Maling

Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/

Di jalanan yang sudah bertahun-ta­hun saya lalui, ada rumah orang ka­ya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda.

Perasaan saya sama dengan orang-orang lain. Me­reka juga heran. Karena mereka pun tahu, se­tiap bulan puasa, kelapa muda di mana-mana laris. Hanya dengan gula merah dan jeruk nipis, buah itu mengantar ke surga di saat buka. Di­teguk langsung juga sedapnya bukan main. Se­mua minuman keluaran pabrik yang digondeli seabrek bahan pengawet dan zat warna, le­wat. Kelapa memang nomor satu.

***

Setelah berhasil membeli rumah yang saya kon­trak, yang pertama saya lakukan adalah me­nanam pohon kelapa gading. Tidak perlu di­urus, tak peduli bagaimana curah hujan, kemarau kepanjangan sekalipun, pohon kelapa itu terus tumbuh. Dalam waktu 5 tahun mulai ber­buah. Lebatnya juga tidak ketulungan.

Tapi aneh. Setelah punya pohon kelapa sen­diri yang ngamuk berbuah seperti milik orang kaya itu, selera saya menenggak kelapa muda, berhenti. Buah kelapa saya biarkan saja tergantung di pohonnya sampai tua. Baru kalau ada bahaya bisa menjatuhi kepala orang lewat, atau menghajar kap mobil, saya suruh sopir menurunkannya.

Ketika satpam di kompleks dengan malu-ma­lu datang minta satu dua kelapa muda untuk buka puasa, dengan tangan terbuka saya persilakan.

”Silakan-silakan, ambil saja. Sepuluh juga boleh!”

Satpam itu nampak segan.

”Dua saja cukup, Pak,” katanya malu-malu.

Tapi belakangan pembantu saya mengadu.

”Bukan dua, bukan tiga, bukan lima, tapi se­puluh butir kelapa yang dipetik si Rakus itu, Pak!”

Saya sabarkan dia. Saya bilang, pohon kelapa itu justru akan semakin rajin berbuah kalau buahnya dipetik. Pembantu saya tidak berani menjawab. Tapi dia ngedumel terus. Mungkin dia marah karena tidak diberi. Saya biarkan saja itu jadi urusannya.

Bulan puasa berikutnya, satpam itu tidak minta izin lagi. Dia selalu memetik kelapa ka­lau mau buka. Kembali pembantu saya marah. Sa­ya hanya ketawa.

”Kalau kamu mau, ambil sendiri dong, jangan ma­rah doang,” kata saya .

”Bukan begitu, Pak.”

”Minta tolong sopir biar kamu dipetikin!”

”Terima kasih, Pak. Memangnya saya tupai, sa­ya tidak doyan kelapa!”

Saya ketawa. Kalau pembantu berani ngumpat-umpat di muka majikan seperti itu, bagi sa­ya tanda hubungan kemanusiaan di antara ka­mi masih sehat. Saya tidak pernah menganggap pembantu itu manusia yang lebih rendah dari majikan. Itu soal pembagian tugas dan na­sib saja. Itu karena ibu saya sendiri dulu ada­lah bekas pembantu.

Tapi kemarin, pembantu saya mengetuk pin­tu kamar. Saya agak marah, karena saya sedang ti­dur enak.

”Kan sudah aku bilang aku mau tidur, jangan di­ganggu!”

”Tapi ini gawat, Pak.”

”Gawat apa?”

”Memangnya Bapak sudah ngijinin?”

”Ngijinin apa?”

”Itu ada dua orang yang lagi ngambil kelapa, Pak!”

”Biarin aja. Apa salahnya satpam buka de­ngan air kelapa muda? Satpam juga manusia. Ka­mu saja terlalu sensitif!”

”Tapi itu bukan si Rakus itu, Pak!”

”Bukan?”

”Bukan sekali!”

”Siapa?”

”Coba Bapak lihat sendiri. Nyebelin sekali, Pak. Sudah tidak pakai permisi, main ambil tang­ga aja. Apa dia pikir itu punya moyangnya, pakai golok di dapur segala, nyuruh bikin kopi lagi, Pak!”

Saya tertegun. Sambil membetulkan re­sluiting celana, saya keluar rumah.

