Peta Kawin

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Tanjung Dungkak, adalah kota kecil dari sekian puluh kota yang pernah aku singgahi. Dibanding Tanjung Benoa Bali, kota ini tak sekedar jauh wilayah teritorialnya, melainkan jauh pula tingkat peradapannya. Kawasan sunyi dari lalu lalang menusia, minim gedung mewah, tak ada kendaraan transportasi dan dunia gemerlap. Keadaan ini berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Tanjung Benoa Bali yang tak sepi turis manca negara silih berganti menyinggahi.

Hingga kini aku tak pernah mempertanyakan, apakah hidup di rantau adalah takdir yang aku pesan. Yang aku tau adalah saat kepala bagian kontraktor CV tempatku bekerja menelphon, mengabari perpindahan tempatku selanjutnya setelah libur beberapa minggu.

Kerjaku memang berganti wilayah. Sekali berangkat, tak akan pulang hingga garapan usai. Jarak kepulanganku yang paling pendek sekitar enam bulan, selebihnya hingga empat tahun. Bahkan kepulangan terakhirku, seorang anak kecil yang baru jalan terantanan memanggilku kakek, padahal keberangkatan terahir lalu, anak gadisku masih kelas dua SMP.

Kehidupan kadang seperti diktator. Ia mengangkang berkacak pinggang saat kita besimpuh merunduk di telapak kakinya sekali pun. Kebutuhan hidup menjadi seutas tambang yang dilempar matador dan persis mendadung leher dan kemudian menyeretku seperti sapi atau kerbau dungu.

Meski bertahun tahun di rantau, tetap saja ada secarik goresan yang gagal aku hilangkan. Yakni seperti ada yang tak tercatat di langit dan kitab suci, rindu kampung halaman, rindu ingin pulang. Padahal telapak kakiku sering berkata,”Indonesia adalah kampung halamanku, Indonesia mana yang tak aku singgahi?”

Sejatinya aku bukan keturunan Marcopolus Colombus, sang kakek Amerika itu. Aku ingat, nisan kayu goprak yang tak bernama lagi, adalah kepala Tukejo, buyutku yang asli Jawa. Tapi mungkin Tukejo adalah sejawat Marcopolo, atau sekedar teman gaplei di gardu beratus tahun lalu. Terbukti kedekatan mereka, mewaris kepadaku. Dimana ada pulau, di situ aku berlabuh.

***

Berbeda dengan setahun lalu. Tempat ini sudah berbentuk beton cor yang layak ditiduri. Awalnya hanyalah rawa-rawa. Sejak kali pertama di tempat ini, tugasku setiap hari merubah kawasan ini menjadi bangunan layak huni bagi kapal kapal berlabuh. Tak terasa memang, adonan semen dan pasir yang ditanting tangan kuli anak buahku se ember demi se ember kini telah mengeras, tak berupa lumpur rawa yang membuat badan belepotan dan wajah hingga tak berbentuk saat bekerja.

Kadang aku mendengar senda gurau kawan sepekerjaku saat mereka menyelesaikan lelah. “ Seandainya istriku tau kalau kerjaku begini sengsara, mungkin ia tak sampai hati, makan hasil jerih payahku,” Kawan yang lain segera menyahut! “Lantas kalau gak makan jerih payahmu, istrimu mau makan apa? Yang namanya wanita itu, lobangnya lebar. Dimasukkan apa saja pasti muat. Jangankan uang pas pasan, harta segudang pun tetap kurang. Lha wong kepala bayi saja muat kok.” Seperti biasanya, kedua sahabatku itu larat ke kisah mereka semalam di tepian kolam madu yang jaraknya tujuh kilo meter. Sebuah kubangan segaran yang direguk para perantau sebagai pelepas dahaga.

Selintas aku ingat Rahwana. Ia jadi tersangka saat penculikan Shinta dari pagar Lesmana. Padahal sesungguhnya tanpa diculik pun Shinta tetap keluar dari lingkaran pagar. Kijang kencana yang berlarian di sekitar pagar, membuat lidah Shinta kemecer memilikinya sebelum wanita lain mendapatkannya. Dan betapa indah wanita jika berhias emas kencana dan berlian, apalagi harta melimpah. Andai Shinta keluar pagar tanpa pakaian pun akan ia lakukan jika itu syarat mendapat kijang kencana.

***

Cangkang laut hulu anak sungai Musi ini, soal ikan bakar, aku seperti pemilik restaurant. Senja seusai bekerja, tinggal melempar mata kail, dua kali straekan cukup buat lauk. Berbeda ketika aku di sepanjang pantai Uluwatu Jimbaran. Tiap bobot ikan dihitung harga dollaran.

Terhitung bulan ke enam, dari selatan matahari sudah menyeberangi katulistiwa. Hujan tak akan berkunjung lagi tiap pekan. Dedaunan yang lebat segera rontok di pesta musim gugur. Dan setelahnya, pasti segera berbuah.

Tepat di depan bangunanku, di seberang sungai, pohon beringin itu satu-satunya pohon terbesar di tempatku. Pemukim asli menyebutnya istana kera. Taruan saja memang pohon itu tak sepi ditempati kawanan kera.

Sudah tiga hari ini bunyi kera-kera itu lain dari biasanya. Tak sekedar pating cruet, bunyi mereka disertai perubahan nada. Dari crueeet, crueeet, beberapa hari itu cruet uww, uww. Awal bunyi itu dilantunkan sang raja kera. Sepertinya pernah dirapatkan dalam aturan perundang-undangan perkerahan, bahwa suara khas sang raja kera itu harus disauti semua pejantan kera seantero hutan belantara. Tak pelak, dalam waktu singkat, berbagai penjuru hutan gemontang suara yang sama.

