Langsung ke konten utama

Bang Kumis

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Gerimis di pagi itu mengusap daun-daun pohon yang berjajar rapi di tepi jalan. Noda yang menempel pada lembaran daun itu luruh tersapu rintik yang semakin kerap. Jalan setapak berkelok dipenuhi bercak-bercak liatpada genangan air hujan menjebak kaki-kaki orang yang melintas di jalan itu. Tepat di ujung jalan setapak terdapat rumah kecil yang beratap genting dari bahan baku tanah liat. Dalam rumah tersebut tinggallah sebuah keluarga yang teridiri dari suami, istri dan kedua anak buah dari perkawinannya beberapa tahun silam.

Pagi masih berkabut tebal. Matahari belum kunjung tiba di langit yang tertutup gumpalan mendung. Akan tetapi, Bang Kumis tetap berangkat ke areal pertambakan sambil memanggul jaring di punggungnya. Kelokan jalan setapak yang licin sedikit menggoda perjalanannya ke tempat itu. Tubuh Bang Kumis terhuyung dan hampir saja terjerembab di genangan air berliatsaat kakinya tak terkendali melintasi jalan setapak.

Kerlip bara rokok terlihat dari mulut mungil yang dipenuhi kumis. Asapnya mengepul laksana kereta api tempo dulu yang berbahan bakar batu bara. Tangkas langkahnya mempercepat lajunya hingga sampai di sebuah dangau yang dibangun di pematang tambak. Jaring ia letakkan di dangau itu. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam tambak yang airnya seperut orang dewasa.

Ikan-ikan peliharaannya berlompatan menghindar dari terjangan Bang Kumis. Ia berjalan menyusuri air yang berubah keruh. Bang Kumis merasa was-was saat melihat sebagian ikan di tambaknya terkulai lemas. Ada beberapa ekor ikan menggelapar kemudian timbul tenggelam tertelan ombak. Setelah melihat kondisi ikan peliharaannya seperti itu, dengan cekatan Bang Kumis mengambil sekarung pupuk lalu disebarkan ke seluruh penjuru tambaknya untuk menetralkan warna air keruh yang diduga sebagai penyebab klegernya beberapa ikan di tambaknya.

Seekor, dua ekor ikan yang sudah mati dan timbul di permukaan air tambak ia ambili dengan membawa besek. Setelah penuh, besek itu diangkat ke pematang kemudian dibawa ke dangau. Julaiha, istri Bang Kumis, sudah menunggu di dangau dan siap membantu suaminya tercintanya yang sudah hampir sejam berendam dalam tambak.

Matahari remang merayap di langit kelam. Bang Kumis beserta Julaiha yang berada di dangau berbicara serius tentang nasib ikan-ikannya yang dipanen sebelum saatnya. Setelah selesai berbincang-bincang, Julaiha menghidangkan pepiring nasi dengan lauk ikan bandeng pada untuk suami tercinta. Dengan lahap Bang Kumis menyantap masakan istrinya. Setelah menghabiskan makanan yang dihidangkan istrinya, Bang Kumis pun mengambil pisang sebagai cuci mulut. Kumis tebal yang mengelilingi bibirnya agak menghambat keasyikannya menelan pisang.

”Pak, sudah siang. Mari kita pulang sebelum anak-anak pulang sekolah!” ajak istrinya.

Bang Kumis tak menolak ajakan istrinya. Akhirnya kedua sejoli itu pun beranjak pulang melewati pematang tambak yang dipenuhi pohon pisang.

Rumah kecil di tepi jalan setapak terlihat lengang. Dinding-dindingnya banyak yang berlubang. Bahkan di bagian belakang rumah itu masih terlihat sisi-sisi rumahnya yang belum dipasang dinding bambu. Andaikan ada pencuri atau orang yang berniat jahat untuk memasuki rumahnya, maka orang itu akan dengan leluasa keluar masuk rumahnya. Kalaupun ada pencuri yang masuk rumah tersebut, ia pun akan sia-sia karena tidak ada perabot rumah yang berharga tersimpan di dalam bangunan sederhana itu.