Di atas pohon kelapa nampak seorang lelaki sedang mengebul-ngebulkan asap rokok. Ada tali yang terentang ke bawah dari dahan kelapa, untuk mengirim kelapa yang tangkainya sudah di kapak. Di dekat bak sampah, temannya sedang memasukkan kelapa yang sudah dipetik ke dalam karung. Saya hitung sudah dua ka­rung. Rupanya kelapa saya mau disikat habis.

”Heee, lagi ngapain?” teriak saya terkejut.

Lelaki yang di bawah menoleh. Dia tersenyum sopan.

”Selamat sore, Pak.”

”Kamu lagi ngapain?”

”Lagi metikin kelapa, Pak.”

”Lho, ini kan kelapa saya?”

”Betul, Pak.”

”Kenapa dipetik?”

”Nanti ketuaan, Pak?”

“Lho apa urusan kamu? Ini kan pohon kela­pa saya?”

Orang itu berteriak kepada temannya yang di atas.

”Jo, Bapaknya nanyain ini!”

Orang yang di atas menoleh ke bawah, ke arah saya.

”Kenapa Pak?”

”Emang kamu mau ngabisin kelapa saya?”

”Ya sekalian, Pak. Besok saya mudik.”

”Terserah. Tapi ini kelapa saya!”

”Ya, Pak!”

”Ya apa?! Kenapa kamu ambilin kelapa saya?”

Orang itu tertegun heran.

”Emang kenapa Pak?”

Saya mulai marah.

”Jangan ngomong dari atas. Ayo turun kamu!”

”Tinggal dikit lagi, Pak. Nanggung.”

Saya tambah keki.

”Turunnn!”

Suara saya menggelegar. Saya sendiri terkejut. Tetangga depan rumah sampai melonggokkan kepalanya di jendela. Lelaki di atas pohon itu tiba-tiba menjatuhkan kapak dari atas pohon. Menancap ke atas rumput depan pagar. Da­rah saya tersirap, seakan kapak mengiris le­her saya. Terus terang saya ngeper. Meski­pun kelapa itu milik saya, saya tidak mau mati konyol hanya karena soal kelapa.

”Kenapa Pak?” tanya lelaki itu setelah de­ngan sigapnya turun.

”Saya cuma mau tanya. Kenapa kalian me­me­tik kelapa saya?”

”Tapi kan saya sudah saya bayar, Pak.”

”Apa?”

”Sudah saya bayar, Pak.”

”Bayar apa?”

”Harganya. Kan sudah saya naikkan seperti yang diminta.”

”Harga apa?”

”Harga kelapanya semua, Pak.”

”Kamu beli kelapa saya?”

”Ya Pak.”

”Tapi ini kelapa saya, tahu!”

”Betul Pak!”

”Kelapa ini tidak dijual!”

Lelaki itu bingung. Dia menoleh temannya. Lalu temannya menghampiri. Dia berusaha men­jadi penengah. Dengan suara yang sejuk, dia menyapa.

”Kami sudah bayar lunas, Pak.”

”Bayar lunas apa?”

”Kelapanya. Semua. Kami borong, Pak.”

”Aku tidak jual kelapa!”

Ganti orang itu nampak heran. Dia balik me­noleh temannya. Lalu temannya mengambil ka­pak. Dada saya berdetak. Semangat saya amblas. Saya betul-betul tidak ingin berkelahi soal kelapa. Itu terlalu sembrono.

”Begini, Pak,” kata lelaki yang membawa ka­pak itu, ”Memang belum lunas semua, tapi se­perempatnya lagi akan dibayar setelah kami ram­pung.”

Lelaki itu lalu merogoh saku mengeluarkan dompet.

”Mana duitnya?!”

Temannya ikut merogoh saku dan mengeluarkan amplop.

”Nih lunasi sekarang!”

Lelaki itu memasukkan isi dompetnya ke dalam amplop.

”Sana kasih sekarang!”

”Tapi itu kelapanya masih ada?”

”Udah cukup. Bapak ini kali mau minta yang ke­cil-kecil itu jangan diambil dulu,” katanya sam­bil menoleh saya dengan tersenyum. ”Ya kami juga tidak akan ngambil itu, Pak. Ini saja sudah cukup. Cepetan sana bayar!”

