Langsung ke konten utama

Hasan Junus, Pena yang Tak Kunjung Kering

untuk mengenang Hasan Junus
UU Hamidy
http://www.riaupos.co/

1. Pewaris Darah Pengarang

Kalau ada pengarang kreatif di Riau tidak mengenal nama Hasan Junus, maka akan diragukan kepengarangannya. Betapa tidak, sebab tokoh yang kita ketengahkan ini, sudah mengharu-biru belantara dunia kreatif di Riau. Mulai dari Kepulauan Riau (Tanjungpinang) sampai ke daratan Riau (Pekanbaru).
Di Tanjungpinang, dalam tahun 1970-an, Hasan Junus bersama Eddy Mawuntu dan Iskandar Leo (nama pena Rida K Liamsi dewasa itu) telah menerbitkan buletin budaya bertajuk Solarium serta memulai karya kreatif dalam sastra dengan kumpulan sajak mereka Jelaga. Kemudian, setelah pindah dah ke Pekanbaru, Hasan Junus bersama Rida K Liamsi menerbitkan pula mingguan Genta. Selepas itu Hasan Junus masih terlibat dengan berbagai kegiatan budaya, di antaranya dengan majalah Menyimak. Kemudian hampir sepuluh tahun sampai dewasa ini Hasan Junus memegang teraju majalah budaya Sagang.

Hasan Junus adalah pewaris darah pengarang besar Riau Raja Ali Haji. Ayahnya Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad, masih terbilang anggota pengarang Rusydiah Klab. Rusydiah Klab adalah perkumpulan pengarang Riau yang berdiri pada penghujung abad ke-19, berjaya pada awal abad ke-20, lalu surut kegiatannya pada tahun 1920-an, setelah aktor intelektualisnya yakni Raja Ali Kelana, terpaksa pindah dari Riau ke Johor, karena Kerajaan Riau-Lingga dibubarkan oleh Belanda tahun 1913. Para pengarang Rusydiah Klab, disamping menulis berbagai kitab agama, bahasa, sastra, sejarah dan sebagainya, juga sempat menerbitkan majalah budaya dan masyarakat dengan tajuk Al Imam, yang diterbitkan di Singapura tahun 1906.

Para pengarang Riau yang tergabung dalam Rusydiah Klab, terdiri dari anak jati Riau sebagai pengarang inti serta dilengkapi oleh berbagai pengarang dari belahan Nusantara, seperti dari Minangkabau dan Patani. Semangat mereka telah ditempa oleh semangat jihad Raja Haji Fisabilillah, yang syahid di Teluk Ketapang tahun 1874. Raja Haji Fisabilillah, adalah datuk Raja Ali Haji, pengarang Riau yang cerdas lagi piawai pada abad ke-19.

Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad (ayah tokoh kita Hasan Junus) menerbitkan majalah Peringatan pada bulan Mei 1939 di Pulau Penyengat. Pada majalah itu Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad tercantum sebagai Kepala Yang Menganggung Soal, sepadan agaknya dengan ketua redaksi sekarang ini. Dalam majalah itu dibentangkan beberapa pengarang Rusydiah Klab, di antaranya Raja Haji Abdullah alias Abu Muhammad Adnan, seorang pengarang yang banyak karyanya.

Hasan Junus mengokohkan kehadirannya di Pekanbaru dengan peristiwa budaya Sidang Sastra Pekanbaru 1981. Dalam Sidang Sastra Pekanbaru 1981 itu, Hasan Junus tampil pembawa makalah bersanding dengan Umar Junus dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur serta Putu Wijaya dengan isterinya ketika itu Reni Jayusman dari Jakarta. Selepas itu Hasan Junus menjadi editor penerbit Bumi Pustaka di Pekanbaru, yakni penerbit yang didirikan oleh Ibrahim Sattah.

2. Merambah Pengarang Dunia

Satu di antara keunggulan Hasan Junus sebagai pengarang, ialah kemampuan penanya merambah kegiatan kreatif para pengarang dunia. Hasan Junus telah membukakan jendela kegiatan kreatif pengarang dunia kepada pengarang muda di Riau. Dengan penanya, Hasan Junus menghidangkan tulisan tentang pengarang dari berbagai belahan dunia terutama dari belahan Eropa. Tapi Hasan Junus juga dapat menulis tentang pengarang dari Amerika, Timur Tengah bahkan Amerika Latin. Cukup banyak peraih hadiah Nobel dalam sastra yang telah diulas oleh Hasan dalam karangannya. Di samping itu, karya-karya terkenal seperti Don Kisot de la Manca, Kisah Seribu Satu Malam, Mahabarata, Ramayana, dan Bhagavad Gita, semuanya terapresiasi dengan baik dalam tulisan Hasan. Ini semuanya tentu memberi apresiasi pula terhadap pengarang muda yang membaca karangannya. Sementara mengenai para pengarang besar Indonesia, apalagi para pengarang Rusydiah Klab tersaji dengan sendirinya dalam berbagai tulisannya.