Ketika Bang Kumis beserta istri belum sempat membuka pintu rumah, tiba-tiba dari arah jalan setapak terdengar suara anak-anaknya yang bergirang pulang dari sekolah. Mereka menenteng sepasang sepatunya yang sengaja dilepas agar tidak kotor terkena liat yang memenuhi jalan menuju ke rumahnya.

“Assalamualaikum, Bapak, Ibu!” ucap anak-anaknya.

“Waalaikum salam!” jawabnya.

Lantas mereka menjabat tangan orang tuanya sambil mengecupnya. Kemudian mereka masuk ke rumahnya yang jauh dari keramaian warga.

***
Pada suatu siang saat Bang Kumis sedang menyeruput kopi di warung pojok, datanglah serang laki-laki tampan mengendarai sepeda motor. Lelaki yang dempal itu turun lalu menghampiri beberapa pemuda yang sedang asyik mengobrol di teras warung. Setelah melepas helm, ia kemudian menanyakan rumah salah seorang warga desa itu.

”Maaf, numpang tanya! Rumah Mas Ipin mana, ya?” tanya lelaki itu.

Para pemuda itu tampak asing dengan nama itu. Mereka saling bertanya kepada yang lain tentang nama itu. Ternyata mereka tidak mengenal nama tersebut.

”Nama lengkapnya siapa, Mas?” seorang pemuda balik bertanya kepada lelaki tampan tersebut.
”Kalau tidak salah namanya Arifin,” jawabnya.

Mendengar sebutan nama itu, Bang Kumis pun keluar dari dalam warung. Ia meninggalkan secangkir kopi yang masih separo di meja warung.

Bang Kumis mengamati lelaki yang masih berdiri di depan teras warung. Dari rambut hingga ujung kaki ia pelototi. Dari wajah lelaki itu, ia mengingat salah seorang teman sekolahnya lima belas tahun silam.

”Bapak ini, namanya Ahmad, ya?” tanya Bang Kumis.

”Iya. Mas, kok, tahu?”

”Saya ini Arifin yang Mas cari!” kata Bang Kumis sambil merangkul lelaki itu.

Kedua lelaki yang sudah terpisah sejak lima belas tahun lalu itu pun berangkulan melepas rasa rindu yang mendalam. Sampai-sampai Bang Kumis terasa grogi berbicara dengan Ahmad karena terharu. Para pemuda yang duduk di teras warung pun clingukan dan kaget ternyata Bang Kumis itu bernama asli Arifin. Maklum, mereka terbiasa memanggil dengan sebutan Bang Kumis karena kumis tebal Arifin. Tanpa komando, Bang Kumis pun mengajak Ahmad ke rumahnya.

”Kamu nanti jangan kaget saat melihat gubuk saya!”

”Kenapa harus kaget? Kamu kan seorang pemborong? Jelas rumahmu megah dan mewah.”

”Itu dulu. Semua telah berubah. Nanti aku ceritakan.”

Dua sepeda motor pun melaju membawa dua orang yang digandrungi rasa senang. Mereka tak mengira Tuhan masih mempertemukan kedua lelaki yang sempat berpisah selama itu. Ahmad penasaran dengan perkataan Bang Kumis barusan.

Sesampai di ujung desa, sepeda motor yang mereka kendarai melewati jalan setapak yang licin. Roda belakangnya memutar tak mampu menggerakkan bodi motornya. Bang Kumis terpaksa turun lalu mendorong sepeda motor Ahmad. Tepat di depan rumah mungil berdinding bambu mereka berhenti.
”Inilah rumahku yang kutempati sekarang ini. Pasti kamu kaget, kan?!”

Ahmad diam tak mampu berkata apa-apa. Ia merasa perihatin melihat tempat tinggal teman akrabnya sewaktu sekolah dulu.

”Bu, ada tamu. Ayo masuk!”

Julaiha muncul dari dalam rumah.