Orang yang membawa amplop itu bergerak per­gi menuju ke pos satpam.

”Begitu, Pak. Kami tidak pernah nakal.”

”Jadi kamu beli kelapa saya?”

”Ya Pak.”

”Beli dari siapa?”

”Pak satpam, Pak.”

Saya terhenyak. Marah saya meledak lagi. Ta­pi kapak di tangan lelaki itu terlalu menakutkan. Saya terpaksa menelan perasaan saya. Le­laki itu tidak bicara lagi. Ia memasukkan se­mua kelapa yang dia anggap sudah dibelinya ke dalam karung. Waktu itu tetangga saya keluar dari rumah dan menyapa.

”Dijual berapa?”

Saya hanya menggeleng. Tapi lelaki yang mem­bawa kapak itu menyahut.

”Seratus ribu, Pak.”

”Wah lumayan! Boleh juga!”

Saya tak menjawab. Sayup-sayup saya dengar suara satpam di pos. Entah apa yang mereka bi­carakan.

Tak sanggup melihat buah yang selalu saya pan­dangi sebagai keindahan itu, sekarang berserakan di jalan, diam-diam saya masuk ke ru­mah. Korden jendela saya tutup. Saya tidak mau atau katakan saja takut melihat kenyataan itu.

Di luar saya dengar suara entakan sepatu sat­pam datang. Saya tak percaya dia akan masuk, lalu menyerahkan hasil penjualannya. Itu ha­nya harapan saya. Dan saya jadi benci sekali kare­na semuanya itu tetap hanya harapan.

Semalaman saya tak bisa tidur. Istri saya menyarankan agar menegur satpam yang kurang ajar itu. Tapi saya punya rencana yang lain. Orang itu tidak cukup ditegur. Dia harus di­beri pelajaran biar tahu rasa.

Pagi-pagi, saya berunding dengan sopir yang an­tar-jemput saya ke kantor.

”Kamu mau berbuat baik, Jon?”

”Apa itu, Pak, boleh.”

”Kamu tahu tukang sayur yang selalu lewat dengan gerobaknya pagi-pagi itu?”

”Tahu, Pak.”

”Cantik kan?”

”Ah Bapak, sudah peot begitu, masak cantik.”

”Jangan begitu. Dulu dia cantik. Sekarang ka­rena kurang terurus dan kerja keras, anaknya juga sudah dua, jadi layu begitu.”

”Ya Pak. Dia suka mengeluh, suaminya mau ka­win lagi. Tidak pernah ngurus anak bininya se­karang. Pulang juga jarang.”

”Coba hibur dia.”

”Hibur bagaimana, Pak?”

”Kembalikan kepercayaan dirinya!”

”Bagaimana itu Pak?”

”Kamu katakan kepada dia, dia itu sebenar­nya cantik, asal mau mengurus badannya lagi.”

Sopir ketawa.

”Ah Bapak bisa aja!”

”Lho ya nggak? Jujur saja! Kalau dia mau ngu­ruskan badan lagi, dengan gampang dia bi­sa dapat suami baru. Ya tidak?!”

Sopir saya ketawa. Dia melirik saya dengan ma­ta curiga.

”Aku serius!”

Sopir itu tak menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Di kantor saya intip dia bisik-bisik dengan sopir lain. Pasti sedang me­nebar gosip. Saya pura-pura tidak tahu. Te­tapi kemudian apa yang saya rencanakan terjadi.

Sehari kemudian, sore menjelang saat buka, terjadi kegegeran. Satpam sudah menunggu saya di teras. Mukanya nampak terlipat oleh ke­marahan.

”Kenapa Min?”

”Ada masalah, Pak!”

”Masalah apa lagi? Ada bom?”

”Bukan ini pribadi, Pak!”

”O, kamu mau kawin lagi?”

”Ah itu gosip, Pak!”

”Atau sudah kawin?”

”Sumpah, Pak, mana mungkin saya kawin lagi… Yang satu saja tidak sanggup saya urus, sam­pai dia ter­paksa jualan sayur dengan gerobak.”

