bukit–bukit berdiri dengan jurang terjal di kanan kiri menambah keindahan perjalanan dari Karawang menuju Bukit Lintang. “Tunggulah Aku kedua sahabatku, Aku segera datang di Bukit Lintang dengan harapan nyata kita personil lawak jawa tulen yang terucap di surga harapan.”

*) Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur.

Komentar