“Ini Ahmad, teman sekolahku dulu,” kata Bang Kumis memperkenalkan Ahmad pada istrinya. Si Julaiha pun mengangguk sopan.

Angin semilir yang menyelinap lewat celah dan lobang dinding rumah merontokkan daun-daun renik dari atas genting. Daun-daun itu luruh dan mengotori meja tamu. Bang kumis bergegas mengambil lap lalu menyingkirkan kotoran itu. Bola mata Ahmad berkeliling memandangi kondisi rumah temannya. Dalam hatinya ia tak tega membiarkan temannya menempati rumah seperti itu. Akan tetapi, kalau dilihat dari wajah Bang Kumis dan istrinya, tak ada sedikit pun ada rasa risih tinggal di rumah seperti itu. Ia begitu senang dan bahagia.

Sesaat suasana hening. Kedua lelaki itu diam membisu di ruang tamu. Mata Ahmad tiada henti melihat kondisi rumah Arifin tidak seperti yang ia dengar dari temannya dulu. Kata temannya bahwa Arifin sekarang jadi pemborong bangunan yang sukses. Ia menempati rumah mewah dengan perabot rumah yang serba wah. Kini yang ia lihat sebaliknya. Dalam hati kecil ia ingin bertanya kepada Arifin tetapi dia juga kuatir jangan-jangan pertanyaannya nanti menyinggung perasaan temannya. Akhirnya ia pun memilih diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.

“Pasti kamu heran kenapa saya tinggal di rumah seperti ini?” celetuk Bang Kumis akan mengawali cerita.

”Tidak, tidak. Saya tidak heran,” sahutnya gugup.

“Ceritanya panjang,” imbuhnya.

Tanpa ada permintaan dari Ahmad, Bang Kumis kemudian bercerita kepada Ahmad tentang perjalanan bisnisnya dari zero to hero sampai hero to zero seperti yang ia alami sekarang ini.

Perjalanan bisnis Bang Kumis sebagai pemborong bangunan pernah mencapai masa keemasan. Puluhan bahkan ratusan warga memanfaatkan jasanya guna memborong bangunan rumah atau yang bangunan lainnya. Pada masa jayanya ia pernah mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya itu hingga 200 juta rupiah pertahun. Nah, uang dari hasil kerja kerasnya itu kemudian ia gunakan untuk membuat rumah megah dengan perabot rumah yang lengkap. Ia juga membeli beberapa bidang tanah di desanya. Mobil kinclong yang menyilaukan mata jika terkena sinar matahari pun ia miliki. Namun sayang seribu sayang ia hanya menikmati masa emas itu selama dua tahun.

Menjelang tahun berikutnya, bisnisnya terkena prahara kebangkrutan yang luar biasa. Krisis ekonomi pada tahun 1997 hingga 1998 menjadi biang kehancuran bisnisnya. Sendi-sendi ekonominya bertumbangan karena kenaikan harga bahan bangunan yang di luar batas kewajaran.

Pada tahun itu ia sudah terlanjur meneken kontrak dengan beberapa konsumen. Dari perjanjian kontrak Bang Kumis sudah menerima uang muka dari nilai bangunan yang diborong dengan harga sebelum ada kenaikan harga bahan bangunan. Maka ketika krisis ekonomi dan moneter melanda Indonesia, ia harus mengerjakan bangunan itu dengan harga baru yang naik berlipat ganda. Ia mencontohkan ketika dia menggarap bangunan Pak Rizal dengan kontrak senilai 14 juta rupiah sebelum krisis ekonomi. Saat krisis ekonomi melanda dan harga bahan bangunan naik, dia harus mengeluarkan biaya hingga mencapai 40 juta rupiah. Dari dsampak kenaikan harga bahan bangunan itu dia harus merugi hingga 360 juta rupiah. Nilai uang yang sangat besar pada saat itu.