”Ya, kamu kok sampai hati membiarkan istri ka­mu dorong gerobak, padahal dia asma kan?”

”Itulah, Pak!”

”Makanya jangan kawin melulu!”

”Sumpah, Pak, tidak. Malah saya yang kena ba­tunya sekarang!”

”Kena batunya gimana?”

”Istri saya ada yang godaan, Pak!”

”O ya?”

”Betul, Pak! Istri saya digoda!”

”Digoda bagaimana?”

”Masak istri saya dibilang cantik, Pak!”

”Lho istri kamu kan memang dulu cantik? Kalau tidak, mana mau kamu!”

”Memang. Tapi itu kan dulu, Pak. Sekarang anak­nya sudah dua, asma lagi, mana ada cantik­nya. Nggak ada orang yang akan melirik dia, ke­cuali kalau ada niat jahat.”

”Maksudmu apa?”

Satpam itu pindah kursi, mendekat, lalu bicara de­ngan berbisik.

”Ini menyangkut sopir Bapak.”

”Si Jon?”

”Betul, Pak.”

”Kenapa dia?”

”Masak dia merayu istri saya, Pak!”

”Merayu bagaimana?”

”Katanya, istri saya itu sebenarnya cantik, asal saja mau dandan lagi. Kalau sudah dandan dia nanti gampang cari suami baru! Begitu Pak!”

”Terus?”

”Ya kalau si Jon itu tidak ada maksud apa-apa, dia tidak akan bilang begitu. Saya tahu per­sis apa maunya kalau laki-laki sudah ngo­mong memuji-muji begitu. Perempuan kan le­mah hatinya, Pak. Kalau sudah dipuji, apa sa­ja dia kasih.”

”O ya?”

”Betul, Pak.”

”Jadi sekarang maksudmu apa?”

”Ya, Bapak tolong kasih tahu, janganlah si Jon itu coba-coba dengan istri saya!”

”Tapi kamu kan sudah tidak memperhatikan is­tri kamu lagi.”

”Bukan tidak memperhatikan, Pak.”

”Terus apa?”

”Nggak punya duit saja, Pak. Bagaimana sa­ya memperhatikan kalau tidak ada duit yang bi­sa saya kasihkan?”

”Memperhatikan itu tidak harus dengan duit. Istri kamu kan sudah kerja sendiri. Katanya ma­lah kamu yang sering minta duit dari dia? Betul?”

”Betul, Pak.”

”Kenapa?”

”Kan dia itu istri saya!”

”Jadi, meskipun tidak kamu perhatikan, dia itu tetap istri kamu kan?!!”

”Betul, Pak. Makanya saya marah. Hanya ka­rena saya ini satpam, saya jadi serbasalah. Sa­ya tidak berani melakukan kekerasan, masak sat­pam yang harusnya menjaga keamanan me­la­kukan kekerasan. Tidak betul kan, Pak!”

”Jadi maksud kamu apa?”

”Saya minta Bapak ngasih tahu si Jon, ja­ngan­lah ganggu istri saya. Meskipun tidak saya perhatikan, tapi dia tetap istri saya. Orang tidak boleh mengganggu perempuan yang ma­sih berstatus istri orang lain. Ya kan Pak?!”

Di situ saya tertegun. Jadi dia bukan tidak me­ngerti. Dia tahu. Meskipun tidak ditunjuk-tun­jukkan, hak itu tetap hak. Kenapa dia sangat mengerti dan menuntut haknya agar dihormati sebagai suami oleh orang lain, tapi pada saat yang sama dia dengan seenaknya saja melangka­hi hak saya terhadap pohon kelapa. Apa karena tidak saya petik, berarti kelapa itu boleh dia jual?

Lamunan saya terganggu, karena tiba-tiba istri satpam, tukang sayur itu, muncul.

”Jangan didengar omongannya, Pak!” kata­nya dengan berani. ”Dia ngaku-ngaku saya is­trinya lagi, karena ada maunya! Baru dengar sa­ya dapat warisan dari nenek saya di kampung, langsung dia ngaku bapaknya anak-anak lagi. Tapi kemaren-kemaren apaan, anak-anaknya sendiri digebukin, kepala saya dikencingin!”

