Langsung ke konten utama

Gola Gong: Pahlawanku, Inspirasiku

Harris Maulana
http://www.kompasiana.com/harris

Saya mengenalnya lewat novelnya yang fenomenal “Balada Si Roy”. Cerita ini pada awalnya sebuah cerita pendek bersambung di majalah Hai medio 1988 ketika saya masih SMP. Cerita ini selalu saya ikuti hingga dijadikan novel. Mulai dari “Joe” hingga “Epilog” dengan jumlah total 10 buah.

Si Roy saat itu banyak membuat inspirasi para remaja untuk menjadi seorang lelaki sejati. Roy digambarkan sebagai lelaki tangguh walau kadang rapuh, suka bertualang tapi selalu ingat pulang dan menghargai wanita terutama mamanya. Kadang suka bertarung demi sebuah keadilan.
Tokoh Roy bagi saya adalah gambaran nyata penciptanya : Gola Gong. Saat masih muda, Gong sendiri adalah seorang petualang sejati. Dia menyebutnya dirinya seorang Avonturir. Bertualang menelusuri kemana matahari berjalan. Mulai dari Aceh hingga Papua. Bahkan dilanjutkan dengan menjelajah daratan Asia. Dengan jeans dan ransel kebanggaannya, menumpang kendaraan apa saja mulai dari truk sampai kereta ekonomi. Dari sanalah Gong belajar banyak tentang kehidupan dan diterjemahkan dengan apik dan menyentuh di serial Balada Si Roy. Selain itu Gong juga rajin mengirim artikel perjalanannya untuk dimuat di majalah remaja yang sedang digandrungi saat itu. Jika saat itu sudah ada blog, sudah pasti Gong akan langsung posting saat itu juga dan bisa langsung dibaca oleh penggemarnya.

Beruntung saat SMA orangtua ditugaskan di Kota Serang. Saya bisa mengenal lebih dekat dengan Gong yang juga tinggal di kota ini. Teman-teman SMA saya yang baru lebih mengenalnya sebagai Kak Heri dibanding Gola Gong. Nama lengkapnya Heri Hendrayana Harris. Dibesarkan dari keluarga bersahaja, kedua orangtuanya guru. Pernah mencicipi kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Bandung, namun lebih memilih ber-avonturir keliling nusantara. Dengan segala keterbatasannya – tangan kirinya putus saat masih anak-anak – namun memiliki semangat yang luar biasa. Dekat dengan siapa saja. Kadang pertemanan dapat diawali dengan sebatang rokok. Selain menulis, Gong juga hobi berolahraga terutama bulutangkis dengan pencapaian tertinggi sebagai Juara Se Asia Pasific pada Paralympic tahun 1989 di Solo.

Cerita Gong banyak memberikan inspirasi kehidupan pribadi saya, walau dengan jalan yang berbeda. Jika Gong melakukan perjalanan dengan biaya dari tulisan-tulisannya, sedangkan saya melakukan perjalanan karena tuntutan pekerjaan dan dibiayai oleh perusahaan . Memang sejak selesai kuliah saya ingin mencari pekerjaan yang banyak melakukan perjalanan. Senang rasanya mengalami sendiri apa yang pernah dilakukan oleh Gong. Menelusuri Sungai Musi, menerjang ombak di Pulau Laut, merambah hutan di Puncak Jaya, Papua, dan tempat-tempat lainnya. Ada perasaan puas jika sudah sampai di tempat yang pernah disinggahi Gong atau ada dalam cerita di Balada Si Roy.

Walaupun sudah pindah kota, saya selalu mengikuti perkembangan Gong. Pernah bekerja sebagai wartawan dan jurnalis pada beberapa media, kini ia mendirikan “Rumah Dunia” dibelakang rumahnya yang terletak di Desa Ciloang, Serang, Banten. Rumah dunia adalah sebuah tempat bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan segala kreatifitasnya, baik seni suara, lukis, sastra atau apapun. Rumah Dunia terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar dan itu semua tidak dipungut biaya. Cukup banyak yang berhasil dari tempat ini, menjadi penulis atau wartawan.

Kehidupan Gong pun sangat bersahaja bersama isteri dan anak-anaknya. Bisa saja ia menjual hak cipta novel Balada Si Roy untuk dijadikan film dan ia mendapat royalty yang cukup untuk kebutuhan hidupnya. Namun ia menolaknya, biarkan Roy tetap dalam imajinasi kalian, begitu alasannya.

Ungkapannya yang selalu saya ingat adalah “Aku sudah berhenti menjadi lelaki, ketika aku sudah menikah”. Coba bayangkan, wanita mana yang tidak bahagia jika mendengar kata-kata tersebut. Ya, sejak menikah, baginya tidak ada lagi wanita yang ada dalam hatinya, karena ia sudah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya.

Gong, sungguh indah kehidupanmu. Terima kasih sudah banyak memberikan inspirasi bagi orang-orang seperti saya. Izinkan saya untuk menjadikanmu pahlawan sejatiku.

Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/11/gola-gong-pahlawanku-inspirasiku/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…