Maka dengan segala risiko dia harus menanggung semua kerugian dengan menjual harta kekayaan yang ia miliki untuk menutupi kekurangannya. Rumah megah beserta isinya, beberapa bidang tanah yang ia miliki, serta mobil mewah, ia jual semua dengan harga yang sangat murah. Ia tak berpikir panjang tentang harga. Yang penting barang yang akan dijual itu laku. Beres.

Bertahun-tahun lamanya mereka hidup terlunta-lunta. Mereka tak mempunyai sebidang tanah pun untuk mendirikan rumah ala kadarnya. Ia pindah rumah kesana kemari. Itu pun bukan rumah hak milik melainkan rumah familinya yang iba kepadanya dan hanya ditempati untuk sementara. Jika dihitung sampai sekarang Bang Kumis dan keluarga sudah pindah rumah empat kali. Mereka juga pernah hidup dengan uang pinjaman selama dua tahun lebih. Bang Kumis belum mendapatkan pekerjaan. Para tetangga dan masyarakat juga ewuh pakewuh memberi pekerjaan kepadanya karena ia mantan pemborong bangunan yang sukses. Ia tidak berhenti di situ. Mereka tetap tegar dan bisa tersenyum saat menghadapi cobaan hidup yang sangat dasyat. Ia yakin bahwa penderitaan pasti ada akhirnya.

Bang Kumis tergolong orang yang pantang menyerah. Selama nyawa masih dikandung badan, ia akan tetap berusaha untuk mencari jalan keluar dari prahara ekonomi yang ia alami beserta keluarga. Bang Kumis bekerja serabutan. Ia membantu tetangga atau warga lainnya memelihara dan merawat ikan di tambak. Hasil yang ia dapatkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagian lagi disisihkan sebagai tabungan untuk biaya hidup di hari depan.

Lambat laun ia bangkit dari keterpurukan. Bang Kumis sudah bisa membeli sebidang tanah di ujung desa. Kemudian ia bisa mendirikan bangunan rumah ala kadarnya yang kini ia tempati bersama istri dan kedua anaknya. Ia juga menjadi tangan kanan seorang juragan tambak di desanya. Ia diberi kepercayaan khusus untuk mengelolanya. Dari pengalamannya itu akhirnya ia memberanikan diri untuk menyewa tambak dan dikelola sendiri.

Ahmad meratap iba mendengar cerita dari Bang Kumis. Hati kecilnya menangis mendengar kisah perjalanan hidup teman karibnya. Ia tak membayangkan Bang Kumis mengalami kerumitan hidup seperti itu. Ahmad tak menyadari kalau rasa ibanya kepada Bang Kumis sampai menitikkan air mata. Ia merunduk dan salut atas kesabaran dan ketabahan dari temannya.

Ucapan salam dari anak-anak Bang Kumis mengagetkan Ahmad. Ia mendongakkan wajah dan melihat dua bocah yang berseragam sekolah sambil memanggul tas di punggungnya berdiri lantas masuk rumah kemudian menjabat tangan ayahandanya yang hebat. Kedua anak yang duduk di bangku kelas 5 dan 2 SD itu masuk ke ruang tengah lalu bersungkem kepada ibunya yang menyeduh kopi untuk suaminya tercinta.

Dua bocah polos yang sudah merasakan peliknya kehidupan yang dialami orang tuanya. Mereka mestinya belum saatnya hidup di tengah badai ekonomi keluarga. Akan tatapi rupanya mereka sudah terbiasa tinggal di rumah yang dinding-dindingnya bolong dan tata letak rak pakaian dan buku yang tak beraturan.

Kumandang azan dhuhur menggema dari masjid jamik. Para warga yang baru pulang bertambak berbenah diri untuk mendatangi panggilan Tuhan Yang Mahasuci. Tak terkecuali Bang Kumis dan Ahmad. Mereka bergegas menuju Masjid meninggalkan dua cangkir kopi yang belum habis di atas meja. Kepulan asap kopinya membawa aroma sedap terbang menyelinap dari celah dinding dan atap rumah mungil di pinggir jalan setapak.

*) Cerpenis tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…