Saya takjub. Satpam itu kelihatan pucat. Tapi tiba-tiba dia membentak.

”Ngapain lu ikut-ikutan kemari? Pulang!”

Istrinya sama sekali tidak takut. Ia balas meng­gertak.

”Lu kagak usah nyuruh-nyuruh gua pulang, gua memang mau balik kampung sekarang. Gua cuma mau pamitan sama Bapak! Pak, saya pamit pulang, Pak. Maapin kalau saya ada salah.”

Perempuan itu mengulurkan tangan minta bersalaman. Saya terpaksa menyambutnya. Ia men­cium tangan saya sambil menangis.

”Maapin kesalahan-kesalahan saya, Pak, saya terpaksa pulang. Saya tidak kuat lagi di sini.”

Satpam mula-mula hanya memandang, tetapi kemudian berdiri, lalu menarik istrinya untuk dibawa pulang. Yang ditarik melawan. Saya terpukau menonton. Untung istri saya muncul dan menarik istri satpam itu, langsung diselamatkan masuk.

Satpam tidak berani bertindak lebih jauh. Se­perti orang tolol dia berdiri di depan saya. Saya siap mencegah, kalau dia mencoba mau menyusul masuk. Tapi itu tidak terjadi. Malah kemudian dia menangis.

Saya tunggu saja sampai tangisnya reda. Rasa­nya agak aneh melihat satpam mewek se­perti itu.

”Saya memang salah, Pak.” katanya kemudian, ”Saya baru ingat istri, kalau sudah ada yang menggoda. Hari-hari saya sia-siakan. Anak tidak pernah saya urusin. Giliran mereka mau pulang kampung, baru saya sadar. Untung dia bilang, jadi saya bisa nyegah. Untung dia mau pulang, kalau tidak, saya pasti terus lupa sa­ya sudah punya istri, punya dua anak. Saya su­dah lupa daratan, Pak Saya menyesal, Pak.”

Saya tidak menjawab. Saya menunggu dia ber­gerak satu langkah lagi. Minta maaf sebab dia sudah dengan seenak perutnya menjual ke­lapa saya tanpa persetujuan. Tapi penantian itu nampaknya akan sia-sia. Satpam itu lebih si­buk memikirkan istrinya yang baru dapat wa­risan itu tapi akan meninggalkannya. Saya ja­di geram. Akhirnya saya terpaksa ngomong juga.

”Jadi sekarang kamu sadar! Memang kita ba­ru ingat milik kita kalau sudah diambil orang. Itu biasa. Semua orang juga begitu! Tapi mes­kipun maling itu ada gunanya, tetap saja nama­nya maling!! Kudu dihukum!”

Satpam terkejut. Mukanya merah padam. Tiba-tiba ia berhenti menangis lalu berkata geram.

”Kurangaajar! Pasti si Jon tahu istri saya dapat warisan! Malingggg!” teriaknya ganas sam­bil mencabut pisau lalu kabur ke garasi tem­pat sopir saya membersihkan mobil.

”Malingggg!”

Saya jatuh bangun mengejar. Tapi terlambat. Dia sudah membacok tengkuk sopir saya.

Untung si Jon seorang pendekar. Dengan re­fleknya yang luar biasa dia menepis serangan satpam itu. Pisau satpam terlempar ke tembok. Lalu tangan si Jon terangkat. Tangan yang bisa membelah tumpukan bata itu akan meretakkan mu­ka satpam. Saya berteriak.

”Jangan!!!!!”

Sekarang saya menyesal.

”Mengapa Bapak teriak jangan? Maling apa pun alasannya, perlu mendapat pelajaran, biar ka­pok!” kata istri saya mencak-mencak, sesudah peristiwa itu berlalu.

Sebenarnya saya tidak bermaksud mencegah. Ha­nya sopir saya tidak mengerti, dengan berteriak ”jangan” maksud saya ”hajar”. Masak saya harus bilang pukul. Nanti saya disalahkan menzalimi orang lemah. Saya kan ketua RT. ***

Jakarta, 4 September 09 (setelah berita tentang Pulau Jemur)

*) Cerpenis, dramawan, pendiri Teater Mandiri.

Komentar