Melihat perkelahian terus menerus tiga hari sesudahnya, agaknya suara itu adalah tanda tiba waktunya diselenggarakan ajang penentuan pejantan sejati. Semua kera jantan harus bertarung dan terseleksi. Hari hari itulah yang paling mengesankan bagi kami. Sambil bekerja, seolah sambil menonton gratis pagelaran teater kera kala memasuki akting antagonis. Namun beberapa kawanku ada yang kerja tak bergaji. Sebab dalam pertarungan kera itu, mereka berjudi menebak kera mana yang kalah. Sedang teman lain yang tak suka berjudi, bertaruh dengan colekan arang di wajah. Siapa yang sering kalah, wajahnya pating celoteng melebihi kera.

Selama tiga hari keramaian pohon istana nyaris menghapus minggu minggu dan bulan sebelumnya. Tak tau persis kapan kera ini mengirim surat kepada buaya. Hingga cangkang hulu sungai itu dipenuhi sembulan ombak ratusan buaya yang nenggak. Ratusan buaya berbondong bondong ke sekitar istana. Bagi buaya, saat petarungan kera adalah pesta bagi bangsanya. Sekian lama melata bertahun-tahun, dalam kesengsaraan (buaya), kera ingin mempersembahkan hal yang paling sisah dalam hidupnya untuk menghibur buaya.

Suara raungan silih berganti. Bagi pejantan yang lari artinya kalah. Tetapi tak sedikit yang memilih mati demi harga diri. Beberapa saat kemudian dua ekor segera melempar bangkai kawan tak bernyawa karena teguh dengan kegigihannya. Kematian mulia bagi manusia, ternyata tidak berlaku bagi kera. Tak sekedar melempar, kera itu sambil berekspresi memoncongkan bibir mengutuk bangkai kawannya. Bangkai bertelantingan di dahan-dahan, dan kemudian terjebur ke sungai. Jangankan sejak bertelantingan jatuh, jauh sebelum pertarungan saja buaya sudah menunggu dengan celangap mulut laparnya.

***

Setelah pertarungan itu, pohon istana yang doyong ke sungai hanya dihuni beberapa ekor saja, yakni pejantan sejati dan beberapa ekor pengabdi. Namun tiap hari tak sepi sekitar sepuluh ekor betina berbanjar mengantri. Para betina yang datang dari penjuruh hutan berarti memasuki masa kawin. Suda jadi resiko pejantan sejati, selalu dikunjungi betina yang ingin berketurunan dominan. Dan kalau pejantan sejati itu tidak mau, sama artinya mampus dikeroyok rombongan betina. Demikianlah kiranya siklus hutan. Untuk memilih pejantan sejati ditentukan lawan pejantan lain. Sedang untuk membuktikan jantan sejati, harus diadu melawan betina.

Aku ingat Sarmin, kawanku SMA. Dia harus mati dirajam hukum Arab Saudi. Saat bekerja menjadi supir pribadi di negara itu, juragannya adalah 5 wanita dalam satu rumah. Selain menyopir mobilnya, Samin juga dipaksa menyupir tubuh mereka secara bergantian. Dua tahun kemudian tubuh Sarnim kurus kekurangan hormon, dan ketika ia menolak ajakan juragannya, mereka beramai-ramai melaporkan ke polisi dengan alasan pemerkosaan.

Tak hanya pertarungan yang menjadi momen berkesan bagiku, masa kawin kera juga tontonan gratis pelepas lelah. Di dahan besar itu pejantan malu-malu, salah tingkah di hadapan sederet betina. Satu di antara betina mendekat. Sementara yang lain seperti tidak ada urusan dengan kedua pasangan itu. Meskipun antri, tetap saja bagi mereka adalah urusan dan kepentinan tersendiri. Mula-mula pejantan mengusap kepala betina, lalu mencari kutu di bulu-bulunya. Setelah keduanya berciuman, tak berselang lama yang memang telanjang sebelumnya, seperti saat aku dan istriku yang kemudian melahirkan kedua anakku.

Itulah saat saat keduanya menjadi pemilik sorga hutan belantara. Jangankan keranya, kutu di bulunya pun memiliki hal yang sama. Betina yang selesai diajak bertamasya pejantan ke ruang-ruang hampa segera pergi tanpa mau tahu apa yang dilakukan pejantan dengan betina giliran berikutnya. Para betina pun hamil dan menyusui bayi mereka sekian bulan sesudahnya.

Waktu bersamaan dengan tontonan pesta perkawinan kera itu, kadang beberapa rekanku langsung ngelonyor ke tempat mandi dan betah berlama-lama. Seperti biasanya, sore seusai bekerja, dua orang temanku sudah berpakaian necis. Mereka pergi ke lembah madu yang berjarak tujuh kilo meter. Sebuah kubangan segaran tempat para perantau mereguk madu pelepas dahaga. Apalagi setelah berguru pada kera, penonton ibarat murit cerdas yang segera memraktekkannya.

Sementara aku dengan sisah dada bergemuruh, sibuk menghalau rasa kangen pada istri di rumah nan jauh. Aku yakin. Aku bukan keturunan Marcopolo yang di mana ada pulau, di situ pula aku mendarat. Tentu, sekalian menjelajahi wanita setempat.

17 Oktober 2011

Komentar