Langsung ke konten utama

Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara

A Khoirul Anam
http://nu.or.id/

Bebeberapa kelompok Islam semakin tidak antusias terhadap khasanah dan realitas Nusantara. Mereka seperti orang asing di negeri sendiri. Entah mulai kapan ini bermula. Padahal para penyebar Islam dikenal sangat dekat-hati dengan negeri ini. Kita bisa saja berkata, semua itu karena mereka semakin jauh dari dunia sastra, sastra pesantren.

Diskusi bulanan NU Online kali ini imengambil topik “Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara.” Diskusi dikerjakan bersama dengan Pusat Dokumentasi Sastra Pesantren Ciganjur, Jum’at (30/6) besok di ruang rapat NU Online. Diskusi terbatas ini dipandu oleh penyair muda usia Binhad Nurrohmat dan menghadirkan pembicara utama novelis KH. Ahmad Tohari.
“Saat-saat ini, di negeri ini, ada yang telah sering melakukan propaganda dan gerakan yang tak bertoleransi terhadap sejumlah khazanah realitas Nusantara yang dihuni beragam manusia, suku, tradisi, maupun agama sejak lama. Kelompok Islam ini tak tolelir tradisi Islam nusantara. Bagaimanakah sastrawan santri memandang hal ini?” kata Binhad. Ya, bagaimana?

Soal bagaimana juga mendefinisikan sastrawan santri, dengan cekatan Binhad menjawab, sastrawan pesantren itu pernah hidup di pesantren, pernah berada secara sosial di lingkungan pesantren. Ada yang paten, katanya, sastra adalah produk cara pandang, dan cara pandang dibantu oleh lingkungan. Kali ini kita bicara lingkungan pesantren.

“Kalau juga ada yang masih bertanya sastra pesantren itu apa ya itu yang tanya suruh masuk fakultas teknik aja. Sekarang apa ada definisi yang pas untuk “sastra Indonesia”, pasti tidak akan ada, soalnya yang ada itu sastra berbahasa Indonesia,” kata Binhad.

Secara ideal, lanjut alumni pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu, sedianya sastra pesantren menaruh komitmen pada soal nilai-nilai. “Pokoknya sastra pesantren itu tidak sekedar estetisme,” katanya.

Lain halnya dengan Danarto yang akhir-akhir ini lebih sering bergulat dengan dunia sufi. Menurutnya definisi sastra pesantren terlalu problematik. “Sastra sufistik itu sudah jelas dan contohnya sudah ada. Saya punya itu. Kalau sastra pesantren itu apa?” kata Danarto. Yah, terserah bagaimana baiknya para satrawan.

Diskusi NU Online kali ini mengundang beberapa sastrawan dan pengamat sastra seperti Jamal D Rahman, Edy S Supadmo, Wowok Hesti Prabowo, Chavchay Syaifullah, Firdaus Muhammad, Farahdiba, Feby Indirani, Imam Muhtarom, Ahmad Baso, M. Dienaldo, Enceng Sobirin, Nuruddin Ayshadie, Masduki Baidlawi, Arief Mudatsir Mandan.

Ada juga Rukmi Wisnu Wardhani, Parto Li, Imam Maarif, Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, Damhuri Muhammad, Muhidin M Dahlan, Rahmat Ali, Sofa Ihsan, Danarto, Mir’atul Hayat, Satrouw El-Ngatawi, Amtsar Dulmanan, dan kru Pusat Dokumentasi Sastra Pesantren Ciganjur.

29/06/2006

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…