Tulisan Hasan Junus tentang dunia sastra itu memang cukup banyak ragamnya. Mulai dari komentar tentang tokoh pengarang, kegiatan kreatifnya, isi cerita atau karyanya sampai pada hal-hal yang masih menarik untuk ditulis, dihidangkan kepada pembaca. Tulisan Hasan Junus mengenai ’’Syair Hukum Nikah‘’ yang dimuat kalau tidak silap dalam surat kabar Merdeka di Jakarta, mungkin merupakan tulisannya yang pertama, yang akan menandai dirinya sebagai seorang pengarang yang berbakat.

3. Pena yang Tak Kunjung Kering

Hasan Junus telah membuktikan dengan jalan kehidupan yang ditempuhnya, bahwa untuk menjadi seorang pengarang yang berkualitas, tidaklah semata-mata bersandar pada bangku sekolah, yang kemudian memberikan gelar-gelar, seakan-akan mengakui keberhasilan yang bersangkutan. Hasan Junus telah memberi contoh nyata, jalan satu-satunya yang harus dilalui menjadi pengarang adalah menulis atau berkarya. Hasan Junus seakan-akan hendak mengatakan kepada kita, apa gunanya gelar-gelar, kalau tak ada karya yang mendukung gelar itu. Keadaan itu hanya membuat orang menjadi narsis (memuja diri) dengan gelarnya, sehingga akhirnya bisa jadi mengigau. Seseorang dianggap pernah hidup di muka bumi ini, pertama-tama ditandai oleh karyanya, bukan oleh batu nisannya.

Kemudian, jalan yang ditempuh oleh Hasan Junus menjadi pengarang yang sukses, telah memberi arah kepada siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang Handal. Bagi calon pengarang —terutama pengarang kreatif bidang sastra— yang ingin berhasil, dari pengalaman Hasan Junus dapat kita simpulkan harus menguasai (beberapa) bahasa dengan baik serta banyak membaca. Hasan Junus telah membuktikan, betapa penguasaan bahasanya yang luas lagi baik, mulai dari bahasa Melayu (Indonesia) Arab, sampai bahasa Perancis, Inggris dan Jerman, bahkan bahasa daerah, sudah menjadi alat yang ampuh baginya untuk mengetahui seluk­beluk dunia sastra, budaya dan masyarakat. Penguasaan bahasa yang bagus itu digunakan Hasan untuk membaca, mempelajari dan meneroka berbagai kitab, buku dan tulisan apa saja, sehingga akhirnya dia mempunyai informasi, pengetahuan dan ilmu yang memadai, tanpa harus duduk di bangku sekolah bertahun-tahun, mendengar kuliah para guru yang belum tentu berkualitas. Hasan Junus, jangan-jangan memang tak mau melanjutkan studinya, karena bosan mendengar celoteh dan bual para dosen, yang tidak mendorong untuk bekarya.

Alat berupa penguasaan bahasa yang baik dan hasil bacaan yang luas lagi mendalam yang dimiliki oleh Hasan Junus tentu dengan mudah menggerakkan penanya untuk menulis, bila dan di mana saja. Dengan pikiran yang tajam, pembayangan yang sempurna, Hasan Junus dapat menampilkan tulisannya lewat rubrik ‘’Rampai’’ pada Riau Pos, sekali dalam seminggu yang diturunkan tiap Ahad, dengan judul yang menarik serta bahasa yang indah.

Pena Hasan yang tak pernah kering telah menampilkan beragam jenis karangan: esei, artikel, cerita pendek, naskah drama dan terjemahan karya-karya pengarang dunia. Dia juga ikut dalam, kegiatan penelitian budaya dan sejarah serta ikut menuliskannya. Karyanya Burung Tiung Seri Gading, sampai dipentaskan tujuh kali. Karangan kreatifnya menjadi bahan kajian untuk skripsi oleh para mahasiswa. Karena itu, karya-karya Hasan Junus layak dibuat dokumentasinya oleh pihak Perpustakaan Soeman Hs. Dibuatkan suatu bilik khusus, sehingga mudah bagi para peminat dan khalayak untuk membaca dan mempelajarinya.

Pena Hasan Junus yang tak kunjung kering, tak diragukan lagi telah memberi semangat kreatif dan kekayaan ide kepada para penulis kreatif di Riau. Melalui rangkaian karangannya, dia telah membuat mata rantai yang indah dalam tiga gelombang besar pengarang Riau, mulai dari Raja Ali Haji, tiang mocu pengarang Melayu abad ke-19 sampai pengarang Riau tahun 2000-an ini. Keistimewaan pena Hasan yang tak kunjung kering juga diperlihatkan oleh semangat kepengarangannya, yang tiada pudar oleh usia. Potensinya mengarang bagaikan berlomba dengan tambahan usianya, sehingga di belakangnya, terbentanglah deretan panjang karangannya. Siapakah agaknya yang akan dapat meneruskannya? ***

UU Hamidy, Penulis setidaknya 50 buku tentang Melayu, penerima Seniman/Budayawan Pilihan Anugerah Sagang 2007, pengajar di Universitas Islam Riau.

Tulisan ini sebelumnya telah pernah dimuat di halaman ‘’Budaya’’ Riau Pos beberapa tahun lalu. Kini, tulisan ini kami muat kembali untuk mengenang Hasan Junus yang telah berpulang ke Rahmatullah pada Jumat 30 Maret 2012.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…